tag:blogger.com,1999:blog-87084297431535840232009-05-25T20:48:01.419-07:00Komunitas Seni KufletPADANGPANJANG-SUMATERA BARAT Sekretariat: Jln. Bundo kanduang No.35 Padangpanjang HP.081393286671 Email:sjdoesy@gmail.comkomunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.comBlogger64125tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-5460322318213051292009-05-25T20:40:00.000-07:002009-05-25T20:48:01.428-07:00PUISI-PUISI SULAIMAN JUNEDKarya: Sulaiman Juned <br /><br /><br />TARIAN BULAN<br /><br />langit menangis<br />renyah. Galau bulan<br />mandi di danau. Gerimis menari-nari<br />angin jalang memekatkan jiwa<br />rupa hilang dalam kelam waktu.<br /><br />langit menangis<br />rinai .Risau bulan<br />mengeram di danau. Tarian sukma <br />memabukkan bintang selepas bertarung menempuh<br />badai, aku sempatkan menjenguk rumah<br />(Tuhan, senyap-sepi dalam keramaian)<br /> <br /> -Malalo, 2009-<br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned<br /><br />SEBUT SAJA NAMAKU; MAWAR<br /><br />terlambat<br />mengeja tasbih di bibir<br />angkuh. Menyekap jejak tubuh<br />zikir-pikir meluruh.<br /><br />terlambat<br />mengeja jiwa terluka di ujung<br />bulan. Kemana sembunyikan getir<br />durinya tertancap kulit-daging-hati.<br /><br />terlambat<br />mengeja namamu. Aku sebut saja <br />mawar biar sempurna segala kisah.<br /><br /> -Padangpanjang, 2009-<br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned<br />DEBU BULAN<br /><br />ah!<br />menempel debu di jiwa.<br /><br /> -Padangpanjang, 2009-<br /><br /><br /><br />Sulaiman Juned<br /><br />JIKA AIR BERUMAH DI PASIE LAWEH<br /><br />jika air berumah<br />di kampung- di pasar- di sawah- di ladang langit menangis<br />renyah. Galau bulan mandi galodo. Gerimis<br />menari-nari angin jalang memekatkan jiwa<br />rupa hilang dalam kelam waktu.<br /><br />jika air berumah<br />di rumah gadang- di toko- di mushalla-di masjid langit menangis<br />rinai .Matahari risau mengeram galodo. Tarian sukma<br />memabukkannya selepas bertarung menempuh badai.<br /><br />jika air berumah<br />di jiwa. Salak srigala dan kicau burung<br />membunuh bintang-turun ke nurani jadi galodo<br />kitapun hanya mampu berumah dipikiran<br />tentang kisah getir Pasie Laweh barangkali ada yang mengetuk pintu<br />mengurung ombak di dada menghamburkan luka. Kenapa kita<br />lupa pada cuaca putih mengelus hati meluruh. Kenapa kita<br />tinggalkan awan putih mengantar rindu ke pintu surga. Kenapa kita<br />lupa pada air bersemanyam di kalbu mengantar rindu pada-Mu ya Rabbi. <br /><br />jika air berumah<br />di gelung hati sedang di luar kabut mengental. Menyusup nadi<br />bergantung di pucuk daun. Mengurung samudera pikiran<br />kemana tuangkan duka tumpahkan gelisah<br />O, hati yang resah bersabarlah<br />pucuk angin pasti membelai dada<br />O, hati yang gundah bersabarlah<br />matahari pasti singgah digubuk kita<br />O, hati yang gulita bersabarlah<br />sebentar lagi sabit pasti purnama<br />menjemput segala senyum di kening bulan.<br />Aku sempatkan menjenguk rumah yang Kau rubah jadi galodo<br />kusaksikan tuhan tersenyum getir dalam senyap-sepi keramaian.<br /> <br /> Batusangkar, 31 Maret 2009<br /><br />Catatan:1.Galodo (bahasa Minang = Longsor) Bencana itu terjadi pada hari Senin <br />tanggal 30 Maret 2009, di Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 2. Pasie Laweh = Nama desa yang terparah terkena bencana tersebut. <br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned<br /><br />LADANG BATU<br /><br />terlambat<br />mengeja tasbih di bibir<br />angkuh. Menyekap jejak tubuh<br />zikir-pikir meluruh Balai Losa berladang batu<br /><br />terlambat<br />mengeja jiwa terluka di ujung<br />bulan. Kemana sembunyikan getir<br />durinya tertancap kulit-daging-hati rakyat PasieLaweh<br />Balai Losa jadi ladang batu-air dan lumpur. <br /><br /><br />terlambat<br />mengeja nama-Mu. Saksikan Balai Losa jadi ladang batu<br />pekik-tangis menyatu dalam gemuruh lahar dingin merapi<br />aku hanya mampu mengantar mawar biar sempurna segala kisah <br />Itulah kami ya Allah yang angkuh dan pongah <br />sering lupa jika sedang dirundung bahagia<br />hilang ingat jika sedang berpesta. Tak tahu diri<br />jika sedang berkuasa alpa melaut di sajadah <br />menjenguk wajah-Mu. Sekali lagi maafkanlah <br />(kita hanya debu ditelunjuk Alllah ya Allah).<br /><br /> Batusangkar, 5 April 2009<br /><br /><br />Catatan: Balai Losa (Bahasa Minang = Pekan Selasa). <br />Merupakan sebuah pasar tradisional yang berada di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar yang sekarang di timbun oleh pasca longsor.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-546032231821305129?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-60879757044029678302009-05-25T20:33:00.000-07:002009-05-25T20:39:22.217-07:00Naskah Lakon:<br /><br /><br /><br />JAMBO "Inong Balee"<br />Karya: Wiko Antoni/Sulaiman Juned<br />Sutradara:Sulaiman Juned<br />Asisten Sutradara: Elvira Anggraini<br /> <br /><br /><br /><br />Penokohan:<br /><br />Zakiah<br />Azizah<br />Hamidah<br />Hayati<br /><br /><br /><br /><br /><br />Sinopsis:<br />Menggendong peradaban luka<br />dalam babakan sejarah merindui<br />peruntungan jiwa di sudut hening<br />kita bergelut memungut wajah<br />yang terpasung ritus topeng.<br /><br /><br /><br /><br />Catatan Filosofi ’Inong Balee':<br />dalam sansai nyeri <br />di sukma. Menghitung timbunan tanah<br />sementara kita saling memangsa<br />Ah!<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />JAMBO (INONG BALEE)<br />Karya: Wiko Antoni/Sulaiman Juned<br /><br /><br /><br />JAMBO (DANGAU). DI SILHUET DUA PENARI SEUDATI DENGAN GERAK PEULOT MANOK. SAYUP-SAYUP TERDENGAR LAGU SEULANGA KARYA RAFLI. AZIZAH DUDUK DI JAMBO SAMBIL MENGANYAM TIKAR, MATANYA SESEKALI MEMANDANG LEPAS KE BALIK BUKIT- TANPA DISADARI AIRMATANYA TELAH MEMBASAHI PIPI. AZIZAH MASUK. <br /><br />01. Azizah<br />Kaseb! Sudahlah Zakiah. Biarkan suamimu menemukan kedamaian disisi yang kuasa. Tak ada guna membasahi bumi dengan air mata. Cukup isak, jadi komposisi musik duka lara tanah rencong. Api tak padam oleh air mata.<br /><br />02. Zakiah<br />Api dihati tentu tak padam. Luka tak reda sakitnya bila menahan nyanyian kematian.<br /><br />03. Azizah<br />Nyanyian kematian, milik yang kuasa. Kita dilarang mendendangkannya. Hentikan simponi airmata, nadanya terasa sangat sumbang. Kurasa kita harus segera menentang badai, rapatkan barisan menyongsong maut, menegakkan sendi kebenaran demi Aceh tercinta.<br /><br />04. Zakiah<br />Piyoh Dilee. Tunggu dulu. Hanya dengan kekuatan wanita, apa yang dapat kita lakukan. Jangan bermimpi melakukan perlawanan bila tak memiliki kekuatan.<br /><br />05. Azizah<br />Mimpi adalah kesadaran dalam ketidaksadaran. Sekarang waktunya mengakhiri mimpi buruk yang bertahun-tahun menidurkan bangsa ini dalam kepedihan. Kita harus bangkit menemukan kesadaran.<br /><br />06. Zakiah<br />Kesadaran macam apa yang kau inginkan. Kematian bukan kesadaran tapi akhir sebuah perjuangan. Kurasa masih ada cara menghindari pertumpahan darah, dan sabit suatu saat pasti purnama. Bersabarlah.<br /> <br />07. Azizah<br />Saba! Kesabaran dan pengecut, sedikit bedanya. (MENGEJEK) Kurasa kau bukan pengecut yang lari dari maut. Kita harus segera menyongsong kenyataan, bukankah sejak dari endatu kita perang suci tidak hanya dilakukan oleh kaum Adam saja.<br /><br /><br />08. Zakiah<br />Berani dan gegabah, sedikit bedanya. Aku tak punya suami lagi, bila aku mati siapa yang mengurus anak-anakku. <br /><br />09.Azizah<br />(CEPAT MEMOTONG SAMBIL TERTAWA). Untuk apa anak-anak kita diurus. Sebentar lagi mereka juga mati oleh peluru tak bermata.<br /><br />10. Zakiah<br />(MENAHAN GERAM). Peluru memang tak bermata, tapi manusia punya kaki untuk lari dari maut.<br /><br />11. Azizah<br />Lari. (TERTAWA LEPAS). Lari katamu, langit tak ada tangganya. Hanya ada dua pilihan, mati terhormat atau mati menjadi pengkhianat.<br /><br />12. Zakiah<br />Terlalu mudah mengambil keputusan bukan ciri manusia bijaksana.<br /><br />13. Azizah<br />Pengecut juga bukan sikap bijaksana.<br /><br />14. Zakiah<br />Berpikir dan bertindak merupakan ciri kebijaksanaan. Sementara bertindak tanpa pikiran adalah kesia-siaan.<br /><br />15. Azizah<br />Hidup ini adalah rangkaian keniscayaan. Siapa yang dapat menebak nasibnya. Siapa yang tahu kemalangan akan menimpa. Aku tak pernah menduga suamiku direnggut nyawanya oleh paskukan upah. Padahal saat kejadian ia pergi menjual hasil kebun, diiperjalanan kaum Ateuh meminta mengantar dagangan ke pinggir hutan. Saat kembali ia disekap oleh pasukan Upah, dipaksa mengaku kemudian dipukuli. (MENANGIS) Sejak itu, ia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Memang, tetangga iri padanya, orang itu ingin membeli hasil kebun kami dengan murah, tapi suamiku menjual kepada orang lain. Orang itu melaporkan suamiku pada Upah. Sudah sering Upah menanyakan persembunyian kaum Ateuh padanya, ia memang tidak tahu apa yang harus ia jelaskan. (MARAH) Pasukan Upah itu seolah-olah Tuhan, apa yang diperintahkan harus diikuti, apa yang ditanya wajib dijawab. Aku harus membalas mereka, harus!<br /><br />16. Zakiah<br />Itu kesalahan-pahaman, bukan. Jadi, orang yang iri kepada suamimu itu yang harus kau balas. Upah hanya melaksanakan tugas memburu kaum Ateuh.<br /><br />17. Azizah<br />(KAGET. MARAH) Suamimu dibunuh Upah kan. Mengapa malah membela Upah. Kau lihat Upah-Upah itu menjadikan dirinya Tuhan dinegeri ini. Mencabut nyawa siapapun yang ia kehendaki, memukul orang yang tidak bersalah, memperkosa. Aku pernah jadi korban kebiadaban nafsu mereka, (MARAH BERCAMPUR SEDIH) bila upah-upah itu aku temukan tanpa pandang bulu, berkeinginan aku untuk membalas dendam. Mereka harus mati. (MENATAP ZAKIAH) apakah perlakuan merampas kehormatanku dihadapan suami saat dia sakit, dapat dibenarkan.<br /><br />18. Zakiah<br />Itu tidak dapat dibenarkan. Mereka hanya orang suruhan, diperintah untuk melakukan intimidasi kepada siapa saja. Begitulah cara mereka mengorek informasi tentang keberadaan kaum Ateuh. Mereka hanya menjalankan tugas sesuai perintah atasan, bila diperintah memperkosa, ia pasti lakukan, dapat perintah membunuh itupun musti dilakukan. <br /><br />19. Azizah<br />Prak Laju. Omong kosong. Aku tak mengerti jalan pikiranmu, kau terlalu lemah dan pengecut!<br /><br />20. Zakiah<br />Meunoe. Begini maksudku, kita masih bisa berharap para Upah itu meninggalkan negeri ini tanpa memperbanyak korban. Kurasa sama dengan hukum berburu, pemilik anjing harus kita paksa mengikat anjingnya.<br /><br />21. Azizah<br />(JENGKEL) Sabar, sampai kapan! Terlalu sabar membiarkan dirimu menjadi korban.<br /><br />22. Zakiah<br />Terlalu pemarah akan dikorbankan. Seperti suamiku dan iparnya, tak mampu menahan diri dari kemarahan, terpaksa jadi korban kegegabahannya. Sementara perjuangan masih panjang, ia sudah buru-buru menuju surga.<br /><br />23. Azizah<br />(MARAH) Terlalu! Kau menghina mereka yang mengorbankan nyawa untuk masa depan negeri ini. (MENATAP TAJAM) apa kau sudah tidak waras.<br /><br />24. Zakiah<br />(TERSENYUM MIRIS). Cobalah berpikir sehat. Jangan memperturutkan amarah.<br /><br />25. Azizah<br />(MENGGERUTU). Dasar bodoh! Pengecut!<br /><br />26. Zakiah<br />Membiarkan diri masuk perangkap lebih bodoh lagi. Para Upah memasang jaring di setiap sudut, bila salah melangkah selesailah riwayatmu.<br />27. Azizah<br />(MARAH) Beu kah! Pengecut kau! Tidak berani menghadapi kenyataan.<br /><br />28. Zakiah<br />Kau yang berjiwa kerdil. Bertindak tanpa pertimbangan, pergi sana! Angkat senjatamu, lawan M-16 itu dengan rencong, serang tank dan panser dengan sabit pembabat rumput. Ayo, tunggu apa lagi.<br /><br />29. Azizah<br />(GAGAP). Setidaknya aku punya semangat. Semangat, senjata untuk mengalahkan apa saja, satu lagi aku punya keyakinan dan iman. Iman tameng menyongsong maut.<br /><br />30. Zakiah<br />Semangat hanya berguna sebagai senjata bagi orang yang cerdas. Sementara iman untuk penyeimbang bagi orang yang berakal. Kita tak bisa mempergunakannya tanpa perhitungan. Bila salah dalam memakai kita sendiri yang hancur tanpa mendapatkan apa yang diingini.<br /><br />31. Azizah<br />(MENATAP DENGAN JENGKEL) Kurasa kau tak pantas hidup dijaman seperti ini. Kau tak belajar pada alam, semut saja bila dinjak pasti menggigit.<br /><br />32. Zakiah<br />Aku bukan semut.<br /><br />33. Azizah<br />Kau lebih bodoh dari semut. Membiarkan diri jadi korban penindasan.<br /><br />34. Zakiah<br />Manusia berbeda dengan semut. Semut sekali menggigit setelah itu mati oleh orang yang digigitnya. Manusia memiliki pikiran sementara semut tidak, jadi aku tidak mau belajar pada semut.<br /><br />35. Azizah<br />Pengecut! Pandai membalikan kata-kata. Bilang saja kau takut mati, ya kan.<br /><br />36. Zakiah<br />Semua yang bernyawa pasti mati. Aku tak mau mati konyol, sedangkan perjuangan masih panjang. (BERPIKIR) cobalah bedakan pengecut dengan berpikir agar tahu beda berani dengan gegabah.<br /><br />37. Azizah<br />Pengecut selalu jadikan berpikir sebagai alasan untuk menghindari perlawanan.<br /><br /><br /><br />--------------------------------------------------------------------------------- <br />HAYATI MUNCUL SAMBIL MENYANYIKAN LAGU SEULANGA KARYA RAFLI SESEKALI DIIRINGI TAWA DAN PEKIKAN HISTERIS. AZIZAH DAN ZAKIAH MEMPERHATIKAN HAYATI.<br />---------------------------------------------------------------------------------<br />38. Hayati<br />(ASYIK DENGAN RAMBUT KUSAMNYA) Cut bang. Pulang bang, cut dek rindu sekali padamu. Wah gagah sekali kau pakai baju itu. Ini senjata ya, bisa untuk menembak rusa bang. Kalau sewaktu-waktu berburu, Cut dek ikut bang. Bang jangan ikut-ikutan mereka lagi ya bang, Cut dek takut, pasukan Upah itu sering tanyai Cut bang sama Cut dek. Jangan ke hutan lagi ya bang, kalau mereka bunuh Cut bang siapa yang mengurus anak kita nanti.....(MENANGIS).<br /><br />39. Azizah<br />Kasihan sekali, sudah banyak perempuan seperti ini di kampung kita. Ini akibat kesabaran yang berlebihan.<br /><br />40. Zakiah<br />Bukan. Ini akibat tak mampu membedakan makna keberanian dengan kegegabahan. Para lelaki menganggap mereka pemberani bila mati di medan perang. Mereka kira para wanita bangga bila suaminya gugur. Nyatanya, kita menderita tanpa mereka. Menahan kerinduan dan kesedihan serta sendiri mengurus anak-anak. Perlawanan tanpa pehitungan akan menambah korban.<br /><br />41. Azizah<br />Dasar egois! Tak mau menerima pendapat orang lain.<br /><br />42. Zakiah<br />Kau yang keras kepala tak mau diajak berpikir jernih.<br /><br />43. Azizah<br />(MARAH). Kau memang....<br /><br />44. hayati<br />(MEMOTONG CEPAT) Hei! Kenapa kalian bertengkar. Dengar! Kata orang kaum Ateuh turun gunung, suami kita kan pulang. Nah, sekarang temani aku ke pinggir hutan. Aku mau jemput suamiku. Ayo temani aku, aku takut jika ada suara tembakan senjata.<br /><br />45. Zakiah<br />Tenanglah, siapa namamu.<br /><br />46. Hayati<br />(MENYAHUT DENGAN LUGU). Hayati.<br /><br />47. Zakiah<br />Pulanglah, nanti suamimu pasti susul kau ke rumah. Aku kenal dia, anaknya Cut Maryam tapi aku tak kenal suaminya. Kata orang suaminya tewas di Sigli, namun tak sekalipun orang kampung lihat suaminya. Mungkin karena pulang malam hari, barangkali.<br /><br />48. Azizah<br />Tak penting! Ada yang lebih penting, bagaimana caranya agar dia berkenan untuk pulang agar tak terlibat kontak senjata.<br /><br />49. Zakiah <br />Pulanglah, nanti suamimu susul kau ke rumah.<br /><br />50. Azizah<br />Jangan dengar dia. Orang bilang suaminya sudah lama gugur di medan perang.<br /><br />51. Zakiah<br />(MARAH) Kau menambah beban penderitaannya.<br /><br />52. Azizah<br />Kurasa ia sembuh jika mengetahui kenyataan.<br /><br />53. Zakiah<br />Kenyataanya adalah dirinya. Kau harus pahami itu.<br /><br />54. Azizah<br />Memahami orang gila. (TERTAWA SINIS) kurasa kau sudah mulai gila pula.<br /><br />55. Zakiah<br />Jaga mulutmu!<br /><br />56. Azizah<br />O, marah rupanya. Kukira kau orang yang penyabar, tadi kau mengajariku tentang kesabaran. Kenapa baru segitu saja sudah marah.<br /><br />57. Zakiah<br />(KESAL. MENGANCAM DENGAN RENCONG). Kurang ajar, kubunuh kalau masih berani menghinaku.<br /><br />58. Hayati<br />(TERTAWA). Mengapa kalian bertengkar, jangan begitu. Aku mau minta tolong, temani aku menjemput suamiku (MENARIK TANGAN AZIZAH) Aku sangat rindu padanya.<br /><br />59. Azizah<br />(MENGHARDIK) Percuma! Suamimu mati ditangan Upah. Pulang sana, aku tak mau terlibat mengurusmu kalau ditempat ini kontak senjata.<br /><br />60. Hayati<br />Kontak senjata (TERTAWA GIRANG). Wah! Bila ada kontak senjata disini, pasti suamiku salah satu dari mereka yang bertempur. Aku akan kejar dia, memeluknya. Wah pahlawanku, gagah sekali dia di medan perang. Akan kutumpahkan segala kerinduanku padanya. Semoga itu semua cepat terjadi.<br /><br />61. Azizah<br />Dasar orang gila, tak mengerti kenyataan.<br /><br />62. Zakiah<br />Sudah aku katakan. Kenyataannya adalah dirinya sendiri. Kau tak pernah bisa memaksa masuk pada kenyataannya. <br /><br />63. Azizah<br />Kenyataan yang gila. Ya, sudah! Kurasa aku tak perlu menjelaskan bagaimana kenyataan yang sebenarnya kepada orang gila.<br /><br />64. Zakiah<br />Pulanglah Hayati. Berikan anakmu kasih sayang.<br /><br />65. Azizah<br />(TERTAWA MENGEJEK). Anaknya baru saja tewas, saat rumah dibakar orang tak dikenal seminggu yang lalu. <br /><br />66. Zakiah<br />(MENGHARDIK). Diamlah! Kau selalu mencampuri urusanku. Aku sedang membujuknya agar ia pulang. Aku tak mau dia mati konyol.<br /><br />67. Hayati<br />(BERLARI. MENUNJUK PENONTON DENGAN MARAH). Tidak! Kalian bohong semua. Suamiku tidak mati. Suamiku masih hidup, sebelum berangkat ia berjanji cepat kembali. Dia tidak bohong, suamiku bukan lelaki pendusta, ia pasti kembali. Selama hidup dengannya tak sekalipun membohongiku. (MENANGIS). Tidak! Jangan katakan ia mati, ia masih hidup (MENGELUARKAN RENCONG). Kubunuh kau bila bilang suamiku telah mati.<br /><br />68. Azizah<br />Berisik! Hei orang gila. Walaupun kau berteriak setinggi langit suamimu tak akan kembali. Ia sudah terkubur di bumi.<br /><br />69. Zakiah<br />Diamlah!<br /><br />70. Azizah<br />Ia harus mengerti kenyataan. Kita tak boleh membiarkannya dibayangi harapan-harapan.<br /><br />71. Zakiah<br />Setidaknya ia masih dapat menikmati alamnya sendiri.<br /><br />72. Azizah<br />Alamnya itu, mimpi yang tak pernah nyata.<br /><br />73. Zakiah<br />Lebih baik ia bermimpi daripada tersiksa oleh kenyataan.<br /> <br />74. Azizah<br />Kenyataan itu, sakit. Ia harus menerima bahwa hidup rangkaian kesakitan-kesakitan. Jadi berhentilah membiarkannya berpimpi. Berikan kesadaran dan biarkan ia nikmati kenyataan sebagaimana mestinya.<br /><br />75. Zakiah<br />Membuka kenyataan untuknya, membawa dia hidup dalam kematian. Seperti yang kita rasakan sekarang (MENARIK NAFAS PANJANG). Biarkan dia. Aku tak rela ia ikut tersiksa oleh kenyataan<br /><br />76. Azizah<br />Justru kau yang tak kasihan, membiarkannya terus-terusan bermimpi.<br /><br />77. Zakiah<br />Mimpi itu, kenyataan dirinya.<br /><br />78. Azizah<br />Kenyataan tak pernah ada.<br /><br />79. Zakiah<br />Ada dan tiada, tergantung bagaimana memandangnya.<br /><br />80. Azizah<br />Persepsi orang gila. Memandang hidup dengan gila. Kegilaan yang paling gila ketika menyakini sesuatu ke-ada-an yang sebenarnya tidak ada.<br /><br />81. Hayati<br />(HAYATI TERTAWA KERAS. MEMAINKAN RENCONG SEPERTI MENIMANG ANAK). Oh, Cut bang. Kapan kau pulang. Apa? Kau pandai sekali membuat hatiku bahagia. Bang anak kita sudah lahir, sejak Cut Bang pergi aku urus semua sendiri, tapi tak mengapa yang penting kau sudah pulang sekarang bang. Lihat ini bang (MENINABOBOKKAN ANAK DENGAN SYAIR DODA IDI ACEH) Siapa kau beri nama anak kita bang. Aku beri nama Brahim, Cut bang setuju kan? Ini bang (MENYERAHKAN RENCONG) Apa?! Kau tak mau menggendongnya. Kenapa kau bang, tidak ingin memeluknya, apa tak suka padanya. (MENELITI) Bang mengapa hanya diam. (MENANGIS) Kau mau ke hutan lagi, jangan bang. Tinggallah dulu barang dua hari dikampung, aku masih rindu padamu. Jangan pergi bang, jangan tinggalkan aku (HISTERIS) jangan! Aku belum puas bermanja denganmu.<br /><br />82. Azizah<br />(MENANGIS) Aku tak tahu harus berbuat apa kalau sudah begini. (ZAKIAH HANYA MENATAP KOSONG. AIR MATANYA MENGALIR DI PIPI). Zakiah, aku bicara padamu. (ZAKIAH MENYEKA MATANYA YANG BASAH). Zakiah! Kau dengar aku.<br /><br />83. Zakiah<br />(TERSENTAK. MARAH) Aku dengar! Tidakkah bisa berhenti menggerutu. Aku bosan dengan plintat-plintutmu.<br /><br />84. Azizah<br />Baiklah, aku diam.<br /><br />85. Hayati<br />(GEMBIRA. TERTAWA) lihat. Itu suamiku pulang. Cut bang! Cut Bang! (BERLARI KE SILHUET. AZIZAH MENGEJARNYA ).<br /><br />86. Azizah<br />Tenanglah hayati. Itu hanya sebatang pohon mati, tenanglah. (HAYATI MERONTA-RONTA). <br /><br />87. Hayati<br />Lepas! Itu suamiku. Dia datang dengan sepasukan anak buahnya, gagah sekali kelihatannya. Kau tak melihatnya, apa sudah buta, jelas aku melihatnya. Cut bang! Cut Bang! Aku disini.<br /><br />88. Azizah<br />Tidak ada apa-apa hayati.<br /><br />89. Hayati<br />Wah! Sudah benar-benar buta. Lihat disana, yang memimpin pasukan itu kan suamiku. Cut bang! Cut Bang! Kesini bang.<br /><br />90. Azizah<br />Yang kau tunjuk itu, pohon mati.<br /><br />91. Hayati<br />Bukan! Itu suamiku. Minggir kau (MERONTA MELEPASKAN PEGANGAN AZIZAH). Kau menghalangiku menyongsongnya.<br /><br />92. Azizah<br />Tidak ada apa-apa. Zakiah, tolong aku. Bujuk dia agar tidak berlari.<br /><br />93. Zakiah<br />Lepaskan saja dia. <br /><br />94. Azizah<br />Kau sudah kehilangan kewarasanmu rupanya. Kalau dia lari ke pohon kering itu, ia akan jatuh ke jurang. Bukankah kau tahu di balik pohon itu ada jurang yang sangat dalam.<br /><br />95. Zakiah<br />Biarkan saja dia jatuh agar terlepas dari penderitaannya.<br /><br />96. Azizah<br />Kau memang sudah gila, kalau dia jatuh dia pasti mati.<br /><br />97. Zakiah<br />Itu yang kau mau, kan. Kalau dia mati tentu berakhir semua deritanya.<br /><br />98. Azizah<br />Tolong aku. Ayo! Aku tak kuat menahannya.<br /><br />99. Zakiah<br />(MEMBENTAK) Lepaskan saja. Kalau dia jatuh usailah mimpi dan penderitaannya.<br /><br />100. Azizah<br />Kau yakin.<br /><br />101. Zakiah<br />Yakin apa.<br /><br />102. Azizah<br />Yakin dia akan bebas dari mimpi-mimpinya.<br /><br />103. Zakiah<br />Kalau tak percaya, pegang saja dia sampai bosan.<br /><br />104. Azizah<br />Pergilah. (HAYATI TERSENYUM). Aku tak menghalangimu. (TERTAWA) kenapa kau menertawaiku. Ayo pergi sana!<br /><br />105. Hayati<br />Aku membohongimu. Aku tak melihat apa-apa disana. (ZAKIAH TERTAWA).<br /><br />106. Azizah<br />(JENGKEL). Ek leumo kah. (HAYATI TERTAWA LIRIH) Dasar perempuan gila.<br /><br />107. Hayati<br />(SERIUS). Aku tidak gila. Kau yang gila.<br />108. Azizah<br />Beraninya kau menghinaku. Aku waras, kau yang gila.<br /><br />109. Hayati<br />(MENYEKAP AZIZAH. LALU MENGANCAM DENGAN RENCONG). Kau perempuan gila. Mengakulah kalau kau gila atau kutusuk urat lehermu dengan rencong.<br /><br />110. Azizah<br />Zakiah, tolong aku.<br /><br />111. Zakiah<br />Turuti saja kemauannya.<br /><br />112. Azizah<br />Tapi aku tidak gila.<br /><br />113. Zakiah<br />Pilih waras tapi mati atau pilih gila tetap hidup.<br /><br />114. Azizah<br />(BERPIKIR. GAGAP) ya, kuakui. Aku memang gila.<br /><br />115. Hayati<br />(MENDORONG AZIZAH. TERTAWA BANGGA). Sudah aku duga. Kau memang gila. Tak perlu kau ulangi lagi. Orang gila memang tak mampu melihat siapa yang sebenarnya waras. Orang waras selalu saja menumpang kenikmatan pada kegilaan orang gila. (HAYATI TERTAWA PANJANG). <br /><br />TERDENGAR SUARA HELIKOPTER, BERHENTI.LALU SUARA TEMBAKAN MENGGELEGAR SALING BERSAHUTAN.<br /><br />116. Azizah<br />Zakiah, ayo kita tinggalkan tempat ini.<br /><br />117. Zakiah<br />Mengapa musti pergi. Aku menunggu laporan anak buahku.<br /><br />118. Azizah<br />Apa maksudmu. Kau pemimpin pasukan Inong Balee. (TERSINGGUNG). Enak saja menunggu anak buah, memangnya siapa kau. Ayo tinggalkan tempat ini. (KEPADA HAYATI) hei orang gila, ayo kita pergi.<br /><br />119. Zakiah<br />(TENANG. MENAHAN KEMARAHAN). Bukankah kau mau melawan. Ayo pergi ke balik bukit itu, disana anak buahku sedang kontak senjata dengan para Upah (MENGELUARKAN PISTOL DARI BALIK BAJUNYA. DAN IA MENGAMBIL SENJATA LARAS PANJANG, DIBAWAH NTIKAR YANG SEDANG DIANYAMNYA). Ini ambil, kau tak mungkin melawan mereka dengan rencong. Mereka pakai panser dan tank.<br /><br />120. Azizah<br />Kau panglima Inong Balee.<br /><br />121. Zakiah<br />Tak perlu aku katakan padamu. Apa yang kau anjurkan telah lama aku perjuangkan. Aku tak suka banyak omong, persoalan tak selesai dengan omong kosong seperti itu. (MENATAP JAUH) Siapa yang sedang berjalan kemari.<br /><br />122. Hayati<br />(TENANG). Aku mau cerita padamu Zakiah. Tentang seorang lelaki tanah rencong yang bekerja sebagai Upah. Terkapar di tengah jalan tanpa kepala. Orang-orang mengenalinya karena nama dan alamat kesatuan yang melekat dipakaian.<br /><br />123. Zakiah<br />Apa maksudmu?<br /><br />124. Hayati<br />Istri perempuan itu adalah.........(HAMIDAH MUNCUL DISAMPING ZAKIAH)<br /><br />125. Zakiah<br />Siapa kau?<br /><br />126. Hamidah<br />Tak perlu kau tanyakan (SINIS). Kau berhutang nyawa padaku (MELUDAH) perempuan pembunuh!<br /><br />127. Zakiah<br />(MEMANDANG) Oya, benarkah kau cuak. Pengkhianat negeri ini.<br /><br />128. Hamidah <br />Aku berjuang untuk bangsa juga almarhum suamiku.<br /><br />129. Zakiah<br />Pengkhianat. Sudah, aku lepaskan kau kalau memang aku berhutang nyawa atas kematian suamimu. Kini aku tebus nyawa itu dengan membebaskanmu, tapi jangan kau ulangi perbuatanmu.<br /><br />130. Hamidah<br />Akun inginkan kepalamu seperti yang kau lakukan pada suamiku. Kau harus kupenggal.<br /><br /><br /><br />131. Zakiah<br />(MARAH). Aku tahu rasanya kehilangan suami. Makilah aku sepuasmu, aku tak membencimu. Sebagai manusia aku mengerti seberapa besar marahmu padaku. Satu yang harus kau ingat, suamimu mengkhianati negerinya sendiri. Bekerja sebagai Upah dan membunuh banyak kaum kita.<br /><br />132. Hamidah<br />Suamiku seorang pahlawan. (LAGU INDONESIA RAYA TERDENGAR SAYUP). Berjuang demi bangsa dan negara yang dicintai. (MENANGIS) suamiku berjuang menyelamatkan cinta dalam sebuah rumah.<br /><br />133. Zakiah<br />(MARAH). Jadi karena suamimu bagian dari Upah itu kau anggap kami musuh. Tidakkah kau tahu betapa Upah-upah itu, berenang dalam darah dan airmata kaum kita. Coba kau pikirkan, betapa banyak penderitaan yang terjadi akibat ulah para Upah dinegeri ini.<br /><br />134. Hamidah<br />(MENENTANG) Justru darah itu harus tumpah, karena kalian tidak mau menebus dendam dengan cinta.<br /><br />135. Zakiah<br />Jangan mengajari aku. Kau ada disini juga karena dendam.<br /><br />136. Hamidah<br />Aku akui, setidaknya aku tetap mempertahankan sebuah rumah yang akan kau hancurkan. Kau membuat rumah baru yang belum tentu memberikan kedamaian kepada kita. <br /><br />137. Zakiah<br />Pergi kau dari hadapanku, sebelum aku berubah pikiran. Kita semua memang sedang kehilangan, tapi tak guna saling bunuh antara sesama kaum kita. Aku mengampunimu karena kau masih kaumku sendiri. Aku berharap kau menyadari pentingnya perjuangan ini. Jadi jangan menghancurkannya.<br /><br />138. Hamidah<br />Kau kira perjuanganku tidak penting bagi diriku. Aku berjuang demi bangsaku, bangsa yang kucintai.<br /><br />139. Zakiah<br />Bangsa apa. Bangsa yang kau perjuangkan itu tidak menegakkan syariat. Bangsa itu kafir.<br /><br />140. Hamidah<br />Menegakkan syariat dengan paksa tidak pernah diajari dalam agama kita. <br /><br />141. Zakiah<br />Kita diperintahkan menegakkan amar makruf nahi mungkar dengan tangan kita. <br /><br />142. Hamidah<br />Itulah kalian berkeras dengan kebenaran. Sedangkan kami tidak pernah diberikan untuk berpendapat. Bila tak keras kepala, tak akan ada peperangan ini. Tak menjamur janda-janda di kampung ini. Anak-anak yatim tak sebanyak sekarang. Aku masih berharap suatu ketika perang ini usai dan dapat hidup tenang, tanpa letusan senjata.<br /><br />143. Zakiah<br />Kami akan menuntut hak dengan segala kemampuan. Meski sedikit lelaki tersisa, para wanita mengangkat senjata melanjutkan perjuangan suami mereka.<br /><br />144. Hamidah<br />Lihatlah, yang kau hadapi itu bangsa sendiri. Sungguh mengerikan. Saling bunuh dalam sebuah rumah untuk tujuan yang tidak jelas. <br /><br />145. Zakiah<br />Apanya yang tidak jelas. Perjuangan ini menegakkan sendi kebenaran.<br /><br />146. Hamidah<br />Kebenaran yang diracuni dendam. Tidak adakah jalan berdamai. Berkali-kali Upah menawarkan perdamaian, tapi kalian menolak. Lihatlah di luar sana para oportunis asyik berenang dalam airmata dan darah kita. Mereka dengan gembira mengirim berita penderitaan sebagai dagangan yang laku di luiar negeri.<br /><br />147. Zakiah<br />Jangan kau gurui aku. Memang cara pikir kita berbeda. Tak mungkin menyatukan sesuatu yang berbeda. Kita berbeda menatap dunia, dan berbeda pula menyimpulkannya.<br /><br />148. Azizah<br />Piyoh Dilee. Tunggu dulu. Zakiah, bukankah kau pernah mengatakan bahwa Upah itu hanya suruhan. Ibarat anjing yang ditugaskan untuk berburu, kini mengapa kau menolak tawaran perdamaian. Bukankah bila jurangan anjing tidak lagi ingin menangkap buruannya, anjing itu tidak lagi berbahaya. (TERDENGAR SUARA HELIKOPTER)<br /><br />149. Zakiah<br />Inikah perdamaian. Tawaran macam apa ini, mereka menawarkan perdamaian sementara kita terus diburu dan dibunuh. Lihatlah sekeliling, anjing-anjing itu sangat jelas salakannya dan buruannyapun semakian ramai berkeliaran. Perdamaian macam apa yang diharapkan saat kontak senjata terus terjadi. Aku berharap bila mereka ingin berdamai, mereka harus ikat dulu anjig-anjing yang mereka pelihara. (MENCARI-CARI). Mana si gila tadi.<br /><br /><br /><br />150. Hamidah<br />Barangkali pergi mengikat anjing.<br /><br />151. Zakiah<br />Apa maksudmu?<br /><br />152. Hamidah<br />Pikirkan sendiri. O ya, kami bangsa kalian sendiri dan sebagian lagi adalah kaum kalian.<br /><br />153. Zakiah<br />Perdamaian ini memakai metode berburu. Mereka semua sama dengan kita manusia juga. Bila aku anggap mereka benar-benar anjing, sudah kupenggal lehermu karena mengambil anjing sebagai suami. Perburuan di tanah rencong inilah yang kami sebut metode melepas anjing. Oya, apa yang kau maksud dengan kata-kata mengikat anjing tadi.<br /> <br />154. Hamidah<br />Lihat sekeliling Zakiah. Siapa yang mengepung kita. Anak buahmu atau anjing pemburu.<br /><br />155. Zakiah<br />Mereka banyak sekali. Mundur ke jambo dua. (LAMPU PADAM. TERDENGAR BUNYI SENJATA BERSAHUT-SAHUTAN. TERLIHAT SILHUET HIDUP DAN DUA LELAKI DENGAN GERAKAN SEUDATI PEULOET MANOK. TERDENGAR SYAIR LAGU SEULANGA MILIK RAFLI). <br /><br /><br />TAMAT<br />Padangpanjang, 21 April 2009.<br />Hasil rivisi Ulang<br />Salam Kreatif.<br />(Wiko Antoni/Sulaiman Juned)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-6087975704402967830?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-31362287137198613322009-05-25T20:30:00.000-07:002009-05-25T20:32:33.948-07:00PERTUNJUKAN AMAL BUAT BENCANAPERTUNJUKAN AMAL: <br />GALODO 30 KOLABORASI TARI-MUSIK-TEATER<br />Oleh: Muhammad Subhan *)<br /><br /><br />Sebuah pertunjukan kolaborasi teater, musik dan tari, bertajuk ”Galodo 30”, dipentaskan di tapak bekas Balai Losa (Pekan Selasa), Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Tanah Datar (05/04/2009) yang lalu, di atas batu dan lumpur yang diturunkan lahar dingin dari Gunung Merapi. Daerah-daerah yang kini ditumpuki batu dan lumpur, dipadati manusia yang ingin menyaksikan musibah terbesar di Tanah Datar Sumatera Barat menjelang Pemilu tahun ini. Pertunjukan ini atas gagasan tiga orang seniman Eljun Fitra Pimpinan Sanggar Seni Gugun Batuah Pasie Laweh, dan Jumaidi Syafe’i Komposer yang dosen jurusan Musik STSI Padangpanjang, didukung pemusik dari anggota Resimen Mahasiswa (MENWA) Batalyon 105 STSI Padangpanjang, serta Sulaiman Juned Penyair dan Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. <br />Sulaiman Juned yang juga dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang dengan lantang tanpa mikrofon membacakan puisi yang berjudul ”Jika Air Berumah di Pasie Laweh”, ini petikan puisi hasil karyanya; //jika air berumah/ di kampung-di pasar-di sawah-di ladang langit menangis renyah/ galau bulan mandi galodo/ Gerimis menari-nari angin jalang memekatkan jiwa/ rupa hilang dalam kelam waktu// jika air berumah/ di rumah gadang-di toko-di mushalla-di masjid langit menangis rinai/ matahari risau mengeram galodo/ Tarian sukma memabukkannya selepas bertarung menempuh badai//.<br />Teriakan-teriakan Sulaiman Juned dengan teknik vokalnya yang luar biasa, bagaikan gemuruh longsor mencekam hati para penonton mampu menghamburkan tangis sekitar 10 ribu penonton yang datang dari seluruh pelosok Sumatera Barat. Pembacaan puisi secara teaterikal didukung oleh 7 penari yang digarap secara kontemporer oleh Eljun Fitra, gerakan-gerakan di atas batu laksana orang-orang yang dirundung kecemasan, ketakutan, dan sedang berjuang untuk memperpanjang hidup sehingga mengeluarkan pekikan-pekikan menyayat. Kolaborasi ini juga didukung dengan musik yang serasi dikomandoi Jumaidi Syafe’i, S.Sn., M.Sn (Dosen Jurusan Musik STSI Padangpanjang) mendukung penggambaran suasana bencana alam tersebut, seperti; efek bunyi gemuruh dengan gendang tambur, efek bunyi dihadirkan lewat alat musik tasa, bansi dan saluang memunculkan suasana sedih dan miris. Ditambah dengan koor Laailaahaillallah dari seluruh pemain ketika penyair Sulaiman Juned membacakan puisi ”Doa Galodo” dalam menutup pertunjukan. Pertunjukan itu mampu menghipnotis penonton. <br />Pertunjukan yang berdurasi satu jam itu, membuat kami terharu sekaligus menjadi tempat kami berkaca. Seni memang mampu menjadi media transformasi moral sekaligus pendidikan kepada masyarakat. Ini buktinya, pertunjukan yang membuat kami terhanyut lalu kami belajar untuk instropeksi diri, mengapa Tuhan menguji kami dengan bencana ini. Mungkin ada hikmah dibalik itu semua. Pertunjukan seni di atas bekas pasar yang telah jadi ladang batu ini mengingatkan kami kepada kemahabesaran Allah. ”Luar biasa penampilan ’Galodo 30’ itu,” tutur Syarif Hayatullah, salah seorang pemuda Pasie Laweh sambil menyeka air matanya, ketika ditemui seusai pertunjukan. <br />Jumaidi Syafe’i menyatakan, pertunjukan ini untuk menggugah nurani manusia terkait derita yang dialami masyarakat Pasie Laweh. Namun masyarakat diharapkan jangan melupai Tuhan, jangan terlalu lama larut dalam kesedihan, mari bangkit untuk menatap masa depan yang masih panjang, tuturnya.<br />Sementara Eljun Fitra Koreografer yang asli putra Pasie Laweh mengatakan, pertunjukan kolaborasi ini untuk memancing perhatian massa, yang secara kebetulan pula hari ini minggu, pengunjung sangat ramai lalu kami (Eljun, Jumaidi Syafei, Sulaiman Juned) sepakat untuk mengadakan pertunjukan amal. Di atas puing-puing Galodo kami melakukan pertunjukan, agar para pengunjung termotivasi pula untuk beramal lewat kotak-kotak amal yang telah disediakan panitia, ujarnya.<br />Anggra Putra, salah seorang korban galodo yang rumah orangtuanya dipenuhi lumpur berbau, dan mengalami rusak parah disela-sela kesibukannya menjalankan kotak amal kepada pengunjung mengatakan, terimakasih kepada seniman yang peduli kepada kami. Saya sangat terharu menonton pertunjukan ”Galodo 30” tadi. Pertunjukan itu, seperti rekaman ulang dari kejadian yang menimpa kami masyarakat Pasie Laweh. Sekaligus kami berharap dengan adanya pertunjukan seni seperti ini pengunjung terketuk hatinya untuk menyumbang, sehingga kami tidak dijadikan objek wisata semata-mata. Jika perlu setiap hari minggu selalu ada pertunjukan seni seperti ini, ujarnya.<br />Sulaiman Juned menambahkan, Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang bersama Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, siap untuk melakukan pertunjukan amal setiap minggu di Pasie Laweh, jika masyarakat menginginkannya. Kami kemari tidak perlu dibayar, biarlah kami membiayai diri kami, termasuk konsumsi. Pertunjukan tersebut benar-benar sebagai amal, dan mudah-mudahan ada manfaatnya.<br />Martarosa, S.Sn., M.Hum, Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, dalam kesempatan itu menyatakan siap untuk mengkoordinir seluruh mahasiswa seni pertunjukan yang ada di kampusnya untuk melakukan pertunjukan amal. Mahasiswa seni memang sangat peduli terhadap pekerjaan-pekerjaan humanis seperti itu. Kapanpun siap untuk melakukannya, paparnya.<br />Seni tidak hanya berpungsi sebagai media hiburan. Seni memang mampu memberi dukungan moral kepada masyarakat yang sedang dirundung nestapa. Sebagai seniman, melakukan tugas suci itu sudah merupakan kewajibannya. Seniman melakukan perubahan dan kebaruan hanya melalui karya-karyanya, termasuk karya seni yang bermuara untuk kegiatan amal. Oleh karena itu, seniman dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Bravo seniman, pengabdianmu kami perlukan. *** <br /><br />*) Penulis adalah penyair, tinggal di Padangpanjang-Sumatera Barat.<br /><br />Catatan :<br />Musibah longsor (orang Minang sering menyebutnya galodo—pen) yang terjadi di Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar terjadi pada tanggal 30 Maret 2009, empat hari paska musibah Situ Gintung di Tanggerang. Puluhan rumah masyarakat hancur, begitu juga dengan sejumlah fasilitas umum, seperti jalan, rumah ibadah, sekolah, dan pasar. Satu orang warga meninggal dunia, dan belasan lainnya mengalami luka-luka. Longsor Pasie Laweh bukan saja mendatangkan air bah dan tanah dari kaki Gunung Merapi, namun juga batu-batu gunung yang ukurannya cukup besar.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-3136228713719861332?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-70346457687001885062009-05-25T20:26:00.000-07:002009-05-25T20:28:31.660-07:00KISAH MASA KECIL dan DISKUSI SASTRA BERSAMA PENYAIR ACEH WIN GEMADEKisah Masa Kecil:<br />SULAIMAN JUNED SEJAK KECIL SUDAH SUKA MENULIS<br /><br />Oleh: Sisca Oktri Santi (Yeyen)<br /><br /> Adik-adik sayang, jumpa lagi dengan masa kecil. Bagaimana kabarnya? Ujian berhasil dilalui dengan baikkan? Kalau rajin belajar, tentu menjalani ujian tidak perlu takut, karena sudah terbiasa dengan pelajaran. Memang mengiulang-ulang pelajaran dan banyak membaca merupakan salah satu kunci keberhasilan kita dalam menuntut ilmu.<br /> Masa kecil kali ini, mengajak adik-adik untuk mengetahui kisah masa kecil seorang sastrawan asal Aceh yang sekarang aktif di Padangpanjang. Beliau adalah Sulaiman Juned. Puisi, cerpen, esai, artikel, reportase budaya, kolom, kritik sastra dan teater sering dimuat oleh media, seperti; Atjeh Post, Aceh Ekspres, Serambi Indonesia, Santunan, Harian Aceh, Rakyat Aceh, Aceh Indefendent, Aceh Kita, Kiprah, Warta Unsyiah, Ar-Raniry Post, Gema Baiturrahman, dan Ceurana (Di Aceh). Waspada, Analisa, Dunia Wanita (Medan). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Lampung Post, Riau Post, Metro Expres, Indefendent, Majalah Sastra Horison, Majalah Gong, Majalah Bahasa dan Sastra di Malaysia dan Brunei Darussalam, Jurnal Aswara Malaysia, Media Indonesia, Suara Karya Minggu, Republika, Kompas, Koran Tempo, dan Seputar Indonesia. Banyak karya sudah ia hasilkan. Bagaimana bisa ya adik-adik? Hm, hebat ya?<br /> Ngomong-ngomong, bagaimana sih awal mulanya Sulaiman Juned berkarya? Ternyata, ia sudah memulai sedari kecil, lho! Itu juga diawali dengan sifat disiplin yang sudah tumbuh dan dididik sedari kecil oleh keluarganya, yang membuat ia berkembang hingga suka berkarya. Ngak percaya? Yuk kita simak ceritanya!<br /> Sulaiman Juned dilahirkan di Gampong Usi Dayah, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie-Aceh, pada tanggal 12 Mei 2965. Kedua orangtua, yang ia panggil Abi dan Emak, M.Juned Said Oesy dan Juhari Hasan (Kedua-duanya sudah tiada), telah membiasakan kedisiplinan tumbuh dalam jiwa anak-anak mereka, termasuk Sulaiman, sebagai anak kelima dari enam bersaudara.<br /> Ayahnya, yang seorang penjahit, mengajarkan kepada Sulaiman kecil untuk pandai menjahit dan tidak boleh ada benang atau kain yang terbuang sia-sia. Kebiasaan inilah salah satunya kemudian memupuk jiwa disiplin dalam diri Sulaiman.<br /> Semenjak usia tujuh tahun, ia telah diajarkan berjualan, juga bertani yaitu berkebun kopi. Tugasnya bersama-sama saudara adalah membersihkan rumput dan memetik biji kopi yang merah. Di tahun 1976, terjadi pengalaman yang paling berharga dan tak pernah terlupakan. Terjadi dimasa paceklik di kampungnya. Dagangan Abi bangkrut, kebun kopi yang berada di Biespenantanan Takengon, Aceh Tengah tidak berbuah karena terserang hama, sehingga Sulaiman bersama saudara-saudaranya tidak mampu membeli ikan-beras dan sayur.<br /> “kami sekeluarga hanya merebus pisang muda, lalu ditumbuh oleh emak. Pisang muda itulah yang menjadi makanan pokok kami sekeluarga” kenang Sulaiman.<br /> Sepulang sekolah, Sulaiman beternak kambing dan ayam. Setiap pagi berangkat sekolah sekaligus membawa telur ayam untuk di jual di warung kopi. Hasil penjualan itu digunakan untuk membeli beras. Baju sekolah hanya satu pasang, yang sudah robek-robek pula. Dua kali sehari baju itu dicuci karena harus di pakai lagi.<br /> Buku tulis pernah hanya ada dua buah, sehingga mencatat seluruh mata pelajaran di sana. Untuk membeli buku paket, Sulaiman juga tidak mampu. Sehingga di jam istirahat tidak ada waktu untuk bermain, namun digunakan untuk membaca di Pustaka. Meski demikian, keinginan Sulaiman kecil untuk terus belajar dan bersekolah tinggi tetap ada.<br /> Sastra sudah berkembang dalam dirinya sejak ia duduk dibangku SMP. SMP Negeri 3 Takengon. Waktu itu, dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Soel remaja suka sekali menulis puisi, hingga buku catatannya hanya berisi puisi-puisi hasil karyanya. Begitu guru bahasa, ibu Siti Aisyah (yang juga ternyata penyair Aceh seangkatan Rosni Idham) meminta para siswa mengumpulkan buku catatan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sulaimanpun cemas, karena ia tak banyak mencatat, dan buku catatannya hanya berisi puisi-puisi yang ia buat.<br />Namun tanpa disangka, setelah memeriksa catatan Sulaiman, ibu guru malah menyuruh agar Sulaiman segera mengetik puisi itu dan mengirimkannya ke media massa. Setelah itu, ia pun mengirim karya-karya puisi tersebut ke Koran-koran dan majalah. Puisinya ternyata dimuat, dan ia mendapat honor sebesar Rp. 1.500,- yang waktu itu sangat besar nilainya bagi Sulaiman.<br />Sastrawan, dramawan dan teaterawan yang juga Dosen tetap di Jurusan Seni Teater STSI Padangpanjang-Sumatera Barat ini, pernah memakai nama pena Soel’s J. Said Oesy mengaku, sejak saat itu semakin bersemangat untuk berkarya. Ia sadar, ternyata keberanian untuk mengirimkan karya ke media cetak dapat membuat seseorang semakin ingin berkarya, terlebih lagi bila ternyata karya tersebut kemudian dimuat.<br />Dosen luar biasa di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia UMSB-Padangpanjang, yang juga Pimpinan Komunitas Seni Kuflet yang 12 Mei lalu merayakan Ulangtahunnya yang ke 12 sekaligus ulangtahun Sulaiman Juned yang ke-34 mengadakan DIKLAT Karya Tulis Ilmiah dan Lomba Baca Puisi memiliki tekad yang kuat dalam meraih cita-cita. Ia berpesan kepada adik-adik agar memberanikan diri untuk berkarya. Tidak boleh minder atau merasa rendsah diri, apalagi demi mencapai keberhasilan. Sulaiman Juned telah membuktikan hal ini. Dari SD di Takengon hingga Magister Pascasarjana ISI Surakarta di Jawa Tengah, Sulaiman tidak pernah mau untuk berhenti berkarya. Tidak mau bergantung kepada orang lain, begitulah salah satu prinsip hidupnya. Begitu juga harusnya dengan adik-adik semua, tidak pernah malas ataupun malu dan rendah diri untuk berkarya, dan mengandalkan diri sendiri untuk meraih kemajuan. (TULISAN INI DIMUAT DIRUBRIK MASA KECILKU, HARIAN UMUM HALUAN, Minggu, 17 Mei 2009). <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />DISKUSI SASTRA BERSAMA PENYAIR WIN GEMADE<br />Oleh: Vivi Astari<br /><br />Genap sudah Komunitas Seni Kuflet berusia dua belas tahun. Kuflet didirikan pada tanggal 12 Mei 1997, di Padangpanjang Sumatera Barat. Komunitas Seni ini merupakan organisasi nirlaba, dengan para pendiri: (Almarhum) Prof. Dr. Mursal Esten, Sulaiman Juned, Maizul, Netti Herawati, Leni Efendi, dan Wiko Antoni. Bergerak dalam bidang teater, sastra, musik, dan artistik, serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan cara mengadakan Seminar/Diklat baik sastra dan teater, juga melaksanakan pelatihan sastra dan teater kepada siswa dan siswi dari SD sampai SMA.<br />Sesuai ucapan yang dilontarkan oleh Sulaiman Juned yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan Kuflet bahwa, Kuflet harus terus, terus dan terus. Tak ada kata berhenti untuk berkarya, tidak ada titik dan tidak ada koma, terus dan terus. Pada tanggal (13/5) yang lalu, Kuflet didatangi penyair nasional yang berasal dari Aceh, Win Gemade. Ia memberikan materi sastra dengan tema ”Sastra kemarin, Hari ini dan Esok” dalam diskusi rutin mingguan, setiap hari Rabu Pukul 14.00 di Sekretariat Komunitas Seni Kuflet, Jl. DR> A.Rivai No. 146 RT. 11, Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Padangpanjang Timur, Padangpanjang Sumatera Barat. <br />Penjelasan Win Gemade sangat menarik, dalam berkarya tidak terlepas dari berpikir. Membaca adalah modal utama dalam melahirkan karya-karya besar. Sastra dapat menjadi mediasi sejarah, dibuat hari ini dapat menjadi referensi untuk esok. Melalui karya sastra seseorang terus hidup sepanjang zaman. Win mwncontohkan Hamka dan Chairil Anwar yang telah tiada, namun karya-karyanya tetap hidup sampai abad dua puluh satu ini. Melalui sastra dapat juga menjadi media didaktik yang dapat mendorong seseorang untuk bersikap. Jika dalam karya sastra terdsapat unsur-unsur yang baik maka kita dapat mencontohkannya, sebaliknya jika terdapat norma yang buruk kita tidak boleh menirunya.<br />Win gemade juga menyinggung proses kreatifnya. Ia lebih suka mengeluarkan ide-ide yang ada diotaknya ketika berada dalam kamar mandi. Kebiasaan membaca Win yang telah tumbuh sejak kecil tidak kalah pentingnya. Ketika ia duduk di Sekolah Dasar ia sangat menyenangi pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia, dan sangat menggemari sebuah cerpen yang berjudul ”Sang Juara” ini sebuah cerpen yang mendorong Win untuk menulis. Ketika Win SMP, ia sering jatuh cinta, namun tidak berani mengungkapkannya. Perasaannya dilampiaskan melalui tulisan. Ketika SMA kreativitas Win belum tersalurkan sepenuhnya karena keberadaan media yang masih minim. Setelah kuliah barulah Win merambah ke berbagai media, apalagi setelah bergabung dengan Sanggar Cempala Karya Banda Aceh pimpinan Sulaiman Juned, disana setiap sekali dalam seminggu melakukan diskusi sastra dan bedah buku.<br />Ternyata penyair yang berasal dari Aceh ini suka keluyuran untuk mencari gagasan-gagasan yang dikembangkan menjadi sebuah karya. Win Gemade memberikan kesimpulan terhadap proses kreatifnya melalui tiga hal yakni; ngintip yaitu melihat dan mengamati suatu persoalan. Nguping yaitu dengan mendengarkan orang-orang yang berbicara, hal tersebut akan dapat menjadi masukan baginya dalam berkarya. Melakukan langsung, yaitu dengan mendatangi secara langsung hal yang akan diterjemahkan melalui tulisan. Lalu tulis apa saja selanjutnya kirim ke media masa.<br />Sastra sangat besar pengaruhnya terhadap diri seseoramng, seseorang dapat berubah karena sastra. Sesungguhnya dalam diri seseorang terdapat seni, tergantung bagaimana dia dapat mengontrol seni tersebut. Sebuah karya sastra kita dituntut untuk melihat karyanya tanpa melihat siapa yang menciptakannya. Sesungguhnya karya sastra tidak terlepas dari unsur instrinsik dan ekstrinsik, namun kita tidak perlu berspekulasi panjang mengenai hal tersebut. ”Lihatlah apa yang telah diciptakan seseorang, jangan lihat siapa yang menciptakannya”. Jelas Win Gemade (DIMUAT DI HARIAN SINGGALANG, 24 MEI 2009).<br /><br />*) Penulis adalah mahasiswa FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia UMSB, Padangpanjang dan bergiat di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat. <br /><blockquote></blockquote><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-7034645768700188506?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-40205968494054721892009-05-25T20:22:00.000-07:002009-05-25T20:24:48.051-07:00KOLOM REFLEKSI dan DETAK JAM GADANGREMAJA DAN SITUS PORNO<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /><br /> Teknologi internet jika ditilik dari satu sisi memudahkan untuk menambah ilmu pengetahuan. Manusia tidak perlu lagi berada di Amerika, Arab atau Eropa untuk mengetahui tentang antropologi dan sosiologi budayanya. Cukup mampir di Warnet lalu membuka situs tersebut otomatis pula kita sudah berdiwana ke negeri tersebut.<br /> Siswa dan mahasiswa yang diberikan tugas oleh guru dan dosennya, juga mudah mengakses literature tentang apa saja, ada di internet. Bahkan di zaman ini, ada siswa dan mahasiswa hanya melakukan copy paste saja dari internet setiap tugas yang dintruksikan oleh guru dan dosennya. Sungguh suatu kemudahan yang tak terpikirkan sebelumnya.<br /> Begitu juga, diinternet bertebaran situs-situs ilmu pengetahuan, seperti; ilmu teater-sastra-filsafat-agama-hukum-ekonomi-sosiologi-antropologi-politik-psikologi-kependidikan dan bahkan sampai ke situs porno. Luar biasa!<br /> Situs porno! Ini yang menggelisahkan banyak kalangan, baik orangtua-guru-tokoh pendidikan sampai dengan pakar psikologi. Surat kabar dan televise beberapa waktu yang lalu menyiarkan berita menyedihkan ini. Remaja kita yang sedang belajar di sekolah, masih memakai celana biru dongker pendek, dan bahkan ada pelajar yang masih memakai celana berwarna merah pendek sudah keranjingan situs porno.<br /> Wah, ini penyakit masyarakat yang membahayakan dunia pendidikan, apalagi menurut laporan NRC Report yang dilansir hareian Haluan beberapa waktu lalu, 90 persen remaja kita mengkonsumsi situs porno. Awalnya memang tidak sengaja, namun pada akhirnya menjadi ketagihan.<br /> Jika remaja yang belum memiliki pendidikan seksual secara benar, menyaksikan situs-situs porno. Maka dalam imaji mereka setiap waktu berhayal dan bermimpi ingin melakukan aksi seperti apa yang mereka saksikan di situs tersebut. Nah! Andaikan benar, apa yang dipublikasikan tersebut, apa jadinya mentalitas dan psikologis generasi pelurus bangsa dan negara ini. Dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan, negara dan bangsa ini akan digawangi oleh remaja yang hari ini keranjingan situs porno.<br /> Teknologi internet, memang suatu yang tak dapat dielakkan atau ditinggalkan, jelas sangat banyak faedah dan manfaatnya disamping ada juga mudharatnya. Pemerintah Indonesia sudah saatnya melakukan tindakan terhadap dampak negative situs porno.<br /> Mungkin dengan membentuk tim internet sehat nasional, yang dapat menerima laporan dari masyarakat untuk melakukan tindakan hokum secara teknologi. Boleh juga dengan mengontrol atau mengunci situs-situs porno shingga tidak sembarangan orang boleh membuka. Seperti yang dilakukan Negara Arab-Turki-Mesir-Iran. Mereka mengunci situs porno, barangsiapa yang ingin membuka situs porno harus menuliskan data secara lengkap di internet beserta umurnya, lalu tim internet sehat mengecek sampai ke rumah-rumah, apa benar nama yang tertera itu berusia dewasa? Atau seperti di Swedia barangsiapa yang ditemukan sedang menontopn situs porno langsung digiring ke pengadilan sekaligus di hokum kurungan penjara. Ini sangat menarik untuk menjadi pembelajaran buat bangsa kita.<br /> Tidak salahnya kita mencontoh mereka demi kebaikan anak bangsa yang nanti akan menjadi pemimpin masa depan negeri tercinta. Jika hal ini dilakukan otomatis situs porno tidak dapat diakses secara serambangan, selalu dikontrol oleh tim internet sehat nasional. Sekaligus pula remaja kita tidak terkontaminasi pikiran-pikiran ‘aneh’ yang mengantar mereka kepada mimpi-mimpi panjang tentang hayalan. Selanjutnya pendidikan seks harus diberikan kepada para remaja gaar mengetahui untung ruginya. Semoga kita mampu mengontrol remaja Indonesia, menjadi remaja yang cerdas dan cemerlang. Semoga. (DIMUAT HARIAN UMUM HALUAN, KAMIS 16 APRIL 2009) <br /><br /><br /><span style="font-weight:bold;"></span><br /><br />BENARKAH SASTRAWAN SUMBAR PEMALAS (?)<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Luar biasa trik yang disampaikan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi beberapa waktu lalu dibeberapa surat kabar, tentang “Sastrawan Sumatera Barat Malas Berkarya”. Ini sebuah gelinjang yang menohok dirinya sendiri atau menepuk air didulang?<br />Ada tanggapan Fatris Mohammad Faiz, dan Alee Kitonanma dimuat salah satu Koran harian terbitan Padang (3/5) lalu. Ada bantahan dari Muhammad Subhan dimuat Haluan, dikolom detak jam gadang (5/5). Kesemua tulisan tersebut menolak pernyataan Gubernur yang salah menilai tentang sastrawan Sumatera Barat. Pernyataan itu, barangkali sengaja diketengahkan Gamawan untuk memancing kreativitas para sastrawan, atawa dana yang telah disediakan gubernur sebesar Rp. 5 Juta itu untuk penerbitan buku tidak pernah diambil oleh para sastrawan.<br />Lantas, sang bapak kita itu menilai, sastrawan Sumatera Barat pemalas. Dana sebesar itu, memang tidak berarti apa-apa untuk sebuah penerbitan, buku apa yang dapat dihasilkan dengan dana sebesar itu. Sedangkan desain cover buku saja biayanya mencapai Rp. 5 Juta.<br />Namun para sastrawan seperti yang telah diungkapkan pleh Fatris Mohammad Faiz, Alee Kitonanma dan Muhammad Subhan, tetap saja menerbitkan karya-karyanya selain berbentuyk buku juga di media massa, seperti Majalah Horison, Majalah Bahasa dan sastra Indonesia di Brunei Darussalam dan Malaysia, majalah Gong, Republika, kompas, media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Solo Pos, Jawa Pos banyak karya sastra sastrawan Sumatera Barat dipublikasikan di sana, pernahkah bapak baca (?)<br />Baru-baru ini tanggal 25 April 2009 yang lalu, Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA-BASINDO) FKIP-UMSB Padangpanjang dalam rangka memperingati mengadakan Seminar Sastra Nasional. Yang paling mengharu biru, mereka tanpa dana dari PEMDA menerbitkan buku Antologi Puisi ‘Lautan Sajadah’. Kebahagian itu menjadi lengkap, sebab dari 46 penyair mayoritas penyair perempuan. Karya-karya mereka sebagai penyair pemula memang telah menampakkan kualitasnya. Lalu apakah ini juga masih berani kita sebut, sastrawan Sumatera Barat pemalas?<br />Sastrawan Indonesia baik yang senior maupun yang yunior mayoritas pula dikuasai oleh sastrawan yang berasal dari Sumatera Barat apalagi bila berbicara masalah eksistensi kesenimanannya, lalu atas dasar apa sang gubernur kita membuat pernyataan yang bombastis itu. Barangkali untuk mencari sensasi, pak gubernur yang mulia, sastrawan itu bekerja dengan hati nurani selain selain membaca realita social untuk dimamahnya dalam proses perenungan.<br />Jadi bapak gubernur yang terhormat, jika ingin mengaduk ‘lado kutu’ dalam makanan para sastrawan tentu boleh-boleh saja. Namun hendaknya datangi dulu ‘rumah-rumah’ tempat sastrawan itu berproses kreatif, seperti; di Padang ada Komunitas Seni Pelangi pimpinan Yusrizal KW, di Payakumbuh ada Komunitas Seni Intro pimpinan Iyut Fitra, sementara di Padangpanjang ada Komunitas Seni Kuflet. Mereka setiap hari berdiskusi (membaca dan menulis) tentang sastra, bahkan tanpa danapun mereka masuk ke sekolah-sekolah mengajar siswa membaca dan menulis karya sastra. Apa bapak pernah tahu itu (?) Mari berkaca pada wajah kita agar tak salah melihat bopeng orang<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-4020596849405472189?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-28733484659231369512009-05-25T20:18:00.000-07:002009-05-25T20:20:59.400-07:00DIKLAT KARYA TULIS ILMIAH DAN LOMBA BACA PUISI KOMUNITAS SENI KUFLETDIKLAT KARYA TULIS ILMAIH DAN LOMBA BACA PUISI KUFLET:<br /><br />Menulis agar dikenang Sepanjang Masa<br />Oleh: Vivi Astari *)<br /><br /> Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang beralamat di jln. Dr. A.Rivai no. 146 Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Padangpanjang Timur, Sumatera Barat, memperingati hari jadinya yang ke-12. Serangkaian acara dilakukan anatara lain Diklat Karya Tulis Ilmiah dengan tema ‘Meningkatkan Kecintaan Menulis bagi Guru” juga melaksanakan Lomba Baca Puisi. Acara tersebut bertempat di gedung teater STSI Padangpanjang, pada tanggal 10-11 Mei 2009.<br /> Acara pada hari pertama. Dimulai pada pukul 9.00 Wib dibuka oleh Adirozal. Adirozal secara gamblang menjelaskan, bahwa setiap orang harus menulis dan menulis, karena melalui tulisan seseorang dapat dikenang sepanjang masa. Ia mencontohkan Buya Hamka dan Chairil Anwar yang telah tiada, namun mereka tetap disebut-sebut melalui tulisannya. “Semoga semua peserta yang datang adalah karena ingin menambah ilmu dan ingin menulis bukan karena mengejar sertifikat, serta DIKLAT yang dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2009 dapat menjadi modal yang berharga dalam menulis” ujarnya.<br /> Harapan senada juga diampaikan Ketua Komunitas Seni Kuflet, Sulaiman Juned dalam sambutannya. Menurutnya, siapa saja harus selalu menulis, terutama bagi guru harus mampu menulis dan mengaktualisasaikannya. Sulaiman Juned juga menyinggung kiprah Kuflet dalam membina anak-anak, khususnya dalam bidang sastra dan teater, antara lain pelatihan menulis dan membaca puisi bagi siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Padangpanjang, Kuflet juga pernah melatih anak-anak Sekolah Dasar di Kota Sawahlunto dan pernah meraih juara 1 tingkat Asiang Tenggara. Semoga pemerintah memberikan perhatian terhadap-hal tersebut” Ujarnya. Disamping itu, Sulaiman Juned yang ikut serta mendirikan Kuflet bersama (Almarhum) Prof. DR. Mursal Esten, pada tanggal (12/05) nanti akan mengadakan renungan mengenang Almarhum.<br /> Materi pertama diberikan oleh Asril Muchtar yang merupakan dosen STSI Padangpanjang dengan judul makalahnya “Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah” dan materi kedua diberikan oleh Muhammad Subhan yang merupakan wartawan Haluan dengan judul makalahnya “Kiat Menembus Tulisan Di Media massa”. Acara tersebut tidak hanya diikuti oleh para guru tetapi juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Universitas, seperti FKIP-UMSB, Padangpanjang, STSI Padangpanjang, STKIP Bangko, Jambi, Universitas Iskandar Muda Aceh. Universitas Negeri Padang, Universitas Bung Hatta Padang.<br /> Acara kedua pada tanggal 11 Mei yang merupakan acara lomba baca puisi tingkat umum, penampilan mereka dinilai oleh dewan juri yang berkompeten di bidangnya, antara lain; Iyut Fitra (Penyair Indonesia asal Payakumbuh), Win Gemade (Penyair Indonesia asal Aceh), dan Edi Suisino, S.Sn., M.Sn (Dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang). Peserta yang berhak menyandang gelar juara antara lain; Rahmad Romi juara satu yang berasal dari RRI Bukittinggi, Suci Rahmadhoni juara dua yang berasal dari SMP N.1 Padangpanjang, dan juara tiga Sinta Rastiti yang berasal dari SMA 4 Bukittinggi.<br /> Anggra Putra yang merupakan ketua panitia, berharap dengan diadakannya acara DIKLAT karya Tulis Ilmiah dapat menambah pengetahuan guru dalam menulis, apalagi pada saat sekarang guru dituntut untuk mampu menulis dalam rangka kenaikan pangkat misalnya. Tidak kalah penting, ilmu menulis bermamfaat bagi guru untuk proses pengajaran sebagai orang yang harus digugu dan ditiru. Peserta DIKLAT secara keseluruhan berasal dari Padang, Padangpanjang, Tanah Datar, Dharmasraya, Bukittinggi, Agam, Jambi dan Riau serta Aceh. Sementara melalui Lomba Baca Puisi, diharapkan dapat meningkatkan baik pelajar maupun umum di bidang sastra, khususnya puisi. Anggra juga mengucapkan terimakasih kepada segala pihak yang telah membantu, Pemda Kota Padangpanjang, DPRD Kota Padangpanjang, Rumah makan pak Datuak, Rumah makan Delima, Amia Batusangkar, Coca Cola Padang, Rumah Makan Gumarang, dan Gunung Saiyo. Terimakasih atas partisipasinya, juga kepada jurusan teater STSI Padangpanjang atas kerjasamanya yang sangat baik. (DIMUAT DI HARIAN UMUM SINGGALANG, 17 MEI 2009).<br /><br />*) Penulis adalah mahasiswa FKIP/PBSID, UMSB, Padangpanjang dan anggota Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat. <br /> <br /><br /><br />UMSB PADANGPANJANG;<br />SEMINAR SASTRA, LOUNCHING ANTOLOGI PUISI<br />Oleh: Vivi Astari *)<br /><br />Padangpanjang-Seminar sastra nasional yang dilaksanakan di gedung perkuliahan FKIP UMSB Padangpanjang (25/4) berlancar lancar, walau salah satu pemateri yang direncanakan tidak dapat hadir yakni Taufik Ismail. Namun hal itu tidak membuat peserta kecewa, kerena permintaan maaf beliau divisualkan yang sekaligus sastrawan nasional itu membacakan beberapa puisinya.<br />Kegiatan seminar tersebut merupakan program dari dari Himpunan Mahasiswa Bahasa dan sastra Indonesia dalam rangka menyambut Bulan sastra. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dibuka oleh Ketua DPRD Kota Padangpanjang. Acara itu kental dengan nuansa sastranya. Ini jelas terlihat dari makalah yang dituliskan Taufik Ismail tentang “Generasi yang Nol Membaca Lumpuh Menulis” yang dibacakan oleh Muhammad Subhan. Gus tf Sakai menyampaikan tentang “Proses Kreatif Penulisan Prosa” dan Sulaiman Juned menyampaikan tentang “Proses Kreatif Menulis Puisi” Peserta seminar berasal dari berbagai kalangan seperti dosen, guru, mahasiswa dan pegawai yang berasal dari berbagai Universitas dan instansi.<br />Pada kesempatan tersebut mereka dapat bertanya secara langsung kepada pemateri yang merupakan sastrawan nasional tentang masalah sastra yang meraka hadapi selama ini. <br />Selain berhasil dengan acara seminar nasional, Hima Basindo juga berhasil lounching antologi Puisi “Lautan sajadah” . ini merupakan antologi puisi pertama FKIP UMSB Padangpanjang, namun telah dapat menunjukkan kecintaan yang mendalam bagi mahasiswa, khususnya Jurusan bahasa dan sastra Indonesia terhadap sastra.<br />“Semoga kegiatan yang bermanfaat itu tetap berkelanjutan untuk menunjukkan eksistensi Hima Basindo ke tingkat nasional” Ujar Immatul Jannah yang merupakan ketua Hima Basindo.<br />Selain itu, ucapan terimakasih juga dilontarkan oleh Sandy Octaria yang merupakan ketua panitia kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini. Semoga disusul oleh antologi berikutnya yang merupakan harapan seluruh mahasiswa UMSB FKIP-Padangpanjang.(DIMUAT HARIANG SINGGALANG, 3 MEI 2009) <br /><br />*) Penulis adalah Mahasiswa FKIP-UMSB, juga Anggota Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-2873348465923136951?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-43589158284101314602009-05-25T20:08:00.000-07:002009-05-25T20:16:14.531-07:00LAUTAN SAJADAH DILUNCURKAN<br /><br />Padangpanjang, Singgalang<br /><br /> Antologi Puisi bertajuk Lautan Sajadah diluncurkan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA-BASINDO), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhamadiyah Sumatera Barat (UMSB). Selain Lounching (peluncuran) ‘Lautan Sajadah’ itu, penyelenggara juga akan menggelar seminar sastra dengan nara sumber terdiri dari budayawan, sastrawan dan penyair nasional. <br /> “Kegiatan ini dilaksanakan Sabtu, 25 April 2009. Insyaallah akan dimulai pukul 09.00 WIB di kampus FKIP UMSB, komplek Kauman Padangpanjang” terang Ketua Panitia Pelaksana Sandy Octaria, kepada Singgalang, Selasa (14/4) di Padangpanjang.<br /> Dikatakan, kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyambut Bulan Sastra itu, diagendakan bakal dihadiri Budayawan Nasional DR. Taufik Ismail dengan pembahasan seputar ”Paradigma baru Kesusasteraan Indonesia”. Sastrawan Nasional Gus tf Sakai dengan bahasan ”Proses Kreatif dalam Menulis Prosa”. Sementara Penyair Indonesia/ Sutradara/ Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn membahas ”Proses Kreatif Penulisan Puisi”.<br /> Ketua HIMA-BASINDO FKIP-UMSB, Immatul Jannah menjelaskan, Seminar nasional tentang sastra ini dihadiri oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia, se-Sumatera umum. (006/ Sumber: Harian Singgalang, 15 April 2009).<br /><br /><br /><br />HIMA BASINDO ADAKAN SEMINAR SASTRA dan LOUNCHING ANTOLOGI PUISI ’LAUTAN SAJADAH’<br /><br /> Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA BASINDO) FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Kauman Padangpanjang, Sumatera Barat, akan melaksanakan acara Seminar Sastra Nasional dan Launching Antologi Puisi Lautan Sajadah, pada hari Sabtu, 25 April 2009. Ketua Panitia Sandy Octaria menyebutkan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan sastra. Acara Seminar Nasional berencana menghadirkan pembicara para sastrawan nasional, seperti; DR. (HC) Taufik Ismail dengan judul makalahnya Paradigma Baru Kesusasteraan Indonesia, Gus Tf Sakai (sastrawan nasional) dengan materi, Proses Kreatif dalam menulis Prosa, dan Sulaiman Juned (Penyair, Sutradara dan Pimpinan Komunitas Seni Kuflet) dengan makalah bertajuk, Proses Kreatif Penulisan Puisi. ”Kegiatan ini memacu dan meningkatkan kreativitas guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam proses belajar mengajar di sekolah, serta memacu semangat rekan-rekan mahasiswa unutuk berproses kreatif, “ tambahnya.<br /> Ketua HIMA BASINDO Immatul Jannah menuturkan, acara seminar sastra nasional ini peserta diharapkan dari kalangan guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum. (Sandy Octaria/Sumber: Padang Ekpres, 19 April 2009).<br /><br /><br /><br /><br />HIMA BASINDO FKIP UMSB GELAR SEMINAR SASTRA<br /><br />PADANG, Haluan<br /><br /> Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA BASINDO) FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Kauman Padangpanjang, akan melaksanakan Seminar Sastra Nasional dan Launching Antologi Puisi “Lautan Sajadah”, pada Sabtu, 25 April 2009 di Gedung FKIP Kauman Padangpanjang.<br /> Ketua Panitia Sandy Octaria kepada Haluan kemarin mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan sastra. Acara seminar nasional berencana menghadirkan pembicara para sastrawan nasional, seperti; DR. (HC) Taufik Ismail dengan judul makalahnya” Paradigma Baru Kesusasteraan “, Gus Tf Sakai (sastrawan nasional) dengan materi “ Proses Kreatif dalam menulis Prosa “, Sulaiman Juned (Penyair, Sutradara dan Pimpinan Komunitas Seni Kuflet) dengan makalah bertajuk “Proses Kreatif penulisan Puisi”.<br /> Disebutkan, kegiatan ini untuk memacu dan meningkatkan kreativitas guru Nahasa dan Sastra Indonesia dalam proses belajar mengajar di sekolah, serya memacu semangat rekan-rekan mahasiswa untuk berproses kreatif.<br /> Ketua HIMA BASINDO Immatul Jannah menambahkan, seminar sastra nasiona ini, peserta diharapkan dari kalangan guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum. Selain seminar sastra, juga dilaksanakan Launching perdana antologi puisi berjudul “Lautan Sajadah”. Antologi ini berisikan 104 puisi religius penyair asal mahasiswa FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia UMSB.<br /> ”Antologi puisi ini dieditori oleh Penyair Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan, “ tuturnya. (aan/Sumber: Haluan, 15 April 2009)<br /><br /><br /><br />TAUFIK ISMAIL DI KAMPUS FKIP UMSB <br />GENERASI MUDA BANYAK RABUN<br /><br />Padangpanjang, Singgalang<br /><br /> Indonesia memiliki generasi muda yang rabun membaca dan pincang menulis dalam jumlah yang memprihatinkan. Bangsa ini memiliki penerus estafet yang berstatus nol buku. Tragedi demikian telah berlangsung lebih dari 56 tahun. <br /> Demikian pokok-pokok pikian budayawan dan sastrawan nasional, Dr. Taufik Ismail, saat menjadi pemakalah pada seminar sastra nasional, Sabtu (25/4), yang dilaksanakan Himpunan Mahasaiswa Bahasa Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (FKIP UMSB), di Komplek Muhammadiyah Kauman, Padangpanjang.<br /> ”Tragedi nol buku, rabun membaca dan pincang menulis bermula pada awal 1950. ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya ditangan sendiri, demi mengejar ketertinggalan sebagai bekas negara jajahan yang mesti membangun jalan raya, gedung-gedung, rumah sakit, jembatan, pertanian, perkebunan, kesehatan, perekonomian dan sejenisnya.<br /> Yang diunggulkan dan disanjung-sanjung adalah teknik, kedokteran, pertanian, farmasi, ekonomi dan hukum”, tegasnya.<br /> Pendiri Rumah Puisi di Aia Angek Tanah Datar itu menegaskan, kebijakan wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis yang pernah diterapkan penjajah belanda digunting habis, karena dipandang tidak perlu. Ini, tandas Taufik, menjadi kesalahan peradaban luar biasa besar.<br /> Dikatakan, lantaran menelusuri lorong waktu selama 56 tahun, maka generasi nol buku di Indonesia kini berada pada kisaran usia 35 hingga 70 tahun.<br /> Mereka inilah yan g kini menjadi warga Indonesia terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara hari ini diseluruh strata, baik pemerintahan maupun swasta. Beberapa sebab amburadul Indonesia, bagi Taufik, mungkin sekali karena dalam fase pertumbuhan intelektual mereka, orang-orang buku membaca nol buku disekolah.<br /> Dengan sangat sedikit kecualian sebut Taufik yang baru saja dilewakan gelar Datuak Panji Alam Khalifatullah dari Panghulu Nan Sapuluah Suku Koto Sungai Gurah Pandai Sikek, kita semua berbekal nol buku ketika bersekolah, tidak mendapat kesempatan untuk ditanamkan rasa ketagihan membaca buku, kecintaan pada buku, keinginan bertanya pada buku dalam semua aspek kehidupan dan kebiasaan mengunjungi perpustakaan sebagai tempat merujuk sumber ilmu, dan konsekuensi membiasakan menulis sebagai ekspres perasaan serta pernyataan kecendiakiaan.<br /> Selain Taufik seminar nasional yang diikuti ratusan peserta itu juga menghadirkan dua narasumber lainnya, yakni budayawan dan penulis sastra nasional Gus Tf Sakai serta Dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang yang juga pimpinan Komunitas Seni Kuflet Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn.(006/Sumber: Singgalang, 27 April 2009).<br /><br /><br /><br />BACA KARYA SASTRA DAPAT HALUSKAN BUDI BAHASA<br /><br />Padangpanjang, Haluan<br /><br /> Ketua DPRD kota padangpanjang H. Hamidi mengatakan membaca karya sastra merupakan salah satu sarana yang mendapat menghaluskan budi dan bahasa. Orang yang hobi membaca karya sastra jiwanya akan halus dan peka terhadap berbagai keadaan sosial masyarakatnya.<br /> ”Sepantasnya buku sastra menjadi bacaan yang harus dibaca kalangan generasi muda guna memekakan perasaan mereka,” ujar Hamidi ketika membuka seminar sastra sekaligus Launching Buku Antologi Puisi Lautan Sajadah karya 46 penyair muda kota Padangpanjang, Sabtu (25/4), di FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah kota Padangpanjang.<br /> Menurut Hamidi, banyak generasi sekarang yang di dalam pergaulannya keluar dari norma-norma, baik norma dari masyarakat maupun agama. Perilaku muda-mudi yang semakin menghawatirakan itu, melukiskan keadaan mereka dimasa depan.” Jika moral generasi muda telah rusak alamat negeri ini bisa binasa,” katanya.<br /> Karena itu jelas Hamidi, buku sastra memuat banyak memuat pesan-pesan moral yang disampaikan. Pesan itu, jika dimaknai secara mendalam akan dapat membentuk karakater generasi muda di dalam pergaulannya sehari-hari.<br /> Hamidi yang juga alumni UMSB Muhammadiyah Padangpanjang ini mengatakan, dirinya merasa bangga atas lahirnya buku antologi puisi ”Lautan sajadah” karya 46 penyair muda kota Padangpanjang. Sepentasnya dikota Serambi Mekah Padangapanjang ini terus lahir sastrawan-sastrawan muda yang akan mengangkat nama baik Padangpanjang di tingkat nasional.<br /> ”Saya sangat mendukung penerbitan buku-buku sastra seperti ini, dan semoga akan lahir buku-buku lainnya,” harap Hamidi.<br /> Seminar sastra dan Launching Antologi Puisi itu mulanya akan dibuka Walikota padangpanjang, namun Walikota tidak berkesempatan hadir pada saat itu. <br /> Namun demikian seminar yang dihadiri 200 an peserta itu, berjalan sukses dan meriah. Tampil sebagai pembicara sastrawan nasional asal kota Payakumbuh Gus Tf Sakai dan penyair Sulaiman Juned.(aan/Sumber: Haluan, 27 April 2009).<br /><br /><br /><br />PARADIGMA PEMBELAJARAN BAHASA HARUS DIUBAH<br /><br />Padang, Haluan<br /><br /> Paradigma pengajaran bahasa disekolah, mulai dari sekolah dasar hingga lanjutin, harus diubah dengan guru memberikan porsi perhatian terhadap pembelajaran sastra, bukan hanya bahasa, karena sastra merupakan satu bidang pelajaran yang mampu menciptakan pembentukan moral yang akan mempengaruhi kepribadian putra putri bangsa.<br /> Hal ini dikemukakan oleh sastrawan nasional yang memimpin Komunitas seni Kuflet dan juga merupakan salah seorang tenaga pengajar sekolah tinggi seni Indonesia (STSI) Padangpanjang Sumbar, Sulaiman Juned ketika dijumpai Haluan kemaren di Padang.<br /> Menurut sastrawan lulusan Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta ini pengajaran sastra di sekolah sudah saatnya betul-betul mendapat porsi tersendiri dari guru bahasa.<br /> ”Dalam dunia pengajaran, keduanya harus berjalan seiring. Otomatis, porsinya keduanya harus diberikan seimbang, tidak hanya fokus pada bahasa dengan tata bahasanya saja. Ketika kita sudah memilih bahasa dan sastra menjadi mata pelajaran yang kita bina sebagai guru, maka keduanya harus diberi. Selama ini banyak guru yang mengabaikan hal tersebut. Pelajaran diberi semata-mata bahasa saja,” ungkap dia.<br /> Padahal, menurut Sulaiman pengajaran sastra secara benar dan sesuai porsi akan mampu memberi nilai afektif yang luar biasa bagi anak didik. Cinta, budi luhur, dan karsa-karsa kemanusian yang penting akan bisa dipicu tumbuh dalam diri anak melalui sastra yang diajarkan dan dipelajari dengan baik dan benar. Sehingga nantinya diharapkan anak-anak didik akan mampu membentuk kebangsaan yang berbudi luhur.<br /> Ketika harus menyampaikan muatan sastra, kebanyakan guru melewatkan saja bagian itu atau masih terika dengan buku teks, takut bereksperimen. Padahal, belajar sastra tidak bisa terpaku pada buku teks yang sesunggunhya hanya digunakan untuk pegangan. Guru harus kreatif dan inovatif, misalnya dengan membawa anak didik keluar kelas dan meminta mereka untuk bereksperimen, berapresiasi, atau berdiskusi, baik paradigma sastra lokal maupun dunia.<br /> Sulaiman menegaskan perlunya diubah cara pengajaran bahasa dana sastra di sekolah.<br /> ”Beberapa sastrawan sudah ada yang menyampaikan saran kepada pemerintah. Pak Taufik Ismail, misalnya, sudah menyampaikan hal tersebut lewat Horizon. Kepada Diknas sudah pernah pula dismpaikan. Namun mereka masih sebatas mengiyakan. Belum ada tindak lanjut sampai sekarang,” kata dia.<br /> Semestinya, pemerintah, dalam hal ini Diknas, mengundang para sastrawan untuk unjuk sumbang saran tentang bagaimana seharusnya kegiatan belajar mengajar Bahasa dan Sastra di sekolah, karena tidak sedikit guru bahasa dan sastra yang tidak mau mengajarkan sastra karena mereka sendiri tidak paham sehingga bagian pengajaran dilewatkan, padahal seharusnya ia disamapaikan. <br /> ”Mereka pikir bahasa saja, padahal sastra juga harus, karena bahasa tidak sama dengan sastra. Sedangkan muatan pelajaran bahasa di sekolah seharusnya adalah bahasa juga sastra. Tidak boleh dilupakan, karena sastra juga memiliki urgensi yang tinggi untuk diajarkan kepada anak didik demi menciptakan kepribadian anak bangsa yang seutuhnya.” tandas Sulaiman. (yyn/Sumber: Haluan, 28 April 2009).<br /><br /><br /><br />DARI SEMINAR HIMA BASINDO UMSB PADANGPANJANG:<br />MEMBANGUN BANGSA DARI TULISAN<br /><br />PADANGPANJANG, HALUAN.<br /><br /> Sebuah Seminar Sastra Nasional di gelar oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan sastra Indonesia (HIMA BASINDO) Universitas Muhamadiyah Sumatera Barat (UMSB) Padangpanjang, Sabtu (25/04). Seminar Sastra Nasional ini menyertakan beberapa pakar bertaraf nasional untuk memberikan materi dan pelatihan. Seminar ini mengangkat tema “Paradigma Kesusasteraan Indonesia” dengan pemateri antaranya Gus tf Sakai dan Sulaiman Juned yang merupakan penulis yang berkiprah di tingkat nasional asal Aceh yang kini tinggal di Sumatera Barat.<br /> Latar belakang diadakannya seminar ini adalah kondisi dimana kurang berkembangnya penulis-penulis daerah Sumbar, padahal potensi yang ada cukup besar. Mengingat banyaknya tokoh pejuang ataupun sastrawan yang berasal dari Sumbar, tidak berlebihan kiranya dilakukan upayauntuk membangkitkan kembali kejayaan kepenulisan penulis Sumbar.<br /> Ketua DPRD Padangpanjang, Hamidi menegaskan ketika membuka acara, upaya membangun bangsa juga bisa dilakukan dengan menulis, baik itu menulis prosa ataupun puisi. “Bahkan melalui dunia kepenulisan, kita bisa menghasilkan orang-orang yang bisa di contoh. Sementara salah satu penyakit bangsa yang kita hadapi sekarang adalah kurangnya orang-orang yang bisa dicontoh, demi kebaikan serta kemajuan bangsa dan negara ini” Kata Hamidi menjelaskan.<br /> Dalam seminar itu pembicaraan difokuskan pada maslah menulis, misalnya tentang bagaimana tentang membangkitkan kemauan dan kreativitas untuk menulis. <br /> Sastrawan Gus tf Sakai, menjelaskan beberapa hambatan yang dialami seseorang dalam menulis, padahal sebenarnya menulis itu bisa saja dilakukan oleh siapapun. Gus menekankan bahwa untuk menulis yang perli dimiliki pertama-tama adalah kemauan. Itu pula yang ditekankan oleh Sulaiman Juned, menulis itu mudah asal segera dilakukan. <br /> Kepada penulis pemula, kedua sastrawan nasional ini menyarankan agar segera mengirimkan karya apa saja ke media massa, dan jangan berhenti dan berputus asa walau belum dimuat (dipublikasikan). Tidak menjadi pencontek, rajin membaca, dan menambah wawasan juga merupakan kunci untuk bisa menulis. Dengan menulis, bukan saja bakat dan ekspresi tersalurkan, bahkan bisa melakukan perubahan, terutama bagi bangsa.<br /> Seminar nasional kali itu, dibarengi dengan peluncuran antologi puisi yang bertajuk “Lautan Sajadah”, yang merupakan karya gebrakan Mahasiswa Hima Basindo UMSB Padangpanjang, meski didalamnya juga memuat puisi penulis lain diluar Mahasiswa Hima Basindo yang sudah senior seperti, Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan.<br /> Dengan diterbitkannya antologi puisi “Lautan Sajadah” Hima Basindo UMSB Padangpanjang berhasil mengukir sejarah, ini mengingat ini merupakan gebrakan dalam menciptakan sebuah karya tulis yang kemudian akan dipasrkan secara nasional. Puisi-puisi yang dipublikasikan dalam buku “Lautan Sajadah” ada yang sudah diterbitkan oleh media lokal dan nasional, ada juga yang awalnya hanya merupakan tugas dalam mata kuliah Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia serta Menulis Kreatif.<br /> Immatul Jannah, Ketua Hima Basindo FKIP-UMSB Padangpanjang mengatakan, bahwa dengan diterbitkannya buku yang berisi puisi buah karya mahasiswa Hima Basindo UMSB Padangpanjang ini diharapkan dapat menjadi titik tolak lahirnya karya-karya berikutnya yang berkualitas serta menunjang perkembangan kesusasteraan Indonesia modern di Minang dalam rangka membangkitkan kembali kejayaan penulis dari ranah Minang.<br /> Dalam buku antologi yang memuat karya Empat Puluh Enam orang penyair ini, pembaca akan menemukan puisi-puisi yang beragam. Ada yang pendek namun padat makna, dan ada yang panjang dengan gaya bahasa yang puitik, menarik dan pilihan diksi yang unik. Buku yang patut mendapat apresiasi publik dicetak perdana sebanyak 1000 buku untuk dipasarkan secara nasional.<br /> Acara seminar sekaligus Lounching Antologi Puisi Lautan Sajadah ini berakhir sekitar pukul lima sore. Peserta yang hadir sekitar 200 orang. Peserta tidak hanya dari Padangpanjang, namun juga dari Dharmasraya, Medan dan Aceh. Mereka sengaja menghadiri seminar sekaligus ivent peluncuran antologi puisi ini karena ingin menambah wawasan dan ilmu di bidang kepenulisan dan kesusasteraan. (yeyen/ Sumber: Harian Haluan, 3 Mei 2009).<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-4358915828410131460?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-36506742102152317252009-03-30T20:08:00.000-07:002009-03-30T20:16:24.070-07:00Kolom Refleksi dan Detak Jam GadangTULISAN KOLOM INI TELAH DI MUAT DI <br />HARIAN UMUM HALUAN SUMATERA BARAT.<br /><br /><br />SUAP DAN WAKIL RAKYAT<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Suap atawa menyuap terus saja mengalir bagaikan tetesan air yang tak pernah habis-habisnya. Jika pada masa Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba), jarang sekali menyaksikan kasus suap-menyuap muncul di ruang publik, baik lewat televisi maupun surat kabar. Kasus-kasus seperti itu sepertinya sengaja ditutupi. Maka tidaklah heran jika korupsi pada masa itu sangat banyak terjadi, sementara rakyat yang merasa sebagai pemilik sah Republik ini tidak pernah tahu. Namun dewasa ini, sejak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai dibentuk, masyarakat menonton para koruptor dilayar kaca atau membaca di koran sama hebohnya dengan menyaksikan pertandingan sepakbola dalam event piala dunia.<br />Aktor-aktor pelaku korupsi satu persatu ditemukan, masuk bui, tetapi bermunculan juga aktor-aktor baru dalam dunia suap-menyuap. Pekerjaan suap dan menyuap terus saja terjadi, perilaku ini sepertinya sudah mendarah-daging dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri Indonesia tercinta. Mereka tak gentar dengan tuntutan hukum, apalagi bagi yang beragama Islam, pelaku suap atawa yang menyuap hukumannya sama saja. Di mahkamah Tuhan juga nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Pertanyaannya mengapa tak pernah habis, laksana ekor tikus sambung menyambung menjadi satu. Masya Allah!<br />Rata-rata yang tertangkap tangan oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nota bene adalah oknum wakil rakyat. Wakil rakyat yang pesangon dan fasilitas hidupnya ditanggung rakyat, masih juga memanipulasi rakyat. Padahal ketika ingin duduk di kursi dewan, mengumbar sekian janji akan setia berjuang untuk kepentingan rakyat. Setelah menempati posisi mengapa lupa kepada rakyat. Malahan oknum-oknum tersebut sangat suka mengerat laci, menghabisi segala isi, membuat istana pribadi. Seharusnya berkaca diri buat apalagi menerima suap, sedangkan gajinya saja cukup untuk disimpan buat beberapa keturunan.<br />Di musim ini, rakyat-bangsa dan negara ini membutuhkan para wakil yang berkenan memikirkan kemajuan bangsa dan negara, bukan yang hanya menebalkan kantong jas sapari atau menggemukakan rekening di bank. Penulis menampilkan puisi Taufik Ismail yang berjudul ”Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini” secara utuh untuk tempat kita bercermin, begini isinya; //Tidak ada pilihan lain. Kita haru/ Berjalan terus/ Karena berhenti atau mundur/ Berarti hancur// Apakah akan kita jual keyakinan kita/ Dalam pengabdian tanpa harga/ Akan maukah kita duduk satu meja/ Dengan para pembunuh tahun yang lalu/ Dalam setiap kalimat yang berakhiran/ ”Duli Tuanku”// Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus/ Berjalan terus/ Kita adalah manusia yang bermata sayu, yang di tepi jalan/ mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh/ kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara/ Di pikul banjir, gunung api, kutuk dan hama/ Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka/ Kita tidak punya kepentingan dengan seribu slogan/ Dan seribu pengeras suara yang hampa suara// Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus/ Berjalan terus//. (Dari Himpunan Puisi Taufik Ismail ”Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit). <br />Apakah para calon wakil rakyat yang sekarang sedang menjual ”dagangan”nya kepada rakyat pernah membaca puisi ini tempat berkaca melihat diri—agar tak menjual kenyakinannya—berkubang dalam kemunafikan. Semoga para calon wakil rakyat berkenan melihat wajahnya untuk memakmurkan negeri ketika mendapatkan kursi. ***<br /><br /><br /><br /><br />MENGGAULI TEATER<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Menyambut hari teater dunia (27/3) nanti. Mari sejenak mengenang jaman Yunani Klasik, tempat awal mula teater itu muncul. Teater masa itu, untuk menghormati dewa anggur dan kesuburan (Dewa Dionysus). Orang Yunani Klasik sangat menghargai aspek keagamaan. Kehadiran mitos Dionysus tidak terlepas dari pengaruh dewa Osiris yang berasal dari cerita orang-orang Mesir. Dewa Osiris cerita kehiduapannya yang mengalami penderitaan-kematian-kemudian bangkit kembali.<br />Dionysus, putra dewa Zeus penguasa alam dengan semele, ketika Dionysus terbunuh, Zeus menghidupkannya kembali. Mitos Dionysus merupakan simbol kehidupan manusia; lahir-tumbuh-berkembang-mati. Masyarakat Yunani Klasik mengaitkan cerita Dionysus dengan peristiwa alam, seperti; musim semi-musim panas-musim gugur dan musim salju. Jadi ritual pemujaan kepada Dionysus adalah keabadian perubahan alam, dan yang paling penting adalah perubahan terhadap nasib manusia. Festival terhadap pemujaan dewa Dionysus menjadi peristiwa dramatis.<br />Berangkat dari peristiwa itu pula, teater yang kini kita kenal mulai dimainkan di seluruh dunia. Dalam ritual Yunani Klasik, diadakan sayembara naskah drama. Pemenang dalam pelaksanaan pertama sekali diadakan adalah Thespis. Kemudian diikuti olrh Sphokles dengan naskah dramanya yang dikenal seluruh dunia, yakni Trilogi Yunani: Oedipus Rex- Oedipus Dikolonus- Antigone. <br />Naskah-naskah drama ciptaan Thespis dan Sphokles itu dipertunjukan dalam ritual tersebut dengan dialog-koor-tarian dan nyanyia. Para aktor waktu itu di sebut thespian. Demikianlah awal mula teater muncul di dunia ini. Sementara pengarang drama Yunani Klasik yang paling terkenal, diantaranya; Thespis, Aeschylus, Sphokles, Euripides, Aristophanes, dan Manander.<br />Inilah masa awal perkenalan menuju dunia teater modern. Teater masa itu hanya sebagai media upacara. Ternyata teater sudah sangat tua usianya, setua jaman Yunani Klasik dan Mesir Kuno ternyata. Sebagai tokoh teater, kita bukanlah orang baru yang melakukan pembaharuan, tak ada yang baru di atas dunia ini. Namun yang ada adalah inovasi atawa kebaruan. <br />Atas dasar itu, mari kita berkaca, sebab teater membutuhkan proses penciptaannya. Menciptakan bentuk lakon sekaligus menafsirkannya menjadi pengalaman pentas. Merancang konsep dasar, menata artistik; menganalisis/ menyajikan karakter tokoh serta menstransformasikan karakter lewat laku, serta menciptakan sudut pandang dramatik lakon sepanjang pertunjukan berlangsung, cakap dalam menghadirkan penciptaan ruang teatral yang esensial.<br />Mengenang teater-memperingati kemunculannya. Mari mengaplikasikan kenyataan teater dalam proses kreatif secara benar. Teater membutuhkan kerja kolektif yang didalamnya ada sastra-musik-tari-senirupa-dramaturgi. Kolektifitas kerja ini membutuhkan pikiran, tenaga, dan waktu. Teater merupakan karya yang kreatif, berteater itu tak gampang, dibutuhkan pengetahuan, keahlian dan kemauan. Ia menjadi produk empiris yang mencakup wilayah gagasan-emosi dan prilaku. Pertunjukan teater akan ditonton jika memiliki identitas. Hal ini akan tercapai tidak hanya lewat transformasi sastra di pentas, tetapi mampu menhadirkan peristiwa teater ke atas pentas. Begitu! Maka berteater itu harus digauli. ***<br /><br /><br /><br />TEMU KARYA TAMAN BUDAYA SE-INDONESIA<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Tiga puluh utusan Taman Budaya Se-Indonesia bertemu di Taman Budaya Sumatera Barat (27-30/7) Mendatang. Kegitan ini memunculkan tema ” Penajaman kearifan lokal melalui nilai-nilai edukasi dalam legenda nusantara”. Ini bermaksud agar masyarakat budaya di setiap daerah mampu menjadikan kekuatan budaya lokal sebagai salah satu identitas lokalitas. Penegasan hidup dalam pluralitas budaya yang berorientasi pada nilai-sikap dan tingkah laku. Kearifan lokal dalam bentuk ekspresi budaya yang mempersoalkan eksistensi budaya di tengah keragaman budaya bangsa Indonesia. ’Perbenturan’ budaya dalam ruang dan waktu seakan menjadi pertukaran dan saling mengisi ke dalam budaya masing-masing etnis yang terlibat pada event itu. Sehingga tidak terjadi perasaan etnosentris (mengagung-agungkan nilai budaya satu etnis saja).<br />Kesadaran akan pluralitas dianggap mampu menciptakan pemikiran terhadap masa depan kesenian dan budaya Indonesia yang sangat beragam. Selain itu, dapat pula mendorong para pemikir seni untuk membicarakan kajian lintas budaya (Cross Culture) dengan multi disiplin ilmu yang nantinya mampu melahirkan; etnomusikolog-etnolog tari-dramawan-dramatug-kritikus seni. <br />Tawaran panitia dengan tema ’Penajaman Kearifan Lokal melalui Nilai-nilai Edukasi dalam Legenda Nusantara’ mampu menjawab kekayaan ragam budaya. Jadi dalam relasi antara budaya, hendaknya menghindarkan diri dari pemutlakan orientasi lokal yang mengutamakan warna satu kebudayaan tanpa menghargai eksistensi tradisi seni etnis lainnya. Tradisi seni suatu etnis yang sangat kecil sekalipun tak dapat dilecehkan oleh suatu kebudayaan yang lebih besar. Itulah salah satu hal yang sangat penting, dan harus disadar, serta dibicarakan dalam temu karya para kepala Taman Budaya Se-Indonesia nanti. Bangsa Indonesia yang sangat plural, memiliki keberagaman budaya tentu harus bercermin pada alam demokrasi, agar kreator-pemerhati-para ahli dan praktisi seni mampu menjawab tantangan ’kearifan budaya lokal’ yang hidup di alam pluralistik. <br />Disamping itu, temu karya ini juga membicarakan tentang peran strategis Taman Budaya dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator-mediator-labor-etalase kebudayaan daerah masing-masing. Jika fungsi ini benar-benar terealisasi dalam kerja-karya dan karsa pihak Taman Budaya Se-Indonesia, betapa besar sumbangsih buat kemajuan seni dan budaya bangsa. Semoga ini tidak hanya sebagai slogan.<br />Melalui kesadaran ruang dan waktu antar Taman Budaya tersebut, melahirkan konsepsi nilai sosio-budaya. Pengungkapan seni dan budaya yang berada dalam frame lokal diciptakan menjadi global. Akhirnya, kekuatan seni budaya yang sangat beragam di Indonesia, dapat menjadi suatu kekuatan budaya baru. Berangkat dari kekuatan budaya lokal, terciptalah budaya global Indonesia. Luar biasa jika hal ini dapat terjadi di Indonesia.<br />Masyarakat Indonesia dari dahulu kala telah hidup dalam pluralitas budaya. Pluralitas budaya tentu berorientasi kepada relasi budaya, juga memiliki wawasan dalam orientasi nilai-sikap-tingkah laku secara terus menerus. Menyikapi pluralitas haruslah saling lakukan, kenapa tidak. Para sesepuh negara ini telah pernah melakukannya melalui simbolik ”Bhinneka Tunggal Ika” walau bercerai-berai tapi tetap bersatu termasukermasuk seni dan budaya. Mari kita belajar saling menhargai budaya lokal. ***<br /><br /><br /><br />GURU DITUNTUT KREATIF<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Kecerdasan intelelektual anak bangsa ini berada ditangan seorang guru. Murid dari kecerdasan seorang guru mampu menjadi presiden-gubernur-walikota-bupati-camat-ahli hukum-politikus-militer-wakil rakyat, dan lain sebagainya. Namun guru, sampai akhir hayatnya tetap menjadi guru. Sering pula kita menemukan guru yang tulus ikhlas mengajar, tanpa mengharap pamrih. Terlalu sering pula kita menyaksikan dan membaca guru di daerah terpencil hanya sendiri mengajar di setiap kelas. Luar biasa, bakhti seorang guru. <br />Namun apakah seorang guru pernah merasa bertanggungjawab terhadap generasi Indonesia yang dewasa ini kecerdasannya di bawah rata-rata. Apakah guru pernah melakukan introfeksi diri bahwa generasi yang sedang dibangunnya adalah generasi cengeng-manja-pemalas dan romantis. Guru laksana memakan buah simalakama, betapa tidak! Jika muridnya cerdas jasa seorang guru tak pernah disebut. Tetapi andaikan muridnya bersikap bengal apalagi tidak naik kelas atau malah tidak lulus Ujian Nasional, masyarakat beramai-ramai menyalahkan sang guru. Sekaligus mengklaim bahwasannya sekolah tersebut tidak berkualitas. Inilah fenomena seorang guru di negeri tercinta. Sesungguhnya, pendidikan seorang anak tidak hanya tanggungjawab guru. Orang tua di rumah menjadi penanggungjawab utama terhadap keberhasilan anak-anaknya, di sekolah guru dan anak didik hanya bertemu dua belas jam sementara di rumah prilaku anak harus dikontrol oleh orang tua. Jika guru dan orang tua mau bekerjasama, maka akan terciptalah nuansa pendidikan yang berkualitas. <br />Berdasarkan opini yang muncul di tengah masyarakatt, guru dituntut untuk kreatif di depan kelas. Memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai guru. Tugas seorang guru tidak hanya menyuguhkan ranah kognitif semata, alangkah bangganya seorang guru jika mampu melahirkan generasi yang cerdas, tapi memiliki nilai afektif (sikap/moralitas) yang baik pula. Disamping itu, mampu menciptakan anak-anak yang memiliki psikomotorik (kemampuan atau keahlian). Contoh yang paling sederhana terjadi bagi guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia. Guru bidang studi ini, selain harus memiliki kecerdasan intelektual juga dituntut untuk kreatif sebab harus memiliki kemampuan/ keahlian khusus, misalnya; materi sastra, guru dituntut untuk mampu menulis puisi-cerpen-naskah drama sekaligus pula mampu membaca dan memainkannya. Pada akhirnya guru yang memiliki kemampuan khusus tentang itu, menjadi guru yang disenangi dan disegani di kelas, secara otomatis pula dapat melahirkan penulis-penulis muda berbakat. Guru seperti ini tentunya yang diharapkan, dan mampu menjadi penjaga gawang dalam mencerdaskan generasi pelurus bangsa ini. <br />Jadi, guru tentunya harus mampu menjadi suri tauladan bagi muridnya. Tidak perlu memasang wibawa yang berlebihan agar dihargai dan dihormati oleh muridnya. Menjadi guru yang dikagumi-disenangi-disegani, cobalah dengan memunculkan kreatifitas di dalam kelas agar belajar menjadi tidak monoton. Siswa tentu sangat bangga bila guru bahasa dan sastra Indonesianya, memiliki kemampuan untuk menjadi penyair-cerpenis-dramawan. Apalagi jika mampu menjadi pembaca puisi yang sangat baik, bahkan bila perlu menjadi aktor. Andaikan ini terjadi, pastilah sang guru menjadi orang yang digugu dan ditiru. Tak percaya, silakan coba.Marilah bersama-sama membangun pendidikan terbaik untuk menciptakan generasi yang kokoh dan intelek. Semoga!***<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-3650674210215231725?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-64487727110534766742009-03-22T19:43:00.000-07:002009-03-22T19:46:37.139-07:00PUISI-PUISI UNTUK LOMBA BACA PUISI KOMUNITAS SENI KUFLETMERAYAKAN ULANG TAHUN KOMUNITAS SENI KUFLET PADANG PANJANG YANG KE 12, PANITIA AKAN MENGADAKAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT) KARYA TULIS ILMIAH KEPADA PARA GURU SE- SUMATERA, SERTA LOMBA BACA PUISI TINGKAT MAHASISWA DAN SISWA. INI KAMI PUBLIKASIKAN PUISI-PUISI YANG DIBACAKAN DALAM LOMBA. KEGIATAN INI BERLANGSUNG; 10 – 12 Mei 2009, BERTEMPAT DI GEDUNG TEATER MURSAL ESTEN, STSI PADANGPANJANG-SUMATERA BARAT. (PANITIA). <br /><br />PUISI WAJIB:<br />Karya: Taufik Iswmail<br /><br />KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI<br /></span><br />Tidak ada pilihan lain. Kita harus<br />Berjalan terus<br />Karena berhenti atau mundur<br />Berarti hancur<br /><br />Apakah akan kita jual keyakinan kita<br />Dalam pengabdian tanpa harga<br />Akan maukah kita duduk satu meja<br />Dengan para pembunuh tahun yang lalu<br />Dalam setiap kalimat yang berakhiran<br />”Duli Tuanku”<br /><br />Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus <br />Berjalan terus<br />Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan<br />Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh<br />Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara<br />Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama<br />Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka<br />Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan<br />Dan seribu pengeras suara yang hampa suara<br /><br />Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus<br />Berjalan terus<br /><br />1966 <br /><br />(Dikutip dari Himpunan Puisi Taufik Ismail, Mengakar Ke Bumi Menggapai Ke Langit).<br /><br /><br /><br /><br />PUISI WAJIB<br />KARYA: Sulaiman Juned<br /><br />PULANG<br /> -kepada penyair Mustafa Ismail<br /><br />sudah waktunya kita pulang. Mengetuk pintu<br />menata pekarangan rumah dengan cinta, biar<br />gerimis masih mengurung perjalanan.<br /><br />sudah waktunya kita pulang. Mengusir pipit<br />sedang makan padi muda agar tak menghitung<br />nama-nama di koran pagi dalam warung kopi. Lalu <br />menggantikan pertunjukan seudati selepas panen.<br /><br />sudah waktunya kita pulang. Rakyat di kampung-kampung<br />menjawab keraguan sendirian. Kita ganti saja warna<br />hitam atau merah jadi putih antar ke pintu surga<br />(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan)<br /><br />-Padangpanjang, 2001-<br /><br />(Dikutip dari antologi puisi Riwayat, Sulaiman Juned)<br /><br /><br /><br /><br />PUISI PILIHAN<br />KARYA: M. Nurgani Asyik<br /><br />KAU, NUN DI SUDUT SANA<br /><br />saksikan burung-burung begitu riang dari satu pohon ke pohon lain<br />(ada sungging senyum di barat sana)<br />engkau di timur aku dengan anak-anak bumi<br />mengimpikan setaman mekar di balik kenestapaan para pengungsi<br />mari burai tentang kamboja putih<br />dan taman gersang yang masih sudi memangku.<br /><br />saksikan mentari<br />mengusik tidur gelandangan pagi itu<br />mengantar mereka dalam tualang kehidupan<br />mencoba merajut kehidupan dari awal<br />setelah segala yang tertinggal jadi hilang tak berbekas<br />(aku masih berdoa agar sisa embun<br />yang basah nemani dahaga sehari-hari)<br />saksikan bunga-bunga rekahkan ceria<br />sedangkan kami senantiasa merindukan<br />tangan-tangan lembut yang segaja turun dari surga<br />ketika senyum ada di situ menjamah hari-hari<br /><br />kau<br /><br />Banda Aceh, 1998<br /><br /><br />PUISI PILIHAN<br />KARYA: Iyut Fitra<br /><br />SELAMAT PAGI RARA<br /><br />rara menangkap pagi<br />sisa embun lepas dari tangkai. kupu-kupu melesat mengejar awan<br />aku ingin terbang. lebih indahkah dunia dengan sayap terkepak<br />atau masih seperti debu jalan<br /><br />bocah itu mengulurkan tangan di jendela. seolah ingin meraba<br />matahari,<br />dan bernyanyi, kupu-kupu yang lucu...<br />tapi kehidupan telah terpanggang, hutan hangus lebam<br />berlaksa prahara mengusir segala ke perih pengungsian,<br />tak ada kupu-kupu<br />adakah ia tahu<br /><br />rara menagkap pagi<br />tapi pagi telah mati<br /><br />Payakumbuh, Februari 2005<br /><br />(Dikutip darim Antologi Puisi Dongeng-Dongeng Tua, Iyut Fitra)<br /><br /><br /><br />PUISI PILIHAN<br />KARYA: D. Kemalawati<br /><br />KOTA MATI<br /><br />hari ini berjalan-jalan di jalan sepi<br />plong<br />dadaku, rasaku, sajakku<br />plong<br />terbang ke awan bebas<br />plong<br />bernyanyi bersama angin<br />plong <br /><br />nyanyian ini nyanyian kami<br />yang lama sembunyi-sembunyi<br />nyanyian ini nyanyian bidadari<br />yang sembunyi-sembunyi menari<br />tarian ini tarian seudati<br />para lelaki menepuk dada memetik jari<br />lelaki di sini lelaki sejati<br />biarlah mati di negeri sendiri<br /><br />4 Agustus 1999<br />(Dikutip dari Antologi Puisi Surat dari negeri tak bertuan, D. Kemalawati).<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-6448772711053476674?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-87085171753175962272009-03-22T19:42:00.001-07:002009-03-22T19:42:51.183-07:00PENYAIR IYUT FITRA: Pembicara Atawa PenceritaPENYAIR IYUT FITRA PEMBICARA ATAWA PENCERITA<br />Oleh: Sulaiman Juned *)<br /> <br /> Beberapa waktu yang lalu (14/3) Penyair nasional asal Payakumbuh Iyut Fitra melakukan Lounching antologi puisi Dongeng-Dongeng Tua setelah pada tahun 2005 meluncurkan buku puisinya yang pertama Musim Retak. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, bertempat di Gedung Teater Mursal Esten. Lounching ini dibuka dengan pertunjukan teaterikal puisi berjudul “Tangga” Karya Iyut Fitra yang digarap mahasiswa HMJ Teater STSI Padangpanjang lewat eksplorasi tubuh. <br /> Yusril, S.S., M.Sn Ketua Jurusan Teater mengatakan, ini kali kedua penyair Iyut Fitra hadir di sini. Di awal pendirian jurusan teater pada tahun 1997, Iyut pernah baca puisi yang diiringi dengan musik orkestra. Lounching buku sastra seperti ini penting dilakukan oleh HMJ, sebab sastra sangat berhubungan dengan proses kreatif seorang pekerja teater. Jadi jurusan teater sangat terbuka dan dapat menjadi ‘rumah’ bagi seniman-seniman Indonesia, minimal seniman yang bermukim di Sumatera Barat. Para penyair, teaterawan, kreografer, komposer dan pelukis serta sinematografi silakan datang ke jurusan teater STSI Padangpanjang, kami akan sambut denga senang hati. Fasilitas ini milik kita untuk memajukan dunia kesenian.<br /> Iyut Fitra mengatakan, saya sangat senang dan bangga serta tersanjung dijamu oleh adik-adik jurusan teater. Sedangkan mengenai puisi-puisinya, Iyut tidak mau menjelaskan makna hasil karyanya kepada pembaca, sebab puisi ketika sampai di tangan pembaca telah menjadi milik si pembaca. Puisi yang telah lahir, ia harus berjuang sendiri untuk menentukan jalan hidupnya. Puisi diumpamakan seorang anak, ibu telah berjuang melahirkannya tentu selanjutnya perjuangan sang anak pula agar mampu mempertahankan hidupnya. Begitulah, tugas penyair hanya menulis. <br /> Penyair Iyut Fitra dalam puisinya menciptakan lawan bicara berupa manusia yang secara eksplisit disebutkan, atau manusia tertentu tetapi implisit. Kehadiran (identitasnya) dapat ditemui dalam teks, seperti dalam puisinya berjudul “Jamila” atau manusia umumnya dalam puisi “tangga” . Situasi bahasa yang ditawarkan penyair Iyut Fitra lewat engel naratifnya, merujuk pada persoalan pihak mana saja yang terlibat dalam komunikasi teks sastra? Siapa pembicara atau pencerita? Kepada siapa pembicaraan itu ditujukan? Siapa yang menjadi lawan bicara? Situasi bahasa merupakan sistem komunikasi dalam karya sastra berbentuk puisi.<br /> Penyair adalah Writer: (penulis/ penyair/ pengarang). Identitas aku, kau, kita dalam teks puisi adalah narator. tuhan, mu, saya dan sebagainya dalam teks puisi adalah narratef. “Lawan bicara/ yang di ajak bicara/ pihak yang dituju”. Kita semua yang membaca teks dalam hal ini karya Iyut Fitra adalah real reader atau audience (pembaca/khalayak). Setiap pembicaraan di dalam puisi ditujukan kepada seseorang (lawan bicara). Semua genre puisi baik dialog, monolog maupun naratif selalu ada lawan bicara. Hanya saja penyair terkadang menghadirkan lawan bicara dalam puisinya secara eksplisit. Sesungguhnya secara implisit sosok si penyair itu hadir di dalam teks puisinya.<br /> Pembicaraan tentang tife penyair dapat membantu pembaca puisi untuk mengenali identitas teks. Setiap teks puisi Iyut Fitra selalu hadir sebagai pencerita atau pembicara kepada lawan bicara (pembaca atau khalayak). Iyut, dalam teks puisinya kehadiran lawan bicaranya nyata. Disamping itu, yang diajak bicara tidak hanya terbatas pada manusia melainkan juga alam dan Tuhan. <br /> Sahrul N. Dosen STSI Padangpanjang yang kritikus Seni itu, melakukan telaah puisi penyair Iyut Fitra lewat Romantisme Naratif dalam Puisi Iyut Fitra. memaparkan “Membaca puisi cinta adalah membaca kehidupan itu sendiri. Puisi yang baik akan selalu punya sihir kata yang mampu melibatkan perasaan pembaca. Ia membawa kita pada kembara tanpa batas. Iyut Fitra mengurai romantisme itu dalam narasi yang terukur dan tertata rapi. Narasi puisi Iyut terlihat ketika ia bercerita tentang cinta (cinta pada ibu, perempuan, negeri dan segala persoalan yang menyentuh rasa dan pikirannya). Ia menyampaikan sebuah cerita”. <br /> Sahrul N membaca Dongeng-Dongeng Tua, yang berisi tujuh puluh puisi Iyut Fitra, lalu membagi tiga periode pemakaian diksi sang penyair. Tahun 2004; penyair berangkat dari semangat kehidupan yang liar dan kelam. Diksi yang dipakai lugas dan berani. Sang penyair masih berpacu dalam dinamika kehidupan tanpa kemapanan. Aspek puisinya yang berjudul Mabuk Luka: //......bukan penyair bika tak mabuk/ pada luka-luka dunia. kesintalan perempuan malam yang bergoyang//.<br /> Tahun 2005; Romantisme pada tahun ini memperlihatkan tingkat kemapanan dalam memandang kondisi sosial. Kematangan jiwa seorang penyair dalam memandang kehidupan. Hidup tidak lagi menjadi beban. Diksi yang filosofis mulai menghiasi karya-karya Iyut Fitra. Bahasa pada periode tahun 2005, terasa ada ragam bahasa puitik dengan bahasa praktis. Puisi-puisinya sangat puitik dengan bahasa emotif yang terjaga. Mari kita petik salah satu puisinya yang berjudul Sembilu: //hanya serasa awan terjahit untuk selimut// dalam gigil kesah betapa aku langit ingin menjemput/ waktu menjalar berubah bilang/ kau yang datang sebagai kupu-kupu/ jangan pernah menjelma sembilu//.<br /> Tahun 2008; Romantisme dalam periode ini, merupakan periode kematangan bagi pencarian gaya kepenulisan dan pemilihan diksi. Persoalan budaya, moral, politik, adat dan sebagainya menjadi inspirasi dalam pertarungan imajinasinya. Romantisme tidak lagi sekedar cinta perempuan, tetapi menjadi romantisme adat, budaya, seni, agama, politik dan sebagainya. Mari kita simak petikan puisinya Hujan Telah Reda: ....//payakumbuh 15 maret. hujan telah reda, kotaku masih pucat/ tadi pagi telah kuterima sebuah lukisan/ bergambar batu nisan//.<br /> Demikianlah ungkapan Sahrul N, ketika membahas dunia kepenyairan sekaligus karya-karyanya. Iyut Fitra tak ada keraguan, kesendatan dalam menuangkan diksi berbentuk puisi naratif. Termasuk komponen linguistik dan bahan kesasteraan terukir dalam bahasa puisi. Begitulah perkembangan kepenyairan seorang Iyut Fitra.<br /> Acara sehari penuh itu, dihadiri oleh mahasiswa FKIP/ Bahasa dan sastra Indonesia Kauman Padangpanjang sebanyak 60 orang, mahasiswa STSI Padangpanjang. Juga dihadiri Tya Setiawati pentolan teater Sakata Padangpanjang, anggota Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Kegiatan itu ditutup dengan membacakan puisi-puisi Iyut Fitra. Turut membacakan puisi; Yusril (Ketua Jurusan teater/Pimpinan Komunitas Seni Hitam Putih), Tya Setiawati (Sutradara Teater Sakata), Dona Sangra Dewi (Sekretaris Komunitas Seni Kuflet), Immatul Jannah, Syarif Hayatullah, Erianto (Mahasiswa FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia), Zulkani Alfian dan Susandrro (Mahasiswa Jurusan Teater). Yang paling menarik dari acara baca puisi tersebut, ternyata penyair Iyut Fitra turut menilai para pembaca puisi, lalu diakhir acara menyerahkan bingkisan sebuah baju dan antologi puisi ’dongeng-dongeng tua’ kepada Tya Setiawati yang dianggap Iyut menjadi pembaca puisi terbaik. Luar biasa! Bravo Iyut Fitra!<br />*) Penulis adalah penyair, Sutradara teater, dan Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, serta dosen tetap jurusan Seni Teater STSI Padangpanjang.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-8708517175317596227?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-56141715089129100562009-03-12T00:50:00.001-07:002009-03-12T00:50:56.929-07:00Teater Modern di AcehTEATER MODERN DI ACEH: HIDUP SEGAN MATI TAK MAU<br /><br /> Oleh: Sulaiman Juned *) <br /> <br /> Andaikan permasalahan dana yang membuat dunia seni pertunjukan teater agak tersendat-sendat, seperti kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau. Begitulah amsal nafas kehidupan dunia teater di seluruh Indonesia. Berbicara masalah dana, komunitas-komunitas teater dimanapun ia berada tetap saja harus merogoh uang dari kantong sendiri untuk sebuah produksi teater. Biasanya sutradara harus mengeluarkan uang pribadinya untuk membiayai proses kreatif berteater. Jangankan di daerah, Jakarta saja masih mengalami fenomena seperti ini. Namun lain halnya dengan kondisi di Nanggroe Aceh Darussalam sekarang ini, dana melimpah baik dari pemerintah maupun NGO asing pasca tsunami. Dana tersebut ada yang dikhususkan untuk perkembangan dan kemajuan dunia seni di Aceh, bahkan ada yang lebih khusus lagi untuk kemajuan dunia teater di Aceh. Tapi alangkah sayang, jangankan untuk berkembang maju, jalan di tempat pun tidak. <br /><br />Masa lalu Teater Aceh dan Pasca Tsunami. <br /> Mari kita melirik hati, mengenang sekian puluh tahun ke belakang produktivitas teater modern Indonesia di Aceh. Masa itu, pendanaan sulit, kelompok teater ramai yang paling menyenangkan persaingan juga menjadi sehat. Antara tahun 1970-1997 Taman budaya Aceh yang digawangi Drs. Sujiman A.Musa, M.A memprogramkan pertunjukan teater pilihan tiap bulan. Program tahunan ini hanya dipilih lima kelompok teater yang dianggap berkualitas untuk pentas, dana didukung oleh Taman Budaya Aceh sekitar Rp.500.000,- per grup selebihnya ditanggung masing-masing kelompok teater tersebut jika kurang. Waktu itu, muncullah kelompok-kelompok teater independen seperti; Sanggar Kuala pimpinan Yun Casalona, Teater Mata pimpinan (Alm) Maskirbi, Teater Bola pimpinan (Alm) Junaidi Yacob, Teater Mitra Kencana pimpinan (Alm) Pungi Arianto Toweran, Kriya Artistika pimpinan Kostaman, Teater Peduli pimpinan (Alm), M.Nurgani Asyik, Sanggar Cempala Karya pimpinan Sulaiman Juned, Teater Alam pimpinan Din Saja, Sanggar Kuas pimpinan M.J. Seda, Teater Kosong pimpinan T. Yanuarsyah, teater Gita pimpinan Junaidi Bantasyam. Ada juga kelompok teater kampus yang masa itu ikut bernafas, seperti; Gemasatrin FKIP Unsyiah pimpinan Inal Fromi, Sanggar Kisnaka Unsyiah Pimpinan Zab Bransah, UKM-Teater Bestek-Fak. Ekonomi Unsyiah pimpinan Iwan Yacob, Sanggar Kita Fak. Hukum Unsyiah pimpinan J.Kamal Farza, UKM-Teater Nol pimpinan Jarwansyah. Denyut nadi perteateran di Aceh dalam kurun waktu tersebut memang terus berkembang dan mencapai puncak keemasannya. Ini dibuktikan setiap ada pertemuan teater Indonesia dimana saja, teater Aceh pasti ikut serta, seperti pertemuan teater Indonesia di Makasar 1990, di Jakarta tahun 1995, terakhir di Pekanbaru tahun 1997, setelah itu teater Indonesia pun tidak pernah lagi mengadakan pertemuan sekaligus tak memiliki isu.<br /> Rekan-rekan seniman teater Sumatera cepat membaca kondisi ini, lalu memunculkan isu teater Indonesia kita tatap dari Sumatera. Isu ini ditangkap dan dilaksanakan oleh Jurusan teater STSI Padangpanjang dengan label Pekan Apresiasi Teater. Lagi-lagi Aceh hanya muncul satu kelompok teater, Teater Reje Linge Takengon Aceh Tengah pimpinan Salman Yoga. Sayang, merekapun datang hanya sebagai peninjau bukan mementaskan raga teater, menyedihkan memang. Bolehlah, alasan keterpurukkan teater di Aceh karena konflik yang berkepanjangan antara GAM dan TNI serta POLRI sehingga teater tidak diperbolehkan melakukan pementasan malam hari. Kita kenang masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang, kesenian dan seniman Indonesia di ikat ruang geraknya. Namun seni dan seniman tetap melakukan aktivitasnya, jadi alasan klasik tersebut hanya untuk menutupi ketidakmampuan dalam berproses kreatif.<br /> Ada keinginan untuk menjadi lebih baik. Teater dijadikan media pembelajaran moralitas, dan rehabilitasi psikologis bagi anak-anak korban tsunami. Sesungguhnya ini awal yang sangat baik, namun sayang di Nangroe Aceh Darussalam dalam kurun waktu itu bermunculanlah teater-teater yang berjenis Lawakan. Setiap ada pertunjukan teater pasti pertunjukan tersebut menjadi lawak (bukan komedi), penonton hanya membawa pulang tertawa setelah menyaksikan pertunjukan. Begitulah kondisi teater di Aceh. <br /> Selanjutnya tanggal 12 sampai 18 April 2008, di Taman Ratu Syafiatuddin Banda Aceh diadakan kegiatan budaya Diwana Cakradonya, dalam kegiatan tersebut juga muncul event festival teater se-Nanggroe Aceh Darussalam. Ada rasa bangga dan haru ketika mendengar kegiatan teater diberi ruang dalam pesta budaya Aceh tersebut. Namun penulis sangat renyuh menyaksikan teater dipertunjukan dalam pasar malam, dengan fasilitas pertunjukan di bawah standar. Warga dan Pemerintah Daerah Aceh belum menghargai seni teater, yang paling menyedihkan malah masyarakat seniman ikut pula merendahkan dirinya. Apalagi ketika penulis menyaksikan pertunjukan demi pertunjukan, secara keseluruhan pekerja teater Indonesia di Aceh kurang mengerti konsepsi pemeranan, penyutradaraan dan artistik sehingga menggarap pertunjukan teater hanya mengandalkan pengalaman empirik semata. Teater dewasa ini, bukan lagi sekedar hobi, teater telah jadi bagian dari ilmu pengetahuan. Jadi berteater itu harus berguru bukan meniru. Tataran dunia perteateran di Aceh masih dalam taraf menirukan rutinitas kehobian dalam menggeluti teater. Festival teater Se-NAD itu, muncul dalam rutinitas ketimbang tak ada pertunjukan, makanya dilaksanakanlah kegiatan yang menghabiskan banyak uang dengan kualitas kegiatan rendah. Festival teater seharusnya dilaksanakan di gedung pertunjukan yang siap dengan fasilitas pendukung seperti lighting (cahaya), gedung pertunjukan yang memiliki akuistik bagus yang akhirnya berimbas pada kualitas pertunjukan. <br /><br />Aceh Butuh Lembaga Pendidikan Tinggi Seni<br /> Masyarakat teater Aceh memiliki budaya lokal berteater seperti; dalupa, guel, P.M.T.O.H, didong, dangderia, hikayat dan sebuku serta Gelanggang Labu. Teater-teater tradisi ini, mampu menjadi pemicu teaterawan Aceh dalam proses kreatifnya. Dewasa ini, generasi Aceh banyak yang tidak kenal lagi mengenai seni tradisi yang bernilai tinggi ini. Atas dasar inilah, tak ada salahnya penulis menggantungkan harapan kepada Pemerintah Daerah, Praktisi Keilmuan, Seniman, dan Seniman Akademis baik yang berada di Aceh maupun di luar Aceh untuk duduk bersama memikirkan dan merumuskan pendirian Lembaga Pendidikan Seni di Aceh. Andai Lembaga Pendidikan Seni ini berdiri, tidak hanya mampu mendokumentasikan seni teater tradisional Aceh, namun akan berada dalam cakupan seni yang universal menjadi laboratorium seni Islam Nusantara. Hal ini dapat terealisir karena Aceh kini memiliki hukum Islam sebagai landasan ideal dalam bermasyarakat melalui Qanun Nanggroe Aceh Darussalam. Jika hal ini dikaji serius oleh masyarakat seniman dan PEMDA NAD, maka Seniman Aceh juga harus melahirkan Qanun (Hukum) tentang kesenian. Seni Aceh adalah seni yang berlandaskan Islam. Jadi lembaga pendidikan seni di NAD berbeda dengan kajian seni yang ada di IKJ Jakarta, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Bali, STSI Bandung, STSI Padangpanjang, STKW Surabaya, AKMR Pekanbaru, Akademi Seni Papua. Lembaga Pendidikan Seni ini, selain mampu mengangkat martabat kesenian Aceh, juga mampu mendokumentasikan seluruh seni tradisi Aceh sekaligus mengkaji seni secara keilmuan tidak hanya sebagai hobi. Andaikan Lembaga Pendidikan Seni berdiri di Aceh, ia akan mampu menjawab tantangan jaman terhadap kualitas intelektual seniman Aceh, bukan kuantitasnya. Sekaligus menjadikan Aceh tempat kajian seni yang Islami di dunia selain Turki. Bagaimana (?) Semoga!<br /><br /><br /><br />*) Penulis adalah Penyair, Sutradara dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, juga dosen jurusan teater STSI Padangpanjang asal Aceh.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-5614171508912910056?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-70584769689576035982009-03-10T19:12:00.000-07:002009-03-10T19:13:27.251-07:00Kolom "Refleksi da Detak Jam Gadang"Sulaiman JunedKolom Refleksi:<br />CALEG DAN SELEBERITIS<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Proklamator Republik Indonesia, Bung Hatta pernah berpesan pada tahun 1955, ”Memilih itu bukan kewajiban yang ditimpakan kepada saudara, melainkan hak saudara. Hak ikut serta menentukan nasib sendiri sebagai warga bangsa yang ikut berdaulat. Akan tetapi dengan hak itu saudara ikut memikul tanggung jawab tentang buruk atau baik nasib kita sebagai bangsa” (Kompas, 22 Februari 2009). <br />Pemilu legislatif sudah di ambang pintu, siap tak siap haruslah siap pada 9 April 2009 nanti, dan kita pun harus memerdekakan diri untuk memilih, tanpa tekanan, tanpa paksaan dari dan oleh siapapun. Penulis sangat setuju ungkapan Bung Hatta mengenai Pemilu. Memang sebagai anak bangsa selayaknya begitu. <br />Namun sayang, semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu untuk capres, atau legislatif yang duduk di DPR/DPRD tingkat provinsi, kabupaten/kota para kandidat mulai ’turun gunung’ dan ’menebar pesona’. Mereka mulai melakukan politik pendekatan kepada rakyat. Hal ini sama persis yang dilakukan oleh para selebritis di negeri ini, ketika mereka kehilangan pamor lalu menciptakan ramor di ruang-ruang publik agar mereka dibicarakan kembali. Mulailah diciptakan gosip baik di program Gospot, Silet maupun Sergap (milik RCTI) untuk menaikkan pamornya kembali. Jika mereka bermandikan kemewahan, tak pernah ingat kepada penggemarnya. Sering penggemarnya dilupakan begitu saja. Luar biasa!<br />Tebar pesona melalui poster, spanduk, dan baliho di jalan raya seperti bintang bertebaran di langit biru. Memasang iklan di media massa dengan bahasa yang membumbung tinggi sampai ke langit ke tujuh. Bahkan ada juga yang melakukan ’turun gunung’ untuk mendatangi rumah-rumah rakyat, memperkenalkan diri memperkuat ”brand” pribadi dan partai. Ada yang lebih tragis mereka berani menjatuhkan lawan dengan cara tidak ’fair’. Di setiap desah nafas mereka lakukan kampanye walau lewat metode saling memperolokkan, mengejek-menghina. Inilah mentalitas calon wakil kita.<br />Rakyat memerlukan wakil yang jujur-amanah dan mampu memperjuangkan nasibnya. Para caleg selayaknya melakukan sosialisasi dan konsolidasi terhadap cara mencoblos atau mencontreng. Ini lebih penting dilakukan caleg, sebab ada empat lembar kertas pemilihan yang lebar-lebar yang membuat bingung pemilih di ruang sempit nanti. Caleg lebih tepat menjelaskan fungsi, tugas dan kedudukan wakil rakyat di DPR-DPD-DPRD itu apa saja, lalu untuk siapa keberadaan mereka itu dianggap penting di bumi pertiwi ini. Jika perlu melakukan pidato di televisi dan radio, tentang pendidikan, budaya dan ekonomi atau perkembangan politik di negeri ini. <br />Para caleg tak perlu ’turun gunung’ dan ’tebar pesona’ dengan pamflet, spanduk, baliho yang tersebar seluruh kota. Berapa dana yang harus dikeluarkan, wah ini luar biasa. Apakah nanti ketika jadi anggota DPR/DPRD tidak berpikir untuk mengembalikan uang yang telah banyak terkuras? Tak perlu pula para caleg saling menjatuhkan lawan politik dengan jalan tidak sehat. Andai terpilih nanti, apakah ingat dengan orang-orang yang ber-’keringat-keringat’ di bilik sempit untuk memberikan suara kepadanya. Apakah para caleg tidak berperilaku sama dengan selebritis kita yang melupakan penggemarnya. Semoga tidak! Mari bercermin pada wajah kita yang ’bopeng’ dan ’bertopeng’. ***<br />(dimuat di Harian Umum Haluan, Senin 2 Maret 20009).<br />Kolom Refleksi:<br />GURU, DIGUGU, DITIRU ATAU DIBURU<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /> Guru selayaknya siap menjadi manusia yang mampu mengisi ruang afektif, kognitif dan psikomotorik. Guru seharusnya menjadi manusia yang paling disegani, dijadikan suri tauladan di tengah realitas sosial masyarakat. Dahulu kala, di negeri ini penghormatan kepada seorang guru sama menghormati ulama. Itu cerita dulu.<br /> Dewasa ini, banyak oknum guru yang sikap dan tingkah lakunya tidak mencerminkan seseorang yang memiliki intelektualitas. Penulis sangat terenyuh ketika suatu wakru menyaksikan sang ’cekgu’ memaki-maki muridnya atau mahasiswanya dengan bahasa yang seronok, karena sang murid mungkin memprotes tentang bahan ajar yang sudah kadaluarsa, atau buku pegangannya dianggap kitab kuning padahal terbitan tahun 1995, misalnya. Sementara muridnya membaca buku terbaru, lalu terjadi perdebatan, sang guru tak mau kalah-memakai kekuasaan sebagai guru. Wah, ini bukan mentalitas guru/dosen yang memberikan pencerdasan kepada muridnya. Guru seperti ini akhirnya dimusuhi dan diburu, betapa tidak! Sungguh banyak guru yang dipukuli dan bahkan dibunuh oleh muridnya.<br /> Lebih terenyuh lagi, ketika menyaksikan seorang guru tidak memberikan ajaran moral-ilmu dan kemampuan. Ada sekolah dan bahkan pendidikan tinggi yang masih memberlakukan sistem hukuman dan hadiah. Ketika muridnya terlambat sampai ke sekolah sang murid dihadiahi cercaan dan makian bahkan membersihkan WC, atau karena terlalu sering terlambat lalau mereka dapat poin kesalahan terlalu banyak, hukuman selanjutnya adalah skorsing tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Hukam ini membuat murid tetap berangkat ke sekolah dari rumah. Orangtua tidak diberi tahu, mereka hanya menghabiskan waktu di tempata-tempat PS (Play Station) atau warung kopi lalu terlibat narkoba. Ia semakin benci dengan dunia pendidikan. Secara i Sistem ini tidak berpihak kepada dunia pendidikan.<br /> Sementara jika diberikan hadiah, para murid senang belajar. Rajin menuntut ilmu dengan harapan dapat nilai tinggi. Bagi siapapun yang mendapat nilai tinggi otomatis pula rangkingnya menjadi bagus, minimal rangking 1, 2 dan 3 pasti mendapat hadiah. Terlepas besar dan kecilnya hadiah, namun yang jelas pemberian hadiah secara tidak langsung menciptakan anak didik dari usia dini menjadi manusia yang mengharapkan pamrih. Hal ini sangat berbahaya, kita mendidik anak bangsa berjiwa koruptor.<br /> Jadi, kapan bangsa ini dapat berubah jika dunia pendidikan tidak melakukan perubahan dalam sistem guru memberikan pembelajaran dilapangan. Jika murid dibesarkan dengan sistem hukuman, maka ia akan menjadi generasi pendendam yang berujung jadi penjahat. Apabila murid dibesarkan melalui sistem hadiah, maka melahirkan generasi-generasi suka suap-menyuap, nepotisme dan koruptor. Janganlah menjadi penerus yang meneruskan kesalahan-kesalahan. Selayaknya jadilah generasi pelurus yang meluruskan kesalahan-kesalahan. Guru harus melahirkan kebenaran dan meluruskan kesalahan. Betapa banyak oknum pejabat yang jadi penjahat, didalamnya tentu sistem pendidikan di sekolah membekam di jiwa anak didik, sehingga terbawa dalam kehidupan. Hati-hatilah duhai guru, mau digugu-ditiru atau diburu. Semoga!<br />(Dimuat Harian Umum haluan, Kamis 26 Februari 2009).<br /><br />Kolom Detak Jam Gadang:<br />BACA DAN TULISLAH<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /> Bacalah! Bacalah dan bacalah, begitu Allah memerintah kepada Rasulullah SAW melalui sang Malaikat, sejak 610 masehi untuk menyampaikan kepada makhluk yang bernama manusia agar membaca. Baca bertujuan menajamkan pikir, rasa, dan perenungan serta pencerahan diri.<br /> Membaca tidak hanya buku, tapi juga membaca alam, pikiran manusia lainnya. Dewasa ini, manusia sebagai khalifah di atas bum, enggan untuk mengisi ruang pikir dengan membaca. Malas membaca secara pasti pula menghilangkan tradisi berpikir kritis. Manusia menjadi cerdas-kritis karena bacaannya. <br /> Hal ini dapat penulis buktikan, generasi muda sekarang malas membaca. Penulis mengajar di beberapa perguruan tinggi di Sumatera Barat. Setiap matakuliah yang saya ajarkan mahasiswa wajib buku referensi minimal sepuluh buah. Setiap pertemuan saya menanyakan isi dari satu per satu buku tersebut, dengan maksud akan terjadi tradisi diskusi di ruang kelas. Namun sayang, mereka menjawab belum baca, padahal ke sepuliuh buku sudah saya mintakan untuk di fotocopy kalau tidak mampu beli yang aslinya. Ketika penulis tanyakan berapa buah buku satu hari anda baca! Tanpa merasa bersalah dengan ringan mereka menjawab, satu lembar (maksudnya satu halaman) buku paling kuat. Inilah fenomenan generasi penerus yang lima atau sepuluh tahun nanti akan menjadi pemimpin bangsa. Mau jadi apa negeri yang menurut kelompok musik Koesplus; tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Marilah kita berkaca dengan membaca kita telah menggelar isi dunia dan langit di ruang kepala kita.<br /> Selanjutnya menulis, tradisi menulis pun telah mulai hilang di tengah masyarakat kita, padahal Allah berfirman; ’...demi pena yang mereka tulis...’. Menulis merupakan pekerjaan mulia apalagi mampu memaknai setiap yang kita tulis sama dengan ibadah. Sesuatu yang tertulis, baik berupa buku-koran-majalah dibaca oleh banyak orang, tulisan tersebut menambah pengetahuan, ilmu dan pencerahan secara otomatis pula bernilai ibadah. Sesungguhnya profesi wartawan merupakan makhluk yang paling banyak menerima pahala. Betapa tidak, para jurnalis selalu saja menyampaikan informasi, ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat tanpa mengharap pamrih.<br /> Menulis bagi banyak orang barangkali pekerjaan yang sulit dan sukar. Sesungguhnya menulis itu gampang asal rajin membaca apa saja, berani mengeluarkan pendapat, berani kreatif dan tidak menyontek, serta tekun untuk menulis apa saja-kapan saja dan dimana saja. Jadi, untuk menjadi penulis haruslah rajin membaca, bagi seorang penulis hindari untuk memilih-milih buku yang dibaca, penulis harus siap dan senang untuk membaca buku apa saja.<br /> Penulis yang baik terlebih dahulu harus menjadi pembaca yang sangat..sangat..sabgat baik. Mustahil seorang penulis mampu melahirkan karya terbaiknya, andai ruang pikir tidak diisi dengan membaca. Baca lalu tulislah, jangan berhenti membaca jangan pula berhenti menulis. Semoga kita mejadi pembaca dan penulis terbaik.<br /><br />(Dimuat di Harian Umum Haluan, Kamis 5 Maret 2009) <br /><br />Kolom Refleksi:<br />KRITIKUS MASIHKAH DIBUTUHKAN?<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Kritik merupakan upaya melakukan penafsiran, penghakiman secara adil sebuah karya atau memberikan penilaian baik-buruknya sebuah karya. Kritik juga berfungsi sebagai jembatan antara karya dan pembaca. Pelaku kritik disebut kritikus.<br />Di dunia seni, baik itu bernama seni sastra maupun seni pertunjukan sangatlah dibutuhkan seorang kritikus. Tanpa kritikus sebuah karya seni akan terkesan tertutup apalagi karya seni yang bergaya absurditas, tentu susah dipahami oleh kalangan pembaca atau penonton yang awam. Karya yang demikian dibutuhkan seorang kritikus untuk menjawab teka-teki yang ada dalam karya seni tersebut.<br />Kritikus berusaha mencari-menunjukkan-menentukan nilai dengan menganalisa ataupun melakukan perbandingan secara teoritis asal saja tidak bergeser dari poetika pengarang, nilai artistik sutradara dan koreografer serta komposer. Bagi pelaku-pelaku seni, tentu sangat membutuhkan kehadiran kritikus, sebab seorang kritikus mampu menghayati nilai-nilai yang tercipta dalam sebuah karya melalui pendekatan yang benar-benar telah dikuasainya. Kritikus sudah melewati proses kreatif berkarya yang akhirnya mampi menguasi konsepsi atau teori sebuah karya seni.<br />Kritikus tentu pula dituntut memiliki ketekunan dalam membaca, setiap saat perlu mengasah ketajaman berpikir agar tidak hanya ’memaki-maki’ atau ’menyalahkan’ saja karya orang lain yang berujung menjerumuskan pembaca dan pencipta karya.<br />Sesungguhnya kritikus membantu para pencipta karya agar dapat mengetahui sejauhmana kualitas diri dan karyanya bermanfaat bagi kehidupan sosial masyarakatnya. Kritikus haruslah memiliki semboyan membina dan membimbing penulis, sutradara, koreografer, komposer, pelukis melalui kritik yang edukatif. <br />Kritikus, hendaknya berfungsi sebagai kurasi dan mediasi dalam sebuah karya sang kreator. Artinya harus berani menyatakan kejujuran terhadap kualitas karya atau mengungkapkan asli tidaknya sebuah karya tersebut. Memang di daerah kita ini sangat minim kritikus, dan kita harus belajar banyak kepada pengalaman empirik HB. Jassin, Sapardi Joko Damono dan sejumlah nama lainnya.<br />Kreator hanyalah sebagai pelaku dari karya seni itu, dan tanpa berpikir lebih jauh tentang karya itu akan menjadi ’apa’ di tengah masyarakatnya nanti. Kreator hanya mengangkat realita sosial menjadi realitas sastra, realitas teater, realitas tari dan realitas musik. Sedangkan kritikus yang membahasakan konsepsi karya tersebut kepada pembaca dan penonton. Sungguh ironis memang, Sumatera Barat yang sangat terkenal dengan gudangnya seniman, kini hanya memiliki satu-dua kritikus (kalau tak berani dikatakan tak ada). Kritikus masih sangat dibutuhkan dalam era kini, siapa yang akan mensosialisasikan karya sastra penyair, cerpenis, novelis dan dramawan kepada khalayak pembaca kalau tak ada kritikus. Siapa yang menjadi jembatan terhadap pemaknaan sebuah pertunjukan tari kontemporer-teater kontemporer kepada khalayak penonton, jika tak ada kritikus. Selebihnya sang kreatorpun membutuhkan masukan dari kritikus untuk mampu melahirkan karya-karyanya yang monumental.<br />Mari kita tunggu kelahiran kritikus-kritikus seni Sumatera Barat yang berkualitas yang mampu membaca karya para kreatornya. Semoga!<br /><br />Refleksi:<br />SASTRA DAN TRANSFORMASI MORAL<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />Moralitas suatu anak bangsa tidak cukup dengan pembelajaran afektif di sekolah-sekolah, hal ini tidaklah menjamin seorang anak didik akan berprilaku baik di tengah masyarakat. Mari kita berkaca pada wajah semesta, beberapa waktu yang lalu ada berita di media elektronik seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental dibuang oleh keluarganya. Betapa tak bermoralnya anak bangsa kini, buah hati-darah dagingnya sendiri tega diperlakukan begitu, belum lagi berhubungan dengan masalah dosa. Luar biasa laku manusia di abad ini.<br />Ada juga seorang remaja mencekik pacarnya karena tak terima atas keputusan sang pacar yang memutus jalinan kasihnya. Akhirnya berurusan dengan pihak berwajib. Kini banyak kita temui seorang suami atau istri yang ringan tangan, memukul dan bahkan membunuh pasangan hidupnya. Masyarakat sangat mudah tersulut dengan rumor-rumor yang sengaja diciptakan, sehingga melakukan demonstrasi tanpa membawa isi kepalanya. Kekerasan demi kekerasan menjadi tontonan gratis di media elektronik, dan bacaan yang menarik di surat kabar. Muncul sekian pertanyaan di benak kita, sudah begitu merosotkah moralitas bangsa? apa penyebabnya?<br />Sederhana memang, ada ruang kognitif dan psikomotorik yang harus diisi dalam ruang kepala anak bangsa. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal, namun kita sering lupa secara afektif tidak cukup melalui pendidikan agama dan budaya di sekolah. Mengisi ruang-ruang afektif haruslah dilakukan melalui kualitas bacaan dari si anak didik. Bacaan sastra mampu menyemai nilai-nilai luhur bagi si anak seperti; keimanan-kejujuran-ketertiban-pengendalian diri-tanggungjawan dan kerja keras.<br />Karya-karya sastra secara tidak langsung dapat menjadi transformasi moral bagi anak manusia, betapa tidak jika kita membaca novel yang berjudul Tenggelamnya Kapal Vanderwijk Karya Hamka, otamatis pembaca disuguhkan pembelajaran terhadap adat istiadat, moralitas, kasih sayang. Bagaimana tokoh Zainuddin harus rela meninggalkan Hayati karena orang tua Hayati tidak mau menerima Zainuddin. Cinta tidak harus bersatu. Dewasa ini, generasi muda malas membaca karya-karya sastra sehingga prilakunya menjadi kasar, sebab di dunia pendidikan hanya mengisi otak sebelah kanan yang berfungsi untuk keilmuan semata. Sementara otak sebelah kirinya jarang dimamfaatkan, kemampuan membaca karya sastra dan latihan berpikir otak kiri mampu menciptakan kehalusan budi. Sebab otak kiri bermamfaat untuk mengolah seni, dan seni mampu memanusiakan manusia. <br />Jika pada masa dahulu kala, ibu atau nenek masih berkenan mengantar tidur anak atau cucunya dengan cerita dongeng yang didalamnya diselipkan pembelajaran moral. Ketika si anak tumbuh dewasa cerita sang ibu masih melekat di jiwanya yang bermuara pada keengganannya melakukan kesalahan-kesalahan. Hari ini kita tidak pernah lagi menyaksikan sang ibu yang meninabobokkan anaknya dengan cerita dongeng atau petatah-petitih yang berisi ajaran kebaikan. Anak-anak sekarang dininabobokan dengan lagu-lagu dangdut yang cengeng atau metalika yang keras yang menciptakan psikologis anak menjadi keras dan cengeng. Maka jangan heran apabila dewasa ini muncul generasi yang tidak bermoral atau generasi cengeng yang tidak siap untuk hisup mandiri. Mari kita ciptakan generasi yang bermoralitas dengan membaca sastra. Semoga!<br />Kolom Refleksi:<br />TELEVISI KOMUNITAS SEBUAH TANTANGAN<br />Oleh: Sulaiman Juned<br />Tergelitik juga tantangan yang ditulis Muhammad Subhan diruang Refleksi berjudul ’Padangpanjang Televisi’ (Haluan, 7/3) lalu. Benar, televisi lokal atau komunitas memang sangat penting di era ini untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat. Ada acara-acara khusus untuk mendulang kemajuan berpikir masyarakat yang tidak dimiliki oleh televisi lain. Barangkali di televisi lokal itu pulalah memprogramkan acara berbahasa minang, pengetahuan adat dan budaya Minangkabau serta pertunjukan-pertunjukan kesenian tradisi yang mulai terlupakan oleh serbuan sinetron di televisi nasional. <br />Penulis sempat dua tahun bermukim di Surakarta-Jawa Tengah. Sempat pula menikmati beberapa televisi lokal yang isiannya melakukan pencerdasan melalui budaya lokal. Ini suatu bukti, seperti; Solo TV, Semarang TV, Klaten TV menyiarkan berita berbahasa Jawa, dan mengingatkan kembali kepada pemirsa tentang adat istiadat Jawa serta menayangkan kesenian-kesenian tradisional. Hal ini tentu membuat seluruh pemirsa dapat mengakses kembali sesuatu yang telah lama hilang di tengah masyarakatnya. Sesuatu yang paling berharga dan berarti buat generasi muda-akhirnya mereka mengetahui dan memahami sosial budaya masyarakatnya. Selain menjadi mediator bagi masyarakat mengenai aturan Pemerintah Daerah barangkali. <br />Apabila di Padangpanjang didirikan stasiun televisi pastilah sangat mungkin. Betapa tidak, coba kita berkaca ke Surakarta, di Kotamadya itu memiliki sebuah perguruan tinggi seni bernama Institut Seni Indonesia. Di sana ada pula Fakultas Media Rekam yang salah satu jurusannya adalah Televisi. Pemerintah Daerah mendirikan televisi lokal bernama Solo TV, lalu dilaksanakanlah kerjasama antara PEMDA dengan ISI yang hasil akhirnya melahirkan beberapa stasiun televisi lokal di beberapa kota Jawa Tengah. <br />Berangkat dari pengalaman itu, kenapa tidak di Padangpanjang yang nota bene memiliki Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, didalamnya memiliki jurusan Televisi dan Film. Tentu dibutuhkan kerajasama yang harmonis memang antara PEMDA dan STSI. Di STSI Padangpanjang sudah ada fasilitas untuk pendirian Televisi Komunitas. Sudah ada tower dan peralatan lainnya, juga pekerjanya secara pasti mahasiswa jurusan televisi yang telah menimba ilmu tentang pertelevisian. Tinggal bagaimana membentuk kerjasama antara kampus seni itu dengan pihak PEMDA.<br />Barangkali ada masalah egosentris yang membumbung antara dua institusi ini, namun mari kita bercermin pada cermin yang datar, sehingga dapat melihat dengan jernih kebutuhan sosial masyarakat kita. Mari kita jalin keharmonisan yang selama ini mungkin ada ketidakcocokan. Bersama kita bangun kekuatan televisi Padangpanjang, saling memberi dan menerima-saling memunculkan kelebihan dan menutupi kelemahan. Masyarakat Padangpanjang pasti merindukan hadirnya televisi lokal (komunitas). Melalui televisi lokal banyak hal yang dapat kita perbuat, mensosialisasikan kota ini sebagai satu-satunya kota Serambi Mekkah-kembali ke surau dan kembali ke nagari yang masih kurang dipahami dan dimengerti oleh sejumlah anak kemanakan kita. Tentu bisa dan mungkin Subhan, sebab alat pendukungnya sudah sangat...sangat..sangat mungkin. Kita tunggu kehadirannya. Semoga! <br /> <br />Kolom Refleksi:<br />TAUFIK ISMAIL DAN RUMAH PUISI<br />Oleh: Sulaiman Juned<br />Sastrawan nasional Taufik Ismail mendirikan Rumah Puisi di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah datar, Sumatera Barat. Tepatnya di bawah kios sayur segar menuju Koto Baru. Ini suatu yang menggembirakan, di rumah puisi tersebut kita dapat membaca buku sejumlah tujuh ratus ribu judul buku; buku-buku tersebut terdiri dari dari buku sastra, filsafat, ekonomi, agama, dan politik serta hukum. <br />Rumah Puisi ini bertujuan untuk menggalang kecintaan terhadap gerakan membaca dan menulis sastra. Melakukan pelatihan-pelatihan pengajaran sastra untuk guru bahasa dan sastra Indonesia se-Sumatera Barat. Niat suci yang dibangun Taufik Ismail, pembelajaran kepada para guru dan siswa tanpa memungut biaya, malahan beliau memberikan transfortasi.<br />Jika kita ingin tahu bagaimana kecintaan Taufik terhadap puisi, mari kita simak puisinya yang berjudul: ”Dengan Puisi, Aku” //dengan puisi aku bernyanyi/sampai senja umurku nanti/dengan puisi aku bercinta/berbatas cakrawala/ dengan puisi aku mengenang/ keabadian yang akan datang/dengan puisi aku menangis/ jarum waktu bila kejam mengiris/dengan puisi aku mengutuk/nafas zaman yang busuk/ dengan puisi aku berdoa/ perkenankanlah kiranya//. Puisi yang ditulisnya pada tahun 1965 ini, menjadi modal dan semangat hidup dalam menjalani dunia kesusastraan Indonesia Modern. Memang telah ia buktikan kesetiaannya dalam berkarya. Puisinya membahasakan protes sosial-sejarah-religiusitas-nasionalisme, ia terlibat langsung dengan masalah yang hidup dalam realitas sosial lalu dijadikan realitas sastra. Puisinya membahasakan semua gelajala, dan dari puisi kita dapat membaca tanda-tanda zaman. <br />Puisi yang paling berharga-tak ternilai harganya adalah pendirian ’rumah puisi’. Ini luar biasa, seorang sastrawan nasioanal yang berasal dari Bukittinggi-Sumatera Barat. Besar dan dikenal luas tidak hanya di Indonesia tapi dunia, berkenan dengan kerendahan hati pulang ke kampung halaman, mendirikan ’rumah puisi’ untuk dibaca dan dicintai oleh setiap generasi. Penulis membaca keinginan Taufik Ismail dengan pendirian rumah puisi ini sesungguhnya Taufik menciptakan puisi yang sangat monumental buat bangsa dan negara Indonesia.<br />Kemudian, siapa yang mampu menghargai niat luhur Taufik Ismail, setiap bulan dalam usianya yang tidak muda lagi, mondar-mandir Jakarta-Nagari Aie Angek dua minggu di Jakarta-dua minggu di ’rumah puisi’ untuk memberikan pembelajaran baik kepada guru bahasa dan sastra Indonesia maupun kepada siswa-siswa SLTA. Beliau benar-benar telah bernyanyi dengan puisi buat pencerahan masyarakatnya sampai senja umurnya kini. <br />Ketika penulis berkunjung ke rumah puisi. Disana Taufik Ismail beserta sastrawan tamu Acep Zamzam Noer, Joni Ariadinata, dan Gus Tf sakai sedang menerima tamu guru-guru bahasa dan sastra Indonesia Se-Kota Payakumbuh. Taufik memaparkan paradigma pengajaran sastra; asyik, nikmat dan gembira. Membaca langsung karya sastra. Kelas mengarang harus menyenangkan. Menafsir karya sastra harus beragam tidak tunggal. Teori,definisi, sejarah sastra merupakan informasi skunder. Sastra menyemaikan nilai-nilai luhur bagi pembacanya seperti; keimanan, kejujuran, ketertiban, pengendalian diri, tanggungjawab, kebersamaan, kerja keras dan optimisme. Luar biasa! Bravo Taufik Ismail, kami bangga!<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-7058476968957603598?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-85772966705623563722009-01-25T19:09:00.000-08:002009-01-25T19:10:53.544-08:00Hikayat Cantoi: Cantoi Tetaplah CantoiHikayat Cantoi: Cantoi Tetaplah Cantoi<br /><br />Oleh: Asril Muchtar, pemerhati seni Pertunjukan, pengajar STSI Padangpanjang<br /><br />Terinspirasi PMTOH Sulaiman Juned sebagai Sutradara<br />menjadi realita pertunjukan oleh Azhadi Akbar sebagai aktor<br />menghadirkan Hikayat Cantoi ke atas panggung resitasi atau monolog?<br /><br /> “Aku ingin tetap menjadi Cantoi. Cantoi tubuhku-pikiranku. Maka Cantoilah namaku-tak lebih tak kurang. Namun bila mencari duri dalam tumpukan jerami kenapa ladang yang harus dibakar. Cantoi tetap tidak sepakat, sekali Cantoi tetap Cantoi”<br /> Sepenggal teks di atas dibawakan dalam logat Aceh dengan sangat kocak, mengelitik dan ekspresif oleh Azhadi Akbar, nahasiswa jurusan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang. Azhadi yang berasal dari Aceh memerankan tokoh imajiner Cantoi, karya/sutradara Sulaiman Juned (Soel) yang dipentaskan awal agustus lalu, di Gedung teater Mursal Esten STSI Padangpanjang. Karya yang dipersiapkan untuk tugas akhir S-2 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini, menyuguhkan sebuah tawaran kreativitas yang terinspirasi dari seni resitasi PMTOH Aceh.<br /> Panggung tertata demikian: sebuah jambo (pos ronda) di tengah bagian belakang pentas. Di kiri dan kanan depan panggung terdapat dua layar putih berukuran 2 X 1 meter yang berfungsi sebagai layar siluet. Di belakang jambo juga terpasang sebuah layar lebar. Sementara di lantai panggung di taburi tanah dan sekam, seperti hendak menggambarkan areal sawah-ladang di tanah rencong . Karya ini dicitrakan untuk waktu malam hari.<br /> Di layar siluet bagian kanan duduk dua orang pemusik, sementara di layar kiri duduk seorang pemusik. Dan pada layar siluet belakang, duduk beberapa orang pemusik. Para pemusik ini sewaktu-waktu berperan sebagai mitra dialog tokoh utama.<br /> Karya ini diawali dengan nyanyian prang sabi (perang suci). Kemudian dipertengahan cerita dilanjutkan dengan lagu Aceh Tanoh Loen Sayang yang dibawakan oleh pemusik di layar depan sambil melakukan gerak-gerak guel dan dilanjutkan dengan lagu sebuku (ratapan). <br /> Azhadi Akbar sebagai pemeran utama, dengan kostum ala peronda malam, tampaknya sangat menjiwai naskah dan peran demi peran dengan karakter yang berbeda-beda. Ia melakoni dengan sangat baik dan “cair”, walaupun nafas agak tersenggal-senggal Azhadi mampu mengartikulasikan belasan karakter peran Cantoi, yang didukung oleh ekspresi dan akting yang kuat. Ekspresi dan akting yang kontras, seperti menangis-kecewa, marah-sedih, benci-sayang, dan sebagainya sering dilakukan tanpa antara, sehingga membangun sisi kontras yang tajam. Kemudian bloking atau movement mampu ia jelajahi di setiap lini ruang pentas. Disinilah sentuhan teater modern itu menyemburat.<br /> Selain itu, Azhadi juga membawakan dengan kocak, sehingga kadang-kadang terkesan seperti komedian, kendatipun ia berperan sendirian. Untuk membangun suasana interaktif ia segaja “mengganggu” penonton dan pemusik yang berada di layar depan, sehingga terjadi semacam dialog-dialog pendek. Intonasi kata demi kata banyak diwarnai oleh logat Aceh. Cantoi itu seperti tokoh unik dibeberapa teater rakyat. Seperti peran Malanca dalam randai di Minangkabau, atau Kabayan di Jawa Barat. tokoh ini sebenarnya adalah orang cerdik, pintar tetapi berpura-pura bodoh. Ia tidak dapat dikatakan bodoh atau pandir.<br /><br />Bermula dari DOM<br /> Soel menyiapkan naskahnya sendiri. Idenya bermula dari realitas kehidupan yang melanda Aceh semasa dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM). Konflik vertikal dan horizontal tidak terhindarkan. Pemeran utamanya adalah militer RI dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Korban dari kalangan rakyat sipil setiap saat dapat dijumpai di berbagai kawasan di Aceh. Efek psikologis dari peristiwa ini, memunculkan trauma yang mendalam bagi mereka yang masih hidup. Banyak keluarga yang sengsara, bahkan menjadi lepas kontrol. Namun di balik tekanan dan rasa takut itu, timbul semangat untuk melawan dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya, berpura-pura bodoh untuk mengelabui pihak-pihak yang mencurigakan dan yang sedang melakukan patroli. <br /> Untuk menyimbolisasikan peran seperti ini, Soel menghadirkan tokoh imajiner dengan nama cantoi. Agar Cantoi tidak dijadikan sasaran atau lawan oleh pihak-pihak yang berkonflik, maka ia harus mampu berperan multi-faces dengan berbagai karakter, jika perlu berpura-pura bodoh. Berbagai tindasan sosial yang terekam dari konflik di atas, dimunculkan lewat tokoh Cantoi.<br /> Untuk menuang naskah ini, Soel mencoba mengombinasikan teater tutur PMTOH Aceh dengan teater modern. PMTOH sebagai teater monolog, biasanya membawakan naskah hikayat, dari Aceh, yang pengertian lebih luas dari batasan hikayat sesungguhnya. Selain itu, PMTOH lebih menitikberatkan pada aspek ekspresi yang beragam dan ditunjang oleh berbagai proferti yang sederhana, tidak memerlukan penataan panggung yang lebih artistik, serta pemeran utamanya lebih cenderung diam di tempat.<br /> Sementara aspek teater modern dihadirkan antara lain melalui bloking dan movement aktor di pentas dan penajaman ekspresi serta kekuatan akting. Tokoh dapat menjelajahi semua lini yang ada diruangan pentas. Teks disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa simbolik. Untuk memperkuat dan memperkaya aspek khazanah budaya Aceh. Di hadirkan gerak-gerak imitasi tari Seudati, didong, guel dan ketip jari. Dari aspek musikal, dimunculkan pula tepuk dada, tepuk perut, tepuk paha dan tepuk tangan.<br /> Melalui Hikayat Cantoi, Soel telah mencoba menawarkan suatu pembaharuan terhadap PMTOH-teater tutur tradisional Aceh dengan sentuhan kreativitas teater modern.<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />g<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-8577296670562356372?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-10281886877068379292009-01-25T19:04:00.000-08:002009-01-25T19:07:26.438-08:00Kliping Sastra, Sisa Kebakaran Rumahku:Kliping karya sastra/teater sisa dari puing-puing kebakaran: <br /> <br />Sesungguhnya banyak kliping-kliping koran semenjak saya mengawali pekerjaan sebagai penulis. Saya mulai aktif menulis sejak tahun 80-an. Sehingga kliping saya ada lima buah kliping yang masing-masing kliping bersisi 50 ribu lembar kertas HVS. Kalau dulu jika ada tulisan saya rajin membuat kliping. Maklum dahulu kan belum ada internet. Kami biasakan melakukan dokumentasinya melalui kliping untuk dapat membaca sejarah, dan ini diikuti oleh beberapa anggota sanggar Cempala karya seperti Ucok Kelana TB, J.kamar Farza, Deny Pasla, Hamzah Zaiby, Win Gemade, Tomy Fajar, Zab Bransah, jarwansah. Namun kliping saya terlengkap, baik tulisan saya maupun tulisan orang lain yang menuliskan tentang saya. Sayang kliping itu kini hangus terbakar ketika terjadi musibah kebakaran rumah kami di Pincuran Tinggi, Jumat, 18 Januari 2008, pukul 16.00 WIB, Padangpanjang-Sumatera Barat. Seluruh buku, dokumentasiku habis dilalap si jago merah. Pakaianpun hanya tersisa di badan, waktu itu. aku bersyukur Iswanti “titin” istriku dan Soeryadarma Isman buah hati kami selamat dari maut. Hanya merekalah permata hatiku. Ini aku pungut sisa-sisa kliping dari rongsokan bara, adik-adik di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang membantu mengeringkan klipingku-sekaligus membantu mengetik ulang, juga keponakanku Ipunk (puji Nurani), terimakasih. Akhirnya aku masukkan ke blog agar tak hilang lagi, selamat membaca: <br />1). MENCIPTA KARYA SASTRA <br /> Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /> . BERBICARA masalah puisi atau karya sastra, sampai saat ini tak seorangpun dapat mendefinisikan secara mutlak. Proses kelahiran puisi bagaimana? Andai kita mau jujur, puisi atau karya sastra lahir karena manusia dan gagasannya pun tumbuh dan hidup di realitas sosial juga. Ia ada sebagaimana air yang dituangkan ke kolam yang berisi berbagai zat berwarna. Apabila air tersebut dituangkan ke dalam gelas yang berwarna merah akan merah pula hasilnya. Tentang mutu (kualitas) sebuah karya bergantung kepada penciptanya atau mood yang mampu direbutnya. Karya sastra merupakan manifestasi dari pemikiran manusia, karena itu pula menghasilkan warna yang berbeda-beda.<br /> Manusia sebagai makhluk budaya, setiap saat dihadapkan dengan formulasi rasa, dari daya ciptanya yang kemudian menjadikan sikap terhadap lahirnya karya sastra. Disisi lain adapula pencipta karya sastra yang menyatakan proses kelahiran sebuah karya sastra adalah hasil ilham . Sastrawan bukan Nabi atau Rasul yang mungkin mendapatkan wahyu atau ilham dari Tuhan, sangatlah disayangkan jika pendapat ini dirujuk oleh sastrawan. Pencipta karya setiap hari haruslah merebut ide/gagasan bukan menunggu wahyu/ilham. Terlepas dari itu semua karya sastra memiliki sifat relatif, artinya tergantung penciptanya dalam meletakkan filosopi berkesenian. Jadi proses penciptaan karya sastra berasal dari akal pikiran, mematangkan diri dengan kontemplasi (perenungan) bukan semata-mata lewat hasil berhayal.<br /> Kreativitas dari pencipta diharapkan untuk mampu melahirkan produk yang berkualitas. Sastrawan juga harus mampu memberikan sentuhan keindahan juga keselarasan makna melalui sintesis. Berkarya itu memang tidak gampang, tetapi juga tidak sulit. Tergantung bagaimana kita memacu diri, untuk menjadi penulis yang baik haruslah terlebih dahulu menjadi pembaca yang sangat baik. Jika kita menjadi pembaca yang sangat baik pasti mampu menjadi pembicara yang baik, yang muara akhirnya menjadi penulis terbaik. Jika tidak percaya mari kita coba. Terpenting cobalah menulis! <br />(tulisan ini dimuat di harian waspada, Rabu, 15 Mei 1991).<br /><br /><br />2). SASTRA BUKAN KEGIATAN KAUM PUBER <br /> Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /> SESUNGGUNHYA penulis sangat berbangga hati bila diantara seniman (sastrawan) sering berkumpul membicarakan masalah sastra. Penulis merasa nikmat apabila sedang melahap kupasan tentang sastra yang akhir-akhir ini semakin digandrungi oleh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya. <br /> Namun ada sedikit rasa kecewa menyemburat ketika membaca tulisan dengan judul “penyair muda di kampus” buah pemikiran Tohans yang disiarkan (Harian Waspadan, 8/5/91). Saya melihat ada kesenjangan antara penyair muda (kampus menurut Tohans) dengan penyair tua (senior mungkin). Pada akhir tulisannya ia berucap mari kita simak: “mungkin penyair muda kita sedang mencari sesuatu. Maklumlah mereka belum tua” (baca Waspada). <br /> Jika itu yang Tohans tekankan tentang keberadaan penyair kampus, sungguh ia telah membuat suatu kesalahan besar, karena beusaha untuk mengkotak-kotakkan penyair. Barangkali dalam benak seseorang akan timbul suatu tanda tanya. Saya kembalikan kepada Tohans, apakah benar faktor usia dapat menentukan ia menjadi penyair, atau faktor usia pula yang membuat sebuah karya sastra pasti berkualitas? Lalu pada usia berapakah seseorang itu dapat dis sebut penyair?. Siapa yang menabalkan nama penyair kepada penulis puisi?. Sungguh memalukan bila pertanyaan itu timbul. Sepertinya Tohans tidak berkenan mengakui bila seorang penyair itu masih berada di kampus atau masih anak SLTA. Pelekatan nama penyair bukanlah komunitas sastrawan tua yang harus memberi nama, kalau penyair tua sudah mengakui kepenyairan seseorang barulah sah seseorang menjadi penyair, bukan begitu. Masyarakat pencinta (penikmat) sastra juga dapat mengetahui sebuah karya sastra bermutu atau tidak, jika karya sastra yang kita hasilkan bermutu pastilah disenangi dan disukai oleh pembaca terlepas tua atau tidaknya penulis tersebut.<br /> Andai dihadapkan pada kualitas sebuah tulisan, tak pernah terjadi dalam dunia sastra untuk mengapresiasi faktor usia. Analisis terhadap puisi yang pertama harus dilakukan adalah membedah unsur Instrinsiknya terlebih dahulu. Kemudian barulah unsur yang lainnya. Sebuah karya sastra bermutu atau tidak semuanya berangkat dari hasil kontemplasi penyairnya, sejauhmana ia mampu merekam realitas dilingkungannya untuk jadi gagasan/ide lalu lahirlah puisi. Hal ini tidak ada hubungannya dengan faktor usia agar harus menjadi tua terlebih dahulu barulah puisinya berkualitas. Tohans harus membaca sejarah, Chairil Anwar dalam usia yang relatif sangat muda telah menghasilkan karya sastra yang sangat berkualitas, jadi tidak harus menunggu untuk menjadi tua dahulu agar dapat disebut penyair. Penyair-penyair yang sudah berusia tua itu, belum tentu karya-karya berkualitas. Jangan munafiklah. <br /> Sekarang atau pada masa yang akan datang, agaknya sastra modern Indonesia semakin mapan, kegiatan bersastra bukanlah kegiatan kaum puber. Siapapun orangnya bila sudah berani masuk ke dalam golongan kaum penyair maka ia akan bersungguh-sungguh. Penyair tidak ada yang gadungan, sebab para kaum penyair, ketika ingin menjadi penyair itu adalah pilihan nurani. Kegiatan menyair dianggap sebagai sebuah tuntutan dari bakatnya. Jadi anda tidak berhak untuk melarang bagi siapapun memilki keinginan untuk menjadi penyair.<br /> “Karya yang baik adalah karya yang mampu berkomunikasi dengan penikmat, tentunya melalui intuisi dan sintetik yang di banguun sang penyair” (baca: Penyair dan Problematikanya, Anshor Tambunan, 8/5/91: Waspada). Dari ungkapan Anshor Tambunan itu, dapat kita gali maknanya, seorang penyair harus dapat memberikan yang terbaik kepada pembacanya. Saya rasa tidak ada seorang penyair pun yang membuat puisinya asal jadi. Kepada Tohans, semestinya tak perlu ada kecurigaan yang terlalu berlebihan kepada para penyair kampus yang katanya tidak mempunyai keberanian, kejujuran, dan seember kecurigaan lainnya. Seharusnya Tohans melihat dengan jeli, bukan dengan kaca mata yang rusak sehingga dia temui yang sebenarnya. Penyair-penyair yang telah ternama kini, awalnya berangkat dari penyair kampus. Saya juga berawal dari kampus, anda juga tentunya kan? Juga belajar di kampus?<br /> Penyair sebagai mahasiswa tidak pernah merasa dirinya dipecundangi oleh rasa kemahasiswaannya. Tidak pula ingin di sebut hebat, tetapi penyair yang berada di kampus juga memiliki rasa yang sama dengan penyair di luar kampus. Ia hadir karena bakat, lalu mencintai sastra dengan sungguh-sungguh, mereka ingin bernafas dengan puisi, salahkah mereka? <br /> Begitulah, siapapun di atas bumi Tuhan ini berhak menyandang nama penyair apabila dia mampu. Ini catatanku yang terakhir buatmu Tohans; janganlah sekali-kali mematahkan kaki anak-anakmu yang sedang belajar berjalan dan berlari. Sudah selayaknya kita yang menunjukkan kebenaran cara berlatih berjalan dan berlari karena kita sudah memiliki pengalaman empirik untuk itu. Atau Tohans takut kepada anak-anak yang sedang belajar berjalan dan berlari? Takut jangan-jangan Tohans akan dikalahkan oleh mereka, tak perlu takut karena cara berjalan dan berlari kita berbeda, tidak ada yang sama. Kenapa mesti takut. Mari kita tuntun mereka berjalan dulu, lalu kita bawa berlari. Toh akhirnya kesusasteraan kita yang berkembang, benarkan? (Tulisan ini telah pernah dimuat di Harian Waspada, 13 Mei 1991).<br /><br /><br /><br />3). SEKILAS SASTRA DI RADIO AMATIR BANDA ACEH<br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br />SEBUAH karya sastra walau ditempel di gedung-gedung, di tembok, di gubuk reot sekali pun masih tetap kita sebut sebagai karya sastra. Begitu pula dengan karya sastra yang dipublikasikan di radio-radio amatir di Banda Aceh. Karya yang dipuublikasikan di radio, di koran atau majalah yang membedakannya hanya kualitas dari karya itu, bukan tempat publikasinya yang menentukan kualitas karya.<br />Lintasan perkembangan yang berkumandang di radio-radio, selama beberapa tahun belakangan ini boleh dikatan masih tepat bertahan. Walau tidak semarak pada kisaran 1980-1989, tapi masih tetap membuat para pecinta sastra cukup senang dengan adanya ruang pembacaan puisi. Hal ini dapat membawa dampak positif bagi penyair-penyair pemula. Selain menjadikan radio amatir sebagai guru, juga tempat memacu kreativitas. Mereka dapat belajar banyak dari ulasan-ulasan yang disampaikan oleh pengasuh ruang sastra budaya.<br />Sebagai contoh, radio Roland Nuansa. Mereka mengudarakan acara sastra budaya pada setiap malam selasa dari pukul 22.00 WIB sampai dengan 24.00 WIB, memang radio amatir yang menyuarakan acara sastra dan budaya di Banda Aceh, sampai saat ini masih dapat dihitung dengan jari, seperti: Roland Nuansa, Kharisma 70, yang di asuh Cerpenis Nani HS mengudara setiap malam sabtu. Radio Baiturrahman yang berkoar-koar setiap malam Kamis, Duta Kencana yang mengisi lintasan buadaya dengan syair-syair Aceh, asuhan Bung Yan.<br />Memang ada yang sangat disayangkan. Dua tahun lalu, radio Flamboyan FM juga sempat mengudarakan acara sastra budaya tapi sekarang mandek. Entah apa sebabnya, selain itu acara sastra budaya disiarkan juga di radio Cindelaras, Nikoya, Bandar Jaya, bahkan UKM- radio kampus Universitas Syiah Kuala yang sastra dan budayanya digawangi oleh Sulaiman Juned.<br />Sementara beberapa radio amatir lain, bahkan tidak memperdulikan sama sekali tentang ruang lintasan budaya, sungguh disayangkan, seharusnya ini tidak terjadi di negeri yang memiliki kebudayaan tinggi. Aoalagi memasuki tahun 1992n ini, Gubernur Ibrahim Hasan ketika Coffe Morning dengan dengan para wartawan di Banda Aceh mengatakan, tahun monyet ini sebagai “tahun budaya” itu merupakan angin segar yang dihembuskan Gubernur Aceh kepada seniman Aceh. Atas dasar itu, kita berharap kepada radio amatir di seluruh Aceh hendaknya berkenan membuka ruang sastra budaya. Juga kepada Gubernur kita meminta agar memperhatikan nasib para seniman Aceh sekaligus mengeluarkan peraturan daerah agar seluruh radio amatir di Aceh wajib membuka ruang sastra dan budaya, sehingga tahun budaya yang digaungkan Pemerintah Daerah Aceh benar-benar terlaksana, beuek lageue su’um-su’um ek manok ciret. Semoga! (Tulisan ini dimuat diharian Serambi Indonesia, tanggal-bulan dan tahun tidak saya ketahui lagi, ini tulisan saya pungut dari puing-puing kebakaran rumah saya di Pincuran Tinggi, 18-1-2008. Banyak kliping tulisan saya di koran sudah tidak berbentuk lagi)<br /><br /><br /><br />4). SENIMAN ACEH HARI INI DAN ESOK<br /> Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /> SENIMAN adalah manusia yang memiliki mata setajam mata elang. Wawasan berpikirnya luas tentang dunia kesenimanan. Seniman Aceh kini mempunyai prosfek yang cerah, betapa tidak! Baru-baru ini, ketika Coffe Morning dengan beberapa wartawan Banda Aceh, Gubernur Aceh Prof. Dr. Ibrahim hasan, MBA telah mencanangkan tahun monyet (1992) ini sebagai tahun budaya. Kini angin segar telah ditiupkan oleh orang nomor satu di Aceh, tinggal bagaimana cara seniman menyikapinya. Apakah mampu mempergunakan kesempatan tersebut. Wallahualam!<br /> Menurut pantauan penulis selama ini, seniman Aceh mulai berbenah diri seperti baru-baru ini, diadakan pagelaran sastra dan seminar sastra yang dimotori oleh Lembaga Penulis Aceh (LEMPA). Jika mau bicara jujur, hal-hal seperti inilah yang diharapkan kehadirannya, apalagi di tanah rencong yang sejak dulu kala masyarakat Aceh sangat mengagungkan seni. Lebih-lebih rekan-rekan penyair muda atau penyair kampus sangat berharap kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung.<br /> Begitu juga dengan acara sastra di Pustaka Prof. A.Hasjmy. ada baca puisi, cerpen dan novel. Ada juga bedah karya sastra dan seminar. Hal-hal seperti ini yang harus diperbanyak untuk mengisi ruang intelektual bagi seniman-seniman Aceh. Pekerja sastra harus mengisi ruang pikir untuk menambah wawasannya. Mulai sekarang marilah kita galakkan dan budayakan ‘membaca dan diskusi’ di Aceh agar lahir pemikir-pemikir seperti masa kerajaan Aceh dahulu, semisal; Hamzah Fansury, Teungku Syik Pante Kulu, Nurruddin Ar-Raniry, Syeh Abdul Rauf dan Nurruddin As-Sumaterany dan banyak lagi yang lainnya. <br /> Mulai sekarang hilangkan perseteruan pribadi antar seniman Aceh, tumbuhkan ruang-ruang diskusi untuk melahirkan konsepsi ideal berpikir kritis. Semoga Aceh mampu melahirkan kembali sastrawan-sastrawan besar. Semoga! (tulisan esai ini dimuat di SKM.Peristiwa, tempat saya mengasuh ruang sastra budaya namun tanggal-bulan dan tahunnya tidak diketahui lagi).<br />5). KINI GILIRAN PENYAIR SULAIMAN JUNED DIADILI<br /> Oleh: Nani Hs<br /><br /> Pengadilan Penyair. Setelah M.Nurgani Asyik selesai “dipengadilankan” sekaligus puisi-puisinya di Laboratorium Seni FKIP Unsyiah. Kini (12/12) giliran penyair Sulaiman Juned masuk ke ruang pengadilan penyair ala Aceh.<br /> Pada dasarnya, pengadilan penyair merupakan pertanggungjawaban konsep puitika puisi di hadapan para penyair lain dan partisipannya. Puisi-puisi tersebut, setelah di baca oleh penyairnya akan pula didiskusikan. Seperti kata penyair M.Nurgani Asyik, forum itu juga sebagai pembelajaran bagi penyair yang bersangkutan atau pun bagi penyair lainnya.<br /> Dari kegiatan ini sebut Sulaiman Juned, diharapkan para penyair dapat memandang sejujur-jujurnya karya-karya penyair yang bersangkutan. Menurut rencana kegiatan ‘mengadili’ ini akan dilaksanakan pada tanggal 7 Januari 1996 di Laboratorium Unsyiah Jalan Inong Balee (Diploma 3 Kesenian) Darussalam Banda Aceh. <br /> Menurut rencana Penyair Sulaiman Juned akan membacakan sejumlah puisinya yang dibuat antara tahun 1993-1995. Sehubungan dengan itu, berita ini juga merupakan undangan resmi kepada penyair dan penikmat Kesusteraan di Daerah Istimewa Aceh.Penyair M.Nurgani Asyik dan Sulaiman Juned merupakan pelopor untuk kegiatan pengadilan penyair di Aceh (ni)<br />[tulisan ini dimuat di rubrik kantin, harian serambi indonesia, sabtu 30 Desember 1995]<br /><br /><br />.<br />6). ADA APA DENGAN PENYAIR MUDA ACEH<br /> Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /> KREATIVITAS, itulah yang selalu diinginkan oleh para makhluk yang menamakan dirinya penyair. Tetapi cukupkah dengan kreativitas saja? Tentu tidak, untuk dapat dikatakan karyanya berbobot harus ditunjang oleh faktor pengalaman, dan wawasan sebagai bahan pertimbangan dalam proses penciptaan. Kita boleh bangga dengan hadirnya beberapa nama seperti; Nurdin F.Joes, NT. Fikar W.Eda, Wiratmadinata, dan lain-lain. Tetapi sunggung disayangkan penyair itu hilang setelah memperoleh pekerjaan tetap. Bahkan ada yang tidak pernah menerbitkan karyanya lagi, hanya Nurdin F.Joes kini masih aktif dan produktif dalam menghasilkan karya. Terbukri dengan kumpulan puisinya “sengketa” yang diterbitkan tahun lalu, terlepas dengan tuduhan atas Nurdin puisi-puisi tidak berkembang, dan sengketa itu sendiri adalah sengketanya Nurdin, bukan sengketa para penikmat sastra. Seperti apa yang diungkapkan Hasyim Ks dalam Serambi Indonesia.<br /> Di Aceh, para penikmat selalu dilanda problema “takut” , takut jika suatu ketika Adnan PMTOH atau To’et telah tiada, siapakah pengganti penjaga gawang terakhir kesenian tradisional kita, sementara kita tidak pernah mau membina generasi muda dapat mewarisi apa yang mereka miliki. Kita juga takut bila Hasbi Burman, Hasyim KS, Nurdin F.Joes, Maskirbi dan lain-lain, tidak produktif lagi, siapakah pengganti mereka?<br /> Kita hanya bisa berkata “tidak ada” tapi di Jakarta maupun di tempat lainnya, mereka tidak takut kehilangan W.S. Renda, Sutardji, Taufik Ismail, dan juga sastrawan lainnya karena mereka memiliki seribu renda muda, tarji muda, taufik muda untuk menggantikan posisi mereka. Ini semua berkat kemauan membimbing dan membina para penyair-penyair muda. <br /> Mari kita membuka mata, mengingat ke belakang. Tiongkok pada zaman Dinasty Tang (618-906) mereka mengawinkan lukisan dengan puisi, syair dibuat oleh penyair (sastrawan), lalu pelukis yang menuliskannya di bidang gambar.<br /> Wang Wei, sastrawan yang juga pelukis itu mencoba melukis, ternyata lukisannya dahsyat, hingga banyak yang mengatakan karya Wang Wei ialah sastra yang dilukiskan. Rintisan Wang Wei ini lalu menyebar ke segala zaman, karena ia membina terus para generasinya sehingga sampai pada sastrawan yang juga pelukis Su Shi (1036-1101), Su Shi mengatakan dalam kata mutiara yang sangat berharga: “lukisan adalah syair yang digambarkan, dan syair adalah lukisan perkataan”. Nah, sekarang kalau kita mau melihat lukisan Cina, biasanya ada tulisan “Kanji” di sana, umumnya itulah syair dalam lukisan. Betapa hebatnya mereka, mempertahankan kesenian tradisional yang ditinggalakan para leluhurnya, dan setiap saat mereka dapat melahirkan beribu Wang Wei maupun Su Shi muda.<br /> Kembali kepada kita, dimana para penyair muda dikalahkan oleh faktor kesempatan, akhirnya mengendorkan semangat mereka untuk berkarya. Banyak penyair-penyair muda kita setelah muncul, lalu menghilang tak tentu rimbanya, mereka seperti: C Harun Al-Rasyid, Burce Rialy, Pinta J.Sidiq, Anhar sabar, Ade Ibrahin Dy Kampi, Nurarly, Zab Bransah, dan banyak lagi yang lainnya. Bila sudah begini siapakah yang harus disalahkan, penyair yang tidak kreatif ataukah mereka tidak pernah di beri kesempatan untuk muncul, jawabannya ada pada hati nurani kita masing-masing.<br /> Jadi faktor kesempatan yang menjadi problema, maka sampai kapanpun kesusasteraan di Aceh tak akan pernah maju, karena itu marilah mengoreksi diri kita masing-masing, siapa yang salah. Alangkah lebih baik antara senior dan yunior bahu membahu dalam membangun sastra dan budaya, sehingga sastra di Aceh akan bangkit kembali. Saya yakin beribu Hamzah Fansuri, Teungku Syik Pante Kulu muda ada di daerah kita. (tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia, Minggu, 24 Pebruari 1991. tulisan ini pula menghadirkan polemik panjang antara penyair muda dengan penyair senior (tua). Sayang saya tidak dapat menghadirkan kliping tulisan polemik dari penulis lain karena kliping saya terbakar)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-1028188687706837929?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com4tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-89844707409437792062009-01-23T06:51:00.000-08:002009-01-23T06:53:18.032-08:00Teater Tutur Aceh: Adnan P.M.T.O.HTEATER TUTUR ACEH:<br />Adnan P.M.T.O.H ‘troubador yang menulis di atas angin’<br /><br />Oleh: Sulaiman Juned*)<br /><br />Prolog<br /><br /> Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan P.M.T.O.H berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia) dua tahun yang lalu belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semaca bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan proferti mainan anak-anak, serta kostum. Proferti dan alat musik serta kostum memperkaya tekhnik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set dan alinasi. Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat merubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. <br /> Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubah-ubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan-ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “Traubadoe dunia” oleh Prof. Dr. Jhon Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat.<br /> Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat penduk<br />ungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan P.M.T.O.H oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus P.M.T.O.H ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Lalu dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba , Blang Pidie-Aceh Seletan)., dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya tirukan bunyi klakson bus P.M.T.O.H, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti rame, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan P.M.T.O.H. setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah P.M.T.O.H” Tutur Teungku Adnan. ( Wawancara dengan Teungku H. Adnan, 14 April 1999, di Blang Pidie-Aceh Selatan)<br /> Ternyata nama teater tutur P.M.T.O.H itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970-an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan P.M.T.O.H.<br /><br />Hikayat Sebagai Teks dalam Teater Tutur Aceh<br /> Andai membicarakan teater tutur Aceh, yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. Bahkan, teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutaradara menuju realita teater (pertunjukan).<br /> Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’. Bukan saja roman-roman, dongeng keagamaan, pelajaran adat. Bahkan, buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sanjak (puisi). (Budiman Sulaiman, 1983:78).<br /> Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas, baik perubahan suara (vokal), kostum. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang, jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Sementara itu, sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya, hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat . Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya, “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah, diantaranya; Hikayat Malem Dewa, Prang Sabi, Malem Budiman, Raja Si Ujud, Malem Dagang dan lain-lain. Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti; sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. Hikayat keagamaan, seperti; Nalam, Sipheu.t Dua Ploh. Tentang adat istiadat; Sanggamara. Hikayat tentang dongeng; hikayat Gumbak meueh, Indra Budiman, Raja Jeumpa” (Muhammad Nur, 1988: 38).<br /><br />Teungku Adnan P.M.T.O.H Sang Traubador<br /> Adnan P.M.T.O.H melakukan pengembangan ysng menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau Dangderia . Ia sanggup menghafal 9 buah hikayat-hikayat Aceh, lalu dituturkan kembali selengkapnya. Kalimat demi kalimat mengalir deras, seperti benang dibentangkan tak pernah habis. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan P.M.T.O.H satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 malam berturut-turut. Tuhan memang maha kuasa, Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan, beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang sama ditempat yang berbeda, namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya, cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. Luar biasa.<br /> Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee, generasi kedua Teungku Ali Meukek. Namun pada masa itu, penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur), karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). Proferti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. Penampilan nyaris tanpa akting, dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. Lain halnya dengan Teungku Adnan, berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee, lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. Menyaksikan teater tutur P.M.T.O.H, menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner, padahal ia bermain sendiri.<br /> Teungku Adnan, andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan, yaitu Puteri Bungsu. Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk, bermain musik sendiri. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan, di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. Ketika menjadi raja, langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima), puteri, ahli nujum, rakyat kampung, sambil berinprovisasi dengan nyanyian teungku Adnan menggantikan kostum, sehingga penonton tidak bosan. Setiap peran yang berubah, ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya), vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti; Zulkifli, Muda Belia bahkan Agus Nuramal. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun.<br /> Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur P.M.T.O.H adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. Kini Sang Maestro, seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun, tanpa ada pengganti. Suatu waktu, ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau; “Soel, saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita, dan Kakanwil Depdikbud Aceh, kita cetak buku tentang hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor P.M.T.O.H, setelah itu kita sebarkan ke Sekolah dasar. Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan P.M.T.O.H, lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan P.M.T.O.H. kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya. Tapi apa jawab mereka, kita pertimbangankan, hanya jawaban basa-basi” (Wawancara, Teungku Adnan P.M.T.O.H, 20 januari 1989).<br /> Sekarang Teungku Adnan P.M.T.O.H telah meninggalkan kita tanpa mewariskan P.M.T.O.H kepada siapapun. Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD), tapi tidak ada respon sedikitpun. Benar Teungku Adnan, bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” Seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan, teungku memang tidak rugi. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. Lalu 900 tahun kemudian diseluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan, tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. Wah, payah ini. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada, berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur” lagi. Kalau Pemerintah Aceh berkenan dan menerima masukan Teungku Adnan waktu itu, mungkin sekarang ini Aceh sudah memiliki pengganti Teungku Adnan. Kita sudah kehilangan, untuk itu sekarang saya mengusulkan kepada Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam agar berkenan mendirikan Lembaga pendidikan Tinggi Seni, terserah apakah bernama Akademi Seni Aceh atau Sekolah Tinggi Seni, bahkan Institut Seni Aceh. Semuanya sangat memungkinkan untuk kita lakukan agar kesenian-kesenian Aceh yang bermuara dari seni islami tidak akan hilang. Jika ada lembaga pendidikan tinggi seni, yakinlah kesenian Aceh akan terdokumentasikan dengan baik karena Pendidikan Tinggi Seni dapat menjadi laboratorium pembelajaran seni Aceh. Mari kita berpikir keras untuk mendirikan itu, jika kita bersama pasti bisa. ‘satu untuk semu, semua untuk satu’ tak ada yang tak dapat kita lakukan kalau dilakukan secara bersama-sama. Atau tidak usah kita pikirkan sekaligus kita biarkan saja satu persatukan Maestro-maestro seni Aceh hilang dijemput sang Maha Kuasa. Lalu etnis Aceh melupakan kesenian-kesenian yang luar biasa itu . kesenian yang mampu menjadi transformasi moral bagi masyarakat Aceh. Mari kita renungkan bersama. Salam Meuchen.<br /> <br />@ Rumah Kontrakan, Paadangpanjang Sumatera barat<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />*) Penulis Penyair, Dramawan, Sutradara dan Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang-Sumatrera Barat, juga Dosen jurusan Seni Teater STSI Padangpanjang-Sumatera Barat.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-8984470740943779206?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-25083510145185754702009-01-23T06:49:00.000-08:002009-01-23T06:50:31.904-08:00Milleniart: Keragaman BudayaMILLENIART: KERAGAMAN BUDAYA MENGALIR <br />DARI TAMAN SARI TIRTAGANGGA, BALI<br /><br />Oleh: Sulaiman Juned<br /><br /><br />Di Tirtagangga, seniman mencoba menciptakan ruang<br />Pertukaran pengalaman dan gagasan untuk pencarian, memandang<br />Wacana kebudayaan baru.<br /><br /><br /><br />Prolog<br /> Festival dan temu ilmiah Masyarkat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) yang mengacu pada nilai-nilai seni dan keragaman budaya pertunjukan Indonesaia diselenggarakan di suatu tempat suci orang Bali yang di sebut Taman Air Tirtagangga yang membelah kawasan timur Bali. Tirtagangga mempunyai arti secara leksikal yaitu “air (sungai suci) Gangga”, Anak Agung Ang Lurah Ketut Karangasem yang merupakan raja Karangasem terakhir (sekitar tahun 1948) sebagai arsitek taman itu, terilhami oleh tempat suci umat Hindu semacam sungai Gangga di India. Bangunan ini bergaya arsitektur Bali, China dan Erofa.<br /> Sungai suci itu, mempunyai tiga kawasan (kompleks), bagian yang pertama yag terendah ada kolam dan sebuah menara air bersusun sembilan menjadi land mark taman ini. sementara bagian tengah terdapat kolam wanita. Bagian atas terdapat pura air yang berdiri megah sebagai tempat peristirahatan keluarga. Hal yang membuat kita berdecak kagum, bila sepasang mata tertuju ke sudut-sudut taman menyaksikan proferti patung-patung hewan mitologis seperti; lembu, naga, singa, garuda dalam bentuk raksasa yang mengeluarkan air tak henti dari mulutnya. Menara air yang bersusunsembilan tersebut menambah keunikannya dengan mengalirkan air semakin jauh tanpa di bantu alat generator.<br /> Pola perkampungan (desa) dan arsitekturnya mengingatkan kita pada abad XVI, desa tua dengan kelompok-kelompok bangunan rumah lewat tataan lingkungan mengikuti aturan adat. Itulah yang kita temui di Tirtagangga desa Ababi, Kecamatan Abang Karangasem, Bali. Disitulah diadakakan ‘perayaan asal, penghargaan pada keragaman budaya’ yang dimotori oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) dari tanggal 9 s/d 14 September 1999. Di Tirtagangga seniman mencoba mencipatakan ‘ruang’ pertukaran pengalaman dan gagasan untuk pencarian atau memandang wacana kebudayaan baru.<br /> <br />Pluralitas Budaya Berorientasi Relasi Budaya<br /> Penegasan hidup dalam pluralitas budaya berorientasi pada nilai, sikap, dan tingkah laku. Berbagai bentuk ekspresi budaya dalam menghadapi millenium ketiga, sebagai seniman harus mempersoalkan masalah eksistensi dan segala pendukungnya di tengah keberagaman budaya. ‘perbenturan’ budaya dalam ruang dan waktu seakan menjadi pertukaran dan saling mengisi ke dalam budaya masing-masing etnis yang terlibat pada event itu, sehingga tidak terjadi perasaan etnosentris yang menagung-agungkan nilai budaya satu etnis saja. Kesadaran akan pluralitas budaya dianggap mampu menciptakan pemikiran keberadaan masa depan seni pertunjukan Indonesia, dan selain itu dapat pula mendorong para pemikir seni, memikirkan pengkajian lintas budaya (cross culture) dengan studi multi disiplin ilmu yang akhirnya melahirkan para etnomusikolog, etnolog tari, dramatug teater, kritikus seni pertunjukan dan lain sebagainya. <br /> Indonesia dikenal dengan kekayaan ragam budaya, karena itu pula dalam relasi antar budaya hendaknya harus menghindarkan diri dari pemutlakan orientasi lokal yang mengutamakan warna suatu kebudayaan tanpa menghargai eksistensi tradisi seni etnis lain. Tradisi seni suatu etnis yang sangat kecil sekalipun tak boleh dilecehkan oleh suatu kebudayaan yang lebih besar. Itulah yang harus didasariuntuk dihindarkan sebagai cerminan demokrasi dalam kebudayaan manusia, hal ini harus diperjuangkan untuk kebersamaan oleh para pemerhati, ahli dan praktisi seni yang hidup dialam pluralistik.<br /><br />Kajian dan Temu Ilmiah<br /> Pertemuan yang menyikapi secara bijak masa transisi yang krusial untuk menuju era Indonesia baru. Melalui kesadaran ruang dan waktu antara komunitas kesenian dalam mencari kemungknan baru persentuhan budaya. Disamping itu, kajian tentang teater yang lebih tepatnya tentang ekologi teater Indonesia, tentu mengarah kepada pergolakan teks pertunjukan untuk membuat apresiasi dalam era kehidupan berkesenian (teater) dalam konteks saling membutuhkan. <br /> Menyaksikan pertunjukan dan memahami sesuatu yang ditawarkan agar teater tidak lagi mengikat pada konvensi pertunjukan teater modern (Barat), tetapi dapat dilihat dan dinikmati pertunjukan yang kembali ke zaman Yunani Kuno, kecenderungan teater diaktualisasikan dengan isu-isu kekinian. Tentu kita akan berharap bahwa, kajian teater Indonesia benar-benar dapat menjadi teater Indonesia bukan meng-Indonesiakan teater Barat. Berangkat dari pemahaman itulah, teater Indonesia perlu berakar ke teater tradisi (Rakyat) yang bukan dalam arti mentransformasikan langsung ke dalam jiwa teater modern Indonesia. Inilah fenomena kesenian yang dianggap dapat memperluas kemungkinan baru dalam sebuah pengungkapan seni yang berada dalam frame global dan lokal. Hidup dalam pluralitas budaya menambah wawasan dan orientasi nilai, sikap, tingkah laku secara terus-menerus harus saling menghargai dan menghormati warna kebudayaan lain dengan tidak mengutamakan warna kebudayaan tertentu kepada orang lain.<br />@ TIRTAGANGGA-BALI, 1999<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-2508351014518575470?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-30984643946677276072009-01-23T06:46:00.000-08:002009-01-23T06:48:55.236-08:0011 TAHUN KOMUNITAS SENI KUFLET<br />BINCANGKAN MELAYU YANG IDEAL<br /><br />(Padang Ekspres, 11 Mei 2008). <br /> Memperingati ulang tahun ke 11, komunitas seni Kuflet Padangpanjang menggelar seminar sehari, acara akan diadakan hari Minggu, 11 Mei 2008.<br /> Ketua Panitiai , Syarief Hayatullah yang didampingi Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn sebagai pimpinan Komunitas Seni Kuflet mengatakan, “seminar ini diangkat untuk mencari solusi terpisahnya estetika seni dari masyarakat. Ini membuat generasi muda lebih melirik kebudayaan asing” ujar staf pengajar STSI Padangpanjang ini.<br /> Tema y ng diangkat kali ini adalah “Konsepsi ideal sastra dan Budaya Melayu Nusantara”. Meski kata “ideal” amat sulit diwujudkan, namun Soel menegaskan namun itu bukanlah hal mustahil. <br /> Dalam pers release, panitia akan menghadirkan Walikota Padangpanjang, Dr. H. Suirsyam dalam pembukaan. Selain itu ada dua sesi seminar, worshop dan diskusi seni, penampilan seni dan bedah buku mewarnai acara seminar yang berlangsung mulai pukul 09.00-24.00 WIB.<br /> Prof. Dr. mahdi Bahar tampil dalam sesi pertama dengan su -tema “Sastra Melayu menghadapi Globalisasi”. Sementara Sub-Tema “Aspek Melayu dalam drama Minangkabau” menjadi bahasan Drs. Zulfardi Darussalam, M.Pd. Buku Catatan Perang Karya Wiko Antoni, S.Sn akan dikupas habis oleh Asril Mukhtar, S.Kar., M.Hum dan Sulaiman Juned. Tengah malam nanti akan ada birth ceremony.<br /> Sasaran kegiatan ini ditujukan siswa, tenaga pengajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Pembaca yang berminat langsung saja mendaftar ke lokasi acara di Gedung Auditorium STSI Padangpanjang. Setiap peserta dikenakan biaya acara yang berbeda. Untuk guru dan tenaga pengajar Rp. 20.000,- mahasiswa Rp. 15.000,- dan pelajar cukup dengan membayar Rp. 10.000,- biaya ini ditujukan untuk perlengkapan seminar dan konsumsi.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-3098464394667727607?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-15419736748156721212009-01-23T06:44:00.000-08:002009-01-23T06:46:04.225-08:00Sandiwara Gelanggang LabuKONFLIK DI ACEH:<br />SANDIWARA KELILING GELANGGANG LABU TERANCAM PUNAH<br /><br />Oleh: Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn <br /><br />Pemain sandiwara keliling gelanggang labu<br />tidak pernah belajar dramaturgi, ilmu pemeranan, ilmu penyutradaraan<br />secara formal, mereka memperoleh keahlian secara non-formal<br />namun mampu mensugestif penonton.<br /><br /><br /> Gelanggang Labu meruapakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Sandiwara keliling sudah ada sejak tahun 1950-an. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa di Aceh Utara, tapatnya di Panton labu. Ketika teater ini mulai merakyat, dan diterima ditengah-tengah masyarakat lalu dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh, diantaranya yang terkenal, seperti; Benteng Harapan, Jeumpa Aceh, Sinar Jeumpa, Sinar Desa, Sinar Harapan, Mutiara Jeumpa, Seulanga Dara, Cakradonya, dan Geunta Aceh.<br /> Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih, sama-sama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba), seperti; Buloeh Peurindu, bawang mirah ngoen bawang puteh, Ahmad Rhangmanyang, Putroe Ijoe, dan lain-lain. Ciri-ciri yang mendasar, sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antar babak yang diisi dengan nyanyian (band), lawak, serta tari-tarian. Adegan-adengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain (wos), dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. Sebagai aktor dipentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi, pelawak dan penari sekaligus.<br /> Sementara bentuk pemanggungannya, sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang di atasnya diletakkan papan, seng sebagai atap, batang kayu sebagai penyangga, triplrk untuk dinding, kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. Lokasi pertunjukan biasanya dlakukan di tanah lapang, ditengah areal sawah setelah usai panen padi. Grup sandiwara ini hidup dan beranak-pinak di dalam panggung tersebut (berumah), mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh, dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap didaerah lain.<br /> Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan, bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. Ibnu Arhas (Sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie), seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon, waktu itu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. Namun pada malam hari dia tampil sebagai maha bintang di atas panggung, dipuja-puji oleh penonton, setiap dia muncul selalu saja mendapat aplous dari penonton. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. Umar Abdi, Ahmad harun, Yusuf Syam, serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka, lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat, seperti tragedi rumah tangga, pengkhianatan, kemunafikan, masalah ambisiusnya manusia. Ide atau gagasan untuk memperolehnya bagi mereka (sutradara) teater keliling tidaklah sulit, mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. Sutradara mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan, lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya.<br /> Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. Misalnya, cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet, jahat dan sadis. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi, sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad harun sering di panggil Cut maruhoi.<br /><br />Sengketa Tak Berujung: Kesenian Jadi Saksi<br /> Gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989, sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk m elakukan kreatifitas berkesenian. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur, seperti; P.M.T.O.H, Dangderia, Dalupa, Didong, Guel dan Sandiwara keliling Gelanggang Labu mulai terusik untuk berproses. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan, alasannya gangguan keamanan. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan, dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat di bakar oleh gerombolan tak di kenal. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie, batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut, juga karena ada operasi militer malam. Maka, banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemaiannya banyak yang menganggur. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar. <br /> Awal dekade 1992, kondisi keamanan agak sedikit kondusif, empat tokoh seniman teater keliling; Umar Abdi, Yusuf Syam, Ahmad Harun, dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. Situasi semakin membaik, dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara, Aceh Besar, Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya kembali.<br /> Suasana seperti itu, ternyata tidak bertahan lama. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru, kenyataannya menjadi lain. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak, dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak, mahasiswa serta ulama dayah se-Aceh menuntut referendum . TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu, suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu, lagi-lagi dengan dalih keamanan. Nah, menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009, tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. Grup-Grup yang pernah jaya, seperti hilang di telan bumi, seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi, seperti; menjadi penjual ikan, petani, buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. Kemandekan kehidupan panggung y ang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon, kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya.<br /> Sementara disisi lain, daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan kseniannya. Betapa tidak, bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia, namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu, denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan, seperti; Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi, Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob, Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam, Teater Kuala Pimpinan Yun Casalona, Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik, Teater Alam Pimpinan Din Saja, Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned, Teater Kosong Pimpinan T.Yanuarsyah. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan.<br /> Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti. Taman Budaya sepi pertunjukan. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian, orang-orang lebih banyak membicarakan politik, kematian dan keadilan. Hanya seniman sastra (penyair) dn pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. Para pekerja teater banyak yang beralih profesi, ada yang menjadi penyair, dan cerpenis. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir, maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung, rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris, penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh, atawa mereka tergerus air raya (Tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. Konfliks-Tsunami-sengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan.<br /> Pasca konflik dan tsunami, apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup, atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya. Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi; Dangderia, Peugah Haba, Poh Tem, Dalupa, Pho dan lain-lain. Rekan-rekan seniman, pihak yang terkait, para intelektual seni, PEMDA NAD mari duduk bersama; bicarakan tentang pentingnya mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi Seni di Aceh. Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh meusyuhu (dikenal) di Mancanegara karena senibudayanya, seperti; Didong, Saman, Seudati, tari Pho, Rapa’i Geleng, P.M.T.O.H dan lain-lain. Kenapa masyarakat Aceh sendiri enggan untuk mempertahankan budaya bangsa. Ini buat kita renungkan bersama. Mari!<br />@ Rumah kontrakan, Padangpanjang-Sumatera Barat<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-1541973674815672121?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-4101556841368969552009-01-22T08:21:00.000-08:002009-01-22T08:25:54.398-08:00Tragedi Cantoi: Sulaiman Juned“TRAGEDI CANTOI” SULAIMAN JUNED:<br />EKSTERNALISASI AGROPHOBIA<br /><br />Oleh : Wiko Antoni S.Sn*)<br /><br /><br />Pendahuluan<br /><br />Struktur lakon adalah partitur bagi seorang sutradara dalam `konser` peristiwa yang akan dipentaskan. Sebagai seorang penulis lakon tanggungjawab utama yang terpenting adalah membangun konsep dasar yang menjadi tempat berdiru teguhnya struktur pertunjukan, dari drama yang baik lahirlah pertunjukan yang luar biasa. Memang seorang sutradara mestilah kreatif dalam membangun realitas panggung namun drama yang baik akan menjadi pijakan kreatifitas yang baik bagi seorang sutradara dalam mempersiapkan pertunjukan berkualitas.<br />`Cantoi` berbicara dengan bahasa estetis tentang peristiwa yang mencengkram rasa cinta Sulaiman juned kepada Aceh. Kenyataan demikianlah yang banyak dicoba ungkap oleh teori-teori sosial. Berbagai cara ditempuh untuk menganalisa fenomena karya seni. Teori social selama ini bagai `senjata` pamungkas yang bisa mengatasi segala persoalan tersembunyi dalam karya-karya seni. Menafikan kenyataan bahwa bahasa seni adalah bahasa jiwa yang universal. Semisal membicarakan `Cantoi`, selama ini akan segera dibahas sosiologi karya, sosiologi pengarang, dan sosiologi latar penciptaan karya. Memang sebagian fenomena akan terjawab, mungkin saja ada indikasi sebuah karya akan ipengaruhi oleh keadaan lingkungan terciptanya. Yang kerap dilupakan adalah karya seni sebagai arkhetipe yang di eksternalisasikan secara sublim.<br />Bila karya seni sebagai arkhetpe yang muncul sebagai proyeksi jiwa, teori social akan kehilangan kekeuatan mengungkap fenomena sebuah karya. Mustahil sekali menyimpulkan pribadi seniman yang sangat spesifik dalam kerangka regional budaya. Memang kita terlalu lama mempercayai antropologi mampu menjawab banyak hal dalam persoalan analisis seni padahal seiring semakin kompleksnya persoalan yang muncul dalam karya-karya seni saat ini sudah saatnya melirik ilmu jiwa bawah sadar sebagai factor terpenting dalam aktualisasi proyektif sebuah karya seni.<br />`Cantoi` bukan penggambaran sikap masyarakat Aceh terhadap fenomena sebuah perang saudara, barangkali kaum sosiolog akan bersikeras untuk menghubung-hubungkan imajinasi Sulaiman Juned dengan antropologi Aceh. Padahal kenyataan `si Cantoi` ini bisa saja menimpa setiap manusia di seluruh dunia dalam kondisi ketertekanan yang serupa. Selama bertahun-tahun drama yang monumental hadir dalam lingkungan transisi dengan ketidakjelasan konvensi. Misalnya masa peralihan dari kekuasaan kaum borjuasi menuju zaman realisme. Saat itulah A Doll House mendobrak ketertekanan kaum-kaum yang merasa tertindas haknya. Memang banyak gaya yang muncul dalam mengekspresikan ketertekanan tersebut. Kadang-kadang agresif, romantis (misalnya gaya Shakespeare) bahkan komedi seperti `Cantoi` Sulaiman Juned. Disini perlu ditegaskan bahwa teori social tidak sepenuhnya mampu menjawab `misteri` terciptanya sebuah `karya emas` seorang seniman. Saatnya mempertimbangkan materi symbol yang dikemukakan oleh Freud dan Jung. Freud sangat percaya inspirasi gemilang muncul dari pengalaman yang tersimpan dalam ketidaksadaran, ketidaksadaran bukan hanya gudang-gudang peristiwa masa lalu tetapi juga penuh dengan benih-benih situasi ide-ide yang akan terjadi…kita menemukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari, dimana dilema-dilema kadang-kadang dipeca\hkan oleh gagasan baru yang sangat mengherankan; banyak seniman, filoshof dan ilmuan dianugerahi inspirasi berupa ide-ide terbaik yang tiba-tiba muncul dari ketidaksadaran . (Sigmound Freud, 2000: 63). <br /><br />`Cantoi` Ekternalisasi Agrophobia dalam Diri Sulaiman Juned<br />Ilmu Psikologi ketidaksadaran merupakan cabang ilmu yang selama ini digunakan untuk mendeteksi berbagai macam ganguan jiwa. Sejauh ini psikologi ketidaksadaran hanya berbicara seputar kelainan perilaku menyimpang yang terjadi padapenderita neurosis. Setelah semiotic menjadi cabang ilmu dalam ilmu analisis sastra terbuktilah bahwa symbol-simbol yang disepakati merupakan arkhetipe yang berawal dari ketidaksadaran. Simbol muncul bila ikon-ikon mendapat kesepakatan umum. Namun dalam banyak hal ikon-ikon yang muncul di seluruh dunia hamper sama dengan makna yang hamper sama pula. Pada dasarnya ikon muncul bersamaan dengan kebutuhan psikologis. Ketidakmampuan menjelaskan fenomena yang terjadi sangat potensial melahirkan ikon baru. Pada banyak kasus pasien jiwa ikon dibangun dari ketertekanan. Bila ini dikaitkan dengan prosesi penciptaan karya seni maka fenomena depresif ini dapat dikatakan eksternalisasi agrophobia.<br />Istilah agrophobia digunakan untuk ketakutan yang berlebihan. Pada tingkat demikian akan muncul sikap depresif atau agresif. Pada beberapa kasus yang muncul justru peristiwa sublimatif. Penderita agrophobia tidak semata-mata mengarah kepada kemerosotan jiwa yang membawa efek negatif adakalanya justru individu ini akan menjadi tegar dan tabah dalam melanjutkan kehidupan (Sigmound Freud, 2000:438). Ketertekan akan memiliki efek berbeda bagi setiap individu walaupun jenisnya sama, dalam hal ini psikologi memandang sebuah karya seni sebagai `benda` yang spesifik yang terlahir dari individu yang spesifik pula. Kolektifitas budaya bukan hal yang penting untuk menganalisa sebuah karya seni. Individunya yang penting, masa lalu, pendidikan, pengalaman estetis, romantis bahkan tekanan-tekanan hidup yang dialami. Fenomena jiwa milik semua orang sedangkan kebudayaan terkotak-kotak dalam sebuah lingkungan primordial.Sartre menungkapkan dalam menemukan analogis kesadaran imajinatif akan muncul kasus berikut, (1) Korelatif analogis dari pengetahuan imajinatif berupa objek afektif, (2) Imaji yang lengkap mencakup analog afektif yang menghadirkan objek dalam sifatnya yang mendasar dalam sebuah analog kisnetis yang mengeksternalkan objek dan memberikan tersebut realitas visual. (Sartre, 2000 : 192). Realitas visual berupa proyeksi imaji ini di eksternalkan kedalam realitas karya setelah disusun menjadi realitas estetis. Maka yang hadir adalah karya seni yang memukau. Ekternalisasi adalah prosesi ritual alam bawah sadar menjelmakan dirinya kepada kesadaran. Keseimbangan kimia tubuh menciptakan kekuatan bagi jiwa melalukan kompensasi yang sublim dengan proyeksi kreatif. Bagaimanapun kekuatan masa lalu tidaklah hilang. Ia tersimpan rapi di gudang data dalam serabut syaraf neurotic yang jumlahnya demikian banyak. Sadar atau tidak hadirlah ia keproyeksi masa sekarang yang dieksternalkan menjadi proyeksi kekecewaan atau kebahagiaan. Proses selanjutnya adalah kreativitas sublim dan pengolahan estetis yang rumit untuk dieksternalisasikan kedalam bentuk visualisasi kreatif dan indah. Lahirlah karya seni yang kadang-kadang mencengangkan banyak orang. (Sartre, 2000 : 194)<br />Disini yang menjadi kasus adalah `Cantoi` karya Sulaiman Juned, mari kita berandai-andai. Seumpama kita adalah seorang yang berada di Aceh saat konflik NKRI-GAM dalam keadaan kritis. Menjadi saksi atas kematian sudara-saudara atau orang-orang dicinta dalam tenggang waktu berdekatan. Dalam beberapa kasus ketertekanan yang berkepanjangan melahirkan stress. Kita tahu, banyak orang di daerah konflik mengalami gangguan jiwa ringan sampai berat. Bahkan sampai saat ini konflik korban-korban perang selalu menjadi masalah tak kunjung usai antara Negara korban perang melawan Negara aggressor. Sampai saat ini Jerman dan Jepang selalu menjadi korban hujatan, padahal dalam kondisi konflik semua orang depresi. Dalam keadaan demikian `Cantoi` bicara dengan tegas bahwa `peranglah yang bersalah`. Bukan `Pendekar atau maling`, karena kedua belah fihak tidak mengerti bagaimana cara mendapatkan ketenangan. Dalam kondisi yang tidak jelas bila berakhirnya. Kondisi jiwa kedua belah fihak sama-sama tertekan. Selanjutnya Sulaiman juned menjelaskan kenyataan ini melalui `si Cantoi` bahwa yang paling menderita rakyat yang tidak mengerti sama sekali, karena kedua belah fihak menaruh curiga pada mereka, mascot yang digambarkan adalah tokoh `cantoi`. Berikut petikan dialog tentang hal ini/…kami orang kamping mana tahu maling. Pekerjaan kami hanya bertani, kalaupun ada maling disini itu pasti pelarian dari kampong lain./ dibagian lain berbunyi/Ah cantoi tak pernah jadi maling, tapi kalau maling jadi Cantoi itu diluar kemampuanku/. Sulaiman Juned sebenarnya `bermain-main` dengan kematian. Jelas sekali ketololan `Cantoi` adalah kenaifan yang tidak disadari. Penggambaran yang jelas bahwa tokoh yang digambarkannya adalah sisi lain dari kecerdasannya sebagai homocreator yang dikungkung frustasi melihat keadaan kampong halaman yang dicintainya. Seolah tak ada solusi untuk Aceh sementara kematian terus terjadi. Kecurigaan meningkat tajam, orang-orang tak berdosa diterkam oleh ketakutan karena dua sisi yang bertikai kerap salah sasaran. Rakyat yang tak mengerti apa-apa menjadi korban keberingasan para pendekar dan Maling. Dilog-dialog ini bukan hanya milik orang Aceh, ribuan pengungsi di perbatasan Lebanon juga mengalami ketertekanan yang sama saat Israel dan Palestina saling menyalahkan atas terror yang diperbuat kaum gerilyawan Intifadah. Perang selalu memberikan terror kepada rakyat. Peluang terbesar untuk menjadi korban salah sasaran, salah tembak, salah tangkap, salah bombardier. Musuh yang dicari sangat lihai melarikan diri sementara rakyat tak pernah belajar taktik menyelamatkan diri.<br />Tema sentral yang diusung lakon `Cantoi` memang bukan hal yang baru. Semua orang tahu bahwa perang menimbulkan depresi namun tema-tema lain menarik pula untuk dikaji, renungan filosifis tentang seorang ustadz misalnya, yang berani mengungkapkan kebenaran di atas mimbar namun dalam kenyataan asyik menghitung tasbih saat mayat rakyat dituduh sebagai `maling` terbujur dihadapannya. Ini kenyataan estetis yang dibangun Sulaiman Juned untuk `menelanjangi` kemunafikan kita. Logikanya pada saat terancam semua orang memilih jalan selamat. Kebenaran akan tersembunyi. Seorang Ustadzpun lebih memilih diam daripada harus berurusan dengan `pendekar`. Tema lain tak kalah menarik adalah kritik tajam terhadap gelar bangsawan yang dibangga-banggakan. Di awal-awal teks drama `Cantoi` dijelaskan bahwa “Darah kita semuanya merah” jadi, tidak layak mengaku " darah biru” atau lainnya.<br /><br />Empirisme, Frustasi menuju Sublimasi Estetis Lakon `Cantoi`<br />Kini marilah kita bahas perjalanan kreatif bawah sadar Sulaiman Juned menuju terciptanya lakon `Cantoi`. Di atas sudah dijelaskan eksternalisasi agrophobia sebagai latar yang menjadi stimulus kelahiran drama `Cantoi`. Kini proses tersebut akan dijabarkan disini. Secara sederhana factor yang melatar belakangi terciptanya karya seni dari sisi psikologi adalah unsure intern dan ekstern. Unsur intern adalah kepribadian seniaman secara instrinsik sedangkan factor ekstern adalah stimulus yang muncul dari luar atau realita sehari-hari yang bersentuhan dengan si seniman. Pertama proses realitas verbal menjadi realitas seni selalu diiringi oleh penafsiran kenyataan oleh imajinasi, kedua pengalaman yang dialami seniman baik yang disadari maupun tidak disadari akan berpengaruh dalam sebuah karya seni yang tercipta. Ketiga penciptaan karya yang cerdas selalu melibatkan pertimbangan filoshopis yang bersifat edukatif. Keempat seniman yang baik adalah seorang ilmuan yang berusaha mencari solusi bagi persoalan sekitarnya yang terakhir, seniman yang baik bersikap sebagai penengah dalam segala persoalan disekitarnya.<br />Melihat empat sisi diatas maka pertarungan emosinal akan melahirkan kegelisahan estetis dalam diri seorang seniman. Lima elemen di atas dibenturkan dengan kegamangan jiwa seorang Sulaiman Juned. Bagaimanapun sebagai seorang yang berdarah Aceh ada rasa kecewa dalam dirinya melihat kampong halaman yang dicintainya berada dalam kondisi serba tidak jelas. Kekecewaan ini jelas bila kita membahas teks demi teks yang digambarkan dalam drama `cantoi`. Sebagai pertimbangan dialog berikut./korban berjatuhan. Mayat-mayat bergelimpangan. Disawah, diladang, dalam rimba bahkan dikeramaian pasarpun mayat-mayat berserakan./…barang siapa yang meratapi kematian para maling sudah pasti maling…/Peristiwa berdarah di kampong ini tidak ada lagi yang menangisi…/. Sulaiman Juned meratap dan menghiba dalam hatinya. Bagaimana tidak, sebagai orang Aceh tentulah ada keberfihakan tersembunyi dihatinya, hatinya pilu melihat saudara-saudara yang sekampung yang terbunuh tanpa jelas kesalahan. Yang jelas mereka divonis sebagai `maling`. Keresahan ini mula-mula disublimasi kedalam lakon “Jambo, Luka Tak Teraba” (di muat di Horison No 11 TH XXXVII/2003). jelas sekali penokohan dalam drama `Jambo Luka Tak Teraba` bertolak belakang dengan karakter `Cantoi`. Dalam `Jambo Luka Tak Teraba` tokoh-tokoh heroic hadir dengan persepsi bertolak belakang menyikapi keadaan. Lakon `Cantoi` justru mencibirkan heroisme tersebut. `Cantoi` sampai pada taraf bahwa heroisme Cuma kata-kata sempalan yang sama sekali tak berarti. Hanya lipstick yang menipu. Kecurigaan Sulaiman Juned memuncak dalam `Cantoi`, rupanya Pasukan Upah dan Kaum Ateuh (lihat teks `Jambo Luka Tak Teraba`) sama saja. Sama-sama tidak mempertimbangkan penderitaan rakyat.<br />Bagan psikologis terciptanya drama `Cantoi` dapat digambarkan seperti berikut ini: <br /><br />Keterangan:<br />1. R = Realitas<br />2. I = Intelektual/kecerdasan<br />3. FE = Frustasi Estetik<br />4. RI =Realitas Imajinatif<br />5. EA = Eksternalisasi Agrophobia<br /><br />Realitas merupakan stimulus yang merangsang pemikiran seorang seniman gelisah. Realitas yang dianggap buruk sangat memungkinkan frustasi. Frustasi itu memicu sublimasi hingga proyeksi yang tersusun dalam kerangka karya. Inilah yang disebut frustasi estetis. Seniman kreatif kemudian mewujudkan kegelisahan ini menjadi karya yang benar-benar nyata. Realitas hadir menjadi kenyataan seni. Kenyataan seni ini wujudnya bermacam-macam, diantaranya, Agresif, melankolis, ataupun romantis. Pada Lakon `Jambo Luka Tak Teraba` bentuk aktualisasinya adalah Agresif. Sulaiman dengan ber api-api mencerca kenyataan, begitu agresif bahkan cenderung emosional dan provokatif (Lihat Horison No 11/2003). Pada lakon `Cantoi` Perwujudan frustasi estetiknya berbentuk melankolis aktualisasinya adalah style lakon. Menertawakan kematian perwujudan kepedihan yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata.<br />Penutup<br /><br />Lakon `Cantoi` adalah perwakilan orang-orang yang berada dalam ketidakjelasan situasi. Ketertekanan berkepanjangan melahirkan kefrustasian. Walaupun tokoh ini digambarkan dengan seting Aceh, peristiwa `Cantoi` akan menimpa siapa saja. Ketertekanan jiwa dapat menimpa setiap orang. Ada kalanya ketertekanan ini sampai pada kondisi sesorang kehilangan kendali psikis dan menjadi abnormal`. Kondisi tidak normal ini dalam ilmu jiwa disebut neurosis sesuai tempat yang menjadi sebabnya yaitu syaraf-syaraf penyimpan data bawah sadar.<br />Kenyataan adalah sumber utama bahan baku karya seni, selebihnya pengalaman estetis yang berkonfigurasi dengan ketidaksadaran. Karya yang besar kerap muncul dari ketertekanan yang memicu syaraf bawah sadar berkontraksi. Ide-ide cemerlang muncul menjadi karya yang luar biasa. Latar emosional demikian yang mendasari kreatifitas psikologis dalam diri Sulaiman Juned `sang bapak si Cantoi`. Dari realitas Aceh `Cantoi` bicara soal kemanusian secara universal dan menyentuh persoalan jiwa manusia di seluruh dunia. Berawal dari konflik Aceh, manusia-manusia yang dicengkram perang di seluruh dunia bersuara. Keputus asaan tak kunjung selesai menyekap jiwa-jiwa malang yang terjebak dalam perang.<br />Sosiologi memang telah banyak berjasa menyingkap demikian banyak fenomena karya seni. Namun dewasa ini seiring perkembangan ilmu pengetahuan sudah saatnya mempertimbangkan cabang ilmu lain yang lebih menyentuh substansi manusia secara objektif. Psikologi ketidaksadaran sudah lama mengkaji symbol-simbol kejiwaan yang menguasai manusia sejak manusia itu ada. Dalam bannyak kasus karya seni aspek psikislah yang berpengaruh besar selain aspek social. Maka saatnya psikologi ketidaksadaran menunaikan `tugas baru`, sebagai pemberi penjelasan bagi karya-karya besar para seniman.<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Biodata Penulis<br /><br />Penulis adalah pengarang drama, skenario, dramaturg, aktor, penulis kritik seni budaya, pencipta lagu, Salah seorang pendiri Komunitas seni `kuflet` Padangpanjang. Salah seorang Pendiri kelompok kerja seni `gonjong Tujuh` Padang Panjang. Pernah menjadi asisten pengajar di jurusan teater STSI Padangpanjang saat masih kuliah di STSI Padangpanjang. Pengalaman sebagai guru adalah mengajar Ekstra di SMU Sore Padang Panjang. Pengajar kesenian di SMU Negeri 2 Tabir, kabupaten Merangin. Propinsi Jambi, (semenjak 10 Januari 2006). Pengajar KTK serta Kebudayaan Daerah di SMP 2 Tabir Selatan kabupaten Merangin, Propinsi Jambi (Semenjak 6 Agustus 2006). Mengajar di SD 07 Limbur Merangin, Kabupaten Merangin Propinsi Jambi (semenjak 11 Juli 2007). Saat ini non aktif sebagai guru untuk menempuh program D4 di Fakultas Ilmu Pendidikan UMSB “Kauman” Padangpanjang. Pengalaman jurnalistik, menulis untuk Jurnal “Ekspresi Seni” STSI Padangpanjang dengan judul “ Teater Impilikasi Realitas Sastera”. Menulis untuk Jurnal “Palanta Seni Budaya” dengan judul “Mempertanyakan Sebuah Rumah : Sebuah Analisis Multidisipliner terhadap Karya Toni Aryadi”.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-410155684136896955?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-80793795469240724382009-01-22T06:20:00.000-08:002009-01-22T06:23:44.599-08:00KUFLET ADAKAN DIKLAT KARYA TULIS ILMIAH: Meningkatkan Kecintaan Menulis Bagi GuruKUFLET ADAKAN DIKLAT KARYA TULIS ILMIAH:<br />Meningkatkan Kecintaan Menulis Bagi Guru<br /><br /><br /><br /> Komunitas seni kuflet Padangpanjang beberapa waktu lalu ( Mei 2008 ) dalam ulang tahunnya ke 11, digedung Hoerijah Adam STSI Padangpanjang – Sumatera Barat, sukses melaksanakan seminar nasional dan bedah buku dengan tema “Konsepsi Ideal Sastra Budaya Melayu Nusantara“. Panitia menghadirkan narasumber, Prof. Dr. Mahdi Bahar (Guru Besar STSI Padangpanjang) yang membincangkan “Seni Melayu Seni Yang Islami“, Zulfardi Darussalam, M.Pd (Dosen FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia UMSB) yang merumuskan “Aspek Melayu Dalam Drama Indonesia“, dan Asril Mucktar, S.Kar, M.Hum (Kritikus Seni) membedah buku biografi tentang Sulaiman Juned yang ditulis Wiko Antoni, S.Sn, berjudul: “Catatan Perang Seorang Seniman Aceh di Padangpanjang“.. Komunitas yang bergerak dibidang Teater, Musik, Artistik dan Sastra kali ini mengadakan Diklat Karya Tulis Ilmiah pada tanggal 7 – 9 Nopember 2008. Kegiatan tersebut bertajuk “Aktualisasi Semangat Kepahlawanan Kita Tingkatkan Kecintaan Menulis Bagi Guru“. Tutur Ketua Panitia Pelaksana Anggra Putra (4/9) saat ditemui disekretariat panitia.<br /> Program ini bertujuan terhadap pematangan wawasan dibidang karya tulis ilmiah, dan apresiasi seni bagi guru sebagai media alternatif dalam mengemas wacana. Tenaga pendidik menjadi perioritas keilmuan. Guru merupakan wadah transaksi ilmu secara universal dan menyeluruh untuk mewujudkan generasi penerus yang berkualitas. Atas dasar itu, kuflet ingin menciptakan proses kreatifitas yang berarti bagi guru. Guru selayaknya menjadi tonggak untuk di gugu dan di tiru bukan menjadi orang yang di buru. Jadi andai profesi ini sebagai pilihan hidup tentu harus mempersiapkan diri menjadi manusia ‘super’, serba bisa dalam bidang ilmu. <br /> Dorongan inilah menggerakkan Kuflet melaksanakan Diklat Karya Tulis Ilmiah. Bentuk kegiatannya, seminar, workshop dan pameran seni instalasi dengan sasaran peserta; mahasiswa, guru, dosen dan khalayak umum. Narasumber akan dihadirkan: Zulmasyah (Pimpinan Redaksi Riau Post) dengan materi “Gampangkah Menulis Itu”, Asril Mucktar (Dosen STSI Padangpanjang) makalahnya berjudul “Menulis Kreatif Itu Mengasyikkan”, dan S. Metron (Wartawan Padang Ekspres Padang) judul makalahnya “Jurnalistik Seni Pertunjukan”. Melalui kegiatan ini diharapkan guru mampu meningkatkan kualitas intelektualnya, khusus dalam bidang menulis. Tutur Sekretaris Panitia Wessy Sri Azweni mantap. Bravo! Kuflet, maju terus. <br /> <br /><br /> Kuflet: Sambut Ramadhan dengan Touring Budaya<br /> Sejumlah 20-an anggota Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang (24/8) yang lalu mengadakan touring budaya dengan sepeda motor. Kegiatan ini untuk mempererat silaturrahmi sesama anggota, sekaligus memperkenalkan kuflet kepada masyarakat Sumatera Barat. Touring kali ini melewati rute; Padangpanjang-Bukittinggi-Maninjau-Lubuk Basuang-Pariaman, dan kembali ke Padangpanjang. Tutur Ketua Panitia Fikar Aceh.<br /> Fikar Aceh menambahkan, touring yang dilakukan Kuflet bukan untuk hura-hura, tetapi untuk mengaktualisasi para anggota baru agar berani melakukan kreativitas seni dengan ,masyarakat umum. Kegiatan ini juga sebagai media dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan kebajikan. Dakwah tidak hanya dilakukan oleh para Ulama, seniman sesungguhnya lebih tepat menggunakan pertunjukan seni menjadi media dakwah terhadap masuyarakat penonton. Perjalanan yang mengasyikkan ini, disetiap daerah seperti Bukittinggi, Kelok 44 Maninjau, Muko-Muko Maninjau Kabupaten Agam, di pusat Kota Lubuk Basuang dan Kota Pariaman melakukan pertunjukan baca puisi dan opening art di jalan-jalan. Masyarakat setempat menyambutnya dengan sangat antusias, <br /> Muhammad Subhan penonton di Muko-Muko mengatakan, selama hidup saya belum pernah menyaksikan kegaiatan pentas seni di alam seperti ini. Baru Kuflet yang melakukan pertama sekali di Sumatera Barat, entah kalau di daerah lain. Pertunjukan baca puisi dan seni lainnya itu menyampaikan pesan-pesan moral, ini membuat kami baik <br />generasi muda maupun tua tergugah ketika menonton pertunjukan tersebut, kami sangat senang dan terharu. Mudah-mudahan tahun depan Kuflet mau hadir lagi, dan untuk kegiatan ini kami berharap Kuflet mau melakukannya untuk seluruh Indonesia, Semoga! Tuturnya. (sai): Sulaiman Juned, Padang-Sumatera Barat.<br /> <br /><br /> <br /> <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Usai pertunjukan baca puisi dan opening art di Muko-Muko Maninjau<br />Kabupaten Agam Sumatera Barat, seluruh Anggota Kuflet yang ambil<br />Bagian dalam Touring Budaya photo bersama. (Photo: Humas Kuflet).<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Jalan Kehidupan: Syarief dan Ira Kuflet pentaskan opening art, memvisualkan<br />Sisi gelap dan terang perjalanan kehidupan, di Danau Maninjau Sumatera Barat,<br />(Photo/teks: Sulaiman Juned)<br /><br /><br /><br /><br />STSI PADANGPANJANG:<br />Buka Program Pascasarjana Tahun Depan, Siapkah (?)<br /><br /><br /> Mutu pendidikan akan ditingkatkan dengan menghasilkan lulusan berkualitas. Out put yang mumpuni tentu ditentukan oleh intelegensi dosen. Para dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang harus memiliki wawasan budaya Melayu bukan budaya Minangkabau saja. Jadi para dosen akan dimagangkan sesuai dengan kebutuhan jurusan masing-masing ke seluruh wilayah Melayu. Setiap peneliti, pakar seni budaya yang akan berbicara tentang Melayu agar datanya valid harus datang dulu ke STSI Padangpanjang. Tutur Ketua STSI Padangpanjang, Prof. Dr. Daryusti, M.Hum (4/9) saat ditemui di ruang kerjanya.<br /> STSI akan membuka jenjang pendidikan Pascasarjana (S-2) dengan program studi Penciptaan Seni dan Pengkajian Seni. Tahun depan insyaallah kita sudah menerima mahasiswa, bila perlu tahun 2008 ini. Sebenarnya kita sudah siap, tinggal ,menunggu Surat Keputusan dari DIKTI. STSI Padangpanjang berkemungkinan menjadi lebih maju dan berkembang di masa datang, sebab satu-satunya Lembaga Pendidikan Tinggi Seni yang mengkaji seni Melayu. Disamping itu dalam waktu dekat (sekitar tahun 2009/2010) akan berubah status menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Tambahnya. <br /> Lazuardi, Pembantu Ketua Bidang Adminitrasi dan Keuangan, ketika dijumpai diruang kerjanya menyatakan, optimis terhadap perubahan Lembaga Pendidikan Tinggi Seni menuju ke arah yang lebih maju. Apalagi dengan dibukanya Program Pascasarjana serta perubahan status dari STSI ke ISI, kita tunggu saja. Tuturnya.<br /> Lembaga Pendidikan STSI Padangpanjang, merupakan satu-satunya yang mengkaji seni Melayu. Kehidupan Melayu sebagai langkah awal untuk berkembang. Kita harus mempersiapkan diri untuk menjadikan Laboratorium Melayu di Nusantara, agar para ilmuwan mencari informasi, dokumentasi, material dan penelitian tentang Melayu ke STSI Padangpanjang. Bicara Melayu ya harus dating ke Padangpanjang, ingin mengkaji P.M.T.O.H dan Didong kesenian dari Aceh, di Padangpanjang ada data yang lengkap. Ingin mendata tari Zapin di Padangpanjang tempatnya. Ungkap Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Martarosa, S.Sn., M.Hum.<br /><br /><br /> Tujuh Program Studi yang ada di STSI, hendaknya mampu merumuskan tentang ilmu dan pengetahuan Melayu. STSI dengan kajian itu memang harus melalui proses panjang. Apalagi membuka Program Pascasarjana harus dipersiapkan secara matang baik tenaga pengajar, fasilitas pustaka dan administrasi. Jika sudah siap kenapa tidak. Sementara untuk aktifitas kemahasiswaan walaupun tidak ada dana kreativitas mahasiswa harus jalan. Tekannya. <br /> <br /> Jurusan Teater Prioritaskan Sekolah Binaan dan Desa Binaan<br /> Sebelas tahun sudah usia jurusan Seni Teater STSI Padangpanjang yang didirikan pada 5 September 1997. Sampai hari ini sudah meluluskan enam angkatan. Lulusannya ada yang bekerja jadi seniman, pekerja di Televisi, guru, dosen dan aktivis seni. Namun jurusan teater STSI Padangpanjang masih belum di kenal dan dicintai secara luas oleh masyarakat, jangankan masyarakat Sumatera dalam wilayah Sumatera Barat saja masih ada yang belum mengenal jurusan seni teater.<br /> Tak kenal maka tak sayang, ungkapan inilah yang membuat jurusan teater melakukan program pengenalan teater ke masyarakat melalui apresiasi. Selama ini dalam pentas teater mahasiswa maupun dosen kita selalu mengundang penonton. Sekarang tekhnisnya dirubah dengan menjemput penonton lewat sekolah binaan dan membuat desa binaan di Sumatera Barat, bahkan bila seluruh sumatera. Ungkap Ketua Jurusan Seni Teater Yusril, S.S., M.Sn<br /> Masyarakat Sumatera sudah sangat kenal dengan sandiwara atau tonil. Teater rakyat ini sudah berkembang di Aceh, Minangkabau, Riau, Jambi, Lampung, Medan. Teater modern ketika masuk ke wilayah pedesaan di Sumatera haruslah dalam pemahaman masyarakat. Sebenarnya tradisi berteater sudah biasa dan sering dilakukan oleh masyarakat di seluruh Sumatera, kini tinggal kita melakukan pengembangan menuju pembaharuan. Jadi dengan program ini yang berujung pada mencetak lulusan yang bermamfaat di tengah masyarakat. Teater dewasa ini sudah menjadi profesi bukan lagi hobi, hanya lewat pendidikanlah teater di wilayah Sumatera berkualitas. Tambah Yusril.<br /> Tatang R. Macan, Sekretaris Jurusan Teater menimpali, teater miniature dari kehidupan. Kampung seni untuk memberdayakan masyarakat agar tidak tertutup terhadap perkembangan jaman. Sekaligus melakukan pengembangan pola berpikir, sehingga tercipta silaturrahmi seni. Jurusan teater selain fokus pada dua kegiatan jangka panjang itu, juga memprogramkan kegiatan worsksop, diskusi dengan mendatangkan tokoh-tokoh seperti Wisran Hadi (Sastrawan/Sutradara), Radhar Panca Dahana (Dramatug), Toni brur (Aktor), dalam bulan Desember juga mengundang Goethe Istitut untuk membongkar habis tentang konsepsi Brechtian. Tegasnya (sai)<br /><br /> Trimks! Salam<br /> Sulaiman Juned.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-8079379546924072438?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-42441316540335211262009-01-22T06:15:00.000-08:002009-01-22T06:19:10.329-08:00Puisi-Puisi Sulaiman JunedAntologi Puisi<br />MENJILAT BULAN<br />Karya: Sulaiman Juned<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />@ Pengantar Penyair menjilat bulan---------------------------------------menjilat bulan, i<br /><br /><br />MENULIS PUISI; <br />Saya Berangkat dari Realitas Sosial Menjadi Realitas Sastra<br /><br /><br /> Sastra dalam pehamaman saya adalah potret buram kehidupan masyarakat, baik sikap-moralitas-sosiologis-psikologis yang berkembang dan berjangkit di tengah lingkungan sosial. Jadi penyair menangkap potret tersebut, merekamnya lalu menciptakan dengan formulasi rasa, dari daya cipta menuju terciptanya karya yang monumental. Proses penciptaan karya sastra selalu berasal dari ide (akal pikiran, dilihat, dirasakan, dilakukan dalam kehidupan sosial tempat si penyair itu hidup)-lalu diproses dalam tatanan kreatifitas si penyair, sejauhmana penyair sebagai makhluk sosial mampu membaca realita sosial menjadi realitas sastra. Hal ini, jelas menambah aura, puitikal, dan bahasa puisi menjadi ternikmati. Atas dasar itu, penulis menuliskan realitas sosial yang penulis lihat- rekam-rasakan- nikmati lalu terendap menjadi judul antologi ini menjilat bulan.<br /> Hampir seluruh puisi yang ada dalam antologi bersentuhan dengan kata, kalimat bulan . Kata ini memang menjadi medium penciptaan, mungkin bulan indah, jorok, senang, sakit, bahagia, luka. Siapapun kita di atas bumi ini sangat merindukan bulan, terlepas bulan ini-itu-kemarin-besok-lusa dapat menjadikan bulan-bulan yang ideal dalam hidup. Manusia dewasa ini sudah sangat sering mengotori bulan atau memanjakan bulan. Berangkat dari filosofi inilah penulis memilih judul antologi puisi ‘Menjilat Bulan’ terlebih atas kurang dan lebih.<br /> Demikian, salam kreatif. Mudah-mudahan antologi ini jadi tempat kita berkaca diri, minimal bagi diri penulis. Salam.<br /><br /> Padangpanjang, 1 Januari 2008<br /> Salam Kreatif,<br /><br /><br /><br /><br /> Sulaiman Juned <br /><br />@Pengantar Menjilat bulan----Prof.Dr. Mahdi Bahar-----------------menjilat bulan, ii<br /> <br />PENGANTAR MENJILAT BULAN<br /><br /><br />IQRA’;… bacalah,… bacalah;…demikian Sang Malaikat itu atas perintah Yang Maha Kuasa langit dan bumi beserta isinya sejak tahun 610 masehi menyuruh sosok manusia ‘al-Amin’ dan insan sesudahnya menggunakan pikir. Apakah kamu tidak memperhatikan, merenungkan, memikirkan, atau mengambil i’tibar atas ayat-Nya; tidak ada yang sia-sia Ku ciptakan. Demikian Sang Maha Kuasa berkata… . <br />Kejadian yang tidak mengenakkan di bumi nusantara pada akhir milenium dua dan awal milenium tiga melalui kedahsyatan muncratan perut bumi, gempa, tsunami, atau air bah yang meluluhlantakkan negeri Lampung, Flores, Aceh, Nias, Sumatera Barat, Sidoarjo, Jawa Tengah, Jakarta adalah ciptaan-Nya. Biarkan manusia yang tidak mengesakan-Nya mengatakan geliat itu adalah karena alam sudah tua atau memang begitulah maunya alam, tetapi dalam ‘Kita’, semua itu adalah sunatullah. Telah Ku tunjukkan kejadian serupa pada kaum sebelum kamu; lihat bangsa atau kaum Saba, Tsamud, ‘Aad, umat Nuh, atau Luth yang telah melampaui batas, … Ku … hancurkan. Sekali lagi potret itu adalah sunatullah, bukan fatamorgana b-e-l-a-k-a. Bacalah, … bacalah…… dan bacalah. Aduh …, termasuk tindakan manusia di belakang topeng-topeng mereka.<br />Kejadian yang merupakan sunatullah dan tidak mengenakkan itu, di samping berbagai ulah tangan manusia, telah jadi ayat bagi Sulaiman Juned. Tilikan sanubarinya atas ayat-ayat tersebut melampaui kejadian yang sesungguhnya. Semua diperuntukkan santapan rohani. Buah pemikiran, renungan, yang merupakan sari pati fenomena tragedi alam atau kemanusiaan yang teramat dahsyat demikian, dibungkusnya dalam sentuhan estetika ucap. Latar belakang pribadinya sebagai penulis dan seniman yang ditempa oleh budaya Aceh, ternyata memberinya peluang untuk lebih jauh merasakan betapa hebat tragedi alam dan kemanusiaan itu dirasakan oleh orang Aceh. Kekentalan makna yang dalam atas ayat-ayat tersebut dikemasnya dalam bingkai-bingkai ekspresif. Manifestasi kejadian itulah yang diekspresikannya dalam karya Antologi Puisi Menjilat Bulan, dengan kejiwaannya tersendiri.<br />Dalam situasi begini tepatlah agaknya penyair Amerika Robert Frost yang memenangkan Pulitzer Prize untuk karya puisi sebanyak empat kali pada tahun 1924, 1931, 1937, dan 1943 berkata di hadapan Presiden John F. Kennedy pada saat pelantikannya di bulan Januari tahun 1961. Frost berkata, bahwa puisi “makes you remember what you didn’t know you knew”. Ungkapan ini memuat kesadaran ada orang yang tidak tahu bahwasanya ia tahu. Puisi dapat mengingatkan kembali orang-orang yang tahu atau bahkan manusia yang pura-pura lupa terhadap apa yang diketahuinya. Apa yang diungkapkan Sulaiman Juned dalam kemasan puisinya, tentu dapat memainkan peran seperti yang dimaksud Frost, ialah memberi tahu bagi yang tidak tahu atau mengingatkan kembali insan yang pura-pura tidak tahu akan apa yang seharusnya ia perbuat.<br />Menjilat Bulan sebagai bingkai pemikiran yang bersumber dari realitas sosial dan tragedi alam yang menimpa segenap insan, patut dibaca sebagai sumber pelajaran dan pencerahan. Sejumlah pemikiran yang termuat dalam beberapa judul dan sarat dengan ekspresi kemanusiaan (humanisme) serta dikemas dalam kalimat puitis dalam antologi ini merupakan kekayaan. Ia adalah gambaran kekayaan perjalanan spritualitas yang tampaknya sebesar kuku, tetapi dikembang selebar alam.<br />Akhir kata patut disampaikan bahwa antologi puisi karya Sulaiman Juned ini dapat dijadikan bahan kajian untuk penyadaran atau pengayaan spritual, terutama bagi peminat karya seni sastra di samping sebagai bahan studi kemanusiaan dengan segala harapannya, “Menjilat Bulan”. <br /><br />Terimakasih<br /><br />Kampung Jambak, PdPj. 16 Maret 2008<br />Salam,<br /><br />Prof. Dr. Mahdi Bahar<br />Guru Besar pada<br />Sekolah Tinggi Seni Indonesia<br />Padangpanjang<br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 1<br /><br /><br /><br />RINDU BULAN<br /><br /><br />tuhan <br />aku rindu ikan di kolam.<br /> -Padangpanjang, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 2<br /><br /><br /><br />BERLABUH<br /><br />setiap<br />teluk titip rindu. Anak<br />sampan telusuri laut<br />: kapan berlabuh<br />ah!<br /><br /> -Banda Aceh, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 3<br /><br /><br /><br />BULAN BENCANA<br /><br />kampung-kampung<br />masih terkepung sepi. Gerimis<br />berkelahi di halaman. Kadang<br />meruncing menembus dada<br />menyaksikan bencana tak mau pergi.<br /><br />kampung-kampung<br />masih terkepung luka. Gerimis<br />tempias ke wajah semesta. Tersekap<br />amnesia sejarah mengeram diingatan. Aku<br />hanya mampu mencatat keping duka-tercecer<br />senyap untuk di kenang<br />ah!<br /><br /> -Solo, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 4<br /><br /><br /><br /><br />BULAN DUKA<br /><br /><br />samudera hindia mengirim<br />maut. Masih lekat di jiwa tentang Aceh<br />dilipat air raya-Yogya diluluhlantakkan<br />gempa-Sidoarjo berenang lumpur panas. Pesisir<br />selatan Jawa digulung tsunami. Aroma<br />kematian menyekap<br />pikiran.<br /><br />samudera hindia mengirim<br />maut. Tuhan menegur<br />kita menunggu<br />giliran-siapkan<br />diri<br />ah!<br /><br /> -Solo, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 5<br /><br /><br /><br />NEGERI BULAN<br /><br />seperti rentak tari di sunyi pagi<br />berkabut. Tanah Yogya bergetar<br />memendam pilu di dada pengembara. Aku<br />mencium mawar-durinya mengurung ruang<br />kepala. Menyaksikan Bantul-Sleman-Klaten tinggal<br />puing. Orang-orang berkelahi pikiran dikelap-kelip<br />waktu pada wajah penderitaan. Aku <br />hanya mampu melukis luka dilangit <br />ungu Yogyakarta bawa pulang ke kamar cinta<br />(biarkan sebentar semedi menyucikan kalbu).<br /><br /> -Yogyakarta, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 6<br /><br /><br /><br />NYERI BULAN<br /><br />aku<br />gendong peradaban luka<br />dalam babakan sejarah merindui<br />peruntungan jiwa di sudut hening<br />: bergelut memungut wajah kita<br />terpasung ritus topeng.<br /><br />aku<br />gendong peradaban duka<br />dalam sansai nyeri di sukma<br />: menghitung di timbun tanah<br />sementara kita saling memangsa<br />ah!<br /><br /> -Solo, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 7<br /><br /><br /> <br />BULAN AIR MATA<br /><br /><br />aku<br />ziarahi negeri air mata. Terpenjara<br />keterasingan melawan kemerdekaan<br />jiwa. Ruang hening mengoyak derita<br />ribuan nyawa diceraiberaikan gempa. Aku<br />dirikan kemah pengungsi di hati.<br /><br />aku<br />ziarahi negeri duka dengan cinta. Menikam<br />kecemasan-ketakutan. Sejarah ditangan raja<br />mengidungkan lagu puja-mengukir keabadian<br />mengobral gelisah; Aceh masih lekat dalam ingatan<br />Tuban seperti baru kemarin dilanda nestapa-kini<br />Yogya di beri peringatan dengan gempa. Ah!<br />apalagi yang tersisa-dirikan tugu di hati<br />agar tak menuhankan diri.<br /><br /> -Yogyakarta, 2007-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 8<br /><br /><br />LUKA BULAN<br /><br /><br />entah<br />tangan siapa<br />menoreh luka menjilat bulan. Pucat<br />pasi di panah matahari terkulai jadi debu.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned-------------------------------------------------------menjilat bulan, 9<br /><br /><br /><br />KEMATIAN BULAN<br /><br /><br />mengintip<br />bulan sunyi dipikiran<br />nyanyian kematian mengurung <br />ruang kepala. Aku hanya debu<br />mampir di kening.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 10<br /><br /><br /><br />ZIKIR BULAN<br /><br /><br />terlambat<br />menghitung tasbih pada bibir<br />angkuh. Menyekap jejak tubuh<br />di zikir-pikir meluruh<br />(api meluluhkan isi kepala).<br /> <br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 11<br /><br /><br />MERAKIT BULAN<br /><br />merakit<br />hati di padang senja. Suit<br />angin. Meneguk lara-semiris<br />ini dalam diri mengais angan pada riak.<br /><br />merakit<br />luka menderu. Bulan<br />di atas teluk berlayar. Angin<br />menampar-nampar pelepah kalbu<br />ah!<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 12<br /><br /><br /><br />JIWA BULAN: 181-4 LALU DEBU<br /><br /><br />181-4 lalu debu<br />mata nanar-rabun<br />hati sansai. Sembilu<br />aku baca tanda di pucuk daun<br />durinya tertancap di jiwa.<br /><br /> -Pincuran Tinggi, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 13<br /><br /><br /><br />BULAN API<br /><br />aku<br />mengenang catatan<br />luka dengan renyai mata. Di atas<br />tungku jiwa terjerang jadi arang<br />ah!<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 14<br /><br /><br /><br />PERADUAN BULAN<br /><br /><br />terkubur<br />ingatan jadi debu-arang<br />berguguran di perdu waktu<br />bersama debur ombak di dada<br />(aku bangun peraduan di hati)<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 15<br /><br /><br /><br />MAKAM BULAN<br /><br />aku tanam bulan<br />di hati agar rindu terisi.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br />Sulaiman Juned----------------------------------------------------------------menjilat bulan, 16<br /><br /><br /><br />KERAJAAN BULAN<br /><br /><br />aku<br />berkaca pada air mata<br />rakyat melarat-sekarat.<br /><br /> -Banda Aceh, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 17<br /><br /><br />NYANYIAN BULAN<br /><br /><br />kabut<br />mengental. Bulan <br />diperkosa penyamun.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 18<br /><br /><br /><br />KERAJAAN SUNYI<br /><br /><br />aku<br />berkaca pada gigil<br />pulang-pergi menjenguk negeri<br />bernama kematian<br />; penyamun memperkosa bulan.<br /><br />aku<br />bercermin pada kabut<br />pergi-pulang ziarahi makam<br />seluas samudera menjenguk mukim<br />di gerus air raya<br />(aku tabur wangi mawar di hati)<br /><br /> -Banda Aceh, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 19<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />KERAJAAN MATA<br /><br /><br />di koyak<br />sepi. Menghitung ombak<br />dimata-Mu-rindu menyusup<br />membelai pucuk rambut<br />(aku sunyi dalam keramaian)<br /><br /> -Jakarta, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 20<br /><br /><br />KERAJAAN MAWAR<br /><br /><br />aku<br />ingin sebuah rumah berisi<br />mawar. Menyebar harum pada<br />setiap pendatang-bukan renyai<br />luka di senja hati<br />ah!<br /><br /> -Jakarta, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 21<br /><br /><br />KERAJAAN MALAM<br /><br /><br />siapa<br />luka. Memahat<br />rindu-dendam tersisa.<br /><br /> -Jakarta, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 22<br /><br /><br /><br />KERAJAAN ANGIN<br /><br /><br />membaca<br />isyarat gerimis. Sepucuk<br />hati jatuh dalam kabut<br />terkubur di sunyi-senyap kegelapan.<br /><br />membaca<br />isyarat angin. Polusi<br />berbaur kolusi menyebar sesak<br />ruang kepala hilang bentuk<br />(kita belum mampu memaknai petuah-Nya)<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 23<br /><br /><br /><br />KERAJAAN MIMPI<br /><br /><br />memapah<br />kegelapan mata<br />air. Ada luka terkubur<br />di liang angan-memeluk ujung<br />malam tanpa bulan<br />(angin menjilat pucuk rambut merakit harap)<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 24<br /><br /><br /><br />AH<br /><br /><br />rindu<br />terjaring di kulit daun.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 25<br /><br /><br /><br />SEPI<br /><br /><br />lebih<br />mengerikan dari maut.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 26<br /><br /><br /><br />LIDAH BULAN<br /><br /><br />angin<br />melukiskan malam<br />di hati pengembara. Laut<br />menjilat bulan di meja pemujaan<br />ah!<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 27<br /><br /><br /><br />MUSEUM BULAN<br /><br /><br />selangit<br />derit bujuk rayu<br />menyaru peradaban sejarah<br />bulan. Ruang bencana terkurung<br />ritual batu<br />ah!<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 28<br /><br /><br /><br /><br /><br />LAGU BULAN<br /><br /><br />senja hampir selesai<br />begini jauh perjalanan. Aku<br />berangkat melukiskan hujan di halaman<br />berbaur sekerat rindu sepanjang rambut<br />meski harumnya tak sempat kunikmati.<br /><br />senja hampir selesai<br />begitu jauh perjalanan. Aku<br />berangkat memahat keraguan di gugur<br />daun. Angin mengisi keranda dengan manyat<br />tanpa kafan-mengeja luka dalam kamar cinta.<br /><br />senja hampir selesai<br />alangkah jauh perjalanan. Aku <br />habiskan malam di senyum-beku<br />waktu. Sekalung tasbih-secangkir<br />kesedihan berganyut di langit jiwa<br />sembunyikan getir<br />(sepi lebih mengerikan dari maut)<br /><br /> -Padangpanjang, 2008- <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 29<br /><br /><br /><br />JIWA BULAN<br /><br /><br />tak ada waktu menggantungkan hidup pada<br />impian. Aku lawan segala getir-keluar dari<br />kubangan<br />duka<br />lara.<br /><br />tak ada waktu menggantungkan hidup pada<br />impian. Aku naiki kenderaan siang melalui<br />matahari-malam lewat bulan menuju kasih sayang<br />ukir masa depan di jejak masa silam<br />terbang menuju tuhan dengan sayap<br />kerinduan.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 30<br /><br />BUNGA API<br /><br /><br />aku<br />mamah luka menyesak di jiwa<br />bunga api memercik kenikmatan jadi<br />debu. Tanggal kesedihan sambut senyum<br />airi kegelapan dalam penjara getir<br />(harum mawar semerbak jua di hati)<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 31<br /><br /><br /><br />ALAMAT BULAN<br /><br />aku<br />pahami mendung menggantung<br />atas kepala-rahasia jiwa. Sayatan <br />belati berhulu di dada-terima perihnya<br />alamat penentu arah-tuju.<br /><br />aku<br />pahami gerimis tempias<br />wajah-penyejuk bukan getir<br />antar perjalanan ke batas tuju.<br /><br />aku<br />pahami hujan membanjiri riol<br />di hati. Basuh debu melekat di pikiran<br />rubuh dalam asma-Mu<br />ah!<br /><br /> -Banda Aceh, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 32<br /><br /><br /><br />: 43 TAHUN DEBU BULAN AKU SAMBUT;<br />GETIR-PAHIT-SAKIT-SENANG-DERITA DENGAN <br />CINTA<br /><br /><br /><br />ah! <br />ditepian<br />mana duduk menguliti hati.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br />Karya: Sulaiman Juned------------------------------------------------------menjilat bulan, 33<br /><br /><br /><br /><br />MATA BULAN<br /><br /><br />menyaksikan<br />luka bersimaharaja di hati.<br /><br /> -Padangpanjang, 2008-<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Biodata Penyair…………………………………………………………..menjilat bulan<br /><br /><br /> Sulaiman Juned, pernah memakai nama pena Soel’s J. Said Oesy<br /> Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab<br /> Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri<br /> dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni<br /> pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap jurusan seni teater di STSI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan <br /> Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, <br /> Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru <br /> teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Santunan, Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Peristiwa, Kalam, Ceurana, Warta Unsyiah, Ar-Raniry Post, Aceh Ekspres, Aceh Kita, Rakyat Aceh (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Majalah Saga, Laga-laga, Jurnal Palanta, Jurnal Ekspresi Seni (SUMATERA BARAT). Riau Post (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional oleh Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude.<br /> Puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama; Podium (Aceh, 1990), Bunga Rampai Pariwisata (Pustaka Komindo, Jakarta 1991), HU (Teater Kuala, Banda Aceh 1994), TTBBIJ (Medan, 1995), Ole-Ole (Cempala Karya Aceh, 1995), Teriak Merdeka (Fak. Hukum UNSYIAH, 1995), Surat (Kuflet Padangpanjang, 1998), Dalam Beku Waktu (NGO HAM-Aceh, 2002), Takdir-Takdir Fansuri (kumpulan esai, DKB Aceh 2002), Mahaduka Aceh (Pusat Dok. HB Jassin Jakarta, 2005), Syair Tsunami (Pustaka Jaya, Jakarta 2005), Ziarah Ombak (Lapena Aceh, 2005), Remuk (ASA-Japan, 2005), Riwayat (PUSBUK-DIKNAS, Jakarta 2007), 181-4 Lalu Debu (Kuflet Padangpanjang, 2007). Antologi Cerpen ‘Joglo’ (Solo, 2006), Tiga Drama Jambo (antologi naskah lakon, 2005). Sementara naskah lakon yang ditulisnya; Desah Nafas Mahasiswa (1989), Pulang (1990), Warisan (1991), Orang-orang Marjinal (1992), Ikrar Para Penganggur (1999), Jambo “Luka Tak Teraba” (1999), Jambo “Beranak Duri Dalam Daging’ (1999), Jambo “Bunga Api Bunga Hujan” (2000), Jambo “Ayam Jantan’ (2000), Hikayat Cantoi (2000), Orang-orang Rantai (2001), Polan (2002), Berkabung (2004), Asalku Benar dari Hulu (2004), Sebut Aku Polan (2005), Hikayat Pak Leman (2005). Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik; Pertemuan Sastrawan Kampus se- Indonesia di Universitas Diponegoro (1989), Temu Sastrawan Kampus se-Indonesia di Universitas Cendrawasih Irian Jaya (1991), Temu Sastrawan Kampus se-Indonesia di Universitas Indonesia Jakarta (1993), Temu Sastrawan Sumatera di Bengkulu (1992), Temu Sastrawan Sumatera di Nusantara di Langsa Aceh (1995), Pertemuan Sastrawan Nasional dan Nusantara IX di Kayutanam-Sumatera Barat (1997), Pertemuan Teater Indonesia di Pekan Baru (1997), Pertemuan dan latihan jurnalistik tingkat nasional di Jakarta (1990). <br /> Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi dalam ‘Desain Struktur’ Komposer; Drs. Wisnu Mintargo, di Teater kecil STSI Surakarta (1998), ‘Signal Lima’ Komposer IDN. Supenida,S.Skar di Gedung Boestanoel Arifin Adam STSI Padangpanjang (2004), Skenografi dalam Orkestra ‘Simarantang Karya/Komposer Drs. Yoesbar jailani (Festival Kesenian Indonesia III, Surabaya 2004). Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers; sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh (1998-2000), Ketua Bidang Humas Lembaga Penulis Aceh (1995-2000), Ketua Bidang Pengkaderan Federasi Teater Banda Aceh (1995-2000), Sekretaris Umum Lembaga Seni Aceh (1990-1997), Pendiri/pimpinan Sanggar Seni Cempala Karya Banda Aceh (1989), Ketua UKM. Kesenian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1986-1988), Pendiri UKM-Teater Nol Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1989), Pendiri Teater Kosong Banda Aceh (1993), Pendiri Teater Alam Banda Aceh (1995), Pendiri/Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang-Sumatera Barat (1997-Sekarang). Pemimpin Redaksi Bulettin Ceurana (1986-1989), Redaktur Budaya/Sekretaris Redaksi Warta Unsyiah (1987-1995), Redaktur Budaya SKM. Peristiwa (1989-1995), Redaktur Budaya Majalah Kiprah (1990-1997), Redaktur/editor jurnal Palanta STSI Padangpanjang (1999-2000), Redaktur/editor jurnal Ekspresi Seni STSI Padangpanjang (2000-2005), Ketua Ukm-Pers STSI Padangpanjang (1997-1999), Pemimpin Redaksi Majalah Laga-Laga STSI Padangpanjang (19977-1999).<br /> Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun ketika bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; Aceh-Medan-Padang-Riau-Jambi-Palembang-Bengkulu-Lampung-Jakarta-Yogyakarta-Solo-Jawa Timur-Bali-Sulawesi-Kalimantan-Irian Jaya. Menjadi seniman memang sudah pilihan hidupnya, kalau mengenang Soel pasti menyebutnya si Penyair-Dramawan-Teaterawan dan Jurnalis. Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 18 Januari 2008 pukul 16.00 Wib rumah kontrakannya terbakar di Padangpanjang-Sumatera Barat. Seluruh dokumentasi pribadi; baik buku-kliping koran tentang proses kreatifnya menjadi seniman- CD pertunjukan teater beserta barang berharga lainnya ikut terbakar, tak ada yang selamat, namun Sulaiman Juned itu tetap kuat menjalaninya bersama istri dan anak serta seluruh keluarga besar Komunitas Seni Kuflet. ‘Semuanya yang saya miliki milik Allah, jadi kita harus siap dan redha kalau Allah mengambilnya kembali, diri kitapun sebenarnya kan milik-Nya jua’ tuturnya. (Wiko Antoni)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-4244131654033521126?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-16362699270183474832009-01-22T06:10:00.000-08:002009-01-22T06:13:35.927-08:00TEATER UNTUK DIGAULI: Berteater Itu Mudah tapi Tidak GampangOleh: Sulaiman Juned *)<br /> <br />Pendahuluan<br /><br /> seniman teater<br /> latihannya seumur hidup<br /> tak ada pensiun buat seorang seniman<br /> kecuali, mati.<br /><br /> Seni teater merupakan kesenian kolektif. Proses kreatif pekerja teater bermunculan melalui ide-ide yang diwujudkan menjadi kenyataan teater. Melakukan pementasan teater berangkat dari naskah lakon bukanlah pekerjaan yang sederhana. Hal ini disebabkan teater bukan pekerjaan individual melainkan membutuhkan kerja bersama. Teater sebagai seni kolektif didalamnya terdapat unsur-unsur seni seperti; seni sastra, peran, musik, tari dan seni rupa. Keseluruhan unsur tersebut menjadi kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan ketika menjadi kenyataan teater. Kenyataan teater harus mampu memberikan suasana dalam mengeksplorasikan segala emosi serta menghidupkan spektakel yang sekaligus sebagai gerak batin dari tokoh-tokohnya. <br /> Teater modern sebuah karya kolektif kreatif. Segala jenis pertunjukan yang di tampilkan di depan penonton menjadi penuturan hidup dan kehidupan manusia. Karya adalah ciptaan yang menimbulkan rasa indah bagi yang melihat dan merasakan. Kolektif, bersama-sama atau secara gabungan. Kreatif, mengandung daya cipta; pekerjaan yang harus di dukung oleh kecerdasan. Begitulah teater sesungguhnya jika di pandang secara kolektifitas. <br /> Sebuah kelompok teater, sudah barang tentu memiliki idiologi baik kekaryaan maupun secara kelompok. Di samping itu pekerja teater harus memiliki keyakinan untuk mengimani dirinya. Kesadaran ini harus di bangun secara terus menerus agar terjadi kebaruan bagi proses kreatif kerja teater. Berteater itu mudah untuk mengatakannya tetapi tidak gampang untuk melaksanakan. Ilmu-kemauan-ketrampilan sangat di butuhkan. <br /> <br />Produksi Teater Itu Untuk Di Tonton.<br /> Teater membutuhkan kekompakan tim produksi dan tim artistik. Kemampuan ini menawarkan wilayah komunikasi teater yang di tonton penonton. Komunikasi teater bersifat empiris, meskipun cakupannya sampai wilayah gagasan, konsep, emosional dan prilaku. Pementasan teater akan berkualitas apabila memiliki kematangan identitas. Kematangan identitas akan tercapai tidak hanya lewat transformasi sastra ke atas pentas, atau kualitas artistik dalam mewujudkan realitas teater tetapi yang paling utama, peristiwa pergulatan produksi teater sebagai wahana dalam menghadirkan peristiwa teater. <br /> Kerja teater didalamnya ada sutradara sebagai seniman inovasi, berkelahi pikiran dengan kelompok kerja artistik (pemeran, dan penata artistik). Juga dengan pimpinan produksi dan jajaran non-artistiknya. Kerja teater ini dilakukan secara bersama-sama, biasanya enam bulan bahkan sampai satu tahun. Kerja menafsirkan- pemilihan-penemuan-mempertahankan-menyusun hasil-memperbaiki kesalahan-penghalusan yang berujung ke pertunjukan. <br /> <br /> <br />Kerja teater menurut Arthur S. Nalan (1998: 5), lebih jelas dapat dilihat dalam skema:<br /><br />Sutradara sebagai seniman inovasi sekaligus karyawan yang mengkoordinasikan unsur teater. Pencipta bentuk karya seni terhadap peradaban manusia memiliki kecerdasan dalam:<br />• Menafsirkan lakon menjadi pengalaman pentas. <br />• Merancang konsepsi penyutradaraan.<br />• Penanggung jawab keseluruhan realitas teater.<br />• Memiliki kemampuan mengatur orang banyak, berani membuat keputusan baik secara artistik maupun non-artistik.<br />• Mampu bekerja sama dengan seluruh pendukung artistik dan non-artistik.<br />• Memiliki pengalaman, jam terbang sebagai aktor, penata artistik, menguasai ilmu pendukung; arsitektur, sosiologi, psikologi, semiotika, senirupa, seni musik, sejarah, antropologi,serta persoalan manusia dan budaya lainnya.<br />Skenografi (art director), harus memiliki kemampuan:<br />• Menafsirkan lakon dan menerjemahkan konsep dasar sutradara.<br />• Merancang artistik; seting/properti, busana, rias, cahaya, gerak, dan musik. Sekaligus penanggung jawab artistik panggung.<br />• Memiliki kepekaan artistik dan mampu mengkoordinasi kerja dalam aspek pentas.<br />Sementara penata seting, rias, cahaya, musik, busana, dan gerak membantu skenografi dalam menata artistik untuk mewujudkan konsep dasar penyutradaraa menjadi trasformasi ke realitas pertunjukan.<br />Sedangkan aktor harus cerdas dalam:<br />• Menafsirkan lakon dan konsep dasar akting (Grand Stile, Realis, Karikaturis, Parodi, dll). <br />• Menganalisis/ menyajikan karakter tokoh serta menstransformasikan karakter tersebut lewat laku.<br />• Mampu menciptakan sudut pandang dramatik lakon sepanjang pertunjukan berlangsung, cakap menghadirkan penciptaan ruang teatral yang esensial.<br />• Memiliki nalar yang tinggi, memahami ilmu jiwa serta perangkat ilmu lainnya.<br />Sedangkan pekerja panggung di tuntut harus mampu membantu penata (seting,rias, busana, musik, gerak, dll), di saat pra-pertunjukan dan ketika pertunjukan sedang berlangsung. Memahami mekanisme kerja sebuah pertunjukan teater, serta memiliki pengalaman, disiplin, inisiatif, dan tanggung jawab.<br />Terakhir, seorang pimpinan produksi memiliki tanggung jawab berkenaan dengan produksi teater, publikasi, desain produk dan marketing. Harus tegas dan luwes, mengerti prinsip manajemen seni, memiliki hubungan luas dengan berbagai lembaga terkait, dan lain-lain. Selain tugasnya sebagai pimpinan tim produksi.<br />Kerja teater ini terasa mudah memang, namun tidak gampang jika tidak di kerjakan secara serius, telaten, dan disiplin. Inilah kerja ideal sebuah Komunilitas teater yang bermuara pada idiologi kekaryaan. Jadi kerja teater tidak dapat di raih dalam tempo sesingkat-singkatnya, tetapi harus ditekuni dalam rentang waktu berpuluh-puluh tahun agar menjadi mudah. Kerja teater butuh wawasan, kesabaran, ketekunan, kecerdasan, latihan terus-menerus dan tawakal. Ya begitulah teater.<br /><br />Aktor: Tubuh Spektakel Hidup Di Atas Pentas<br /> Mempelajari seni akting, tidaklah mungkin tanpa pembimbing yang mengetahui seluk-beluk seni berperan dan sekaligus terampil sebagai instruktur. Bila terpaksa dalam melakukan latihan ( bekerja ) sendiri, otomatis di paksa menghadapi resiko terhadap terbenturnya keinginan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Prestasi seorang aktor tidak terlepas dari unsur-unsur kemanusiaan yang umum. Sejauh mana daya tarik atau kharisma yang bersangkutan bersifat pribadi dan tidak mungkin dibandingkan dengan angka-angka.<br />Modal utama seorang aktor adalah akting. hal ini dapat dicapai dengan kerja keras yang harus di lakukan secara kontinyu. Kemampuan atau bakat tidak mungkin di tingkatkan, namun dapat dikembangkan melalui proses latihan yang penuh kedisiplinan. Disiplin terhadap diri sendiri, kemudian terhadap perintah serta petunjuk instruktur. Disamping itu kepribadian merupakan dasar menuntun bakat dan disiplin. Seorang aktor dalam melakukan pemeranan harus terus belajar, berkarya, berdisiplin, bertanggung jawab, dan bereksplorasi. Maka sebagai seorang aktor harus melakukan formasi sebagai berikut dalam mengasah diri:<br /><br />Aktor dan Tubuhnya<br />Seorang aktor benar-benar mempersiapkan diri baik mental maupun fisik. Mental harus disiapkan sehinga tidak mengalami keterkejutan ketika menjumpai sesuatu yang tidak ditemui dalam kehidupan sebelumnya (tidak pernah terpikirkan, ternyata latihan teater sangat berat). Bentrokan emosi kemauan yang mengamsalkan tubuh dan sukma sebagai tanah liat siap di olah dijadikan lebih padat atau lebih lentur. Fisik seorang aktor harus dipersiapkan kelengkapan peralatan pemeranan melalui latihan teknik dasar secara berkesinambungan.<br />Pembentukan aktor terdapat dalam dirinya ketika berproses membawa peran. Ke dalam raga, seorang aktor ada sukma, sukma terdapat unsur emosi-kemauan-semangat-pikiran dan fantasi. Dalam raga ada tubuh-gerak-pernafasan-kekuatan, maka latihan secara langsung terlaksananya tiga bentuk proses kreatif yaitu olah tubuh, vokal dan sukma secara bersamaan tanpa di sadari. Persiapan tubuh seorang aktor melalui latihan memerdekakan diri untuk ,mengapdi kepada akting. Hal yang harus diperhatikan; membuat/ menciptakan tubuh dalam keadaan pasif. Ini dilakukan pada tubuh atau sebelum tubuh memasuki tahap aktivitas. Tekanan diberikan pada gerak yang sifatnya menurun. Selanjutnya pada gerak menurun dan menaik. Berat atau ringan tergantung berapa banyak satuan berat jatuh pada titik pusat ini. Titik-titik puncak menaik dan menurunkan tubuh serta segalanya harus menyatu dalam bentuk yang utuh di dalam tubuh.<br />Gerak dan suara harus diperhitungkan. Gerak reflek dengan aksi dan suara sering terjadi bersamaan. Perubahan terjadi pada kondisi badaniah, sikap tubuh dapat menumbuhkan suara yang berlainan. Ritme pernafasan, detak jantung, gerak-gerak kecil selalu berhubungan dalam tubuh. Kekuatan membebaskan tubuh kemudian maengintegrasikan setiap bagian yang telah terbebaskan dan meleburkan diri ke dalam suatu fasilitas dengan mengalami berbagai ekstrinuitas yang membantu menyadari kondisi keseimbangan.<br /><br />Aktor dan Vokal nya.<br />Suara andalan aktor sebagai kenderaan imajinasi, perangkat ekspresi manusia. Suara bertambah fungsi dan takarannya menjadi alat yang dibentuk dan dimainkan untuk mewujudkan sosok peran. Latihan pengucapan dan membaca naskah harus mendapat tempat yang khusus. Pembebasan suara, membebaskan munusia sebab tubuh dan pikiran yang dimiliki oleh setiap manusia, merupakan sumber vokal yang menerima rangsangan sensitif dari otak, bekerja menurut proses fisik dari otot tubuh menciptakan pengucapan. Suara akan terhambat dan rusak oleh ketegangan tubuh, gangguan emosional dan intelektual, gangguan peralatan suara serta spiritual yang membatasi keterbatasan bakat, imajinasi dan pengalaman. Suara andalan utama bagi aktor dalam pencapaian makna untuk melahirkan pengucapan yang sempurna, melalui:<br /><br />• Pembebasan suara. Olah suara mengacu kepada kemampuan berbicara dengan emosi yang mendalam dan terpancar dari hati. Pembebasan suara terangkum dalam empat tahapan proses pembelajaran vokal.<br />• Proses pembebasan melatih tulang belakang sebagai pusat kekuatan tubuh dalam mengusung pernafasan. <br />• Proses pengembangan (tangga resonansi) melatih saluran resonator, ditambah latihan melepas suara dari tubuh. Melatih resonator hidung, jangkauan dan resonator tengkorak.<br />• Kepekaan dan tenaga, menggali kekuatan pernafasan, pusar dan artikulasi dalam berdialog melahirkan vokal.<br /><br />Secara keseluruhan latihan pembebasan suara yang paling penting untuk diperhatikan peralatan suara dari bagian anggota tubuh pernafasan, pemanfaatan suara, pengucapan, artikulasi dan diksi.<br /><br /><br /><br /><br /><br />Aktor dan Sukmanya<br />Kosentrasi merupakan kesanggupan yang memungkinkan mengerahkan kekuatan rohani dan pikiran ke arah suatu sasaran yang jelas. Dasar dari ajaran ini menguasai diri sendiri melalui proses mencari-cari, menciptakan peran keseharian, proses penciptaan konstruktif peran pada saat pertunjukan di panggung. <br />Sasaran konsentrasi aktor adalah sukma, baik terhadap sukma sendiri, orang sekitarnya, atau sukma manusia secara menyeluruh (masyarakat penonton). Hal ini secara langsung memerlukan kosentrasi terhadap emosi. Melatih kosentrasi melalui panca indra terhadap hal yang fiktif dan semu. Melatih keadaan emosi dalam sukma bernama manusia kita menemui unsur emosi, kemauan, semangat, pikiran dan fantasi. <br />Emosi. Laku mencerca, memfitnah atau membunuh merupakan laku yang mungkin tak teralami baik dalam pengalaman empirik seorang manusia. Namun sebagai aktor di atas pentas ketika sedang berlakon atau dalam latihan dialog, harus dilakukan dengan instens dan totalitas yang prima. Ada jarak antara sosok diri dengan takaran emosi yang harus diungkapkan. Ingatan emosi adalah perangkat seorang aktor untuk mengungkapkan hal-hal yang berada diluar dirinya. Caranya dengan imajinasi, pengandaian, serta mengembangkannya menjadi ingatan diri sendiri. <br />Perihal emosi ini merujuk Stanislavsky dengan formula “pengandaian yang ajaib”. Seorang aktor dapat meyakini kemungkinan kejadian-kejadian itu, mencoba menjawab pertanyaan, apa yang harus saya lakukan andai aku berada pada posisi King Lear? Pengandaian yang ajaib ini mentransformasikan sasaran tokoh ke dalam sasaran sang aktor. Ini merupakan tenaga pendorong melahirkan tindakan fisik untuk melakukan tindakan rohani. Kualitas pengalaman di atas pentas akan berubah, perubahan itu disebut refleksi pengalaman hidup yang puitis, waktu adalah filter sekaligus alat pemurni memori, emosional yang dialami. Lebih dari itu, bukan hanya memurnikan emosi tetapi dapat mempuitiskan berbagai macam memori. Aktor harus hidup dengan pengalaman yang sebenarnya, agar mampu menghidupkan pengalaman pentas dalam takaran emosi pengandaian. Bagaimana jika aku berperan jadi orang gila? Bagaimana pula jika aku berperan dalam kegilaan. <br /><br /><br />Aktor Mencari Ruang<br /> Proses penguasaan teknik pemeranan dalam mencari ruang, aktor harus menjalankan tugas, mahir dan terampil. Hal itu menciptakan watak yang dimengerti dan diterima oleh penonton. Sekaligus mendorong sikap yang diperlihatkan dipanggung, maka untuk itu perlu adanya: <br />• Teknik muncul. Aktor mampu membawakan kemunculan peran. Setelah muncul langsung mendapat perhatian penonton. Menampilkan gambaran watak dan memaparkan hubungan dengan jalan cerita. Melakukan kerjasama sesama pemeran. Aktor mampu menginterpretasikan dan menyesuaikan diri dengan naskah didalam per-adegan serta konsepsi penyutradaran untuk menuju konsep artistik teater.<br />• Pemberian isi. Sebuah kalimat dalam dialog harus diberi isian pada pengucapan dengan dinamika, tekanan nada, tekanan tempo. Pegucapan kalimat menonjolkan emosi dan pikiran yang terkandung dari sebuah cerita. Naskah lakon odipus sang raja karya Sphokles yang maha dahsyat itu dialognya akan menjadi datar jika aktornya tak mampu memberi isian dalam dialog. Namun naskah lakon Jambo Inong Bale karya Wiko Antoni akan lebih hidup seandainya aktor mampu memberi isian dalam setiap dialog. Berdasarkan itulah teknik pengisian merupakan cara menyampaikan isi, perasaan dan pikiran dari sebuah kalimat dalam lakon.<br />• Membangun Klimaks. Klimaks puncak dari suatu pengembangan, ujung atau akhir pengembangan yang panjang terdiri dari pengembangan kecil. Seorang aktor harus mampu mengatur dan menahan pengembangannya sehingga tak terjadi penyamaan dengan klimaks. Penguasaan diri seorang aktor haruslah dicapai agar pencapaian klimaks benar-benar terjadi dalam bangunan yang utuh seperti struktur dramatik aristotelean; permulaan-komplik-klimaks-resolusi.<br />• Waktu atau tempo dramatik. Aktor atau pemeran harus memperhatikan timing (jeda), irama, tempo serta jarak langkah dalam konsep waktu yang merupakan bagian vital dalam karya teater. Timing merupakan hubungan waktu antara kalimat yang diucapkan dengan suatu gerakan. Keseluruhan rasa ini dikembangkan dengan teknik penonjolan lagu dan diksi. Sementara irama merupakan ukuran kecepatan individual dalam alunan peristiwa teater, sedangkan jarak langkah sangat menentukan irama dan tempo. <br /><br />Penutup<br /><br />Aktor Membawakan Peran: Jadilah Aktor <br /> Aktor didukung staf produksi berusaha menghidupkan naskah lakon menjadi kenyataan teater yang disebut dengan performance art (Pertunjukan seni) di atas pentas. Latihan adalah proses dalam persiapan diri seorang aktor menuju naskah lakon. Sutradara, pemain, tim artistik dan produksi merupakan suatu proses kreatif yang terpadu. Proses kreatif seorang aktor berangkat dari sumber inspirasi sutradara yang dipelajari-dikuasai-dianalisis-ditafsirkan baik ide lakonnya, bentuk, suasana, klimaks, serta perwatakan yang terbaru dalam proses latihan. Setelah itu, sutradara memprosesnya dalam beberapa tahap; tahap mencari-cari, tahap memberi isi, tahap pengembangan, tahap penghalusan, tahap pemantapan. Selanjutnya barulah dapat dikatakan menjadi paket pertunjukan teater. <br /> Pertunjukan teater yang telah mengaplikasikan kenyataan teater dalam proses kreatif membutuhkan pikiran, tenaga dan waktu. Kemudian baru dapat dipertunjukkan kepada masyarakat penonton. Seorang calon aktor yang sekian waktu berproses baru dapat disebut aktor ketika ia telah benar-benar mampu berakting dengan sempurna di atas pentas. Ternyata perjalanan menjadi seorang aktor sangatlah sulit, apalagi menjadi sutradara. Namun begitulah teater, berteater itu rasanya mudah dan bahkan sangat mudah tapi tidaklah gampang.<br /> <br />Rumah Kontrakan<br />Padangpanjang 3 April 2008<br /> Makalah ini disampaikan dalam DIKLAT teater se-Pekanbaru, 5-8 April 2008 di UKM. Teater Batra. Universitas Riau Pekanbaru.<br /> Pemakalah adalah Dosen di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang. Sumatera Barat. Penyair dan sutradara serta pimpinan komunitas seni Kuflet padangpanjang Sumatera Barat. <br />DAFTAR PUSTAKA<br /><br /><br /> Arthur s. Nalan. 1998. Mencipta Teater, Bandung: CV. Geger Sunten<br /> Anirun, Suyatna. 1998. Menjadi Aktor, Bandung: STB<br /> Arifin, Max. 1980. Teater Sebuah Perkenalan Dasar, Flores: Nusa Indah<br /> F. Awuy, Tommy. 1999. Teater Indonesia, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta<br />Juned, Sulaiman. 2002. Penyutradaraan Drama Jambo Luka Tak Teraba, STSI Padangpanjang<br />Lubis, Z. Pengaduan. 1996. Sistem Stanislavsky; Latihan Profesional Seorang Aktor, Medan: CV. Alam Raya<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-1636269927018347483?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-37559322715535834962009-01-22T06:07:00.001-08:002009-01-22T06:07:40.313-08:00HIKAYAT CANTOIHIKAYAT CANTOI<br /> (Berangkat dari Konsep Teater Tutur Aceh P.M.T.O.H)<br />Oleh: Sulaiman Juned *)<br /> <br />A. Pendahuluan<br /> Teater sebagai seni yang kompleks mengeksplorasi intensitas seniman dalam bentuk emosi dan spektakel (setiap benda yang ada di atas panggung, termasuk aktor, seting, cahaya, proferti, rias dan busana). Menurut Herwanfakhrizal (1996/1997:10) spektakel adalah: “Ekspresi atau ungkapan sutradara/aktor yang ditangkap oleh penonton dalam wujud struktur dan tekstur serta konvensi sebuah teater dalam rentang waktu pemanggungannya, menjadi wujud kesatuan tontonan”. Oleh karena itu, sutradara dan aktor harus mampu merubah lakon verbal menjadi wujud permainan yang mempesona; dalam bentuk audio (pendengaran), visual (penglihatan), dan kenetsic (gerak). Teater dihidupkan oleh penampilan aktor, bersama para aktor ada sutradara yang membentuk corak dan watak penampilan tersebut.<br /> Naskah lakon merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna bentuknya apabila belum dipentaskan. Naskah lakon disebut juga sebagai ungkapan pernyataan penulis (playwright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum, juga merupakan ide dasar bagi aktor. Proses pengembangan laku bersumber dari hasil studi dan analisis isi. Hal ini dapat membangkitkan daya kreatif dalam menghayati laku secara pas, melaksanakan peran dengan takaran seimbang dalam asas keutuhan, keseimbangan serta keselarasan. Sementara pertunjukan teater tutur Aceh P.M.T.O.H (mengambil salah satu nama bus yang berada di Aceh) karena Teungku Adnan sering menaiki bus P.M.T.O.H untuk bepergian keliling Aceh sebagai penjual obat keliling. Teungku Adnan sangat senang dengan klakson bus tersebut, maka dalam setiap mengawali pertunjukan teaternya Teungku Adnan selalu memulainya dengan suara klakson. Teater ini akhirnya diberi nama P.M.T.O.H atau juga sering di sebut Dangderia , Poh tem atau Peugah haba yang berarti ‘berbicara’ atau ‘orang yang pekerjaannya bercerita’ naskah lakon yang dimainkan berbentuk hikayat (karya sastra Aceh berbentuk puisi).<br /> Rahman Sabur (2003:11) mengungkapkan, “Monolog adalah suatu jenis bentuk seni pertunjukan drama modern yang berasal dari bahasa Yunani. Artinya suatu pembicaraan atau suatu persoalan yang dipergelarkan oleh seorang aktor atau sebuah lakon yang berbicara mengenai masalah pribadi seorang tokoh saja”. Berangkat dari uraian tersebut, latar belakang tokoh, dan cerita monolog sangat penting bagi setiap pergelaran drama tunggal, karena pada umumnya plot drama senantiasa dipaparkan dengan teknis kilas balik. Apa yang tersaji di awal cerita, pada dasarnya akibat akhir dari apa yang dibicarakan tokoh tersebut untuk selanjutnya, sama halnya yang dilakukan dalam pertunjukan teater tutur Aceh.<br /> Teater tutur Poh Tem, Peugah Haba atau Dangderia yang dipopulerkan Teungku Adnan dengan sebutan P.M.T.O.H dimainkan satu orang dalam bentuk monolog. Namun bila dibandingkan dengan monolog dalam teater modern Indonesia, terlihat beberapa perbedaan. Monolog yang lazim dilakukan teater modern lebih banyak bersifat penuturan dengan melakukan movement (gerak), sedangkan pada teater tutur P.M.T.O.H lebih kaya dengan ekspresi, karakter tokoh, dan karakter bahasa dialog yang berubah-ubah. Begitu juga dengan penggunaan alat/properti serta pergantian busana dalam setiap adegan, musik vokal, tubuh, rapa’i dan bantal dimainkan langsung oleh pemeran. Pemeran bermain dengan tekhnik duduk dan tidak melakukan movement (gerak) atau blocking (perpindahan) dari satu tempat ke tempat yang lain. “Teater tutur yang di beri nama P.M.T.O.H ini dikembangkan oleh Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik Rapa’i Aceh, pedang, suling (flute), bansi (block flute), serta mempergunakan properti mainan anak-anak dan berbagai macam busana. Properti dan alat musik memperkaya penampilan dan sekaligus menjadi kekuatan dalam merubah kejadian-kejadian yang ia perankan” (Sulaiman Juned, 1999:1-3).<br /> Drama monolog, Teungku Adnan bermain sendiri tetapi mampu memunculkan beribu-ribu tokoh (seolah-olah banyak sekali pemeran yang sedang berperan) , hal ini dilakukan lewat kemampuan suara (vokal), dan perubahan busana tergantung peran yang diperankan dalam hikayat (cerita). Hal inilah yang membuat penulis memilih kesenian ini untuk digarap menjadi karya ujian akhir melalui perkawinan teater tutur Aceh dan teater modern Indonesia. Teater tutur ini mempunyai kemungkinan untuk digarap agar keberadaan aktor dalam pertunjukan monolog dapat bersifat menyeluruh sebagai pusat permainan. Monolog memungkinkan aktor hadir sebagai manusia yang absolut. Melalui monolog aktor dapat menyusun sejarah teater yang lebih memperhitungkan pencapaian keaktoran baik dalam gagasan teater maupun pencapaian teknik permainan.<br /> <br />B. Konsep Kekaryaan <br />“Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan sebagai aslinya yaitu ‘kisah’ (cerita). Bukan saja dongeng duniawi, keagamaan, pelajaran tentang adat, bahkan buku cerita yang ditulis dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat, dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena dapat menjadi seni pertunjukan” (Budiman Sulaiman, 1988:10). Hikayat selalu saja terdapat tanda-tanda formil berupa rumus yang memuji Allah serta Rasul-Nya. Jadi teater tutur P.M.T.O.H lakonnya selalu saja berangkat dari hikayat, seperti Hikayat Malem Dewa, Malem Dagang, Putroe Ijo, Raja Si Ujud, Prang Sabi, Sanggamara, Nalham Sipheuet Dua Ploh, Gumbak Meueh, Indra Budiman dan lain-lain.<br /> Teater tutur P.M.T.O.H menjadi kebanggaan masyarakat Aceh memiliki konsep permainan yang unik sesuai dengan spirit dan nuansa teaterikal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakatnya. Teater tutur ini dimainkan oleh satu orang dalam bentuk monolog. Menurut A.Anjib Hamzah monolog adalah ‘Pertunjukan drama yang dilakukan oleh seorang pemain; dialog yang diucapkan pada diri sendiri” (1984:411). Jadi monolog dikenal sebagai bentuk permainan seorang diri. Seorang aktor harus mampu bermain sendiri dan memberi bentuk pertunjukan sendiri. Monolog juga biasanya memakai syair dan dialog-dialog yang panjang.<br /> Menurut Teungku Adnan P.M.T.O.H ”Jauh sebelum teater tutur Poh Tem berkembang, di Aceh Selatan terkenal seorang penyair Dangderia bernama Muhammad Lapei. Mat Lapei menyampaikan hikayat hanya mengutamakan ekspresi wajah, sambil berdiri di atas podium dengan menggunakan pedang pelepah kelapa dan bantal. Sekitar tahun 1956 saya menirukan ekspresi dari Mat Lapei yang adalah guru Tengku Adnan dalam mempelajari hikayat, lalu mengembangkan teater tutur ini dengan memakai kostum yang sesuai dengan tokoh yang ada dalam hikayat, serta menggunakan peralatan seperti senapan mainan, boneka, pistol-pistolan, wig, topeng dan lain-lain” (Wawancara dengan Teungku Adnan, 14 Desember 2003, di Trienggadeng Pidie, Aceh).<br /> Berangkat dari pemikiran di atas, merangsang proses kreatif terhadap persoalan sosial melalui konsepsi keilmuan berkeinginan menggarap teater monolog yang berbasis dari teater tutur Aceh P.M.T.O.H. Penulis dalam hal ini tidak berangkat dari naskah hikayat namun menuliskan naskah monolog yang berjudul “Hikayat Cantoi” dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Serta mengawinkan konvensi (Aturan/Hukum) teater modern terutama pada movement (pergerakan), dan blocking (perpindahan) pemeran di atas pentas, seting (dekorasi), proferti, rias, dan busana. Juga memakai kekayaan tubuh sebagai musik (musik perkusi tubuh), seperti; tepuk dada, paha, perut, dan ketip jari (seudati), tepuk tangan (didong), rabana adok, serta gerak tari guel. Seudati merupakan suatu bentuk teater tradisional Aceh yang struktur dasarnya ada gerak, syair dan dimainkan seluruhnya oleh laki-laki. Guel sebenarnya sendratari yang ditarikan oleh beberapa penari wanita dan seorang penari laki-laki dengan gerak patah-patah. Tari ini untuk membangunkan gajah jelmaan dari seorang anak raja yang sudah meninggal, dan dipercayakan oleh masyarakat Aceh, gajah jelmaan tersebut menjadi gajah putih tunggangan Sultan Iskandar Muda. Didong teater tradisional Aceh yang kekuatannya terdapat pada syair (cerita yang berbentuk puisi), tepuk tangan dan goyangan badannya dengan pola duduk melingkar.<br />Karya ini menghadirkan tokoh yang kompleksitas sejarah dan psikologis. Cantoi seorang lelaki Aceh yang bekerja sebagai guru dipaksakan oleh situasi untuk menjadi ‘pak turut’ agar jiwanya selamat. Lelaki yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Seluruh anak dan istrinya ditemukan tewas di tengah sawah miliknya, mereka di tuduh terlibat dalam Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Hal ini membuat Cantoi sangat terpukul, jadi untuk dapat hidup tenang haruslah menjadi manusia yang ‘pintar-pintar bodoh’. Penulis memilih tokoh imajiner ini, karena di Aceh sebutan bagi orang yang sesungguhnya ia pintar tetapi kelihatannya bodoh dipanggil dengan nama Cantoi. Antara tahun 1996-2003, masyarakat Aceh telah mengalami pergeseran atau perubahan budaya. Hal ini terjadi karena interaksi sosial dari hasil kekejaman militer melalui tekanan-tekanan yang dialami setiap waktu, perubahan karena tindak sosial memnyebabkan lahirnya ideologi dan terjadinya restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat.<br />Interaksi tersebut membuat prilaku masyarakat Aceh saat ini, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun interaksi yang terjadi lewat tindakan sosial dengan kekerasan yang dilakukan militer terhadap masyarakat melahirkan perlawanan tak henti dari pihak pemberontak. Sementara rakyat tercekam dalam tekanan dan ketakutan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran serta kontak senjata antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Hal ini melahirkan kondisi psikologis seperti yang dialami tokoh Cantoi, sehingga suatu ketika dia melihat dirinyalah yang mati dilapangan sepak bola itu. Kondisi yang diciptakan setiap yang mati pasti di tuduh sebagai GAM, bersaudara dengan mereka juga harus mati.<br />Kondisi sosial seperti yang diuraikan di atas menjadi latar belakang lahirnya karya “Hikayat Cantoi” yang berangkat dari realita sosial menjadi media didaktis bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Jadi karya ini, tidak hanya sebagai media hiburan semata. Selain itu juga dapat menjadi alternatif dalam memahami teater monolog sebagai kajian keilmuan dalam idiom teater. Atas dasar itu, lahir realita teater monolog berjudul ‘Hikayat Cantoi’ di atas pentas dengan konsep kekaryaan:<br /><br />1. Gagasan <br /> Teater yang berangkat dari akar tradisi merupakan pilihan penulis semenjak awal berkenalan dengan dunia teater, sekaligus menjadi sumber penciptaan ‘Hikayat Cantoi’. Penulis sangat tertarik dengan gerak dasar seudati , apabila gerak tersebut dapat diterima menjadi blocking (perpindahan) dalam konsepsi pertunjukan teater, maka akan terjadi kebaruan di dunia teater modern Indonesia. Begitu juga kekuatan sastra Aceh baik lewat didong maupun hikayat dapat menjadi konvensi (aturan/hukum) bagi masa depan teater Indonesia.<br /> Berdasarkan itu, penulis mengawinkan konsepsi teater tradisi dengan teater modern untuk memuliakannya. Kondisi di Aceh pada masa konflik sebagai dasar penciptaan teks ke konteks dan menjadi kontekstual. Cantoi saksi sejarah atas peristiwa yang menimpa Aceh. Betapa banyak anak-anak menjadi yatim, perempuan-perempuan menjadi janda, kampung-kampung di bakar. Peristiwa seperti ini sesungguhnya yang menderita adalah rakyat. Cantoi wakil dari rakyat Aceh, terpaksa pintar-pintar bodoh untuk menyuarakan ketertekanan batin yang mengapung di jiwa agar jadi catatan sejarah untuk pembelajaran bagi masa depan. Namun sudah merupakan sikap dan sifat manusia jika rasa takut memuncak maka muncullah keberanian. Cantoi pun melawan.<br /> Teater monolog ‘Hikayat Cantoi’ tidak bersumber dari teater tutur Aceh yang berusaha memvisualisasikan Hikayat (kisah/cerita) sebagai naskah lakon yang dialognya dalam bahasa Aceh menjadi kenyataan teater. Penulis membuat naskah lakon monolog berjudul “Hikayat Cantoi” dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa pentas untuk mewujudkan realitas teater. Hal ini ini dilakukan karena pertunjukannya di Padangpanjang Sumatera Barat dan bukan dalam komunitas masyarakat Aceh. Konsepsi teater tutur P.M.T.O.H dikawinkan dengan konvensi teater modern pada konsepsi blocking (perpindahan pemain) aktor, dan movement (gerak), yang dalam teater tutur P.M.T.O.H tidak dilakukan. Begitu juga dengan musik, penulis memakai musik perkusi tubuh; tepuk dada, perut, paha, dan tepuk tangan serta ketip jari (seudati/didong/guel. Kesenian tradisi Aceh) serta menambah instrumen musik rabana (adok), musik tekno untuk mengisi efek senjata dan derap sepatu. Pemusik sekaligus berfungsi menjadi kopr/korus (menjadi rakyat, maling sekaligus pendekar). Hal ini diperkuat oleh Margaret J. Kartomi (2005) “Musik perkusi badan yang ada di Aceh itu sangat luar biasa dan mungkin yang paling maju di dunia, yaitu menimbulkan bunyi musik dengan gesekan tubuh tanpa instrumen”<br /> Seting yang digunakan adalah Jambo (pos keamanan). Sementara di kiri depan dan kanan depan pentas serta di belakang Jambo terdapat kain putih yang berfungsi sebagai layar, merupakan tempat duduk para pemusik. Di awal cerita terdengar lagu Atjheh Tanoeh Loen Sayang dan gerakan tari guel ditarikan pemusik sambil melakukan pergerakan dari siluet kiri dan kanan depan pentas menuju ke siluet belakang pentas. Dilanjutkan dengan nyanyian lagu sebuku (siluet digunakan untuk pencapaian konsepsi artistik sebagai penanda, setiap peristiwa yang terjadi di siluet sesungguhnya pergulatan pikiran dari tokoh Cantoi). Sementara lagu Maju Tak Gentar untuk penanda munculnya para pendekar. Diakhir cerita (penutup) kembali dinyanyiakan Hikayat Prang Sabi dan Atjeh Tanoeh Loen Sayang.<br /><br />2. Bentuk Karya<br /> Melakukan pementasan teater yang berangkat dari naskah lakon walaupun monolog, bukanlah pekerjaan sederhana. Hal ini disebabkan seni teater bukanlah seni individual melainkan membutuhkan kerja bersama-sama. Teater merupakan seni yang Kolektif (bersama) karena terdapat unsur-unsur seni lainnya seperti; sastra, musik (suara), tari (gerak), seni rupa (cahaya, seting, properti, rias, dan busana). Keseluruhan unsur menjadi kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan ketika menjadi kenyataan teater (pementasan). Berangkat dari gerak seudati dan guel dalam pengaturan blocking yang dikawinkan dengan konvensi teater tutur P.M.T.O.H dan teater modern Indonesia seperti yang telah penulis jelaskan di atas.<br /> Teater adalah kesenian yang berhubungan dengan banyak orang dalam mewujudkan ide menjadi kenyataan teater. Karakteristik ini membuat kerja teater atas dasar keserasian konsep dan ide artistik dengan tim pendukungnya.<br /><br />3. Media<br /> Konsep garapan yang tertuang dari ide dasar naskah monolog ‘Hikayat Cantoi’ maka terwujudlah akting (laku). Karya ini menampilkan unsur-unsur kebaruan, seperti;<br />1. Cerita, tidak berangkat dari hikayat (kisah/cerita) seperti hikayat Malem Dewa dan Malem Budiman. Namun penulis menuliskan naskah drama monolog berjudul ‘Hikayat Cantoi’.kisah dalam cerita ini, menuangkan peristiwa yang terjadi di Aceh dalam masa konfliks antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) di Aceh. Karya ini bertemakan ‘Kekuasaan sangat akrab dengan kejahatan’<br />2. Bahasa dalam karya ini berfungsi sebagai alat ungkap termasuk gerak tubuh merupakan bahasa yang disimbolkan dalam menyampaikan peristiwa. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan adalah bahasa Indonesia, sementara untuk membangun suasana tertentu dipakai bahasa Aceh, seperti dalam memulai dan mengakhiri pertunjukan dengan memakai nyanyian Hikayat Prang Sabi (kisah/cerita perang suci) dan lagu Atjeh Tanoeh Loen Sayang serta lagu sebuku (ratapan).<br />3. Musik dan instrumen yang digunakan dalam karya ini cukup sederhana dengan memakai musik perkusi tubuh serta memakai instrumen rabana (adok), untuk menjelajah kemungkinan bunyi yang ditimbulkan, dan memunculkan suasana-suasana, serta pemusik sekaligus menjadi koor/ korus yang terkadang menjadi tokoh maling, rakyat dan pedekar.<br />4. Pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ menggunakan seting Jambo (pos keamanan). Di sisi kiri depan dan kanan depan pentas serta di belakang Jambo, terdapat kain putih yang berfungsi sebagai siluet, sekaligus tempat duduk para pemusik. Setiap peristiwa yang terjadi di siluet merupakan pergulatan batin dan pikiran dari tokoh Cantoi.<br />5. Penataan cahaya dalam pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ sebagai lakon tragedi komedi yang penulis garap dengan gaya realisme sugestif (menghadirkan akting, blocking, dekorasi, properti minimalis namun banyak kegunaannya, seperti senjata dapat menjadi pesawat dan cangkul). Seluruh adegan dalam monolog ini terjadi pada malam hari, karena Aceh pada masa konfliks oleh penguasa (militer) diberlakukan jam malam, setiap laki-laki yang ada di kampung-kampung wajib ronda malam agar para pemberontak tidak mudah keluar masuk kampung di waktu malam hari. Warna lampu menentukan suasana yang mendukung tangga dramatik, adalah; biru tua, biru muda, biru, merah, merah hati, merah muda, hijau muda, hijau, kuning, ungu dan merah jambu serta lampu blizt (untuk mendukung suasana peperangan). Melalui cahaya penulis ingin memberikan pengaruh psikologis serta menggambarkan suasana pentas dalam lakon. Selain itu juga dapat menjadi petunjuk waktu. <br /> <br />C. Proses Kekaryaan<br /> <br />1. Observasi<br /> Proses penyusunan penciptaan karya ini, penulis lakukan melalui membaca buku, observasi terhadap teknik pemeranan dan pertunjukan teater tutur Aceh P.M.T.O.H serta melalukan observasi terhadap kondisi masyarakat Aceh yang hidup dilingkungan konfliks anatara militer Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Penulis melakukan observasi selama tiga tahun, sejak tahun 1996 sampai dengan 1999 di Kecamatan Tiro Truseb Kabupaten Pidie. Penulis menemukan kejadian-kejadian aneh, di sebuah kampung sering terjadi pembunuhan dan mayat-mayat bergelimpangan di sawah, ladang, dalam rimba bahkan di tengah pasarpun mayat-mayat berserakan. Anehnya lagi, setiap ada yang mati masyarakat di sekitar itu sangat ketakutan dan tidak ada seorang pun yang berani mengaku mayat itu kerabatnya, tidak pula pernah diketahui siapa pembunuhnya. Di daerah Tiro ada kampung yang hanya di huni oleh anak-anak dan perempuan janda, sebab laki-laki sudah banyak yang terbunuh. Penulis juga menemukan orang-orang yang terkena tekanan jiwa, suka bicara sendiri dan selalu ketakutan apabila ada rombongan truk militer melintas dikampungnya. Awalnya penulis lakukan observasi ini untuk menulis cerpen yang berjudul Cantoi, di muat di Surat Kabar Mimbar Minang pada tanggal 15 April 2000. Naskah cerpen tersebut, penulis tuangkan menjadi naskah lakon monolog ‘Hikayat Cantoi’. Keadaan ini, membuat penulis tertarik untuk mengangkat realita sosial menjadi realita teater dan ditransformasikan ke atas pentas agar jadi sejarah dan pembelajaran berharga bagi masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.<br /> Karya ini secara terus menerus penulis melakukan latihan untuk mencari alternatif-alternatif yang memungkinkan lahirnya idiom-idiom baru. Sekaligus melatih kepekaan keaktoran dan penyutradaraan dalam mentransformasikan peristiwa teater. Berangkat dari pemikiran di atas, maka terciptalah konsepsi pertunjukan teater ‘Hikayat Cantoi’ yang terangkum dalam realitas sosial menjadi realitas teater yang berakar pada tradisi. <br /><br />2. Proses Penciptaan Karya <br /> Proses latihan aktor dalam suatu produksi, harus sampai pada bentuk peran yang dicarinya melalui usaha menguasai unsur-unsur seni peran. Atas dasar itu, memilih pemain sangat menentukan tingkat keberhasilan pertunjukan. Penulis dalam memilih aktor mengutamakan kecerdasan, kecocokan fisik dan memiliki kejiwaan yang mirip dengan karakteristik tokoh Cantoi agar mampu menerjemakan laku di atas pentas. Penulis memanggil lima orang aktor yang berkenan di casting (pemilihan) menjadi calon tokoh Cantoi, tiga orang berasal dari Riau, satu orang dari Minangkabau dan satu orang lagi berasal dari Aceh. Selanjutnya melakukan pemilihan dengan cara membaca naskah selama satu bulan. Membaca naskah memakai dialek Aceh. Sementara itu, dialek orang Aceh ketika berbicara dalam bahasa Indonesia sangat sulit ditirukan oleh etnis di luar Aceh, maka penulis memutuskan untuk memilih Azhadi Akbar, mahasiswa jurusan teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang yang berasal dari Aceh untuk memerankan tokoh Cantoi.<br /> Begitu juga dalam menentukan karakter tokoh, gaya yang dikembangkan secara bersama-sama dalam proses latihan. Irama yang tepat atau ukuran kecepatan laku dalam pribadi aktor. Hal ini untuk mengukur sejauhmana aktor mampu melakukan pengembangan peran dari proses latihan menuju pertunjukan. Mengenai proses latihan, penulis sebagai sutradara mencoba memakai dua metode, yaitu latihan di alam bebas dan auditorium. Pelaksanaan latihan alam bebas yang penulis lakukan untuk eksplorasi karakter tokoh. Proses latihan membaca naskah, blocking kasar, penyesuian blocking, latihan mempergunakan properti, seting/dekorasi, busana, cahaya, geladi bersih sampai ke pertunjukan mempergunakan gedung teater arena Mursal Esten STSI Padangpanjang.<br /> Prekwensi latihan bersama aktor, dan tim artistik “Hikayat Cantoi” 3 (tiga) kali dalam seminggu dengan jumlah pertemuan 77 (tujuh puluh tujuh) kali pertemuan, di tambah 1 (satu) kali geladi bersih, serta 1 (satu) kali pertunjukan. Keseluruhan berjumlah 79 (tujuh puluh sembilan) kali pertemuan.<br />2.1 Sinopsis ‘Hikayat Cantoi’<br /> Aku ingin tetap menjadi Cantoi. Cantoi tubuhku-pikiranku, maka Cantoilah namaku, tak lebih tak kurang. Namun bila mencari duri dalam tumpukan jerami kenapa ladang yang harus di bakar, cantoi tetap tidak sepakat. Sekali Cantoi tetap Cantoi.<br />2.2 Penataan Pentas<br /> Teater sebagai seni yang kompleks harus mampu membahasakan setiap benda yang berada di atas panggung, seperti seting/dekorasi, properti, rias, cahaya, busana, gerak dan musik. Pentas merupakan spektakel hidup dan aktor harus menghidupkan pentas agar penonton dapat menikmatinya dengan sempurna.<br />2.3 Seting/Properti<br /> Pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ seting (dekorasi) menggunakan Jambo (pos keamanan). Di sisi kiri dan kanan depan pentas, serta belakang Jambo, terdapat kain putih yang berfungsi sebagai siluet dan sekaligus tempat duduk para pemusik, serta memakai tanah di atas panggung agar tercapai suasana perkampungan, sedangkan properti memakai bingkai (penanda jendela), dan senjata yang dapat berfungsi menjadi pesawat dan cangkul.<br />2.4 Cahaya <br /> Penata cahaya untuk memperjelas ruang dan waktu yang terjadi pada malam hari. Warna lampu untuk mendukung tangga dramatik adalah, biru tua, biru muda, biru, merah hati, merah muda, merah jambu, merah, hijau, ungu. Cahaya berpengaruh pada psikologis, serta dapat menggambarkan suasana pentas selain sebagai penunjuk waktu.<br />2.5 Rias<br /> Tata rias dalam pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ memakai rias karakter (rias effek) khusus untuk tokoh Cantoi, sedangkan untuk pemusik yang berperan sebagai koor/korus hanya mempergunakan rias gagah dan rias cantak.<br />2.6 Busana<br /> Busana yang di pakai untuk pertunjukan ‘Hikayat Cantoi’ memakai tipe busana tradisional Aceh. Tokoh Cantoi memakai tengkulok, kupiah hitam, baju putih, celana hitam, dan kain sarung, sedangkan pemusik memakai baju dan celana hitam.<br />2.7 Gerak<br /> Seudati dan guel memiliki gerak magis yang menawan apabila dapat digabung dengan kenetsic (gerak) yang ada dalam konsepsi teater modern, maka akan tercipta kebaruan terhadap blocking bagi masa depan teater Indonesia. Penggabungan ini yang penulis lakukan dalam Cantoi.<br />2.9 Musik<br /> Pemusik berada di atas pentas menjadi koor/korus yang sekaligus berperan sebagai aktor. Musik perkusi tubuh, seperti; ketip jari, tepuk tangan, tepuk dada, lagu Hikayat Prang Sabi, Atjeh Tanoeh Loen Sayang, Sebuku, didong, dan rabana (adok). Musik tekno hanya untuk mendukung suasana.<br /> Pertunjukan teater ‘Hikayat Cantoi’ berdurasi 61 menit dan disajikan dalam satu bagian (satu babak) tanpa henti. Bertempat di Gedung Teater Mursal Esten STSI Padangpanjang-Sumatera Barat.<br /><br /><br />3. Hambatan dan Solusi<br /> Proses kreatif latihan teater Hikayat Cantoi lebih kurang dalam kurun waktu 79 (tujuh puluh sembilan) kali pertemuan, memang ada bebarapa hambatan, proses latihan tidak dapat dilaksanakan secara rutin di ruang teater arena karena gedung tersebut juga di pakai untuk ujian dan proses latihan mahasiswa jurusan teater STSI Padangpanjang. Hal ini yang membuat proses latihan Hikayat Cantoi agak terganggu.<br /> Berdasarkan kendala tersebut, penulis sebagai sutradara mencari solusi dengan memilih latihan di alam terbuka. Latihan di ruang terbuka sekaligus dapat melatih kekuatan vokal dan kejelasan artikulasi para aktor/pemeran. <br /><br />D. Deskripsi Karya<br /> Bentuk drama monolog mulai di kenal pada drama-drama Yunani dan Romawi dalam bentuk soliloqui (bentuk monolog yang berdiri sendiri dalam sebuah naskah). Soliloqui merupakan bagian dari adegan naskah yang sedang dimainkan. Kebiasaannya, monolog menggunakan syair dan dialog yang panjang. Pelaku merupakan suatu karakter pembicara untuk memperjelas dan menetapkan nama yang sesungguhnya, maka si pelaku seolah-olah ada dua orang, tiga orang atau lebih. Dimana dalam pertunjukannya yang seorang diam, dan seorang lagi berbicara. Atas dasar itu, deskripsi sajian pertunjukan monolog ‘Hikayat Cantoi’ sebagai berikut;<br />1. Dimulai dengan lampu padam. Lalu hidup lampu warna merah di Jambo. (pos keamanan), tokoh cantoi tertidur lelap. Kemudian terdengar musik sound effeek; suara alam, angin, suara tembakan dari senjata, dan suara air gemericik. Diikuti oleh musik perkusi tubuh, ketip jari, tepuk dada, paha, tangan serta musik rebana (adok), sound effeek mempergunakan musik tekno, terdengar Alunan Hikayat Prang Sabi (perang suci) Karya Teungku Syik Pante Kulu yang dinyanyikan:<br />Subhanallah Wahdahu Wabihamdihi<br />Khalikul bahri Walaili Azza Wajalla<br />Uloen pujoe pho sidroe pho syukur keu Rabbi ya Aini<br />Ke kamoe neubri beusuci Atjeh mulia.<br /><br /><br /><br />Tajak prang musoh beureuetoh dum sitree Nabi<br />Nyang meungki keu Rabbi keu pho nyang Esa<br />Meusoe han teuem prang chit malang cilaka tuboh rugoe roeh<br />Syuruga than roeh rugoe roeh balah neuraka.<br /><br />Ureueng binoe lah binoe geumoe meukiyam<br />Aneuk jak lam prang peutimang amanah Nabi<br />Meubek tatakoet taseuroet aneuk senapan bangsawan<br />Aneuk meuriyam ya Allah ata si Pa’i<br /><br /><br />Darah nyang hanyi lah hanyi gadoeh di badan<br />Geuboh lee Tuhan ya Allah ngoen minyeuek kasturi<br />Dikamoe Atjeh ya Allah darah pejuang-pejuang <br />Neubri beumanyang ya Allah Atjeh mulia.<br /><br /> Artinya :<br /> Subhanallah Wahdahu Wabihamdihi<br /> Khalikul bahri Walaili Azza`Wajalla<br />Segala puji bagi Allah yang Maha Esa<br />Berikan kepada kami Atjeh Mulia.<br /><br />Mari kita berperang melawan musuh Nabi<br />Yang melanggar perintah Tuhan Yang Esa<br />Barang siapa tak mau berperang di jalan Allah malang untungnya<br />Orang itu tidak masuk surga tapi malah diberi azab neraka.<br /><br />Kaum perempuan menangis tersedu-sedu<br />Anaknya berangkat dalam perang menjalankan amanah Nabi<br />Jangan takut apalagi mundur melihat senjata meriam, bangsawan<br />Walau bagaimanapun hebatnya senjata kafir tidak pernah ditakuti.<br /><br />Bau amis darah akan hilang di badan<br />Kelak diganti dengan wangi kasturi oleh Tuhan dalam surga<br />Kami bangsa Aceh memang darah pejuang<br />Allah yang meninggikan bangsa Aceh dengan kemuliaan.<br /><br />2. Lampu warna merah di atas jambo (pos keamanan) hidup remang. Tokoh cantoi tebangun dari mimpi ketika terdengar`derap sepatu pendekar yang tak beraturan. Musik perkusi tubuh; tepuk dada, paha dan tepuk tangan, ketip jari rebana (adok) dimainkan pemusik yang berada di sisi kiri depan pentas dan kanan depan pentas yang diselebungi siluet dengan lampu warna biru dan merah hati. Terdengar lagu Atjeh Tanoh Loen Sayang Karya T. Djohan dinyanyikan;<br />Daerah Atjeh tanoh loen sayang <br />Nibak teumpat nyan loen hudeueb mate<br />Tanoeh keuneubah endatu monyang<br />Lampoeh deungon blang luah bukhen le.<br /><br /><br />Keurija hudeueb nasoe peutimang<br />Nasoe peuseunang keurija mate<br />Hate nyang susah loen rasa seunang<br />Atjeh loen sayang sampoe’an mate. <br />Artinya: <br /> Daerah Aceh tanah ku sayang <br />Disinilah tempat hidup dan matiku<br />Tanah pusaka dari nenek moyang<br />Sawah dan ladang luas sekali<br /><br />Acara di dalam dunia ada yang mengurusi<br />Masalah kematian ada pula yang menyelesaikannya<br />Hati yang susah aku rasa senang<br />Aceh kusayangi sampai akhir hayatku.<br /><br />3. ketika tokoh cantoi melakukan tari Guel lalu menyanyikan lagu sebuku (ratapan) //…aku harus bagaimana…//. Pemusik juga melakukan gerakan tari guel dan bergerak dari siluet kiri/kanan depan pentas menuju siluet di belakang Jambo. Sekaligus bersebuku di siluet belakang:<br />Ee ine bayakku ine<br />Kusihen aku mungadu<br />Naseb bangsaku sabe wan karu<br />Selohen kite moreb wan tenang murenang.<br /><br />Ee ine bayakku ine<br />Tentang kupanang-kupanang ari borni seulawah, bayakku<br />Sek mugersek terides luke masa sedenge<br />kusi kumai Acehku sayang, denang ku denang.<br /><br />Ho…ho…ho…Acehku sayang denang ku denang<br />Entimi kite berserulak mukalak ate wan mutalu..uuu..uuu<br />Ulak mi kite kumasa sedenge..eee…ee..bayakku ineee<br />Keti mujaya Acehku lagu masa silalu..aku harus bagaimana bayakku.<br />Artinya: <br /> Eeee ibuku saudaraku ibuku<br />Kemana aku mengadu<br />Nasib bangsaku selalu dalam konflik<br />Kapan kita hidup dalam tenang dan bahagia<br />Eeee ibuku saudara ibuku<br />Apabila kusaksikan dari gunung seulawah, saudaraku…<br />Terlihat jelas luka masa lalu<br />Kemana kubawa Acehku sayang, sambil kunyanyikan<br />Ho…hoho..Acehku sambil kunyanyikan <br />Janganlah kita melukai hati sendiri dentang berdentang…uuu..<br />Ingatlah kemasa lalu eeee…eee.. saudaraku ibuku<br />Agar berjaya Aceh seperti masa lalu…aku harus bagaimana…<br />Saudaraku ibuku….<br /><br />4. Cerita ini terangkum dalam struktur dramatik monolog;<br />a. Pengenalan, bagian awal dari cerita. Di sini tokoh memperkenalkan siapa sebenarnya Cantoi, maling, pendekar, Cuma Habibah, Tgk. Suman, Pak Keuchik, dan Ustadz.<br />b. Pengembangan, melakukan pengembangan terhadap teks lakon dengan memasukkan unsur-unsur komedi seperti yang terdapat pada monolog halaman 2 (dua); //Senang jadi Cantoi, cita-citaku tetap Cantoi…dan seterusnya//.<br />c. Konflik (masalah/peristiwa yang mengantarkan kepada klimaks sekaligus mendukung munculnya klimaks). Masalah mulai muncul dengan hadirnya tokoh para pendekar untuk mencari maling di kampung (desa) Sabe-Sabe.<br />d. Klimaks (puncak peristiwa/masalah), ketika pendekar menanyakan kepada penduduk kampung, siapa yang mengenal mayat maling yang sudah mati akibat dari kontak sejata dengan para pendekar. Ketika Cantoi melihat mayat tersebut, malah ia melihat dirinyalah yang mati itu.<br />e. Konklusi (kesimpulan akhir) terjadi ketika tokoh Cantoi di seret oleh para pendekar, lampu padam dan terdengar suara senjata. Jadi kesimpulan dalam pertunjukan ini diserahkan kepada penonton untuk menafsirkannya.<br />5. Pemusik muncul di sisi kiri depan pentas dan depan kanan pentas yang ada siluet, pemusik sekaligus berfungsi sebagai suara pendekar, Teungku Suman, dan Cuma Habibah dalam bentuk koor (korus). Instrumen musik rebana (adok), dan sound effeek yang memakai musik tekno untuk mendukung suasana seram, ketakutan, kesedihan, dan kesakitan serta untuk menghadirkan effek suara senjata.<br />6. Melakukan movement (gerak) dan blocking (perpindahan) dengan berdendang (hikayat). Hal ini dilakukan sambil mempersiapkan properti dan hand property seperti pesawat mainan dan bingkai jendela. Pergerakan ini dilakukan ketika para pendekar baru datang dengan menaiki pesawat, sementara rakyat mengintip dari jendela rumahnya. Irama lagu Maju Tak Gentar terdengar. Tokoh Cantoi dengan memegang cangkul yang dapat berubah menjadi senjata memberi hormat ala militer.<br />7. Kepala pendekar berpidato di lapangan sepak bola. Hari itu juga terjadi kontak senjata antara para maling dengan para pendekar.<br />8. Ketika Cantoi bersebuku (meratap) dengan kalimat //……aku harus bagaimana…// lalu bergerak dengan tari guel, pemusik sekaligus melakukan pergerakan dengan tari guel ke siluet belakang Jambo.<br />9. Lampu warna ungu hidup tepat di posisi kiri panggung, bertepatan kain putih naik dari bawah ke batem 3 pentas. Kain putih itu simbol dari roh yang terbang kembali ke khalik-Nya. Para perdekar sedang mencari tahu siapa yang mengenali mayat tersebut. Semua diam, sebab barangsiapa yang meratapi kematian maling sama dengan bersimpati kepada maling.<br />10. Cantoi melihat dirinyalah yang mati itu (bagi masyarakat Aceh tekanan jiwa seperti ini sering dialami akibat kekejaman militer). Akibat dari ketakutan yang luar biasa karena tekanan tersebut melahirkan keberanian, Cantoi tidak mau menjawab siapa yang mati. Cantoi malah berani mengkritisi kekejaman para pendekar, akibatnya Cantoi di seret (ditangkap) oleh para pendekar.<br />11. Lampu padam. Terdengar musik rabana (adok), serta Hikayat Prang Sabi (kisah/cerita) dinyanyikan kembali. Cantoi terbangun menyanyikan syair:<br />Dibuka kelambu tujuh lapis<br />Cantoi telah di bawa para pendekar<br />Mungkin dikerangkengkan atau dimatikan<br />Wahai bapak penguji/pembimbing ujian sampai disini ceritanya.<br /><br />Kalau lah ada bapak sumur di ladang<br />Boleh lah kita menumpang mandi<br />Kalah lah ada umur kita sama-sama panjang<br />Lain kesempatan di sambung lagi.<br /><br /> <br />12. Musik perkusi tubuh; ketib jari, tepuk dada, paha, tangan (didong) dilanjutkan dengan nyanyian lagu Atjeh Tanoeh Loen Sayang serta gerak Seudati oleh pemusik di siluet belakang Jambo. (SELESAI). <br /> <br /><br />E. Orisinilitas Karya<br /> Karya teater ‘Hikayat Cantoi’ di garap berangkat dari cerita (cerpen) karya penulis yang diangkat menjadi naskah lakon monolog, dengan konsepsi garapan telah penulis uraikan di atas.<br />Penulis sangat tertarik dengan gerak dasar Seudati, dan ingin menciptakan gerak tersebut menjadi blocking (perpindahan pemain) dalam konsepsi pertunjukan teater. Gerak dasar Seudati, guel, didong maupun nyanyian Hikayat dapat menjadi konvensi (aturan/hukum) bagi masa depan teater Indonesia.<br />Hal ini dilakukan untuk mengawinkan konsepsi teater tutur P.M.T.O.H Aceh dengan teater modern dalam melahirkan pertunjukan “Hikayat Cantoi”, sehingga memiliki genre (gaya) tersendiri yang berbeda dengan gaya (Alm) Teungku Adnan, Ali Meukek, Mak Lapei, Muda Belia dan Agus Nuramal.<br /><br />F. Pendukung Karya ‘Hikayat Cantoi’<br /><br />TIM PRODUKSI:<br />Pimpinan Produksi : IDN. Supenida, S.Skar<br />Stage Manager : Enrico Alamo, S.Sn<br />Bendahara : Sri Wahyuni, S.Sn<br />Dokumentasi : Aprizal Harun, S.Sn<br />Publikasi : Sahrul N, S.S., M.Si<br />Konsumsi : Hasnah Sy. S.Pd., M.Sn<br />Transportasi : Drs. Jufri., M.Sn<br /> : Nedy Winuza, S.Kar., M.Sn<br /><br /><br />TIM ARTISTIK :<br />Naskah/Sutradara : Sulaiman Juned<br />Aktor : Azhadi Akbar<br />Skenografi : Yusril, S.S., M.Sn<br /><br />Penata Seting/Properti : Adriyandi., S.Sn<br /> : Dek Jal Aceh<br />Penata Cahaya : Saaduddin, S.Sn<br /> : Nolly<br />Penata Busana/Rias : Dedy Dharmadi, S.Sn<br /> : Marlina, S.Sn <br />Penata Suara : Dharminta Soeryana, S.Sn<br />Penata Musik : IDN. Supenida, S.Skar<br />Pemusik : Andy Ruspiansyah<br /> : Rahma Diana<br />Kru Panggung : Fikar Aceh<br /> : Zulfikar Aceh<br /> : Ridwan Aceh<br /> : Yudi Kardi<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />GLOSARIUM<br /><br />1. P.M.T.O.H: Teater tutur yang berasal dari Aceh Selatan. Dikembangkan oleh Teungku Adnan sampai di kenal di Trieng Gadeng Pidie, dan seluruh Aceh.<br />2. Spektakel : setiap benda yang berada di atas panggung atau bahasa panggung seperti; aktor, seting/properti, cahaya, rias, gerak, dan busana.<br />3. Playwright : naskah lakon sebagai ungkapan pernyataan penulis.<br />4. Audio : Pendengaran.<br />5. Visual : Penglihatan.<br />6. Kenetsic : Gerak.<br />7. Hikayat : Karya sastra Aceh berbentuk puisi yang panjang.<br />8. Poh tem/Peugah haba : berbicara atau pekerjaan seseorang yang bercerita.<br />9. Dangderia : Satu bentuk seni tutur Aceh.<br />10. Konvensi : Hukum/Aturan.<br />11. Movement : Pergerakan.<br />12. Blocking : Perpindahan pemain (aktor).<br />13. Seudati : Satu bentuk teater tradisional Aceh.<br />14. Didong : Satu bentuk teater tradisional Aceh.<br />15. Guel : Sendratari tradisional Gayo Aceh.<br />16. Koor/korus : tokoh yang dapat berfungsi menjadi pemusik, penasehat, rakyat, pendekar dan maling.<br />17. Soliloqui : bentuk monolog yang berdiri sendiri dalam bentuk naskah. Ia merupakan adegan dari naskah yang sedang dimainkan.<br />18. Jambo : Dangau di tengah sawah, atau pos keamanan yang berada di tengah-tengah kampung (desa). <br />19. Teungku : Gelar atau sebutan kepada Ulama di Aceh.<br />20. Cuma : Panggilan untuk kakak dari Ibu.<br />21. Hand Prop : Benda yang berada atau di pakai di tangan oleh aktor, seperti; rokok, korek, senjata, pesawat, bingkai dan cangkul. <br /><br /><br />DAFTAR PUSTAKA<br /><br />A.Adjib Hamzah., 1984. Pengantar Bermain Drama. CV Rosda Bandung<br /><br />Agus Noor., 2006. Monolog, Aktor di Panggung Teater. Harian Kompas <br /> Jakarta: 26 Maret 2006<br /><br />Budiman Sulaiman., 1988. Kesusastraan Aceh. Unsyiah Press Banda Aceh<br /><br />Herwanfakhrizal., 1996/1997. Ekspresi dalam Seni Teater. Jurnal Ekspresi <br /> Seni Program Studi Pascasarjana UGM, 1996/1997<br /><br />Margaret J. Kartomi., 2005. dalam Asvi Warman Adam, Peneliti Musik Aceh<br /> Pasca Tsunami, Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005<br /><br />Rahman Sabur., 2003. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S.Nalan<br /> Etno Teater Bandung<br /><br />Sulaiman Juned., 1999. Teater Tutur Aceh: Adnan P.M.T.O.H Trobadour yang<br /> Menulis di atas Angin. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang<br /> Panjang<br /><br />VCD Hikayat Malem Dewa. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang, 1998 <br /> <br /> <br /> <br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br /> <br /><br /><br /><br /><br /><br />*) Biodata Sulaiman Juned<br /><br /><br /> Sulaiman Juned, pernah memakai nama pena Soel’s J. Said Oesy<br /> Lahir di Gampong (desa) kecil Usi Dayah Kecamatan Mutiara Kab<br /> Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, 12 Mei 1965. Kini memiliki istri<br /> dan seorang putra laki-laki. Menetap di Padangpanjang, menekuni<br /> pekerjaan sebagai Seniman, dosen tetap jurusan seni teater di STSI Padangpanjang Sumatera Barat, Dosen Ahli di FKIP/Bahasa dan <br /> Sastra Indonesia Daerah di Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat, <br /> Guru teater di SMA Negeri 1 Sawahlunto Sumatera Barat, Guru <br /> teater di SMA Negeri 1 Padangpanjang Sumatera Barat, Guru Kesenian serta Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Sore Padangpanjang. Mulai menulis sejak tahun 80-an, ketika masih belajar di SLTP. Karya puisi, cerpen, esai, drama, reportase budaya, artikel, kolom di muat di media seperti; Santunan, Serambi Indonesia, Kiprah, Aceh Post, Peristiwa, Kalam, Ceurana, Warta Unsyiah, Ar-Raniry Post, Aceh Ekspres, Aceh Kita, Harian Aceh, Harian Aceh Independen, Gema Baiturrahman (ACEH). Analisa, Dunia Wanita, Waspada (MEDAN). Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Majalah Saga, Laga-laga, Jurnal Palanta, Jurnal Ekspresi Seni (SUMATERA BARAT). Riau Post (RIAU). Indefendent (JAMBI). Lampung Post (LAMPUNG). Kedaulatan Rakyat (YOGYAKARTA). Solo Pos dan Jawa Pos (JAWA TENGAH). Suara Karya Minggu, Republika, Media Indonesia, Kompas, Koran Tempo, Majalah Sastra Horison (JAKARTA). Majalah Bahasa dan Sastera (MALASYIA dan BRUNEI DARUSSALAM). Antologi puisi tunggal berjudul ‘Riwayat’ mendapat Juara III dalam Lomba Penulisan buku pengayaan sastra tingkat nasional oleh Pusat Perbukuan Dinas Pendidikan Nasional (2007). Lelaki berkumis ini menyelesaikan studi S-1 di jurusan seni teater STSI Padangpanjang dengan yudisium Cumlaude, juga menyelesai Program Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dengan yudisium Cumlaude.<br /> Puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama; Podium (Aceh, 1990), Bunga Rampai Pariwisata (Pustaka Komindo, Jakarta 1991), HU (Teater Kuala, Banda Aceh 1994), TTBBIJ (Medan, 1995), Ole-Ole (Cempala Karya Aceh, 1995), Teriak Merdeka (Fak. Hukum UNSYIAH, 1995), Surat (Kuflet Padangpanjang, 1998), Dalam Beku Waktu (NGO HAM-Aceh, 2002), Takdir-Takdir Fansuri (kumpulan esai, DKB Aceh 2002), Mahaduka Aceh (Pusat Dok. HB Jassin Jakarta, 2005), Syair Tsunami (Pustaka Jaya, Jakarta 2005), Ziarah Ombak (Lapena Aceh, 2005), Lagu Kelu (ASA-Japan, 2005), Riwayat (PUSBUK-DIKNAS, Jakarta 2007), Surat: Catatan Merah-Putih, Kuflet 2007), 181-4 Lalu Debu (Kuflet Padangpanjang, 2007). Antologi Cerpen ‘Joglo’ (Solo, 2006), Tiga Drama Jambo (antologi naskah lakon, 2005). Sementara naskah lakon yang ditulisnya; Desah Nafas Mahasiswa (1989), Pulang (1990), Warisan (1991), Orang-orang Marjinal (1992), Ikrar Para Penganggur (1999), Jambo “Luka Tak Teraba” (1999), Jambo “Beranak Duri Dalam Daging’ (1999), Jambo “Bunga Api Bunga Hujan” (2000), Jambo “Ayam Jantan’ (2000), Hikayat Cantoi (2000), Orang-orang Rantai (2001), Polan (2002), Berkabung (2004), Asalku Benar dari Hulu (2004), Sebut Saja Aku Polan (2005), Hikayat Pak Leman (2005). Sering mengikuti seminar sastra, teater dan jurnalistik; Pertemuan Sastrawan Kampus se- Indonesia di Universitas Diponegoro (1989), Temu Sastrawan Kampus se-Indonesia di Universitas Cendrawasih Irian Jaya (1991), Temu Sastrawan Kampus se-Indonesia di Universitas Indonesia Jakarta (1993), Temu Sastrawan Sumatera di Bengkulu (1992), Temu Sastrawan Sumatera di Nusantara di Langsa Aceh (1995), Pertemuan Sastrawan Nasional dan Nusantara IX di Kayutanam-Sumatera Barat (1997), Pertemuan Teater Indonesia di Pekan Baru (1997), Pertemuan dan latihan jurnalistik tingkat nasional di Jakarta (1990). <br /> Ia juga sering terlibat dalam dunia musik, sebagai pemusik dan pembaca puisi dalam ‘Desain Struktur’ Komposer; Drs. Wisnu Mintargo, di Teater kecil STSI Surakarta (1998), ‘Signal Lima’ Komposer IDN. Supenida,S.Skar di Gedung Boestanoel Arifin Adam STSI Padangpanjang (2004), Skenografi dalam Orkestra ‘Simarantang Karya/Komposer Drs. Yoesbar jailani (Festival Kesenian Indonesia III, Surabaya 2004). Soel juga aktif dalam organisasi seni dan pers; sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh (1998-2000), Ketua Bidang Humas Lembaga Penulis Aceh (1995-2000), Ketua Bidang Pengkaderan Federasi Teater Banda Aceh (1995-2000), Sekretaris Umum Lembaga Seni Aceh (1990-1997), Pendiri/pimpinan Sanggar Seni Cempala Karya Banda Aceh (1989), Ketua UKM. Kesenian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1986-1988), Pendiri UKM-Teater Nol Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1989), Pendiri Teater Kosong Banda Aceh (1993), Pendiri Teater Alam Banda Aceh (1995), Pendiri/Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang-Sumatera Barat (1997-Sekarang). Pemimpin Redaksi Bulettin Ceurana (1986-1989), Redaktur Budaya/Sekretaris Redaksi Warta Unsyiah (1987-1995), Redaktur Budaya SKM. Peristiwa (1989-1995), Redaktur Budaya Majalah Kiprah (1990-1997), Redaktur/editor jurnal Palanta STSI Padangpanjang (1999-2000), Redaktur/editor jurnal Ekspresi Seni STSI Padangpanjang (2000-2005), Ketua UKM-Pers STSI Padangpanjang (1997-1999), Pemimpin Redaksi Majalah Laga-Laga STSI Padangpanjang (19977-1999).<br /> Soel sangat aktif dalam dunia teater, baik ketika masih di Aceh maupun ketika bermukim di Padangpanjang, ia sudah memainkan 250 judul naskah lakon baik naskah luar negeri maupun dalam negeri, ia berperan jadi aktor menjadi tokoh yang tanpa dialog sampai menjadi tokoh utama. Sudah menyutradarai 152 judul naskah lakon baik dari karya penulis dunia-nasional-daerah. Dewasa ini Soel hanya mau menyutradarai naskah lakon yang ditulisnya atau naskah lakon yang diproduksi oleh rekan-rekannya di komunitas Kuflet. Teater-Sastra-Jurnalistik telah membawanya mengelilingi Indonesia; Aceh-Medan-Padang-Riau-Jambi-Palembang-Bengkulu-Lampung-Jakarta-Yogyakarta-Solo-Jawa Timur-Bali-Sulawesi-Kalimantan-Irian Jaya. Menjadi seniman memang sudah pilihan hidupnya, kalau mengenang Soel pasti menyebutnya si Penyair-Dramawan-Teaterawan dan Jurnalis. Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 18 Januari 2008 pukul 16.00 Wib rumah kontrakannya terbakar di Padangpanjang-Sumatera Barat. Seluruh dokumentasi pribadi; baik buku-kliping koran tentang proses kreatifnya menjadi seniman- CD pertunjukan teater beserta barang berharga lainnya ikut terbakar, tak ada yang selamat, namun Sulaiman Juned itu tetap kuat menjalaninya bersama istri dan anak serta seluruh keluarga besar Komunitas Seni Kuflet. ‘Semuanya yang saya miliki milik Allah, jadi kita harus siap dan redha kalau Allah mengambilnya kembali, diri kitapun sebenarnya kan milik-Nya jua’ tuturnya. (Wiko Antoni)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-3755932271553583496?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-57627460265648007512009-01-22T05:38:00.000-08:002009-01-22T05:39:07.850-08:00<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-5762746026564800751?l=sjuned.blogspot.com'/></div>komunitasseni kuflet padangpanjanghttp://www.blogger.com/profile/17407015602523794267noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-8708429743153584023.post-8485725911806102932008-10-18T23:26:00.000-07:002008-10-18T23:27:24.859-07:00AKTOR: TUBUH SPEKTAKEL HIDUP DI ATAS PENTAS<br /><br /><br />Sulaiman Juned<br /><br /><br />Abstrak<br /><br /><br />Menjadi seorang aktor harus mampu menguasai tubuhnya melalui pembebasan tubuh, pembebasan suara. Disamping itu seorang aktor hendaknya dapat mrnguasai sukmanya agar mampu berkosentrasi dan mengelola emosi. Selanjutnya aktor mencari ruang; melalui teknik muncul, pemberian isi, membangun klimaks, waktu tempo dan dramatik. Andai semua ini dapat dikuasai oleh seorang aktor, barulah dapat dikatakan aktor yang berhasil.<br /><br /><br />Katakunci: Aktor, Tubuh, Sukma.<br /><br /><br /><br /><br />Pendahuluan<br /><br />Mempelajari seni akting tidaklah mungkin tanpa pembimbing yang mengetahui seluk-beluk seni berperan. Akting dewasa ini bukan lagi sekedar hobi tetapi telah menjadi sebuah kajian keilmuan, kedudukannya sama dengan ilmu terapan lainnya seperti; ekonomi, hukum, sosial politik, agama, bahasa dan psikologi dan lain-lain.<br /><br />Melakukan latihan akting menjadi seorang aktor/pemeran juga tidak terlepas dari unsur-unsur kemanusian pada umumnya. Modal utama seorang aktor/pemeran adalah akting. Pencapaian menuju aktor berkualitas dapat dicapai dengan kerja keras lewat latihan secara periodik (terus menerus). Kemampuan atawa bakat tidak mungkin ditingkatkan apabila tidak berangkat dari proses latihan tanpa henti, latihan dengan penuh kedisiplinan. Disiplin yang dimaksud terhadap diri sendiri, baru kemuadian terhadap perintah serta petunjuk instruktur.<br /><br />Seorang aktor/pemeran dalam melakukan pemeranannya haruslah terus belajar, berkarya, berdisiplin serta bertanggungjawab.<br /><br /><br /><br /><br /><br />Aktor Tubuh dan Vokal<br /><br />Seorang aktor/pemeran harus benar-benar mampu mempersiapkan dirinya baik secara fisik maupun mental. Mental disiapkan bagi calon aktor/pemeran dalam memasuki latihan teater, sehingga tidak mengalami keterkejutan ketika menjumpai hal-hal yang tidak pernah ada dalam kehidupan sebelumnya (tidak pernah terpikirkan bahwa latihan teater itu sangat berat. Latihan teater yang dimaksud bukan baca naskah lalu pentas). Bentrokan emosi menuntut ketangguhan kemauan yang mengamsalkan tubuh dan sukma sebagai tanah liat yang siap diolah, dapat dijadikan lebih padat, kuat dan berenergi juga dapat menjadi lentur. Sedangkan fisik seorang aktor harus mempersiapkan kelengkapan dalam pemeranan untuk menghadapi latihan melalui teknik dasar secara berkesinambungan.<br /><br />Aktor dan lakon dalam membawakan peran terdapat raga (tubuh) dan sukma, sementara dalam sukma terdapat unsur-unsur emosi, kemauan, semangat, pikiran dan fantasi. Dalam raga ada tubuh, gerak, pernafasan, kekuatan. Maka didalam latihan secara langsung terlaksana tiga bentuk proses latihan yaitu; olah tubuh, vokal dan sukma secara bersamaan tanpa disadari. Namun hal ini harus dilakukan dengan pembebasan tubuh terlebih dahulu.<br /><br />Pembebasan tubuh bagi seorang aktor/pemeran dilakukan melalui latihan dengan memerdekakan diri untuk mengabdi kepada akting. Hal yang teramat penting untuk diperhatikan membuat atau menciptakan tubuh agar berada dalam keadaan pasif. Ini dilakukan kepada tubuh sebelum memasuki tahap aktifitas. Sedangkan tekanan diberikan kepada gerak yang sifatnya menurun. Selanjutnya pada gerak menurun dan menarik. Berat atawa ringan tergantung berapa banyak satuan berat jatuh pada titik pusat ini. Titik-titik puncak menaik dan menurunkan tubuh, segalanya harus menyatu dalam bentuk yang utuh di dalam tubuh.<br /><br />Gerak dan suara juga harus diperhitungkan. Gerak-rerak rifleks dengan aksi-aksi dan suara sering terjadi secara bersamaan. Perubahan terjadi pada kondisi badaniah, sikap tubuh dapat menumbuhkan suara yang berlainan. Ritme pernafasan, detak jantung, gerak-gerak kecil selalu berhubungan di dalam tubuh. Kekuatan membebaskan tubuh kemudian mengintegrasikan setiap bagian yang telah terbebaskan dalam meleburkan diri ke dalam suatu fasilitas dengan mengalami berbagai ekstrinuitas yang membantu menyadari kondisi keseimbangan.<br /><br />Sementara vokal bagi seorang aktor merupakan kenderaan imaji untuk menyampaikan dialog ke telinga penonton. Suara atawa vokal memang perangkat ekspresi manusia namun ketika menjadi perangkat ekspresi bagi seorang aktor, fungsi dan takarannya menjadi alat yang dibentuk dan dimainkan untuk mewujudkan sosok peran.<br /><br />Latihan pengucapan dan membaca naskah harus mendapat tempat (porsi) yang khusus (bukan sekedar menghafal naskah tetapi seorang aktor hendaknya menganalisis naskah tersebut). Pembebasan suara (vokal) adalah membebaskan manusianya. Tubuh dan pikiran dimiliki oleh setiap yang bernama manusia, sumber suara (vokal) menerima rangsangan sensitif dari otak yang bekerja menurut proses fisik dari otot tubuh yang menciptakan pengucapan. Suara akan terhambat dan rusak oleh ketegangan tubuh, ganguan emosional dan intelektual, gangguan peralatan suara serta sprotual yang membatasi keterbatasan bakat, imajinasi dan pengalaman. Suara (vokal) adalah andalan utama bagi seorang aktor agar tercapai makna dalam melahirkan pengucapan yang sempurna.<br /><br />Pembasan suara bagi seorang aktor mengacu pada kemampuan berbicara dengan emosi yang mendalam, sederhana yang terpancar dari hati. Pembebasan suara (vokal) terangkum dalam empat tahapan proses pembelajaran unsur-unsur vokal; pertama , proses pembebasan melatih tulang belakan sebagai pusat kekuatan tubuh dan mengusung pernafasan. Kedua, proses pengembangan (tangga resonasi), melatih saluran resonator, ditambah latihan melepas suara dari tubuh. Melatih resonator hidung dan tengkorak. Ketiga, kepekaan dan tenaga, menggali kekuatan pernafasan, dan artikulasi dalam berdialog melahirkan vokal. Keempat, menjalin naskah dan akting serta menelaah kata-kata atawa dialog yang berhubungan antara suara dan akting.<br /><br />Secara keseluruhan, latihan pembebasan suara (vokal) melalui empat tahap proses latihan, serta yang paling penting untuk diperhatikan bagi latihan peralatan suara adalah bagian dari anggota tubuh yang harus dilatih secara intensif yaitu pernafasan, pemamfaatan suara, pengucapan, artikulasi dan diksi.<br /><br /><br />Aktor dan Sukmanya.<br /><br />Aktor secara terus menerus harus mengolah sukmanya setiap saat dan setiap waktu. Hal yang utama dalam melatih sukma adalah kosentrasi. Kosentrasi merupakan suatu kesanggupan untuk mengerahkan suatu kekuatan rohani dan pikiran ke arah sasaran yang jelas. Dasar dari ajaran kosentrasi yaitu penguasaan diri sendiri melalui proses mencari-cari, menciptakan sebuah peran dalam latihan harian. Proses menciptakan peran pada saat tampil dalam pertunjukan di panggung.<br /><br />Sasaran kosentrasi seorang aktor/ pemeran adalah sukma. Baik itu terhadap sukmanya sendiri, orang sekitarnya atawa sukma manusia secara menyeluruh (masyarakat penonton). Hal ini secara tidak langsung memerlukan kosentrasi terhadap emosi-emosi. Melatih kosentrasi melalui latihan panca indra terhadap sesuatu yabng fiktif dan semu. Melatih keadaan diri terhadap emosi. Dalam sukma yang bernama manusia terhadap unsur emosi, kemauan, semangat, pikiran dan fantasi. Sedangkan dalam raga manusia terdapat unsur pernafasan, kekuatan, tubuh dan gerak. Materi hidup manusia adalah raga dan sukma, maka kegiatan seorang aktor merupakan kegiatan bernafas, bergerak, beremosi, berfikir, berkehendak dan berprestasi. Apabila aktor sudah mampu menguasai raga dan sukmaberarti seorang aktor telah siap menghadapi segala kondisi.<br /><br />Emosi, action (laku) mencerca, menfitnah atawa membunuh merupakan laku-laku yang mungkin tidak pernah teralami baik dalam pengalaman empirik seorang manusia. Namun sebagai aktor/pemeran di atas pentas harus dilakukan dengan intens (totalitas) prima. Ada jarak antara sosok diri dengan takaran emosi yang harus diungkapkan.<br /><br />Ingatan emosi sebagai perangkat seorang aktor untuk mengungkapkan atawa melakukan hal-hal yang berada di luar dirinya. Caranya dengan imajinasi, pengandaian-pengandaian dikembangkan menjadi pengalaman atau ingatan diri sendiri.<br /><br />Perihal emosi seorang aktor hendaknya dapat menyakini kemungkinan terhadap kejadian. Seorang aktor harus mampu menjawab pertanyaan, apa yang harus saya lakukan andai aku berada dalam posisi sebagai tokoh King Lear? Pengandaian yang ajaib ini mentransformasikan sasaran tokoh cerita ke dalam sasaran diri sang aktor. Pengandaian yang ajaib merupakan satu tenaga pendorong untuk melahirkan tindakan fisik demi tercapainya tindakan rohani. Atas dasar itu, kualitas pertunjukan seorang aktor/pemeran tergantung pada kejujuran pengalamannya. Kualitas pengalaman di atas panggung pasti berbuah, dan perubahan itu merupakan refleksi pengalaman hidup yang puitis. Sementara waktu merupakan filter yang bagus sekaligus sebagai alat pemurni memori emosional yang dialami. Lebih dari itu, waktu bukan hanya memurnikan emosi tetapi dapat mempuitiskan berbagai macam memori. Aktor harus hidup dengan pengalaman yang sebenarnya. Aktor harus mampu menghidupkan pengalaman pentas dalam takaran emosi pengandaian. Pengandaian yang dimaksud, bagaimana, jika aku berperan jadi orang gila…bagaimana, jika aku….. tetapi bukan aku harus jadi orang gila, bukan begitu.<br /><br /><br />Aktor Mencari Ruang<br /><br />Proses penguasaan tekhnik pemeranan dalam mencari ruang seorang aktor harus menjalankan tugas, ia harus mahir dan terampil. Hal itu untuk menciptakan watak yang dimengerti dan diterima oleh penonton sekaligus mendorong sikap-sikap di atas panggung, maka aktor dalam mendukung perlu adanya tekhnik muncul, pemberian isi, membangun klimaks, dan waktu atau tempo dramatik.<br /><br />Aktor diharapkan dapat membawakan kemunculan peran (tekhnik muncul), diusahakan setelah muncul langsung mendapat perhatian penonton. Menampilkan gambaran watak serta peran yang dimainkan, memaparkan hubungan dengan jalan cerita, melakukan kerja sama yang baik sesama pemeran sekaligus membangun suasana baru dalam sebuah adegan. Aktor juga harus mampu menginterpretasikan dan menyesuaikan diri dengan naskah di dalam per-adegan, serta mampu memaknai konsepsi penyutradaraan dalam proses artistik pertunjukan teater.<br /><br />Sebuah kalimat dalam dialog haruslah di beri isian pada pengucapan dengan dinamika, tekanan nada, tekanan tempo, pengucapan kalimat untuk menjolkan emosi dan pikiran-pikiran yang terkandung dari sebuah cerita (pemberian isi). Naskah lakon Oedipus Sang Raja, Oedipus Dikolonus, dan Antigone Karya Spokles atawa Machbet, Hamlet Karya William Shakeaspeare, dialognya akan datar dan tidak hidup bila aktornya tidak mampu memberikan isian pada kalimat0kalimat yang ada dalam dialog tersebut. Padahal para pekerja teater sudah pasti mengetahui bahwa naskah lakon tersebut merupakan naskah yang sangat luar biasa kekuatan tekstualnya baik secara tematik, puitik dan bahasa. Sementara naskah lakon Pengadilan Putra Mahkota karya Kardy Said atawa Dunia (Persemanyaman Agung) karya Nurgani Asyik akan lebih hidup seandainya aktor yang memerankannya mampu memberikan isian pada setiap dialog.<br /><br />Berdasarkan itulah, tekhnik pengisian (memberi isi) merupakan suatu cara dalam menyampaikan isi, perasaan dan pikiran dari sebuah kalimat pada sebuah naskah lakon. Tugas seorang aktor menguraikan serta menganalisa kalimat untuk di beri arti agar mampu mengucapkan dialog dengan sempurna, selain memerankan akting.<br /><br />Klimaks merupakan puncak suatu pengembangan. Klimaks merupakan ujung atau akhir pengembangan yang panjang, ia terdiri dari pengembangan-pengembangan kecil. Seorang aktor mengatur dan menahan pengembangannya sehingga tidak terjadi penyamaan dengan klimaks. Penguasaan diri seorang aktor haruslah dicapai agar pencapaian klimaks benar-benar terjadi dalam bangunan yang utuh seperti struktur Aristatoles; permulaan-kompliks-klimaks-resolusi-konklusi.<br /><br />Sementara waktu atau tempo dramatik bagi seorang aktor merupakan hal yang juga tidak boleh diabaikan. Aktor otomatis harus memperhatikan timing/space (jeda), irama, tempo serta jarak langkah dalam konsep waktu, sebab ini merupakan bagian sangat vital dalam sebuah realita teater. Timing/space (jeda) merupakan hubungan waktu antara kalimat yang diucapkan dengan suatu gerakan. Jarak langkah (pace), rasa waktu penonton, rasa kecepatan dikembangkan dengan tekhnik penonjolan lagu dan diksi. Sedangkan irama ukuran kecepatan individual dalam alunan peristiwa teater sekaligus dapat menentukan tangga dramatik sebuah pertunjukan teater.<br /><br /><br />Penutup<br /><br />Aktor atau pemeran didukung staf produksi, berusaha menghidupkan naskah lakon menjadi kenyataan teater di atas pentas. Latihan adalah proses kreatif dalam persiapan diri seorang aktor menuju naskah lakon, bukan setelah membaca naskah lakon untuk baru dapat di sebut latihan.<br /><br />Proses kreatif seorang aktor berangkat dari sumber inspirasi seorang sutradara yang dipelajari, dikuasai, dianalisis serta ditafsirkan baik ide lakon, bentuk, suasana, klimaks, serta perwatakan yang terbaru dalam proses latihan menuju akting (laku) di atas pentas. Setelah itu barulah sutradara memproseskannya dalam beberapa tahapan, seperti; taha mencari-cari, tahap memberi isi, tahap pengembangan, tahap penghalusan atawa pemamtapan. Selanjutnya barulah dapat dilakukan paket pertunjukan teater. Atas dasar itu pula tubuh dan jiwa seorang aktor merupakan spektakel (bahasa pentas) hidup di atas pentas, setiap laku, dialog haruslah sampai dengan selamat kepada penonton.<br /><br />Pertunjukan teater yang telah mengamplikasikan kenyataan teater dalam proses kreatif membutuhkan pikiran, tenaga, dan waktu barulah kemudian dapat dipertunjukan kepada masyarakat penonton. Seorang calon aktor/pemeran yang telah sekian waktu berproses dapat disebut sebagai aktor apabila telah mampu berakting dengan sempurna di atas pentas. Memang perjalanan menjadi seorang aktor sangatlah sulit apalagi menjadi sutradara. Namun kesenian (teater) pasti mampu memperhalus budi pekerti, jika tidak percaya coba saja bergelut dengan kesenian (teater) tentu melalui latihan (proses kreatif) yang benar dan terjadwal secara terus-menerus. Siapa mau menjadi aktor? Adakah Jurusan teater STSI Padangpanjang atau lembaga Pendidikan Seni di Indonesia mampu melahirkan aktor-aktor panggung yang mumpuni? kenapa tidak, jika seorang aktor mampu melatih seluruh perangkat tubuhnya sebagai spetakel hidup di atas pentas.<br /><br /><br /><br />Daftar Bacaan<br /><br /><br />Anirun, Suyatna, 1993. Memanusiakan Ide-ide; Teater Untuk Dilakoni, STB: Bandung.<br /><br />Asmara, Andhy, 1983. Cara Menganalisa Drama, CV. Nur Cahaya: Yogyakarta.<br /><br />Baljun, Amak, 1988. Olah Suara, Institut Kesenian Jakarta: Jakarta.<br /><br />Kaplan, David, 1999. Teori Budaya, Pustaka Pelajar: Yogyakarta.<br /><br />Muryono, Buenegis, 1997. Menjadi Aktris Profesional, Pustaka Utama Grafiti: Jakarta.<br /><br />Riantiarno, N., 1999. Konsep, Sejarah, Problema, Dewan Kesenian Jakarta: Jakarta.<br /><br />Stanilavsky, K., 1978. Persiapan Seorang Aktor, PT. Dunia Pustaka Jaya: Jakarta.<br /><br />Zi, Nancy, 2000. The Arts Of Breathing, PT Buana Ilmu Populer: Jakarta.<br /><br /><br />60<br />Aktor: Tubuh Spektakel Hidup<br /><br />Sulaiman Juned<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8708429743153584023-848572591180610293?l=sjuned.blogspot.com'/></div>Go Blognoreply@blogger.com0