tag:blogger.com,1999:blog-38422742009-07-07T11:07:01.902+07:00[waterflow] perahu kertaslife flows like waterneenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.comBlogger216125tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-49183681942833302892009-07-02T18:15:00.000+07:002009-07-02T18:16:16.845+07:00Her Story (3)Apakah itu? Tembang, lagu, senandung? Mendengung di rongga kepalanya akhir-akhir ini. Menyelusup di bilik benaknya. Ketika senyap mengepung sendirinya di antara bising kota. Ketika riuh kepala mengalahkan heningnya kelam.<br /><br />Itu semacam lagu. Ataukah mantra? Ah, tak penting nama. Itu penyerta dongeng kecilnya dulu. Ketika ibunya bercerita sebelum tidur. Ia tak ingat adakah elusan di kepala menyertainya? Mungkin itu usapan pelan di punggungnya. Tapi ia ingat sekilas cerita itu. Ia ingat tinggi rendah nada lagunya. Ia ingat sebait lirik asing yang dulu tak begitu dimengertinya.<br /><br />Ingatkah kau? Itu kisah tentang seorang gadis kecil yang tersesat di dalam rimba. Dirindunya sang bunda. Gadis kecil pun bersenandung. Atau meratap? Memanggil seekor elang yang terbang. Meminta dibawa pulang ke pangkuan bunda.<br /><br /><span style="font-style:italic;">Elang sikak, elang segonggong<br />Gonggong aku ke rumah induk<br />Kagek ku upah jago sikok<br /><br />Elang sikak, elang segonggong<br />Gonggong aku ke rumah induk<br />Kagek ku upah jago sikok</span><br /><br />Benarkah itu? Mungkin ia tak ingat kata-kata yang sebenarnya. Tapi gaung senandung kian kerap menyambangi. Menyisakan tanya. Apa dan mengapa.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-4918368194283330289?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-22848730754264800742009-07-02T18:02:00.001+07:002009-07-02T18:14:57.403+07:00Her Story (2)Beruntunglah perempuan yang dapat mencintai ibunya dengan mudah. Yang tetap menyukai ibunya walaupun ia telah beranjak dewasa. Yang dapat menceritakan segala kisah pada ibunya tanpa harus merasa takut salah ucap. Yang dapat mencium pipi putih ibunya tanpa harus merasa rikuh. Yang tak harus menahan diri untuk tak berkata tajam, setiap kali sang ibu berbicara padanya. Yang dapat dengan mudahnya mengucap, “I love you, Bu!”<br /><br />Beruntunglah mereka.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-2284873075426480074?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-16722379774774303442009-05-16T10:32:00.003+07:002009-05-16T16:25:19.502+07:00Di Ruang TungguDuduk di sebuah rumah sakit. Menunggu. Hari ini Sabtu. Ramai sekali seperti sebuah pusat belanja di akhir minggu. Selalu seperti ini. Sejak bertahun-tahun yang lalu. Oh, sejak lebih dari tujuh tahun yang lalu. Ketika berkunjung ke tempat ini jadi sesuatu yang rutin. <p>Beberapa sudut sudah berubah. Berkali-kali. Dulu pojok itu adalah kantin kecil yang menjual risol kegemaran ibu. Lalu ia dilengkapi sebuah perosotan plastik, tempat Obin melewatkan waktu menunggu sambil belajar mengantri giliran dan mengalahkan rasa takut. Kini kantin dan perosotan sudah pindah. Entah ke bagian lain yang mana di bangunan ini. Sebuah ruang dengan pintu kaca yang berhias stiker bunga-bunga cantik berdiri di situ kini, menjelma sebuah klinik spesialis entah apa yang baru. Pojok itu tumbuh. Berkembang. Maju.</p><p>Duduk menunggu sendiri di sini. Di tengah keramaian. Tak disangka terasa sungguh menyenangkan. Seperti mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Tersadar betapa waktu untuk menikmati kesendirian sudah sangat sulit didapatkan.</p><p>Di sini. Duduk sendiri. Di tempat yang tanpa kau sadari ternyata menyimpan banyak memori diri. Teringat tubuh dengan nyeri operasi berjalan melintasi ruang ini. Kunjungan unit gawat darurat di pagi hari ketika luka tak kunjung menutup. Teringat hati yang penuh bahagia ketika membawa bayi pertama pulang. Dan bayi ke dua. Teringat...</p><p>(Oh, si dokter gigi sudah datang. <span style="font-style: italic;">It's time for my root canal treatment. </span>)</p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-1672237977477430344?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-21478421779273947082009-04-29T15:20:00.002+07:002009-05-16T16:21:07.721+07:00Her Story - 1i hold a spoon and feed her<br />for the very first time<br /><br />i hold her hand tight<br />for she makes a step with her trembling body<br />for the very first time<br /><br />i kiss her white soft cheek<br />and wrinkle on her brow<br />not so for the very first time<br /><br />you'll be fine, you'll beat them up<br /><br />the unspoken words left unsaid<br />still not for the very first time<br /><i>: i love you, mom</i><br /><br />2004<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-2147842177927394708?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-82028538900087541332008-04-16T12:54:00.004+07:002008-04-16T18:09:19.266+07:00Setahun Lebih<em>Wow, sudah setahun!</em> Itu yang terlintas di kepala saya ketika melihat kupu-kupu berterbangan di jalan yang saya lewati pagi hari, sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Gak kerasa, masa sudah bergulir setahun lebih sejak saya tulis posting <a href="http://neenoy.blogspot.com/2007/01/kupu-kupu-pagi.html">Kupu-Kupu Pagi</a>.<br /><br /><em>Kemana aja?</em> Di sini aja. Di Jakarta. Masih tinggal di rumah yang sama. Masih kerja di tempat yang sama. Masih tiap pagi sore lewat jalan yang sama.<br /><br /><em>Kenapa lama gak ngeblog?</em> Jawaban sok keren: lagi hibernasi. Hehehe... mungkin lagi masanya aja, ya. Waktu, energi, lagi terserap untuk hal-hal lain. Awalnya gak sempat ngeblog. Lama-lama merasa nyaman aja hidup tanpa blog. Kadang-kadang masih ingin menggoreskan cerita naik-turunnya hidup di jurnal maya ini. Sekedar catatan agar tak lupa. Atau kadang masih ingin berbagi kabar. Cuma seringnya terlambat lalu terasa jadi basi.<br /><br />Yang ini sekedar catatan. Tahun lalu adalah <em>roller coaster</em>. Peristiwa-peristiwa mengaduk-aduk emosi. <em>By pass</em>. Ruang tunggu rumah sakit. Halusinasi. Kantor. Perubahan besar. Adek. <em>Caesarian</em>. Komplikasi. <em>Varicella.</em> Karantina. <em>Baby blues.</em> Namun hidup berlalu. Suka maupun duka tak ada yang abadi.<br /><br /><a href="http://bp2.blogger.com/_PfXPmuypVUY/SAXZ_09MGhI/AAAAAAAAADs/jA3Rgf5A1Es/s1600-h/radian.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189793836184640018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_PfXPmuypVUY/SAXZ_09MGhI/AAAAAAAAADs/jA3Rgf5A1Es/s200/radian.jpg" border="0" /></a>Yang ini berbagi kabar. Kenalkan, ini Radian Akhtar, satu lagi bintang di kehidupan kami. Kadang dipanggil Adek, kadang Radian. Sudah tujuh bulan usianya sekarang. Mirip sekali dengan Obin kecil, hanya tanpa ikal rambutnya. <em>Alhamdulillah</em> sehat, lucu, dan nggemesin.<br /><br /><br />Yang ini permintaan maaf. Atas kunjungan yang tak berbalas. Sapa yang tak bersambut. Ucapan selamat dan rasa terima kasih yang tak tersampaikan. Silaturahmi yang terputus. Saya sesungguhnya tak punya alasan yang layak. Namun sungguh mohon dimaafkan. Maaf...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-8202853890008754133?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com19tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-37573282321080343882007-01-24T15:16:00.000+07:002007-01-24T15:32:31.133+07:00Kupu-kupu PagiPagi hari. Terang. Langit biru cerah, gak biasa. Di jalan, pemandangan yang biasa: Manusia yang (maunya) bergegas kerja. Wajah-wajah masih setengah mengantuk, membisu di balik kaca mobil. Motor-motor berdengung seperti sekawanan tawon. Suara klakson tak sabar. Biasa. Klise. <br /> <br />Tapi di suatu pagi yang terang dan tidak biasa, coba naikkan pandanganmu sejenak. Sekitar dua meter di atas barisan kendaraan di jalan. Agak ke tepi. Di antara hijau pepohonan. Ah, ya... mungkin dirimu tak seberuntung aku. Sepenggal jalan yang kulalui tiap pagi masih menyisakan deretan pepohonan yang ya... cukuplah. Ya, jadi jika dirimu masih cukup beruntung, cobalah mendongak sedikit pada ranting dan daun yang menaungi pingiran jalan. Berbahaya? Dalam gerak yang merayap seperti itu, rasanya sih cukup aman. <br /> <br />Nah, di suatu pagi dengan langit biru cerah, coba naikkan sudut matamu sejenak. Jika kau seberuntung aku, maka di sana kau akan melihat hal yang luar biasa. Ternyata ada keriuhan lain di atas sana. Kau akan melihat buanyaaak kupu-kupu berterbangan. <br /><br />Sekawan kupu-kupu kecil bersayap kuning pucat terbang beriringan mengitari sebatang angsana. Dari pucuk yang satu ke pucuk yang lain. Dari ranting ke ranting. Dari pohon ke pohon. Kupu-kupu di hampir setiap batang pohon yang berbunga malu-malu tak pamer. Ada sepasang kupu-kupu bersayap hijau kebiruan yang cantik berkejaran di pucuk glodongan. Kupu-kupu kuning terang melayang merendah. Haha... kupu-kupu hitam terbang menyeberang jalan. Kupu-kupu kuning terang hinggap sejenak di helm kuning :)<br /><br />Pagi yang menyenangkan. Bukan pagi yang biasa, pasti...<br /><em><br />(catatan yang tertunda dari seminggu yang lalu)</em><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-3757328232108034388?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com21tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-87544819381592849472007-01-24T09:43:00.000+07:002007-01-25T13:34:43.164+07:00:becoming dew<img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px;" src="http://bp2.blogger.com/_jtaA4VWceVs/Rbg-6ftn66I/AAAAAAAAAAY/EMvXZ1wzMnY/s200/becoming+dew.jpg" border="0" alt="" /><br /><br />Ada pesan pendek dari Reda:<br /><blockquote>Neenoy, saya dan Ari akan melepas album musikalisasi puisi Sapardi <strong>:becoming dew</strong> pd hr Jumat, 26 Jan 07, pk 20.00, di Warung Apresiasi Bulungan. Datang & ajak teman2 ya.</blockquote><p><br />Thanks, Mbak... Mudah-mudahan saya bisa datang ya.<br /><br />Info lebih lanjut:<br /><ul><li>Detail Launching Becoming Dew di <a href="http://arireda.blogspot.com/2007/01/becoming-dew.html">Blog Ari-Reda</a><br /><li>Pemberitahuan di blognya <a href="http://anotherfool.wordpress.com/2007/01/23/becoming-dew/">Jaf</a><br /></li></ul><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-8754481938159284947?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-11385672982943335702007-01-08T14:00:00.000+07:002007-01-08T16:25:15.532+07:00Hadiah Tahun BaruPergantian tahun biasanya jarang menjadi peristiwa yang istimewa buat saya. Tapi ternyata pergantian tahun kali ini, lain dari biasanya.<br /><br />Tepat tanggal satu Januari yang lalu, saya membeli sesuatu untuk diri saya sendiri. Benda putih kecil. Esok paginya, <em>it's confirmed</em>. Tahun baru kali ini kami sekeluarga dapat hadiah yang istimewa. Ini juga hadiah buat <a href="http://obin.blogspot.com" target="_blank">Obin</a> yang sudah hampir setahun minta adek :p. Insya Allah. Mohon doa, ya...<br /><br />Dan sekarang saya jadi males ngapa-ngapain, termasuk ngeblog... hehehe alesan :p<br /><br /><strong>Selamat 2007!</strong><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-1138567298294333570?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com18tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-92180584574289758382006-12-21T12:30:00.000+07:002006-12-21T12:41:39.555+07:00MigrasiJudulnya, lagi pindahan ke <a href="http://www.blogger.com" target="_blank">New Blogger <s>Beta</s></a> , nih. Ah, segini dulu aja deh. Ntar kalo sempet diutak-atik lagi. Hehehe, tapi terus terang penasaran juga.<br /><br />Btw, kalo dipikir-pikir, gw tuh setia banget sama <a href="http://www.blogger.com" target="_blank">Blogger</a>. Dari pertama sampe sekarang, gak pernah pindah ke lain <s>hati</s> tools. Harusnya dapat penghargaan dari <a href="http://www.blogger.com" target="_blank">Blogger</a>. Hahaha. Padahal sih faktor males aja dan juga gaptek. :p<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-9218058457428975838?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com11tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1165377214414127262006-12-06T10:50:00.000+07:002006-12-21T15:11:22.312+07:00Jarak Waktu<em><blockquote><em>Kemana pun ia pergi dibawanya sebundel surat-surat yang masih tersimpan dalam sampul putihnya. Surat-surat yang tidak untuk dibaca saat ini. Karena di masing-masing sampul telah tertera tanggal-tanggal di masa depan. Momen-momen yang tepat untuk membukanya. Untuk membacanya. Kelak. Nanti.</em></blockquote></em> Apa yang terlintas di pikiranmu ketika membaca sekelumit cerita di atas?<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116537721441412726?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com13tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1163575987843961732006-11-15T14:08:00.000+07:002006-11-15T15:59:15.566+07:00Lebih Ramah?Beberapa waktu yang lalu, saya lagi keisengan, buka halaman <a href="http://www.haloscan.com" target="_blank">haloscan.com</a> – sistem komenting yang saya pakai duluuuu sekali (tahun 2003-2004 an) sebelum <a href="http://www.blogger.com" target="_blank">Blogger</a> punya komsis-nya sendiri. Iseng-iseng keterusan, coba-coba log-in (duh takjub, username dan passwordnya ternyata benar, hahaha), dan lalu jadi kaget… <strong>“Haaah… komen-komen saya masih ada?!” </strong>Dulu aja, waktu masih pakai haloscan itu, komen-komen yang sudah lewat empat bulan otomatis hilang. Eh sekarang, setelah bertahun-tahun gak dipakai, malah terarsip dengan rapi.<br /><br />Dan mulailah saya bernostalgia membaca sekilas komen-komen lawas itu. Hahaha, lucuuu! Itu adalah jaman ketika belum banyak orang menulis blog. Jaman ketika ngasih komen ke seluruh blog yang kita kenal masih terasa ringan (ya, seenggaknya saya saat itu ketagihan memberi dan menerima komen, hehehe). Jaman ketika komen-komen nge-junk -- seperti <strong>"Pertama!!! *jingkrak-jingkrak*" </strong>-- masih saya baca dengan senyum lebar (soalnya saya kadang juga suka nge-junk gituloh). Jaman ketika komen plesetan cerdas sangat ditunggu-tunggu, karena bisa bikin saya ketawa ngakak berguling-guling (hihihi ini hiperbola sih). <em><span style="color:#6666cc;">Oh, btw, kalo mau tahu jenis-jenis komentar blog bisa baca di blognya </span><a href="http://nita.goblogmedia.com/jenisjenis-komentar-blog.html" target="_blank" title="the so called 'pemerhati blog' :)"><span style="color:#6666cc;">Nita</span></a></em><span style="color:#6666cc;">.<br /></span><br />Tapiiii… ada satu hal lagi yang lebih bikin saya terpana: duluuuu saya terlihat jauh <strong>lebih ramah</strong>. Karena duluuu… hampir setiap komentar saya balas satu-persatu. Oops ntar dulu nih… TERLIHAT? Hmm… setidaknya begitu kelihatannya di mata saya (versi sekarang). Dan itu bisa berarti saya yang sekarang terlihat lebih tidak ramah… hehehe… Walaupun yang 'terlihat' itu belum tentu benar, sih -- baik yang dulu maupun yang sekarang (hehehe lagi…).<br /><br /><span style="color:#6666cc;"><em>Btw, komen-komen jadul itu saya pasang lagi untuk posting-posting yang juga jadul itu. Kali-kali aja ada yang iseng pengen membandingkan. :p</em><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116357598784396173?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com18tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1162544401062118162006-11-03T15:56:00.000+07:002006-12-21T15:10:56.491+07:00Jalan Bercabang Dua<em>"Di dekat rumahku ada jalan yang lucu,"</em> katanya padaku tiba-tiba di tengah-tengah kebisuan kami. Lalu ia pun bercerita.<br /><br />Ada persimpangan di jalur yang dilewatinya setiap pagi. Simpang jalan yang lucu. Sebuah jalur searah untuk tiga mobil kemudian memecah menjadi dua buah jalan yang lebih kecil, seperti huruf Y. Kita sebut saja kedua jalan yang lebih kecil itu, jalan baru dan jalan lama. Kedua jalan tersebut terbentang bersisian, berjarak sekitar seratus meter dan dipisahkan oleh deretan bangunan. Lucunya, setelah sekitar satu kilometer, ujung kedua jalan itu akan kembali bertemu. Dan di antara deretan-deretan bangunan yang memisahkan kedua jalan tersebut, kadang masih ada tanah lapang yang kosong, sehingga para pelaju di salah satu jalan bisa memandang ke jalan yang satunya lagi untuk membandingkan tingkat kemacetan. Hanya saja jarak masih terlalu jauh, sehingga sulit untuk bisa saling melambai tangan.<br /><br />Tahun lalu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, ia selalu melewati jalan yang di sebelah kiri, yaitu jalan yang lama. Tentu saja, karena dulu jalan yang baru belum ada. Ketika itu, jalan yang lama selalu padat sewaktu ia melewatinya di pagi hari. Kendaraan harus lewat dengan tersendat-sendat. Kini, ia selalu memilih yang baru. Namanya juga baru, jalannya terasa lebih mulus untuk melaju. Padahal ia tahu, kedua jalan toh berakhir di satu ujung yang sama.<br /><br />---<br /><br /><em>"Suatu hari, mendadak aku ingin mengambil jalan lama di sebelah kiri,"</em> jelasnya padaku.<br /><br />Impulsif saja, katanya. Mungkin kangen suasananya, ia mencoba memberi penjelasan yang lebih rasional (atau malah gak rasional, ya?). Ia kangen orang-orang yang ada di sisi jalan yang itu. Di situ, katanya lagi, ada sebuah bangunan sekolah dasar. Ada bapak-bapak tua bertubuh kecil -- lengkap dengan papan rambu-rambu, topi, dan peluit -- bertugas tiap pagi menghentikan kendaraan sejenak untuk menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada rumah sangat-sangat besar dengan pagar tinggi dan papan di gerbang bertuliskan: hati-hati banyak anak-anak. Ia bilang, kata orang-orang -- karena ia belum pernah melihat sendiri -- rumah itu adalah milik seorang kaya pemurah yang punya banyak sekali anak asuh. Lalu ada lagi sebuah rumah bergaya tahun tujuh puluhan berhalaman luas, dengan seekor anjing yang berlari-lari di sana. Yah, pokoknya ia mendadak kangen dengan semua itu. Terutama anak-anak sekolah dan bapak tua penyeberang jalan itu, tegasnya lagi.<br /><br /><em>"Tapi hidup itu lucu. Benar kata orang-orang itu. Hidup memang sungguh lucu,"</em> ia berkata sambil tersenyum samar dengan pandangan yang menerawang.<br /><br /><em>"Kau tahu apa yang lalu terjadi?"</em> tanyanya kemudian yang tentu saja aku jawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.<br /><br />Belum juga sampai separuh jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melambai padanya dan memberi tahu bahwa ban mobilnya bocor. Yup, bocor blas, katanya. Ada dua buah paku menancap di ban kiri belakang kendaraannya. Paku yang sengaja disebar, terbuat dari jari-jari payung yang diruncingkan. Ranjau-ranjau yang sudah menemukan korbannya.<br /><br />---<br /><br /><em>"Hidup itu lucu, kan?"</em> Entah itu tanya atau pernyataaan yang minta dukungan.<br /><br />Aku manggut-manggut. Iya. Hidup itu memang lucu. Selucu jalan bercabang dua di dekat rumahnya. Jalan yang, mau tak mau, harus dipilihnya jika ingin terus. Ia tak pernah tahu apa yang akan ditemuinya di cabang pilihannya. Pun ketika ia telah akrab dengan kedua jalan itu. Pun ketika ia tahu bahwa keduanya akan berujung pada satu muara yang tak beda.<br /><br /><em>"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi?"</em> tanyanya kembali yang -- sekali lagi -- tentu kujawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.<br /><br /><em>"Setelah ban gembos, aku baru sadar, kalau ternyata hari itu sekolah sudah libur. Tak ada anak-anak sekolah dan si bapak tua penyeberang jalan."</em><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116254440106211816?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com11tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1162376764815835932006-11-01T16:53:00.000+07:002006-12-21T15:10:34.811+07:00Hujan SemalamMari kita rayakan hujan. Butir-butiran segar yang turun menyiram bumi. Setelah sekian lama kering menguningkan rumput-rumput, meluruhkan daun-daun, menggunduli ranting-ranting. Setelah beberapa mendung tapi tak hujan. <br /><br />Semalam hujan luruh menderas selepas magrib. Mengharumi tanah. Menguar aroma basah. Angin menggoyang cabang-cabang kencang. Daun-daun, ranting-ranting menari bersama.<br /><br />Mari kita rayakan hujan. Duduklah sebentar di teras bersamaku. Kita menyanyi berdua. Lagu kesukaan kita, yang sudah lama tak kita dendangkan. Ayo kita bersimpuh di beranda. Menghitung kodok-kodok yang bermunculan dan berlompatan di pekarangan. Mendengar bunyi air yang turun dari ujung talang. Membiarkan wajah menyegar disapa angin yang basah.<br /><br />Mari kita rayakan hujan. Bersama daun-daun. Ranting-ranting. Pohon-pohon. Rumput-rumput. Kodok-kodok. Tanah basah. Desau angin. Bersama kita melisan syukur.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116237676481583593?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com9tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1162199552342302032006-10-30T16:01:00.000+07:002007-01-03T15:59:47.328+07:00Maaf<center><a href="http://www.itypeit.net/"><img src="http://img165.imageshack.us/img165/2808/476fd1.jpg" border="0" /></a><br /><br /><br /><br /><strong><span style="font-size:130%;">Selamat Idul Fitri<br />Mohon Maaf Lahir Batin<br /><br />maaf<br />maaf<br />maaf</span></span></strong><br /></span><br /></center><br /><br /><em><span style="font-size:85%;color:#6666cc;">*image by <strong>itypeit</strong> (via </span></em><a href="http://blog.sepatumerah.net"><em><span style="font-size:85%;color:#6666cc;">okke</span></em></a><em><span style="font-size:85%;color:#6666cc;">)</span></em> <p></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116219955234230203?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1161165440659802572006-10-18T13:16:00.000+07:002006-12-21T15:09:52.522+07:00Mengambang dan BerayunTerbaring malas di kamar. Kala itu pagi. Selembar koran di tanganmu. Kau baca. Lalu mulailah kalimat-kalimat bergulir di udara. Dialog. Monolog. Antara hakikat dan syariat.<br /><br />Di luar jendela, ada layang-layang tersangkut di ujung atap. Menggantung pada sejengkal benang. Kertas putihnya terkoyak. Tinggal buluh rangka dan sisa sobekan, berayun-ayun dicanda angin kemarau.<br /><br />Melengkung sudut bibirmu. Suara menyublim dalam ruang. Mengambang. Hakikat dan syariat hilang dalam angin. Hanya ada layang-layang robek berayun-ayun di depan matamu.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116116544065980257?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com9tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1160380579483148232006-10-09T14:42:00.000+07:002006-10-17T15:19:50.563+07:00Bangkok dan Bunga<a href="http://travel.webshots.com/photo/2832254650097021000CMJMVq" target="_blank"><img alt="Image hosted by Webshots.com" src="http://thumb0.webshots.net/t/59/459/2/54/65/2832254650097021000CMJMVq_th.jpg" /></a><br /><br />"Wow, kota ini penuh dengan bunga!" Itu salah satu kesan saya mengenai kota Bangkok, saat pertama kali menyusuri jalan-jalannya di awal Maret tahun ini.<br /><br />Bunga, bunga, bunga.... Di sepanjang jalan yang saya lalui, saya melihat banyak sekali pohon peneduh dengan kerumun bunga merah muda pucat. Memenuhi kota. Cantik. Bahkan di pelataran parkir tempat saya menginap, kaki saya melangkah di antara serpihan gugur bunga yang sama. Pepohonan berbunga itu, di mata saya sekilas terlihat seperti bungur atau (mungkin) sakura. Entahlah, saya tidak tahu banyak tentang tanaman.<br /><br /><span class="fullpost">Saat itu, saya sempat bertanya pada An - rekan kerja saya di Thailand (ya, saya pergi untuk urusan kerja) – apa nama bunga yang mendominasi pemandangan di kota Bangkok itu. Ternyata dia juga tidak tahu, "<em>I don’t know, I just call it sakura</em>," katanya sambil tertawa. Hehehe... ternyata dia sama saja dengan saya, gak ngerti tanaman.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2118405500097021000oocFCg" target="_blank"><img alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/59/559/4/5/50/2118405500097021000oocFCg_th.jpg" align="right" /></a> Selain kerumun bunga merah muda, saat itu Bangkok juga dipercantik oleh pepohonan dengan juntaian bunga berwarna kuning. Kali ini An bisa menjawab, <em>"We call it King’s Flower. Warna kuning itu, warnanya raja. Orang-orang menganggap pohon ini sebagai pohon keberuntungan. Jadi banyak yang menanamnya di halaman tempat usahanya. Seperti di restoran ini."</em><br /><br />---<br /><br />Bangkok memang penuh bunga, dan sepertinya bunga memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Thailand.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2011895490097021000cbIMVg" target="_blank"><img alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/32/33/8/95/49/2011895490097021000cbIMVg_th.jpg" align="left" /></a> Selain tanaman peneduh jalan yang berbunga, kita bisa melihat bunga-bunga hias di berbagai sudut kota. Penjual berbagai bentuk bunga -- bunga hidup, bunga potong, bunga tabur, roncean bunga -- juga mudah ditemui di mana-mana. Roncean bunga (<em>phuang malai</em>) bahkan dijual dengan cara diasongkan di pinggir-pinggir jalan.<br /><br />Bahkan... bunga pun bisa jadi penganan. Dalam satu perjalanan ke tempat wisata di pinggir kota Bangkok, saya sempat mencicipi berbagai jenis bunga goreng! Yup... digoreng seperti tempura. <em>Frangipani</em> goreng, <em>bougenville</em> goreng, asoka goreng, <em>blue-butterfly-pea</em> goreng, dan... lain-lain yang saya lupa atau tidak tahu namanya. Rasanya? Yang saya ingat, <em>bougenville</em> terasa getir. Sementara <em>blue-butterfly-pea </em>terasa agak manis.<br /><br />---<br /><br />Dalam perjalanan ke-dua ke Bangkok, September lalu, dalam hati saya berharap akan disambut oleh kerumun bunga yang sama. Hahaha, saya harus kecewa. Saya lupa. Ternyata seperti <a title="saya dan flamboyan" href="http://neenoy.blogspot.com/2004/11/flamboyan.html">'flamboyan saya'</a>, pohon-pohon berbunga ini pun punya musimnya sendiri. <span style="color:#ff6600;"><em>(Dan sekarang, Oktober, adalah musim flamboyan! Beberapa batang flamboyan di sepanjang perjalanan saya ke kantor mulai berbunga. Senangnya :p )</em></span><span style="color:#ff6600;"></span><br /><br /><br /><br /><div align="center"><div style="BORDER-RIGHT: black 1px dashed; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: black 1px dashed; PADDING-LEFT: 7px; PADDING-BOTTOM: 7px; BORDER-LEFT: black 1px dashed; WIDTH: 85%; PADDING-TOP: 7px; BORDER-BOTTOM: black 1px dashed; BACKGROUND-COLOR: #ccccff; TEXT-ALIGN: left"><br />Dari hasil pencarian di internet (hey, penasaran!), akhirnya saya dapatkan nama bunga merah muda tersebut. <a title="tabebuia, wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tabebuia" target="_blank"><em>Tabebuia rosea </em></a>atau <em>Chompu phanthip</em> (<em>chompu= pink, Thai</em>). Pohon bunga tropis yang sebenarnya berasal dari Brazil, memiliki bunga berbentuk terompet dengan bebeberapa varian warna. Tanaman ini ternyata salah satu bagian dari <a title=" Census Of Trees Planted On The Streets Of Bangkok" href="http://www.bma.go.th/garden/intro_e.html" target="_blank">proyek penanaman pohon di kota Bangkok.</a><br /><br />Sedangkan King’s Flower adalah <a title="Golden Shower, Wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cassia_fistula" target="_blank"><em>Cassia fistula</em></a>. Pohon berbunga kuning keemasan ini memang sudah disahkan menjadi salah satu simbol kerajaan Thailand. Bahkan sejak 1987, dicanangkan <a title="Flowers for a Great King" href="http://thailand.prd.go.th/ebook/story.php?idmag=28&idstory=217" target="_blank">proyek penanaman sembilan juta batang</a> pohon ini di seluruh Thailand dan ditargetkan selesai pada tahun 2007 mendatang. Wow… </div></div><div align="center"><br /><br /><em><span style="color:#3333ff;">Btw, baru ngeh, blog saya ternyata kemarin ultah ke-4. Hehehe...</span></em></span></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-116038057948314823?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com5tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1158926542773792612006-09-22T18:29:00.000+07:002006-10-17T15:23:56.940+07:00Cerita Perjalanan: Kuala Lumpur<em>Dari mana ya mulai ceritanya?</em><br /><br />Hmm… Semua ini berawal di sekitar akhir tahun 2005, ketika seorang teman bercerita tentang sebuah promosi yang diadakan oleh <a title="now everyone can fly :)" href="http://www.airasia.com" target="_blank">maskapai penerbangan ini</a>. Saya tergoda. Suami saat itu bilang, “Kenapa kamu gak pergi sendiri aja?” (maksudnya: tanpa Obin dan dirinya, gitu). Ay, ay… saya gak begitu kaget sih sama sarannya ini. Tapi supaya lebih yakin lagi, saya masih nanya,<br /><blockquote>Bener, nih? Rela?<em><br />- Iya<br /></em>Ridho?<br /><em>- Iya. Ridho. Beneran. (sambil ketawa)</em></blockquote>Jadi akhirnya saya pun booking tiket murah itu (Jkt-KL-Bkk-KL-Jkt, total sekitar 800 ribu rupiah), dengan jadwal yang sama dengan rencana teman saya. Sedikit gambling, soalnya masih lama banget gitu lho, dan kondisinya tiket itu tidak bisa dibatalkan atau dialihkan.<br /><br /><strong>September 2006</strong>. Akhirnya berangkatlah kami. Rombongan terdiri dari delapan orang. Delapan? Yup. Saya sendiri, ex-teman sekantor saya, N, dengan ibunya, budenya, dan adiknya; dan teman lain, E, dengan ibunya dan budenya. Hehehe, karena semuanya perempuan, sudah dapat diduga belanja-belanji akan masuk dalam agenda. Hahaha.<br /><br /><strong>Kuala Lumpur</strong> . Terus terang, KL awalnya bukanlah tujuan kami. Cuma maskapai ini tidak punya penerbangan langsung Jkt – Bkk. Jadi harus mampir ke KL dulu.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2655005960097021000Kdeubs" target="_blank"><img title="view dari kamar" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/18/19/0/5/96/2655005960097021000Kdeubs_th.jpg" align="left" /></a>Di KL kami hanya dua malam, menginap di sebuah hotel di kawasan <strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bukit_Bintang">Bukit Bintang</a> – Pudu</strong>. Ini hotel, menurut opa-opa yang jaga, umurnya sudah 30 tahun. Hotelnya hihihi… sangat sekedarnya, dengan lobi yang berantakan dan lift yang berbunyi-bunyi seram. Hahaha... maklum, kami cari yang muraaah tapi strategis. Yang penting tempat tidur dan kamar mandi lumayan bersih. Dan saya dapet bonus tambahan, view dari jendela kamar saya lumayan keren. Bisa lihat <strong>KL Tower</strong> dan puncak <strong>Menara Petronas</strong>.<br /><br /><span class="fullpost"><a href="http://travel.webshots.com/photo/2324192160097021000ICpxGx" target="_blank"><img title="petaling street" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/59/559/1/92/16/2324192160097021000ICpxGx_th.jpg" align="right" /></a>Sampai di KL sudah menjelang malam. Tapi pukul 7 pm-nya KL masih terang benderang. Malam itu kami jalan kaki ke kawasan <strong>China Town (Petaling Street). </strong>Mampir makan malam di semacam area food-court di pinggir jalan. Saya nyoba kerang bakar dan nasi lemak. Ah, ya <a title="nasi lemak di wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nasi_lemak" target="_blank"><strong>nasi lemak</strong></a> ini kayaknya makanan nasionalnya Malaysia. Di mana-mana ada nasi lemak: di pinggir jalan, di terminal bis, di airport, di atas pesawat, di mana-mana lah. Sayang saya lupa foto. Semacam nasi uduk kali ya, disajikan (nampaknya) selalu bersama ikan teri goreng, telur rebus, rendang, dan sambal.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2884901280097021000NAiYiL" target="_blank"><img title="berangan" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/18/19/9/1/28/2884901280097021000NAiYiL_th.jpg" align="left" /></a><strong>Petaling Street</strong> itu adalah kawasan pasar tempat jual barang-barang murah dan tersedia juga barang-barang tiruan gitu. Menurut saya sih biasa aja. Barang-barangnya kayak Mangga Dua aja. Souvenir yang ada di sini juga standar banget. Palingan gantungan kunci, hiasan meja, atau asbak bergambar Petronas. Kaos T-shirt, walaupun ada beberapa yang menarik gambarnya, kualitas bahannya gak bagus. Ada sih beberapa dagangan yang menarik hati -- untuk di foto dan dicicipi -- seperti penjual <strong>berangan panggang</strong>. Rasanya, saya bilang sih kayak hmmm… makan biji nangka atau duren gitu… hihihi.<br /><br />Balik pulang ke hotel, para ibu dan bude memutuskan istirahat, sedangkan yang muda-muda -- saya masih muda, lho! -- memutuskan jalan lagi. Jalan kaki terus!!! Kali ini menelusuri Jalan Bukit Bintang dan terusssss lagiiii kemana kaki membawa, hehehe. Enak jalan kaki di KL. Trotoarnya besar-besar dan nyaman. Kesan sekilas saya KL memang bersih, rapi, dan teratur. Selain itu dimana-mana masih bertebaran bendera Malaysia, karena mereka memang baru aja ulang tahun. Dum.. dumm.. dumm.. jalan terus, sambil foto-foto, memotret objek, menjadi objek, jalan sampe kaki super pegel. Dan lewat tengah malam, akhirnya menyerah pada… ‘taksi!’ :p<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2281495190097021000kNviff" target="_blank"><img title="petronas tower" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/28/28/4/95/19/2281495190097021000kNviff_th.jpg" align="left" /></a><strong>Hari kedua di KL</strong>, pagi-pagi udah siap-siap pergi lagi. Tujuan: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Petronas_Twin_Towers"><strong>Menara Kembar Petronas</strong></a>. Nyobain <a title="kuala lumpur monorail" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kuala_Lumpur_Monorail" target="_blank"><strong>monorail</strong></a> -nya KL, terus nyambung lagi dengan <strong>LRT Kelana Jaya</strong>, turun di <strong>KLCC</strong>, tepat di bawah Petronas. Nice. Menikmati naik kendaraan-kendaraan cepat ini (tentu) disertai dengan menghela napas… membadingkan dengan… ahh, sudahlah :p Di Petronas, potret-potret-potret lagi. Gak bisa naik ke jembatannya (<strong>sky bridge</strong>), karena kuota pengunjung di hari itu udah penuh. Lihat-lihat sebentar ke dalam, ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Suria_KLCC"><strong>Suria KLCC</strong></a>, kompleks mall di dasar Petronas Tower.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2176943300097021000MWePsb" target="_blank"><img title="menembus kabut" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/22/22/9/43/30/2176943300097021000MWePsb_th.jpg" align="left" /></a>Tujuan berikutnya adalah: <a title="genting" href="http://www.genting.com.my" target="_blank"><strong>Genting Highland</strong></a> , sebuah kawasan wisata (mall, theme park, casino, hotel, dll) di puncak gunung, sekitar 40 km dari KL. Caranya, naik LRT ke <strong>Terminal Putra</strong>. Lalu dari sini beli tiket terusan: Bus dan <strong>Sky Way</strong> ke Genting, pulang-pergi, termasuk main gratis di Outdoor Themepark-nya atau free-buffet di sebuah restoran di Genting (optional). Tiket terusan ini relatif murah (26 RM – untuk weekdays). Jadi dari terminal Putra itu, kami naik bis ke Gombak, dari gombak naik <strong>Skyway Cable Car</strong> ke Genting. Wiiihhh… skyway-nya cukup impresif: melintas di atas hutan hujan tropis, menembus kabut.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2273256200097021000LimEkz" target="_blank"><img title="2000 meter di atas permukaan laut" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/53/653/2/56/20/2273256200097021000LimEkz_th.jpg" align="right" /></a>Sampai di Genting, para ibu dan bude memilih memakai tiketnya untuk makan. They’re happy with the food :). Saya milih main dong. <strong>Outdoor ThemePark</strong>-nya Genting gak terlalu istimewa sih, kalau saya bilang. Lebih bagus Dufan. Cuma memang Genting punya beberapa wahana yang gak dipunyai Dufan. Selain itu di Genting dingiiinnn…brrr… gak panas menyengat.<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2274914870097021000VyqgIW" target="_blank"><img title="turbo drop" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/59/759/9/14/87/2274914870097021000VyqgIW_th.jpg" align="left" /></a>Gak banyak wahana yang saya coba, soalnya kami sudah pesan bus balik ke KL yang sore, jadi waktunya gak banyak. Langsung pilih beberapa permainan yang seru, yang belum pernah dicoba. Pertama <a href="http://www.genting.com.my/en/themepark/outdoor/turbo_drop.htm" target="_blank"><strong>Space Shot </strong></a>(turbo drop), dihempas dari ketinggian sekitar 56 meter. Wowww…! Lalu <a title="jadi superman" href="http://www.genting.com.my/en/themepark/outdoor/flyingcoaster.htm" target="_blank"><strong>Flying Coaster</strong></a>, kayak roller coaster tapi dalam posisi berbaring jadi serasa superman lagi terbang gitu. Udah lama banget nih gak naik permainan yang bikin jantung serasa mau copot kayak gini… hehehe… Asik juga.<br /><br /><strong>Indoor ThemePark</strong> juga biasa, kayak di Bandung Supermall aja. Cuma di Genting ada <strong>Snow World</strong> dan <strong>Sky Venture</strong>. Tiket terusan saya gak termasuk indoor theme park ini. Saya gak terlalu pengen lihat Snow World, pengennya <a title="terbang" href="http://www.genting.com.my/en/themepark/skyventure/index.htm" target="'_blank">Sky Venture</a>, sky-diving simulator. Pengen banget ngerasain terbang!!! Hiks sayang, pas saya ke sana (sampai usaha 2x), ditutup sementara karena hujan. Memang gak jodoh. :(<br /><br />Di Genting, saya juga sempat lihat-lihat ke dalam <strong>kasino</strong>. Wah… saya gak ada yang ngerti gimana cara mainnya. Lihat orang-orang yang pada main judi itu: takjub. Mata merah, muka kusut, tapi tetap terus pasang taruhan lagi, lagi, lagi…<br /><br /><a href="http://travel.webshots.com/photo/2843074920097021000fSSmns" target="_blank"><img title="petronas at night" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/53/653/0/74/92/2843074920097021000fSSmns_th.jpg" align="left" /></a>Selesai dari Genting, balik lagi ke KLCC. Potret-potret <strong>Petronas di waktu malam</strong>. Keren. Cuma ya karena hanya dengan kamera digital biasa, kurang memuaskan hasilnya. Gak bisa nangkap keseluruhan menara, dan hasilnya sering goyang karena gak pakai tripod.<br /><br /><br /><br /><a href="http://outdoors.webshots.com/photo/2376911270097021000oiASnj" target="_blank"><img title="clouds and sky" alt="Image hosted by Webshots.com" hspace="10" src="http://thumb0.webshots.net/t/57/757/9/11/27/2376911270097021000oiASnj_th.jpg" align="right" /></a>Hari ke-tiga, saya cuma menghabiskan waktu di airport. Dari hotel naik taksi ke KL Center, lalu naik bis ke airport. Rombongan teman-teman dapat tiket penerbangan yang siang. Sementara penerbangan saya di sore hari. Cuacanya jelek. Penerbangan siang sempat tertunda sekitar 1,5 jam. Untung yang saya relatif on-time. Di pesawat, sengaja saya cari tempat duduk di belakang sayap, dan menghabiskan waktu dua jam dengan memotret perubahan awan dan warna langit. Dan membaca buku. Terbang menuju Bangkok…<br /><br /><em>Catatan tambahan:</em><br /><ul><li>Terlalu sering makan <strong>nasi lemak</strong>, membuat ekskresi saya kurang beres. Hehehe.</li><li>Sejak Maret 2006 kalau naik penerbangan murah ini ke KL, kita ternyata tidak akan mendarat di <strong>KLIA </strong>(Kuala Lumpur International Airport), bandara yang konon -- soalnya belum lihat sendiri :( -- super megah, lebih keren dari Changi. Mendaratnya di <strong>LCC</strong> (Low Cost Carrier) Terminal – halah namanya aja udah low cost hehehe – sekitar 20 km dari KLIA. </li><li><strong>Air mineral</strong> di KL lebih mahal dari di Indonesia. Harga untuk 0,5 liter air (beli di 7eleven), kalo gak salah sekitar 2 RM (kurang lebih 5000 rupiah). Sekilas, harga-harga barang di KL kayaknya memang agak lebih mahal dari di Jakarta.</li><li>Apa lagi ya?? Entar ditambahin lagi deh kalo inget.</li></ul><br /><br /><br /><center><div style="BORDER-RIGHT: black 1px dashed; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: black 1px dashed; PADDING-LEFT: 7px; PADDING-BOTTOM: 7px; BORDER-LEFT: black 1px dashed; WIDTH: 85%; PADDING-TOP: 7px; BORDER-BOTTOM: black 1px dashed; BACKGROUND-COLOR: #ccccff; TEXT-ALIGN: left"><p align="center">selamat menunaikan ibadah puasa<br />maafkan kesalahan-kesalahan saya, ya</p></div></center></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115892654277379261?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com8tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1158567769685016122006-09-18T15:09:00.000+07:002006-09-19T09:59:28.666+07:00Kolase Perjalanan<div align="center"><a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/1600/malaysiapics.0.jpg" target="_blank" title="kuala lumpur & genting highland"><img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="kuala lumpur & genting highland" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/320/malaysiapics.jpg" border="0" /></a><br /><a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/1600/bangkokpics.jpg" target="_blank" title="bangkok"><img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="bangkok" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/320/bangkokpics.jpg" border="0" /></a><br /><br /><em>Klik, untuk memperbesar gambar.<br />Cerita... menyusul ya, kalau sempat :p</em></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115856776968501612?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1158234348292138832006-09-14T18:41:00.000+07:002006-09-19T18:24:05.160+07:00KembaliHai, udah balik nih. <em>Bagaimana liburannya?</em> Rasanya hmm.. campur-campur. <br /><br />Menyenangkan sekali melihat hal-hal baru. Menghirup aroma kota yang berbeda. Menelusuri jalan-jalan yang asing. Memandang kerlip lampu yang tak sama. Berpas-pasan dengan wajah-wajah yang tak dikenal. Mendengar percakapan yang tidak dimengerti. Mengecap rasa yang tak biasa. <br /><br />Ada beberapa rencana yang gak kesampaian sih, karena berbagai hal. Bikin penasaran dan gak puas. Sempat juga ketipu-ketipu dikit, hehehe.. hey, tapi malah menambah pengalaman, kan? <br /><br />Senangnya juga, Obin dan Ayah baik-baik aja di rumah. Jadi hati rasanya tenang. Tiap telpon ke rumah, suara Obin tetap riang. <em>He's really a big boy now.</em> :)<br /><br />Anyway, thanks untuk semua yang udah komen di posting sebelumnya. Ya, Atta, ini berkaitan dengan tiket murah yang saya beli hampir setahun yang lalu... ;)<br /><br />* foto-foto menyusul<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115823434829213883?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1157542596138733072006-09-06T18:18:00.000+07:002006-09-06T18:36:38.106+07:00Mom's Days OutUhm... Saya mau nanya, nih...<br /><br /><em>Jadi gini ceritanya, ada seorang ibu. Ceritanya dia bakalan pergi liburan, nih. Sendiri. Seminggu. Ibu itu punya anak yang masih balita. Apa? Oh, bukan. Dia bukan full-time mom. Dia kerja, kok. Full time. Senin sampai Jumat. Selain week-end, tiap hari ketemu anaknya paling satu-dua jam, pagi-pagi. Kalau malem, seringnya anaknya udah bobok. Gitu.<br /><br />Nah, pertanyaan saya gini nih, "Ibu itu egois gak sih?"</em><br /><br />Silakan dijawab. Gak usah sungkan-sungkan. Sementara itu, saya pergi dulu ya!!!! Sampai ketemu lagi.... :)<br /><br /><br /><br />----<br /><br /><span style="color:#cc6600;"><em>PS (buat Ayah dan Obin):</em><br /><em><a href="http://obin.blogspot.com">Ayah sama Obin, jangan sering-sering berantem ya,</a> selama Bunda gak ada... hihihi... :p </em></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115754259613873307?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com8tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1156396497632529682006-08-25T11:53:00.000+07:002006-12-21T15:09:11.297+07:00Mengingat Lupa<div align="left">Terkadang kita -- mungkin secara tak sadar -- kerap menghindar dari sepenggal ingatan tertentu. Melupa. Menafikan segala yang membangkitkan kenangan atas serentang masa yang ingin dilupa. Meletakkan sebuah album foto di bagian lemari yang sukar dijangkau dan membiarkannya berdebu. Menghilangkan nama sebuah kota dari peta kehidupan. Menutup telinga atas sebuah topik percakapan. Memalingkan wajah atas episode tertentu pada sebuah film. Melompati dua atau tiga paragraf dari sebuah novel yang sedang dibaca.<br /><br />Atau... menekan tombol 'stop' secara reflek, setiap kali rekaman fragmen tertentu dari masa lalu berputar. ‘Berhentilah, cukup sampai di situ saja.’<br /><br />---<br /><br /><span style="color:#999999;"><em>Mengenang kota itu, dua puluh tahun silam, awalnya membawa rasa hangat di hatinya. Teman-teman kecil, sekolah berdinding papan tak berpagar di dekat ‘rawa’, kepala sekolah berkulit legam yang bersahaja, guru baru yang membuka mata, permainan di hijau tanah lapang, perkemahan sabtu minggu, bukit di belakang sekolah, jajanan di rumah seberang, bulir-bulir kuning akasia, sepokok bambu di sudut jalan, rumput jarum menusuk kaus kaki, sungai kecil berjembatan kayu…<br /><br />Lalu ia akan terkenang rumahnya dulu. Rumah besar itu, pekarangan yang sungguh lapang, segala pohon jambu di halaman belakang, kandang ayam, sumur timba tak terpakai, seekor anjing menandak gembira, bermain monopoli dan menang, kamar-kamar kosong, ruang tidur luas untuk dirinya sendiri….<br /><br />Lalu...</em><br /><em></em><br /><em>STOP! Sampai di situ saja. Karena melarut berarti... rasa getir di kerongkongan, butir bening di sudut mata, dan rasa bersalah yang -- ia tahu -- semestinya tak ada. </em><br /></span><br />---<br /><br />Sekitar sepuluh tahun yang lalu, di atas pintu keluar sebuah supermaket di suatu kota, ada sebilah papan (biru?) bertuliskan kata mutiara. Hiasan yang tak menyolok mata, tak menuntut perhatian khalayak, namun tetap ganjil untuk sebuah supermarket. Aku sendiri tak kan pernah memperhatikannya, apabila seseorang tak menunjukkannya padaku.<br /><br />Kalau tak salah begini, bunyinya:<br /><br /></div><blockquote><strong>Happiness</strong>, it's nothing more than <strong>a good health</strong> and <strong>a poor memory</strong>.</blockquote><br />Hmm… begitukah? Dan sekarang, masih adakah tulisan itu di sana?<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115639649763252968?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1156233159738516022006-08-22T13:23:00.000+07:002006-12-21T15:08:39.320+07:00Setelah Liburan PanjangSelasa pagi. Waktunya kembali bekerja. Bangun pagi dengan happy, mood gw lagi bagus. Libur panjang kemarin sangat menyenangkan. Main pasir dan ombak, berkejaran bertiga di sepanjang pantai, memandang wajah kecil yang ceria... ah... :)<br /><br />Di jalan. Hari pertama kembali bekerja. Macet. Gak heran, deh. Semua orang kembali sibuk. Macet banget. Gak masalah. Soalnya mood gw lagi bagus.<br /><br />Lihat di luar! Rumput-rumput di pembatas jalan mulai menguning. Kering. Tapi kemarau punya keindahannya sendiri. Ini saat daun-daun coklat melepas satu-satu dari ujung ranting. Lihat mereka terbang melayang pelan? Menari bersama angin. Mengapung di udara. Meliuk. Mengambang. Lalu jatuh perlahan di atas jalan. <br /><br />Macet luar bisa. Sudah dua jam berkendara, belum separuh perjalanan dilewati. Tapi mood gw lagi bagus. Jadi, santai aja, ya. Toh, apa sih yang gw kejar?<br /><br />Eh, kenapa motor di seberang jalan itu? Kok tiba-tiba oleng dan terbalik? Sebuah motor lain melambat dan pengendaranya turun membantu. Seseorang dari pelataran bangunan juga ikut menolong. Untunglah, sepertinya semua baik-baik saja. Dan ya, mood gw lagi bagus. <br /><br />Hey, itu bukan daun, yang melayang-layang di atas mobil di depan. Itu kupu-kupu hitam putih. Sayapnya tidak mengepak. Hanya membentang, mengapung di atas angin. Gak heran gw sempat salah sangka. Tuh, kan. Kupu-kupu itu sedang pura-pura jadi daun gugur :p. Mengepak sesekali untuk terbang naik, lalu kembali mengambang di udara, mengikuti geliat-geliut angin. <br /><br />Wow, sudah tiga jam. Masih di sini-sini aja. Hey, tapi mood gw lagi bagus. Itu papan pengumuman berwarna kuning, yang bertuliskan "maaf-perjalanan-anda-terganggu-ada-pekerjaan-busway", gak boleh merusak mood gw.<br /><br />Baca, baca buku lagi aja, deh. Toh jalan merayap kayak siput. Baca buku tebal yang sudah beberapa hari nongkrong di mobil. Buku cerita pendek-pendek tentang dunia yang bijak dan indah. Tumben nih, bisa selesai sampai tiga bab sekaligus. <br /><br />Hmmm... mesin mobil makin panas. Pendingin udara harus dimatikan sesekali, supaya suhu mesin kembali normal. Udara di luar (dan di dalam) terasa semakin bikin gerah. Keringat mulai membasahi ketiak. Untung deh tadi gak pake baju tebal. Hahaha, ya, mood gw masih bagus, kok.<br /><br />Tiga setengah jam lebih. Akhirnya sampai di perempatan jalan itu. Oh ternyata, kalau jam segini, Nano dan Pepen sudah tidak ada. Mungkin mereka mangkal di tempat lain yang lebih strategis. <br /><br />Empat jam. Akhirnya sampai juga. "Hey, harusnya elo udah nyampe Bandung, tuh!" Tawa menderai, "iya nih... eh, sebentar lagi udah waktunya makan siang, ya?" Untung mood gw lagi bagus...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115623315973851602?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com5tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1155032327612717152006-08-10T00:00:00.000+07:002006-12-21T15:08:09.587+07:00Sudut<a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/1600/cihaur1.jpg"><br /><img src="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/200/cihaur1.jpg" ></a><br /><br /><a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/1600/cihaur2.jpg"><br /><img src="http://photos1.blogger.com/blogger/4409/94/200/cihaur2.jpg" border="0" alt="" /></a><br /><br />Ah, ya. Kemarin nemu hasil <em>scan</em> sketsa ini di rumah. <a href="http://dyahs.blogspot.com" target="_blank" title="dy">Dy</a>, inget gak? :)<br /><br />Ada sedikit cerita tentang 'sudut' yang terletak di lantai dua sebuah kos-kosan berdinding bata ekspos itu. Di jendela besar di sisi tempat tidur itu, si pemilik sudut suka nongkrong malam-malam, menatap malam, sampai akhirnya gak tahan karena kedinginan. Pemandangan favorit dan 'kebanggaannya': puncak <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate" target="_blank" title="gedung sate, bandung">Gedung Sate</a>, langsung tepat di depan jendela (dari jauuuuh sih, tapi lumayan jelas, kok).<br /><br />Looking at those sketches, I can jot down a long list of memories. Lima tahun tinggal di situ, gitu lho. And yes, the room was quite a picture of my self :). Ah, jadi kangen suasananya... <br /><br /><em>* yang bikin sketsa bukan saya :)</em><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115503232761271715?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com6tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1155025220297126212006-08-08T14:54:00.000+07:002006-08-08T16:11:11.536+07:00Duh...Kalau badan lagi meriang-meriang kayak gini, paling enaknya dibalur minyak kayu putih, terus bobok pake selimut di sekujur tubuh. Kalau hidung mampet bikin gak bisa bobok, apa daya harus menenggak obat flu.<br /><br />Kalau badan lagi meriang-meriang tapi di kantor... enaknya ngapain ya? <br /><br />--- dilanjutin<br /><br />Setiap habis posting yang rada-rada <em>gloomy</em>, ada rasa gak sreg. Padahal kan blog punya sendiri ini, ya? Heran... hehehe. Beberapa orang malah membuat blog sebagai pelampiasan segala uneg-uneg dan maki-maki. Tapi saya selalu terngiang-ngiang omongan seorang teman yang udah lama gak ketemu. Tentang aura negatif. Hahaha... <br /><br />Yah, begitulah. Jadi, setiap ada posting bernada sedih-keluh-kesal-marah yang berhasil lolos nongol di blog ini, pasti itu diikuti sekelumit perasaan bersalah pada pemiliknya. Bahwa ia (iya, saya) sudah ikut bertanggung jawab menyebarkan aura negatif di dunia maya ini... (dohh)<br /><br />Dihapus saja? Hmm... tapi kan itu posting jujur. Kasihan kalau dihapus. Eksistensinya gak diakui. Duh... makin ngawur aja. Sorry...<br /><br />Pakai <em>disclaimer</em>-jangan-dibaca-kalau-gak-mau-ikutan-gloomy? Haruskah?<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115502522029712621?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-3842274.post-1154506902756947962006-08-02T14:52:00.000+07:002006-12-21T15:07:51.809+07:00Karangan IsengSiang-siang, dapet sms dari si <a href="http://blog.sepatumerah.net/" target="_blank" title="*kke">Neng pemilik Alas-Kaki-Merah</a>. Katanya, dirinya ada gawean yang menantang di <a href="http://project.sepatumerah.net/" target="_blank" title="gawean iseng">sini</a>, yakni menciptakan karangan dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lipogram" target="_blank" title="Lip*gram">"missing letter"</a> atawa "abjad yang hilang". Tadinya sayah males. Tapi si Eneng emang hebat, bisa meyakinkan sayah hingga terinspirasi iseng. Jadilah ini dia karangan tanpa abjad ... hm... ada deh... <br /><br /><div style="BORDER-RIGHT: black 1px dashed; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: black 1px dashed; PADDING-LEFT: 7px; PADDING-BOTTOM: 7px; BORDER-LEFT: black 1px dashed; WIDTH: 85%; PADDING-TOP: 7px; BORDER-BOTTOM: black 1px dashed; BACKGROUND-COLOR: #ccccff; TEXT-ALIGN: left"><br /><strong>Mesin Hebat Yang Bikin Nginap</strong><br /><br /><em>Menjawab tantangan Kke agar bikin karangan iseng kayak gini. Hmm… bagaimana caranya agar hanya pakai a – e – i ? Mari-mari kita karang. </em><br /><br />---<br /><br />Cerita tentang apa ya? Cerita tentang <a href="http://obin.blogspot.com" target="_blank" title="siapa lagi?">Bintang</a> aja deh. Bintang beberapa hari kemarin ada pengalaman pertama lagi. Menginap sendiri tidak sama Nda dan Ayah. <br /><br />Hebat memang daya tarik game mesin-pintar-dengan-layar-besar-dan-papan-ketik (agar tidak mengetik istilah tenarnya, hehe). Nama <em>game</em>-nya adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Incredible_Machine" target="_blank" title="incredible machine di wiki"><em>incredible machine</em></a>. <em>Game</em> lawas sih. Tapi masih gres bagi Bintang. Lebih-lebih ini adalah jelmaan kegemarannya mengarang hayal tentang mesin. Biasanya sih, dia senang menggambarkannya di atas kertas saja. <br /><br />“Ini mesin yang bisa meledak, Nda.” kata Bintang. <br />“Ayah, ini pipa air bersih, air ini akan mengalir ke pipa yang ini. Nanti akan dipancarkan ke sini.” cerita lain Bintang tentang gambar mesin ciptaannya.<br /><br />Dengan kegemaran ini, bisa dibayangkan kan, bagaimana senangnya dia ketika lihat ada <em>game “incredible machine” </em>di tempat tinggal Kiki, anaknya kakaknya Nda (nah… :p). Setelah sepanjang hari main tapi bergiliran dan tidak senang karena hanya sebentar-sebentar mainnya, menjelang magrib Bintang masih tidak hendak balik (alah, bahasanya :p). Ayah iseng nanya, “Nginep aja, ya?”. Pikir-pikir hanya sebentar, Bintang segera meng-iya-kan. Malah Nda dan Ayah yang jadi menganga, “Bener, nih?”. “Iya, bener.” <br /><br />Alhasil, malamnya Ayah dan Nda kesepian. Gak ada yang teriak-teriak, cerita-cerita, dan nyanyi, dan nangis. Ayah sampai bilang gini, “Kangen ya. Gimana kita samperin aja, Nda?” <br /><br />Akhirnya gak jadi kami samperin sih. Lagian ini kan pengalaman pertamanya menginap di tempat “asing” tanpa kami. Langkah besar baginya. Meski demi bermain <em>game</em>, hehehe. Dan, kabar dari ipar saya, Bintang malamnya hanya terlelap sebentar. Dia begadang sampai pagi dengan alasan gak bisa lelap lagi. Padahal sih, demi main <em>game</em> tanpa disela ‘teman-teman’ kecilnya. <br /><br />---<br /><br /><em>Yah, begini saja ceritanya si karangan hanya dengan a-e-i. Ternyata bisa. Jritt, Kke. Sayah gak kerja nih jadinya. Hehehe…</em><br /><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3842274-115450690275694796?l=neenoy.blogspot.com'/></div>neenoyhttp://www.blogger.com/profile/13499024151317170041noreply@blogger.com1