tag:blogger.com,1999:blog-58188228403307200162009-07-19T09:07:21.817+07:00ali sofyan kholimi at idEmpat Hal, Jika Ada Pada Engkau, Maka Dunia yang Luput Darimu Tidak Akan Menyengsarakanmu: Memelihara Amanat, Berbicara Jujur, Pekerti yang Baik, dan Memelihara Kehalalan Makanan.kholiminoreply@blogger.comBlogger55125tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-33690722206491256292009-03-10T17:30:00.005+07:002009-03-10T19:52:52.175+07:00Jangan Paksakan Orang Indonesia Membaca Buku!<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Mengapa ya, orang Indonesia itu malas membaca buku dan suka menonton televisi? Itu yang sering diutarakan oleh beberapa kaum suci kutu buku. Mereka menganggap orang-orang yang tidak suka membaca buku dan suka menonton televisi itu sebagai pendosa. Para pendosa yang melanggar agama kutu buku, agama yang mengganggap televisi sebagai satu-satunya sumber kerusakan. Lupakah kita bahwa tidak sedikit buku yang memuat hal-hal yang tidak bermanfaat?<br /><br />Saya kira, sudah waktunya pola pikir ini dirubah. Buku hanyalah sebuah media, radio hanyalah sebuah media, dan televisi hanyalah sebuah media.<br /><br />Kalau kita melihat ke belakang, mungkin kita perlu bertanya, mana sih karya sastra tulis Indonesia yang sangat indah? Kalau tidak boleh dikatakan tidak ada, maka bolehlah dikatakan sangat sedikit. Mungkin ada yang mengatakan jumlahnya banyak dengan memperhatikan sejumlah pantun-pantun yang banyak terdapat di Indonesia. Tapi, ada hal yang perlu kita perhatikan, pantun-pantun tersebut kebanyakan dilestarikan dengan budaya oral turun temurun, tidak heran radio sangat laku di Indonesia dibanding buku, karena ini sudah budaya di Indonesia. Selain itu, kita juga bisa melihat begitu banyaknya produk budaya kita yang berupa wayang. Wayang, tidak ubahnya televisi jaman sekarang. Kebanyakan orang indonesia tidak suka melihat teks, mereka lebih suka mendengar serta melihat gambar-gambar.<br /><br />Jadi, daripada kita menjadikan mereka yang tidak suka membaca buku sebagai pendosa, alangkah baiknya kalau kita yang mulai berusaha membuat film-film ataupun rekaman-rekaman mp3 independent, yang berisikan berbagai macam pelajaran sebagai pengganti buku. Membawa-bawa dalil IQRA' untuk memaksa mereka yang tidak suka membaca untuk membaca, dengan menerjemahkan IQRA' <span style="font-weight:bold;">hanya sebagai</span> membaca, menurut saya juga kurang baik. Dan kalau dibalik, mungkin kita sebagai orang yang merasa kutu buku yang kurang IQRA' (membaca, menganalisa, mempelajari, dan menelaah) dalam menghadapi budaya orang Indonesia, padahal kalau kita melakukan IQRA' dengan benar, InsyaALLOH masih ada solusi untuk menjadikan orang Indonesia semakin lama semakin gemar mencari ilmu.<br /><br /><br />Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan <a href="http://www.galihsatria.com/">Mas Galih</a> dengan judul <a href="http://blog.galihsatria.com/2009/01/04/budaya-membaca-kenapa-menjadi-sebuah-gaya-hidup-mewah/">Budaya Membaca, Kenapa Menjadi Sebuah Gaya Hidup Mewah?</a>, tapi bukan bantahan untuk tulisan tersebut.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3369072220649125629?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-24756507053810239092008-02-12T23:11:00.000+07:002008-02-12T23:36:11.495+07:00Argumenku Jelas Salah<span style="font-weight:bold;">Bismillah</span><br /><br />Baru saja dapat wejangan dari salah satu bapakku. Ih bapakmu kok banyak banget, pakai kata salah satu? Ya, bapak memang banyak, tapi papa cuman satu. Begini kata beliau:<br /><br /><blockquote><br />memakai kunci rumah orang yang ketinggalan di kantor dan dipakai masuk rumah diam-diam<br /></blockquote><br /><br />Hik, menusuk hati sekali, bikin hati bimbang.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-2475650705381023909?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-17105571198351429052008-02-02T10:14:00.000+07:002008-02-02T11:44:19.945+07:00Beda Laki-laki dan Perempuan Dalam Mencari Jodoh<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Pernah lihat kolom kontak jodoh di koran-koran. Yang menarik perhatian saya adalah bahwa jumlah perempuan yang mencari lebih banyak daripada laki-laki yang mencari.<br /><br />Mengenai ini, berdasarkan pengalaman saya, mungkin disebabkan beberapa hal. Ingat, hanya berdasarkan pengalaman saya.<br /><br />Pertama, dari pihak laki-laki. Laki-laki, menurut saya, cenderung mencari perempuan yang kurang lebih 3-5 tahun lebih muda. Dan mereka menikah, ketika ada pada usia antara 24-27 tahun, karena alasan belum mampu secara finansial. Laki-laki cenderung malu terhadap kemampuannya jika tidak mampu menghidupi perempuan lebih baik.<br /><br />Kedua, dari pihak perempuan. Berbeda dengan jaman dulu, yang pilihan jodoh ditentukan oleh orang tua. Jaman sekarang, perempuan cenderung menunda pernikahannya. Mereka seringkali menunggu setelah lulus kuliah. Sehingga, mereka juga mencari jodoh pada usia antara 22-25 tahun.<br /><br />Di sinilah yang menurut saya, membuat laki-laki dan perempuan sulit menikah. Pertama, karena laki-laki ingin yang muda. Kedua, perempuan belum ingin menikah.<br /><br />Siapa yang paling rugi dalam hal ini? Menurut saya, dalam hal ini, yang paling rugi adalah perempuan. Mengapa? Karena kemampuan kekuatan laki-laki lebih tahan lama daripada perempuan. Makanya jangan heran, laki-laki berumur 60 tahun pun masih bisa menikah dengan daun muda. Sebaliknya, jarang sekali ditemui, perempuan umur 60 tahun mendapatkan daun muda. Ketika perempuan sudah di atas 30 tahun, maka sudah akan jarang laki-laki yang mau meliriknya. Sebaliknya, laki-laki umur 40 tahun pun masih banyak perempuan yang tertarik. Hal ini pula yang membuat kaum laki-laki sedikit lebih sombong.<br /><br />Melihat hal ini, saya menjadi tidak heran, kalau di kolom kontak jodoh, lebih banyak perempuan yang memenuhi kolom tersebut.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-1710557119835142905?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-50219734432648327002008-01-25T15:26:00.000+07:002008-01-25T18:00:49.627+07:00Kemampuan Sama, Kecepatan Berbeda<span style="font-weight:bold;">Bismillah</span><br /><br />Waktu berbincang-bincang dengan salah seorang anggota dewan penasehat dan seorang kawan baik, 23 Desember lalu di kampus, dapat nasehat bagus dari sang anggota dewan penasehat.<br /><br /><blockquote><br />Ngapain kamu nggak pedhe. Apa yang orang lain lakukan, bisa kamu lakukan. Bedanya, kamu memerlukan waktu yang lebih lama.<br /></blockquote><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-5021973443264832700?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-54419778582125231902008-01-25T08:47:00.000+07:002008-01-25T09:12:28.596+07:00Memilih Berdasar Aqidah<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Perlu dicatat, hal di bawah ini belum pernah terjadi pada saya.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Studi kasus pertama:</span><br />Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.<br />"Mas, kamu mau menikahi aku?"<br />Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."<br />Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."<br />Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"<br />Jawabnya, "Kan mas belum jadi suamiku."<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Studi kasus kedua:</span><br />Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.<br />"Mas, kamu mau menikahi aku?"<br />Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."<br />Jawabnya, "Kan jilbab itu gak wajib"<br />...<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Studi kasus ketiga:</span><br />Ada seorang cewek tidak berjilbab yang naksir aku.<br />"Mas, kamu mau menikahi aku?"<br />Jawabku, "Aku suka seseorang yang pakai jilbab."<br />Jawabnya, "Nanti aku kalau sudah jadi istri mas, aku akan pakai jilbab."<br />Tanyaku, "Mengapa tidak kamu mulai dari sekarang saja?"<br />Jawabnya, "Karena aku masih belum bisa lepas dari ortuku."<br /><br />Dalam studi kasus di atas, ketiga orang itu tidak mau berjilbab. Namun, ketika aku bertemu studi kasus yang pertama, jelas orang itu langsung aku coret dari daftarku. (sombong banget) Lho, kenapa? Karena dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, bukan karena mempunyai pemahaman yang berbeda. Tapi dia melaksanakan atau tidak melaksanakan, dengan syarat orang lain. Hal ini sangat berhubungan dengan aqidah. Ketika sebuah ibadah sudah mampu dilaksanakan tanpa ada yang menghalang-halangi, yang berarti saat itu, dia mengalami kondisi yang paling mudah untuk merubah diri, namun dia tidak mau berubah, perlu dipertanyakan niatnya. Atas dasar apa dia ingin berubah? Sesungguhnya amal itu berdasarkan niatnya.<br /><br />Bagaimana dengan studi kasus kedua dan ketiga. Diskusi-diskusi selanjutnya akan sangat menentukan. Yang jelas, aqidah harus diutamakan.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-5441977858212523190?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com7tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-58386941067404337202008-01-25T08:41:00.000+07:002008-01-25T08:44:40.627+07:00Perangkat Lunak Bagus<span style="font-weight:bold;">Bismillah</span><br /><br />Dari Yudha, Semoga ALLOH selalu menyayanginya (Soalnya, kalau aku tulis Rahimahulloh, pasti diprotes):<br /><br />Ada perangkat lunak bagus di <a href="http://salafidb.googlepages.com/">sana</a>.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-5838694106740433720?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-33052404798080100202008-01-25T06:02:00.000+07:002008-01-25T06:27:57.116+07:00Katanya, Laki-laki Umur 40 itu ...<span style="font-weight:bold;">Bismillah</span><br /><br />Sebelumnya, tulisan ini adalah tulisan yang mengandung opini, tanpa ada sumber yang jelas. Tulisan ini juga muncul, karena beberapa waktu lalu lihat ada buku berjudul <a href="http://rumahbukuislam.com/index.php?id=10&kodebuku=TIB008&jml=1">Misteri Umur 40 Tahun</a>. Melihat judul buku ini, aku langsung terkejut. Belum setahun, aku mendapat nasehat ini dari ayah ibuku. Tapi, karena harus hemat, gak beli deh. :D<br /><br />Menurut kedua beliau, seorang wanita, mengalami masa kejayaannya pada usia 20-30 tahun. Kecantikannya, kesuksesannya dan lain sebagainya. Berbeda dengan laki-laki, yang malah mengalami masa kejayaannya pada usia 35-45 tahun. Ini juga mungkin, yang konon katanya, rata-rata perempuan lebih cepat puber 2 tahun daripada laki-laki.<br /><br />Begini nasehat kedua beliau, kamu gak akan menjadi laki-laki hingga kamu melewati ujian usia 40 tahun. Di saat itu, akan banyak wanita muda yang menyukaimu karena ketampananmu. (absurd banget, aku saja gak ngerti tampan itu bagaimana) Di saat itu pula banyak kasus perselingkuhan. Kalaupun kamu gak selingkuh, istrimu yang akan khawatir. Di saat itu pula, banyak ujian menderamu. Ujian anak, ujian harta, dan ujian-ujian lain. Mendengar itu, aku jadi dag dig dug. Waduh, belum apa-apa kok sudah dikasih cerita syerem gini. Tapi ini yang terakhir, kalau kamu lulus dari ujian usia tersebut, tingkat kebijaksanaanmu akan berbeda.<br /><br />Gak paham, sumpah gak paham. Bahkan waktu itu ku dengarkan sambil lalu. Tapi kok ya kemudian lihat judul buku itu. Karena mendengarkan sambil lalu, mungkin apa yang ku tangkap di atas bisa jadi keliru. Jadi bertanya-tanya, aku nanti kayak apa ya di usia 40 tahun.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3305240479808010020?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-81218434627748613552008-01-21T05:24:00.000+07:002008-01-23T11:34:28.034+07:00Orang Yang Bersiwak dengan Siwak Orang Lain<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br /><blockquote><br />Dari 'Aisyah R.A., dia berkata,<br />"Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah SAW sambil membawa siwak untuk membersihkan gigi. Rasulullah SAW melihatnya, maka aku berkata kepadanya,<br />'Wahai Abdurrahman, berikanlah siwakmu itu kepadaku'.<br />Maka dia memberikannya kepadaku. Aku patahkan ujungnya dengan gigiku, lalu aku kunyah. Setelah itu aku berikan kepada Rasulullah SAW, dan beliau membersihkan giginya dengan siwak itu sambil bersandar di dadaku."<br /></blockquote><br /><br />Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Kitab Sholat Jum'at dari Shahih Bukhari. Adapun, Abdurrahman adalah saudara dari 'Aisyiyah.<br /><br />Jujur saja, aku tadi sempat meneteskan air mata ketika membaca ulang hadits ini dan mengingat kembali penjelasan Ustadz Soekamto di kajian pagi sebelumnya.<br /><br />Sebenarnya ada 3 hikmah yang terkandung dari hadits ini. Pertama, sesuai yang tercantum dalam judul bab, Imam Bukhari menunjukkan, bolehnya memakai siwak orang lain. Kedua, menunjukkan, bolehnya bersiwak sewaktu-waktu, walaupun tidak sholat. Ketiga, menunjukkan bagaimana hidup dalam berkeluarga, yang ditunjukkan oleh keluarga Rasulullah.<br /><br />Mengingat penjelasan yang terakhir inilah yang sempat membuat aku meneteskan air mata ketika sedang mengingat kembali penjelasan hadits tersebut, padahal aku tertawa ketika mendengarkan penjelasan Ustadz Soekamto pada waktu kajian beliau.<br /><br />Lihat saja, bagaimana perhatian 'Aisyah terhadap Rasulullah, yang tahu beliau ingin bersiwak, sehingga siwak saudaranya dimintakan, juga sudah disiapkan oleh 'Aisyah agar bisa langsung dipakai.<br /><br />Lihat juga ketika Rasulullah, langsung memakai siwak itu, meskipun itu bekas mulut 'Aisyah. Sedangkan, aku khawatir, diriku nanti ketika sudah tua, ketika sikat gigi tinggal satu yang merupakan milik istriku, kemudian istriku nanti menawariku sikat giginya untuk dipinjam, aku malah bilang, "Bekas 'gidal'-mu gitu kamu kasihkan aku." (Maaf, contoh kasar). Padahal ketika masih muda, menganggap hal ini sebagai hal yang mesra.<br /><br />Lihat juga, bagaimana Rasulullah ingin bermanja kepada istrinya, meskipun ada orang lain di depannya. Yang mungkin, ketika tua nanti, aku bahkan malu hanya untuk sekedar menggandeng tangan istriku di depan umum, yang dalam pikiranku, mungkin "Kayak anak kecil saja, bergandengan tangan." Padahal ketika masih muda, aku mau menggandeng tangannya karena ingin menunjukkan, inilah istriku, kepada orang lain.<br /><br />Lihat juga, bagaimana sikap 'Aisyah yang menerima keinginan suaminya yang ingin dimanja.<br /><br />Aku tidak bisa membayangkan, terhadap 'Aisyah saja seperti ini. Bagaimana dengan Khadijah, yang nyatanya, Rasulullah sendiri saja jauh lebih mencintai beliau? Padahal beliau berumur 15 tahun lebih tua daripada Rasulullah. Bisakah aku seperti itu? Sebuah kemesraan yang istiqamah, walau sudah beberapa tahun usia pernikahan. Berlawanan dengan kejadian dalam anekdot pernikahan <a href="http://rizahamida.multiply.com/journal/item/41/menjaga_Lebih_suLit_dari_meraih">ini</a>. Sungguh, aku iri dengan keluarga itu.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-8121843462774861355?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-15044368762132834412008-01-18T06:14:00.000+07:002008-01-18T06:59:01.974+07:00Mengapa Ada Orang Yang Susah Mati<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Sebelumnya maaf, mood untuk menulis tentang nikah sudah hilang lagi. Sekarang mood-nya lagi menulis tentang kematian. Tampaknya, mood ini muncul karena <a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2008/01/kematian-yang-tampak-menyenangkan.html">wafatnya Pak Senen</a> dan mungkin akan wafatnya seorang tokoh besar bangsa Indonesia.<br /><br />Dalam kejadian meninggalnya seseorang, mungkin kita bertanya-tanya, mengapa sih ada orang yang matinya itu susah banget, padahal sudah didoakan orang banyak agar segera wafat.? Selain itu, mati yang susah tersebut sebenarnya menyenangkan tidak sih?<br /><br />Pertama, seseorang mati susah itu bukan karena malaikat mempermainkan nyawa manusia. Tapi jiwa manusia itu yang tidak mau meninggalkan jasadnya. Seperti yang tercantum dalam Surat al-An'am (6) ayat 93 berikut:<br /><br /><blockquote><br />Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.<br /></blockquote><br /><br />Ayat tersebut, juga memperlihatkan, betapa susahnya orang yang mati seperti itu. Bagaimana tidak susah. Supaya, bisa segera mati, malaikat sampai memukul dengan tangannya.<br /><br />Pertanyaannya selanjutnya? Mengapa mereka tidak mau segera mati? Karena mereka takut mati. Lihat di Surat Qaaf (50) ayat 19 berikut:<br /><br /><blockquote><br />Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.<br /></blockquote><br /><br />Pertanyaan selanjutnya. Mengapa takut mati? Karena, sejak kita akan mati, kita menjadi orang yang sangat cerdas luar biasa. Kita bisa mengingat semua yang telah kita lakukan, karena tabir yang menutup mata kita terbuka. Jika sekarang kita berbuat dosa, sejam kemudian kita lupa. Maka, mungkin nanti kita akan mengingat semua kesalahan-kesalahan kita sejak kecil. Dan orang-orang yang susah mati itu tahu, bahwa dia harus tetap hidup. (Catatan: paragraf ini banyak mengandung kalimat yang mengira-ngira sendiri, karena penulis belum pernah mati). Lihat Surat Qaaf (50) ayat 22:<br /><br /><blockquote><br />Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.<br /></blockquote><br /><br />Wallahu'alam bish Shawwab.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-1504436876213283441?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-34664662449522747472008-01-17T04:08:00.000+07:002008-01-25T15:01:34.051+07:00Di Mana Bumi Dipijak dan Langit DijunjungDi mana bumi dipijak dan langit dijunjung, di situ saya bisa disambar petir.<br /><br />-ask-<br />Lagi kumat. :D<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3466466244952274747?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com5tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-81624546709226977772008-01-16T21:42:00.000+07:002008-01-16T22:05:41.155+07:00Kematian Yang Tampak Menyenangkan<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Saat itu, Ahad 13 Januari, setengah jam sebelum Subuh. Orang-orang berkerumun mengelilingi sesosok mayat yang berada 5 meter sebelah selatan dari Masjid al-Kahfi. Kalau saja sebelah utara, pastilah berada tepat di depan rumahku. Nama orang itu Pak Senen.<br /><br />Setengah jam sebelumnya, jam 3 pagi, seperti biasa, Pak Senen berangkat ke masjid. Beliau memang orang yang paling sering datang subuh pertama kali. Menurut penjual pecel di depan rumahku, yang buka mulai jam 10an malam sampai 3 pagi, beliau melihat Pak Senin duduk. Ingat! Duduk. Bukan jatuh tersungkur. Setelah setengah jam, melihat Pak Senen, Pak Penjual Pecel itu pun bertanya-tanya, dan akhirnya mendatangi Pak Senen, yang akhirnya diketahui sudah meninggal dunia.<br /><br />Kamis sebelumnya, ketika kajian, Pak Senen sempat bercerita, kalau akhir-akhir ini memang penyakit jantungnya lagi kumat. Sungguh dia termasuk orang miskin, belum lagi ditimpa istrinya juga yang sakit. Namun Pak Senen, masih sabar merawat istrinya.<br /><br />Melihat kematian Pak Senen yang tidak merepotkan sama sekali. Penduduk sekampung sangat iri. Begitu pula aku saat ini.<br /><br />Bisakah aku mati seperti itu? Sebuah kematian yang tidak menyusahkan orang-orang di sekitarku. Sebuah kematian yang tenang. Bisa mengambil posisi terlebih dahulu. Semoga ALLOH memberikan tempat yang terbaik untuk Pak Senen.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-8162454670922697777?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-30989733249613528402008-01-13T04:52:00.000+07:002008-01-13T06:06:23.829+07:00Yang Aku Khawatirkan<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Sekali lagi, bahas masalah nikah ya? Mumpung panas, jadi semua ide-ide saya tentang pernikahan bisa saya tumpahkan dari kepala saya. :D<br /><br />Apa sih yang paling aku khawatirkan dalam sebuah pernikahan? Kebosanan alias Istiqamah.<br /><br />Kebosanan ini tidak selalu bosan dengan istri, meskipun kebosanan dengan istri juga bisa terjadi.<br /><br />Mungkin ini bisa menjadi gambaran, dulu kita SD, kemudian SMP, kemudian SMA, trus kuliah. Semuanya merupakan wujud dari usaha belajar. Namun, dalam semua proses belajar tersebut, saya tidak sampai mengalami kebosanan.<br /><br />Beda dengan proses-proses tersebut yang hanya sekitar 3-6 tahun, maka nikah adalah proses belajar yang paling lama.<br /><br />Mengapa saya saat ini kepikiran dengan masalah ini? Seperti biasa, kalau orang lain bilang, mungkin saya terlalu jauh mikirnya. Sebenarnya saya sedang menanyakan tentang letak sebuah ayat, yakni surat al-Furqan ayat 74:<br /><br /><blockquote><br />Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.<br /></blockquote><br /><br />Pertanyaannya. Mengapa, sebuah ayat yang mengajarkan tentang do'a untuk meminta istri dan keturunan yang bisa menjadi penenang hati, berada di tengah-tengah ayat-ayat yang berisi tentang istiqamah dalam hal beramal shalih? Silahkan baca surat al-Furqan ayat 70-76.<br /><br /><blockquote><br />kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. {70}<br /><br />Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. {71}<br /><br />Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. {72}<br /><br />Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. {73}<br /><br />Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." {74}<br /><br />Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, {75}<br /><br />mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. {76}<br /></blockquote><br /><br />Sampai saat ini yang bisa saya tangkap dari ayat-ayat tersebut, istri dan keturunan yang bisa menenangkan hati sebanding dengan usaha kita untuk bersabar dan istiqamah. Jadi, bukan sesuatu yang langsung jatuh dari langit. Pertanyaannya? Bisakah saya bersabar dan istiqamah ketika sudah dalam ikatan pernikahan nanti. Mengingat, tidak menikah hanya dengan alasan untuk menjaga ibadah juga dilarang.<br /><br />Sungguh hanya ALLOH yang mengetahui dengan sebenar-benarnya.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3098973324961352840?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-89610929058326696312008-01-11T09:27:00.000+07:002008-01-13T04:56:40.528+07:00Akad Nikah: Pilih Madzhab Yang Mana?<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Sebelumnya, perlu saya garis bawahi, tulisan ini gak serius kok. Namun membahas masalah agama, jadi juga agak serius. Nah, saya nulis ini juga karena ada dugaan <a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/12/way.html">saya akan menikah</a>, yang konon sempat dibahas di YM! Conference rekan-rekan angkatan 99 karena berhubungan dengan perjanjian 3 bersaudara yang sudah dikhianati oleh 1 saudara. :D Kebetulan yang dua saudara kan dari angkatan 99, dan saya bukan angkatan 99.<br /><br />Karena ramai masalah nikah, maka, sekalian saya menulis ide-ide saya tentang pernikahan. Nah yang akan dibahas sekarang tentang akad nikah.<br /><br />Seperti yang kita ketahui di Indonesia, pada umumnya, pernikahan menggunakan akad nikah model madzhab Imam Syafi'ie. Yang berasal dari pemahaman, akad nikah itu harus diucapkan dengan kalimat-kalimat yang sudah dibuatkan, semacam ini:<br /><br /><blockquote><br />Wali nikah:<br />Saya nikahkan ananda (nama calon pengantin laki-laki) .................. bin............. dengan putri kandung saya yang bernama (nama calon pengantin perempuan) ..................... binti .................. dengan mas kawin ..................... dibayar tunai/hutang.<br /><br />Calon Pengantin Pria:<br />Saya terima nikah (nama CPW) ..................... binti .................. dengan mas kawin ..................... dibayar tunai/hutang.<br /></blockquote><br /><br />Namun, kalau kita baca referensi, insyaALLOH, akad semacam itu tidak ada. Kalimat-kalimat dalam akad, bisa kita buat sendiri. Namun membuat sendiri, bisa menjadi kondisi yang buruk, karena sakralitas menjadi hilang, semisal:<br /><br /><blockquote><br />Calon Pengantin Pria:<br />Saya mau menikahi putri bapak dengan mas kawin ......<br /><br />Wali nikah:<br />Baiklah, saya nikahkan kamu dengan putri saya ini.<br /></blockquote><br /><br />:D<br /><br />Akad yang kasar kan?<br /><br />Kalo saya sih pingin yang agak bagus sedikit, seperti ini:<br /><br /><blockquote><br />Calon Pengantin Pria:<br />Demi DIA yang jiwaku berada di genggaman-NYA, pada saat ini, saya ingin menikahi ......... putri Bapak, dengan mas kawin ......... Jadi, maukah Bapak menanyakan pada ......... putri Bapak, apakah beliau bersedia menerimanya?<br /></blockquote><br /><br />Waktu, aku diskusi dengan ortuku masalah ini, jaman dahulu kala. Aku yang malah dimarahi. "Secara fiqih, kamu bisa jadi benar, tapi nanti nikahmu malah gak jadi karena dianggap gak sah kalau penghulumu fanatik pada satu madzhab." :D<br /><br />Wallahu'alam.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-8961092905832669631?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-7504479081699670352008-01-08T11:24:00.000+07:002008-01-08T16:14:03.944+07:00Kalau Ternyata Istri Lebih FasihBismillah ar-Rahman ar-Rahim<br /><br /><blockquote><br />Bagaimana hukumnya. jika seorang suami menjadi imam sholat di dlm rumah tangganya (istri menjadi makmum), akan tetapi Si Istri lebih fasih dalam membaca AL-QUR’AN?<br /></blockquote><br /><br />Mungkin jawabnya pakai hadits dari Jabir r.a. yang ini:<br /><br /><blockquote><br />“Janganlah sekali-kali perempuan mengimami laki-laki, Arab Badui mengimami Muhajir (mereka yang ikut hijrah bersama nabi ke Madinah) dan pendosa mengimami mukmin yang baik.”<br /></blockquote><br /><br />Ups, nggak ding, bahaya kalau hadits ini dikeluarkan, ini kan hadits lemah.<br /><br />Coba pakai yang ini, dari shahih Bukhari, judul bab "Mengangkat Budak dan Mantan Budak Sebagai Imam" jilid 1:<br /><br /><blockquote><br />Biasanya 'Aisyah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwan dengan membaca mushaf, sanak pezina, orang arab badui serta anak kecil yang belum baligh berdasarkan sabda Nabi SAW, "Hendaklah yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling baik bacaannya di antara mereka terhadap Kitabullah"<br /></blockquote><br /><br />Sekarang ada pertanyaan. Hadits di atas kan berarti karena 'Aisyah r.a. baca al-Qur'annya gak enak, maka dia menyuruh budaknya.<br /><br />Hik, ternyata bahasa Indonesia itu multi tafsir ya?<br /><br />Terjemahan hadits di atas bisa bermakna:<br /><br /><blockquote><br />Biasanya 'Aisyah diimami oleh budaknya yang bernama (((Dzakwan dengan membaca mushaf))), (((sanak pezina))), (((orang arab badui))) serta (((anak kecil yang belum baligh))) berdasarkan sabda Nabi SAW, "Hendaklah yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling baik bacaannya di antara mereka terhadap Kitabullah"<br /></blockquote><br /><br />atau bermakna:<br /><br /><blockquote><br />Biasanya 'Aisyah diimami oleh (((budaknya yang bernama Dzakwan dengan membaca mushaf))), (((sanak pezina))), (((orang arab badui))) serta (((anak kecil yang belum baligh berdasarkan sabda Nabi SAW, "Hendaklah yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling baik bacaannya di antara mereka terhadap Kitabullah")))<br /></blockquote><br /><br />InsyaALLOH terjemahan yang terakhir ini yang paling benar.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-750447908169967035?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-29504223255214394442008-01-02T14:37:00.000+07:002008-01-02T14:40:51.924+07:00CerminCermin mungkin tidak berbohong, tapi cermin selalu memberitahukan kebalikannya.<br /><br />-ask-<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-2950422325521439444?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-14312089357118657932007-12-07T12:19:00.000+07:002007-12-07T16:40:19.885+07:00Menjaga Rumah Ini<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Jujur saja, baru kali ini aku merasakan, mengapa ayat yang memerintahkan kita taat kepada ALLOH, Rasul dan pimpinan kita itu ada.<br /><br />Bagaimana rasanya, jika pimpinan kita memberikan perintah untuk menjaga rumah yang kemudian nantinya menjadi tempat berlindung banyak saudara kita. Di mana, saudara kita itu saat ini banyak melecehkan kita. Tentu saja, oleh para pimpinan, bagian pelecehannya diceritakan kepada penjaga rumah, namun bagian tujuan akhir menjaga rumah tersebut disimpan sendiri. Karena dengan begitu, para penjaga rumah akan mempunyai semangat untuk menjaga rumah tersebut, karena merasa memiliki. Sedang yang berada di luar rumah, semakin marah karena seolah-olah mereka terusir. Adapun para pimpinan, baik yang berada di dalam rumah tersebut, maupun yang di dalam rumah tersebut, hanya tersenyum dan mengatakan, "Bersabarlah!", yang tentu saja sering tidak ditaati, baik oleh para penjaga rumah, maupun yang seolah-olah terusir dari rumah tersebut.<br /><br />Jadi teringat akan kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, di mana Nabi Musa tidak sabar akan perbuatan Nabi Khidir. Di mana, Nabi Khidir belum bisa menceritakan, mengapa beliau melaksanakan keputusan tersebut.<br /><br />Jadi teringat juga, bagaimana Rasulullah menandatangani perjanjian Hudaibiyah.<br /><br />Jadi teringat juga, akan keputusan Ali bin Abi Thalib, yang menyerahkan kekuasaannya. Sehingga menimbulkan pemberontakan.<br /><br />Juga teringat akan sebuah hadits, di mana kita diperintahkan mengingatkan pimpinan kita akan kebijaksanaannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun jika pimpinan tidak mau dinasehati, ada sebuah kalimat lanjutan dari hadits tersebut yang sangat menggugahku saat ini. "Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu dari urusan pimpinanmu."<br /><br />Jika diceritakan semua landasan mengapa para penjaga rumah harus menjaga rumah, yang nantinya diserahkan kepada yang di luar rumah, tentu rumah tersebut bisa dihancurkan oleh yang tidak suka terhadap orang-orang di luar rumah tersebut. Selain itu, para penjaga rumah tentu tidak rela semua hasil kerja kerasnya dibagi bersama orang yang di luar rumah, yang sebelumnya mencaci mereka.<br /><br />Hal ini membuatku terhenyak, menjadi pimpinan rumah seperti itu saja ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Harus siap tersinggung, namun harus bisa menyejukkan dalam ketersinggungan tersebut.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-1431208935711865793?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-33259319072751022682007-12-07T07:09:00.000+07:002007-12-07T16:24:19.789+07:00Aku Ingin Menikah Tapi ...<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Perlu diketahui, tulisan ini tidak sedang me-review buku dengan judul yang sama. Namun, bagaimanapun temanya mungkin sama. Ini hasil sms-an dengan beberapa kawan.<br /><br />Yang cukup menarik, ternyata, permasalahan hati yang dialami oleh pemuda-pemudi seumuran saya dalam menghadapi permasalahan ketakutan akan pernikahan adalah hampir sama.<br /><br />Pertama, miskin. Menurut hitungan saya, menikah itu hanya butuh dana sekitar 500 ribu rupiah. :D Malah syukur-syukur, kalau pak penghulu-nya bersedia tidak dibayar, paling cuma habis 200 ribu rupiah. Tinggal permasalahan mahar saja. Dan gengsi pernikahan tanpa pesta.<br />Ups, yang jelas, pasti bukan inilah yang dibahas. Yang dibahas pastinya kehidupan setelah nikah. Kalau suami mau bekerja dan istri mau nurut dan sabar, InsyaALLOH, kemiskinan bisa teratasi. Sudah ada beberapa contoh kok dari kawan-kawanku.<br /><br />Kedua, fisik. Bagi saya, keminderan seseorang terhadap bentuk fisik, sama seperti tidak mensyukuri nikmat ALLOH atas fisik kita. Misal, ada yang merasa jelek, ada yang merasa gendut gak bisa kurus, dst.<br />Ada cerita, tentang seorang yang tidak punya 2 tangan, kemudian melamar cewek cantik, dan ternyata cewek tersebut menerima. Kalau gak salah jawabannya mengapa cewek itu menerima, karena dia melihat ada tanggung jawab dalam pria tersebut. Dan ternyata, meskipun tidak punya tangan dan hanya bekerja dengan kaki, mereka menjadi keluarga yang kaya. (Rasanya sumbernya TranSTV)<br />Semangat sajalah, fisik itu bukan segalanya, namun kemauan.<br /><br />Ketiga, keluarga kurang baik. Memang ada istilah pernikahan 2 orang adalah pernikahan 2 keluarga. Kalau ini, agak susah juga jawabnya. :P Belum pernah dengar permasalahan yang kompleks sih. Aku mundur saja untuk jelasin yang ini. :P Ada yang bisa memotivasi untuk permasalahan ini?<br /><br />Keempat, diri kurang baik. Ini jawaban paling gampang. Perbaiki diri sendiri.<br /><br /><br /><br />Catatan:<br />Tulisan ini ditulis oleh orang yang belum nikah, namun sering diajak dialog masalah pernikahan baik oleh orang-orang yang ingin menikah, akan menikah dan sudah menikah. Jadi kebenarannya masih 50%. :D<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3325931907275102268?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com4tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-84753965444161458912007-11-30T07:44:00.000+07:002007-11-30T07:53:51.714+07:00Blog Yang Inspiratif<span style="font-weight:bold;">Bismillah</span><br /><br />Mau tahu blog yang sangat inspiratif sekali bagiku saat ini? Blog-nya <a href="http://yuhana.wordpress.com/">Bu Yuhana</a>. Inspiratif sekali, karena banyak kutipan-kutipan di sana yang sangat ingin saya bahas. Baik kutipan dari sang empunya blog, maupun kutipan dari komentar-komentar pembacanya. Sebagai misal, pernyataan bahwa pemahaman terhadap agama berarti orangnya taat agama pada suatu komentar, membuat saya ingin memahami makna kata religius. Dan masih banyak lagi.<br /><br />Namun sayangnya, keterbatasan kemampuan belajar saya seringkali membuat saya berhenti di tengah jalan. Misal dari kasus makna kata religius tadi, saya gak punya kamus besar Bahasa Indonesia dan kamus Oxford untuk mempelajarinya.<br /><br />Jadi, ada yang mau belikan untukku? :D<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-8475396544416145891?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-29394311593029615122007-11-20T04:37:00.000+07:002007-11-20T05:04:10.428+07:00Apakah Saya Termasuk Orang-orang yang Berbuat Ihsan?<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Apakah saya termasuk orang-orang yang berbuat ihsan? Dari ayat-ayat dalam <a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/11/sesungguhnya-alloh-mencintai-orang.html"> posting sebelumnya</a>, saya mendapatkan definisi berikut:<br /><br />[1] Orang yang berbuat ihsan adalah orang-orang yang apabila membalas perbuatan, tidak melakukannya secara berlebihan.<br />Hal ini bisa dilihat dari surat al-Baqarah (2) ayat 194-195 di mana ketika orang-orang yang berbuat ihsan diserang, maka mereka diperbolehkan membalas dengan seimbang.<br /><br />[2] orang yang berinfak di waktu luang maupun sempit.<br />Hal ini bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.<br /><br />[3] orang yang bisa menahan amarahnya dan mampu memaafkan.<br />Hal ini juga bisa dilihat dari surat Ali Imran (3) ayat 134.<br /><br />[4] orang-orang yang apabila dikhianati oleh orang-orang yang berasal dari suatu kelompok, maka dia tidak membalas pada seluruh komponen kelompok tersebut, namun hanya membalas pada yang berkhianat. Adapun yang tidak berkhianat, maka orang-orang yang berbuat ihsan akan memaafkan.<br />Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 13.<br /><br />[5] orang-orang yang beriman dan bertaqwa serta tetap istiqamah terhadap iman dan taqwanya.<br />Hal ini bisa dilihat dari surat al-Maidah (5) ayat 93.<br /><br />Pertanyaannya. Apakah saya termasuk golongan ini? Semoga saja saya bisa termasuk dalam kelompok orang-orang yang berbuat ihsan. Aaamiiin. Tapi sepertinya kok butuh perjuangan berat dan panjang ya (istiqamah).<br /><br /><span style="font-weight:bold;"><span style="font-style:italic;">Bersambung ...</span></span><br /><br /><a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/11/sesungguhnya-alloh-mencintai-orang.html"> Artikel sebelumnya ...</a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-2939431159302961512?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com5tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-37788032356805201752007-11-14T05:30:00.000+07:002007-11-14T06:09:38.138+07:00Hapuskan Materi Desain BasisData dari Praktikum<span style="font-weight:bold;">Bismillah</span><br /><br />Baca PCMedia edisi November 2007 ini, pada rubrik Viewpoint. Ada sebuah opini yang ditulis oleh Pak Bernaridho, berjudul "There's No Such Thing as Database Design". Yang bisa saya tangkap, beliau berpendapat, secara teoritis, normalisasi database mungkin ada, namun dalam tataran praktis, normalisasi hanya bisa dilakukan secara <span style="font-style:italic;">feeling</span>.<br /><br />Membaca artikel ini, saya jadi teringat waktu kuliah di Informatika ITS dahulu. Saya pernah melakukan perdebatan sengit (enak pake gaya hiperbola) mengenai desain basisdata yang bagus. Mulai dari kuliah basisdata, praktikumnya, dan beberapa kuliah selanjutnya yang melakukan desain basisdata.<br /><br />Membaca artikel ini, saya teringat waktu kuliah. Dalam desain basisdata, sulit memastikan, apakah ketika kita melakukan normalisasi, apakah yang terjadi benar-benar normalisasi. Bahkan, sampai saat ini, ketika saya mendesain sebuah basis data, selalu muncul pertanyaan. "Enaknya kolom ini dipisah tidak ya?", tanpa ada landasan yang jelas.<br /><br />Namun, ada yang saya kurang sependapat dengan pendapat beliau, mengenai penghapusan materi desain database. Desain database mungkin susah (baca: tidak mungkin) diterapkan, namun materi tersebut saya kira penting untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai teknik pengurangan volume space penyimpanan data.<br /><br />Di lain pihak, saya kurang setuju, apabila permasalahan desain basis data digunakan sebagai bahan penilaian. Karena, seperti kata Pak Bernaridho, hal ini hanya berdasarkan feeling. Hal ini lah yang menyebabkan materi desain basis data menghabiskan 2 pertemuan di praktikum karena debat berkepanjangan antara asisten dan praktikan tanpa landasan yang jelas, dan bahkan diungkit lagi pada materi selanjutnya oleh asisten yang berbeda. Selain itu, muncul ketidak-pastian penilaian dari asisten praktikum pada materi ini.<br /><br />Jadi, jangan hapuskan materi ini dari kuliah, namun hapuskan dari materi praktikum. :D<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3778803235680520175?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-31484466902994478832007-11-03T04:53:00.000+07:002007-11-20T05:00:48.080+07:00Sesungguhnya ALLOH Mencintai Orang-orang Yang Berbuat Ihsan<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Sesungguhnya ALLOH SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Hal ini diungkapkan oleh ALLOH dalam surat al-Baqarah (2) ayat 194-195:<br /><br /><blockquote><br /><br /> الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (194) وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195<br /><br />Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [194]<br />Dan nafkahkanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat Ihsan-lah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [195]<br /></blockquote><br /><br />Begitu pula dalam surat Ali Imran (3) ayat 134<br /><br /><blockquote><br /><br /> الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ <br /><br />orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan.<br /></blockquote><br /><br />Juga dalam surat Ali Imran (3) ayat 147-148:<br /><br /><blockquote><br /><br /> وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148<br /><br />Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". [147]<br />Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [148]<br /></blockquote><br />Dan dalam surat al-Maidah (5) ayat 13:<br /><br /><blockquote><br /><br /> فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (13<br /><br />Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [13]<br /></blockquote><br /><br />Serta dalam surat al-Maidah (5) ayat 93:<br /><br /><blockquote><br />لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (93 <br /><br />Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat Ihsan. [93]<br /></blockquote><br /><br /><a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/11/apakah-saya-termasuk-orang-orang-yang.html"> Bersambung ...</a><br /><br /><a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/10/sesungguhnya-alloh-mencintai-orang.html"> Artikel Sebelumnya ... </a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-3148446690299447883?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-14596736602720067642007-11-02T05:30:00.000+07:002007-11-18T04:44:27.910+07:00Alhamdulillah, Rasulullah Motivatorku<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Lagi-lagi, posting yang terinspirasi oleh <a href="http://ai23.wordpress.com/2007/10/31/2-bulan-4-hari-sanggupkah/#comment-1907"> posting yang lain </a>, padahal <a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/10/sesungguhnya-alloh-mencintai-orang.html"> posting sebelumnya </a> belum selesai.<br /><br />Melihat posting tersebut, saya jadi teringat ketika saya SMA sampai kuliah semester awal, di mana saya sering bertemu aktivis Islam muda di SMA dan kampus. Inilah kutipan yang sering saya dengar, "Rasulullah adalah suri tauladan yang paling baik", ketika muncul di forum resmi. Namun, sayangnya, ketika berdiskusi yang muncul adalah nama-nama semacam Amien Rais, Hidayat Nur Wachid, Anis Matta, dan A'Agym. Begitu pula kutipan-kutipan yang sering mereka jadikan pedoman hidup. Dengan hormat, tanpa mendiskreditkan kemampuan para tokoh tersebut, mereka tampaknya lebih dicintai daripada Rasulullah sehingga perkataan rekan-rekan terasa hanya di bibir di telingaku.<br /><br />Ketidak-puasan menghinggapiku, aku pun menghindar dari rekan-rekanku saat itu, dan lebih banyak belajar Tafsir al-Qur'an dan Hadits ke Ustadz Soekamto dan Ustadz Sumardi. Sebuah pembelajaran yang membosankan, cuma 2 ayat dan 1 hadits per minggu.<br /><br />Namun di situlah aku banyak termotivasi oleh al-Qur'an dan as-Sunnah, yang tidak hanya mencakup pembelajaran fiqih agama, juga fiqih hidup.<br /><br />Sebagai misal, kalimat "Jangan sok suci, urusi keluargamu dulu", maka saya mengambil hikmah dari nabi Nuh dan nabi Sholeh di mana kelurga mereka durhaka. Tapi apakah itu berarti melarang mereka berdakwah?<br /><br />Jika ada masalah yang sangat menyedihkan hati, aku pun membaca surat Yusuf di mana ada kisah nabi Yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudaranya dan dijadikan budak lalu dipenjara selama bertahun-tahun, atau Nabi Ayyub yang terkena penyakit kulit sampai gak sembuh-sembuh selama bertahun-tahun; lebih berat mana cobaanku dengan cobaan nabi Yusuf dan nabi Ayyub?<br /><br />Masih banyak lagi yang saya baca selain dari Al-Qur'an dan tentunya as-Sunnah sebagai bahan pembelajaran.<br /><br />Alhamdulillah, untung saja Rasulullah adalah motivatorku. Bandingankan apabila saya mengambil motivator dari kalimat-kalimat bukan al-Qur'an dan as-Sunnah namun dari orang-orang yang ditokohkan semacam <a href="http://ai23.wordpress.com/2007/10/31/2-bulan-4-hari-sanggupkah/#comment-1907"> comment tersebut </a>, mungkin aku sudah mati bunuh diri sejak dulu. Gimana lagi, yang dikatakan, "Orang2 besar selalu memiliki semangat yang terkekang yang dibawa dari lahir.". Bayangkan, DARI LAHIR. Berbeda dengan yang dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang mengatakan bahwa KEPRIBADIAN BISA DIBIASAKAN. Bahkan sebelum <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stephen_Covey"> Steven Covey </a> mengatakannya, Rasulullah sudah memotivasi untuk istiqamah dengan amal kita. Tapi apa daya, al-Qur'an dan as-Sunnah ditinggalkan, perkataan orang lain yang dianut.<br /><br />Jadi, benarkah Rasulullah suri tauladan kita? Saya sendiri belum bisa menauladani beliau, bahkan sepersepuluhnya pun belum, tapi saya ingin menjadikan apa yang beliau lakukan saat susah sebagai jawaban saat saya susah. Namun, saat gembira, tampaknya tiba-tiba saja terlupa ajarannya. Ya ALLOH ampunilah aku untuk mengambil sebagaian dan melalaikan bagian yang lain.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-1459673660272006764?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-1895010713216589312007-10-09T22:53:00.000+07:002007-10-09T23:18:13.145+07:00Kitab Rhiyadush Shalihat Itu Untukmu<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br /><blockquote><br />Mas Kholimi, aku ini pingin banget pakai jilbab. Tapi ortu menentang keras. Tiap diskusi selalu diakhiri pertengkaran. Aku ini gak tahu lagi harus berbuat apa. Doakan ya Mas Kholimi, semoga dipermudah jalanku ke sana.<br /><span style="font-weight:bold;"><span style="font-style:italic;">[Isi pesan ini sedikit mengalami editing, terutama berhubungan dengan kata ganti orang.]</span></span><br /></blockquote><br /><br />Sudah setahun ini, anak kecil ini sering berdiskusi dengan aku tentang agama. Sungguh banyak pertanyaan yang tidak bisa ku jawab, dan ku jawab dengan, "belum tahu". Setiap terdesak dan tidak bisa menjawab, aku biasanya merekomendasikan buku yang bisa dia baca atau jika punya, aku pun meminjaminya.<br /><br />Terakhir, aku pinjami dia buku Riyadush Shalihat yang katanya mau dibalikin Agustus, walau kenyataannya sampai sekarang belum balik :) . Setelah itu, dia banyak mengutarakan keinginannya untuk mencontoh wanita-wanita dalam kitab tersebut. Aku pun merekomendasikan buku yang lain, "4 Wanita Terbaik Dunia Akhirat". Tampaknya setelah itu, keinginannya semakin menggebu.<br /><br />Nak, untuk saat ini, aku belum bisa membantu, namun aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri, akan aku carikan orang-orang yang bisa membantumu. Aku hanya bisa berdo'a untukmu.<br /><br /><blockquote><br />Semoga ALLOH menjadikan hatimu kokoh terhadap niatmu.<br />Semoga ALLOH menolongmu dengan memberikan kesabaran yang berlimpah terhadap segala akibat dari ikhtiarmu untuk mendekatkan diri pada ALLOH.<br />Sesungguhnya pada setiap kesusahan ada kemudahan.<br /></blockquote><br /><br /><span style="font-weight:bold;">Melihat semangat perjuanganmu untuk berubah, Nak, kitab Riyadush Shalihat itu untukmu.</span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-189501071321658931?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-28466787541855039552007-10-09T22:24:00.000+07:002007-11-03T05:58:22.966+07:00Sesungguhnya ALLOH Mencintai Orang-orang Yang ...<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br />Terinspirasi oleh <a href="http://yuhana.wordpress.com/2007/10/05/siapakah-orang-yang-dicintai-allah/"> posting </a> <a href="http://yuhana.wordpress.com/"> Bu Yuhana </a> yang menceritakan tentang orang-orang yang dicintai oleh ALLOH versi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Opick"> Opick </a> dalam lagunya berjudul "ALLOH Cinta" dalam album <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ya_Rahman"> "Ya Rahman" </a>, saya jadi teringat tentang kajian dari Ustadz Sumardi yang berbicara tentang orang-orang yang dicintai ALLOH.<br /><br />Dalam al-Qur'an, ada beberapa golongan yang dicintai oleh ALLOH, yakni:<br />01. al-Muhsiniin, yakni orang-orang yang berbuat <span style="font-style:italic;"> ihsan </span>.<br />02. at-Tawwabiin, yakni orang-orang yang bertaubat.<br />03. al-Mutathahhiriin, yakni orang-orang yang mensucikan diri.<br />04. al-Muttaqiin, yakni orang-orang yang bertaqwa.<br />05. ash-Shaabiriin, yakni orang-orang yang sabar.<br />06. al-Mutawakkiliin, yakni orang-orang yang bertawakkal.<br />07. al-Muqsithiin, yakni orang-orang yang berbuat <span style="font-style:italic;"> qisthi </span>. (Blog ini sebenarnya pernah membahas tentang <a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/06/qisthi-vs-adli.html"> perbedaan antara qisthi dan adli </a>)<br /><br /><br /><a href="http://kholimi-id.blogspot.com/2007/11/sesungguhnya-alloh-mencintai-orang.html"> Bersambung ... </a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-2846678754185503955?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5818822840330720016.post-56048728976451277762007-09-07T12:38:00.000+07:002007-09-07T12:51:42.440+07:00Dari Imam al-Bukhari Dalam Adabul Mufrad No. 644<span style="font-weight:bold;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim</span><br /><br /><span style="font-weight:bold;">Hadits gak jelas asal-usulnya:</span><br /><blockquote><br />Do'a Malaikat jibril Menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri; * Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.<br /></blockquote><br /><br /><span style="font-weight:bold;">Ini redaksi yang benar:</span><br /><blockquote><br />Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian<br />berkata, “Amin, amin, amin”. Para sahabat bertanya. “Kenapa engkau berkata<br />‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam<br />bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad<br />celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat<br />kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril<br />berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari<br />bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka<br />aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata<br />lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah<br />seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke<br />surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.<br /><span style="font-weight:bold;">[Adabul Mufrad No. 644]</span><br /></blockquote><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5818822840330720016-5604872897645127776?l=kholimi-id.blogspot.com'/></div>kholiminoreply@blogger.com3