Apa yang membuat kita
ketawa, tragedi atau komedi? Semua orang -kecuali ia penikmat derita atau
masokis- akan memilih komedi. Tragedi dan komedi adalah dua tema besar nan
dikotomis di atas kanvas kehidupan kita.
Tragedi dan komedi, kata Aristoteles adalah sebentuk mimesis (meniru)
manusia dengan alamnya. Kita seperti dilarang ketawa dengan cara komedi, karena
Aristoteles memihak tragedi.
Filsafat Barat meninggikan
tragedi dari komedi. Tapi Filsafat Timur seperti Buddhisme atau Zen
menihilkannya: melepaskan diri dari ketergantungan pada tragedi dan komedi.
Untuk membedakan Filsafat Timur dengan Nihilisme Nietzsche adalah penyangkalan
Nietzsche terhadap adanya tujuan final dari kehidupan.
Lalu bagaimana dengan mistikus atau sufisme, di antara
mereka telah menyatakan diri untuk keluar dari filsafat, atau sebenarnya telah
berpindah ke Filsafat Timur.
Filsafat Timur berat, perlu latihan khusus, dan pengikutnya
sedikit, karena manusia selalu ingin menjadi bagian dari tragedi. Sejarah dunia
abad demi abad ditulis dengan tinta emas untuk menyepuh merah darah tragedi.
Pahlawan dan orang suci ditarik oleh sejarah dari medan
perang dan duka nestapa. Sejarah tidak menulis orang-orang konyol, maka sejarah
mungkin tidak menulis komedi.
Secara etimologis, tragedi berangkat dari kata Yunani tragoidia, terbagi
dari kata tragos, artinya kambing dan aeidein yang
berarti nyanyian. Menggambarkan nyanyian yang mengiringi nasib seekor kambing
yang dikorbankan pada acara ritual dalam budaya Yunani kuno.
Tragedi melambangkan keseriusan seorang tokoh berkarakter
protagonis, yang berupaya untuk menelaah pertanyaan-pertanyaan eksistensial
manusia. Tragedi ditujukan untuk memicu kartarsis (penyucian) dengan respon
paradoks.
Sedangkan komedi berasal dari bahasa Yunani kōmōidía berarti
suatu karya lucu yang semata bertujuan untuk menghibur dan menimbulkan tawa.
Dalam Poetics, Aristoteles menyebut tragedi
sebagai kebaikan dan kehormatan sedangkan komedi sebagai sesuatu yang inferior
dan hina dina. Tragedi dan komedi adalah
dua genre besar pertunjukan pada zaman Yunani kuno. Di balik tragedi ada
mimesis belajar dan berpikir, sedangkan dalam komedi hanya ada pembengkokan
logika, bahkan kelucuan harus hadir dari sesuatu yang rendah atau cacat tubuh
dan mental.
Sungguh aneh, tentang fenomena manusia yang menghibur
dirinya dengan menonton panggung tragedi. Menikmati kepiluan
dan rasa takut yang dialami tokoh protagonis, yang di ujung cerita berhasil
memindahkan derita itu kepada pemeran antagonis. Kita menunggu sebuah
penderitaan berpindah, kita mengikuti penderitaan itu.
Dunia lebih dipenuhi tragedi ketimbang komedi karena manusia
menyerap kepiluan dari setiap fenomena yang mereka alami dan selalu ingin
terlibat di dalamnya.
Seperti kata Wallace D Wattres dalam bukunya The
Science of Getting Rich yang terbit pada 1910, pikiran tentang perang
akan menarik lebih banyak perang, demikian pula untuk wabah penyakit, bencana
alam, dan kelaparan. Keserupaan menarik keserupaan. Gagasan ini oleh Rhonda
Byrne dipopulerkan dengan istilah Law of Attraction (LoA) atau
Hukum Tarik Menarik.
Untuk melenyapkan tragedi adalah dengan melupakannya. Planet
ini hanya senda gurau belaka. Kelimpahan hanya bisa ditarik oleh syukur dan
kegembiraan. Dan kegembiraan selalu datang dari tawa, yang memiliki sumber
berlimpah dari komedi. Betapa banyak orang yang kecanduan obat untuk mencari
bahagia, atau menenggak alkohol untuk sengaja mabuk lalu melupakan tragedi.
Di antara kita pernah mendengar tentang tragedi gas
ketawa hasil temuan Joseph Priestley di Eropa (1793). Orang-orang menghirup gas
pemati rasa bernama Nitrous Oksida itu untuk membuat mereka bisa tertawa.
Mereka gagal menemukan itu dari komedi. Tapi bagaimana dengan tragedi? Apakah
kita memang jenis makhluk yang sadis: menghibur diri dengan tragedi.
Berita yang paling banyak kita nikmati adalah tragedi.
Sinema yang paling ingin kita tonton bertema kekerasan atau horor. Novel–novel
derita cinta dan pengkhianatan selalu paling laris. Sophocles dan
Shakespeare abadi karena mereka menulis tragedi.
Anak-anak milenial menikmati tragedi dalam bentuk Mobile
Legends atau Clash of Clans. Orang berselera humor
rendah, terpingkal melihat tragedi sebuah sepeda meluncur ke dalam selokan.
Orang-orang cerdas mengkritisi tragedi dengan cara satire seperti Voltaire.
Kembali ke Aristoteles, bila komedi dianggap inferior,
dapatkah tragedi disebut superior? Sedangkan ada bagian dari tragedi yang
dilakukan pesakitan berperangai masokis (masochist). Mereka menikmati
ketika dirinya disiksa, sementara orang-orang sadis menikmati penyiksaan yang
mereka lakukan, lalu keduanya bekerjasama dalam sadomasokis.
Bahkan yang selalu menjadi korban tragedi adalah orang-orang
inferior, bukan karena ia mendapat ujian atas kebajikannya, tapi akibat dari
kenaifan dan kedaifannya.
Sebaliknya komedi abad ini adalah industri cerdas yang bisa
dikemas cara elegan dengan berbagai teknik untuk memanipulasi penonton. Hal ini
dapat kita lihat pada stand up comedy yang diulas para pakar.
Komika bisa disebut genius bila ia mampu membelokkan premis yang absurd dan
irasional untuk meledakkan tawa tanpa perlu memasang muka atau gerakan aneh.
Bila kita gagal menjemput kegembiraan dari komedi, perlukah
kita menertawakan tragedi seperti Joker dalam Batman? Bisa saja, jika tidak
hari ini mungkin nanti. Seperti rumus sutradara Woody Allen, komedi = tragedi +
waktu. Kutipan ini muncul dalam salah satu dialog di film Crime and
Misdeamanor, bahwa apa yang kita tangisi dan membuat kita marah
sekarang, akan membuat kita tertawa nanti. Tragis? ~ MNT
No comments yet.
Close this window