[Image]
Kisah ini terjadi pada masa peperangan antara
Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh Prabu Damar Maya dan Kerajaan Baka yang
dipimpin oleh Prabu Baka. Pertikaian dipicu oleh keinginan Prabu Baka yang
bertubuh raksasa dan suka memangsa manusia untuk memperluas wilayah
kerajaannya. Maka iapun memerintahkan tentaranya dibawah komando Patih Gupala
untuk menguasai kerajaan tetangganya yaitu Pengging.
Pada awalnya kekalahan berada di pihak
Pengging yang mengakibatkan banyak prajurit dan rakyat Pengging tewas serta
kehilangan harta bendanya. Melihat situasi yang berbahaya tersebut, Prabu Damar
Maya segera memanggil putranya Joko Bandung yang sakti mandraguna untuk
membantu melawan Prabu Baka.
“Aku ingin kau menggantikan Ayah memimpin
peperangan ini. Kalahkan Prabu Baka agar dia tidak bisa meneruskan nafsu
angkara murkanya,”pesan Prabu Damar Maya kepada putranya sebelum berlaga ke
medan perang.
Joko Bandung dan bala tentaranya lalu
bergerak maju untuk menggempur Kerajaan Baka. Namun di tengah perjalanan ia
mendapat gangguan seorang raksasa bernama Bandawasa. Berkat kesaktiannya,
Bandawasa berhasil dibunuh. Sebelum tewas, roh Bandawasa berhasil menyatu ke dalam
tubuh Joko Bandung. Maka sejak saat itu nama Joko Bandung berubah menjadi
Bandung Bandawasa.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Singkat cerita, setelah peperangan sengit
selama berhari-hari, Prabu Baka berhasil ditaklukan dan dibunuh oleh Bandung
Bandawasa. Patih Gupala yang berhasil meloloskan diri segera kembali ke
Kerajaan Baka untuk melaporkan kekalahan tersebut kepada Putri Rara Jonggrang.
Putri Rara Jonggrang adalah anak satu-satunya
Prabu Baka. Meskipun keturunan seorang raksasa, namun Putri Rara Jonggrang
sangat cantik jelita. Mendengar ayahnya telah tewas, maka menangislah Rara
Jonggrang. Ia tahu hal buruk pasti akan segera terjadi padanya.
Tidak berapa lama kemudian, Bandung Bandawasa
tiba di Istana Baka. Iapun bertemu dengan Rara Jonggrang dan langsung jatuh
cinta pada gadis cantik tersebut. Bandung Bandawasa lalu melamar Rara Jonggrang
untuk dijadikan istrinya, namun lamaran tersebut ditolak karena ia tidak ingin
menikah dengan pembunuh Ayahnya.
“Jika kau tidak mau menjadi istriku, maka
akan aku hancurkan seluruh istana ini. Bagaimana? Tidak ada lagi yang bisa
melindungimu karena Ayahmu sudah tidak ada,”ancam Bandung Bandawasa.
Mendapat ancaman seperti itu, Rara Jonggrang
mau tidak mau harus menuruti keinginan Bandung Bandawasa karena ia tidak ingin
ada korban lagi di pihaknya. Namun Rara Jonggrang cukup cerdik dengan
mengajukan sejumlah syarat yang maha berat kepada Bandung Bandawasa.
“Buatkan aku sumur Jalatunda dan seribu candi
dalam waktu semalam,”ucap Rara Jonggrang. Bandung Bandawasa menyanggupinya. Ia
sangat yakin dengan kesaktian yang dimilikinya. Sumur pesanan Rara Jonggrang
mampu dibuatnya dengan mudah.
Setelah selesai, Rara Jonggrang meminta
Bandung Bandawasa untuk mengukur kedalaman sumurnya apakah sesuai dengan
permintaannya atau tidak. Bandung Bandawasa menurutinya. Ia lalu masuk ke dalam
sumur. Rara Jonggrang lalu memerintahkan Patih Gupala untuk menimbun Bandung
Bandawasa dengan batu. Namun Bandung Bandawasa berhasil keluar dengan menendang
batu-batu tersebut. Ia marah sekali karena sudah diperdaya sedemikian rupa.
Ia kembali tenang setelah Rara Jonggrang
memberitahu bahwa batu-batu itu jatuh sendiri karena gerakan tubuhnya ketika
masuk ke dalam sumur membuat tanah di sekitar sumur bergetar.
Bandung Bandawasa kemudian berusaha
menyelesaikan syarat kedua yaitu membangun seribu candi hanya dalam waktu
semalam. Mengingat singkatnya waktu yang diberikan, iapun meminta bantuan pada
jin dan mahluk halus yang pernah ia taklukan ketika dulu mencari kesaktian di
berbagai tempat.
Dengan penuh kerja keras, satu persatu candi
yang diminta Rara Jonggrang berhasil dibuat. Hingga akhirnya 999 candi berdiri
dengan megah. Maka Bandung Bandawasa hanya membutuhkan satu candi lagi untuk
bisa memenuhi syarat yang diajukan Rara Jonggrang. Patih Gupala yang
diperintahkan untuk mengawasi jalannya pembuatan candi segera melaporkan hal
tersebut kepada Rara Jonggrang.
“Bandung Bandawasa hampir selesai membangun
seribu candi, Putri. Hanya kurang satu candi lagi,”kata Patih Gupala.
“Kita harus menggagalkannya. Jangan sampai
candi tersebut jadi pagi ini. Panggilah para dayang dan warga desa untuk
menumbuk lesung. Kemudian bakarlah jerami di sisi timur agar para jin yang
membantu Bandung Bandawasa mengira matahari telah terbit,”jelas Rara Jonggrang
memberi petunjuk. Patih Gupala segera menjalankan perintah tersebut.
Kejadian berikutnya sudah bisa ditebak. Para
Jin dan mahluk halus yang membantu Bandung Bandawasa segera kembali ke
sarangnya masing-masing karena menyangka hari telah pagi. Maka gagal sudah
rencana Bandung Bandawasa membuat candi sisanya yang tinggal satu.
Bandung Bandawasa akhirnya tahu jika semua
itu adalah tipu daya Rara Jonggrang. Ia mengutuk Rara Jonggrang menjadi Arca
Durga yang kemudian diletakkan di ruang utara Candi Prambanan. Arca dimaksudkan
untuk melengkapi candi buatan Bandung Bandawasa yang kurang satu. Sedangkan 999
candi yang tidak selesai diberi nama Candi Sewu.
"BANDUNG BANDAWASA DAN RORO JONGGRANG (Cerita dari Yogyakarta) #bandungbandawasa #rorojonggrang"
Belum ada komentar. -