[Image]
Si Monyet yang kelaparan melihat ada banyak
pohon pisang yang sudah masak di kejauhan. Perutnya yang lapar sudah tidak bisa
bersabar lagi minta untuk diisi. Masalahnya pisang-pisang itu ada di seberang
sungai. Dan monyet tidak bisa berenang. Kemana ia harus minta bantuan karena di
sungai itu tidak ada jembatan penyeberangan?
Setelah berpikir lama, Monyet melihat ada
seekor buaya besar yang hendak naik ke tepi sungai untuk berjemur. Didorong
oleh rasa lapar yang teramat sangat, Monyet memberanikan diri menemui Buaya.
“Selamat siang, Tuan Buaya yang baik hati.
Maukah Tuan menyeberangkan saya ke tepian sana? Saya mau memetik pohon pisang
yang sudah matang di sana. Nanti separuhnya akan saya berikan untuk Tuan,”ucap
Monyet memberikan penawaran.
Buaya berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak
suka menolong Monyet. Apalagi jika selesai membantu Monyet ia hanya akan diberi
hadiah buah pisang. Buaya kan tidak suka pisang. Ia sukanya makan daging.
Daging apa saja yang penting bisa dimakan agar perutnya kenyang. Tapi Buaya
punya rencana lain, jadi ia menyanggupi permintaan Monyet.
“Naiklah ke punggungku. Dan jangan banyak
gerak nanti kamu jatuh ke air. Aku akan mengantarmu ke seberang,”pesan Buaya
pura-pura baik.
Monyet lalu naik ke punggung Buaya dengan
hati-hati. Ia senang sekali ditolong oleh Buaya. Padahal banyak teman-temannya
yang bilang kalau Buaya itu binatang yang jahat. Tapi kenyataannya ternyata
tidak. Buaya sangat ramah dan suka menolong. Namun ketika sampai di tengah
sungai,
Buaya tiba-tiba berhenti. Hati Monyet
langsung cemas. Ia takut Buaya akan menjatuhkannya ke sungai lalu menelannya
hidup-hidup.
“Kau bilang akan memberiku pisang jika sudah
menyeberangkanmu nanti. Tapi aku minta hadiah yang lain boleh tidak?,”tanya
Buaya mencurigakan.
“Ya silahkan saja. Sebutkan apa hadiah yang
kamu inginkan? Jika sanggup memenuhinya pasti akan aku berikan,”jawab Monyet
tenang.
“Kebetulan Ayahku sekarang sedang sakit
parah. Ia minta dicarikan hati Monyet untuk makan malam nanti. Aku takut ini
adalah permintaannya yang terakhir. Maukah kau membantuku mencarikan hati
Monyet agar Ayahku bahagia?,”terang Buaya penuh harap.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
“Baiklah akan aku beri kau hati Monyet. Tapi
aku ingin kau mengembalikanku ke tempat semula karena hatiku tadi ketinggalan
di bawah pohon besar itu. Akan aku ambil dan kuberikan untuk
Ayahmu,”kata Monyet tidak kehilangan akal. Ia
tahu Buaya sesungguhnya sedang mengincar dirinya untuk dijadikan makan malam.
Ayahnya yang sakit hanya untuk alasan saja.
Buaya pun menuruti perintah Si Monyet.
Setelah sampai di seberang, Monyet turun dari punggung
Buaya lalu naik ke sebuah pohon yang sangat
tinggi dan besar. Buaya menjadi heran di buatnya.
“Hei kenapa kau malah naik ke atas pohon.
Mana hati Monyetnya?,”tanya Buaya lantang.
“Hai Buaya yang perkasa, kau kuat tapi bodoh.
Jika hatiku aku berikan padamu, itu sama saja aku bunuh diri. Aku belum mau
mati sekarang. Aku akan pergi dan tidak akan pernah percaya lagi padamu,”jawab
Monyet keras.
Ia lalu pergi ke dalam hutan untuk
mencari makanan lainnya karena perutnya semakin lapar. Sedangkan Buaya hanya
bisa memandang kepergian Si Monyet dengan kecewa.
"MONYET TAHU TIPU DAYA BUAYA"
Belum ada komentar. -