tag:blogger.com,1999:blog-8839552027344250017.post-28709770361851314662007-12-27T15:37:00.000-08:002007-12-27T18:15:39.670-08:00Agama dalam FilmDua hari, saya menghabiskan 7-an judul film baik yang selesai maupun tidak selesai. Diantaranya <em>Bobby</em> (biografi kennedy), juga <em>pirates of caribean 3</em>, juga <em>delta farce</em> yang merupakan komedi slapstik yang bosok (bukan <em>delta force</em>, farce di sini setelah saya cari di kamus artinya sandiwara lawak).<br />Dari film yang saya tonton ada dua yang kuat muatan agamanya. Film bermuatan agama, bukan film agama.<br /><ul><li><strong>Evan Almighty</strong><br />Film ini tentang seorang senator (bagi yang tidak tahu, di Indonesianya senator itu nggota DPR) yang dalam kampanyenya menjanjikan mengubah dunia. Akhirnya dia ini didatangi oleh “Tuhan”, tuhan yang dibadankan, untuk megubah dunia. Pemeran “Tuhan” di sini saya lupa, tapi itu pemeran pada film <em>almighty</em> sebelumnya.<br />6:14, ini adalah ayat dalam Injil yang berisi seruan Tuhan pada Nuh untuk membuat bahtera. Maka Evan, si “Noah modern” ini melalui perintah penuh kegaiban dan keajaiban diberi wahyu untuk menjalankan perintah 614 ini juga, yaitu membuat bahtera besar.<br />Mengangkat cerita Nuh ini kedalam versi modrnnya tentu akan menimbulkan beberapa bagian yang tidak masuk akal, atau sedikit tidak bersesuai dengan pengetahuan pemirsa. Tapi sedikitnya ada beberapa bagian yang seolah ingin disampaikan, ternyata memang sulit juga untuk mempercayai sebuah ajakan yang ganjil dan aneh. Dan tentu saja bila kita yang menjadi objek seruan, menjadi umat yang berposisi mendengar dan melihat perintah dan perbuatan sang nabi, itu sangat sulit, bahkan kita akan menyangka nabi itu gila atau stress. Demikian yang terlukis di film itu.<br />Tapi itu film lo, cuma imajinasi…</li></ul><p><span style="font-size:78%;"></span> </p><ul><li><strong>Souf-souf habibi</strong><br />Film kedua yang bermuatan agama ialah Souf-Souf Habibi. Yang ini cerita imigran muslim asal Maroko. Di negeri asalnya diceritakan mereka hidup terbelakang (disimbolkan dengan menertawakan cerita bahwa telah ada manusia yang telah menjejakkan kaki ke bulan).<br />Satu keluarga imigran muslim ini tinggal di Belanda dan memiliki masalah dengan perbedaan kultur, mereka menjadi gagap budaya. Meraka adalah kaum minoritas, hidup dalam tekanan kultur, anak yang bandel dan lebih “belanda”, anak wanita yang melepas tutup kepala, anak lelaki yang meninggalkan shalat, juga suami yang stres, dan istri pemarah. Dan masalah lain yang timbul ialah masalah menjaga kesucian dan kehormatan seorang wanita di tengah lingkungan yang <em>free sex.<br /></em>Ironi lain yang “lucu” lagi ialah ketika si pemeran utama, Ali kembali ke Maroko untuk mencari wanita yang “masih suci”, ada seorang gadis, kakak dari wanita pilihannya menangis minta dinikahi. Seakan dinikahi itu akan membawanya pada kebebasan. Tragik komedi…<br />Getir mungkin… tapi mau bagaimana lagi?<br />Akh, jangankan mereka yang merupakan imigran, kaum minoritas. Di suatu negara yang mayoritas pun masih sering terjadi muslim yang gagap budaya. Tertatih-tatih mo menyesuaikan diri ada yang menjadi<em> introvert</em> dan malah ada yang mati-matian menyerukan kebebasan dalam pemikiran agama.</li></ul><p><br />Film dan agama. Ya, film adalah pencitraan. Alat untuk menampilkan imajinasi dan kenyataan. Dua film diatas berada pada dua sisi, satu cendrung ke imajinasi dan yang lain cendrung lebih realistis. Tapi setidaknya keduanya menunjukkan bahwa agama masih menjadi masalah, lebih halusnya agama masih menjadi bahan perenungan…</p>bodroxhttp://www.blogger.com/profile/08688666542786824693noreply@blogger.com