tag:blogger.com,1999:blog-66274952008-03-24T09:21:58.406+07:00Biasa aja...Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comBlogger66125tag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1099893434056561122004-11-08T11:17:00.000+07:002004-12-28T16:55:03.933+07:00Salam TerakhirSekian lama menikmati kehangatan dunia Blog, meski sebatas rentang maya, tapi cukup membuat warna lain dalam pelangi kehidupanku. Jadi ingat pertama kali ngeBlog, tahu ngeBlog dan terus mutusin ikutan ngeBlog.
<br />
<br />Di awali, saat ketika lagi seneng-senengnya, pertama punya anak, dan punya akses internet gratis. Memadukan dua hal tersebut diatas sebagai ungkapan kebahagiaan gw mutusin membuat website <a href="http://www.geocities.com/bayzhaqy" target="_blank">kebahagiaan</a>.
<br />
<br />Lalu, ketika Jihan lahir, <a href="http://www.geocities.com/bayzhaqy" target="_blank">situs</a> kebahagiaan itu yang sekian lama tak tersentuh, akhirnya kembali hadir di layar monitor gw. Dan kali ini siap dipreteli HTML-nya lewat FrontPages, hehehe, maklum baru <em>ngeh</em>.
<br />
<br />Saat Searching di <a href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a> mengenai HTML & Personal Homepages, entah gimana, nyangkut di salah satu Blogger, <a href="http://alfaharahap.blogspot.com" target="_blank">Alfa Harahap</a>, namanya. Lalu melintas ke <a href="http://saljudiparis.blogspot.com" target="_blank">Salju di Parisnya</a> Bagja Hidayat, juga <a href="http://negeri-senja.blogspot.com" target="_blank">negeri senjanya</a> seorang Ratna Ariyanti, yang lebih di kenal dengan sebutan Atta itu.
<br />
<br />Bisa di pahami, akhirnya <a href="http://www.geocities.com/bayzhaqy" target="_blank">situs </a> itu "terbengkalai". Malahan gw jadi lebih asyik mencari tahu lebih jauh tentang <a href="http://www.blogger.com">Blogger</a> dan tetek-bengeknya. Hingga akhirnya gw punya juga sebuah <a href="http://qky.blogspot.com" target="_blank">Blog</a> kayak orang-orang, hehehehe :P.
<br />
<br />Sekian lama merajut canda-kasih dengan sesama Blogger, meski ngga banyak dan hanya sebatas rentang maya, tapi telah cukup menyemaraki nuansa hati (taelah). Dan semua itu, <a href="http://www.blogger.com">Blogger.com</a>-lah yang telah menjembatani selama ini. Banyak hal telah dilalui oleh gw dan <a href="http://www.blogger.com">Blogger</a>.com. Bagai dua orang sahabat, yang telah saling mengenal sekian lama satu sama lain. Tapi nampaknya gw harus memutuskan untuk berpisah dengan <a href="http://www.blogger.com">Blogger.com</a>.
<br />
<br />Pertemuan gw dengan <a href="http://complete-free-host.com" target="_blank">complete-free-host</a> telah mewujudkan impian gw punya hostingan PHP yang gratis. Banyak hal yang bisa gw jalanin disitu --mungkin juga kreasi-- kalau gw punya hostingan PHP sendiri. Jadi lebih leluasa.
<br />
<br />Hmm... Gw ngga mau sentimentil, ini salam terakhir gw untuk loe <a href="http://www.blogger.com">Bloggy</a>. Terima kasih banyak atas persahabatan dan persaudaraan kita selama ini. Terima kasih atas cakrawala yang membantang, meluaskan pandangan sempitku. Terima kasih atas, keramaian dan keriuhan di tengah kesendirianku. Terima kasih atas semua, atas segala ketulusan tanpa terdonasi pamrih sedikitpun. sekali lagi terima kasih.
<br />
<br />Juga terima kasih kepada enetation dan HaloScan juga Doneeh untuk komenting sistimnya. Terima kasih juga kepada photobucket dan geocities untuk wadah midi dan gambar caem gw, thx to Doneeh.com, shoutboxes, WDCreez, Shoutuns (yang ngga jadi di pake) buat fasilitas shoutbox-nya. Juga kepada sahabat-sahabat orang biasa, yang telah meluangkan waktu, menyapa, berkomentar, menjalin canda-kasih, di ucapkan banyak terima kasih. Kini kalian bisa temuin aku di <a href="http://qky.c-f-h.com" target="_blank">sini</a>. Sekali lagi makasih, terima kasih semua, God Bless You All.Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1099629295686243542004-11-05T11:32:00.000+07:002004-11-05T11:46:24.636+07:00KomentarApa yang kita banggakan dari bangsa kita pada pertandingan sepak bola kelas dunia ? Siaran langsung dan seorang komentator "aptudet".
<br />
<br />Apa yang menjadi keseharian sejumlah ragam media kita ? Komentar (baca: informasi) para komentator (baca: jurnalis infotainment) dari sejumlah peristiwa para "Obyek Komen" (baca: kaum seleb). Dan ini di tunggu (<em>ingat berapa banyak jumlah media infotainment, baik cetak maupun elektronik</em>) oleh sejumlah besar penikmatnya, karena akan menjadi lebih nikmat setelah ikut juga berkomentar (baca: ngegosip).
<br />
<br />Apa sensualitas dari sebuah website yang membuat pemiliknya bergairah untuk selalu meng-apdet-nya ? Web Blog ! Ya, seorang yang <a href="http://gombal.blogdrive.com" target="_blank">kere</a>, yang sangat kretif menggombal, bisa sehari tiga kali mengapdet blognya untuk sekedar berkomentar (baca: mosting). Banyak juga yang mengomentari komentarnya (baca: postingan) pada sejumlah hal.
<br />
<br />Kalo mo jujur, keseharian kita di lingkupi oleh komentar-komentar, bahkan saat kesendirian kita didepan komputer (baca: ngeBlog). Seorang seleb, akan memancing komen guna menyinari bintangnya yang mulai meredup. Seorang Petinggi lokal maupun mancanegara akan selalu ter-komentari di setiap pagi pada headline sejumlah surat-kabar. Pak RT, Satpam rumah, Tukang sayur, Ustadzah, bahkan anak gw kerap di komentari.
<br />
<br />Memang, betapa kita tak pernah lepas dari komentar --terlepas dari yang miring sekalipun--. Mo berkomentar juga ? *awas jangan miring-miring, ntar kejedot hehehe :P*Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1099286875486285692004-11-01T13:19:00.000+07:002004-11-01T12:27:55.486+07:00Free PHP HostAkhinya ketemu dengan hostingan PHP yang bener-bener gratis. Kagak nepu, jujur, dan terbuka :)) Mo coba punya juga, coba cepat pergi ke <a href="http://www.complete-free-host.com" target="_blank">complete-free-host</a>, buruan.
<br />
<br />Ada yg mo ngajarin WordPress ? Plissssss ;-)Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1098690015320722292004-10-25T14:32:00.000+07:002004-10-25T14:55:57.630+07:00Rumah Cinta Keluarga Ra'uf II“Jangan Ampe Ke Jual Tuh Lapangan Li…”
<br />
<br />Siang telah beranjak. Matahari tidak begitu terik lagi. Tetapi tanah lapang itu tidak mengudarakan debu seperti biasanya. Tak ada keriangan diatasnya. Tak ada anak-anak yang berlari-lari. Tak ada anak-anak bersepeda, berputar-putar. Tanah lapang itu tampaknya tengah gelisah.
<br />
<br />“Li. Emang bener lapangan mo di jual ame Pak Joko ?”, Ubay memecah kebisuan. Semua teman-teman sepermainan Fadli mengarahkan pandangan kepadanya. Desas-desus yang mereka dengar dari orang-orang tentang bakal di jualnya tanah lapang tempat mereka merenda tawa, bermain bersama, membuat mereka gelisah. Mereka ingin dengar langsung dari Fadli, cucu semata wayang Haji Rasyid, pemilik tanah lapang itu. Mereka baru yakin kalau Fadli yang bicara, bukan orang-orang kampung.
<br />
<br />“Entu die Bay…”, seakan tercekat, tak mampu Fadli meneruskan kata-katanya. Kepalanya terangkat. Matanya menatap langit. Tampak gurat kesedihan di wajahnya.
<br />
<br />Teman-teman sepermainannya, seperti wabah menular, tampak sedih juga. Mereka mulai yakin, kalau tanah lapang itu memang bakal di jual. Sepertinya wabah itu ganas, kepala mereka juga terangkat lalu menatap langit dengan air muka yang tetap sedih.
<br />
<br />“Ya… Entar kite kalo mo maen bola dimane dah ?”, kepala Firdaus atau biasa mereka memanggilnya dengan nama Iyus, menunduk. Tangannya mengaris-garis tanah dengan batang kayu. Kebiasaannya disetiap kebingungan mencari-cari jawaban.
<br />
<br />“Bukan cuman entu Yus ! Timbang maen bola doang sih, kite bisa maen ke Pulo. Tapi entar, kalo kite tujuh belasan, pasti bakalan kagak ada coko lagi di sini”, Jamal coba menimpali. Juara Coko tujuh belasan tahun lalu berusaha menjawab kebingungan Iyus yang memang kesohor jago nge-gocek bola.
<br />
<br />“Iye… ye. Kite bakalan kagak bisa maen dampu lagi dah”, Uwok, yang nama aslinya Abdullah, ikut-ikutan kasih komentar.
<br />
<br />Dua “anak-bawang” Karim dan Rusdi berbarengan mengarahkan pandangannya ke Fadli. Usia mereka paling muda diantara yang lainnya. Biasanya, mereka lebih banyak memilih untuk diam. Tetapi untuk masalah yang satu ini, nampaknya mereka tak bisa memilihnya. Mereka berharap Fadli mau meneruskan cerita yang sebenarnya hingga tuntas.
<br />
<br />“Terus gimane Li ?”, tanya Karim dan Rusdi berbarengan.
<br />
<br />Fadli menceritakan apa yang terjadi di ruang tamu Engkongnya, Haji Rasyid. Saat dimana Encang Ridwannya membuat mati kutu dirinya di hadapan Engkongnya. Teman-teman sepermainannya diam mendengarkan. Iyus tak lagi mengaris-garis tanah dengan batang kayu. Telah di buangnya jauh-jauh batang kayu itu.
<br />
<br />“Engkong lu bilang ape Li ?”, Ubay tak tahan untuk memotong pembicaraan Fadli. Ia tak bisa sabar untuk mendengar cerita Fadli sampai habis.
<br />
<br />“Ah… Elu gimane sih Bay. Pan Fadli belon rapih ngomong, nape pake di potong ?”, Jamal menepuk bahu Ubay tanda tak bersetuju atas sikapnya.
<br />
<br />“Iye nih…”, yang lain pun koor tanda tak setuju. Ubay cuma melengos.
<br />
<br />Fadli meluruskan kakinya. Sedari tadi ia jongkok, mungkin agak pegal juga, atau ia sudah mulai merasa kakinya kesemutan. Seperti penyakit menular yang mewabah, semua juga meluruskan kaki, kecuali Ubay. Ia masih tetap jongkok dengan dagu bersandar pada lengan.
<br />
<br />“Engkong gue belon mutusin sih !”. Suaranya datar perlahan.
<br />“Encang Ridwan gue juga bilang suruh pikir dulu”. Semua tampak lega. Tapi gurat kecemasan masih tampak.
<br />
<br />“Bukannye udeh dibawain duit ame Pak Joko, Li ?”, giliran Uwok angkat bicara.
<br />“Soalnye, orang-orang kampung bilang, Engkong lu udeh di kasih persekot tande jadi”. Pertanyaan Uwok membuat Fadli terkaget. Ia tidak menyangka, kalau orang-orang kampung juga ikut membicarakan persoalan tanah lapang milik Engkongnya. Sejauh ini ia tak tahu kalau Engkongnya sudah di kasih persekot sebagai tanda jadi.
<br />
<br />“Engkong gue kagak ngomong-ngomongin persekot. Orang die juga belon nge-iye-in kok !”, jelas Fadli dengan nada ragu-ragu. Ia sama sekali tidak tahu soal persekot tanda jadi itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
<br />
<br />“Ah.. Elu Wok, omongan orang–orang kampung lu dengerin. Belon tentu bener tuh ! Nah si Fadli sendiri bilang kagak tahu soal persekot. Pan die cucunye Haji Rasyid. Sok tahu lu Wok !”, emosi Jamal meningkat setinggi kekhawatirannya akan kebenaran cerita tentang persekot tanda jadi.
<br />
<br />“Yee… Bukan gue ! Orang-orang kampung bilang. Makanye gue tanyain, Jamal Coko. Marah aje…, lu gedein. Tokai elu tuh… gedein, orang takut injek”, untung saja Uwok tidak menimpali dengan emosi yang tinggi juga. Kalau iya, bisa berkelahi. Dan perkelahian Jamal versus Uwok sudah kesohor seantero kampung. Yang satu sok- tahu, yang satunya lagi terkenal gampang marah. Dan biasanya ada saja yang bisa membuat mereka berselisih paham dan menjadi pemicu buat mereka berkelahi, meski untuk urusan sepele.
<br />
<br />(...bersambung)
<br />Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1098347002454391752004-10-21T13:08:00.000+07:002004-10-25T14:31:09.436+07:00Rumah Cinta Keluarga Ra'uf I“Jangan Ampe Ke Jual Tuh Lapangan Li…”
<br />
<br />Siang itu terik sekali. Tanah lapang samping rumah Ra'uf mengudarakan debu. Keriuhan suara anak-anak bermain bola kerap mengganggu istirahat Rahmah, istri Ra’uf. Cuma ada satu tanah lapang di kampung itu. Dan tanah lapang itu menjadi surga bermain bagi anak-anak kampung. Mereka berharap agar tanah lapang itu tidak berubah menjadi petak-petak kontrakan.
<br />
<br />Tak ada pohon yang merindangi tanah lapang itu untuk berkumpul dan berteduh dibawahnya. Sisi rumah Ra’uf yang tak berpagar sering menjadi tempat duduk-duduk bagi anak-anak. Karena sinar matahari terhalang dinding bangunan rumah Ra’uf. Mereka betah berlama-lama menunggu senja tiba di sana. Dari sekedar bertukar cerita di sekolah tadi pagi, hingga mengatur strategi adu bola untuk pertandingan sore hari nanti.
<br />
<br />Rahmah, perempuan santun, anak semata wayang Haji Rasyid hampir tak pernah mengomel kepada anak-anak yang bermain di sisi rumahnya. Meski suara mereka sering bising dan mengganggu tidur siangnya. Selama tak ada yang berkelahi satu sama lain, sepertinya ia tak mau ambil pusing dengan keriuhan yang ada.
<br />
<br />Tanah lapang itu milik Haji Rasyid. Dan tampaknya Haji Rasyid belum mau menjualnya, meski telah banyak yang menawar tanah lapang itu dengan harga tinggi. Bahkan ada yang berani menawar tiga ratus ribu per meternya. Angka yang yang bukan sedikit untuk ukuran saat itu.
<br />
<br />Fadli, cucu kesayangan Haji Rasyid, pernah merengek kepada kakeknya agar tanah lapang itu jangan di jual. Ia merengek saat mendengar Encang Ridwan, abang misan ibunya, memohon kepada Haji Rasyid untuk menjual saja tanah lapang itu. Dan uang hasil penjualannya bisa di pakai untuk tambahan armada opeletnya.
<br />
<br />“Encing Haji. Dari pade tuh taneh kagak keliatan hasilnye, mending di jual ame si Joko ! Mumpung die berani kasih tigeratus semeter. Besok-besok mah belon tentu”, dengan semangat Ridwan membujuk Haji Rasyid, adik semata wayang almarhum ibunya.
<br />
<br />“Ape ? Lapangan mo di jual ame Pak Joko ?”, Fadli tersentak. Di arahkan pandangannya kepada kakeknya. Haji Rasyid tengah berpikir, matanya menerawang lekat menatap lampu gantung ruang tamu rumahnya. Entah yang ada dalam pikirannya.
<br />
<br />“Engkong ! Jangan dong ! Entar aye mo maen bola dimane ? Mao maen tak-kadal dimane ? Terus…, kalo tujubelasan mo naro coko di mane Kong ?”. Fadli memberondong kakeknya dengan sejumlah pertanyaan. Jelas tergambar kekhawatirannya jika tanah lapang itu di setujui untuk di jual oleh Kakeknya.
<br />
<br />Belum sempat Haji Rasyid menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan dari cucu kesayangannya. Ridwan, keponakan satu-satunya, segera angkat bicara, takut kalau-kalau Haji Rasyid berubah pikiran. Ia tahu benar bagaimana Encing Hajinya bisa sangat tidak berdaya kalau berhadapan dengan cucu kesayangannya itu. Ia juga menyesal, kenapa membicarakan hal ini di depan si Fadli. Ia tak menyangka, kalau keponakannya itu ternyata tidak sependapat dengannya.
<br />
<br />“Ahh… elu Li", sergah Ridwan seraya mengubah posisi duduknya. Pandangannya kini lebih terarah pada Fadli.
<br />
<br />"Pikiran lo maen aje. Elu tau kagak ? Kalo enyak lo tuh kagak bisa istirahat kalo siang ?! Belon lagi kalo pintu dapur di buka, nyang pade maen bola pade kagak ade pikirannye. Entu bola sering masuk ke dapur ! Coba kalo kena kompor. Terus kebalik tuh kompor. Bisa kebakaran Li”.
<br />
<br />Ridwan tersenyum dalam hatinya, melihat keponakannya seperti tak berdaya. Ia merasa benar-benar diatas angin. "Kalau bisa si Fadli jangan sampe punya omongan", gumamnya dalam hati.
<br />
<br />“Tapi kan…”, Fadli coba mencari alasan. Namun tampaknya Ridwan tengah di atas angin. Dengan cepat ia memotong omongan keponakannya yang tampaknya tercekat, kebingungan mencari-cari alasan.
<br />
<br />“Belon lagi kalo musim ujan, tembok rumah lu kagak pernah cakep. Percuma Encang Ridwan cet, tetep aje kena belok bola elu ame temen-temen lu”, Bola mata Ridwan mencuri pandang Haji Rasyid, berharap kali ini Fadli tak bisa memperdaya kakeknya. Senyum dalam hatinya kian mengembang.
<br />
<br />“Ah… Bodo ! Pokoknye kalo lapangan ampe di jual, Fadli mo pegi aje dah. Fadli mo maen bola yang jauh. Biarin di culik. Engkong udeh kagak sayang enih ame Fadli”. Badannya diangkat, berdiri seraya memegang tangan Haji Rasyid. Mengambek ! Ya. Jurus andalannya, akhirnya keluar juga. Air mukanya berubah, menampakkan kesedihan yang sangat. Tatapan matanya coba memancing iba Kakeknya.
<br />
<br />Semua alasan yang diutarakan Encang Ridwannya memang benar adanya. Tak bisa ia membantah, hanya meng-ambek-lah sebagai satu-satunya jalan terakhir untuk mempertahankan tanah lapang tempat ia dan teman-temannya bermain.
<br />
<br />Tampak Haji Rasyid bingung, sungguh sulit untuk memutuskan. Menimbang-nimbang kebenaran semua pernyataan yang telah diutarakan keponakannya dengan ambek cucu kesayangannya, masih sama berat.
<br />
<br />“Encing Haji, kalo tuh taneh jadi ke jual. Encing bisa dapet tambahan dua opelet baru ame taneh sepetak di Pulo. Coba di pikir lagi deh”, Ridwan benar-benar merasa di atas angin. Ia yakin benar kalau Encing Hajinya sekarang benar-benar mau mengikuti sarannya.
<br />
<br />(...bersambung)
<br />
<br />*****
<br /><em>Engkong : Kakek
<br />Encang : Kakak (kandung/misan) Ibu/Bapak
<br />Encing : Adik (kandung/misan) Ibu/Bapak
<br />Tak-Kadal : Permainan rakyat menggunakan dua bilah bambu (panjang dan pendek)
<br />Coko : Panjat Pinang
<br />Pulo : Pedalaman (jauh dari jalan raya/utama)</em>Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1098072220137022622004-10-18T09:01:00.000+07:002004-10-18T11:42:53.186+07:00Bakpao RamadhanAroma religious tengah semerbak mewangi di tiga hari pertama bulan Ramadhan, pertengahan Oktober tahun ini. Nuansa kehidupan malam nampak berbeda seratus delapan puluh derajat di masjid enampuluh persen rampung, depan rumah. Riuh rendah suara anak-anak hingga jelang pukul setengah sembilan malam masih mendistorsi do'a Witir, do'a penghujung penggegas pulang.
<br />
<br />Dapur kesayangan Yayang pun menjadi lebih semerbak di awal senja, selepas Ashar. Bukan aroma religious yang menyengat, tetapi bakpao berisi potongan dadu daging ayam plus sayuran, menyerbak mengundang selera. Uji kesabaran saat aromanya berlambat-lambat diujung hidung. Dan bagai melambatkan detak jarum jam hingga enggan bergerak ke pukul enam, saat Adzan Maghrib tanda berbuka. Hihihi, nampaknya selama sebulan ini, Adzan Maghrib menjadi satu-satunya tayangan --tanpa selingan iklan-- yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pemirsa di seluruh Tanah Air. :D
<br />
<br />"Nih, timbangannya". Yayang mengeluarkan timbangan kue yang masih rapi dalam kardus.
<br />"Berapa-berapanya, tuh lihat di buku resep. Aku mo ke kamar mandi. Baca dulu !!!", bergegas seraya menunjuk letak buku resep Bakpao Isi Daging Ayam.
<br />
<br />Saat Yayang kebingungan dengan menu berbuka, serta-merta aku mengusulkan untuk membuat Bakpao. Usulan yang beralasan, karena Yayang pernah menjanjikannya untuk mencoba pertama kali. Dan kalau kali ini aku memintanya, wajar dong. :)
<br />
<br />"Entar buka puasanya apa A ?", menerawang lekat ke langit-langit kamar.
<br />"Ya udah... bikin bakpao aja. Kan fermipannya --<em>dadak tepung, pengembang adonan</em>-- udah beli". Akhirnya.
<br />"Isinya ?", kali ini matanya lekat di mataku.
<br />"Tumis Ayam ama sayuran, yang kayak kamu bikin buat dadar gulung kemarenan". Gampang aja betinku. Yang penting jadi deh bikin Bakpaonya.
<br />"Ya udah... aku numis isinya, trus kamu yang bikin adonannya !". Tanpa nego. :P
<br />
<br />Membuka kardus Timbangan Kue warna biru, sambil perlahan mengikuti barisan kata-kata yang tertera pada buku resep. Pertama menuangkan Tepung terigu khusus kue dan roti sebanyak empat ratus gram. Tambahkan satu sendok makan gula pasir dan setengah bungkus fermipan --<em>dadak tepung, pengembang adonan</em>--. Lalu menguleni adonan perlahan-lahan di bawah siraman air hingga dua ratus cece tandas tertuang.
<br />
<br />"Jangan pake tengah-tengah telapak tangan, nanti bantet !!". Miss Quality Controller lekat mengawasi.Hehehe... Nggak ngebayang deh, kalau jadi kuli roti. :)) Kasihan deh itu tepung, di banting-banting, di uleni, di tonjok-tonjok hingga akhirnya kalis dan mudah dibentuk.
<br />"Udah..., adonan biangnya biar aku yang bikin". *<em>Emang siapa yang mau bikin ?</em>* :P
<br />"Itu adonan yang kamu bikin dilebarin, buat di masukin adonan biang. Entar di campur jadi satu. Terus ulenin lagi ampe kalis". *<em>Kirain udahan bantuinnye</em>* :((
<br />
<br />Riuh rendah suara Ghiffari dan Jihan meningkahi ulenan adonan Bakpaoku. Setelah adonan tercampur jadi satu, jadi agak lama mengadoninya hingga kalis.
<br />"Abang Ai minta ya..., Yah ?", Ghiffari meminta sedikit bagian adonan.
<br />"De...de...", Jihan juga.
<br />"Ya... Entar, kalo udah jadi", membujuk seraya menahan tangan-tangan kecil yang mulai bergerilya mendekati adonan Bakpao.
<br />
<br />Yayang asyik menggunting daun pisang membentuk bulatan. Sesekali ia melarang dan memarahi tingkah laku dua anaknya yang tetap bersikeras berkeinginan membantu. Dan matanya tetap lekat mengawasi tanganku yang terus menguleni adonan *<em>kapan kalisnya di adonan. kek-nya udah pegel dari tadi deh</em>*.
<br />"Biasanya satu jam-an ngadoninnya A", seperti bisa membaca pikiranku. *<em>wah bisa tepar duluan nih</em>* :((
<br />
<br />Akhirnya adonan yang dengan perjuangan hampir tiga-perempat jam siap di isi dengan tumisan ayam plus sayuran. Kembali menimbang cubitan adonan hingga jarum menunjuk angka lima puluh gram.
<br />
<br />"Kok kamu bentuknya bisa lebih bagus ?", sambil membandingkan dengan bentukan yang ia buat. Akhirnya boleh bersombong dikit, seraya mengajarinya. *<em>padahal, cuma logika aja</em>*
<br />"Ooo iya, ngga kepikiran". *<em>Hehehe... Makanya kalo bikin kue pake pikiran dong, jangan pake ngomel</em>*
<br />
<br />"Dandangnya cuma muat empat doang lho A... Trus ngukusnya 20 menitan. Bisa sampe rapi jam berapa nih ?", sambil menusuk-nusuk bakpao dengan lidi. Tenang, baru jam lima pikirku.
<br />"A...! Inget lho A..., Entar Bakpaonya ditusuk-tusuk setiap lima belas menit, aku mo sembahyang ashar dulu. Jangan lupa !!!". Taelah... baru aja ngasoh, nonton tipi dikit. Sabar...sabar :))
<br />
<br />Allahu Akbar... Allaaaahu Akbar. Adzan Maghrib, acara favorit sebulan ini, akhirnya mengantarkan gigitan pertamaku pada bakpao. Alhamdulillah empuk, gebu, enak, tidak bantet. Hihihi Ada bakat juga nih... jadi tukang roti hehehe :-D Campur saus sambel cap Belibis, hmmm hmmm nikmat. Apalagi ditemani Teh Manis hangat, waduh... mertua lewat kagak kelihatan dah.
<br />
<br />"Enak A...", Iya dong, siapa yang ngulenin.
<br />"Tahu nggak... apa yang bikin lembut dan enak di gigit ?", mana aku ngerti. Tutun juga nih Yayang.
<br />"Adonan biang yang tadi aku bikin, yang bikin jadi enak. Takeran baking powdernya pas, blue bandnya juga. Nih... rasanya juga enak. Tadi aku tambahin gula pasir seratus gram di adonan biangnya. Tumisan Ayamnya juga enak kan, ya A ?". Au...ah, nyerocos aje... kek Janwe :PQkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1097721018750000812004-10-14T09:27:00.000+07:002004-10-14T09:30:18.750+07:00'Ngaso...<div align="center">
<br /><img src="http://img.photobucket.com/albums/v293/bayzhaqy/jlennon_01.jpg">
<br /></div>Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1097643782074863542004-10-13T11:28:00.000+07:002004-10-13T12:03:02.073+07:00IdeKepikiran ide mau membuat Blog, berisi kumpulan posting-posting para blogger --Majalah Blog--. Ya... namanya juga ide, belum tentu ter-realisir :-DQkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1097484032636095182004-10-11T15:39:00.000+07:002004-10-12T08:46:59.686+07:00PedeAda yang menyesak di dalam dada, hati ini bagai di iris-iris, rasanya ingin sekali menumpahkan tangis. Melihat ke-tidak percayaan diri pada Ghiffari saat akan menghadiri ulang tahun Zulfan tetangga rumah, teman bermainnya.
<br />
<br />"Tapi Yayah anterin", rajuknya.
<br />"Ya... Tapi sampai depan aja, terus Abang Ai masuk sendiri ya ?", pintaku.
<br />"Iya", ketidak yakinannya menggurat.
<br />
<br />Kebetulan, Zulfan berdiri di depan pagar yang telah terbuka lebar, serta garasi yang telah berkarpet biru, seperti menanti (<em>memang belum banyak yang datang, akan lebih mudah nih... pikirku</em>). Seperti yang telah ku beritahu sebelumnya untuk pertama mengucap salam, lalu menjabat tangan Zulfan seraya mengucap Selamat Ulang Tahun, dan akhirnya memberikan kado.
<br />
<br />Berhasil, semua berjalan sesuai harapan, dan nampak Zulfan tersenyum lebar saat menerima kado untuknya. Dengan girang Zulfan berlari masuk dengan tetap memegang kado terbawa, hingga lupa mengajak Ghiffari masuk.
<br />
<br />"Yeeh... Si Zulfan, Abang Ai-nya suruh masuk dong !", Abdullah berseru dengan seringai-nya yang khas.
<br />"Ajak temannya masuk, Zulfan", giliran kerabat-kerabat dekat Abdullah yang melingkari karpet biru tergelar meminta.
<br />
<br />Zulfan berlari kembali seraya menarik tangan Ghiffari, mengajak masuk. Mendadak ke-tidak percayaan diri Ghiffari menampakkan kekhawatiran berlebih. Bagai hendak memasuki kandang singa, meronta dengan debar meretas hati, meminta kembali pulang.
<br />
<br />Agak lama menumbuhkan senyum di teras depan. Suara tinggi Yayang tidak hanya mengganggu, hampir-hampir saja menggerung tangis Ghiffari dan raungan kemarahanku. Alhamdulillah, aku bisa tenang dan sabar, meski dihatiku muncul juga kesedihan dan marah akan sikapnya.
<br />
<br />"Abang Ai kenapa ? Takut ?". Ia mengangguk, bola matanya menunduk.
<br />"Abang ngga boleh takut. Kan ada Arieq, ada Faisal. Itu kan semua temen-temen Abang Ai, iya kan ?", tetap diam, namun guratan takut mulai sedikit sirna.
<br />"Kan Zulfan temen Abang Ai juga ?".
<br />"Masak Power Rangers takut. Udah Abang Ai sana, ngga pa-pa !".
<br />"Ya.. tapi Yayah anterin. Yayah masuk temenin Abang Ai", harapnya.
<br />
<br />Aku bisa saja menemaninya, tapi ku pikir lagi, ini ngga boleh. Ia harus bisa sendiri, Desember nanti usianya empat tahun, ia sudah besar pikirku. Sudah saatnya ia bisa sendiri.
<br />
<br />Tak lama kemudian ia beranjak keluar. Perlahan mengayunkan keragu-raguan langkahnya. Tampak dari jauh Abdullah membawa <em>stand-fan</em>, boleh pinjam mertua (<em>kebetulan satu kompleks</em>), aku beranjak masuk, menghindari mood yang jelek buat <em>ceng-cengaan</em> --kami terbiasa ngelempar joke (ceng-cengan) masing-masing--, namun tetap lekat mata tertuju badan Ghiffari.
<br />
<br />"Yo.. Abang Ai masuk", terdengar ajakan Abdullah.
<br />"Ayo.. ama Papah Zulfan". Aku berharap Ghiffari mau.
<br />
<br />Tak lebih dari setengah menit, keluar mengintip dari pagar guna mencari sosoknya. Alhamdulillah tak ada warna terang oranye, warna baju yang sempat ia protes meminta ganti dengan baju Power Rangers Wild Forces merah darah. Sudah saatnya ia harus bisa sendiri.
<br />
<br />Anak laki-lakiku memang agak "takut orang" untuk di awal-awal keadaan dan peristiwa yang melibatkan banyak orang, lain dengan Jihan seratus delapan puluh derajat. Kalau menggunakan kemarahan untuk memperbaiki pede-nya justru malah membuatnya bingung, takut, dan sedih. Dan pasti bisa meledakkan tangisnya.
<br />
<br />***
<br />
<br />"Mama... Ma..", suara Ghiffari ter-distorsi pintu pagar bergeser.
<br />"Abang Ai... Mama disini, di kamar depan", sahut Yayang bercampur girang. Anak laki-lakinya kembali dengan sebelumnya tetap pergi sendiri tanpa di temani oleh ia maupun aku.
<br />
<br />Topi berkerucut, tertulis GHIFARI dengan spidol hitam. Tangan kanan menenteng paket ulang tahun Nasi-Ayam McD, dengan tangan lainnya memegang Balon berwarna pink serta sebungkus jajanan.
<br />
<br />"Ma... Abang ikut Ulang Tahun Zulfan sendiri, ngga ditemenin Yayah", senyumnya melukis bangga.
<br />"Arieq... Arieq... ditemenin Bunda Agus, Abang Ai ngga !!!". Senyum kami menenangkan seru riangnya.
<br />
<br />Alhamdulillah, ia bisa datang sendiri. Mudah-mudahan ini sebagai modal awal pede-nya. Tak banyak nasihat, hanya pertanyaan-pertanyaan tentang keriuhan dan keriangan Ultah Zulfan di sela-sela nikmat melahap Nasi-Ayam McD --<em>takut merusak nafsu makannya</em>--.
<br />
<br />"Udah habisin aja semua Bang...".
<br />"Nggak mau... tinggalin dede Jihan". Haru kami menampar tangis di hati.
<br />
<br />***
<br />Ada <a href="http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg50618.html">artikel</a> menarik mengenai hal ini, mungkin bisa membantu untuk kasus yang sama.Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1097129264733346552004-10-07T13:35:00.000+07:002004-10-07T13:07:44.733+07:00Obat "Kuat"Kenapa sih Obat "Kuat" lebih banyak diperuntukkan bagi kaum Adam ? Lihatlah iklan-iklan di berbagai media, baik elektronik maupun cetak, hampir semua diperuntukkan bagi kaum yang katanya "perkasa" di banding kaum "lemah".
<br />
<br />Sebagai salah seorang dari bahagian kaum Adam, namun hingga hari ini belum sebutirpun aku memanfaatkannya. Aku "kuat" ? Cuma Yayang yang tahu jawabannya. :-D
<br />Belum perlu ? Entahlah, mungkin karena takut akan efek samping, adiktif atau juga karena percaya yang namanya iklan itu semua bohong.
<br />
<br />Ketika kegiatan seks menjadi seperti kegiatan wartawan mengejar deadline, perilaku seks tidak lagi menjadi sebuah perwujudan cinta-kasih. Rasa yang menyertai kegiatan seks menjadi sebuah kejar-target, dan telah berubah menjadi sebuah "pekerjaaan". Dan biasanya, yang namanya pekerjaan pasti ada jenuhnya, dan kalau dipaksakan tentu akan memproduksi kekecewaan hasil. Makanya terciptalah istilah "Edi Tansil".
<br />
<br />Membaca sebuah ulasan tentang <a href="http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/promarketing/2003/0805/prom1.html">obat "kuat"</a>, ada komentar menarik yang disampaikan oleh Wimpie Pangkahila, pakar seksologi, demikian komentarnya, "Sekali lagi saya tegaskan, bahwa obat-obat yang diiklankan secara mencolok dan dinyatakan dapat meningkatkan gairah seksual, sebenarnya bukan obat khusus meningkatkan gairah seksual. Mengapa? Karena isinya hanya vitamin biasa, dengan tambahan zat lain misalnya Zn dan ginseng,”. Namun demikian bisnis obat "kuat" tetap menjanjikan dan iklan-iklan mengenainya makin jor-joran.
<br />
<br />Kalau demikian adanya, masih perlukah obat "kuat" ?Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1096620963887674442004-10-01T15:46:00.000+07:002004-10-01T15:56:03.886+07:00KamuKenapa kamu terus mencoreng muka kami ?
<br />Sampai kapan ? Hingga tidur kami berselimut kafan ?
<br />Tidak cukupkah dia telah berpulang ?
<br />Gamang kami bersandar, tak juga tersadar
<br />Kamu
<br />Kamu
<br />....
<br />
<br />***
<br />Tuhan... Bilakah pertolongan-Mu datang ?Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1096342348383870822004-09-28T09:04:00.000+07:002004-09-28T10:32:28.383+07:00Tutun...Menjelang usia empat tahun, Desember nanti, nampaknya sosialisasi Ghiffari tidak lagi cuma seputar orang-orang terdekat. Sekarang sudah ada Arieq, Akbar, Febry, Rio, Dede, selain Zulfan dan Afiff. Dan nampaknya Arieq makin lengket dengan Ghiffari. Mungkin dikarenakan kesukaan yang sama, ya... Power Rangers.
<br />
<br />Ranah imaji khas balita, membuat mereka asyik menjadi super-hero sesuka hati. Betah, hingga harus di jemput untuk makan siang, dan tentunya dengan sedikit paksaan serta adu argumentasi.
<br />
<br />Selepas belajar di TKA/TPA tak langsung kembali kerumah guna bersalin Koko, justru Yayang yang harus menjemput tas dan peci. Sepeda dengan dua roda kecil sebagai penyangga siap dikayuh menuju lapangan Bulutangkis, tepat ditengah-tengah Kompleks Perumahan Sederhana. Mewarnai senja bersama anak-anak yang lain hingga RX-King Yayah melintas di jelang Maghrib pertanda usai, siap kembali ke rumah.
<br />
<br />Komunikasi mereka kadang menyemburatkan keterkejutan pada kosa-kata yang pantas hanya untuk preman. Serapan yang mengkhawatirkan. Ketidak-setujuan Yayang memunculkan ketegasan, meski bukan terucap dari anak laki-laki kesayangannya sekalipun. Dampak pergaulan tetap terasa meski pada balita.
<br />
<br />Alhamdulillah, kami punya "tutun", kosa-kata berkonotasi negatif yang dapat diterapkan pada semua kalimat negatif. Luas, lebih enak di dengar dan tidak menimbulkan sakit hati bagi yang mendengarkan, bahkan tidak jarang memancing tawa.
<br />
<br />Teringat kala Ghiffari kesulitan mengeja huruf es pada kata susu di usia satu setengah tahunan. Saat menjelang tidur, dengan gaya bossy meminta sesegera mungkin susu formula tersaji dingin di botol (<em>ya, mungkin cuma Ghiffari yang meminum susu formula dengan es batu, tersaji dingin di botol</em>).
<br />"Ma-Yah... tut-tuuuu". (<em>Ia suka memanggail Maya untuk singkatan Mamah Yayah</em>)
<br />"Apa ? Su...su", aku coba membetulkan ucapannya.
<br />"Tu..tu", usahanya tak berhasil, meski bibirnya telah coba berusaha berulang-kali.
<br />"Tutu...tutu... Tutun kali", menggoda sebelum ngambeknya tiba memancing tangis (<em>agak lama lho membuat es susu</em>). Eh... malah ketawa.
<br />"Tu...tun", ketawanya makin jadi.
<br />"Hahaha..Tu..tun", ketawanya lebih dahulu dari ucapannya.
<br />Sejak malam itu "tutun" menjadi bagian dari hidup kami hingga hari ini.
<br />
<br />Guna menggoda, mengungkapkan jengkel, menilai sesuatu/seseorang jelek, payah, marah, sumpah-serapah, serta semua hal yang berkonatasi negatif, kini kami cukup dengan menyertakan kata "tutun". Dan kini tidak cuma kami sekeluarga yang memahami, keluarga Yayang dan aku juga sudah bisa menggoda Ghiffari dengan "tutun".
<br />
<br />Aku pernah melihat di Sabtu pagi, sebuah Talk Show stasiun Televisi swasta yang membahas seputar bahasa negatif dari balita. Penyerapan kata-kata berkonotasi negatif -- <em>dari yang jorok hingga yang terdengar kasar dan memuakkan</em> -- lebih dimungkinkan didengar lewat kata-kata yang diucapkan oleh orang-tua mereka sendiri. Peran para orang-tua, juga orang-orang dewasa disekitar balita diharapkan hanya memperdengarkan kata-kata yang baik. Hindari mengucapkan kata-kata yang buruk didekat balita (<em>Seperti orang-orang tua kita dahulu, yang hanya berantem dikamar</em>). Demikian kesimpulan moderator di penghujung acara dengan menyisakan langkah efektif guna memperbaiki keterlanjuran bagi anak yang suka mengumpat, menyumpah-serapah.
<br />
<br />Menurutku para orang-tua perlu juga menciptakan kata baru semisal "tutun" guna mengeliminir penggunaan kata-kata negatif yang beragam itu (<em>kebun binatang, kelamin, kelainan dll</em>). Apalagi jika diucapkan dengan intonasi dan ekspresi jenaka guna menghindari sakit-hati.
<br />
<br />"Yah... Yah... Abang beli spider-man nih...ada lampunya... tuh bisa nyala..."
<br />"Yah... Lihat deh Yah... Yah... Yaa.. Yaaaahh...."
<br />"Abang Ai mah tutun deh... Beli mainan terus..." Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1096012314156175522004-09-24T11:37:00.001+07:002004-09-24T15:29:02.016+07:00Cita, Angan dan HarapanCita '92
<br />ada yang bernanah disudut hati
<br />cita terkoyak lukai hari
<br />waktupun bagai mega
<br />bilakah nyata kan meraga jua
<br />
<br />warna-warna kian jadi fantasi
<br />bagai pelangi janji-janji
<br />kadung membius sukma
<br />bilakah maya kan bersimpuh nyata
<br />
<br />oh lepaskan
<br />mengapa kian merasuki sanubari
<br />oh lepaskan
<br />mengapa kian menjadi tak terkendali
<br />
<br />kaca bercermin buram
<br />kata jelaga sekam
<br />oh mestikah kian terobsesi di senja hari
<br />
<br />***
<br />
<br />"Abang Ai kalau udah besar mau jadi apa Bang ?"
<br />"Power Rangers Galaxy yang merah"
<br />
<br />***
<br />Sejalan derap langkah usia kita, cita-cita terus berubah-ubah hingga suatu masa dimana semua pragmatisme melingkupi kita dan lekat mematut hari-hari kita. Bisa jadi pernyataan diatas menjadi sesuatu yang ngawur dan asal. Memang banyak orang yang berketetapan cita menjadi sesuatu seperti yang diharapkan bahkan tak jarang sesuai dengan yang diinginkan, dan terus berusaha untuk menggapainya. Salut buat mereka.
<br />
<br />Ketika kecil, dengan seragam putih-merah biasa ketika dengar profesi Dokter, Insinyur, Guru, Tentara, dan banyak lagi profesi-profesi yang menggambarkan sebuah kemapanan dan status sosial yang baik dimata masyarakat pada umumnya menjadi pilihan spontan, asal, bagi rata-rata anak usia SD.
<br />
<br />Pilihan menjadi lebih beragam saat usia SMP. Seiring dengan pubertas yang tumbuh, genit dan manja, jerawat, serta perubahan besar pada tubuh dan suara, pilihan menjadi model, bintang film, artis dan ruang lingkup yang tidak jauh-jauh beranjak dari seputar film, sport dan seni dan media, menjadi angan cita sejumlah besar pilihan utama. Apalagi bagi mereka yang punya modal dasar wajah dan tubuh sedap dipandang.
<br />
<br />Kebimbangan atau bisa juga kebulatan sebuah cita menjadi lebih mengkerucut, meruncing, siap menusuk jati-diri seragam abu-abu yang mulai tumbuh mencari bentuknya. Banyak pula yang mulai ranum citanya.
<br />
<br />Dibangku kuliah cita menjadi lebih fokus dan terarah, menemukan jalannya. Gambaran menjadi lebih jelas dan detil. Disini bukan bagaimana cita itu dipilih, tetapi bagaimana cita itu diraih, dengan apa dan bagaimana. Strategi, situasi dan kondisi mulai lebih berwarna dan terencana.
<br />
<br />Aku telah mendapati citaku, dan telah ku kubur tanpa nisan untuknya. Biarkan ia menjadi mummi angan dan harapanku. Bukan salah siapa-siapa ? Semua salahku.
<br />
<br />Kini meski cuma sebagai Tenaga Outsourcer di Bank Indonesia -- <em>Direktorat Luar Negeri, Bagian Ekspor Impor, Gedung B Lantai 4 </em>-- yang mempunyai harapan pada setiap tahun perbaharuan kontrak kerja <em>(mudah-2an dikontrak lagi :D)</em>, guna menyambung hidup, patut disyukuri.
<br />
<br />Meski cuma setingkat G.II wilayah otoritas kerja, itu pun dengan keterbatasan otoritas pada sistem SWIFT mediasi antar Bank seluruh dunia, patut dihargai.
<br />
<br />Namun demikian, kala membaca "<a href="http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=1109">Penulis sebagai Sebuah Alternatif Karier</a>" sebuah esai dari Onno W. Purbo -- <em>seseorang yang aku kagumi dari sejak ia menulis tentang radio paket di MIKRODATA sekitar tahun 93-an kala saat aku masih aktif tercatat sebagai siswa Teknik Komputer STMIK Bina Nusantara (tidak selesai)</em>-- pada galeri esai <a href="http://cybersastra.net">cybersastra.net</a> sedikit menggelitik.
<br />
<br />Yang pasti menjadi Penulis bukanlah suatu hal yang gampang dilakoni, namun juga bukan suatu hal yang mustahil nikmat dijalani.
<br />
<br />Kebebasan dan kemerdekaan menyampaikan sesuatu yang dapat berarti, minimal bagi dirinya terlebih-lebih bagi orang lain, tentu akan menangguk juga pahala dan tidak sedikit rejeki, begitu pernyataan Onno W. Purbo yang boleh digaris-bawahi. :)
<br />
<br />Blog sebagai alternatif sebuah (latihan) penulisan siap menampung tumpahan gerak rasa dan pikiranku. Meski (sampai saat ini) cuma sebatas guratan kecemasan dan harapan, namun setidaknya liat positivisme-nya kerap melebarkan senyum diakhir kilk publiikasi. Aku bisa, meski tak mampu <em>I don't mind, what ever I say, it's O.K, evrythin' I write it's allright :P</em>.
<br />
<br />Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1095396852727738332004-09-17T11:49:00.000+07:002004-09-17T11:54:12.726+07:00Underline Buat QkyAda banyak alasan orang bekerja. Mulai dari yang paling hakiki semisal kesejahteraan, keluar dari kemiskinan, sampai pengaktualisasi bakat dan kemampuan diri. Dari berbagai macam alasan, aku yakin kalau kesejahteraan adalah yang paling banyak dan menjadi alasan utama orang bekerja.
<br />
<br />Dalam kegiatan bekerja, ada banyak pula faktor-faktor yang menjadi penentu keberhasilan seseorang dalam bekerja. Baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Mentalitas, dedikasi, loyalitas adalah merupakan hal utama dari faktor internal. Sedang Insentif, Gaji tentunya, kesempatan promosi guna peningkatan karir, lingkungan kerja sampai lokasi kerja adalah merupakan faktor-faktor utama yang bersifat eksternal.
<br />
<br />Faktor internal adalah penentu utama keberhasilan seseorang dalam bekerja, namun demikian faktor-faktor eksternal sangat memungkinkan untuk memainkan turun-naiknya faktor-faktor internal. Kita bisa ambil contoh, jika seseorang bekerja tanpa ada (kemungkinan) peningkatan dalam berkarir, gaji yang relatif tidak mencukupi (setidaknya untuk standart Jakarta dan sekitarnya) juga lokasi kerja yang berjarak melelahkan, tentu akan berdampak langsung pada tingkat loyalitas dan mentalitas kerja.
<br />
<br />Guna mendapat titik temu yang relatif ideal bagi kedua faktor guna memainkan peran yang kondusif, baik bagi pekerja maupun perusahaan tempat dimana mereka bekerja, salah satunya adalah prinsip keseimbangan. Dalam pengertian, seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa-apa yang mereka usahakan. Ini lebih adil dan transparan. Kondusif di lingkungan yang kompetitif, sehingga orang akan lebih "mobile" dan fokus pada kapasitas ruang otoritasnya. Meskipun demikian faktor resiko semisal like & dislike sebagai "virus" prinsip profesionalitas tetap harus diperhitungkan.
<br />
<br />Rotasi sebagai kiat mengatasi kejenuhan dalam bekerja, bisa lebih efektif jika ditambahkan juga sedikit "tantangan-tantangan kerja", baik bersifat internal maupun eksternal. Dengan masa kerja lebih dari 5 tahun dengan wilayah serta otoritas yang sama, sangat memungkinkan menjadi pemicu kejenuhan (apa lagi kalau ekskalasi gaji & insentif asyik "manda").
<br />
<br />Setiap pekerja pasti mempunyai target setidaknya untuk 5 tahun ke depan. Capaian-capaian apa saja yang harus di selesaikan dan diharapkan berhasil, baik dari segi produktivitas kerja maupun kompensasi kerja. Perencanaan kerja setelah menikah, berkeluarga, dan mempunyai anak-anak tentu tidaklah diharapkan sama seperti saat asyik sendiri.
<br />
<br />Manajemen hati juga penting, setidaknya menjadikan rambu-rambu buat kita dalam bergulat di wilayah dan suasana yang kompetitif. Kalau boleh mengutip:
<br />
<br /><em>Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 4:32)</em>
<br />
<br />Meski ayat ini turun dengan konteks waris, setidaknya ada tata nilai yang universal bagi prinsip-prinsip profesionalitas guna kita garis bawahi.
<br />
<br />*****
<br />Untuk Yayang dan anak-anak tercinta, mungkin usaha Yayah belum maksimal guna membahagiakan kalian semua. Insya Allah keberkahan ada pada tiap-tiap sesuatu yang kalian kenakan, yang kalian makan dan yang kalian belanjakan serta kalian sedekahkan. Meski sedikit, meski ngga keren, meski terbatas, namun setidaknya itulah yang telah Yayah usahakan menjadi milik kita. Milik kita sendiri.
<br />Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1095138715044976482004-09-14T11:39:00.000+07:002004-09-14T12:11:55.043+07:00Tembus PandangDahulu. Jauh sebelum Yayang mengisi kekosongan hati ini dalam mengarungi sisa hidup. Ketika masih aktif meramu nada-nada lagu buah obsesi senja hari. Ada banyak kendala saat harus menulis lirik. Waktu itu banyak kata-kata berbicara mewakili nada-nada minor, meski saat itu aku tengah jatuh cinta pada nada-nada mayor.
<br />
<br />Memang harus diakui kalau menulis lirik bukan spesialisku. Meski demikian, bila kegalauan hati menerpa, berbaris-baris bait sedih memancing isak tangis mengalir deras menghanyutkan.
<br />
<br />Seperti sekarang ini, menulis di Blog sebagai sebuah representasi hati bak meracik nada-nada wujud sebuah lagu curahan hati, tidaklah persis sama seperti sepuluh tahun lalu. Meski banyak hal mampir di imaji, sebuah realitas personifikasi empati pada tiap-tiap kejadian, tetaplah tidak se-greget kala menampar hari, menjerit keras teriakan kalbu menempa kasih.
<br />
<br />Aku tidak lagi semuda seperti sepuluh tahun yang lalu. Yang liar dalam imaji, namun beku dalam kasih. Yang gelap dalam terang. Sesat di hutan rambu. Menembus pandang langkah-langkah musafir haus jiwa beriring-iringan menuju oase kedamaian.
<br />
<br />Kini. Aku belum mau tua, meski aku tahu bayanganku terus beranjak tinggalkan jejak muda. Sudah sampaikah aku pada sebuah oase dimana para musafir haus jiwa beriring-iringan menuju oase kedamaian ? Tinggal sehastakah ? Sedepakah ? ataukah aku masih butuh tumpangan ? Lamban perlahan mengejar jalan. Menengadah langit penuh bintang, kompas alam, seraya berharap tak lagi tersesat di hutan rambu.
<br />
<br />"Yayah... Yayah...", Jihan menyentakku dengan senyum tawanya yang khas.
<br />"Mana gigi gedenya...", tawaku menyambut seringainya.Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1094717861696514832004-09-09T14:59:00.000+07:002004-09-09T15:17:41.696+07:00Kenapa sih ? Kok ngebom ?Buat para "anti-kemanusiaan" piss donk, kenapa sih ? kok pake nge-bom ?
<br />Seneng ya liat orang mati, ketakutan, sedih, geram dan segudang perasaan ngga enak lainnya. Coba deh kalo situ jadi orang yang mati atau terluka karna bom, kira-kira mau nggak ?
<br />
<br />***
<br />Turut berduka cita... :(
<br />
<br />PS: Mudah-mudahan bukan mengatasnamakan "Agama"Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1094525281592189922004-09-07T09:19:00.000+07:002004-09-07T10:35:29.340+07:00IdentitasDimana orang Indonesia ?
<br />Seperti apa rupa wajahnya ?
<br />Bagaimana gaya bicaranya ?
<br />Apakah tampak serasi dalam busana ?
<br />
<br />Pernah makan rujak ?
<br />Jikalau pernah, itulah Indonesia !
<br />
<br />***
<br />Kira-kira siapa ya... yang pantes jadi Tukang Rujak. Nge-dorong gerobak ngelewatin prapatan yg kagak ada lampu merah-nya.
<br />
<br />Asin keringet, pedes mata kena asap kenalpot, manis senyum banyak yang beli. Inget ! Dicuci dulu tuh be-buah-an, jangan sampe yg beli pada sakit perut. Ntar gerobak loe digoyang, limbung trus jatuh, pada ancur dah tuh buah, kagak bisa dimakan !! Percuma kan :PQkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1094001734729228512004-09-01T08:11:00.000+07:002004-09-01T08:22:14.730+07:00Angin SorgaBaru kena hembusannya aja udah mo <em>fly</em>, gimana kalau bener-bener diterbangin ke sono. :D
<br />
<br />***
<br />Jangan sampe masuk angin kalo ngga mao dikerokin :-PQkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1093841775619952592004-08-30T11:53:00.000+07:002004-08-30T12:08:12.796+07:00Cimahi-Dago Pelajaran Sebuah KepedulianJanji bersilahturahmi ke Cimahi tunai dibayarkan. Masih ada kelelahan dan sedikit kantuk Senin pagi hari ini.
<br />
<br />Pertama kali berbicara mewakili keluarga a.n Almarhum, ada sedikit gugup, dan itu biasa, wajar. Untung saja perwakilan dari pihak perempuan sangat lebur, mencairkan semua kebekuan formalitas.
<br />
<br />Setelah saling kenal-mengenalkan antar keluarga, sambut-menyambut mutiara kata, tibalah pada <em>point</em> yg sempat menjadi keraguan kami untuk mengambil keputusan persetujuan secepatnya.
<br />
<br />Sebelum bersilahturahmi kepada calon besan perempuan, aku dan abang iparku yang asli Garut tapi lahir di Bandung mengunjungi uwak Enjang di Dago Timur terlebih dahulu. Cimahi - Dago, jarak yang ditempuh dengan motor menjadi cerita lain bagi kami. Bandung yang menggeliat, lalu-lintas yang bingung, meng-<em>keder</em>-kan Abang dan benar-benar merasakan yang namanya <em>keliling-liling kota</em>. :D
<br />
<br /><em>Belajar Tua</em>, istilah yang biasa aku dengar sebagai nasehat Ibu Mertua sepeninggal Almarhum, kerap membuat maju-mundur gerak langkahku menuju sebuah kedewasaan. Ngeh, kenapa mereka disebut <em>Orang Tua</em>. ;)
<br />
<br />Uwak Enjang dengan segudang rumusan hidupnya memperkaya wawasan pola pikirku tentang "Orang Tua". Mengambil keputusan dengan bijak tidaklah mudah dan tidak secepat pedasnya cabe yang langsung terasa seketika terkunyah.
<br />
<br />"Udah dinikahkan saja", keraguanku beranjak sirna. Pandangan-pandangan Uwak menggiring aku pada sebuah kesimpulan. Kemapanan seseorang bukan pada materi yang melingkupinya tapi pada seberapa jauh getar-rasa kepedulian kita pada sekeliling kita. Sebuah ikatan positif yang kuat dari masing-masing sumber <em>getar-rasa kepedulian</em> yang kita miliki dan terpancarkan serta ditangkap dengan baik.
<br />
<br />Kondisi Arief, meski sudah ada rumah (tukar guling Cimahi dengan yang di Dago Timur) peninggalan Almarhum, tetapi masih berhutang dua semester untuk menyelesaikan kuliahnya dan belum bekerja, serta baru memulai usaha sempat membuat kami khawatir untuk perencanaan menikah. Namun bagi Uwak Enjang itu dianggap bukanlah suatu halangan untuk memulai hidup baru. Kekhawatiran kami sirna perlahan saat perwakilan dari keluarga perempuan menceritakan pengalaman hidup berumah-tangganya yang mengingatkanku pada cerita pengalaman hidup Uwak Enjang sendiri. Uwak sempat berkelakar saat menceritakannya, "Mungkin Aap (panggilan kecilnya) mengikuti jejak Uwak". :D
<br />
<br />Alhamdulillah semua lancar. Hidup, mati, jodoh ditangan Tuhan. Bila ada orang mati segerakan kubur, ada datang jodoh segera nikahkan, ada kelahiran segerakan beri nama, guna menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
<br />
<br />Memang manusia tidak ada yang ideal, tetapi bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjadi yang ideal.Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1093578493942370262004-08-27T10:14:00.000+07:002004-08-27T11:01:56.340+07:00Sang Lelaki Di Antara 100 PerempuanSemalam nonton game Sang Lelaki, hihihi... ada tiga kontestan yang sama sekali tereliminasi tanpa unjuk kebolehan sebelumnya. Kecebur, basah-kuyup, didorong ke kolam oleh para angels, bidadari lokal yang menemani sang Host, seorang lelaki (idealnya sih perempuan) yang bersama Sang Lelaki pilihan tetap dalam keadaan kering hingga usai acara.
<br />
<br />Game ini menurut gw...., asyik juga, bisa jadi bahan pelajaran buat mengetahui isi kepala, juga sedikit (apa banyak yah ?) nafsu para 100 perempuan, mengenai kriteria ideal Sang Lelaki. *inget... anak udeh dua !!!*
<br />
<br />Beragam unjuk kebolehan, mulai dari baca puisi yang romantis, nyanyi (sambil megang mic sampe megang keyboards), ngelawak, mainin alat musik, sampai unjuk ke-Macho-an, hihihi... seru. Melihat seratus perempuan tergelak, tersenyum, terpesona, nafsu...kali yeee :-P , ada juga yang mencibir, banyak juga yang bengong...:D Yang pasti jadi ngingetin gw sama bokin... hihihi :)
<br />
<br />Asli, seru. Ternyata ngga gampang buat ngerebut hati perempuan, membuat mereka terkesan, mempesona, membius imajinasi mereka. Ngga ada patokan, jadi inget pepatah jinak-jinak merpati... *taela*
<br />
<br />Bagi gw, sampai sekarang ini, meski udah bebuntut dua, kadang buat gw untuk memahami Yayang juga ngga gampang-gampang amat, tapi juga ngga susah-susah banget. *bingung kan ?* :D Yang pasti di usia gw yang kepala tiga, perempuan itu bagi gw tetap makhluk yang unik, interaktif buat di pahami (ngga bisa bilang memahami perempuan, kalau kita ngga berinteraksi dengan mereka), juga... kita harus tahu, kapan kita mesti lembut, keras, macho, nyentrik, cool, berwibawa,... Subhanallah, bagi gw lelaki butuh perempuan, dan begitu sebaliknya.... hihihi Ya kan ? Ada pendapat lain ?Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1093405379858410852004-08-25T10:38:00.000+07:002004-08-26T13:42:05.690+07:00CemburuMakin kuat rasa sayang kita pada seseorang,
<br />makin kuat pula rasa takut akan kehilangan dirinya,
<br />manusiawi, bukan ?
<br />
<br />***
<br />Catatan kecil yang berarti besar bagi kamu, istriku.Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1093334145554631682004-08-24T12:01:00.000+07:002004-08-24T14:55:45.553+07:00Dahulu Aku Adalah Lelaki JahatDahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> bagi kamu yang telah ku tinggalkan untuk dia yang terpilih
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> bagi keraguanmu akan aku yang terus meragu
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> bagi cintamu yang tumbuh seiring perlahan matinya cintaku kepadamu
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> bagi sebuah keputusan besar yang membuatku kerdil dihadapanmu
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> bagi kebodohan nafsu sesaatku akan dia dan selama pandainya kamu menata amarah akan aku
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> bagi kebenaran intuisi cintaku yang tetap dan akan selalu salah bagi kamu dan lukamu
<br />
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> yang kini mengerat bijak,
<br /> disenja usiaku yang tercekat,
<br /> malu melahap maaf yang melekat di jiwa-besarmu, erat
<br />
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> yang kini terus mencintai dan akan tetap menyintainya,
<br /> yang kini mengasihi dan akan terus mengasihinya,
<br /> yang terus terusik akan kamu hingga tak ada lagi aku atau kamu
<br />
<br />Dahulu aku adalah lelaki jahat,
<br /> masihkah aku ?Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1092977981512131822004-08-20T11:59:00.000+07:002004-08-20T11:59:41.513+07:00Cinta dan Uang"Mo dikasih makan apa anak orang ?".
<br />"Cinta aja mah ngga cukup !".
<br />"Apalagi nanti kalo udah punya anak !".
<br />
<br />Sebuah kekhawatiran akan sebuah prosesi berlayarnya biduk rumah-tangga mengarungi samudera kehidupan. Meski cinta punya kekuatan yang maha dahsyat, namun ia akan luluh-lantak dihadapan pragmatisme hidup. Uang diperlukan disini guna melengkapi ketidak-berdayaan cinta. Ibarat tubuh yang hidup, ada jasad juga harus ada ruh. Keduanya mutlak harus ada, saling melengkapi kekurangan fungsi dan guna masing-masing.
<br />
<br />Ada kesan kontradiktif pada filosofi uang dan cinta. Ruh cinta adalah berkorban. Sedang uang adalah mencari korban, dengan kata lain mengorbankan. Cinta adalah wajah yang cantik menawan, sedang wajah uang begitu sadis menyeramkan. Cinta adalah positif dan uang adalah negatif.
<br />
<br />Namun demikian, ada kalanya kita tak butuh cinta dan kadang ada saatnya kita hanya butuh cinta yang bicara. Uang dan cinta, bahagian yang tak terpisahkan, bagai sisi keping mata uang, juga bagai malam dan siang.
<br />
<br />*****
<br />
<br />Ada sedikit khawatir pada Arief (adik laki gw satu-2nya), yang udah ditegor sama BoNyok girl-friendnya. Meski sudah dijelaskan, kalau kuliahnya masih 2 semester lagi, belum bekerja, bisnis percetakannya belum mulai dan belum ketahuan lancar tidaknya, BoNyok Girl-friendnya tetap meminta guna menghindari hal-hal yang tidak di-ingin-kan.
<br />
<br />Insya Allah kami sekeluarga akan ke Cimahi guna silahturahmi ke BoNyoknya girl-friend adik gw. Mudah-mudahan ada titik terang :)Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1092805401267201202004-08-18T10:03:00.000+07:002004-08-18T12:03:21.266+07:00PaksaTujuhbelasan kemarin ada nilai-nilai yang terkoyak bagi kemerdekaan Ghiffari; terjajah. Kami menjadi limbung akan nilai-nilai kemerdekaan, saat dikemas dalam aneka lomba rakyat. Memang ini kali pertama bagi Ghiffari menandai arti kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan "gagah-berani" kita.
<br />
<br />Ngeh, mudeng, ooh... Selain ada bendera merah-putih, ada yayah yang menang di final ping-pong pada jam setengah dua belas malam, juga 3 assist bagi hattrick Pak Dani di pertandingan Sepak bola yang kontoversi, yang memicu ngambek sebagian orang-orang blok depan karena protes offside-nya tidak digubris wasit, ada mamah yang kecewa berat karena nasi gorengnya kurang garam, dari sebab tandemnya pengidap hipertensi, menyebabkan tidak masuk nominasi untuk ketiga-kali tujuhbelasan, ternyata ada juga sepeda hias buat aku, pikir Ghiffari.
<br />
<br />Aku dan yayang sibuk menggunting kertas krep merah-putih, mengelem, dan menghias dengan waktu yang sempit. Ghiffari bersemangat, begitu juga dengan Jihan hingga menjadikan mulut kami ramai meminta mereka untuk tidak "sibuk" juga.
<br />
<br />Tiba pada saatnya kolok Ghiffari datang, menghambat laju kebahagiaan kami untuk menyaksikan kali pertama Ghiffari bersepeda-hias. Percaya diri Ghiffari luntur seketika, apalagi kami terus memaksa. Bijak kami hanyut terbawa derasnya arus emosi.
<br />
<br />Dengan agak lama membujuk, menumbuhkan percaya diri, akhirnya ia mau, dan mendapat nomor urut 36 yang diserahkan langsung oleh Pak Ifoed sebagai ketua panitia lomba.
<br />Saat akan bergerak konvoi, lagi-lagi emosiku terpicu oleh kolok dan ketidak-pede-an Ghiffari. Kembali memaksa, tidak berhasil. Keluar dari barisan konvoi, bergerak berlawanan arah menuju lomba layang-layang untuk para ayah. Wah...
<br />
<br />Alhasil, Yayang cuma bilang... jangan dipaksa !!!
<br />
<br />Aku berfikir; Memaksakan kehendak pada orang lain adalah bagai menjajah kemerdekaannya. Maafkan Yayah Ghiffari. Yayah cuma ingin kamu bersemangat, bergembira, merasakan kemerdakaan setahun sekali, menikmati bersama anak-anak yang lain. Karena... andai kamu tahu, nak; besok kita semua kembali terjajah. Di paksa menyaksikan KKN dari penjajah-penjajah sawo-matang. Kembali ke negeri para penyamun yang santun melantun janji-janji yang membuat pikun.
<br />
<br />Maafkan Yayah; Merdekalah harapanku !!!Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-6627495.post-1092198046784222952004-08-11T09:03:00.000+07:002004-08-11T11:20:46.783+07:00GratisMasjid limapuluh persen rampung, tampak lengang selepas bada Isya. Jamaah yang tidak lebih dari lima belas orang itu telah lekas pulang, kembali kepada buah dan belahan jiwanya masing-masing.
<br />
<br />Tinggallah aku dan kartunis Ifoed Kokkang yang kebetulan menjadi bagian dari jamaah kami, dan kerap meng-imami kami. Tampak di luar Ghiffari mendapat arahan dari Pak Gunadi untuk tidak nakal dan cepat masuk kedalam Masjid limapuluh persen rampung, swadaya, siap terdonasi oleh kalian, itu juga kalau mau, ngga nolak kok ;)
<br />
<br />Malam itu ada beberapa hal yang dibicarakan, antara lain mengenai TPA. Aku mempunyai pandangan, boleh dikatakan juga prinsip. Melihat tetangga sebelah rumahku, Pak Sis, seorang Gembala yang kerap mengadakan Sekolah Minggu di Sabtu sore dengan menggunakan pola jembut bola. Anak-anak yang bertempat tinggal jauh dari kediaman Pak Sis di antar-jemput oleh Pak Sis sendiri. Setelah pulang mereka mendapat snack. Tampak anak-anak belajar agama dengan girang.
<br />
<br />Dalam pandanganku, agama adalah tataran nilai-nilai dengan ruh rahmatan lil 'alamin, menjadi rahmat/kebaikan yang dirasakan oleh segenap alam dan isinya. TPA adalah bagian dari agama, idealismenya adalah GRATIS sebagai wujud rahmatan lil 'alamin. Namun nampaknya kedua sahabat Orang Biasa kurang setuju, dengan asumsi dasar bahwa gratis menunjukan ketidak-seriusan dalam penyelenggaraan. Dengan melihat contoh bahwa seminar yang yang gratis tidak akan dihadiri oleh orang-orang karena ke-gratisan-nya yang berasumsi tidak bonafid, tidak jelas dan tidak bermutu. Nampak Pak Gunadi lebih banyak bercakap dan Mas Ifoed Kokkang lebih pada mengangguk tand bersetuju.
<br />
<br />Apakah aku yang salah dalam meletakkan idealisme atau bagaimana ?
<br />
<br />Mas Ifoed Kokkang juga kurang setuju dengan dalih justru untuk sebuah penghargaan beragama, rela berkorban, harus berdonasi lebih banyak dari yang ditetapkan oleh iuran wajib. Dengan berasumsi, seharusnya kolom shodaqoh suka-rela harus lebih besar dari iuran wajib sebesar sepuluh ribu, yang mencerminkan kesungguhan beragama.
<br />
<br />Namun demikian aku bersyukur, Alhamdulillah. Kas TPA masih bersaldo positif dengan nilai hampir sebesar lima ratus ribu rupiah, dengan kondisi anak-anak sudah bisa menikmati meja belajar. Meski bekas, hibah dari Hamba Allah Sawangan-Depok (semoga Allah melipat gandakan pahalamu) namun dengan peremajaan tidak lebih dari tiga ratus ribu rupiah, nampak seperti baru, cerah hijau toska, alternatif pilihan warna Sang Kartunis. Anak-anak terbebas dari uang pendaftaran juga iuran bulan Juli. Semua ter-cover oleh Donasi Hamba-hamba Allah yang Tuhan gerakkan hatinya (Semoga Allah memberikan banyak kebaikan pada mereka semua. Amin). Guru-guru sudah terbayar insentifnya untuk bulan Juli sesuai janji subsidi DKM. Alhamdulillah.
<br />
<br />Atau aku yang terlalu berlebih, berharap banyak ?
<br />Bagaimana menurut kalian ?Qkyhttp://www.blogger.com/profile/13059453118041705846noreply@blogger.com