Sinar matahari memaksa kedua kelopak mataku terbukaPerlahan rasa hangat menyelimuti seluruh badankuDengan mata terbuka, aku meringkup dalam pelukanku sendiriPikiranku menerawang jauhMelamunkan kenangan di masa lalupelukanmu lebih hangat daripada sinar matahariAku menepis semua kemungkinanKau tidak mungkin kembaliKau yang meninggalkanku dahuluTanpa pesan, tanpa kataKuanggap semuanya sudah berakhir saat itu jugameskipun aku terus berharap setiap kali ponselku bordering namamulah yang tertera memanggilkuRaga ini serasa kehilangan arwahBahkan mata pun kehilangan kekuatannya untuk tetap terjagaNamun, yang paling aku takutkanHati ini tidak mampu lagi untuk mencintasedikit demi sedikit rasa cinta itu semakin memudartapi aku masih kekasihmu!Pada akhirnya, aku selalu kalahHarapan itu kembali menerpakuKukembalikan semua pada dirinya, sang lelaki malamkukembalikan semua pada diri-Nya, Tuhan Pencipta semestaMembuatku bertanya pada diri sendiri
“Akankah kau kembali seperti kemarin, saat aku dapat memanggil namamu dan kau balas dengan senyumanmu? Apakah aku masih dapat menunggumu pulang sekolah dengan seragam lusuh diterpa panasnya mentari milik Illahi demi menatap wajahmu sejenak? Sungguh, aku ingin berlari ke bahumu, dan ucap maaf dengan dekap erat pelukanmu, namun apa daya.... akulah yang merubah semuanya" membohongi diri sendiri lebih baik daripada menghadapi kenyataan kau tidak akan pernah kembali
posted by Gabriela Claudia Kalalo at 4:25 AM on Jun 16, 2010
No comments yet.
Close this window