tatkala diri berada di sebuah persimpangan dalam pilihan yg sungguh menyulitkan meraih matahari dan seluruh pesona cahayanya meski harus berderai peluh dan air mata ataukah mendekap sang rembulan dan kebersahajaannya yg mendekat dan menawarkan sejuta penawar rasa?
lantas sebuah ruang kecil dalam hati pun berbisik kenapa harus memaksakan diri meraih matahari? jika sejak awal ia telah mulai menarik diri. tidakkah kesederhanaan, ketulusan cahaya rembulan memikatmu wahai kawan? masihkah pesona semu sang matahari melenakanmu dari kesejatian bakti sang rembulan?
namun, siapkah diri untuk terluka manakala mimpi yg terbangun dengan begitu indahnya hancur tercabik begitu saja mampukah diri bangkit dari ketakberdayaan yang begitu memilukan dan menghadirkan pesona pelangi di pekatnya senja?
ah entahlah biarlah Ia yg nanti kan berbicara dan kala saat itu tiba, semoga tak kan ada lg nestapa
posted by Gabriela Claudia Kalalo at 7:58 AM on Jan 16, 2009
No comments yet.
Close this window