[Image]
Oleh Muhammad Natsir Tahar
Bagaimana
jika fenomena Ahok dan Rizieq yang telah menghisap perhatian dan energi publik
segera ditepikan. Ini hanya masalah kecil, nomor sekian – sekian. Bukan perkara
baru, hanyalah pengulangan yang bentuknya berbeda meski lebih masif. Membuat
mereka kecil dan tidak penting adalah cara berpikir Logika Terbalik.
Logika
bekerja secara silogisme, jika satu atau dua premis menyatakan itu benar, maka
segera ditarik konklusi bahwa itu benar, demikian sebaliknya. Manusia secara
umum lebih banyak menggunakan logika linguistik: memunculkan premis berdasarkan
fakta – fakta ujaran.
Logika bukanlah kebenaran, tapi hanyalah alat bantu untuk
mencapai kebenaran. Yang memusingkan adalah ketika dua kubu sama – sama mengaku
sebagai pelopor kebenaran yang disusun berdasarkan logika sepihak lalu melabel
pihak lawan sebagai orang yang salah dan pasti salah.
Jika
sudah begini, sampai hari terakhir bumi berputar tidak akan ada titik temu
malah justru menumpuk bom waktu. Ada baiknya kita melakukan reframing, yakni
membingkai ulang setiap kejadian dengan mengubah sudut pandang. Reframing hampir
sama dengan Logika Terbalik. Psikolog mendefinisikan Logika Terbalik untuk
menjawab persoalan dengan cara merekayasa akibat dengan mengubah sebab.
Misalnya
jika ada yang mengatakan kita bangsa kuli, yang perlu kita lakukan bukanlah
merespon balik tudingan tersebut dengan mencari-cari stigma lawan. Tapi temukan
sebabnya dan perbaiki sampai tidak ada alasan apapun untuk menyebut kita
sebagai bangsa kuli tapi bangsa tuan.
Kenapa kita dijajah, kenapa kita digusur,
kenapa kita dilihat sebelah mata, kenapa kita tertinggal secara ekonomi, kenapa
kita ada di pinggiran, kenapa kita bodoh, semua penyebabnya dibongkar lalu
perbaiki sampai tidak ada satu pun cap negatif yang muncul.
Penjajah
itu buruk, tapi kaum yang terjajah tidak kalah buruknya, bahkan lebih buruk.
Kaum yang terjajah beratus tahun adalah pecundang dalam sejarah. Salahkan diri
sendiri, kenapa bangsa sehebat ini bisa dijajah sekian lama? Temukan sebabnya
dan perbaiki, agar tak terulang.
Neokolonialisme, neoimperialisme itu adalah
genre baru dari episode penjajahan panjang yang menimpa bangsa ini. Kita yang
lemah, dan orang kuat memanfaatkan kelemahan kita, lalu kita menyalahkan yang
kuat.
Alih –
alih membongkar logika usang - bahwa yang tertindas adalah yang selalu benar
dan wajib dilindungi dalam kaidah humanisme dan norma - baiknya gunakan logika
terbalik, perkuat diri sendiri, tiru bangsa Jepang atau Korea Selatan misalnya
yang etos kerja dan gairah untuk meningkatkan kualitas diri mereka empat hingga
sepuluh kali lipat dari kita.
Kalau perlu datangi negeri orang, lalu kita yang
menjadi tuan tanah di sana, ketepikan pribumi mereka. Jika tak mampu pelan –
pelan saja atau terima kenyataan.
Budaya
korupsi tidak bisa diselesaikan oleh satu figur atau maskot macam Ahok
misalnya. Setiap manusia punya celah untuk salah dan tidak ada manusia setengah
dewa dalam politik. Mereka hanyalah perangkat dan bualan zaman.
Yang perlu kita
lakukan adalah mengubah tabiat kolektif. Dalam Logika Terbalik semua pejabat
dan semua elemen yang bersentuhan dengan uang negara adalah koruptor, kecuali
mereka bisa membuktikan sebaliknya.
Dalam
Logika Terbalik semua figur adalah pemain gelanggang yang meracuni sejarah
kecuali mereka sudah membuktikan bahwa sepak terjang mereka bersih demi rakyat,
demi umat, demi keindonesiaan yang lebih luas.
Jika ingin mengubah negeri ini
menjadi lebih baik masuklah ke domain politik dengan santun, tak perlu terlalu
syahdu membentang sajadah ekstra parlementer di jalan – jalan ibukota. Habib
Rizieq dalam Logika Terbalik hanyalah pemain gelanggang, sampai dia bisa
membuktikan diri sebagai solusi terbaik untuk bangsa ini dengan cara – cara
elegan dan prosedural.
Menggiring
penghukuman Ahok atas penistaan al Maidah 51, dalam Logika Terbalik terkesan
pemaksaan dan mengandung titik lemah. Bagaimana mungkin pelanggaran hukum
langit diselesaikan dengan hukum bumi (KUHP sebagai turunan dari Civil
Law warisan kolonial Belanda).
Di kubu
sebelah pula, kenapa pula beramai – ramai menyalakan lilin dan menangisi
seseorang yang hanya Anda kenal sepihak dan sudah pasti bukan dewa, semua itu
hanyalah pembuktian kualitas diri yang inferior dan treatikal politik yang
digerakkan para petualang, kecuali ada pembuktian logika bahwa itu mampu
memberi nilai tambah kepada bangsa ini. Logika Terbalik akan membongkar semua
lelaku dan cara berpikir usang, menolkan semuanya lalu menyusunkan kembali
menjadi sesuatu yang baru dan bermanfaat.
Logika Terbalik
meniscayakan bahwa pemimpin yang hebat dan efektif, pemimpin yang on
the track, pemimpin yang kelihatan hasilnya dan memenuhi mayoritas
kepuasan publik sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Tidak ada yang
istimewa.
Jadi jika merasa sudah ketemu pemimpin seperti ini tak perlu
didewakan lalu menumpahkan seluruh hidup mati kepada dia. Dengan Logika
Terbalik, semua pemimpin sudah pasti sekelas Nelson Mandela, kecuali mereka
hanyalah kawanan penjahat tengik yang beruntung. Indonesia tak butuh figur, karena yang terpenting adalah
membongkar isi kepala masing - masing. ~MNT
No comments yet.
Close this window