Sahabat, apakah kali ini kau bisa tegar? apakah kau bisa menatap nanar cahaya rembulan disana? atau kau dapat mencengkram tanganku dengan erat agar rasa sakitmu dapat aku rasakan?
Kutahu, sahabat Kau berat menerimanya Kau sulit mencernya keadaan Kau sulit meneguk minuman, karena tenggorokanmu sakit Kau berat mengangkat kepala, karena kepalamu pusing Kau enggan bergerak, karena badanmu sakit Namun matamu, tak kunjung lelah mengucurkan tetesan bening
Bagaimana caraku menghiburmu? Bagaimana caraku membuatmu tersenyum? Jika kau masih saja menangis
Kau katakan kau sakit hati, hatimu luka tapi tak kutemukan darah dari perutmu, lantas yang mana yang luka? batin? akal? atau jiwa sang lelaki jahannam?
Tenang, sahabatku Aku ada disini Aku tahu rasa sakitmu aku paham getir ketakutanmu aku paham malunya kamu ketika kau bertemu dengannya ia bersama siluet lain ya, sosok itu bukan kau tapi sosok itu yang selama ini menipumu yang selalu bilang "kau bodoh menyukainya!" tapi ternyata..
Sahabat, tenanglah! Jangan kau ambil tali tambang itu! Buat apa kau gunakan, kalau hanya untuk menghilangkan nyawa? Hei, jangan kau ambil juga racun itu, itu hanya untuk tikus, apakah kau tikus? stop! kembalikan pisau itu! itu untuk memotong wortel, bukan memotong nadi!
pasti kau bertanya, "lantas bagaimana aku mengakhiri rasa sakitku?" aku hanya dapat memberimu Kitab Tuhan dan menyuruhmu bersabar Karena hanya Tuhan yang dapat mengakhiri rasa sakitmu
Sekarang, tenanglah sahabat aku disini bersamamu aku dapat merasakan sakitmu kau harus membuktikan pada lelaki itu bahwa kau jelas lebih baik dari mahluk jahhanam yang ia sebut kekasih itu
posted by Gabriela Claudia Kalalo at 1:04 AM on Jun 1, 2009
No comments yet.
Close this window