gdata.io.handleScriptLoaded({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-2348133304985000332"},"updated":{"$t":"2023-08-04T05:59:23.660+07:00"},"category":[{"term":"Fiksi"},{"term":"Kuliner"},{"term":"Politik"},{"term":"Tips"},{"term":"Guru Penggerak"},{"term":"Lifestyle"},{"term":"Life Story"},{"term":"Hiburan"},{"term":"Olahraga"},{"term":"Headline"},{"term":"Edukasi"},{"term":"GGD Sintang"},{"term":"Catatan"},{"term":"Rekreasi"},{"term":"Opini"},{"term":"Kekayaan Alam"},{"term":"Seni"},{"term":"Buku"},{"term":"Traveling"},{"term":"Budaya"},{"term":"SM3T"}],"title":{"type":"text","$t":"Darman Reubee"},"subtitle":{"type":"html","$t":"darman reubee,traveling,kuliner,sharing,tips,life story,SM3T,GGD, Guru,cerpen,Travel,pendidikan Indonesia,cerita"},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/-/Fiksi?alt\u003djson-in-script\u0026max-results\u003d8"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/-/Fiksi?alt\u003djson-in-script\u0026max-results\u003d8"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://www.darmanreubee.com/search/label/Fiksi"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"}],"author":[{"name":{"$t":"darmanreubee"},"uri":{"$t":"https://www.blogger.com/profile/16492959773330502426"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"35","height":"35","src":"//www.blogger.com/img/blogger_logo_round_35.png"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"https://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"4"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"8"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-2348133304985000332.post-9050701693858053739"},"published":{"$t":"2015-10-31T12:09:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-10-31T12:09:33.774+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Fiksi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Lifestyle"}],"title":{"type":"text","$t":"Ketika Cinta Kandas di Mahar"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv class\u003d\"separator\" style\u003d\"clear: both; text-align: center;\"\u003e\n\u003ca href\u003d\"http://2.bp.blogspot.com/-pFkR2pMsWJE/VUEMMxJIy1I/AAAAAAAABkg/TwV3x1qRo-Q/s1600/Baju%2BKaos.jpg\" imageanchor\u003d\"1\" style\u003d\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cimg alt\u003d\"Jelamei\" border\u003d\"0\" height\u003d\"320\" src\u003d\"http://2.bp.blogspot.com/-pFkR2pMsWJE/VUEMMxJIy1I/AAAAAAAABkg/TwV3x1qRo-Q/s1600/Baju%2BKaos.jpg\" title\u003d\"Mahar Nikah\" width\u003d\"267\" /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eTadi\n pagi bertemu dengan seorang kawan yang telah lama menghilang. Kawan \nyang sangat ahli dalam merayu perempuan bahkan kami menjadikan dia \nsebagai tim ahli dalam dunia percintaan. Kawan ini mempunyai kisah cinta\n sangat menarik dan mengharukan kadang-kadang juga mengerikan. Sikawan \ntelah membangun cinta dengan perempuan pujaannya sejak sama-sama kuliah \ndi semester IV dan Alhamdulillah sampai sekarang, totalnya 7 tahun \nmereka memadu cinta dari dua hati yang berbeda. Cinta mereka sangat luar\n biasa, aku sempat mengeluarkan statement “Cinta mereka akan berakhir di\n pelaminan”. Tau apa yang terjadi? Mari aku ceritakan.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eTidak\n ada angin dan hujan juga petir, sikawan menelponku pagi-pagi sekali \n”Broe, bagun. Solat subuh, abis itu aku jemput kita sarapan pagi bareng.\n Ada proyek besar nih”. Tumben dia bagun pagi, apa udah taubat. Gumamku.\n Ahh, aku tidak mau berpikir negatif, bergegas Solat Subuh dan mandi. \nIni adalah rezeki, telat bangun pagi rezeki dipatok ayam. Itu yang ada \ndalam pikiranku.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSikawan\n sudah di depan rumah, dan kami menuju ke sebuah warung kopi. Sembari \nmenanyakan kabar, secangkir kopi dan nasi pagi dengan penuh semangat \nsikawan menceritakan kisahnya. Lebih tepatnya dia curhat. Kau lebih \nlayak mendengar cerita ini, biarpun minim pengalaman namun kau punya \nteori bijak dalam kasus ini. Cetus sikawan. Waeow. Aku semakin \npenasaran.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eBaik,\n silahkan cerita, Insya Allah aku bisa bantu. Lalu sikawan menceritakan \nkisahnya dari A sampai Z. Aku mendengar dengan saksama dan mulai paham \napa yang terjadi. Jujur, aku gak bisa kasi solusi. Kasusnya rumit, \nresikonya besar, jika salah memberikan solusi maka tambah runyam.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKira-kira begini potongan dari cerita sikawan dan potongan ini merupakan inti dari permasalahannya. Mari baca:\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSikawan mencerya calon \u003ci\u003emak tuan\u003c/i\u003e\n dengan gagah berani “Jika anakmu sudah berumur 26 tahun, masikah kau \nbersikeras mempertahankan mahar 20 manyam? Ini semua demi siapa? Demi \nadat? Demi harga diri? Atau demi anakmu? Ibu. Kalau memang menolak, \nkatakana saja!. Dan aku pun akan mengatakan demikian pada anak \nperempuanmu. “Dek, sepertinya cinta kita tidak bisa dilanjutkan lagi? \nLho, kenapa bang?” Ibumu telah menjual kamu seharga 20 manyam tanpa \nkurang. Emangnya kamu barang dek?” Propokasi.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eAku pun mikir, banyak kali alasan kawan ini. Laki-laki sekarang mulai pandai beretorika dalam hal \u003ci\u003ejelamei\u003c/i\u003e,\n banyak hal dijadikan alibi pembenaran sang lelaki. Ini lah, itu lah, \nbegini lah dan begitu lah. Yang penting mahar perempuan harus murah. \nSampai-sampai sikawan berasumsi ada adegan jual-beli dalam detik-detik \nmenuju pernikahan.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eMahar\n yang besar seharusnya dibarengi dengan kualitas seorang perempuan itu \nsendiri, seperti “barang mahal”, kualitasnya pasti bagus, berarti dia \nmenutup auratnya, akhlaknya baik, enak dipandang dan pastinya bisa \nmenjaga diri. Namun jangan sampai mahal tapi kualitas palsu atau \nmurahan, seperti perempuan yang tidak menutup auratnya, tidak menjaga \nakhlaknya, bebas pacaran, dan banyak sidik jari laki-laki di tubuh \n(Sering disentuh). Ini adalah perempuan mahal yang palsu, aslinya murah,\n bungkusnya pun murah, kualitas jelek sehingga gampang dibuka dan \ndicoba.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eBukan\n bermaksud menganggap perempuan sebagai barang. Cuma perumpamaan. Tapi, \nkalau dipikir-pikir udah kayak barang juga sih. Mematok 20 manyam, \nsetelah tawar-menawar gak boleh kurang. Apakah itu bukan seperti barang \nyang diperjualbelikan? Jika ada yang menjawab: bukan, ini ajaran Islam, \nmenikah harus menggunakan mahar. Iyaa, betul. Tapi mahar dalam Islam kan\n tidak harus memberatkan.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eImam\n Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu‘alaihi Wasallam bersabda: \n“Diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan \nmudah rahimnya.” (HR. Ahmad).\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKalau\n pun jumlah mahar besar adalah adat. Apakah adat tidak bisa dirubah? \nTentu bisa dong demi kemaslahatan. Peninjauan Kembali (PK) dalam bahasa \nHukumnya. Semua bisa dirubah keculai Al-Quran dan Hadis.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKalau\n mau jujur. Ketahuan, lelaki yang selalu protes prihal mahar adalah \nlelaki yang belum mapan tetapi kebelet mau nikah. Lelaki mapan akan \nselalu siap berapun mahar yang ditentukan. Apapun akan dilakukan untuk \nmendapatkan sang pujaan hati belahan jiwa tercinta. Jangankan 20 manyam,\n 1000 manyam pun akan disiapkan. Ini baru lelaki hebat.:D\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e*****\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eHmmmem. Kembali lagi ke cerita sikwan.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSelidik\n demi selidik rupanya semua ini adalah modus sikawan aja yang menjadikan\n mahar sebagai alasan, padahal dia berkecukupan dengan pekerjaan sebagai\n pengusaha muda, 20 manyam bukanlah perkara sulit. Lalu, apa motifnya?, \nSikawan sudah mendapatkan perempuan baru yang lebih bahenol dari \nperempuan sebelumnya. Menjadikan mahar sebagai alasan untuk bisa \nmeninggalkan perempuan yang telah dia pacari selama 7 tahun lamanya. \u003cb\u003eBajingan bukan?.\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e#Darbe. Jambo Tape, 30 April 2015.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https://www.darmanreubee.com/feeds/9050701693858053739/comments/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/ketika-cinta-kandas-di-mahar.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/9050701693858053739"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/9050701693858053739"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/ketika-cinta-kandas-di-mahar.html","title":"Ketika Cinta Kandas di Mahar"}],"author":[{"name":{"$t":"darmanreubee"},"uri":{"$t":"https://www.blogger.com/profile/16492959773330502426"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"35","height":"35","src":"//www.blogger.com/img/blogger_logo_round_35.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://2.bp.blogspot.com/-pFkR2pMsWJE/VUEMMxJIy1I/AAAAAAAABkg/TwV3x1qRo-Q/s72-c/Baju%2BKaos.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-2348133304985000332.post-5741699528686705993"},"published":{"$t":"2015-10-30T23:38:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-10-30T23:38:44.512+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Edukasi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Fiksi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Tips"}],"title":{"type":"text","$t":"Sepucuk Surat "},"content":{"type":"html","$t":"\u003ctable cellpadding\u003d\"0\" cellspacing\u003d\"0\" class\u003d\"tr-caption-container\" style\u003d\"float: left; margin-right: 1em;\"\u003e\u003ctbody\u003e\n\u003ctr\u003e\u003ctd style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\u003ca href\u003d\"http://2.bp.blogspot.com/-VsBVlDgjBK0/VOV773htrWI/AAAAAAAABVQ/Rv_5B73qwqw/s1600/dyahelokwirdaningsih.wordpress.com.jpg\" imageanchor\u003d\"1\" style\u003d\"clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003e\u003cimg border\u003d\"0\" height\u003d\"266\" src\u003d\"http://2.bp.blogspot.com/-VsBVlDgjBK0/VOV773htrWI/AAAAAAAABVQ/Rv_5B73qwqw/s1600/dyahelokwirdaningsih.wordpress.com.jpg\" width\u003d\"400\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\n\u003ctr\u003e\u003ctd class\u003d\"tr-caption\" style\u003d\"text-align: center;\"\u003edyahelokwirdaningsih.wordpres.com\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\n\u003c/tbody\u003e\u003c/table\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSetiap\n orang pasti pernah mendapatkan sepucuk surat, entah dari siapa \nterserah. Aku pernah jadi anak SMA dan kau pun pernah. Ketika handphone \nbelum ngetren dikalangan anak SMA pada masa itu maka surat adalah \npilihan terbaik. Beda dengan sekarang, semua serba canggih, semua \nmenjadi gampang dengan hanya klik \u003ci\u003eCtrl+C\u003c/i\u003e lalu \u003ci\u003eCtrl+V\u003c/i\u003e maka klik \u003ci\u003eSend to\u003c/i\u003e\n dan pesan akan diterima, itu teknologi email namanya. Akan lebih mudah \nlagi menggunakan Handphone dengan sejuta aplikasinya seperti facebook, \nBBM, WhatsApp, Line, Messenger dan lain sebagainya, tinggal ketik \nbeberapa tulisan lalu kirim, hanya butuh beberapa detik saja maka orang \nyang kau tuju akan menerima pesanmu. Mudah bukan?.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSayangnya\n kau tidak akan pernah tau apakah pesan itu berasal dari pengirim \naslinya atau ada orang lain yang membajak Handphone si pengirim dan \napakah pesan itu benar-benar pengirim yang tulis atau berasal dari \u003ci\u003ecopy-paste\u003c/i\u003e\n pesan orang lain. Itulah kelemahan dan kebohongan pesan didunia modern \nsekarang, sulit untuk mengetahui keasliannya. Makanya, aku memberi nilai\n 90 kepada orang yang mau menulis sepucuk surat (pesan) menggunakan \ntulisannya sendiri.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKau\n pernah menulis surat? Pasti pernah, surat ijin tidak masuk sekolah \nuntuk ibu guru, surat ancaman untuk musuhmu, atau surat cinta untuk \norang yang kau suka. Kau ingat-ingat sendiri surat mana yang pernah kau \ntulis. Aku ingin ceritakan ketiga surat itu karena aku pernah \nmenuliskannya.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSurat\n adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi tertulis oleh \nseseorang kepada orang lain, kira-kira begitulah definisi surat menurut \norang yang pernah mendapatkan nilai Bahasa Indonesia 4 (empat) ketika SD\n dulu. Ya, karena aku masih berumur 7 tahun masa itu. Pulpen pilot warna\n hitam adalah pulpen yang paling aku suka, ujungnya runcing sehingga \nmembuat tinta keluar dengan ringan tidak membanjiri kertas. Sampai \nsekarang aku masih setia menggunakan pulpen yang bermerek pilot untuk \nmenuliskan sesuatu di kertas. Merobek buku di halaman tengah merupakan \nsolusi paling bagus untuk anak-anak seumuran aku dan sampai sekarang \njuga begitu, lalu bagaimana kalau tidak ada lagi bagian tengah dibukumu \nkarena sudah terisi habis oleh catatan dari ibu guru? Aku selalu \nmemintanya kepada teman perempun karena mereka pasti punya banyak buku \ntulis, satu buku untuk catatan dan satu lagi untuk latihan. Jangan \npernah berharap kepada anak laki-laki pada masa itu karena mereka tidak \nbakalan punya banyak buku. Paling satu buku untuk lima pelajaran.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e*****\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cb\u003eSurat Untuk Ibu Guru\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSetiap\n orang pernah menulisnya dan kadang-kadang orang tuanya yang menuliskan.\n Aku tidak begitu, setiap tidak sekolah karena ijin atau pun sakit aku \nselalu menulis surat sendiri dan meminta ibuku untuk menandatanganinya. \nNah, kenapa harus ibuku? Kau tidak akan percaya, ibuku memiliki \ntandatangan yang sangat cantik, ya mungkin secantik dirinya ketika dia \nmasih muda dulu. mungkin karena tandatangan ini ayahku tergila-gila dan \njatuh cinta pada gadis yang terpaut beberapa tahun darinya.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cb\u003eSurat untuk Musuh\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKau\n punya musuh? Pasti punya. Aku tidak, aku tidak menganggapnya musuh, \ncuma aku tidak suka saja kepada dia yang selalu sok jago, sok hebat dan \njuga sok preman. Dia adalah seniorku di sekolah. Aku menamakannya \nsebagai pesan teror. Sama seperti jaman sekarang, seperti yang dilakukan\n oleh pejabat di negara kita ini. Jika tidak suka pada seseorang maka \nakan menerornya dengan berbagai cara salah satunya dengan pesan SMS \nberbentuk ancaman pembunuhan dan bentuk ancaman menakutkan lainya. Aku \njuga melakukannya masa itu. Kau tau sendiri, ketika itu sedang banyak \ntentara di kampung kita,Ibu Megawati memberi nama \u003ci\u003eDarurat Militer\u003c/i\u003e.\n Semua orang takut pada tentara apa lagi anak sekolah yang baru beranjak\n remaja seperti kami. Karena alasan tidak suka dengan kakak kelas yang \nselalu mengganggu kami, maka aku menuliskan surat kaleng dengan nada \nancaman dan aku selipkan di sepeda motor target. Setelah surat itu aku \nkirimkan, nampaknya ada perubahan pada tingkah laku sang senior di \nsekolah, dia ketakutan. Aku berhasil.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cb\u003eSurat Untuk Orang yang Disukai\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eMenuliskan\n surat kepada orang yang kita suka itu sangat sulit, kau percaya? Aku \nmemaksa, kau harus percaya. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk \nmenuliskannya, membutuhkan editor untuk menyimak setiap penggal \nkalimatnya, membutuhkan kertas yang harum mewangi dan juga pastinya \nmembutuhkan pengirim hebat yang bisa memastikan surat itu sampai kepada \norang yang dituju.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eWaktu\n itu aku memiliki semuanya, aku punya teman yang pandai dalam bahasa \nIndonesia, sang juara kelas yang aku jadikan sebagai editor, aku punya \nkeras harum yang mudah didapatkan di toko sebelah rumah dan juga \npengirim surat handal yaitu teman sebangkuku.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSeorang\n gadis, anak pindahan dari Banda Aceh setelah Tsunami. Gadis ini menjadi\n salah satu primadona di sekolah kami, kehadiranya tidak membuat \ngadis-gadis lain merasa tersaingi. Sebut saja namanya Mawar. Sama \nseperti gadis-gadis lainya, nilai tambah Mawar cuma pintar, kalem dan \ncuek saja. Banyak orang tidak suka, tapi aku menyukainya.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKarena\n Mawar adalah adik kelas, dan jarang bertemu, maka aku memutuskan untuk \nmengirimkan sepucuk surat untuknya, aku tidak mau menceritakan apa isi \nsurat itu. Intinya aku menulis surat itu selama tiga hari dengan bantuan\n sang editor. Aku sudah mengirimkan 5 pucuk surat kepada Mawar dan \nmenerima 5 balasan surat. Cuma 2 surat yang menggunakan jasa editor, \nsedangkan 3 surat yang lain aku tulis dan edit sendiri karena isinya \nsudah sangat privasi namun aku tetap menggunakan jasa teman pengirim.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKau\n pasti tidak percaya, aku terkejut bukan kepalang. Kau tau kenapa? \nRupanya Mawar hanya menerima surat pertama dan keduaku saja, dan surat \nketiga, empat dan kelima tidak pernah lagi dia terima, namun aku selalu \nmenuliskannya. Aku mulai curiga kenapa surat balasan keempat dan kelima \ntidak lagi ditulis manual dengan tangan tetapi diketik rapi menggunakan \nkomputer, aku mulai curiga sepertinya ada konspirasi.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eBangkai\n tidak bisa disembunyikan terlalu lama karena dia akan bau, begitu kata \npepatah. Aku mulai tau rupanya suratku yang ketiga, empat dan lima tidak\n lagi dikirim langsung kepada Mawar tetapi siteman telah menggunakan \njasa sahabatnya Mawar katakanlah namanya Melati. Dan yang membalas surat\n itu adalah Melati tanpa sepengetahuan Mawar, pantesan isi suratnya \ntidak mencerminkan karakter seorang Mawar yang cuek dan Kalem dan isi \nsuratnya pun sedikit menyimpang tidak nyambung dengan surat sebelumnya.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSetelah\n kejadian itu, aku tidak lagi mengirimkan surat kepada Mawar, dan aku \nmulai tidak percaya dengan surat/pesan yang ditulis menggunakan komputer\n karena didalamnya pasti ada sedikit banyaknya kebohongan. Surat yang \nditulis dengan tangan sendiri akan lebih berkesan dan pastinya sejelek \napapun tulisan dalam surat itu aku akan berusahan untuk membacanya \nkarena isinya adalah pesan asli bukan rekayasa.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eKau\n tau sendiri, sekarang lagi musim pembajakan Handphone, akun pribadi \nkita seperti media sosial mudah sekali dibajak orang lain dan pelakunya \nadalah teman kita sendiri. Kita sering tidak menyadarinya dan baru sadar\n setelah bebera menit kemudian, tidak menunggu lama langsung \nmengkonfirmasi “Maaf,HP aku dibajak”.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eOyaa,\n Mawar sekarang sudah mempunyai tiga orang anak, semuanya perempuan. \nAnaknya cantik seperti ibunya. Suami Mawar adalah seorang Polisi. Polisi\n ini pernah aku teror dengan surat kaleng waktu dia sekolah dulu. Dan \nsampai sekarang dia tidak tau kalau aku yang melakukannya. Kalau saja \nsekarang dia tau, aku pasti ditangkap dan dijadikan tersangka dengan \npasal teror masa lalu. Seperti kejadian yang dialami oleh bapak-bapak \nkita di KPK. Ngeriiii.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eCukup yaa, aku mau makan dulu. Kopi digelas pun sudah habis.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eSemoga kita menyukai menulis surat dengan tangan sendiri.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e#Darbe.\u0026nbsp;\u003ci\u003eLibur Imlek, 19022015.13.23 WPPG\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https://www.darmanreubee.com/feeds/5741699528686705993/comments/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/sepucuk-surat.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/5741699528686705993"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/5741699528686705993"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/sepucuk-surat.html","title":"Sepucuk Surat "}],"author":[{"name":{"$t":"darmanreubee"},"uri":{"$t":"https://www.blogger.com/profile/16492959773330502426"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"35","height":"35","src":"//www.blogger.com/img/blogger_logo_round_35.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://2.bp.blogspot.com/-VsBVlDgjBK0/VOV773htrWI/AAAAAAAABVQ/Rv_5B73qwqw/s72-c/dyahelokwirdaningsih.wordpress.com.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-2348133304985000332.post-1267912948138433925"},"published":{"$t":"2015-10-30T22:35:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-10-30T22:36:02.541+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Fiksi"}],"title":{"type":"text","$t":"Pulang Kampung"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv class\u003d\"separator\" style\u003d\"clear: both; text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003ca href\u003d\"http://1.bp.blogspot.com/-iPPMfmrQSFQ/UnXumzqRJOI/AAAAAAAAAX8/qp1S8G-HbpI/s1600/images.jpg\" imageanchor\u003d\"1\" style\u003d\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003e\u003cimg border\u003d\"0\" height\u003d\"265\" src\u003d\"http://1.bp.blogspot.com/-iPPMfmrQSFQ/UnXumzqRJOI/AAAAAAAAAX8/qp1S8G-HbpI/s400/images.jpg\" width\u003d\"400\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAku\n mendekap erat tas ransel dan travel bag yang keduanya menggembung \ndipenuhi segala benda milikku untuk kubawa pulang. Ya, pulang dalam arti\n sesungguhnya. Kini aku pulang, kembali ke kampung tempat aku \ndilahirkan, tempat aku dibesarkan, tempat aku menimba ilmu-ilmu agama \ndan pendidikan dasar sampai menengah sekaligus tempat aku meninggalkan \nkeluargaku di tengah ganasnya kemiskinan.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003e“Kau\n adalah satu-satunya dari sekian banyak penduduk di kampung ini yang \nmemilih untuk belajar di kota, kau adalah anak yang pintar, kami semua \nmenaruh harapan penuh kepadamu untuk bisa memberikan sesuatu yang \nberarti bagi kampung ini”.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eEmpat\n tahun yang lalu, kata-kata itu diucapkan oleh seorang petani miskin \nsekaligus ayahku, seorang ayah terbaik yang pernah aku jumpai di dunia \nini. Sebagai seorang petani yang hanya menggarap beberapa petak sawah \nrasanya ayah tidak mungkin bisa menyekolahkan aku dari sekolah dasar \nsampai perguruan tinggi apa lagi aku masih memiliki dua orang adik yang \nharus bersekolah juga.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eGlantei,\n adalah sebuah kampung yang memiliki hasil alam berlimpah, mulai dari \npertanian, perkebunan dan pertambangan. Sayang, cuma pertanian dan \nperkebunan yang bisa digarap oleh masyarakat dikampungku, tidak dengan \nhasil tambangnya. Kampung Glantei, memiliki hasil tambang yang berlimpah\n terutama biji emas tapi sayang sekali tidak ada satupun masyarakat atau\n putra daerah yang mampu mengolahnya sendiri sehingga banyak perusahan \nasing yang mencoba untuk mencurinya secara tidak langsung dengan motif \nmengambil sample yang kemudia diteliti, kalau hasilnya bagus dan \nmengandung emas yang banyak maka mereka akan melakukan investasi dan \nmembuat pabrik dikampung kami.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eKehadiran\n perusahaan asing membuat aku resah, bagai mana tidak, aktivitas \nmencurigakan yang mereka lakukan selama beberapa tahun ini sangat jelas \nterlihat. Mereka kerab membawa bongkahan batu emas dengan menggunakan \nhelikopter ke tempat perusahaan induk mereka di kota, mereka harus \nmenggunakan jalur udara karena medan untuk mencapai lahan pertambangan \nsangat jauh dan medannyapun sulit dijaugkau menggunakan transportasi \ndarat makanya mereka mengunakan helikopter.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eDikampung\n kami, tidak banyak orang yang peduli terhadap aktivitas perusahaan \nasing itu, hanya aku saja yang sering protes-protes dan sesekali \nmempropokasi warga. Ayahku sering mengingatkan supaya aku tidak terlalu \nikut campur dengan masalah pertambangan itu, apa lagi kalau aku adalah \nseorang perempuan, kata ayah. Namun aku tidak ambil pusing dengan apa \nyang ayah katakan karena jelas-jelas perusahaan itu sangat menjajah aku \ndan seluruh warga kampungku.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eHampir\n satu tahun aku tidak ambil pusing mengurusi masalah tambang itu lagi \nkarena aku sedang disibukkan dengan kegitan di sekolah, aku sudah kelas 3\n SMA dan akan mengikuti Ujian Nasional. Aku sedang dipusingkan kemana \naku harus kuliah dan bagai mana aku bisa kuliah nantinya?. Aku ingin \nsekali belajar tentang pertambangan, aku ingin sekali memahami dan \nmengurus hasil tambang di daerahku ini, aku ingin putra daerah yang \nmengelolanya. Aku tetap yakin kalau Allah pasti akan memberikan jalan \nkeluarnya.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eSuatu\n malam, ketika kami sekeluarga makan diatas meja rotan buatan kakekku. \nAyah bertanya, dengan suara serak-seraknya: “Rahmi, dimana kamu akan \nkuliah setelah ini?” aku bingung bukan kepalang, aku galau tingkat dewa \npada saat itu. Ingin sekali aku mengatakan “aku ingin kuliah di teknik \npertambangan, Ayah”. Tapi aku hanya bisa mengataknya dalam hati. \nPertanyaan ayah hanya aku jawab sederhana, “aku tidak ingin kuliah, aku \ningin dikampung saja membantu ayah dan ibu di sawah”. Ayah kaget, “bagai\n mana bisa kamu tidak kuliah, kamu pintar dan kritis” sahut ayah.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eMakan\n malam kami berakhir dan tiba-tiba ada tamu yang datang ke rumahku \nsehingga percakapan aku dengan ayah putus tanpa ada kesimpulan. Aku \nsangat penasaran dengan ucapan ayah dimeja makan tadi, bagai mana \nmungkin ayah memaksaku untuk kuliah, dari mana dia mendapatkan uang. \nSetahuku biaya kuliah itu sangat mahal. Penasaran itu terus aku pendam, \naku tidak pernah bertanya kepada ayah apa pasal ayah memaksaku untuk \nkuliah.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eDi\n sawah, aku berjumpa dengan istrinya pak Geuchik, dia mengucapkan \nselamat kalau aku mendapatkan undangan untuk kuliah di ITB dan \nmendapatkan beasiswa bidik misi. Katanya, ibuku yang bilang kemarin sore\n ketika mereka pulang mengaji di sebuah pesantren di kampungku. \nPenasaranku semakin menjadi, saking senangnya, aku tinggalkan semua \nperalatan yang aku bawa ke sawah dan pulang kerumah sambil berlari, \ntidak peduli jalan yang aku lalui, semuanya aku anggap rata.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eSebelumnya\n aku memang telah mengikuti seleksi untuk mendapatkan undangan masuk \nperguruan tinggi di sekolahku, aku belajar sangat giat waku itu karena \ntargetku adalah\u0026nbsp; ITB karena aku ingin menjadi ahli pertambangan. Sampai \ndirumah, aku bertanya kepada ibu, “dari mana ibu tahu kalau aku lulus di\n ITB?”. Ibuku senyum-senyum, sangat jelas tampak manisnya bunga desa \nyang telah ayahku nikahi 17 tahun yang lalu. “Kemarin, kepala sekolahmu \ndatang kerumah mengantarkan berkas undangan dan mengatakan kalau kamu \nlulus di teknik pertambangan ITB dan mendapatkan beasiswa bidik misi” \njawab ibu. Senangnya aku bukan main. Rupanya, inilah dasar ayah \nmemaksaku untuk kuliah. Ayah sudah tahu kalau aku bakal diterima di ITB \ndengan beasiswa. Ayahku memang misterius.\u003cbr /\u003e\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; ******\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eAku\n kuliah di teknik pertambngan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Aku \nbangga bisa belajar di salah satu kampus terbaik di Indonesia, aku tidak\n pernah menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan ini. Aku belajar sangat \ngiat, tidak ada waktu yang terbauang sia-sia. Perjuangan ini ku lakukan \nsupaya aku bisa menjadi ahli tambang yang hebat, tujuanku hanya satu; \ningin memajukan kamung halamanku yang selama ini dijajah oleh asing.\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eSelama\n kuliah, aku juga bekerja part time di sebuah toko foto copy di dekat \nkampusku. Biarpun uang beasiswa yang aku dapat selama ini cukup untuk \nkebutuhan kuliah dan hidup selama di Bandung tetapi aku ingin \nmendapatkan uang lebih yang nantinya akan aku pergunakan untuk tiket \npulang kampung setahun sekali.\u0026nbsp; Setahun sekali aku selalu pulang kampung\n menjenguk keluarga dan memantau perkembangan aktivitas tambang di \nkampungku. Setiap kali aku pulang kampung saat itu pula motivasi aku \nuntuk menjadi ahli tambah bertambah, aku ingin cepat sarjana.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eAlhamdulillah\n aku lulus dari ITB dengan predikat cumlode, prosesi wisuda yang sangat \nmegah yang memposisikan kedua orang tuaku pada tempat duduk paling depan\n membuat aku bangga dan terharu. Inilah hasil kerja kerasku selama ini, \naku ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi kedua orang tuaku dan \njuga masyarakat di kampungku. Aku berhasil menjadi sarjana teknik \npertambangan, biarpun tidak begitu ahli tetapi aku banyak memahami \nmasalah pertambangan karena selama kuliah aku dipercaya menjadi asisten\u0026nbsp;\n dosen dan sering di ajak untuk melakukan penelitian terhadap \ntambang-tambang yang ada di Indonesia.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eSelama\n minggu pertama aku di kampung, aku mulai mempelajari potensi tambang \nyang ada di kampungku ini, pertambangan yang dulunya dikelola oleh asing\n sekarang sudah berhenti, mereka tidak lagi beroprasi pasca pemerintah \ndaerah di daerahku mengeluarkan peraturan tata kelola hutan. Daerah \npertambangan yang dulunya merupakan hutan produktif sekarang sudah di \nalihkan menjadi hutan lindung dan tidak boleh ada aktivitas pertambangan\n yang bisa merusak hutan.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eAku\n kerap meneliti beberapa area hutan di kampungku yang tidak termasuk \ndalam hutan lindung, dan Alhamdulillah aku menemukan sumber emas yang \nluar biasa. Hasil temuan ini aku sampaikan kepada pak Geuchik dan beliau\n segera membuat rapat warga untuk menindak lanjuti temua ini. Kami \nsepakat membuat koperasi desa yang nantinya akan mengelola tambang yang \nkami temukan ini. Koperasi yang kami namakan Koperasi Ata Geutanyoe, \nberanggotakan semua warga yang berada di kampungku. Kami sepakat \nmengelola pertambangan emas itu secara tradisional. Aku dan pak Geuchik \npernah berusaha menjumpai pemerintah daerah untuk meminta izin supaya \nkami bisa mengelola tambang itu secara profesional dan sedikit modern \nkarena aku yakin banyak koneksi yang bisa membantu kami nantinya tapi \nsayangnya pemerintah belum mengizinkannya dengan berbagai macam alasan. \nTidak mendapatkan izin bukanlah kekalahan telak bagi kami, kami tidak \nberhenti sampai disitu. Tidak bisa mengelola secara profesional namun \nkami masi bisa mengelolanya secara tradisional.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eUntuk\n mendanai proyek tambang ini, semua biayanya ditanggung oleh warga \nkampung. Dana yang kami kumpulkan dari warga cukup untuk membeli semua \nperlengkapan pertambangan; mulai dari mesin udara, penerangan, peralatan\n galian, sampai mensin gelondongan. Aku bisa mendapatkan semua alat-alat\n itu dengan harga yang tidak terlalu mahal dengan memanfaatkan beberapa \nkoneksi semasa aku kuliah dulu.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eSudah\n setahun kami menjalankan koperasi dan aktivitas tambang tersebut. Aku \ndipercaya oleh warga untuk memimpin koperasi itu. Alhamdulillah kami \nmendapatkan untung yang besar, keuntungan yang kami dapatkan dari hasil \ntambang bisa membuat semua masyarakat di kampungku sejahtera, tidak ada \nlagi warga yang kelaparan, tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah, \ntidak ada lagi rumah yang tidak layak huni, semua itu kami peroleh dari \nhasil kerja keras kami selam ini. Sekalipun aktivitas pertambangan tidak\n pernah berhenti setiap harinya namun aktivitas sawah dan kebun tetap \naktif seperti biasanya sehingga penghasilan masyarakat tidak hanya dari \ntambang tetapi juga dari pertanian dan perkebunan.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003ci style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e[1 November 2013,\u0026nbsp;\u003c/i\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003eM. Darmansyah Hasbi]\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003ePak \u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003eGeuchik \u003c/span\u003e\u003d Kepala Desa.\u003c/i\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https://www.darmanreubee.com/feeds/1267912948138433925/comments/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/pulang-kampung.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/1267912948138433925"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/1267912948138433925"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/pulang-kampung.html","title":"Pulang Kampung"}],"author":[{"name":{"$t":"darmanreubee"},"uri":{"$t":"https://www.blogger.com/profile/16492959773330502426"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"35","height":"35","src":"//www.blogger.com/img/blogger_logo_round_35.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://1.bp.blogspot.com/-iPPMfmrQSFQ/UnXumzqRJOI/AAAAAAAAAX8/qp1S8G-HbpI/s72-c/images.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-2348133304985000332.post-8201852175800791300"},"published":{"$t":"2015-10-30T22:34:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-10-30T22:34:05.294+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Fiksi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Lifestyle"}],"title":{"type":"text","$t":"Sabar Atas Cinta"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv class\u003d\"separator\" style\u003d\"clear: both; text-align: center;\"\u003e\n\u003ca href\u003d\"http://1.bp.blogspot.com/-G7C63Y-HfUo/UmPmJr9aNuI/AAAAAAAAAXk/NTVWJt8C3o4/s1600/cinta+halal.jpg\" imageanchor\u003d\"1\" style\u003d\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cimg border\u003d\"0\" height\u003d\"263\" src\u003d\"http://1.bp.blogspot.com/-G7C63Y-HfUo/UmPmJr9aNuI/AAAAAAAAAXk/NTVWJt8C3o4/s400/cinta+halal.jpg\" width\u003d\"400\" /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eDi\n sudut ruangan yang luasnya tidak lebih dari 3 m2 ada sepasang kursi \nkayu dan satu meja bergaya klasik. Hiruk pikuk suara orang bicara tanpa \nhenti semakin mengganggu pendengaranku, suara mobil dan sepeda motorpun \ntidak kalah berisiknya. Ingin sekali aku protes terhadap keadaan seperti\n ini tapi lama-lama aku mulai berpikir, ngapain..? itu kan hak mereka..!\n gumanku. Begitulah berisiknya sebuah warung kopi, warung kopi dimana \naku menghabiskan siang sambil mambaca koran yang ditemani segelas kopi. \nNikmatnya kopi seolah mengabaikan panasnya matahari dan berisiknya kota \ndisiang itu.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eTiba-tiba datanglah seorang \npemuda dengan badan tegap, tinggi dan hitam manis, menghampiri meja \ntempatku duduk. “Assalamualaikum Bang, apa kabar?”. Belum sempat \nmenjawab salam, aku mulai terheran-heran, “siapa gerangan orang ini”, \ngumanku. Aku menjawab salam dan menjulurkan tangan kepada pemuda itu. \u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“Afnan . Masi kenal?” dia memperkenalkan diri.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“Ohh..ya ampun,\u0026nbsp; udah berubah kamu Afnan ” sahutku malu-malu.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAku mempersilahkan Afnan duduk\n dan kami mulai bercerita seputar perjalanan hidup yang telah kami \njalani selama ini, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal dan keluarga \ntidak lupa kami bernostalgia kisah ketika kami masi kuliah dulu. Afnan\u0026nbsp; \nmemang sudah berubah, terutama dalam hal fisik. Sekarang dia terlihat \nsehat dan badannya mulai berisi tidak seperti dulu, kurus krempeng.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eTidak terasa dua jam kami \nbercerita. Waktu berlalu begitu cepat, sore pun sudah mulai menampakkan \nwajahnya seolah mengintruksikan langit untuk menggelap, awan hitam ingin\n menyiram kotaku, kota yang sudah lama tidak basah. \u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“Aku pamit dulu, ini ada undangan pernikahanku” pamit Afnan\u0026nbsp; padaku. \u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“terima kasih, Insya Allah aku datang” sahutku. Sambil senyum aku ambil kertas yang dia sodorkan.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAku mencoba untuk membuka \nundangan warna kuning klasik ala jaman dulu, sebuah kertas bergaya \nminimalis yang dipadukan dengan corak-corak modern. Didalamnya terlihat \nnama dua mempelai yang sudah melangsungkan akat nikah yaitu: Dr. \nrer.nad. Afnan Hanafiah. dan Assyifatul Haifa, M.Sc. Aku tersenyum \nbangga dibalut bahagia menerima undangan ini. Bagaimana tidak, teman \nbaikku yang dulu selalu aku ejek karena tidak punya pacar kini mau \nmelangsungkan resepsi pernikahannya. Aku yang dulunya sudah memiliki \npacar dan pacaran sampai sekarang namun belum juga menikah. Memang \nnasip.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; ******\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eNamanya\n Afnan Hanafiah, pria tinggi dan ganteng, punya pemikiran sederhana \nterhadap kehidupan yang membuatnya selalu bahagia. Komitmen terhadap \nprinsip hidup, sebuah prinsip yang selalu dijunjungnya. Apa lagi soal \ncinta, dia sangat hati-hati.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAfnan\u0026nbsp; teman satu kuliahku \ndulu, kami selalu bersama-sama sampai sarjana. Kata teman-teman, dia \nmerupakan pria yang takut sama perempuan. Kalau lagi duduk sama \nperempuan dia gemetaran. Pernah aku amati dan mencoba untuk membuktikan \napa yang orang-orang katakan terhadap Afnan , rupanya salah besar. Aku \nmencoba melihat dari sudut pandang Afnan, kenapa dia belum mau pacaran, \npadahal banyak kok perempuan-perempuan di kampus yang menyukainya. Dia \ncuma tinggal bilang “aku cinta kamu dek”, langsung lengket, gumanku. \nKemana saja aku sering bersama dengan dia, mau ke perpustakaan, laut, \nmancing, nonton bola dan kemana pun aku lebih sering bersamanya. Sering \nsekali diskusi-diskusi kecil kami lakukan bersama, membahas semua \npersoalan tidak terkecuali soal cinta. Kebersamaan inilah membuat aku \nlebih banyak tahu bagaimana arah berpikir Afnan\u0026nbsp; khususnya dalam urusan \nperempuan.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAku tersentak kaget ketika dia\n bercerita pancang lebar, mengeluarkan seluruh teori dan pemikirannya \ntentang “cinta”. Cara dia menyampaikannya tidak kalah seperti penceramah\n kondang. Ya. Secara pandangan agama dan logika berpikir manusia memang \nada benarnya juga apa yang dia katakan tapi sulit bagi aku dan orang \nlain untuk menjalankannya. Tidak semua orang bisa. Hanya orang-orang \npilihan yang bisa.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAku pernah bertanya soal cinta kepada Afnan\u0026nbsp; ketika kami sedang menikmati indahnya laut sambil menyantap gorengan ala mahasiswa:\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“Afnan , kenapa kamu tidak pacaran?” tanyaku.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“aku belum siap membagi cinta” jawab Afnan\u0026nbsp; tegas.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“emang kamu sudah punya pacar? Tanyaku lagi.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“sudah..!!” dengan santainya dia menjawab.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“dimana pacarmu? Kali ini nada suaraku sedikit keras, karena kesal.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e“Allah\n sudah mempersiapkannya dan telah menentukanya, aku tinggal menunggu \nwaktu itu tiba dan akan menikah dengan gadis yang telah Allah siapkan \nitu, aku mau cinta yang halal kawan” sambil senyum-senyum dia menjawab.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eSetiap pertanyaan yang aku \najukan jawabannya pasti menjurus ke agama. Jawaban yang dia gunakan \nadalah jawaban yang boleh aku bilang adalah jawaban tauhid, dengan \nmengaitkan segala sesuatu dengan Allah. Sebagai orang yang beriman aku \nharus mempercayainya sekalipun aku belum bisa melakukannya untuk saat \nini.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eDari beberapa kali aku diskusi\n dan memantau gerak-geriknya, Afnan\u0026nbsp; memang tipe cowok yang setia, dia \ntidak mau mempermainkan perempuan apa lagi meyakiti hati perempuan. \nKarena alasan belum mampan dan belum siap untuk menikah makanya dia \nbelum mau pacaran. Kalau seandainya dia sudah siap lahir batin, \njauh-jauh hari sudah nikah, pikirku.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eSebagai orang yang jomlo, \nAfnan\u0026nbsp; bebas berteman dengan perempuan mana saja tidak ada batas seperti\n orang-orang yang punya pacar kebanyakan yang selalu dikekang dan \npergerakan yang dilakukanpun tidak bebas. Orang jomlo seperti Afnan\u0026nbsp; \nboleh nogkrong dengan teman mana saja, teman pulan, teman pulen, teman \nini dan itu, tapi langkah Afnan tidak berlaku bagi orang yang sudah \npunya pacar seperti kami, itu sangat dilarang, nanti dikirain selingkuh.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eSuatu hari hubungan asmaraku \npernah berantakan, aku sangat stres dan terpukul sekali pada waktu itu. \nAda beberapa temanku juga mengalami hal yang sama, kami semua sangat \nkacau. Untuk menghilangkan stres kami memilih untuk santai dan ngopi \nbareng. Pada saat itu semua kami yang sedang kacau melirik ke arah \nAfnan, dia biasa-biasa saja, bawaan gembiranya selalu terlihat, wajah \ntanpa beban.”enak banget jadi kamu Afnan” ucapku. Dia hanya tersenyum.\u0026nbsp; \nKetika kami semua sibuk menyelesaikan masalah perempuan, masalah \npercintaan, Afnan\u0026nbsp; jusru sibuk dengan kegiatan-kegiatan sosial yang \ndilakukannya bersama sebuah organisasi tempat dia berkecimpung. Sangat \nluar bisa, hidupnya begitu tentram.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;*******\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eTidak\n lama setelah kami wisuda, semua teman-teman sudah berpencar, ada yang \nsudah ke luar kota, luar provinsi bahkan ke luar negri. Semua pada sibuk\n dengan aktivitas dan pekerjaan masing-masing. Afnan\u0026nbsp; memilih untuk \nkuliah ke luar negri, dia mendapatkan beasiswa magister dan doktor di \nJerman. Komunikasi tetap kami lakukan sekalipun jauh, paling \nkadang-kadang dengan skype dan facebook saja. Kalau teman-teman yang \nlain masi bisa dijangkau keberadaannya karena masi dalam provinsi \nsehingga komunikasi mudah kami lakukan bahkan kami sering berkumpul dan \nbisa update aktivitas semua teman-teman.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eSetelah lima tahun tidak \nberjumpa dengan Afnan, sekarang dia sudah berubah. Anak yang dulunya \ntidak mau pacaran sekarang mau menikah. Luar biasa. Kami yang dulunya \nasik pacaran bahkan sampai sekarang juga masi pacaran. Kami tidak tahu \nkapan akan menikah. Jujur, secara finansial aku sudah mampan dan sudah \nlayak untuk menikah. Teman-teman yang lainpun begitu. Kami tidak tahu \nkenapa dan apa penyebab sehingga kami belum punya niat untuk menikah \npadahal umur kami tidak muda lagi.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eAku\n sangat takut kalau suatu hari nanti Afnan\u0026nbsp; bertanya pada kami semua, \n“kapan kalian menikah?” pertanyaan yang sangat mematikan. Lembut tapi \nkejam.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eAku baru sadar, inilah rahasia Allah. Allah sudah mengatur semuanya. Kita manusia diwajibkan untuk berusaha dan bersabar.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003ePernyataan\n Afnan dulu tentang “cinta” sekarang sudah terjawab. Allah sudah \nmempertemukannya dengan orang yang sangat dicintainya yaitu seorang \ngadis yang pernah ditaksirnya semasa kuliah dulu. Kesabaran Afnan\u0026nbsp; untuk\n tidak pacaran sudah berbuah hasil dan kerja keras dia untuk mencapai \nmimpi tidak sia-sia. Mimpinya ingin ke Jerman, sekarang sudah tercapai \nbahkan dia mendapatkan gelar magister dan doktornya dari Jerman.\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u003cbr /\u003eAfnan\n akan menjalani kehidupan yang halal bersama istrinya dan akan membangun\n keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah. Sedangkan aku dan beberapa \nteman-teman yang lain masi berjuang untuk mendapatkan itu semua, \nmendapatkan cinta yang halal.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e[18 Oktober 2013,\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003eM. Darmansyah Hasbi]\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;\"\u003e\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003cbr /\u003e\n\u003cbr /\u003e\n\u003cspan style\u003d\"font-size: small;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https://www.darmanreubee.com/feeds/8201852175800791300/comments/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/sabar-atas-cinta.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/8201852175800791300"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https://www.blogger.com/feeds/2348133304985000332/posts/default/8201852175800791300"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https://www.darmanreubee.com/2015/10/sabar-atas-cinta.html","title":"Sabar Atas Cinta"}],"author":[{"name":{"$t":"darmanreubee"},"uri":{"$t":"https://www.blogger.com/profile/16492959773330502426"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"35","height":"35","src":"//www.blogger.com/img/blogger_logo_round_35.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://1.bp.blogspot.com/-G7C63Y-HfUo/UmPmJr9aNuI/AAAAAAAAAXk/NTVWJt8C3o4/s72-c/cinta+halal.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}}]}});