tag:blogger.com,1999:blog-84834893854846020162008-07-26T21:56:47.315+07:00GADIS RANTAUKristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comBlogger123125tag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-50919708585689238952008-07-24T06:48:00.007+07:002008-07-25T14:44:06.531+07:00SEDERHANA<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SIfI1QD2WKI/AAAAAAAABlw/Yi2Gp3kmhw8/s1600-h/IMG_2276.JPG"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SIfI1QD2WKI/AAAAAAAABlw/Yi2Gp3kmhw8/s200/IMG_2276.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226366709756483746" /></a>Aku gadis sederhana, <br/>
yang memiliki pikiran-pikiran sederhana,<br/>
hidup dengan sederhana<br/><br/>
Cintaku cukup sederhana, <br/>
mencintai dengan sederhana,<br/>
dan menerima dengan sederhana<br/><br/>
jadi...<br/>
jangan protes kalo postinganku kali ini begitu sederhana
<p align="center">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2071017471604358";
/* 468x15, dibuat 08/05/16 */
google_ad_slot = "7086983981";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 15;
google_language = "en";
//-->
</script>
<script
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript">
</script>
<p>
<span class="fullpost"></span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-46828292709750133732008-07-21T02:33:00.026+07:002008-07-25T14:45:01.609+07:00TUJUH PRIA YANG KUPILIHTak terhitung betapa banyaknya kaum pria yang mengelilingiku, di dunia nyata juga didunia maya. Terkadang aku sampai lupa bagaimana rupa, dan cerita apa yang pernah ada diantara aku sama mereka. Duh, salahkan aku kini, jika menetapkan tujuh lelaki yang berhak menerima award dariku?award ini aku terima dari <a href="http://ivana-dee.blogspot.com">nona manis, ivana</a>. Tapi harus ingat, syaratnya:<br/><p align="center">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2071017471604358";
/* 468x15, dibuat 08/05/16 */
google_ad_slot = "7086983981";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 15;
google_language = "en";
//-->
</script>
<script
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript">
</script>
<p><span class="fullpost">
1) Put the logo on your blog.<br/>
2) Add a link to the person who awarded you.<br/>
3) Nominate at least 7 other blogs.<br/>
4) Add links to those blogs on yours.<br/>
5) Leave a message for your nominees on their blogs.
<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SIObukkWH4I/AAAAAAAABlg/gqYJEpx_ijM/s1600-h/weblog.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SIObukkWH4I/AAAAAAAABlg/gqYJEpx_ijM/s200/weblog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225191217072316290" /></a>Siapakah gerangan ketujuh lelaki itu??....Ehm..ehm…(ntar, batuk dulu ya)…<br/><br/>
1.Seorang cowok yang kemarin memberiku hadiah dalam postingan blognya. Terus terang aku kagum sama “kejujuran” <a href="http://www.ixanova.blogspot.com">Mas Iksan</a> yang terang terangan mengatakan itu lewat untai kata. Padahal, tidak sedikit para lelaki berusaha menyembunyikan isi hatinya dari mata dunia.<br/><br/>
2. Transparan tanpa ada yg ditutup tutupi. Begitu kesanku terhadap <a href="http://lupuzz.blogspot.com">Mas Lupuzz</a>. “Dian, apakabar sayang. Mas kangen banget sama dian”.itu, selalu menjadi kalimat pembuka disetiap sapanya. Baik via SB, YM atau Email. <br/>
<br/>
3. Kedekatan sharing tentang tulisan sempat kunikmati bersamanya. Saling kritik juga sempat jadi adu debat antara aku dan dia. Tapi sejak <a href="http://jendelahati.net">(Dhie)</a> pindah rumah, aku memilih memutuskan tali komunikasi, meski aku masih kerap menerima kunjungannya.<br/><br/>
4. Aku pernah bilang padanya, tentang rembulan yang indah dan tentang birunya laut. Aku juga pernah mengatakan kepadanya: Cinta dewasa yg aku tuntut. Tetapi nampaknya <a href="http://kepedihan.name/">(Mas Kepedihan)</a>
tak cukup memahami itu. But, now, kuharap ia mengerti maksudku.<br/><br/>
5. Dia selalu memanggilku Dinda. Tak segan, aku juga memanggilnya Kanda, tentu kalo ninggalin pesan di SB. Tapi kalo dah hanya berduaan, ehm...aku dan <a href="http://kesehatangigi.blogspot.com">(Pak Dokter)</a> saling membisu dan suasana terasa kaku.<br/><br/>
6. Kekhawatiranku masih belum juga sirna sampai saat ini, terlebih ketika ia pamit mau operasi. Dan meskipun kini <a href="http://eivengusky.blogspot.com">Mas EivenGusky</a>dah sehat kembali, perasaan itu masih juga membuntuti. Moga tetap tegar menatap mentari esok hari.<br/><br/>
7. Aku pernah bincang sama ibundanya. Suaranya lembut, dan yang kupastikan ibu itu masih menyisakan kecantikan diusia muda dulu. Tapi, aku tak sempet menjumpai ibunya mas
<a href="http://qie-blog.blogspot.com">(Qie)</a>pada mei kemarin. Soalnya jadwalku padet. Jangankan ibunya, ketemuan sama anaknya aja, juga gak sempet. Maapkan.<br/><br/>ehm...ok deh...
Bagi laki laki lain yang pernah maen di sini tunggu saja tanggal mainnya. Bagi kaum perempuan juga demikian. nama nama diatas adalah nama yang kemarin tak tercantum di postingan Teman setia dunia maya dan untuk postingan berikutnya, yang masih tentang Awad, nama2 yang sudah tercantum di dua periodic, tak dapat di reviw kembali.
Semoga ke-7 lelakiku diatas tidak keberatan membawa pulang award manies dariku. Sie sie ni..</span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-10859970896319215872008-07-17T08:20:00.033+07:002008-07-25T14:45:26.421+07:00MAU MENUNTUT MAJIKAN, MALAH MASUK PENJARAOleh: Kristina Dian S<br/><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SH6hwNspX-I/AAAAAAAABj4/3mcZoM_d4_8/s1600-h/MASITOH+SHALTER.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SH6hwNspX-I/AAAAAAAABj4/3mcZoM_d4_8/s200/MASITOH+SHALTER.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223790467479068642" border="0" /></a>LANTAU-Karena tidak terima diterminit majikan secara mendadak(14/6)sekaligus tak ingin di ganjar bad realese letter, Masitoh,- BMI asal Cilacap- berencana menuntut majikan atas hak yang belum dibayarkan. namun siapa sangka, mimpi BMI korban underpaymen ini malah mengantarnya masuk penjara Lantau Island, Hong Kong.</span><br/><br/>
Menurut penuturan anak buah PT Akbar Intan Prima ini, pemutusan hubungan kerja itu, dipicu oleh amarah majikan yang tidak terima anaknya ditegur pembantunya (lihat: rubrik shalter, <a href="http://tabloidapakabar.com">Tabloid Apakabar</a> edisi 8).<p align="center">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2071017471604358";
/* 468x15, dibuat 08/05/16 */
google_ad_slot = "7086983981";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 15;
google_language = "en";
//-->
</script>
<script
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript">
</script>
<p>
<span class="fullpost"> Nah, ketika membayarkan hak yang harus diterima Masitoh, sang majikan melakukan pemotongan sebesar HK$ 3600. Konon, itu untuk membayar ganti rugi atas hilangnya uang majikan. Saat itu Masitoh tak keberatan.<br/>
<br/>
Setelah keluar dari rumah majikan, ia kemudian mencari bantuan kesalah satu Asosiasi yang ditangani Mr,Wong. Masitoh berharap, asosiasi dapat membantunya menuntut majikan atas hak yang belum diterimanya selama bekerja. Asal tahu, selama melewati dua kali kontrak bekerja di rumah majikan di Flat H 13/F cheong Wai Mansion, 39 E, Kwong Fai Ciu Cuit, Masitoh digaji underpay(di bawah gaji standart yang ditetapkan pemerintah HK). Sedangkan pada kontrak kerja ke tiga- yang belom genap setahun dijalani- ia tak peroleh full holiday.<br/><br/>
Segala persiapan menuntut majikan sudah beres. Termasuk melapor ke kepolisian atas PHK sepihak itu. Tetapi belum lagi laporan sampai ke meja Imigrasi, “anak” dari Hoi Shing Agancy ini malah dicokok polisi dari tempat tinggalnya. Kejadiannya hanya selang tiga setelah keluar dari rumah majikan. Apa pasal?<span style="color: rgb(255, 102, 102);">“Masitoh terbukti mencuri perhiasan milik majikan berupa 6 kalung, 2 gelang tangan, 2 cincin dan 2 anting yang senilai HK$ 37.000”demikian penjelasan yang diperoleh Apakabar dari fihak kepolisian CID Mr. Ng team 6 Kwai Chung Police Station Investigation.
Kata Pak Polisi, laporan majikan atas hilangnya barang sebenarnya sudah disampaikan jauh hari sebelum Masitoh di-terminite. Ini karena majikan harus mengumpulkan bukti-bukti terdahulu. Antara lain dari pegadaian, tempat barang tersebut diduga digadaikan Masitoh secara berkala. Majikan juga berniat baik ingin tahu sampai sejauh mana kejujuran Masitoh selama bekerja dirumahnya. Mungkin karena berani mengambil uang majikan, putusan terminate disampaikan, meski disodorkan dengan alasan “sepele”.<br/>
Selama menjadi tahanan kepolisian, khabar tentang Masitoh seolah lenyap begitu saja. Kawan kawan terdekatnya pun tak tahu dimana gerangan Masitoh berada. Untungnya, pada hari Masitoh di cokok, Mr Wong menerima bahwa dalam waktu 48 jam, Masitoh akan masuk penjara.<br/>
Akhirnya pada 6/juli lalu informasi terkait keberadaan Masitoh pun muncul. Namun ia telah resmi tercatat sebagai narapidana di Corectional Institution, 333, Chi Ma Wan Road, Lantau Island dgn nomor 331326. Karena Masitoh telah mengakui atas perbuatan dan tak berbelat dalam persidangan pada 26 juni lalu ia peroleh keringanan hukuman dengan “hanya” diganjar penjara selama empat bulan.Sesingkat itu?
Menurut Komisaris Kepolisian HK ini, penjara sudah penuh dan pemerintah Hong Kong memiliki undang undang tentang keadilan. Keadilan itu juga berlaku bagi pendatang atau pekerja asing termasuk Buruh Migran Indonesia. Intinya, siapapun anda, berhak memperoleh keadilan dan pelayanan yang sama dengan penduduk lokal alias penduduk asli.
</span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-4921940235498592382008-07-14T13:17:00.013+07:002008-07-25T13:02:15.747+07:00My Life Like Shek-O bEACH<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SHrzd7n1oAI/AAAAAAAABiQ/HKJ3A08TmXc/s1600-h/139990,1193469616,2.jpg"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SHrzd7n1oAI/AAAAAAAABiQ/HKJ3A08TmXc/s200/139990,1193469616,2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222754413436051458" /></a><bt>T</bt>anyakan saja pada malam tentang apa yang kulakukan semalam.<br/>
Tanyakan saja pada mentari, apa yang kulakukan kemarin hari.<br/>
Tanyakan saja pada senja apa yang kulalui barusan ini.<br/>
Padamu ia akan bertutur, rambutku gemulai ditepi pantai itu<br/>
<br/>
Disana…<br/>
Kulepaskan pandangan, menembus awan dan birunya laut<br/>
Sesekali kulihat camar bersenda gurau diatas tiang- tiang sampan<br/>
Disana…<br/>
Kulepaskan segala keresahan dalam buaian<br/>
Dan disana..<br/>
Kusandarkan penat, disebuah kekokohan yang menggoyahkan<br/><span class="fullpost">
<br/>
Burung itu tahu..<br/>
Jari jemariku semakin nakal seperti ketika aku masih bocah<br/>
Kedua bola sayuku bermain seru seperti para pemain dadu<br/>
Kedua lututku semakin hangat dalam lingkar kedua lenganku<br/>
Serasa tak ingin kaki ini beranjak dari hamparan pasir putih itu<br/>
Aku terlena, terhanyut dalam alunan gita irama ombak<br/>
<br/>
Ah…<br/>
Akankah selamanya kubiarkan hidupku seperti sampan itu?<br/>
Membiarkan diri terombang ambing diatas badai kehidupan<br/>
Ataukah kupilih saja satu pelabuhan buat sandaran dari keletihan?<br/>
Hingga pekat menjemput, belum ku temukan jawab</span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-52951338559343318032008-07-11T07:47:00.019+07:002008-07-14T13:27:26.267+07:00LESBIAN MEMANFAATKAN AKU<div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SHav-B_LCLI/AAAAAAAABfk/_BHBAHugu3E/s1600-h/heartbroken1.gif"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SHav-B_LCLI/AAAAAAAABfk/_BHBAHugu3E/s200/heartbroken1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221554298202818738" border="0" /></a>”Padahal selama jalan bareng, akulah yang sering keluar uang. Tabunganku ludes untuk menuruti segala keegoannya, yang tak ingin dianggap TB kampungan. Penampilan, alat komunikasi juga nggak mau kalah dengan yang lain. Pokoknya dia ingin selalu mengikuti tren TB(Tomboi). Biar dianggap TB gaul.<br/><br/><span class="fullpost">
Yup, tiga tahun sudah aku bekerja di Hong Kong. Meninggalkan sanak saudara di Cilacap, Jawa Tengah, kampung halamanku. Meski sudah tiga tahun, namun selama itu tidak membuahkan hasil apa pun dari hasil keringatku membanting tulang di rumah majikan, di North Point. Itu semua berawal dari perkenalanku dengan R. bukan hanya penghasilan yang hancur berantakan, tetapi hati dan hidupku ikut jadi ndak karuan. Pertama kali mengenalnya, aku memang tak pernah menyadari adanya bahaya yang mengancam. Setelah semua berkeping, baru aku menyadari ”kekeliruan” itu.<br/><br/>
R, seorang teman perempuan yang kukenal di sini. Ia memiliki wajah dan sikap yang mirip sekali dengan laki-laki. Di mataku, ia begitu tampan, apalagi di depanku ia selalu menunjukkan sikap baik. Penyayang, pengertian, ramah, pokoknya aku tak pernah berpikir jika di kemudian hari ia bakal menyakiti diriku. Sama sekali aku tak tahu kalau ada sesuatu yang diharapkan dariku.
Dulu aku memang terlalu lugu. Pergaulanku pun terbilang minim. Itu yang membuat aku terjatuh dalam rasa suka terhadap sesama jenis. Aku belum merasakan jatuh cinta dengan lawan jenis. Barangkali itu salah satu alasan, kenapa aku bisa tergila-gila dengan R. Ia adalah segalanya bagiku saat itu. Yang ada dalam hati dan hidupku hanya ada dia, dia, dan dia. Tidak ada yang lain yang kupikirkan selain dia. Ugh, betapa aku sangat menyayangi R.</span>
<span class="fullpost">Empat bulan ”deketan” dengan R, ia mulai menyuruhku meminjam utang di bank perkreditan. Ia beralasan, ibunya sakit jantung dan butuh uang untuk berobat dan masuk RS. Meskipun kalimatnya begitu halus lembut, tetapi saat itu aku sempat kaget luar biasa. Logikanya, R kan juga kerja di rumah majikan yang otomatis bergaji. Jelas, aku keberatan terhadap permintaan itu. Tetapi karena setiap hari aku didesak, dengan gayanya yang menunjukkan kayak orang kepepet, aku jadi iba. Terpaksa kuiyakan, meski berat terasa.</span>
<span class="fullpost">Bersama R aku pergiu ke kantor bank untuk mengambil uang pinjaman pertama. Sesampai di sana, R kembali mendesakku agar meminjam uang sebesar HK$ 17.000. Kepadaku dia berjanji akan membayar cicilan setiap bulan. Sekali lagi, aku terpaksa mempercayai janji dan ucapannya.</span>
<span class="fullpost">Waktu pembayaran tiba, bulan pertama dia bilang tak punya uang karena belum gajian. Belum berikutnya juga sama. Dua-tiga bulan aku masih berusaha diam, membayar angsuran. Kalau tidak kubayar aku takut aku sendiri yang bakal menghadapi masalah. Sebab, seluruh biodata peminjaman menggunakan dokumenku. Bulan keempat, komunikasi denganku mulai berkurang. Tiap kali kutelepon dia malah ”nyemprot” balik, meskipun tujuan menelepon belum tersampaikan. Setiap kali kukirim SMS pun, R tak mau membalasnya.</span>
<span class="fullpost">Seharusnya R mengerti, dari mana aku mendapat uang kalau setiap bulan habis dipakai untuk bayar angsuran. Bukankah aku juga butuh uang untuk hidup di Hong Kong, juga untuk keluargaku di tanah air? Tetapi R tak kunjung mengerti. Sekalipun begitu, aku masih berusaha memahami. Masalahnya, dengan apa lagi aku meminta R memahami, kalau dikontak saja tak mau membalas?</span>
<span class="fullpost">Di saat aku dilanda kebingungan, aku beroleh kabar dari T (sahabat akrabnya), kalau R punya Lou Bo lagi. Tetapi aku tidak serta merta percaya pada kabar burung itu, sebelum aku melihat atau menyaksikannya sendiri. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, kabar itu diembuskan orang-orang yang ingin merusak hubungan kami. Atau, bisa jadi, isu-isu seperti itu sengaja dilontarkan oleh teman-teman yang iri pada kebahagiaan kami. Karena, memang seperti itulah yang sering terjadi di sekelilingku.</span>
<span class="fullpost">Pada suatu kesempatan, aku menanyakannya baik-baik pada R. Tetapi dia bilang kalau feminis bernama Imel yang ngejar-ngejar dia. Sementara ia sendiri tak pernah ada hati untuk Imel. Masih dengan gayanya yang sok romantis, R berjanji tak akan pernah selingkuh. ”Hanya kamu milikku selamanya,” begitu dia bilang. Bunga cinta yang pernah ada kembali bermekaran setelah sempat layu karena masalah pembayaran angsuran.</span>
<span class="fullpost">Mumpung ketemu, dalam kesempatan itu kembali kusampaikan: aku butuh uang. Itu memang benar, kemarin orangtuaku minta kiriman. Namun, seperti yang sudah-sudah, dia bilang belum ada uang. Heran, ke mana larinya uang dia? Padahal, selama jalan bareng, akulah yang sering keluar uang. Tabunganku ludes untuk menuruti segala keegoannya, yang tidak ingin dianggap TB kampungan. Penampilan, alat komunikasi juga tak mau kalah dengan yang lain. Pokoknya, dia ingin selalu mengikuti tren TB. Biar dianggap TB gaul.</span>
<span class="fullpost">Aku. Ya, aku. Seolah aku tak pernah ada dalam pikirannya. Meminta sesuatu dariku sekaligus bayar utang itu tanpa sedikit pun mau memikirkan aku. Kalau dia memikirkan aku, kenapa ketika aku mengeluh soal keuangan, dia bilang tak ada uang dan dijanjikan akan dipinjamkan pada temannya? Apakah ini yang disebut sayang? Apakah ini yang dinamakan cinta? O dunia, katakanlah padaku…!</span>
<span class="fullpost">Lama aku merenung. Lama aku memutar ulang awal kenal, awal aku terjun ke dunia LB. Apa dan kenapa aku memilih jalan yang belum tentu direstui ayah bunda? Hanya satu, aku butuh kasih sayang dan kebahagiaan. Tetapi apa yang telah kudapatkan? Kebahagiaankah? Kasih sayangkah? Ataukah cinta sejati yang selama ini kuagung-agungkan? Tidak ada! Sama sekali tidak ada untungnya. Kalaupun ada, hanya sesaat waktu, kedamaian semu semata. Bukan kebahagiaan hakiki.</span>
<span class="fullpost">Penyesalan selalu hadir belakangan. Aku yang terdampar dalam penderitaan dan penyesalan, bertekad meninggalkan dunia itu. Dunia yang hanya membuatku sengsara. Meski berat terasa, izinkan aku mencobanya. Sekiranya masih ada kepedulian dari teman-teman untuk membantuku bangkit melawan penderitaan ini.(Dituturkan ”U” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)</span></div>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-92124237066270445792008-07-08T08:05:00.008+07:002008-07-15T09:10:41.379+07:0025 Bulan Kerja, 3 Kali Diserang Anjing<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SHK-Qjq3yzI/AAAAAAAABd4/dNxdzgGIpWk/s1600-h/IMG_1580.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SHK-Qjq3yzI/AAAAAAAABd4/dNxdzgGIpWk/s200/IMG_1580.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220444109738068786" /></a>Malang nian nasib Heni Rahmawati, 30 tahun, BMI asal Jawa Timur. Selama 25 bulan bekerja di rumah majikan, ia menjadi bulan-bulanan hewan piaraan. Terakhir, ia harus berbaring di Nethersole Hospital, AED selama 10 hari. Saat bertemu Apakabar di base camp ATKI, Heni mengatakan, dirinya trauma balik ke rumah majikan untuk menyelesaikan kontrak keduanya.<br/>
Saat pertama kali memulai bekerja di 6/F Taiwo Village, Tai Po, NT, rumah berukuran 1.700 square, perasaan Heni sebenarnya sudah was-was. Pasalnya, selain dihuni enam orang anggota keluarga, rumah majikan juga dihuni empat ekor anjing plus tiga ekor kucing. Adalah tugas Heni untuk merawat seluruh hewan piaraan itu.<span class="fullpost">
Meski sedari dulu takut anjing, apalagi Heni seorang muslimah, namun atas nama tugas dirinya tak bisa menolak. Heni hanya bisa berdoa, mudah-mudahan binatang-binatang piaraan itu tidak ”nakal”, syukur-syukur kalau mau nurut.
Meski anjing-anjing itu sudah diperlakukan baik sesuai dengan ”kodrat”-nya, tetapi si guk-guk ini tetap saja binatang yang tidak punya perasaan kasih. ”Selama di rumah majikan, tiga kali saya digigit anjing sampai parah,” tutur Heni. Sayangnya, sang majikan tak menganggap hal itu sebagai masalah serius. Pada gigitan pertama, majikan bahkan keberatan memberikan izin kepada Heni untuk pergi berobat. ”Meski akhirnya majikan ngasih saya izin, tetapi harus diawali dengan perdebatan,” imbuhnya.
Heni menuturkan, kejadian pertama berlangsung pada 2 Juli 2006, saat ia sedang memindahkan sisa makanan anjing besar ke tempat makanan yang lebih kecil. Tanpa gonggongan, tiba-tiba saja anjing besar menggigit tangannya. ”Saat itu majikan bilang, kejadian begitu adalah hal biasa.”
Menyusul kemudian, gigitan kedua si anjing yang terjadi pada 2 September 2006. ”Waktu itu saya sedang membersihkan kamar majikan, mendadak salah satu anjing langsung menerjang saya,” tutur Heni dengan wajah muram. Kali itu, seperti kejadian pertama, sebelum diizinkan pergi berobat, Heni harus berdebat terlebih dahulu, meski sang majikan tahu pekerjanya mengalami luka lengan.
Terakhir, kejadian yang memaksanya opname selama 10 hari di rumah sakit. ”Sungguh, saya nggak bisa melupakan kejadian itu, mbak,” kata anak buah agen Hung Ngan Co, Yau Ma Tei, KLN, itu kepada Apakabar. Syahdan, sore itu sekitar pukul 5, Heni berencana mengambil payung dari tempat yang tak jauh dari sofa, tempat anjing-anjing yausik. Mungkin karena kaget, anjing-anjing ini bangun dan langsung menerjang tubuhnya.
Sewaktu dikibaskan, anjing besar langsung menggigit tangannya. Teriakan Heni membuat anjing sontoloyo itu semakin galak dan beringas. Akibatnya, beberapa gigitan mengoyak tangan si pekerja. ”Herannya, tuan saya itu lho kok nggak mau keluar kamar,” sesal Heni, mengomentari sikap majikan.
Menurut dia, pada saat itu tuan ada di rumah. Namun, sepertinya sudah terbiasa mendengar anjing-anjingnya ribut. Setelah anjing itu puas menggigit Heni, barulah tuan keluar kamar dan memberikan pertolongan. Tak lama, ambulans datang dan membawa Heni ke rumah sakit.
Saat terbaring dalam perawatan di rumah sakit inilah, Heni mulai bimbang. Ia bingung, apakah sekeluar dari rumah sakit ia akan bertahan melanjutkan kontrak kerjanya yang kedua, atau memilih break kontrak. Jika melanjutkan kontrak, ia telanjur trauma, was-was kalau-kalau digigit anjing lagi. Tetapi kalau mengajukan break kontrak, sang majikan telanjur ”sayang”.
”Majikan sudah meminta saya untuk tetap melanjutkan kontrak kerja. Saya sebenarnya nggak keberatan, tetapi dengan syarat tidak ada anjing di rumah itu. Cuma, di situ majikan saya keberatan untuk ’memusnahkan’ anjing-anjingnya,” kata BMI, yang barusan lepas jahitan di tangannya ini. (Kristina Dian S) </span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-16343785997781244682008-07-04T15:31:00.010+07:002008-07-15T09:10:02.225+07:00SUAMIKU PEMBUNUH BERDARAH DINGIN<div align="justify">Sungguh aku tak tahu, apa yang menggerakkan hatiku untuk mencintainya. Berkali tersakiti, tapi selalu saja kumaafkan. Hingga akhirnya aku menerima kenyataan, adik ipar dan kakak kandungku meninggal dunia. Belakangan terbukti, suamiku telah membunuh orang-orang yang kucintai. Masihkah hatiku tergoda untuk memaafkannya?<br/>
Kali pertama aku mengenal Dasir (bukan nama sebenarnya), ia baru keluar dari penjara. Meski lajang itu tetangga satu kampung, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Sejak kecil aku dirawat oleh orangtua angkat, saudara bapak, di kota yang berbeda. Itu yang membuatku kurang paham pemuda-pemuda di dusunku, lantaran aku jarang pulang kampung menengok orangtua kandung.<span class="fullpost">
Parahnya, ketika aku memutuskan pacaran dengan Dasir, bahkan kemudian menikah, orangtuaku tak keberatan. Padahal, mereka tahu Dasir bekas narapidana. Alasan mereka, jangan melihat masa lalu Dasir, karena orang hidup tak bisa nyaman jika masih dibayang-bayangi oleh masa lalu. Jujur, keluargaku hanya tahu Dasir masuk penjara karena kasus pemilikan narkoba. Bukan kasus pembunuhan, yang sebenarnya sudah didesas-desuskan masyarakat.
Setelah kami menikah dengan pesta kecil-kecilan, kami hidup menumpang di rumah orangtua. Tetapi aku merasa tidak tentram secara lahir batin hidup bersama keluarga suami. Seolah-olah, suamiku masih milik orangtuanya. Hari-hari Dasir praktis hanya dihabiskan untuk membantu orangtuanya berjualan hewan potong di pasar. Pulang malam dan berangkat pagi. Hanya beberapa menit berada di sampingku dan buah hati kami yang masih bayi.
Yang lebih tak mengenakkan, suamiku bekerja tanpa beroleh gaji. Meski kebutuhan harian dicukupi oleh orang tuanya, tetapi aku sebagai ibu rumah tangga merasa tertekan lantaran tak pernah pegang uang. Jika ingin beli sesuatu untuk anak, terpaksa aku minta pada orangtuaku sendiri, yang notabene pegawai rendahan di sebuah perusahaan asing.
Saat si kecil berusia 2 tahun, aku minta kembali ke rumah orangtua kandungku. Sempat mertuaku melarang, tersinggung oleh keinginan itu. Tetapi lama kelamaan memaklumi, meski dengan syarat suamiku tak boleh ikut pindah serta. Mereka berdalih, tenaga Dasir sangat dibutuhkan karena mereka hanya memiliki sepasang anak. Anak yang perempuan sudah menikah dan ikut suaminya tinggal di rumah yang tak jauh pula dari rumah mertua.
So pasti, pisah ranjang dengan suami sungguh tidak mengenakkan. Suara-suara sumbang di luaran terasa menyesakkan. Aku tak tahan jadi bahan omongan orang. Dibilang janda, masih punya suami. Dibilang ada suami, tak sekalipun ia mau mengunjungi selama lima bulan. Akhirnya, aku minta kepastian dari suamiku. Kalau mau bercerai dan berat dengan orangtuanya, silakan ceraikan aku. Kalau sayang dan memikirkan aku dan anak, marilah hidup mandiri dan tidak menggantung hidupku kayak gini. Apakah salah pintaku itu?
Ya Tuhan! Mas Dasir minta waktu untuk berpikir, mencari jalan mencari uang demi bekal kehidupan kami secara mandiri. Sebagai istri yang prihatin sekaligus marah dengan sikap suami, aku tetap berusaha memberinya waktu membuktikan kata-katanya. Tetapi, tahukah Mas Dasir tentang perasaanku yang hancur berantakan? Sepanjang malam batinku menangis, apalagi jika memandang buah hati yang tertidur pulas. Tak adakah rasa rindunya untuk anak kami, untuk aku?
Sempat aku berpikir, suamiku tak cinta lagi padaku dan anak. Sempat aku menilai, suamiku ada wanita lain dalam hidupnya. Sempat, sempat, dan aku sempat menyodorkan surat cerai melihat Mas Dasir tak juga menentukan pilihan hidup. Tapi kuurungkan. Kuyakini suamiku bersikap dan bertindak seperti itu karena paksaan orangtuanya yang tak memahami kami.
Bulan kedelapan sejak aku kembali ke rumah orangtua, aku mendengar adik iparku meninggal dunia mendadak. Kata keluarga suamiku, meninggalnya Ning Aning karena keracunan makanan – seperti kata dokter praktek di kampung mereka. Mendengar kabar itu, batinku sungguh terpukul. Aku sudah menganggap Aning seperti adikku sendiri. Dia banyak memberiku arahan merawat bayi, anakku. Kami sering pergi ke pasar bersama, makan bersama, membawa anak ke puskesmas bersama. Kini ia telah tiada, meninggalkan dua anak yang masih balita. Saat itu aku langsung ke rumah mertua.
Airmataku tak bisa lagi kubendung. Sampai aku tak sadar diri. Kenyataan itu sungguh menyakitkan. Adik iparku meninggal tanpa sebab. Aku melihat suamiku bermuram durja. Matanya cekung, badannya seperti tak terurus. Rambutnya gondrong. Aku memeluknya dalam tangis. Kucoba memberikan kekuatan di saat ia kehilangan saudara kandung. Berkali kuhapus air mata Mas Dasir. Aku dapat merasakan, ia begitu kehilangan.
Selama masa berkabung suamiku tak banyak kata. Ia lebih suka mengurung diri di kamar. Seolah, kehadiran anak pun tak dapat menghiburnya. Malahan, anakku tak sekalipun tersentuh pipi atau tangannya, seperti ketika ia baru lahir. Hal itu terus berlanjut hingga dua minggu.
Satu bulan aku tinggal di rumah mertua dalam masa berkabung. Suamiku sudah bisa sedikit tersenyum. Lalu, aku kembali memboyong anakku kembali ke rumah orangtua kandung. Kali ini aku agak bersyukur, Mas Dasir mau mengantarkan dan tinggal beberapa hari di rumah.
Kebahagiaanku tak ternilai harganya. Setidaknya aku bisa ”mengatakan” pada masyarakat, aku masih punya suami. Tentu saja, kedatangan suamiku juga disambut ceria oleh keluargaku. Ya, sejatinya keluargaku sangat menyayangi Mas Dasir. Tapi entahlah, suamiku seolah tak mau tahu dengan perhatian itu. Ia tetap masih balik ke orangtuanya.
Ketidakpastian dari sisi ekonomi, akhirnya menuntut langkah kakiku – yang terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara – pergi merantau ke Hong Kong. Saat itu, jujur, aku tak pamit pada suamiku. Kupikir percuma saja aku pamit, toh, ia sendiri tak pernah lagi bersedia menemuiku di rumah orangtua.
Tujuh bulan setelah masa potongan, aku baru punya kesempatan mengontak ke tanah air. Kata orangtua, sejak kepergianku, Mas Dasir justru sering datang ke rumah untuk menjenguk anak. Secara tidak langsung, kerinduanku terhadap suami kembali bergelora. Kutelepon Mas Dasir di rumahnya pada tengah malam, setelah aku menyelesaikan pekerjaan di rumah majikan.
Suara yang kusut, kalut, bingung kali pertama kukontak. Mas Dasir tak percaya aku mau menghubunginya. Ia berpikir, aku pergi dari hidupnya untuk selamanya. Ia menduga, aku mencari laki-laki lain yang bisa membahagiakan hidupku. Duh, batinku serasa meronta. Betapa aku ingin mengatakan bahwa aku masih mencintainya. Dan, aku tak akan mungkin meninggalkan suamiku untuk selamanya. Kukatakan, kepergian ini karena terpaksa. Sebab, hidup butuh makan, anak butuh biaya sekolah. Seorang istri juga bukan hanya jadi hiasan rumah yang dibiarkan, diabaikan tanpa kepastian.
Sungguh suatu anugerah, suamiku memintaku pulang. Ia bilang, orangtuanya sudah menghibahkan hak waris kepadanya. Ia juga dikasih modal untuk buka mini market di daerahnya. ”Aku kehilangan kendali saat tak bersamamu,” begitu kata terakhir yang ia sampaikan di ujung komunikasi kami. Sebelumnya, aku juga sudah berjanji padanya untuk pulang setelah menyelesaikan kontrak kerja. Aku hanya minta padanya untuk sering-sering nengokin anak yang diasuh budenya. Ia setuju.
Enam bulan mendekati finish contract di rumah majikan di daerah Prince Edward, ketenanganku kembali terkoyak. Aku mendapat kabar dari keluarga, kakak perempuanku meninggal dunia terjatuh dari kamar mandi. Duh Gusti, cobaan apalagi yang hendak kau timpakan padaku? Belum habis rasa kehilanganku atas meninggalnya adik ipar, sekarang kakak kandungku pergi untuk selamanya. Ke mana lagi kaki ini akan melangkah menggapai ketenangan hidup?
Hasratku tak bisa kubendung. Saat itu juga aku minta pulang ke tanah air dan tak hendak kembali lagi. Tetapi agen dan majikan mencoba menenangkan dan menghiburku. Mereka benar. Pulang ke tanah air pun, aku tak mungkin bisa menatap wajah kakak tercintaku untuk terakhir kali. Sebab, saat aku menerima kabar kematian kakak, sesungguhnya sudah hari ketiga. Kuurungkan niat pulang sebelum finish contract.
Belum genap sebulan kematian kakak, lagi-lagi aku terhantam cobaan yang sangat dahsyat. Tak ada arah lagi aku berpikir. Logikaku mati! Aku sendiri tak tahu, apakah aku ini masih perempuan yang waras. Perasaanku sudah mati untuk memikirkan anak, suami, dan keluarga. Bahkan, memikirkan masa depan pun sudah tak ada. Aku ingin mati, tapi takut dosa. Bertahan hidup, aku sudah tak punya keinginan. Aku pasrah.
Hari itu aku menerima kabar, Mas Dasir suamiku ditangkap polisi. Ia dimintai keterangan polisi atas meninggalnya kakak, karena sewaktu kejadian suamiku barusan menjenguk anak. Belakangan, suamiku dijadikan tersangka. Dari hasil penyelidikan, terbukti kuat suamiku yang melakukan pembunuhan. Yang lebih mengerikan, suamiku juga mengakui telah membunuh adik kandungnya demi mendapatkan hak waris.
Pembaca yang budiman, jika keadaan sudah seperti ini, masihkah pintu maaf kubuka untuk suamiku? Pikiranku kacau. Satu-satunya yang kini kulakukan hanya menghabiskan kontrak terdahulu, lalu menyambung kontrak di rumah majikan ini demi masa depanku dan anak semata wayangku.(Dituturkan ”Ir” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)</span></div>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-37163144401389892062008-07-03T08:28:00.010+07:002008-07-15T09:09:09.366+07:00MENUNTUT DOKUMEN BMI AJAK POLISI<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SGwsu9WGlUI/AAAAAAAABUE/c9LPQQCRB-Y/s1600-h/2+bmi+ambil+paspor.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SGwsu9WGlUI/AAAAAAAABUE/c9LPQQCRB-Y/s200/2+bmi+ambil+paspor.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218595253468435778" /></a>Sudah bukan rahasia lagi, ada banyak alasan yang dikemukakan agen untuk melakukan penahanan terhadap dokumen anak buah mereka, begitu new domestic helper tiba Hong Kong. Padahal, menurut ketentuan hukum yang berlaku, tindakan menahan dokumen yang dilakukan agen atau majikan merupakan perbuatan pidana. Selama ini, tindakan penahanan dokumen umumnya dikaitkan dengan alasan keamanan BMI. Utamanya untuk pengurusan beberapa keperluan, seperti bikin KTP, kesehatan, dll. Namun, dalam praktek, tidak sedikit majikan yang melakukan penahan dokumen pembantunya hingga berakhirnya masa kontrak si BMI. Bahkan, ada yang menjelang kontrak di rumah majikan finish, pengambilan dokumen masih dipersulit agen.<span class="fullpost">
Hal terakhir dialami oleh tiga BMI, yang masing-masing berangkat melalui PT TSW Sawojajar, Malang. Saking sulitnya mengambil dokumen yang notabene merupakan haknya, mereka sampai terpaksa ”menggandeng” dua petugas polisi untuk mendatangi agen Chenchen Company di Flat B, 5th Floor, Fortune Crest, 138 Sai Yeung Choi Street, Mong Kok.
Peristiwa BMI nggandeng polisi itu terjadi pada Minggu (13/4), sekira pukul 10.30 pagi. Celakanya, salah seorang dari mereka langsung diusir oleh si pemilik agen. Pengusiran dilakukan dengan alasan: BMI berkulit hitam manis ini sudah bukan anak buahnya lagi. Kepada Apakabar, si BMI ini memang mengaku sudah pindah agen.
Berbeda dengan dua BMI yang lain, Avega (21 tahun) dan NT (26 tahun), yang memang masih tercatat sebagai anak buah agen itu. Mungkin karena didampingi polisi, keduanya terlihat ”panas” saat agen laki-laki ini – dengan berbagai dalih – keberatan memberikan dokumen. Alasan utamanya, akan dipakai untuk membeli tiket. Padahal, kedua BMI yang berangkat dan finish pada hari yang bersamaan ini, pada 21 April itu bisa dinyatakan finish kontrak bekerja di rumah majikan.
Sudah umum diketahui, banyak persiapan yang dilakukan BMI sebelum keluar dari majikan. Di antaranya, mencoba peruntungan dengan mencari majikan baru. Sesuai peraturan di Hong Kong, BMI masih memiliki waktu dua minggu sejak keluar dari rumah majikan. Tentu, waktu yang sesempit itu tidaklah memungkinkan bagi BMI untuk mendapatkan majikan baru. Sementara, jika BMI yang masih ingin bekerja di Hong Kong – seperti kedua BMI tadi – harus pulang ke tanah air, jelas berisiko membayar lagi potongan agen dari awal.
Perdebatan dan saling bantah antara agen dengan anak buah itu semakin seru. Bisa dibayangkan, ”pertengkaran” yang dimulai pukul 10.30 baru berakhir sekira pukul 12.30. Itu pun setelah polisi – yang semula hanya memberikan waktu buat kedua pihak berdebat – turun tangan melerai.
Lantas, apa pasal agen sampai sengotot itu mempertahankan dokumen yang bukan miliknya? ”Sungguh, bukannya saya tidak mau memberikan dokumen mereka (NT dan Avega). Saya memang berencana membelikan tiket di Tailok, karena di sana harganya murah. Ngo em meng, kenapa tiba-tiba datang ke kantor sambil membawa-bawa polisi,” sungut Mr. Lai King, si pemilik agency, saat dihubungi Apakabar pada hari kejadian. Nah lu? (Kristina Dian S)</span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-15925116149979032942008-06-27T23:16:00.005+07:002008-07-08T21:15:11.345+07:00TEMAN SEJATI DIALAM MAYA<div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SGUT7ki0VyI/AAAAAAAABT4/fnZMd5jtI_Y/s1600-h/MEKACAMAT.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SGUT7ki0VyI/AAAAAAAABT4/fnZMd5jtI_Y/s200/MEKACAMAT.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216597657521510178" border="0" /></a>Engkaulah teman temanku yang memberikan sandaran saat aku letih. Yang memberikan teguran saat aku salah. Dan yang memberikan embun saat matahari panas membakar.Tanpa semangat dari kalian semua, mungkin aku telah tenggelam didasar lautan keletihan ini. So, buat sahabat sahabatku makasih atas semangat ya?<span id="fullpost"> Mudah mudahan aku bisa menunjukan eksitensiku kembali ngeblog seperti dulu lagi. Sbelum Pak Dhe Google update pagerank.Ehm….aku mau ucapin salam rindu buat bunda bundaku tersayang,
<a href="http://bintangputih.blogspot.com/">(Bunda AmaliaHazen)</a> yang barusan meluncurkan buku, <a href="http://www.eucalyptusstories.blogspot.com/">(Bunda Eucalyptus)</a> yang anaknya barusan wisuda, dan <a href="http://mamarafi.blogspot.com/">(MamaRafi)</a> yang hobi banget memposting tentang si buah hati yang cuakep and lucu chekalee. Tak lupa juga buat <a href="http://www.bintangbulan-bintang.blogspot.com/">(Bintang)</a>, mbak yg mulai jarang update serta buat<a href="http://balisugar.com/">(WajahTakDiKenal)</a> yang amit amit jahil.
Thxs juga buat Abangku <a href="http://www.andimujahidin.com/">(AndiMujahidin)</a>,<a href="http://www.wunabarakati.blogspot.com/">(Allwis)</a>,<a href="http://asepsaepudin.com/">(BoxLog)</a> dan yang sering kujadikan tempat rujukan bila bloq ku sakit<a href="http://catalog-tutorial.blogspot.com/">(Nyahoo)</a>,<a href="http://www.hakimtea.com/">(Hakimtea)</a>. Serta buat teman “bermainku”<a href="http://adieska.net/">(Adieska)</a><a>,</a><a href="http://balidreamhome.blogspot.com/">(BaliDreamHome)</a>, <a href="http://pojok-waroengkopi.blogspot.com/">(BoimLebon)</a>+ <a href="http://bilah9.blogspot.com/">(Bilah9)</a>,<a href="http://www.blogger.com/bashrie.blogspot.com">(Bash)</a>,<a href="http://www.pudi-interisti.blogspot.com/">(POO)</a>, <a href="http://genx70-genx.blogspot.com/">(Genx70)</a>. Special banget buat Mas Tony Jauhari dan teman2 lain yag tak dapat kusebutkan satu persatu.
Moga aku bisa kembali terbang seperti kupu kupu munggil yang tak pernah ingkar janji. Lho..kok nyontek judul bukunya Mira W ,ya,he..he...</div>
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2071017471604358";
/* 468x15, dibuat 08/05/16 */
google_ad_slot = "7086983981";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 15;
google_language = "en";
//-->
</script>
<script
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js" type="text/javascript">
</script></span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-33832130388505232122008-06-24T16:09:00.006+07:002008-07-15T09:08:04.108+07:00TIREDAku letih dan sangat letih
Aku lelah dan masih sangat lelah
Tak ada salahnya aku mencoba menyendiri
Karena aku memang masih sendiriKristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-17229171545885222692008-06-11T06:56:00.008+07:002008-07-04T15:39:27.811+07:00MAAFKAN LAH AKUAkhirnya daku kembali ke Hong Kong (tiba semalem dengan pesawat Singapore Airlines)dan membuka blog ini, setelah dua minggu ke Indonesia. Selama itu sobat, bukannya tiada kangen ngeblog, tapi kesempatan yang aku miliki benar benar menyedihkan. Terpaksa aku abaikan “rumah munggilku” ini, meski aku yakin banyak yang bertanya tentang keberadaanku. I’m so sorry…<span id="fullpost">
Sebelum aku terbang ketanah air (special melepas kangen ma keluarga) sebenarnya aku dah nyusun kopdaran (pertemuan antar blog’er) sama beberapa teman. Tetapi, sekali lagi maafkan daku terutama buat Bunda Amalia, genx, Qie bersama genknya dan teman teman yang lain yang tentu saja tak dapat daku sebutkan satu persatu. Bukannya yang ku sembunyikan ini bukan tak istimewa, bukan. Melainkan demi keutuhan kita bersama. Anggap saja ada udang dibalik pertemuan,he..he…(becanda)
Hingga hari ini, air mataku masih sulit kubendung. Kesedihan melepaskan kembali kebahagiaan yang sempat kurasakan bersama keluarga selama itu masih saja bergelayut dipikiran. Entah kapan, bahagia itu akan kujelang. Entah kapan, hati dan kaki ini mengajak berhenti berpetualang. Sampai saat ini aku masih angkuh dengan diriku sendiri. Padahal benar apa yang ditanyakan orang tua : apalagi yang kamu cari???
Ah..aku memilih menunduk hingga dini hari….</span><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-2071017471604358";
/* 468x60, dibuat 08/07/03 */
google_ad_slot = "8202495506";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
google_language = "en";
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-51247920042829556722008-05-24T23:11:00.017+07:002008-06-11T11:58:55.766+07:00KADO TERINDAH (MINGGU BERDARAH)<div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SDiadxwmQiI/AAAAAAAABSw/wA5_cZbhF-8/s1600-h/KADIOINDAHMINGGUBERDARAD.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SDiadxwmQiI/AAAAAAAABSw/wA5_cZbhF-8/s200/KADIOINDAHMINGGUBERDARAD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204079205790663202" border="0" /></a>"Malam harinya, aku demam. Lenganku membengkak dan meninggalkan rasa panas yg luar biasa. Malam itu aku menangis. Menangis bukan hanya oleh rasa sakit, tetapi aku menangisi diriku yang saat itu sedang bersiap terbang ke Taiwan dan berlanjut ke tanah air. aku binggung: haruskah pulang dalam keadaan tangan terluka??bagaimana perasaan ayah bunda dan saudara saudaraku? Aku yakin, jika keluargaku tahu akan luka itu, mereka tak bakal menguzinkan aku menyeleseikan tugas yg tinggal setahun lagi."<span id="fullpost"><span/>Hari itu, minggu kedua. Aku ketemuan sama Fransiska Ria Susanti, reporter Koran local yang juga merangkap sebagai koresponden Sinar Harapan. Pasa saat kuhubungi pada pagi hari itu, jurnalis yang tahun kemaren meluncurkan buku “Genjer-genjer” itu masih baru bangun tidur. Akhirnya aku sama Jessy menunggu di Causeway bay, tak seberapa jauh dari gerbang taman Victori. Ketika kami bertiga akan menuju kesalah satu kafe didaerah Sogo, namaku dipanggil oleh Umi, salah satu TKW yang minggu sebelumnya sempat kuwawancarai kasus Terminate, factor terlibat gerakan SATU MEI. Wajahnya kusut, pakaiannya lusuh, dan jalan sendirian alias tanpa teman. Tapi aku berpikir, pada saat itu ia fine fine aja. Sehingga aku tak mengajaknya turut serta. Dan, kamipun berpisah disimpang jalan itu.</span>
<span id="fullpost">Sekitar pukul 3 sore kami cabut dari kafe. Santy melanjutkan laju kakinya ke Wan Chai, katanya ada yang perlu diliput disono. Aku berencana ke Nort Point, dan Jessy berencana pulang ke building, melanjutkan tidurnya. Tapi setelah mengantar Santy ke Halte Trem, aku sama Jessy malah sepakat jalan jalan sore di wilayah Jordan pada petang. Ya udah, aku memilih melanjutkan ngetik materi tulisan features di rumahnya.</span><span id="fullpost">Belum sempat membuka Microsoft Word, terdengar keributan dirumah yang sebagain kamarnya di sewakan bagi BMI yang membutuhkan tempat tinggal itu. Meski begitu, aku tak hirau, sebab yg beributan itu sepasang kekasih. Lagian, keributan itu hanya via phone. Entah bagaimana awalnya, tiba tiba si Jessy yang sedari tadi telepon teleponan, menyodorkan Nokianya ke aku. “Ada yang mo bicara bentar”begitu kata Jessy sebelum telepon kuambil alih.</span>
<span id="fullpost">“ Kak Dian jemput aku dong. Bilang sama Tian, jangan pukul aku lagi. Aku takut kak….”begitu kata dari seberang.</span>
<span id="fullpost">“Kamu dimana, dik?”daku balik bertanya sambil mikir: siapa gerangan anak itu?</span>
<span id="fullpost">“Aku dilorong kak. Tapi aku gak tahu di daerah mana ini….”</span>
<span id="fullpost">“lha kalo kamu gak tahu dimana posisimu, gimana aku bisa menjemput?”</span>
<span id="fullpost">Setelah ia ngaku bernama Umi, ia mematikan telepon tanpa mengatakan keadaan maupun posisinya saat itu. Umi????berarti anak yang ketemu sama kami tadi,khan?.</span>
<span id="fullpost">Jessy sigap. Menghubungi beberapa teman-temannya maupun anak yang kos di tempatnya. Kami peroleh informasi diamana gerangan gadis berusia 22 tahun itu. Tapi sial, lima menit sebelum kami tiba disuatau tempat, Uminya telah raib. Dibawa temanya ke Discotiq.Aku dan Jessypun balik arah pulang ke apartemen lagi.</span>
<span id="fullpost">Ealah, begitu nyampe apartemen, si Umi malah sudah berada di rumah. Katanya sih ia pun barusan tiba. Kondisi Umi sangat memprihatinkan. Kedua matanya rapat terpejam terbaring diatas tempat tidur. Kaki tanganya sedingin salju. Bibirnya mulai membiru dan sesekali meleleh air liur dari sudut bibir hitamnya itu. Ketika aku duduk ditepi pembaringan ingin tahu keadaanya ia langsung membuka mata bahkan meletakkan kepalanya dipahaku. “Kak Dian…dingin”ujarnya sambil menggigil.</span>
<span id="fullpost">Tetapi siapa sangka, spontanitas, ia meraih lengan kananku dan mengigitnya kuat kuat. Terang aja, aku menjerit kesakitan. Eh, bukanya dilepaskan gigitanya, Umi malah semakin beringas hendak memakan daging mentah lenganku. Darah segar menetes dari 7 luka bekas gigitan Umi.</span>
<span id="fullpost">Malam harinya, aku demam. Lenganku membengkak dan meninggalkan rasa panas yg luar biasa. Malam itu aku menangis. Menangis bukan hanya oleh rasa sakit, tetapi aku menangisi diriku yang saat itu sedang bersiap terbang ke Taiwan dan berlanjut ke tanah air. aku binggung:haruskah pulang dalam keadaan tangan terluka??bagaimana perasaan ayah bunda dan saudara saudaraku? Aku yakin, jika keluargaku tahu akan luka itu, mereka tak bakal menguzinkan aku menyeleseikan tugas yg tinggal setahun lagi.</span>
<span id="fullpost">Keesokanya aku memutuskan berobat ke dokter meski dengan resiko diinterviw polisi karena luka itu. Sedikit catatan, di Hong Kong merupakan Negara hokum. Tak dibenarkan adanya kekerasan apalagi kekerasan itu menimpa pekerja asing. Itu bisa diusut, jika ketahuan polisi. Makanya, pada hari itu aku tak bisa menuruti ajakan teman teman untuk pergi RS. Perlu pertimbangan matang meski aku tak bersalah. Aku hanya kasihan pada Umi, yang rupanya saat itu ia sedang flay berat nenggak Estasy bahkan hamper Over Dosis(OD).</span><span id="fullpost">Sekeluar dari ruangan dokter, aku langsung ke agen penjualan tiket meng-encel penerbangan yang sudah dijadwalkan pada 19 mei. Berhubung, ada musibah itu, penerbangan baru akan aku mulai hari ini. Minggu ke-4 di bulan mei. SAMPAI BERTEMU LAGI.</div></span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-16462592411864339192008-05-18T09:31:00.017+07:002008-05-21T11:12:51.910+07:00KADO TERINDAH (SUKA)<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SC-ZdlOdrII/AAAAAAAABOU/yWXO5aG8REM/s1600-h/LOVE+IS+IN+THE+AIR.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SC-ZdlOdrII/AAAAAAAABOU/yWXO5aG8REM/s200/LOVE+IS+IN+THE+AIR.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201544828124245122" border="0" /></a><span style="">Awal bulan mei tlah lewat. Hari ulang tahunku telah berlalu. Tetapi kenangan itu ehm….gak bisa kulupa! Ada suka, ada duka, ada air mata…bahkan ada darah yang mengalir dari tubuhku. Karenanya, penerbanganku ketanah air, terpaksa kuundur seminggu lagi. Maafkan, wahai engkau yang telah menunggu.
</span><span style="">Kartu ucapan:</span><span style=""> Du</span><span style="">a </span><span style="">hari menjelang ulang tahunku kemarin, ku hitung kurang lebih ada 22 lembar dengan berbagai ukuran dan warna. mayoritas dikirimkan teman temanku yang ada diluar negeri. Kartu ucapan </span>yang cukup menarik perhatianku kiriman dari Mas Rocky (USA), Mama Reva (Thailand) dan dari Mas Andi Purnama (Australia). <span id="fullpost">Ucapanya membuat aku terkesiap sesaat di akhir kalimat.<o:p></o:p>
<p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style="">“Maukah engkau menjadi istriku? Akan kusiapkan gaun pengantin dalam waktu dekat jika engkau mau </span><span style="">menerimaku”begitu kata akhir yang tulis Mas Rocky, sohibku. *bisakah aku mengubah persahabat menjadi sebuah ikatan drama percintaan?"beri aku waktu*<o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style=""><o:p></o:p>Kalo dari Mam Rev, perempuan yang pernah ku kenal sewaktu aku baru datang ke Hong Kong lain lagi meski intinya hampir sama. Isinya gini:”alangkah senang seandainya dian mau menjadi menantu, mama”. *Yee…mana b</span><span style="">isa….aku sama Marvin, anaknya khan cuma temen-an doang*. Begitu kata hatiku seusai membaca kiriman mam Rev yang ikut suaminya tugas di</span><span style="">sono selama setahun kedepan.<o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style=""><o:p></o:p>
Warnanya merah hati bergambar panorama alam. Kalau lipatannya dibuka, seketika tercium aroma bunga anggrek, dan lagu klasik selamat ultah mengalun dari icon sepasang angsa. Tiga alenia puisi romantis memaksa aku mengembara di alam tanpa batas. Indaah sekali, meski dibagian akhirnya aku tersentak. “Kesendirianku hanya untuk menantimu. Mengerti</span><span style="">lah”*tapi kesendirianku bukan untuk menantimu. lukaku karenamu masih berdarah*<o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style=""><o:p></o:p>
BY PHONE: Tak bisa di hitung atau di save. Penuh melulu… rata rata dari teman2 ditanah air. special makasihku buat Mas Lupus dan rekan rekanku yang ada di Hong Kong.</span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style=""><o:p> </o:p>
THE BLOG: “Tak seorangpun dapat menyaingi kita dalam</span><span style=""> hal memberikan bingkisan.Percayalah: percakapan, perhatian, persetujuan, wawasan, gagasan</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SC-WcFOdrHI/AAAAAAAABOM/GcyRzlJfc28/s1600-h/kupuku.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SC-WcFOdrHI/AAAAAAAABOM/GcyRzlJfc28/s200/kupuku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201541503819558002" border="0" /></a><span style="">, waktu, tenaga, kerjasama dan terutama cinta, merupakan bingkisan yang amat langka. Hal-hal itu lebih berharga dari harta benda manapun. <o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style="">Hari ini, tanggal 1 Mei adalah haridimana seseorang sedang berulang tahun. Kupu-kupu yang tengah terbang menikmati angin kencang yang berniat merusakkan sayapnya, te</span><span style="">tap bertahan sampai waktu ulang tahunnya tiba.</span><span style=""> <o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style="">“ Aku terharu membuka Bingkisan untuk sang </span><span style="">kupu kupu <a href="http://www.asepsaepudin.com/2008/05/01/bingkisan-untuk-sang-kupu-kupu">(Kiriman BOXLOG)</a>. Terima kasih ya</span></p><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style=""><o:p>
</o:p>Ucapan makasih ini juga buat teman teman sesame bloger, khususnya para kreator komentator. Tentu kita sependapat: ucapan yang di gores dan ditempatkan dalam box komentar tak kan lekang dimakan waktu. Tertanam hingga ke dasar dasarnya hingga kelak, sampai Pak Dhe Google tak beroperasi lagi kali ya,he..he…. <o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;"> </div><p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"><span style=""><o:p></o:p>Dalam komentar rekan rekan, tersimpan kekuatan yang sangat besaaar sekali. Kekuatan penyemangat agar aku terus melangkah tanpa lelah. Mengapai asa dan cinta, dan membekali diri dengan doa. Wah…tak ku duga…begitu dahsyat kekuatan sebuah komentar. Setujukah jika kita membudidayakan saling memberi komentar? Bersambung....
</span></p></span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-44392021110637629372008-05-09T16:55:00.001+07:002008-05-09T16:58:25.002+07:00DATANG SESAATSabar lah chayank…aku pasti datang
Tunggulah teman…aku pasti kembali
Jangan bertanya lagi ya bunda….
Suatu saat pasti kukatakan semua
Tentang hati, keseharian, dan tentang kado istimewa itu
<span id="fullpost"></span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-54103363906461054552008-04-27T23:56:00.031+07:002008-05-24T17:30:19.339+07:00NO FREE SEX, FREE TAG, FINAL!<div align="justify">
<a href="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SBTBVtlIYWI/AAAAAAAABJI/Do5GhIornhY/s1600-h/foto+ultah.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193988849021772130" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SBTBVtlIYWI/AAAAAAAABJI/Do5GhIornhY/s200/foto+ultah.JPG" border="0" /></a> PR ini aku terima dari <a href="http://reskitrianto.blogspot.com/">Reski</a> dan merupakan PR kedua yang aku
kerjakan. PR yang ketiga, lom sempat aku kerjakan. Mudah mudahan untuk kedepanya, tak ada yang ngasih “tugas” lagi. he..he…maap banget ya? Coz, aku gak punya tenaga nyari korban berikutnya. Takut ditolak mentah mentah. Hi..hi..itu khan sudah kebiasaan anak muda. Btw, silahkan simak sepuluh hal yang tidak kusukai. Tret..tre..re..ret….</div>
<div align="justify"><span id="fullpost">1: Ulang Tahun:
Hari ulang tahunku bersamaan dengan Hari Buruh Sedunia. Tanggal Satu Bulan Lima. Sangat tak mengenakkan hari kelahiran bertepatan dengan public holiday.
Berkali, aku mencoba menyusun jadwal buat ngeramein acara pribadi. Tetapi, waktu dan tempat tak mengizinkan. Karena pada hari itu, aku harus “turun jalan”. Kalau tidak untuk liputan, jelas ikut dalam barisan aksi unjuk rasa. Sudah beberapa kali aku menikmati hari ulang tahun diantara ribuan masa , diantara debu debu jalanan, diantara pekik nyanyian demonstran. Kapan aku bisa menikmati hanya berduaan dengan pujaan? entahlah, beberapa hari lagi ulang tahunku tiba.
2: Waktu:
Ia teramat cepat berlalu seolah tak memberiku kesempatan untuk memikirkan sesuatu. Disaat aku ada masalah, ia berbisik: ambil tindakan sebelum waktu menggilas semuanya.
3: Makanan:
Aku paling sulit memilih menu makanan, bahkan aku memilih tak makan dari pada dipaksakan makan makanan Negara setempat. Pualing tak aku sukai, jika perut keroncongan, masih harus pergi ke toko Indonesia, dan begitu tiba ditempat sudah kehabisan.<a href="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SBVWFdlIYZI/AAAAAAAABJg/f_dPetWDfM0/s1600-h/IMG_1496.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SBVWFdlIYZI/AAAAAAAABJg/f_dPetWDfM0/s200/IMG_1496.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194152397081436562" border="0" /></a>
4: Tata Rias:
Teman teman disekitarku rata rata cantik. Ada yang polos dari sononya, ada pula yang karena riasan. Teman-temanku yg suka make up, memiliki alat kecantikan yg sangat lengkap. Kalo dah ngumpul aku pasti disarankan belajar berdandan biar kelihatan tambah manis. Tapi tahukah mereka, betapa aku ingin tampil apa adanya. No lipstick, no eye shadow, and no “pelangi” diwajah pucatku.
5: Rambut:
Tiap kali aku mau masuk salon potong rambut (panjang sepinggang), teman yg sedang bersamaku menghadang atau menarik tanganku sambil bilang: Jangan dipotong! Sebel. Betapa aku gerah dengan rambut yg terlalu panjang.
6: Kamera:
Paling jengkel ketika lagi liputan tiba tiba baterai kamera digitalku drop. Dan seingatku udah sering kali ini terjadi meski kamera hp bisa menjadi alternative. Sebenarnya bukan aku tak memperhatikan atau tidak tahu kalo baterai dah mau kosong, tapi karena hampir setiap hari dipakai, dan pulang “lapangan” langsung urus diri, akhirnya aku gak ngurusi lagi soal baterai.
7: Wawancara:
Ada kalanya, wawancara dilakukan secara mendadak. Karena informasi yang perlu diberitakan paling sering terjadi secara dadakan pula. Misalnya: kematian BMI (bunuh diri, sengaja di bunuh atau meninggal karena kecelakaan kerja), BMI kabur dari tempat kerja karena mendapat perlakuan diskriminatif, pelecehan seksual, penganiayaan dan berbagai perlakuan buruk lainya. Menghadapi narasumber seperti ini menuntut ekstra hati hati dalam melontarkan tanya. Sering aku harus menunggu hanya untuk satu kata saja hingga bermenit menit lamanya. Bahkan tak jarang mataku ikut berkaca kaca “menghadapi” korban kesewenang wenangan. Air mata atau menangis sesuatu yang tak aku inginkan, tetapi kenapa air mataku sering tak bisa dibendung? Betapa aku tak suka dengan “kebiasaan” itu.
8: Bobo’:
Benci! Tak sekali dua perintah membangunkan tidurku.
9: Sex: <a href="http://bp2.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SBTFoNlIYXI/AAAAAAAABJQ/smVM1tBWWSE/s1600-h/fot+wawancar.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193993564895863154" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SBTFoNlIYXI/AAAAAAAABJQ/smVM1tBWWSE/s200/fot+wawancar.JPG" border="0" /></a>
Berada diantara pasangan berumah tangga sebenarnya sangat menyenangkan. Dan aku bahagia sekali mengenal beberapa pasang keluarga yang menganggapku layaknya anak sendiri. Meski sudah hampir enam tahun aku bekerja jauh dari keluarga kandung, tapi aku merasa mendapat perhatian tulus dari mereka mereka ini. Tapi ada yg tak kusuka, ketika para istri yg kukenal ini mulai ngerumpi. Pasalnya, sharing soal sex seolah menjadi menu dari makanan terlezat sekalipun! Ugh! Aku tak dilibatkan.
10: Cowok:
Gak suka cowok yg terlalu cakep, kekanak kanakan, minta dicintai sampe rela berkorban, dan ambisius. Jika sudah sepakat putus, di tengah jalan ngajak baikan lagi.Hal itu bisa membunuh rasa simpatiku. Aku menggagumi cowok misterius, yang mengatakan cinta lewat bola lampu. Eh, salah…bola mata. He..he…
</span></div>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-72048695712986180642008-04-22T04:57:00.007+07:002008-05-17T16:02:31.143+07:00KARENA DIA AKU HIDUP MENJANDA<em>
"Berbagai peristiwa itulah yang seolah-olah memaksaku untuk memutuskan tali perkawinan. Meski, aku sendiri sejatinya ingin terus mempertahankan ikatan itu. Tetapi, setelah kupikir-pikir, apalah gunanya kalau sikap suami terus-terusan begitu? Bukankah hanya akan memicu derita berkepanjangan? Dan...Bukankah menjanda bukan akhir dari segalanya?"</em>
<a href="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SA0WY_4RJWI/AAAAAAAABIo/E1ku66_3lRQ/s1600-h/tulisan+single+parent.jpg"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SA0WY_4RJWI/AAAAAAAABIo/E1ku66_3lRQ/s200/tulisan+single+parent.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191830564148159842" /></a>
<div align="justify"> Hidup bersama tak cukup hanya bermodalkan cinta. Karena hidup dengan cinta saja tidak bisa membuat perut kenyang, terlebih aku sudah punya dua anak. Celaka, suamiku malah berulah. Kutinggal mencari duit ke Malaysia, dia berpaling dan menikahi perempuan lain. Padahal, aku dan dia belum resmi bercerai.<span id="fullpost">
Pemuda tetangga desaku itu bernama Eduardo, bukan nama sebenarnya. Ia seorang pria yang sangat tampan, sampai-sampai banyak cewek yang naksir padanya. Tetapi, cinta Eduardo kepadaku sungguh luar biasa. Meski kedua orangtuanya melarang, bahkan sempat diungsikan ke Jakarta, ia tetap rajin ngapelin aku – yang hanya seorang anak petani.
Mula-mula, sebagaimana gadis desa pada umumnya, aku gembira sekaligus khawatir. Suka tetapi takut dikagumi, oleh cowok secakep Eduardo. Lama-lama aku berpikir, cinta itu tidak memandang kaya atau miskin, cantik atau jelek. Karena, setiap manusia hakikatnya berhak untuk mencintai dan dicintai. Bukankah Tuhan telah menganugerahi hal itu? Segala macam perbedaan bisa terkikis oleh adanya cinta.
Usiaku masih muda, baru 14 tahun, ketika aku bersedia dinikahi Eduardo. Dari pernikahan itu aku dikaruniai dua putri yang sangat manis dan penurut. Jujur, pernikahan yang dibangun atas dasar saling cinta sungguh amat membahagiakan.
Namun, perjalanan hidup anak manusia tak seorang pun tahu, kecuali Dia yang Esa. Begitu juga yang terjadi pada Eduardo. Kekhawatiranku di masa single dulu belakangan terbukti. Sikap Eduardo, suamiku, mendadak berubah setelah anak-anak tumbuh besar. Tanggung jawabnya terhadap keluarga mulai berkurang.
Sampai-sampai, untuk menghidupkan ”asap dapur” aku terpaksa sampai berutang kepada tetangga kiri-kanan. Padahal, ketika itu aku masih punya utang sekitar Rp 90 juta untuk membangun rumah. Untungnya, para tetangga masih percaya padaku. Entahlah, apa jadinya jika mereka tidak lagi percaya.
Suamiku sebenarnya bukan seorang pengangguran. Ia pekerja yang ulet. Cuma, begitulah nasib seorang pekerja di perusahaan kontraktor (pemborong). Tidak selamanya lancar. Sampai kemudian, aku akhirnya memutuskan menjadi TKW di Malaysia. Jalan pintas itu kuambil untuk mengentaskan problem ekonomi, di samping dipicu oleh perasaan kecewa terhadap perubahan sikap pada suamiku.
Tiga tahun bekerja di negeri jiran, aku sudah bisa melunasi utang-utangku di kampung. Itu sebabnya, selepas kontrak, aku memutuskan pulang.
Sebagai seorang perantau, tidak ada yang membuatku bahagia selain ingin segera pulang ke tanah air dan berkumpul dengan keluarga. Saat itu, anganku begitu indah, membayangkan kebahagiaan yang bakal kutemukan setiba di tanah air. Aku sudah tak sabar ingin lekas bertemu dengan anak dan suamiku tersayang. Tetapi, apa yang kudapatkan sesampai di kampung halaman?
Anganku sirna seketika. Tawaku sontak berubah menjadi air mata. Ternyata, Eduardo telah menikah lagi dengan perempuan asal Jakarta, bahkan punya satu anak laki-laki. Aku geram, karena kenyataannya kami belum bercerai. Coba, wanita mana yang tidak ingin marah, tidak sakit hati jika suami telah berpaling hati?
Tetapi segalanya telah terjadi. Membunuh suami dan perempuan itu, rasanya tidaklah mungkin. Mau tidak mau, aku yang harus berusaha membujuk hatiku untuk mengizinkan suamiku menjadi milik perempuan ayu itu. Bukan apa-apa, aku sendiri masih berat untuk bercerai.
Dorongan untuk memaafkan Eduardo semata-mata karena keberadaan kedua anakku. Tak tega rasanya membiarkan mereka hidup tanpa bapak. Mereka adalah permata hati, lentera dalam kegelapan hati. Seberat apa pun rasa sakit hati karena ulah suami, aku rela menerimanya. Di depan anak-anak aku selalu berusaha tersenyum, meski rasanya amat getir dan pahit.
Satu tahun di kampung halaman, aku memutuskan masuk PT Sinar Insani Barokah (SIB). Hanya berselang tiga bulan, tepatnya 4 Juli 1994, aku diberangkatkan ke Hong Kong dan dipekerjakan di daerah Kowloon. Di negeri Andy Lau ini aku bekerja hingga dua kali masa kontrak (4 tahun).
Aku memutuskan pindah majikan, setelah majikanku sebelumnya tak mau membayar long service (bonus). Kali berikut, aku bekerja di daerah Mong Kok, dan masih bertahan sampai saat ini.
Selama enam tahun, dari kejauhan aku menunggu perubahan sikap Eduardo. Aku ingin dia kembali seperti dulu. Nyatanya, sekian lama aku menghitung hari, ia tak kunjung berubah. Malahan, istrinya yang di Jakarta diabaikan begitu saja. Kabarnya, tak lama setelah dicuekin Eduardo, wanita itu meninggal dunia. Sementara, anak laki-lakinya telah beralih menjadi tanggung jawabku sejak aku pulang dari Malaysia. Berbagai peristiwa itulah yang seolah-olah memaksaku untuk memutuskan tali perkawinan. Meski, aku sendiri sejatinya ingin terus mempertahankan ikatan itu. Tetapi, setelah kupikir-pikir, apalah gunanya kalau sikap suami terus-terusan begitu? Bukankah hanya akan memicu derita berkepanjangan?
Melalui bantuan pengacara, aku dan Eduardo akhirnya resmi bercerai. Seiring dengan itu, semangat hidupku tumbuh kembali. Ya, aku harus menghidupi anak-anak, juga mencicil kredit mobil yang pernah kubeli untuknya.(Dituturkan ”S” kepada Kristina Dian S dari Apakabar)</span></div>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-62557399741029577042008-04-17T05:23:00.012+07:002008-06-11T15:25:11.863+07:00MENOLAK DIGAULI AKU DIDEPORTASI<div style="text-align: justify;"><a href="http://bp2.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SAaFCPBGTHI/AAAAAAAABGY/xn6aMPKP0oA/s1600-h/pic31.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189981894028446834" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SAaFCPBGTHI/AAAAAAAABGY/xn6aMPKP0oA/s200/pic31.jpg" border="0" /></a> '<em>"Pagi sekitar pukul 07.10, samar aku mendengar bisikan dan terasa ada tangan lembut menyentuh pipiku. Mulanya kuabaikan, tetapi lama-lama kesadaranku pulih. Seketika aku berteriak saking kagetnya. Benar saja, kakek berdiri di depanku dengan wajah cengengesan. Aku pun mengumpat memarahi kakek. Tak lama, seluruh anggota keluarga datang ke kamarku. </em>
<em></em>Kalau saja aku mau melayani kemauan bapak majikan, mungkin nasibku tak sampai seperti ini. Dipaksa, difitnah, sampai akhirnya kontak kerja diputus majikan. Parahnya, majikan langsung mengantarkan aku ke bandara."
<span id="fullpost"><span/>Baru setahun aku bekerja di Flat 5/ F Blok A, Homantin. Aku bekerja pada sebuah keluarga dengan lima anggota. Mereka adalah sepasang suami-istri, satu orang anak, dan orangtua majikan. Mereka sangat baik dan perhatian kepadaku, yang sebelum ini pernah bekerja di Singapura. Apalagi pada musim dingin seperti sekarang, nenek suka memanjakan aku dengan membelikan baju-baju hangat di pasar. Meski baju-baju tersebut tidak baru alias bekas pakai, dan tentu saja harganya relatif murah, aku sangat berterima kasih kepada nenek. </span>
<span id="fullpost">Ups, tentu saja tidak hanya nenek. Nyonyaku juga suka membelikan aku baju atau krim tangan, supaya tanganku tidak membengkak akibat ”serangan” musim dingin. Ya, musim dingin tahun lalu, kali pertama aku bekerja di rumah itu. Mereka tampak masih cuek terhadap kehadiranku. Berbeda dengan tahun ini, perhatian mereka jauh lebih besar. Mungkin mereka mulai merasa cocok melihat aku sudah bisa beradaptasi dengan anggota keluarga.</span>
<span id="fullpost">Anak asuhku seorang remaja pria berusia 16 tahun. Ia penurut dan tidak suka mengadu pada majikan, meskipun aku sering berbuat kesalahan. Misal, keliru menyiapkan seragam sekolah maupun telat membangunkan. Begitu juga dengan nenek, yang sehari-hari lebih banyak diisi dengan duduk di atas kursi roda. Ia tak banyak omong, bicara ala kadarnya. Mungkin karena itulah, kedua majikan menilaiku baik. Suasana kekeluargaan yang sungguh menentramkan hati.</span>
<span id="fullpost">Namun seiring guliran waktu, keharmonisan keluarga majikan yang pernah kunikmati tiba-tiba lenyap ketika masa kerjaku menginjak satu tahun. Tidak tanggung-tanggung, aku dipulangkan majikan tanpa pemberitahuan. Hal ini sama sekali di luar dugaan. Bahkan, tak pernah sekalipun terlintas dalam benak, aku bakal dideportasi majikan secara mendadak. Itu semua jika mengingat kedekatanku dengan majikan selama ini.</span>
<span id="fullpost">Toh, aku tidak bisa mengelak dari keharusan pergi meninggalkan Hong Kong, Januari 2008. Jujur, tiga hari sebelum majikan menyuruhku pulang, aku memang sempat bertengkar hebat dengan kakek. Pertengkaran itu sempat dilerai oleh nenek, yang notabene mulai berkurang pendengarannya.</span>
<span id="fullpost">Meskipun melerai, nenak sejatinya tidak tahu ada persoalan apa antara aku dengan kakek – suaminya. Sepengetahuan nenek, aku telah membantah omongan kakek, yang akhirnya menyuruhku pergi dari rumah itu. Aku tidak bisa menyalahkan nenek, kalau pada akhirnya nenek mengadukan apa yang ia lihat kepada nyonya dan tuan.</span>
<span id="fullpost">Celaka... Kakek sungguh keterlaluan telah memberikan cerita palsu. Kepada anaknya, kakek bilang aku telah melawan. Tidak mau diperintah dan suka marah-marah. Harus kuakui, saat itu aku memang melawan, membantah, dan menolak perintah kakek. Lha, bagaimana mau kuturuti? Wong, kakek menyuruhku membuka baju dan meminta dilayani layaknya pasangan suami istri.</span>
<span id="fullpost">Kakek asuhku memang sudah lanjut tua, meski aku tak tahu persis berapa umurnya. Sekalipun sudah uzur, kakek tak pernah pakai tongkat. Barangkali karena setiap pagi dan sore ia rutin pergi jogging, sehingga badannya jadi kelihatan sehat.</span>
<span id="fullpost">Gelagat kalau si kakek ada ”maksud-maksud tertentu”, sebenarnya sudah kutangkap sejak jauh-jauh hari. Kalau tak salah, menginjak bulan kedua aku bekerja di rumah itu. Masih kuingat, hari itu kakek menyuruhku mencari mokan cai di lemari bajunya. Tetapi kucari-cari di lipatan baju-bajunya, handuk kecil itu tak juga ketemu. Kemudian, kakek menyuruh aku mencari di kardus baju yang ditaruh di bawah kolong tempat tidur. Nah, ketika lagi membungkuk inilah, kakek memeluk aku dari belakang. Aku spontan berteriak, meski hanya didengar oleh bising kendaraan jalan raya. Sejak itu, aku diburu rasa ketakutan.</span>
<span id="fullpost">Sikap ”genit” kakek sempat agak berkurang dari waktu ke waktu. Paling banter, sekadar memandang dengan tatapan nakal. Selain itu, setiap kali mau tidur, selalu bilang codhao sambil bilang: mou so mun di dekat telingaku. Kuabaikan saja permintaan itu, karena kedua majikanku yang tidur di lantai atas selalu berpesan untuk mengunci pintu.</span>
<span id="fullpost">Kesan di mata keluarga majikan, kakek orang yang baik. Sebab, kepadaku ia tak pernah bicara kasar, keras, apalagi membentak. Meminta tolong sesuatu ia selalu bilang: emkoi, emkoi sae, toche, toche sae. Tetapi, mana keluarganya tahu kalau sikap kakek sebenarnya untuk menutupi hidungnya yang belang.</span>
<span id="fullpost">Terus-terusan dikasih perhatian oleh kakek sungguh risih. Bagaimana tidak, ke manapun aku pergi, selalu diikuti. Aku ke dapur, ia ikutan masuk dapur dengan berbagai alasan. Entah itu mau buat kopi-lah, minum air-lah, atau alasan membantuku memasak. Ketika aku punya jatah menyapu atau mengepel, kakek juga menggunakan berbagai dalih untuk menarik simpatiku. Terkadang, ia malah yang mengambil alih tugas membersihkan rumah. Keluarga majikan senang, tetapi aku yang senep. Soalnya di antara kedekatan itu, tak jarang ia berbuat yang ”menjurus” dan cenderung tak senonoh.</span>
<span id="fullpost">Hampir satu tahun, perselisihan dengan kakek tak diketahui keluarga yang lain. Kami berdua selalu berusaha menyimpannya rapat-rapat. Sebab, aku tak ingin dipulangkan majikan gara-gara itu. Tetapi sial, pertengkaran yang tersimpan rapat itu akhirnya meledak tiga hari sebelum aku resmi di-PHK.</span>
<span id="fullpost">Malam itu, aku kecapean setelah seharian menemani nenek tamaciok di rumah temannya yang sedang berulangtahun. Ngerti sendiri tugas seorang pembantu. Diajak ke rumah temannya, kebagian membantu tuan rumah memasak dan cuci piring. Saking capeknya, sesampai di rumah aku langsung tidur, lagian juga sudah tengah malam. Tuan dan nyonya serta anaknya ada di kamar atas, yang aku sendiri tak tahu apakah mereka sudah tidur. Dari dulu, majikan memang tak mau tahu dengan urusanku di bawah. Nah, waktu itu aku lupa mengunci pintu dan menghidupkan alarm.</span>
<span id="fullpost">Pagi sekitar pukul 07.10, samar aku mendengar bisikan dan terasa ada tangan lembut menyentuh pipiku. Mulanya kuabaikan, tetapi lama-lama kesadaranku pulih. Seketika aku berteriak saking kagetnya. Benar saja, kakek berdiri di depanku dengan wajah cengengesan. Aku pun mengumpat memarahi kakek. Tak lama, seluruh anggota keluarga datang ke kamarku.</span>
<span id="fullpost">Belum sempat aku memberi penjelasan, kakek langsung bilang kalau aku marah gara-gara dibangunkan. Ya, ampun…kakek kok begitu. Kepada mereka aku cuma bilang tuemchi, karena terlambat bangun. Setelah itu aku ke kamar mandi seperti perintah majikan. Sebenarnya sih majikan tidak marah, mereka memaklumi kondisiku yang kurang tidur.</span>
<span id="fullpost">Pukul 09.30, ketika kedua majikan dan anak asuhku sudah pergi dengan aktivitasnya masing-masing, kakek ”kumat” lagi. Ke dapur, ruang tamu, kamar mandi, pokoknya ke mana aku bekerja selalu diikutinya. Hatiku sudah mulai kesel dan jengkel setengah mati. Tetapi apalah daya, melawan kakek bisa-bisa berakibat fatal. Di rumah ini dia ibarat majikan kedua. Namun, karena kakek sudah berani mendorong badanku ke ranjang – ketika aku membersihkan kamar majikan – kemarahanku tak bisa lagi dibendung.</span>
<span id="fullpost">Kudorong badan kakek sampai tersandar di meja tata rias nyonya. Saat itu…rasanya aku sudah begitu berani, tentu saja melawan kakek. Dia mukul, balik kupukul. Dia nendang kakiku, kutendang balik kakinya. Sampai kemudian, kakek mendorong tubuhku keluar dari kamar dan lantai dua itu. Sesampai di lantai bawah pun kakek bersikeras mengusirku keluar dari rumah. Pertengkaran inilah yang kemudian ditangkap nenek dan diceritakan kepada majikanku.</span>
<span id="fullpost">Malam itu, kedua majikan mempertanyakan keributan itu padaku secara langsung, di hadapan kakek dan nenek. Dengan bahasa Kanton campur Inggris, kuceritakan jujur sesuai kenyataan yang ada. Kakek berusaha membela diri, ketika kedua majikanku tampak marah-marah sama kakek. Sampai akhirnya, kakek ngambek masuk kamar dan tak jadi ikut makan bareng. Sikap kedua majikan yang tidak menelan mentah-mentah cerita kakek, wajib kusyukuri. Sesuatu yang kupikir tidak dimiliki oleh majikan lain.</span>
<span id="fullpost">Keesokan harinya, suasana kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Hatiku sudah mulai lega, tidak terbelenggu oleh rasa ketakutan yang selama ini setia melingkari hari-hari. Tetapi, apa yang terjadi pada esok lusa? ”Benahi bajumu dan kita ke bandara,” perintah majikanku pada Minggu siang – liburku dua bulan dua kali. Aku masih bingung, belum paham apa maksud majikan. Mau bertanya, aku tak punya keberanian. Aku hanya menurut.</span>
<span id="fullpost">Sesampai di bandara, sesaat setelah dokumen, tiket dan pesangon serta gaji terakhir diberikan majikan, baru aku tahu: aku telah di-PHK. Karena belum ingin pulang ke tanah air, aku memutuskan meninggalkan bandara untuk kembali ke pusat kota Hong Kong, hanya selisih 30 menit dari majikan yang sengaja meninggalkan aku sendirian di bandara. Entah bagaimana caranya, aku tetap hendak merajut impian yang nyaris kandas gara-gara ulah si kakek genit itu. (Dituturkan ”M” kepada Kristina Dian S dari Apakabar) </span></div>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-31296097314199791662008-04-12T10:19:00.018+07:002008-05-21T11:23:45.641+07:00RATAP TAK BERSUARA DARI BALIK PENJARA<div align="left"><span style="color:#cccccc;"><span style="font-family:georgia;">Andai burung camar sudi terbang pada padang
Andai kupu-kupu mampu terbang di balik awan
Mana mungkin tangis ini cuma jadi hiasan malam
Kau lihatlah teman
Aku meringkuk di balik terali besi
Bercengkrama dengan kesunyian
Teman setiaku hanya tikar usang
Ratapanku hanya di dengar ilalang<span id="fullpost">
Sudah hilang sekeping ceria yang pernah kupunya
Sudah tak ada sepotong harap yang pernah ada
Sementara indahnya salju masih bermain dipelupuk mata
Aku disini..tertimbun oleh tuduhan tanpa keadilan
Tidakkah kau rasakan resahku wahai teman?
Tidakkah kau mendengarnya?
Jiwaku, hatiku, hidupku, tersayat perih
Tak ada bahagia di tempat keterasingan ini
Ayolah, teman! bantulah aku Keluarkan aku dari sini.
Agar udara segar benahi fikiranku.
Kenapa kalian, diam? <a href="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SAA1M_ryh2I/AAAAAAAAA5U/BEL7MxZj-Y0/s1600-h/FOTO+AKSI+UNJUK+RASA.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188205268100613986" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/SAA1M_ryh2I/AAAAAAAAA5U/BEL7MxZj-Y0/s200/FOTO+AKSI+UNJUK+RASA.jpg" border="0" /></a>
Kenapa kalian membisu?
Bukankah kalian tau,
Renta kembali ke alam baka bukan karna salahku.
Tuhan yang berkehendak mengambilnya, bukan?
Teman..Datanglah padaku
bawa setetes air kedamaian
Agar jiwaku tak rebah dirantau orang
<em>(Buat seorang BMI yang kini meringkuk dalam penjara perempuan Hong Kong. Karena kasus kematian nenek yang di rawatnya setahun. Ia tertuduh membunuh nenek itu dengan sebiji buah kelengkeng.)
</span></em></span></span></div>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-6922481585032083532008-04-09T07:27:00.019+07:002008-05-21T11:35:33.747+07:00KOMPETISI FOTO MAJALAH LIBERTYKowloon- Untuk menjembatani minat BMI dalam dunia foto model sekaligus menjaring minat baca, Majalah Liberty mengelar kompetisi foto model dengan tema Ekspresi dari Seberang, minggu, 20/5 di City University Of Hong Kong, Kowloon Tong.<span id="fullpost">
Kendati baru kali pertama menyelenggarakan acara di hong kong namun acara yang khusus ditujukan buat BMI ini berjalan lancar dan sukses. Hal itu terbukti dari membludaknya acara yang di dukung NBF dan Majalah Ekspresi dan di ikuti sekitar 104 peserta.
Sebelum acara, panitia telah menyaring dan menyeleksi foto foto peserta yang dilakukan oleh juri di Indonesia. Dus, kegiatan pada minggu lalu itu lebih untuk melengkapi dan menambah nilai, disamping menjadi ajang unjuk kebolehan peserta yang mayoritas pembaca setia Liberty. Di hong kong, juri terdiri atas perwakilan dari dari Dr. Smit dan dari Stenly Club, Iwansyah.
Meskipun ada penilaian performance, dan kecerdasan peserta namun nilai tertinggi tetap diambil dari karya foto mereka. "Nilainya 75 persen dilihat dari foto''ujar Tania Rose dari Liberty . Masih menurut Tania 25 peserta yang masuk dalam babak final berhak mendapat gelar gadis sampul majalah Liberty, karena foto-foto ke 25 ini akan menjadi cover majalah liberty.
Menurut keterangan beberapa peserta, sebagian besar murni berpartisipasi meramaikan acara yang di gelar majalah kesayangan, selain untuk mengali bakat dan kemampuan di bidang photo model, tapi ada juga yang berkomentar: asal foto gue mejeng di koran. Dari 104 peserta, dua nomor di nyatakan gugur. Lantaran kedua peserta tersebut BMI sekaligus pembaca yang bekerja di Taiwan. ''Komitmen kami hanya khusus bagi BMI Hong Kong''sambung Tania.
Selain lomba foto, membludaknya BMI pada acara itu ternyata juga dipicu oleh kehadiran pengasuh rubric konsultasi dari majalah tersebut. Yakni, Pimpinan padepokan Bumi Wali Songo, Drs. H Imam Soroso, atau yang biasa di panggil Mbah Roso dan Drs . Hj. Asih Marlyna MBA alias Djeng Asih. Sepasang suami istri asal Kudus Jawa Tengah ini, agaknya cukup lekat di telingga kalangan BMI. Sayang, Djeng Asih akhirnya batal datang. Kehadiran Mbah Roso tentu menjadi obat penantian sebagian BMI yang ingin berkonsultasi langsung seputar problem rumah tangga, jodoh, dan masalah lain. Namun, lantaran mepetnya waktu dan saking banyaknya calon pasien, mereka harus bersabar menunggu kedatangan mbah roso di lain waktu. '' Isya allah bulan depan saya datang lagi ke Hong Kong ,'' janji Mbah Roso.
Sedangkan lomba foto model jatuh pada Suminah (juara 1), disusul Iva Nurcholifah dan Resmi Sulistyowati . Sementara foto favorit pilihan penonton di raih oleh Trisusilo Wati, disusul Maslikah, dan Grace Supardi. Selamat buat para pemenang! (KDS)</span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-84661507205014645072008-04-03T11:01:00.030+07:002008-05-21T11:44:26.979+07:00T R A N S P A R A N<div align="justify"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Kemarin, aku benar benar Bete tiada terkira. Seharian di depan computer, yang jelas sangat menyita waktu buat menyelesaikan kerjaan. </span><a href="http://blogspot.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Blogku</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;"> tiba-tiba saja amburadul. </span><a href="http://www.histast.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Histast</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;"> gak berfungsi, </span><a href="http://www.flickr.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">flickr</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;"> gak jalan, </span><a href="http://www.cbox.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Cbox</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;"> tiba tiba hilang, dan tinggal kerangkanya doang. Bahkan untuk ngelihat komentar yg barusan aku moderasipun aku tak bisa. <span id="fullpost">Aneh khan? Aku sampai nangis lho, kemarin itu. Sempat juga kepikiran menghapus bl<a href="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/R_TjnzI-HZI/AAAAAAAAA20/iMNgfrYaEuA/s1600-h/thanksaquablueangelanim.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185019343892520338" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_RPi17fkfHoI/R_TjnzI-HZI/AAAAAAAAA20/iMNgfrYaEuA/s200/thanksaquablueangelanim.gif" border="0" /></a>og alias berhenti ngeblog. Wong udah diutak atik tetap gak bisa. Putus asa deh gw.. </span></div><div align="justify"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;"></span></div><div align="justify"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Mau tak mau, aku teriak2 di </span><a href="http://www.yahoo.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">YM</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">, minta pertolongan orang orang yg mau nolong. Sekitar delapan blog’r akhirnya turut menyingsingkan lengan ngebantu diriku yg masih cenggeng.</span><a href="http://genx70-genx.blogspot.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Genx</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">, </span><a href="http://www.andimujahidin.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Bang Andi</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">, </span><a href="mailto:agus_jalu@yahoo.com"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Agus</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">, Andre, </span><a href="http://hakimtea.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">hakim tea</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">, Hacker turut sibuk ngecek SB bahkan sampai ke komentar. Kata teman-teman sih gak ada masalah, bahkan mereka juga ngopi paste tulisan yg ada di SB untuk diriku di YM. Tapi kenapa aku gak bisa ngelihat blogku?? Apakah komp ku yg bermasalah? Yang jelas begitulah.hi..hi..
</span></div>
<div align="justify"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">
Tangisku reda begitu hakimtea suruhan komendannya(bang andi) dengan suka rela memberiku arahan menetralisir amukan blogku. Meski hingga saat ini belum normal, tapi aku sudah bisa bernafas dengan lega. </span><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">So, aku minta maaf buat teman2 yag kemarin ninggalin pesan di SB gak sempat kubalas. And thank’s buat teman2 yag kemarin menenangkan jiwaku.
Akibat dari ulah komp, aku gak bisa buka email yg biasanya 3 x sehari. Sore, begitu blogku dah mulai “baikan” aku buka email. Dari sekian banyaknya email, aku tertegun dengan email ini.
</span><em><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ffffcc;">Yth, Kristina
Saya search di yahoo tentang BMI Hongkong tapi membawa saya ke website anda, kebetulan saya sedang mencari info seputar BMI untuk bisa saya sajikan untuk majalah Indonesia di Taiwan dengan nama </span><a href="mailto:avalokitesvera@yahoo.com"><span style="font-family:times new roman;font-size:130%;color:#ffffcc;">Taiwan Index Magazine International atau TIM International. </span></a></em>
</div>
<div align="justify"><span style="font-family:times new roman;"><span style="color:#66ff99;"><span style="color:#ffffcc;"><span style="font-size:130%;"><em>Saya sedang mengira kalau saya juga bisa bekerjasama dengan informasi seputar BMI di Hongkong entah soal permasalahan, cerita-cerita seputar BMI, kekerasan bahkan sampai persahabatan antara BMI di hongkong dengan para BMI di Taiwan. Jadi melalui surat ini, boleh tidak saya minta kerjasama dengan mbak agar bisa memberikan informasi seputar BMI Hongkong.(Satu alenia tidak saya posting karena keterbatasan halaman,he..he..) Mohon balasannya. Terima Kasih.
Redaksi TIM International
</em>
</span></span>Saat itu juga, email itu ku forwad ke </span></span><a href="mailto:nanju66@g.mail.com"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Nanang Junaedi</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">, Redaktur </span><a href="http://www.tabloidapakabar.com/"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">Apakabar</span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">. Karena bagaimanapun, sekecil apapun, jika menyangkut urusan gituan (he..he..karena aku anaknya apakabar), mereka mesti dikasih informasi. </span><a href="mailto:kdian_s@yahoo.com"><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">E-mailku </span></a><span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">direspon dengan cepat (barangkali Bung daktur masih didepan computer habis deadline). Berikut sepenggal Replaynya: </span></div>
<span style="font-family:times new roman;color:#66ff99;">
</span><span style="font-family:times new roman;"><span style="color:#66ff99;"><em><span style="font-size:130%;color:#ffffcc;">Ceritakan saja sebaik dan sejujurnya tentang BMI HK. Tertarik kerja sama, ya mari... Mau kerja sama dg Kristina Dian Safitry sebagai pribadi, silakan. Mau dg AK sebagai institusi, ya silakan. Manajemen AK sendiri sebenarnya punya "mimpi" utk merajut kerja sama dg banyak mitra di banyak negara, karena AK juga pengin terbit dan beredar di banyak negara. So, mengalir saja ndhuk... Ceritakan opo anane ttg "keindahan" HK, lalu minta mereka kasih info ttg jati diri mereka (TIM) dan penerbitan yg mereka lakukan. NJ.
</span>
</em>Bagaimana menurut teman teman? Ada yg sependapat dengan saran Bung Daktur? Atau teman teman punya pandangan lain about that?he..he… Jujur, aku memiliki banyak pertimbangan untuk menyambut baik ajakan Taiwan Index Magazine International.
</span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-68930964816615443832008-03-29T23:46:00.007+07:002008-05-17T15:52:13.539+07:00RESAHKU SEMALAMKurebahkan tubuh munggilnya di atas pembaringan
Kulolosi baju hitam bergambar Hello Kitty
Perlahan, sedikitpun aku tak ingin melukainya
Aku masih binggung, hasratku makin mengebu
Tetapi tanganku masih kaku, pikiranku masih buntu
Aku belum tahu, kata apa yang pantas kuungkap kepadanya
Biasanya, aku vulgar menceritakan kisah perjalananku pulang liputan
Tetapi tidak untuk malam ini.
Sekali lagi kupandang ganas signalnya
Sebelum akhirnya mengayun langkah kekamar mandi
Pesan ayah bunda: jangan lupa bekal dunia akhirat
Artinya aku harus makan dan Sholat
Kuperkirakan satu jam aku membiarkanya sendirian
Saat ku dekati keadaanya semakin runyam
Tak ada nyala, tak ada signal. Aku blingsatan!
Kusentuh lembut, dan….
Laptopku pun kembali menyala
<span id="fullpost"></span>Kristina Dian Safitryhttp://www.blogger.com/profile/05406533837728865896noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-8483489385484602016.post-84348618760753535242008-03-25T23:13:00.011+07:002008-05-17T15:48:31.970+07:00DI BALIK PEMUTUSAN KONTRAK KERJA<div align="justify"><span style="color:#cc0000;">Pemutusan kontrak kerja(<em>terminate</em>), merupakan fenomena yang jamak terjadi dalam ketenagakerjaan di Hong Kong. Meski pemutusan kontrak kerja bisa dilakukan oleh kedua belah pihak, tetapi banyak kasus terminate yang melanggar peraturan atau tidak dilakukan sesuai presedur UU ketenaga kerjaan(<em>employment Ordinance</em>). </span></div><div align="justify">
<a href="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/R-ktBDI-HUI/AAAAAAAAA2M/4yfF5TmYSjs/s1600-h/10+BMI+ANCAMAN+TERMINIT.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181722342312516930" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_RPi17fkfHoI/R-ktBDI-HUI/AAAAAAAAA2M/4yfF5TmYSjs/s200/10+BMI+ANCAMAN+TERMINIT.JPG" border="0" /></a>Di edisi sebelumnya, <em>Apakabar </em>menurunkan laporan seputar fenomena gaji di bawah standar (<em>underpay</em>), salah satu akar persoalan dari kebijakan peraturan Plan A dan Plan B. Nah, seperti diketahui, dampak dari peraturan tersebut, tidak sedikit BMI di-PHK majikan secara sepihak serta dadakan. Mayoritas, menimpa <em>new domestic helper </em>yang masih dalam masa potongan agen.
Kurangnya pendidikan di penampungan, minimnya pembekalan hak-hak BMI, dan perampasan buku panduan (khusus BMI baru datang ke Hong Kong) yang dilakukan oleh agency, merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya pendeportasian. Berikut laporan Kristina Dian Safitry dari <a href="http://www.tabloidapakabar.com/"><em>Apakabar</em></a>
Tawaran agen kepada majikan bahwa pihaknya (agen) bisa setiap saat mengganti pembantu dengan yang baru, seolah menyatakan bahwa pengalaman kerja yang dimiliki BMI (eks) bukanlah jaminan bakal dipertahankan oleh majikan. Seperti yang terekam pada ”kasus” 10 BMI baru-baru ini. <span id="fullpost">
Ke-10 BMI tersebut seluruhnya berasal dari Kendal, Jawa Tengah, dan berangkat melalui PT Bina Duta Amanah Mandiri, Sunter, Jakarta Utara. Mayoritas dari mereka sudah memiliki pengalaman bekerja di luar negeri minimal dua tahun. Toh, tetap saja mereka menjadi korban permainan agency dan PJTKI.
Saat ditemui Apakabar, F, O, SM, N, dan keenam teman lainnya sedang melakukan konseling hukum dengan ATKI. Mengomentari nasib yang mereka alami, mereka sepakat mengatakan telah menjadi ”kelinci percobaan”. Maksudnya, percobaan untuk mengakali si BMI dengan mengambil manfaat dari aturan potongan tujuh bulan. ”Majikan saya bilang, paling lama saya bekerja tujuh bulan, tapi baru tiga bulan sudah di-terminate,” kata N, 24 tahun.
Keterangan tersebut dibenarkan rekan-rekan N, yang – waktu ditemui Apakabar – mengaku sedang terancam di-terminate majikan dan sedang berusaha keras agar tidak dipulangkan ke tanah air. Untuk diketahui, ancaman majikan bahwa si pembantu akan dipulangkan ke tanah air sebelum atau sesudah melunasi masa potongan, telah disampaikan sejak pertama kali mereka mulai bekerja.
Itu sebabnya, pekan lalu, BMI yang akhirnya benar-benar dipulangkan ke tanah air, berusaha mengambil tindakan. Di antaranya dengan melakukan konseling dan tidak membayar potongan agen mulai bulan keempat. Meskipun, kata SM, dirinya pening diteror agen dan bank finansial, tempat yang ditunjuk agen untuk membayar biaya potongan. ”Lha, kok enak betul, bikin aturan sak enak udele dhewe,” cetus BMI yang bekerja di daerah Chai Wan.
Ke-10 BMI yang diberangkatkan dan diterbangkan PT dalam waktu hampir bersamaan itu, akhirnya dipulangkan ke tanah air setelah bekerja di rumah majikan rata-rata 3-6 bulan. Meski salah satu dari BMI itu mengaku memiliki majikan baik, tetapi sang majikan menolak mempertahankan dirinya. ”Soalnya, kata majikanku, dirinya sudah terikat perjanjian dengan PT.”
Yani, anggota ATKI dari basis Bawah Jembatan Victoria yang memberikan pemahaman hukum kepada mereka, menyampaikan: ke-10 BMI tersebut sebenarnya telah menyusun rencana untuk mendatangi agency beramai-ramai, meminta kejelasan tentang nasib mereka. Sayangnya, sebelum hal itu terlaksana, mereka keburu diterbangkan ke tanah air.
Banyak cara atau alasan yang kerap dipakai majikan untuk memulangkan BMI. Misalnya, dianggap tidak bisa bekerja, tidak cakap berbahasa (Kanton), dan so pasti – yang paling menonjol – adalah tuduhan mencuri. Seperti yang dialami Yuliati Ningsih, BMI asal Blitar, yang berangkat ke Hong Kong melalui PT Gondosari. Baru sebulan bekerja di rumah majikan di Mong Kok, Yuli sudah dideportasi majikan dengan tuduhan yang tidak terbukti benar.
Baru Sebulan Kok Disuruh Pulang
Yup, tidak ada alternatif pilihan yang bisa diambil oleh seorang BMI, manakala majikan sudah keukeuh hendak memulangkan pekerjanya. Sekalipun si pekerja sudah rela diperlakukan dengan sewenang-wenang, sampai mau dikasih makanan basi dan tidur di lantai, tetap saja majikan yang punya kuasa.
Bahkan, tidak jarang terjadi, sampai si BMI memohon-mohon agar tetap dipekerjakan, hasilnya sia-sia. Dalam beberapa kasus, hal itu justru acap mendorong si majikan untuk membuat alasan palsu yang, herannya, ditelan mentah-mentah oleh pihak yang dilapori: agen maupun PJTKI. Si BMI pun jadi bulan-bulanan kemarahan agen, yang lantas diikuti dengan pendeportasian dan pelecehan begitu tiba di penampungan yang memberangkatkannya dulu.
Derita seperti itu, sekadar contoh, dialami oleh Yuliati Ningsih. Baru sebulan bekerja di rumah majikan nun di daerah Mong Kok, BMI asal Blitar ini tiba-tiba sudah di-terminate. Padahal, selama bekerja, tak sekalipun majikan memperlakukan Yuli dengan layak. Setiap malam, ia disuruh tidur di lantai ruang tamu tanpa selimut dan bantal yang memadai. Akibatnya, tubuh Yuli pun sering terasa ngilu, bak remuk tulang di badan.
Soal makanan juga demikian. Yuli hanya bisa mengisi perut dari makanan sisa-sisa majikan, itu pun diberikannya secara bertahap. Sampai-sampai, makanan-makanan tersebut sudah dalam keadaan basi ketika sampai di tangan BMI plan B ini. Namun, ibarat ajal seseorang yang tidak tahu kapan datangnya selain Tuhan, mendadak sontak Yuliati di-terminate majikan. Tuduhannya: mencuri...!
So pasti, BMI yang barusan lulus SMA ini amat-sangat terkejut. Ia mengalami tekanan psikologis yang berkepanjangan. Di rumah agen, rasa itu tak bisa hilang. Pikirannya kacau memikirkan tuduhan majikan yang jauh dari kebenaran itu. Meski saat itu ia dimarahi habis-habisan oleh agen, Yuli seolah tak mendengar apa-apa. Pikirannya dihantui oleh pertanyaan: kok bisa-bisanya ia dituduh mencuri. Bagaimana mungkin perhiasan majikan
mencuri, saya hanya bisa menangis. Saya mengkhawatirkan kondisi kejiwaan adik saya,” tutur Jumiati, kakak kandung Yuli, saat dihubungi Apakabar.
Sesuai jadwal tiket yang dibelikan majikan, Yuli bersiap kembali ke PT di tanah air – seperti perintah agen. Pada detik-detik keberangkatan itulah, kabar yang sangat menyakitkan harus ia terima. Tepat di saat ia bersiap hendak meninggalkan Hong Kong, majikan tiba-tiba mengabarkan pada agen kalau perhiasannya sudah ditemukan. Barang itu tidak pernah hilang atau dicuri si pekerja yang berwajah lugu itu, melainkan cuma lupa naruh.
Kabar itu sudah kasip, atau memang sengaja dikasipkan. Dalam kenyataan, BMI yang telanjur down itu tetap saja dipulangkan ke tanah air. Sialnya, perlakuan buruk harus kembali ia terima setiba di PT, tempat ia ditampung dahulu. Pihak PT tetap bersikukuh menganggap Yuli tidak becus bekerja, dan mencuri barang majikan. Setelah merampas nomor telepon yang disimpan Yuli, staf PT menyuruh calon BMI yang dikenal Yuli untuk menendangi BMI korban terminate dadakan ini.
Tidak tahan mendapat tindak kekerasan, bungsu dari tujuh bersaudara itu akhirnya memilih kembali ke tengah-tengah keluarga di kampung halaman. Tentu saja, hal itu baru bisa dilakukan setelah keluarganya membayar denda sebesar Rp 6 juta kepada pihak PT. ”Nggak apa-apa membayar denda segitu, yang penting adik saya selamat sampai rumah,” cetus kakak kandung Yuliati.
Jumiati, sang kakak, sangat menyayangkan tindakan yang telah dilakukan majikan, juga agen maupun PJTKI. Dia bilang, kalau memang tidak puas dengan cara kerja adiknya, mbok ya jangan kayak begitu caranya. ”Kalau mau memulangkan, ya pulangkan saja. Itu kan hak setiap majikan. Seperti agen dan PJTKI itu lho, kenapa percaya begitu saja laporan dari majikan adik saya. Di mana janjinya yang akan melindungi anak buah?” ujar Jumiati, berapi-api.
Jadi? Pemutusan kontrak kerja dadakan yang dialami BMI – baik BMI masa potongan ataupun setelah melunasi potongan tujuh bulan berturut-turut – memang sudah menjadi pemandangan klasik di sekitar kita. Tidak sedikit kalangan yang kemudian berspekulasi, cara-cara seperti ini galibnya merupakan ”teori” agen (di Hong Kong maupun di Indonesia) yang ingin mengeruk keuntungan setinggi-tingginya. Nah, dalam kasus terminate terhadap BMI anyar (masih dalam masa potongan agen), permainan agen umumnya dianggap semata-mata demi mengeruk keuntungan dari BMI anyar korban terminate majikan. Pertanyaannya, bagaimana dengan BMI lawas, tidak adakah yang di-terminate majikan? Jika ada, apa penyebabnya?
Awas, Terminate Jelang Finish Contract!
Pemutusan kontrak kerja (terminate), apalagi yang dilakukan secara dadakan, masih sering dialami BMI. Tidak peduli si BMI tergolong baru (new domestic helper) – seperti ditulis Apakabar edisi lalu – maupun BMI lama yang bahkan sudah mendekati finish contract. Dalam kenyataan, BMI yang telah memiliki pengalaman kerja (eks) luar negeri pun rentan menghadapi masalah ini.
Contoh paling gres dialami Sofia, yang ditemui Apakabar di Building House yang dikelola Jessy dan Fatimah. Sofia yang bekerja di rumah majikan yang keturunan Bangladesh, akhirnya terhenti di tengah jalan. ”Hanya sekitar setahun saya bekerja di rumah itu,” tuturnya. Selama itu, menurut penuturan anak buah PT Indo Tak-Tangerang, haknya sebagai BMI dapat ia nikmati tanpa masalah. Baik soal gaji maupun hari libur.
Lalu, kenapa ia di-terminate majikan secara mendadak? ”Mungkin, karena saya sering memecahkan barang milik majikan,” aku anak buah Sweet Home Agency, Times Square, yang juga mengantungi jam terbang bekerja dua tahun di Singapura.
Sofia tak memungkiri, selama bekerja di rumah majikan yang terdiri atas lima anggota keluarga itu, ia memang sering melakukan kesalahan. Ini terkait dengan hobi majikan yang gemar mengoleksi barang-barang, sehingga rumahnya penuh dengan aneka perabotan. ”Entahlah, kenapa majikan nggak mau memotong gaji saya saja, daripada dipulangkan seperti ini,” keluh BMI asal Cilacap ini.
Pemutusan kerja akibat kesalahan kerja juga dialami Nonik Sulistiowati, anak buah Logon Corp, Employment Agency. Bedanya, ia di-terminate menjelang finish contract, sedangkan Sofia di-terminate karena sering memecahkan barang. Uniknya, ibu satu anak asal Madiun ini – menurut pengakuannya – di-PHK hanya gara-gara terlambat mengerjakan perintah majikan. ”Saat itu saya disuruh majikan memasang korden jendela. Karena pekerjaan lagi numpuk, kesempatan belum ada. Majikan kemudian menuduh saya nggak mau nuruti perintah,” ujar Nonik, dengan mimik sedih.
Nonik menuturkan, selama bekerja di rumah majikan, kemarahan, cacian, sudah menjadi makanan sehari-hari. Meski majikan tak pernah melakukan penganiayaan, tetapi menghadapi majikan ”model” begitu tetap saja membuatnya tertekan. Sudah begitu, majikan sering melontarkan ancaman mau meng-interminate. ”Cerewetnya minta ampun, Mbak. Mereka itu kan nggak kerja, jadi setiap hari dikontrol majikan,” kata BMI yang pernah tiga bulan tinggal bulan di PT Lucky Mitra Abadi, Bekasi Timur.
Nonik sangat menyesalkan tindakan majikan yang memulangkannya secara mendadak. Apalagi, pemutusan kerja dilakukan hanya dua bulan menjelang finish. ”Ndak tahulah, barangkali itu cuma alasan majikan saja,” kata BMI yang berangkat ke Hong Kong pada 27 Februari 2006.
Kejadian serupa – pemutusan kerja mendekati finish – juga dialami Yatemi, warga Desa Krebet, Kec. Jambon, Ponorogo. Gara-gara terlambat pulang libur, anak buah Overseas Employment Agency ini di-terminate majikan secara mendadak. Mau tak mau, BMI yang berangkat melalui PT Bangunsari, Pasuruan, ini mesti angkat kaki dari rumah majikan. Ia hanya mengantungi ”pesangon” HK$ 3.487, total angka dari biaya beli tiket, gaji satu bulan, dan akomodasi makan selama perjalanan.
Meskipun BMI yang pernah bekerja di Flat 17 F, Tower 125, 11 Po Yan Street, ini masih tak percaya terhadap pemutusan kerja tersebut, ia terus berusaha mencari majikan baru lagi. Tentu saja, dengan harapan, kisah pertamanya yang berakhir pahit tak terulang kembali.
Pemutusan kontrak kerja, seperti diketahui, memang merupakan fenomena yang jamak terjadi dalam ketenagakerjaan di Hong Kong. Sialnya, banyak kasus terminate yang melanggar aturan. Mengutip Buku Petunjuk Pelayanan di Hong Kong, pemutusan kontrak kerja bisa dilakukan oleh kedua belah pihak. Namun, pemutusan kontrak harus dilakukan sesuai prosedur.
So, apabila pihak BMI yang ingin menghentikan kontrak kerja, ia harus memberitahukan majikan satu bulan sebelumnya secara tertulis. Tetapi jika tanpa pemberitahuan sebelumnya, si BMI harus membayar ke majikan satu bulan gaji. Peraturan yang sama juga berlaku bagi majikan. Namun, majikan berhak menghentikan BMI tanpa membayar satu bulan gaji, apabila BMI melakukan kesalahan. Di antaranya, tidak mematuhi perintah yang sah dan wajar, berperilaku tidak sesuai dengan tugas BMI, tidak jujur atau terbukti melakukan kejahatan, dan selalu lalai dalam melakukan tugas-tugas BMI.
Sedangkan kompensasi yang harus diterima BMI korban terminate yang telah finish contract meliputi: pelunasan gaji yang belum dibayarkan, pembayaran satu bulan gaji (pemutusan kontrak kerja), uang tiket, biaya makan/uang saku perjalanan pulang ke negara asal, pembayaran atas cuti tahunan dan hari libur yang tidak diambil, plkus jumlah lain sesuai dengan ketentuan UU Ketenagakerjaan dan kontrak kerja BMI.
Apabila kontrak kerja dihentikan sebelum waktunya, BMI memiliki izin tinggal selama dua minggu atau biasa dikenal sebagai ”peraturan dua minggu”. Sebelum berakhirnya masa izin tinggal, si BMI hendaknya melapor ke Imigrasi. Kalau tidak, BMI bisa dianggap overstay alias tinggal melebihi batas waktu yang diizinkan pemerintah.
Intinya: kedua belah pihak – majikan maupun BMI – bertanggung jawab untuk memberitahu direktur Imigrasi secara tertulis dalam waktu tujuh hari sejak pemutusan kontrak kerja yang dilakukan sebelum waktunya itu. Masalahnya, ini dia, ketentuan yang sangat terang benderang itu acapkali diabaikan. (Kristina Dian S)
</div></span>