[Image]
“Tidak usah
takut, Nak. Kami hanya ingin menjadi temanmu. Terima dan pakailah kalung ini. Jika
butuh bantuan, tinggal kamu pegang bandul kalungnya lalu sebut nama kami tiga
kali, Lalat-Lalat penolong…datanglah!
Maka kami akan datang membantumu,”pesan mahluk hitam yang tampaknya pimpinan
mereka itu.
“Te..te…terima…kasih!”jawab Aksa
menerima kalung itu lalu memakainya dengan tangan gemetaran.
Tak lama kemudian satu persatu
mahluk itu lenyap dari pandangan. Hilang entah kemana. Aksa sebenarnya ingin
bertanya lebih lanjut tapi lidahnya terasa kelu. Tak sanggup berkata-kata.
Aksa masih terduduk lemas ketika
Goro dan Lawas datang. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba bangkit dan
menyambut kedatangan mereka.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
“Kenapa lama sekali? Kalian lupa ya?”tanya
Aksa kecewa.
“Ya…maaf. Cuma setengah jam ini.
Lawas ketiduran tadi. Aku susah payah membangunkannya,”jawab Goro sambil
mengelus-elus kepala Lawas. Anak itu hanya tersenyum kecut.
“Besok jangan lagi, lah! Capek aku
menunggu. Aku sampai hampir pingsan tadi,”ketus Aksa sambil mengelus-elus
dadanya.
“Emang kenapa kamu, Bos? Mukamu pucat
sekali,”Goro memandang keheranan.
“Tadi ada…Ah, sudahlah. Eh…ngomong-ngomong
sudah dijual belum barangnya?”Aksa menodong.
“Sudah. Tapi cuma sedikit. Kami salah
ambil kemarin,”Lawas menyodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
Aksa tidak peduli. Yang penting ia
dapat uang. Dengan senang hati uang itu diterimanya. Langit mulai gelap….Bersambung.
(Setiaawan)
"NEGERI SERIBU KUNANG-KUNANG (3) #kunangkunang"
Belum ada komentar. -