tag:blogger.com,1999:blog-78438252008-06-27T17:59:44.509+07:00di pelipir zamandikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comBlogger148125tag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-54450829002438723612008-06-27T17:57:00.002+07:002008-06-27T17:59:44.538+07:00Si MisteriusIni cerita tentang pengalaman sahabat saya.<br />Suatu hari dia kedatangan orang penting di kantornya. Layaknya inspeksi mendadak, mereka satu per satu pun mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Seperti konsultasi dokter, mereka bergantian masuk ke ruangan si orang penting itu. Layaknya ruang tunggu dokter juga, situasi itu pun sering membuat kebanyakan orang was-was akan hal-hal seperti; 'penyakit yang diderita', 'biaya yang dibebankan', dan lain-lain seterusnya.<br /><br />Beberapa kolega kantornya sudah keluar dari ruangan itu dengan muka sumringah. Pertanda mendapat hasil yang bagus. Atau komentar yang bagus, syukur-syukur pujian. Bisa selangit rasanya. Orang penting gitu lho... Namun tidak demikian halnya dengan sahabat saya ini. Dari semua kolega kantornya yang masuk ke ruangan tadi, dia malah orang yang paling lama harus berada di ruangan itu. Dan bisa ditebak juga, hasilnya bukanlah kabar baik. Padahal sahabat saya ini bukanlah bodoh. Cemerlang, bisa dibilang begitu.<br /><br />Ketika keluar dari 'ruangan gas' dengan wajah yang sedih, salah satu temannya dengan penasaran bertanya apa yang terjadi. Dengan masih lesu dia kemudian menjabarkan apa saja yang dikatakan si orang penting tadi di dalam. Bahwasanya sahabat saya itu ternyata kurang dalam ini dan itu. Harus lebih begini dan begitu. Lebih diarahkan ke sini daripada ke situ. Jangan terjebak ke ini, mendingan alihkan ke yang lebih baik. Dan masih banyak lagi. Cukup membuat dia sangat rendah diri di mata teman-temannya. Tentu saja teman-temannya, malah bukan si orang penting itu. Hehehe.<br /><br />Dari keminderannya kalau dibandingkan dengan teman-temannya yang lain tadi, sebenarnya sahabat saya itu mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga dari sekedar 'masuk-ya-senang-keluar dengan muka bangga' tadi. Bagaimana tidak, hanya dia yang mendapat pengarahan langsung dari orang penting tadi. Dia pun berkesempatan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dia sering tidak sadari sebelumnya. Sebagai bonus, dia pun mendapat anjuran akan apa yang mestinya dilakukan! Satu kelebihan yang teman-temannya tidak dapat. Walau pun, hehehe... mungkin juga teman-temannya yang lain tadi sudah tidak perlu bimbingan lagi.<br /><br />Tapi, sesering apa sih kita bisa melihat sebuah proses dengan jelas dan mengerti lalu kemudian mendapat berbuat sesuatu yang lebih baik lagi dari situ?<br />Kalau sedang dalam suasana khusyuk dan ideal setelah membaca bacaan seperti ini sih, saya akan bilang "Setiap saat doooong..."<br />Tapi come on lah, enggak kan?<br /><br />Saya bersyukur bisa mendengar cerita ini. Seperti menyadarkan saya dari doa-doa yang sering saya tunggu jawabannya. Daripada menunggu, ternyata kita bisa melihat jawaban itu dari sisi lain. Semua tanda-tanda alam, bahkan kejadian sehari-hari. Lagian, saya juga belum pernah ngobrol ama Tuhan; saya berbicara, dia membalas langsung. secara audio! Dia selalu menjawab dengan caraNya.<br /><br />Si misterius!dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-72181108540328570632008-04-20T20:51:00.004+07:002008-04-20T22:14:23.710+07:00Papa Banyak DuitBaru-baru ini Kiara, putri sulung kami yang berusia 3,5 tahun, diajak Mamanya jalan-jalan ke PI Mall. Karena bukan akhir pekan, maka agenda perjalanan kali ini tidak seperti biasanya; naik merry go round, ke Gramedia dan kalo beruntung ke toko mainan di Metro atau Toys City.<br /><br />Seperti sudah menjadi ekspektasinya, Kiara kemudian menanyakan kepada Mamanya:<br /><br />"Mama, kok kita nggak beli <span style="font-weight: bold;">My Little Pony</span> sih?"<br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >[My Little Pony adalah mainan boneka kuda kecintaan Kiara yang sangat banyak variannya dan terus menerus mengeluarkan varian terbaru. Cukup mahal untuk sebuah mainan sehingga kami mempunyai kebijakan untuk membelikan Kiara secara berjangka atau pada momen-momen tertentu saja. Pun demikian, kakek, nenek, tante dan pamannya cukup sering mengacaukan kebijakan ini. :)]</span><br /><br />"Mama lagi nggak punya duit, sayang..." kata si Mama. Masih mencoba meyakinkan Kiara, si Mama menambahkan, "Nanti yah, Mama kerja dulu biar dapat duit buat beli My Little Pony-nya..."<br /><br />Dengan kesederhanaan pikiran dan logika seorang anak berumur 3,5 tahun, Kiara pun berkata<br /><br />"Kalo gitu minta sama Papa aja yah, kan Papa kerja melulu..."<br /><br />Wiw!!!<br />Butuh beberapa waktu untuk mengkaji lagi kejadian tersebut.<br /><br />Tentu saja kalimat tadi sangat lucu dari seorang anak kecil. Di mana dalam alam pikirnya dia sudah mulai menyambungkan berbagai informasi yang dia terima kemudian menyimpulkannya dengan sederhana. Kerja, dapat duit. Banyak kerja, banyak duit! Simpel kan?!<br /><br />Nah sekarang mari berpikir dari sisi si Papa.<br /><br />Seketika pengalaman, wawasan, keahlian bahkan penghasilan yang sudah dicapai menjadi basi oleh perkataan polos tadi. Apalagi kali ini berasal dari anak sendiri. Otoritas yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun namun jujur.<br />Bukan bos, kolega atau office boy di kantor dengan perintah dan arahannya.<br />Bukan temen sepermainan dengan anjuran dan nasihatnya.<br />Bukan juga pasangan hidup yang masih bisa kita argumentasikan.<br /><br />Seperti tidak ada gunanya menjelaskan kerumitan dari semua proses yang biasa dilalui manusia dewasa. Baik untuk dia, maupun diri sendiri!<br /><br />Sebuah kebenaran memang nggak bisa diutak-atik dari segi mana pun.<br /><br />Kita orang dewasa emang suka ribet sendiri ya...<br /><br /><span style=";font-family:lucida grande;font-size:85%;" >[Tulisan ini ditulis pada hari Minggu, jam 10 malam, di sebuah ruang editing rumah produksi... Papa sedang bekerja.]</span>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-15220370545519884972008-04-07T01:07:00.004+07:002008-04-12T12:05:40.011+07:00Pesan PerjuanganBaiklah saya akan mencoba menyampaikan pesan ini dari akhir.<br /><br />Ketika saat ini kebebasan akses internet di Indonesia terganggu kenyamanannya diakibatkan film FITNA dan statement dari Roy Suryo yang membuat geram kalangan pengguna internet, saya tertarik untuk membumbuinya dengan pesan yang naif.<br /><br />Bahwa sebelum nantinya kita bertekad untuk maju ke Menteri Kominfo atau siapapun yang kita anggap berkompeten untuk mendengarkan suara ini, hendaknya kita bisa berjuang dengan tulisan yang lebih berkualitas lagi memperjuangkan kenapa YouTube, Multiply, MySpace dan lainnya tidak perlu ditutup.<br /><br />Membeberkan segala kebaikan dan manfaat situs-situs tersebut mungkin membantu. Namun jauh lebih ampuh apabila kita bisa membuat sesuatu yang lebih maksimal dari kegunaannya. Membuat situs-situs tersebut memang menjadi sumber informasi yang <span style="font-style: italic;">valid</span> untuk kemajuan bangsa. Memberi inspirasi yang membuat kita bisa berkarya lebih dahsyat lagi.<br /><br />Niscaya tuduhan-tuduhan sembarangan yang dilontarkan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab akan segera terabaikan bak kentut. Berpulang juga kepada kita, apakah kita cukup menjadi seperti kentut saja menanggapi reaksinya; Sama bau dan tak berisi.<br /><br />Bertanggung-jawabkah kita?<br /><br />Teringat segerombolan mahasiswa yang sedang berdemo di jalanan dengan muka berseri-seri. Asal masuk liputan televisi, dapat makan siang gratis, dan hore-hore bersama teman-teman. Di depan, temannya yang sangat serius berorasi sedang memekik segala hujatan tentang kebenaran. Satu orang serius, puluhan lain minus!<br /><br />Teringat juga ketika, lagi-lagi, dari arah kerumunan mahasiswa yang berdemo Mei 98 itu, terlempar sebuah bungkusan berisi kotoran manusia, hinggap ke muka salah satu aparat yang mereka benci itu. Saya tidak perduli lagi siapa yang benar di situ. Namun sepertinya kita hanya suka berkelahi. Bukan berjuang.<br /><br />Saya memang sedih ketika Malaysia mengklaim bahwa Batik adalah milik mereka. Tapi jauh lebih menyedihkan melihat reaksi dari kita yang hanya bisa memaki atau memperuncing sentimen terhadap tetangga kita itu. Sepertinya kita memang tidak cukup pintar menjaga tradisi yang baik. Karena mungkin tradisi selalu dianggap kuno. Bahkan agama. Dan tidak semua orang juga senang membahas keagamaan. Jujur saja.<br /><br />Tiga contoh topik di atas sering sekali menjadi cerminan orang Indonesia dalam menyikapi suatu hal yang secara kandungannya sarat dengan nama bangsanya sendiri: INDONESIA. Norak-noraknya. Esmosi-esmosinya. Fanatik-fanatiknya. Ikut-ikutannya.<br /><br />Menurut teman saya, dari 200juta penduduk Indonesia, hanya 10% yang menggunakan internet. Mungkin hanya 3% dari jumlah tadi yang punya keprihatinan akan masalah pemblokiran situs-situs ini (yang lain mungkin asik <span style="font-style: italic;">upload</span> foto2 di Facebook dll. hehe).<br /><br />Maka dari itu saya memohoooon sekali agar kalau kita memperjuangkan sesuatu itu benar-benar pada konsep yang... keren! Nggak sekedar eforia satu bulan. Atau menjadi slogan-slogan kosong di stiker-stiker mobil. Buktikan bahwa kita juga tidak sama kentutnya dengan mereka yang tidak bertanggung-jawab itu.<br /><br />Bagi yang tidak mengerti jangan juga diajak mengerti. Tidak semua orang harus mengerti kok. 200 juta <span style="font-style: italic;">is a big number, my man!</span><br /><br />Di Indonesia ini susah sekali mencari orang yang serius akan kemajuan bangsanya.<br /><br />Kalau <span style="font-style: italic;">you </span>salah satunya, bijaksanalah!dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-83894759593301948342008-01-30T11:41:00.001+07:002008-01-30T12:08:16.525+07:00Soekarno, Soeharto and UsAs we're all born in this world to play each roles.<br /><br />One to play hero.<br />One to play bad guy.<br />One to play the pessimist, nor the contrary.<br />One to play Soekarno.<br />Or sometimes Soeharto.<br /><br />Now, why should we play the whiner?dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-76295362043579712892008-01-24T00:57:00.001+07:002008-04-12T12:08:59.559+07:00Satu dari Seribu MaafDi salah satu khotbah kebaktian Minggu yang tak diduga (baca: Gua selalu menyediakan 'ruang kejut' dalam diri tiap kali mendengar khotbah. Selalu ada yang <span style="font-style: italic;">refreshing</span> tentang khotbah Minggu; entah itu <span style="font-style: italic;">inspiring</span>, membosankan atau malah bikin hati bertentangan.) terkejutlah gua akan sebuah bahasan yang pendeta sampaikan kepada jemaatnya.<br /><br />Begini dia berkisah:<br />"Sering sekali di akhir setiap doa, selalu kita meminta ampun dan memohon agar dosa-dosa kita dihapuskan dan kemudian ditutup dengan 'Amin' sebagai wujud kesungguhan doa tersebut. Tapi pernahkah terpikir oleh kita kalau-kalau Tuhan saat itu juga balik bertanya kepada kita 'Dosamu yang mana, anakKu?'..."<br /><br />Akal manusia gua saat itu juga mengalami ironi yang mirip seperti es campur!<br /><br />Ada perasaan geli membayangkan skenario tersebut. Bak Tarzan memergoki Alm. Mas Basuki -yang biasanya berperan sebagai pembantu- yang sedang mengeluh segala sesuatunya tentang majikannya. Tonton saja setiap episode Srimulat, pasti ada adegan yang mirip dengan itu. Atau skenario lainnya yang manusia sudah sering mencoba menempatkan keberadaan Tuhan sebagai sesuatu yang 'lebih ringan' untuk dicerna. Memanusiakan Tuhan, mungkin begitu.<br /><br />Di satu sisi lagi ada sebuah sentilan tersendiri terhadap pola berdoa (paling tidak gua) yang sudah seperti rumusan pelajaran "Sebutkan Nama-Nama Menteri" atau Budi, Ibu Budi dan Bapak Budi. Membuka doa, inti doa, penutup. Selalu berpola seperti itu. Sampai sering kita tidak mengerti kesungguhan doa tersebut karena terlalu wajib dilakukan.<br /><br />Tapi yang paling membuat gua tertegun adalah pertanyaan balasan tadi.<br /><br />Dosa? Dosa gua yang mana?? Manusia tentu saja banyak dosanya. Tapi yang mana? Bisa disebutkan satu per satu? <span style="font-style: italic;">God is in details, so true</span>. Apakah kita harus selalu membuat daftar dosa sehari-hari agar tidak lupa? Melupakan dosa juga tidak menghapus dosa bukan? Udah gitu, manusia kan sering juga tuh mengingat-ingat dosa orang lain :)<br /><br />Runyam ya?<br />Wasaunyam!<br /><br />Dari situ gua mendapati kebesaran dari makna khotbah tadi. Bahwa masih ada maaf. Maaf diciptakan bukan sekedar kalau kita sedang ingin memotong pembicaraan atau kata pembuka ketika ingin bertanya. Namun fungsi maaf ketika kita memang sungguh-sungguh meyakininya. Baik dalam imbuhan 'di' maupun 'me'. Dua-duanya harus dengan kesungguhan. Yang mana memang sering kita dapati itu sulit. Gua suka penasaran kalau ada orang yang mendapat gelar 'pemaaf'. Pasti sulit sekali hidupnya. Hehehe...<br /><br />Jadi apa/siapa yang harus kita maafkan: dia, doi, bapak, ibu, saudara, keadaan, musuh, Pak Harto, sistem, atau malah diri sendiri??<br /><br />Tapi... apanya?<br /><br />:)<br /><br /><div style="text-align: left;"><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >"Waaaaaapa apa apanya dong</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Aaapanya dong</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Apanya dong</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Dang-ding-dong...</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Waaaaaapa apa apanya dong</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" > Aaapanya dong</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Dang-ding-dong</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Dyaaaaaang-ding-dooooooooong...."</span><br /><span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Makasih Teh Euis...</span><br /></div>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-88702478694194292062008-01-23T15:02:00.001+07:002008-04-12T12:11:36.592+07:00Hantu Zaman<span style="font-style: italic;">Maka pada saat itu,</span><br /><span style="font-style: italic;">siang terik itu, </span><br /><span style="font-style: italic;">angin berselimut hening, </span><br /><span style="font-style: italic;">dan pasir enggan luruh menunjuk waktu...</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Dan saat itu,</span><br /><span style="font-style: italic;">semua kering dari yang pernah hijau, </span><br /><span style="font-style: italic;">tercekat oleh hitamnya arang, </span><br /><span style="font-style: italic;">menggigit ke semua pori yang lama tak berkeringat...</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Matahari tidak lagi sahabat, </span><br /><span style="font-style: italic;">bulan baru saja menerawang di kabut dini,</span><br /><span style="font-style: italic;">mencetak jelas bayang tubuhku yang pernah kau kenal...</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Saat itu kau datang.</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Geming mata tak lagi merasakan tanya,</span><br /><span style="font-style: italic;">sudut bibir tak hendak menyapa kabar,</span><br /><span style="font-style: italic;">walau tahu kau akan datang...</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Entah hitungan bulan dan tahun,</span><br /><span style="font-style: italic;">nasib dan legenda,</span><br /><span style="font-style: italic;">rindu dan alasan,</span><br /><span style="font-style: italic;">kita harus bertemu...</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Pada saat itu.</span>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-72270080993867896692007-11-11T00:47:00.002+07:002008-04-12T12:14:35.477+07:00Busway Oh Busway"Wrg Pdk Indh Ntar mlm akn mli lg pek. di metro pi. Diharapkan partisipasi warga tuk hadir guna menghentikan pek. tsb. Jam 22.00 kita kumpul di parkiran golf. Please fwd"<br /><br />Demikian sebuah sms masuk malam itu ketika saya sedang konsentrasi membaca buku "Ngobrol Iklan, Yuk!"-nya Budiman Hakim sambil sesekali mengintip ke layar TV yang sedang menyiarkan Liga Inggris.<br /><br />Merasa tergelitik dengan topik yang sedang panas (bukan hangat lagi) dibicarakan seantero Jakarta bahkan sempat menjadi headline sebuah koran nasional, saya kemudian membalas dengan begini:<br /><br />"Saya mendukung pekerjaan (busway) tersebut. Jadi saya tidak ikut. Ngga usah ditungguin ya. Btw ini siapa ya?" (kebetulan saya tidak mengenal siapa pengirimnya. Dan nomer tersebut seperti nomer selular umum, bukan nomer-nomer premium biasanya)<br /><br />Berharap mendapat balasan panas dari pengirim di seberang sana, ternyata pengirim adalah teman saya yang mengaku mendapat forward-an sms ini lalu kemudian membantu menyebarkannya saja.<br /><br />Perdebatan panas pun urung terjadi. Selain cantik, teman saya ini sepertinya bukan sumber atau pelaku langsung dari 'gerakan' ajakan menghentikan busway tersebut. Jadi buat apa diteruskan?...<br /><br />Baik saya teruskan di sini saja.<br /><br />Saya memang mendukung proyek pembangunan busway di Pondok Indah. Dan daerah-daerah lainnya yang sudah maupun dalam perencanaan pembangunannya.<br /><br />Pun demikian, saya juga tinggal di daerah pemukiman Pondok Indah. Merasakan keramaiannya yang bertambah. Bermacet-macet menuju PI Mall yang jaraknya cuma 'selemparan k*lor'. <br />Berjejal-jejal di jalan. Serobot sana-sini mengambil dan diambil jalurnya. Belum lagi bersaing dengan kendaraan umum yang tak pernah patuh akan kodratnya :)<br /><br />Singkat cerita: saya juga bagian dari penderitaan macet Jakarta. Di bagian Jakarta mana pun!<br /><br />Sejauh ingatan saya, gambaran jalanan Jakarta yang masih belum ruwet dan macet hanya terlihat di film-film tahun 70an. Ketika itu masih sering sebuah penghubung adegan digambarkan dengan Bundaran HI. Tidak macet. Bahkan lengang.<br /><br />Sekarang sepertinya sudah menjadi pengetahuan yang harus umum bahwa Jakarta memang kota macet dan semrawut. Jakarta = macet. Siapa pun tahu itu. Dan bagi yang mengetahui hal ini, tidak ada satu pun yang setuju bahwa hal ini lumrah diterma apa adanya.<br /><br />Namun ketika akhirnya sebuah rencana penyelesaian masalah ditawarkan, ada pula yang tidak setuju. Lah gimana ini? Setelah 30 tahun (kalau mengukur film-film tadi) menderita macet dan polusi, kok solusi seperti ini malah ditentang sih? Apa yang salah?<br /><br />Apakah karena masih asyik membeli mobil-mobil dan motor-motor baru sehingga ruas jalan menjadi semakin sedikit untuk dilewati?<br /><br />Menunggu orang yang baik hati dan tidak sombong untuk mengerjakan proyek ini dengan baik dan benar tanpa sedikit pun noda KKN? Konon, masalah pembangunan busway ini sarat dengan masalah korupsi atau tuduhan senada; masalah klasik itu.<br /><br />Atau sebagian lingkungannya merasa terganggu akan bisingnya pekerjaan? Toh kompensasi fasilitas penghijauannya sudah disediakan.<br /><br />Gengsi? Waduh.<br /><br />Saya tidak menutup mata bahwa masalah-masalah tersebut maupun tidak tersebut di atas memang terjadi dan masih butuh kerja keras untuk penyelesaiannya. Namun tidak bisakah hal ini dilihat sebagai langkah awal untuk sebuah... kebaikan?<br /><br />Beberapa waktu yang lalu saya juga ikutan ngomel dengan pekerjaan underpass yang terjadi di sekitar Pondok Indah. Sampai beberapa saat saya kemudian lupa akan omelan saya ketika sedang menyetir melewati jalanan itu tanpa menyadari sebuah perubahan telah terjadi menjadi suatu bentuk yang mulai teratur. Saya malu kalau harus mengingat itu.<br /><br />Dan kebijakan-kebijakan lainnya yang lagi-lagi tanpa saya sadari telah lambat laun merubah pola tidak disiplin menjadi lebih baik. Sebut saja pemakaian helm buat pengendara motor. Pemakaian sabuk pengaman dalam berkendara mobil. 3 in 1, sebuah solusi mengatasi kemacetan dengan anjuran menggunakan kendaraan umum.<br /><br />Sentimen yang berlarut-larut sudah semestinya dijernihkan satu per satu. Fungsi sebuah tujuan sering menjadi kabur akan faktor-faktor yang menyertai di sekelilingnya. Rancangan-rancangan itu semuanya baik. Tinggal bagaimana manusia menjalankannya dengan baik atau tidak. Lah, manusia itu kita-kita juga bukan?<br /><br />Pastinya, tidak akan berjalan mulus seperti mimpi. Tapi saya tidak akan berpanjang-panjang akan sebuah gambaran ideal. Kita semua tahu dan mampu.<br /><br />Dan kalau pun saya tidak beruntung untuk dapat menikmati perubahan baik itu. Saya berdoa agar anak-anak saya bisa.<br /><br />Masa depan.<br /><br />Bukan begitu?dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-64876688740917630912007-10-15T00:58:00.000+07:002007-10-15T01:00:05.791+07:00Telur dan AyamKalau aku berserah padaMu<br />Sudahkah aku mencoba?dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-75722567096298292642007-10-01T09:57:00.002+07:002008-04-12T12:19:48.850+07:00Selubung MimpiManusia-manusia ekstra itu rela berdesak-desakan seharian suntuk, semalaman yang tak nyaman. Demi sebuah peran yang hanya beberapa detik saja pada sebuah layar. Yang mungkin menjadi batu pijakan mereka nanti, menjadi bintang, dipuja, dicerca dan dipanut... di menit-menit infotainment.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /></div><br />Mimpi-mimpi itu merubah wajahnya menjadi sapi. Besok anjing. Lusa mandor. Tahun depan petinggi. Suap nasi anak-istri pun semakin memudar menjadi kerukan berlian Eropa. Dan temannya yang kemarin menjadi anjing juga, mungkin harus dia lahap juga. Agar tidak menjadi harimau yang memangsanya besok.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /></div><br />Mimpi itu membawanya ke sebuah gunung yang sepi. Dari sana semua terlihat kecil. Agar bisa diatur maupun dionar. Tidak ada yang mencampuri. Mungkin hanya bisikan angin yang bisa membuatnya bisa bermimpi untuk terbang. Lebih tinggi.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /></div><br />Sementara di bawah sana, mereka lapar. Mereka marah. Mereka bingung. Ada juga yang kenyang. Ada juga yang terbuai. Bahkan ada pula yang tak mempunyai apa-apa. Bahkan tak boleh punya apa-apa. Semua karena mimpi.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /></div><br />Mimpinya liar tak bertuan. Setiap hari ia bermimpi. Di setiap sudut ia akan menutup matanya. Mencoba memandang dari kelopak hitam matanya. Akan sebuah kenyataan yang ia hindari. Sekalipun ia terbangun, ia akan tidur lagi untuk bermimpi. Tak mau mengakui tuan yang mempunyai kenyataan.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /></div><br />Seorang sahabat berdebat tentang mimpi. Dalam mimpinya adalah sebuah negeri yang indah. Damai menurut definisinya. Unik seperti dirinya. Dalam aturannya. Dalam kemauannya. Dan dalam kesedihannya.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /></div><br />Di mimpi itu terucap semua kata. Yang tak pernah berani diucap di nyata. Yang urung dilakukan tadi. Yang menjadi obsesi bertahun-tahun. Yang menjadi jawaban dari putik-putik kehidupan. Bersandar pada bunga-bunga tidur. Yang menjadikannya mampu berhasrat. Mengumpat. Bercinta. Jujur mencinta. Membinasakan dan membunuh. Tidak perlu ada dasar, norma atau dogma.<br /><br /><div style="text-align: center;">...<br /><br /></div>Mimpi, tetaplah menjadi sahabatku. Karena kau hanya aku. Bukan tuhan.dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-14878334494541177842007-09-02T06:53:00.001+07:002008-04-12T12:25:05.397+07:00Konon, Sebuah Teori.Konon, sebuah kata yang biasa digunakan untuk menjelaskan sebuah keterangan yang tidak pasti.<br /><br />Contohnya:<br />"Konon seseorang pernah berkata..."<br />"Konon gedung ini dulu digunakan sebagai tempat para pejuang berlindung dari serangan penjajah"<br />Dan seterusnya.<br /><br />Dalam perkembangannya di masa sekarang, ketika permainan kata plesetan sudah akrab digunakan, beberapa orang sering bermain dengan kata ini.<br /><br />Ketika kata ini mulai digunakan, ada saja yang dengan jahil menyeletuk dengan "Eits! Jangan dibalik."<br />Silakan, secara harafiah membalikkan kata k-o-n-o-n.<br />Yak! Tentunya kata itu berubah menjadi sebuah kata yang konon... jorok.<br /><br />Entah siapa yang memulai kejenakaan ini. Gua sendiri mulai mendengarnya pada awal tahun 2000an. Ate, temen sekaligus mentor gua, yang memperkenalkannya.<br /><br />Hingga tadi, ketika membaca-baca ulang tulisan baru gua di blog, gua mendapat percikan ide yang lucu dan harus gua bagi kepada kalian semua. Dan sukur-sukur bisa menjadi tambahan buat perbendaharaan fenomena okem yang selalu menjadi tren bahasa gaul orang Indonesia dan Jakarta.<br /><br />Begini:<br />Kalau memang setiap kali kata 'konon' diperdengarkan lantas kemudian ada yang menyahut dengan kalimat "Eits. Konon jangan dibalik", kenapa enggak kita memulai sebuah informasi samar tadi dengan... 'kemem'?<br /><br />Gimana?<br /><br />Jadi nanti kalo ada yang menanyakan "Siapa sih yang mulai ngeganti kebiasaan memakai kata 'konon' jadi 'kemem'? Kalian tidak perlu menjawab dengan "Kemem katanya yang buat itu adalah si itu..." (kayak legenda Jayus).<br /><br />Nih die orangnye.<br /><br />Hahahahahaha....dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-88892848675668632372007-08-30T23:47:00.001+07:002008-04-12T12:28:57.816+07:00Teori Senar GitarBuat yang bermain atau mengerti gitar pastilah tahu yang namanya senar. Senar atau dawai atau 'tali' yang bersusun sejajar dari badan hingga leher gitar. Keenam senar tersebut bernada (dimulai dari bawah) E-B-G-D-A-E. Urutan nada tersebut yang nantinya menciptakan kegilaan-kegilaan dalam musik seperti halnya do-re-mi di tuts piano.<br /><br />Namun ada yang menarik selama puluhan tahun gua memainkannya <span style="font-style: italic;">(Iya. Puluhan. Silakan menebak seberapa lama atau seberapa tua gua.) </span><br /><br />Memilih senar gitar sebenarnya tidak begitu susah. Hanya dibedakan apakah berbahan nylon atau string. Merk apa saja sebenarnya sama dalam durasi pemakaiannya.<br /><br />Pengalaman bersama senar gitar ini yang menarik.<br /><br />Pada awalnya senar gitar dipasang, diperlukan kesabaran dalam penyesuaiannya dengan nada. Senar harus membiasakan 'diri' dengan keregangan fisiknya. Maklum ketika dibeli, dia dikemas dalam bentuk gulungan. Seperti ketika kita bangun pagi dan harus segera <span style="font-style: italic;">jogging</span>. Pastinya diperlukan pemanasan.<br /><br />Setelah kemudian semua senar bernada pas, barulah kita bisa memainkan gitar tersebut dengan enak. Semua lagu dan musik bisa keluar menurut emosinya. Lagu riang, melankoli, cadas maupun cengeng. Dalam permainannya acap kali senar tersebut mendapat perlakuan macam-macam. Di<span style="font-style: italic;">bending</span>lah, disayatlah, dicabiklah, dipetiklah atau bisa juga sekedar dirambas. Senar itu menjadi media sentral penyambung emosi dari segala macam perasaan. Mirip seorang sahabat yang bisa kita ceritakan apa saja. Rahasia sekalipun.<br /><br />Barulah ketika beberapa lama senar ini menjadi tempat curhatan tadi, sesuatu mulai berubah. Layaknya sebuah produk, tentunya mempunyai masa kadaluarsa. Stamina manusia saja akan menurun menurut umurnya.<br />Mulailah senar tersebut mengalami pengenduran. Seperti awalnya tadi, kesabaran kita diperlukan lagi ketika misalnya tiba-tiba di tengah lagu nada yang kita dapat mendadak fals. Paling sering, selama puluhan tahun gua memainkannya, yang mulai bikin masalah adalah si senar D (urutan keempat, dari bawah). Kita pun mulai mengumpat dengan nada yang sumbang ini. Untuk beberapa yang menjadikan gitar hanya sebagian dari penghias ruangan atau lingkungan mungkin gitar tadi hanya akan ditelantarkan. Seperti mainan yang sudah usang. Berbeda dengan orang yang menjadikan gitar sebagai penyambung hidup, pastinya mereka akan segera menggantinya dengan yang baru, kalau tidak mau dapurnya nggak ngebul.<br /><br />Konon salah satu musisi kita pernah mendapat kecelakaan ketika sedang bermain gitar. Ketika memainkannya, salah satu senarnya putus dan melenting mengenai matanya. Dari saat itu ia kerap mengenakan kacamata hitam sebagai tameng penampilannya.<br /><br />Ini pun menyakitkan. Ketika di tengah permainan harus terhenti karena ada senar yang putus. Pilihannya adalah melanjutkan musik dengan harmoni yang tidak lengkap atau tidak sama sekali karena nada yang harus dipetik bertepatan dengan senar yang putus. Tapi memang resiko yang harus dijalani.<br /><br />Cepat atau lambat senar gitar itu harus diganti.<br /><br />Karena tidak ada semangat yang tidak luntur. Karena tidak ada hidup yang tidak membutuhkan pembaharuan. Karena tidak ada inspirasi yang bertahan lama.<br /><br />Semua harus berganti.dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-89715434123200136372007-08-09T00:52:00.000+07:002007-08-09T01:11:53.121+07:00Ada Gempa Lagi...Tadi sekitar 20 menit yang lalu ada gempa. Cukup terasa karena gua dan istri masih bangun. Masih khawatir akan apa yang akan dilakukan, kita pun menyalakan TV untuk mencari berita.<br /><br />15 menit browsing di televisi lokal belum ada juga yang melaporkan berita gempa tadi. Masih sibuk dengan kemenangan Fauzi Bowo - Prijanto. Hingga akhirnya berita itu muncul di CNN. Bahwa gempa itu berasal dari selatan laut Jawa dengan kekuatan 7,4SR. Berikut dengan laporan pandangan langsung oleh koresponden mereka di sana. Yang bukan orang Indonesia, pula.<br /><br />Mirip cerita gempa dulu di <a href=http://dikisatya.blogspot.com/2005/03/di-tempat-yang-maha-tinggi.html>Nias.</a><br />Waktu itu televisi kita sibuk dengan berita kongres PDI yang diliput secara live.<br /><br />Mungkin kebetulan sekali bahwa kegiatan politik sepertinya berbarengan terus dengan bencana alam. Pun itu kesimpulan konyol.<br /><br />Gua hanya prihatin akan ketanggapan kita dalam melihat/mengabarkan kondisi di sekitar. Kenapa mesti orang lain yang tahu duluan daripada kitanya sendiri. <br /><br />Kenapa tidak secepat kamera-kamera infotainment itu menyerbu sasarannya.<br />Kenapa tidak secepat gossip si ini ada apa-apa dengan si itu.<br />Kenapa tidak secepat quick count pemungutan suara (pun cukup disukuri yang satu ini).<br /><br />Kenapa ya?dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-14391339750056707262007-06-19T01:41:00.000+07:002007-06-19T01:46:33.979+07:00Apalah Arti Sebuah Nama Besar...Dalam perjalanan menuju kenikmatan Lapo Tondongta siang tadi, kami sempat berpapasan dengan sebuah mobil Mercedes tua yang masih sangat rapih dan apik. Gua dan teman-teman pun langsung mengerubung pandangan kami ke arah si sexy itu. Untuk ukuran sekinclong itu, harga maupun perawatannya bisa saja amit-amit.<br /><br />Sampai ada yang menyeletuk "Anjrit, siapa sih bapaknya?!..."<br /><br />Konon celetukan itu sering sekali terdengar ketika kita berhadapan dengan situasi tadi. Sirik, iri, sebal maupun kagum. Sebuah ekspresi yang biasanya terlontar kalau kita sendiri tidak mempunyai atau berada dalam posisi itu.<br /><br />Mau kata ngeliat temen punya mobil keren. Si anu punya pacar yahud. Si itu kaya berat. Bisa juga si polan yang anak pejabat. Atau si doi yang juara olimpiade sains sekalipun.<br />Seserius apa kesirikan/kekaguman itu bisa saja berbeda-beda porsinya. Wong manusiawi kok gitu.<br /><br />Lucunya memang oknum 'bapak' dalam hal ini sering disebut-sebut. Garis keturunan ini acap sekali dirunut untuk menjadi sebuah pelajaran historis atau sekedar konfirmasi bagaimana orang bisa sampai ke satu kondisi tersebut. Sering bukan? Di Indonesia ini kita dapati kalimat seperti:<br /><br />"Oh pantes, bapaknya kaya..."<br />"Ya iyalah, anak profesor..."<br />"Eits, ati-ati loe... bapaknya 'jagoan'!"<br /><br />Si anak (oknum penderita) cenderung tidak dapat tampil maksimal sebagaimana mestinya dirinya dengan embel-embel tadi. Sebagian bisa nyaman dengan kondisi ini, sebagian pula malah risih.<br />Gua sendiri -dalam lingkup yang tidak signifikan- pernah hidup dalam bayang-bayang bapak gua dan merasakan kenyamanan oleh pengaruh itu. Mulai dari mendapat perlakuan ekstra sampai akhirnya risih sendiri tidak dikenal sebagai diri sendiri melainkan anak si bapak.<br /><br />Pernah gak terpikir untuk bertanya siapa bapaknya Soeharto, Soekarno, Sudirman, Sutiyoso atau Soe Hok Gie?<br />Suka atau tidak masing-masing nama di atas tak pelak lagi mempunyai prestasi signifikan dalam sejarah. Dan jarang sekali orang tertarik untuk membahas siapa bapaknya. Lagi-lagi anaknya yang kecipratan sorotan.<br /><br />Nama besar sering sekali menomer-duakan objektif sesuatu. Butuh tanggung jawab tersendiri untuk memainkannya. Bisa menyangkut hidup, nafkah hidup, alur hidup dan untuk tetap hidup.<br /><br />Walau pun masih membingungkan dan akan semakin disebut narsis, gua mau mengoptimalkan diri sendiri agar bisa bertanggung jawab atas nama sendiri.<br /><br />Bukan anak si anu.<br />Bukan anggota kelompok.<br />Bukan warga kampung itu.<br />Bukan temennya si anu.<br />Boro-boro kenalannya seleb!<br /><br /><div style="text-align: right;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:lucida grande;">"Walau memang dirimu</span><br /><span style="font-family:lucida grande;">bernasib baik.</span><br /><span style="font-family:lucida grande;">Bapa'lo kaaaayaa...<br />(kata orang sih)"</span><br /><span style="font-weight: bold;font-family:lucida grande;" >Mawar Merah, Slank.</span></span></div>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-63250912593486505822007-06-05T04:00:00.000+07:002007-06-05T10:09:57.179+07:00Manusia Kawin, (punya) Anak dan Mati.Mbak NK adalah figur yang sangat dihormati di lingkungan gua. Selain bersuamikan seorang pendeta, nasihat-nasihat dan tutur katanya kerap membuat kami bisa sedemikian 'patuh' olehnya. Maklum, di lingkungan gua yang cenderung bengal, figur seperti ini akan sangat mudah melejit menjadi tokoh panutan.<br /><br />Namun hari itu dia tampak risau sekali. Baru saja dia mendapat kabar bahwa ayahnya sedang sakit. Tapi bisa ditutupinya kekhawatirannya. Sepertinya apa yang pernah dinasihatkan kepada kami saat ini tidak begitu berlaku. Biar bagaimana pun, ketika mengalaminya sendiri rasanya di setiap relung kejujuran kita sangatlah manusia. Sangat jujur. Sangat takut.<br /><br />Ada juga kisah seorang bapak yang dengan gigihnya mendidik anaknya menjadi sosok yang idaman. Dalam artian yang soleh, berbakti kepada orang tua, berguna bagi bangsa dan negara. Tidak berarti harus macho atau cantik. Jagoan berantem atau nyanyi. Atau Mas Boy dan Mbak Vera bahkan.<br /><br />Yang sebenarnya ketika mau jujur, tidaklah gampang menerapkannya. Mengingat masing-masing manusia itu mempunyai perjalanannya sendiri. Tanggung jawab dan pengalaman sering sekali berbenturan dalam pelaksanaannya. Kondom sudah harus mendapat tempat pada sebuah pembahasan orang tua dan anak sebelum akhirnya ditempatkan pada tempatnya.<br /><br />Sahabat gua, teman dekat gua dan beberapa orang yang gua kenal juga sampai sekarang masih dihantui isu klasik. Di umur yang sudah sangat umum dipertanyakan, mereka belum -mau, pengen, bisa- kawin. Tak perlu kita yang menanyakan, bagi yang belum menyeberangi fase hidup yang satu ini pasti sudah terngiang di kepalanya. Kalau pun ada teori yang bisa membenarkan keberadaan mereka sekarang, sudah pasti itu pembenaran. Atau paling nggak teori manusialah.<br /><br />Karena Tuhan tidak punya teori.<br /><br />Nggak pernah kita tahu kapan kita akan mati. Hanya Dia yang berkehendak.<br />Seberhasil-berhasilnya kita mendidik anak mau pun anak didik, pun tidak lepas dari kesediaan Dia merestui apa yang kita rencanakan.<br />Apalagi kawin! Jodoh memang di tangan Tuhan. Jadi jangan berserah.<br /><br />Kalau udah begini, rasanya celoteh si Ringgo di iklan itu jadi ngada-ngada ya...<br /><br /><div style="text-align: right;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:lucida grande;">"And I find it kind of funny</span> <span style="font-family:lucida grande;"><br />I find it kind of sad</span><span style="font-family:lucida grande;"><br />The dreams in which I'm dying </span><span style="font-family:lucida grande;"><br />are the best I've ever had</span> <span style="font-family:lucida grande;"><br />I find it hard to tell you<br /></span> <span style="font-family:lucida grande;">I find it hard to take</span> <span style="font-family:lucida grande;"><br />When people run in circles</span><br /><span style="font-family:lucida grande;">It's a very very ..."</span> <span style="font-weight: bold;font-family:lucida grande;" ><br />Mad World, Tears For Fears.</span></span></div>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-67233856355146884392007-05-20T01:35:00.000+07:002007-05-20T01:36:50.572+07:002057Hiruk pikuk stasiun kereta itu tidak kalah dengan gemuruh hatinya pada saat ini.<br /><br />Berkali-kali ia mengusap kacamata tebalnya, memastikan lagi sosok yang di seberang sana adalah benar sosok yang... Sosok yang tidak bisa diingatnya lagi dengan jelas. Namun sangat bersuara di relung-relung hatinya sekarang.<br /><br />Diingatnya kembali malam itu. Dentuman musik yang keras disertai kilatan cahaya buatan sesaat. Sesaat itu juga terselip sebuah senyum yang sangat menawan hatinya. Sedetik cahaya lampu itu berhasil merenggut semua perhatiannya. Dan hidupnya. Demikian seterusnya pada hari-hari berikutnya ia ikuti dia di setiap pesta. Hingga ia akhirnya bisa menemukan cara untuk menjumpai Indah dan berkenalan. Lalu bercinta.<br /><br />Indah namanya. Wujudnya pun begitu.<br />Di setiap sudut ruang, di setiap ruas jalan, di setiap waktu mereka bisa, selalu bercerita tentang cinta, gairah dan rasa yang indah.<br /><br />Ia kembali memegangi tongkatnya yang basah akibat keringat di tangannya. Gurauan cucunya pun terabaikan sesaat seolah membenarkan kepikunannya. Ingin rasanya berteriak memanggilnya di seberang sana. Seperti dulu mereka berteriak pada malam-malam itu. Mengalahkan suara-suara mesin kereta yang bergemetak. Mengalahkan rindu yang seketika timbul lagi.<br /><br />Kereta yang berlalu lalang tidak mengubah suasana hatinya. Silih berganti pertentangan berdatangan dari segala jurusan. Segala arah dan tujuan. Dengus kereta itu bagai cibiran yang mereka tantang. Saat itu, tidak ada yang mau mengerti. Hingga peluit masinis yang menghentikan permainan. Dan mereka pun berlalu.<br /><br />Namun Indah masih terpekur di seberang sana. Putrinya yang ayu sesekali membantunya membetulkan syalnya yang jatuh. Atau membisikkan kata-kata ke telinganya. Kau dengarkah aku, Indah? <br /><br />Suaranya yang renta hanyalah terdengar sebagai permintaan air minum. Atau tuntunan ke kamar kecil. Bukan dahaga yang membuat kerongkongannya tercekat saat ini. Dan lenguhan itu mungkin hanya terusap oleh balsam. Tapi bukan lenguhan hati ini.<br /><br />Dengan tenaga yang seadanya ia mengetuk-ngetuk tongkatnya ke lantai sambil bergumam.<br /><br />Kalau kau ingat senyum ini, lihatlah padaku<br />Kalau kau ingat rasa ini, lihatlah senyumku<br />Kalau kau ingat cinta ini, lihatlah ke depan<br />Menolehlah sayang, sedetik saja untukku<br /><br />Dan dari batas rel yang berselisih itu. Dari bisingnya suara informasi keberangkatan dan kedatangan itu. Dari semua keramaian yang ada. Yang pernah terjadi. Yang pernah mereka alami. Yang pernah mereka lalui, 50 tahun yang lalu...<br /><br />Indah pun menoleh ke arahnya. Senyum diwajahnya tak kalah dari airmatanya yang mulai pecah. <br /><br />Indah ingat, 50 tahun yang lalu itu, ketika ia akhirnya berani menghampirinya di keramaian itu, ia berkata "Kamu sudah memperhatikanku dari tadi, semalam, dan malam-malam sebelumnya. Kenapa baru sekarang menghampiriku?"<br /><br />Dikenangnya lagi kata-kata itu. Seperti ingin mengulang lagi romansa itu. Permainan itu. Seperti tadi dia hanya pura-pura berbicara kepada putrinya.<br />Indah hanya menutup mukanya seraya mengusap air matanya. Tersipu.<br /><br />Ia masih terdiam di duduknya. Badan tuanya terkulai oleh lambaian senyuman Indah.<br />Hanya mengangguk mencoba mengimbangi senyum itu. Pun mulai sedikit mengalir air matanya. Dikecup jarinya pelan dan dihembuskannya pada Indah. Mungkin tak seorang pun yang melihat. Tak seorang pun melarang kali ini.<br /><br />Raga mereka tak lagi bisa mengulang cerita itu. Hanya cinta yang bisa mengulang rasa itu.dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-36737913830900690812007-05-16T21:49:00.000+07:002007-05-16T21:57:53.932+07:00(Kepada) Orang-Orang BerbohongDi depan altar gereja, di depan kekasihnya, di depan pendeta yang baru saja menanyakan "Bersediakah kau mengambil dia, sebagai suamimu...", Sinta berbalik dan berjalan meninggalkan gereja itu.<br />Pernikahan itu dibatalkannya. Entah atas alasan apa, entah karena pertengkaran yang mana, atau pertentangan yang mana, ia berlalu meninggalkan semua itu.<br />Kali ini dia jujur akan hatinya.<br />Sesuatu yang tak pernah disadarinya begitu benar. Begitu murni. Tidak egois, mungkin orang lain terluka. Namun ia jujur.<br /><br />Tersujud Ira di lututnya. Berdoa kepada Tuhan agar diberikan jawaban. Meminta kepastian akan langkahnya.<br />Apakah Ari? Atau Ria? Bertahun-tahun ia tegarkan kepada Ari. Walau hatinya mendua kepada Ria.<br />Lelah ia memanipulasi perasaannya. Demi kekasihnya, demi orang-orang, bahkan demi Tuhan. Padahal Tuhan maha tahu.<br />Tapi kali ini ia jujur, setelah lelah mencoba jujur. Jujur akan kebingungannya. Jujur akan kekalahannya. Jujur kepada dirinya.<br /><br />Tanpa ragu lagi lelaki itu melabrak ruangan si jelita itu. Dia yang selalu menghantui setiap nafas yang dihirupnya. Mengusik kerjanya, melunturkan selera makannya dan menghamburkan pikiran liarnya. Kali ini dia akan jujur menyatakannya.<br />Di depan mukanya ia akan berkata "Aku cinta kamu! Aku cinta kamu! Aku cinta kamu!" <br />Kalimat itu tidak akan pernah terdengar gombal, ketika dikatakan dengan jujur. Walau tak berbalas sekalipun...<br /><br /><br />Tak akan habis cerita tentang kejujuran ini.<br />Sebuah kata gaib yang Tuhan titipkan di setiap relung hati manusia. Menunggu untuk senantiasa dilihat, dibuka dan dinyatakan. Sepertinya Dia selalu mengintip dari celah itu. Akan setiap langkah, rasa dan pikiran yang kita kehendak. Agar selalu jujur kepada diri kita dulu, lalu menghadap kepadaNya.<br /><br />Lebih dahsyat dari tagihan kartu kredit, <span style="font-style: italic;">handphone</span> atau giliran arisan setiap bulannya.<br />Lebih nelongso dari sekedar ritual ibadah setiap minggunya.<br />Atau doa-doa yang terlupakan setiap awal hari, makan dan tidur.<br /><br />Itu pun, kalau kita mau jujur.<br /><br /><div style="text-align: right;font-family:lucida grande;"><span style="font-size:85%;">"Stones taught me to fly<br />Love taught me to cry<br />So come on courage!<br />Teach me to be shy<br />'Cause it's not hard to fall..."<br /><span style="font-weight: bold;">Damien Rice, Cannonball.</span><br /><br /></span><div style="text-align: left;"><span style="font-style: italic;font-family:georgia;font-size:85%;" >(Sebuah tulisan tercecer di awal tahun 2007)</span><br /></div></div>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-77073307747417924222007-05-08T23:51:00.000+07:002007-05-10T00:55:14.941+07:00Orang Iklan Sama SajaApakah orang/insan/pekerja/<span style="font-style: italic;">wanna be</span> iklan sama? <br /><br />Bisa dibilang iya. Coba perhatikan kecenderungannya kalau sesama ‘kaum’ ini bertemu. Biasanya basa-basi itu dimulai dengan “Weits, di mana loe sekarang? Masih di kantor yang dulu?”. Setelah topik pembicaraan sudah sedikit garing (atau sudah capek membahas iklan-iklan buatan luar dan teman-temannya sendiri) kalimat andalan pun keluar lagi: “Trus, lagi pegang apa loe sekarang?” Atau “Gimana? Banyak pitching? Masih suka lembur?”. Setelah beberapa saat lagi, ketika pembicaraan garing lagi dan gak tau harus gimana lagi, tibalah saatnya berpisah. Kalimat pamungkas pun digelar: “Yo wes, calling-calling ya. Makan siang kek, ngopi kek, dugems kek.”. Tak lupa pesan sponsor “Ada SJ bagi-bagi doooong…”<br /><br />Gua berani taruhan, tidak ada orang iklan yang belum pernah merasakan proses pembicaraan generik orang iklan tadi. Bagaimana tidak, industri iklan yang kalau dibandingkan dengan persentase profesi lain memang sangat kecil. Jumlah karyawan sebuah bank saja mungkin hanya nol koma nol sekian persen dibanding pekerja iklan. Belum lagi produsen obat, <span style="font-style: italic;">consumer goods</span>, rokok dan lain sebagainya, <span style="font-style: italic;">you name it!</span> Dan ironisnya pula, mereka-mereka itu adalah klien gua! Eh, kita.<br /><br /><span style="font-style: italic;">Back to the topic</span>, kenapa kita bisa sangat ‘tertebak alur kehidupannya’? Apakah lembur-lembur tak berkesudahan mengejar deadline yang membentuk tingkah laku kita ketika berekspresi pada malam-malam penganugerahan digelar? Itu lho, pakaian seragam dan kostum-kostum ciamik?<br /><br />Atau seringnya kita berkelakar mengenai tingkah laku klien ini dan itu (bisa juga bos ktia sendiri) yang membuat kita punya pola mengejek yang sama dalam banyak hal? Lantas dalam beberapa storyline ‘inspirasi’ tersebut sering tersisip sebagai bagian dari twist.<br /><br />Belum lagi urusan kritik-mengkritik iklan tadi. Ketika dipaparkan sebuah ide layout, storyline, storyboard dari sebuah brief, mendadak kita sensitif menilik di mana kekurangan-kekurangannya. Bak menonton timnas Indonesia (cabang olahraga mana saja) selalu kita menjadi penonton sekaligus juri dan pelatih yang handal memberikan instruksi ‘kalau saja’ atau <span style="font-style: italic;">‘you should have..’</span><br /><br />Masih kurang contoh? Coba tanya kenapa tulisan gua bisa dimuat di halaman ini. Dugaan terbesar adalah dari word of mouth-nya orang-orang iklan!! Yang mungkin dalam session ngopi-ngopinya tersebut beberapa nama. Atau melalui milis-milis iklan. Chatting Y!M, blogspot dan multiply. Perlu gua ulang bagaimana mereka-mereka ini bertemu? Silakan balik ke paragraf pertama.<br /><br />Gua tidak akan protes dengan kecenderungan-kecenderungan ini. Biar gimana pun ini membuat dapur kita ngebul. Bagaimana menyikapinya, kita kembalikan ke pribadi masing-masing. Jelek enggaknya toh ini dunia kita.<br /><br />Namun ada satu hal yang bikin gua tersentil tentang kesamaan orang-orang iklan ini. Khususnya di ‘kubu’ gua, kreatif.<br /><br />Gua bisa tersenyum geli dan maklum ketika mendapat brief dengan kata ‘moderen’. Atau penulisan yang keliru akan <span style="font-style: italic;">‘tone down’</span> menjadi <span style="font-style: italic;">‘tone done’</span> dan <span style="font-style: italic;">proof reading</span> lainnya. Bukan itu yang menyentil gengsi gua.<br /><br />Gua sering mendapati sebuah ide diceritakan dengan kalimat pembuka “Ada sebuah kota…” Lantas biasanya cerita itu bertutur tentang keseragaman hal lain dan si produk yang menjadi pembeda/hero. Yak! Analogi. Memisalkan. Mengumpamakan. Dengan penjabaran lain, sebuah ide cerita yang kurang begitu bisa didapatkan dari kehidupan nyata lantas didramatisasikan menjadi sebuah… kota!<br /><br />Satu, dua orang boleh-boleh saja. Tapi kenapa sering sekali ya? Sesama itukah kita?<br /><br /><span style="font-style: italic;">Great minds think alike, that’s why it’s so dead boring.</span><br /><br /><div style="text-align: right;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-family: lucida grande;">Sebuah tulisan di majalah "The Maker" Vol.1 Maret 2007</span></span><br /></div>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-5780068035835451482007-04-17T01:18:00.000+07:002007-04-17T02:09:59.825+07:00Que Sera SeraUntuk pertama kalinya akhirnya gua bisa setuju dengan iklan rokok A-Mild yang sekarang sedang berseliweran di televisi maupun jalanan. Headline "YANG LEBIH MUDA YANG GAK DIPERCAYA" sungguh-sungguh mengena ke dalam kalbu baik dalam jabaran visual maupun kalimat tersebut berdiri sendiri.<br /><br />Kalau harus membahas permasalahan yang dikemukakan iklan ini, rasanya siapa juga tahu. Soekarno pasti tahu. Soeharto pasti tahu. Bos-bos kita pasti tahu. Mahasiswa IPDN apalagi. Tau banget. Topik ini hanya sebuah perdebatan usang di samping pak kusir.<br /><br />Tapi yang sangat menarik dari kalimat itu buat gua lain lagi.<br /><br />Seminggu yang lalu, istri gua baru saja melahirkan seorang anak laki-laki. Kaleb namanya. Jadi bak siluet embossan pada satu sisi uang Rp 5 dulu, lengkaplah sudah formasi uang lima perak itu. Gua, istri gua Sarah, si Kakak Kiara dan adik Kaleb.<br /><br />Dulu ketika hanya ada Kiara, segenap perhatian tercurah kepada si lucu ini. Dan sebagai bapak, memang sepertinya agak berlebihan perhatian kepadanya. Ada satu kemistri bapak dan anak perempuan yang tidak bisa dijelaskan secara kata-kata di sini. Mungkin hanya mereka yang punya saja yang bisa mengerti.<br /><br />Namun beda dengan anak laki-laki.<br />Seolah-olah ada sebuah cermin raksasa yang menghadang di hadapan muka. Gua segera mengingat kembali semua sejarah yang pernah gua alami semasa kecil, remaja dan sampai sekarang (remaja senja).<br /><br />Sulit untuk jujur membedakan akan sebuah harapan atau dendam. Akan sebuah cita-cita atau trauma. Akan sebuah kasih atau daulat tradisi. Akan sebuah terusan generasi atau tanggung jawab.<br /><br />Apakah kelak dia akan seperti bapaknya? Akankah dia menyenangi seni? Apakah nanti dia akan bengal? Rocker? Politisi? Les piano atau main bola?<br /><br />Apakah gua nanti akan menjadi tipikal bapak-bapak di film era Zainal Abidin yang otoriter?<br />Menjejali anak-anaknya dengan idealisme-idealisme? Atau kelewat longgar membiarkan anak-anaknya menjadi melempem?<br /><br />Atau...<br />Atau...<br />Atau...<br /><br />Di sinilah headline iklan tadi terngiang lagi dan gua pun bisa tersenyum. Bukan lantas gua menemukan jawaban dari semua ke-parno-an bapak anak dua tadi. Tapi lebih kepada pentingnya buat gua (atau kita) untuk selalu berbesar hati melihat sebuah perubahan dan perkembangan. Pentingnya untuk menyadari keberadaan kita sekarang. <br /><br />Bahwa ada saatnya kita memang sudah harus move on dengan perjalanan hidup karena tempat-tempat kita kemarin sudah harus diisi oleh adik-adik kemaren sore. Dan besoknya pun anak-anak kita yang menggantikannya. Dan seterusnya.<br /><br />Jadi sepengen-pengennya gua bercita-cita agar anak-anak gua kelak ada yang menjadi dokter, mestinya pilihan itu tetap ada pada mereka sendiri. Percayakan pada mereka!<br /><br />Hanya satu pesan Papa: yang penting ngerti The Beatles, anak-anakku!<br /><br />Hihihi.dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-69697408979743766332007-01-17T01:09:00.000+07:002007-01-17T01:16:06.938+07:00Kita Hanya Bisa MengkritikMungkin sepanjang perjalanan sejarah negeri ini Presiden SBY yang paling sial. Bagaimana tidak, bertubi-tubi kejadian sial telah menimpa negerinya pada saat dia memerintah. Bencana alam, musibah dan kecelakaan semua dalam skala yang besar dan cukup menjadi materi berita di televisi-televisi manca negara. Dalam dapur pemerintahannya juga tidak sedikit yang perbincangan. Perbincangan negatif tentunya. Dari skandal korupsi sampai seks sekalipun cukup mewarnai pemerintahannya. Cukup untuk menudingkan telunjuk dan mengatakan "You tidak oke punya lah you..." dan sebagainya.<br /><br />Namun tidak bisa gua bayangkan sekiranya rentetan sial tadi tidak terjadi. Baik dalam pemerintahan SBY atau siapa pun. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Tidak ada yang bereaksi dan mencoba berbuat sesuatu. Mungkin kita tidak pernah (berani) melihat sesuatu yang salah sedang terjadi.<br /><br />Festival Film Indonesia bergejolak. Satu-satunya ajang perfilman negeri ini yang notabene selalu mengalami pasang surut semangat kembali dipertanyakan kualitasnya. Entah siapa yang memulai piala-piala anugerah itu dikembalikan beramai-ramai. Konon si ini dan si itu tidak layak menjadi pemenangnya kalau dibandingkan dengan si itu dan si ini. Berikut faktor orisinalitasnya, konooooon tidak orisinal. Hari gini, masih ada yang orisinal? Tapi okelah. Setiap 'insan' berhak menentukan sikapnya.<br /><br />Mungkin sudah saatnya membuat lagi ajang-ajang seperti itu. Daripada hanya berkutat ke satu permasalahan yang itu-itu lagi. Orangnya, ya yang itu-itu lagi. Si ini dan si itu. Dan mestinya sih harus jauh lebih bagus dari pendahulunya kalau tidak mau dibilang sia-sia. Daripada sekedar membuat versi yang berbeda tanpa keunggulan yang melejit.<br /><br />Misteri hilangnya pesawat AdamAir masih menjadi topik yang paling hangat saat sekarang ini. Mampu menggeser misteri Alda, AA Gym kawin lagi dan beberapa topik hangat lainnya. Maklumlah, insiden ini menyangkut nyawa banyak orang (yang bisa dikatakan tewas). Ironisnya sedikit sekali data yang mengacu kepada bencana alam. Segala data dan kemungkinan yang dikumpulkan semuanya mengacu pada human error. Sejumlah pakar lantas mulai berbicara akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Terkuaklah segala macam kekurangan dari layanan penerbangan selama ini.<br /><br />Sepertinya kita diingatkan akan pentingnya sebuah standar. Standar lho. Bukan peraturan. Peraturan akan sangat gampang dibuat. Dan kemudian dilanggar. Tidak lagi akal-akalan membawa penumpang di atap kereta api demi masuknya setoran. Tidak lagi menggunakan bahu jalan sebagai jalur lebih lebih cepat. Tidak juga memberhentikan pengemudi setelah melanggar peraturan lalu lintas daripada mencegahnya terjadi.<br /><br />Sudah cukup?<br />Enggak. Masih banyak lagi bagai debat kusir. Gua sendiri sebenarnya masih malu menuliskan ini. Bertutur tentang masalah dan analisanya namun belum bisa memberikan solusi.dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-66807419092353731592007-01-03T00:29:00.000+07:002007-01-03T00:30:55.033+07:00Repost. Reyear.Sejarah klasik berulang lagi, Tahun Baru.<br /><br />Ada kegamangan di hari-hari pertama bulan Januari. Selalu begitu. Baru kembali dari liburan. Sms-sms tahun baru yang bejubel dari teman-teman ‘satu tahun sekali baru berhubungan maklum udah pada lain dunia’. Resolusi-resolusi suam-suam kuku. Harapan-harapan lagi. Masalah-masalah yang kembali teringatkan. Ancang-ancang tahunan. Baju baru, badan sama.<br /><br />Selalu ada yang hilang.<br />Selalu ada yang dianggap baru.<br />Selalu ada yang dilihat usang. Hanya karena dilihat terus-terusan.<br />Selalu ada yang diharapkan berubah. Hanya karena sudah bosan. (atau mentok?)<br />Selalu ada yang hilang.<br />Selalu ada yang bilang, “Met taun baru ya!”<br />Selalu begitu.<br />Jadi apa yang baru?<br /><br />Mari kita lupakan Tahun Baru sekali ini saja. Tahun depan dia datang lagi. Seperti jodoh, nggak kan ke mana-mana.dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-13377366589409473712006-11-25T00:35:00.000+07:002006-11-25T01:19:35.608+07:00Revisi #31Inilah momen yang sering bikin gua gugup setiap kali menghadapinya: ulang tahun.<br /><br />Setiap jam 12 malam, awal dari hari spesial itu, gua pasti akan tersenyum kikuk. Biasanya akan dimulai dari ucapan orang-orang terkasih, terdekat, tercinta. Demikian seterusnya di pagi harinya. Melalui ucapan langsung, kiriman kartu, telepon interlokal, pesan-pesan di penyeranta, email dan SMS.<br /><br />Gua selalu kesulitan mencari jawaban yang pantas untuk membalas ucapan-ucapan tersebut. Entah kenapa. Tentu saja yang mereka ucapkan adalah doa akan segala sesuatu yang baik. Semoga panjang umur. Murah rejeki. Berada dalam perlindunganNya selalu. Tercapai apa yang dicita-citakan. Semuanya pasti bermuara kepada hal yang baik. Menuntut sebuah traktiran pun masih dalam niatan baik lho. Berkumpul bersama, haha-hihi, perut kenyang dan dibayarin. Baik toh?<br /><br />Namun mungkin gua terlalu 'manusia' untuk semua itu. Segala ucapan doa nan baik tadi seakan-akan menjadi sebuah cermin dari pencapaian umur yang bertambah ini. Gua seperti dihadapkan kepada gambaran akan hal baik tadi dan kemudian membandingkannya dalam realitanya. Apakah sudah tercapai keinginan <span style="font-style: italic;">ina-inu</span>? Sudah semakin baikkah gua terhadap sesama? Apa saja yang bisa dilakukan menuju perbaikan-perbaikan itu? Dan seterusnya...dan seterusnya. Seakan-akan semuanya berubah menjadi beban tersendiri. Kegelisahan tersendiri.<br /><br />Demikian pula dengan doa di akhir hari baik itu (sebuah aktifitas yang kerap gua lakukan ketika hari ulang tahun itu akan berakhir, merenung, <span style="font-style: italic;">flash back</span>.) Dari banyak sekali doa tiap tahun yang bisa gua ingat, meski (lagi-lagi) segala yang gua doakan adalah segala kebaikan, ternyata beragam sekali pernak-perniknya dari tahun ke tahun. Semuanya mengalami evolusi. Tahun ini minta itu. Tahun lalu minta ini. Tahun itu minta yang ono. Beberapa tahun lalu pengen ntu.<br /><br />Revisi. Revisi. Revisi.<br /><br />Ternyata ini biang kerok si muka kikuk itu! Ternyata perdebatan ini yang selalu mengawali detik-detik hari ulang tahun itu. <br />Kesetian akan suatu tujuan dipertanyakan. <br />Kemauan untuk selalu punya harapan, diingatkan kembali. <br />Kebesaran hati untuk sebuah perubahan terasa selalu kurang lebar walau seluas lapangan Emirates Stadium sekalipun. <br />Mungkin singkatnya, gua tuh harus menjadi manusia 'utuh' lagi, baru deh tuh pesta pora haha-hihi dapet kado dll.<br /><br />Ini kali pertama gua memahami sisi lain dari sebuah kata revisi. Tidak melulu sesuatu yang salah harus diperbaiki. Tidak melulu harus ada yang salah. Tidak ada juga yang mengatakan salah kepada kita. Ternyata kata kuncinya adalah: berkembang. Dan yang lebih seru lagi, semuanya itu buat diri kita.<br /><br />Ih, rasanya kayak hari kedua setelah gajian, rasanya pengeeeeen deh ulang tahun lagi.<br /><br />Ya Tuhan, ini revisiku. Terimakasih. Amin!dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-59768050154775400342006-11-24T22:30:00.000+07:002006-11-25T00:35:31.847+07:00Mauliate<span style="color: rgb(255, 255, 255);">Anindita>Rangga</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Kak Rita</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Odre Onad</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Citra</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Vena</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Mami</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ramses</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Arga</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Bapak</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Mama</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Kak Helen</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Glenn</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Novi</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">WaCin</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Jootje</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Dyah</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">HVS</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ola</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Mezmo</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Putri</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Alia</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Dinadonk</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Bimo</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Julia</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">KD</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Alex</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Anne</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Coki</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Bucin</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Iksaka Banu</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Sashie</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Randa</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Yomi</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Togar</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Sesek</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Oca>Pronky</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">OmBud</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ika</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Bibie</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Adela</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Miranda</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Boy</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Mella</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ime</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Siwi</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Angga>Burat</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Esjepe</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Jaja and Grey Worldwide</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ria</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Mbak Mitha</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Sapi</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">>Mala>Ambar></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">my belle</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Nobon</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Wiwis</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Kresti</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Sonia</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Kenny</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Rizkan</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Adit</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">DDB Brainstorm</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Findrie Nawi Figo</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Tata</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ridwan</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Troy</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Djito</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Aswin</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><br /><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Ririn</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Riri Ronas</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Wury</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Grace</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Garry</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Anisinam</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Dita Wasis</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Meli</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Iwuk</span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">></span><span style="color: rgb(255, 255, 255);">Dyah: </span><span style="color: rgb(255, 102, 0);font-size:180%;" >Thank You.</span>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-45857891278656346962006-11-20T23:27:00.000+07:002006-11-20T23:40:02.213+07:00Mari Membaca (seperti George Bush)Hari Minggu kemarin di gereja, terdapat sebuah ayat yang cukup panjang untuk dibacakan. Pak Pendeta membacakan ayat yang ganjil, kemudian jemaat membaca ayat yang genap. Entah sudah menjadi kebiasaan atau memang dibacakan beramai-ramai, suara yang terdengar hanya terdengar datar dan besar saja. Seperti memang harus dibaca, dan dibaca sampai habis.<br /><br />Teringat akan pidato-pidato panjang atau laporan-laporan tahunan -pemerintah- yang biasa kita dengar di televisi dan biasanya kita abaikan saja. Bayangkan lembaran-lembaran tebal tersebut harus dibacakan dari satu orang, yang notabene sudah tua umur, pemimpin pula! Pun menyangkut hal-hal yang tidak begitu menarik untuk khalayak umum. Mungkin untuk kalangan tertentu akan mengerti kalau gua berteriak "Oi, siapa tuh copywriternya?! Panjang amat sih nulis bodycopy!". <br /><br />Emang sih, dongeng kakek nenek kita walau sudah beribu kali diceritakan biasanya masih bisa dicerna dengan baik kalau cerita tersebut memang mempunyai alur dan struktur yang baik dan menarik. <span style="font-style: italic;">Talk about a good story telling.</span><br /><br />Di sela-sela hebohnya kedatangan George Bush ke Bogor tadi, gua hanya bisa bekerja dan bekerja di depan komputer (sambil main <span style="font-style: italic;">game</span>). Entah kepentingan apa yang mempersatukan teman-teman di kantor hingga akhirnya semua <span style="font-style: italic;">channel</span> TV menyetel saluran yang ada reportasenya dia. Mulai dari mendarat di Jakarta, omelan warga Bogor, sampai-sampai Bush berceloteh perihal kunjungannya ke Indonesia ini.<br /><br />Sekilas gua mendengar dia bercerita tentang pendidikan, perdagangan dan lain sebagainya dalam korelasinya pada Indonesia. Bukan lagi bahasan terorisme seperti tahun 2002 kemaren dia datang ke Indonesia.<br />Sekilas saja, wong gua lagi kerja gitulho!<br /><br />Tapi sekilas kemudian gua melihat ke TV dan gua cukup kaget. <span style="font-style: italic;">Oh man! Oh sh*t</span> (harap membaca dengan lagak emrik). Dari tadi dia ngoceh endeswey-endesway itu ternyata doski membaca <span style="font-style: italic;">man! Oh wow man! </span>(masih lagak emrik)<br /><br />Topik dan rencana-rencana Amerika ke Indonesia mungkin tidak begitu menarik perhatian gua. Apalagi demo-demo yang tidak jelas arah di sekitarnya. Tapi yang katanya orang nomer satu dunia dan dibenci umat ini bisa berbicara kepada gua. Walau gua tidak menyimak sekalipun!<br /><br />Mungkin pilihan katanya gak terlalu sulit hingga gampang dimengerti. Bagaimana sebuah wacana politik dunia bisa dirangkum menjadi satu paragraf yang gampang. <br />Mungkin dia membacakan kata pada penekanan vokal yang benar. <br />Mungkin dia juga sesekali melihat kepada audience untuk menunjukkan perhatiannya. Tidak seperti murid yang disuruh gurunya untuk membaca kepada teman-teman sekelasnya, merunduk terus karena takut salah baca.<br />Mungkin juga dia benar-benar menguasai pidato tersebut sehingga kita tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil lainnya dan 'terpaksa' mendengar.<br /><br />Satu hal yang gua yakini, George Bush punya copywriter handal.<br /><br /><div style="text-align: right;"><span style="font-family: lucida grande;font-size:85%;" >"And when their eloquence escapes me<br />Their logic ties me up and rapes me<br />De do do do, de da da da<br />Is all I want to say to you<br />De do do do, de da da da<br />They're meaningless and all that's true"<br /><span style="font-weight: bold;">De do do do, De da da da</span><br /><span style="font-weight: bold;">The Police</span></span><br /></div>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-54711717964678641562006-11-15T00:42:00.000+07:002006-11-15T00:59:25.775+07:00Who Do We Think We Are<span style="font-style: italic;">"Who do you think he are??"</span><br /><br />Konon Sarah Azhari pernah berceloteh begitu pada sebuat tayangan infotainment. Beberapa waktu kemudian kalimat itu merebak luas menjadi suatu guyonan bernada cemoohan. Memang, mestinya dia mengatakan <span style="font-style: italic;">"Who do you think he is?"</span><br /><br />Di kesempatan lain, gua juga sering tersenyum mendengar penyiar-penyiar radio yang membuka kalimat sapaannya dengan bahasa Inggris, pada kalimat pertama dan kedua, lantas kembali lagi dengan percakapan bahasa Indonesia. Menurut dugaan gua sih.. -dugaan lho ya- sepertinya dia kehabisan perbendaharaan kata-kata Inggris untuk diucapkan lalu kemudian menyerah kembali berbicara bahasa ibu.<br /><br /><span style="font-style: italic;">Oh well</span>, sepertinya bahasa Inggris ini menjadi satu isu yang cukup malu-maluin ya. Malu kalau ngga bisa, dan malu-maluin orang yang ngga (gitu) bisa.<br /><br />Tapi kenapa mesti malu?<br /><br />Gua tidak melihat kenapa kita harus malu untuk 'salah' berbahasa Inggris. Atau bahasa lain. Orang Rusia, Cina, Eropa dan Afrika yang tidak berbahasa ibu bahasa Inggris sering melakukan kesalahan dalam tata bahasa, pelafalan maupun dialek. Lebih menarik lagi, sesama<br />warga negara Inggris di Inggris sana sering tidak mengerti kawan senegaranya itu ngomong apa. Logat Scottish, Liverpool, Irish sering susah dimengerti (Parkinson, Ebet Kadarusman-nya Inggris pernah membahas ini dalam sebuah <span style="font-style: italic;">talk show</span>nya).<br /><br />Jadi kalau kita sering terdengar hanya menyebutkan "<span style="font-style: italic;">and then</span>", "<span style="font-style: italic;">already</span>", "<span style="font-style: italic;">that one</span>"... biarlah itu juga menjadi ciri kita sendiri dalam berbahasa Inggris. Toh orang Thailand juga sering susah dicerna ngomong Inggrisnya.<br /><br />Namun bahasa Inggris juga tidak kalah kayanya dengan bahasa Indonesia kita ini. Ketika mempelajari, mempraktekkannya, dan mencoba memahaminya, memang ada rangkaian-rangkaian pemikiran yang menarik dari bahasa ini. Tidak jarang kita temui bahasa Inggris tersebut bisa mencakupi sebuah penjelasan panjang lebar dari sebuah bahasa (bukan bahasa Indonesia saja. dll)<br /><br />Mungkin itu yang membuat bahasa ini sangat universal. Bisa dimengerti banyak orang. Untuk berkomunikasi. Dan ini yang membuat kita perlu mempelajarinya dengan benar.<br /><br />Jadi kenapa mesti malu?<br /><br />Toh kita nggak lantas menjadi bule kalau bisa berbahasa Inggris.<br /><br /><span style="font-size:85%;">• Sebuah tulisan di milis CCI.</span>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-7843825.post-80871464524914741652006-11-07T01:18:00.000+07:002006-11-07T03:20:51.661+07:00Blog is Dead.Iya. Zaman blog sudah berlalu. Setidaknya dipandang dari jendela blog gua ini, frekwensi orang ngeblog sudah tidak begitu terlihat animonya lagi. Alat pendeteksi <span style="font-style: italic;">update</span> blog gua hanya sedikit yang mencatat adanya tulisan-tulisan baru dalam kurun waktu 6 bulan ini. Trend-kah ini?<br /><br />Mungkin iya.<br /><br />Kalau dulu <a href="http://friendster.com/" target="new">Friendster</a> sangat <i>booming</i> mendekatkan 'orang-orang hilang' dari penjuru dunia dan perjalanan hidup manusia. Berikut dengan fitur buletin dan testimoninya. Sekarang sudah sekedar menjadi alat penambah teman baru yang kita temui di lingkungan baru. Oh well, tentunya dengan testi-testi barunya. Seru sih. Namun greget dari membuka Friendster setiap harinya mungkin sudah mulai memudar ketika koleksi teman kita sudah mencapai angka ratusan. Belum lagi mulai dilarangnya membuka situs ini di kalangan pekerja kantoran. Secara dianggap merugikan <span style="font-style: italic;">bandwidth</span> kantor.<br /><br /><a href="http://multiply.com/" target="new">Multiply</a> juga demikian. Setingkat lebih <span style="font-style: italic;">advance</span> dari Friendster, masih menyajikan ajang berkoneksi-ria. Dengan fitur yang lebih multi media, situs ini memungkinkan kita berekspresi lebih prima. Ajang tampil diri di dunia maya, mungkin begitu gua menyebutnya. Walau ujung-ujungnya sering berakhir dengan <span style="font-style: italic;">chatting</span> layaknya sebuah debat kusir panjang di milis-milis yang... lagi-lagi wujud eksistensi sebuah komunitas masing-masing di dunia maya! :) Pun lambat laun akan menjalani <span style="font-style: italic;">pattern</span> yang sama dengan pendahulunya Friendster. Dijamin.<br /><br />Namun salah satu nyawa penting dari sebuah blog itu sudah mati. Orang tidak lagi menjadi penulis diary. Orang tidak lagi mengetengahkan sebuah pembahasan. Tidak lagi orang berkarya. Provokasi sekalipun sudah sunyi terdengar. Seperti sudah terlena dengan cepatnya jepretan kamera digital yang dengan cepat juga bisa dipertontonkan langsung ke khalayak... dunia maya. Jepret-download-upload-senang. A-B-C...D. Gampang dan cepat. Dan sesuatu yang gampang dan cepat biasanya akan terlewatkan begitu saja menurut sifat dasarnya.<br /><br />Blog gua tercinta ini pun sepertinya sudah harus mencari format baru lagi. Agar tidak mati oleh zamannya sendiri. Agar tidak disamakan dengan sebuah era. Dan layaknya kecenderungan manusia, Friendster dan Multiply tadi, agar tetap eksis!<br /><br />Teknologi sepertinya selalu membuat berang ibu penciptanya: berpikir.<br /><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-family: lucida grande;">Terima kasih Artie, atas pencerahannya.</span></span>dikisatyahttp://www.blogger.com/profile/17985390731338409372noreply@blogger.com