tag:blogger.com,1999:blog-91538592008-08-20T08:33:40.042+07:00a day in the lifePennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comBlogger229125tag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-823136334214247822008-08-16T22:19:00.017+07:002008-08-18T00:34:51.977+07:00A Night To Remember<object height="110" width="300"><param name="movie" value="http://media.imeem.com/m/I2uCsvO6Gi/aus=false/"><param name="wmode" value="transparent"><embed src="http://media.imeem.com/m/I2uCsvO6Gi/aus=false/" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" height="110" width="300"></embed></object><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2767322893/" title="A Night To Remember by p3nnylan3, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3263/2767322893_2587ac3bbe.jpg" alt="A Night To Remember" height="500" width="375" /></a></div><br /><div style="text-align: center;">Langit Jakarta,<br />obrolan yang lama tertunda<br />Cerita-cerita yang baru terungkap,<br />penjelasan demi penjelasan<br />yang tidak (terlalu) penting lagi<br />Jarak dan waktu, oh begitu menipu!<br />Kamu, teman-temanku,<br />sesungguhnya tak pernah beranjak pergi<br />Dan jangan pernah pergi lagi ya?<br /></div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2767322325/" title="Old Friends by p3nnylan3, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3260/2767322325_9ab34d41c1.jpg" alt="Old Friends" height="375" width="500" /></a><br /><br />Mita, Rere, Riana -- after 2 decades<br /><span style="font-style: italic;">Comedy Cafe Pasar Festival, 21 July 2008</span><br />(Re, settingan jam di kamera elo ternyata masih WITeng!)<br /><blockquote style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);"><div style="text-align: left;"><br />And we were so young<br />one for all and all for one<br />just as sure as the river's gonna run..<br /><br />..through the years and miles between us<br />it's been a long and lonely ride<br />but if I got that call in the dead of night<br />I'd be right by your side!<br /><br /><br />:: Blood on Blood -- Bon Jovi ::<br /></div></blockquote><div style="text-align: left;"><br /></div></div>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-43991174386723550132008-08-13T05:00:00.002+07:002008-08-13T07:10:58.112+07:00Yummy Desktop<div style="text-align: center;"><a href="http://smg.photobucket.com/albums/v694/p3nnylan3/?action=view&current=desktop.jpg" target="_blank"><img alt="food desktop" src="http://img.photobucket.com/albums/v694/p3nnylan3/desktop.jpg" border="0" /></a></div><br /><ul><li><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Empat </span>hari di Matraman, training lagi, freshen up yang dulu dipelajarin di kurikulum lama. To my surprise, not all the magic's gone. I still have my touch, alright. I thought I lost it all. Alhamdulillah. <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">*in fact, my roses are getting so much better. Kalo Ruri tauk, dia pasti membelalak terheran-heran. "Elo, Ri???"</span> <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);"><br /><br />Rur, kita ngrasani kamu terus sepanjang diklat. Betapa kamu dan aku adalah duo ngeyel paling kompak dalam hal membangkangi semua instruksi Mbak Fat. Gak kayak Eka dan Uni Dewi yang manis dan patuh. Gak heran mereka berdua jauh melangit dalam urusan dekor dibanding kita berdua ya? Iyalah. Terus alasan kita apa waktu itu, Rur? Ah iya, "kalo gue sama Riana kan style ngedekornya sederhana, kalo Dewi kan extravaganza..". Paling kompak juga urusan ngeles!!</span> <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);"><br /><br />Kamu tahu, Rur, waktu diklat kemarin Mbak Fat bilang apa? "Kalo nanti kamu dapet murid ngeyel, maka aku gak akan heran..."<br /><br />Halah, mbaaaaak, jangan gitu dwooonk! Daku ini kan orangnya kualatan! Yah.. gak ada kamu, Rur. Gak ada temen ngeles tuh aku tadi.*</span></li></ul><ul><li><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Bros.</span> Yaelah. Gak penting. Cowok gak usah baca point ini, wasting time.<br />Jadi gini. Sebagai cewek kudungan, bros cukup vital. Secara dia menyelamatkan banyak situasi di mana batas antara emak-emak berantakan belom mandi pergi ke pasar dan wanita anggun beraroma enak menghablur dan menghadirkan dilema tak terperi. Praktis tapi jelek? Atau repot tapi cantik? Nah, si bros ini adalah dewa penyelamat. Menyekopi habluran batas itu ke satu sisi, menyulap si emak-emak <span style="font-style: italic;">slordig </span>menjadi wanita anggun yang --kalo kaya Bu Rukayah *guru PKK saya waktu SMP*-- <span style="font-style: italic;">well groomed</span>.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Tapi </span>entah mengapa, aku tak berdaya *loh, kok lagu Iwan Fals*. Maksudnya, entah mengapa, tiap kali nemu bros ca'em di toko, selalu either bobotnya cukup berat yang malah ngegandulin baju dan narik-narik kerudung, atau enteng tapi gak kokoh strukturnya sehingga sering copot dan jatuh di depan kaki saya. Kayak yang terjadi hari ini dengan si gajah Thailand.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Si </span>gajah adalah bros pemberian kakak ipar saya yang sangat amat baiklah hatinya, selalu memberi sanak saudara dengan hadiah-hadiah kecil cantik-cantik, jadi kejutan amat manis di zaman di mana trend bunuh diri meningkat drastis serupa harga BBM. Hari ini, si gajah Thailand jatuh beberapa kali. Copot begitu saja dari tangkringannya di dada saya. Berulangkali pula saya kembalikan lagi di ke singgasana tingginya. Namun ketika dia jatuh lagi untuk kesekian kali, di depan kedua kaki ketika saya melangkah menjauhi pintu busway yang menutup di belakang, lalu ia ketinggalan di belakang karena saya terus melangkah lantaran belum sadar dia rontok, saya memutuskan tidak mendukung dia lagi untuk tetap naik tahta. Sambil bersyukur dia tidak terinjak ribok buatan Tangerang di kaki, dia harus puas saya sematkan di resleting tas biru cangklong, hingga nanti di rumah saya kembalikan ke dalam toolbox hitam yang beralih fungsi jadi kotak perhiasan.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Lalu </span>saya miris. Melangkah menjauhi halte sambil melamuni betapa bros-bros mutiara air tawar yang saya beli dua tahun lalu di Lombok harus menggeletak percuma karena besi penitinya copot semua. <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">*sis, udah pada dibenerin belom bros-bros gue ke tukang perhiasan?* </span>Padahal, mereka favorit saya. Hiks *kecegukan*.</li></ul><ul><li><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Kiriman </span>dari bukulaela sampe ke meja dapur. "La Femme" seketika ngendon di dalam tas. Kemanapun daku pergi. Ke jurusan manapun busway mengangkut. Masih sering bingung dan gak familiar dengan gaya ingsun-ingsunnya. Tapi jadi jeda menggairahkan di sela-sela buku kuliner dan Harry Potter.<br /></li></ul><ul><li><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Poni </span>udah sepanjang jalan kenangan. Kudu dipotong buru-buru sebelum juling.</li></ul><ul><li><span style="color: rgb(255, 204, 0);">PoF </span>salah tulis judul postingan terbarunya. Kopi-peisnya kelebihan. Haha. Jadi gak serius tuh postingannya.<br /></li></ul><ul><li><span style="color: rgb(255, 204, 0);">Account </span>Flickr nyampe limit. Harus upgrade ke pro kalo mau nyambung layanan. Hm. Flat broke. No credit card. Pending situation.</li></ul>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-64843574169312537912008-08-06T14:30:00.019+07:002008-08-11T20:41:31.660+07:00Terlalu Sedih<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZjRwyyCsHG8/SJyQtUTfiiI/AAAAAAAAAX8/0KQlhoqAR68/s1600-h/1016502_untitled.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZjRwyyCsHG8/SJyQtUTfiiI/AAAAAAAAAX8/0KQlhoqAR68/s400/1016502_untitled.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232215975316654626" border="0" /></a><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Biar </span>teman-teman lain saja yang menulis tentang kepergianmu ya, Rur. Karena nanti-nanti, aku akan mengenangkan kamu dengan ceria dan penuh canda, sama seperti kamu menjalani hidup. Aku tidak mau menulis tentang kamu dengan bersedih-sedih. Sudah cukup <a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2008/07/rindu-ruri.html">waktu itu</a> aja <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">*kalo kamu tau aku nulis itu, pasti kamu ngomel-ngomel. "Apa-apaan sih, Ri???"*</span><br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Tadi </span>aku tertunduk lemas waktu tanah mulai menimbunimu, lalu aku pegang nisanmu. Seperti tidak percaya namamu yang tertulis di situ. Tapi aku ikhlas, Rur, insya Allah. Sebentar lagi juga namaku ada di papan yang sama. Dan nama kita semua kan?<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Di </span><a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2006/09/berpulang.html">obituari Inong</a> yang kutulis dulu, aku pernah bilang kan, bahwa orang baik selalu dipanggil lebih dahulu. Selalu dikasih cobaan yang berat-berat. Itu kamu, Rur. Waktu kamu bilang, "Ini bukan cobaan, ini hadiah." Ya, betul, itu kamu, Rur! Kamu orang baik yang cepat dipanggil pergi, meninggalkan kami yang masih berjuang membenahi tabungan akhirat kami yang masih saja defisit.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Oh,</span> aku cuma boleh sedih sampe tiga hari saja bukan? Aku janji deh, besok-besok nulis tentang kamu pasti ceria dan penuh canda. Persis seperti kamu!<br /><br /><span style="font-style: italic;"></span><blockquote><span style="font-style: italic;">Moekti Ichtiarini</span><br /><span style="font-style: italic;">11 September 1970 - 5 Agustus 2008</span></blockquote><span style="font-style: italic;"></span><br /><span style="font-weight: bold;">Ruri's Blogs & Photos:</span><br /><ul><li><a href="http://kuehruri.blogspot.com/">Kueh Ruri</a></li><li><a href="http://www.flickr.com/photos/ruri_hujiansyah/">Flickr Ruri</a><br /></li></ul><span style="font-weight: bold;">Related posts:</span><br /><ul><li><a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2008/07/rindu-ruri.html">Rindu Ruri</a></li><li><a href="http://pennylanekitchen.blogsome.com/2008/08/09/daisies-for-ruri/">Blue Daisy For Ruri</a></li><li><a href="http://utibrata.blogs.friendster.com/my_story_by_uti_brata/2008/08/adikku_tercinta.html">Adikku Tercinta</a><br /></li><li><a href="http://ezrakarundeng.multiply.com/journal/item/233/">Maafkan aku, Ruri!</a></li><li><a href="http://nadrahshahab.multiply.com/journal/item/55/kangen_ku_buatmu_">Kangenku Buatmu</a></li><li><a href="http://asrita.blogspot.com/2008/08/selamat-jalan-ruri.html">Selamat Jalan, Ruri</a></li><li><a href="http://dapurnyavita.blogspot.com/2008/08/selamat-jalan-sahabat.html">Selamat Jalan, Sahabat</a></li><li><a href="http://dapurnyavita.blogspot.com/2008/07/cepat-sembuh-ruri.html">Cepat Sembuh, Ruri</a><br /></li><li><a href="http://chefwannabe.wordpress.com/2008/08/06/selamat-jalan-ibu-ruri/">Selamat Jalan, Ibu Ruri</a></li><li><a href="http://mamadirumah.wordpress.com/2008/08/07/mbak-ruri-in-memoriam/">Mbak Ruri In Memoriam</a></li><li><a href="http://lovetobake.wordpress.com/2008/08/06/berita-duka/">Berita Duka</a></li><li><a href="http://auliahazza.belajar-islam.com/2008/08/06/kembali-blogger-telah-tiada/">Kembali, Blogger Telah Tiada</a><br /></li><li><a href="http://www.sepotongkue.com/home/?p=10">In Memoriam, Sahabatku Bu Admin NCC, Ruri</a></li><li><a href="http://foodiebloggerindonesia.ning.com/profiles/blog/show?id=2069852%3ABlogPost%3A5783">Selamat Jalan Ruri</a></li><li><a href="http://upik2806.multiply.com/journal/item/53/selamat_jalan_mba_ruri">Selamat Jalan, Mbak Ruri</a> (Rita)</li><li><a href="http://ratu165.multiply.com/journal/item/51/Perginya_Sang_Inspirator">Perginya Sang Inspirator</a></li><li><a href="http://dhiandra.blogspot.com/2008/08/till-we-meet-again-ruri.html">'Till We Meet Again, Ruri</a></li><li><a href="http://cintaratih.blogspot.com/2008/08/sedih.html">Sedih</a></li><li><a href="http://nikkidankira.multiply.com/journal/item/2/Selamat_Jalan_Mbak_Ruri....">Selamat Jalan, Mbak Ruri</a> (Retma)<br /></li></ul><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" ><span style="font-family:verdana;">Photo by </span><a style="font-family: verdana;" href="http://www.sxc.hu/profile/magira">Magira</a></span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-16390897434205477062008-08-02T22:57:00.008+07:002008-08-04T09:07:43.585+07:00Silam<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SJSONBKn3NI/AAAAAAAAAXU/mkhqE8QkzTQ/s1600-h/818375_eye_blue.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SJSONBKn3NI/AAAAAAAAAXU/mkhqE8QkzTQ/s400/818375_eye_blue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229961421586422994" border="0" /></a><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);"><blockquote><br />"Tatapku nanar pada pekat malam, aku rindu kamu."<br />("Intuisi" by PoF, last paragraph)<br /></blockquote></span><span style="color: rgb(51, 204, 255);"><br />Rasanya </span>sudah lama sekali sejak kubaca tuturan itu. Malam ini, jemariku yang mengucapkannya. Ketika tak dapat kubendung lagi air mata yang jatuh menangisi ketiadaanmu. Kemarin, aku belajar satu kata baru darimu: suwung. Lalu kutemukan bahwa suwung tidaklah sama dengan hampa maupun kosong. Suwung adalah aku sekarang. Tidak ada, karena tidak perlu ada. Justru ada, karena ia tidak ada.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Di </span>sinilah aku, menyudi gugus-gugus kalimatmu. Menapaki di mana kamu mulai berhenti menggubah anggitannya di rumahku, dan hanya solak berkicau di jendelamu saja. Aku masih rutin menyambangimu, masih mewajibkan diri menakik prasasti di tiap batu yang kamu pancang sepanjang jalanmu. Walau tidak lagi aku lihat jejakmu di jalan setapakku. Bahkan tidak ada jatuhan remah roti seperti Hansel dan Gretel yang ditipu burung kenari.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Betapa </span>menyedihkannya gambaranku di matamu. Dikasihani karena mengasihani diriku sendiri.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Tentu </span>kamu tak akan pernah bisa ingat. Selantang apapun kamu berteriak: dimana serejang tatap mata itu? DI MANA? Tentu tak akan pernah bisa kamu temukan. Sebab jangankan sirobokan dua pasang kornea, bahkan bunyi dua huruf namaku saja tidak sekalipun pernah kamu ucapkan. Sebuah tala ringan yang mungkin sanggup mengubah jalan hidupmu dan hidupku. Dan beberapa orang. Atau banyak orang. Atau bahkan dunia?<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Aku </span>tidak menyalahkanmu atas kepahitan yang kamu pikul saat itu. Yang melumpuhkanmu bagai hilang tulang belulang ketika hujatan menghajar kepalamu tanpa ampun. Kamu hanyalah bocah kecil yang mencoba meninju congkaknya dunia, persis Galang Rambu Anarki yang mati muda. Kamu tidak pernah tahu ada aku. Tidak pernah tahu ada sejuk sungai yang bisa kamu pakai membasuh lukamu seharian, tanpa menghakimi, tanpa menggurui. Lalu kamu terus berjalan membela diri dari dunia yang memang congkak. Tanpa basuhan, masih penuh noda luka. Tanpa pernah memanggil namaku. Bukan salahmu.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Kamu </span>bilang, aku bicara tentang semua yang asing di telingamu. Kamu yakin? Tidakkah kamu justru merasa pernah mendengar semua itu, jauh silam di balik sadarmu? Kamu sungguh-sungguh yakin? Tidak mengherankan kalau kamu khawatir, bahwa cerita tentang bening dua pasang mata itu akan jeblos ke liang kuburan. Karena bicaraku asing buatmu. Kamu tolak hadirku, karena aku asing. Kamu inginkan aku sangat, karena aku asing.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 255);">Di </span>sinilah aku malam ini. Membiarkan paragraf demi paragrafmu yang sudah lewat memenuhi lagi coklat tua mataku yang basah sudah. Menikmati diksimu. Memblusuki di kelebat mana gerangan kira-kira, jejakmu mulai hilang. Sementara jejakku ramai tak terbilang. Sudah cukup banyak koleksi prosa kita untuk jadi buku kedua. Aku di sini memunguti serakannya. Menyedihkan sekali.<br /><br /><div style="text-align: right;">Jakarta, 2nd August 2008, 10:39 PM<br /></div><div style="text-align: right;"><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">:ketika sore terasa malam,<br />dan malam tak pernah pergi.<br />Ketika kamu tidak ada.</span><br /></div><br /><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" ><span style="font-family:verdana;">Photo by <a href="http://www.sxc.hu/profile/gezther">gesther</a></span></span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-90136692790324805582008-08-01T14:38:00.017+07:002008-08-01T19:12:10.092+07:00Big Glamorous Day<object height="110" width="300"><param name="movie" value="http://media.imeem.com/m/xbaTE8gJDO/aus=false/"><param name="wmode" value="transparent"><embed src="http://media.imeem.com/m/xbaTE8gJDO/aus=false/" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" height="110" width="300"></embed></object><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SJLWblY88_I/AAAAAAAAAXM/0DjhSl9VZUQ/s1600-h/1016503_toilet_paper.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SJLWblY88_I/AAAAAAAAAXM/0DjhSl9VZUQ/s200/1016503_toilet_paper.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229477886712148978" border="0" /></a><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Big </span>glamourous day today! Me and myself, cleaning the bathroom! And, and.... folding the clothes!<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Sejak </span>si Agus pergi dan tak kembali, karena dimodali mertuanya untuk jadi wirausahawan di kampungnya aliyas berdagang, aktivitas glamor ini berpindah pundak ke saya. Saya gak pernah punya asisten yang dedicated untuk saya seorang, dan saya juga bukan jenis perempuan resik <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**poor my husband**</span> yang rumahnya selalu senantiasa always bersih seperti beberapa orang teman saya <span style="color: rgb(153, 153, 153); font-style: italic;">**to whom saya iri sangat**</span>. Karenanya, membuat kehidupan berjalan lancar tanpa asisten, sembari tetap menjaga fungsi-fungsi utama rumah tetap nyaman, adalah perjuangan tanpa akhir. Pengabdian tanpa pamrih. Dan cinta tak bersyarat paling romantis. Paling gak, dispenser Aqua jangan pernah kosong, baju kotor, baju bersih, dan cucian piring jangan ada yang numpuk, sepre dan bantal selalu bersih, tempat tidur selalu rapi, supply toiletries gak pernah putus, teh, kopi, gula dan buah selalu tersedia. Segitu cukuplah. Sisanya, lupakan dulu kalo gak ada waktu. Sekarang, daftar itu nambah satu lagi: kamar mandi harus <span style="font-style: italic;">(baca: sebisa mungkin) </span>selalu bersih. Dan wangi.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Sekarang </span>ini, saya udah gak mau bersihin kamar mandi dan wese pake pembersih keramik yang bikin sekujur badan gatel-gatel itu. Pake karbol dan sabun lantai aja. Tapi memang sangat menggemaskan minta ditabok, karena banyak "gegelian" yang cuma bisa ilang pake si gatel satu itu. Jadi terpaksa si gatel keluar juga, untuk menghardik hitam-hitam yang gak mau ilang. Tapi lumayanlah, karena terlokalisasi, gatelnya cuma mampir dikit di tangan. <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**males pake sarung tangan karet. bikin gerah.**</span><br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Ngapain </span>sih saya nulis tentang bersihin kamar mandi yang sama sekali gak menarik ini? Hahaha. Sebab inilah potret ibu rumah tangga tanpa asisten yang selalu sok sibuk dan banyak maunya. Keputusan yang dibuat sehari-hari adalah seputar: bersihin kamar mandi, apa meeting urusan <a href="http://ncc-indonesia.com/">NCC</a>? Cuci piring dulu sebelum meeting sama klien, apa nanti aja pulangnya? Belanja groseri sekarang, apa buka laptop dulu? Kalah deh SBY.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Sesudah </span>fancy cleaning, saya sudah ditunggu setumpuk baju yang <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">*alhamduillah*</span> sudah dicuci, tapi belum di setrika, apalagi dilipat. Semua ditumpuk jadi satu seperti gunung Fujiyama. "Climb me, if you dare!" I dare!<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Ibu </span>mertua saya, selalu menjemur baju di gantungan-gantungan baju, bukan disampirkan begitu saja di jemuran. Sehingga ketika baju-baju itu kering, sebagian besar tidak perlu disetrika lagi. Sudah lurus rapi berbentuk baju. Ini meminimalkan pekerjaan menyetrika saya. In fact, saya nyaris gak pernah menyetrika. Hanya folding alias melipat baju dan menyimpannya di lemari.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Nah,</span> urusan menyimpan ini juga jadi satu ilmu manajemen sendiri. Beruntung lemari baju saya cukupan lah luasnya, sehingga saya bisa membagi-bagi baju ke dalam beberapa tumpukan sesuai kategori: bawahan, atasan, tank top dan baju rumah, pakaian dalam, kerudung segi empat, ciput dan kerudung instan. Baju suami saya tentu jauh lebih sederhana: bawahan, atasan, pakaian dalam. Di rak paling atas: seprai dan kawan-kawannya, selimut, handuk, sajadah, sarung, baju-baju yang jarang dipakai tapi masih pingin disimpen, dan.. piring. Hahaha, kok ada piring? Soalnya lemari dapur saya sudah penuh-nuh <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**sebab dapur saya pun super mini!!**</span>. Dan suatu hari ibu mertua saya menghadiahi saya satu set piring cantik. Mau ditolak, gak mungkin. Ya udah, simpen bareng seprei :)<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Jadi </span>begitulah, hari glamor saya hari ini. Pagi-pagi, setel musik kenceng-kenceng sampe kedengeran ke kamar mandi <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**Dave Matthews Band, Matchbox 20, The Cranberries, Jewel, God knows what else**</span>, jongkok hanya dengan tank top dan celana pendek, keluarin sikat dan sabun-sabunan, lalu mulai gosok sana, gosok sini, seiring hentakan lagu.<br /><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">It won't the first heart that you break, </span><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">it won't be the last beautiful girl..</span><br /><br />Sexy kan?<span style="color: rgb(255, 153, 255);"><br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Sudah </span></span>itu lanjut langsung mandi a la spa. Berhubung kamar mandi udah bersih dan wangi, pake pengharum organik wangi cherry yang cuma dijual di Alfa deket Rumah Sakit Siaga <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**by the way, para produsen pembersih lantai, mbok yao, ada pembersih lantai yang aroma cherry gitu**</span>, mandinya pake liquid body lufra keluaran <a href="http://www.nuskin.com/corp/product/totalcare/liquidbodylufra.shtml">Nu Skin</a> yang mewah itu, hadiah ulang tahun dari sahabatku Emita Asril yang baik hati lagi pula pintar <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**Mit, dah abis neeeh. Repil dunk, repil...*</span><br /><br /><span style="font-style: italic;"><span style="color: rgb(204, 102, 204);">The </span>glamorous day continues..</span><br />Sudah mandi, semprot <a title="Clinique Happy Heart" href="http://www.clinique.com/templates/products/sp_nonshaded.tmpl?CATEGORY_ID=CATEGORY4885&PRODUCT_ID=PROD824">parfum</a>, pake turtle neck dan jeans, dandan cantik dan pake anting kiwir-kiwir <span style="color: rgb(153, 153, 153); font-style: italic;">**baru beli kemarin di Naughty**</span>. Ke dapur sebentar bikin jus mangga-jeruk <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">**udah musim mangga! what a bless!**</span>, sarapan pagiku. Lalu matiin musik, pasang a-se, pasang tivi di Asian Food Channel. Mulailah mendaki si gunung Fujiyama. Fold, fold, categorize. Fold, fold, categorize. Sembari channel tivi pindah ke Hallmark karena ada Oprah Winfrey Show, abis itu ke Starworld karena ada Ellen De Generes Show. Selesai semua!<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">Masih </span>ada banyak baju yang nunggu di belakang sana buat digotong lagi dan menjalani proses yang sama. Tapi itu nanti aja dipikirinnya. Besok lagi. Sebab sekarang perut dah dangdutan. Karedok betabur bawang goreng, ayam kremes dan kerupuk kampung menanti di meja makan buat menutup siang menjelang sore yang gemerlapan ini.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 204);">What </span>a glam!<br /><br /><span style="color: rgb(102, 102, 102); font-style: italic;font-family:verdana;font-size:85%;" ><span>Photo by </span><a href="http://www.sxc.hu/profile/Egahen">Andrzej Gdula</a></span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-85272442012511776742008-07-31T17:49:00.004+07:002008-07-31T18:53:56.935+07:00Rafa Fayed Ibrahim<embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://stat.radioblogclub.com/radio.blog/skins/mini/player.swf" allowscriptaccess="always" bgcolor="#000000" id="radioblog_player_-1" flashvars="id=-1&filepath=http://www.radioblogclub.com/listen2?u=18yck5WdvN3Ln9Gbi5ybpRWYy9SM4VGZul2L0cDM2EDM5ImfvcHduUHZl5SdoNmL3d3d/Celine%2520Dion-Miracle-Miracle-11-Brahms%2520Lullaby.rbs&colors=body:#000000;border:#BBBBBB;button:#999999;player_text:#D7D7D7;playlist_text:#999999;" height="23" width="180"></embed><br /><span style="font-style: italic;">Brahm's Lullaby</span><br /><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2718751447/" title="Chubby by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Chubby" src="http://farm4.static.flickr.com/3286/2718751447_586d83ebd2.jpg" style="" height="375" width="500" /></a></div><br /><div style="text-align: center;">Asalamu'alaykum, little Rafa</div><div style="text-align: center; color: rgb(111, 168, 220);"><span style="font-size:180%;">Welcome to the whole gank!</span></div><div style="text-align: center;"><i>Alan - Ramadhani - Dinda - Naomi - Kiki - Ahmad - Faiz - Anya - Karin</i></div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2718751661/" title="Handsome Little Nephew by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Handsome Little Nephew" src="http://farm4.static.flickr.com/3289/2718751661_a131a178c3.jpg" style="" height="315" width="500" /></a></div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2718751565/" title="Mmmrbll.. by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Mmmrbll.." src="http://farm4.static.flickr.com/3245/2718751565_6a7dbf88cd.jpg" height="352" width="500" /></a></div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2718751959/" title="Proud Aunt & Cousin 1 by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Proud Aunt & Cousin 1" src="http://farm4.static.flickr.com/3185/2718751959_6c499479de_m.jpg" height="240" width="180" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2718751837/" title="Proud Aunt & Cousin 2 by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Proud Aunt & Cousin 2" src="http://farm4.static.flickr.com/3022/2718751837_e63b020b5c_m.jpg" height="240" width="185" /></a></div>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-44273246126018756842008-07-29T22:17:00.006+07:002008-07-30T10:17:40.529+07:00Pawaka dan Pawana<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Aku </span>angin bagi apimu. Meski kamu tidak bersedia menunggu, tidak pula hendak memasrahkannya di tangan Sang Pemilik Bara Hidup.<br />
<br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Aku </span>bergeming memaku bumi kini, tak hendak menghembus lagi bahkan daun paling putik sekalipun. Karena sekali kumenghempas, tumbang pohon dan ruah permukaan laut kujajahi.<br />
<br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Tidak </span>lagi ingin kutempuh cara itu, cara taufan dan siklon menyinggahi bumi yang setia memberinya pijakan. Aku bayu yang mengalir justru untuk nafas bumi. Karena detak hidup si pengarung musim bukan lagi miliknya sendiri. Namun pula menjadi milik banyak makhluk, yang hidup dari sentuhan lirihnya di selisikan akar, di luruhan serbuk sari, hingga anak rambut di kening perawan desa yang tersipu malu sebab kainnya ikut tersibak.<br />
<br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Hanya </span>seletik ruang yang ia punya. Ceruk sunyi yang diisinya padat-padat dengan cinta yang tak lindap. Untukmu Pangeran Apiku. Dariku Putri Anginmu.<br />
<br />
<div style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: Verdana,sans-serif;"><font size="1"><i>*Pawaka: Api; Pawana: Angin (Sanskerta) </i></font></div>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-63822295402370797042008-07-29T19:19:00.011+07:002008-08-01T15:51:55.405+07:00Hari Terakhir<div class="separator" style="text-align: center; clear: both;"><a href="http://bp1.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SI8ze9951PI/AAAAAAAAAW0/OdoYpQFqPRI/s1600-h/488476_colors.jpg" imageanchor="1" style="border: 0pt none ; background-color: transparent; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img src="http://bp1.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SI8ze9951PI/AAAAAAAAAW0/w9XZZnojOvM/s400-R/488476_colors.jpg" style="border: 0pt none ;" /></a></div><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Bagaimanakah </span>jika, ternyata, hari ini adalah hari terakhir kita bersama? Apa yang akan kita lakukan untuk mengisi hari yang tinggal satu ini? Sungguh-sungguh tinggal satu.<br /><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Andaikata </span>kita punya satu hari penuh, tapi hanya satu hari. Dari pagi hingga malam, sungguh yang terakhir kalinya. Kamu ingin kita melakukan apa, sahabat jiwa?<br /><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Mungkin, </span>akan kuawali hari dengan sarapan pagi denganmu. Lalu sepanjang hari kita bicara yang indah-indah saja. Lupakan semua pertengkaran, perbedaan, karena toh tidak ada gunanya lagi sebab besok sudah tak ada lagi.<br /><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Kefanaan </span>selalu berhasil meletakkan kita dalam perspektif yang benar, bukan? Bahwa hidup manusia terlalu kecil dibanding skenario akbar yang menaunginya. Terlalu tidak berarti. Esok bisa jadi tak ada lagi. Bahkan satu detik ke depan pun bisa saja tak pernah datang lagi.<br /><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Kamu </span>ingin kita berbuat apa di hari ragil kita itu? Ah, aku tahu apa yang kamu inginkan. Sudah beribu juta kali kita bicarakan, kita impikan. Kamu ingin bersantai-santai berbaringan di sofa bersamaku. Ngobrol ke timur dan ke barat. Aku merosot di sandaran, kaki ke atas meja kopi. Kamu berselonjor sepanjang sofa, kepalamu di atas perutku, beralas bantal mungil empuk berbau wangi <i style="color: rgb(153, 153, 153);">**kusemprotkan <a href="http://www.clinique.com/templates/products/sp_nonshaded.tmpl?CATEGORY_ID=CATEGORY4885&PRODUCT_ID=PROD824">Clinique Happy Heart</a> ke atasnya**</i>.<br /><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Jemariku </span>memlintiri rambut ikalmu, menelisiki unyeng-unyeng di kepalamu <i style="color: rgb(102, 102, 102);">**kamu pasti punya lebih dari satu!**</i>. Di atas meja kuletakkan dua gelas es teh. Yang manis untukmu, tawar untukku. Serta sepiring singkong goreng rekah berbumbu bawang putih dan ketumbar, yang kita kudapi sambil terus mengoceh tak berhenti. Tertawa terguncang-guncang ketika canda meruap menembusi atap, atau terdiam ketika mencoba mengingat memori yang sudah lewat. Sesekali bernyanyi, berlagak serupa penyanyi aslinya. Atau saling mencumbu, ketika rindu mendadak menohok di ulu hati, serupa kupu-kupu menggelitiki perut hingga mulas melilit. Padahal kamu ada di depan hidungku!<br /><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Ah,</span> ya. Gambar indah itu yang kita inginkan. Di hari terakhir kita.<br /><br /><div style="color: rgb(224, 102, 102);"><span style="font-size:180%;"><span style="">Sederhana. Sempurna.</span></span></div><br /><span style="color: rgb(224, 102, 102);">Dan </span>bukankah selalu demikian kita perlakukan hari? Seolah esok tak ada lagi!<br /><i><br /></i><br /><i>Jakarta, early in the morning</i><br /><i>14th July 2008, 01:05 AM</i><br /><div style="color: rgb(68, 68, 68);"><i>:kamu di pikirku. selalu.</i></div>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-54193373144917053592008-07-27T16:30:00.014+07:002008-07-29T01:04:50.801+07:00An Afternoon To Remember<div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28849966@N06/2692821504/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3009/2692821504_3443eb8cce.jpg" style="" /></a></div><br />
<br />
<i>26 Juli 2008, 19:16 WIB</i><br />
<br />
Sebuah SMS masuk, dari seorang <acronym title="Emita">sahabat</acronym>:<br />
<blockquote style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: 85%;"><i>I wish hari ini tanggal 19</i></span></blockquote>Saya balas:<br />
<blockquote style="color: rgb(102, 102, 102);"><div style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: 85%;"><i>Gosh, yes. And I thought I was the only one being this nostalgy freak..</i></span></div></blockquote><br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Ah,</span> sore itu memang mistikal. Seminggu lalu, 19 Juli 2008, di SMP 88 Kemanggisan Jakarta Barat. Sore yang serupa mimpi.<br />
<br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Apa </span>yang bisa saya ceritakan? Ada lagu Himne Guru menggaungi udara, terlantun setengah bergumam, setengah hening, mengiringi ciuman di pipi, bunga di tangan dan pemberian tanda sayang untuk para guru kami. Apalah yang bisa kami lakukan? Sedari purba dunia, tak 'kan mungkin terbalas jasa mereka.<br />
<br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Ada </span>wajah-wajah yang pernah terlupa, namun sesungguhnya berdiam setia di belakang kepala. Canda tawa yang sama, betul-betul tak jauh beda, meski jeda dua puluh tahun meregangkannya. Balkon sekolah tempat tongkrongan tiap pagi, saksi bisu atas segala yang pernah terpikir, terpendam, akhirnya terjadi, atau justru tersimpan selamanya!<br />
<br />
<span style="color: rgb(166, 77, 121);">Ada </span>air mata di sela renyah tawa, gumaman tak percaya, tak mengenali, belalak mata kagum, lalu tekun merunuti tiap sosok teman lama yang sudah berubah, atau tidak berubah, atau berubah sedikit. Tidakkah kita semua tetap sama? Sejatinya kita masihlah kita yang dulu itu bukan?<br />
<br />
<div style="color: rgb(166, 77, 121);"></div><span style="color: rgb(166, 77, 121);">Oh,</span> sore ajaib yang begitu singkat! Seperti tidak menginjak bumi, mengawang mengikuti arah pelangi, menuju tempat di mana kita semua muda kembali! Mengapa matahari harus segera pergi, malam tergesa turun bahkan sekejap berganti pagi? Saya masih rindu kalian semua! Entah kapan 'kan terlerai. Entah kapan.<br />
<b><br />
</b><br />
<b>Photo & video links:</b><br />
<ul><li><a href="http://reuni88.blogspot.com/">Blog Reuni DQ</a></li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/28849966@N06/">Flickr Riana</a></li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/28881570@N04/">Flickr Emita</a></li>
<li><a href="http://secure.smilebox.com/ecom/openTheBox?sendevent=4e44457a4e5467354e773d3d0d0a&campaign=blog_instructions_directurl_makeyourown">Smileboxnya Ellon</a> (harus login ke facebook)<br />
</li>
<li><a href="http://video.google.com/videoplay?docid=4957703690644666126">Video Note from Wijaya Herlambang</a></li>
<li><a href="http://video.google.com/videoplay?docid=-3012916333226061137">Video Note from Dinyfitha</a></li>
</ul><b><br />
</b><br />
<b>Related post:</b><br />
<ul><li><a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2008/07/setelah-dua-dekade.html">Setelah Dua Dekade</a> </li>
<li><a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2008/03/sabtu-sore.html">Sabtu Sore</a></li>
<li><a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2007/12/hujan-pagi-ini.html">Hujan Pagi Ini</a> </li>
</ul><br />
<hr /><br />
<b>Full report di <a href="http://groups.yahoo.com/group/smp88">milis '88</a>:</b><br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Mau </span>menulis dari seminggu lalu, kok gak sempet-sempet. Apa karena gak sanggup-sanggup?<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Sesungguhnya </span>hingga hari ini pun belum sanggup menulis tentang jalannya reuni kemarin. Tapi sayang sekali kalo sore yang tak terulang itu terlewat tanpa ada catatan. Terutama untuk teman-teman yang gak bisa datang, jauh dari tanah air, atau sekedar baru tau kalo kemarin ada reuni.<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Kata </span>undangan, acara dimulai jam 15.00, selesai jam 18.00. Tapi ternyata dari jam 11 sekalipun, udah banyak yang mampir menengok persiapan panitia. Diana & Martina bahkan sudah datang dari jam dua, ikut nemenin panitia makan siang.<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Balik </span>dari bebek goreng, sekolahan sudah rame! Padahal baru juga setengah tiga! Murni mengambil keputusan untuk memulai "siaran" sore itu. Soalnya dari jam 3 sampai waktunya dimulai acara inti, akan diisi sama siaran radio Agra, aliyas Anggrek Garuda, 88.88 FM, yang dipancarkan dari ruang piket ke seantero sekolah. Hehehe.. Catatan si Boy banget dah..<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Lalu </span>sore mistikal itu pun dimulai. Wajah-wajah lama berdatangan, berteriakan, berbelalakan, berpelukan.. ditingkahi lagu-lagu lapan puluhan yang bikin hati meleleh-leleh.<br />
Semua akses sekolah ke balkon lantai dua hingga atap dibuka. Mulailah para pengunjung lorong waktu berkeliling ke kelas-kelas mereka dahulu. Tiap pintu kelas ditempeli foto-foto dan nama-nama penghuni kelas 1 (ada wajah kamu! <i style="color: rgb(153, 153, 153);">**lalu aku tersipu sendiri**</i>). Gue tarik Rere ke kelas 2A di atas, sekedar mau liat lagi balkon kesayangan kita dulu di atas. Balkon pojok tempat anak-anak 2A biasa nongkrong tiap pagi, nontonin setiap orang yang masuk lewat gerbang di bawahnya. Lalu masuk ke kelas 2A, duduk di bangkunya. Oooh, bangku itu terasa kecil sekarang! Padahal badan gue gak melar kok! Kenapa dulu nih bangku berasanya lega ya?<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Berlama</span>-lama di lantai dua, di sepanjang balkon, memandangi keriangan di halaman bawah yang semakin lama semakin riuh rendah. More alumni, more noise, more foto-foto, dan hari semakin sore. Buru-buru turun, karena Murni udah nungguin untuk segera memulai acara inti. Masuk ruang konsumsi, yang lagi melepas rindu juga gak kalah heboh di sini. Sambil mulut sibuk juga ngunyah bakso, somay, macaroni schotel, jajan pasar, bronis kukus, kripik pedes, es buah, ngopi-ngopi, ngeteh-ngeteh..<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Intro </span>"The Final Countdown"nya Europe jadi pembuka acara inti, dimulai lebih awal dari rencana. Murni dan Atin langsung ambil posisi di depan, sementara para alumni dan guru-guru perlahan mulai tertib duduk di bangku-bangku kayu, di depan dua TV plasma dan satu giant screen.<br />
Acara dimulai dengan mengenang teman-teman yang sudah mendahului kita semua, lewat video yang menyuguhkan foto-foto mereka. Disusul kemudian dengan video foto-foto masa jaya kita semua waktu SMP: foto-foto waktu ekskul pramuka, PMR, silat, waktu lulus-lulusan, rapat osis, perpisahan kelas, .. dan kenapa selalu ada muka Nunun ya di tiap foto itu? kekeke...<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Sambutan </span>dari guru-guru. Waktu Bu Yatmi bicara di depan, halaaah, beliau ngajak nyanyi Santa Lucia! Huaaa... inget banget kan lagu ini dulu wajib dihafal di pelajaran kesenian?<br />
<i>Sul mare luccica, l’astro d’argento..</i><br />
Gue masih inget tuh liriknya! Santa Lucia lengkap selesai dinyanyiin, hahaha... seru, seru....<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Sambutan </span>dari ketua panitia, yang lalu memanggil seluruh crew panitia ke depan. Dengan susah payah karena terhalang tangis, Darocky menutup sambutannya dengan satu kalimat liris "Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin ini semua terjadi..". Lalu gue yang malah nyaris mewek!! Bukannya apa-apa, inget behind the scene-nya panitia yang berdarah-darah bikin acara ini! Tapi ikhlas kooook... sangaaaat.... beneraaaaan.....<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Selanjutnya,</span> video lagi. Kali ini video "Kata Mereka Tentang Kita", aliyas guru-guru bicara tentang kita. Gue demen nih.<br />
Kata pak Darwis, "Memang angkatan kalian itu bandel-bandel, tapi bandel sewajarnya anak-anak. Tapi otaknya, luar biasa bahkan lebih.." <i style="color: rgb(153, 153, 153);">**lebih apa nih pak?**</i><br />
Bu Shinta juga bilang senada, "Dulu Pramuka dan PMR kita ditakuti.." <i><span style="color: rgb(153, 153, 153);">**loh?**</span></i><br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Berikutnya,</span> sumbangan dari alumni yang diserahkan secara simbolis. Alhamdulillah, terkumpul lumayan jumlahnya. Mengingat seminggu sebelumnya, jumlah sumbangan masih amat sangat kelewat tidak signifikan, maka jumlah ini bisa dibilang mukjizat, bisa terkumpul dalam waktu seminggu plus satu hari. Subhanallah, alhamdulillah. Semoga atap sekolah bisa segera kumplit plit. Terimakasih ya untuk semua pihak donatur, yang udah ngedoain juga, terimakasiiih... Semoga Allah membalas berkali lipat, amin.<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Penyerahan </span>tanda mata dari alumni untuk guru-guru. Sambil menyerahkan buket bunga dan bingkisan kepada bu Sanyoto, pak Saprie dan guru-guru lain, Murni dan Atin spontan memimpin alumni untuk nyanyi lagu "Himne Guru". Hey, masih pada inget lagu itu?<br />
<br />
<i style="color: rgb(153, 153, 153);">Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru<br />
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku</i><br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Seketika </span>suasana jadi magis! **Nilia aja sampe merinding**<br />
Mendadak keriuhan mereda, hening, lalu lagu Himne Guru terlantun setengah bergumam, mengiringi panitia memberikan bingkisan kepada guru-guru lain yang duduk di barisan depan. Mengiringi ciuman di pipi dan tundukan kepala hormat kepada para pahlawan tanda jasa itu. Oh, bagaimanalah pula kami bisa membalas jasamu?<br />
<br />
<i style="color: rgb(153, 153, 153);">Engkau bagai pelita dalam kegelapan<br />
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan..<br />
Engkau patriot pahlawan bangsa.. tanpa tanda jasa<br />
</i><br />
Sudah itu, guru-guru berfoto bersama. Huah, langka banget nih foto.<br />
Abis itu, semua alumni langsung bergabung <i style="color: rgb(153, 153, 153);">**tepatnya, merangsek**</i> dengan para guru di depan buat foto barengan semuanya.<br />
<font size="6"><span style=""><span style=""><span style="color: rgb(111, 168, 220);">Inilah angkatan '88, dua dekade kemudian!</span></span></span></font> Lebih langka lagi!<br />
<br />
<div class="separator" style="text-align: center; clear: both;"><a href="http://bp0.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SIyuow6ngxI/AAAAAAAAAWs/900MJ-6SpqY/s1600-h/50.jpg" imageanchor="1" style="border: 0pt none ; background-color: transparent; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img src="http://bp0.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SIyuow6ngxI/AAAAAAAAAWs/EYLI1SJwW0s/s400-R/50.jpg" style="border: 0pt none ;" /></a></div><br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Ok,</span> acara yang mengharu-ungu selesai sudah. Acara keriaan dilanjuuuut...<br />
Pak Herly sulap! Hehehe... banyak yang belom tau kan kalo selain seorang guru matematik dan pelatih paduan suara yang asik, Pak Herly juga seorang pesulap dan MC profesional. Jadi kemarin tuh pak Herly nyulap deh, dan pake duit segala lagi nyulapnya. Coba pake sulapan iris-iris badan pake bilah baja ya, kan seru tuh kalo kita korbanin si Phillip buat dibelek-belek...<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Sementara </span>itu yang fotoan di belakang sana semakin lupa daratan. Setelah nemenin DQ dan kameraman ngambil video kesan-pesan bu Sanyoto, gue langsung ngacir lagi keluar, di mana kehebohan sesi foto mulai menjadi-jadi. Waks, Murni udah dikudeta! Sekarang kedudukan MC udah berganti Sutardi dengan Atin (yang satu ini tetep).<br />
Pertama, sesi foto per kelas satu. 1 A, 1 B, 1 C, sampe 1 H. Pas kelas 1 A, B, C, kayaknya masih pada tertib ya? Kenapa makin ke H makin berantakan? Hihihih...<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Mmm...</span> abis itu mulai deh, otak dah pada bocor. Sesi foto mantan pacaran, mantan naksiran, kumpulan jomblo, kumpulan Big & Beautiful, huahuahuaaaaa.... Robek nih muka ketawa melulu!<br />
Abis itu, acara masih padat. Yang ulang tahuuuuunnn... hayo maju ke depan! Dewi Yulianingsih sama Ana Juliana ulang tahun pas harinya reuni. Jangan khawatir, panitia udah nyiapin kue sama lilinnya. Nyanyi deh semuanya, happy birthday to you, happy birthday to you... Tiup lilinnya, tiup lilinnya..<br />
Dewi, jangan terharu gitu donk, daku kan jadi ikut hiks...<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Kalo </span>gak segera diingetin, bahwa banyak hadiah yang belom dibagiin untuk games, kali bakalan balik ke sesi foto konyol tuh. Ya udah, dilanjut sama games. Siapa ketua kelas 3C? Siapa cinta terpendamnya Suprihatin? Yaelah, mana ada yang tau!! Huahua...<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Akhirnya </span>toh semuanya harus diakhiri, sebab malam semakin turun, keluarga udah sibuk SMS meminta ayah ibunya kembali ke pelukan mereka *duileeeh, emang ngapain*, dan semua perjumpaan mau gak mau harus berakhir dengan perpisahan lagi. Atin, Murni dan Sutardi menutup acara, lalu sore ajaib yang sudah gelap itu pun ditutup dengan kita semua baris bersalaman sambil pulang.<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Sebagian </span>yang masih pada males pisah <i><span style="color: rgb(153, 153, 153);">**ta'elah**</span></i>, nerusin hang out di ruang makan, sampe kelar tuh petugas catering bebenah, bungkus-bungkus. Sampe petugas dekor udah mau selesai beberes. Sampe akhirnya perut jejeritan minta diisi sama yang lebih nendang lagi.<br />
"Makan yuk!" Halah, alesaaaaan.... Bilang aja mau nerusin ngumpul..<br />
Lanjut ke Bright Cafe di Gatot Soebroto, makan, becanda, basically ngelanjutin ngumpul. Sampe akhirnya ada juga yang berani bilang, "Udah yuk, pulang." Huah! Back to reality, huh?<br />
Akhirnya dibubarkan dengan paksa oleh kenyataan, pada jam 02:30 pagi, WIB.<br />
<br />
<span style="color: rgb(111, 168, 220);">Sampai </span>jumpa teman-teman SMPku tercinta. Berjanjilah untuk tidak membiarkan 20 tahun lewat lagi tanpa silaturahmi di antara kita. Mau kan?<br />
<i><br />
</i><br />
<i>Pejaten, 27 Juli 2007, 19:13 WIB</i><br />
<div style="color: rgb(153, 153, 153);"><i>:sesungguhnya masihku belum sanggup. karena menuliskan ini, berarti menutup dan meninggalkannya di belakang. dan aku belum lagi ingin.</i> </div>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-57121515534338241072008-07-17T12:30:00.002+07:002008-07-17T13:02:30.356+07:00Setelah Dua Dekade<div class="separator" style="text-align: center; clear: both;"><a href="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SH7ZaMh_dOI/AAAAAAAAAWk/PQD9iY9gKeQ/s1600-h/invitation.jpg" imageanchor="1" style="border: 0pt none ; background-color: transparent; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img src="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SH7ZaMh_dOI/AAAAAAAAAWk/gkm4D1vIPU4/s400-R/invitation.jpg" style="border: 0pt none ;" /></a></div><br /><blockquote><br /><span style="font-weight: bold;">Contact:</span><br /><br />Sri Mustika Rini:<br /><span style="font-style: italic;">rinimustika at yahoo.com</span><br />0811 1330 662<br /><br />Nilia:<br /><span style="font-style: italic;">kunilia at yahoo.com</span><br />0811 841 722</blockquote>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-86404310210254126162008-07-16T05:35:00.005+07:002008-07-16T06:19:19.041+07:00BeautifulSeorang sahabat mengirimkan lagu ini pada saya:<br /><br /><a style="left: 0px ! important; top: 15px ! important;" title="Click here to block this object with Adblock Plus" class="abp-objtab-08100878183374172 visible ontop" href="http://media.imeem.com/m/tSj7XdrUyL/aus=false/"></a><a style="left: 0px ! important; top: 15px ! important;" title="Click here to block this object with Adblock Plus" class="abp-objtab-08100878183374172 visible ontop" href="http://media.imeem.com/m/tSj7XdrUyL/aus=false/"></a><object height="110" width="300"><param name="movie" value="http://media.imeem.com/m/tSj7XdrUyL/aus=false/"><param name="wmode" value="transparent"><embed src="http://media.imeem.com/m/tSj7XdrUyL/aus=false/" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" height="110" width="300"></embed></object><br /><span style="font-size:180%;"><br /><span style="color: rgb(0, 204, 204);">Oh, how beautiful!</span></span><br /><br />Terimakasih. Kiriman yang indah. Mudah-mudahan bisa kubalas dengan yang lebih indah. Sungguh.PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-49459642818565089732008-07-15T04:10:00.008+07:002008-07-17T18:48:26.452+07:00Mimpi Indah<span style="color: rgb(255, 204, 153);">Suatu </span>siang, beberapa tahun yang lalu. Di dalam sebuah restoran padang di kawasan Tebet, jam makan siang kantor.<br /><br />"Apa mimpi paling indah yang pernah kamu alami?"<br />"Mimpi paling indah, adalah mimpi bertemu Ayah dan Mama."<br />"O, ya?"<br />"Iya."<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 153);">Mereka </span>sering datang dalam mimpi saya. Dan esok harinya saya terbangun dengan dada sesak oleh bumbungan rindu, membuat mata panas dan hampir pasti berakhir dengan tumpahnya tangis.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 153);">Mereka </span>juga sering datang dalam mimpi kakak-kakak saya. Salah satunya adalah ketika mereka datang di mimpi kakak nomor tiga. Ayah dan Mama datang berdua, bergandengan tangan, lalu berkata, "Maafkan kami, ya." Astagfirullah. Bukankah seharusnya kami yang bersujud memohon maaf beliau berdua?<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 153);">Seringkali </span>mereka hadir di mimpi yang tidak berarti apa-apa. Sekedar menghabiskan waktu bersama, tidak berkata apa-apa. Hanya hadir, dan saya bahagia mereka ada. Terasa seperti dulu, tidak ada yang berubah. Seperti mereka tidak pernah pergi. Pengobat rindu paling ajaib dan mustajab.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 153);">Salah </span>satu yang paling membuat saya menangis adalah di tahun 2001, menjelang pernikahan saya. Waktu itu, saya tidak membeli bahan brokat putih untuk seserahan, walaupun calon ibu mertua mengatakan brokat putih wajib jadi benda hantaran ketika menikah. Saya, si praktis dan ekonomis, tidak menurutinya karena toh tidak akan saya gunakan, berhubung kebaya pengantin saya sewaan. Malamnya, Mama datang di mimpi saya. Ia memandang saya dengan wajah putih bersihnya, benderang seterang purnama, sedamai malaikat, secantik dan semuda bidadari Allah. Lalu tersenyum, sambil menyodori saya bahan brokat putih. Saya memandang brokat itu, menerimanya di tangan saya, lalu memeluk Mama sambil tersedu sesunggukan. Saya masih ingat yang saya katakan pada Mama kala itu, "Mama, Mama gak usah repot beliin ini. Gak perlu. Kadek gak apa-apa. Mama gak usah repot mikirin." Dan saya masih ingat jawaban Mama, "Gak apa-apa. Ini kan untuk anak perempuan Mama yang terakhir."<br /><div style="color: rgb(102, 102, 102);"><i>*Allah, hentikan tangisku*</i></div>Keesokan hari saya terbangun, termangu kelu. Lalu berguncang bahu menahan isak sambil menyebut namaNya. Allahu akbar. Tak pernah menyangka restu beliau terhantar lewat mimpi. Dan Mama sendiri yang menyampaikannya, memeluk saya. Betapa saya sangat membutuhkannya. Subhanallah.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 153);">Mimpi </span>paling indah adalah mimpi bersua mereka, Ayah dan Mama saya. Terutama sekarang, ketika jarang sudah mereka datang. Meski doa tak henti terlafaz tiap habis sholat. Tak urung rindu memuncak. Terutama saat sekarang, ketika kurindukan suara Mama yang lembut mendamaikan tiap gejolak. Ketika betul-betul kubutuh di pelukannya, di dadanya. Atau petuah Ayah yang selalu mengembalikan segala urusan padaNya. Dan lantunan ayat suci dari mulut Mama tiap malam dan subuh. Imaman Ayah pada subuh dan maghrib. Diskusi Ayah tentang tafsir. Bunyi kemerisik mukena Mama ketika kupergoki beliau sedang sholat malam.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 153);">Mimpi </span>indah adalah bersua mereka. Memandang wajah mereka. Terutama saat sekarang.<br /><br /><i style="color: rgb(102, 102, 102);">*Allah, hentikan tangisku*</i><br /><br /><i style="color: rgb(102, 102, 102);">:ketika Ruri sakit, Tulang Openg kritis, Topaz sedih dan sakit, dan kamu tidak ada.</i>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-31843315667550047552008-07-14T00:25:00.009+07:002008-07-15T03:09:57.735+07:00Rindu Ruri<div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2663324125/" title="Kursus Bintaro by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Kursus Bintaro" height="375" src="http://farm4.static.flickr.com/3243/2663324125_1a2e083078.jpg" width="500" /></a></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">Kursus perdana Bintaro, 22 April 2006 (Cake International)</span></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;"> </span></div>
<br />
<span style="color: rgb(0, 204, 204);">Aku </span>rindu ketika aku sering nebeng mobilmu. Ketika kita bolak-balik Bintaro-Pejaten-Matraman seperti tak ada capek. Ketika kita belanja ke Healthy Choice. Ketika kamu nelponin aku gak berenti, nanya tentang Photoshop, cara setting password di dokumen Word, tentang ini dan itu. Ketika aku liat kamu kesenengan aku rekamin mp3 lagu-lagu 80an. Ketika chatting tiap kebetulan ketemu di YM, ngobrolin yang gak penting-penting soalnya kita berdua juga gak betah lama-lama ngobrol di YM.<span style="color: rgb(0, 204, 204);"> </span><br />
<br />
<span style="color: rgb(0, 204, 204);">Aku </span>rindu saat-saat ngajar bareng kamu. Ngurusin <a href="http://ncc-indonesia.com/">NCC</a> bareng kamu. Jalan-jalan berburu barang-barang yang kita beli hanya, "Dalam rangka lucu!" Sekarang, jangankan nyetir, kamu sudah gak kuat pegang computer.<span style="color: rgb(0, 204, 204);"> </span><br />
<br />
<span style="color: rgb(0, 204, 204);">Aku </span>sedih. Aku rindu kamu, <a href="http://kuehruri.blogspot.com/">Ruri</a>. Cepat sembuh ya?<span style="color: rgb(0, 204, 204);"> </span><br />
<br />
<span style="color: rgb(0, 204, 204);">Doaku </span>tak terhitung untukmu.<br />
<blockquote class="tr_bq"><span style="font-style: italic;">Untuk <a href="http://kuehruri.blogspot.com/">Ruri</a>, seorang sahabat yang sedang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cancer" title="Cancer">sakit</a></span></blockquote>
<span style="font-style: italic;"></span><br />
<div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2663324713/" title="Ruri &amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp; Eka by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Ruri & Eka" height="180" src="http://farm4.static.flickr.com/3024/2663324713_95b2a5a9f3_m.jpg" width="240" /></a></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">Tour de Pasar Ikan, Januari 2006</span></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2663324599/" title="Pemotretan Buku by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Pemotretan Buku" height="180" src="http://farm4.static.flickr.com/3138/2663324599_953c03ee63_m.jpg" width="240" /></a></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">Pemotretan Buku, 27 Desember 2005</span></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2663324385/" title="Liyah Dateng by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Liyah Dateng" height="180" src="http://farm4.static.flickr.com/3277/2663324385_90e22c909c_m.jpg" width="240" /></a> </div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">Waktu </span><a href="http://dapurgue.blogspot.com/" style="font-style: italic;">Liyah</a><span style="font-style: italic;"> dateng, Matraman, 9 Maret 2006 </span></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;"> </span><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2664148832/" title="Tour de Pasar Mayestik by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Tour de Pasar Mayestik" height="180" src="http://farm4.static.flickr.com/3157/2664148832_72a37750fd_m.jpg" width="240" /></a><span style="font-style: italic;"> </span></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">Tour de Pasar Mayestik, Desember 2005</span></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="font-style: italic; text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2664149262/" title="Halal Bi Halal 2005 juga by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Halal Bi Halal 2005 juga" height="180" src="http://farm4.static.flickr.com/3206/2664149262_57b032d38b_m.jpg" width="240" /></a></div>
<div style="text-align: center;"><i>Halal bi Halal, Matraman, 19 November 2005</i></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2664149138/" title="Cooking Show Lezat-Bogasari by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Cooking Show Lezat-Bogasari" height="240" src="http://farm4.static.flickr.com/3286/2664149138_8a59bbf518_m.jpg" width="180" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/p3nnylan3/2664148692/" title="Bandung Bakery Fair 2006 by p3nnylan3, on Flickr"><img alt="Bandung Bakery Fair 2006" height="240" src="http://farm4.static.flickr.com/3102/2664148692_1fcdcd77ed_m.jpg" width="178" /></a></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">kiri: Cooking Show Lezat-Bogasari, Hotel Golden, Jakarta, November 2006</span></div>
<div style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">kanan: Bandung Bakery Fair, Ciwalk Bandung, 5 Agustus 2006</span></div>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-1242961211155186492008-07-08T00:39:00.008+07:002008-07-08T09:53:44.379+07:00Gak Terima<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SHJbtt-VV4I/AAAAAAAAAU8/G8pTuBQ950s/s1600-h/Z310i_product_quality_image_3.png"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SHJbtt-VV4I/AAAAAAAAAU8/G8pTuBQ950s/s400/Z310i_product_quality_image_3.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220335759069108098" border="0" /></a><span style="color: rgb(255, 102, 102);">Saya </span>gak bisa terima dia mati!<br /><br /><span style="color: rgb(255, 102, 102);">Dia </span>yang paling bikin saya nyaman. Bikin saya adem. Bikin mood saya melembut seketika begitu keypad lunaknya serasa memijit ujung-ujung jari dengan sentuhan empuk dan bersahabat.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 102, 102);">Dia </span>yang paling <span style="font-style: italic;">gorgeous</span>! Cantik, kenes, sexy. Mana cerdas dan fleksibel, sembari tetap low maintenance. Oh, dia sempurna untuk saya!<br /><br /><span style="color: rgb(255, 102, 102);">Saya </span>gak terima dia mati. Rasanya baru sebentar menghabiskan masa-masa indah bersama dia, sekarang dia sudah 'merem'. Tidak adil.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 102, 102);">Di </span>mana 'kan kucari gantimu, duhai pujaan hati?<br /><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);">Photo by </span><a style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);" href="http://www.yesky.com/">yesky.com</a>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-77573313498400894272008-07-07T21:25:00.007+07:002008-07-13T22:49:48.122+07:00Mengapa Kamu dan Aku<span><span style="font-style: italic;"><span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /></span></span><span><span style="font-style: italic;"><span><span style="font-style: italic;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SHIjC4crlVI/AAAAAAAAAUc/RazUT7Fqs4s/s1600-h/860171_a_daisy_edited.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SHIjC4crlVI/AAAAAAAAAUc/RazUT7Fqs4s/s400/860171_a_daisy_edited.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220273450495219026" border="0" /></a></span></span></span></span><span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);"><blockquote>Ceritakan kepadaku, mengapa aku mencintaimu. Dan mengapa kamu mencintaiku. Ceritakan hingga kumengantuk. Lalu lelap tertidur di sampingmu. Sebab surgaku adalah itu.</blockquote></span><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Karena </span>kamu pemilik semua logika itu. Mengapa aku tidak pernah beranjak dari sisimu. Menetap dalam kantongmu.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Aku </span>tidak pernah punya. Setiap kali kamu tanya, mengapa aku mencintaimu, jawabku hanya, "Karena kamu adalah itu." Lalu kamu akan protes sebab jawabanku tidak memuaskanmu. Lantas aku malah kian mencintaimu. Semakin.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Pagi </span>ini, aku hanya ingin menerbangkan rindu yang itu-itu juga ke jendela kamarmu. Berharap ia hinggap di daunan, lalu melompat masuk memanah hatimu, begitu kamu bangun esok pagi. Rindu yang itu-itu juga.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Walau </span>kali ini sedikit berbeda. Tidak hanya rindu kamu, tapi juga cerita yang sudah terangkai dalam rentang tujuh purnama. Mendambanya dalam keabadian masa.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Aku </span>masih ingat banyak detail.<br />Kata-katamu.<br />Julukan darimu.<br />Panggilanmu kepadaku.<br />Ceritamu tentang ini itu.<br />Bahasa cintamu.<br />Caramu memperlakukanku. Meyakinkanku.<br />Marahmu. Kecewamu.<br />Laramu. Lukamu.<br />Gemintang di matamu.<br />Bunyi tidurmu.<br />Wajah penuh kantukmu.<br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);"><br />Indah,</span> serupa gemerlap kunang-kunang. Aku seperti berjalan di atas rumput beledu bertelanjang kaki. Telapak kakiku menapaki bumi yang mendadak halus, tidak lagi berbatu. Lalu ada pelangi di kejauhan meski tidak datang hujan. Kerlap-kerlip keperakan menerawangi mataku, mengecupi kelopak dan selajur alisku.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Tapi </span>jikapun tak ada yang indah-indah itu, aku tetap saja mencintaimu. Karena memang selalu kamu. <span style="font-style: italic;">It's always you.</span><br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Hanya </span>itu memang ceritaku. Tentang 'mengapa' yang tidak pernah mampu kujawab, selain kembali ke rindu lapuk yang kini membosankan. Ia melantangi langitku bagai gaung yang tak kunjung berhenti.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Seperti </span>itu aku mencintaimu. Serupa gaung yang tidak berhenti.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 204);">Ceritakan </span>kepadaku, mengapa aku mencintaimu. Dan mengapa kamu mencintaiku. Ceritakan hingga kumengantuk. Lalu lelap tertidur di sampingmu. Sebab surgaku adalah itu.<br /><br /><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">4 July 2008, 1:53 AM<br />Serpong at dawn, living room</span><span style="color: rgb(153, 153, 153);"> </span><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);"><br /></span><span style="font-style: italic;"><span style="color: rgb(153, 153, 153);">:ketika kusadari, cintaku tak bisa mati. </span><br /><span style="color: rgb(153, 153, 153);">kamu menggenggamku, dan itu abadi.</span><br /><span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /></span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-65156483596969788742008-07-04T13:15:00.019+07:002008-07-07T14:43:41.021+07:00PTD: Tembok Kota Batavia<span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SG3OCyFRgpI/AAAAAAAAATs/Rc1RFMfYYZk/s1600-h/puisi-ajib-rosidi+19.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SG3OCyFRgpI/AAAAAAAAATs/Rc1RFMfYYZk/s400/puisi-ajib-rosidi+19.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219054090391224978" border="0" /></a><blockquote style="color: rgb(153, 153, 153);"><span style="font-style: italic;">Luruskan pandang ke daratan tandus, ke petak-petak garam</span> <span style="font-style: italic;"><br />Ke laut lepas, layar putih- putih, perahu-perahu bebas</span><br /><span style="font-style: italic;">O Laut Jawa di belakang desa-desa sengsa</span><span style="font-style: italic;">ra</span> <span style="font-style: italic;"><br />Laut Jawa di belakang kejatuhan dan k</span><span style="font-style: italic;">ebangkitan suatu bangsa</span><br /><span style="font-style: italic;"><br />Laut adalah kita, perahu-perahu berkuasa </span> <span style="font-style: italic;"><br />Dari Arafura, Selat Sunda, Selat Malaka </span> <span style="font-style: italic;"><br />Demikian sejarah bangsa dalam masa jaya </span> <span style="font-style: italic;"><br />Sebelum Sultan Agung dan monopoli kapal dagang bersenjata</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Laut adalah kita, sebelum cengkeh dan pala</span><br /><span style="font-style: italic;">Laut adalah kita, sesudah minyak dan baja</span> <span style="font-style: italic;"><br />Perahu-perahu begitu manis, kapal-kapal lebih perkasa</span><br /><span style="font-style: italic;">Luruskan pandang ke laut, laut yang merdeka</span><br /><span style="font-style: italic;"><br />Ajib Rosidi - Pantai Utara</span></blockquote><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636112484/" title="doeatandamata 2 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3001/2636112484_90a9c3a35b_m.jpg" alt="doeatandamata 2" height="240" width="180" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636113798/" title="trompet 20 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3077/2636113798_66443bf2fd_m.jpg" alt="trompet 20" height="240" width="180" /></a><br /></div><span style="color: rgb(204, 102, 0);"><br />Sebenernya </span>ikutan PTD kali ini cuma mau keliling-keliling kota naik sepeda ontel.<br /><div style="text-align: center;"> </div><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Dilepas </span>pake trompetan saut menyaut para petugas museum Bank Mandiri berseragam ala prajurit zaman J.P. Coen, dan yang berpakaian necis ala Doea Tanda Mata.<br /><div style="text-align: center;"> </div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2635287213/" title="jembatankotaintan 4 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3267/2635287213_02df156b05_m.jpg" alt="jembatankotaintan 4" height="240" width="180" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2635287121/" title="galanganvoc 3 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3177/2635287121_4429390f9e_m.jpg" alt="galanganvoc 3" height="240" width="180" /></a></div> <div style="text-align: center;"> </div> <div style="text-align: center;"> </div><br /><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636112996/" title="kali-besar 9 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3260/2636112996_51f28c01d0_m.jpg" alt="kali-besar 9" align="left" height="180" hspace="10" width="240" /></a><span style="color: rgb(204, 102, 0);"><br />Pemandangan </span>kota tua, jembatan Kota Intan, Galangan VOC, jalanan basah sehabis diguyur hujan sepagian.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);"><br />Angin </span>masih dingin meriapi kening dan ujung kerudung.<br /><br /><br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Lumayan</span> mampu memanggil kembali hati dan jiwa yang --waktu itu-- lagi terbang entah kemana, meninggalkan raga yang bergerak otomatis serupa zombie.<br /><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636188362/" title="Museum Bahari by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3270/2636188362_827d178f29.jpg" alt="Museum Bahari" height="500" width="375" /></a><br /></div><br /><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2635287267/" title="jendela-jendela1 5 by Riana's PTD, on Flickr"><img right="" src="http://farm4.static.flickr.com/3062/2635287267_986115b58f_m.jpg" alt="jendela-jendela1 5" align="right" height="180" hspace="10" width="240" /></a><span style="color: rgb(204, 102, 0);"><br />Museum </span>Bahari itu indah! Tembok kota tempat tentara Belanda nyumput sambil tetap bisa nembak, masih utuh di sana. Museum Bahari ini dulunya adalah <span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">*bentar liat kebetan dulu*</span> gudang milik VOC, dipakai untuk menyimpan rempah-rempah yang diangkut dari Banda Neira.<br /><br /><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636144666/" title="Tembok Kota Batavia by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3003/2636144666_902d7ba2e2_m.jpg" alt="Tembok Kota Batavia" height="240" width="135" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2635288211/" title="perahu 17 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3141/2635288211_47ba24a6b2_m.jpg" alt="perahu 17" height="240" width="180" /></a><br /></div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2635287761/" title="museumbahari-inside-looking 11 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3166/2635287761_5d9bdeee46_m.jpg" alt="museumbahari-inside-looking 11" height="240" width="180" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636113054/" title="meriam 10 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3120/2636113054_43bcff06b8_m.jpg" alt="meriam 10" height="240" width="180" /></a><br /></div><br /><div style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636113358/" title="paku 14 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3037/2636113358_44e4fddfae_m.jpg" alt="paku 14" height="240" width="188" /></a> <a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636113466/" title="paku-teks 15 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3130/2636113466_23c32e475d_m.jpg" alt="paku-teks 15" height="240" width="193" /></a></div><div style="text-align: center;"><br /></div><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636112884/" title="kakisepeda 8 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3128/2636112884_4f0f04cdae_m.jpg" alt="kakisepeda 8" align="left" height="180" hspace="10" width="240" /></a><span style="color: rgb(204, 102, 0);"><br />Pak </span>Andy Alexander --yang di <a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2007/10/its-all-about-context.html">PTD Museum BI dulu</a> bikin gue terlongo-longo melototin hasil super-impose peta kuno ke peta aktual masa kini-- ngejelasin peta lain lagi, lukisan-lukisan lain lagi, yang lebih asik-asik punya.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Terus </span>ada Meneer Nico van Horn yang cerita everything about VOC. Oooh, ternyata yang punya VOC itu adalah.. Ternyata asal nama kota Batavia tuh dari..<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Btw,</span> itu bukan kaki gue!!<br /><br /><br /><a href="http://www.flickr.com/photos/28242710@N07/2636112780/" title="kacapatri_better 7 by Riana's PTD, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3192/2636112780_b43284889c.jpg" alt="kacapatri_better 7" height="375" width="500" /></a><br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Ok </span>lah. Seperti biasa tante loe setor foto-foto aja, ngedongeng tugasnya Adep.<br /><br /><hr /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Adep </span>mendongeng:<br /><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tembok Kota Batavia</span><br /><span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 153);">Minggoe tanggal 15 boelan Juni tahon 2008 djam poekoel 07.30 sampe klaar djam 12an</span><br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Kota </span>Batavia (tjikal-bakal kota Djakarta) diberdiriken oleh Gouverneur-Generaal J.P.Coen pada tahon 1619. Ini kota doeloenja orang kerap seboet sebagi Djajakarta, namoen di hari 30 Mei 1619, pasoekan VOC kassie serangan itoe bilangan, sehingga achirnja bole didoedoeki oleh olang walanda selama ratoesan tahoen, jakni sedjak tahon 1619 hingga tahon 1942 tatkala Tentera Dai Nippon masoep ka Noesantara.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Ini </span>atjara jang saban saboelan sekali diadaken SAHABAT MUSEUM, boeat ini tempo aken kassie tjerita perkara itoe Tembok Kota jang dibikin oleh pedagang-pedagang VOC oentoek lindoengi diri dari pasoekan perang Banten, Cheribon, Mataram, dan pasoekan laen-laennja. Moengkin toean dan njonja sadikit bertanja perihal misih adanja itoe tembok.<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Riwajat </span>tentang orang-orang Belanda jang notabene pedagang ini, ditjeritaken oleh Pak Lilie Suratminto, saorang doktor di bidang batjain nisan-nisan Belanda (dduh apa sih istilahnya? yang pasti Pak Lilie ini jago bahasa Belanda, kebetulan beliau juga seorang dosen Sastra Belanda di UI). Lantas ada Pak Andy Alexander, saorang pemerhati sedjarah dan dojan oprek-oprek peta djadoel, laloe ditibanken ke peta sekarang, yah teknik super-impose gitu deh, sehingga kita bisa dapet ketahui secara persis dimana letaknya Kastil Batavia, Pertempuran VOC melawan Mataram, bahkan letak persisnya rumah J.P.Coen !!!<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Oh </span>iya di tempat ini juga pernah terjadi sebuah kisah cinta yang memilukan sebab-sebab bitjaraän jang manis jang kaloear dari montjong saorang lelaki, sahingga satoe gadis misti terdjeblos dalem djoerang kasangsarahan.Yah, kisah ttg Sarah Specx, jang di-straf (hukum) tjamboek kerana soeda bikin J.P.Coen terbakar amarahnja tatkala katahoei itoe kisah asmara jang ada betoel soeda terdjadi di roemahnja. Sang Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon Coen achirnja lakoeken soewatoe tindakan jang kedjem, djahat, soeka kaniaja (aniaya) orang dan kamoedian dirinja djadi soesa dan sengsara. Lantas djoega ada Meneer Nico van Horn jang toeroet bertjerita tentang VOC. Tenang aja Pak Nico ini jago berbahasa Indonesia, Belanda apalagi (yah iyalaaahhh!)<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Koempoelnja </span>di Museum Bank Mandiri jang pernahnja (letaknya) di Jl. Pintu Besar Utara, atawa kerap diseboet Jl. Lapangan Station, kerna locatienja precies diseberangnja station trein. Kitaorang djoega tjeritaken perkara nama Pintu Besar, jang terambil dari satoe pintoe jang besar bernama: Niuewpoort, jang diboeka saban hari hingga djam poekoel 9 malem, jang didjaga oleh schutterij (pasoekan milisie), poela ada jang bernama Pintoe Ketjil, jang sekarang mendjadi nama bilangan jang loemajan kesohor di bilangan Djakarta Kota. Kamoedian kitaorang kassie tjerita tentang pertempoeran jang soeda betoel terdjadi pada tahon 1629, tatkala pasoekan VOC soeda tiada poenja amoenisie boeat kassie bales itoe serangan pasoekan Mataram jang beringas, lantas marika kassie lempar itoe marika poenja kotoran kepada orang Java jang lagi semangatnja mandjatin tembok koeboe pertahanan bernama Hollandia, sakoetika kedengeran oempatan kasar dari moeloet orang Java jang treak: "O Seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay!". walah!<br /><br /><span style="color: rgb(204, 102, 0);">Makanya </span>Kota Batavia, sempat disebut sebagai Kota Tahi pada masa penyerangan Mataram ini. Nah dimana letak kubu Hollandia ini? Pak Andy Alexander kasih liet lokasi itu benteng secara tepat, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan yang rame di Glodok!<br /><span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-51049721793540135942008-06-30T16:48:00.007+07:002008-07-04T01:30:49.098+07:00Merekam Tanggal<span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SG0avZA5q1I/AAAAAAAAATk/G-FMrGeyhJ8/s1600-h/935360_my_cat.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SG0avZA5q1I/AAAAAAAAATk/G-FMrGeyhJ8/s320/935360_my_cat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218856944663112530" border="0" /></a><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Bergunakah </span>jika tanggal hari ini kurekam? <span style="font-style: italic;">3 Februari 2008, dini hari</span>. Kamu mengucapkan sesuatu yang menjungkirbalikkan semua teoriku. Aku tergegau. Namun bertahan dalam diam. Karena tidak ada satupun yang sanggup kuubah.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Namun </span>biarkan kurekam tanggal ini. Karena jikapun kamu menyesal pernah mengatakannya kelak, atau semua yang saat ini kuanggap pasti tiba-tiba berubah dalam satu kerjapan mata dakocan, atau semesta mendadak berbalik mengkhianatiku, aku ingin tetap ingat. Bahwa pernah semasa dalam hidupku, kuterima penghargaan paling tinggi atas arti diriku untuk kamu. Yang sebelumnya, bermimpi pun aku tak berani.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Ketika </span>aku jadi tua dan pikun, aku ingin memandang birai bertuliskan tanggal ini, lalu tersenyum dan bersyukur. Bahwa di dalam otak tuaku yang bingung, tersesat oleh riuhnya ingatan, aku tahu, betapa beruntungnya aku; pernah dianugerahi sebungkah cinta selembut awan, semurni mata air, tak lekang waktu, tak tergerus luka. Cinta yang merunduk bertahan kala badai menghantam, lalu melanjutkan hidup tanpa meminta lebih banyak. Cinta yang tidak berhenti tumbuh. Terbaharukan tanpa henti bagai sel membelah diri hingga milyaran kali. Cinta yang kudapat hanya darimu.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Ketika </span>ingatan pun sudah memperdayaiku, aku hanya ingin bisa mengenang hari ini.<br /><span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-75523649862913231782008-06-26T18:00:00.000+07:002008-06-26T23:51:45.252+07:00Namaku Vinny<span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SGPIs8_XQKI/AAAAAAAAATM/2gWV6VgbiXI/s1600-h/eyes.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_ZjRwyyCsHG8/SGPIs8_XQKI/AAAAAAAAATM/2gWV6VgbiXI/s400/eyes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216233468036858018" border="0" /></a><br /><span style="color: rgb(255, 204, 102);">Ah,</span> Pippy sok tau. Pakai muncul-muncul segala. Lihat , sesudah ini dia pasti menolak bertanggungjawab kalau orang menunggu-nunggu janjinya memuat cerita bersambung itu. Classic Pippy.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 102);">Namaku </span>Vinny. Wanita, 38, alter ego kedua. Untuk menyingkat perkenalan, let's just say bahwa saya adalah segalanya yang berlawanan dengan Pippy, walaupun sering juga kita saling setuju. Postingan <a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2008/06/stupid.html">Sosok Tak Bernama</a> tempo hari, saya yang tulis. Gak indah, ya? Memang. Saya dan Pippy tidak punya stok kata-kata indah. Jadi postingan kami paling-paling cuma berisi cerita gamblang yang membosankan, tidak membuai imajinasi dan perasaan. Tapi saya pikir lebih baik begitu daripada tidak menulis sama sekali, seperti yang sekarang ini dilakukan Riana. Karena kata orang bijak, menulis berarti eksis. Meninggalkan jejak. Debatable, though sweet.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 102);">Sesungguhnya </span>saya punya cerita lebih dahsyat dibanding cerbung fiksi picisan yang mau diposting Pippy. Sebab cerita saya ini true story. As true as can be. Tentang dua anak manusia yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Suatu hari mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal, dua-duanya tidak pernah percaya pada konsep love at first sight yang norak itu! Tapi bukan berarti segalanya otomatis jadi serba indah, karena jika demikian maka tidak akan jadi cerita kan? Mereka hanya bisa dan boleh bertukar kata, bertukar cerita. Dalam rangkaian kalimat-kalimat sastra yang indah, mereka bercinta. Hanya tulisan. Cerita, puisi, prosa. Tidak lebih, tidak kurang. Dan efeknya ternyata lebih dahsyat daripada kisah Romeo and Juliet, Gone With the Wind, bahkan <a href="http://pennylaneonline.blogspot.com/2006/08/sebelum-matahari-terbit.html">Before Sunrise</a> favoritnya Riana itu. Kenapa sebegitunya? Nah, di sini kendalanya: saya tidak pintar bercerita. Padahal betapa ingin saya bisa menceritakannya kembali, karena tidak sanggup rasanya menanggung pengetahuan ini sendiri.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 102);">Menyebalkan </span>ya? Untuk apa saya bikin pendahuluan panjang-panjang kalau akhirnya dimentahkan begini rupa? Yah, kalau boleh jujur, sebenarnya saya bermaksud memancing si ibu untuk menuliskan true story itu untuk saya. Sebab sungguh disayangkan jika cerita itu tidak pernah dibaca orang lain, dan akhirnya lenyap terbawa mati kedua pelakunya saja.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 102);">Saya </span>tidak akan seperti Pippy yang lempar batu sembunyi tangan. Jikalau sekalipun si ibu tidak mau menuliskannya, mau tidak mau saya yang akan mengerjakannya. Walaupun jadinya akan kering kerontang, tanpa simbahan kalimat indah. Namun sebuah cerita, apalagi cerita nyata, berhak mendapatkan tempatnya di jejak semesta. Demi itu saja.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 204, 102);">Senang </span>berkenalan dengan anda semua.<br /><br /><span style="font-style: italic;">Serpong, Maghrib time</span><br /><span style="font-style: italic;">Vinny</span>Vinnyhttp://www.blogger.com/profile/08794392824348986952noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-53159149873319683662008-06-20T20:10:00.011+07:002008-06-21T19:58:08.998+07:00Namaku Pippy<span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_g_Bsvul92bc/SFu2cDhepBI/AAAAAAAAAAM/sQgSE-PeuNw/s1600-h/mata.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_g_Bsvul92bc/SFu2cDhepBI/AAAAAAAAAAM/sQgSE-PeuNw/s400/mata.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213961586709799954" border="0" /></a><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Ok,</span> saya ambil alih dulu ya blog ini. Untuk sementara aja. Soalnya Riana, si karakter utama, entah di mana batang hidungnya. Udah berhari-hari tuh dia gak muncul. Jadi saya dan Vinny aja yang gantian muncul di panggung utama (Vinny gak suka dengan sebutan panggung utama, dia lebih suka bilangnya “tempat” utama. Huh, apa bedanya?). Karena kalo kita berdua gak ambil alih “tempat” utama ini, jadilah si Riana itu zombie. Mayat hidup yang “kosong” alias gak berjiwa. Atau mungkin sudah ya? Hmm.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Namaku </span>Pippy. Bukan <a title="Swedish rebel and feminist role model" href="http://www.sweden.se/templates/cs/Article____11230.aspx">Pippi Longstocking</a>, karena saya pake “y” sementara si kepang itu pake “i”. Saya cewek asik umur 28 tahun, alter ego pertama dari pemilik blog ini. Kalo si Vinny yang tadi saya sebut-sebut, dia alter ego kedua. Nah dia udah rada tuwir tuh, 38 tahun. Kita berdua udah pernah dimunculkan dalam cerita bersambung yang ditulis si ibu sekitar akhir tahun lalu. Cerbung itu juga yang merupakan the reason why I finally decided to take part in her blogging world. Sebab udah lama saya kepingin cerita itu dipublish di sini. Gak tau kenapa si pandir itu ngumpetin naskahnya. Heran. Saya kan mau orang lain kenal saya juga gitu loh. Setelah berhari-hari dia gak muncul, mumpung nih. Mumpung orangnya lagi ke Jawa, saya mau publish cerita itu.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Kalo </span>Vinny sih maunya blogging tentang acara jalan-jalan ke tembok kota Batavia hari Minggu kemarin barengan <a href="http://groups.yahoo.com/group/sahabatmuseum">Sahabat Museum</a>. Hiiih, boring bener! Walaupun sih, saya menikmati juga naik sepeda ontel bolak-balik dari Museum Bank Mandiri ke Museum Bahari, sembari liat pemandangan kota tua: jembatan merah, galangan VOC, de-el-el. Nanti biar Vinny aja yang cerita tentang itu. Lagian memang dia yang ada di panggung utama waktu acara itu berlangsung.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Vinny </span>bilang, daripada nge-publish cerbung, mendingan publish tulisan-tulisannya si pandir (eh, maaf ya, saya manggil Riana dengan sebutan imut ini bukan bermaksud menghina bahwa dia bodoh. Justru karena saya sayang banget sama dia.) yang terkumpul percuma di buku saktinya dia. Halah, kalo saya bilang sih, tulisan itu semua compang-camping. Sepotong-sepotong. Malah akan ngerusak potensinya, kalo memang kelak si ibu punya niat merangkainya jadi satu cerita. Tapi, yah, mungkin aja Vinny bakalan keukeuh nulisin itu, selain posting hal-hal membosankan lainnya seperti acara jalan-jalan de-el-el itu.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Soal </span>sebutan si pandir. Kebetulan saya sering nontonin Riana lagi diomel-omelin sama Vinny, si tuwir berakal sehat itu. Vinny sering bilang dia naif. Kalian tau kan, kalo baik dan bodoh itu hanya dipisahkan oleh dinding membran maha tipis yang gak keliatan oleh mata telanjang? Nyaris gak ada bedanya! Begitu juga benci dengan cinta. Begitu juga naïf dengan pandir, atawa dungu. Dua kata ini, menurut saya, imut dan menggemaskan. Jadi mungkin saya akan menyebutnya juga dengan kata dungu. Saya males pake kata naif, soalnya sama ama grup musik Indonesia yang personilnya pada belah pinggir masal.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Ok,</span><span style="color: rgb(255, 153, 102);"> </span>ok. Saya udahan dulu ya. Tungguin aja cerbungnya muncul di sini segera. Saya juga dah gak sabar pengen mejeng di sini. Banci tampil always!<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Kalo </span>nanti si ibu muncul, hampir pasti semua postingan saya yang unauthorized bakalan diapus. Hahaha. Biarin deh. Lagian kayaknya dia bakalan lama tuh baru muncul lagi. Itu pun if ever dia muncul lagi. Another story-lah itu. Biar Vinny aja nanti yang cerita, kalo dia mau.<br /><br /><span style="color: rgb(255, 153, 102);">Gotta </span>go. See you around!<br /><br /><span style="font-style: italic;">Pippy</span><br /><span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span>Pippyhttp://www.blogger.com/profile/17922252655702105259noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-10923232465859748562008-06-16T02:01:00.014+07:002008-07-13T22:49:48.123+07:00Sosok Tak Bernama<span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br />Saya mendapatinya sore itu, setengah terbaring di atas <span style="font-style: italic;">sofa bed</span> di ruang keluarga. Televisi di hadapannya menyala percuma. Tidak ada yang menonton. Sekilas tidak ada sesuatu yang beda. Sampai saya cermati dia lebih dekat. Wajahnya pucat, matanya menahan sakit. Pandangannya berpindah-pindah, seperti tengah mengingat-ingat banyak hal. Pikirannya tidak di sini.<br /><br />Mata yang menahan sakit itu memaksa saya untuk bicara, pada akhirnya.<br /><br />“Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan padanya semalam. Sudah terlalu malam, aku sudah mengantuk sekali dan memutuskan untuk tidur.”<br /><br />Rupanya ia baru tersadar kalau saya ada di ruangan. Wajahnya mengarah ke saya kini. Tidak terlihat ada air mata. Bantal berserakan hingga ke lantai.<br /><br />“Aku juga tidak membaca apa yang kamu tulis pagi ini," lanjut saya seraya mengambil satu bantal untuk dinyamani. "Aku masih asyik menikmati pagi liburanku ketika subuh-subuh kamu sudah corat-coret di kertas stationery hotel. Aku sempat melihat kamu bangkit dan menyalakan laptop. Tapi terlalu mengantuk untuk sekedar bangun dan mengintip tulisanmu.”<br /><br />Tiba-tiba, saya lihat nafasnya mulai tersengal. Seketika saya tahu apa yang terjadi. Setidaknya, dapat menebak cukup dekat. Asmanya tidak mungkin kambuh. Pengobatan intensif setahun penuh, yang dijalaninya sewaktu kanak-kanak di klinik khusus asma, sudah membereskan penyakit bawaan ini. Hanya ada satu sebab. Cuma ada satu.<br /><br />Segera saya hampiri dan saya peluk dia penuh simpati. Ah, sahabatku. Andai ada yang bisa kulakukan untuk si gadis kecil pelamun dalam dirimu. Andai kau mau mendengar kata-kataku berulangkali; dongeng itu hanya ada dalam kepalamu. Tidak ada di dunia nyata.<br /><br />Ia meletakkan dagunya di atas pundak saya. Perlahan saya belai rambut lurusnya. Rambut jarum yang tidak butuh disisir. Tubuhnya terasa kaku. Kepalanya pun tidak jatuh terkulai. Tidak ada air mata yang jatuh ke pundak saya. Saya usapi punggungnya, lalu nafasnya berangsur normal.<br /><br />“Dia pergi?”<br /><br />Ia menggeleng.<br /><br />“Kamu yang pergi?”<br /><br />Ia menggeleng lagi. Sudut bibirnya bergerak sedikit, membentuk senyum samar. Pahit.<br /><br />“Lantas apa?”<br /><br />Ia menatap saya dengan mata kesakitan itu lagi. Menelan ludah, mulutnya membuka sedikit. Berusaha mengatakan sesuatu. Namun tidak ada kata yang keluar. Semakin ia berusaha, semakin sunyi. Hanya wajahnya frustasi memohon dimengerti.<br /><br />Tidak sabar, saya buka tas biru miliknya di atas meja. Berharap kertas buram tadi pagi masih ada di sela-sela tisu dan <span style="font-style: italic;">contact lense drops</span> yang selalu dibawanya. Dua lembar kertas bertulistangan itu masih ada. Tanpa ba-bi-bu, saya baca terburu-buru.<br /><br />“Apa maksudnya ini? Ceritakan padaku apa yang terjadi semalam. Cepatlah, aku mulai tidak sabar. Kumpulkan kekuatanmu lalu bicaralah!”<br /><br />Lalu saya dengar suaranya. Dengan nada rendah. Mengucapkan sesuatu berulang-ulang. Saya tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya.<br /><br />“Kamu bahkan tidak sanggup menangis,” saya memancing agar dia bicara lebih keras.<br /><br />Bibirnya bergerak, namun tidak mampu menjawab.<br /><br />“Kamu beku.”<br /><br />Lalu sungguh-sungguh kebekuan. Entah berapa menit berlalu sebelum telinga saya menangkap sebuah suara pelan.<br /><br />“I feel so stupid,” akhirnya, suara! Lebih berupa gumam ketimbang ucapan. Kali ini saya putuskan untuk diam dan membiarkannya menggumam, “I feel so… stupid.”<br /><br />Ia menerawang sekarang. Tatapannya berpindah-pindah. Seperti mengingat-ingat banyak hal.<br /><br />“Naif,” ia menggeleng berulang-ulang, “naïf.”<br /><br />“Demi Tuhan, bicaralah padaku!” setengah berteriak, saya pegang sepasang pipi tirusnya dengan dua telapak tangan. Perlahan ia melepaskan kedua tangan saya, menatap dengan pandangan kosong, seperti meminjam kekuatan. Lalu disandarkan punggungnya kembali ke sofa. Kembali ke posisi awal. Namun kali ini, mata kesakitan itu berbicara lebih dari sekedar yang keluar dari mulutnya.<br /><br />“Semua yang kutulis, semua yang kukatakan, semua yang kurasakan, semua yang sudah kulakukan, semua yang kupikir ada, semua yang kupikir akan menjadi, semua yang kusangka pernah terjadi, semuanya.. ternyata.. hanya ada di dalam pikiranku sendiri.”<br /><br />Bagai dihantam gada berduri, sekujur tubuh saya remuk merasakan deritanya. Saya bahkan tidak mengatakan, “Sudah kukatakan!!” seperti yang saya pikir akan saya katakan ketika saat ini tiba.<br /><br />Saya tak kuasa memaksanya untuk bercerita lebih rinci. Mudah-mudahan ia akan bicara lebih banyak ketika sudah siap kelak.<br /><br />“Setiap orang yang jatuh cinta, pasti naïf dan bodoh,” saya mencoba berpihak padanya.<br /><br />Tiba-tiba nada suaranya naik, “Lihatlah apa yang kutulis! Dengar apa yang kuucapkan semalam! Aku naïf hingga tetes darahku penghabisan. Aku bodoh hingga detik terakhir kesadaran datang. Ketika semua fakta dijembreng sejelas gajah di depan mataku, dengan pandirnya aku masih berteriak ‘aku cinta kamu apapun yang terjadi’. Membutakan mata dari cinta yang tak pernah ada.”<br /><br />Suaranya mulai serak.<br /><br />“Ketika subuh menjelang, aku masih bangun dengan bumbungan rindu yang sama. Kugunakan untuk bersembunyi dari kesadaran bahwa ruang psikedelik itu, dunia hitam putih itu, hanya khayalanku semata. Dengan tololnya masih kujalin kata-kata mesra sesempurna lingkaran halo, hanya untuk mengecupnya di pagi hari.”<br /><br />Kini saya tidak mengenali lagi suara itu.<br /><br />“Lalu naifku melancarkan pertahanan terakhirnya. Ketika kususun sejuta kalimat khayalan yang kupikir sungguh nyata. Menerima cinta yang tidak pernah ada, mendekapnya dalam pelukku, dalam timanganku!”<br /><br />“Aku tidak mengerti. Tulisanmu menyampaikan betapa cintamu mengalahkan semua keakuan.”<br /><br />“Tidakkah kaumengerti? Bacalah. <span style="font-style: italic;">‘Amanat ini kuterima. Karena aku mencintaimu demikian sederhana.’</span> Adakah yang lebih naïf dan bodoh daripada itu? <span style="font-style: italic;">‘Kuterima peranku sebagai keset kakimu.’ </span>Bukankah itu terjemahannya? Tentu sederhana. Karena cuma aku! Cinta itu hanya menimpa kepalaku saja. Tatap mata yang menyepikan suara dan menghitamputihkan dunia, hanya hidup dalam kepalaku sendiri. Dua puluh tahun yang hilang untuk ditangkap kembali, hanya tersurat di tulisanku sendiri. Tidak ada itu semua. Tidak pernah ada!”<br /><br />“Menurutmu dia tidak pernah sungguh jatuh cinta padamu. Tidak pernah mencintaimu sebenar-benarnya.”<br /><br />“He thinks he’s in love with me. He thinks he loves me. Sangat mudah mengira diri kita jatuh cinta ketika jiwa luka kehilangan cinta sejati. Merindukan dia sang kekasih sejati akhirnya kembali ke pelukan, lalu telaten mengeringkan luka. Ketika seseorang singgah tak diduga, membelai lembut hati yang kelelahan, dalam sekejap mata kita mengira diri telah jatuh cinta. Tanpa menyadari desiran itu hanyalah khayalan penuh rindu kepada sang pujaan hati yang sesungguhnya. Berharap sang kekasih sejati melakukan apa yang orang itu lakukan. Ketika kita bermesra dengannya, wajah sang pujaan hati yang ada di mata. Lalu kita panggil namanya dengan segenap jiwa yang mendamba. Seseorang yang singgah dalam hidup kita itu mendadak tak berwajah, tak bernama.”<br /><br />Saya menatapnya penuh iba. Hilang sudah seluruh omelan yang biasa saya cerewetkan di telinganya.<br /><br />“Tak bernama,” ia menggelengkan kepala kuat-kuat, “tak bernama..”<br /><br />Air mata saya mulai merebak. Merasakan sakit yang ia rasakan.<br /><br />"Semua yang kautulis, kaukatakan, kaurasakan, kaulakukan, kaupikir ada, kaupikir akan menjadi, kausangka pernah terjadi…,” saya tak mampu menyelesaikan kalimat.<br /><br />"Tidak pernah ada,” ia menyelesaikan kalimat saya. “Kalaupun ada, itu semua bukan sejatinya untukku. Khayalan rindu itu bukan denganku. Aku adalah sosok tak bernama itu.”<br /><br />Tangis saya sungguh-sungguh pecah sekarang. Mewakili ia yang sudah tak sanggup menangis. Gumamnya tersisa di telinga, sebelum saya turut lebur dalam jiwanya yang meleleh musnah.<br /><br />“I feel so stupid,” nyaris tak terdengar. Lalu tinggal raga. Tanpa jiwa.<br /><span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span>PennyLanehttp://www.blogger.com/profile/01215519661527395502noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-9153859.post-45114003659135336592008-06-14T05:58:00.021+07:002008-07-13T22:49:48.124+07:00Cahayamu<span style="color: rgb(0, 0, 0);">...</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/6471/654/1600/349093_8737.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6471/654/400/349093_8737.jpg" alt="" border="0" /></a><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Dan.</span> Lalu. Ternyata. Selalu ada kata sambung yang menyatukan banyak fragmen hidup manusia, bukan? Maka ketika kamu mulai meletakkan sebuah kata sambung di depan sekeping potongan kecil hidupmu, lalu menjalinkan satu untukku, aku tidak lagi tergegau oleh gambar besar yang belum lagi kelihatan bentuknya.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Ada </span>kilas balik memang. Sebuah proses metodologi normal ketika aku mulai menghubungkan satu fakta lama yang ini dengan fakta baru yang itu. Lalu fakta lama yang lain lagi dengan fakta baru yang lain lagi. Kemudian mulai menggaris sendiri bentuk taman bermainku yang baru. Di batang pohon di mana kutulis namamu dan namaku, mungkin seharusnya tidak ada namamu. Cukup hanya namaku saja. Karena mungkin, cinta paling putih itu, paling jujur, paling jernih seperti iklan air mineral di televisi, hanya milikku sendirian. Kulambungkan sendiri dalam gelembung sabun yang kutiup sendiri. Memandang riang warna-warninya yang melingkar indah, walau sekejap lenyap tanpa perlu sebab. Terbuai sendiri dalam khayalan putri yang terperangkap di dalamnya, terbawa terbang hingga istana sang pangeran tampan.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Masih </span>ku tak mau kehilangan kesempatan yang tidak datang dua kali dalam hidup. Memiliki cinta serba "paling" itu. Walau mungkin, hanya milikku saja. Di tanganku saja. Tali merahnya menjuntai putus. Entah di mana sambungannya.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Tapi </span>apa yang kutahu tentang ini semua? Bukankah dunia hanya ada dalam sungkup kecil tempurung kepalaku saja?<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Satu </span>hal yang aku tahu pasti. Aku diamanati sebungkal hati. Kecil, ringkih, redup. Masih berpendar, walau lemah. Kamu titipkan padaku. Kamu serahkan dalam genggamanku. Begitu saja. Ah, setelah dulu kaumiliki aku dalam genggamanmu, rapuh hatimukah kini dalam timanganku?<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Lalu </span>kukatakan ini kepadamu:<br />Akan kurawat amanat ini. Sebab ia jatuh di depan kakiku seperti bintang peri tercerabut dari langitnya yang tinggi. Akan kuberi makan dan kubesarkan lagi. Kubasuhi lukanya dan kubuat ia kuat lagi. Kelak ia akan bersinar lagi. Seperti takdirnya ia menjadi. Memenuhi takdirnya ia kembali.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Mungkin,</span> ia tak akan bisa kukembalikan sebesar dulu. Dua puluh tahun lewat sudah, sejak berada di puncak kemampuannya memberi. Lalu dua puluh tahun dihabiskannya semata hanya memberi. Hingga ia habis, kisut, menyusut jadi batu kelabu. Berpendar lemah di sisa daya yang ia punya.<br /><br /><span style="color: rgb(51, 204, 0);">Namun </span>kupastikan cahayanya akan kembali. Berpuluh kali lipat terangnya, berjuta kali lebih dayanya. Lidah apinya akan sesangar matahari. Jauh melebihi sinar cinta yang ia pendarkan dua ratus empat puluh purnama lalu. Dan ketika ia bersinar