Oleh Muhammad Natsir TaharSastra dan filsafat adalah dua hal yang kontras.
Dua bidang yang silang sengketa. Keduanya mengalami kawin paksa sejak Plato.
Plato ingin mengusir Homer dari kota idealnya, karena sastra Homer bicara dusta
tentang dewa dewi Olympus yang kadang liar dan menjahati manusia. Filsafat yang
dingin dan rasional tentu saja membungkam Homer. Plato hanya ingin Homer pergi,
tapi tidak sastranya.
Homer adalah sastrawan kuno paling sohor,
darinya kita banyak tahu tentang mitologi Yunani. Sedangkan Plato adalah filsuf
angkatan pertama yang menulis. Ia menulis Politeia tidak dengan kaku
cara filsafat, tapi menghimpunnya di dalam diksi sastra, dalam dialog – dialog
imajiner.
Agar metafora terbangun, sastra harus di
depan. Sastra yang liar dan elok rupa tak henti bergelinjang di atas podium
kata, tapi tanpa filsafat ia nirmakna. Sastra mampu meruntuhkan bangunan
pikiran yang menindas, tapi tanpa filsafat, ia akan abadi sebagai reruntuhan.
Meminjam Martin Suryajaya, sastra menjebol, filsafat membangun.
Selain Aristoteles yang menyusun
ensiklopedia, hampir semua filsuf dunia bertutur cara sastra. Aristoteles
dibangkitkan di jazirah Arab. Pun demikian, oleh filsuf Islam Averroes, Al Farabi atau Al Kindi
misalnya, ia dielaborasi kembali secara sastrawi.Mereka yang beraliran filsafat Peripatetik (masysya’iyyah) membuat sintesa antara
ajaran-ajaran Islam dengan Aristotelianisme dan Platonisme, mencakup Alexandrian maupun Athenian, juga
ajaran-ajaran Plotinus dengan perpaduan wahyu Islam. Induk semang dari peripatetik
adalah Aristoteles
yang rigid.
Utopia yang ditulis Sir Thomas More terbit pada 1516 adalah karya filosofis
yang dibangun secara sastra fiksi dan satire sosio-politik. Berbagai aliran
filsafat mulai neoplatonisme hingga eksistensialisme jamak memakai sastra
sebagai medium penyampai.
Bukan pula
sastra yang bergantung kepada filsafat. Sastra bisa pergi sendiri secara
dirinya. Tanpa menggendong filsafat, sastra tetaplah sastra. Sastra juga bisa
menjadi kenderaan makna bagi dogma. Atau wahyu memang perlu disampaikan dengan
cara indah. Kitab suci seperti Al Quran datang sebagai sastra tanpa
tanding.
Ada 4.200
agama di dunia, mereka menyusun kidung dan bait puja puji kepada tuhan, juga
mantra-mantra dan aji – ajian sastrawi kepada dewa. Mereka meminjam sastra,
bukan sastra itu sendiri, kecuali kita ingin menyandingkan dogma dengan fiksi.
Filsafat yang bersembunyi di dalam kabin
akal, adalah ia yang kaku beku dan tak terusik. Filsafat menghimpun nilai –
nilai universal yang paling ideal, dan membebaskan diri dari kotak-kotak sempit
fanatisme. Berpusat kepada logika dan teraju kebenaran yang terverifikasi.Maka seorang filsuf yang baik menjadi
fardhu memakai sastra agar nilai-nilai filosofisnya tersampaikan. Ini akan
menjadi suatu paradoks yang kekal, sebab sastra bersifat irasional sementara
filsafat sangat rasional. Sastra panas dan filsafat dingin. Tapi keduanya bisa
membahu, ketika sastra berhasil meruntuhkan, filsafat datang membangun
kebaruan.Karya sastra yang ingin luas dan filosofis
akan membawa serta filsafat baginya. Kita mengenal Sutan Takdir Alisjahbana,
dengan karya-karya sastranya yang berfilsafat.Alegori Gua dari Plato dan alegori Orang Gila karya Nietzsche misalnya bisa saja dinikmati secara
penikmat sastra tulen tanpa perlu berkernyit untuk menghitung makna filosofis yang
ada di dalamnya. Di sini kadang-kadang filsuf kemudian menjadi ragu untuk bersastra,
karena ditakutkan ia hanya diingat sebagai fiksi atau sebatas himpunan aneka
diksi.
Lalu bagaimana duduk
perkara untuk pelaku sastra dan filosof? Sebab sastra dan filsafat di dalam
pertemuannya akan menjumpai titik kritis, keduanya akan saling melemahkan.
Filosof harus membangun
penekanan-penekanan filsafat ketika memasuki belokan tajam sastrawi. Demikian
pula para sastrawan, harus tidak biasa-biasa saja bersastra dengan tunggal
tanpa mengajak filsafat menjadi kawan bergelut.
Kita bisa meniru cara
cerdik Ernest Hemingway yang dalam perwatakan karya-karyanya mengajak serta
filsafat stoicisme dan determinisme. Apapun bantahannya, Hemingway telah memperoleh
Hadiah Pulitzer pada 1953 untuk The Old Man and the Sea. ~MNT
No comments yet.
Close this window