tag:blogger.com,1999:blog-42334713193961765782008-08-17T18:07:55.728-07:00LEKONJABIA adalah LEMBAGA KONSULTASI REMAJA BIMBINGAN AGAMAAkhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comBlogger519125tag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-75263646399084828302008-08-17T17:55:00.000-07:002008-08-17T18:07:55.762-07:00MERDEKA...!!!<center><a href="http://hakimtea.com/catatan-hari-ini/tema-dan-logo-63-tahun-negeriku/"><img class="alignnone size-full wp-image-503" style="border: 1px solid black;" title="Pasang Logo HUT RI ke-63 di Blog Anda" src="http://hakimtea.com/wp-content/uploads/2008/08/hut-ri-63-468x60px-id.gif" alt="" width="450" height="55" /></a><br><br /><a href="http://www.marsudiyanto.blogspot.com/" target="_blank"><img border="0" alt="mastermini" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm94/marsudiyanto/mastermini.jpg"/></a><br><br></center>Marsudiyantohttp://www.blogger.com/profile/14610870378283697793noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-7707761975582763582008-08-16T18:07:00.001-07:002008-08-16T18:07:46.052-07:00Anugerah Kemerdekaan<span style="font-weight: bold;">KEMERDEKAAN</span> adalah suatu anugerah dari Allah swt. Begitu dilahirkan di dunia, telah melekat pada diri setiap manusia hak untuk hidup bebas. Manusia bebas untuk menentukan jalan hidupnya, untuk memilih cara dan gaya menjalani kehidupan lengkap dengan ketentuan dan konsekuensinya. Manusia dipersilakan untuk mengembangkan diri dan potensinya dengan landasan kemerdekaan itu<br /><span id="fullpost"><br />Tetapi dalam sejarah yang dipopulerkan selama ini, ummat Islam Indonesia sempat mengenyam pengalaman pahit selama tiga setengah abad. Masa itu disebut sebagai masa kolonial lantaran bumi ummat Islam di nusantara diaku sebagai milik para pendatang --yang non-muslim. Pengakuan itu jelas tidak sah, tetapi mereka menegakkannya dengan segala daya dan kekuatan, yang ternyata tidak bisa diatasi oleh kaum muslimin.<br />Betapa pedihnya kehidupan pada saat itu. Kita tidak mempunyai kesempatan untuk membangun dan mendayagunakan kemampuan. Gerak dan kreativitas dibatasi. Kita hidup di bawah bayang-bayang dan ancaman. Kaum penjajah itu telah menindas bukan saja secara fisik dan harta benda, tapi juga secara moral dan spiritual.<br />Secara fisik para pendahulu kita mendapat penyiksaan mulai dari yang ringan sampai yang paling berat. Para pejuang telah mereka perlakukan ibarat budak di Eropa, bahkan lebih kejam lagi. Kaum pribumi yang dianggap lebih bodoh dan lemah itu telah ditipu dan dipaksa untuk menyerah bulat-bulat, lalu dijadikan bulan-bulanan.<br />Yang lebih menyedihkan lagi adalah, mereka telah membawa lari harta kekayaan negeri ini sekuat alat pengangkutnya. Kekayaan itulah yang mereka gunakan sebagai modal untuk memodernisasi negeri dan menyejahterakan rakyat mereka sendiri.<br />Secara moral dan spiritual, kaum muslimin khususnya, mendapatkan tekanan yang tidak kalah beratnya. Para juru dakwah, kiai dan ulama mendapatkan perlakuan yang tidak terhormat. Bahkan kelompok ini termasuk dalam kelompok yang paling dicurigai dan dicap 'ekstremis' yang tidak boleh ada di muka bumi. Sebab mereka memang yang paling anti penindasan dan ketidakadilan. Dari para pemuka agama itu pula tumbuh semangat yang tak pernah padam pada rakyat jelata untuk terus menentang segala pentuk perampasan hak asasi. Musuh utama kaum penjajah itulah yang telah mendidik rakyat awam tentang hak-hak pribadinya, lewat sentuhan dan pendekatan agama.<br />Islam dan kemerdekaan<br />Islam tidak mengenal penjajahan. Ajaran-ajaran Islam justru menunjung tinggi persamaan hak dan kebebasan (kemerdekaan). Islam menegakkan tinggi-tinggi akhlak yang mulia dengan sikap saling menghargai antar sesama. Menjajah atau (bersedia) dijajah atau diperbudak, sama-sama tidak dibenarkan oleh Islam.<br />Dalam pergaulan masyarakat antar bangsa, Islam tidak mengenal penindasan dan diskriminasi. Hadirnya bangsa-bangsa di dunia yang beragam adalah untuk saling membantu, tolong-menolong dan saling memberi ta'aruf (berkenalan) sebagaimana ditetapkan oleh Allah swt:<br />"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al-Hujurat: 13)<br />Bahkan, satu hal yang tidak dapat diragukan lagi ialah bahwa Islam --dengan prinsip kemerdekaan itu-- telah meninggikan peradaban dunia dan meluaskan khazanah ilmu pengetahuan. Ilmu Islam telah pula menerangi bangsa-bangsa yang mau menerima ajaran-ajarannya, dari perbatasan negeri Cina di sebelah timur hingga Andalusia (Spanyol) di Barat. Pada waktu itu, penduduk di belahan Eropa pada umumnya mengirimkan siswa-siswanya untuk belajar pusat-pusat ilmu di Kordoba maupun Baghdad. Mereka mempelajari bahasa Arab, kemudian menerjemahkan berbagai buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa mereka.<br />Islam tidak membenarkan ummatnya pelit dalam memberikan sumbangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat dunia. Tidak seperti halnya dengan Barat sekarang, yang dikenal sangat hati-hati (baca: pelit) untuk mentrasfer ilmu pengetahuan yang telah mereka kembangkan, khawatir akan menggeser dominasi mereka.<br />Kehadiran Islam memang untuk memberi rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk kepentingan suatu golongan atau kelompok tertentu semata. Kaum muslimin sangat mematuhi undang-undang ad-Din yang sangat berwibawa, yang dalam hal ilmu ini diwakili oleh salah satu sabwa Rasulullah saw:<br />"Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu ketika ditanya, maka di hari kiamat ia akan dikekang dengan tali kekang dari api neraka." (HR. Jama'ah, Ahmad, dan Abu Hurairah)<br />Syukur nikmat<br />Angin kemerdekaan yang telah kita nikmati sekarang menuntut kita untuk pandai-pandai mensyukurinya. Wujud kesyukuran itu, di samping bekerja keras untuk membenahi infra struktur fisik maupun non-fisik, juga menegakkan nilai-nilai kebenaran.<br />Tugas yang terakhir inilah yang dirasakan cukup berat, di tengah era kompetisi seperti saat ini. Karena itulah Islam dan kebenaran ajarannya sudah sangat layak untuk ditegakkan. Nilai-nilai ajarannya sudah saatnya dibumikan di alam yang sudah bebas ini. Bila tidak, maka penjajahan dalam bentuknya yang lain, dengan jumlahnya yang lebih banyak akan kembali mencengkeram negeri ini.<br />Para penjajah secara fisik boleh pergi, akan tetapi ideologi mereka kini perlahan-lahan telah merembas masuk ke dalam tata nilai kehidupan bermasyarakat. Gejala-gejala itu sudah kita rasakan dari sekarang.<br />Musuh dan para penjajah tidak akan pernah berhenti melakukan penyerangan, sebelum kita benar-benar telah menjadi miliknya, dikuasainya. Allah swt berfirman:<br />"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah." (QS. Al-Anfal: 60)<br />Dalam bahasa Al-Qur'an, kewaspadaan diseluruskan dengan syukur. Barangsiapa yang tidak bersyukur terhadap anugerah yang telah Allah berikan, dengan tidak meningkatkan kewaspadaan dan keberhati-hatian, maka Allah akan menggantinya dengan adzab yang sangat pedih:<br />"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7)<br />Peringatan Allah ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Agar manusia tidak terlena setelah memperoleh salah satu bentuk kenikmatan. Termasuk dalam hal ini, nikmat hidup di alam kemerdekaan. Sebab, jangan-jangan, secara tidak sadar kita sedang menyerahkan diri kepada bentuk penjajahan yang lebih canggih, yakni perbudakan halus manusia oleh manusia. Buktinya, kita lebih suka menghambakan diri kepada kepentingan dunia ketimbang mematuhi peringatan-peringatan Allah menyangkut kehidupan dunia ini. Kita beranggapan bahwa agama adalah urusan akhirat, sedangkan yang kita hadapi adalah kenyataan dunia yang penuh liku dan keruwetan. Kita lupa, bahwa agama, atau aturan Allah itu diturunkan, justru untuk mengatur hidup kita selama masih berada di dunia. Setelah urusan dunia selesai, kiamat datang, aturan agama tidak ada gunanya lagi. Pola pikir seperti ini adalah salah satu hasil penjajahan aqidah yang telanjur merasuk ke relung hati kita.<br />Kita masih mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya. Agar kehidupan masa depan generasi yang kita tinggalkan, tidak tumbuh menjadi generasi yang mudah diperbudak apapun juga. Sebab sungguh sangat malang negeri ini, bila generasi yang hidup di dalamnya adalah mereka yang hidupnya mudah diperbudak. Kita berlindung kepada Allah dari hadirnya generasi yang seperti ini.<br /><br /></span>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-74107356131377469292008-08-16T18:04:00.000-07:002008-08-16T18:05:48.342-07:00Arti KemerdekaanAgustusan…. itu istilah lazim yang sering digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia setiap memasuki bulan Agustus disetiap tahunya.<br />Kenapa??? karena dibulan itu bangsa Indonesia merayakan peringatan HUT kemerdekaan RI (17 Agustus), oleh karena itu sering disebut dengan Agustusan.<br />menurutku makna yg terkandung dalam kata agustusan terlalu ringan dibandingkan dgn saat2 dulu para pahlawan berjuang mati2an membela dan mempertahankan negeri ini dari tirani penjajahan.<br /><br /><span id="fullpost"><br />Agustusan ya brarti bulan Agustus…bukan HUT Kemerdekaan….<br />HUT Kemerdekaan RI adalah setiap tanggal 17 Agustus.<br />Menurutku makna kemerdekaan itu……….<br />Kemerdekaan RI bukanlah suatu hadiah….<br />Kemerdekaan RI bukanlah suatu hajatan….<br />Kemerdekaan RI bukanlah milik beberapa org / golongan / kelompok saja….<br />tetapi….<br />Kemerdekaan RI adalah suatu rahmat Allah SWT….<br />Kemerdekaan RI adalah buah hasil perjuangan hidup mati anak-anak bangsa…<br />Kemerdekaan RI adalah milik seluruh rakyat Indonesia…Presiden, menteri, pejabat, direktur, manager, wiraswasta, ibu rumah tangga, tukang becak, tukang parkir, pengamen, dan lain-lain bahkan juga milik bayi yg msh dalam kandungan ibunya….<br />tidaklah pantas kita menggembor-gemborkan Kemerdekaan RI dgn berfoya-foya….<br />tidaklah pantas kita merayakan Kemerdekaan RI dgn berpesta pora….<br />TIDAKLAH PANTAS KITA MERAYAKAN KEMERDEKAAN RI JIKA DISEKITAR KITA MSH BANYAK YG BERJUANG MELAWAN KERASNYA HIDUP DEMI SESUAP NASI…DEMI MENGHIDUPI ANAK ISTRINYA…SEDANGKAN DISISI LAIN KORUPSI SEMAKIN TUMBUH DAN BERKEMBANG…<br />TIDAKLAH PANTAS KITA MERAYAKAN KEMERDEKAAN RI JIKA MSH ADA TANGIS ANAK-ANAK YG MENAHAN LAPAR….PENGANGGURAN DIMANA-MANA…GELANDANGAN BERKELIARAN….PERAMPOKAN, PENCURIAN, PENCOPETAN, PEMBUNUHAN, PEMERKOSAAN MERAJALELA…<br />TIDAKLAH PANTAS KITA MERAYAKAN KEMERDEKAAN RI DIMANA MSH ADA BURUH KERJA TIDAK DIBAYAR….KERUSUHAN, PERKELAHIAN, BAKU HANTAM, ANARKHISME SEMAKIN MEMBUDAYA….<br />apakah ini buah dari Proklamasi Kemerdekaan ???<br />apakah ini tujuan Kemerdekaan Republik Indonesia ???<br />apakah ini cita-cita para pejuang bangsa yg telah tiada ???<br />BUKANNNN…..<br />BUKAN INI BUAH DARI PROKLAMASI…<br />BUKAN INI TUJUAN KEMERDEKAAN RI…<br />BUKAN INI CITA-CITA PEJUANG BANGSA…<br />LALU…APA ARTINYA PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI…???<br />APA MAKNA KEMERDEKAAN NEGERI INI…???<br />semuanya tidak ada artinya….<br />semuanya tidak ada maknanya….jika hal-hal diatas masih dan masih saja terjadi…<br />jika hal-hal diatas msh merudung negeri jamrud khatulistiwa ini…<br />mari kita smua merenung sedalam-dalamnya….<br />apakah kita sudah pantas disebut sebagai anak bangsa yg cinta pada negerinya sendiri….<br />apakah kita sudah pantas disebut sebagai generasi muda penerus pembangunan…<br />apakah kita sudah pantas disebut sebagai warga negara yg rela berkorban untuk tanah airnya…<br />lalu…<br />APAKAH KITA SUDAH PANTAS MERAYAKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA…<br />APAKAH KITA SUDAH PANTAS MEMAKNAI KEMERDEKAAN INI….<br />renungkanlah…..<br />pikirkanlah….<br />rencanakanlah….<br />lakukanlah…<br />smuanya hanya untuk negeri kita tercinta…INDONESIA….<br />SELAMAT HUT KEMERDEKAAN KE-63 REPUBLIK INDONESIA….<br />SMOGA BANGSA INI DAPAT SEGERA BANGKIT DARI KETERPURUKAN</span>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-27773476114415596192008-08-16T17:54:00.000-07:002008-08-16T18:01:15.735-07:00Islam dan Kemerdekaantaggal 17 Agustus kemerdekaan RI genap berusia 63 tahun. Ibarat seorang manusia, usia 63 tahun adalah usia tua dan sekaligus fase kematangan berfikir dan puncak produksi. Ia telah melewati beberapa fase dalam hidupnya seperti masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Tetapi bila hal itu kita terapkan pada bangsa ini, kondisi riilnya sama sekali tidak membenarkan idealita itu. Bahkan sepertinya kita masih berada pada fase belajar dewasa. Ibarat manusia, pada dirinya terjadi pertumbuhan yang tidak normal, mengalami kelambanan dalam berfikir dan bertindak. Kenapakah hal itu bisa terjadi?<br /><span id="fullpost"><br />Itulah yang harus sama-sama kita fikirkan melalui renungan ini. Dalam pandangan Islam kemerdekaan tidak hanya diukur dari terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan kolonial. Memang itu tidak dipungkiri sebagai salah satu alat ukur. Karena kondisi terjajah membuat suatu bangsa bergantung kepada pihak yang menjajah. Kemudian tidak adanya kebebasan (hurriyah) bertindak dan menentukan nasib sendiri dari bangsa terjajah. Segala keputusannya tergantung pada si penjajah. Namun kemerdekaan yang hakiki baru dapat dirasakan bila semua makna ‘penjajahan’ tersebut betul-betul sirna dan berakhir dalam kehidupan suatu bangsa. Suatu bangsa baru dikatakan merdeka yang sesungguhnya, bila bangsa itu hidup mandiri, tidak menggantungkan nasibnya kepada negara lain. Kemandirian di sini khususnya menyangkut hal-hal yang general, seperti kemandirian ideology, ekonomi, politik, hukum, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Kemandirian tidak berarti menutup pintu untuk bekerjasama dengan bangsa lain untuk meraih suatu tujuan yang menguntungkan bersama.<br />Kemandirian ekonomi berarti bangsa itu tidak menggantungkan hidupnya dan perputaran roda perekonomiannya dari bantuan dan pinjaman luar negeri. Kemandirian poilitik berarti bangsa itu betul-betul bebas dalam menentukan kemauan dan kebijakannya, tidak dipengaruhi oleh kemauan dan kepentingan negara-negara maju. Bila bangsanya menginginkan agar Islam diterapkan dalam hidup bernegara, penguasa negeri itu mengikuti tuntutan rakyatnya, bukan mendengar gertakan-gertakan negara maju yang senantiasa mengkhawatirkan pelaksanaan aturan Islam di negerinya sendiri. Kemandirian hukum lebih jelas lagi. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu melahirkan perundang-undangannya sendiri. Bukan menggunakan hukum produk negara penjajah. Bangsa muslim baru dikatakan merdeka, bila mereka sudah mampu menerapkan syari’ah Islam dalam semua segi kehidupan mereka, bukan memilah-milah bagian yang sifatnya pribadi dan keluarga saja. Di sinilah perbedaan pokok antara Islam dengan ideologi lain. Islam mengharuskan pemeluknya untuk patuh dan tunduk kepada aturan hukumnya. Dalam masalah-masalah pokok, Islam tidak menyerahkan aturan itu kepada manusia, karena hal tersebut akan rentan dengan perebutan kepentingan. Oleh karenanya diambil alih oleh Allah swt yang mengetahui persis hal-hal yang sesuai dengan kebaikan manusia dan bahaya yang mengancamnya. Demikian juga dengan kemandirian budaya, apabila budaya bangsa itu tidak diwarnai oleh infiltrasi budaya asing (barat), dalam kehidupan remaja, rumah tangga, etika pergaulan dsb. Dan lebih prinsip lagi adalah pola pikir atau sering disebut sebagai ‘ideologi’. Insan yang merdeka adalah insan yang tidak mengkopi pemikiran dan tidak mewarisi pola pikir kaum penjajah, seperti sekularisme, materialisme, hedonisme dan isme-isme lainnya. Akan tetapi insan yang berpegang teguh pada ideologinya sendiri. Bila ia seorang muslim, maka ideologi yang dianutnya seharusnya Islam. Sehingga pemikiran dan pola berpikirnya senantiasa mengacu kepada kerangka berfikir Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.<br />Apabila pilar-pilar tersebut belum terpenuhi secara global, maka sulitlah untuk mengatakan bangsa itu telah merdeka. Yang ada hanyalah merdeka dari penjajahan fisik dan militer sebagaimana yang lazim dikenal pada awal abad kedua puluh lalu. Bagaimana mungkin dapat disebut suatu bangsa merdeka bila masalah bangsa itu dari persoalan politik hingga budaya sangat dipengaruhi oleh kekuatan asing. Dari ujung rambut ke ujung kaki disetir oleh orang luar. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah ketergantungan –untuk tidak menyebut keterjajahan- ini disebabkan karena kelemahan dalam diri bangsa-bangsa yang baru merdeka atau sebuah kondisi yang dipaksakan oleh pihak penjajah kepada mereka, yang betapapun mereka mau lepas dari kerangkeng penjajah itu tetap saja akan terikat oleh rantai-rantai lainnya?<br />Kedua kemungkinan ini dapat terjadi secara bersamaan. Bahwa bangsa-bangsa muslim sekarang belum menyadari sepenuhnya arti keterbebasan itu (yang ada hanya pada segelintir orang saja), memang suatu realita yang tidak dapat ditolak. Tetapi dari percaturan politik internasional kemungkinan kedua tadi juga tak dapat ditampik adanya. Tapi yang sadar akan hal ini hanya kalangan tertentu dari bangsa-bangsa muslim. Pada umumnya mereka sudah tertidur dengan nyanyian kemerdekaan dan ‘kesenangan’nya. Sungguh amat jelas konspirasi negara-negara barat terhadap negara-negara muslim yang ingin melepaskan jerat penjajahan itu. Tetapi mereka yang betah dengan kondisi terjajah, akan dibiarkan begitu saja dan dimamahi oleh si penjajah. Penguasa yang ada di negara-negara muslim hanyalah perpanjangan tangan kaum kolonial saja. Sebab, kaum penjajah tidak bakal meninggalkan negara jajahannya sebelum yakin bahwa yang menggantikannya di kursi kekuasaan adalah orang-orang yang bercorak pikiran serupa dengan si penjajah. Jadi, –seperti mengutip istilah Sayed Quthb- keluar "Inggris putih", masuk "Inggris cokelat". Sebenarnya kaum kolonial barat tidak mengizinkan kita merdeka dengan sesungguhnya? Sehingga mereka berupaya dengan berbagai cara untuk tetap mempertahankan ketergantungan itu, yang diawali dari ketergantungan ekonomi, kemudian merembes kepada ketergantungan politik, dan tidak disadari masuk dalam jerat ketergantungan budaya, sementara ikatan hukum belum bisa dilepaskan, karena elit-elit yang masih terbelit oleh jerat ideologis.<br />Dalam konsep Islam kemerdekaan diawali dari keterbebasan `aqidah dan pola pikir manusia dari mengikuti ‘hawa nafsu’. Sebab menurut terminologi `aqidah hanya dikenal dua arus, 1. arus Allah swt dan 2. arus thaghut (Syaitan). Orang yang tidak mengikuti arus Allah swt –sadar atau tidak sadar- sudah pasti akan terkoptasi oleh arus thaghut. Orang beriman membebaskan diri dan keinginannya dari segala keterikatan di luar Allah. Arus Allah itu rambu-rambunya sudah jelas baik dalam dimensi politik, ekonomi, hukum, budaya, dll. Kesemuanya mengancu kepada ketentuan Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya. Manusia berfikir bagaimana menerapkan aturan itu dan mengembangkan ke bagian-bagian yang belum terjangkau secara harfiyah oleh aturan itu melalui mekanisme ‘ijtihad’. Manusia jangan seklai-kali berfikir ingin merubah atau lari dari aturan itu. Konsekuensinya harus dibayar dengan biaya yang sangat mahal –ketersesatan di dunia dan neraka di akhirat. Itulah yang terjadi sekarang ini, dimana manusia kehilangan kemanusiaannya karena mengikuti ‘hawa nafsu’nya (thaghut). Sistem-sistem yang mereka ciptakan dengan tujuan awal untuk kesenangan dan kebahagiaan manusia, serta-merta berubah menjadi malapetaka yang mencelakakan kemanusiaan secara umum. Jadi manusia menjadi musuh dari produk-produknya sendiri. Ancaman kehancuran dunia datang dari mana-mana, dari politik, militer, ekonomi, lingkungan, budaya, hukum, dan sendi-sendi lainnya. Sudahkah tiba saatnya manusia –khususnya umat Islam- sadar dan ruju` kepada aturan Allah swt dan petunjuk (hadyu) Nabinya saw. dengan meretas berbagai ikatan dan jeratan pertama sekali dari benaknya (`aqidah), kemudian ke lingkungan sekitarnya. Tanpa dibayang-bayangi oleh perasaan ketakutan yang dihembusklan oleh syaitan dan tentara-tentaranya tentang kondisi kemajemukan bangsa, kebinekaan, nasionalisme dan sejenisnya.</span>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-66042031278435039982008-08-16T17:49:00.000-07:002008-08-16T17:52:50.234-07:00<p class="MsoBodyText" style="margin: 5.65pt 0in;"><b style=""><span style="font-size: 11pt; font-family: "Book Antiqua";" lang="IN"> </span><span lang="IN">Dari Abu Hurairah r.a.</span></b><span lang="IN"> dari Nabi s.a.w., bersabda: "Jauhilah tujuh macam hal yang merusakkan." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah.apakah tujuh macam hal itu?" Beliau s.a.w bersabda:<br />"Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan hak - yakni berdasarkan kebenaran menurut syariat Agama Islam - makan harta riba, makan harta anak yatim, mundur pada hari berkecamuknya peperangan serta mendakwa kaum wanita yang muhshan - pernah bersuami-lagi mu'min dan pula lalai -dengan dakwaan melakukan zina. <b style="">(Muttafaq 'alaih) <o:p></o:p></b></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 5.65pt 0in; text-align: justify;"><b style=""><span style="font-size: 11pt; font-family: "Book Antiqua";" lang="IN"><o:p></o:p></span><span lang="IN"> Dari Abul Asqa' yaitu Watsilah bin al-Asqa' r.a.,</span></b><span lang="IN"> katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya termasuk sebesar-besar kedustaan ialah apabila seseorang itu mengaku-aku pada orang yang selain ayahnya - yakni bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan keturunannya, atau orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang sebenar- nya tidak memimpikannya* atau ia mengucapkan atas Rasulullah s.a.w. sesuatu yang tidak disabdakan olehnya - yakni bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya." <b style="">(Riwayat Bukhari) <o:p></o:p></b></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 5.65pt 0in;"><b style=""><span lang="IN">Dari Sa'ad bin Abu Waqqash r.a.</span></b><span lang="IN"> bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mengaku - sebagai nasab atau keturunan - kepada orang yang bukan ayahnya, sedang ia mengetahui bahawa orang itu memang bukan ayahnya, maka syurga adalah haram atasnya." <b style="">(Muttafaq 'alaih) <o:p></o:p></b></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 5.65pt 0in;"><b style=""><span lang="IN">Dari Abu Zar r.a</span></b><span lang="IN">. bahawasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang pun yang mengaku bernasab atau berketurunan kepada seseorang yang selain ayahnya, sedangkan ia mengetahui akan hal itu, melainkan kafirlah ia Dan barangsiapa yang mengaku sesuatu yang bukan miliknya, maka ia tidaklah termasuk golongan kita - kaum Muslimin - dan hendaklah ia menduduki tempat dari neraka. Juga barangsiapa yang mengundang seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia berkata bahawa orang itu musuh Allah, sedangkan orang yang dikatakan tadi sebenarnya tidak demikian, melainkan kembalilah - kekafiran atau sebutan musuh Allah - itu kepada dirinya sendiri." <b style="">(Muttafaq'alaih) <o:p></o:p></b></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 5.65pt 0in;"><b style=""><span lang="IN">Dari Abu Hurairah r.a. </span></b><span lang="IN">dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Janganlah engkau semua membenci kepada ayahmu sendiri - sehingga mengaku orang lain sebagai ayahnya, kerana barangsiapa yang membenci ayahnya sendiri, maka perbuatan itu menyebabkan kekafiran," yakni dapat kafir kalau meyakinkan bahawa perbuatan- nya itu halal menurut agama atau dapat diertikan kafir yakni menutupi hak ayahnya atas dirinya sendiri. <b style="">(Muttafaq 'alaih) <o:p></o:p></b></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 5.65pt 0in;"><b style=""><span lang="IN">Dari Abu Bakrah iaitu Nufai' bin al-Harits r.a'.</span></b><i style=""><span lang="IN">, </span></i><span lang="IN">katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Tidakkah engkau semua suka saya memberitahukan perihal sebesar-besarnya dosa besar?" Beliau menyabdakan ini sampai tiga kali. Kita-para sahabat- menjawab: "Baiklah,ya Rasulullah." Beliau s.a.w. bersabda: "Menyekutukan kepada Allah dan berani kepada kedua orangtua." Semula beliau s.a.w. bersandar lalu duduk kemudian bersabda lagi: "Ingatlah, juga mengucapkan kedustaan serta menyaksikan secara palsu." Beliau s.a.w. senantiasa mengulang-ulanginya kata-kata yang akhir ini, sehingga kita mengucapkan: "Alangkah baiknya, jikalau beliau diam berhenti mengucapkannya." <b style="">(Muttafaq 'alaih)<o:p></o:p></b></span></p>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-27750815453100226562008-08-16T17:40:00.001-07:002008-08-16T17:40:49.265-07:00SEBAB SEBAB DATANGNYA REZEKI<p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter"> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"> <v:f eqn="sum @0 1 0"> <v:f eqn="sum 0 0 @1"> <v:f eqn="prod @2 1 2"> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"> <v:f eqn="sum @0 0 1"> <v:f eqn="prod @6 1 2"> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"> <v:f eqn="sum @8 21600 0"> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"> <v:f eqn="sum @10 21600 0"> </v:formulas> <v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"> <o:lock ext="edit" aspectratio="t"> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" filled="t"> <v:fill color2="black"> <v:imagedata src="file:///D:\DOCUME~1\RUANGG~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\02\clip_image001.jpg" href="http://nursyifa.paranormal.or.id/kumpulan_images/duit.jpg"> <w:wrap type="square" side="right"> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">1. Selalu Berusaha dengan sebaik-baiknya</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">, baik sebagai pengusaha, pegawai, pengrajin, berdagang, dll. yang pada dasarnya dapat menghasilkan uang.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Dialah Allah yang menjadikan Bumi ini mudah bagi Kamu, maka berjalanlah disegala penjuru dan makanlah sebagian dari Rizqi-NYA. Dan hanya kepada-NYA lah kamu ( kembali setelah ) dibangkitkan ". ( QS Al Mulk : 15 )<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">2. Ber Taqwa</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> dalam arti menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangan-NYA.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Dan barang siapa yang ber Taqwa pada Allah, maka baginya akan diberikan jalan keluar dan akan diberikan Rizqi yang datangnya tanpa disangka-sangka ".( QS Ath Tholaq : 2-3 )<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">3. Berbanyak-banyak membaca Istighfar</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">. Yaitu memohon Ampunan kepada Allah SWT, atas segala dosa dan kesalahan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Mohonlah Ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya DIA akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula sungai-sungai ". ( QS Nuh : 10-12 )<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">" Memperbanyak Istighfar itu dapat mendatangkan ( menarik ) rejeki " ( Lubabu al Hadits)<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">4. Bertawakal kepada Allah</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> yaitu berserah diri dan menyandarkan segala urusan kepada Allah jua, seraya mohon pertolongan atas keberhasilan untuk memperoleh Rizqi yang lapang dan halal.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Dan barang siapa ber Tawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan ( keperluan )-nya ". ( QS Ath Thalaq : 3 )<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">5. Berdoa memohon dengan ber-zikir kerejekian</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">, sebab Allah adalah Dzat yang Memberi Rizqi dan Kekuatan. Berdoa dengan mendekat pada Allah ( Ber Taqarrub ).<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Berdoalah kepada-KU ( Allah ) niscaya AKU ( Allah ) akan mengabulkannya ".( QS Al- Mukmin : 60 )<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">6. Bermurah Hati serta gemar meng-Infaqkan</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> sebagian dari harta bendanya kejalan Allah.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Dan apa saja yang engkau Infaqkan, maka Allah akan mengganti. Dan DIA-lah sebaik-baik Pemberi Rizqi ". ( QS Saba' : 39 )<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><b style=""><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">7. Ber Tahmid, yaitu membaca Al-Hamdulillah saat mendapatkan Rizqi</span></b><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"> atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan. Ber Tahmid itu artinya memuji dan bersyukur atas pemberian Nikmat-NYA itu. Allah akan selalu menambah Rizqi orang-orang yang bersyukur.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 6.75pt 6pt 11.25pt; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;">Firman Allah : " Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami ( Allah ), akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari ( Nikmat-KU ), sesungguhnya Azab-KU sangat pedih " ( QS Ibrahim : 7 ).<o:p></o:p></span></p>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-3153247893215650572008-08-13T21:14:00.001-07:002008-08-13T21:14:54.657-07:00Kemerdekaan dalam Islam<div align="justify"><b><b><strong>PADA</strong> dasarnya demokrasi itu mengajarkan tentang persamaan dan persaudaraan di antara sesama manusia, serta kemerdekaan. Dan keberadaan konsep nasionalisme ini, akan selalu aktual dan merupakan syarat yang mesti terpatri dalam pergumulan kehidupan berbangsa, jika suatu bangsa itu tidak ingin “digembosi” lagi dilibas oleh negara lain.<br /><br />Oleh karena itu, menurut Setia Permana (1999), paham kebangsaan (baca: nasionalisme-Pen) tidak mengenal istilah kuno, akan tetapi, ia adalah merupakan “anak sah” dalam ruang lingkup dialektika kehidupan bernegara dan berbangsa. Baik itu dalam kondisi terjajah maupun dalam kondisi “normal”. Ia senantiasa berada dalam koridor dinamika pergumulan peradaban bangsanya. Lebih jauh, diungkapkan kalau konsep nasionalisme dan sekaligus sentuhannya ini, semestinya selalu terbesit dalam penorehan kehidupan bangsa. Ia tidak sepatutnya luntur oleh sebuah argumentasi adanya ideologi globalisasi. Malahan dengan arus globalisasi yang menerpanya, maka ia, patut makin mengencangkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalismenya.<br /><br />Dalam Islam sendiri, mengenai persamaan di antara manusia –yang merupakan pembentuk kekuatan nasionalisme-- disebutkan antara lain: (1) Persamaan asal, yaitu manusia berasal dari tanah kering, tanah hitam yang busuk, dan air mani (baca: QS. Al Hijr: 26; An Nahl: 11). (2) Persamaan proses, yaitu adanya hubungan biologis pria dan wanita (baca: QS. Al Furqon: 54). (3) Persamaan sebagai makhluk masyarakat, dapat menggunakan pikiran dan perasaan (baca: QS. An Nahl: 78). (4) Persamaan darah keturunan dari Nabi Adam as. (5) Persamaan tempat tinggal di muka bumi ini.<br /><br />Pada konteks ini, pantas saja Ernest Renan dalam karyanya “What Is a Nation” mengatakan, bangsa adalah suatu solidaritas luhur, yang terbina dari penghayatan akan pengorbanan yang telah diberikan oleh para warganya, dan dari kesiapan mereka untuk tetap melakukan pengorbanan-pengorbanan.<br /><br />Untuk itu, hendaknya ruh nasionalisme ini senantiasa menghiasi dan melingkupi gerak langkah anak bangsa dalam mengelola sebuah biduk kehidupan negara-bangsa Indonesia ini. Pertanyaannya adalah sudahkah nilai nasionalisme seperti itu telah kita miliki dalam negara yang telah merdeka 59 tahun? Lalu, bagaimana pandangan Islam sendiri atas sebuah kemerdekaan tersebut?<br /><br />Kemerdekaan dalam Islam<br />Dalam Islam, apakah mengakui adanya kemerdekaan bagi tiap individu dan bangsa? Untuk menjawabnya, kita tidak akan terlepas dari arti Islam itu sendiri. Yakni, Islam itu damai. Artinya, apakah ada rasa aman dan damai dalam suatu perbudakan dan penjajahan? Jawabnya, tentu di setiap perbudakan dan penjajahan tidak akan terdapat perdamaian, justru sebaliknya timbul ketakutan dan perkosaan.<br /><br />Pada tatanan itulah, Islam jelas-jelas anti penjajahan, ketertindasan dan perbudakan. Islam pro kemerdakaan. Ketika seorang anak Adam mengucapkan dua kalimat syahadat, berarti dia telah memproklamasikan kemerdekaan dirinya. Dia telah melepaskan dirinya dari perbudakan antara sesama makhluk.<br /><br />Dalam sejarah Islam, kita melihat bahwa ketika kalimat dan seruan kemerdekaan (baca: dua kalimat syahadat) menggema menghampiri ke pelosok-pelosok Mekkah, nabi dan para sahabat di tuduh sebagai pengganggu stabilitas nasionalnya, oleh kaum kuffar. Tawaran baik Nabi Saw. berupa “kemerdekaan sesungguhnya” –jalan lurus-- disambut lemparan batu, kotoran binatang, dan caci maki. Tapi, Rasul Saw. Itu tidak serta merta melancarkan balasan peperangan. Malahan sebaliknya ketika kaum kuffar masih tetap mengakui kemerdekaan versi nenek moyangnya, Nabi Saw. tetap tegar “menyanyikan” lagu kemerdekaan yang sesuai risalah illahi itu secara bijaksana.<br /><br />Di sini, jelas-jelas orang kuffar itu telah salah memaknai arti sebuah kemerdekaan yang hakiki (karena telah tertutup mata hatinya). Padahal kemerdekaan yang mereka anut tersebut secara nyata adalah semata-mata kemerdekaan yang memiliki keterikatan dengan hawa nafsu yang dibuat oleh mereka sendiri –kebebasan yang dibelenggu oleh Hizbussyaithan--. Lantas, bagaimana hakekat sebuah kemerdekaan di Indonesia dewasa ini?<br /><br />Bagi bangsa Indonesia, merdeka dalam arti yang hakiki ternyata suatu barang langka. Kondisi suburnya tanah; melimpahnya sumber daya alam; letak geografis yang strategis; potensi SDM yang melimpah dengan beragam keahlian, suku bangsa dan bahasa, ternyata belum menjadi jaminan bisa meraih kemerdekaan (kebebasan) itu. Bahkan, bisa jadi bangsa dan rakyat kebanyakan justru merasakan ketertindasan dan keterkukungan oleh bangsanya sendiri.”<br /><br />Berkait dengan itu, menurut dosen FISIP UI, Eep Saefullah Fatah, sebetulnya yang sudah kita capai itu kemerdekaan formal, negara berdaulat. Kemerdekaan hakiki hanya bisa tercapai apabila semua orang di negara yang berdaulat itu benar-benar merdeka.<br /><br />Sementara itu, dalam pandangan Sosiolog UI, Dr. Imam Prasodjo, salah satu ciri negara merdeka adalah mampu membangkitkan harapan dan kesempatan yang luas kepada warganya untuk memperbaiki taraf hidup. Di negara-negara maju, selalu saja, ada impian atau harapan yang didengungkan. Lebih jauh, diungkapkan bahwa kesempatan tersebut harus diberikan kepada semua orang. Tidak boleh ada diskriminasi karena perbedaan status sosial seperti pada zaman feodal.<br /><br />Untuk itu, agar kita dapat menikmati makna kemerdekaan yang sesungguhnya, maka setiap kita harus memposisikan kemerdekaan tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam. Yaitu kemerdekaan ini tidak dapat dilakukan secara sekehendak hati setiap individu, kerena hal ini dapat ditumpangi oleh hawa nafsu, sehingga merusak kemerdekaan orang lain dan kemerdekaan itu sendiri.<br /><br />Lebih jauh dari itu, kemerdekaan sebenarnya merupakan manifestasi keimanan, sehingga kemerdekaan itu mengandung arti tanggung jawab. Seharusnya setiap orang beriman itu akan mempertahankan kemerdekaannya dengan sepenuh kekuatan, baik badan, lisan dan perasaan. Hanya orang yang lemah imannya yang akan mempertahankan kemerdekaannya dengan perasaannya saja (baca: hati).<br /><br />Oleh sebab itu, bagi mereka yang keras imannya tidak akan mau dan rela melepaskan kemerdekaannya barang sedikit dan sejenak pun. Baginya, kemerdekaan merupakan mahkota kehormatan yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. Dan melalui kemerdekaan itulah, seseorang dapat memperbaiki nasibnya, memperoleh derajat tinggi dan memperjuangkan kehormatan yang agung.<br /><br />Sementara itu, kemerdekaan dalam Islam bukan hanya meliputi kemerdekaan dari perbudakan dan penjajahan, tetapi mencakup arena atau bidang yang sangat luas (Drs. Sukarna; 1981), yaitu: Kemerdekaan berbicara atau melahirkan pendapat (freedom of speech); Kemerdekaan dari pada rasa ketakutan (freedom from fear); Kemerdekaan dari pada kemiskinan (freedom from want); dan Kemerdekaan beragama (freedom of religion).<br /><br />Akhirnya, selamat hijrah menuju kemerdekaan yang sesungguhnya dan hanya melalui nilai-nilai Islami tersebut, kita dapat menghantarkan bangsa ini dalam memaknai sebuah arti kemerdekaan yang sebenarnya. Wallahu a’lam.*** </b></b></div><b><b><br /></b></b>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-31738028528175566522008-08-12T05:04:00.001-07:002008-08-12T05:04:27.962-07:00SalamMalem Pak...Marsudiyantohttp://www.blogger.com/profile/14610870378283697793noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-59037794510235241682008-08-01T00:19:00.000-07:002008-08-01T00:21:29.501-07:00Makna Tersirat Isro` Mi`raj<p>Isra’ Mi’raj merupakan salah satu hari besar umat Islam di seluruh dunia. Hari besar ini diperingati untuk mengingat kembali perjalanan Rasulullah SAW dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Bila dijadikan beberapa fragmen, maka kata Isra’ Mi’raj ini dapat dibagi pada dua kata yaitu Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan Rasulullah dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj berarti perjalanan Rasulullah dari masjidil Aqsa naik ke tiap langit sampai Sidratul Muntaha. Segala sesuatu memiliki hubungan sebab akibat, dalam hal ini peristiwa Isra’ Mi’raj memiliki latar belakang tersendiri. Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun kesedihan, sebuah masa ketika nabi SAW kehilangan dua orang yang menjadi pilar perjuangannya, orang yang dicintainya, dikasihi, sangat dihargai, bahkan melebihi rasa sayang pada diri beliau sendiri. Dua orang tersebut adalah Abu Thalib (paman Rasulullah SAW) dan Siti Khadijah (istri Rasulullah SAW), dua orang yang selalu mendukung dan membantu perjuangan Rasulullah SAW.</p> <p>Rasulullahpun sangat sedih menyikapi hal ini, sehingga Allah kemudian memerintahkan malaikat Jibril untuk memperjalankan Rasulullah dari masjidil Haram (Makkah) ke masjidil Aqsa (Palestina) untuk kemudian menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini berlangsung hanya dalam waktu semalam, sebuah waktu yang sangat pendek atau dapat dikategorikan perjalanan luar biasa.</p> <p>Perjalanan tersebut bila ditelaah memiliki suatu misi dari Allah SWT, yaitu pemberitahuan hal ghaib dan pemberian perintah sholat dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Pemberitahuan hal ghaib dapat dilihat dari kunjugan Rasulullah ke surga dan neraka, pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi terdahulu, dan fenomena perjalanan itu sendiri. Hal ghaib merupakan salah satu fenomena yang harus dipercayai oleh kaum muslimin. Meskipun hal ini juga menyangkut konteks keimanan yang ranahnya menyangkut pada eksistensi hakikat keimanan seseorang. Mengapa masuk dalam konteks keimanan? Karena hal ghaib ini juga termuat dalam rukun Iman yaitu percaya pada Allah dan malaikatNya. Jadi hal ghaib merupakan aspek yang berada di luar jangkauan nalar manusia yang notabene memiliki keterbatasan, sehingga pengimanan terhadap hal ghaib menjadi substansi keimanan seseorang. Sedangkan mengenai pemberian sholat dapat dipersepsikan bahwa inilah tujuan utama Allah SWT meng Isra’ Mi’raj <st1:state st="on"><st1:place st="on">kan</st1:place></st1:State> nabi Muhammad SAW selain secara eksplisit yaitu guna menghilangkan kesedihan Rasulullah dan menyadarkan bahwa beliau adalah harapan bagi terciptanya kehidupan baru yang konstrukif secara fundamental. Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam menjadi tulang punggung perjuangan penyebaran agama Islam ke seantero dunia, dan berperan menunjukkan keluhuran agama Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin (rahmat bagi sekalian alam). Sholat sebagai tiang agama merupakan aspek paling fundamental yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah untuk dijadikan jalan bertemu dan mendekatkan diri pada Allah di dunia. Pelaksanaan sholat merupakan sebuah kewajiban religius yang harus diaplikasikan agar manusia dapat menjaga eksistensi agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Allah berkehendak agar Rasulullah SAW dapat menyampaikan perintah sholat kepada seluruh umat muslimin dan meyakinkan pada mereka bahwa kekonsistenan terhadap pelaksanaan sholat merupakan hakikat penjagaan terhadap tegaknya agama Islam.</p> <p>Menurut penulis fenomena Isra’ Mi’raj memiliki aspek tersirat yang dapat dicermati sebagai perspektif pribadi seorang hamba yang merindukan hakikat aplikasi konstruktif dari pemaknaan Isra’ Mi’raj. Konteks peristiwa besar umat Islam ini dapat direfleksikan dengan konteks keadaan yang terjadi saat ini, mungkin boleh dikatakan konteks kemodernan zaman yangmulai mengikis nilai kemanusiaan social terlebih pada aspek religi. Aspek religi dari individu mengalami degradasi dan pendestruksian dari pesatnya modernisasi. Baik itu modernisasi di bidang IPTEK maupun modernisasi dalam berbagai aspek yang lain, sehingga religiusitas juga terkena imbas negatif modernisasi. Analisis terhadap fenomena Isra’ Mi’raj yang akan diperingat pada bulan Juli ini diharapkan dapat menjadi sebuah usaha dinamis dan komprehensif dalam menjawab tantangan arus modernisasi yang selain membawa kemajuan pesat tetapi juga mengakibatkan kemunduran pesat pada aspek religi, kemanusiaan, dan sosial.</p> <p>Analisis pembongkaran aspek tersirat Isra’ Mi’raj dapat dikelompokkan menjadi dua hal yang saling berkaitan, karena antara aspek satu dan lainnya memiliki hubungan integral, yaitu religi dan sosial kemanusaian. Aspek religi merupakan dasar atau hal yang menjiwai aspek sossial kemanusiaan, sehingga dekonstruksi antara dua hal ini merupakan bentuk pembongkaran terhadap dua aspek yang saling menjiwai. Ranah social kemanusiaan lebih cenderung pada implementasi pengaruh agama (Islam) terhadap sikap yang mencerminkan nilai social kemanusiaan. Analisis keterkaitan terhadap aspek yang tersirat pada peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi sebuah jalan untuk memahami dan memaknai arti penting dari peristiwa tersebut. Analisis ini menghubungkan aspek yang tersirat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj melalui metode penjelasan argumentatif terhadap arus modernisasi saat ini. Tentu dalam konteks ini hanya akan dipaparkan sisi negatif modernisasi terhadap aspek religi yang menjiwai aspek social kemanusiaan. Modernisasi yang membawa dampak buruk terhadap dua aspek tersebut akan didekonstruksi untuk selanjutnya diberi pemaknaan melalu perspektif konstruktif aspek religi dan social kemanusiaan. Beberapa aspek tersirat yang akan dianalisis sebagai sebuah pengonsepan terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj terdiri dari empat komponen yang terbentuk berdasarkan perspektif penulis.</p> <p><strong>Pertama</strong>, adanya anggapan bahwa sholat hanya sebagai ritual teologi yang bisa diganti/diqodlo sehingga dianggap hal yang lumrah bila ditinggalkan. Pihak ini menggunakan justifikasi rasional dalam mempertahankan sikap tersebut. Justifikasi rasional merupakan justifikasi dari pemikrannya yang diperoleh melalui interaksi ataupun usaha pribadi dalam menanggapi fenomena kelalaiannya dalam melaksanakan sholat. Misalnya dia tidak melaksanakan sholat dengan alasan capek, tugas banyak, bisa ditunda, pekerjaan menumpuk dan justifikasi rasional lain. Dalam hal ini seseorang biasanya “meminjam istilah filsafat eksistensialisme” dihadapkan pada “situasi batas” untuk melakukan justifikasi terhadap dua hal yang dihadapkan padanya. Pengaplikasiannya adalah ketika orang tersebut harus memberikan justifikasi ketika dia lebih memilih pekerjaan daripada melaksanakan sholat. Sebuah sikap degradasi nilai agama yang dikemas dalam bentuk partikel modernisasi yaitu tuntutan pekerjaan untuk meningkatkan karir. Pendekatan mendalam melalui manajemen waktu antara urusan akhirat dan duniawi haruslah dilakukan secara proporsional. Pemahaman terhadap arti penting sholat sebagai tiang agama dapat diintensifkan dengan cara mendalami agama Islam secara komprehensif dan konstruktif.</p> <p><strong>Kedua</strong>, menjelaskan bahwa seseorang pasti akan mati bahkan orang yang paling kita kasihi sekalipun, sehingga diperlukan ketegaran untuk selalu menyadari hakikat kehidupan manusia di dunia. Tujuan hidup sebagai orang yang bermanfaat bagi agama, nusa bangsa, dan keluarga harus diimplementasikan agar tercipta generasi muslim yang unggul dalam IMTAK dan IPTEK.</p> <p><strong>Ketiga</strong>, menjelaskan bahwa akal manusia terbatas sehingga tidak semua hal dapat dirasionalisasikan melalui logika berpikir karena terdapat hal ghaib yang berada di luar jangkauan nalar manusia. Hal tersebut tergantung keyakinan seseorang, dalam hal ini substansi keimanan seseorang , tetapi manusia juga tidak boleh menafikkan hakikat dirinya sebagai makhluk yang diberikan kelebihan oleh Allah yaitu nikmat akal untuk berpikir secara rasional. Modernisasi juga memasuki ranah akal ini, sehingga terbentuklah konsep degradasi nilai keimanan dan keislaman seseorang dengan munculnya banyak aliran baru yang mengatasnamakan Islam.</p> <p><strong>Keempat</strong>, pesan universal perintah sholat dari Allah kepada kaum muslimin mengharuskan setiap umat muslim untuk melaksanakan perintah tersebut. Implementasi keimanan kepada Allah ditunjukkan dengan konsistennya umat muslimin bertakwa kepada Allah, salah satunya yaitu menjalankan perintah sholat wajib <st1:city st="on"><st1:place st="on">lima</st1:place></st1:City> waktu. Namun, konsistensi pelaksanaan sholat mengalami degradasi saat berhadapan dengan ketidakadilan social, yaitu merajalelanya kemiskinan dan penderitaan sosial lain. Konsep ketidakkuatan iman seringkali menjadi hipotesis sementara untuk menjelaskan ketidakkonsistenan orang miskin yang tidak melaksanakan sholat. Pendapat tersebut mengakar cukup kuat pada masyarakat, sehingga hakikat sebenarnya dari ketidakberdayaan sosial terdiskreditkan. Persoalan krusial kemiskinan sebagai bentuk ketidakadilan/ketidakberdayaan social menjadi aspek tersirat ketidakkonsistenan pelaksanaan sholat para orang miskin, meskipun masih banyak warga miskin yang masih memiliki kekonsistenan mengerjakan sholat. Modernisasi berandil besar dalam menciptakan ketidakberdayaan social/ kemiskinan pada masyarakat. Tuntutan modernisasi yang memarjinalkan orang miskin menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan.</p> <p>Beberapa aspek tersebut merupakan hasil intepretasi penulis pada hal tersirat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Perintah sholat sebagai salah satu substansi utama Isra’ Mi’raj menjadi sorotan utama yang sangat krusial dalam konteks kekonsistenan pelaksanaan. Sebuah kesadaran dan semangat sosial berdasarkan rasa iman serta keadilan sosial diperlukan sebagai aspek konstruktif bagi implementasi sikap takwa dalam memaknai hakikat Isra’ Mi’raj.</p> <p class="MsoNormal"><o:p> </o:p></p>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-80150873542884540282008-08-01T00:18:00.000-07:002008-08-01T00:19:19.462-07:00Makna Kontekstual Isra` mi`rajDalam sejarah peradaban manusia belum pernah terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan melebihi Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut tidak saja menggoncangkan dunia Arab pada saat itu, tetapi di belahan manapun dengan kapasitas teknologi tidak secanggih dewasa ini, tentu sulit untuk dapat mempercayai kejadian besar itu. Pada konteks inilah sebenarnya umat Islam harus mampu menangkap pesan-pesan Isra’ Mi’raj tersebut.Namun cukup disayangkan, pemaparan Isra’ Mi’raj yang selalu disampaikan para penceramah terbatas deskriptif saja dan tidak memberikan perubahan yang berarti bagi umat Islam yang memperingatinya. Oleh sebab itu, tulisan ini mencoba untuk menawarkan kontekstualisasi pemahaman terhadap Isra’ Mi’raj sehingga dapat diteladani umat secara universal. Jadi, tidak terjebak pada acara-acara seremonial, tetapi masuk pada hal yang lebih substansial.<br /><br /><strong>Isra’ Mi’raj Dalam Sejarah</strong><br />Isra’ Mi’raj merupakan dua kata yang disematkan pada peristiwa perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram sampai ke Sidratul Muntaha dalam waktu relatif singkat. Perjalanan beliau dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsa pada disebut dengan Isra’. Selanjutnya perjalanan dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha disebut dengan Mi’raj. Dalam perjalanan yang dilakukan beliau ternyata banyak sekali pengalaman yang didapatkan untuk selanjutnya disampaikan kepada umat. Pada saat Isra’ beliau mengalami berbagai macam peristiwa di antaranya, ada orang yang memotong lidahnya lalu kembali seperti semula, ada yang memanen padi, tetapi tumbuh lagi, dan banyak lagi peristiwa lain yang sulit dan heran bagi Rasul. Tetapi pada hakikatnya bahwa serangkaian pemandangan yang diperlihatkan kepada Rasul merupakan ganjaran terhadap orang yang berbuat baik dan berbuat jelek pada saat di dunia. Sementara itu, pada saat beliau turun dari Sidratul Muntaha dengan membawa perintah shalat wajib yang pada awalnya sebanyak 50 kali sehari semalam. Tetapi, pada akhirnya perintah shalat hanya tersisa 5 kali sehari semalam setelah bertemu dengan nabi-nabi senior yang memberikan nasehat kepada beliau untuk mengurangi kewajiban tersebut.<br /><br />Setelah beliau kembali ke bumi dan menyampaikan pengalaman spiritualnya selama Isra’ Mi’raj. Tetapi dakwah yang disampaikan mendapatkan sambutan yang tidak menguntungkan bagi Rasul, bahkan sebaliknya membawa musibah besar bagi diri Rasul dan kaum muslimin. Tidak menguntungkan bagi Rasul dan kaum muslimin bahwa diharapkan dengan peristiwa itu memberikan stimulus kepada kafir Quraisy untuk masuk ke dalam Islam, namun ternyata tidak benar, bahkan yang telah fatal umat Islam banyak yang murtad. Secara sederhana kita akan berfikir bahwa kaburnya keyakinan kaum muslimin dengan peristiwa itu merupakan hal yang wajar melihat sulitnya untuk mengakui perjalanan yang dialami Rasulullah Saw. Hanya Abu Bakar saja yanga membenarkan berita yang disampaikan Rasul kepada masyarakat Arab. Begitu tragisnya perkiraan masyarakat Arab sampai Abu Jahal mendorong Rasul pada saat berpidato menyampaikan perjalanan spritualnya tersebut.<br /><br /><strong>Kontekstualisai Isra’ Mi’raj</strong><br />Isra’ Mi’raj merupakan suatu peristiwa yang sangat menakjubkan, perjalanan yang melewati batas kemampuan akal pikiran manusia untuk dapat mencernanya. Hingga detik ini Isra’ Mi’raj tetap sebagai sesuatu peristiwa yang misterius yang perlu dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan kearifan-kearifannya. Bagi penulis, secara historis tidak dapat didustakan bahwa Isra’ Mi’raj peristiwa yang luar biasa, namun perlu ditegaskan secara substansial pada hakikatnya kita juga dapat melakukannya. Alasannya adalah bahwa Rasulullah Isra’ Mi’raj bukan suatu peristiwa yang terlepas dari latarbelakang, sebab dan tujuan tertentu. Dalam berbagai literatur sejarah dijelaskan bahwa pada saat Isra’ Mi’raj terjadi disebut dengan ‘am al-huzni atau tahun kesedihan yang ditandai dengan meninggalnya dua pembela setia Rasul yaitu isterinya Khadizah dan pamannya Abu Talib. Atas musibah ini beliau bersedih dan hampir putus asa melihat pembangkangan kafir Quraisy yang semakin keras, di tambah lagi meninggal dua orang pembelanya.<br /><br />Melihat kondisi yang dialami beliau maka Allah mengisra’kannya dengan berbagai pemandangan yang mempunyai makna sebagai renungan yang bermakna bagi semangat perjuangan beliau. Dengan demikian, seharusnya umat Islam dapat menangkap substansi Isra’ Mi’raj dan mengamalkannya dalam hidup. Mengapa demikian? Karena kita semua hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari berbagai persoalan kehidupan yang serba sulit maupun mudah. Bahkan, tidak sedikit orang menjadi strees disebabkan masalah-masalah yang selalu saja bertambah dan harus dicarikan jalan keluarnya.Dalam kondisi sekarang, kebutuhan hidup yang serba tinggi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan tanpa dibarengi keimanan rasanya akan berpeluang besar umat ini masuk kepada wilayah yang dilarang Allah.Apabila kondisi demikian sudah terjadi, pada hakikatnya kita dapat saja melakukan Isra’ dengan mengadakan perjalanan wisata spritual.<br /><br />Setidaknya, cara yang dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat yang sifatnya menggugah keimanan dan ketakwaan, seperti tadabbur alam, tempat bersejarah, atau bahkan tempat-tempat wisata, yang kita dapat menangkap dan menerjemahkannya untuk mengokohkan dan memperkuat keimanan. Dengan kata lain, perjalanan yang diperuntukkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw adalah bentuk wisata spritual dalam rangka meneguhkan pendirian dan keistiqomahan serta kesabaran beliau dalam menghadapi berbagai tantangan dan kecaman kafir Quraisy pada saat itu. Oleh sebab itu, perlu lagi ditegaskan, bahwa kita juga dapat melakukan hal yang sama dalam makna substansinya pada saat menghadapi berbagai persoalan dengan melakukan rekreasi dan wisata spritual untuk mengokohkan keimanan dan ketakwaan sehingga lebih tegar dan siap menghadapinya.<br /><br /><strong>Penutup</strong><br />Isra’ Mi’raj harus dapat dipahami lebih luas dan secara substansi. Jadi tidak saja terjebak pada perjalanan Rasulullah yang misterius dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa dan selanjutnya ke Sidratul Muntaha, tetapi masuk pada wilayah tujuan esensi sehingga kita juga dapat melakukannya dalam rangka melakukan perubahan-perubahan kepada yang lebih baik.Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-20410946317346499382008-06-30T23:11:00.000-07:002008-06-30T23:12:25.230-07:00HIKMAH KEMATIAN<table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="3" width="100%"><tbody><tr class="style1" align="center"><td colspan="2" class="style1" align="left" height="24"><br /></td> </tr> <tr class="style1" align="center"> <td class="text" align="left" valign="top"> <div>Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?</div> <div> </div> <div>Seperti yang tercantum dalam ayat <strong>“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”</strong> (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.</div> <div> </div> <div>Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.</div> <div> </div> <div>Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:</div> <div> </div> <div><strong>Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”</strong> (QS. 62:8)</div> <div> </div> <div>Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. </div> <div>Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!</div> <div> </div> <div>Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.</div> <div> </div> <div>Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.</div> <div> </div> <div>Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.</div> <div> </div> <div>Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. </div> <div>Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.</div> <div> </div> <div>Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.</div> <div> </div> <div>Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.</div> <div> </div> <div>Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.</div> <div> </div> <div>Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?</div> <div> </div> <div>Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting</div> <div> </div> <div>Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.</div> <div> </div> <div>Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.</div> <div> </div> <div>Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:</div> <div> </div> <div><strong>Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.”</strong> (QS. 33:16)</div> <div> </div> <div>Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.</div></td></tr></tbody></table>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-32745284151333196022008-06-30T23:09:00.002-07:002008-06-30T23:10:33.803-07:00<table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="3" width="100%"><tbody><tr class="style1" align="center"><td colspan="2" class="style1" align="left" height="24"><p><span class="style1">Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah </span></p> </td> </tr> <tr class="style1" align="center"> <td class="text" align="left" valign="top"> Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari <em>the American National Health Research Center</em> [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. <sup><a href="http://api.fmanager.net/api_v1/productDetail.php?dev-t=7EZU2FZ0164&objectId=4495#notes">1</a></sup> <table align="right" border="0" cellspacing="10" width="220"> <tbody> <tr> <td><img src="http://www.harunyahya.com/indo/artikel/images_artikel/bahagia.jpg" height="232" width="225" /></td></tr> <tr> <td>Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.</td></tr></tbody></table> <div> </div> <div>Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam <em>International Journal of Psychiatry in Medicine</em>, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.</div> <div> </div> <div>Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. </div> <div>Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. </div> <div>Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. </div> <div>Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. <sup><a href="http://api.fmanager.net/api_v1/productDetail.php?dev-t=7EZU2FZ0164&objectId=4495#notes">2</a></sup></div> <div> </div> <div>Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. <sup><a href="http://api.fmanager.net/api_v1/productDetail.php?dev-t=7EZU2FZ0164&objectId=4495#notes">3</a></sup></div> <div> </div> <div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/artikel/images_artikel/teman.jpg" align="left" hspace="12" /> Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini </div> <div><strong>"...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."</strong> (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. </div> <div>Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan. </div> <div> </div> <div>Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." <sup><a href="http://api.fmanager.net/api_v1/productDetail.php?dev-t=7EZU2FZ0164&objectId=4495#notes">4</a></sup></div><br /><hr /> <div align="left"><a name="#notes"></a>1. Patrick Glynn, <em>God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World</em> (California: Prima Publishing: 1997), 80-81.<br />2. Herbert Benson, and Mark Stark, <em>Timeless Healing</em> (New York: Simon & Schuster: 1996), 203.<br />3. Ibid., 193.<br />4. Glynn, <em>God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World</em>, 60-61. </div></td></tr></tbody></table>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-80220914570124824062008-06-30T23:09:00.001-07:002008-06-30T23:09:23.032-07:00HIKMAH KEMATIAN<br />Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?<br /><br />Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.<br /><br />Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.<br /><br />Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:<br /><br />Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)<br /><br />Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya.<br />Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!<br /><br />Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.<br /><br />Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.<br /><br />Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.<br /><br />Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda.<br />Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.<br /><br />Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.<br /><br />Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.<br /><br />Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.<br /><br />Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?<br /><br />Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting<br /><br />Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.<br /><br />Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.<br /><br />Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:<br /><br />Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)<br /><br />Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-23827941369753673212008-06-30T23:07:00.000-07:002008-06-30T23:08:37.879-07:00Bagaimana Doa Dapat Mempercepat Kesembuhan Pasien<table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="3" width="100%"><tbody><tr class="style1" align="center"><td colspan="2" class="style1" align="left" height="24"><p><span class="style1">Bagaimana Doa Dapat Mempercepat Kesembuhan Pasien </span></p> </td> </tr> <tr class="style1" align="center"> <td class="text" align="left" valign="top"> <blockquote> <div><strong>Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". </strong>(QS. Al Mu'min, 40:60)</div></blockquote> <div>Menurut Al Qur'an, doa, yang berarti "seruan, menyampaikan ungkapan, permintaan, permohonan pertolongan," adalah berpalingnya seseorang dengan tulus ikhlas kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya, Yang Mahakuasa, Maha Pengasih dan Penyayang, dengan kesadaran bahwa dirinya adalah wujud yang memiliki kebergantungan. Penyakit adalah salah satu dari contoh tersebut yang dengannya manusia paling merasakan kebergantungan ini dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tambahan lagi, penyakit adalah sebuah ujian, yang direncanakan menurut Hikmah Allah, yang terjadi dengan Kehendak-Nya, dan sebagai peringatan bagi manusia akan kefanaan dan ketidaksempurnaan kehidupan ini, dan juga sebagai sumber pahala di Akhirat atas kesabaran dan ketaatan karenanya.</div> <div>Sebaliknya mereka yang tidak memiliki iman, meyakini bahwa jalan kesembuhan adalah melalui dokter, obat atau kemampuan teknologi mutakhir dari ilmu pengetahuan modern. Mereka tidak pernah berhenti untuk merenung bahwa Allah-lah yang menyebabkan keseluruhan perangkat tubuh mereka untuk bekerja di saat mereka sedang sehat, atau Dialah yang menciptakan obat yang membantu penyembuhan dan para dokter ketika mereka sakit. Banyak orang hanya kembali menghadap kepada Allah di saat mereka sadar bahwa para dokter dan obat-obatan tidak memiliki kesanggupan. Orang-orang yang berada pada keadaan tersebut memohon pertolongan hanya kepada Allah, setelah menyadari bahwa hanya Dialah yang dapat membebaskan mereka dari kesulitan. Allah telah menyatakan pola pikir ini dalam sebuah ayat: </div> <blockquote> <div><strong>Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.</strong> (QS, Yunus, 10:12)</div></blockquote> <div>Padahal sesungguhnya, sekalipun dalam keadaan sehat, atau tanpa cobaan atau kesulitan lain, seseorang wajib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan, kesehatan dan seluruh karunia yang telah Dia berikan.</div> <div> </div> <div>Inilah satu sisi paling penting dari doa: Di samping berdoa dengan lisan menggunakan suara, penting pula bagi seseorang melakukan segala upaya untuk berdoa melalui perilakunya. Berdoa dengan perilaku bermakna melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk mencapai harapan tertentu. Misalnya, di samping berdoa, seseorang yang sakit sepatutnya juga pergi ke dokter ahli, menggunakan obat-obatan yang berkhasiat, dan menjalani perawatan rumah sakit jika perlu, atau perawatan khusus dalam bentuk lain. Sebab, Allah mengaitkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pada sebab-sebab tertentu. Segala sesuatu di dunia dan di alam semesta terjadi mengikuti sebab-sebab ini. Oleh karena itu, seseorang haruslah melakukan segala hal yang diperlukan dalam kerangka sebab-sebab ini, sembari berharap hasilnya dari Allah, dengan kerendahan diri, berserah diri dan bersabar, dengan menyadari bahwa Dialah yang menentukan hasilnya.</div> <div> </div> <div>Pengaruh menguntungkan dari keimanan dan doa bagi orang sakit, dan bagaimana hal ini dapat mempercepat penyembuhan adalah sesuatu yang telah menarik perhatian dari dan dianjurkan oleh para dokter. Dengan judul <i>"God and Health: Is Religion Good Medicine? Why Science Is Starting to Believe</i>" [Tuhan dan Kesehatan: Apakah Agama Adalah Obat Yang Baik? Mengapa Ilmu Pengetahuan Mulai Percaya], majalah terkenal <i>Newsweek</i> terbitan tanggal 10 November 2003 mengangkat pengaruh agama dalam penyembuhan penyakit sebagai bahasan utamanya. Majalah tersebut melaporkan bahwa keimanan kepada Tuhan meningkatkan harapan pasien dan membantu pemulihan mereka dengan mudah, dan bahwa ilmu pengetahuan mulai meyakini bahwa pasien dengan keimanan agama akan pulih lebih cepat dan lebih mudah. Menurut pendataan oleh <i>Newsweek</i>, 72% masyarakat Amerika mengatakan mereka percaya bahwa berdoa dapat menyembuhkan seseorang dan berdoa membantu kesembuhan. Penelitian di Inggris dan Amerika Serikat juga telah menyimpulkan bahwa doa dapat mengurangi gejala-gejala penyakit pada pasien dan mempercepat proses penyembuhannya.</div> <div> </div> <div>Menurut penelitian yang dilakukan di Universitas Michigan, depresi dan stres teramati pada orang-orang yang taat beragama dengan tingkat rendah. Dan, menurut penemuan di Universitas Rush di Chicago, tingkat kematian dini di kalangan orang-orang yang beribadah dan berdoa secara teratur adalah sekitar 25% lebih rendah dibandingkan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan agama. Penelitian lain yang dilakukan terhadap 750 orang, yang menjalani pemeriksaan <i>angiocardiography</i> [jantung dan pembuluh darah], membuktikan secara ilmiah "kekuatan penyembuhan dari doa." Telah diakui bahwa tingkat kematian di kalangan pasien penyakit jantung yang berdoa menurun 30% dalam satu tahun pasca operasi yang mereka jalani.</div> <div> </div> <div>Sejumlah contoh doa yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah:</div> <blockquote> <div><strong>Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.</strong> (QS. Al Anbiyaa', 21:83-84)</div> <div> </div> <div><strong>Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.</strong> (QS. Al Anbiyaa', 21:87-88)</div> <div> </div> <div><strong>Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.</strong> (QS. Al Anbiyaa', 21:89-90)</div> <div> </div> <div><strong>Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).</strong> (QS. Ash Shaaffaat, 37:75)</div></blockquote> <div>Sebagaimana telah disebutkan, doa tidak semestinya hanya dilakukan untuk menghilangkan penyakit, atau kesulitan-kesulitan duniawi lainnya. Orang beriman yang sejati haruslah senantiasa berdoa kepada Allah dan menerima apa pun yang datang dari-Nya. Kenyataan bahwa sejumlah manfaat doa yang diwahyukan di dalam banyak ayat Al Qur'an kini sedang diakui kebenarannya secara ilmiah, sekali lagi mengungkapkan keajaiban yang dimiliki Al Qur'an.</div> <blockquote> <div><strong>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.</strong> (QS. Al Baqarah, 2:186)<br /></div></blockquote> </td></tr></tbody></table>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-2343847626564668142008-06-30T23:06:00.000-07:002008-06-30T23:07:20.645-07:00memaafkan bagi kesehatan<table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="3" width="100%"><tbody><tr class="style1" align="center"><td colspan="2" class="style1" align="left" height="24"><p><span class="style1"> Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan </span></p> </td> </tr> <tr class="style1" align="center"> <td class="text" align="left" valign="top"> <div>Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:</div> <div> </div> <div><strong>Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.</strong> (QS. Al Qur’an, 7:199)</div> <div> </div> <div><strong>Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."</strong> (QS. An Nuur, 24:22)</div> <div> </div> <div>Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:</div> <div> </div> <div><strong>... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</strong> (QS. At Taghaabun, 64:14)</div> <div> </div> <div>Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, <strong>"...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain."</strong> (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)</div> <div> </div> <table align="left" border="0" cellspacing="6" width="165"> <tbody> <tr> <td width="176"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/artikel/images_artikel/peneliti.jpg" width="165" /></td></tr> <tr> <td width="270"><span style="font-size:85%;">Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.</span></td></tr></tbody></table> <div>Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. </div> <div>Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.</div> <div> </div> <div>Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.</div> <table align="right" border="0" cellspacing="8" width="200"> <tbody> <tr> <td><img src="http://www.harunyahya.com/indo/artikel/images_artikel/ramah.jpg" height="315" width="200" /></td></tr> <tr> <td><span style="font-size:85%;">Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang</span></td></tr></tbody></table> <div>Dalam bukunya, <em>Forgive for Good</em> [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:</div> <div>Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.</div> <div> </div> <div>Sebuah tulisan berjudul "<em>Forgiveness</em>" [Memaafkan], yang diterbitkan <em>Healing Current Magazine </em>[Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.</div> <div> </div> <div>Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.</div></td></tr></tbody></table>Akhmad Asikin M,S.Aghttp://www.blogger.com/profile/09609980766864451138noreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-4233471319396176578.post-88306071313280099062008-06-30T23:04:00.000-07:002008-06-30T23:05:09.539-07:00Bismi Allah Ar-Rahman Ar-Raheem<br /> In the Name of Allah the Most Gracious the Most Merciful<br /><br /> Assalamu'alaikum warahamtullah wabarakatuhu<br /><br /> Dear brothers and sisters of MyIslam<br /> I think most of us already have this new technology of Mobile Phone.<br /> We can send SMS to our family and friends from this.<br /> And I often got Chain SMS, mostly about "Joke". Na'am its ok as far as clean jokes, and unhurt jokes.<br /> But its better if we use this SMS service to send the Qur'an Verses, or The Shahih Hadith, or the saying of pious Salaf. Spreading Allah's Love. we will get Hasanah/Reward from this InshaAllah.<br /> or we can send SMS which contain wisdom/advices or some sms that make our faith go stronger, or a reminder of Allah's love to us.<br /><br /> I have some quotes which my brothers and sisters can take these as the SMS. InshaAllah.<br /><br /> Barakallahu feekum.<br /><br /> SMS... on Wisdom<br /><br /> • Many people want to serve Allah, but in an advisory position.<br /><br /> • Whosoever wants to serve Allah in an advisory position, will be fired.<br /><br /> • Live a life of loyalty and love and obedience to Allah.<br /><br /> • If you come out of reading the Quran and you are not knowing Allah better, and loving Allah more, you have not read the Quran.<br /><br /> • Quran is the nourishment of your soul, the more you consume it the better it tastes.<br /><br /> • The shaytaan may mange to put a coma in the sentence of your life, but never allow him to put a question mark or a period.<br /><br /> • The dark heart is the room where negatives are developed.<br /><br /> • Give shaytaan a inch and he will be the ruler by which you measure things.<br /><br /> • When the love of Allah lodges in your heart it shall change you to that which Allah loves of you to be.<br /><br /> • When the will of Allah defeats your will, you become a victor.<br /><br /> • Surrender to Allah. Raise the white flag.<br /><br /> • Life is not a play ground, but rather a worship ground.<br /><br /> • All of us want to go to Jannah, but while on earth some want to live like hell.<br /><br /> • Some always think how to go to Jannah with the least amount of obedience.<br /><br /> • If your life is like hell, read the Quran it will knock the hell out of you.<br /><br /> • True Islamic life is built from the inside out because authentic life is lived from the inside out.<br /><br /> • Information doesn’t bring transformation, but application does.<br /><br /> • Your attitude about money reveals your true love to Allah.<br /><br /> • If your inner cavity is not filled with the truth, it will be filled with falsehood, deceptions and lies.<br /><br /> • Allah created you in the world in such away that you are destined to fail unless you draw on His help and support.<br /><br /> • Your true worth is not based on how much profit you’ve made but how much prophet you’ve followed.<br /><br /> • The masjid is the place to get built up not beat up.<br /><br /> • Acquiring theological truths about Allah produces accurate application of His rules.<br /><br /> • Many Muslims obey the rules which they agree with, but Allah does not want you to agree with Him, He wants you to surrender to Him.<br /><br /> • Many Muslims today receive Allah as their Lord and Deity as long as they keep their ways according to their likings. But true allegiance to Allah requires to denounce all other lords including yourself.<br /><br /> • Don’t fall in love, prostrate in love and worship The Greatest. And then stand in love and say the truth.<br /><br /> • Worship is living out your faith in every aspect of your life.<br /><br /> • What is worthwhile is worth waiting for.<br /><br /> • Together is better.<br /><br /> • Many love Allah is theory, but the real thing is to love Allah in application.<br /><br /> • It sufficed it to understand that our relationship with Allah cannot be right until our relationship with one another is made right. We can rightly relate to Allah when we rightly relate to one another.<br /><br /> • A good caller to Allah puts people in the mode of repair not in despair.<br /><br /> • Let not your emotion victimize your love to your sibling in faith.<br /><br /> • Some people fill their minds with info, yet their hearts are still in limbo.<br /><br /> • Death is born to the marriage of internal desires with external temptations.<br /><br /> • Life is born the marriage of internal desires with the external guidance.<br /> • Killing time is a crime.<br /><br /> • Allah wants to love him sacrificially, we want to love Him artificially.<br /><br /> • Your tongue is the dip stick for your faith.<br /><br /> • Some people major in minors while neglecting the most important matters.<br /><br /> <br /><br /> Apa kabar saudaraku? Bagaimana keadaan imanmu hari ini? Bagaimana pula kabar imanmu hari ini? Karena engkau pasti tahu bahwa yang menjadi ukuran kita selamat di Yaumil Akhir nanti adalah tingkat amal kita di dunia.<br /><br /> Pernahkah engkau mengingat kematian wahai saudaraku? Karena kematian menjadi kepastian; tanah menjadi tempat pembaringan; munkar dan nankir menjadi tamu; kuburan menjadi tempat tinggal; perut bumi menjadi tempat menetap; kiamat menjadi janji yang pasti; surga dan neraka menjadi tempat kembali.<br /><br /> Pernahkah terbersit difikiranmu? Tatkala manusi dikumpulkan dipadang mahsyar?<br /> Pernahkah terbersit difikiranmu wahai saudaraku, tatkala disana matahari sangat dekat di ujung kepala? Rasulullah SAW bersabda : “Di hari kiamat nanti matahari akan mendekati manusia, sehingga jaraknya hanya satu mil. Manusia akan berada dalam keringatnya masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai setengah badan dan ada yang tenggelam sampai mulutnya.”<br /><br /> Saudaraku…<br /> Pernahkah engkau membayangkan tentang neraka?<br /> Tentang kegelapa neraka yang sangat pekat?<br /> Rasulullah bersabda : “Api neraka dinyalakan seribu tahun hingga memerah, kemudian dinyalakan lagi seribu tahun hingga memutih dan dinyalakan lagi seribu tahun hingga menghitam. Dan jadilah neraka itu gelap pekat.”<br /><br /> Saudaraku…<br /> Pernahkah engkau membayangkan tentang minuman akhli neraka?<br /> Allah berfirman “… dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumkanny air nanah tersebut…” (Q.S Ibrahim : 16)<br /> Rasulullah bersabda : “Ketika didekatkan kemulutnya maka mulutnya terpanggang dan kulit kepalanya terkelupas. Dan ketika dia meminumnya, maka terputuslah ususnya sehingga minumannya keluar dari duburnya”<br /><br /> Saudaraku…<br /> Cukuplah cerita tadi bagi kita, karena keadaan sesungguhnya pastilah lebih mengerikan!<br /><br /> Maafkan aku saudaraku, karena membuat hatimu gelisah oleh cerita itu.<br /> Tapi karena kecintaanku padamu karena ALLAH SWT, maka aku ceritakan pula. Aku hanya ingin kita menjadi orang-orang yang selamat dari keburukan-keburukan itu.<br /><br /> Saudaraku…<br /> Yang aku harapkan hanyalah agar kita selalu waspada terhadap kematian dengan jalan perbaiki diri tentunya. Dan pada saatnya nanti, kita menjadi orang yang siap mengahadap’Nya.<br /><br /> “ Rabbana atina fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhiratihasanataw waqinaa ‘adzaabannar” (Q.S Al-Baqarah : 210)<br /><br /> Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat; dan periharalah kami dari siksa neraka. AMIN<br /> Wednesday March 22, 2006 - 07:33am (ICT) Permanent Link | 0 Comments<br />Entry for March 21, 2006<br /> Entry for March 21, 2006 magnify<br /> jangan marah<br /><br /> "Dan bersegeralah menuju ampunan Allah yang memiliki surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran [3]: 134)<br /><br /> Senin, 18 Zulhijah 1424 H. - 9 Februari 2004 M.<br /><br /> Dari Abu Hurairah r.a., ia mengatakan, "Ada seorang berkata kepada Nabi saw., 'Berikanlah nasihat kepada saya?' Beliau bersabda,<br /> 'Jangan marah!'<br /> Beliau mengualangi tiga kali mengatakan,<br /> Jangan marah!"<br /> (H.R. Bukhari)<br /><br /> Mutiara hadis:<br /> 1. Marah dan pekerjaan yang dilakukan atas dasar kemarahan akan menimbulkan kerusakan.<br /> 2. Sifat marah adalah sifat tercela yang dianjurkan menghindarinya.<br /> 3. Marah yang tercela adalah marah pada masalah keduniaan, sedangkan marah karena Allah termasuk sifat terpuji.<br /><br /> Al Baqarah 2<br /><br /> [155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,<br /><br /> [156] (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"<br /><br /> [157] Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.<br /><br /> [158] Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.<br /><br /><br /><br /> <br /> MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SAW.<br /><br /> Bukhari, Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah r.a berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. Bersabda kepada istri-istri beliau, “istriku yang akan pertama kali berjumpa denganku ialah yang paling panjang tangannya.” Para istri Nabi saw. Memahami kata-kata ‘Athulu Hunna Yadan’ dengan dzahirnya. Maka setelah wafatnya Rasulullah saw., mereka saling mengukur tangan-tangan di antara mereka. Siapakah yang akan meninggal pertama kali setelah Nabi saw. Padahal kata-kata beliau saw. Bermaksud orag yang paling rajin bersedekah.<br /><br /> Ternyata setelah Nabi saw. Wafat, istri yang pe