<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719</id><updated>2009-11-06T00:30:58.828-08:00</updated><title type='text'>jurnalnya winata</title><subtitle type='html'>kita memang harus menjadi manusia modern, tapi kita jangan pernah melupakan siapa diri kita dan darimana sesungguhnya kita berasal</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-6389376993474433666</id><published>2009-11-05T23:52:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T00:30:58.844-08:00</updated><title type='text'>Negara Hukum yang Korup</title><content type='html'>Negara Indonesia adalah negara hukum. Tetapi di Indonesia tidak pernah ada keadilan atau kalaupun ada, sangat sulit mencarinya. Perlu perjuangan ekstra keras agar bisa menemukan keadilan dinegeri yang mengaku rakyatnya sangat religius. Jangan tanyakan pada lembaga penegak hukum dengan jajaran aparatnya karena dengan mudah saja kita akan mendapati bahwa disana tidak ada keadilan. Tetapi jika berbicara di depan publik, para aparat penegak hukumnya sangatlah fasih berbicara tentang hukum. Secara hukum seharusnya seperti ini, seperti itu dan seterusnya. Satu hal yang tidak bisa dipastikan dari aparat penegak hukum adalah bagaimana soal moralitas yang mereka miliki. Hanya saja para aparat penegak hukum di Republik ini juga memang sangat fasih mengatakan bahwa diri mereka bersih dari segala bentuk penyalahgunaan wewenang. Tanpa sedikitpun rasa bersalah mereka akan mengatakan "demi Tuhan saya tidak pernah menerima uang itu..." kata mereka selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu murah nama-nama Tuhan mereka sebutkan dan seakan-akan ingin menunjukkan bahwa diri merekalah yang paling bersih dan jujur. Saya tidak pernah mengerti bagaimana rakyat Indonesia menanggapi para pejabat yang selalu membawa-bawa nama Tuhan ketika disebut-sebut melakukan penyalahgunaan wewenang. Adakah rakyat percaya ataukah sebenarnya menyimpan rasa kemuakan yang luar biasa?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya bangsa ini tidak pernah beranjak pada kemajuan dibidang kesejahteraan rakyatnya. Kemiskinan masih membelit kuat rakyat kebanyakan sementara pejabat-pejabat bergelimang harta. Korupsi masih merajalela bagai penyakit yang tak kunjung bisa disembuhkan. Begitu merjalelanya korupsi sampai-sampai banyak dari rakyat Indonesia yang hidupnya bergantung dari perbuatan korupsi. Bahkan mungkin bangsa ini justru akan kolaps jika korupsi tidak bisa dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus besar soal korupsi beberapa hari ini mengemuka terkait perang cicak vs buaya (KPK vs Polri). Isunya begitu kuat sehingga pembentukan opini publik dilakukan berbagai pihak dengan begitu kerasnya. Polri dan KPK sama-sama berusaha mempengaruhi opini masyrakat bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan. Polisi bersikeras bahwa di KPK (para pimpinannya) terlibat kasus korupsi dalam bentuk pemerasan atau penyalahgunaan kewenangan. Lalu apa yang mereka lakukan adalah sesungguhnya sudah berdasarkan hukum termasuk menahan Bibit dan Chandra. Sebaliknya KPK melalui pengacaranya juga membeberkan fakta bagaimana kuatnya rekayasa dibalik penahanan Bibit dan Chandra. Bahkan diduga keras ada upaya pelemahan KPK, hal ini bisa disimak dari adanya rekaman penyadapan telepon yang dilakukan KPK terhadap Anggodo Widjoyo yang rekamannya diputar di Mahkamah Konstitusi selasa 3 November lalu. Mediapun kemudia dimanfaatkan dengan sangat maksimal untuk membentuk opini. Semuanya merasa diri benar dan semuanya menyebut diri mereka "suci", bersih dari tindakan kotor korupsi. Intinya semua membantah melakukan korupsi, semua adalah pejabat-pejabat jujur yang tidak ikut-ikutan merusakan bangsa. Itulah mereka ketika tampil di media atau didepan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mata kita lalu dicolok dengan keras atas fakta-fakta bagaimana para aparat penegak hukum tangannya belepotan oleh lumpur-lumpur suap. Siapapun yang berperkara di pengadilan pastilah akan merasakan bagaimana kerasnya aroma suap menyuap untuk memperlicin urusan hukum. Bagaimana pejabat yang sudah diduga melakukan korupsi bisa tetap melenggang menjalankan jabatannya. Banyak bantuan rakyat miskin yang dikorup dan dana proyek untuk pembangunan banyak yang masuk ke kantong pejabat. Ini fakta-fakta yang membuat hati rakyat yang sadar sangat tersakiti. Lalu didepan publik para pejabat akan dengan mudah merasa diri "suci" atau mengaku diri pejabat bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang bisa memberi kita harapan bahwa akan ada perbaikan. Bahkan presiden Republik Indonesia yang dipilih dengan suara hampir 60 persen pemilihpun seakana-akan takluk dihadapan prilaku korup. Tiada ketegasan, tiada keberanian untuk secara serius melawan korupsi. Ataukah semua karena kita telah gagal sebagai bangsa untuk membangun moralitas bahkan mungkin saja kita tidak pernah memiliki moralitas?. Padahal moralitas adalah inti dari rasa keadilan. Inilah persolannya yang mendasar ketika berbicara Indonesia sebagai negara hukum. Ketika tiada moralitas diaparat lembaga penegak hukum maka Indonesia menjadi negara Hukum yang Korup. Dimana hukum justru menjadi alat untuk melakukan korupsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-6389376993474433666?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/6389376993474433666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=6389376993474433666&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6389376993474433666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6389376993474433666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/11/negara-hukum-yang-korup.html' title='Negara Hukum yang Korup'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-6274466736507912405</id><published>2009-10-21T21:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T21:42:31.108-07:00</updated><title type='text'>Revolusi, Reformasi atau Kudeta militer?</title><content type='html'>Lorong gelap masih membentang di depan bangsa ini ketika ucap janji presiden dan wakil presiden menggema di Gedung MPR/DPR Senayan Jakarta 20 Oktober 2009. Bagaimana tidak, presiden yang dilantik adalah presiden lama yang menang secara mutlak dan selama lima tahun pemerintahannya (2004-2009) tidak berhasil mewujudkan sesuatu yang membuat rakyat menjadi sumringah. Bahkan untuk mewujudkan janjinya ketika kampanye saja tidak berhasil dilakukan. Saya membaca sebuah tulisan di sebuah media cetak nasional yang menggambarkan bagaimana nasib rakyat di daerah dimana SBY ditahun 2004 lalu mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden. Tidak ada perubahan dan mungkin semakin mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa mengerti bagaimana SBY bisa menang dan diangka yang sangat telak diatas 60 persen padahal banyak sekali yang patut dipertanyakan dari kepemimpinannya selama 5 tahun. Ambil contoh bagaimana rakyat yang dibelit masalah akibat lumpur meluap di Sidoarjo. Begitu susahnya hidup mereka, pemerintah tak sungguh-sungguh peduli. Hidup rakyat miskin juga tak menunjukkan perubahan berarti. Harga BBM dinaikan beberapa kali kemudian diturunkan lagi dan anehnya penurunan yang semata-mata karena pengaruh harga minyak dunia diklaim sebagai prestasi. Ini benar-benar diluar nalar dan penuh kebohongan publik. Rakyat begitu saja percaya dan menjatuhkan pilihan pada SBY. Saya tidak mengerti apakah ini karena semata-mata karena SBY memang menjadi pilihan terbaik diantara yang terburuk di pilpres 2009 ini. Kalau memang demikian, celakalah nasib bangsa ini karena akan dipimpin oleh presiden yang terpilih karena sudah tidak ada pilihan lain lagi yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ditengah kritikan dan masukan gencar seputar pemerintahan yang diharapkan lebih baik dibawah SBY-Boediono, ternyata penyusunan kabinet sangat kental dengan nuansa balas budi. Koalisi besar parpol ditempatkan diatas kepentingan rakyat. Nasib rakyat Indonesia dipertaruhkan dengan sikap SBY yang memilih menteri yang sarat dengan nuansa kepentingan koalisi parpol. Memang lima tahun kedepan masih menyimpan misteri yang bisa mengadirkan dua fakta. Pemerintahan ini akan lebih baik atau berjalan lebih buruk dari sebelumnya. Perhitungan dan analisa menyebutkan pemerintahan ini akan berjalan tidak lebih baik dibanding sebelumnnya karena soal pemilihan anggota kabinet yang tidak profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi masalah korupsi yang entah mengapa semakin sulit diberantas. Presiden tidak menunjukkan komitmennya yang serius mengurusi masalah satu ini. Alih-alih mengurusi pemerintah cenderung mementaskan drama-drama penuh kelucuan yang direpresentasikan dari ributnya Polri dan KPK. "Cicak Vs Buaya" adalah pernyataan yang sangat tidak elegan dari petinggi Polri yang anehnya justru dibiarkan saja oleh Presiden. Tak ada langkah apapun diberikan kepada sang pelontar kata-kata itu padahal apa yang diungkapkannya sangat meresahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit membayangkan dengan pasti apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Ketika kita seperti berada dilorong gelap saya berpikir tentang kemungkinan bangsa ini melakukan revolusi. Saya pun bertanya kepada seorang teman yang adalah pengamat politik dari sebuah Universitas besar di Semarang. Saya menjadi kecewa karena menurutnya sangat tidak mungkin terjadi revolusi di Indonesia. Revolusi mensyaratkan adanya kelas-kelas didalam masyarakat. Ada kaum proletar dan borjuis yang tegas. Nah di Indonesia hal ini yang tidak ada. Banyak kaum proletar yang lebih nyaman mengidentifikasikan dirinya sebagai borjuis dan banyak berjois yang berlindung dibalik kedok tokoh agama dan pejabat publik. Kultur Indonesia kemudian memberikan ruang dimana kaum borjuasi dihormati oleh proletar atas alasan-alasan yang tidak masuk akal. Jadi kecil kemungkinan terjadi revolusi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana kalau reformasi seperti ditahun 1999 lalu? Pertanyaan ini saya lempar ke kawan tadi. Ia juga mengatakan masih sulit. Peristiwa di tahun 1999 lebih karena kecelakaan politik akibat Soeharto yang "mutung" atau ngambek plus sakit hati akibat ulah anak-anak emasnya semacam Harmoko. Ketika orang jawa sudah mutung maka dia tidak lagi peduli atas apapun termasuk kekuasaannya yang sudah demikian kuatnya. Terjadilah reformasi ditahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak revolusi tidak reformasi. Lalu apa yang bisa menjadi titik harapan. Tanya saya mengejar ke kawan tadi. "Kudeta Militer" jawabnya. Wah ini sebuah solusi yang sangat tidak saya harapkan, tetapi inilah konon yang paling mungkin bisa memperbaiki segala sesuatunya di Indonesia. Syaratnya pemimpin kudeta militer adalah seorang jenderal yang benar-benar ingin membawa bangsa ini kepada situasi yang lebih baik. Perbaikan di tata pemerintahan dilakukan begitu kudeta dilakukan. organisasi-organisasi negara ini dibersihkan dari orang-orang rusak dan dilakukan pembersihan kepada mereka yang dianggap penuh dengan korupsi. Lalu semuanya disiapkan termasuk calon pemimpin dari sipil. Konon di Spanyol dengan jenderal Franco nya pernah membuktikan hal ini. Pertanyaan mendasar, apakah mungkin militer di Indonesia akan melakukan kudeta dan apakah ada jenderal di militer Indonesia yang bisa menjadi penguasa sementara yang akan benar-benar memikirkan nasib rakyat? Ini misteri lain yang tidak bisa dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masih ada harapan dimasa depan ketika kekuasaan SBY tak bisa lagi diperpanjang ditaun 2014 nanti. Akan muncul wajah-wajah baru sebagai pemimpin negeri yang mudah-mudahan itu adalah putra-putri terbaik Indonesia. Namun lagi-lagi ini masih misteri. Dengan sistem parpol yang acakadut penuh nepotisme dan suap menyuap tanpa ideologi yang kuat, maka elite yang akan muncul sebagai calon pemimpin kemungkinan adalah tokoh-tokoh sontoloyo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-6274466736507912405?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/6274466736507912405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=6274466736507912405&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6274466736507912405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6274466736507912405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/10/revolusi-reformasi-atau-kudeta-militer.html' title='Revolusi, Reformasi atau Kudeta militer?'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-6669221434580562618</id><published>2009-08-12T01:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-12T01:43:12.305-07:00</updated><title type='text'>Pahlawan, Penjahat dan Teroris di Negara Demokrasi</title><content type='html'>Siang ini saya kedatangan seorang tamu dari Salatiga. Pak Suwarto namanya, usia 60 tahun seorang tokoh Masyarakat di Salatiga. Datang untuk menyampaikan informasi bahwa beliau dengan sanggar Merah Putih nya akan menyelenggarakan lomba lagu-lagu perjuangan. Jelas Pak Suwarto adalah seorang seniman karena sering membuat naskah drama, monolog, tembang macopatan dan banyak lagi yang laennya. Namun percakapan yang menarik buat saya adalah saat beliau bercerita tentang bagaimana sebenarnya persoalan tentang Tuhan adalah sesuatu yang universal. Bahwa persepsi manusialah yang kemudian membuat kemasan menjadi berbeda-beda sesuai dengan batas pemikiran manusia itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasan-kemasan ini kemudian menjadi agama-agama yang berbeda-beda. Persepsi manusia memang bisa melahirkan berbagai macam pandangan dan keyakinan. Manusia bebas memiliki persepsi yang melahirkan keyakinan yang berbeda pula. Namun ketika persepsi ini dipaksakan kepada pihak lain yang jelas-jelas memiliki persepsi sendiri, ketika itulah terjadi benturan-benturan termasuk juga konflik-konflik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pak Suwarto pulang, saya tidak melanjutkan persoalan persepsi yang berbeda dikaitkan dengan agama melainkan dengan persoalan Pahlawan dan Penjahat. Saya memikirkan ini karena persoalan terorisme kembali mencuat setelah rangkaian berbagai kejadian mulai dari pengeboman di Mega Kuningan sampai dengan penggrebekan di Temanggung. Saya berpikir adakah semua dari kita sepakat menyebut para pelaku pengeboman sebagai penjahat atau malah sebaliknya sebagai pahlawan. Jawabannya mungkin tergantung dari persepsi kita dalam memandang tindakan mereka untuk kepentingan apa dan siapa. Tetapi saya meyakini bahwa ada sedikit orang yang jelas-jelas menganggap pelaku pengeboman di Mega Kuningan adalah pahlawan yang selanjutnya bisa merangsang mereka untuk melakukan hal serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya berpikir tentang bagaimana media berusaha mengekspose persoalan terorisme ini dengan sebesar-besarnya. Karena media memang harus independen, tidak jarang semua pandangan boleh masuk. Antara yang memang sepakat bahwa pengeboman adalah tindakan yang tidak manusiawi apapun alasannya dan pandangan bahwa apa yang dilakukan adalah bentuk dari sebuah perlawanan yang janjinya sangat "menggiurkan" yakni MASUK SURGA. Ini berarti tampilnya sosok pelaku pengeboman di media, bisa jadi dianggap penjahat bagi sebagian orang dan sebagian lainnya adalah Pahlawan. Sulit memang memandang persoalan ini dengan sikap yang tegas, terlebih lagi Indonesia saat ini adalah negara demokrasi yang bahkan cenderung sangat liberal. Siapa saja boleh berpikiran apa saja. Dengan mantra Demokrasi Indonesia kemudian menjadi sebuah negara yang bentuknya boleh saja digugat dan diganti sesuai kehendak mayoritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang demokrasi membebaskan siapa saja untuk memiliki persepsi apa saja. Kita boleh memandang siapa saja bisa sebagai pahlawan atau penjahat. Kita bebas menjadikan siapa saja sebagai ilham untuk tindakan-tindakan kita. Jangankan tindakan mengebom yang lengkap dengan janji Indah masuk surga, tindakan percobaan bunuh diri dengan memanjat tower menara saja mudah di tiru oleh orang lain begitu televisi menyebar berita soal percobaan bunuh diri serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di benak saya kemudian menjalar kemana-mana. Satu pertanyaan yang terbesar adalah bagaimana kemudian tindakan terorisme bisa dilenyapkan dari Indonesia. Dengan segala kondisi saat ini, sepertinya tidak ada harapan bahwa terorisme akan bisa dilenyapkan. Demokrasi yang cenderung liberal dinegara yang kepemimpinan nasionalnya lemah plus dengan tingginya angka kemiskinan dan kebodohan, tidak pelak lagi Indonesia adalah surga bagi para teroris. Maka satu-satunya jawaban yang mungkin masih bisa menjadi solusi adalah bagaimana kepemimpinan nasional dikuatkan untuk berdiri diatas konsesus bersama 17 Agustus 1945 yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber Pancasila. Hanya saja lagi-lagi persoalan sistem Demokrasi yang cenderung liberal melemahkan kepemimpinan nasional seperti yang diharapkan. Mereka terlalu takut tidak berkuasa lagi, karena kekuasaan di sistem Demokrasi ditentukan oleh keinginan mayoritas melalui pemilu. Kepemimpinan nasional tidak canggung-canggung memilih menjadi penjahat daripada menjadi pahlawan bagi rakyatnya demi memuaskan keinginan untuk berkuasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-6669221434580562618?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/6669221434580562618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=6669221434580562618&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6669221434580562618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6669221434580562618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/08/pahlawan-penjahat-dan-teroris-di-negara.html' title='Pahlawan, Penjahat dan Teroris di Negara Demokrasi'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-7812776838455479900</id><published>2009-08-04T01:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T01:44:39.689-07:00</updated><title type='text'>Sinetron-Sinetron yang Menghina Intelektualitas</title><content type='html'>Belakangan istri saya jadi gandrung nonton sinetron "Cinta dan Anugerah". Padahal sebelumnya dia tidak begitu doyan menikmati sinetron. Sayapun jadi ikut-ikutan menonton, meski saya tidak menyukai sinetron-sinetron Indonesia sekarang ini. Saya mengira ada yang istimewa dari sinetron yang dibintangi Nabila Syakib dan suaminya Bunga Cintra Lestari ini sampai-sampai istri saya menyukainya. Ternyata sama saja, sinteron ini menghina intelektualitas saya. Ceritanya berputar-putar dan benar-benar tidak masuk akal. Belum lagi settingnya yang sangat mengabaikan kecerdasan saya karena diluar logika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana misalnya ketika tokoh-tokoh Reza dan Alvian diculik dan disekap disebuah hutan. Para perempuan dicerita ini yakni Nabila, Aira, Sintia, Hany dan Ibu Safira menolongnya dan masuk hutan. Konon hutan tempat disekapnya Reza dan Alvian begitu lebat sampai-sampai membuat mereka harus teresat. Jika settingnya memang hutan lebat, tentulah harusnya mereka tidak datang dengan apa adanya tanpa alat dan perlengkapan apapun. Padahal dari dialog yang ada, mereka juga berpikir disana ada binatang buas. Trus masuk Hutan dengan ada binatang buasnya, kok tidak bawa apa-apa. Ajaibnya mereka kemudian bisa tetap keluar dengan wajah dan penampilan yang sangat masih menawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada cerita bagaimana kemudian tokoh Geo (apa Jio???) yang adalah mister X jatuh cinta pada Nabila. Padahal Nabila juga direncanakan untuk dihabisi (dibunuh) bersama-sama ketika mereka berusaha menolong Reza dan Alvian. Lalu bagaimana cerita bisa tidak menghina intelektualitas ketika ada tokoh yang mencintai seseorang padahal dia sebelumnya akan dibunuh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sinetron-sinetron di tv-tv nasional gombal dan melecehkan kecerdasan penontonnya. Banyak cerita-cerita tak masuk akal terutama bagaimana Jakarta yang begitu luasnya seolah-olah hanya berada dalam lingkup 1 RT saja. Tokoh-tokohnya yang berkelindan hubungan, entah anak angkat, ibu kandung, yang terpisah sudah cukup lama, tiba-tiba bertemu begitu saja. Belum lagi latar belakang konflik yang dibuat hanya berkisar perebutan harta. Pasti ada seorang lelaki kaya yang jatuh cinta pada perempuan miskin, dimana orang tua tidak menyetujui dan ada tokoh jahat lainnya yang ingin menguasai harta keluarga si kaya. Si jahat lalu melakukan segala upaya yang lagi-lagi diluar akal yang jelas-jelas melanggar hukum, tetapi toh diceritakan berhasil dan tidak tersentuh hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya meski sudah banyak sorotan dan kritikan dan faktanya memang sangat menghina intelektualitas, rating sintron tetap tinggi. Sintron "Cinta Fitri" misalnya meraup ratting tertinggi mengalahkan program lainnya. Saya tidak bisa menyimak dimana menariknya cerita sinetron yang dibintangi Shireen Sungkar ini disamping saya sangat terganggu dengan karakter vokal Shireen yang sepertinya susah sekali kalau pas bicara. Belum lagi pemeran Fitri ini yang nyatanya masih sangat muda belia, usianya masih belasan tahun harus berperan seperti ibu rumah tangga dengan satu orang anak. Tapi ya... itu tadi, mayoritas penonton menyukai sinetron ini sampai-sampai dibuat episode yang sangat panjang. Entah dimana dan kapan akan berakhir. Banyak mungkin yang sudah menyadari bahwa sesungguhnya mereka hanyalah "dikerjai" oleh para pembuat sintron ini. Tetapi kesadaran ini belum mampu membuat mereka beranjak untuk tidak menontonnya. Alih-alih berpaling, justru kemudian mereka menjadi penggemar setia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-7812776838455479900?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/7812776838455479900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=7812776838455479900&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7812776838455479900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7812776838455479900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/08/sinetron-sinetron-yang-menghina.html' title='Sinetron-Sinetron yang Menghina Intelektualitas'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-7157024186708645310</id><published>2009-08-04T00:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T00:55:59.572-07:00</updated><title type='text'>Mbah Surip di Negeri yang Pemimpinnya Korup</title><content type='html'>Segala sesuatu didunia ini yang pernah dilahirkan atau diciptakan maka ia akan pasti menemui kematiannya. Karena itulah semua manusia pasti akan mati karena semua manusia pernah dilahirkan. Kadang kematian itu yang penuh misteri karena tidak jelas kapan akan menjelang. Seperti berita siang hari ini Selasa (4 Agustus 2009) "Mbah Surip, Meninggal". Mengejutkan memang, karena Mbah Surip beberapa waktu belakangan namanya begitu terkenal gara-gara lagu "Tak Gendong". Lewat facebook saya melihat ada banyak ucapan duka cita lengkap dengan kalimat-kalimat pengiringnya. Tapi ada satu yang membuat saya cukup tertarik. Teman saya yang sedang menyelesaikan pendidikan Doktoralnya di Surabaya menulis kurang lebih begini"Orang Baik itu memang lebih cepat mati. Tetapi kenapa orang yang menjengkelkan tidak mati-mati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat kalau teman saya ini mengatakan Mbah Surip orang baek, meski saya tidak begitu mengenalnya. Tetapi dari beberapa tulisan di media menunjukkan bagaimana kualitas Mbah Surip sebagai sosok selebritis yang namanya melejit bak roket gara-gara lagu "Tak Gendong". Sederhana dan apa adanya. Ketenaran tidak membuatnya menjadi sosok yang harus bersikap tinggi hati. Ia mengatakan dirinya sedang belajar untuk salah, karena belajar baik sudahlah biasa. Ungkapannya " Ilove u Full" bagi saya juga penuh makna, bagaimana cinta itu harusnya bisa menjadi sebuah semangat untuk meluluhkan semua perbedaan. Semua orang pantas dicintai, dan itu cinta yang sepenuh hati (full). Bayangkan saja jika semua orang mau seperti Mbah Surip dan mengatakan dengan sungguh-sungguh "Ilove u full", betapa indahnya dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ke Indonesiaan kini, perlu menjadi perhatian bagi para pemimpin negeri ini untuk berkata"Ilove u full" pada semua rakyat yang dipimpinnya. Bukan hanya kepada teman, kelompoknya dan orang-orang disekitarnya saja. Mencintai rakyat sepenuh hati, maka pemimpin akan menjadikan jabatannya sebagai sebuah amanah untuk benar-benar demi rakyat. Mencintai rakyat dengan sungguh-sungguh akan menghindarkan diri para pemimpin dari keinginan untuk korupsi. Betapa indah Indonesia ini jika korupsi tidak menjadi cara pejabat untuk memperkaya dirinya. Betapa sejahtera rakyat jika Indonesia ini bebas dari segala bentuk korupsi. Dan itu hanya bisa terwujud jika pemimpin yang diberi kepercayaan rakyat benar-benar sepenuh hati mencintai rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi memang benar kata teman saya di facbook tadi, "Orang baik itu memang cepat mati, sementara orang jahat tidak mati-mati". Lalu di Indonesia, bagaimana musisi-musisi jumawa, bermoral bejat, bertampang manis tetapi prilakunya seperti binatang dan fasih bernyanyi religius, selalu hidupnya segar bugar. Dan yang terpenting tetap dicintai dan dipuja para penggemarnya. Sementara Mbah Surip atau misal Gombloh tidak berumur panjang. Begitulah mungkin hidup dan misteri Tuhan atas kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut ke soal pejabat-pejabat korup di Indonesia bermuka tembok bertengger dengan jumawa menjadikan rakyat hanyalah alat untuk melegalkan kekuasaannya yang korup. Mereka tidak akan mati-mati bahkan mungkin akan mati lama. Apalagi ditengah rakyat yang seperti kebingungan membedakan kebenaran sejati dan kebenaran cuma pura-pura, maka pejabat-pejabat korup ini ibarat hidup di sorga dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...Semoga Mbah Surip bisa tenang di alam sana. Dan gema "I Love U PULL" akan menjadi semboyan banyak orang dan menjadi spirit, bagaimana Indonesia ini bisa berubah menjadi lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-7157024186708645310?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/7157024186708645310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=7157024186708645310&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7157024186708645310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7157024186708645310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/08/mbah-surip-di-negeri-yang-pemimpinnya.html' title='Mbah Surip di Negeri yang Pemimpinnya Korup'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-5658183197627701522</id><published>2009-07-28T00:01:00.000-07:00</published><updated>2009-07-28T00:57:42.741-07:00</updated><title type='text'>Demokrasi Menyuburkan Terorisme di Indonesia?</title><content type='html'>Pilihan menjadi negara demokrasi bagi Indonesia jelas bukanlah tanpa resiko. Tetapi Sayangnya bangsa ini tidak siap menyikapi dengan bijak semua resiko dari efek samping sistem demokrasi. Bahkan demokrasi yang sedemikian liberalnya di Indonesia saat ini diyakini sementara pihak menjadi penyebab suburnya tindakan terorisme di tanah air. Mungkin pernyataan ini ada benarnya mengingat Bom berbau terorisme agama terus saja meledak di Indonesia seolah-olah tidak ada satupun yang bisa mencegahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi memberi ruang bagi setiap individu didalam masyarakat untuk mengekspresikan kepentingan politiknya dihadapan publik. Hampir semua bentuk ideologi kemudian menjadi punya hak untuk hidup kecuali ideologi komunis yang memang masih sangat dimusuhi oleh negara. Meski sudah jelas bahwa konstitusi negara Indonesia menyebutkan Pancasila sebagai dasar negara, faktanya ideologi berbasis agama dibiarkan tetap tumbuh subur dan berkembang dengan sebebas-bebasnya mulai dari yang beraliran lembut sampai yang super keras. Tidak ada lagi pembatasan dan setiap upaya pembatasan akan dituding sebagai bentuk anti demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya pasca Reformasi berbagai ragam konflik-konflik yang sebenarnya sangat suit dijumpai di masa orde Baru mengemuka dan menjadi tontonan keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari konflik di Ambon, Poso, lalu aksi organisasi yang dengan arogan dan secara terbuka melakukan tindakan anarkis atas nama agama seolah-olah tidak mampu (tidak mau?) diselesaikan dan diantisipasi aparat keamanan. Demikian juga dengan tindakah dan aksi terorisme. Bom bali I dan II lalu Bom di Jakarta yang beberapa kali meledak memberikan kita gambaran betapa bebasnya teroris di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para elite politik di tingkat pusat termasuk mereka yang duduk sebagai pimpinan negara saat ini, sepertinya berperan sangat penting pada tumbuh suburnya terorisme. Masalah agama sebagai sebuah keyakinan dimainkan dimensi politisnya dengan sangat piawai oleh para pemimpin. Isu agama ini pasca reformasi menjadi isu yang sangat penting untuk menggaet dukungan politis. Banyak pemimpin yang duduk di kursi kekuasaan enggan dengan tegas menyikapi gerakan-gerakan yang sesungguhnya mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika. Keengganan mereka tidak lepas dari ketakutan akan kehilangan dukungan politis. Dengan sistem demokrasi yang demikian terbuka dimana setiap pemimpin dipilih melalui sebuah pemilihan umum, maka dukungan dari basis agama tentulah jalan pintas yang sangat perlu diperlihara. Kita lalu bisa melihat bagaimana lemahnya kepemimpinan nasional atas munculnya perda-perda yang didasarkan pada keyakinan agama tertentu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditingkat akar rumput, ketiadaan sikap tegas pemimpin atas isu-isu agama yang mengancam NKRI diterjemahkan dalam bentuk yang sangat permisif dan penerimaan yang tanpa filter memadai atas gerakan-gerakan yang bergerak menjauh dari cita-cita Pancasila. Tidaklah heran kalau kemudian disebutkan rakyat sangat permisif atas gerakan para terorisme. Demikian juga bagaimana "dibiarkannya" dengan bebas Nurdin M Top bergerak di Indonesia yang menebar bibit-bibit terorisme. Identitas-identitas dan aktivitas-aktivitas keagamaan dibiarkan bergerak terlalu bebas dan tidak ada satupun yang mampu (tidak mau??) mengontrol sekalipun itu membahayakan ekistensi NKRI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya demokrasi di Indonesia membawa konsekuensi pada tidak jelas dan tegasnya banyak sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap pemerintahan Orde Baru yang baik,seperti sikap kepemimpinan nasional yang tegas pada gerakan yang mengancam NKRI tidak dilanjutkan. Ketakutan atas kehilangan dukungan politis menjadi faktor terbesarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain kita bisa melihat bagaimana penyikapan rakyat juga menjadi tidak jelas. Atas nama demokrasi pula, banyak anasir-anasir yang oleh rakyat dibiarkan bergerak sebebas-bebasnya dengan prinsip "Gue sih asik-asik aja asal dia gak ganggu gue". Maka dari itu, bom sedahsyat apapun yang akan diledakkan di Indonesia oleh para teroris tidak akan membuat semua rakyat Indonesia bergerak menentang dan melawan teroris selama korban yang jatuh tidak satupun ada kaitannya dengan mereka secara pribadi. Rasa kebangsaan kita memang semakin "termakan habis" atas nama demokrasi. Kepedulian kitapun sebagai bangsa semakin juah menipis karena kita tidak bisa melihat itu pada kepemimpinan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa kita saksikan hari ini dari bangsa ini adalah betapa Demokrasi belum memberikan kita harapan, melainkan ancaman karena pemimpin kita lebih banyak mengambil keuntungan pribadi dan kelompoknya dari demokrasi. Sementara rakyat memilih menumbuh suburkan ego individu dan kelompoknya dan menjadi tirani mayoritas lalu mengabaikan minoritas meski hidup dalam rumpun bangsa yang sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-5658183197627701522?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/5658183197627701522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=5658183197627701522&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5658183197627701522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5658183197627701522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/07/demokrasi-menyuburkan-terorisme-di.html' title='Demokrasi Menyuburkan Terorisme di Indonesia?'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-7023644069657872830</id><published>2009-07-15T19:22:00.002-07:00</published><updated>2009-07-15T20:06:04.966-07:00</updated><title type='text'>Syeh Puji dan Rumor Suap Rp 15 Milyar</title><content type='html'>Syeh Puji atau Pujiono Cahyo Widianto adalah sosok yang nyentrik. Tidak jelas tentang gelar syeh yang disandangnya berasal darimana. Namun yang jelas Syeh Puji adalah pengusaha kaya raya dari usaha kerajinan Kuningan. Namanya belakangan menjadi sering disebut dimedia setelah sikapnya yang dengan berani melawan aparat kepolisian bahkan menantang jika berani menangkap dan memenjarakannya dalam kasus pernikahan siri nya dengan gadis dibawah umur. Kasusnya sudah cukup lama dan Syeh Puji sudah sempat ditahan beberapa bulan lalu, namun kemudian penangguhannya dibebaskan dan hanya diwajibkan melakukan wajib lapor seminggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa (14/7) lalu, Syeh Puji dibawa paksa oleh tim Resmob Mapolwiltabes Semarang setelah melalui insiden yang cukup dramatis. Sehari sebelumnya media menyiarkan berita bagaimana sikap Syeh Puji yang dengan gaya khasnya menantang pihak penegak hukum. Sambil bergaya ala petinju yang menggerak-gerakkan tangannya seperti hendak memukul, Syeh Puji mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Dia juga menyebut bahwa pihak-pihak yang menyebut mertuanya menerima uang agar mau menyerahkan Ulfah untuk dinikahinya adalah bentuk penghinaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini sangat menarik untuk dicermati mengingat pernikahan dibawah umur sebenarnya di Indonesia khususnya di Jawa mungkin merupakan sesuatu yang lazim. Pelaku pernikahan gadis dibawah umur tidak hanya dilakukan oleh Syeh Puji seorang. Jika mau jujur, kasus serupa terjadi sangat banyak. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa justru kasus Syeh Puji ini membuat aparat kepolisian begitu bersemangat untuk mengusut dan menuntaskannya??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mencuatnya kasus ini ke media sepertinya bermula dari ketidaksengajaan. Syeh Puji yang sering bicara ceplas-ceplos dengan tanpa beban mengaku telah menikahi seorang gadis dibawah umur, bahkan telah mempersiapkannya untuk menjadi manajer dari perusahaan yang dibangunnya. Wartawan yang mendengar info ini lalu membuat berita dan nada pro kontra lalu mengumandang di media. Pihak-pihak tertentu yang berdiri atas nama perlindungan anak mendesak kepolisian menindak Syhe Puji karena melanggar hukum. Kepolisianpun tidak menunggu lama untuk segera memanggil Syeh Puji ke Markas polisi untuk diusut secara hukum. Ketika itu Syeh Puji datang dengan rombonganmirip selebritis menumpang mobil BMW Merah dengan kap terbuka dan dikawal sejumlah orang berseragam mirip pasukan. Ketika disebut-sebut dirinya bisa dipenjara karena menikah siri dengan gadis dibawah umum, Syeh Puji bahkan telah lebih dulu membangun bangunan mirip penjara dirumahnya. Lagi-lagi dengan gaya khasnya Syeh Puji menantang aparat kalau berani memenjarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak rumor yang beredar seputar kasus ini terutama seputar pemerasan yang dilakukan sejumlah aparat kepada Syeh Puji agar bisa lepas dari jerat hukum. Angka belasan milyar rupiah disebut-sebut sebagai bentuk suap kepada aparat agar Syeh Puji bisa ditangguhkan penahanannya. Faktanya setelah sempat mendekam dipenjara Mapolwiltabes, Syeh Puji ditangguhkan penahannya. Lalu Syeh Puji sering tampil di berita memberikan ceramah tentang kewirausahaan disejumlah perguruan tinggi di Semarang. Rupanya aktivitas ini memicu polemik lagi. Dan desakan agar Syeh Puji di tahan lagi mengemuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena merasa telah "membayar" milyaran rupiah, Syeh Puji lalu berteriak bahwa dirinya telah diperas dan merasa berhak untuk bebas. Berita tentang uang suap ini pun beredar dan disebutkan bahwa Syeh Puji telah memberi 5 milyar rupiah kepada pengacaranya untuk mengurus perkaranya tersebut. Beredar juga rumor yang tidak bisa dipastikan kebenarnya, bahwa petinggi di Polda Jateng juga telah menerima Rp 10 milyar dari Syeh Puji. Jadi total uang Syeh Puji berjumlah Rp 15 milyar yang telah disedot oleh aparat hukum. Rumor yang Rp 10 Milyar untuk petinggi di Polda Jateng masih belum diungkap, namun konon telah dilaporkan oleh tim kuasa hukum Syeh Puji langsung ke Markas Besar Polri di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeh Puji sepertinya memang telah menjadi semacam Sapi Perah bagi aparat penegak hukum. Mengetahui bahwa yang bermasalah adalah orang kaya yang sering menunjukkan tumpukkan uangnya kepada publik, aparat hukum sepertinya bersemangat untuk mengusutnya. Bahkan sejumlah LSM juga ikut-ikutan dengan menggelar demo ke kantor penegak hukum mendesak Syeh Puji diusut dengan tuntas. Syeh Puji sepertinya menjadi bunga yang mekar karena memiliki kasus hukum dan tersium harum semerbak karena kekayaannya, kemudian mengundang banyak pihak untuk ikut menghisap kekayaannya. Sementara kasus pernikahan siri dengan gadis dibawah umur yang dilakukan oleh orang biasa yang tidak kaya raya, tidak pernah ada yang menggubris, tidak ada yang berbicara lantang apalagi sampai demo ke kantor penegak hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlepas dari semua rumor tentang pemerasan yang dirasakannya, sosok Syeh Puji memang kontroversial. Ia sering dengan lantang menantang aparat hukum dan menjadikan hukum seolah-olah tidak ada. Gayanya yang nyentrik dan bicara blak-blakan membuat aparat penegak hukum merah telinganya. Mungkin inilah yang sering disebut orang seperti menggali lubang sendiri. Dengan karakter seperti Syeh Puji, sepertinya dapat diterima bahwa sikapnya yang menantang aparat hukum karena ia sendiri mengetahui dan membuktikan bahwa para aparat tidaklah bersih. Syeh Puji konon telah memiliki rekaman video ketika ia menyerahkan uang suap kepada petinggi di Polda Jateng sebesar Rp 10 Milyar. Jika saja rumor ini benar, maka tidak heran kalau Syeh Puji berani bersikap menantang aparat Kepolisian. Kita tunggu saja kisah selanjutnya dari Syeh Puji, beranikah kepolisan memenjarakannya di balik jeruji besi???.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-7023644069657872830?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/7023644069657872830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=7023644069657872830&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7023644069657872830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7023644069657872830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/07/syeh-puji-dan-rumor-suap-rp-15-milyar.html' title='Syeh Puji dan Rumor Suap Rp 15 Milyar'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-2290964460348004787</id><published>2009-07-14T01:56:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T02:28:19.117-07:00</updated><title type='text'>I Love U Full, Ha...Ha...Ha...</title><content type='html'>Mbah Surip semakin hari semakin terkenal. Ini tidak lepas dari lagu Tak Gendong nya yang meledak menjadi Ring Back Tone (RBT) jutaan pengguna telepon seluler di Indonesia. Sungguh suatu berkah bagi Urip Ariyanto, pria kelahiran Mojokerto Jawa Timur ini yang konon hidupnya lebih sering menggelandang di Jakarta. Mbah Surip selalu ingin hidup merdeka, tidak terkukung pada sesuatu yang bagi manusia biasa dianggap hal yang sangat penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar lagu Tak Gendong sudah agak lama. Wahyu, Anak kecil kelas 2 SD--anak dari teman yang sudah saya anggap seperti Saudara sendiri, Ibu Nur Halimah pengisi acara pengobatan Herbal ala Madura di Cakra Semarang TV-- menyanyikannya sekitar awal tahun 2009 lalu. Saat itu kami berada dalam satu mobil dalam sebuah perjalan dari Boyolali ke Semarang. Wahyu bersenandung "Tak GEndong kemana-mana, Tak GEndong kemana-mana..." Kami yang mendengar tertawa karena liriknya yang lucu dan mengira itu lagu karangan si Wahyu saja. Saya lalu bertanya "Itu lagu siapa Yu...?". Lho itu kan lagunya Mbah Surip Om.." jawabnya. Lalu tidak berselang lama, di radio terdengarlah lagu yang dimaksud Wahyu tadi dan dinyanyikan oleh Mbah Surip. Kamipun lalu tertawa bersama-sama lalu mendengarkan lagu Tak Gendong dari radio. Uniknya justru lagu ini diputar diacara musik yang khusus memutar lagu-lagu dangdut. Saya sempat bertanya kepada istri saya yang duduk di samping, "Gek ini lagu regae kok diputar di acara musik dangdut, apa produser radionya nggak ngerti ya..?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya mengenal lagu Tak Gendong dan sering mensenandungkan terutama kalau pas ada di kamar mandi. Namun gaung lagu ini sebenarnya tidak begitu terkenal saat itu. Pernah ketika keluarga saya datang berkunjung dari Bali ke Jogja untuk urusan menghadiri wisuda S2 adik saya, saya nyanyikan lagu Tak Gendong, mereka pada nggak ngeh. Tetapi sekarang dimana-mana orang menyanyikan lagu Mbah Surip ini. Semuanya seperti tersihir, entah apa "racun" yang ada didalam lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlepas dari isi dan makna lagu yang konon kata Mbah Surip penuh makna filosofis, saya tertarik karena lagu ini mengambil genre Regae. Saya sendiri cukup senang mendengar lagu-lagu regae terutam dari Bob Marley. Selain itu, sepengetahuan saya musik Bob Marley adalah musik yang penuh dengan pesan-pesan tentang perdamaian dan cinta. Lagu-lagu Bob Marley, seperti no woman no cry, is this love, waiting in vain sangat akrab ditelinga saya di tahun 1993. Ada makna kedalaman tentang hakekat cinta dilirik-lirik lagu ciptaan marley. Saya belum paham betul paham rastafara, tetapi saya melihat ada keinginan besar dihati penganutnya untuk mencipta kedamaian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian Mbah Surip setelah menjadi terkenal disebut-sebut masih tetap low profile, masih kemana-mana naek ojek atau sepeda motor, saya menganggapnya sebagai sesuatu yang penting untuk dimaknai kita semua. Kata-kata Mbah Surip " I Love U full" juga bagi saya penting untuk kita ucapkan kepada setiap orang baek kita kenal ataupun tidak. Tertawa lepas Mbah Surip yang mungkin juga rada dipaksakan dan sedikit dibuat-buat juga menarik disimak. tertawa Mbah Surip yang ber Ha..ha..ha..., bisa menjadikan hati kita yang sedang gundah agak terobati. Cobalah tertawa seperti Mbah Surip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang menyebut Indonesia itu kekuarang cinta, maka saya sangatlah sepakat. Rakyat dan pemimpin di Indonesia miskin rasa Cinta. Materi telah membutakan kita. Cintapun kemudian selalu dimaknakan sangat dangkal. Lalu Sinetron kita dipenuhi pula dengan pertengkaran dan perkelahian, iri hati dan dengki bahkan kekerasan dengan saling tampar. Jiwa kita menjadi gersang, rasa cinta kita tergerus habis. Lalu kepedulian kita pada sesama juga semakin berkurang. Kita tanpa sadar sedang menguras habis modal-modal sosial kita yang padahal sangat penting sebagai perekat hubungan antar manusia. Apa yang terjadi kemudian adalah tingginya angka kriminalitas. Ayah mencoba membunuh anak, ibu yang frustasi membunuhi buah hati mereka, tetangga membunuh tetangga, ayah memperkosa putrinya dan permapokan menjadi sesuatu yang jamak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kita selalu bisa berkata "I Love U Full" lalu tertawa lepas Ha..Ha..Ha... dan membiarkan hati kita dipenuhi rasa cinta kasih, betapa indah dunia ini. Seperti hidup Mbah Surip yang mungkin saja bagi banyak dari kita terlihat susah, tetapi sebenarnya bisa jadi dia sangat bahagia menjalaninya. Kadang memang kebahagiaan itu bukan semata-mata dari meteri semata seperti apa yang kita yakini selama ini, tetapi kebahagiaan itu sesungguhnya adalah jiwa yang dipenuhi dengan cinta. Jadi... Biarkan Mbah Surip tetap tertawa lepas dan selalu berkata "I Love u Full". Ha...ha..ha...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-2290964460348004787?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/2290964460348004787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=2290964460348004787&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/2290964460348004787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/2290964460348004787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/07/i-love-u-full-hahaha.html' title='I Love U Full, Ha...Ha...Ha...'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-4393672691832175503</id><published>2009-07-08T18:59:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T23:01:20.190-07:00</updated><title type='text'>Kemenangan SBY dan Pemilih Tanpa Ideologi</title><content type='html'>Akhirnya pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terlaksana. Hasil hitung cepat dari lembaga survey menunjukkan perolehan suara pasangang SBY-Boediono jauh mengungguli calon-calon lainnya. Hasil hitung cepat ini bisa menjadi antiklimaks dari sejumlah wacana terutama dari para tim sukses pesaing SBY-Boediono yang berkembang sebelum hari pencontrengan yang menyebut ketiga pasangan capres dan cawapres akan bersaing ketat. Fakta hasil hitung cepat justru menunjukkan bahwa pasangan Mega Pro dan JK Win tidak mampu memberi perlawanan berarti. Dengan terpaut prosentase yang mencapai 30 persen, tentu ini bisa dikatakan sebagai kemenangan mutlak bagi SBY-Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survey sejumlah lembaga survey sebelum Pilpres memang menunjukkan, SBY elektabilitas nya sangatlah kuat. Hasil survey tersebut mendapat pandangan negatif dari tim sukses lawan SBY. Bahkan dari pemberitaan di media kita pernah disajikan gambar bagaimana Saiful Mujani dari LSI bersitegang dengan ketua tim Sukses Mega Pro karena menganggap hasil survey LSI sangat tendensius karena dibiayai dari tim sukses SBY.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan Rakyat Indonesia memang cukup sulit untuk diprediksi. Tidak terlalu jelas, apa sesungguhnya yang menjadi dasar utama seorang pemilih di Indonesia menentukan pilihannya. Sepertinya ada banyak faktor yang bercampur aduk memenuhi pikiran setiap pemilih di Indonesia. Tidak ada yang dominan secara stabil, namun salah satu faktor bisa muncul sebagai yang dominan tergantung situasi dan kondisi. Menjadi pertanyaan penting apakah faktor yang paling dominan itu adalah sesuatu yang ideal atau hanya sekedar sesuatu yang sangat emosional. Misalnya saja, apakah SBY dipilih karena penilaian atas visi dan misinya, kepemimpinannya yang kuat, atau justru hanya karena secara fisik SBY lebih menarik dibanding calon yang lain. Faktor fisik memang tidak dipungkiri menjadi faktor yang cukup dominan meningat dalam masalah ini, SBY jauh unggul dibanding JK atau bahkan Mega. Seorang kawan saya yang menjadi pengajar di sebuah Universitas Negeri di Semarang pernah menanyakan kepada para mahasiswi nya, mengapa lebih condong pilih SBY? jawabannya sangat simple dan menurut saya sangat tidak akademis (padahal yang ditanya mahasiswi yang lekat dengan kultur akademis) yakni karena SBY Ganteng. Jawaban ini tentu tidak bisa diperdebatkan lagi karena memang tidak debatable. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada banyak analisa tentang faktor kemenangan SBY. Ada yang menyebut bahwa prestasi SBY selama memimpin relatif aman. Tidak ada kebijakan yang secara prinsip melukai hati rakyat. Entah analisa ini bisa diterima atau tidak. Yang jelas kenaikan harga BBM (meski kemudian diturunkan karena harga minyak dunia yang turun) dan masalah Lapindo, adalah dua hal yang sebenarnya layak menjadi tanda tanya besar bagi kepemimpinan SBY. Penegakkan hukum untuk memberantas korupsi juga menjadi masalah yang layak dipertanyakan. Meski tidak melindungi Aulia Pohan yang notabene adalah Besannya, SBY hingga saat ini tidak menurunkan ijin pemeriksaan bagi Walikota Semarang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Ada dugaan ijin tidak dikeluarkan karena Walikota Semarang adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Tengah. Tetapi mungkin kasus di KOta Semarang ini hanya kasus kecil yang gaungnya tidak begitu kuat dan tidak mempengaruhi citra SBY yang cukup serius tangani kasus korupsi. Sebenarnya dalam hal pemberantasan korupsi ini, SBY dalam beberapa hari menjelang pencontrengan menunjukkan ambigunya. Misalnya saja soal pemeriksaan BPKP ke KPK dan masalah pembahasan RUU Tipikor. Tetapi bisa saja isu-isu itu sengaja dilempar oleh lawan-lawan politik SBY. Faktanya, tidak ada pengaruh singnifikan bagi SBY yang meraup suar terbanyak berdasarkan hasil hitung cepat Lembaga-lembaga Survey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok SBY memang tidak mencitrakan diri membawa perubahan. Dengan Slogan Lanjutkan!, jelas bahwa SBY akan melanjutkan kebijakan-kebijakan selam ini. Bedanya dulu SBY didampingi JK,kini didampingi Boediono. Publik tentu akan menyimpang banyak pertanyaan, peran dari Boediono apakah akan seperti JK atau hanya sekedar ban serep yang lebih banyak mewakili sang presiden jika berhalangan hadir di sebuah acara seremonial. Yang jelas ada banyak persoalan yang harusnya segera mendapatkan penyelesaian. Kemiskinan, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yang terus melambung adalah persoalan yang harus segera diselesaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya, kita sekarang hanya bisa berharap SBY menjadi presiden yang baik. Seperti lagu "Manusia 1/2 Dewa" Iwan Fals yang menyerukan kepada presiden yang baru untuk segera menurunkan harga-harga dan jika ini bisa dilakukan, maka SBY layak diangkat sebagai manusia 1/2 Dewa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-4393672691832175503?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/4393672691832175503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=4393672691832175503&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/4393672691832175503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/4393672691832175503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/07/mampukan-sby-menjadi-manusia-12-dewa.html' title='Kemenangan SBY dan Pemilih Tanpa Ideologi'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-7441250911139878883</id><published>2009-07-06T01:57:00.001-07:00</published><updated>2009-07-06T02:40:11.352-07:00</updated><title type='text'>Michael Jackson  dan Mimpi tentang Dunia yang penuh Cinta Kasih</title><content type='html'>Saya tidak begitu mengenal sosok Michael Jackson (MJ), karena saya bukanlah penggemarnya. Tetapi MJ bagi saya adalah seorang penyanyi yang sangat gigih berbicara tentang kemanusiaan. Itulah yang membedakannya dengan penyanyi dunia lainnya dan membuat saya menaruh kekaguman kepadanya. Saya mengenal lagu-lagu MJ dari sebuah toko kaset didekat rumah saya di depan terminal Ubung Denpasar ketika saya masih duduk disekolah dasar di era tahun 1980 an. Yung, nama pemilik pemilik toko kaset sering memutar kaset dari album MJ dengan keras-keras layaknya pedagang kaset saat itu. Saya banyak mengenal lagu-lagu barat dari toko kaset yang sekarang ini sudah gulung tikar ini. Meski kemampuan bahasa inggris saya sangatlah minim, tetapi lagu-lagu MJ saat itu begitu akrab ditelinga saya. Salah satu yang paling saya suka adalah lagu "We Are The World". Saya begitu terkesan dengan lagu itu karena disamping tembangnya yang terasa pas, syairnya, meski dengan pemahaman bahasa inggris yang sangat kurang, sangatlah luar biasa. Belakangan, setelah berita seputar kematian MJ banyak dilansir media saya baru tahu kalau lagu we are The World bisa mengumpulkan donasi yang luar biasa banyak untuk menolong anak-anak yang membutuhkan saat itu terutama anak-anak di benua Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditahun 1990 an cerita tentang MJ kembali menyita perhatian terutama setelah lagu "Black or White" nya dirilis. Media yang saya akrabi saat itu semacam majalah HAI banyak mengulas tentang pembuatan Klip lagu yang mengusung pentingnya persamaan manusia tanpa membedakan warna kulit manusia itu. Yang saya ingat adalah konon teknlogi pembuatan Klip adalah yang tercanggih dan termahal saat itu. Bagaimana misalnya gambar di scene terakhir di klip "Black or White" yang bisa memunculkan wajah orang bergantian dengan trnasisi yang begitu halus. Saya melihat teknik seperti ini pada iklan HUT ke-14 Telkomsel yang sering diputar di televisi. Kemudian lagu MJ seperti "Heal The World" juga sangat saya sukai. Lagi-lagi tema kemanusiaan ada didalamnya yang membuat kekaguman saya terhadap MJ bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi sedih ketika pemberitaan tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh MJ menyebar dimedia. Meski tidak pernah terbukti, pemberitaan ini menurut saya cukup membuat citra MJ berkurang. Tetapi bagi saya sosok MJ tetaplah luar biasa. Saya belum mengenal sosok penyanyi di dunia ini sehebat MJ yang memiliki ketenaran luar biasa namun juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan yang sangat luar biasa. Penyanyi lain boleh memiliki originalitas dalam berkarya, namun yang mau langsung terjun berperan aktif mengumpulkan dana besar untuk membantu sesama ya cuma MJ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca running teks di Metro TV yang memberitakan kematian MJ saya tidak tahu persis perasaan saya bagaimana. Hanya bergumam kecil "Oh Michael Jackson meninggal". Ada rasa setengah tidak percaya dan berharap itu hanya berita yang tidak benar mengingat sebentar lagi MJ akan menggelar konser panjangnya. Akan menggelar konser berarti kesehatan MJ pastilah prima, jadi tidak mungkin meninggal. Tapi begitulah kenyataannya.Jacko demikian namanya MJ sering disingkat akhirnya memang benar-benar meninggal dengan banyak spekulasi penyebabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, dunia telah kehilangan seorang sosok yang begitu luar biasa. Dunia pastilah kehilangan seniman besar yang juga memiliki kepedulian luar biasa pada masalah kemanusiaan. Sama seperti Jhon Lennon, kematiannya penuh misteri dan tragis. Dan Jhon Lennon juga memiliki kapasitas dalam mencipta lagu yang juga mirip dengan MJ terutama lagu "Imagine". Lagui-lagunya menyerukan perlunya manusia berpikir dengan penuh cinta kasih, melepaskan sekat-sekat yang memisahkan manusia dengan CINTA KASIH. Bahwa dunia ini hanyalah sedang berjalan pada kehancurannya ketika CINTA KASIH dihilangkan dari hati manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Jalan MJ, doaku menyertaimu. Semoga mimpimu tentang dunia yang Indah segera engkau temui di alam yang lain, karena didunia ini sekarang sangat tipis kemungkinannya mencipta dunia seperti harapanmu. Cinta kasih telah banyak dibuang jauh-jauh oleh manusia-manusia modern karena mereka menganggapnya hanyalah nilai lama yang tidak lagi berarti. Bukankah uang dan materi mereka anggap telah cukup untuk membahagiakan mereka? Tetapi, meski telah tiada, nyanyikanlah lagu-lagumu melalui setiap desahan angin dan biarkan setiap hati manusia diterangi lirik-lirik lagumu yang mendamba kehidupan dunia yang lebih baik..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-7441250911139878883?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/7441250911139878883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=7441250911139878883&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7441250911139878883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/7441250911139878883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/07/michael-jackson-dan-mimpi-tentang-dunia.html' title='Michael Jackson  dan Mimpi tentang Dunia yang penuh Cinta Kasih'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-3771078066274458707</id><published>2009-07-02T20:49:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T21:18:20.123-07:00</updated><title type='text'>Demokrasi yang Rapuh dan Kosong</title><content type='html'>Demokrasi itu memberi ruang pada berbedanya pilihan. Sebagai sebuah sistem, demokrasi bukanlah yang terbaik. Ia mengandung banyak sekali kelemahan. Tetapi sistem inilah yang terbaik diantara yang terburuk. Sejarah dunia telah memenangkan demokrasi ketika ia dihadapkan pada sistem yang lain. Bahkan komunis yang dulunya dianggap sebagai tandingan demokrasi tidak kuat bertahan dan akhirnya jatuh. Tetapi apakah kemudian demokrasi memberi jaminan kesejahteraan kepada rakyat,jawabannya sangatlah tidak pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara hanyalah sebuah imaji. Ia hanyalah khayalan dari rakyatnya yang bersepakat untuk hidup dalam sebuah ruang lingkup dengan dasar ruang lingkup hukum yang sama. Tujuan utama dari berdirinya sebuah negara adalah bagaimana kesejahteraan rakyat yang hidup didalamnya bisa tercapai. Prinsip-prinsip keadilan harus ada didalam setiap negara, karena tanpa itu, rasa kesejahteraan juga tidak akan terwujud. Lalu demokrasi dipilih menjadi sistem yang mengatur bagaimana kekuasaan bisa menjamin tercapainya kesejahteraan. Hampir sebagian negara-negara didunia memilih demokrasi atau jika tidak, akan dipaksa untuk memilih sistem ini oleh kekuatan-kekuatan yang memang menghendaki agar seluruh dunia menjadi demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah demokrasi bagaimanapun harusnya memiliki dasar yang kuat terutama dari para pemimpin di masing-masing negara. Demokrasi sebuah negara tanpa dasar yang kuat tidak akan mengarahkan kekuasaan pada kesejahteraan rakyat tetapi pada kesejahteraan golongan tertentu. Disinilah letak persoalan demokrasi ketika ia dihadapkan pada pertanyaan, apakah sistem ini benar-benar menjami pencapian kesejahteraan rakyat di negara tersebut. Karena demikian terbukanya pada pilihan mengingat yang meraih suara terbanyaklah yang pilihannya akan dipakai menjadikan kebenaran juga mengikuti yang menang. Yang kalah akan dipaksa untuk menerima, meski sebenarnya mereka berdiri pada pendirian yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya demokrasi kemudian pada negara berkembang dimana tingkat pendidikan rakyatnya masih sangat kurang seolah-olah dipaksakan. Dengan tingkat kesadaran diri yang rendah, pilihan dalam momentum demokrasi penentuan kekuasaan menjadi sangat tidak memiliki landasan idiil yang kuat. Apalagi ketika kepentingan pragmatis begitu menguasai pikiran dan benak seluruh rakyat sebagai pelaku utama dalam demokrasi. Jadilah kemudian kekuasaan lebih berbau uang ketimbang kepentingan kesejahteraan rakyat. Demokrasi menjadi dipenuhi jargon-jargon kosong yang ramai pada saat-saat kampanye lalu setelah terpilih sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan presiden langsung saat ini di negeri kitapun memberikan gambaran kepada kita betapa rapuh dan kosongnya demokrasi yang kita laksanakan. Rakyat menentukan pilihannya pada perhitungan-perhitungan yang tidak lagi didasari akal sehat. Terlalu banyak pengaruh oleh rasa yang sayangnya didasari kepentingan jangka pendek. Itulah mengapa pilihan rakyat kepada sosok presiden bisa berubah di detik-detik terakhir. Perubahannyapun didasari pada logika-logika yang kurang relevan. Jika sudah begini, akan sulit berharap demokrasi kita akan mengarahkan kita pada pemimpin yang terbaik. Demokrasi seperti ini juga tidak mampu membimbing pemimpin terpilih untuk benar-benar melaksanakan janji-janji ketika kampanye. Demokrasi kita masih terlalu rapuh dan penuh dengan kehampaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-3771078066274458707?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/3771078066274458707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=3771078066274458707&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/3771078066274458707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/3771078066274458707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/07/demokrasi-yang-rapuh-dan-kosong.html' title='Demokrasi yang Rapuh dan Kosong'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-917219378649905937</id><published>2009-05-29T19:40:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T20:28:41.016-07:00</updated><title type='text'>Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali</title><content type='html'>Korban tewas yang jumlahnya mencapai belasan orang berjatuhan, puluhan lainnya masih dalam perawatan. Mereka adalah orang-orang yang menenggak minuman keras (miras) oplosan di Denpasar Bali. Entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa, yang jelas kasus serupa terjadi beruntun di sejumlah kota lain di Indonesia. Misalnya saja di Kota Semarang dan Kota Tegal Jawa Tengah. Banyak korban tewas setelah menenggak miras oplosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Miras dalam masyarakat Bali merupakan bagian dari tradisi yang sudah menyatu cukup lama. Bahkan miras seperti Arak dan Berem termasuk Tuak wajib ada dalam setiap ritual agama Hindu meski jumlahnya tidak banyak. Arak misalnya juga menjadi salah satu &lt;em&gt;aba-abaan &lt;/em&gt;, semacam oleh-oleh dari warga yang dibawa kerumah warga lain yang sedang melaksanakan ritual upacara agama selain beras dan dupa. Tetapi jelas, bahwa miras arak disini sama sekali tidak dimaksudkan untuk diminum melainkan dipergunakan untuk tetabuhan (persembahan kepada Bhuta Kala). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja sejak dahulu tradisi minum miras ditengah kehidupan masyrakat Bali memang sudah ada. Misalnya saja istilah &lt;em&gt;metuakan&lt;/em&gt; yang merujuk pada aktivitas minum tuak di sudut-sudut atau warung-warung tuak di desa. Dimasa lalu, tradisi metuakan jelas hanya boleh dilakukan oleh mereka-mereka yang sudah dewasa. Jangan harap anak kecil atau remaja boleh meminum tuak di areal publik dengan ikut metuakan. Pastilah orang-orang tua akan dengan tegas menolak mereka dan melarang keras jika berani-beraninya ikut metuakan. Selain itu minuman keras dimasa lalu juga jenisnya terbatas dan bahannya mungkin hanya sekedar memabukkan tidak sampai membunuh seketika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, entah mulai kapan, akhirnya aktivitas minum minuman keras di Bali menjadi demikian masif nya. Banyak anak-anak dan remaja yang sudah mengenal dan menjadi peminum (istilah bagi mereka yang suka menenggak miras) aktif. Yang paling membuat kita tidak habis pikir adalah aktivitas minum minuman keras para remaja generasi muda ini bisa dilakukan diareal publik tanpa ada siapapun yang bisa melarang apalagi menghentikannya. Lalu kebiasaan remaja-remaja Bali menenggak Miras menjadi sebuah kewajaran yang diterima begitu saja oleh masyarakat Bali. Tidak ada lagi orang tua yang bisa melarang tegas anaknya yang ramairami minum arak di pinggir jalan. Kalaupun melarang dan marah-marah, si anak tidak begitu menggubris, lalu mereka tetap saja larut didalam aktivitas minum miras, bahkan bisa hampir setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pelaksanaan Bazzar di Banjar-banjar yang digelar untuk penggalian dana bisa diajukan sebagai salah satu pemicu masifnya aktivitas minum miras di Bali. Bazzar-bazzar inilah yang juga meruntuhkan tembok ketat yang menabukan minum miras bagi generasi muda. Bazzar disini adalah yang dilaksanakan di era 90 an, karena sebelum itu Bazzar masih berjalan baik dan mengincar untung hanya dari makanan dan minuman biasa, tanpa melibatkan penjualan Miras terutama jenis Bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era 90 an, Bazzar sebagai event yang disetujui dan digelar Banjar memang memposisikan semua tetua sebagai "penjaga" moral di Banjar tersebut menjadi sangat lemah. Keterdesakan untuk mendatangkan dana/untung sebesar-besarnya menenggelamkan nilai-nilai ideal yang selama ini dipegang teguh masyarakat. Termasuk bagaimana generasi muda (truna-truna) di Banjar tersebut terlindungi dari aktivitas minum miras. Dalam setiap bazzar, keuntungan terbesar hanya diperoleh dari menjual berkrat-krat bir. Semakin banyak krat-krat bir yang bisa dijual, semakin banyaklah untung yang diraup pihak Banjar. Atas nama meraup keuntungan inipula, teruna-teruna Banjar disajikan setiap malam tamu-tamu yang mabuk-mabukan karena menenggak banyak sekali bir. Bahkan tidak jarang ada teruna-teruna di Banjar itu yang ikut Mabuk karena diajak oleh para tamu. Tidak ada yang berani melarang atau protes termasuk para tetua Banjar sanga penjaga nilai-nilai moral. Lalu tertanamlah dibenak teruna-teruna di Banjar itu bahwa Mabuk karena miras bukanlah sesuatu yang dilarang lagi. Runtuhlah kemudian nilai moral yang menyebut bahwa minum miras sampai mabuk adalah sesuatu yang tidak baik digantikan nilai baru yakni "mabuk-mabukan itu boleh-boleh saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalannya kemudian, kontaminasi budaya menenggak miras berjalan dengan sangat cepat ke generasi yang jauh lebih muda. Orang tuapun seakan-akan tak berdaya karena institusi Adat setingkat Banjar bahkan desa Adat tidak mampu berbuat banyak. Kedua institusi yang sebelumnya begitu ketat mengatur dan menjaga nilai-nilai moral menjadi demikian permisif, lemah dan tak berdaya. Namun sebagai sebuah institusi kondisi ini sebenarnya kuncinya terletak pada persoalan pergeseran budaya dan pemikiran di masyarakat Bali sendiri. Disinilah peranan uang dan materi demikian kuatnya menjadi kendali. Sederhananya begini; Orang Bali kini lebih merasa nyaman ketika mengenakan baju yang mewah, tinggal dirumah megah, memiliki Balai banjar yang megah dan Pura tempat bersembahyang yang megah pula meski semua itu dibangun diatas akar moralitas yang rapuh. Semakin lama budaya yang dikendalikan uang ini semakin kuat dan disadari atau tidak semakin meruntuhkan nilai-nilai moral yang ideal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal menenggak minuman keras, Kondisi generasi muda di Bali sebenarnya jauh lebih memprihatinkan di bandingkan di kota besar yang saya ketahui. Disemarang misalnya, mencari warung penjual minuman Bir misalnya tidaklah mudah. Mungkin hanya toko/warung tertentu saja. Demikian juga aktivitas generasi muda yang menenggak miras tidak terlalu masif seperti di Denpasar Bali. Atau mungkin saja ada, tetapi karena saya belum begitu mengenal daerah-daerah di kota Semarang ini jadinya saya tidak bisa melihat dengan jelas. Persoalannya yang penting kini adalah, siapakah yang bisa menghentikan pergeseran nilai budaya ini??? Pemerintah?? Sangat tidak mungkin karena mereka terlalu asyik dengan mainan kekuasaan nya. Kalaupun mau, masyarakat lah yang harus lebih cepat merubah dirinya, melakukan revolusi mental budaya. Berani dengan tegas berdiri diatas nilai moral dan mengesampingkan keutamaan materi dan kenikmatan duniawi yang mencerabut akar jati diri mereka. Apakah mungkin? Tidak ada yang bisa menjawab pasti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-917219378649905937?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/917219378649905937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=917219378649905937&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/917219378649905937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/917219378649905937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/miras-dalam-tradisi-masyarakat-bali.html' title='Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-6414904587575325589</id><published>2009-05-26T21:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T22:10:01.010-07:00</updated><title type='text'>Dalam kendali Uang dan Jabatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5ELwvEzzo2M/ShzLFWJ8CCI/AAAAAAAAAB4/S2tpc5MjiUU/s1600-h/01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5ELwvEzzo2M/ShzLFWJ8CCI/AAAAAAAAAB4/S2tpc5MjiUU/s320/01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340366550861613090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, Istri saya agak rewel, terutama saat menonton siaran berita di televisi menyangkut tentang sikap dan isi bicara para politisi. Saya rada-rada panik juga saat harus menjawab sejumlah pertanyaan yang meluncur dari bibirnya. Seperti yang terjadi kemarin sore, "Bli apakah para elite pemimpin politik, meteri, presiden atau kepala daerah ini, benar-benar memikirkan rakyat? Omongannya di TV selalu bilang demi bangsa dan negara, tapi kenyataannya kok seperti ini? Mengapa mereka tidak usah diberi fasilitas saja, sepertinya mereka keenakan dikasi fasilitas sampai-sampai lupa urusan rakyat??" Begitu pertanyaan beruntun yang harus saya terima saat minum teh disore hari sambil menonton berita di TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunnya pertanyaan dari Istri tercinta membuat saya tidak bisa langsung menjawab. Saya mesti terdiam dulu, sambil mengunyah dan menelan kue pukis yang baru saja saja beli di depan pasar dekat rumah kos saya. "Ya.. isi hati manusia siapa yang tahu Gek...", Jawab saya singkat. Dahinya sedikit mengeryit mendengar jawaban saya yang singkat. Mungkin dia berpikir, pertanyaan nya banyak kok jawabanya singkat?. "Menurut saya, saat mereka belum menjabat, memang keinginan nya cukup besar untuk membela rakyat," lanjut saya memberi jawaban sambil memperbaiki posisi duduk saya. Masalahnya adalah ketika sudah menjabat, ada banyak godaan, ada banyak kepentingan yang memaksa mereka untuk melupakan rakyat. Kuncinya adalah pada persoalan mentalitas dan moral para pejabat-pejabat itu sendiri. Tidak banyak pejabat di Indonesia yang memiliki moralitas dan mentalitas yang memadai sebagai seorang pemimpin. Bahkan bisa dikatakan terlalu banyak pejabat yang mudah dibeli terutama dengan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang menjadikan manusia itu mudah melupakan nuraninya. Uang membuat telinga manusia tidak lagi mendengar suara hatinya yang paling dalam. Uang menjadikan semua kekuatan, kebersihan dan kesucian pikiran menjadi mudah terkotori. Lalu apakah uang itu pantas untuk dibenci???. Ini persoalan yang juga sulit untuk dijawab, karena untuk hidup manusia harus menggunakan uang membeli kebutuhan hidup. Cuma jumlah uang yang pas dan cukup selalu jadi perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah uang dan jabatan lebih menjadi pengendali, bukan manusia yang mengendalikan uang dan jabatan. Mungkin inilah masalah pokoknya. Kesejatian manusia di Indonesia telah meluluh terlalu banyak. Manusia Indonesia sudah bukan lagi manusia yang benar-benar manusia. Ia adalah mahluk yang tidak lagi menyadari kemanusiaannya. Ia dikendalikan oleh keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliran istri saya yang nampak semakin bingung dengan penjelasan saya yang panjang lebar. Mungkin karena itu ia memilih diam dan senyum kearah saya. Ah... Istriku... Betapa cinta dan sayangnya aku padamu.....Mmmmmuaaachhhh....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-6414904587575325589?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/6414904587575325589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=6414904587575325589&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6414904587575325589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6414904587575325589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/dalam-kendali-uang-dan-jabatan.html' title='Dalam kendali Uang dan Jabatan'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5ELwvEzzo2M/ShzLFWJ8CCI/AAAAAAAAAB4/S2tpc5MjiUU/s72-c/01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-5690717577393702043</id><published>2009-05-26T01:34:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T01:39:27.011-07:00</updated><title type='text'>kepada para Calon Presiden</title><content type='html'>Manusia 1/2 Dewa&lt;br /&gt;song by : iwan fals&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai presiden kami yang baru&lt;br /&gt;Kamu harus dengar suara ini&lt;br /&gt;Suara yang keluar dari dalam goa&lt;br /&gt;Goa yang penuh lumut kebosanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau hidup adalah permainan&lt;br /&gt;Walau hidup adalah hiburan&lt;br /&gt;Tetapi kami tak mau dipermainkan&lt;br /&gt;Dan kami juga bukan hiburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunkan harga secepatnya&lt;br /&gt;Berikan kami pekerjaan&lt;br /&gt;Pasti kuangkat engkau&lt;br /&gt;Menjadi manusia setengah dewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah moral masalah akhlak&lt;br /&gt;Biar kami cari sendiri&lt;br /&gt;Urus saja moralmu urus saja akhlakmu&lt;br /&gt;Peraturan yang sehat yang kami mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegakkan hukum setegak-tegaknya&lt;br /&gt;Adil dan tegas tak pandang bulu&lt;br /&gt;Pasti kuangkat engkau&lt;br /&gt;Menjadi manusia setengah dewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke: Reff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunkan harga secepatnya&lt;br /&gt;Berikan kami pekerjaan&lt;br /&gt;Tegakkan hukum setegak-tegaknya&lt;br /&gt;Adil dan tegas tak pandang bulu&lt;br /&gt;Pasti kuangkat engkau&lt;br /&gt;Menjadi manusia setengah dewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai presiden kami yang baru&lt;br /&gt;Kamu harus dengar suara ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-5690717577393702043?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/5690717577393702043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=5690717577393702043&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5690717577393702043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5690717577393702043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/kepada-para-calon-presiden.html' title='kepada para Calon Presiden'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-439737583439810470</id><published>2009-05-22T20:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T21:10:43.919-07:00</updated><title type='text'>Tarif murah Selular, Baik atau buruk?</title><content type='html'>tarif bertelepon selular sekarang menjadi lebih murah. Ini berkah atau musibah?? Tidak jelas jawaban pastinya dan apapun jawabanya sangat layak menjadi perdebatan. Yang jelas semakin murah tarif telepon, banyak orang yang produktivitasnya menjadi berkurang. Ini terutama terjadi pada mereka yang bekerja sebagai tenaga di sektor informal atau semi formal. Misalnya saja pembantu rumah tangga. Bagaimana tidak, sejak tarif ber telpon seluler demikian rendahnya, banyak orang yang kemudian sibuk bertelepon ria. Tangannya tidak pernah lepas dari telepon genggam, entah apa yang dibicarakan, bertelepon nya bisa berjam-jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah... ini memang dampak yang sulit dihindari dari kemajuan sebuah teknologi. Bagi siapapun yang hanya ingin mengambil manfaat dari teknologi sebesar-besarnya untuk memenuhi keinginan (want) bukan kebutuhan (need) memang akan menjadi pangsa pasar yang empuk bagi investasi dibidang teknologi. Dan di Indonesia, banyak yang menggunakan teknologi semata-mata untuk memenuhi keiningan nya saja. Jadilah murahnya tarif telepon digunakan untuk bercakap-cakap yang tidak penting. Berpuluh menit bahkan sampai berjam-jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran kalau pangsa pasar pengembangan investasi telepon selular di Indonesia selalu saja menggiurkan. Apalagi sebenarnya dari segi harga dibanding dengan negara lain, tarif sambungan selular di Indonesia masih tergolong tinggi dan ternyata toh juga tetap laku. Kibuli konsumen dengan iklan menggiurkan bahwa tarif operator tersebut paling murah, maka akan banyak konsumen yang tertarik. Beramai-ramailah operator telepon selular tanamkan modalnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal produktivitas kerja, dengan mentalitas yang lemah, pengguna telepon selular di Indonesia hanya melihat murahnya tarif hanya sebatas manfaat sesaat. Sekali lagi bertelepon yang tidak penting-penting tetap dilakukan. Lalu soal kerja, menjadi yang nomer sekian. Saya kurang bisa memahami, mengapa berbicara ditelepon menjadi hal yang mengasikkan bagi seseorang. Kita tidak bisa melihat orang yang kita ajak bicara dan kita tidak tahu ia sebenarnya sedang melakukan apa saat bertelepon ria dengan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang mau mengajak orang untuk bertelepon seperlunya saja. Karena kalaupun ada iklan di media, pastilah iklan mengajak orang untuk menggunakan telepon untuk semua keperluan komunikasi. Semuanya mengaku penyedia tarif paling murah. Akibatnya kita semakin sering melihat orang-orang yang tersenyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri dan berbicara sendiri-sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-439737583439810470?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/439737583439810470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=439737583439810470&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/439737583439810470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/439737583439810470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/tarif-murah-selular-baik-atau-buruk.html' title='Tarif murah Selular, Baik atau buruk?'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-2534339169081857652</id><published>2009-05-21T21:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T20:49:03.746-07:00</updated><title type='text'>Tentaraku, Nasibmu Kini...</title><content type='html'>Apa yang berbau Orde Baru selalu saja memunculkan antipati dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Apa saja... Misalnya saja Penataran P4, GBHN, Militerisme, bahkan Pancasila saja dianggap sangat Orba sehingga tidak banyak lagi yang bersuara lantang membela dan mengaku diri sebagai Pancasilais. Ironisnya pejabat-pejabat negara juga emoh bicara tentang Pancasila dan menjadikannya pedoman dalam menentukan kebijakan-kebijakan. Dampaknya pun kemudian cukup besar bagi negara ini. Bukannya menuju kepada perbaikan, negara ini justru semakin dirusak dan dibawa kearah yang kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah salah satu citra negatif yang melekat hingga kini akibat buruknya rezim orde baru. Lihat saja bagaimana TNI tidak lagi dipandang sebagai bagian dari rakyat melainkan lebih kepada "musuh" rakyat itu sendiri. Bahkan sikap konfrontatif terhadap Tentara diperagakan secara terbuka oleh rakyat. Kasus penolakan tempat latihan tentara oleh Rakyat merebak dibeberapa tempat di Indonesia. Memang akbatnya korban berjatuhan dari kalangan rakyat karena yang punya peluru ya... memang tentara. Kasus-kasus tersebut semakin memperburuk cintra Tentara dimata masyarakat. Lantas apakah memang negeri ini sudah tidak lagi membutuhkan tentara?? Toh juga tidak akan ada negara yang menginvasi Indonesia, karena dunia sudah begitu terbukanya. Artinya kecil kemungkinan akan terjadi perang terbuka karena ancaman dari negara lain terhadap Indonesia. Ini membuat seolah-olah urusan militer dan pertahanan negara tidak lagi menjadi prioritas utama. Benarkah pandangan ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah... Namun yang jelas, peta kekuatan negara-negara didunia nyatanya masih sangat ditentukan oleh kekuatan militer negara tersebut. Buku fenomenal tentang Benturan Peradaban (Class of Civilitation) jelas menyebut bahwa klasifikasi negara-negara kuat tergantung dari kuat lemahnya militer yang dimiliki. China dan India misalnya dikatagorikan sebagai negara-negara adidaya masa depan karena keberhasilannya dalam mengembangkan teknologi militer hingga memiliki rudal-rudal dengan hulu ledak nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Militer Indonesia pasca Orde baru memang semakin memprihatinkan. Setiap waktu kondisinya nampak semakin lemah (atau sengaja dilemahkan??). Anggarannya terus dipangkas, dikurangi oleh otoritas negara. Meski presidennya dari Tentara sekalipun (SBY) toh tidak berarti tentara diperhatikan. Faktanya banyak peristiwa menyedihkan mendera Tentara Nasional Indonesia. Salah satunya jatuhnya pesawat Hercules di Magetan 20 Mei 2009. Sebelumnya pesawat TNI juga jatuh di Bandung menewaskan belasan tentara. Kisah sedih sempat merebak dari tanah papua ketika tentara dari satu batalyon mendemo komandannya. Alasannya sangat membuat kita miris, TNI tak punya biaya untuk membawa jenazah prajuritnya yang meninggal kekampung halamannya!!. Bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri saja TNI sudah tidak mampu. Bagaimana TNI akan bisa mengurusi perlindungan rakyat Indonesia??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka tidak suka, wibawa negeri ini salah satu faktornya juga adalah karena kekuatan tentaranya. Ini berarti suka-tidak suka, terlepas dari sejarah kelam masa lalu tentara Indonesia, kekuatan militer harus menjadi salah satu prioritas penting. Kebijakan negara mestinya menempatkan masalah militer sebagai hal yang tidak kalah pentingnya. Namun hal ini memang perlu dibarengi oleh reformasi yang serius di tubuh TNI. Jenderal-jenderal korup di TNI harus dihabisi karena mereka lebih sering hidup nyaman dan nyenyak dari menghisap para tentara bawahannya. Bahkan uang lauk pauk para prajurit di Lapangan pun konon dipotong para atasan. Jika jenderal-jenderal TNI punya harta berlimpah ruah, lalu para prajurit-prajurit dibawah hidupnya kesusahan, siapa lalu yang akan mengurusi dengan serius tentang pertahanan negara?? Sipil??? Sepertinya sulit, karena orang-orang sipil Indonesia sudah terlalu pragmatis, terlalu mudah tergiur oleh uang dan materi. Disuruh mikirin negara, pertanyaan yang pertama "saya dapat apa dulu??"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-2534339169081857652?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/2534339169081857652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=2534339169081857652&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/2534339169081857652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/2534339169081857652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/tentaraku-nasibmu-kini.html' title='Tentaraku, Nasibmu Kini...'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-1544626181793205410</id><published>2009-05-19T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T20:56:00.890-07:00</updated><title type='text'>Kekayaan Capres dan Janji Perubahan</title><content type='html'>Calon Presiden dan Wakil Presiden melaporkan kekayaan mereka. Fantastis! Angka kekayaannya bermilyar-milyar bahkan trilyunan rupiah. Gila!!! Mereka kaya bener. Darimana harta kekayaan mereka?? Mengingat tidak banyak dari mereka yang berlatar belakang pengusaha kecuali Jusuf Kalla. Yang lain?? Pensiunan Jenderal (Prabowo dan Wiranto)pensiunan Presiden (Megawati) dan Akademisi/birokrat (Boediono). Mungkin wajar kalau mereka kaya, bukankah tidak aneh kalau ada orang kaya di Indonesia meski tidak jelas sumber kekayaan mereka darimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengganjal pikiran adalah betapa sebenarnya negeri ini menunjukkan bahwa jurang antar yang miskin dan kaya ini sangat jauh. Bagaimana bisa seorang pemimpin disebuah negeri yang banyak rakyatnya masih miskin, memiliki simpanan kekayaan yang berlimpah ruah??? Yang paling ironis adalah ketika memimpin, mereka tidak ada kesungguhan berjuang demi kesejahteraan rakyat. Lalu salahkah jika ada rakyat yang ribut menduga-duga bahkan menuding langsung kepada para pemimpin bahwa mereka hanyalah pengejar kekuasaan yang haus akan kekayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini penuh ironi. Bangsa ini penuh kemunafikan. Sayangnya tidak banyak rakyat yang mau sadar. Alih-alih sadar, rakyat lebih banyak pasrah. Pernahkah anda mendengar kata-kata ini : "Kita tunggu saja datangnya Ratu Adil, Itulah jawaban atas masalah ini". Inilah bentuk kepasrahan, kebuntuan berpikir kita yang tidak mau merubah diri sendiri demi masa depan yang lebih baik. Lihatlah bagaimana justru demokrasi yang harusnya menjadi ruang memilih pemimpin yang benar-benar baik, justru berujung pada terpilihnya para penjahat-penjahat lama. Terpilihnya sosok yang diragukan bisa membawa perubahan pada nasib Bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja pemilihan Presiden nanti. Mudah-mudahan kali ini rakyat tidak lagi dikibuli karena kita sudah tidak lagi punya pilihan dengan munculnya lagi wajah-wajah lama. Wajah-wajah yang secara jujur tidak memberi kita harapan baru. Bukankah mereka-mereka sudah pernah memimpin negeri ini. Tapi apa yang bisa mereka lakukan kecuali menyengsarakan nasib rakyat? Lalu sekarang mereka berjanji bahwa ekonomi rakyat, pemberantasan korupsi dan bla,bla,bla janji manis lainnya di umbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat Indonesia memang baik hati, karena ingatan mereka pendek. Dalam arti lain kita mudah sekali terlena oleh janji-janji palsu meski yang mengucapkan janji tetap saja orang yang sama. Inilah negeriku, bangsaku, Indonesia ku tercinta. Ah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-1544626181793205410?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/1544626181793205410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=1544626181793205410&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/1544626181793205410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/1544626181793205410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/kekayaan-capres-dan-janji-perubahan.html' title='Kekayaan Capres dan Janji Perubahan'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-5279656554342949603</id><published>2009-05-13T20:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T21:04:25.032-07:00</updated><title type='text'>Ubah Sistem Ketatanegaraan Indonesia</title><content type='html'>Ulang Tahun Cakra Semarang TV yang Ke-4 yang jatuh pada 9 Mei 2009 sedikit agak istimewa karena kedatangan dua jenderal dari negeri merak (mengutamakan Rakyat) yakni Jenderal Nagabonar dan Mayjend (Purn) Saurip Kadi. Mereka menjadi tamu dalam acara Mbah Mangun ngobrol Bareng Sedulur. Obrolan yang disiarkan langsung ini berlangsung gayeng. Banyak persoalan bangsa yang menjadi topik pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian dua jenderal ini menawarkan solusi yang cukup konkrit yakni Ubah Konstitusi Dasar Negara. Maksudnya Undang-undang Dasar Negara Indonesia ini harus dikaji ulang. Sebuah tawaran solusi yang sama sekali tidak mudah untuk diterima oleh semua pihak. Apalagi kekuatan yang demikian mensakralkan UUD 1945 masih sangat kuat. Bahkan amandemen terkahir yang dilakukan atas UUD justru dituding menjadi biang acak kadutnya tatanan di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja sebagai sebuah tawaran solusi, ide Dua Jenderal ini layak untuk memperoleh pemahaman dan kajian yang lebih mendalam. Ada beberapa faktor yang bisa dikedepankan. Pertama, UUD 1945 memang disusun dalam keadaan negara yang masih dibelenggu penjajahan, artinya masih dalam masa-masa genting. Kedua, Amandemen Undang-undang Dasar yang dilakukan pada pasca reformasi pada kenyataannya tidak bisa menjadi solusi bangsa karena penyusunannya dilakukan oleh elite di Parlemen. Ketiga, UUD bukanlah sesuatu yang pantas untuk terlalu disakralkan, ini berarti perubahan-perubahan sangatlah memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinegera yang demokrasinya lebih maju, perubahan UUD bisa saja dilakukan namun perubahan tidak serta merta diserahkan sepenuhnya kepada parlemen. Benar bahwa parlemen lah yang memiliki kewenangan mengesahkan UUD, namun penyusunan perubahan dan kajian hendaknya dilakukan oleh sebuah tim khusus yang terdiri dari kalangan akademisi non partisan partai politik. Kajian ini lalu di ajukan ke Parlemen untuk mendapatkan persetujuan. Kalaupun ada perubahan-perubahan itu harusnya dilakukan dalam konteks makna/subtansi pasal per pasal dan bukan pada utak-atik kalimat yang bisa saja dimaksudkan untuk kepentingan sekelompok orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Pancasila? Kalau untuk ideologi negara ini, Dua jenderal mengatakan sudah merupakan harga mati. Pancasila tidak lagi bisa diutak-atik karena Pancasila sudah berdiri pada ranah yang sangat ideal sebagai dasar sebuah bangsa. Bahkan mungkin terlalu ideal. Sebagai sumber dari segala sumber hukum, Pancasila mesti diterjemahkan secar detail di dalam UUD. Nah... UUD 1945, sepertinya belum secara detail menjabarkan sila-sila dalam Pancasila kedalam bahasa hukum yang lugas dan pasti. Wajar kalau kemudian banyak tafsir atas UUD yang dilakukan oleh penguasa demi mempertahankan kekuasaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem yang menjamin pencapaikan kesejahteraan rakyatlah yang harusnya menjadi perhatian bersama. Ada yang jelas-jelas salah dalam sistem ketatanegaraan kita sehingga memerlukan perubahan-perubahan. Bagaimana misalnya sistem presidensial yang kalau memang menjadi pilihan ditegakkan dengan benar. Tidak seperti sekarang ini dimana sistem presidensial menjadi sangat kacau balau akibat manuver-manuver elite-elite politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-5279656554342949603?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/5279656554342949603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=5279656554342949603&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5279656554342949603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5279656554342949603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/05/ubah-sistem-ketatanegaraan-indonesia.html' title='Ubah Sistem Ketatanegaraan Indonesia'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-6651323322173634651</id><published>2009-04-12T02:03:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T21:11:40.394-07:00</updated><title type='text'>Pemilu 2009 Kacau, Salah Siapa?</title><content type='html'>Pemilu legislatif 2009 yang sudah berjalan 9 April lalu menyisakan protes dari banyak kalangan. Tidak segan-segan komentar bahwa pemilu legislatif ini kacau balau terlontar di media. Memang benar, pemilu kali ini benar-benar amburadul. Mulai dari soal DPT hingga kertas suara yang tertukar. Yang paling parah tentu saja masalah DPT yang amburadul. Desakan agara Anggota KPU mundur terlontar dari sejumlah kalangan. Lantas, siapakah yang paling pantas untuk disalahkan jika realitas pemilu seperti sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Dialog Spesial Indonesia Memilih di Cakra Semarang TV Kamis 9 April lalu, saya sempat menanykan hal ini kepada narasumber saya Teguh Yuwono, Dekan FISIP Undip. Tidak langsung bertanya tentang ini salah siapa, melainkan menanyakan mengapa Pemilu kali ini aturannya begitu rumit? Ada sebuah jawaban yang kemudian membuat saya merasa menemukan jawaban atas semua kekisruhan pemilu legislatif ini. Bapak Teguh Youwono mengatakan bahwa UU No 10 tahun 2008 tentang Pemilu terlalu menginginkan aturan yang sempurna dan terlalu banyak kompromi politik di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi... semua kekacauan ini sebenarnya bermula dari ulah para elite-elite partai politik yang duduk di DPR RI periode 2004- 2009 yang melahirkan UU tersebut. Mereka-mereka lah biang kerok dari semua kekacauan pemilu 9 april lalu. Mereka yang menciptakan UU pemilu yang menjelimet, mengeluarkan aturan tentang penetapan DPT dan melakukan banyak kompromi politik demi kepentingan parpol nya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan aturan Electoral Treshold (ET) yang 2,5 % kursi di parlemen sebagai syarat parpol ikut pemilu 2009 seenaknya di rubah. Jadi meski hanya punya 1 kursi di DPR RI dari hasil pemilu 2004 lalu, parpol bersangkutan bisa ikut pemilu 2009. Selain itu aturan membuat Parpol barupun sangat dipermudah. Alhasil parpol peserta pemilu 2009 pun semakin banyak. Lalu ada perubahan aturan mengenai cara mencoblos ke Mencontreng dan nama caleg harus dicantumkan semuanya di kertas suara. Ini aturan yang membingungkan dan mengalami perubahan-perubahan.Kertas suara lalu begitu besar dan lebar serta membuat banyak orang jadi bingung saat ada di bilik suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal DPT, siapkah yang paling pantas disalahkan? Yang pura-pura bijak pasti mengatakan, janganlah disaat seperti ini kita saling menyalahkan. Tetapi lihat saja aturan soal penetapan DPT ini, siapa yang membuatnya? Padahal penentuan DPT dalampemilu 2004 lalu sudah cukup bagus demikian juga penetapan DPT dalam Pilkad-pilkada, sudah relatif bagus. Sayangnya entah atas alasan apa juga kemudian dirubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, soal DPT ini bentuk kecurangan dari salah satu parpol? Mungkin harus segera di carikan jawabannya. Hanya saja kalau ada yang ingin mengulang pelaksanaan Pemilu legislatif ini, maka menurut saya itu sangatlah tidak bijak. Biaya pemilu itu besar sekali. Kasihan rakyat yang harus menanggung semua ini. Toh juga apabila di ulang, tidak ada jaminan, nasib rakyat akan jadi jauh lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi... para elite Parpol, saya mohon berhentilah berbicara untuk beberapa waktu. Saya meneyrukan kepada mereka untuk puasa bicara dulu. Rakyat sudah bosan. Lalu para pengamat dan tokoh-tokoh masyarakat perlu menahan diri juga. Jangan melontarkan sesuatu yang bisa membingungkan rakyat. Kalau saja kita mau jujur, siapa sih perlu ada pemilu? Paling-paling para elite parpol saja. Rakyat...? Saya tidak yakin elite parpol benar-benar peduli.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-6651323322173634651?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/6651323322173634651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=6651323322173634651&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6651323322173634651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/6651323322173634651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/04/pemliu-2009-kacau-salah-siapa.html' title='Pemilu 2009 Kacau, Salah Siapa?'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-3457750836274382376</id><published>2009-04-10T19:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T19:46:24.300-07:00</updated><title type='text'>Partai Demokrat, Dari Semut Jadi Gajah</title><content type='html'>Banyak yang tercengang dengan hasil perhitungan cepat Pemilu legislatif 2009. Partai Demokrat ternyata bisa mengalahkan partai-partai yang sudah bongkotan di kancah perpolitikan Indonesia. Ini termasuk luar biasa terlebih bagi saya yang pernah menganggap Partai Demokrat tidak akan mampu berkembang dan akanbernasib sama dengan partai-partai baru yang tumbuh bak jamur dimusim hujan pasca reformasi. Saya pun punya pengalaman tersendiri menyangkut Partai Demokrat saat jadi wartawan muda di Denpasar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang ditahun 2002, saya mendapat tugas dari atasan untuk menghadiri konfrensi pers Partai Demokrat di sebuah rumah makan yang masih milik kantor tempat saya bekerja. Rumah makan yang menyajikan hidangan Sea food ini terletak di bilangan Jalan Imam Bonjol Denpasar. Jujur saja ketika itu saya agak kurang bergairah karena Partai Demokrat adalah partai yang sangat baru. Bukan apa-apa, karena saya membayangkan akan kesulitan membuat berita yang menarik agar bisa di muat di koran tempat saya bekerja. Apa yang bisa di beritakan dari sebuah partai baru yang hanya memiliki nama Susilo Bambang Yudhoyono, itupun hanya seorang Menteri dibawah kabinetnya Megawati. TEtapi karena tugas, saya tetap berangkat. Selain kurang bergairah, saya juga sangat under estimate pada partai Demokrat. "Mau apa partai kecil dan baru ini" kata saya dalam hati ketika itu. Partai Demokrat ketika itu ibarat hewan semut, jika dibanding partai lain seperti PDIP, PKB, PAN dan Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, saat Konfrensi Pers hanya saya dan 1 orang wartawan lainnya yang hadir. Dari Partai Demokrat hadir langsung ketua DPP Partai Demokrat yang saya agak lupa namanya,yang jelas dia seorang Profesor. Ada nama Budi dibelakanganya. Lalu 1 orang lagi jajaran DPP, saya dan sebagian orang Indonesia pasti mengenalnya karena dia seorang presenter di TVRI. Namanya Max Sopacua (mudah-mudahan tidak salah menulis nama). Saya lupa isi wawancara saya, yang saya ingat beliau-beliau mengatakan bahwa telah lahir Partai Demokrat yang didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, namun namanya tidak masuk pengurus karena terbentur masalah etika mengingat SBY adalah bawahan Presiden Megawati, "bos besar" PDI P. Karena tidak ada isu yang menarik dari konfrensi pers itu, saya tidak bisa menulis banyak berita melainkan hanya berita selintas dan itupun saya tidak ingat betul apakah dimuat oleh redaktur saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan cukup cepat dan peristiwa SBY yang disia-siakan oleh Megawati menjadi momentum luar biasa bagi SBY. Saat berhadapan head-to Head dalam pilpres 2004, Megawatipun dipecundangi SBY. Kecemerlangan bintang SBY pun terus bersinar dan berhasil membawa Partai Demokrat menjadi Partai besar sejajar dengan Partai-partai yang telah memiliki sejarah panjang di dunia politik Indonesia. Kini Partai Dmeokrat telah menjelma menjadi "Gajah", ia besar melebihi partai PDIP, PKB, PAN dan Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi tidak ada yang istimewa dari sosok SBY. Saya pernah sedikit berharap bahwa SBY akan membawa perubahan mengingat Megawati sebagai presiden RI menurut saya lebih banyak gagal nya. Jadi kalau presidennya SBY mungkin wajah Indonesia akan lebih baik. Tetapi harapan saya ini kemudian pudar, karena ternyata SBY gagal memenuhi bayangan saya tentang sosok presiden yang ideal. Bagi saya SBY tampil mengecewakan sebagai sosok Presiden dari negara yang mengalami krisis hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja kebanyakan rakyat Indonesia lainnya sepertinya berpandangan berbeda. SBY masih bisa diharapkan memperbaiki nasib rakyat dan kenyataannya hasil pemilu 9 april lalu menunjukkan hal ini. Perolehan Suara Partai Demokrat melesat dari yang hanya sekitar 7,5 persen di 2004, kini menjadi lebih dari 15 persen bahkan mendekati 20 persen lebih. Inilah fakta nya dan mudah-mudahan SBY meraih prestasi ini bukan karena kecurangan mengingat banyak persoalan di dalam pemilu 2009 ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh lebih penting dari semua perhelatan politik pemilu ini yakni bagaimana agar Indonesia tetap bisa tenang dan damai tanpa ada konflik apalagi hanya sekedar demi rebutan kekuasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-3457750836274382376?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/3457750836274382376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=3457750836274382376&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/3457750836274382376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/3457750836274382376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/04/partai-demokrat-dari-semut-jadi-gajah.html' title='Partai Demokrat, Dari Semut Jadi Gajah'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-5332713735585171495</id><published>2009-03-03T20:16:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T21:11:40.408-08:00</updated><title type='text'>Negeri Para Maling</title><content type='html'>Negeri ini sudah menjadi negerinya para maling. Yang tidak jadi maling tidak akan bisa menjadi penguasa. Tetapi kalau ada maling yang tertangkap, para maling lainnya tidak akan merasa ketakutan, tetapi malah tertawa lalu tetap saja menjadi maling. Bisa-bisa mereka akan menjadi maling yang lebih lihai, lebih terhormat dan lebih berkuasa. Ya... inilah Negara Kesatuan Para Maling. Bagaimana menggambarkan negeri yang bisa disebut negeri Maling ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tulisan di koran tentang sebuah daerah di kota Semarang yang penghuninya rata-rata para Gali alias preman. Kalau ada salah satu dari mereka yang tertangkap, maka para tetangga dan warga lainnya akan ramai-ramai menertawakannya. Yang ditangkap itu dianggap hanyalah sedang apes sehingga bisa tertangkap. Jadi teman-teman satu kampung nya yang juga gali alias preman bukannnya merasa takut dan berhenti jadi preman ketika ada teman mereka yang tertangkap. Ini kampungnya para preman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di bali ada Kampung atau desa yang sering disebut desa asal para pengemis. Menjadi pengemis di desa ini sudah bukan sesuatu yang memalukan. Ya... karena semua dari mereka adalah pengemis . Jadi kalau ada penertiban di Kota dan mereka tertangkap lalu dikembalikan ke desa mereka, pasti setelah beberapa hari mereka kembali lagi menjadi pengemis di Kota. Galaknya para Satpol PP atau cemoohan dari warga lainnya, tidak akan menghentikan niat mereka jadi pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka dipastikan Negeri para Maling juga memiliki karakter yang serupa. Para penguasa yang memerintah negeri adalah para maling, bahkan mungkin rajanya Maling. Semuanya adalah maling-maling yang merasa dirinya tetap terhormat karena duduk dilembaga yang terhormat. Hukum yang menjerat para maling, tidak membuat mereka ketakutan apalagi berhenti jadi maling. Meski ada yang sudah ditangkap diadili bahkan di penjara, yang lainnya akan tetap mencari peluang bisa menjadi maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang paling menyayat hati di Negeri para Maling ini adalah para Maling sangatlah dihormati oleh Rakyatnya. Kemana-mana mereka tetap dielu-eluka karena selalu datang membawa segepok uang untuk membantu membangun tempat ibadah, membantu bangun jalan desa atau sekedar memberi uang saku. Wajahnya akan merajai media massa, dimana-mana ada dan selalu muncul dengan tampilan menawan meski mereka juga adalah Maling. Ya... namanya juga negeri Maling, yang dihormati tentu saja Raja-Raja Maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Maling, meski sudah mendeklarasikan organisasinya akan bebas dari tindakan maling, belum beberapa waktu pasca deklarasi, ehh.. malah oknum anggotanya tertangkap karena melakukan tindakan maling. Ini ironi yang menyakitkan hati. Tetapi apakah yang maling hanya penguasa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga negeri maling, banyak dari yang dikuasai alias rakyatnya yang menjadi maling atau paling tidak mendorong penguasa untuk jadi maling. Di masa pemilihan umum, rakyat bersepakat untuk tidak memilih mereka yang tidak memberikan sesuatu. Paling tidak para caleg kalau mau dipilih harus sumbang uang bangun jalan atau bangun tempat Ibadah. Untuk memenuhi keinginan ini, para calon penguasa lalu pinjam uang kiri kanan, atau jual aset. Saat sudah berkuasa, agar Break Even Point alias pak pok bahkan kalau bisa untung, mereka lalu jadi Maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ADA POTONGAN sebuah puisi tentang negeri Maling yang ditulis Daryanto Bended judulnya KERAJAAN MALING&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;MALING-MALING-MALING&lt;br /&gt;MALING-MALING-MALING&lt;br /&gt;APABILA&lt;br /&gt;PEMERINTAH MALING&lt;br /&gt;MENTERI-MENTERI MALING&lt;br /&gt;DPR MALING&lt;br /&gt;PEJABAT MALING&lt;br /&gt;PEMBESAR PUN IKUT MALING&lt;br /&gt;                 (lalu apa jadinya negeriku)&lt;br /&gt;NEGERIKU MENJADI KERAJAAN MALING&lt;br /&gt;.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi ketika ada seorang yang bukan maling menyatakan ingin menjadi pemimpin di negeri ini? Ia yang adalah seorang yang tidak mungkin menjadi maling karena tidak ada yang bisa dicuri. Ia hanya seorang seniman. Ada jenderal yang mendukungnya, tetapi sang jenderal juga adalah jenderal miskin. Maka inilah yang terjadi ketika deklarasinya menjadi calon presiden dikumandangkan. Semua menertawakannya... mencemooh. Termasuk media massa pun ramai-ramai menertawakan atau kalau tidak menutup akes pemberitaan. Lalu yang menertawakan akan bertanya sinis "kendaraan politik mu mana?". Yang dimaksud adalah parpol yang selama ini menjadi organisasinya para maling-maling. Ya...namanya saja bukan maling dan belum pernah jadi maling, mana ada organisasi Maling yang mau mendukung calon ini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika yang mencalonkan diri jadi pemimpin negeri adalah para pensiunan jenderal atau pengusaha bergelimang harta, entah harta darimana (mungkin saja dari jerih payah menjadi Maling) media pun mendukung. Apalagi ada milyaran rupiah mengalir ke kantong sang pemilik media. Semua memberi dukungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI MEMANG (BENAR-BENAR) NEGERI PARA MALING.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-5332713735585171495?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/5332713735585171495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=5332713735585171495&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5332713735585171495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/5332713735585171495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/03/negeri-para-maling.html' title='Negeri Para Maling'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-8958974003795253731</id><published>2009-02-27T19:13:00.000-08:00</published><updated>2009-02-27T19:38:41.250-08:00</updated><title type='text'>Sepak Bola itu Mahal</title><content type='html'>Terjadi perdebatan panjang ketika rencana penyertaan modal dari Pemkot Semarang di PT.Mahesa Jenar mengemuka. Mungkin karena jumlahnya yang cukup besar yakni Rp 20 Milyar dan ini untuk membayai hidup klub sepak bola bernama PSIS. PT. Mahesa jenar didirikan sebagai perusahaan yang mengelola Klub PSIS yang oleh aturan Liga dunia harus dikelola oleh badan usaha. Tidak ada yang salah pada aturan yang dikeluarkan FIFA ini, karena klub profesional memang harus dikelola secara profesional pula. Yang jadi masalah adalah ketika uang yang digunakan sebagai modal adalah uang yang diperoleh dari perasan keringat rakyat melalui pajak. Terlebih lagi bagi kota Semarang yang RAPBD nya masih memiliki kepincangan dalam pemenuhan anggaran wajib dan pilihan. Anggaran APBD untuk investasi itu urutannya paling terakhir dan haruslah benar-benar bisa menguntungkan atau setidak-tidaknya berguna untuk kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;Ini tidak memerlukan pemikiran yang mendalam untuk menegaskan penolakan atas rencana investasi di PT. Mahesa Jenar. Namun urusannya menjadi runyam ketika persoalannya dicampur baurkan dengan masalah rasa, kebanggaan dan urusan politis. Jadilah logika-logika sederhana bahwa investasi untuk perusahaan sepakbola yang tidak jelas untung ruginya ini pantas ditolak menjadi rumit. Aneh bin ajaib, akhirnya DPRD Kota Semarang setelah melalui voting menyetujui anggaran untuk investasi ini. Mungkin para anggota DPRD yang setuju memang tidak lagi memiliki logika dan akal sehat.&lt;br /&gt;Masalah menjadi jauh lebih rumit, karena Direktur PT. Mahesa Jenar ini adalah anak dari sang Walikota Semarang yang juga Ketua Umum PSIS. &lt;br /&gt;Saya berkesempatan memandu talk show nya di Cakra Semarang TV membahas masalah ini. Mas Yoyok, anak sang walikota yang ditunjuk sebagai direktur PT, Mahesa Jenar beragumentasi bahwa apa yang dilakukannya dengan menawarkan kepada Pemkot agar membeli saham PT yang dipimpinan adalah wajar. "Saya hanya ingin agar PSIS diselamatkan" katanya. Diselamatkan agar tidak menjadi milik orang lain yang berarti pindah ke luar kota Semarang. Lisensi di Super Liga adalah sesuatu yang mahal, kata Yoyok yang juga maju sebagai caleg DPRD Jateng dari Partai Demokrat. Banyak yang mengincar mau membeli PSIS. &lt;br /&gt;Sementara Mas Ari Purbono, anggoat DPRD kota Semarang yang getol melontarkan penolakan, beragumentasi bahwa investasi di PT. Mahesa Jenar belum layak karena anggaran untuk itu memang belum pantas dianggarkan. "PDAM Kota Semarang saat ini lebihmembutuhkan suntikan dana," kata Ari Purbono. Usulan penyertaan modal inipun nyaris tak pernah direspon sang Walikota. Tidak jelas apa alasannya. Disisi lain, PSIS sendiri masih punya tunggakan 2,1 milyar rupiah dari pajak yang harusnya dibayar. Bagaimana bicara untung, jika tunggakan pajak saja masih belum dibayar. Khusus masalah pajak ini, Yoyok sukai mengatakan sudah akan membayar. Ini akan dicicil dalam lima tahun kata Yoyok. &lt;br /&gt;Kedua-duanya memang berdiri pada posisi yang wajar untuk saling mempertahankan argumentasinya. Yang menurut saya agak kurang memperhitungkan dengan baik kebijakannya adalah Sang Walikota Semarang yang juga Ketua Umum PSIS. Mungkin saja hati nuraninya sudah tertutup rapat, pikiran akan nasib rakyat juga sudah tidak lagi banyak. Sebagai Bapak dari anaknya sendiri dan juga bagi seluruh Rakyat Kota Semarang, sang Walikota harusnya bijak dan memiliki skala prioritas yang jelas. Atau mungkin kepentingan politis telah begitu kental karena penggemar Sepak Bola jumlahnya tidaklah sedikit dan mereka adalah penyumbang suara yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;Lalu saya berpikir, Sepak Bola itu memang mahal. Untuk sebuah kebanggaan akan klub sepak bola, anggaran dana rakyat harus disisihkan. Saya tidak tahu apa dampaknya jika sebuah Klub sepak bola semacam PSIS bisa menjadi juara Indonesia sekalipun. Apakah ia akan menggerakkan roda perekonomian rakyat, atau ia akan mendatangkan ratusan lapangan pekerjaan. Saya hanya bisa berdoa, ya... mudah-mudahan saja memang bisa begitu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-8958974003795253731?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/8958974003795253731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=8958974003795253731&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/8958974003795253731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/8958974003795253731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/02/sepak-bola-itu-mahal.html' title='Sepak Bola itu Mahal'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-3836187961495841833</id><published>2009-02-08T19:04:00.001-08:00</published><updated>2009-02-08T19:42:08.408-08:00</updated><title type='text'>Semarang Diterjang Banjir Besar</title><content type='html'>Minggu siang saya menerima telepon dari Kakak di Bali. "Ini ibu mau bicara", katanya singkat. Lalu terdengar suara ibu saya terbata-bata menangis, saya tersentak kaget,ada apa gerangan? &lt;em&gt;"Nyoman ajak Lika engken di Semarang, sing kena banjir?" &lt;/em&gt;katanya. Dari suaranya tertangkap beliau khawatir. &lt;em&gt;"Sing kenken, tiyang baik-baik gen dini, banjir di kota bawah. Tiang tinggal agak di bukit, joh uli banjir," &lt;/em&gt;jawab saya menenangkan Ibu. &lt;em&gt;"Di berita di tv, semarang kone banjir gede," &lt;/em&gt;kata ibu saya masih dengan nada khwatir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kadang berita itu membuat persepsi seseorang tidak selalu sama dengan isi berita. Banjir hari itu memang banjir besar. Mungkin ini yang terburuk sejak saya bermukim di kota ini empat tahun lalu. Hujan juga turun deras dari terus menerus. Langit selama tiga hari ini selalu diselimuti mendung tebal dan hujan sambung menyambung. Gambar berita di TV yang menunjukkan banyak rumah di kota semarang yang  tenggelam mungkin membuat ibu saya mengkhawatirkan kami yang tinggal di Semarang. Tetapi... ya itu tadi, tidak berarti seluruh kota juga mengalami banjir, karena wilayah yang tergenang kebanyakan berada di kawasan kota bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang memang di bagi dua wilayah besar, satu kota bawah satunya lagi kota atas. Terjadi gejala alam yang cukup mengkhawatirkan di kota Semarang yakni penurunan permukaan tanah yang cukup besar setiap tahunnya pada kawasan Kota Bawah. Tidak mengherankan ada prediksi suatu saat Semarang akan tenggelam. Menurut para ahli, Tanah kota Semarang bagian bawah terbentuk dari proses sedimentasi aliran sungai selama ratusan tahun. Dahulu, tanah yang kini menjadi kota bawah di Semarang adalah lautan atau daerah rawa-rawa. Jadi tidak ada daratan. Karena kawasan pegunungan bagian hulu terus mengirimkan lapisan tanah dalam waktu yang panjang maka dataranpun terbentuk. Kini, dataran yang bisa dikatakan rapuh dan "lembek" inipun mengalami penurunan karena bebannya cukup besar. Kota bagian bawah memang padat penduduk dan bangunan. Analisa ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa di kota semarang bisa terjadi Rob dan mudah diterjang banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, nampaknya faktor kebijakan penggunaan tata ruang juga menjadi bagian penting kerusakan alam dan mempercepat penurunan permukaan tanah. Mungkin ini bukan jadi kelemahan pemerintahan di Kota Semarang, hampir semua kota di Indonesia tidak memiliki konsep dan kebijakan jelas soal pemanfaatan ruang. Apakah mereka tidak tahu mengenai hal ini? Saya yakin mereka semua mengetahui dan menyadari, namun tidak mudah untuk menjadikan pemerintah benar-benar peduli dan mau menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Banyak nya kepentingan menjadi hal yang utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja umumnya yang merasakan derita, mereka yang secara ekonomi kekurangan. Ditengah kehidupan yang belum membaik benar, mereka harus berjuang menghadapi banjir. Belum lagi dampak nanti dikemudian setelah banjir reda. Mungkin penderitaan masih akan panjang. Bencana memang membawa penderitaan panjang. Tetapi tidak mudah untuk mencegahnya karena sulit untuk menentukan siapa yang harusnya paling bertanggungjawab atas hal ini. Pemerintah dan aparat-aparatnya terlalu sibuk mengurusi hal lain. "Embuh.., ngurusi opo!" jawab saya kalau ada yang menanyakan urusan apa yang sedang sibuk diurusi pemerintah saat ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-3836187961495841833?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/3836187961495841833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=3836187961495841833&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/3836187961495841833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/3836187961495841833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/02/minggu-siang-saya-menerima-telepon-dari.html' title='Semarang Diterjang Banjir Besar'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-4728862748403902106</id><published>2009-02-05T19:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T19:59:06.977-08:00</updated><title type='text'>Manusia itu Terlalu Sombong</title><content type='html'>Manusia telah menjadi ancaman bagi planet Bumi, karena itulah tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang ada disekitar manusia melakukan proses kimiawi untuk melakukan pertahanan dan menyerang manusia. Proses kimiawi ini menghasilkan semacam gas beracun yang membuat manusia melakukan tindakan bunuh diri. Efeknya mengerikan, banyak manusia kemudian tiba-tiba melompat dari gedung yang tinggi, menusuk lehernya dengan jepit rambut, menggantung diri dan menembak kepalanya dengan pistol. Ketakutanpun menyebar dan seperti biasa pada awalnya ini dianggap sebagai bentuk dari aksi terorisme. Belakangan manusia baru sadar bahwa tumbuh-tumbuhanlah yang telah menjadi penyebab semua ini. Serangan tumbuh-tumbuhan ini berlangsung dalam 1 hari dana puncaknya terjadi pada pagi hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cerita dari Film "The Happening" yang saya tonton beberapa malam yang lalu melalui  VCD.  Mengisi waktu senggang saya di rumah, menonton film melalui VCD sewaan adalah pilihan saya dan istri tercinta. Maklum saya hanya tinggal berdua di Semarang jauh dari keluarga besar yang ada di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan cerita film yang diproduksi orang-orang Amerika ini. Bahwa Tumbuh-tumbuhan juga bisa melakukan serangan kepada manusia dan harus berujung pada kematian manusia. Pesan yang saya tangkap bagaimana manusia terlalu merasa diri berkuasa atas alam, planet bumi sehingga mengabaikan hak hidup mahluk lain termasuk tumbuh-tumbuhan/tanaman. Pohon-pohon besar di hutan ditebangi tanpa memikirkan bahwa pohon-pohon itu juga memiliki kekuatan hidup didalamnya. Manusia sudah terlalu jumawa sehingga tidak bisa menempatkan kesejajaran dirinya dengan mahluk lain. Hewan dan tumbuhan hanya dianggap sesuatu yang bisa diperlakukan sesuka manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terlalu jauh kalau memikirkan apakah mungkin pohon-pohon memiliki kemampuan berproses secara kimiawi untuk menghasilkan Gas yang bisa melawan dan menyerang manusia. Tetapi lagi-lagi ini pesan penting yang harus membuat kita semua merenung dan mengkoreksi bagaimana prilaku kita kepada mahluk lain disekitar kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin para tetua kita dimasa lampau lebih mampu berpikir dengan bijak dan memiliki kesadaran bahwa manusia harus hidup seimbang dan sejajar dengan mahluk lainnya di planet bumi ini. Karena itulah rasa hormat mereka kepada hewan dan tumbuhan sangatlah tinggi. Jika di Bali pohon-pohon besar begitu dikeramatkan dan dianggap memiliki roh sehingga harus dihormati, mungkin ini didasari atas pemikiran yang bijak, bahwa pohon-pohon besar tersebut memiliki andil besar dalam kehidupan manusia. Bukan apa-apa, ini wujud nyata bagaimana manusia tidak hanya meminta kepada alam tetapi juga memberikan sesuatu dan itu adalah rasa hormat yang mendalam. Hutan dalam kepercayaan manusia Indonesia dimasa lalu adalah tempat yang keramat. Didalamnya ada kekuatan lain yang berkuasa sehingga manusia tidak bisa begitu saja masuk lalu merusak dan menebangi pohon-pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya dengan modernisasi, semua itu kemudian lenyap karena dengan mudah dicap sebagai tahayul. Musyrik, demikian orang-orang dari agama tertentu bersuara kencang. Tuduhan-tuduhan ini lalu menjadikan rasa hormat kepada alam jauh berkurang. Tidak dianggap penting lagi menghargai tanah, tanaman dan juga mahluk lainnya, toh mereka hanya diam mau diperlakukan seperti apa. Tetapi kita tidak sadar bahwa hilangnya rasa hormat kita kepada alam berujung pada perlawanan balik dari alam itu sendiri. Bencana alam banjir dan tanah longsor adalah realitas paling kuat untuk dikemukakan. Lagi-lagi sayangnya manusia tidak juga sadar, rasa hormat pada alam itu kini telah benar-benar lenyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang sangat sulit menyadarkan manusia, saya lebih senang jika alam menyadarkan dengan caranya sendiri, termasuk salah satunya melalui tindakan natural dimana pohon-pohon mengeluarkan gas yang menyerang saraf manusia sehingga manusia membunuh dirinya sendiri. Tetapi menarik dicermati di bagian akhir cerita Film "The Happening" ini, dimana manusia tidak juga mau sadar bahwa ini adalah peringatan dari alam, karena tanaman/tumbuhan menggangap manusia ancaman. "Peringatan? jika memang benar mengapa hanya di suatu daerah saja? kenapa tidak diseluruh belahan dunia. Kalau ini terjadi diseluruh negeri mungkin baru kita percaya bahwa ini peringatan alam", kata presenter di tv dalam film tersebut dengan jumawa. Ia menjawab pernyataan dari seorang ilmuwan yang mengemukakan teorinya bahwa kejadian-kejadian tersebut merupakan bentuk perlawan dari tumbuh-tumbuhan kepada manusia. Ah.. manusia memang kadang sangat bodoh, tidak mampu membaca tanda-tanda alam karena terlalu sombong dengan pikiran-pikiran mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-4728862748403902106?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/4728862748403902106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=4728862748403902106&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/4728862748403902106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/4728862748403902106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/02/manusia-itu-terlalu-sombong.html' title='Manusia itu Terlalu Sombong'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7727627591064931719.post-4989463366558025392</id><published>2009-02-01T23:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T23:39:46.203-08:00</updated><title type='text'>Jadi Pemimpin di Indonesia Musti Ndableg</title><content type='html'>"Bli Jadi pemimpin di Indonesia itu harus Ndablek ya?" Begitu kata istri saya saat makan siang tadi. saya berdua sedang menikmati makan siang sambil menonton berita ditelevisi tentang banjir yang merendam rumah-rumah penduduk di sebuah daerah di Indonesia. Saya tidak menjawab, saya melihat sebentar kearahnya, lalu kembali mengunyah makan siang sambil menonton gambar di televisi. "Kalau nggak ndablek, pemimpin seperti pak SBY pasti nangis liat rakyatnya harus berjuang melawan banjir" katanya melanjutkan. Saya masih tetap tidak menjawab, asyik mengunyah tahu bakso goreng, lauk makan siang saya hari ini. "Lha buktinya, Pak Presiden kita asyik-asyik saja tuh kesana-kesini ikuti acara serimonial sambil ketawa-ketawa", kembali istri saya berkomentar. "Ya begitulah..." jawab saya singkat, karena tidak tahu mesti menjawab apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca koran hari ini, berita dari daerah-daerah di jawa tengah memang dipenuhi dengan derita. Dua orang tewas ditelan ombak, empat orang tewas tertimbun longosoran, bencana banjir memaksa warga mengungsi. Saya tidak sanggup membaca isi, hanya judul-judul berita saja yang saya tangkap. Begitulah saat musim hujan mendera, isi berita di koran dan televisi hanya tentang bencana yang dari tahun ketahun tidak beranjak dari banjir dan tanah longsor. Aneh bin ajaib di daerah seperti Jawa Tengah, bencana-bencana itu tidak diantisipasi sama sekali. Pemerintahpun tidak mampu berbuat banyak, entah mereka sibuk mengerjakan apa. Sibuk mikirkan proyek dan celah untuk korupsi mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana didaerah tidak pernah habis. Jangan katakan apa yang terjadi di ibu kota Negara bernama Indonesia, bencana banjir sudah menjadi hal biasa yang tidak pernah ada penyelesaiannya. Pemerintah selalu berdalih ini dan itu. mulai dari soal danalah, partisipasi rakyat kuranglah, bla-bla-bla.... Sungguh klise dan tidak masuk akal. Pertanyaannya adalah, Lantas apa kerja mereka selama ini? Tidakkah seorang presiden menangis melihat rakyatnya susah, dikejar-kejar banjir, meregang nyawa di telan tanah longsor dan tewas dilaut karena kapal yang ditumpangi terbalik. Kita belum bicara berapa korban nyawa harus melayang karena kecelakaan di Jalan Raya dan kereta api lalu pesawat udara. Semua karena ketiadaan sistem yang memadai untuk menjamin keselamatan rakyat. Kalaupun ada sistem itu hanya dipergunakan alat mencari kekayaan pribadi. Ijin trayek di bisniskan. Keur kendaraan umum juga penuh sogokan sehingga bus tidak laik jalan tetap dikeluarkan ijin trayeknya. Adakah pemimpin negeri ini termasuk Pak Presiden memiliki kepedulian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI saat menjelang pemilu, saya merasakan kemuakan yang semakin menjadi-jadi. Muak kepada para pemimpin dan calon pemimpin. Perang untuk merebut kekuasaan berlangsung seru, seakan-akan hidup mereka hanya untuk itu saja. Pak Presiden dan lawannya sibuk beropini. Iklan ditebar, mengaku-aku paling berhasil dalam mengelola negara dan mengumbar janji tentang perbaikan-perbaikan. "Saya muak Bli, liat mereka," kata istri saya suatu saat. Saya tidak perlu bertanya alasan apa. Tetapi istri saya tetap menjawab, "saya muak karena mereka semua pembohong," katanya. Kembali saya hanya bisa diam. "ya... begitulah...," jawab saya dalam hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;selengkpanya....&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7727627591064931719-4989463366558025392?l=winatalyka.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://winatalyka.blogspot.com/feeds/4989463366558025392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=7727627591064931719&amp;postID=4989463366558025392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/4989463366558025392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7727627591064931719/posts/default/4989463366558025392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://winatalyka.blogspot.com/2009/02/jadi-pemimpin-di-indonesia-musti.html' title='Jadi Pemimpin di Indonesia Musti Ndableg'/><author><name>winata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12839823540588704200</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='07445161077751125677'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>