tag:blogger.com,1999:blog-90172986492532236782009-03-17T22:13:41.871-07:00JALAN BAHASAMembayangkan sebuah bahasa, seperti membayangkan sebuah kehidupan lengkap dengan equilibriumnyajalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.comBlogger28125tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-75090142305747936042009-03-17T21:19:00.000-07:002009-03-17T22:09:23.986-07:00Lubang di Kematian<a href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/ScB3D5xOFiI/AAAAAAAAASw/CHz9ESwe4Gg/s1600-h/knife.jpg"><span style="font-family:arial;font-size:130%;"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314378469227763234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 184px; CURSOR: hand; HEIGHT: 202px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/ScB3D5xOFiI/AAAAAAAAASw/CHz9ESwe4Gg/s320/knife.jpg" border="0" /></span></a><span style="font-family:arial;font-size:130%;"><br />Akan kupugar istana di sudut jantungku, diantara rimbunnya gelisah dan guyuran air mata. Kesedihan yang begitu mencekam dan gelap, mengurung semua kenangan pada penjara. Hendak kubawa lari semua kesedihan dan segala luka yang busuk di tubuh ke sebuah samudera, menyelam ke dasarnya, sambil menembangkan sajak kematian.<br /><br />Ah, begitu lama aku terkubur dalam-dalam di sudut matamu. Merasakan kedukaan dan kegembiraan dari sebuah celah yang begitu sempit. Mengikutimu berlari melintasi mimpi dan sesekali memandangi bintang yang berpendar indah saat malam. Taman Eidelwies yang penuh oleh angin selatan, bangku melumut dan jari-jari beku—bulan merunduk lalu jatuh ke didih kawah—kutulis kata yang kuulang-ulang tanpa bosan. Kesedihan yang begitu biru.<br /><br />Telah lama aku curiga pada tubuh ini. Otakku. Mataku. Hatiku ini. Aku curiga dengan semua kebahagiaan dan cinta. Aku ragu dengan waktu yang bertahun-tahun duduk termanggu di sebuah akar pohon, memainkan embun dari pucuk-pucuk daun teh. Bahkan aku selalu menbenci mimpi-mimpiku. Karena sembilan ratus sembilan sembilan dari seribu apa yang telah menjadi mimpiku, kini menjelma racun yang telah membekukan cairan otak dan membuatku jadi begitu bodoh.<br /><br />Ketika aku membawa sebilah pisau, menghunusnya dengan seringai senyum yang memilukan, kuharap engkau tidak meloncat kaget dan lari ketakutan. Aku bukan hendak membunuh siapaun yang ada di dunia ini. Bertahun-tahun aku ingin membunuh bayanganku yang sembunyi dalam botol-botol wiski dan asap ketakutanku. “Jangan pernah takut, sayang?” teriakku selalu hingga tenggorokan terasa parau.<br /><br />Aku selalu kehabisan kata-kata setiap kali aku ingin menuliskan sebuah puisi untukmu. Kadang aku juga takut, kalau kau anggap puisi ini ternyata lebih cocok aku berikan pada mantan kekasihku. Tapi aku juga selalu gembira, setiap kali kamu menyuruhku menceritakan sebuah istana yang ada di dalam jantungku. Selalu kautanyakan apa warna catnya, dan berapa jumlah kamar yang ada di dalam.<br /><br />Sudah lama kutunggu sedikit udara masuk ke dalam jantung—melalui mata dan kedua hidung—mencairkan perasaan yang beku. Selama bertahun-tahun aku selalu duduk di jalan yang begitu ramai setiap sore, tepat sebelum matahari tenggelam dan warna-warna langit secara perlahan berubah menjadi jingga. Saat itulah angin bertiup membawa wangi laut dan pasir pantai. Langit begitu menawan dan cerah, mengingatkan akan kata-kata yang selalu kubunuh dan kupendam satu-persatu di kuburan. Sudah lama aku menunggu untuk kembali menatap matahari dengan jari-jari yang utuh dan siap menuliskan beberapa bait puisi.<br /><br />Aku takut menerjemahkan tatapan itu. Birunya langit, menjelma menjadi sebuah cermin pada matanya. Memantulkan perasaan yang begitu hangat. Menjadi medan magnet yang kuat, dan tak ada hati yang tak sanggup menghindar untuk mendekapnya. Memilikinya, membingkainya dengan pigura, memajangnya di sudut kamar sempit pancawarna. Dalam sembahyang-nya pun, nama seindah bunga itu selalu ia rantai dalam rapal doa-doa, diiringi tangis yang tersedak-sedak<br /><br /><br />***<br />Sudah terlambat. Semua sudah terlambat. Bahkan cahaya itu engan kembali datang dalam kesendirianku di taman. Suara-suara binatang yang selalu membentuk sol-do-mi-fa-si ketika malam rebah di atas rumput-rumput, kini diam. Udara beku, menjelma ribuan jarum. Kuhirup pelan-pelan segala isyarat tentang kematian. Jemariku ngilu menggengam erat gagang pisau yang telah memerah.<br /><br />Begitu perih kurasakan sebuah lubang tusuk tepat di jantungku. Rasa kesemutan yang hebat merambat dari ujung kaki hingga kulit-kulit kepala. Rasanya mata ini mulai mengeluarkan tetes-tetes air mata, terkadang larut sebuah darah yang begitu pekat. Tubuhku rebah diantara batang-batang padi yang habis di panen, diantara rumput-rumput yang menyembunyikan para pecinta harmoni. Tapak-tapak embun mulai membasahi seluruh tubuh, menetes di antara mata dan ujung hidung.<br /><br />Mungkin kamu tak akan percaya, jika aku sudah membunuh ketakutanku. Menikamnya diam-diam saat dia terlelap di bawah sebuah malam yang jernih. Menyeretnya ke tengah-tengah sawah. Teriakan kemarahan bercampur ketakutan keluar dari mulutnya yang penuh oleh darah dan liur pekat. “Teriaklah sekuat nafasmu! Karena tak akan orang yang mendengar segala suara saat ini. Telah kukirim mimpi-mimpi indah bersama angin.”<br /><br />Aku masih ingat petang itu. Ketika kamu menangis sambil menjambaki rambutmu, dan hampir saja kau menikamkan sebuah gunting di matamu yang lucu. Inikah namanya cemburu? Ribuan badai mengamuk di hati. Kini kamu yang curiga terhadapku. Sudah kubilang berapa kali, tidak saja kamu yang curiga! Aku juga curiga. Apa yang aku lakukan selama ini, hanya ingin lari jauh dari segala ketakutan-ketakutanku. Aku selalu bermimpi lahir kembali dan menjadi kata-kata. Meski aku membencinya, namun dengan kata-kata aku bisa membuatmu percaya.<br /><br />Tak pernah selancar ini aku merapalkan kata-kata dalam mantra. Mengeja keganjilan dalam sela-sela waktuku. Aku tersungkur dengan wajah menghujam lumpur. Dari mulutku keluar darah, mewarnai pekatnya malam. Kini aku sadar, bukan saja bayanganku yang hilang di samping tubuhku yang kurus, namun perlahan mimpi-mimpiku pun pudar. Rasa sesak dan perih dalam dada menghilang. Sudah genapkah kematianku?<br /><br />Yogyakarta, 17 Maret 2009</span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-7509014230574793604?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-21207822374947473542008-12-01T06:15:00.000-08:002008-12-01T06:19:48.679-08:00Di Sawah-sawah Tuhan, Semua Menangis<p style="margin-bottom: 0in;">Eka Budianta, mungkin salah satu dari sekian banyak penyair negeri ini yang masih memugar hubungannya dengan alam, kampung halaman dan berpenggal-penggal kenangan dimana dia hendak merangkainya, menjadi dunia miliknya seorang. Melalui kata-kata dalam puisinya, kita akan digiring menziarahi hidupnya. Mengajak siapapun merasakan sejuknya belaian angin gunung, lembutnya embun dan melimpahnya cahya dan banyu yang bening. </p> <p style="margin-bottom: 0in;">Eka adalah sosok yang tak pernah bisa tinggal diam melihat lingkungan di negaranya mengalami dekadensi yang luar biasa, menurutnya, hal ini berlangsung karena kesadaran sosial masyarakat untuk ikut berpastisipasi dalam menjaga dan menindak lanjuti isu-isu lingkungan sangat kurang.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Lahir di Ngimbang, Jawa Timur tahun 1956, Eka sudah dekat dengan lingkungan. Saat ini dia telah bermetamoforsis menjadi penyair, penulis cerpen, penulis esai tentang sosial budaya, serta aktivis sosial dan lingkungan. Dia lulus program Lingkungan dan Pembangunan (Leadership for Environment and Development) dengan kerja lapangan di Costa Rica, Amerika Tengah (1995), Ikonawa, Jepang (1996) dan Zimbabwe (1997).</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Karena dedikasinya yang besar dalam menjadikan karya-karyanya sebagai suatu pembelajaran dalam bersikap arif terhadap lingkungan, dia mendapat penghargaan dari ASHOKA Foundation. ASHOKA Foundation merupakan sebuah lembaga International yang memperhatikan pengabdi masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, dan sebagainya.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Saya tertarik untuk menelaah salah satu puisi Eka Budianta yang berjudul Di Sawah-sawah Tuhan, yang terkumpul dalam kumpulan puisinya yang berjudul Masih Bersama langit. Puisi ini merupakan transformasi estetika dari bentuk lukisan ke prosa. Dia menjadikan lukisan F. Rahardi sebagai objek yang kemudian ia terjemahkan dalam kata-kata.</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;"><b>Stilistika, Gaya Bahasa dan Lingkup Telaah</b></p> <p style="margin-bottom: 0in;">Stilistika secara etimologis merupakan hubungan kata stylistics dengan kata style, artinya ilmu tentang gaya. Stilistika merupakan ilmu pemanfaatan bahasa dalam suatu karya sastra. Gaya bahasa sendiri menurut Enkvist (Sayuti via Endraswara, 2004: 72) memiliki enam pengertian, yaitu: a) Bungkus yang membungkus inti pemikiran atau pertanyaan yang telah ada sebelumnya, b) pilihan di antara beragam pernyataan mungkin, c) sekumpulan ciri kolektif, d) penyimpangan norma atau kaidah, e) sekumpulan ciri pribadi dan d) hubungan antara satuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas daripada sebuah kalimat. </p> <p style="margin-bottom: 0in;">Penelitian stilistika berdasar asumsi bahwa bahasa sastra mempunyai tugas mulia. Bahasa memiliki pesan keindahan dan sekaligus membawa makna. Tanpa keindahan bahasa, tentunya karya sastra hanya akan menjadi ambar. Keindahan dipengaruhi oleh kreatifitas penulis dalam meracik kata-kata. Disini bahasa akhirnya menjadi wahana khusus ekspresi kata. </p> <p style="margin-bottom: 0in;">Menurut Pradopo (via Endraswara, 2004: 72), nilai estetik suatu karya sastra ditentukan oleh gaya bahasanya. Kemahiran penyair dalam bermain di dunia stilistika, menunjukkan kemahiran dan besarnya kreatifitas sang penyair. Gaya bahasa sebagai media dalam stilistika, merupakan efek seni dalam karya sastra yang terpengaruh kuat oleh nurani sang penyair.melalui gaya bahasa itulah penyair kemudian meluapkan ekspresinya. Betapa pun senang atau sedihnya dia, melalui gaya bahasa, karya sastra yang penulis buat akan tetap bernilai seni.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Secara umum, lingkup telaah stilistika mencakup diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat di dalam suatu karya sastra. Aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Demikian antara lain pengertian singkat stilistika, gaya bahasa, dan kemungkinan cara pendekatannya. Selanjutnya dalam praksisnya dengan menelaah puisi Eka Budianta yang berjudul Di Sawah-sawah Tuhan, aspek-aspek daya bahasa dijadikan tanda dalam proses semiosis komunikasi antara penulis dan pembaca. </p> <p style="margin-bottom: 0in;">Analisis puisi Eka Budianta akan digunakan pendekatan Wellek dan Warren, yang memberikan dua kemungkinan. Pertama, menganalisis sistem linguistik karya sastra yang dilanjutkan dengan interpretasi ciri-cirinya dilihat dari tujuan estetis karya sastra sebagai total, dan kedua akan mengamati deviasi dan distorsi terhadap pemakaian bahasa normal dan bertujuan menemukan nilai estetisnya. </p> <p style="margin-bottom: 0in;"><b><br /></b></p><p style="margin-bottom: 0in;"><b>Di Sawah-sawah Tuhan, dalam Stilisitik</b></p> <p style="margin-bottom: 0in;">Dalam puisi-puisinya, Eka Budianta seperti pembuat alam yang meracik sendiri unsur-unsur alam di sekitarnya. Pilihan kata (diksi serta leksikal), kelompok kata (frase) dan kalimat-kalimatnya terasa sangat sesuai dengan tema-tema yang selalu ia usung dalam karya-karyanya.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Ketika membaca puisi yang berjudul Di Sawah-sawah Tuhan kita akan diajak serta Eka dalam menziarahi alam. Masuk pada sebuah dunia hijau yang indah dalam bayangan dan damai. Namun, dalam rangkaian-rangkaian kata yang melenakan, Eka kemudian tidak lupa akan kondisi sosial negaranya. </p> <p style="margin-bottom: 0in;">Di Sawah-sawah Tuhan sebagai judul yang dipilih Eka dalam menggambarkan kondisi ironisnya lingkungan juga menjadi “garis bawah” dalam menginggatkan masyarakat terhadap reformasi yang bergulir dari efek krisis multidimensi negeri ini. Dalam kaitannya dengan ini, agaknya pemilihan kata pada judul tersebut menjiwai isi cerpen secara keseluruhan (total).</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Pemilihan kata-kata yang sering kita temui di alam dan mungkin sekarang menghilang karena tergusur pembangunan oleh Eka dirangkai dalam proses linguistik yang mengandung intensitas yang tinggi. Intensitas ini bisa tampak pada pemanfaatan gaya bahasa hiperbola dan personifikasi.</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Di Sawah-sawah Tuhan,</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Kunang-kunang berhenti menari</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Mata air menangis siang dan malam</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Burung-burung selalu berdoa</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Dan aku tumbuh bagai padi</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Yang diam-diam mencintaimu</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;">Lihat saja bait pertama diatas. Bagaimana mungkin kunang-kunang bisa menari dan burung-burung mampu mengeja kata-kata untuk berdoa. Di tangan Eka Budianta, unsur-unsur alam menjadi hidup dan bercerita tentang ketidakadilan. Perenungan akan suatu hal yang telah terjadi dan membuat semua penghuni negeri ini sengsara.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Dengan menggunakan kekuatan alam, Eka hendak memaknai reformasi yang baru saja dia dapat dari negaranya. Eka menggunakan kata-kata ganti yang dia pungut sendiri dari serakan-serakan daun, sawah, pohon-pohon dan lain-lain untuk menyebutkan makna reformasi menurutnya. Simak baik-baik bait kedua ini,</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Di sawah-sawah Tuhan, reformasi menyala</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Dalam kuning pagi, dalam merah sore</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Dalam biru siang dan coklat malam</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Anak-anak mengubah dunia</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Menjadi pasar, menjadi partai</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Pohon-pohon lilin abadi.</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;">Di bait ketiga, Eka menggunakan gaya bahasa personifikasi dalam memperkenalkan dirinya melalui simbol-simbol yang dibangun dalam puisisnya. Selain itu juga gaya bahasa oksimoron, yang menjadikan ungkapan-ungkapan padat, juga memenuhi lembaran-lembaran puisi ini. Bait pada Puisi ini juga hendak mempertanyakan tragedi perang saudara yang membawa isi agama, seperti yang terjadi pada tahun 1998. Banyak Gereja yang dibakar juga Masjid, terjadi ketidak percayaan antara penganut satu dengan penganut lain. Simak baris pertama, Akulah gembala bebek yang menangis itu, Eka seperti merasakan nuansa ketikdak percayaan antara orang satu dengan lain.</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Akulah gembala bebek yang menangis itu,</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Terbenam di sawah-sawah Tuhan</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Ketika kamu berhenti merindu</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Ketika gereja-gereja dibakar</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Dan hidup terbenam jadi dongeng</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;">Hijaunya negeri ini menurut Eka hanya sebentar, hanya menunggu waktu semua terbakar dan hilang oleh ulah kita sendiri.</p> <p style="margin-bottom: 0in;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Di sawah-sah Tuhan aku terbenam</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Dalam pusara alih jaman</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Sungai-sungai mabok kebebasan</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Kamu dan aku sembunyikan rahasia</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Seperti padi, seperti rumput dan jerami</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Sesaat sebelum dilalap api.</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Dari lukisan F Rahardi</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="right">Jakarta 1998</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="left"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="left">Daftar Pustaka</p> <p style="margin-bottom: 0in;" align="left"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0in;">Budianta, Eka. 2000. Masih Bersama Langit. Magelang: Dunia Tera.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">___. 2006. Mekar Di Bumi. Jakarta: Alvabet.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.</p> <p style="margin-bottom: 0in;">Suwondo, Tirto.2003. Studi Sastra (Beberapa Alternatif).Yogyakarta: Hanindita .</p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-2120782237494747354?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-64460570003518248252008-11-27T09:18:00.000-08:002008-11-27T11:46:42.636-08:00Terpedaya Kamus Saku<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SS7aoI9lejI/AAAAAAAAASU/u9hwB5FKa8U/s1600-h/012-kamus_lengkap_bahasa_indonesia.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 145px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SS7aoI9lejI/AAAAAAAAASU/u9hwB5FKa8U/s200/012-kamus_lengkap_bahasa_indonesia.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273392596832844338" border="0" /></a>Ada empat kelompok, apabila kita mengklasifikasikan kamus berdasar ukuran. Ukuran yang dimaksud disini, bukanlah jumlah halaman, namun jumlah entri yang mampu dimuat dalam sebuah kamus. Secara umum entri kata akan dikenali pada awal entri kamus dan dicetak tebal atau semi tebal.<br /><br />Kelompok pertama adalah kamus saku. Kamus jenis ini umumnya merupakan kamus bilingual (dua bahasa) dan digunakan untuk para pelancong yang sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Entri kata dalam kamus ini rata-rata sekitar 5.000 sampai 15.000 kata. Sering kita temukan juga jenis kamus ini yang monolingual (satu bahasa).<br /><br />Kelompok kedua, merupakan kelompok kamus yang pendiskripsiannya kata atau lemma lebih rinci dibanding dengan kelompok pertama. Kamus ini biasanya berupa kamus satu bahasa dan banyak digunakan oleh anak usia sekolah. Entri yang dimuat dalam kamus ini bisa sampai 15.000 sampai 35.000 entri kata.<br /><br />Sedangkan kamus yang masuk dalam kelompok ketiga, umumnya adalah kamus yang biasanya satu bahasa atau dua bahasa. Informasi pemaknaan dalam kamus ini lebih rinci dan lengkap jika dibandingkan dengan kedua katagori diatas. Kamus ini banyak dipakai oleh mahasiswa sebagai alat bantu mereka dalam memahami kata. Memuat sekitar 35.000 sampai 60.000 entri, kamus ini jelas memiliki perbedaan dengan katagori kamus sebelumnya.<br /><br />Dan golongan keempat adalah kamus yang biasanya monolingual ataupun bilingual. Informasi yang disajikan lebih spesifik daripada kamus golongan ketiga. Perbedaan utama dengan kamus golongan ketiga adalah dalam hal entri, ekspresi, dan makna. Kamus kelompok keempat ini biasanya digunakan oleh mahasiswa yang memiliki kemampuan pengetahuan linguistik yang cukup memadai dan para profesional muda yang juga mumpuni dalam bidang kebahasaan. Jumlah halaman kamus ini sekitar 1.000 halaman lebih. Dan memiliki jumlah entri lebih dari 60.000 entri.<br /><br />Dari pengambaran keempat kamus berdasar ukurannya tersebut, mungkin sudah ada diri kita bayangan mengenai bentuk kamus-kamus tersebut. Saya tertarik dalam menyoroti kamus saku khususnya yang hanya menggunakan satu bahasa, karena kamus itu telah menjadi fenomena luar biasa dalam akademik kebahasaan. Banyak pihak yang menyebut kamus tersebut secara kualitas tidak layak dan cenderung menyesatkan.<br /><br />Dalam segi efisiensi bentuknya, kamus mungil ini memang memiliki kelebihan dari kamus-kamus lain. Bentuknya yang kecil, ringkas dan ringan memungkinkan kamus tersebut dimasukkan dalam saku (karena itulah kenapa kamus ini dinamakan kamus saku). Jangan tanya harga kamus ini, karena menurut survey, kamus ini bisa didapat hanya dengan mengeluarkan uang Rp 4.000,- sampai Rp 10.000,-. Di lapak-lapak toko buku santero Yogyakarta, kamus ini ternyata tidak satu jenis, karena setiap keluar baru, nama-nama kamus ini selalu berbeda. Lihat saja judul-judul kamus tersebut: Kamus Lengkap Bahasa Indonesia; Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini, Kamus Mini Bahasa Indonesia; Kamus Paling Lengkap Bahasa Indonesia, dsb.<br /><br /><br />Cocok Hanya di Saku<br />Disini saya akan membuktikan bahwa kamus ini tidak cocok digunakan siapapun dalam mencari referensi kata. Karena pemaknaan kata banyak yanga asal dan tidak sesuai dengan kaidah ilmu leksikologi. Ke depan, jika kita tidak biasa menggunakan kamus standar dan hanya mengandalkan kamus kecil ini, tentu saja masa depan bahasa Indonesia akan suram.<br /><br />Kamus sendiri merupakan terjemahan dari bahasa Inggris Dictionary yang di derivasikan dari bahasa latin Dictionarius. Istilah Dictionarius sendiri pertama kali digunakan pada tahun 1225 oleh seorang sastrawan sekaligus tatabahasawan Inggris Joannes de Garlanda (John of Garland). Rekaman pertama penggunaan kata Dictianary pada tahun 1526 oleh OED. Sesudah itu kata Dictionary digunakan oleh Sir Thomas Elyot pada tahun 1538. Sementara itu dalam bahasa Perancis kata Dictionnire pertama kali digunakan pada tahun 1539 oleh Robert Estinne.<br /><br />Kata kamus didefinisikan sebagai buku rujukan yang berisi kata-kata yang disusun secara alphabetik yang dilengkapi dengan informasi tentang bentuknya, ucapannya, ejaannya, fungsi, etimologi, makna dan penggunaan dalam kalimat secara sintatik dan idiomatik. Al-Kasimi menyatakan bahwa kamus merupakan buku yang berisi seleksi kata yang tersusun secara alphabetik dengan penjelasan makna dan informasi yang berkenaan dengannya dan didiskripsikan dalam bahasa yang sama atau berbeda. Seperti kata Landau “dictionary is a book that list word in alphabetical order and diseribes their meaning.”<br /><br />Suatu buku yang memuat daftar kata tidak secara otomatis dapat disebut sebagai kamus. Banyak buku yang berisi kata tetapi bukan sebuah kamus, misalnya Glosarium, indeks, enslikopedi. Suatu buku disebut kamus apabila memiliki delapan kriteria menurut Rey, yaitu: kamus merupakan urutan paragraf yang terpisah, kamus dirancang sebagai rujukan, kamus memiliki dua struktur, kamus merupakan seperangkat urutan, kamus merupakan daftar unit bahasa, kamus merupakan buku pelajaran, kamus menginformasikan tanda bahasa.<br /><br />Alasan kenapa kamus saku baiknya tidak digunakan, karena salah satu dari delapan kriteria yang diungkap oleh Rey tidak sesuai dengan kamus kecil ini, yaitu kamus idealnya dirancang sebagai suatu rujukan. Kamus saku minus dalam memberikan informasi kata yang dapat dijadikan rujukan.<br /><br />Misalkan saja kamu saku yang berjudul ‘Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Masa Kini’ yang saya beli dengan harga Rp 4.800,- di Sosial Agency Gejayan, Yogyakarta. Kamus yang disusun oleh Dra Sayekti Kartika, S.P, ini memiliki ukuran sekitar 8 X 12 Cm, dengan tebal 480 halaman. Diterbitkan oleh Pustaka Mandiri Surakarta, tanpa dilengkapi tahun penerbitan. Dalam penerbitan kamus kecil yang saya jadikan contoh ini saja, sudah banyak hal-hal formal yang dilanggar. Seperti tidak adanya ISBN sebagai buku resmi yang disetujui badan pengawas penerbitan nasional, juga tanpa tahun penerbit, karena sebuah kamus idealnya harus dilengkapi dengan tahun penerbitan untuk mengukur apakah kata-kata yang digunakan masih relevan atau tidak.<br /><br />Satu nilai tambah untuk kamus mini, selain ukurannya yang secara umum kecil, kamus kecil biasanya juga selalu memberikan informasi seputar pengetahuan umum yang berguna bagi siswa SD, SMP, SMU maupun umum. Namun, poin inti dari kamus bukanlah ada disana, melainkan pada kekayaan bahasa, pemaknaan, pembacaan, dataupun pemenggalan yang sesuai standar Ejaan yang Disempurnakan (EYD).<br /><br />Di Indonesia, kamus yang sudah sesuai standar dan kaidah EYD adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kamus itu, aplikasi pembuatan kamus yang sudah sesuai dengan kriteria ilmu leksikologi benar-benar diterapkan.<br /><br />Tentang bentuk lemma, ternyata kamus saku ini tidak menginformasikan apakah kata yang dipakai masuk dalam kelas kata apa. Seperti contoh: aba; aba-aba dll, dalam kamus saku tidak disebutkan kelas kata seperti dalam KBBI. Dalam KBBI tiap lemma yang akan diinformasikan cukup jelas mendapat label kelas kata, apakah kata tersebut masuk dalam adjektiva (a), adverbia (adv), nominan (n), numeralia (num) dll.<br /><br />Di dalam kamus kecil ini, tidak disebutkan pula label penggunaan bahasa yang menunjukkan dalam bahasa apa atau dialek Melayu mana kata yang bersangkutan digunakan. Dalam KBBI cukup jelas bahwa kata yang berasal dari daerah biasanya mendapat tanda (bl) untuk daerah Bali, (bt) untuk Batak, (Jw) untuk Jawa, dll.<br /><br />Kamus saku ini tidak disebutkan bagaimana pemengalan lemma. Pemenggalan lemma penting untuk panduan seorang layout buku guna menentukan pemenggalana kata di akhir baris. Di KBBI bisa dilihat cukup jelas tentang pemenggalan kata ini sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Seperti contoh: An.dal; meng.an.dal.kan; ter.an.dal; an.dal.an; ke.an.dal.an; dll.<br /><br />Ditemukan juga kepenulisan antara kamus saku dengan KBBI mengenai kata serapan khususnya dari Arab. Misalnya kata Alquran, Kabah KBBI menuliskan kitab suci agama Islam itu sesuai dengan lafal aslinya. Sedangkan dalam kamus saku kepenulisannya adalah Al-qur’an, Ka’bah tanpa ada pemenggalan sesuai dengan lafal. Kata itu masing-masing memiliki arti berbeda, lemma Alquran dalam KBBI memiliki arti; kitab suci agama islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup manusia. Sedangkan dalam kamus saku, lemma tersebut diartikan sebagai kitab suci penganut agama Islam yang berisi 30 juz.<br /><br />Dalam kamus saku tidak konsisten dan cenderung tidak dicantumkan derivasi kepenulisan sublemma atau subentri sebuah kata. Misal kata dasar cu.ri, idealnya kata tersebut mempunyai bentuk derivasi seperti yang terdapat dalam KBBI, yaitu: men.curi; men.cu.ri-cu.ri; cu.ri.an; pen.cu.ri; pen.cu.ri.an; ke.cu.ri.an.<br /><br />Terakhir, dalam kamus saku tidak terdapat penggunaan kata secara sintatik maupun idiomatik. Struktur penulisan dalam kamus saku hanya ada lemma dan selanjutnya makna lemma tersebut. Tanpa ada keterangan pemenggalan kata, label kelas kata, label serapan dari daerah mana, beberapa menggunakan derivasi namun belum konsisten serta tidak adanya contoh dalm penggunaan kalimat.<br /><br />Pemaparan ini bukannya hendak menelanjangi keburukan kamus saku, namun bagaimana menjadi cermin untuk menuju masyarakat Indonesia yang mengerti dan sekaligus paham mengenai kata-kata dan aplikasinya dalam berkomunikasi sehari-hari. Tulisan ini juga bisa menjadi masukan untuk mencipta kamus (bagi leksikolog) yang memiliki standar KBBI, namun bagaimana tetap mempertahankan efisiensi bentuk yang minimalis.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-6446057000351824825?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com1tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-90312364111913507482008-08-30T23:40:00.000-07:002008-08-30T23:46:15.760-07:00SPLENDOR VERITATIS, YANG LAHIR DARI RAHIM RAKYAT<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLo92AFM4aI/AAAAAAAAAPg/ydwlNfnXA5s/s1600-h/wijiys6.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLo92AFM4aI/AAAAAAAAAPg/ydwlNfnXA5s/s200/wijiys6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240569114343039394" border="0" /></a>
<br /><b style=""><i style=""><span style=";font-family:";font-size:17;" lang="IN"></span></i></b><meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"><meta name="ProgId" content="Word.Document"><meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"><meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"><link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLIMUNY%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"><link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLIMUNY%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"><link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLIMUNY%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:View> <w:zoom>0</w:Zoom> <w:trackmoves/> <w:trackformatting/> <w:punctuationkerning/> <w:validateagainstschemas/> <w:saveifxmlinvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:donotpromoteqf/> <w:lidthemeother>EN-US</w:LidThemeOther> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables/> <w:snaptogridincell/> <w:wraptextwithpunct/> <w:useasianbreakrules/> <w:dontgrowautofit/> <w:splitpgbreakandparamark/> <w:dontvertaligncellwithsp/> <w:dontbreakconstrainedforcedtables/> <w:dontvertalignintxbx/> <w:word11kerningpairs/> <w:cachedcolbalance/> </w:Compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathpr> <m:mathfont val="Cambria Math"> <m:brkbin val="before"> <m:brkbinsub val="--"> <m:smallfrac val="off"> <m:dispdef/> <m:lmargin val="0"> <m:rmargin val="0"> <m:defjc val="centerGroup"> <m:wrapindent val="1440"> <m:intlim val="subSup"> <m:narylim val="undOvr"> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"> <w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"> <w:lsdexception locked="false" priority="0" name="header"> <w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"> <w:lsdexception locked="false" priority="0" name="page number"> <w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"> <w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"> <w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"> <w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"> <w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"> <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"> <w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"> <w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"> <w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"> <w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"> <w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"> <w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"> <w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><style> <!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Garamond; panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:"Book Antiqua"; panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Header Char"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.HeaderChar {mso-style-name:"Header Char"; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Header; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> </style><!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} </style> <![endif]--><b style=""><i style=""><span style=";font-family:";font-size:17;" lang="IN"></span></i></b><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span style=";font-family:";font-size:16;" lang="IN"><o:p></o:p></span></b></p><b style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></b><b style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Lebih baik mati, daripada memperkosa kebenaran. <i style="">(Soe Hok-Gie)
<br />
<br /></i><o:p></o:p></span></b> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><b style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p> </o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Beberapa kata yang ditulis Soe Hok-Gie—seorang <span style=""> </span>intelektual muda yang pernah dipunyai negeri ini dalam memerangi tirani—dalam buku hariannya, mungkin sangat tepat untuk menggambarkan sosok Wiji Thukul. Wiji merupakan salah seorang penyair angkatan 2000, yang selalu berapi-api dalam menyuarakan suara kaum bawah dalam setiap puisi-puisinya.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p>
<br /></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Menurut Y.B. Mangunwijaya, Wiji Thukul merupakan sang pembawa obor <i style="">splendor veritatis </i>(<i style="">splendor</i>; kecemerlangan atau cahaya, <i style="">veritatis</i>; kebenaran), yang konsisten dalam menghadirkan tema-tema sosial dan keberpihakannya pada kelas bawah. Lahir di kampung Sorogenen, Surakarta 26 Agustus 1963, dari rahim seorang tukang becak, Wiji kemudian tumbuh sebagai sosok yang keras, yang selalu memperjuangkan hak-hak kaumnya. Ia aktif di Jakker (Jaringan Kesenian Rakyat) yang jadi bagian partai Rakyat Demokratik (PRD).</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p>
<br /></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Wiji merupakan anak tertua dari tiga bersaudara. Ia menamatkan SMP pada tahun1979 lalu melanjutkan ke SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, namun tidak lulus. Selanjutnya, Wiji berjualan koran serta menjadi buruh pelitur di sebuah perusahaan mebel. Saat bekerja di pabrik mebel, Wiji dikenal sebagai penyair <i style="">Pelo </i>(cedal) yang sering mendeklamasikan puisi untuk teman-temannya.</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p>
<br /></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Empat tahun setelah raibnya Wiji Thukul, penerbit <i style="">Indonesia Tera, </i>Magelang, menerbitkan puisi-puisi Wiji yang diberi judul <i style="">Aku Ingin Jadi Peluru</i> (2000), yang berisi 136 puisi yang dibagi atas lima buku kumpulan puisi. Buku 1: <i style="">Lingkungan Kita Si Mulut Besar</i>, berisi 46 puisi. Buku 2: <i style="">Ketika Rakyat Pergi </i>berisi 17 puisi. Buku 3: <i style="">Darman dan Lain-lain </i>berisi 16 puisi. Buku 4: <i style="">Puisi Pelo </i>berisi 29 puisi. Serta buku 5: <i style="">Baju Loak Sobek Pundaknya </i>berisi 28 puisi.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p>
<br /></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Dari kelima buku puisi Wiji Thukul, bisa ditarik tiga tema dan perhatian utama, yakni; 1. melawan ‘Momok Hiyong’, yang berada pada ranah perpolitikan, 2. kisah kemelaratan, yakni perhatian pada wilayah sosial (lingkungan hidupnya sendiri), 3. minat pada Tuhan, wilayah kerohanian. Dan, seluruh puisi-puisi Wiji merupakan sebuah api yang membakar obor <i style="">splendor veritatis, </i>dan menjadi cahaya yang menerangi masyarakat bawah dalam menuntut hak.<span style=""></span></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><span style=""></span></span>
<br /></p><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Pada puisinya yang berjudul Momok Hiyong, Wiji ingin menyimbolkan penguasa sebagai “Momok Hiyong” bagi rakyat-rakyatnya. Menurut mitos orang Jawa, Momok Hiyong merupakan hantu yang menakuti anak-anak apabila tidak mau atau susah tidur. Selengkapnya puisi itu berbunyi begini; <i style="">“</i></span><i style=""><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">Momok hiyong si biang kerok//paling jago bikin ricuh//kalau situasi keruh//jingkrat-jingkrat ia bikin kacau dia ahlinya// akalnya bulus siasatnya ular//kejamnya sebanding Nero//sefasis Hitler sefeodal raja kethoprak luar biasa cerdasnya//di luar batas culasnya demokrasi dijadikan bola mainan//hak asasi ditafsir semau gue emas doyan hutan doyan//kursi doyan nyawa doyan//luar biasa tanah air digadaikan//masa depan rakyat digelapkan//dijadikan mainan utang momok hiyong momok hiyong//apakah ia abadi//dan tak bisa mati? momok hiyong momok hiyong berapa ember lagi//darah yang ingin kau minum.” (<b style="">Momok Hiyong)
<br />
<br /></b></span></i><b style=""><i style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p> </o:p></span></i></b> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Momok hiyong, dalam puisinya ini menjelma menjadi penguasa yang haus akan darah rakyat; <i style="">Momok hiyong momok hiyong berapa ember lagi//Darah yang kau minum?</i> Wiji tak pernah melakukan kalkulasi perimbangan kekuatan dalam memperjuangkan hak kaumnya. Ia kerapkali kalah. Namun, hal itu tak pernah memadamkan semangat dalam membela kaumnya. Dia berani merebut kembali kehormatan sebagai anak manusia. Inilah setitik kebenaran yang diteriakkan Wiji Thukul.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p>
<br /></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Ketika diwawancarai oleh majalah <i style="">Sastra </i>2 November 1994 silam, ia mengaku bahwa ia bukanlah sosok opinion leader, yang biasa mempengaruhi masyarakat. Ia mengungkapkan posisinya, “</span><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">Saya bukan penyair protes. Saya menyadari proses. Menulis puisi persoalannya selalu kembali ke persoalan diri saya. Begitu saya <i style="">drop out </i>dari sekolah, saat itulah saya sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Ada semacam pembenturan nilai. Yah, setelah keluar sekolah, akhirnya saya harus memilih menjadi tukang pelitur. Saya harus mengatur diri sendiri dan memilih mana yang baik dan tidak. Kalau di sekolah yang baik sudah ditentukan, padahal itu belum tentu baik bagi kita.”<o:p></o:p>
<br /></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">
<br /></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">Lewat puisi-puisinyalah, Wiji berhasil mengajak kaumnya—masyarakat yang termarginalkan di Solo—untuk bangun memperjuangkan hak azasi mereka. Puisi-puisinya ditulis dengan bahasa biasa dan sedikit menonjolkan rasa estetik dan metafor, namun kadang sangat mempesona. Puisinya bening, karena itu dengan mudah kita menangkap nilai yang ingin dikomunikasikan, yakni nilai-nilai kemanusiaan.</span><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p>
<br /></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">
<br /></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Simak salah puisi Wiji yang begitu provokatif, berjudul <i style="">Peringatan (1986); <span style=""> </span>“</i></span><i style=""><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">Apabila usul ditolak tanpa ditimbang//suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan//dituduh subversif dan mengganggu keamanan//maka hanya ada satu kata: lawan!” </span></i><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">dan puisinya yang berjudul <i style="">Satu Mimpi Satu Barisan (1992); “tak bisa dibungkam kodim//tak bisa dibungkam popor senapan//satu mimpi//satu barisan.”</i> <span style=""> </span>Puisi Wiji yang berjudul peringatan, menjadi semacam lagu wajib para demonstran ketika menggulingkan rezim Soeharto, Orde Baru.</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<br /><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN"><o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN"><o:p></o:p>Melalui Menko Politik dan Keamanan Soesilo Soedirman, tangan kanan Orde Baru, pada 28 Desember 1997 menyatakan, Wiji Thukul sebagai buron aparat kemanaan. Sejalan pemerintah yang menyatakan Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai parta terlarang. Ketua PRD Budiman Sudjatmiko akhirnya ditangkap.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;color:black;" lang="IN">Sejak saat itu, isterinya, Ny Sipon tak bisa lagi menemui Wiji Thukul. Kecuali atas kemauan Wiji sendiri yang dilakukan secara kucing-kucingan, melalui kontak orang lain dengan lokasi yang berpindah-pindah. Sebelum dinyatakan sebagai buron itu, Wiji Thukul terakhir kali merayakan Natal bersama istri dan kedua anaknya, Fitri Nganthi Wani (11) dan Fajar Merah (7), di rumah mereka yang sangat sederhana.</span><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<br /><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p>Wasiat Wiji dalam puisi untuk istrinya, sebelum ia menghilang; <i style="">kalau kelak anak-anak bertanya mengapa//dan aku jarang pulang//katakan//ayahmu tak ingin jadi pahlawan//tapi dipaksa menjadi penjahat//oleh penguasa//yang sewenang-wenang//kalau mereka bertanya//”apa yang dicari?”//jawab dan katakan//dia pergi untuk merampok//haknya//yang dirampok dan dicuri//. (Catatan, <b style="">Aku Ingin Jadi Peluru</b>)<o:p></o:p></i></span><i style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></i></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<br /><i style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></i></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><i style=""><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></i><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Satu tema yang menonjol dan konsisten dibawa Wiji dalam puisi-puisinya adalah tema kekuasaan, tirani yang semena-mena, nyanyian kaum papa, dan perhatiannya yang terbangun<span style=""> </span>dari sisi religiusitas. Kesadaran akan Tuhan membuat sang penyair menyesali dosa-dosanya. <i style="">Hari demi hari//tanggal demi tanggal, gelisahku//kisah demi kisah tunggal, gelisahku//dosa-demi dosa mengental Tuhanku//tak cukup aku dengan rasa malu//(di dalam kamar sekap ini)//tapi beri aku keberanian//merenggut topeng busana//telanjang menari berborok sekujur tubuh//di hadapan hadirin sahabat-sahabatku tercinta//. (Sajak Hari Demi Hari,<b style=""> Aku Ingin Jadi Peluru</b>)</i><span style=""> </span><o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<br /><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p>Puisi-puisi Wiji yang berhasil mendudukkan fungsi sastra pada tempatnya; yakni sebagai sarana memperjuangkan cita-cita dan visi kemanusiaan. Sangat pantas apabila Wiji Tukul tercatat dalam sejarah sastra Indonesia modern, sebagai penyair kerakyatan. Semangat Wiji Thukul, dalam memperjuangkan cita-cita kaumnya (proletar) dalam karya sastra, mempunyai kesamaan dengan visi Lenin yang menganggap; karya sastra harus memperjuangkan hak rakyat yang tertindas.<o:p></o:p></span><u><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p><span style="text-decoration: none;"></span></o:p></span></u></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<br /><u><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p><span style="text-decoration: none;"></span></o:p></span></u></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><u><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></u><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">Namun, perjuangan </span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLo-D20f_HI/AAAAAAAAAPo/vhcUr-ATAMI/s1600-h/g-5.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLo-D20f_HI/AAAAAAAAAPo/vhcUr-ATAMI/s200/g-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240569352375237746" border="0" /></a><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN">penyair <i style="">Pelo</i> ini harus dibayar dengan nyawanya. Pasca peristiwa 27 Juli 1996, ia bersama tokoh-tokoh politik yang menyuarakan suara rakyat raib dan diduga menjadi korban asap politik Orde Baru. Padam sudah bara kebenaran yang selama ini ia jaga sepenuh nyawanya. Kelak, semangat dan seruan<span style=""> </span>dalam puisi-puisinya, melahirkan Wiji Thukul-Wiji Thukul baru, dan menyalakan kembali obor <i style="">splendor veritatis </i>yang telah padam sesaat.</span><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style=";font-family:";font-size:11;" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-9031236411191350748?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com1tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-47887771969736288642008-08-21T21:11:00.000-07:002008-08-23T06:57:53.206-07:00H.B JASSIN DAN INGATAN BANGSA<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLAXD-SGvlI/AAAAAAAAAPE/Fc7BccbGtjo/s1600-h/bendera.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLAXD-SGvlI/AAAAAAAAAPE/Fc7BccbGtjo/s200/bendera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237711723657870930" border="0" /></a><br />Apa jadinya jika saja tidak ada orang macam Alm. H.B Jassin atau Alm. Pramoedya Ananta Toer, yang telaten mendokumentasikan serpihan-serpihan tulisan mengenai bangsa ini? Tentunya, ingatan bangsa ini makin pendek. Bagaimana mau menjadi bangsa yang besar, jika kolom sejarahnya dibiarkan lekang dimakan ‘rayap’. Atau haruskah kita membuka lembaran-lembaran ensiklopedi tentang Indonesia di luar negeri!<br /><br />Kelihatannya, memori otak bangsa Indonesia memang cepat aus dalam mengingat sesuatu di masa lampau, dan akan tambah krodit lagi dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Sehingga segala sesuatunya dibiarkan berjalan tanpa referensi. Tanpa acuan yang jelas, juga tanpa program yang terencana. Semuanya dibiarkan berjalan sesuai wacana-wacana sesaat yang tak pernah terekam secara nyata pula.<br /><div class="fullpost"><br />Jika saja HB Jassin dan alm. bung Pram masih hidup, kita layak menghaturkan beribu-ribu terima kasih. Meski sepele, mengumpulkan serpihan-serpihan berita, sastra, atau artikel mengenai negeri ini, ternyata sangat berguna dalam memberikan referensi ke arah mana bangsa ini akan “aman” bergerak.<br /><br />Ketika datang ke Jogja beberapa waktu silam, dalam agenda launching buku kumpulan esai dan puisinya, saya sempat kaget melihat bung Pram yang disaku kemejanya selalu terselip sebuah gunting. Dengan dibalut sebuah kain pada gagangnya, konon, gunting itulah yang menjadi sahabat setia bung Pram sekaligus “senjata” untuk berusaha menjadi manusia yang produktif.<br /><br />Meski energi menulisnya sudah habis, tapi dirinya tetap berusaha untuk produktif. Lewat gunting itulah, di kamarnya sudah menumpuk lebih 2 meteran kliping berita, sastra, tulisan mengenai nusantara yang ia ambil dari koran dan majalah. Hampir tak ada koran dan majalah yang utuh di hadapan Pramoedya, karena setiap kali dirinya menemukan artikel menarik mengenai bangsa ini, saat itulah jari-jarinya lincah memotong kertas.<br /><br />Begitu juga dengan H.B Jassin. Laiknya seorang ibu yang berlimpah kasih sayang, dirinya menggumpulkan, menyimpan serta merawat tulisan-tulisan para sastrawan entah itu serpihan kopi naskah, surat-surat, hingga naskah jadi yang belum terbit maupun yang sudah terbit. Hasilnya memang luar biasa, semua kliping dan dokumentasi itu tersimpan rapi di pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin.<br /><br />Beda dengan Pramoedya, hampir seluruh usianya, ia serahkan untuk menyimpan data-data tertulis tentang sastra Indonesia dan budaya. Barangkali, seluruh dokumentasi H.B Jassin tentang sastra yang menurutnya memang saripati dari berbagai peristiwa itu, menjadi semacam dokumentasi kehidupan Bahasa dan sastra bangsa ini.<br /><br />Tidak banyak tahu mengapa H.B Jassin begitu tertarik pada dokumentasi sastra. Apa yang mempengaruhinya? Sejak kapan? Dan mengapa dia begitu giat melakukan dokumentasi sastra?<br /><br />Jika saja ada yang mengira H.B Jassin memulai kegiatan pendokumentasian sejak tahun 1940, tentulah anggapan itu salah. Jauh sebelum tahun itu, Jassin sudah jatuh cinta pada kegiatan dokumentasi. Sebenarnya , sudah sejak duduk di HIS Gorontalo (1927-1932) Jassin tertarik pada kegiatan pendokumentasian. Sejak saat itu, dirinya selalu menyimpan buku-bukunya dengan teratur dan rapi. Dia tidak suka apabila ada buku-bukunya yang robek dan rusak.<br /><br />Kecintaannya pada buku berlanjut terus. Buku-buku hariannya—berisi tugas-tugas laporan yang disuruh oleh gurunya—juga masih tersimpan rapi. Selain itu juga masih tersimpan dengan rapi mengenai tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai surat kabar dan majalah.<br /><br />Jassin diterima bekerja di Balai Pustaka atas rekomendasi S. Takdir Alisjahbana, juga berkat ketelatenan dia dalam meruwat tulisan-tulisan yang menyampah. Jassin langsung bisa diterima dan bisa bekerja hari itu juga. Menurut Jassin, “makin banyak buku kita, makin banyak pula pengetahuan kita, serta makin banyak pula hal yang bisa kita tulis.”<br /><br />Jika dirunut darimana munculnya minat Jassin dalam mendokumentasikan sesuatu, ternyata sampai pada pengaruhnya bapaknya sendiri: Bague Mantu Jassin. Ternyata dari sang bapaklah, Jassin belajar banyak hal perihal dokumentasi, karena di rumah waktu itu dia memiliki perpustakaan peribadi. Seringpula Jassin mencuri-curi kesempatan untuk membacai buku-buku disitu (umumnya buku-buku untuk orang dewasa).<br /><br />Dengan kata lain, minat jassin pada dokumentasi diwarisinya dari sang ayah. Menurut Jassin, makna dokumentasi itu terhadap bangsa adalah, dengan dokumentasi kita menjadi lebih kenal masalah-masalah, dalam hal dokumentasi kasusastraan dan pengarang-pengarang, latar belakang dan sejarahnya. Sebaliknya, menyia-nyiakan hasil karya kita berarti menyia-nyiakan kehidupan kita, sejarah kita, masa silam, masa sekarang dan masa depan bangsa kita. jassin menyimpulkan: “dokumentasi adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam dan memperluasnya.”<br /><br /><span><strong>Biografi Singkat sang Paus Sastra</strong></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLAW6RMiqJI/AAAAAAAAAO8/YU5P1OrZCqQ/s1600-h/ImgJassinHan.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SLAW6RMiqJI/AAAAAAAAAO8/YU5P1OrZCqQ/s200/ImgJassinHan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237711556936116370" border="0" /></a><br />Hans Bague Jassin atau lebih dikenal dengan nama H.B Jassin lahir di Sulawesi Utara dari keluarga Islam dengan seorang Ayah yang bernama Bague Mantu Jassin, seorang kerani Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan Ibu yang bernama Bahibah Jau, pada tanggal 31 Juli 1817. setelah menamatkan Gouverment HIS Gorontalo pada tahun 1932, Jassin melanjutkan pelajaran ke HBS-B 5 tahun di Medan, dan tamat akhir 1738.<br /><br />Bulan Januari 1939, Jassin kembali ke Gorontalo. Antara bulan Agustus dan Desember 1939, Jassin bekerja sebagai Volontair di kantor Asisten Residen Gorontalo. Akhir Januari 1940, Jassin menuju Jakarta. Dan mulai Februari 1940 hingga 21 Juli 1947 bekerja di Balai Pustaka. Mula-mula dalam sidang pengarang redaksi buku (1940-42), kemudian menjadi redaktur Pandji Pustaka (1942-45), dan wakil pemimpin redaksi Panca Raya (1945-21 Juli 1947).<br /><br />Pada Agustus 1958, ia menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah kasusastraan Indonesia Modern pada fakultas sastra Indonesia. Jassin sebenarnya tidak menyukai kegiatan mengajar, apalagi mengajar untuk perguruan tinggi. Disamping mengajar, dirinya juga mengikuti kuliah di fakultas yang sama, dan kemudian memperdalam pengetahuan mengenai ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat (1958-59).<br /><br />Sejak Januari 1961, kepulangan dia dari Amerika, dirinya tetap menjadi pengajar luar biasa. Akan tetapi tidak lagi berdiri di depan kelas, melainkan hanya membimbing para mahasiswa yang ingin membuat skripsi. Antara lain, jassin membimbing penulisan skripsi Boen S. Oermajati, M. Saleh Saad, M.S. Hutagalung, J.U. Nasiotion, Bahrum Rangkuti, dan lain-lain.<br /><br />Jassin adalah sala seorang tokoh manifesto Kabudayaan, sebuah manifesto yang dibuat tanggal 17 Agustus 1963 guna menentang pihak Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Jassin dipecat dari UI, akibat dari penolakan bung Karno terhadap manifesto kebudayaan. Dan pemecatan ini berlangsung hingga G30S/PKI meletus. Setelah itu, Jassin kembali ke fakultas sastra UI. April 1973, dirinya menjadi lektor tetap di UI untuk mata kuliah Sejarah Kasusastraan Indonesia Modern dan Ilmu Perbandingan Sastra.<br /><br />Disamping mengajar dan mengikuti kuliah, sejak Juli 1954 hingga Maret 1973, Jasiin adalah pegawai Lembaga Bahasa dan Budaya, yang sekarang kita kenal dengan nama: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tanggal 20 Mei 1969, dirinya emndapat Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan pada umumnya.<br /><br />20 Agustus 1970, Gubernur DKI (saat itu: Ali Sadikin) mengangkat Jassin sebagai anggota Akademi Jakarta (diketuai oleh S. Takdir Alsjahbana). Pada tanggal 28 Oktober 1970, ia dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun dengan masa percobaan dua tahun, atas pemuatan cerpen Kipantjikusmin “Langit Makin Mendung” di majalah Sastra (Agustus 1968). Dan sampai sekarang pun, hanya Jassin yang tahu siapa jati diri Kipantjikusmin sebenarnya.<br /><br />Bulan April-Juni 1972, Jassin mendapat Cultural Visit Award dari pemerintah Australia. Selama delapan minggu, Jassin mengunjungi pusat-pusat pengajaran bahasa dan sastra Indonesia/Malaysia di Australia.<br /><br />Atas usahanya dalam mendokumentasikan surat kabar, majalah dan segala penerbitan antara tahun 1870- 1920, dirinya diundang pemerintah Belanda untuk mengadakan penelitian di Leiden. Tanggal 26 Januari 1973, Jassin menerima hadiah Margatinus nijhoff dari Prins Bernhard Fonds di Deen Haag, belanda. Hadiah ini diberikan untuk jasa Jassin menterjemahkan karya Multatuli, Max Havelar (Jakarta: Djambatan, 1972).<br /><br />Untuk menghormati jasanya dibidang Sastra Indonesia, tanggal 14 Juni 1975, Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada Jassin, karena menurut Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar, dekan fakultas Sastra UI, “Pengetahuanorang tentang sastra Indonesia didasarkan pada pengaetahuan yang dikembangkan oleh Jassin.”<br /><br />Sejak 28 Juni 1976, Jassimn menjadi ketua Yayasan Dokumentasi Sastra H.B Jassin yang terletak di Taman Ismail Marjuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Jassin mendapat hadiah dari pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1983 atas usahanya di bedang seni. Bulan Agustus-September 1984, Jassin menunaikan Ibadah haji.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-4788777196973628864?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-85904751109885223602008-08-18T20:23:00.000-07:002008-08-19T17:26:02.902-07:00Dua Puisi Air dari Si “Tukang Air”<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKtj1C2qKEI/AAAAAAAAANw/knAvbCTXduA/s1600-h/f_air2m_077e6b6.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKtj1C2qKEI/AAAAAAAAANw/knAvbCTXduA/s200/f_air2m_077e6b6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236388754698676290" border="0" /></a><br />Ketika pertama kali Eka Budianta di terima bekerja di PT Tirta Investama, holding company dari Aqua Group untuk menjadi direktur urusan sosial, terbesit di benaknya apa tugas seorang penyair yang menjadi direktur urusan sosial?<br /><br />Tentunya dia ingin mengetuk hati masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, manusia maupun alam. Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk mendirikan Yayasan Sahabat Aqua, yang nantinya ingin memobilisasi kesadaran publik agar secara kolektif melakukan kegiatan positif untuk air minum. Misalnya, mengembangkan konservasi-konservasi sumber air minum. Lantas pertanyaannya, apakah hal ini mungkin?<br /><div class="fullpost"><br />Inilah tantangan utama seorang penyair. Dapatkan kata-kata dipakai untuk memperbaiki dunia? Dapatkah puisi menggerakkan kesadaran masyarakat untuk semakin memperbaiki bumi dan kehidupannya? Kalau kata-kata dapat dipakai untuk mendidik, menakut-nakuti, menghibur, bahkan menyesatkan begitu banyak orang, maka si ‘tukang air’ yang merangkap juga menjadi penyair ini akan membuat puisi tentang air, agar kita dapat memahami dan mensyukuri keberadaan air.<br /><br />Dua puisi Eka Budianta yang berjudul Hanya Untuk Sungai dan Hidup Seribu Sungai, adalah sebuah komunikasi yang coba dibangun Eka dengan masyarakat, khususnya penikmat sastra, agar tidak melupakan keberadaan air. Dalam sebuah kitab suci, ada sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan pada manusia melalui air. Dan mungkin itu ada benarnya, paling tidak, dengan berfikir jernih seperti air, Eka berhasil menciptakan puisi-puisinya.<br /><br />Dalam kepenulisan puisinya, Eka Budianta selalu menonjolkan isu-isu lingkungan dan sosial. Hal itu seperti tergambar dalam dua puisinya tentang air dan puisi-puisinya yang terkumpul dalam kumpulan puisinya yang berjudul, Masih Bersama Langit. Efek dari kata-kata yang dilukis Eka Budianta dalam puisi-puisi itu menjadi kuat, apabila persepsi tentang puisi itu cenderung menjadi habitual atau otomatis.<br /><br />Mengutip kata-kata dari Shklovzky, “Imajeri bukanlah unsur konstitutif sastra karena imajeri hanyalah sarana untuk menciptakan kesan umum yang paling kuat, yakni salah satu dari sekian banyak sarana puitik untuk mengoptimalkan efek.”<br /><br />Disini saya akan mencoba menafsirkan dua sajak puisi yang diciptakan Eka Budianta, sebagai upaya merubah pandangan dan memperbarui persepsi masyarakat terhadap dunia, dengan menggunakan pendekatan formalisme rusia. Karena formalisme rusia sama sekali tidak menempatkan makna dibawah bentuk. Perhatian mereka adalah pada hal-hal yang menyebabkan teks-teks mempunyai status unik sebagai hasil sastra. Sebagaimana yang dikatan Roman Jacobson via Newton, ‘subjek ilmu sastra bukanlah sastra, tetapi kesastraannya, yaitu, hal yang membuat suatu karya menjadi karya sastra.’<br /><br /><br />Sejarah Formalisme Rusia<br />Formalis lahir akibat ketidakpuasan penelitian ekspresivisme yang mengandalkan data biografis. Formalisme juga menentang karya sastra sebagai ungkapan pandangan hidup atau iklim dari perasaan masyarakat. Ciri khas kaum formalis dalam kajiannya selalu tak setuju adanya pembedaan antara bentuk dan isi.<br /><br />Bentuk dan isi menurut mereka dapat didekati dari fungsinya, yaitu fungsi estetik sehingga menjadi karya sastra. Pada awalnya, pengarang menghadapi bahan mentah, baru menjadi masak setelah diolah secara estetis. Hasil olahan itu akan menunjukkan bahwa masing-masing unsur bentuk maupun isi ada fungsi tertentu.<br /><br />Dari aspek keilmuan, formalisme sering dianggap paling menonjol. Keduanya dianggap sebagai tonggak keilmiahan penelitian sastra. Oleh karena, melalui hubungan perangkat struktur karya sastra akan dibangun sebuah keutuhan makna yang memenuhi standar ilmu.<br /><br />Kaum formalis menekankan dua konsep dalam penelitian sastra, yaitu: pertama, konsep defamiliarisasi dan deotomatisasi. Defamiliarisasi adalah konteks sifat sastra yang aneh atau asing. Keanehan tersebut sebagai hasil sulapan pengarang dari bahan-bahan netral. Para pengarang memiliki kebebasan menyulap teks sastra yang sangat berbeda dengan suasana sesungguhnya. Akibatnya, teks bisa jadi sulit dikenali karena menggunakan bahasa yang spesifik (teks mengalami kehilangan deotomatisasi).<br /><br />Ada dua fungsi defamiliarisasi yang penting. Pertama, sarana-sarana tersebut mengiluminasi konvensi-konvensi sosial dan linguistik. Fungsinya untuk memacu pembaca agar melihatnya secara kritis dan dalam cara yang baru. Kedua, sarana berperan dalam untuk menarik perhatian kepada bentuk itu sendiri. artinya, sarana itu memaksa pembaca untuk mengabaikan ramifikasi sosial dengan mengarahkan perhatian pada proses defamiliarisasi sebagai element seni. (Sayuti, 2005: 4)<br /><br />Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam suatu esai yang ditulis oleh salah seorang Kritikus Baru terkemuka, Cleanth Brooks, yang berjudul “kritikus formalis”. Brook memulainya dengan beberapa pernyataan mendasar yang dianutnya: “ bahwa kritik sastra itu adalah pemerian atau penilaian suatu objek”; “bahwa perthatian utama kritik itu ialah yang berhubungan dengan masalah keutuhan—suatu keutuhan yang berhasil atau gagal oleh karya sastra, dan hubungan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya dalam membentuk suatu keutuhan” ; “Bahwa dalam karya sastra yang berhasil, bentuk dan isi tidak bisa dipisahkan”; “bahwa bentuk itu isi”.<br /><br />Brook kemudian menutup esainya dengan pernyataan berikut: “sastra banyak mempunyai ‘kegunaan’ dan para kritikus mengajukan kegunaan baru, yang beberapa diantaranya menarik. Tetapi dari semua kegunaan yang dipeoleh dari sastra itu akhirnya tergantung pada pengetahuan kita mengenai apa sebenarnya “makna” suatu karya sastra. Pengetahuan tersebut bersifat sangat mendasar.<br /><br />Analisis formalis, lebih menekankan pada hipotesis-hipotesis yang telah dibangun sebelumnya. Fokus analisis adalah pada efek-efek estetika yang dihasilkan oleh sarana-sarana sastra, dan bagaimana kesastraan dibedakan serta dihubungkan dengan ekstra sastra. Dalam kaitan ini sarana estetis dipahami sebagai sarana ungkapan gagasan manusia ke dalam bentuk khusus.<br /><br /><br />Narasi Dua Puisi Air, si “Tukang Air”<br />Dua puisi Eka Budianta yang berjudul Hanya Untuk Sungai dan Hidup Seribu Sungai, dalam kumpulan puisinya yang berjudul Masih Bersama Langit, merupakan dua puisi yang saling berkaitan. Dan apabila puisi itu dijadikan satu maka akan membentuk satu naratif yang menceritakan perjalanan air dari sungai sampai kemudian mereka menjadi satu di laut.<br /><br />Simak puisi pertama si ‘tukang air’ ini, yang berjudul Hanya Untuk Sungai;<br />Tiba-tiba sungai itu teringat laut// sungai mana tak boleh pergi ke laut/ sungai mana dilarang mengalir di sana?// ia marah/ berteriak/ meluap/ membanjiri rumah-rumah mewah// alam pun pucat menatapnya// langit menangis sederas-derasnya//<br /><br />Hanya untuk sungai kamu menangis/ aku tahu/ aku merasa di pagi kelabu ketika hujan membasahi kota/ ketika lampu-lampu terjaga// dan penyair menyiapkan hati untuk segala yang terjadi/ bila sungai tak mencapai lautnya//<br /><br />Sebelum masuk dalam ranah lebih luas lagi, karena ini merupakan analisis formalis, maka saya akan mencari satu hal yang mendominasi puisi ini. Yap, ketemu! Dia adalah sungai dan kemudian saya persepsikan sungai sebagai air, menggingat sungai masih sangat luas.<br />Dalam penelitian Formalisme, penekanan penelitiannya hanya dalam cerita (fabula), alur (sjuzet), dan motif (Fokkem & Kunne-Ibsch via Endraswara, 2004: 48). Jika diteliti menurut kacamata seorang formalis, puisi diatas juga mengandung unsur-unsur yang dikatakan oleh Fokkem dan Kunne-Ibsch.<br /><br />Perjalanan ‘Air’ berawal ketika dirinya teringat tentang laut, saat dia masih di sungai. Seperti satu kalimat pembuka dalam puisinya itu, “Tiba-tiba sungai itu teringat laut”. Namun, perjalanan air itu harus mengalami beberapa kendala, dalam hal ini si Tukang Air maksud saya penyair, menggambarkan kendala-kendala yang harus dihadapi air untuk sampai laut. Dan hambatan ini, karena ulah manusia. Dalam kodratnya, air dimuka bumi ini harusnya mengalami sebuah siklus hidrologi, dimana mereka akan menjadi uap, awan, kemudian hujan yang turun kebumi dan ditampung tanah serta sungai, lalu kemudian mengalir ke lautan bebas untuk kembali menjadi uap.<br /><br />Dalam puisi itu, air tidak bisa mengalir ke laut karena manusia telah membikin waduk-waduk, membuat pabrik dengan mengeringkan sungai, mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di sungai, sehingga sungai-sungai tidak bisa menjadi ‘jalan’ air ke lautan lepas. Hal ini kemudian mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam, sebagai akibat terganggunya siklus mereka.<br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKtkf4pCJ6I/AAAAAAAAAN4/Wc8URGsuwQM/s1600-h/360px-Open_book_01.svg.png"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKtkf4pCJ6I/AAAAAAAAAN4/Wc8URGsuwQM/s200/360px-Open_book_01.svg.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236389490691549090" border="0" /></a><br />Hal itu seperti dalam kalimat; sungai mana dilarang mengalir di sana?// ia marah/ berteriak/ meluap/ membanjiri rumah-rumah mewah//. Mungkin karena siklus dari Tuhan ini diputus dan dirusak manusia, maka kemudian Tuhan marah, seperti yang tersirat dalam kalimat ini, alam pun pucat menatapnya// langit menangis sederas-derasnya//. Akibatnya Tuhan mengirimkan bencana bagi umat manusia secara bertubi-tubi.<br /><br />Sebagai tukang air, penyair sepertinya merasa berdosa atas kerusakan yang dia dan manusia timbulkan terhadap keberadaan air di sungai. Si penyair kemudian menulis, Hanya untuk sungai kamu menangis/ aku tahu/ aku merasa di pagi kelabu ketika hujan membasahi kota/ ketika lampu-lampu terjaga. Dan si tukang air ini merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala, karena dia juga seorang penyair, maka ia akan menulis puisi yang bisa menyentuh moral pembaca. Dan penyair menbyiapkan hati untuk segala yang terjadi/ bila sungai tak mencapai lautnya//<br /><br />Puisi kedua berjudul Hidup Seribu Sungai, yang berada di lain halaman ternyata memiliki kesamaan alur, sehingga dapat dipastikan puisi itu merupakan lanjutan dari puisi si ‘tukang air’ yang pertama.<br /><br />Seandainya kita bertemu malam ini/ aku tahu/ Kamu bukan sungai yang dulu/ di pegunungan engkau jernih/ gemericik/ tapi di kota// bebanmu berat keruh dan—aku tak mengenalimu—<br /><br />Mungkin sudah digariskan/ aku mesti menyusuri hidup sendiri/ meskipun mungkin/ hanya mungkin kita akan berkumpul di laut//<br /><br />Seandainya kita bertemu malam ini/ aku tahu/ kamu tak akan mengenaliku/ begitu banyak rahasia/ begitu sukar menerima segala telah berubah/ dan hanya bagus dalam mimpimu//<br /><br />Mungkin aku tidak akan pergi/ meninggalkan kursi ini/ tidak!/ aku akan pikirkan segala terbaik untuk sungai-sungai lain yang kucintai//<br /><br />Dalam puisinya yang kedua ini, penyair kembali menceritakan perjalanan air dari sungai ke laut, namun dari sudut pandang berbeda. Jika di puisi pertamanya si tukang air menceritakan duka air yang terjebak di sungai tidak bisa kembali ke laut, untuk meneruskan ceritanya. Lantas, dalam puisinya yang kedua ini, penyair ingin menggambarkan penyesalan dan penyesalan semua orang yang telah melupakan keberadaan air di sungai.<br /><br />Sayangnya penyesalan penyair datang terlambat, air yang dijumpainya dulu sangat jernih dan selalu bergemericik di sela-sela bebatuan gunung. Kini penyair hanya menjumpai air yang semakin keruh, bercampur limbah-limbah pabrik, dan hampir dia tak mengenalinya, seperti yang ditulis penyair, Kamu bukan sungai yang dulu/ di pegunungan engkau jernih/ gemericik/ tapi di kota// bebanmu berat keruh dan—aku tak mengenalimu—<br /><br />Telah banyak perubahan dan kesedihan yang dialami air, ketika harus melakukan siklus perjalanan dari sungai ke laut. Dan ironisnya, perubahan itu disebabkan oleh kita selaku manusia, lebih ironis lagi, perbuatan-perbuatan kita terhadap alam khususnya air seringkali tidak bersifat konservatif melainkan eksploitatif. Begitu sukar menerima segala telah berubah/ dan hanya bagus dalam mimpimu.<br /><br />Sebagai penyair, manusia, dan tukang air—Eka Budianta—tak ingin lepas tanggung jawab mengenai masalah ini. Lewat Yayasan Sahabat Aqua, Eka Budianta ingin memobilisasi kesadaran publik agar secara kolektik melakukan kegiatan positif untuk air. Dan inilah tantangan seorang penyair bagaimana menemukan kata-kata untuk menggerakkan kesadaran manusia, dengan cara berfikir jernih dan lancar seperti air. Seperti bait penutup dalam puisi keduanya; Mungkin aku tidak akan pergi/ meninggalkan kursi ini/ tidak!/ aku akan pikirkan segala terbaik untuk sungai-sungai lain yang kucintai.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-8590475110988522360?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-49534534785733167772008-08-15T06:09:00.000-07:002008-08-18T20:11:52.062-07:007 Review Kecil Catatan Perjalanan Karya Sastra Indonesia<div style="text-align: right;">Judul Buku : Student Hijo<br />Penulis : Marco Kartodikromo<br />Penerbit : Yayasan Aksara Indonesia, Yoyakarta<br />Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2000<br /></div><br /><span style="font-weight: bold;">Student Hijo, Embrio Sastra Perlawanan</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKoyvzR3muI/AAAAAAAAAMc/P4JqnAiPxig/s1600-h/student_hijo.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKoyvzR3muI/AAAAAAAAAMc/P4JqnAiPxig/s200/student_hijo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236053313572018914" border="0" /></a><br />Sudent Hijo, awal terbit pada tahun 1918 di surat kabar Harian Sinar Hindia, dan menjadi buku sepuluh tahun kemudian. Novel yang berlatarkan Indonesia sebelum perang ini, dengan berani mengkontraskan kehidupan di Nederland dan Hindia Belanda. Keberanian Marco ini kemudian dijadikan alasan, untuk kemudian diasingkan oleh dominasi dan hegemoni Balai Pustaka.<br /><br />Berkisah tentang Hijo yang disekolahkan ayahandanya Potronoyo ke Nederland, Belanda, meski ditentang Raden Nganten, namun Raden Potronoyo tetap bersikeras untuk mengirim Hijo ke Nederland. Ia ingin membuktikan, bahwa, keluarganya yang seorang pribumi ini, sanggup menyekolahkan anaknya seperti kaum bangsawan Kolonial ke Nederland.<br /><div class="fullpost"><br />Kebudayaan pribumi yang terlanjur diinjak-injak, dihina oleh bangsawan kolonial, ternyata memiliki derajat serta kemampuan yang setara. Sindiran halus inilah yang sebenarnya bentuk konkret perlawanan yang digambarkan Marco Kartodikromo dalam novelnya Student Hijo. Namun, kerap kali interpretasi pembaca dan kritikus sastra meleset, karena dalam novel ini, tokoh-tokohnya merupakan kaum bangsawan jawa.<br /><br />Satiran antara realitas budaya kaum bangsawan Kolonial Belanda di Hindia Belanda dengan kaum bangsawan di negara Asalnya sana, Belanda, sangat jauh berbeda. Di sana, di Nederland, semua manusia mendapat kedudukan yang sama, tidak ada ketertindasan yang dilakukan kaum bangsawan terhadap orang Hindia Belanda. Namun di negara asal Hijo, ketidakadilan seringkali dilakukan kaum bangsawan Kolonial terhadap pribumi.<br /><br />Meski banyak sekali sindiran-sindiran perlawanan, namun novel ini tetaplah menarik untuk diikuti, karena adanya kisah percintaan segitiga antara Hijo dengan R.A. Biru, dan R.A. Wunggu, serta perasaan Wardoyo dengan R.A. Biru. Mungkin, jika istilah ciklit maupun tinlit sudah ada saat itu, novel inilah yang kemudian bergenre seperti itu. Alur yang dibangun, linier, mudah sekali diikuti dan ditebak endingnya. Sekali kali, bukan itu hal utama yang ingin dihadirkan pengarangnya, namun, dimana kemudian novel ini membangkitkan semangat Nasionalisme pada tubuh pribumi, yang lama tidak percaya diri, karena selalu termarginalkan oleh budaya Kolonialisme.<br /><br /><br /><div style="text-align: right;">Judul Buku : Belenggu<br />Pengarang : Arjmin Pane<br />Penerbit : Dian Rakyat, Jakarta<br />Tahun Terbit : Cetakan kedelapan, 2004<br /></div><span style="font-weight: bold;"><br />Modernitas dalam Novel Belenggu</span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKozfTUDvFI/AAAAAAAAAMk/_vvhY_QtOC4/s1600-h/120px-Belenggu.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKozfTUDvFI/AAAAAAAAAMk/_vvhY_QtOC4/s200/120px-Belenggu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236054129624988754" border="0" /></a><br />Belenggu merupakan novel anak bangsa pra perang, yang telah sadar dalam mengkomposisikan penceritaan, nilai-nilai kebaruan yang dimunculkan, membuat novel ini terlepas dari konvensi prosa lama. Menurut Umar Junus, dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Sastera, Persoalan Teori dan Metode, dikatakan bahwa; Armijn Pane sengaja meninggalkan tradisi hikayat. Ini antara lain dilakukan dengan menggunakan kelimat-kalimat yang pendek untuk memberikan kesan gerak (sense of movement).<br /><br />Kesadaran akan penceritaan inilah kemudian Armijn Pane sengaja mempertentangkan antara pemakaian bahasa dan bersuasana modern dengan nada tradisi dalam cerita belenggu, sehingga sejalan dengan pertentangan antara tradisi dan modern yang merupakan persoalan. Persoalan pertentangan antara modernitas dengan tradisi inilah (diluar pemakaian bahasa), yang kemudian dialami oleh tokoh Tono, atau Sukartono, yang ingin mengikis sedikit tradisi feodal bangsanya dengan bergaya ala kaum liberal.<br /><br />Berawal ketika dokter Sukartono, dokter yang hidup berkecukupan bersama istrinya yang bernama Tini. Pada zaman Kolonial saat itu, memang sedikit orang yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat karena dianggap mempunyai kemampuan lebih. Di sini, Sukartono yang kerap kali dipanggil Tono, menjadi dokter yang mempuanyai jam terbang tinggi, bahkan ia memiliki popularitas di kalangan bansawan saat itu.<br /><br />Tono mempunyai sifat suka sekali berganti-ganti perempuan, sebelum ia benar-benar menikah dengan istrinya Tini. Setelah menikah dengan Tini, kehidupan Tono seakan terpenjara dalam “belenggu” yang dibuat Tini, ia ingin seperti dulu, bergaul dengan banyak perempuan, kembali hidup sebagai manusia yang liberal. Kesempatan itu datang juga, ketika Tono berkenalan dengan Eni, pasiennya, dari pasiennya inilah kemudian Tono mendonstruksi “hikayat” tradisi yang ada dalam keluarganya, dan dirinya.<br /><br />Kemodernitas dari segi bahasa, yaitu dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia, juga kemodernitas gaya hidup penokohan, yang mencoba mengkritik feodalisme yang penuh dengan “belenggu”, tidak terus melenakan Armijn Pane dalam membuat unsur-unsur intrinsik lainnya bersenyawa. Penceritaannya telah mempunyai kesan kemodernitas.<br /><br /><br /><div style="text-align: right;">Judul Buku : Pengakuan Pariyem<br />Pengarang : Linus Suryadi Ag<br />Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta<br />Tahun Terbit : Cetakan keenam, Januari 2002<br /><br /></div><span style="font-weight: bold;">Pengakuan Pariyem; Sebagai Ensiklopedi Kultur Jawa</span><br /><br />Membaca prosa liris milik Linus Suryadi Ag, seakan-akan kita membuka kitab tentang budaya Jawa, yang akhir-akhir ini, mengalami dekadensi yang cukup memprihatinkan. Prosa liris yang diberi judul Pengakuan Pariyem ini, bercerita tantang seorang babu, pembantu yang bekerja dalam keluarga yang sarat akan budaya Jawa di bumi Jogjakarta. Meski berpredikat sebagai babu, Iyem, Maria Magdalena Pariyem yang lahir di Wonosari Gunung Kidul, Ngayogyakarta, begitu lilo (rela) dengan kebabuannya, begitu pasrah dalam memandang hidup ini, di dalam jiwanya, tersimpan “kebijaksaan” hidup.<br /><br />Oleh Linus, Iyem digambarkan sebagai sosok perempuan, memiliki kelebihan dan kapasitas, dalam mengenali serta mempraktekkan budaya Jawa yang ia peroleh langsung dari simbok-nya. Ia juga mampu bercerita tentang hidup, tentang masyarakat, tentang potret keluara bangsawan tempat ia mengabdi, yang penuh akan kultur Jawa yang tenang, namun mengalir demikian tak tertahankan.<br /><br />Buku ini, sarat akan muatan-muatan ajaran hidup, budaya-budaya Jawa memang sengaja di tonjolkan Linus dalam bukunya ini, karena ia ingin menjaga budaya nenek moyangnya mengenai kejawaan, agar tidak lekang. Cukup bijaksana cita-cita yan diemban Linus, meski budaya-budaya Jawa sarat juga akan ke-sakralan, Linus berani mempercandainya, menorehkan kata-kata saru di dalamnya. Kesaruan-kesaruan itu, menurut Bakdi Soemanto; malah memendarkan nilai-nilai estetik. Begitu lihainya Linus dalam memainkan kata-kata, membuat bukunya ini cocok untuk dibaca semua kalangan, yang ingin mengenal budaya Jawa, khususnya.<br /><br />Selalu nrimo, menjadi pegangan Iyem dalam mengabdi pada ndoro Kanjeng Cokro Sentono di ndalem Suryomentaraman Ngayogyakarta, membuat ia terjerumus pada masalah yang cukup dilematis. Ia berbuat serong dengan Mas Ario, Putra dari Kanjeng Cokro. Permasalahan yang terus berkecambuk di pikiran Iyem ini, yang kemudian mengalir menjadi bingkai utama dalam penceritaan Linus. Memang prosa liris ini menjerumus pada penceritaan psikologis, disini yang menjadi tokoh utama adalah Iyem, Maria Magdalena Pariyem.<br /><br />Meski sarat akan permasalahan yang berkelindan dalam psikologis Iyem, namun prosa liris ini dapat disebut sebagai ensiklopedia atas kebuyaan Jawa. Menurut Bakdi Soemanto; alasannya bukan saja dalam prosa lirik ini dilukiskan peta hubungan priyayi dan wong cilik, tetapi juga gambaran bagaimana nadi salira, menjaa diri tetap bugar, segar dan harum, khususnya bagi perempuan, dan terutama seorang perempuan dan harus ngawula, menghambakan diri di rumah seoran priyayi.<br /><br /><br /><div style="text-align: right;">Judul buku : Mantra Penjinak Ular<br />Pengarang : Kuntowijoyo<br />Penerbit : Kompas, Jakarta<br />Tahun Terbit : Oktober 2000<br /><br /></div><span style="font-weight: bold;">Meleburkan Mitos pada Realitas</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKo0QWTJTWI/AAAAAAAAAM0/PQfJoSSjBD0/s1600-h/mantra+%5Benjinak.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKo0QWTJTWI/AAAAAAAAAM0/PQfJoSSjBD0/s200/mantra+%5Benjinak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236054972240055650" border="0" /></a><br /><br />Abu Kasan Sapari, tokoh utama dalam novel Mantra Pejinak Ular, karangan Kuntowijoyo ini, lahir di sebuah desa Palar, Klaten dari sebuah keluarga yang masih kental kepercayaannya terhadap mitos-mitos di Jawa. Semenjak baru lahir, Abu Kasan Sapari, telah dijejali kepercayaan-kepercayaan orang jawa oleh kakeknya sendiri. Dia oleh kakeknya, di mintakan restu di makam Rongowarsito untuk ngalap berkah. Di situlah, kemudian kakek Abu Kasan Sapari, mendapat firasat, kelak cucunya bakal jadi seorang pujangga.<br /><br />Ketika besar, Abu Kasan Sapari menjadi dalang yang cukup terkenal di daerah lereng Gunung Lawu. Selain mendalang, Abu juga menjadi pegawai pemerintahan. Oleh mesin politik Orde Baru yang ketika itu berkuasa, Abu Kasan kerapkali disodori oleh “kehormatan” untuk menjadi Calon Anggota Legislatif, namun ditolak oleh Abu Kasan. Abu Kasan percaya, jika mereka hanya mendompleng pada ketenarannya sebagai dalang. “Kesenian itu berbeda dengan kekuasaan. Kesenian membujuk, kekuasaan memaksa. Kesenian berbicara dengan lambang, kekuasaan thok-leh. Kesenian itu sinamun in samudana, tersamar, tidak langsung. Semua ada tempatnya...”, begitulah yang selalu dipegang teguh Abu Kasan Sapari.<br /><br />Lewat pertumbuhan karakter tokoh Abu Kasan Sapari, pengarang mencoba menyelami ranah realitas politik yang ada di dalam negeri ini. Meski kecewa atas kondisi negara ini, pengarang tidak sampai hanyut dan menghujat mesin politik yang tidak becus mengemudikan laju pemerintahan. Benturan-benturan kepentingan yang dialami Abu Kasan, baik sebagai dalang dengan lingkungan sosialnya maupun sebagai pegawai negeri sipil yang identik dengan “kejahatan-kejahatan” kekuasaan dengan mesin politik orde baru, kerapkali menimbulkan permasalahan yang dilematis.<br /><br />Suatu malam di tempat sunyi tak jauh dari lokasi cembeng (tanda akan dimulainya musim giling tebu), Abu Kasan bertemu dengan seorang lelaki tua, oleh lelaki tua itu, Abu Kasan diwarisi mantra untuk menjinakkan ular. Inilah, sisi lain dari dunia mistis Jawa yang juga mewarnai cerita dalam novel ini. Menurut pengarangnya, memang sengaja dihadirkan untuk memberi aksentuasi simbolik terhadap sebuah mitos, yang kemudian dapat ditafsirkan kembali oleh pembaca.<br /><br />Dari situlah kemudian intrepretasi tentang “mitos” terhadap realitas muncul. Menurut novel ini, mereka yang hidup dalam mitos tak akan menangani realitas. Menurut pengarang, Realitas tidak akan terpecahkan dengan kebiasaan kita untuk menghindar dan melakukan abstraksi, cara berfikir berdasarkan mitos. Dan, bangsa kita akan tetap survive<br />Jika meninggalkan cara berfikir berdasarkan mitos, menuju cara berfikir realitas.<br /><br /><br /><div style="text-align: right;">Judul Buku : Tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur!<br />Penulis : Muhidin M. Dahlan<br />Penerbit : Melibas, Yogyakarta<br />Tahun Terbit : Cetakan Ketiga (revisi), Januari 2004<br /></div><br /><span style="font-weight: bold;">Ideologi dalam Novel “tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur” Karya Muhidin M Dahlan</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKo202fgYWI/AAAAAAAAANE/HTldEAfG4wE/s1600-h/tuhan+ijinkan+aku+menjadi+pelacur.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKo202fgYWI/AAAAAAAAANE/HTldEAfG4wE/s200/tuhan+ijinkan+aku+menjadi+pelacur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236057798380380514" border="0" /></a><br /><br />Karya sastra kerapkali oleh penulisnya dijadikan media untuk mentransformasi pikiran (baca idiologi) untuk kepentingan sendiri maupun kolektif. Misi yang ingin di tuangkan dalam buah karya penulisnya, seakan terbalut rapi dengan bahasa dan cerita rekaan yang di dalamnya pengarang bebas bereksperimen. Imajinasi yang terlewat bebas dan dunia khayal yang terlampau luas ini kemudian membuat pengarang bebas menelusupkan duri-duri pikirannya yang terkadang kelewat “nakal”.<br /><br />“Pencerahan” hal utama yang idealnya ada setelah membaca sebuah karya sastra. Namun, tak jarang pula pertentangan, gejolak psikologi pembaca ikut teraduk hingga kemudian menggoyahkan kepercayaan yang selama ini dibangun pembaca. Menurut Aminuddin karya sastra merupakan gejala komunikasi bahasa. Sebagai gejala komunikasi bahasa karya sastra merupakan wujud “material” tetapi merupakan gejala yang mengandung sesuatu yang lain.<br />Pada novel Muhidin M Dahlan yang berjudul tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur, yang jika ditilik, ternyata berjejal pemikiran dan kajian. Beragam simbolik dalam novel itu tak lepas dari makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya, seperti sebuah koin mata uang, keduanya tak terpisahkan. Dalam tulisan ini saya hanya akan membatasi pada ideologi yang terkandung di dalam novel itu. Karena saya melihat “pencerahan” yang ingin disampaikan mungkin masih belum sepenuhnya bisa diterima dalam masyarakat kita yang plural.<br /><br />Dalam novel ini dikisahkan tentang Nidah Kirani, yang kecewa terhadap ideologi yang selama ini selalu bisa dianggap tempat menemukan jati dirinya sebagai seorang muslim. Kepercayaan itu kemudian lekang, ketika ternyata “mereka” sama munafiknya dengan seorang “kafir”. Disinilah kemudian jiwa Nidah Kirani bimbang, terpecah menjadi ketidakpercayaan terhadap sebuah hal yang benama “agama”. Dalam pencarian kembali yang kemudian oleh penulisnya dijadikan landasan penceritaan, dengan menggunakan sudut pandang ke-aku-an. Novel ini semakin menarik karena pergolakan/tarik-menarik ideologi seperti halnya ketika berjualan “kacang rebus”, secara terbuka diceritakan oleh Muhidin dalam novelnya. Meski terkesan novel yang sarat akan doktrinasi, namun novel ini tetap memendarkan keindahan penceritaan yang unsur-unsur intrinsiknya saling bertautan.<br /><br />Menurut Antoine de Tracy, seorang filsuf dari Prancis, memandang ideologi sebagai ilmu tentang pikiran manusia yang kemudian mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan. Awalnya, Nidah Kirani masuk organisasi Islam dengan maksud, ingin mendalami ilmu tentang agama yang selama ini ia anut. Saat organisasinya membuat cita-cita tentang, bagaimana kemudian membuat masyarakat Islam kembali menegakkan kedudukan Islam dalam dunia modern sekarang, ia mengamininya. Menegakkan syariat hanya bisa dengan pemerintahan Islam, bukan pemerintahan yang memiliki banyak agama.<br /><br />Disitulah letak sentra-pikiran yang ada dalam kolektif Nidah Kirani, yaitu menjadikan syariat Islam, kembali tegak, sama ketika Islam mengalami kejayaan pada abad-abad awal. Dalam benak sang tokoh, hal tersebut memang bisa diterima, karena melihat cita-cita agamanya secara globang memanglah demikian.<br /><br />Setelah semuanya ia berikan untuk organisasi, ternyata ia kecewa, karena melihat banyak dari teman-teman seperjuangannya tidak lagi “sejalan”, meski mereka masih bertudung nama organisasi. Bahkan ia pernah sekali akan diperkosa oleh seniornya, hal yang sebenarnya sangat ditabukan itu ternyata dengan mudah dilangar. Kekecewaan demi kekecewaan terhadap organisasi dan kemudian terhadap agama yang selama ini ia kukuh di dalamnya, membuatnya bimbang, ia merasa jalan itu bukan arah yang benar. Perbuatan dengan apa yang dicita-citakan oleh organisasinya ternyata berbeda sama sekali.<br /><br />Kehidupan kirani berubah total, ia tidak lagi percaya pada ideologi, lebih-lebih pada ideologi religius. Dalam perjalanannya, dikisahkan oleh penulis, kirani menjadi wanita yang menganut kehidupan bebas, bahkan ia menantang Tuhan untuk melihat perilakunya. Disini penulis meletakkan Ideologi menjadi imajiner semata. Oleh Louis Althuser dikatakan bahwa sebagian besar ideologi itu imajiner, bila Ideologi dibahas dalam sudut pandang yang kritis, dengan mengujinya sebagaimana ahli etnologi menguji pelbagai Mitos dari “masyarakat primitif”. Jadi ideologi tidak berhubungan dengan realitas.<br /><br />Memang kemudian terjadi kontroversi atas novel karya Muhidin M Dahlan ini. Karena dalam novel tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur, penulis terlampau jauh membawa panji agama, menyeberang batas budaya, yang dalam realitas, kejadian seperti ini masihlah awam. Meski yang ditulis Muhidin dalam novel itu benar-benar terjadi pada seseorang, namun, fenomena seperti ini benar-benar menyodok “nalar” masyarakat yang masih kental akan feodalisme seperti di Yogyakarta (novel ini berlatarkan kota Yogyakarta).<br /><br />Masyarakat kita yang mayoritas ber-ideologikan religius yang disini adalah agama Islam, seakan-akan disuguhi dengan peristiwa yang sebenarnya berkebalikan atas dogma yang mereka terima. Karya sastra yang seharusnya menjalankan misi “pencerahan”, malah menjerumuskan pembacanya pada lingkar “kesesatan”.<br /><br /><br /><div style="text-align: right;">Judul Buku : Bumi Manusia<br />Penulis : Pramoedya Ananta toer<br />Penerbit : Hasta Mitra, Jakarta<br />Tahun Terbit : Cetakan Kesembilan, Oktober 2002<br /><br /></div><span style="font-weight: bold;">Novel Bumi Manusia; Pencarian atas Identitas Manusia</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKo3mNjZm1I/AAAAAAAAANM/SLIBQXj_KWY/s1600-h/bumi+manusia.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKo3mNjZm1I/AAAAAAAAANM/SLIBQXj_KWY/s200/bumi+manusia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236058646384319314" border="0" /></a><br /><br />Orang memanggil aku: Minke (baca: Mingke). Begitulah paragraf pembuka buku pertama, dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Novel yang sempat dilarang terbit oleh penguasa orde baru ini, tidaklah asing di telinga kita, manusia Indonesia, juga dunia. Meski dilarang terbit di negaranya sendiri, ternyata Bumi Manusia beserta sisa dari seri tetralogi, diterjemahkan dalam beberapa bahasa di pelbagai negara. Ironisnya, negara lahirnya “Bumi Manusia”, merupakan negara terakhir yang bebas dalam mengapresiasikannya.<br /><br />Minke adalah seorang pribumi sekaligus murid HBS, yang diharapkan kelak akan menjadi pewaris tahta ayahandanya yang seorang Assisten Residen (Bupati). Namun pergolakan terjadi pada Minke, zaman telah berubah, kini bukan zamannya merangkak menyembah ranah feodalis. Kini, saatnya manusia menjadi manusia yang sebenar-benarnya, bebas menentukan pendapat. Kendati demikian, Minke masih kalah, ia harus tetap merunduk, menyembah ketika berhadapan dengan pembesar dari Jawa, meski perasaannya selalu memberontak.<br /><br />Masuknya budaya-budaya Kolonialisme di Hindia Belanda, membuat budaya-budaya kita termarginalkan, akibatnya budaya kita diangap rendah, tidak beradap, kalah terhormat jika dibandingkan budaya barat. Disinilah kemudian pencarian jati diri atas seorang murid HBS, Minke, yang lama hidup dalam lingkungan Belanda. Ia terjebak dalam budaya dan pemikiran barat yang terbuka, akhirnya ia menghinakan budayanya sendiri. Dengan berbudaya Eropa ia berangapan telah menjadi seorang eropa.<br /><br />Pergulatan idiologi pada tokoh problematik di novel Bumi Manusia merupakan satu loncatan baru di zamannya, atas lahirnya rasio dan pemikiran-pemikiran mengenai wacana demokrasi. Tokoh protagonis lainnya, yang juga dihadapkan pada masalah dilematis seperti Minke adalah Nyai Ontosoroh serta putrinya Annelies. Namun, berbeda dengan Minke, Nyai Ontosoroh telah mengambil sikap dengan menganggap dirinya seorang pribumi. Bahkan ia tak malu orang menyebut dirinya seorang Nyai, seorang pribumi yang dimata bangsa Eropa sangat hina. Begitu pula dengan Annelies, ia telah membulatkan tekat seperti mamanya, untuk menjadi seorang pribumi.<br /><br />Darah pribumi Minke tiba-tiba menggelora, tatkala hukum-hukum Hindia Belanda tak lagi memihak kaum pribumi. Pribumi makin tersingkirkan, makin menderita. Dorongan oleh teman-temannya, terutama Jean Marais, Ibundanya, Annelies kekasihnya, serta Nyai Ontosoroh, membuatnya semakin menggenal bumi manusianya, Hindia Belanda. Melalui tulisan-tulisan yang ia kirim ke surat kabar, ia selalu menggugat ketidakadilan yang dilakukan kaum Kolonial.<br />Meski telah menemukan jati dirinya, Minke tetap menolak untuk menjadi “raja kecil” mengantikan ayahandanya. Budaya feodalis sama menindasnya dengan kolonial, menurut Minke, di “bumi manusia”, manusianya berhak mendapat keadilan, baik kedudukannya sebagai raja atau rakyat jelata.<br /><br /><br /><div style="text-align: right;">Judul Buku : Arus Balik<br />Penulis : Pramoedya Ananta Toer<br />Penerbit : Hasta Mitra, Jakarta<br />Tahun Terbit : 1995<br /><br /></div><span style="font-weight: bold;">Memaknai Kembali Nasionalisme Bangsa Kita yang Teralpa</span><br /><br />Dalam novel Arus Balik, pesan tersirat tokoh Wiranggaleng sebenarnya adalah; mengajak kita untuk kembali memiliki watak pesisir, yang senantiasa dahaga akan asinnya banyu samudera, menyadarkan kita, bahwa, bumi kita sebenarnya adalah lautan bukan daratan Jawa semata. Semangat bahari pada tokoh Wiranggaleng, sebenarnya tidak jauh beda dengan pandangan kolektif penggarangnya, Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya tiap ada kesempatan, selalu mengajak kita untuk memaknai kembali Nasionalisme kita yang teralpa.<br /><br />Setelah mendengar petuah-petuah dan cerita dari Rama Cluring, dan melihat sendiri kegagahan Raden Pati Unus dalam menghalau Perangi (Portugis), Wiranggaleng kemudian menjadi sadar. Bumi bangsa kita bukan hanya daratan saja, melainkan juga samudera yang mengelilinginya. Jika dibandingkan dengan luas lautan, daratan kita bukan apa-apa. Wiranggaleng bersama kekasihnya Idayu, akhirnya memilih untuk menetap di pesisir Tuban dan untuk ikut serta mempertahankan tanah Tuban dari Portugis.<br /><br />Suatu ketika, Wiranggaleng beserta pasukannya membantu pasukan Pati Unus untuk merebut Malaka dari tangan portugis, namun upaya yang mereka lakukan gagal. Bahkan portugis berhasil mengekspansi kerajaan-kerajaan kecil di tanah Jawa. Portugis berhasil menguasai mereka, karena melihat kerajaan-kerajaan di Jawa terjebak dalam nasionalisme sempit, lebih mementingkan angkatan darat dan saling berebut tanah kekuasaan.<br /><br />Jika saja Pati Unus tidak digantikan saudaranya Sultan Trenggono, mungkin kekuatan angkatan laut dalam mempertahankan kerajaan-kerajaan di Jawa akan lebih kuat. Pati Unus memang mencita-citakan agar kita bersatu, seperti halnya Patih Gajah Mada, karena dengan semangat Nasionalisme kita bisa mengalahkan Portugis saat itu.<br /><br />Membaca Arus Balik, berarti juga melihat bayangan bangsa kita sendiri. Sekarang Nasionalisme mulai luntur dan digantikan Nasionalisme-nasionalisme daerah yang hanya mementingkan pribadi semata. Dulu, nenek moyang kita adalah para pelaut yang hebat, memiliki rasa Nasionalisme yang tinggi untuk mempertahankan keseluruhan tanah Ibu Pertiwi kita. Mereka sadar, ancaman para ekspansionaris dari laut, lebih berbahaya dan penting, dari sekedar berperang untuk merebutkan tanah kekuasaan.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-4953453478573316777?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com1tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-72933699510364016972008-08-12T19:54:00.000-07:002008-08-19T17:27:16.107-07:00Filsafat, Seks dan Karya Sastra<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKJNIf73PsI/AAAAAAAAAME/IFugCPEOf10/s1600-h/seks_365x243.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKJNIf73PsI/AAAAAAAAAME/IFugCPEOf10/s200/seks_365x243.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233830525364813506" border="0" /></a><br />Menurut Budi Darma, perkembangan sastra dalam negara kita adalah perkembangan yang akhirnya akan mengkristal, pada hakekatnya pengertian sastra mutakhir adalah nisbi. Budi Darma mengemukakan hal demikian karena melihat sejarah perkembangan sastra di Indonsia, masihlah belum panjang. Jarak ini makin tidak jelas karena pengarang yang sanggup bertahan dalam proses kristalisasi tersebut tidaklah banyak. Misalkan saja: Sutan Takdir Alisyahbana mulai menulis pada tahun 1930-an, Mochtar Lubis pada akhir dekade 1940-an, dan tetap tegak. Sementara Iwan Simatupang menulis sekitar tahun 1960-an, namun karyanya tetap hidup kendati Iwan sendiri telah meninggal pada era tahun 1970-an. Novel yang masih bernafas sampai sekarang, misalnya Atheis (1949) karya Achdiat K. Mihardja. Perkembangan sastra mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu, khususnya untuk sastra yang benar-benar ampuh. Meskipun demikian sastra mutakhir akan menjadi sebuah ancang-ancang bagi sastra di masa depan.<br /><div style="text-align: justify;"><br />Banyak hal yang juga menjadi unsur untuk membangun karya sastra. Pada zaman Balai Pustaka, tidak akan ada label Balai Pustaka apabila tidak adanya keputusan politis yang diberikan Pemerintahan Hindia Belanda mengenai penerbit Balai Pustaka. Sastra Pujangga Baru pun juga tidak akan ada, apabila Indonesia waktu itu sudah merdeka. Pada saat sekarang sudah mulai muncul kembali gejala-gejala yang mempunyai implikasi terhadap karya sastra, dan membentuk sastra indonesia Mutakhir. Banyak hal yang menjadi menyangkut gejala-gejala itu, filsafat, kerinduan arkitipal dan sufhistifikasi.<br /></div><div style="text-align: justify;" class="fullpost"><br />Kadang-kadang filsafat dan sastra menjadi satu unsur yang saling mempengaruhi. Filsafat dapat diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus dapat bertindak sebagai filsafat. Dalam perkembangan karya sastra sendiri dari zaman Balai Pustaka sampai sekarang, pemakaian filsafat dalam karya sastra berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan lingkungan sosialnya dan perkembangan zaman.<br /><br />Kita tahu sebelum pecah perang dunia ke-II, gaung filsafat dalam karya sastra masih sangat kurang. Namun setelah tahun 1960-an, riak-riak Eksistensialisme dan Absurdisme menjamur memenuhi novel-novel Iwan Simatupang, bahkan sampai sekarang, gema filsafat dalam karya sastra masih ada dan akan terus terasa.<br /><br />Terpengaruh dari pengarang-pengarang filsafat, Albert Camus dan Jean Paul-Sartre pasca perang dunia ke-II. Para sastrawan di Indonesia mulai menggali eksistensialisme yang ada dalam dirinya. Salah satu unsur penting dalam eksistensialisme adalah filsafat ketakutan seperti yang ditunjukkan oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung (1952). Eksplorasi tentang ketakutan, tentang hakekat ketakutan, mewarnai karya-karyanya. Walau dalam novel ini Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romantis, mengenai makna akan ketakutan. Mochtar Lubis tetap dijadikan pioner dalam filsafat sastra di Indonesia.<br /><br />Muncul kemudian yang namanya allienisme dan absurditas. Allienisme merupakan perasaan kesendirian yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang ketika orang itu berada di keramaian. Hubungan dengan tetangga dan yang tidak begitu akrab karena sibuk pada pekerjaan atau pikiran masing-masing juga merupakan pengejawantahannya. Contoh novel yang terdapat unsur Allienisme adalah novel-novel milik Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo dan lain-lain.<br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKJNR6cj9lI/AAAAAAAAAMM/NqjvzGHWBdg/s1600-h/thinker.gif"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKJNR6cj9lI/AAAAAAAAAMM/NqjvzGHWBdg/s200/thinker.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233830687100106322" border="0" /></a><br />Absurdisme juga dianggap sebagai simpul eksistensialisme. Pada hakekatnya pengertian dari absurdisme adalah betapa tidak “bermaknanya” kehidupan kita. Landasan pemikiran tentang wacana absurdisme yang dikemukakan pertama kali oleh Albert Camus adalah sebuah mitologi Yunani kuno tentang Sisipus. Pada saat mendorong batu ke atas Sisipus merasa bahagia karena menggangap kehidupannya kini bermakna. Setelah sampai puncak bukit dan kemudian mengelinding kembali ke bawah, dia mendorongnya kembali keatas bukit. Demikianlah pekerjaan Sisipus terus menerus, sama halnya perjalanan kita.<br /><br />Perkembangan sastra pun menjadi bermacam-macam, antara lain berbentuk karya sastra anti logika, anti plot, anti perwatakan dan lain sebagainya. Absurdisme dalam karya sastra dapat kita temukan pada karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Danarto, Yulius Sriaranamual. Absurdisme makin menjadi mantap tatkala, kita sering melihat kesemrawutan dalam realitas kehidupan kita.<br /><br />Awal Millenium, muncul novel-novel yang juga menganut aliran seperti ini. Supernova karya Dewi Lestari; Larung, Saman milik Ayu Utami. Ke-absurd-an penceritaan dan plot yang meloncat-loncat menjadikan karya-karya mereka mampu menambah khasanah kesastraan di Indonesia.<br /><br />Gunawan Mohamad berpendapat mengenai muatan seks dalam karya sastra; ada tiga sikap dalam karya sastra Indonesia tehadap persoalan seks dan penggambaran seks. Pertama, karya-karya yang berusaha mempersoalkan seks tetapi tidak berani menggambarkannya, karya-karya yang dalam istilah Harry Aveling memperlakukan persoalan seks itu sebagai ”mawar berduri.” Kedua, karya-karya yang mempersoalkan seks dan menggambarkannya dengan cara ”meneriakkannya dengan keras-keras.” Karya-karya yang demikianlah yang mungkin digolongkan sebagai karya-karya ”pornografis”, yang menggambarkan peristiwa erotis secara eksplisit. Ketiga, karya-karya yang mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, antara lain seperti yang tersirat dalam cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang.<br /><br />Sejarah mencatat bahwa kontroversi atas terbitnya sebuah karya sastra lebih sering karena faktor ketidak siapan masyarakat bersangkutan (sebagai pembaca) atau birokrat (Penguasa Politis, Spiritual, Moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang bertentangan dengan tata nilai kolektif. Seabad silam ketika Gustava Flaubert di Prancis menerbitkan sebuah buku yang berjudul Madame Bovary, banyak orang tersentak karena karya sastra itu dengan terbuka menyerang Hipokrisi kelakuan seks kaum elite masyarakatnya. Dalam novel itu bercerita tentang perselingkuhan istri lelaki terhormat Emma Bovary yang justru menemukan kebahagiaan di luar pernikahannya dengan berselingkuh dengan tukang kebun suaminya. Merupakan sebuah tamparan telak bagi sebuah konstruksi mapan dan tak menghendaki kritikan. Itu pula yang terjadi di sini dengan belenggu karya Armijn Pane (1940), yang kemudian menjadi perdebatan diantara para penelaah sastra.<br /><br />Merunut sejarah munculnya karya sastra yang bermuatan seks, adalah ketika pada ujung 1960-an hingga awal 1970-an terjadi revolusi seks di Amerika Serikat sebagai reaksi atas perang yang terus dikobarkan di mana-mana (Korea, Vietnam) oleh generasi tua mereka yang berpandangan patriarkis, di mana keterbukaan seks menjadi senjata kaum muda untuk memberontak dan rasa takut pada maut (“Make love, not war!”), sejumlah nama sastrawan-sastrawan muncul sebagai ikon.<br /><br />Salah satunya, Anais Nin (1903-1977) seorang perempuan keturunan Prancis yang punya talenta tinggi dalam menggarap novel dan cerpen dengan muatan seksualitas secara ekplisit. Di ujung usianya namanya dikukuhkan menjadi ikon feminis dan penulis garda depan di negerinya seiring pergerakan zaman. Dalam pengantar kumpulan buku kumpulan cerita erotisnya, Delta of Venus: Erotica (1969), Nin berpendapat bahwa yang dilakukannya adalah mencoba menulis kan aspek seksualitas perempuan dari sudut pandang dan penghayatan perempuan sendiri, bukan seksualitas perempuan dari kacamata lelaki. Dari kacamata inilah kemudian Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Herlinatiens memuat seks pada karya-karya mereka. Mungkin bukan hanya sekadar seks yang mereka coba vokalkan, melainkan juga unsur politis, terutama kebijakan pemerintahan yang masih menganut militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dengan ke-absurd-an penceritaan tentunya.<br /><br />Mungkin pada zaman Balai Pustaka saat itu kesemrawutan ada pada unsur instrinsiknya masih belum sepenuhnya terjadi. Pada masa itu alur, perwatakan dan logika penceritaan masih bisa kita nalar dan mengalir secara linier, hingga memudahkan kita dalam mengikuti cerita. Ini bisa kita lihat pada novel-novel Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar (1920), Siti Nurbaya karangan Marah Rusli (1922) dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis (1928). Pemuatan unsur seks pun belum merebak, karena pada zaman itu pengaruh feodalisme masih kuat mengakar di masyarakat.<br /><br />Ada sebuah hal baru juga yang mengebrak dalam penciptaan karya sastra pada awal lahirnya Balai Pustaka. Yaitu, sebuah pengembanggan baru tentang wawasan penciptaan karya sastra oleh Merari Siregar dalam novelnya Azab dan Sengsara. Dalam novel itu tidak lagi terikat dengan sastra lama. Ini bisa dilihat dengan settingnya yang keluar dari main stream istana sentris, mulai meninggalkan wacana hikayat, tokohnya merefleksikan keangkuhan dari lingkungan rakyat, temanya adalah perjuangan manusia sehari-hari bukan lagi realitas dongeng.<br /><br />Pada awal masa Pujangga Baru tahun 1930-an. Pengembangan unsur-unsur intrinsik masih belum berbeda jauh dengan Balai Pustaka. Walaupun begitu, Belenggu karya Armijn Pane merupakan revolusi terhadap novel-novel yang dibarui oleh Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya atas individualisme yang memenuhi kriteria estetik dalam karya itu.<br /><br />Pada tahun 1950-an terjadi perpecahan dalam hal pemikiran mengenai karya sastra. Pemikiran antara sastra Humanis Universal diwakili oleh kelompok Manifes Kebudayaan dengan sastra Proletar (Realisme Sosialis) diwakili Lekra. Manifes Kebudayaan mengginginkan untuk dapat disandingkan dengan Manifesto Politik Republik Indonesia. Namun hal ini ditolak oleh Bung Karno, karena Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai pancaran Pancasila tidak mungkin didampingi dengan manifesto-manifesto lain, apalagi kalau manifesto itu sudah menunjukkan sikap apatis terhadap revolusi dan memberi kesan berdiri sendiri.<br /><br />Pada bangsa yang heterogen, kita seperti berpijak pada dua dunia yang saling berhubungan, dan tidak mungkin kita pisahkan-pisahkan—sub-kebudayaan kita masing-masing di lain pihak kebudayaan bangsa Indonesia seluruhnya. Baik sadar atau tidak sadar, kita sering dihadapkan pada kerinduan kita akan makna arkitipal, rindu akan sub kebudayaan yang telah melahirkan, membesarkan dan mendoktrin hidup kita masing-masing. Linus Suryadi A.G, Y.B Mangunwijaya, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Darmanto Yatman dan lain-lain pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980, dalam kerinduan arkitipalnya masing-masing telah menggali kebudayaan Jawa dalam karya-karyanya.<br /><br />Polarisasi masyarakat Indonesia juga akan mempengaruhi sastra. Warna lokal akan tumbuh sejalan dengan makin terasanya polarisasi. Apakah nantinya karya sastra semacam ini akan dimasukkan dalam dalam sastra nasional atau daerah yang berbahasakan Nasional, tentunya tergantung pada pada mutu karya sastra itu sendiri.<br /><br />Tumbuh suburnya sastra sufi akhir-akhir ini, seperti misal sastra tra<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKJNzau9B9I/AAAAAAAAAMU/BvnCaHwyzTg/s1600-h/tulis1-2.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SKJNzau9B9I/AAAAAAAAAMU/BvnCaHwyzTg/s200/tulis1-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233831262702864338" border="0" /></a>nsendental, juga merupakan pengejawantahan kerinduan akan arkitipal. Namun juga terdapat misi tersembunyi bagi sebagian pengarangnya, yaitu sebagai penyeimbang karya-karya sastra yang sarat akan muatan seks yang kemudian dianggap tabu oleh sebagian orang. Sekaligus sebagai solusi dekadensi moral yang semakin semrawut di Indonesia. Taufik Ismail dan Danarto, yang masih aktif berjuang di jalan ini, mengharapkan kelak negerinya akan terkurangi dari polusi kemerosotan akhlak dan membangun kembali nilai luhur budaya masyarakat yang sekarang mulai runtuh.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-7293369951036401697?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-2136901793828583002008-08-08T21:46:00.000-07:002008-08-19T17:27:42.237-07:00Eka Budianta, Puisi dan Pengkhotbah Kiamat<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJ0lQr5pDRI/AAAAAAAAALU/qwu9Srksg5c/s1600-h/budianta.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 171px; height: 217px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJ0lQr5pDRI/AAAAAAAAALU/qwu9Srksg5c/s200/budianta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232379310667009298" border="0" /></a>“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Menjadi penyair berarti tidak tinggal diam, melainkan ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah di masyarakat, merasakannya, berpikir bersama, untuk dan tentang masyarakat."</span></span></span> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;">Perkataan itu diucapkan oleh seorang penyair sekaligus pemerhati lingkungan dan sosial, dialah Eka Budianta. Eka adalah sosok yang tak pernah bisa tinggal diam melihat perubahan alam di negaranya yang semakin tak terkendali, hal ini menurutnya, terjadi karena kesadaran sosial masyarakatnya yang kurang ikut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.</span></span></p> <div class="fullpost"><p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Eka Budianta lahir di Ngimbang, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Eka merupakan penyair, penulis cerpen, penulis esai tentang sosial budaya, serta aktivis sosial dan lingkungan. Mengawali karirnya di dunia tulis menulis ketika menjadi wartawan <i>Tempo</i>, harian Jepang <i>Yomiuri</i>, dan Radio <i>BBC World Service</i> di Inggris. Eka juga telah lulus Program Lingkungan dan Pembangunan (Leadership for Environment and Development) dengan kerja lapangan di Costa Rica, Amerika Tengah (1995), Ikonawa, Jepang (1996) dan Zimbabwe (1997).</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Ketika menjadi Direktur Eksekutif Dana Mitra Lingkungan (1994-1998), ia berperan besar bagi pendalaman bersama perspektif ‘lingkungan berkelanjutan’ pada jaringan LSM dan kalangan industriawan Indonesia. Sejak tahun 1999 ia menjabat menjadi direktur urusan sosial untuk PT Tirta Investama, induk perusahaan air mineral Aqua-Danone, salah satu kegiatannya adalah mengembangkan taman ko</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">nservasi untuk industri berbasis sumber alam. Disamping sibuk sebagai penceramah dan menangani isu-isu seputar sosial dan lingkungan, ia tetap berkarya, paling tidak sudah dua-ribuan karyanya (puisi, cerita pendek, esai, laporan perjalanan) selama 25 tahun terakhir masa berkaryanya.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Namanya mulai menonjol dalam dunia sastra, ketika pada tahun 1978 tampil sebagai peserta forum puisi ASEAN, bersama sekitar 50 penyair terkemuka dari negara-negara anggota ASEAN. Dalam acara tersebut ia adalah peserta paling muda, meskipun sudah menelorkan 3 buku kumpulan puisi.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Eka memang dikenal sebagai penyair. Pada 1979 ia memimpin delegasi Indonesia ke pesta Puisi dan Akademi di Universitas Malaya, Kuala Lumpur. Sedangkan pada tahun 1983 ia mengikuti persidangan para pengarang Asia Tenggara di Baguio, Filipina. Karena prestasinya yang demikian cemerlang, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memberikan penghargaan khusus untuk kumpulan puisinya yang berjudul <i>Sejuta Milyar Satu</i>, 1984.</span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Nasib cerita pendek Eka, pun mengkilap seperti puisi-puisinya. Pada tahun 1987, Eka pernah diundang untuk mengikuti International Writing Program di Lowa, Amerika Serikat. Cerita-cerita pendeknya juga mengisi antologi dalam <i>Dua Cerpen-zwei Kurzgeschicten</i>, dalam edisi bahasa Indonesia dan Jerman (Goethe Institut, 1986). Juga dalam Antologi Cerita Pendek Indonesia suntingan Satyagraha Hoerip (Gramedia, 1986). Kumpulan cerpen tunggal yang berjudul <i>Api Rindu</i> (1987) diterbitkan oleh Pustaka Maria, Jakarta. Kumpulan cerpennya yang lain yaitu <i>Taman Seberang</i> (2002) di terbitkan oleh Jendela, Yogyakarta. </span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Karena dedikasinya menyuarakan aspirasi masyarakat, terutama lingkungan dan sosial masyarakat bawah melalui sajak maupun cerpen-cerpennya, ia menerima</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID"> penghargaan dari ASHOKA Foundation. ASHOKA Foundation merupakan sebuah lembaga International yang memperhatikan pengabdi masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, dan sebagainya.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><b>Dari Kearifan Tradisional sampai Karya Sastra</b></span></span></p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;"> <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Wacana melestarikan alam dan anjuran untuk memelihara lingkungan, mungkin sudah sama tuanya dengan umur manusia. Tetapi ilmu yang meneliti, mengkaji dan mengembangkan daya dukung lingkungan hidup dirasa baru muncul setelah 1960-an, pasca revolusi industri dan perang dunia ke-2. Dimana dunia saat itu mengalami kiamat kecil karena berebagai bencana</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID"> datang bertubi-tubi seperti kabut industri di Inggris dan pencemaran mercuri di Minamata Jepang, serta makin luasnya kebocoran ozon akibat efek rumah kaca dan pemanasan global.</span></span></span></p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;" lang="id-ID"> </p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;"> <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Para <i>Doomsday Preacher</i> (pengkotbah hari kiamat) yang muncul, berceramah tentang implikasi yang timbul apabila kita alpa menjaga lingkungan, telah memberikan angin segar bagi pemerhati lingkungan hidup.</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID"> Masyarakat mulai sadar dan beranjak meninggalkan sifat <i>nekrofilis</i> mereka. Teori ini serupa dengan model penggalangan agama dan penjualan polis asuransi. Kita berasumsi, bila orang berhasil dibuat merasa takut, ngeri, dan seram, bisa jadi berpaling ke “jalan yang benar” yaitu meninggalkan praktik-praktik buruk yang selama ini telah menggiringnya ke dalam bahaya, atau mungkin juga ke “neraka”.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Hal itu ternyata cukup efektif dalam menggerakkan massa untuk ikut berpartisipasi atau menanggapi tiap wacana tentang lingkungan yang tengah marak. Menurut Eka, perihal penyuluhan lingkungan hidup seperti itu, yang dipenuhi oleh berbagai rambu, atau neraka-neraka baru, dapat membuat masyarakat kembali sadar akan pentingnya paradigma baru, cara berpikir dan cara hidup yang lebih berkelanjutan.<b> </b></span></span></span> </p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;"> <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Selain menakuti-nakuti manusia dengan akibat buruk atas perbuatannya terhadap alam, para<i> Doomsday Preacher</i> juga mengenalkan hidup lestari atau resep hidup seperti yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Kita bisa melihatnya pada kelompok-kelompok kecil seperti suku Baduy (sekarang sekitar 5000 jiwa di Banten Selatan), yang selama ini telah menjaga hutan dan pelestarian sumber air. Kelompok ini ternyata memiliki gaya hidup yang sela</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">ras dengan alam. Demikian dengan masyarakat Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan, Talangmanak di Jambi atau “upacara sasi”, ritual pelestarian laut di Maluku dan Papua. (Yayasan Sahabat Aqua)</span></span></span></p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;"> <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Berangkat dari ide seperti itulah kemudian Eka merefleksikannya pada karya sastranya. Membaca puisi-puisi maupun cerpen-cerpennya, seperti melihat pemantik, yang akan membakar sifat <i>Nekrofilis </i>dan memunculkan sifat <i>Biofis</i> manusia, yang saat ini terpuruk oleh derap pembangunan dan industri. Dalam karya-karya Eka, jika kita perhatikan seksama, banyak sekali mengandung kearifan tradisional (baca: lokal). </span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Sengaja Eka mengangkat kearifan tradisional, karena ia percaya, bahwa; “dongeng” yang dibawa turun-temurun untuk berlaku arif pada lingkungan, ternyata cukup ampuh dalam mempengaruhi psikologi penduduk lokal untuk benar-benar mencintai lingkungan. </span></span></span> </p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;"> <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Pengembangan masyarakat lokal yang kuat lewat ajaran atau kepercayaan untuk mencinta alam, ternyata memiliki pengaruh yang besar dan hampir mutlak menjadi prasayarat untuk</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID"> semua kalangan yang bercita-cita menanamkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan. Eka juga telah mengagas sebuah ide untuk memberikan pemahaman psikologi sosial dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Menurutnya, hal ini mampu memperbaiki kondisi fisik, ekonomi dan spiritual manusia untuk menjaga dan menjadi konservator bagi sumber-sumber alam. </span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><b><span lang="id-ID">Refleksi Karya-karya Eka Budianta</span></b></span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJ0l7PUsK2I/AAAAAAAAALc/edlyne06hhc/s1600-h/Sampul-low.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 173px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJ0l7PUsK2I/AAAAAAAAALc/edlyne06hhc/s200/Sampul-low.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232380041730206562" border="0" /></a></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><i>....<br />Dari jendela ini aku memandang dunia<br />Dari jendela ini aku mengenal hidup<br />Dari jendela ini aku mendapat berkah<br />Dari jendela ini aku bicara untuk seluruh bumi<br />....</i></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">(<i><b>Jendela Kecil di Pegunungan</b>,</i> Eka Budianta)</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Salah satu sajak Eka ini, merupakan upaya dia mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam merawat bumi. Menurutnya, bicara untuk bumi, berarti bicara untuk diri sendiri. Perawatan bumi sudah diromantisir, juga telah menjadi komoditi politik, ucapnya. Tetapi sebenarnya tujuan perawatan bumi sama seperti merawat rumah kita, yaitu agar kita dapat hidup sehat dan nyaman. Jadi merawat bumi, juga menjadi kepentingan kita sendiri.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Puisi-puisi Eka Budianta memang tak pernah lepas dari isu sosial serta lingkungan di masyarakat. Konsepnya untuk memasukkan isu sosial dan lingkungan sangat jelas, yaitu ingin memperjuangkan perubahan masyarakat yang plural, toleran dan mencintai identitasnya sebagai masyarakat yang kental budaya ke[timur]an. Ia sering mengadakan lokakarya dan bimbingan mengarang. Misalnya di kalangan Komunitas Sastra Indonesia dan pelatihan jurnalisme lingkungan di berbagai daerah, selain juga aktif memberi ceramah mengenai dampak kerusakan lingkungan di berbagai LSM dan masyarakat.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Kegelisahannya terhadap kerusakan lingkungan, banyak terefleksi di sebagian karya-karyanya, salah satunya adalah puisi yang berjudul <i>Jendela Kecil di Pegunungan </i>di atas. Rasa pesimisme yang tiba-tiba menyergapnya, ketika memandang bangsanya menjadi kapitalistik dan lupa akan identitas diri, kadang mewarnai puisi-puisinya. Seperti dalam puisinya yang berjudul <i>Sejak Kapan Dunia?, </i>dalam kumpulan puisinya<i> Sejuta Milyar Satu: </i></span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;" align="right" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><i>....<br />100 peluru kendali MX, 5 kapal induk dan 84 kapal selam nuklir.<br />Semuanya membidik tepat ke jantungku.</i></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Menjadi sastrawan, bukan berarti tidak diperkenankan terjun langsung ke lapangan, memberi penyuluhan atau ceramah yang jelas hasilnya lebih nyata ketimbang harus menyepi di kamar dan membolak-balikkan halaman buku, mencatat materi untuk sajak-sajaknya. Eka Budianta yang sekarang sudah berkehidupan mapan, sangat berang ketika mendengar pendapat Arif Budiman (Soe Hok-Djin) yang pernah menjadi pilar bagi majalah Horison, mengatakan; mustahil penyair yang sudah mapan, berada di ruangan ber-AC, tertarik pada pada isu kerakyatan dan mau terjun langsung ke lapangan. </span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Maraknya industri di negara kita yang ditunggangi para kapitalism, membuat Eka mau tak mau harus berjuang kembali untuk membendung arus yang berimplikasi buruk bagi negaranya. Sajak-sajaknya yang selama ini telah menjadi alat, sepertinya tak lagi mempan melunakkan moral masyarakat yang terlanjur bebal. </span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;">Simak baik-baik puisi Eka yang menunjukkan bahwa pusara kapitalistik telah menenggelamkan negaranya, bahkan telah memperkosa lingkungannya.</span></span></p> <p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; widows: 0; orphans: 0;" align="right" lang="id-ID"><br /><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><i><span lang="id-ID">Bulan dan traktor bersatu di ladang<br />Malam-malam begini, komputer & cengkerik<br />Sama-sama menyanyikan rindu padamu<br />Lalu kamu, sedang apa sahabatku?<br />Di Tiom, bersama komputer & traktor<br />Kubayangkan engkau sedang mengolah Indonesia<br />Sementara di eskalator ini aku berdiri<br />Menatap masa depan dan masa lalu<br />Yang tiba-tiba berkumpul jadi hari ini</span></i><br />.....</span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" align="right"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">(<i><b>Nyanyian Untuk Tiom</b>,</i> Eka Budianta)</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Wanti-wanti Eka untuk tidak melupakan identitas asli kita, tertuang pada cerpennya yang berjudul <i>Taman Seberang</i>. Di situ dikisahkan tentang seorang anak yang bernama Kristono. Kakek Kristono selalu bercerita kepadanya tentang mitos apabila ada seorang yang menyebrangi sungai di dalam hutan larangan, maka orang itu akan berubah menjadi babi.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Cerita itu merupakan sebuah mitos yang dipercaya penduduk desa dan kakek Kristono, karena mitos itu pulalah sumber mata air dan hutan di desa Krostono terjaga. Seperti yang dikatakan Ibunya Kristono; <i>“itu hanya cerita supaya orang-orang tidak mengotori mata air dan merusak hutan larangan.”</i> <b><i>(Taman Seberang)</i></b> </span></span></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Sebenarnya bukan itu yang menjadi <i>angle</i> Eka Budianta dalam menyoroti ceritanya. Namun, dimana ketika Kristotono beranjak dewasa dan pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya, dia merasa dia telah memasuki hutan larangan dan telah mengotori sungai-sungainya. Kristono telah menjadi binatang jelmaan ketika bertemu dengan keluarganya dan teman-temannya.</span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID"><i>Astaga, apakah aku sudah menjadi seekor babi hutan. Hatiku mulai berdebar-debar. Celaka aku, jangan-jangan cak Tambar tahu.</i> <b>(Taman Seberang)</b></span></span></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:100%;"><span lang="id-ID">Cerpen <i>Taman Seberang </i>secara garis besar, merupakan sebuah simbol yang tersiratkan dalam sebuah kearifan tradisional yang coba dilukis Eka Budianta. Dengan menjadi <i>Doomsday Preacher</i> dan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, untuk bersama-sama menjaga lingkungan, Eka Budinta telah menjadi bukti, bahwa seorang sastrawan pun bisa turun ke lapangan merealisasikan gagasannya.</span></span></span></p> </div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-213690179382858300?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-70406373460248121722008-07-31T23:55:00.000-07:002008-12-09T08:05:38.683-08:00Tak Sekadar Membayangkan Indonesia<div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJKzqmiL0CI/AAAAAAAAAK0/krqdQWH2FVc/s1600-h/14sta.gif"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJKzqmiL0CI/AAAAAAAAAK0/krqdQWH2FVc/s200/14sta.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229439661810372642" border="0" /></a><span style="font-style: italic;">(Renungan di bulan Agustus)</span><br /><br />Untuk mempersatukan sebuah bangsa seperti Indonesia, kita dapat saja berpegang pada tesis masyur Benedict Anderson, “Sebuah bangsa dapat lahir ketika sejumlah anggota penting suatu komunitas membayangkan diri mereka membentuk sebuah bangsa”.<br /><br />Namun untuk membuatnya eksis, tak cukup dengan itu. Diperlukan suatu entitas konstruktif yang dibangun secara sadar. Artinya, ketika kita berbicara tentang Indonesia, kita berbicara soal bangsa dengan arah kebudayaan yang jelas, konstruktif, dan dinamis. Itulah yang sejak tahun 1935 telah digulirkan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam esainya di majalah Poedjangga Baroe.<br /></div><div style="text-align: justify;" class="fullpost"><br />Dalam esai yang bertajuk Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru tersebut, STA dengan berani menentang anggapan bahwa masyarakat Indonesia abad XX merupakan kelanjutan dari masyarakat sebelumnya. Ia secara tegas membagi dua kebudayaan Indonesia menjadi kebudayaan modern dan pra-Indonesia. Titik pisahnya adalah penutup abad XIX. “Zaman prae-Indonesia”, tulis Takdir, “hanya mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin dan lain-lain...jangan sekali-kali zaman Indonesia dianggap sambungan atau terusan yang biasa daripadanya.”<br /><br />Esai yang ditulis STA saat baru berumur 27 tahun itu, secara frontal menyerukan pemutusan hubungan budaya dengan tradisi pra Indonesia yang diistilahkannya dengan ‘zaman jahiliyah keindonesiaan’. Ia dengan kencang menyerukan untuk berkiblat pada Barat. “Maka telah sepatutnya pula alat untuk menimbulkan masyarakat yang dinamis, teristimewa sekali kita cahari di negeri yang dinamis pula...seperti sekarang: Eropa, Amerika, Jepang,” tulisnya.<br /><br />Muatan esai yang tak kepalangtanggung itupun lantas menuai perbantahan dan debat terbuka di berbagai seminar, majalah, dan harian. Beberapa surat kabar seperti Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli, serta Wasita, memuatnya di tahun 1935-1936 dan 1939. Beberapa tokoh yang tampil mendebat Takdir di antaranya adalah Sanusi Pane, Dr. Poerbatjaraka, Dr. Sutomo, Ki Hadjar Dewantara, Dr. M. Amir, Adinegoro.<br /><br />Kebanyakan dari mereka menyayangkan pandangan STA yang serta merta berkiblat pada Barat dan menganggap kebudayaan Timur sebagai penyebab kemandekan bangsa Indonesia saat itu.<br /><br />Salah satu tokoh mumpuni yang menjadi lawan STA adalah Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah anggota keluarga bangsawan Pakualaman Yogyakarta, sekaligus pendiri Taman Siswa, dan pernah hidup dalam pengasingan di Negeri Belanda dari tahun 1913 hingga 1919. Ia berpendirian bahwa Barat bukanlah musuh yang harus dienyahkan, sebab ‘percampuran’ tak harus dihindari. Namun, ia memiliki prasyarat mutlak: percampuran yang sungguh-sungguh dapat terjadi hanya jika orang Indonesia tetap memegang ‘kultur bangsa’.<br /><br />Jauh sebelum polemik tersebut, pada 1929 Ki Hadjar telah menulis dalam majalah Wasita, “Kalau kita sudah membangkitkan pula hidup kebangsaan kita, tentulah alat-alat-alat penghidupan asing yang berfaedah sajalah yang kita ambil...akhirnya kita lalu dapat memilih dengan fikiran dan rasa yang jernih”.<br /><br />Pendirian Ki Hadjar ini banyak menuai dukungan dari berbagai golongan pada masa itu. Tak kurang dari para anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno yang mengagumi pendiriannya. Dengan dijiwai oleh petuah-petuahnya, mereka berjuang demi kembalinya nilai-nilai pribumi yang tengah sekarat diinjak Barat.<br /><br />Perdebatan panjang yang terjadi di Batavia itu menjadi polemik pertama tentang identitas Indonesia sejak dikumandangkannya Sumpah Pemuda pada 1928. Takdir sendiri, diakui atau tidak, telah menjadi inspirator bagi sekelompok anak muda yang kelak menghasilkan Surat Kepercayaan Gelanggang yang diumumkan pada 1950.<br /><br />Kalau Takdir pada 1935 menyatakan bahwa “pekerjaan Indonesia muda bukanlah resteureeren Borobudur dan Prambanan” maka dalam Surat Kepecayaan Gelanggang dikatakan “kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada me-laplap kebudayaan yang lama lagi”.<br /><br />Adalah atas jasa Achdiat K. Mihardja yang kelak, pada tahun 1948, berhasil mengumpulkan dan menerbitkan artikel-artikel polemik tersebut dalam sebuah buku yang diberinya judul mentereng: Polemik Kerbudayaan. Sebuah judul yang kemudian selalu dirujukkan pada muatan dan jaman perdebatan itu.<br /><br />Membandingkan tema dan metodenya, buku Sang Pujangga suntingan S. Abdul Karim Mashad dapat juga dipandang sebagai sebagai buku Polemik Kebudayaan jilid II. Mashad telah berhasil mengumpulkan dan menerbitkan serpihan artikel, esai, dan makalah dari berbagai event dan media yang sebagian besar berkisar pada angka tahun 1980-an hingga 2000-an.<br /><br /><br /><span style="font-weight: bold;">Sang Pujangga</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJKz4_KNAoI/AAAAAAAAAK8/aUjZlPio3Kk/s1600-h/STA.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJKz4_KNAoI/AAAAAAAAAK8/aUjZlPio3Kk/s200/STA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229439908938842754" border="0" /></a><br />Menurut Mochtar Lubis yang menulis esai, STA, Manusia Indonesia Unggul, bahwa dengan mendobrak pasungan orde lama dan orde baru, negara kita akan bisa melahirkan generasi-generasi manusia unggulnya. Karena selama 20 tahun orde lama ditambah 25 tahun orde baru, keterbukaan masih menjadi hiasan bibir saja.<br /><br />Kehadiran STA dengan membawa gagasan dan pikiran-pikiran yang revolusioner, menjadi angin segar bagi bangsa ini. Beliau senantiasa menyerukan agar jangan segan-segan belajar banyak hal baik itu, tekhnologi, sastra dari negara-negara maju. Ia juga tak penat-penatnya menginggatkan agar negara kita menerjemahkan sebanyak mungkin buku-buku asing.<br /><br />Mochtar Lubis, juga menulis bahwa STA sebagai “manusia unggul” seringkali memanifestasi pemberdayaan masyarakat kita, untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas sebesar mungkin. Bahkan, jika dalam segi perekonomian, Cina lebih unggul di negara kita, maka kalau perlu rakyat negara ini dicinakan saja.<br /><br />Meski kerap bersikap frontal, tapi dibalik wajah keintelektualannya, kerasionalannya, ilmu dan kebudayawannya, STA pada dasarnya memiliki pribadi yang romantis. Hal ini tercermin dalam tulisan sastranya, dan mungkin karena sikapnya yang romantis ini, beliau menjadi manusia unggul sebenarnya—beliau meninggal dalam usia 81 tahun, diatas rata-rata masyarakat Indonesia yang hanya 50-60 tahun.<br /><br />Kebanyakan orang menganggap, kalau pemikiran STA selalu bermuara ke pemikiran Barat. Asumsi inilah yang kemudian menimbulkan berbagai polemik kebudayaan yang berpanjangan diantara para intelektual, sastrawan dan para pendidik. Dalam esai lain, Sri Kusdiyantinah SB, dengan tegas menolak tuduhan itu semua.<br /><br />Dalam konstruk pemahaman STA mengenai sintesis Barat dan Timur, adalah sama sekali tidak dapat diadakan. Dalam esai yang berjudul Benarkah Sepenuhnya, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) Berpikir secara Barat?, penulis beranggapan hanya Tuhanlah Realitas Hakiki. Tapi, seluruh alam semesta beroperasi atas prinsip popularitas.<br /><br />Menurut realitas yang ada, Allen Utke via Sri menyebutkan, “Immediate Reality and Meaning” (kenyataan dan makna hidup sesaat) dan “Ultimate Reality and Meaning” (kenyataan dan makna hidup hakiki), hendaknya berlaku seimbang.<br /><br />STA menerima, bahwa dalam abad baru diadakan redifinisi realitas dalam sains: para ilmuwan mulai membicarakan realitas dengan kacamata. Realitas adalah segala sesuatu yang ada (Everithing that is reality). Termasuk hal-hal yang “belum atau dapat dijelaskan” (inexplicable things): kekuatan, proses, fenomena, yang belum atau tidak masuk akal, namun ada.<br /><br />Perjuangan STA dalam menyelamatkan Indonesia dari kubangan paria, meski menimbulkan berbagai polemik karena harus mengubur nasionalisme. Jika melihat sejarah bangsa ini, sebenarnya kita sudah berkiblat dari bangsa luar: yaitu Hindu, kebudayaan Arab. Da sekarang ini, menurut STA tiba waktunya untuk melihat ke Barat.<br /><br />Meski ucapan STA itu akan menimbulkan pertentangan-pertentangan yang luar biasa, meski bagaimana sekalipun sedih hati kita memikirkan hal yang demikian, dalam hal ini rasanya kita tidak dapat memilih.<br /><br />Sebabnya semangat keindonesiaan yang menghidupkan kembali masyarakat bangsa yang berabad-abad selalu mati ini, pada hakekatnya selalu diperoleh dari Barat: Budi Utomo lahir seperempat abad yang lalu, mendapat didikan orang barat dan selalu bergaul denan orang-orang Barat jika ada rapat. Cara organisasi yang dipakaisebagai penggantipersatuan menurut keturunan dan tempat kediaman yang terdapat dalam zaman prae-Indonesia ialah organisasi Barat. Dan segala pergerakan kebangunan bangsa kita yang berupa organisasi.<br /><br />Berderet nama besar para sastrawan, budayawan, sejarawan dan akademisi ditampilkannya. Dalam empat bab pembagiannya, Mashad membaginya dalam dua tema besar; bab I dan II berisi apresiasi terhadap pemikiran STA dalam bidang kebudayaan dan sastra, sedangkan bab III dan IV berisi tanggapan kritis terhadap kedua bidang pemikirannya itu.<br /><br />Buku ini menjadi penting mengingat hingga sekarang pun kita masih bingung merumuskan arah kebudayaan kita. Ia seyogyanya tidak mengundang polemik lebih lanjut, namun dapat menjadi salah satu pijakan guna merumuskan apa yang oleh Taufik Abdullah diistilahkan sebagai ‘strategi yang jelas’ dalam ‘semboyan yang tegas’ untuk mencapai cita-cita kebudayaan Indonesia.<br /></div><div style="text-align: justify;"><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-7040637346024812172?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-80751781309925143932008-07-30T01:44:00.000-07:002008-12-09T08:05:39.707-08:00Sastra Ekologi-Sastra untuk Bumi<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJArScxHU0I/AAAAAAAAAJ0/xMaYeirTafI/s1600-h/295443.png"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJArScxHU0I/AAAAAAAAAJ0/xMaYeirTafI/s200/295443.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228726763336979266" border="0" /></a>Krisis lingkungan di bumi terus berlangsung, tanpa ada solusi yang tepat untuk menghentikannya. Dalam tingkatan global—manusia sebagai penguasa piramida makanan—menjadi tertuduh utama atas kerusakan lingkungan. Jalan satu-satunya untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang lebih parah, adalah “memangkas” puncak piramida makanan itu sendiri.<br /><div style="text-align: justify;"><br />Para pemerhati lingkungan menjadikan kerusakan ekologi sebagai pekerjaan rumah yang tak kunjung usai. Berbagai solusi yang berangkat dari ribuan teori yang kemudian diaplikasikan terhadap berbagai kasus masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. Semua nihil belaka!</div><div style="text-align: justify;" class="fullpost"><br />Keterpurukan demi keterpurukan inilah yang akhirnya berhasil memobilisasi beberapa manusia kembali sadar akan pentingnya alam, berjuang menghijaukan kembali wajah bumi yang terlanjur hangus. Mereka inilah yang tergabung dalam komunitas pecinta alam, yang mencoba membangun dengan kekuatan kognitif orang-orang untuk mengembalikan sikap peduli mereka terhadap alam.<br /><br />Selain munculnya gerakan-gerakan pecinta alam di dalam negeri, maupun berskala mem”bumi”, baik yang penuh kompromis atau yang telah sampai pada fase radikal, muncul pula sastrawan-sastrawan tanah air kita yang mengejawantahkan fenomena ekologi ke dalam karya-karyanya. Sebut saja Korie Layun Rampan, Mochtar Lubis atau Hanna Rambe, yang sengaja menjamah ranah ekologi karena melihat penyakit “bumi” telah sampai babak kritis.<br /><br />Seperti yang dikatakan Korie Layun Rampan, pada kata penghantarnya di kumpulan cerpen, Acuh tak Acuh, “banyak kebijakan penguasa yang akhirnya membawa dampak buruk terhadap lingkungan. Berbagai pengrusakan dan penghancuran lingkungan pada zaman lampau, membawa akibat yang panjang pada kehidupan masa kini.”<br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJAqZkQXmII/AAAAAAAAAJs/V5Gmn0XG9RI/s1600-h/acuh-2dtak-2dacuh.gif"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJAqZkQXmII/AAAAAAAAAJs/V5Gmn0XG9RI/s200/acuh-2dtak-2dacuh.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228725786094573698" border="0" /></a><br />Secara umum, cerpen-cerpen Korie yang juga menjadi salah satu garda depan dalam mensosialisasikan sastra jurnalistik, selalu mempertanyakan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Mengangkat cerita yang ringan, namun kedalaman kajian-kajiannya tetap dipertahankan. Lihat saja judul-judul cerpen Korie yang minimalis, tapi selalu sarat pembelajaran moralitas untuk menjaga keutuhan alam. Misalkan Penyu, Lada, Bunaken, Patin dan lain sebagainya, yang ada dalam kumpulan cerpennya; Acuh Tak Acuh.<br /><br />Kendati berjuang menghijaukan kembali bumi, yang terlanjur tenggelam oleh berbagai permasalahan tanpa satu pun yang kelar melalui sebuah karya sastra. Korie Layun Rampan, selaku tuhan dalam cerita-ceritanya, kerapkali tanpa sadar menempatkan tokohnya pada antroposentrisme ekologi. Faham ini tidaklah arif jika diaplikasikan untuk mengajak manusia dalam melestarikan alam. Faham yang masih satu kandung dengan Positivisme ini, selalu menganggap peran manusia sebagai yang terpenting dan paling punya kuasa atas bumi, implikasinya kemudian hanya akan menimbulkan egoisme dalam manusia.<br /><br />Pandangan kolektif Korie pada setiap cerpen-cerpennya, selalu ia sembunyikan pada tokoh “aku” yang memiliki profesi sebagai wartawan. Dari tokoh “aku” inilah, kemudian ia memaparkan penglihatannya tentang ekologi-ekologi bangsa kita, yang tengah berada pada situasi memprihatinkan. Korie Layun Rampan, dalam tokohnya “aku” seakan merefleksikan kejahatan-kejahatan lingkungan yang tengah dilakukan para birokrasi untuk mempertebal keuntungan pribadinya.<br /><br />Membaca cerpen-cerpen Korie, berarti pula melihat kekayaan ekologi bangsa kita yang sunguh menakjubkan. Dalam setiap cerpennya, Korie sengaja mengetengahkan kekayaan ekologi, untuk dijadikan ensiklopedi kecil tentang kekayaan alam bangsa kita, selain sebagai peringatan kepada seluruh warga Indonesia; sewajarnyalah kita untuk menjaga dan melestarikan keindahannya secara bersama-sama.<br /><br />Begitu juga dalam novel ekologi karya Hanna Rambe, yang berjudul Pertarungan, keindahan-keindahan hutan tropis kita, begitu agung terlukis, menggemingkan hati untuk mempersembahkan sedikit hijaunya kepada anak-cucu. Gaya penceritaan Hanna Rambe yang merujuk genre Jurnalisme-dokumentatif, membuat ensiklopedis yang dikemas dalam bentuk novel ini, menjadi kemudahan tersendiri untuk memahami pesan yang hendak ditransformasikan Hanna Rambe kepada pembacanya.<br /><br />Novel Hanna Rambe yang berlatar di panggung bumi Sumatera ini, menceritakan tentang ketimpangan ekosistem di belantara barat Selindong. Makin terdesaknya habitat gajah oleh manusia yang larut akan keserakahan dan modernitas, membuat habitat gajah itu mengamuk dan merusak ladang-ladang milik manusia, selain juga menyerang perkampungan yang ada di gigir hutan.<br /><br />Menurut Hanna Rambe, medium kekerasan dalam setiap pertarungan adalah kepentingan. Manusia membunuh gajah untuk sebuah kepuasan dan syahwat kekuasaan, sehingga kematian dan darah gajah hanya menjadi pameran keperkasaan dan tawa kebanggaan. Klimaksnya, gajah itu mengamuk, membinasakan ladang dan bahkan meminta korban manusia karena manusia tidak lagi dianggap kawan yang bersahabat.<br /><br />Gerson Poyk berpendapat bahwa; novel ini merupakan sebuah kisah biofili (kecintaaan kepada kehidupan biotis tempat manusia tergantung padanya) dan kecenderungan nekrofilis (manusia yang mencintai kematian). Kesadaran kita tergugah oleh pemahaman bahwa setiap langkah manusia selalu memiliki kendala sehingga setiap orang harus waspada . Kewaspadaan yang menerima kesadaran etis untuk menghindari kecenderungan nekrofili dalam diri manusia.<br /><br />Karya-karya sastra bertema lingkungan, secara sadar mereka buat sebagai peringatan terhadap manusia, bahwa! Bencana alam terjadi bukan karena tidak bersebab. Hukum sebab akibat masih berlaku di bumi, meski kita seringkali alpa memikirkan akibat dari perbuatan kita. Kadang, akibat yang diterima lebih besar dari sebab yang kita perbuat.<br /><br />Dari sekian karya-karya sastra ekologi, jika kita tarik garis merah, ternyata ada saling keterkaitan pesan yang hendak mereka sampaikan. Karya-karya sastra ekologi, secara halus ingin memberikan pencerahan dalam memperbaiki moralitas destroyer manusia terhadap keberlangsungan mahkluk hidup di muka bumi. Harapan mereka sama, seperti harapan kolektif para penyayang lingkungan hidup seantero dunia, hanya saja “bungkus” yang mereka pergunakan berbeda.<br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJAqOZ7QN1I/AAAAAAAAAJk/Jt7edElsqj0/s1600-h/EF+fist.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SJAqOZ7QN1I/AAAAAAAAAJk/Jt7edElsqj0/s200/EF+fist.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228725594343094098" border="0" /></a><br />Intinya, karya-karya mereka hendak menggingatkan kita untuk ikut menjaga keutuhan ekologi yang kian mengalami ketimpangan. Bukan memalui sikap radikal seperti yang kerapkali dipertontonkan pengikut Earth First maupun Green Peace di Amerika yang kerap bersinggungan dengan ekologi sosial, melainkan dengan “dongeng”, yang kadang menjadi mitos paling ampuh dalam memberi kita pencerahan untuk tetap berkawan dengan alam.</div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-8075178130992514393?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-6611559592093929922008-07-19T07:36:00.000-07:002008-12-09T08:05:41.337-08:00Kuasa Bahasa Blog<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SIH8V1uhQHI/AAAAAAAAAIE/evUCXbBroOw/s1600-h/blog.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SIH8V1uhQHI/AAAAAAAAAIE/evUCXbBroOw/s200/blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224734494856134770" border="0" /></a><br />“Blog” mungkin bukan lagi kata asing di era robot ini. Setelah melahirkan revolusi industri, secara ekstrem dunia lahir dengan bentuknya yang baru. Berbagai negara mengalami kemajuan di bidang teknologi dan komunikasi yang pesat. Bahkan, untuk mengelilingi dunia sekalipun, kita hanya perlu duduk menghadap sebuah layar yang sudah terhubung dengan jaringan web.<br /><br />Media blog pertama kali di populerkan oleh Blogger.com yang dimiliki oeh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat “sumber terbuka” yang diperuntukkan perkembangan para penulis blog.<div class="fullpost"><br />Blog mempunyai fungsi yang beragam, mulai dari sekedar catatan harian, media publikasi dalam kampanye politik, sampai program-program media dan perusahaann. Seringkali blog di kelola seorang penulis tunggal, namun banyak juga yang memelihara blog banyak orang. Beberapa blog juga sudah memiliki fasilitas ionteraksi dengan para pengunjungnya, yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan pesan atau komentar pada si empunya.<br /><br />Nge-blog (istilah bahasa Indonesia untuk melakukan blogging) harus dilakukan sesering mungkin. Hal ini ternyata berguna untuk mengetahui eksistensi pemilik blog. Juga untuk mengetahui sedah sejauh mana blog dirawat (mengganti template) atau menambah artikel.<br /><br />Menurut sumber di web, sudah lebih dari 10 juta blog di temukan di dunia maya. Dan kemungkinan besar akan terus bertambah seiring perkembangan zaman. Blog saat ini memang sedang menjadi tren bagi semua kalangan, baik penulis blog pribadi (personal blogger); penulis blog bisnis (business blogger); penulis blog organisasi (organizational blogger); dan penulis blog profesional (professional blogger).<br /><br />Karena blog sering digunakan untuk menulis aktifitas sehari-hari yang terjadi pada penulisnya, ataupun merefleksikan pandangan-pandangan penulisnya tentang berbagai macam topik yang terjadi dan untuk berbagi informasi - blog menjadi sumber informasi bagi para hacker, pencuri identitas, mata-mata, dan lain sebagainya. Banyak berkas-berkas rahasia dan penulisan isu sensitif ditemukan dalam blog-blog. Hal ini berakibat dipecatnya seseorang dari pekerjaannya, di blokir aksesnya, di denda, dan bahkan ditangkap.<br /><br /><br /><span style="font-weight: bold;">Konsep John Austin Terhadap Bahasa</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SIH8lEETLaI/AAAAAAAAAIM/Fem3Avfijlc/s1600-h/John+Langshaw+Austin.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SIH8lEETLaI/AAAAAAAAAIM/Fem3Avfijlc/s200/John+Langshaw+Austin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224734756403621282" border="0" /></a><br />Alasan saya mencoba menganalisa bahasa di blog dengan menggunakan konsep John Langshaw Austin atu lebih dikenal dengan Austin, karena dia begitu bersemangat menyelidiki bahasa biasa, bahasa pergaulan sehari-hari. Dan lewat bahasa blog, saya akan mencoba merefleksikan pandangan pemilik blog dengan pendekatan filsafat analitik.<br /><br />Dalam bahasa sehari-hari terdapat banyak distingsi dan nuansa halus yang diperkembangkan selama banyak generasi oleh pemakai bahasa dalam usaha mengungkapkan pikiran mereka. Bahasa hendaknya tidak boleh dilepaskan dari situasi kongkrit di mana ucapan-ucapan kita kemukakan dan fenomena-fenomena yang di maksudkan.<br /><br />Salah satu karya Austin yang termahsyur adalah how to do thing with wordses. Dalam buku tersebut Austin membahas bahasa biasa atau bahasa yang kita pergunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kaum (kelompok) merupakan subjek yang selalu menggunakan bahasa sehari-hari. Jadi sangat menarik membahas filsafat analitik jalan Austin. Kami berusaha memahami bahasa karena peranan bahasa sangat penting. Bahasa mencerminkan pikiran seseorang. Bahasa yang baik mencerminkan jalan pikiran yang baik. Sebaliknya bahasa yang kacau mencerminkan jalan pikiran yang kacau pula.<br /><br />John Langshaw Austin lahir di Austin Inggris (1911), belajar filologi klasik serta filsafat di Oxford dan menjadi profesor di sana. Waktu perang dunia ia bekerja sebagai militer bagi British Inteligence Corps dan mencapai pangkat letnan kolonel. Biarpun ia sendiri menerbitkan sedikit sekali tulisannya (pemikirannya, namun dengan kuliah-kuliahnya dan diskusi-diskusi berkala, ia mempunyai pengaruh besar sekali dalam kalangan filosofis Oxford. Sesudah ia meninggal pada umur 48 tahun tiga buku diterbitkan oleh J.O. Urssin dan G.J. Warnock (Philosophical papers [191: edisi yang diperluas 1970) mereka mengumpulkan paper yang pernah dibawakan Austin pada pelbagai kesempatan; sense and sensi bilia (1962) bahkan memuat bahan kuliah yang diberikannya di Oxford dan dalam How to do thing with words (1962) dicantumkan The William Jame Lecturs yang dibawakannya di Universitas Harvard (Amerika Serikat) pada tahun 1955.<br /><br />Seperti halnya Wittgeinstein, Austin menaruh perhatian sama pada kelompok ujaran yang tidak dimaksudkan untuk menyatakan benar atau salah. Austin membedakan ucapan menjadi dua jenis, yaitu ucapan Konstantif (Constantif Utterance) dan ucapan Performatif (Performatif Utterance). Ucapan Konstantis merupakan ucapan atau ujaran yang kita pergunakan manakala menggambarkan suatu keadaan yang faktual. Pada batas ini, Austin meng-amini pandangan Atomisme Logis dan Positivistik Logik. Suatu ucapan konstantif terkandung suatu pernyataan yang memungkinkan situasi pendengar menguji kebenarannya secara empirik (baik secara langsung maupun tidak).<br /><br />Ucapan Performatif (Performative Utterance) berbeda dengan ucapan yang dapat diperiksa benar atau salahnya, karena itu dapat ditentukan kandungan makna dari ucapan tersebut maka ucapan performatif tidak dapat diperlakukan seperti itu. Karena itulah Austin menegaskan ucapan performatif tidak dapat dikatakan benar atau salah seperti halnya ucapan konstatif melainkan laik atau tidak (happy or anhappy) untuk diucapkan seseorang. Di dalam ucapan performatif ini peranan si penutur dengan berbagai konsekuensi yang terkandung dalam isi ucapannya sangat diutamakan.<br /><br />Menurut pendapat Austin, kita dapat mengetahui bentuk ucapan performatif ini melalui ciri-ciri berikut: a) diucapkan oleh orang pertama (persona pertama), b) orang yang mengucapkannya hadir dalam situasi tertentu, c) bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu), d) orang yang mengucapkannya terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut.<br /><br />Keempat ciri bisa saja dikenakan pada ucapan konstantif, namun penekanan utama dalam ucapan konstantif tidak terletak pada si penutur (subjek), melainkan pada objek tuturan-dalam hal ini peristiwa faktual. Sedangkan dalam ucapan performatif, penekanan utama tetap diletakkan pada si penutur dengan kelaikan pengucapannya. Akan tetapi keempat ciri tersebut belumlah menjamin kelaikan ucapan performatif.<br /><br />Teori Austin yang paling berpengaruh adalah tentang ujaran performatif, yaitu ujaran yang mengandung tindakan bebas dari urusan benar-salah. Teori ini kemudian dilepas-kembangkan menjadi teori tindak tutur. Terdapat tiga tindak dalam melakukan ujaran menurut Austin, yaitu tindak lokusi; tindak melakukan ujaran, ilokusi; yaitu tindak membentuk ketika berujar, dan tindak perlokusi; yaitu tindak untuk mencapai efek tertentu terhadap pendengar.<br /><br /><br /><span style="font-weight: bold;">“Jargon” Blog Kaya Warna Bahasa</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SIH8yFJKNcI/AAAAAAAAAIU/WlVuaqM7_QU/s1600-h/cover_austin.gif"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SIH8yFJKNcI/AAAAAAAAAIU/WlVuaqM7_QU/s200/cover_austin.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224734980030739906" border="0" /></a><br />Blog sudah menjadi semacam rumah bagi para blogger (pembuat blog) di dunia maya. Sebuah identitas yang kemudian menjadi pertunjukkan akbar atas eksistensi setiap orang. Dalam sebuah blog, kita bebas berkreatifitas tanpa harus takut dianggap jelek, atau bahkan terdiskriminasi. Karena dalam internet, kita pasti akan menemukan komunitas blog yang mungkin sejalan dengan emosi kita. <br />Dampak positif dari banyaknya blog dalam jaring-jaring maya, yang bisa diakses oleh siapapun ini adalah makin berwarnanya leksikon, kalimat dan wacana yang ada. Saya begitu tertarik pada jargon-jargon yang selau dimunculkan oleh pemilik blog untuk menjadi semacam catatan kaki bagi nama blog-nya.<br /><br />Pergilah ke mana hati membawamu. Ini merupakan kalimat jargon yang saya temukan dalam blog dengan judul BetinaLiar oleh fian di Yogyakarta. Dari contoh satu jargon dalam sebuah blog itu, masalah yang terkandung dalam ucapan performatif adalah, apakah si penutur mempunyai wewenang untuk melontarkan ucapan seperti itu.<br /><br />Jargon itu adalah bentuk ujaran performatif karena sudah memenuhi empat ciri-ciri ujaran performatif menurut Austin, 1. Diucapkan oleh orang pertama (persona pertama), 2. Orang yang mengucapkannya hadir dalam situasi tertentu, 3. Bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu), 4. Orang yang mengucapkannya terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut.<br /><br />Keempat ciri bisa saja dikenakan pada ujaran konstantif, namun penekanan utama dalam ucapan konstantif tidak terletak pada si penutur (subjek), melainkan pada objek tuturan-dalam hal peristiwa faktual. Sedangkan dalam ucapan performatif, penekanan utama tetap diletakkan pada si penutur dengan kelaikan pengucapannya. Akan tetapi keempat ciri tersebut belumlah menjamin kelaikan ucapan performatif.<br /><br />Pergilah ke mana hati membawamu yang merupakan jargon BetinaLiar secara pengujaran masuk ilokusioner. Karena jargon tersebut membentuk kalimat yang berisi tentang fungsi. Jargon, menurut Austin memiliki dua fungsi, yaitu kalimat sebagai perintah atau nasehat. Dalam Ilokusi ini, Austin lebih menitikberatkan pada “Tindakan dalam pengetahuan sesuatu” sebab disitu terkandung sesuatu daya atau kekuatan (force) yang mengharuskan si penutur untuk melakukan isi tuturannya. Fian, sebagai orang yang bertanggung jawab dalam tuturannya yang ditulis di blogsnya, telah mengetahui terlebih dahulu situasi dan keadaan tertentu yang kemudian direfleksikan dalam bentuk jargon dalam blognya.<br /><br />Kalimat Pergilah ke mana hati membawamu mungkin akan membawa dampak yang begitu besar bagi pembacanya. Hal itu mungkin saja terjadi, dalam tindakan illokusi kita melihat isi tuturan lebih mengena diri si penutur jadi tindakan perokusi ini adalah akibat dari penaruh yang ditimbulkan oleh tuturan, baik nyata maupun tidak. Di sini terkandung unsur kesengajaan dari si penutur untuk mempengaruhi pendengarnya melalui isi tuturan yang dilontarkannya.<br /><br />Menurut Austin, mengatakan sesuatu acapkali menimbulkan pengaruh yang pasti terhadap perasaan, pemikiran atau perilaku si pendengar atau si penutur itu sendiri, ataupun bagi orang lain. hal ini dapat dilakukan dengan cara merancang, mengarahkan atau menetapkan tujuan tertentu pada perkataan yang akan kita ungkapkan. Inilah yang dinamakan tindakan perlokusi.<br /><br />Bahasa merupakan produk terbesar manusia. Bahasa merupakan kekayaan yang melahirkan produk-produk lain. Bahasa merupakan bentuk verbal pikiran manusia. Bahasa adalah alat dan sarana untuk berkomunikasi. Mempunyai kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan terjadinya komunikasi yang baik pula, dan sebaliknya. Bahasa mampu menyatukan ribuan bahkan jutaan orang, tetapi sebaliknya bahasa (ucapan) mampu memecahbelah kesatuan. Bahasa merupakan ekspresi senang, cinta, dan sebaliknya bahasa digunakan juga untuk mengumpat, sumpah serapah, percekcokan, dan lain-lain. Pendeknya bahasa tidak bisa lepas dari hidup manusia. Bahasa adalah salah satu unsur terpenting dalam hidup manusia.<br /><br />Bahasa tak pernah lengkap atau sempurna, tetapi selalu mengalami perkembangan seturut perkembangan jaman. Bahasa itu dinamis sebagaimana manusia dinamis. Oleh karena itu, pengetahuan berbahasa harus dikembangkan agar tetap relevan dengan jaman yang selalu berkembang. Pembahasan tentang bahasa telah ada sejak jaman dahulu dan hingga sekarang masih terus berkembang. Banyak orang memberi perhatian terhadap bahasa. Banyak orang berusaha memberi penjelasan tentang bahasa agar semakin dipahami oleh orang banyak. Di antara pemerhati itu terdapat sejumlah filsuf. John Langshaw Austin adalah salah satu filsuf yang membicarakan bahasa. Pemikirannya sangat menarik sebab menyangkut pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari.<br /><br />Banyak sekali jargon-jargon blog, yang menggunakan tindak illokusioner. Contohnya adalah jargon dari “Bukuku” blog sahabat saya, Muhidin M. Dahlan yang berbunyi Dari semua yang telah ditulis, aku hanya mencintai apa yang ditulis seseorang dengan darahnya. Menulislah dengan darah dan aku akan dapati bahwa darah itu roh.<br /><br />Tindakan Illokusi sangat menarik untuk penulis. Tindakan ini marak digunakan dewasa ini. Dalam ungkapan ini terkandung kesenagajaan dari si penutur untuk mempengaruhi pendengarnya melalui isi ujaran yang dihaturkannya. Demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, orang sering berusaha mempengaruhi bahkan menghasut orang lain agar mau melihat isi rumah (blog). Sehingga, setelah melihat dan membaca konten blog, bukan tak mungkin pembaca kemudian akan terpengaruh.<br /><br />Jargon-jargon dalam blog, memang tidak beda jauh dengan kampanye-kampanye para politikus, para calon wakil rakyat yang sering mengutamakan janji-janji muluk, pidato berkobar-kobar, misi dan visi yang hanya untuk mempengaruhi orang lain. Celakalah orang yang tidak memahaminya sebagai sebuah hasutan belaka, yang mau mengikuti mereka yang mempengaruhinya.<br /><br />Menjadi penting kemudian kita belajar Filsafat bahasa, untuk menjadi filter dari bayang-bayang kata, kalimat dan wacana dimanapun yang bisa saja menyesatkan kita. Filsafat bahasa mengandung upaya untuk menganalisis unsur-unsur umum dalam bahasa seperti makna, acuan (referensi), kebenaran, verifikasi, tindak tutur, dan ketidaknalaran.<br /><br />Kesimpulannya adalah, analisis Austin sebagai satu figur filsuf bahasa yang lahir setelah masa filsut besar dan kenamaan Wittgenstein, perlu kita pelajari karena sangat relevan dan kongkrit pada masa kini. Dengan memahami analisis Austin ini orang diharapkan tidak akan mudah keliru, salah paham, terpengaruh, mudah diperalat.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-661155959209392992?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-72870494050525002472008-07-15T17:35:00.000-07:002008-12-09T08:05:41.528-08:00Pengalaman Penyair, Perwujudan Sajak<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SH1C1w_cqWI/AAAAAAAAAH0/NQckaMEob_o/s1600-h/poster+sapardi.png"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SH1C1w_cqWI/AAAAAAAAAH0/NQckaMEob_o/s200/poster+sapardi.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223404634271164770" border="0" /></a><br />Darmanto Jatman pernah berkata, “sajak adalah subjek apabila sajak itu sunguh-sunguh merupakan wujud dari eksistensi manusia; dan manusia serta kemanusianlah yang terwujud di dalamnya.” Sajak merupakan wujud dari pengalaman penyairnya; lebih tepatnya lagi, dasar perwujudan sajak adalah pengalaman (jiwa) sang penyair, baik itu yang bersifat imajinasional, emosional, intelektual maupun empirikal. Jadi, boleh dikatakan bahwa nilai artistik sebuah sajak, lebih banyak ditentukan oleh seberapa jauh penyair mampu mewujudkan pengalaman-pengalamannya, dalam sebuah konfigurasi diksi pilihan.<br /><br />Kita tahu, psikologi modern dibagi atas lima tingkatan, begitu pula dalam pengalaman jiwa; juga dibagi atas lima tingkatan. Masing-masing tingkatan itu membentuk perwujudan yang berbeda-beda. Pengalaman yang bersifat Anorganik memperoleh perwujudan dalam elemen-elemen formal sajak, seperti pola ritma, larik dan bait dan seterusnya. Vegetatif dalam memperoleh perwujudannya, menggunakan pencitraan suasana sajak dan efek yang ditimbulkan. Pengalaman Animal dengan cara membangun efek keinderaan dan rangsang sajak bagi pembaca, hingga pembaca akan memberikan responsif terhadapnya. Human memperoleh perwujudan dalam nilai-nilai peradapan yang terkandung dalam sajak. Dan yang terakhir, menggunakan pengalaman Filosofi memperoleh perwujudan sajak dalam dunia kontemplatif sajak yang bersangkutan.1<br /><div class="fullpost"><br />Dan ketika seorang penyair mengedepankan salah satu dari kelima tingkatan pengalaman diatas, maka akan membawa akibat-akibat sendiri dalam proses kreatif yang dirambah penyair. Jika penyair hanya melulu memainkan pengalaman Anorganik saja dalam memperoleh perwujudannya, sajak yang tercipta pun akan jatuh sebagai permainan kata (baca: bahasa) yang jauh dari nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu, kemampuan dalam mengakomodasikan keseluruhan pengalaman yang dimiliki, termasuk bagaimana mengorganisasikannya, merupakan hal yang tidak boleh terabaikan oleh penyair.<br /><br />Menurut saya, sajak Sapardi Djoko Damono yang berjudul “yang fana adalah waktu” menekankan tingkatan pengalaman Human dalam dia berpijak. Sebuah nada keraguan ditulisnya. Apakah benar waktu adalah abadi? Jika demikian benarnya, maka cerita tentang “kita” akan mengabadi jua. Detik demi detik yang telah dirangkai bersama, kelak akan terlupakan maksud awal; pada waktu yang memang telah mengabadi. Namun, Tuhan menciptakan dua hal yang pasti bertentangan, ketika ada perjumpaan pasti akan ada perpisahan, begitu juga kisah “kita”. Kau masih mengharapkan bahwa waktu adalah abadi.<br /><br />“Kita” sebuah persona yang diangkat sebagai subjek oleh penyair. Dalam kata “kita” jelas terkandung aku dan kamu, di dalamnya ingin menggambarkan tentang modus kebersamaan, yang mengimplikasikan adanya fungsionalisasi sikap meng-ada bersama antara kamu dan aku dalam berhadapan dengan realitas. Sementara realitas itu benar-benar akan mencerabut kebersamaan, hingga “kamu” selalu berharap bahwa keabadian adalah waktu. “Tapi yang fana adalah waktu, bukan? Tanyamu”<br /><br /> yang fana adalah waktu; kita abadi<br /> memungut detik demi detik,<br /> merangkainya seperti bunga<br /> sampai pada suatu hari<br /> “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu<br /> kita abadi<br /><br />Puisi yang dimulai dengan kalimat: “yang fana adalah waktu; kita abadi”, mengatakan bahwa penulisnya percaya akan fana adalah waktu, dan “kita” sepasang kekasih akan ikut mengabadi. Apa yang ditangkap pembaca pada bait pertama, adalah kisah percintaan yang berharap waktu akan mengabadi, hingga kisah mereka pun ikut pula abadi. Untuk memperkuat hal tersebut, baris berikutnya penulis memahat kata “memungut detik demi detik, merangkai seperti bunga.”<br /><br />Seperti apa yang telah saya uaraikan, bahwasanya pengedepanan atau memutlakkan salah satu tingkatan pengalaman tertentu akan membawa dampak perwujudan sajaknya. Harmonisasi yang terkandung dalam pengalaman serta perwujudan sajak akan menjadi suatu hal yang penting. Selain penyair selaku kreatornya, senang! karena mampu melampaui proses itu, pembaca juga akan senang, karena mereka senang berhadapan dengan suatu hal yang mempunyai makna lebih. Point penting juga bahwa: sajak yang baik, selain menjadi subjek, juga herus memberikan kemungkinan menyenangkan orang lain.<br /><br /><span style="font-style: italic;">1.Lihat esay Suminto A. Sayuti “Pengalaman dan Perwujudan Dalam Sajak” dalam bukunya yang berjudul Semerbak Sajak, terbitan Gama Media tahun 2000.</span><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-7287049405052500247?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-47998309859327386782008-07-13T20:44:00.001-07:002008-12-09T08:05:42.362-08:00Ingatan Tentang “Kisah” Melawan Sampah<div style="text-align: justify;"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHrMg51l36I/AAAAAAAAAHs/oF3SBOCOvsQ/s1600-h/wayang01.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHrMg51l36I/AAAAAAAAAHs/oF3SBOCOvsQ/s200/wayang01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222711583542992802" border="0" /></a>Syahdan, sebuah “kisah atau cerita” dihadirkan untuk menelanjangi egoisme manusia yang kerap menjadi kebodohan terbesarnya. Ia adalah suara nurani yang mencoba untuk menyadarkan kita bahwa ada “sesuatu “ yang tak pantas dalam kehidupan kita. Sesuatu yang akan menjadi palu ketika kita telah mengkatamkan jalan ceritanya. Dan ia patut didengarkan bukan hanya karena menarik untuk disimak, namun lebih karena ia tak pernah berangkat dari kekosongan budaya.<br /><br />Cerpen Tim (kumpulan cerpen Taman seberang) karya Eka Budianta adalah salah satu kisah yang patut didengarkan itu. Sepenggal kisah yang dihadirkan Budianta sebagai upayanya untuk memberontak dari egoisme kita yang senantiasa abai pada lingkungan. Tema sampah dalam cerpen itu merupakan satir bagi penguasa, intelektual dan seluruh umat manusia dalam negeri ini. Ketidakpedulian kita terhadap sampah merupakan awal dari bencana yang susul-menyusul melanda negeri ini.<br /></div><div style="text-align: justify;" class="fullpost"><br />Kisah ini berawal ketika Tim bertemu Tuhan di sebuah pelbak di sudut kota. Budianta, selaku ‘Tuhan’ dalam ceritanya, kemudian menanyakan sesuatu pada Tim—seorang tukang daging babi yang teralienasi dari lingkungannya—mengapa kotanya sangat kotor, bahkan sudah seperti kotorannya. Jika dalam seminggu Tim tidak bisa mengumpulkan seratus orang untuk membersihkan sampah-sampah di kota ini, maka Tuhan akan membuat kota ini celaka.<br /><br />Pengembaraan Tim sebagai orang yang tak pernah sekali pun memainkan peranan mulia dalam masyarakat, dimulai. Nurani para penghuni kota itu kemudian ditantang Tim untuk membantunya membersihkan perlbak. Mereka tak bergeming, mulai dari para pencari kerja sampai para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi, tak ada yang sudi membantu tukang daging itu.<br /><br />Dalam pelbak, dimana dirinya pertama kali bertemu Tuhan, Tim menangis. Dia merasa gagal karena tidak bisa mengumpulkan orang-orang dan gagal menyadarkan semua orang. Dirinya juga merasa bersalah kepada masyarakat karena tidak mampu mambendung bencana yang dijanjikan Tuhan.<br /><br />Dalam cerpen Tim ini, Budianta sengaja meramu sebuah alur sederhana, sebuah pesan singkat, padat yang seringkali terabaikan, yakni masalah sampah. Sebagai seorang yang memiliki kapabilitas dalam urusan sosial dan lingkungan, budianta dengan sengaja menusuk ingatan para pembacanya akan bahaya sampah bagi lingkungan dan manusia.<br /><br />Dengan berani pula Budianta menyindir keberadaan nurani penghuni negeri ini, ketika Tim dicaci, dimaki oleh para pencari kerja di kantor jawatan umum. Bahkan ketika berorasi untuk mengajak masyarakat membantunya membersihkan pelbak, dirinya mendapat hadiah lembaran kotoran dari orang-orang.<br /><br />Tim sudah mencoba dengan sekuat tenaga, tapi hasilnya, tak satupun orang yang membantunya membersihkan sampah di kota. Dia sudah mencoba berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Ia juga mendatangi supermaket, kuli-kuli bangunan, berpidato di stasiun, taman mini dan dimana saja. Ia juga berkali-kali membujuk Tuhan untuk tidak menurunkan bencana bagi kota ini. Namun, pekerjaannya sia-sia. Kemudian Tuhan mengirimkan sebuah hujan yang lebat sebagai awal dari bencana yang pernah dijanjikan pada penduduk kota lewat Tim.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Tragedi Sampah</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHrL5_KRa9I/AAAAAAAAAHk/BBXBspOEGwI/s1600-h/sampah.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHrL5_KRa9I/AAAAAAAAAHk/BBXBspOEGwI/s200/sampah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222710914957011922" border="0" /></a><br />Bukan saja dalam cerpennya yang berjudul Tim, tapi hampir di seluruh cerpennya, Eka Budianta sengaja menghadirkan cerita-cerita yang bertema sosial dan lingkungan. Dirinya melihat, ditengah pesatnya kemajuan-kemajuan dalam negeri ini, ternyata manusianya masih bersikap antroposentris dan mengeleminir masalah-masalah lingkungan.<br /><br />Dalam cerpen Tim itu sendiri, Budianta meramalkan bahwa permasalahn sampah jika masih berlarat-larat dan belum tertangani dengan baik, maka akan mengundang bencana. Diakuinya memang, jika sampai saat ini permasalahan sampah belum juga tertangani secara maksimal oleh pemerintah.<br /><br />Hal ini juga dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran kita dalam membina kembali hubungan dengan alam. Rachel Carson, dalam bukunya Silent Spring; mengungkapkan tentang hubungan-hubungan ekologi dan menyarankan dimasukkan manusia dalam hubungan itu bukan diluarnya, serta mempersoalkan gagasan tradisional tentang kemajuan ilmiah.<br /><br />Dampak-dampak yang diakibatkan oleh strategi modernisasi dari masyarakat komersial serta rancangan tata kota yang tidak memihak, seringkali merugikan dan bahkan menciptakan lingkaran bencana yang tak kunjung terselesaikan. Bagi perimbangan ekologi sendiri, hal itu, khususnya sampah seringakali berdampak buruk.<br /><br />Petaka sebagai akibat dari kekurangarifan kita terhadap sampah adalah kasus TPA Leuwigajah, Bandung. Sampah yang ditumpuk (open dumping) berubah menjadi bencana yang meminta tumbal sebanyak 148 warga. Ratusan kubik sampah yang menumpuk hingga setinggi 60 meter, lebar 200 meter dan sepanjang 400 meter, 21 februari 2005 silam, longsor dan menimpa rumah warga dibawahnya.<br /><br />Permasalahan sampah tidak berhenti disitu. Masih seringnya banjir di kota-kota besar, merupakan bukti, pemerintah dan masyarakat belum juga belajar dari keajadian di Leuwigajah Bandung. Cerpen Tim bisa saja kemudian menjadi Timeless, melampaui ruang dan waktu, dan selama kita masih lupa betapa pentingnya lingkungan terhadap kehidupan kita.<br /><br />Semua cerita dalam kumpulan cerpen Taman Seberang ini, sengaja dihadirkan Budianta untuk kita renungi, media merefleksi diri untuk kembali bersahabat dengan lingkungan. Jika saja pembacaan cerpen Tim kita cerna dengan baik, mungkin kejadian seperti longsornya TPA Leuwigajah, merebaknya penyakit muntaber, demam berdarah serta banjir tak mudah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sekali lagi sebuah cerita hadir bukan karena kekosongan budaya, tapi ada masalah yang masih terabaikan.<br /><br /></div><div style="text-align: justify;"><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-4799830985932738678?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com2tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-3627782842411924482008-07-12T21:17:00.000-07:002008-08-19T17:30:06.570-07:00Membayangkan KematianApa yang aku bayangkan kala senja itu, sungguh merupakan kutukan. Batu sekeras apapun, saat deras menghunjam ke bawah akan hancur berantakan ketika menyentuh permukaan karang. Apalagi itu hanyalah seonggok daging dan tulang.<br /><br />Tiba-tiba saja aku mencium bau anyir darah. Sejak kapan senja mulai berubah merah. Horison seakan menjadi sedekat bulu mata. Laut pun tenang. Berlagu diiringi camar yang mendesis melewati kepulan awan, dengan mata tajam menatap sepasang ikan di balik rerumputan.<br /><div class="fullpost"><br />Aku baru sadar. Putusan ini begitu salah. Setelah kemarau menyibakkan poniku yang lembut. Angin genap mengkabarkan isyarat pada matahari. Menuliskan riwayat malam pada daun-daun. Barangkali sekedar kematian, maka akan kupunguti sendiri jejakku dalam belukar. Membakar ilalang dalam senja, musim yang ditinggalkan.<br /><br />Dalam permukaanya yang biru. Sebenarnya laut hendak menawarkan kedamaian bagi jiwa-jiwa yang gelisah. Menguburkan segala duka pada relung dua benua. Sudut dunia yang siapapun tak bisa menjangkaunya. Bahkan untuk sekedar melihatnya. Camar-camar laut menyingkir. Selain sunyi dan sepi tak ada lagi yang bisa kau rasakan. Konon disanalah para jiwa-jiwa yang damai beristirah.<br /><br />Disana gelombang pun sulit diterka. Matahari hanya menghabiskan waktu di sebuah puncak bukit. Membakar cahayanya sendiri. Hendak ia buat tanda bagi mata siapapun yang rabun, pada waktu yang tumbuh di ladang belakang punggungnya. Redup api menggelana bersama angan yang kehilangan arah. Menyusuri jalan, memunguti kembali masa silam. Menjahitnya hingga selebar gelap.<br /><br />Tubuhku melayang. Begitu ringan memutar rol dalam sketsa kenangan. Seperti sebuah fragmen lawas yang diputar berulang-ulang dalam proyektor. Apa artinya kisah-kisah yang berlumut dan usang digerogoti waktu. Tak ada bagiku. Saat ini, tubuhku hanya milik kematian. Hendak kupersembah pada relung paling hitam, sebuah cerita yang menggetarkan. Kisah abadi yang selalu dikandung oleh rahim ketika kau terbangun dari tempat tidur.<br /><br />Ingin sekali lagi aku melihat detak jarum jam di ruang kerjaku. Meski bunyi waktu terus saja menetak talang rumah. Jangkrik dan kepik berloncatan keluar liang.<br />Kamboja tumbuh subur dengan menyerap jiwa yang terlena oleh syahwat dan hujan. Oleh waktu yang melumut di bebatuan. Ingin sekali lagi kutebak isi tas jinjing itu. Adakah cawat serta bh-ku disana?<br /><br />Saat itu kau keluar dari kamar mandi. Aroma lavender pun merebak dalam ruangan. Rambutmu yang sehitam garis malam, liar dan basah. Menebarkan wangi seorang perkasa. Laki-laki pengelana yang sulit ditebak isi hatinya. Memang begitulah kamu. Bahkan ketika malam penuh gelora dan anjing-anjing berloncatan keluar lewat ubun-ubun. Kau hanya menyisakan seulas senyum lalu hilang.<br /><br />“Tubuhku adalah sarang kematian!” Mengertikah kau akan hal ini? Ucapmu saat cahaya pertama menembus korden jendela. Lantas jatuh selembut kapas dalam tubuh kita yang telanjang—dingin seperti pualam.<br /><br />Tubuhmu masih kudekap. Kurasakan kehangatan yang kekal. Degup jantung liar seorang pengelana.<br /><br />“Kamu ada disampingku saat ini, sudah cukup berarti bagiku.” Aku memeluknya lebih erat. Setelah percintaan panjang semalam, tak penting bagiku untuk menggingat siapa dirinya. Dari mana asalnya. Seribu bunga dalam nafasnya telah membuatku takjub dan betah. Kuraih sekali lagi pinggangnya. Dan kucium bibirnya. Lama.<br /><br />Pagi terakhir pada bulan Juli yang kering, matahari bersinar di ufuk utara, di balik hutan-hutan yang membukit. Tak ada angin ketika burung-burung riuh berkumpul di atas kawat jemuran. Dan menara-menara gereja mendentingkan lengking suara lonceng yang merasuk pada pori-pori. Aku sudah tidak menemukanmu di sisiku.<br /><br />Tak kan bisa kuulang syair dalam sajak ini. Aku berjalan, bergegas, melangkahi punggungku, seperti menghitung jumlah loker di stasiun kereta. Pagi ini aku harus ke sekolah Nining, anak perempuanku. Anak semata wayang dari laki-laki penuh keriput yang aku cintai karena hartanya. Namun, aku begitu sayang pada anakku itu. Melebihi apapun. Setelah dengan ikhlas aku mengucapkan kata cinta di atas pusara lelaki tua bangka itu.<br /><br />Seulas senyum manis dari bocah perempuan berbaju abu-abu putih, menjemputku di gerbang sekolah. Itulah Nining, anak perempuanku. Lubang-lubang dilangit telah membuat dadaku sesak. Kenangan pahit menyeruling bersama suara ranting. Perempuan kecil itulah obat pekasih suci. Hadir mengisi sekat dalam rindu yang kelabu.<br /><br />Wajahnya yang putih memancarkan seberkas cahaya. Matanya adalah kata-kata yang menafsir ulang kesetiaan setiap laki-laki. Itulah satu-satunya yang kuwariskan padanya selain sebuah hidung yang indah dan mancung seperti kedua buah dadanya. Dia memelukku. Memberiku ciuman di pipi. Seulas senyum merekah indah di bawah guyuran cahaya pagi.<br /><br />Dia pun menggandeng tanganku menyusuri taman sekolah yang bersih. Melewati gazebo yang berada di atas kolam ikan yang ditata sedemikian rupa hingga mengingatkan orang pada taman-taman di Jepang. Jalan-jalan begitu teduh. Suara air terjun buatan di sudut taman membuatku tak asing dengan debur ombak di selat karang yang terjal.<br /><br />Aku melangkah kecil menuju air terjun itu. Begitu damai mendengar gemericik air yang liar mengaduk sudut kolam. Begitu dekat kematian yang terlukis dalam lanskap usia. Kulepaskan genggaman Nining. Dan dia pun menghambur menghampiri teman-temannya. Wajahnya kemayu seperti penari ronggeng. Tapi aku suka dia seperti itu. Matanya tajam dan begitu memikat melirik teman-teman cowoknya.<br /><br />Kembali kutakar cinta laki-laki asing itu dalam ingatan. Ingin sepenuhnya kumiliki. Tubuh dan cintanya selama mungkin. Membangun keluarga utuh setelah bertahun-tahun kubiarkan hatiku mengembara. Berlabuh dari dermaga satu menuju malam paling gelap di ujung dunia lain. Mungkin aku sudah capek merangkai cinta sesaat, seperti merangkai potongan-potongan bunga indah dan kemudian layu.<br /><br />Aku ingin persembahkan laki-laki untuk anak gadisku. Laki-laki yang akan menjadi bapak baginya. Dan suami yang baik buatku. Aku baru saja menaburi bubuk penuh warna dalam ladang yang gelap.<br /><br />Saat ini tiada yang lebih kurindu, selain bersandar di peluknya. Mengelap peluh yang menetes dingin di lehernya yang kekar. Menjadikannya satu-satunya matahari. Juga hujan yang menyejukkan kehidupanku dan Nining yang kerontang. Demikianlah, sudut waktu tengah menjadi ayat paling suci yang pernah kulantunkan. Kugandeng tangan Nining pulang, tangannya yang lain mengenggam erat sebuah piala yang berwarna emas.<br /><br />“Mama, katanya mau nikah lagi ya?” kata Nining saat di mobil.<br /><br />“Ya, pengen sih. Masak kamu gak kangen sama sosok seorang bapak?” jawabku singkat. Mobil terus melaju sedikit kencang mengejar senja yang sebentar lagi menjelang. Aku baru ingat, malam ini aku hendak menemuinya di sebuah hotel di pusat kota.<br /><br />“Gimana pendapat Nining?” tanyaku pelan.<br /><br />“Apa mama tidak malu? Menikah dengan laki-laki muda. Umurnya saja baru berumur 23 tahun. Lima tahun lebih tua dari Nining. Dia pantesnya sama gadis seusia Nining. Lagi pula kerjaan dia hanya seorang kernet bus kota.”<br /><br />Aku diam seribu bahasa mendengar jawaban anakku itu. Memang, dia hanya seorang kernet bus. Tapi aku akan menghapus masa lalunya. Dia bukan siapa-siapa lagi besok dan seterusnya. Menjadi sosok paling asing. Seperti ketika aku mengajaknya kencan pertama kali. Memeluk tubuhnya pertama kali di kamar hotel, membiarkan dia menjamah dan menindih tubuhku. Aku begitu menikmati berada di samping laki-laki itu. Laki-laki perkasa yang beraroma lavender. Dan seulas senyum liar tergambar di sudut bibir. Lalu hilang seperti angin.<br /><br />“Ah, mama memang gila!”<br /><br />Aku semakin tidak mempedulikan omongan anakku. Pedal gas kuinjak semakin dalam. Mobil berlarian lincah diantara mobil dan motor yang berlalu lalang. Bercanda dengan angin. Mengukur aspal yang memanjang lalu berkelok menanjak di sebuah bukit. Sebuah bangunan tua dengan pesona skolastik memancar diantara hijau pohon-pohon palem dan suburnya rumput yang terpangkas rapi. Itulah rumahku, warisan suamiku.<br /><br />Berjejer puluhan mobil di pelataran parkir. Beberapa diantaranya merupakan mobil impor yang langsung didatangkan dari luar negeri. Di sudut rumah tampak rapi bunga-bunga penuh warna dan beberapa pekerja yang sudah beberapa tahun mengabdi sebagai babu di rumah ini. Aku hanya menurunkan Nining di depan rumah. Menyuruhnya pulang duluan. Dengan alasan ada pertemuan penting dengan direktur perusahaan dari Jepang, kutinggalkan Nining di belakang dengan kedua tangan melambai dan sesimpul senyum manis diantara giginya yang putih.<br /><br />Tak ada firasat yang kubaca melalui daun. Langit cerah dan penuh, cakrawala mengundang burung-burung liar untuk mengembara. Tak kutemui isyarat dari kelopak bunga yang bermekaran pada sari-sari bunga. Hanya bayangan laki-laki liar yang jatuh di bawah batu yang terus saja kuingat. Perjalanan melambat, mobil seakan merangkak mengendus sudut-sudut aspal yang padat.<br /><br />Perjalanan dari rumah menuju hotel—tempat biasa kita bercinta pada malam yang panjang—menjadi beku. Jarum jam terus saja berputar, namun tak kudengar detaknya. Dua jam lewat, belum juga kucium harum lavendermu. Empat jam berlalu, aku masih setia menunggu di ranjang yang mulai sedingin waktu. Sepuluh jam benar-benar aku tak bisa mendengar detak-detak jam yang bergerak. Karena waktu tiba-tiba berhenti disini.<br /><br />Malam itu kamu tidak datang. Aku tak pernah bisa menaruh curiga padamu. Hatiku penuh dan hendak kupersembahkan cinta yang suci. Setelah check out dari hotel, aku pun meninggalkan lobi dengan sedikit tergesa. Udara di luar sudah menjadi kelabu bagiku. Tampak langkah-langkah bergegas. Wajah-wajah menjadi sendu dengan awan yang hitam dan gerimis pun jatuh.<br /><br />Pesan serta sejumlah Missed calls dari salah satu babuku masuk di handphone-ku. “Oh my god,” tiga kata pendek dan tegas, IBU, CEPAT PULANG. Selama di hotel, memang handphone aku silent. Pertanda apa ini? Dengan sedikit tergesa, ku injak dalam-dalam pedal gas mobil BMW silver milikku. Melintasi jalan-jalan protokol yang sepi.<br /><br />Pohon dan daun tiba-tiba mengabarkan isyarat yang sungguh tak bisa kupahami. Burung-burung tak sunguh-sungguh bernyanyi. Mereka melintas begitu saja pada musim dan gelombang angin. Melawan galau dan kegelapan seperti yang setiap saat dikirim pagi padaku. Aku merasa, cinta adalah firasat kematian, kemudian kulihat wajahku yang pucat di kaca dashboard.<br /><br /><br />***<br />Aku seperti melihat wajahku yang kurus dan pucat di permukaan laut itu. Angin berhembus menerbangkan ujung rambutku yang abu-abu. Musim ini begitu indah, langit memancarkan cahaya biru yang jatuh di atas batu- batu karang. Burung-burung melayang seperti melambaikan kata-kata bahagia padaku. Tujuh belas bidadari mengelebatkan selendang, meramalkan terbitnya gerhana di dadaku.<br /><br />Sepuluh tahun berlalu sejak peristiwa itu. Setelah seorang laki-laki yang tak pernah kutahu siapa namanya tidak memenuhi janjinya datang ke hotel. Dan sepuluh tahun sudah tidak ada kabar tentang Nining. Setelah babuku menceritakan seorang laki-laki datang ke rumah, menjarah semua perhiasan dan barang-barang berharga. Nining yang tak tahu apa-apa juga lenyap begitu saja dalam peristiwa itu. Menurut polisi, kemungkinan anakku dijadikan sandera oleh mereka untuk meminta uang tebusan padaku. Tapi, lima tahun berlalu tak pernah ada telfon masuk untuk meminta tebusan.<br /><br />Selesai sudah cerita ini. Tak seorangpun mampu mengakhiri kecuali diriku. Maka kubaca sekali lagi riwayat pada debur ombak. Pada angin yang merontokkan daun-daun juga musim yang selalu kelabu hadir menggantikan Nining juga seorang laki-laki yang masih penuh mengisi hatiku. Aku pun membayangkan diiriku melayang di atas batu karang yang terjal dan selalu berkisah tentang kematian.<br /><br />Membayangkan semua itu hanya akan menjadi kutukan bagiku.<br /><br /><br />Yogjakarta, Juni 2008<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-362778284241192448?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com0tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-12231262216530714642008-07-11T19:12:00.000-07:002008-12-09T08:05:42.662-08:00Riwayat Senja dalam Cerpen Seno<div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHgYvyaL47I/AAAAAAAAAG4/WYHWwnZ2G7c/s1600-h/Seno+Gumira.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHgYvyaL47I/AAAAAAAAAG4/WYHWwnZ2G7c/s200/Seno+Gumira.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221950977200612274" border="0" /></a><br /></div>Seorang lagi cerpenis kita, yang memiliki konsistensi penceritaan serta substansi di dalam cerpen-cerpennya, ia adalah Seno Gumira Ajidarma. Seperti halnya Danarto, yang cerpen-cerpennya selalu berada dalam ranah sufistik, serta Korie Layun Rampan yang senantiasa memakai tema-tema ekologi dalam cerpennya. Seno Gumira Ajidarma, dalam menulis cerpen-cerpennya selalu imajinatif, terkesan absurd, seakan-akan Seno membuat dunianya sendiri terlepas dari dunia nyata.<br /><div style="text-align: justify;"><br />Senja dalam keseluruhan cerpen Seno merupakan indeks dari keberadaan si pengarang sendiri. Klise memang, namun eksistensinya selalu hadir di tengah-tengah riwayat kata milik pengarangnya. Senja yang ia lukiskan selalu abadi, tak kunjung redam oleh malam. Konsistensi Seno dalam menghadirkan latar suram berbalut senja, serta alur yang berada jauh dari garis konvensional cerpen Indonesia, seakan memberitahukan posisinya di seberang “sastra koran”.<br /></div><div style="text-align: justify;" class="fullpost"><br />Seno Gumira Ajidarma lahir jauh dari negeri bundanya, yaitu di Boston, Amerika pada tanggal 19 Juni 1958. Ayahnya yang bernama Prof. Dr. MSA Satroamidjojo menjadi guru besar di Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Sejak kecil, jiwa liberal Seno sudah kelihatan. Seno kecil yang cenderung ingin bebas, tanpa banyak orang yang mengaturnya, membuatnya dicap sebagai trouble maker di Sekolah Dasar tempat ia belajar. Ia pernah suatu kali membujuk teman-temannya untuk tidak ikut kelas wajib kor, sampai kemudian ia dipanggil gurunya.<br /><br />Terinspirasi dari kisah petualangan Old Shatterhand, dalam novel petualangan karya Karl May yang berjudul Winnetou, Seno remaja ogah melanjutkan studinya ke SMU setamat SMP. Ia lebih memilih berpetualang ala Shatterhand sambil menimba pengalaman. Tiga bulan ia mengembara tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya ia terdampar di pabrik krupuk di daerah Medan. Riwayatnya tamat karena bekalnya kandas.<br /><br />Oleh bundanya, Seno dikirimi sebuah tiket pulang Medan-Jogja, memintanya untuk segera pulang ke Jogja dan meneruskan sekolahnya. Maka, dipilihkan Kolese de Brito sebagai tempat ia menamatkan SMU. Salah satu alasan mengapa Seno memilih sekolah ini karena ia diperbolehkan untuk berpakaian bebas dan berambut gondrong.<br /><br />Jiwa sastrawi Seno muncul ketika ia kenal sosok Rendra di jalan Malioboro yang saat itu masih menjadi penyair jalanan. Melihat Rendra yang berambut gondrong, kerap tidak pakai baju dan gaya hidupnya behomian, namun memiliki seorang istri yang cantik membuatnya iri. Berangkat dari situlah, Seno kemudian menekuni sastra.<br /><br />Cerpen pertama Seno yang dimuat di media masa adalah, Sketsa dalam Satu Hari dimuat di harian Bernas pada tahun 1974. Proses kratif Seno pun mengalir, pada tahun 1988 ia menerbitkan antologi cerpennya yang pertama, Manusia Kamar (1988) disusul kemudian antologinya yang lain; Penembak Misterius (1993) Saksi Mata (1994) Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi (1995) Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta (1996) Negeri Kabut (1996) Iblis Tak Pernah Mati (1999) Atas Nama Malam (1999) Wisanggeni Sang Buronan (2000) Saksi Mata edisi kedua (2002) Dunia Sukab (2000). Sebagian besar dari cerpen-cerpen Seno itu pernah dimuat di media masa.<br /><br />Sejak awal imajinasinya yang liar memang telah kelihatan. Dalam dirinya, Seno memang menginginkan untuk menjadi seseorang yang berbeda. Dan sesuatu yang identik dengan dirinya pada karya-karyanya. Kemudian ia mengeksplorasi karya-karyanya, sampai kemudian ia menemukan “dunianya”, yaitu dunia “senja”. Karena kebanyakan cerpen-cerpennya selalu bersentuhan dengan senja. Meskipun orang-orang berbeda dalam mengiterpretasikannya, ia tetap bungkam dalam memaknai senja dalam cerita-ceritanya.<br /><br />Saya tidak menyalahkan apabila dari kita memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Masing-masing dari kita pasti memiliki bayangan, seperti apa senja yang selalu dihadirkan Seno pada cerpen-cerpennya. Satu hal yang pasti, kata senja dalam cerpen-cerpen Seno merupaka wujud konsistensinya dalam mempertahankan dunia milik Sukap dan Alina.<br /><br />Sangatlah jarang kita temui penulis cerpen yang konsisten dengan gaya cerpen-cerpennya. Setelah merebaknya media masa pada era 1950-an, sastra-sastra pun larut dalam hegemoni media masa. Hal inilah yang kemudian melahirkan istilah, dengan sastra koran, yang kebanyakan pengarangnya mengikuti “kebaruan” dari sastra di koran tersebut.<br /><br />Saya rasa, memang cukup sulit dalam mempertahankan konsistensi gaya maupun tema-tema dalam sebuah cerpen agar tetap eksis dalam sebuah media masa. Kita meski senantiasa meng-up-grade cerpen-cerpen kita, agar ada kesesuaian dengan tema pada konteks saat itu.<br /><br />Keberhasilan Seno dalam mewujudkan dunianya, terlepas dari realitas dalam dunianya yang nyata, menambah deretan sastrawan yang begitu konsisten dalam memahat cerita-cerita di dalam cerpennya. Membaca cerpen-cerpen Seno, berarti juga mengajak kita untuk berpelesir ke dalam dunia rekayaannya. Dunia dari pengejawantahan imaji Seno yang kelewat liar, namun memiliki keindahan yang kekal.<br /><br /><span style="font-style: italic;"><br /><span style="font-weight: bold;">Achmad Cahyanto</span> lahir di Magetan, 17 Juli 1984. Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif dalam LPM EKSPRESI dan Komunitas Gardu Kerja. Salah satu puisinya pernah mengisi antologi 'Dian Sastro for President, end Of Trilogy'. </span><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-1223126221653071464?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com2tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-1264451464759087482008-07-07T07:34:00.000-07:002008-08-19T17:30:43.205-07:00Puisi yang Usangdalam perjalananku. kadang aku butuh tempat untuk singgah. sebelum kembali berangkat menyusuri jalan-<a href="http://sukucree.blogspot.com/">jalan setapak</a> yang suram. mendaki kembali puncak-puncak yang senyap. inilah diantara banyak kata yang aku tulis dalam jurnal harian saat aku berhenti sejenak.<br /><div class="fullpost"><br /><br />shelter #2<br /><br />dari merapi:<br />senja surut<br /><br />hujan melukis wajahnya<br />di batu<br /><br />angin mengikat kenangan<br /><br />sebuah stasiun kereta<br />ibu mengantarku<br /><br />apa kau akan pulang?<br /><br />Pada ujung daun,<br />Kulihat jalan itu<br />lurus<br />nuju dada langit<br /><br />Kau pasti tak di situ<br /><br />Stasiun kini sepi<br />Entah kapan aku pulang?<br /><br />Yogyakarta, 2006<br /><br /><br />tentu akan kujawab dengan lantang tentang siapa yang aku cintai selama ini. dialah ruang. namun aku tak bisa meninggalkan waktu begitu saja. karena perjalananku tak akan pernah terukur dengan berapa ribu detik yang meloncat-loncat keluar dari ruang. tapi begitulah waktu yang membuat siapapun jadi bijak.<br /><br /><br />waktu<br /><br />esok,<br />satu dari kita akan layu<br />menguning,<br />terbakar terik.<br />lalu terbang diantara resah<br />rumput-rumput kering<br /><br />kupandang musim:<br />dendam tak kunjung hanyut<br />menjadi batas<br />dua tepi yang berbeda<br /><br />bangku di taman kosong,<br />dirimu tak disitu<br /><br />angin terakhir<br />membawaku mengecup ujung<br />bumi. berkerudung gelap<br /><br />dalam detik-detik sunyi,<br />daun itu berharap dirimu datang<br />sekali lagi<br />bicara tentang rindu yang menua<br />bersama waktu.<br /><br />Yogyakarta, 2006<br /><br /><br />dan waktu, bagiku adalah kenangan yang kelam. sederhana tapi penuh misteri. ringan tapi penuh sekali makna. seperti ketika jaman kanak-kanak dulu, aku mulai belajar menggambar tentang sepasang gunung dan sebuah jalan setapak. namun, saat inilah tiba-tiba aku ingin sekali lagi berekreasi menuju dunia yang telah aku tatah dalam ingatan itu.<br /><br /><br />kenangan yang hanyut<br /><br />pada sudut malam,<br />air-air menjelma dinding<br />batu-batu hitam sebagai tanda,<br />menghitung arus yang hilang<br />:pada batas langit<br />bercampur lumpur dan kotoran<br /><br />–aku kenangan yang hanyut.<br /><br />Yogyakarta, April 2005<br /><br /><br />ketika kamu tersesat di sebuah persimpangan. berhendtilah berjalan. duduk dan merenung sambil lihatlah di ujung horison, rahasia kecil akan kamu temui saat senja menjelang.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-126445146475908748?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com3tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-73139944498772826602008-07-05T17:57:00.000-07:002008-08-19T17:31:16.588-07:00Menara WaktuAkulah menara jam itu. Menentukan arah. Membawa cuaca dalam genggaman. Sanggup memberikan warna apa saja dalam cahaya. Seperti pagi yang jatuh di bawah bayang-bayang batu. Aku memulasnya jadi hijau dalam musim yang kemarau.<br /><br />Siapa yang sanggup menghentikan kembara sang waktu. Karena langit selalu meneriakkan tanda rahasia. Memantulkannya pada jendela-jendela kota. Hingga terhirup seperti udara dalam nafas. Disanalah waktu berenang bebas, hingga kau berhenti dengan nafas yang begitu pucat. Dalam gelap yang menyempurkan malam.<br /><div class="fullpost"><br />Aku berjalan menyusuri lorong hujan. Musim basah. Gelap berubah remang-remang. Kecemasan berenang-renang dalam darah. Duduk di sebuah batu. Ah, begitu dingin ruang tunggu ini dan sebuah kamar kematian mulai mengintaiku.<br /><br />Dalam catatan tugas ketentaraan, aku sudah dicap sebagai desersi. Musuh paling dicari dalam kesatuan. Cepatlah berkemas, bisik pohon-pohon dalam pelarianku.<br /><br />Dalam hutan. Kecemasan menjadi racun paling mematikan. Dialah musuh utama yang harus kamu taklukkan. Bayang-bayang daun rontok. Menjadi isyarat paling hitam dengan musik yang kedengarannya seperti requim. Isyarat itu pengkabaran beku, kisah para pengelana yang mati oleh buasnya kesunyian.<br /><br />Dalam duniaku, cahaya telah menghisap debu-debu. Membakar sepi dalam ranjangnya yang sendiri. Tanpa kasur dan bantal. Sebuah tempat tetirah paling menyenangkan, setelah menziarahi matahari. Disana beterbangan mimpi-mimpi penuh cahaya. Seakan-akan mimpi adalah kenyataan itu sendiri.<br /><br />Namun, ini dunia yang asing. Dimana aku tidak bisa melawannya dengan bedil dan bayonet. Hanya sepi dan lembabnya tanah menjadi riwayat yang aku kenali. Penuh rawa-rawa lengkap dengan semua jenis binatang buas. Serta aroma kebun kamboja yang menjadi dupa untuk memanjatkan doa.<br /><br />Aku rebahkan tubuhku di sebuah bukit kecil di tengah-tengah belantara. Rasa capek luar biasa menyemut di sekujur tubuh. Perutku kejang. Gelisah panjang membawaku dalam persetubuhan sepi. Akhirnya, kelelahan menidurkanku. Dan enzim yang perlahan-lahan meracuni, mulai keluar dari batang-batang rumput yang aku makan selama satu minggu ini. <br /><br />“Ah! Seandainya atasanku tidak memperkosa kekasihku.”<br /><br />Aku tak akan sudi berkelana dalam asing musim ini. Sebilah sangkur menembus dada hingga ke belakang. Darah bercampur tuak muncrat. Beberapa saat aku takjub. Begitu indah bercengkerama dengan kematian. Matari pun gontai. Cahaya jatuh limbung dalam semak-semak. Bangkainya ditemukan seminggu kemudian.<br /><br />Gerimis dari embun tumpah di bawah kaki. Tiba-tiba kucium sekali lagi wangi rambutmu yang panjang terurai. Melintasi reruntuhan rindu. Suara biola mengalun dari kaki-kaki langit. Kulihat bola matamu yang selalu berkaca-kaca. Sebening embun di ujung daun. Kata-katamu indah memuntahkan seribu atlas yang terbakar. Melihatmu, brahmana pun sudi meninggalkan pertapaannya. Sardi rela kehilangan nyawanya. Taman-taman kehilangan mawar. Pagi kehilangan matahari serta cahayanya.<br /><br />Kau gadis desa. Lahir dan besar diatas setumpuk daun-daun pisang. Cahaya seringkali memandikanmu dan pohon mengajarkanmu untuk selalu berkidung. Siapapun akan jatuh hati, ketika matamu sedingin es itu menusuk tepat di ulu hati.<br /><br />Perempuan tanpa nama. Lahir hanya untuk membuatku takjub. Membuatku selalu ingin belajar bagaimana caranya merangkai kata-kata. Hendak kuriwayatkan cuaca untukmu. Kubangun seribu menara jam untuk membuat waktu jadi milikku. Kupersembahkan seutuhnya selusin musim tanpa cidra dalam anganmu. Kusatukan seribu benua dalam peta yang mengisyaratkan sepi untuk mempersuntingmu.<br /><br />Aku tak akan menyesali pelarianku ini. Satu cahaya kini, adalah tubuhmu yang menungguku di sebuah danau biru. Hanya menungguku . Atau waktu?<br /><br />Apa yang meski aku ingat darimu kini? Wajahmu? Hidungmu? Kupingmu? Kedua dadamu? Kedua kakimu yang seputih pualam? Sedang pada namaku sendiri aku menjadi alpa. Apa yang tersisa dalam waktuku? Riwayat-riwayat aku biarkan menjadi lusuh dan pudar. Tapi untukmu. Aku kekalkan pada waktu, hingga mayat sekalipun akan bertanya-tanya tentangmu.<br /><br /><br />***<br />Permukaan danau memantulkan wajah sosok yang anggun. Dengan rambut hitam yang terurai lembut menyentuh embun. Hatinya remuk. Sepanjang malam ia hirup penuh aroma bulan. Keringat menetes-netes setiap kali ia mengenang fragmen itu. Malam menjadi gang-gang suram. Ingin dia pungut sekali lagi jejaknya di belantara.<br /><br />Dalam usianya yang baru 20 tahun. Dia membawa dua jasad dalam tubuhnya. Segala bahagia habis sudah terpenggal oleh usia. Sekali lagi waktu yang keburu ditumbangkan nafsu dan syahwat dalam cuaca dan hujan. Perempuan itu membawa sebilah sangkur yang penuh noda darah.<br /><br />“Meditasi seperti apa yang bisa membuatku tak tersentuh oleh waktu?” teriakanmu menggema mengisi lembabnya udara di belantara. Daun-daun rontok seketika. Angin yang awalnya diam, kini berdesir kuat. Menerbangkan bau-bau bangkai yang terkubur Lumpur. Musim menjadi garang. Hujan dan terik menjadi satu.<br /><br />“Bencana akan menjadi waktu dalam peta perjalanan dunia ini.” Kutukmu.<br /><br />Perempuan itu menatap lama pada setangkai teratai yang sendirian di atas permukaan danau yang tenang. Seperti menemukan kembali oase kebahagiaan disana. Bentuk dunia yang pernah ia cipta sendiri. Dimana jazz dan suara alam bersimfoni membuat lagu sebagai ucapan selamat datang pada pagi. Tidak ada teka-teki di sana yang harus kau pecahkan. Serta tak ada lagi laki-laki yang mengumbar syahwat untuk kaumnya.<br /><br />Perlahan ia gores lengannya sendiri. Tercium wangi mawar dari pohon-pohon di hutan. Burung kuntul terbang merendah. Berhenti pada sebatang kayu kering. Ia mabuk oleh aroma asing, yang tak ditemuinya di dunia ini. Kepik-kepik merah dan kuning dengan jumlah sangat banyak merubung tubuhnya. Mereka membangun jembatan untuk jiwa perempuan. Gerimis datang seketika membasahi permukaan danau.<br /><br />Sempurnalah legenda perempuan itu. Telah ia lawan sendiri waktu. Ia ukir sendiri kisahnya yang pilu dan menggetarkan. Meski pada akhirnya ia harus kalah.<br /><br /><br />***<br />Gerimis membangunkanku. Hatiku tiba-tiba sesak. Kenangan dan mimpi-mimpi berlarian keluar melalui mulut dan kedua telingga. Kelelawar-kelelawar terus mencicit dan berloncatan di sayapnya yang selalu kelabu. Mengenggam biji-biji kematian serta seribu muslihat untuk mengambil jiwa siapapun.<br /><br />Kelelawar kini membiak di jantungku. Tubuhku sehijau seragam ketentaraan yang masih kupakai. Tubuhku melumut. Kedua kakiku beku. Menancap ke dalam tanah. Menjadi sebatang akar yang kuat mencengkeram bumi.<br /><br />Cahaya-cahaya yang tersisa meloncat keluar dari pori-pori. Melayang menyerbu gua-gua pertapaan. Segenap Masjid dan Gereja. Ke Wihara dan Candi. Ke semua arah mata angin. Aku tak boleh kalah oleh waktu.<br /><br />Ingin rasanya aku mulai lagi perjalanan ini. Menyusuri lorong dan menyebrang riam. Membiarkan tubuh di bawa rakit ke samudera. Disanalah harga kebebasanku. Tapi aroma mawar membuatku semakin ingin rebah dan tidur. Membawaku menyelam ke dasar danau yang hampa.<br /><br />Tanganku mulai gemetar. Dinginnya baja dari bayonet di sisiku, membuatku ingin secepatnya mengakhiri kisah ini. Hingga tak perlu lagi takut pada waktu. Biar tak ku dengar lagi musim yang datang hanya untuk menertawakan. Lalu sekejap hilang menjadi senja.<br /><br />Sebenarnya sudah habis kata-kataku. Sudah tak ada lagi kata untuk mencatat peristiwa-peristiwa. Semua terlalu hening. Bahkan dari sini bisa kudengar dengkur ratu semut. Tetes embun yang jatuh menggelombang di danau. Lalu aku hanya ingat waktu tiba-tiba berhenti. Cahaya menggelap dan akhirnya sirna. Tubuhku dingin. Tak kukenal lagi perempuan itu.<br /><br />Yogyakarta, Juni 2008<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-7313994449877282660?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com4tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-75331839563773964742008-07-03T06:07:00.000-07:002008-08-19T17:32:19.437-07:00Reruntuhan Gelap“Kau dengar lagu itu? “<br /><br />Aku harap kamu tidak tuli saat ini. Rerumputan biru tengah membisikkan rindu laut pada daun gugur. Memeram bintang dalam gelisahnya malam. Memendam bulan dalam lubuk jiwa paling dalam.<br /><div class="fullpost"><br />Kita berada tepat di tengah padang-padang doa. Tempat dimana kata-kata menggumpal bagai awan. Dan sedikit cahaya untuk membuat keajaiban buat sang pendoa. Namun, percayalah! Hal itu jarang sekali terjadi. Karena kata-kata menjadi sosok paling egois di padang ini.<br /><br />Kudengar engkau lahir dari sepi dan gugur daun? Benarkah? Dimana udara pagi membuatmu selalu rindu dalam teduh serta hangat rimba-rimba liar. Menari-nari menanti angin selatan berdesir bersama alunan kasidah hujan. Hingga sekujur tubuhku menderaskan keringat matahari musim kedua.<br /><br />Aku mengantarkan seorang perempuan yang tersesat dalam padang. Dimana reruntuhan gelap ditinggalkan kata-kata. Engkau menengadah ke udara, dan di kejauhan kulihat bisik rerumputan jadi hijau. Berubah kembali berwarna biru. Lalu hujan kata-kata turun dan membuatnya semakin gelap.<br /><br />“Aku tengah mencari doa, yang aku kirim dua abad silam.” Katamu.<br /><br />Waktu, tiba-tiba diam dalam raung tangismu. Bunga-bunga mengalirkan darah dan menggariskan sesal dalam dinding hatiku. Tubuhmu rebah dalam semak, tanganmu erat menggengam kelopak mimpi. Disinilah. Ya! Tepat dalam kanvas tangismua inilah, hendak kugoreskan sebuah pelangi. Selain laut dan biru ajalku.<br /><br />Kubawa jasadmu berlari. Melawan angin tanpa musim, dimana kata-kata menghilang dan engan keluar dari reruntuhan. Lewat angin itu kubaca sekali lagi peta jiwamu, yang bertiup siang malam menghubungkan semua persinggahan dalam hati. Biarlah kubangun sendiri trotoar dan jembatan, tempat kulangkahkan kaki dalam rimba dinding-dinding doa.<br /><br />“Tolong. Tolong. Tolong bawa aku menemui doa itu? Biarkan aku bertemu dengannya sekali dalam sisa matiku.”<br /><br />“Perempuan tolol.” Pikirku.<br /><br />Kusaksikan pagi itu—setelah kau bangun dari pingsan panjangmu—ladang kering dalam ruang nir-rasio. Kaum homosphia jelmaan kata-kata yang selalu berdebat tentang doa-doa yang mereka kuburkan di bawah pohom apel. Wajahmu masih berkaca-kaca, ketika kutelusuri semak-semak bambu berduri, dan matamu kini menjelma lapisan-lapisan semesta yang selalu ingin kudengar.<br /><br />Suaramu mengisi tangisku. Seperti riam yang selalu tersedu melihat kesetiaan batu-batu. Samar kulihat juga retak-retak air mukamu. Seperti sebuah kolam air hangat, yang siap kuterjuni. Sementara alismu, tipis serta sedih dalam gelombang yang diamuk badai. Suaramu satu-satunya cahaya dalam reruntuhan ini, yang membuatku ingin menziarahi sekali lagi benua-benua.<br /><br />Karena dirimulah, aku jelajahi samudera dan hutan. Hendak kuterjemahkan sendiri makna kabut untukmu. Pada jalan-jalan penuh tikungan, juga daun dan angin. Pada jalan lurus yang menanjak. Aku teringat rimbunnya bunga terompet warna unggu di belakang rumahmu. Dimana waktu itu, kuterjemahkan airmatamu lewat sajadah di seperempat pagi. Betapa perih bunga itu saat melewati tahun kali ini.<br /><br />Kau pun mulai menapaki jalan penuh duri yang tersisa. Melewati reruntuhan gelap dengan bangunan-bangunan berlumut yang membekukan jiwa para peziarah. Hanya suara burung di balik bukit yang menjadi teman, mengawal langkahmu di bawah tatapan curiga bintang-bintang.<br /><br />Di sebuah sungai dari mata air embun dan tak akan pernah kering, kau beristirah. Membasuh keletihan pada kedua kakimu. Begitu dalam tatapan itu. Seperti tengah mengisahkan cerita tentang peradaban paling tua. Mereka ulang isyarat tentang Adam dan Hawa yang terbuang di sebuah benua yang ditenggelamkan.<br /><br />Tatapanmu menyimpan gelora ribuan lukisan senja yang cemas. Sementara gerimis turun dalam rambutmu yang terurai. Lalu basah. Ada samudera mengendap diam di ubun-ubun. Aku kayuh sampan kecil melewati rawa dimana kau kubur jejakmu.<br /><br />“Tinggalkan diriku sendiri.” Suaramu gemetar.<br /><br />Aku tahu. Kesedihanmu tak akan bisa padam meski harus merendamnya dengan air dua samudera. Kematian adalah kelahirannya dalam dunia yang beda. Seperti hendak memasuki kembali taman-taman yang pernah kita rancang pada masa kanak-kanak.<br /><br />“Tapi dia anakku. Lahir dari sempalan hati. Sebuah kesedihan abadi. Tidak adil, karena dia mahkluk kecil yang suci.” Bantahmu.<br /><br />“Lepaskan aku. Biar kucari sendiri kata-kata dalam ladang ini. Setiap hari, ketika dedaunan menghitung kembali musim. Aku syairkan doa di tengah kesunyian. Biarkan anak itu kelak tumbuh sebagai seorang priyayi. Bukan seperti diriku, yang selalu menghitung pijak-pijak hujan di sepanjang gang.” <br /><br />Lupakan masa lalumu. Doamu saat, ini menjadi sosok paling buas di belantara hutan ini. Menjadi mimpi buruk jiwa yang gelisah. “Seperti dirimu sekarang,” kataku keras-keras, tepat disamping telinga. Akhirnya kau pun terpekur. Menyairkan lagi bait-bait tentang rasa kehilangan. Reruntuhan gelap. Dimana sepi menjadi satu-satunya cahaya yang membuatmu selalu merindukan kehilangan.<br /><br />Hanya aku satu-satunya orang yang selalu mencintaimu. Aku rela menukar perasaan nikmat dengan gelisahmu. Memotong kedua kakiku hanya untuk bisa membawa pergi bangkaimu. Biarkan aku mendekap kesunyianmu. Sebelum aku membakar tubuh tak berguna ini.<br /><br />Lupakan doa-doa itu. Kata-kata telah menjadi hujan pada siang yang terik. Kau tak akan pernah menemukan lagi kata-kata itu. Doa untuk anak perempuanmu. Doa untuk darah harammu. Tenanglah kamu dalam lindap kabut di pagi hari. Dengarkan lagu dari ranting dan burung-burung.<br /><br />Akhirnya kau pun tersedu. Di bawah gelap bayang-bayangmu sendiri, kau teteskan air mata yang bercahaya. Kembali kematian sampai pada dingin bebatuan. Melambaikan biru pada gerimis. Langit makin menjauh, angin berhembus mengantar wewangian. Kau berlari girang ke dalam senja. Karena kau tahu, anak perempuanmu kini menggirimkan sebait kata pada ladang doa. Hendak kau tempuh pulang, perjalanan menuju reruntuhan cahaya.<br /><br />Yogyakarta, Juni 2008<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-7533183956377396474?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com4tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-6333715449464800842008-07-01T17:00:00.000-07:002008-08-19T17:33:31.383-07:00Mencintai SunyiAku turunkan bendera yang berwarna putih itu, ketika bulan unggu, tinggal separuh tergantung di ufuk timur samudera. Aku menyingkir ketika ombak dengan gaduh memaki dan mencaci bibir pantai. Melihat malam menjatuhkan jangkar di salah satu relung laut. Siapapun yang berkelana membawa rakit, menentang ganasnya riam, aku yakinkan dia untuk mendapat keajaiban yang tersembunyi diantara bintang-bintang.<br /><br />Evi kakakku, “Tak ada yang memalingkan muka melihatmu tekun menyimak manusia, nafsu dan cintanya, begitu pun dirimu masih berkutat dengan sentuhan makna dan tata cara yang kau anggap baku, duduk berdua berbagi cerita mencoret kata mengungkap jiwa, mengirimkan angin romantis mengembangkan helai rindu.”<br /><div class="fullpost"><br />Aku duduk di kursi senja. Memandang jauh di bawah sebuah bukit. Dimana dulu kutanam sebuah pohon kenangan. Bergantung di rantingnya, kejujuran, keindahan masa kanak dan kemurnian jiwa yang rimbun meneduhkan. Disana angin berhembus sejuk dengan air bening sesegar awan. Aku mengukir kata-kata dalam setiap cabang serta daun. Bertanya-tanya, dimana malam hendak berlabuh keesokan hari.<br /><br />Ada isyarat sunyi yang kau pakukan di atas jendela tempat tidurmu. Tempat dimana setiap pagi kau membaca peta. Menghitung daun yang mengering dan jatuh bergugur. Di akhir pekan kau akan menemui kekasihmu di samping jendela. Memberinya segenggam kesunyian yang kau unduh dari pohon.<br /><br />Ceritakan padaku tentang legenda Sangkuriang kakakku, atau biarkan aku membacakan bait terakhir puisiku?<br /><br />Ikan kecilku, melesat dibawah bebatuan air yang bening. Cahaya pagi memantul indah dalam hijaunya lumut-lumut batu kali. Namun, aku melihat mendung di pagi ini. Di kejauhan kereta kencang melintas membawa bendera kesedihan di belakangnya. Orang-orang bergegas. Tidak satupun dari mereka menolehkan kepalanya dan saling menyapa, karena memang mulut mereka tersumpal asap. Tidak ada kata-kata yang keluar, aku di dunia berwarna tapi tanpa suara.<br /><br />aku mencintaimu sunyi. Seperti embun membasahi sebuah kaca jendela di kamar perempuan setiap pagi. Sebesar arus sungai di belakang desa yang akan membawa apapun hanyut ke samudera luas. Darinya aku bisa melihat keajaiban di sudut senja. Di puncak sebuah gunung, bahkan aku melihat ribuan kata-kata yang membentuk sungai di langit malam yang gelap.<br /><br />Aku ukir setiap kata dalam nafas. Sebelum akhirnya angin datang menerbangkan ke udara. Aku hitung langkah kaki menuju ke kamarmu. Lantas aku kalikan jumlah kata “cinta” di bagi kecepatan riam dimana kau membuang jiwamu. Hasilnya aku logaritmakan dengan sepersepuluh dan dijumlahkan kesedihan yang hadir melalui jendela itu. Kusimpan sendiri hasil akhir ini.<br /><br />“Sayup angin, gerimis, terpantul kaca lambai daun gemerisik kerdip lilin mengisi jeda menunggu.” Aku baca puisi itu.<br /><br />Seribu kata yang terucap dari bibirku untukmu, seperti pisau yang menyayat dan menyakitiku, tak kuat kutanggung pedihnya, tak kurasa pedihnya. Kau pergi membawa puisi tanpa bait terakhir.<br /><br />Di sebuah persimpangan kau tanyakan padaku tentang kebebasan. Bagaimana aku akan menjawab, jika aku sendiri juga dalam perjalanan menuju kebebasanku. Mari sini! Aku tawarkan ruang di sudut hatiku untuk membawa jiwamu. Ada kamar yang bernama hati tanpa tirai di tubuhku. Jendela masih saja terbuka, meski malam telah larut membawa dinginnya udara gunung.<br /><br />Yogyakarta, Juni 2008 </div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-633371544946480084?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com1tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-16828824847003017042008-05-28T14:05:00.000-07:002008-08-19T17:38:52.047-07:00Perempuan datang dari negeri hijauSore itu langit kelabu. Menggambar kenangan perjalanan dalam rintik gerimisnya. Angin bergemuruh menyeruling dan merontokkan daun-daun. Tanah basah, atlas menjadi legenda pencarian atas cinta manusia terhadap Tuhan.<br /><br />Dibawah teduhnya atap lembayung yang membentang seperti sayap Jibril, diriku larut bersama orang-orang asing, dalam negeri nirdimensi. Nikotin dan kafein menjadi pusara ketidaksadaran dalam ketergesa-gesaan senja saat itu. Beberapa potong jadah bakar jadi sahabat dalam dingin, burung-burung berubah menjadi awan kelabu yang mengalir bagai sungai. Gaduhnya hujan seakan ikut menjadi warna keindahan pelangi.<br /><div class="fullpost"><br />Senja larut. Dirimu menjelma kata-kata, lepas seperti anak panah. “Konon. Dia datang dari negeri hijau. Tanah penuh padang bunga-bunga. Ringkik kuda. Kupu-kupu. Dan pematang sawah melingkar-lingkar.” Suara itu datang begitu lembut dalam nafas dzikirku.<br /><br />Kita masih saja sibuk berlarian. Melintasi pohon demi pohon, yang tiba-tiba berubah jadi berlubang dan tua. Bayang-bayang kita seperti siluet kuda sembrani, terbang berayun-ayun di antara deru angin, lembah yang membara, juga pantai yang selalu berkabut.<br /><br />Aspal basah. Cemara berembun. Tanah meresapkan kelu dan sedih dalam lubang-lubang bekas cacing. Kami pun melanjutkan perjalanan ke base camp. Lalu malam turun dalam jalan-jalan senyap dan menggelap pada ujung New Selo. Para pemulung malam, menyusuri jalan-jalan setapak, mengikuti suara alam dari padang edelweis di puncak.<br /><br />Gelap sempurna dalam malam yang genap. Aku, Tono, Obed, serta Dani terbujur dalam dinginnya hawa lembah Selo. Udara dengan aroma dua surga bertemu dalam tenda yang sendiri . Dari hitamnya langit tiba-tiba menyembur ribuan cahaya yang terbang membawa serpihan-serpihan cinta bagi pendaki dan siapapun yang tak sengaja disengatnya.<br /><br />Tiba-tiba perempuan datang dengan senyum bidadari. Entah dari langit keberapa dan bintang yang mana, selarik malam yang tak mampu diurai ujungnya. Bau rambutnya tanpa parfum. Dan matanya adalah embun cermin bagi kunang-kunang.<br /><br />“Inikah rumahmu. Penuh lukisan mozaik warna-warni, rumah tempat anak-anak kita akan tumbuh menjadi Garuda. Serta belajar menerka arah cuaca.” Katanya.<br /><br />Api kecil pada lilin itu bergoyang. Kami duduk melingkar hendak menghelat ritual menyambut kedatangan para malaikat diantara megahnya Merapi dan Merbabu. Tono mengeluarkan kompor lapangan, lalu memanaskan margarin di atas teflon. Obed dan Dani mengupas kentang serta bumbu-bumbu. Sedangkan aku sendiri menumbuk bumbu matang di atas piring. Kami memang hendak meracik sendiri kedukaan kami. Menemukan sendiri kesunyian kami, sebelum kami hilang dimakan riuh gemuruhnya kota, musnah terbawa deras arus kehidupan nyata. Sebelum akhirnya kami berpisah nanti.<br /><br />Terus saja kita berlarian dibawah gerimis. Mempelajari isyarat-isyarat mimpi. Menjelang malam jiwa kita masih sibuk berlarian. Berkejaran dengan ribuan cahaya dalam gelap. Bernyanyi melalui seruling dengan nada bisu. Apalagi yang tersisa dan pantas dipelajari? Sedangkan suara sendiri telah menjadi bayang-bayang paling suram.<br /><br />Aroma kentang goreng eksistensialis ditambah pedas bumbu idealis dan empirik-rasio mengumbar, terhirup hidung lalu dengan darah terbawa ke otak. Kami pun bertanya satu sama lain tentang makna hidup dan mati, bahagia dan derita, cinta dan benci. Lantas apa yang menjadi konsep paling ideal yang ada dalam diri manusia? Jika kami hanyalah buih di tengah samudera kebesaran Tuhan.<br /><br />Aku pun teringat tentang perempuan yang berasal dari negeri hijau itu. Sekali lagi ia datang dengan rambut tanpa parfum. Tapi penuh bunga dan senyum yang menjanjikan bunga-bunga serta rumah dengan lukisan mozaik warna-warni.<br /><br />Hendak kupersembahkan sebuah perahu untukmu. Kusediakan perahu ini buatmu, kekasihku! Sebagai tanda pinangan dan pertukaran kemerdekaan. Karena aku tahu, dibalik fajar jiwamu masih saja terbelenggu.<br /><br />Aku ingin perempuan naik perahu itu. Ada sebuah lampu, serta seorang penyair di dalamnya. Dengannya aku ingin menjelajahi semesta, inci demi inci. Membentangkan layar, membiarkan arus dan angin menuntun. Lewat tangga pelangi, kita petik matahari. Menembus ombak demi ombak menuju rahasia pusat semesta.<br /><br />Aku mengalah untuk turun ke base camp, bersama obed. Dingin sudah menjadi black hole yang menyerap kuat-kuat jiwa kami. Jari-jari dengan cepat mengkerut. Wajah menjadi pucat menahan hawa dingin yang menusuk. Kami sibuk memperpanjang waktu yang akan membekukan darah kami.<br /><br />Embun turun. Satu persatu bintang terjun dan menjadi bunga dalam mimpi. Pohon bagai batu, diam, namun tak henti-henti bertafakur. Langkah-langkah kaki menggingatkan pada sisa perjalanan, kenangan yang akan aku bakar sendiri kelak.<br /><br />Perjalanan ini, perempuanku? Akan mengulang rute-rute bapa Adam, saat dulu mencari wajah hawa yang hilang bersama daun-daun surga digenggamannya.<br /><br />Kami bersembunyi dari cahaya bulan malam. Tidur di dalam base yang nyaman dan hangat. Kami biarkan sedikit demi sedikit angin serta embun datang dari celah-celah dinding kayu. Mengusap kepala kami seperti seorang ibu pada anak yang akan hilang dalam perantauan. Bersama-sama kami tidur, dengan mimpi masing-masing. Menikmati kebersamaan yang tak akan kekal.<br /><br />Menjelang pagi ketigabelas. Matahari sempurna merah menyala. Garis horison nampak terbakar. Pohon-pohon bangun, terkejut oleh teriakan ayam-ayam yang saling berebut makan. Tangisan seorang gadis kecil telah menjadi prasasti dalam ingatan. Bagaimana aku bisa lupa dengan mata yang bersinar bagai matahari kecil itu.<br /><br />Kemudian katamu, “akhirnya! Aku paham. Kita tumbuh dari akar pohon yang sama:<br />bernama pohon sunyi! Lalu bersama-sama mengembara jauh. Telusuri pusaran waktu, mulai dari sudut kurusetra, ombak-ombak membara, lantas ke utara. Menyebrang lorong ilalang, melintasi taman-taman kota hingga sampai sungai.”<br /><br />Disitulah! Kita akan baca gairah sekali lagi. Jadi penanda saat harus berguru pada apa saja. Pada butiran debu, tumpukan ranting, instrumentalia angin, dialog batu, meditasi kepompong.<br /><br />Bagai butir-butir berlian, air mata itu jatuh deras membasahi pipi kecilnya yang merah. Anjing-anjing tampak bergegas mengekor di belakang pemiliknya. Tampaknya, semua orang di dusun hendak naik ke kebun yang ada di pundak gunung. Bagaimanapun juga Merapi lewat rahim Merbabu telah melahirkan banyak kehidupan.<br /><br />Mitos bagaikan daun yang berserak di negeri awan. Merapi tegar dan tampan bagai seorang pangeran, emosi meluap dalam candradimukanya. Sedangkan Merbabu diam anggun bersanding disebelahnya. Subur dengan tanah yang mengandung benih semesta. Tempat banyak filsuf berguru tentang kebijaksanaan. Namun, siapapun tak akan percaya. Perempuan dari negeri hijau datang dari sebuah pintu di tebing paling sunyap di sudut matanya.<br /><br /><br />Bersambung…</div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-1682882484700301704?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com2tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-65937165547292213652008-05-26T00:58:00.000-07:002008-12-09T08:05:42.865-08:00MEMBACA JAGAT SEMIOTIK PEIRCE<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHgZ0Xum-gI/AAAAAAAAAHA/Qssw_FW1GQE/s1600-h/peirce.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kacZPeGfKmE/SHgZ0Xum-gI/AAAAAAAAAHA/Qssw_FW1GQE/s200/peirce.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221952155449489922" border="0" /></a><br /><div style="text-align: justify;">Peirce baru sekitar tahun delapan puluhan dikenal di Indonesia, ketika Aart van Zoest, yang disertasinya tentang Peirce datang ke Fakultas Sastra Indoenesia (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya) dan memberi kuliah tentang semiotik. Pada saaat yang sama dibentuk pula lingkaran Semiotik yang mewadahi peminat semiotik.<br /><br />Peirce yang nama panjangnya adalah Charles Shander Peirce (1839 – 1914) bukan satu-satunya tokoh semiotik. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang bisa dipelajari pandangan mereka tentang semiotik lewat arus semiosis. Pada dasarnya Peirce cukup memberikan keluasan bagi mereka, yang tidak hanya tertarik pada tanda linguistik, tetapi juga jenis tanda lainnya yang beragam.<br /></div><div style="text-align: justify;" class="fullpost"><br /><br />Konsep dasar dari Peirce, terutama yang berhubungan dengan katagori tanda (sigh) dan kemungkinan aplikasinya secara sederhana, memang menarik siapapun dari lintas disiplin ilmu apapun untuk dipelajari. Tulisan-tulisan Peirce lebih bersifat umum, tetapi mendasar untuk konsep tanda.<br /><br />Pengikut Peirce seringkali membedakan antara semiotik dari semiologi. Mereka menyebut Semiotik untuk aliran Peirce, dan semiologi sebagai khas aliran Saussure. Mengenai hal ini, pernah ada seseorang yang menjelalaskan bahwa Saussure sebenarnya memperhatikan aspek sosial di belakang penandaan, sementara Peirce lebih tertuju pada “the logic of general meaning”. Oleh karena itu, Sassure dan Peirce meski tidak saling mengenal—karena masing-masing berada di benua yang berbeda—memang bertolak dari titik yang berbeda dengan pendekatan berbeda pula.<br /><br />Peirce memang punya intens yang kuat dalam pemahaman tentang logika. Sebagai seorang filsuf dan ahli logika, Peirce berkehendak untuk menyelidiki bagaimana proses bernalar manusia. Teori Peirce tentang tanda dilandasi oleh tujuan besar, sehingga tidak mengherankan apabila dia menyimpulkan bahwa semiotik tidak lain dan tidak bukan adalah sinonim bagi logika itu sendiri.<br /><br />Sedangkan di sisi lain, terdapat pula tradisi semiotik yang dibangun pakar linguistik Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebagai sarjana linguistik, Saussure tidak pernah menyusun teori semiotik satu pun, bahkan dalam buku induknya yang berjudul Caurse in General Lingustics (1966), tidak disinggung sebenang pun teori-teori semiotik. Bahkan kitab suci semiotik itu tidak ditulis oleh Saussure, namun oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally dan Albert Sechehaye.<br /><br />Bahasa dalam perspektif semiotika hanyadalah satu sistem tanda-tanda (system of Signs). Dalam wujudnya sebagai suatu sistem, pertama-tama, bahasa adalah sebuah institusi sosial yang otonom, yang keberadaannya terepas dari individu-individu pemakainya. Menurut Saussure bahasa merupakan salah jaringan tanda. Secara khusus tanda-tanda kebahasaan memiliki karakteristik primordial, yakni besifat linier (penanda) dan arbitre (petanda).<br /><br />Dengan kata lain, bahasa merupakan suatu sistem konvensi, sistem tanda-tanda yang konvensional. Tanda-tanda yang arbitre serta konvensional ini kemudian oleh Peirce secara khusus disebut Symbol. Oleh sebab itu, dalam terminologi Peirce, bahasa dapat dikatakan juga sebagai sistem simbol lantaran tanda-tanda yang membentuknya bersifat arbitre dan konvensional.<br /><br />Menurut terminologi Peirce, simbol adalah tanda-tanda yang arbitre, sementara menurut Saussure, sebaliknya, simbol adalah tanda-tanda yang tidak sepenuhnya arbitre. Tanda-tanda yang arbitre disebut sebagai sign atau tanda saja; sementara tanda-tanda yang non arbitre oleh Peirce disebut sebagai ikon.<br /><br />Bagi para selebriti semiotik dalam bukunya yang berjudul Ikonisitas, Kris Budiman menghimbau untuk dijadikan satu pelajaran bagi siapa pun yang hendak belajar semiotik. Akan tetapi, terlepas dari kerancuan konseptual di atas, boleh dikatakan bahwa hampir di sepanjang riwayatnya linguistik dan semiotik terlampau menekankan pada konvensionalitas atau kearbitreran tanda sehingga kerap mengabaikan karakteristik tanda yang sebaliknya—seolah-olah bahasa tidak mungkin berkarakteristik ikonis.<br /><span style="font-weight: bold;"><br />Tipologi Tanda Ikonis</span><br />Titik sentral dari semiotik Peirce adalah sebuah trikotomi dasariah mengenai relasi “menggantikan” (stand for) diantara tanda dengan objeknya melalui interpretan, sebagaimana dikemukakan sendiri Peirce dalam rumusannya yang terkenal. Trikotomi tersebut adalah representamen yaitu sesuatu yang bersifat inderawi (perciple) atau material yang berfungsi sebagai tanda. Kehadiranya kemudian membangkitkan interpretan, yakni suatu tanda yang ekuivalen dengannya, di dalam benak seorang interprener. Lalu muncul objek yang diacu oleh tanda, atau sesuatu yang kehadirannya digantikan tanda.<br /><br />Proses tiga tingkat (three-fold process) di antara representamen, objek, dan interpretan yang dikenal sebagai proses semiosis ini niscaya menjadi objek kajian yang sesungguhnya dari setiap hasil studi semiotika. Dengan kata lain, semiosis adalah sebuah rangkaian yang tidak berujung pangkal, tanpa awal, tanpa akhir sebuah semiosis yag tanpa batas (unlimited semiosis). Hal itu karena, masing-masing representamen, interpretan dan objek saling bisa menggeser.<br /><br />Peirce mengembangkan seluruh klasifikasinya ini berdasarkan tiga katagori universal berikut,<br />1.Kepertamaan (firstness) adalah mode berada sebagaimana adanya, positif dan tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Ia adalah katagori dari perasaan yang tak terefleksikan, semata-mata potensial, bebas dan langsung; kualitas tak ter-bedakan dan tak tergantung.<br />2.kekeduaan (secondness) merupakan metode yang mencakup relasi yang pertama dan kedua. Ia merupakan katagori perbandingan, faktisitas, tindakan, realitas, dan pengalaman dalam ruang dan waktu.<br />3.keketigaan (thirdness) mengantar yang kedua ke dalam hubungannya dengan yang ketiga. Ia adalah katagori mediasi, kebiasaan, ingatan, kontinuitas, sintesis, komunikasi (semiosis) representasi, dan tanda-tanda.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Trikotomi Pertama Peirce</span><br />Dilihat dari sudut posibilitas logis (logical posibilities) Peirce membedakan tanda-tanda menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Pembedaan ini menurut hakikat tanda itu sendiri, entah sebagai sekadar kualitas, sebagai suatu eksistensi aktual, atau sebagai suatu kaidah umum.<br /><br />Qualisign, merupakan suatu kualitas yang merupakan tanda, walaupun pada dasarnya ia belum dapat menjadi tanda sebelum mewujud. Hawa ingin yang kita rasakan pada tubuh, ketika hujan turun, misalnya adalah qualisign sejauh dia hanya terasa dalam tubuh kita.<br /><br />Sinsign, adalah suatu hal yang ada (existent) secara aktual yang berupa tanda tunggal diindikasikan lewat awalan sin-). Ia hanya dapat menjadi tanda melalui kualitas-kualitasnya sehingga dengan demikian, melibatkan sebuah atau beberapa qualisign. Hawa dingin yang kita rasakan tadi, apabila kemudian diungkapkan dengan sepatah kata “dingin”, kemudian secara spontan tangan kita sedekapkan dalam tubuh, ini merupakan sinsign.<br /><br />Terakhir dalam trokotomi pertma adalah legisign yang merupakan suatu hukum atau law. Seperangkat kaidah atau prinsip yang merupakan tanda konvensional kebahasaan adalah legisign. Ungkapan Malam hari yang begitu dingin adalah legisign karena tersusun berkat adanya tatabahasa.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Trikotomi Kedua</span><br />Dipandang dari sisi hubungan representamen dengan objeknya, yakni hubungan “mengantikan” atau the “standing for” relation, tanda-tanda diklasifikasikan Peirce menjadi Ikon, Indeks (index) dan simbol. Pembagian tanda trikotomi ini menurut Peirce sangat fundamental.<br /><br />Ikon, merupakan tanda yang didasarkan pada keserupaan atau kemiripan di antara representaen dan objeknya, entah objek itu betul-betul eksis atau tidak. Akan tetapi, sesungguhnya ikon tidak semata-mata mencakup citra-citra “realistis” seperti pada foto atau lukisan, melainkan juga pada grafis, skema, peta geografis, persamaan-persamaan matematis, bahkan metafora.<br /><br />Kedua, indeks, merupakan tanda yang memiliki kaitan fisik, eksistensial, atau kausal di antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang mejadikannya tanda jika objeknya dihilangkan atau dipindahkan. Indeks bisa berupa hal-hal semacam zat atau benda material, asap (asap adalah indeks dari adanya api), gejala alam (jalan becek adalah indeks dari adanya api).<br /><br />Indeks pun terwujud dan teraktualisasi di dalam kata penunjuk (demonstratif) seperti ini, itu, di sini, di situ, dan seterusnya; gerak-gerik (gesture) seperti jari telunjuk yang menuding; serta berbagai tanda visual lain. Dalam lukisan garis-garis juga menjadi bagian dari indeks.<br /><br />Ketiga adalah simbol. Seimbol merupakan tanda yang representamennya menunjuk kepada objek tertentu tanpa motivasi (unmotivated); simbol terbentuk melalui kovensi-konvensi atau kaidah-kaidah tanpa adanya kaitannya langsung diantara representamen dan objeknya, yang oleh ferdinand de saussure dikatakan sebagai sifaf tanda yang arbitrer.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Trikotomi Ketiga</span><br />Trikotomi ketiga, menurut hakikat intrepetannya, anda-tanda dibedakan oleh Peirce menjadi rema (rheme), tanda disen, serta argumen.<br /><br />Pertama, Rema adalah suatu tanda kemungkinan kualitatif, yakni tapa apapun yang tidak betul dan berdiri sendiri adalah rema, bahkan nyaris semua kata tunggal—dari kelas kata apapun, entah kata kerja, kata sifat, dsb—adalah rema pula, kecuai tanda ya dan tidak atau benar dan salah.<br /><br />Kedua, tanda disen atau dicisign adalah tanda eksistensi aktual, suatu anda yang biasanya berupa sebuah proposisi. Sebagai proposisi, disen adalah tanda yang bersifat inforatif. Akan tetapi, berbeda dengan rema, sebuah disen adalah betul atau salah, namun tidak secara langsung memberi alasan mengapa begitu.<br /><br />Ketiga, adalah tanda “hukum” atau kaidah, suatu tanda nalar, yang disadari oleh leading principle yang menyatakan bahwa peralihan dari premis-premis tertentu kepada kesimpulan tertentu adalah cenderung benar. Apabila tanda disen Cuma menegakkan eksistensi sebuah objek, maka argumen mampu membuktikan kebenarannya.<br /><br /><br />Achmad Cahyanto. Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-6593716554729221365?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com2tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-44648244659401711702008-05-26T00:54:00.000-07:002008-08-19T17:34:12.421-07:00Semiotika si "Pejalan Jauh"Di sudut sebuah warung internet (warnet), yang konon terkenal selalu memberikan servis plus dengan membiarkan gambar-gambar syur dan film porno bertebaran bagaikan debu di tiap-tiap folder konsumen, seseorang menghabiskan hisapan terakhir puntung sampurna. Setelah puas membongkar satu-persatu folder di komputer, dia akhirnya bersurfing ria dalam arus maya.<br /><br />Lewat sebuah blogs berjudul Jalan Setapak, dari sukucree.blogspot.com, dia akhirnya menyapa kawan-kawannya dari balik kata-kata yang melayang tinggi. Sebuah kopi dalam cangkir kini tinggal ampas saja. Ruang yang harusnya ber-ac, jadi panas dan gerah oleh asap rokok. Digital casio hitam yang melingkar di tangan sebelah kirinya, menyala dengan kombinasi angka 1 dan 38.<br /><div class="fullpost"><br /><br />Tiba-tiba saja matanya, tekun menari diatas mantra kata-kata yang ditulis seseorang. Begitu hebatnya kekuatan energi kata-kata, sampai ia teguk lagi secangkir kopi yang tandas tinggal ampas. Dari sudut bahasa, baik nama orang maupun nama lembaga, intitusi sampai sebuah judul blog dalam dunia maya, intinya ingin mengungkapkan kemampuan dan kreatifas berbahasa pemakai dan pembuatnya. Begitu yang tiba-tiba hinggap di benaknya.<br /><br />Dari sudut semiotika tentu saja memiliki maksud yang berbeda. Nama adalah ungkapan yang berupa tanda yang menunjukkan siapa, bagaimana pemakainya, serta lingkungan, tingkatan pendidikan, dan tradisi budayanya. Karena alasan itulah kemudian, dia-- A.C.--tergelitik menelusuri proses semiosis dari sebuah judul blogs yang ditemukannya diantara web-web hot di layar segiempat 20' di warnet yang semakin gerah.<br /><br />Pejalan Jauh. Nama sebuah blogs yang dia temukan, dan atas pertimbangan tertentu kemudian ia analisa melalui metode semiotika. Satu hisapan terakhir begitu nikmat, asap tipis keluar dari mulut dan hidung lalu berputar-putar membentur layar monitor. Jari-jari tangannya tampak lincah menari diatas mause hitam. Di depan, kursor anak panah berlari lincah diantara ribuan warna, gambar, dan tulisan.<br /><br />Akhirnya, dia terpancing juga untuk membuka "view my complete profile". Nama lengkapnya Zen Rachmat Sugito. Secara psikologi, dia lebih dikenal dengan Zen. Seorang mahasiswa jurusan Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta yang ternyata memilih mangkir dan meninggalkan sekolah. Menarik, suatu ketika dia bertemu langsung dengan sosok Zen ini. Menurutnya, dirinya bukan ditinggalkan sekolah, melainkan sekolahlah yang ia tinggalkan.<br /><br />Ia adalah didikan rohani jagad, dan sebagai anak panah dari busur suci sang Ghanesa, dia biarkan jiwanya bebas berkelana. Perjalanan dia adalah perjalanan sunyi dan secara spritual akan membentuk pemahaman baru tentang hidup. Salah satu korpus, diantara timbunan kalimat-kalimat di blognya, ternyata ingin menguatkan bahwa ialah yang menjadi Tuhan atas tubuhnya sendiri bukan orang lain, atau sekolah. "Karena itu ingat-ingat selalu kata-kataku: Jadi orang bebas... Jadi tuan atas diri sendiri, allround, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak memperbudak... Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima beban tanpa guna," Pramoedya Ananta Toer. <br /><br />Menarik juga ketika melihat secara singkat profilnya. Bahwa sosok Zen itu merupakan indeks dari hujan. Dusta. Cinema. Espresso hitam. A mild. Pramoedya. Borges. Memaki dan merayu. Theatre of dream: Old trafford. Kuil. Karangalang-patehan pp. Dan dia lupa sampai di stasiun mana!<br /><br />Tampaknya. A.C. Harus kembali menentukan pilihan satu diantara dua cabang jalan disiplin ilmu yang sama-sama dia sukai. Apakah semiologi, pemaknaan simbol yang lebih memfokuskan diri diantara jibunan teks. Semiologi diperkenalkan dalam tradisi struktural di Eropa oleh Saussure. Semiologi dalam general of linguistic--hasil perasan otak saussure tentang liguistik yang di bukukan dua muridnya--belum banyak menyoroti tentang tanda. Oleh Barthes, kemudian kajian ini dikembangkan secara mendalam. Bahwa, dalam fenomena semiologi sruktural, bukan sekedar teks yang merupakan medan interpretasi. Barthes membedakan teks dalam semiologi struktural memiliki dua keping elemen yang tidak bisa lepas yaitu language dan parole. Language adalah sekaligus suatu institusi sosial dan suatu sistem valeur-valeur (nilai). Language adalah bagian dari sosial dari langage. Sedangkan parole adalah tindakan individual kegiatan seleksi dan aktualisasi. Parole adalah metabahasa yang terdiri atas mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan si subjek tadi meng-eksteriorkan kombinasi-kombinasi.<br /><br />Di depan layar komputer yang memancarkan radiasi UV, membuat mata terasa lelah. Kacamata tidak dia pakai, dan dibiarkan tergelatak di meja. Kini kembali ia kenakan. Tangannya kembali bermain lincah di papan-papan tuts yang secara sintagma bertaburan huruf-huruf alfabet, simbol serta angka.<br /><br />Namun, bukan relasi diadik proses semiologi Sausser ataupun proses pencarian metabahasa dari suatu sign dari Barthes. Tampaknya dia lebih senang menggunakan proses semiosis, triadik miliknya Peirce dalam menganalisa blogs si Pejalan Jauh ini.<br /><br />Dalam waktu yag bersamaan dengan perkembangan semiologi di Eropa. Di benua Amerika juga berkembang ilmu tentang tanda, yang selanjutnya dikenal dengan semiotik. Ilmu ini diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce, tokoh filsafat logika. Peirce berpendapat bahwa sign (tanda) adalah alat informasi, dan mengacu pada suatu objek, baik objek konkret yang ada di dunia nyata maupun khayalan. Pengalaman dan daya pikir seseorang tentang dunia nyata maupun materi memegang peranan penting dalam menginterpretasikan tanda. Dalam studi peirce, tanda sendiri disebut representamen, sedangkan gagasan yang menafsirkan disebut interpretan. Representamen yang mewakili atau merepresentasikan tanda mengungkapkan makna jika gagasan atau konsepnya dapat dihubungkan dengan sesuatu yang lain yang sudah ada dalam pikiran interpretasinya.<br /><br />Apa yang diacu oleh tanda disebut objec (designatm, deotatum) atau referent (acuan). Representasi dapat terlaksana berkat bantuan sesuatu, yaitu kode atau ground. Tanda-tanda lalu lintas, misalnya, dapat dipahami oleh masyarakat karena mereka terlebih dahulu mengenal sistem rambu-rambu lalu-lintas, ungkapan dalam bahasa tertentu hanya dapat dipahami oleh orang yang menguasai bahasa itu sebagai tanda dan alat komunikasi.<br /><br />Tanda selalu berada dalam hubungan trio dengan ground, acuannya dan interpretant. Namun, dengan acuan ada tiga macam, hubungan kedekatan eksistensi (kontiguitas) menimbulkan tanda yang disebut dengn indeks, yang terakhir adalah hubungan yang terbentuk secara konvensional yang disebut dengan simbol.<br /><br />Analisis Blog Pejalan Jauh<br />Antara Barthes dan Peirce sebenarnya memiliki kesamaan dalam pemaknaan tanda yakni tidak berhenti pada proses primer. Tetapi terus berlanjut yang memungkinkan penafsiran yang kita bisa identifikasi menjadi proses sekunder (konotasi pada Barthes dan interpretan pada Peirce). Namun, bedanya dalam konsep Barthes bersifat tertutup dan Peirce terbuka, karena proses semiosis pada dasarnya tidak terbatas dan terhenti.<br /><br />Pejalan Jauh memiliki makna bukan saja orang yang melakukan perjalanan jauh. Terdapat dua preposisi disini, yaitu pejalan sebagai kata "jalan" yang mendapat imbuhan "pe" hingga menjadi sebuah kata nomina--bukan lagi sebagai kata kerja. Pejalan kemudian dipasangkan dengan kata "Jauh" Yang juga sebagai bentuk nomina yang merepresentasikan jarak yang tidak dekat, banyak sekali, tidak terukur. Frase Pejalan Jauh merupakan bentuk mental si pemilik blog, bahwa dia orang yang selalu setia, dan dekat dengan perjalanan-perjalanan.<br /><br />Zen sebagai pemilik blogs, sebagai representamen dan blogsnya Pejalan Jauh sebagai objek. Untuk mencari interpretasi dua hal tersebut, kita harus menemukan dulu grounded yang membangun representamen. Penulis saat pertama kali masuk sebuah lembaga persma di sebuah universitas negeri di Yogyakarta, sosok Zen merupakan aktor intelektul yang sudah bereksistensi dalam lembaga itu sebagai kepala sekolah. Dari perkenalannya., dia pun akhirnya sedikit tahu bagaimana pemikiran, sepak terjang dan kehidupan si Zen itu.<br /><br />Hubungan Cinema. Espresso hitam. A mild. Pramoedya. Borges. Memaki dan merayu. Theatre of dream: Old trafford. Kuil. Karangalang-patehan pp. Yang ditulis dalam profilnya, bukanlah sebuah ikon, ataupun simbol, melainkan hubungan eksistensi atau hubungan indeks. Penulis kembali teringat, seringkali dalam masa-masa ia dan Zen itu bertemu, hal yang selalu menjadi bahan pembicaraan dan diskusi adalah seputar cinema, perjalanan, Pramoedya, dan perempuan.<br /><br />Kris Budiman berpendapat, bahwa indeks tanda merupakan kaitan fisik, eksistensial, atau kausal di antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang menjadikannya tanda jika objeknya dipindahkan atau dihilangkan. Dari profilnya, Zen ternyata mencoba membuat karakternya sendiri dari itu semua.<br /><br />Sebuah gambar dengan dasar warna jingga, yang menginterpretasikan sebuah senja, melekat dibalik nama blogsnya. Gambar itu menunjukkan beberapa bayangan dengan warna hitam, dan lebih menyerupakai bayang-bayang manusia. Satu terpisah dengan segerombolan bayang-bayang. Saya pikir, satu bayang yang sendiri itulah si Zen, coba hal itu kita korelasikan dengan korpus berikut, "seorang pejalan--sepintas lalu seperti--sering "meninggalkan": Rumah, keluarga, pekerjaan, masa lalu atau kekasih. Tapi, semua pejalan tahu bahwa pada momen-momen yang krusial, para pejalan yang justru sering "ditinggalkan". Maka kita bisa menafsirkan bahwa sosok Zen tersembunyi dibalik salah satu bayang-bayang itu.<br /><br />Gambar itu juga menunjukkan sebuah tempat, yaitu pelabuhan. Di samping kanan adalah laut, hal itu ditunjukkan dengan ikon sebuah kapal yang sedang merapat. Di sudut sebelah kiri merupakan daratan yang ditunjukkan oleh sebuah rumah yang berdiri sendiri. Nuansa tempat yang ditunjukkan dalam ikon gambar itu, merupakan perwujudan mental yang disepakati bahwa pelabuhan adalah sebuah persimpangan, bagi para pejalan, karena disana ia akan memilih apakah akan memilih darat ataukah memilih laut untuk menyeberang. Pelabuhan dalam sebagian budaya memiliki makna titik awal dari sebuah keberangkatan dan titik akhir dari perjalanan seorang perantau.<br /><br />Salah satu korpus ini juga bisa menjelaskan sosok Zen dalam kaitannya dengan gambar blogsnya. "itulah sebabnya tak semua orang bisa jadi pejalan. Terlalu berat melepaskan semua yang dimiliki. Ada semacam fiksi--mungkin lebih pas disebut harapan--bahwa satu hari ketika seorang pejalan kembali, ada sejumlah hal yang menunggunya, apakah itu rumah, keluarga, kenangan atau kekasih."<br /><br />Harapan akan seseorang yang menunggunya, ternyata menjadi harapan yang tidak mengenakkan bagi sebagian pejalan, begitu ujar Zen. Karena ternyata rumah yang kita anggap menunggu kedatangan kita ternyata pintunya sudah tertutup? Bukankah menyesakkan kekasih yang kita anggap akan menunggu kepulangan kita ternyata tak memiliki cukup tenaga merentangkan kedua tangan untuk memeluk badan kita yang bau keringat perjalanan? Dua komposisi gambar, yang satu terwakili seorang bayangan saja, dan yang lain diwakili oleh empat bayangan merupakan objek yang tentu saja memiliki medan makna yang memungkinkan membentuk interpretasi-interpretasi. Apakah hal itu seperti apa yang dikatakan zen dalam korpusnya? <br /><br />Tanpa terasa, di luar warnet kabut begitu likat. Dia pun keluar setelah membayar beberapa lembar uang ribuan ke kasir. Cukup sulit merasakan waktu berlalu begitu cepat di dalam warnet. Setelah memberi kepingan koin ke tukag parkir, ia buru-buru kabur ke jalanan yang sepi. Sebelum ayam berkokok, ia harus sampai di kos serta merebahkan tubuhnya di kasur dan diantara tumpukan buku-buku yang tak pernah dia rapikan. Dia berbisik dalam hati, bahwa semiotika adalah medan interpretasi yang kemungkinannya adalah memperbesar kemungkinan makna dibalik tanda.<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-4464824465940171170?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com2tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-21550947744179034982008-05-25T05:37:00.000-07:002008-08-19T17:34:25.057-07:00Semiotika Pejajan JauhSiapa sangka gurihnya Lanting rasa bawang, membuat otak juga serasa kesenggat. Terangsang oleh racikan ketumbar, rempah-rempah yang terdapat dalam panganan khas Banyumas itu. Apa makna makanan aneh bin murah ini? Karena Eksistensialis begitu kental terasa di lidah. Kenapa jajanan gurih ini ada? Apakah semua ini nyata? Tapi rasa ini begitu kuat.<br /><br />Secara tak sengaja aku berkenalan dengan jajanan ini sewaktu dalam kereta Senja Utama Yogyakarta, ketika menuju kota Jakarta. Di saat kereta berhenti sejenak di sebuah stasiun, salah satu temanku tiba-tiba mengeluarkan uang Rp 10.000,- lalu ditukarkan pada seorang ibu—3 bungkus makanan berbentuk lingkaran-lingkaran kecil yang memenuhi satu kantong bungkus plastik, sudah ada di meja kecil kereta. “Lanting”. Begitu tulisan yang aku baca di bungkusnya.<br /><div class="fullpost"><br />Tulisan berwarna merah. Menyala, dengan pilihan font besar dan tegas. Meski jajan jalanan, rupanya pembuat lanting hendak mengabarkan ke seluruh dunia. Bahwa makanan itu gurih, renyah, halal, enak dll. Siapun pasti akan mengangguk setuju ketika, sederet angka di pojok bungkusan di eja secara seksama; Dep.kes. RI. No. 85/xx/xx/xxxx. Legalisasi sekaligus bahasa persuasif yang memiliki high power.<br /><br />Membayangkan bentuknya yang unik serta rasanya yang gurih, membuatku ingin membuatnya ada. Bereksistensi. Aku ingin membuat satu kata itu memiliki makna, tidak hany berarti. Rasa gurih. Pedas. Bentuk yang berupa lingkaran. Bahan dasar. Warna tulisan. Dan semua yang menyertai, merupakan gejala semiotika dan merupakan replika kondisi sosial.<br /><br />Sore. Langit cerah di Jakarta begitu bisu. Angin berhembus pelan, namun diam serupa rupa. Hanya umpatan yang keluar dari klakson-klakson mobil serta angkutan kota yang berjibun memenuhi perempatan sentral Senen. Aku turun dari shelter Transjakarta. Lalu berjalan ke arah utara, melewati gedung tiga tingkat yang aku baru tahu kalau itu merupakan pasar. Aku sampai di stasiun Senen dengan nafas hampir habis. Begitu haus. Begitu semu semua di hadapan. Gedung, mobil, lampu-lampu jalan, daun-daun seperti perpaduan tarian akbar dengan iringan musikalisasi senja.<br /><br />Aku sudah takut kalau ketinggalan kereta hari itu. Sebab satu jam sebelumnya, aku keluar dari kantor di Veteran dan terjebak macet yang panjang di sekitar Harmoni. Aku pasrah jika harus naik kereta berikutnya. Tapi untung, setelah membayar Rp 100.000,- di loket nomer 14, aku mendapatkan karcis dengan nomor kursi 2c dan gerbong nomor 1. Aku baru tahu kemudian, kalau kursi itu hanya kutukan bagi perjalananku.<br /><br />Dalam perjalanan Jakarta – Yogyakarta. Aku hanya menghabiskan waktu di bordes. Melonggokkan sebagian tubuh ke luar lewat jendela yang hancur kacanya. merasakan belaian angin malam yang menipu. Melihat kucuran bintang bak gelombang laut ketika pasang. Malam begitu sunyi, sehingga dengan mudah aku mencintai perjalanan itu.<br /><br />Di bordes aku membeli tiga bungkus makanan yang bernama Lanting. mencoba merasakan kembali gurih pahit yang selalu hadir dalam lingkarannya. Bagiku, lanting itu penuh makna. Perjuangan. Bak gelora revolusi. Lanting itu juga membara dalam ketidakmapanan kaum kecil. Makanan itu hanya mengkerdil. Selamanya akan mengecil. Memetik dari kehidupan kecil kaum tersingkir. Lihat bulatan lanting yang tidak simetris dan hanya berdiameter kecil.<br /><br />Loncatan rasa, tidak pernah terjadi di lidah. Berbeda dengan bentuk fisik yang bergelora oleh amarah. Rasa makanan itu terasa pelan, sebuah evolusi natural dalam proses biologi. Aku ambil satu, lalu memasukkannya dalam mulut. Awalnya aroma bawang terumbar bebas dalam udara malam. Sepersekian detik (begitu lambat) terasa di sudut lidah kegurihan perpaduan bawang dan garam yang sangat kental. Rasa itu naik ke otak secara pelan, lambat hingga kemudian terkomputerisasi campuran dan dari bahan apa lanting itu dibuat.<br /><br />Bahan dasar lanting ternyata singkong yang dihaluskan, lalu digoreng setelah dikemuli rempah-rempah dan bumbon. Bentuknya dibuat panjang serta dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil. Ada dua macam rasa, begitu menurut penjual ecer di dalam kereta; yaitu rasa gurih (bawang) serta rasa pedas. Di lidah selang beberapa lama, rasa beralih dari gurih ke agak pahit. Proses singkong-isasi mulai menjalar dari ujung lidah ke tengah. Namun, bagi penyuka kopi—seperti saya—proses ini begitu terasa nikmat.<br /><br />Di daerah Tegal – Banyumas. Kereta berhenti. Menepi ke luar jalur rel utama. Seorang penjaga stasiun mengangkat tanda stop-an merah menyala. Tanpa banyak mengolah dalam otak, masinis kereta langsung menghentikan kereta. Temanku sms, KAI = Kereta Asu Indonesia.” Mungkin itu jawaban atas smsku padanya yang berbunyi, “masak kereta bisnis rasanya hampir sama dengan kereta ekonomi.”<br /><br />Gurih adalah mimpi-mimpi dalam kehidupan yang terlampau tinggi. Sehingga banyak orang tidak mampu menggapai. Penjual asongan, penarik becak, serta banyak kaum cilik yang mengimpikan hidup makmur di negeri yang subur ini. Mata mereka melihat ke atas. Standar hidup digantung paling tinggi. Gurih dalam lanting adalah semu. Bukan realitas itu sendiri. Mereka hanya merasakan gurih sesaat, lalu pahit menyergap.<br /><br />Pahit dan gelap adalah kenyataan sebenarnya. Aku menyeruput secangkir kopi yang kubeli dari tukang asongan di atas kereta. Kopi pahit yang kunikmati dengan sebatang rokok, dan sebungkus camilan lanting. Semua berequilibrium. Begitu taste. Gurih awalnya mejajah lidah, lalu diusir rasa pahit dari singkong. Setelah seseruput kopi panas masuk menyentuh bibir, pepaduan berbagai rasa Gurih-Pahit-Manis bertumpuk membentuk realitas. Semuanya bukan karena lanting, bukan pula singkong goreng, ataupun kopi panas yang kental.<br /><br />Kehidupan. Begitu perjalanan mengajarkan padaku. Semua yang hadir didalamnya mampu menjadi bagian dari tanda yang bisa diungkap siapapun. Mengisi sedikit celah dalam rasa di dada, mengenai siapa dirinya, dan mau apa dirinya. Lanting jika hadir sendiri tanpa kopi, bukanlah apa-apa. Kita akan sadar, kini lanting adalah bagian dari kopi. Menjadi indeks bagi para pecinta kuliner dan pejajan jauh yang kebetulan singgah di kota Banyumas. Aku menyebut “harmoni rasa” dalam sebiji lanting dan seseruput kopi adalah kenyatan.<br /><br />Kereta berjalan pelan. Meninggalkan kota yang tertidur di bawah bayang-bayang kabut bukit. Sungai menciptakan jarak dengan roda kereta. Pohon-pohon hijau tampak kesepian. Petugas stasiun itu sudah lenyap dari pandangan. Aku pun menjilat sisa bumbu yang menempel di jari.<br /><br />Jakarta - Yogyakarta</div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-2155094774417903498?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com1tag:blogger.com,1999:blog-9017298649253223678.post-47472272831862109612008-05-25T05:29:00.000-07:002008-08-19T17:34:39.391-07:00Kupinang PerjalananDua pasang kekasih di bangku 4c dan 4d, gerbong paling depan. Muda-mudi yang tengah dalam pengaruh minuman paling memabukkan: Cinta! Tengah asyik membincangkan tentang komitmen hubungan mereka. Sambil sesekali beradu janji yang terucap pada setiap ciuman. Perjalanan didekatkan dalam kelopak mata. Angin bagaikan nadi mengalir berbalap dalam gelora darah.<br /><br />Dalam perjalanan pulang. Bukannya hendak aku menulis tentang kisah romantis mereka. Tapi aku ingin berbagi jaring-jaring kisah sederhana yang kudapat. Dinginnya perasaan yang beku dalam waktu yang aku rasakan. Sebuah kereta melaju dalam abjad-abjad aneh dan bahasa asing pada wilayah paling hitam.<br /><div class="fullpost"><br /><br />Dua pasang kekasih hanyalah ilusi. Nyata di bangku karcis bernomor 2c ternyata bukan mereka, melainkan ribuan jarum jam yang berlomba sampai pada angka 1. Mereka berciuman seperti adegan film yang terbungkus ruang-ruang bersekat kaca.<br /><br />Malam minus gejala-gejala kehidupan. Aku sadar, aku telah membuat kutukan bagi perjalanan ini. Mungkin karena kepergiannku dari Veteran beberapa jam sebelumnya tidak ada yang tahu. Hingga di Bus Way yang penuh sesak, terjebak kemacetan selama hampir satu jam, aku terekam pada harmoni daun kering. Veteran ke Senen yang menyiksa.<br /><br />Algojo. Berpakaian hitam dengan sebuah palu dan arit setinggi monas. Muncul tiba-tiba dalam bordes kereta. Kereta yang telah meninggalkan Jatinegara. Ikan-ikan koi meloncat dari aquarium. Warnanya yang putih tiba-tiba berubah merah. Ikan-ikan malang, membusuk dan terjemur di sebuah rel dalam setengah perjalanan. Palu dan arit menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang melihat algojo itu.<br /><br />Bagaimana akan kupinang perjalanan ini? Semua yang kutemui menjadi asing bagiku. Bagi mataku. aku sendiri juga merasakan apak luar biasa dalam udara yang terhirup paru-paru. Katak berlompatan dari sawah yang menyala-nyala hijau. Bagaikan seekor elang, katak itu terbang. Mengangkasa. Lalu hilang dalam galaksi.<br /><br />Kereta masih berjalan. Ketika sepasang kekasih membuka jendela lalu meloncat keluar. Terdengarlah teriakan I LOVE YOU MARSINAH! Di harian-harian surat kabar dan elektronik keesokan harinya. Muncullah berita Genosid. Kematian akbar paling aneh anak-anak muda yang sedang kasmaran. Sepuluh juta pasang kekasih sekitar lima belas juta meninggal dengan meloncat dari kereta. Sisanya berpesta arsenik.<br /><br />Langit yang gelap tiba-tiba merah. Rumah-rumah penduduk kelam, semua orang mematikan lampu halaman mereka. Matahari mendadak berhenti tepat di sudut 17 derajat bujur timur. Kereta masih melaju dengan sejuta kisah menarik tentang pemuda-pemudi yang bunuh diri. Sedangkan aku beku duduk di bangku 2c.<br /><br /><br />Kereta berhenti di sebuah stasiun sunyi. Bentuknya bagai bongkahan sisa candi. Dengan altar luas beralas batu kuno. Pahatan relief bergambar perempuan bermahkota, berambut panjang dan telanjang. Sebuah patung berkepala babi, lengkap dengan siung sepanjang 2 meter. Tubuhnya gemuk sepadan sepuluh gajah. Anehnya makhluk itu bersayap indah. Dengan bulu-bulu putih, dan lembut. Meski sebuah patung. Engkau akan menganggapnya nyata.<br /><br />Relief itu bagai slip film. Bergerak pelan, berputar ke samping. Sebuah cahaya berpendar muncul di samping candi. Menyorot tepat pada adegan-adegan dalam kotak relief dari batu. Seorang wanita dengan tubuhnya yang langsing, tinggi, berambut hitam panjang, berwajah sangat mempesona menarikan tarian syahwat tanpa menggunakan sehelai kain.<br /><br />Kabut lindap turun dalam bayang-bayang murung setiap orang. Kabut itu semakin tebal. Hingga kemudian menyadarkan tidurku. Aku terbangun dalam masa arkaik dengan pesona jaman eksotik. Hibriditas masa lalu dan sentuhan sains modern. Wanita berpakaian kebaya. Dan laki-laki yang hanya menggenakan penutup selangkang panjang sampai lutut. Kereta kuda yang ditarik robot-robot yang disebut Atoumatic Human. Berjejal memnuhi jalan yang hanya 3 meter lebarnya.<br /><br />Seindah lukisan Goya tentang campuran sadistis dan ramalan masa datang. Kota di sebuah stasiun kecil itu, membuatku ingin segera meloncat dari kereta. Aku duduk di bordes dengan setengah badan sudah keluar melawan angin. Malam terasa menyenggat, udara dingin menusuk. Angin membekukan kelopak mata. Darah berhenti, ketika aroma wangi ribuan bunga jadi satu dan menggodaku untuk segera meloncat. Jurang sekitar 20 meter dengan cadas batu setajam Guillete berstalagtit. Menanti hempasan tubuh yang linglung tentang siapa dirinya.<br /><br />Bayang-bayang sepasang kekasih menjadi mimpi paling buruk. Akankah aku percaya lagi pada sebuah cinta. I LOVE YOU. Lalu darah muncrat dari pergelangan tangan perempuan. Tangan satunya menarik seutas aorta. Wajahnya terlihat puas, merasakan kesakitan dalam tubuh. Itulah Cinta? Aku menemukan sisa tisu yang dipakai dua orang sial itu. Dalam tisunya, si perempuan yang ternyata bernama Kamboja. Menulis beberapa kata. Pelangi.<br /><br />Ada apa dengan pelangi. Aku buka Handphone seri terbaru yang sudah mengunduh data lewat ruang maya dengan signal GPRS. Aku ketik www.google.com. Lalu aku masukin tujuh kata nirarti, yaitu: Pelangi. Aku telpon satu-persatu Profesor yang mengajar bahasa di kampusku. Aku tanyakan apa itu pelangi? Aku juga telp semua nama yang ada di Phonebook HP, aku tanya tahu pelangi? Aku kenal seorang dosen yang mengajar Leksikologi. Aku tanya dia tahu arti leksem “pelangi”.<br /><br />Namun, dengan sangat menyesal mereka mengaku tidak tahu. Bahkan dosen leksikologi itu bilang, “wah itu kata baru, tolong dicatat. Nanti akan saya masukan dalam kamus bahasa punya saya.” Google.com juga tidak mampu memaknai apa itu pelangi. Tak ada satu kata yang berhasil ditemukan.<br /><br />Wangi dupa dari sebuah ruang berbentuk segi lima. Dengan ukiran yang menyerupai (maaf: penis) menyembul di tengah-tengah ruangan. Aku pikir itulah tenpat peribadatan bangsa arkaik yang aku jumpai saat ini. Tapi muncul juga pertanyaan, apa agama mereka?<br /><br />Bulan terbelah. Satunya bergerak ke arah barat. Satunya diam di tempat. Seorang tua melemparkan segenggam nasi tepat di sudut bulan yang retak, tepat disitulah awal bulan itu terbelah. Bulan itu pun kembali bersatu. Di barat ternyata sedang siang. Kulihat burung-burung kuntul tengah terbang dan hendak bermigrasi dari kota aneh itu.<br /><br />Hujan turun di sudut kota yang siang. Deras disertai petir yang menyambar tubuh-tubuh yang tak bernyawa. Hujan itu berubah merah. Sungai deras membanjir hingga kota arkaik terkena lalu tenggelam secara perlahan. Kereta ini masih belum beranjak.<br /><br />Hujan reda. Makhluk penjaga kuil bangun mengepakkan kedua sayapnya. Sekali kepak, mereka sirna dari pandangan. Di atas, sekitar ribuan mil, mereka tersenyum culas. Menampakkan kengerian taring-taring yang mengkilap terpantul cahaya. Dalam sisa hujan mereka kelihatan seperti mayat-mayat pucat dengan tangan tersalip. Hujan reda lalu di ujung pulau keluar cahaya. Itukah pelangi?<br /><br />Pelangi itu berwarna kelabu. Ya hanya kelabu. Semua penduduk kota murung. Sendu, bahkan sebagian dari mereka menangis. Mereka menghunus keris dengan arsenik masih menetes bagai bisa sebuah ular. Baunya tercium sangat keras. Beramai-ramai mereka goreskan pada lengan. Mereka congkel nadi masing-masing. Semua mati.<br /><br />Sekali lagi mimpiku tentang kematian. Entah petanda apa. Tapi aku yakin, semua hanyalah puzzle yang akan bersatu membentuk satu cerita. Semua hal yang aku rasakan hanyalah sepenggal tanda. Hidup adalah perbuatan. Perbuatan memaknai tanda. Kereta berjalan pelan meninggalkan kota kuno itu. Di bangku 7c (setelah aku pindah dari bangku terkutuk) aku memandang keluar. Mayat-mayat tergelatak begitu saja. Bayi-bayi menangis menacari puting ibunya yang terbungkus jarit. Sayangnya, ibu mereka hanya diam karena sudah menjadi mayat.<br /><br />Jakarta – Yogyakarta, 22 Mei 2008</div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9017298649253223678-4747227283186210961?l=theworldisword.blogspot.com'/></div>jalan-setapakhttp://www.blogger.com/profile/04256277000020538867green_gaia@lycos.com1