tag:blogger.com,1999:blog-354708292009-07-07T16:42:22.836-07:00KABAR DARI KAMPUS UNHASBlog ini memuat kumpulan berita dan artikel yang diambil dari Penerbitan Kampus "Identitas" Universitas Hasanuddin Makassar. Sebuah sarana publikasi virtual alternatif bagi Penerbitan Kampus "Identitas" UNHASKabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.comBlogger142125tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-9825298357964193052009-07-05T03:17:00.000-07:002009-07-07T16:38:00.444-07:00Fak Farmasi di Lalap Si Jago Merah<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.identitasonline.net/uploaded_images/Online-771236.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 203px;" src="http://www.identitasonline.net/uploaded_images/Online-771221.jpg" border="0" alt="" /></a><br /><span class="fullpost"> Padamkan Api: Petugas pemadam kebakaran kota Makassar berusaha memadamkan api yang berkobar di Lantai 5&6 di Laboratotium Kimia Fakultas Farmasi Unhas. Minggu (5/7). Kerugian atas kebakaran ini di perkirakan mencapai Rp 10 Miliar. <br /><br /> identitas/Fahmi Ali<br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-982529835796419305?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-10270750673391232052009-07-03T01:15:00.000-07:002009-07-07T16:38:58.048-07:00Anggaran Praktik Lapang Minim, Mahasiswa TerbebaniMeski anggaran praktik lapangan telah dianggarkan, tapi mahasiswa di lingkungan eksak masih harus merogoh kocek pribadi.<br /><span class="fullpost"><br /><br />Praktik lapang, begitulah mahasiswa eksak menyebutnya. Bagi sebagian mereka yang memprogram mata kuliah tertentu, diharuskan mengikuti praktik lapangan. Tapi melakukan studi lapangan seperti itu tentu memakan biaya selain biaya bahan praktik semisal biaya transportasi, konsumsi dan akomodasi. Namun anggaran praktik lapang yang sedianya untuk para mahasiswa praktikan, tak sepenuhnya diberikan oleh setiap jurusan. Akibatnya, mahasiswa yang melakukan praktik lapangan di luar masih harus menggunakan uang pribadi, yang jumlahnya tidak sedikit. Tak urung hal ini kerap memberatkan mahasiswa bersangkutan <br />Nisar Sahran misalnya, mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi (Sosek) Fakultas Pertanian (Fapert) mengakui hal itu. Mahasiswa yang menjabat ketua Himpunan Mahasiswa Peminat Sosek Pertanian (Misekta) ini mengatakan praktik lapangan diwajibkan bagi setiap mahasiswa tapi memakan ongkos yang besar. “Kucuran dana dari jurusan hanya diperuntukkan untuk dosen saja, istilahnya Surat Perintah Perjalanan Dosen (SPPD), sementara mahasiswa tidak,” katanya. Nisar menambahkan mata kuliah yang memprogramkan praktik lapang jumlahnya tak sedikit dan jarang ada yang diintegrasikan dalam satu lokasi, sehingga harus menyediakan dana berkali-kali.<br />Menanggapi adanya keberatan yang dihadapi mahasiswa soal biaya praktik lapang itu, Ketua Jurusan Sosek Fapert, Dr Ir Muslim Salam MEc mengatakan biaya praktik lapangan memang dibebankan pada mahasiswa. Meski di Sosek sendiri mendapat dana senilai Rp 200 juta tapi anggaran itu menurutnya tak cukup untuk membiayai praktik lapangan mahasiswa Sosek yang berjumlah tiga ratus orang. “Banyak hal yang lebih penting untuk dianggarkan, misalnya infrastruktur, gaji honorer pegawai, wireless, penambahan LCD, computer dan semacamnya lebih penting dan dibutuhkan oleh mahasiswa,” jelasnya. Ia menambahkan untuk praktik lapangan pihak jurusan hanya menanggung dosen dengan SPPD.<br />Senada dengan Muslim, Ketua Jurusan Sosek Peternakan, Ir Aminawar mengungkapkan masalah anggaran praktik setiap mata kuliah masih minim. Pasalnya, di jurusan yang dibawahinya, penyediaan biaya tidak hanya untuk anggaran praktik lapangan tapi praktik laboratorium juga membutuhkan dana. “Jujur saja, untuk mata kuliah yang saya pegang anggarannya Rp 590 ribu per semester dengan rincian Rp 1500 tiap mahasiswa tapi anggaran ini hanya diberikan pada dosen yang bersangkutan untuk keperluan perbanyakan kuesioner, transportasi dan lain-lain di lokasi praktik lapangan,” jelas Aminawar <br />Adanya biaya yang dibebankan pada mahasiswa yang mengikuti praktik lapangan tersebut, dengan alasan kurangnya kucuran dana, perlu dipertanyakan. Hal itu diungkapkan oleh Awal Maulana. Mahasiswa Jurusan Agronomi Pertanian tersebut menganggap alasan minimnya anggaran dan sejenisnya sebenarnya tidak memuaskan. Maulana merasa masih sulit menerima alasan seperti itu lantaran mahasiswa eksak telah membayar uang SPP lebih mahal dari noneksak. ”Kita mahasiswa eksak, membayar SPP lebih mahal. Selisihnya Rp 150 ribu dari noneksak,” katanya. Maulana juga menyayangkan proses peminjaman bus Unhas yang sangat rumit dan lama sehingga menyulitkannya untuk memanfaatkan bus Unhas sebagai media transportasi praktik lapangan. “Walaupun agak mahal, kita lebih memilih menyewa mobil lain karena praktik lapangan tak mungkin ditunda untuk menunggu bus Unhas yang agak lama diurus sana-sini,” ungkap mahasiswa angkatan 2006 itu..<br /> Soal penggunaan anggaran praktikum itu, Pembantu Dekan II Peternakan mengatakan, diserahkan pada jurusan masing-masing. Pihak fakultas hanya mendistribusikan dananya dan jurusan sendiri yang menentukan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di jurusan tersebut.<br />Meskipun di sejumlah jurusan, mahasiswa merasa sangat terbebani dengan biaya praktik lapang, tapi di Jurusan Ilmu Tanah, tidak demikian. Barangkali itu karena ada langkah taktis dari dosen mata kuliah terkait untuk meminimalisir ongkos yang akan digunakan mahasiswa dalam studi lapang di luar kampus. Fitrah Irawan contohnya, mahasiswa Ilmu Tanah ini menilai praktik lapangan di jurusannya tak terlalu memberatkan mahasiswa dari segi keuangan. Ia mengatakan sejumlah dosen berinisiatif menyelenggarakan praktik lapangan secara terpadu untuk beberapa mata kuliah, sehingga tidak berkali-kali mengadakan praktik lapang dengan tempat yang berbeda. “Misalnya belum lama ini kami melakukan praktik lapang di Malino, hanya mengeluarkan biaya lima puluh ribu rupiah,“ ujar Presiden Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah itu.</span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-1027075067339123205?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-59446446310202208832009-07-03T01:04:00.000-07:002009-07-07T16:39:40.201-07:00Status TLK Hadirkan GundahHampir lima tahun Konsentrasi TLK didirikan, kini kejelasan statusnya menjadi buah bibir di Fakultas Farmasi.<br /><span class="fullpost"><br /><br />Siang itu (02/06), di lantai dasar Gedung Perpustakaan Umum Unhas, beberapa Mahasiswa Fakultas Farmasi (FF) sedang bercakap-cakap. Terlihat raut wajah mereka kian cemberut disertai dahi yang berkerut. Rupanya mereka kaget dan kesal mendengar kabar, status konsentrasi tempat mereka kuliah belum mendapat izin dari Direktoral Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti). <br />Konsentrasi itu bernama Teknik Laboratorium Kesehatan (TLK). TLK merupakan konsentrasi yang mendidik mahasiswa untuk menghabiskan banyak waktu di laboratorium. Mereka meneliti masalah kesehatan dan mencari obat yang mampu menuntaskan masalah itu.<br />Pada tahun 2004, konsentarsi TLK resmi dibuka. Awalnya konsentrasi berlevel strata satu ini hanya menerima pendaftar dari tamatan Diploma Tiga (DIII) saja. Itu pun yang telah memiliki pekerjaan tetap. Namun setahun berjalan, sambil tetap membuka pendaftaran tamatan DIII, tepatnya tahun 2005, 2006 dan 2007 dibukalah penerimaan untuk tamatan SMA. Hingga tahun ajaran 2008/2009, jumlah mahasiswa TLK yang masih aktif sebanyak 265. <br />Jika melirik beberapa konsentarsi yang terdapat di Unhas, umumnya sebelum masuk pada sebuah konsentrasi, para mahasiswa mengikuti Tes SNMPTN. Lalu melebur pada Program studi atau jurusan. Setelah dua semester, barulah terbagi lagi ke dalam beberpa konsentrasi. <br />Misalnya pada Jurusan Kelautan, awalnya para mahasiswa mengikuti tes SNMPTN. Kemudian diterima pada Jurusan Kelautan. Lalu setelah dua semester para mahasiswa itu dibagi ke dalam beberapa konsentrasi. <br />Tapi anehnya. mahasiswa yang diterima pada konsentrasi TLK, tidak mengikuti Tes SNMPTN. Melainkan mengikuti tes tersendiri di FF. lalu tampa melalui level program studi, pada awal pekuliahan mereka langsung bergabung di dalam konsentrasi. <br />Belum lagi biaya SPP yang bervariasi, jika dari tamatan DIII biaya SPP sebesar tiga juta rupiah. Sementara jika dari tamatan SMA biaya SPP sebesar Rp 1,5 juta. Hal ini seolah-olah menimbulkan kesan, jika Konsentrasi TLK berdiri sendiri selayaknya program studi. Sehingga untuk melegalkannya butuh Izin Penyelenggraan tersendiri dari Dikti.<br />Bagi mahasiswa tamatan DIII, legal tidaknya TLK tak menjadi soal. Pasalnya, rata-rata mereka telah bekerja dan tercatat sebagai pegawai negeri pada sebuah instansi. “Bagi saya masalah izin tidak terlalu bermasalah, toh saya sudah jadi Pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Utara,” ujar Ina mahasiswi FF angkatan 2006.<br />Berbeda dengan tamatan DIII, riak-riak kekhawatiran muncul dari lulusan SMA. Mereka gundah dengan ijazah yang akan mereka terima nantinya, illegal. Sehingga tidak bisa digunakan melamar kerja. “Kami disini khawatir, apa nantinya ijasah kami bisa digunakan untuk melamar pekerjaan” ujar Ina, mahasiswi TLK angkatan 2008”<br /> Hal ini langsung di tepis oleh Pembantu Dekan II FF. Menurut Syaharuddin Konsentarsi TLK sama halnya dengan konsentrasi lainnya. “Mahasiswa langsung dilebur ke TLK karena pada awalnya konsentrasi ini hadir pada pertengahan semester. Selain itu pada dasarnya TLK sama saja dengan konsentrasi lain. Sebab mata kuliah dasarnya, semua tetap wajib diambil,” tambahnya. <br />Tak ingin ketinggalan, mengenai status TLK pihak universitas juga mencoba meredam tanggapan miring. “Konsentrasi tidak boleh ada kalau induk program studinya tidak ada. Sementara TLK hadir dari induk Program Studi Farmasi, yang sudah memiliki SK Dikti.” ujar Pembantu Rektor I Prof Dr Dadang A Suriamiharja. <br />Sengaja Kecolongan<br />Satu keganjalan kembali terjadi di Konsentrasi TLK. Tahun 2008 silam, saat penerimaan mahasiswa baru, Konsentarsi TLK tidak lagi menerima pendaftar dari SMA. Sementara, pendaftran bagi tamatan DIII masih tetap dibuka. Anehnya saat pengumuman, malah diterima dua orang dari tamatan SMA.<br />Ika salah satu dari dua mahasiswa itu mengaku, dalam kapasitasnya mendaftar di TLK hanya sebagai tamatan SMA. Proses pendaftarannya juga sama dengan mahasiswa DIII. Yakni membawa surat rekomendasi belajar dari tempat ia magang. “ Saya menyertakan surat rekomendasi dari Rumah Sakit Syeh Yusuf Gowa,“ jelasnya.<br />Bagaimana bisa mahasiswa dari tamatan SMA diterima pada TLK program DIII ? Jika ditelisik mahasiswa dari tamatan SMA sama sekali belum memilki pengetahuan dasar di bidang farmasi. Lain halnya dengan Tamatan DIII yang telah memilki basic ilmu. Jadi tinggal melanjutkan dua tahun untuk mendapat gelar sarjana.<br />Mendengar hal ini PD II FF angkat bicara. Menurut Syaharuddin, tidak masalah jika ada yang diterima dari tamatan SMA, yang penting memilki surat izin belajar dari tempat mereka Bekerja. “Lulusan SMA harus mengambil mata kuliah dasar dahulu. jadi waktu studi minimal empat tahun,” tambahnya <br />(Dia/Sin)<br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-5944644631020220883?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-86194506731909795332009-06-04T00:30:00.000-07:002009-07-07T16:40:12.797-07:00Warna-Warni Kemeriahan Maudu’ LompoaMasyarakat Desa Cikoang Laikang Kabupaten Takalar memiliki tradisi tersendiri dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perpaduan unsur budaya dan ritual keagamaan menyatu dalam tradisi Maudu’ Lompoa tersebut. <br /><span class="fullpost"><br /><br />Ratusan masyarakat terlihat berbondong-bondong menuju Sungai Cikoang, Kamis (26/3). Rombongan arak-arakan perahu juga terlihat ramai di sekitarnya. Perahu itu dihiasi lembaran-lembaran kain khas Sulawesi seperti sarung, seprai, pakaian, dan mukena. Perpaduan yang terlihat sangat unik dan penuh warna.<br />Setiap perahu berisi beberapa bakul beras, nasi pamatara (setengah matang) dan lauk yang menunya didominasi ayam kampung dan telur warna-warni yang penuh hiasan bunga kertas dan male. Male adalah guntingan kertas minyak yang menyerupai tubuh manusia. Setiap perahu adalah milik satu keluarga. <br />Hari itu merupakan puncak perayaan Maudu’ Lompoa (Maulid Besar). Ini adalah perayaan termegah yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Kerukunan Masyarakat Cikoang setiap tahunnya. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW.<br />Acara puncak dimulai pada pukul 09.00 WITA di panggung utama tempat masyarakat sering melaksanakan ritual adat mereka, dengan sajian tari-tarian diantaranya adalah tari Pakarena. Bersamaan dengan itu arak-arakan dibawa ke tepi sungai, dan diletakkan berjajaran. Terlihat ada ratusan perahu, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Konon, besar atau kecilnya ukuran perahu serta banyaknya isi dan hiasan di dalamnya menandakan tingkat kekuasaan atau kekayaan keluarga pemilik perahu.<br />Masyarakat terlihat semakin menikmati acara. Deru gendang yang diiringi syair berbahasa Makassar juga turut menambah kemeriahan. Orang-orang mulai saling menyiram dan mencebur ke dalam sungai. Menurut mereka, itu adalah wujud keakraban dan kekeluargaan.<br />Selanjutnya acara diisi dengan lomba dayung. Di saat yang sama, masyarakat juga mulai memperebutkan isi perahu. Rupanya sebelum puncak acara ini, isi perahu disakralkan dan tak boleh disentuh. Barulah pada hari puncaknya, isi perahu dibagi-bagikan ke masyarakat.<br />Meski berlangsung meriah dan megah, prosesi Maudu’ Lompoa rupanya membutuhkan persiapan yang memakan waktu cukup lama. Misalnya saja ayam kampung yang digunakan untuk maudu’, sebelumnya harus dikurung 40 hari di tempat bersih dan diberi makanan yang baik. Sementara itu, masyarakat mulai melakukan prosesi anganang baku, yaitu membuat bakul sesaji dari daun lontar. Kemudian mereka menjemur padi dalam lingkaran pagar yang dilanjutkan a’dengka ase, yaitu menumbuk padi dengan lesung. Setelah itu warga mengupas kelapa utuh yang ditanam sendiri (ammisa’ kalulu). <br />Dua hari sebelum puncaknya, mereka melakukan acara potong ayam dan menghias telur. Para ibu rumah tangga dibantu anak-anaknya mulai memasak beras setengah matang, ayam goreng dan aneka kue tradisional dengan menggunakan kayu bakar.<br />Menurut masyarakat setempat, pada dasarnya tradisi Maudu’ Lompoa lebih menonjolkan unsur budaya daripada ritual agama. Ini terlihat dengan rangkaian acaranya. Namun bagi basyarakat Cikoang, tradisi ini sangat pantang untuk dilewatkan. Demi mengikuti acara besar ini, mereka rela menghabiskan biaya yang tidak sedikit. <br />Sukmawati<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-8619450673190979533?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-38152763671577141822009-06-04T00:27:00.000-07:002009-07-07T16:40:42.430-07:00Unhas Ketiban Water PuriferSivitas akademika bisa lega. Unhas ketiban alat penjernih air dari Menkes.Dengan alat itu, sivitas akademika bisa memperoleh air minum bersih secara cuma-cuma. <span class="fullpost"><br /><br />Di sebuah bangunan berukuran sekitar 4 X 4 meter, di samping gedung rektorat, tampak seorang lelaki sedang sibuk mengisi sejumlah galon air minum. Dengan lincah, satu per satu galon tersebut ia isi sampai penuh secara bergantian. Tak jauh dari situ, beberapa Satuan Pengaman (Satpam) tengah mengamati pekerjaanya. Sesekali terdengar ucapan senda gurau diantara mereka. Setelah semua galon penuh, lelaki itu keluar dari bangunan kecil tersebut. Anwar, lelaki itu, baru saja melayani pegawai yang mau mengisi air galon, Rabu (13/05). Menurut Anwar, mesin penjernih air yang tersedia di samping kantor rektorat ini, sudah dapat dimanfaatkan untuk mengisi air minum. Akan tetapi, masih banyak orang yang belum mengetahui hal itu. Jadi masih kurang juga yang menggunakannya. <br />Meski begitu, mesin water purifier yang diperoleh langsung dari Menteri Kesehatan itu, akan diperuntukkan kepada seluruh sivitas akademika Unhas. Tapi, untuk bisa mengambil air minum bersih dari hasil penyulingan mesin itu, harus memperoleh izin dari bagian rumah tangga Unhas atau surat rekomendasi dari fakultas. Hal ini disampaikan oleh Drs Haeruddin, Kepala Subbagian (Kasubag) Rumah Tangga Unhas. “Untuk fakultas, harus ada rekomendasi dari kepala tata usaha atau Kasubag perlengkapan fakultas bahwa air ini dipergunakan oleh fakultas,” paparnya <br />Sementara itu, bagi mahasiswa yang berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) fakultas, dapat mengambil air dengan menunjukkan keterangan dari bagian kemahasiswaan fakultas. Dan untuk mahasiswa yang dari Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas, bisa langsung melapor ke bagian rumah tangga. “Ini dilakukan karena ditakutkan nanti akan dipakai yang tidak-tidak, misalnya diperjualbelikan, padahal kan gratis. Jadi cukup melapor saja bahwa ada UKM disini, kemudian membawa galon,” jelas Haeruddin. <br />Haeruddin menambahkan, saat ini ia belum menyurat ke semua fakultas soal pemanfaatan mesin water purifier itu, mengingat upaya pengoperasiannya belum begitu maksimal. Tapi, pihaknya dalam waktu dekat akan menyurat ke fakultas dan UKM untuk menggunakannya secara maksimal. “Kita mau melihat dulu perkembangannya, berapa galon dari fakultas yang bisa dipenuhi. Kalau memang tidak mampu nanti kita atur waktunya,” ujarnya.<br />Hijral Aswad, mahasiswa fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2005 mengatakan sangat mendukung dengan keberadaan alat ini tapi sosialisasinya masih kurang. Informasi seperti ini harusnya disebar agar diketahui sivitas akademika Unhas. “Kurangnya sosialisasi membuat saya pribadi dan teman-teman yang lain baru mengetahui informasi tersebut, jadi harusnya disosialisasikan secara merata diseluruh area Unhas, dengan memajang informasi berupa pamflet,” harap mahasiswi jurusan biologi ini<br />Mesin penjernih itu nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air minum di Unhas. Dalam satu jam misalnya, mesin tersebut dapat menghasilkan seribu liter air bersih. Menurut Anwar, teknisi water purifier, air hasil olahan mesin itu lebih bagus daripada air galon yang kerap dijajakan di depot air bersih. “Malah menurut teknisi dari Depkes, yang memasang alat ini, air olahannya lebih bagus dari air aqua,” kata Anwar. Hanya saja, hal itu belum terbukti benar. Pihak Unhas sendiri belum melakukan penelitian tentang kemurnian air hasil olahan mesin tersebut. Meski saat ini sebagian karyawan rektorat telah mengkonsumsinya.<br />Selain itu, yang jadi soal dari mesin tersebut adalah limbah hasil olahannya. Air yang bisa diolah sebanyak empat ribu liter akan menghasilkan kotoran atau limbah sebanyak dua ribu liter. Limbah ini nantinya disimpan dalam satu bak penyimpanan, atau langsung dialirkan ketempat sekitarnya. “ Saya kira sisa air itu tidak berbahaya, kita bisa langsung menyiram tanaman atau mencuci kendaraan dengan air buangan itu,” kata Anwar. <br />Ironisnya, seluk beluk kehadiran mesin water purifier itu tak banyak yang tahu. Sejumlah pegawai teras yang langsung mengurusi alat itu, tak tahu menahu latar belakang pemberian alat tersebut. Drs Halim Doko Msi misalnya, selaku Kepala Biro Umum Unhas. Halim. Halim mengatakan belum mengetahui bagaimana awalnya sehingga ada bantuan ini. Kemungkinan besar rektor sendiri yang bicara langsung dengan menteri kesehatan soal ini. “Saya juga cuma menerima, karena tiba-tiba ada, ya kita fasilitasi,” ungkapnya. (M08,ASR/Dyt)<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-3815276367157714182?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-55737041024187571132009-06-04T00:20:00.000-07:002009-07-07T16:41:18.839-07:00Solusi Jitu Mencari Jurnal InternasionalDapat tugas mencari jurnal internasional? Ataukah anda perlu referensi jurnal internasional? Tak perlu pusing, apalagi bingung. Unhas telah menyediakannya untuk anda civitas akademika.<span class="fullpost"> <br /><br />Menjelajahi dunia maya untuk mencari jurnal internasional, tentu saja tak semudah mencari artikel biasa. Dibutuhkan kejelian dan fasilitas yang mendukung. Diantara fasilitas yang paling dibutuhkan sivitas akademika demi kelancaran pencarian jurnal adalah database jurnal elektronik. <br />Oleh karena itu, Oktober tahun lalu Unhas membeli dua database Jurnal Elektronik seharga 200 juta rupiah. Sayangnya, kehadiran Jurnal Elektronik ini belum banyak diketahui sivitas akademika. Mungkin karena penempatannya yang kurang tepat atau sosialisasi yang belum berjalan. Entahlah, yang jelas fasilitas ini diperuntukkan bagi seluruh civitas akademika. <br />Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa ruang Divisi Pelayanan Informasi dan Teknologi yang letaknya bersebelahan dengan ruang Perpustakaan Pusat tak kunjung difungsikan pasca renovasi. Jawabannya adalah komputer yang ada dalam ruangan tersebut dipindahkan ke ruangan yang berada di sebelahnya, ruang tersebut diberi nama Ruang Layanan Elektronik Jurnal.<br /> Dalam ruangan tersebut, terdapat 50 unit komputer. Kesemua computer tak dapat digunakan untuk membuka situs sesuai keinginan penggunanya, melainkan hanya dapat membuka situs www.proquest.com. Dalam situs ini terdapat puluhan ribu judul jurnal penelitian yang dapat diakses secara bebas. <br />Bagi mahasiswa atau dosen yang membutuhkan bahan dari jurnal sebagai referensi dalam perkuliahan, hal ini tentunya menjadi sebuah kabar gembira. Mereka tak perlu lagi membaca bertumpuk-tumpuk jurnal di perpustakaan, tapi cukup datang ke Ruang Pelayanan Jurnal Elektronik.<br /> Sementara bagi yang tak ingin repot datang ke perpustakaan, mereka tetap bisa mengakses Jurnal Elektronik melalui laptop, asalkan masih berada dalam area hotspot Unhas. Namun sebelumnya, mereka harus datang ke perpustakaan terlebih dahulu untuk meminta passwordnya pada operator ruangan. Password tersebut dapat diperoleh secara gratis.<br /> Kepala UPT Perpustakaan, Dr Noer Jihad Saleh MA menuturkan, fasilitas ini sengaja disediakan untuk meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan. Apalagi, seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan Informasi dan Teknologi (IT) tak bisa dibendung lagi. “Selain karena tuntutan institusi, Jurnal Elektronik juga disediakan sebagai salah satu syarat untuk menuju World Class University,” tutur Noer Jihad ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/05).<br />Kembali lagi ke masalah klasik, dimana seringkali sebuah fasilitas baru yang belum familiar karena kurang sosialisasi. Begitupun yang terjadi pada kehadiran Ruangan Pelayanan Jurnal Elektronik yang masih belum banyak diketahui oleh warga kampus. <br />Contohnya saja, Dirwan Muchlis, mahasiswa pascasarjana yang sering membaca jurnal di perpustakaan mengaku belum mengetahui adanya fasilitas tersebut,“Saya belum tau kalau sekarang Unhas menyediakan layanan Jurnal Elektronik. Selama ini saya hanya membaca jurnal di perpustakaan,” ungkap Dirwan.<br />Hal senada diungkapkan Ruslan, mahasiswa Fakultas MIPA angkatan 2005 ini sering memasuski Ruangan Layanan Elektronik Jurnal. Namun tak pernah mengakses fasilitas yang tersedia karena ketidaktahuannya. “Saya cuma membuka situs lain untuk mencari bahan kuliah dengan menggunakan komputer yang tidak dilengkapi dengan fasilitas Jurnal Elektronik,” papar mahasiswa Jurusan Fisika ini.<br /> Sementara itu, Dr. dr. Muhammad Akbar, SpS.PhD, ketua Panitia Penyediaan Barang dan Jasa dalam hal Jurnal Elektronik ini menyesalkan lambatnya sosialisasi kepada sivitas akademika mengenai fasilitas ini. Sebab bagaimana pun, fasilitas ini sama sekali tak bermanfaat jika sekedar jadi pajangan tanpa pernah disentuh. <br />“Kalau sampai saat ini ruangan tersebut belum juga dilaunching, untuk apa kita membuang-buang uang 200 juta rupiah? Banyak atau sedikit mahasiswa yang menggunakan, bayarannya tetap sama. Karena itu, sangat disayangkan jika ruangan tersebut belum juga dilaunching,” papar Akbar.<br /> Akbar juga mengaku baru saja menerima surat permintaan agar Jurnal Eektronik yang masanya akan berakhir Oktober mendatang ini diperpanjang. Namun pihaknya keberatan jika yang sebelumnya saja belum dimanfaatkan secara optimal. Apalagi ada rencana kelak biaya perpanjangan Jurnal Elektronik ini akan diperbanyak menjadi 500 juta rupiah dan databasenya ditambah.<br />Menjawab berbagai keluhan terkait fasilitas baru tersebut, Noer Jihad sendiri mengatakan sebentar lagi ruangan tersebut akan dilaunching, tinggal menunggu waktu yang tepat dan disesuaikan dengan jadwal rektor.(Nay/Hry)<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-5573704102418757113?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-73735389946315850382009-05-26T20:53:00.000-07:002009-07-07T16:42:13.744-07:00Tak Disangka Terjerat DORoy (samaran) gelagapan, bercucuran keringat dingin. Bibirnya gemetar. Matanya memelototi sebuah surat keputusan<br /> drop out (DO).<span class="fullpost"> Roy, Mahasiswa Jurusan <br />Roy, Mahasiswa mesin mengetahui dirinya di DO, Jumat (10/04), dari Fakultas Teknik (FT). Ini mengejutkan baginya. Melihat SK Rektorat tertanggal 18 September 2007, No. 2172/H4/P/2007, mahasiswa angkatan 2005 ini pun memprotes atas keputusan itu. “Kenapa saya di DO pak?” tanyanya menggerutu pada Ketua Jurusannya, Amrin Rapi ST MT.<br />Roy yakin terjadi kekeliruan terhadap keputusan rektorat itu. Ia yang kini menginjak semester delapan ini mengaku telah bebas DO pada evaluasi empat semester FT 2007 silam. Tapi lebih jauh, Tian tak ingin banyak bicara. “Dengan senang hati saya menolak untuk di wawancarai, karena berbagai alasan dan pertimbangan. Ini menyangkut masa depan saya dan keluarga pun melarang” ujar Roy<br />Untuk itu, Amrin meminta Roy untuk mengumpulkan bukti, dari jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) hingga Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang didapatkan. menurut Amrin, “Kalau memang terdapat kesalahan tetap akan diklarifikasi. Nanti kalau cukup bukti, kita baru sama-sama ke Pembantu Dekan I,” tambahnya.<br />Roy memang telah dinyatakan bebas DO oleh pihak FT. Hamzah Tajuddin selaku Kepala Sub Bagian Akademik FT mengatakan, Roy telah mencapai 48 SKS, ini dapat dilihat dari program mata kuliah yanh dilulusinya. Hamzah juga kaget melihat keputusan rektor yang men-DO Roy dengan jumlah SKS yang tidak mencukupi, yakni 39. Selidik punya selidik, Hamzah menemukan kekeliruan itu: Roy pernah memprogram Semester Pendek dengan 12 SKS. “Rektorat tidak menginput 12 SKS Roy, itu sebabnya ia di DO,” ujar Hamzah. Kesalahan bisa saja terjadi, itu diakui Pembantu Rektor I, Prof Dadang Ahmad Suriamiharja MEng. Guna menyelesaikan masalah ini, Dadang menyarankan, kalau FT dapat membuktikan Roy tidak di DO, SK Rektor bisa diperbaharui.<br />Lembaga mahasiswa setingkat Himpunan pun turut andil. Perannya cukup penting dalam mengurus kasus mahasiswa yang terancam DO. Agung Wijaya, mantan Ketua Badan Musyawarah Himpunan Mahasiswa Mesin mengatakan, sebelum keluarnya SK DO evaluasi empat semester, dirinya terlebih dulu bertemu muka dengan Birokrasi FT, mencari tahu nama-nama mahasiswa yang bakalan dikenai DO. Untuk masalah Roy yang pernah diurusnya, Agung menegaskan ia tidak layak di DO. “Roy sudah menjalani delapan semester, itu buktinya namanya tidak digaris merah (drop out, red) di jurusan,” ujar Agung.<br />Kesalahan ini juga merupakan bukti kelalaian administrasi, tambah Agung. Ini menyangkut masa depan mahasiswa, tak dapat ditolerir dengan kesalahan fakultas yang mungkin terlambat mengirim data ke pusat (rektorat, red).<br />Dari penelusuran identitas terhadap pendataan akademik Jurusan Mesin, SKS Roy sudah menggapai 48 SKS dalam empat semester, “Semua data berbentuk nilai sudah dikirimkan ke rektorat,” tutur Mansur, Staf Pegawai Akademik FT yang bertugas membawa nilai itu. Kalau ada perbedaan antara fakultas, jurusan dan rektorat itu akan di-cek lagi pendataannya, dengan harapan kedepannya tidak lagi ada masalah seperti ini. n<br />Nti,M02/Tin<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-7373538994631585038?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-76490232497116731052009-05-26T20:43:00.000-07:002009-05-26T20:51:21.571-07:00Bau Toilet Masih MenyengatKotor,bau, dan tidak layak pakai bahkan rusak berat. Begitulah kata yang bisa menggambarkan kabar sebagian besar toilet Unhas saat ini.<br /><span class="fullpost"> Ungkapan yang mengatakan bahwa jika ingin mengetahui dimana letak toilet di Unhas, sebaiknya dicari dengan meggunakan hidung mungkin benar adanya. Sebab kondisi toilet di beberapa fakultas di universitas yang konon kabarnya menuju World Class University ini masih sangat memprihatinkan.<br />Coba saja berjalan di area FIS, seperti di Fakultas Ekonomi, Hukum, dan sastra. Bau menyengat akan segera menghinggapi hidung apabila melintas di area toilet di beberapa fakultas tersebut. <br />Menjumpai pintu sebagai alat penutup toilet yang rusak, keran air yang patah, cermin yang pecah, wastafel yang tidak berfungsi, bahkan terkadang air tidak mengalir hingga wc buntu merupakan pemandangan yang biasa namun menyesakkan di daerah FIS tersebut.<br />Lantas apakah akar masalahnya hingga toilet tak dapat difungsikan dengan nyaman? siapa yang bertanggung jawab terhadap rusaknya salah satu fasilitas yang paling penting itu? <br />Menurut Afrianti, seorang mahasiswi jurusa Sastra Prancis angkatan 2004, Air yang tidak mengalir dengan baik disinyalir sebagai salah satu penyebab toilet yang bau sedangkan kerusakan lainnya tak lain disebabkan oleh prilaku pemakai yang kurang bertanggungjawab. “dimana-mana rusak. Itu semua gara-gara sebagian orang yang menggunakan toilet tidak bisa menjaga kebersihan,” ungkapnya gamblang.<br />Di tempat berbeda, Afrianti Annete yang merupakan mahasiswi fakultas ekonomi sangat menyayangkan kondisi toilet unhas yang kotor dan tidak layak digunakan. Ia bahkan tidak mau menggunakan toilet di Unhas. “saya tidak mau menggunakan toilet Unhas karena kotor, bau, yang bisa jadi sarang penyakit, untungnya selama ini saya tidak pernah merasa kebelet untuk ke toilet jadi saya biasa melakukannya di rumah atau di tempat lain yang lebih bersih seperti mall dan pusat perbelanjaan terdekat dari kampus.” Tegasnya.<br />Walaupun demikian ia tetap merasa bahwa semua pihak bersalah karena tidak dapat menggunakan dan merawat toilet secara bijak.<br />Menanggapi fenomena toilet yang menjadi masalah dari tahun ke tahun, Drs. Jursum selaku Kabag Perlengkapan Unhas menuturkan, kerusakan yang terjadi sementara ini telah ditangani, beberapa fakultas bahkan melakukan perbaikan sendiri. <br /> Selanjutnya Jursum memaparkan mengenai penyebab kerusakan dan bau busuk tersebut selain karena ada beberapa toilet yang usianya sudah lama juga disebabkan oleh air yang bersumber dari workshop terlambat mengalir di beberapa fakultas tertentu. Karena keran air dialirkan secara bergantian dari fakultas yang satu ke fakultas lainnya. Beberapa fakultas terkadang harus menunggu giliran.<br />Sementara untuk masalah adanya beberapa toilet yng terkunci, Seperti yang dilakukan terhadap beberapa toilet di jurusan Sastra Prancis FIB. H Baharuddin S Sos selaku Kasubag Perlengkapan FIB mengungkapkan bahwa penguncian pintu toilet bukan karena dikhususkan bagi dosen, tetap untuk umum. Namun ada petugas yang memegang kunci. Apabila mau menggunakan harus meminta ijin pada petugas yang ditunjuk. <br />Kas/Hry<br />Data Keadaan Toilet Unhas<br />No. Lokasi Jumlah Keadaan<br /> baik Peralatan Rusak Tak Berfungsi Terkunci<br />1 Rektorat 19 18 1 0 0<br />2 Ekonomi 4 2 2 0 0<br />3 Hukum 2 2 0 0 0<br />4 FIB 6 1 1 2 2<br />5 FISIP 8 3 2 1 2<br />6 Kedokteran 18 18 0 0 0<br />7 FKG 9 <br />8 FKM 6 4 2 0 0<br />9 MIPA 9 2 2 2 3<br />10 Farmasi 5 <br />11 Teknik 19 9 6 0 4<br />12 Pertanian 5 3 1 0 1<br />13 Peternakan 6 2 2 1 1<br />14 FIKP 8 7 1 0 0<br />15 PascaSarjana 9 8 1 0 0<br />16 PKP 41 38 3 0 0<br />17 PB 0 0 0 0 0<br />18 MKU 4 1 1 0 2<br />19 Perpustakaan Unhas 5 1 0 0 4<br />Total 183 119 25 6 19<br />Sumber Bagian Rumah Tangga & Perlengkapan<br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-7649023249711673105?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-24768293146874798492009-05-26T20:26:00.000-07:002009-05-26T21:00:48.548-07:00Dekan Terpilih Tersandung Aturan MenteriDekan FMIPA dan FIB yang sudah terpilih akhirnya dilantik, setelah dipilih ulang lewat anggota Senat Fakultas. <span class="fullpost">Lantai 1 Gedung Rektorat Unhas tampak ramai. Jumat siang (08/05), di ruang persegi empat itu, sedang berlangsung acara pelantikan kepada, Prof Dr Abdul Wahid Wahab, MSc selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) dan Prof Dr Burhanuddin Arafah M Hum selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Hari itu, wajah kedua nahkoda itu berbinar-binar. Bagaimana tidak, kemenangan mereka di tingkat dosen sebelumnya sempat tersandung lantaran adanya aturan baru dari menteri pendidikan soal pemilihan dekan yang harus dilakukan di tingkat senat fakultas. Padahal, persaingan akbar sudah digelar untuk memenangkan kursi nomor satu di tingkat fakultas. Untung, saat pemilihan ulang di level guru besar, kedua dekan terpilih itu, kembali mendominasi suara anggota senat di fakultasnya. <br />Tampaknya, perjalanan menuju kursi dekan itu penuh liku. Prof Wahid Wahab, Dekan FMIPA periode 2009-2013 misalnya. Ia harus bersaing ketat dengan tiga calon rivalnya, yakni Dr Hanapi Usman MS dari Jurusan Kimia, Dr Dirayah Rauf Husain, DEA dari Biologi, serta Dr Wira Bahari Nurdin mewakili Jurusan Fisika, pada 10 Februari 2009 lalu. Pada putaran awal, suara tertinggi diperoleh oleh Prof Wahid dengan raihan suara sebanyak 53 suara, disusul oleh Dr Hanapi sebanyak 44 suara, kemudian Dr Dirayah 23 suara, dan Dr Wira 1 suara. Seminggu kemudian, kedua calon dengan suara terbanyak kembali bertarung dalam putaran kedua tepatnya pada 17 Februari. Hasilnya, Prof Wahid kembali unggul dengan perolehan suara 69. Sedangkan Dr Hanapi mendapatkan 54 suara. <br />Namun, beberapa hari setelah pemilihan, Dekan FMIPA periode 2005-2009, Prof Dr Alfian Noor MSc, menerima Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2008 tanggal 29 Oktober 2008 tentang pengangkatan dan pemberhentian dosen sebagai pimpinan perguruan tinggi dan pimpinan fakultas. Prof Alfian mengatakan, dalam Permendiknas tersebut dijelaskan pada pasal 9 ayat 1 bahwa pemberian pertimbangan calon Dekan dan Pembantu Dekan dilakukan melalui rapat senat fakultas yang diselenggarakan khusus untuk maksud tersebut. “Berarti sejak tanggal disahkannya Permendiknas ini, pemilihan dekan pada perguruan tinggi tidak boleh lagi dilakukan oleh kalangan dosen (sebagaimana yang telah dilakukan FMIPA), melainkan dilakukan oleh senat fakultas,” jelas Alfian. <br />Dengan adanya aturan baru ini, Senat Universitas pun akhirnya meminta Alfian untuk menggelar pemilihan ulang. Tak pelak, hal itu membuat kondisi internal FMIPA kembali memanas. Mulai dari ketatnya persaingan sampai bagaimana penetapan mekanisme pemilihan dilakukan di tingkat senat fakultas? Tapi anggota senat FMIPA sepertinya tak mau “susah payah.” Dua calon dengan perolehan suara tertinggi pada hasil pemilihan awal, disetujui menjadi calon pada pemilihan yang dilakukan oleh 28 anggota senat FMIPA. Hasilnya, Prof Wahid mendapatkan 15 suara sedangkan Dr Hanapi 11 suara. <br /><br />Sedikit Kontroversial<br /><br /> Berbeda dengan FMIPA, pemilihan ulang dekan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mendapat serotan dari salah seorang anggota senat, Prof Dr Abd Hakim Yassi, MA. Model penyesuaian seperti yang diterapkan pada FMIPA, yang langsung menetapkan kandidat dekan berdasarkan pada hasil pemilihan dekan sebelumnya, dianggap sedikit menyalahi aturan baru menteri itu.. <br />Prof Hakim menilai, FIB sama sekali tidak mengadakan pemilihan ulang sebagaimana kehendak Permendiknas, melainkan hanya melakukan penyesuaian rasio persentase terhadap hasil yang diperoleh pada pemilihan dekan yang dilakukan pada Kamis, (26/02) lalu. Ini dilakukan berdasarkan surat dari rektor melalui Badan Pengurus Harian (BPH) Universitas. Rektor meminta melakukan penyesuaian saja. “Inilah yang menjadi kontroversi pada saat rapat senat fakultas, yang dilakukan hanya penyesuaian bukan pemilihan yang jelas sehingga hanya memodifikasi aturan menteri dan menurut saya itu salah,” papar Hakim yang juga Kepala Program Studi Sastra Inggris Pasca Sarjana.<br /> Karena sebagian besar senat FIB setuju dilakukan penyesuaian, maka pada Rabu (8/4), dua calon yang terpilih pada pemilihan dekan dengan perolehan suara terbanyak pada suksesi sebelumnya, yakni Prof Dr Burhanuddin Arafah, MHum dan Dr Etty Bazergan, MEd, dijadikan bakal calon pada pemilihan dekan di tingkat senat. Namun Prof Dr Burhanuddin kembali memenangkan suara anggota senat FIB.. <br /> Menanggapi hal itu, Pembantu Rektor I Unhas, Prof Dr Dadang A. Suriamiharja, M Eng mengatakan, apa yang dilakukan oleh senat FIB maupun senat FMIPA telah menempuh jalan yang benar. Keduanya telah mengikuti permintaan Permendiknas. “Kedua fakultas memang telah melakukan pemilihan masal oleh dosen. Tapi itu kan semacam penjaringan. Nanti hasilnya diputuskan oleh senat fakultas. Jadi, tidak serta merta hasil keputusan dosen yang diterima. Melainkan ditimbang-timbang dulu,” jelas dosen FMIPA ini.(Iam/Dyt)<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-2476829314687479849?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-82420076870424118322009-05-06T21:24:00.000-07:002009-05-06T21:25:25.255-07:00HI-Fest, Festival Anti GlobalisasiRabu (22/4), pelataran Baruga A P Pettarani tampak berbeda. Kain putih penuh tulisan anti globalisasi terbentang mengelilingi tempat tersebut. Kala itu Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) mengadakan Festival Anti Globalisasi.. Festival yang mengusung tema “Menghadirkan Sebuah Dunia yang Lebih Indah dari Sepetak Ruang yang Terpinggirkan” ini diisi beberapa acara, seperti diskusi publik, pemutaran film independent, pameran foto dan café bace. “ Kegiatan ini bertujuan agar globalisasi tidak dianggap sebagai fenomena yang alamiah. Namun merupakan fenomena yang telah dikonsep sebelumnya oleh sejumlah kelompok,” ujar Hasrul, ketua panitia. (M03) <span class="fullpost"><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-8242007687042411832?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-18560795139048573852009-05-06T21:19:00.000-07:002009-05-06T21:21:53.556-07:00Diskusi Terbuka tentang BHPDiskusi Terbuka tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP ) kembali digelar. Kali ini Rabu (22/4), giliran ETNIC 06 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang menyelenggarakannya. Sebuah komunitas dari mahasiswa FIB angkatan 2006 ini menggelar diskusi dengan tema “kukabarkan cita untuk kita”. Sekitar 50 mahasiswa yang hadir. Mereka terdiri dari mahasiswa FIB, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Diskusi yang bertempat di depan Aula Mattulada ini membicarakan tentang sosialisasi BHP yang masih minim pada tingkatan mahasiswa. “ Saya harap dengan adanya diskusi ini dapat memberi pemahaman dan mampu membuka kesadaran mahasiswa terhadap BHP,” ujar Soren selaku Moderator diskusi itu.(M22) <span class="fullpost"><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-1856079513904857385?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-87974591244659595462009-05-04T01:42:00.000-07:002009-05-04T02:16:53.903-07:00Mahasiswa dan Polisi Bentrok Lagi<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.identitasonline.net/uploaded_images/Online-761435.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 209px;" src="http://www.identitasonline.net/uploaded_images/Online-761371.jpg" border="0" alt="" /></a><br /><span class="fullpost"> Aksi Mahasiswa Makassar menolak Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) di kantor Gubernur Sul-sel berakhir ricuh. Senin (4/5). Bentrokan mahasiswa dengan polisi tak bisa ter elakkan setelah mahasiswa mencoba memasuki kantor gubernur untuk bertemu dengan Syahrul yasin limpo gubernur Sul-sel. Sebanyak 65 Mahasiswa di tahan dalam aksi ini. <br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-8797459124465959546?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-83990592418116447082009-05-02T00:30:00.000-07:002009-05-03T17:03:14.936-07:00JK Hadiri Pencanangan Fakultas Teknik di Gowa<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.identitasonline.net/uploaded_images/Blog-1-777683.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://www.identitasonline.net/uploaded_images/Blog-1-777666.jpg" border="0" alt="" /></a><br /><span class="fullpost"><br />Wakil Presiden H Muh Jusuf Kalla (JK) melihat master plan Fakultas Teknik Gowa, Sabtu (2/5). Pembangunan ini diharapkan bisa menjadi pusat pengembangan teknologi di kawasan Indonesia Timur. <br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-8399059241811644708?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-60576191577828849272009-04-29T00:26:00.000-07:002009-04-30T16:54:11.385-07:00Disini Coret, Disana Coret, Dimana-mana Ada CoretBanyak coretan disana sini. “Tolak, Cabut UU BHP”. Ini jadi buah bibir macam kalangan.<span class="fullpost"><br />Mata laki-laki itu memerah. Corak wajahnya, pun demikian sama. Nada suaranya tinggi, menampakkan kekesalan yang dalam. Mengenakan stelan pakaian berwarna biru, laki-laki itu bernama Bambang. Kepala satuan Pengamanan (Satpam) Unhas ini mendongkol dengan perlakuan mahasiswa yang corat-coret dinding.<br /> Tiga pekan belakangan ini (27/04), di kampus Unhas sedang marak terjadi aksi coret-coretan dinding yang dilakoni oknum mahasiswa. Tak diketahui siapa pelakunya. Mahasiswa melakukannya secara diam-diam. Santer, gerak-geriknya pada malam hari.<br /> Kini pemandangan itu jelas terlihat di beberapa areal: Fakultas Mipa, Peternakan, Teknik, Ekonomi, Ilmu Budaya, Hukum sampai Gedung Perpustakaan Pusat. “Boleh saja mahasiswa aksi protes, tapi dilakukan dengan cara yang beretika. Jangan malah merusak fasilitas kampus,” ujar Bambang mengharap. Karena itu Bambang bertekad lebih meningkatkan lagi patroli malam. “Saya tak ingin kecolongan lagi,” tambahnya.<br /> Sementara, melalui penelusuran identitas, menemukan seorang mahasiswa yang mengaku sebagai pelaku aksi pencoretan itu, sebut saja namanya Rahmat (Samaran). Ia menuturkan, aksinya itu sebagai bentuk kegelisahan, sebabnya, suaranya tak pernah didengar oleh pihak Birokrat Kampus. Mahasiswa angkatan 2006 ini juga tak sendiri melancarkan aksinya. Ia tergabung dalam suatu komunitas yang tak mau disebutkan. Rahmat dan teman-temannya merasa kecewa. “Kami sudah lelah berteriak lantang, pada akhirnya suara kami tak pernah didengarkan,” kata Rahmat, geram.<br /> Menanggapi itu, Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan, Ir Nazaruddin Salam MT mengernyitkan dahi. “Pintu ruangan saya selalu terbuka bagi mahasiswa yang ingin berdialog,” tuturnya, ramah. Nazaruddin menyahut bahwa ia tak pernah menutup telinga akan uneg-uneg mahasiswa. Pokoknya tak pernah tertutup jalan, marilah berdialog, tambahnya mengajak. Namun satu hal tuntutan yang bikin mantan Pembantu Dekan II dan III Fakultas Teknik ini dilema. “Jika aksi mahasiswa sudah berhubungan dengan UU BHP, saya tak bisa berbuat apa-apa,” katanya. BHP adalah keputusan pemerintah, itu dibahas di DPR, bukan keputusan saya pribadi atau pun Rektor, tambahnya lagi. Lebih lanjut, Nazaruddin siap memfasilitasi mahasiswa melawan dengan cara hukum (Red; Yudisial Review) terhadap UU BHP ke Mahkamah Konstitusi.<br /> Soal aksi coret-coret itu, Pak Naz, sapaan akrabnya, menghimbau mahasiswa agar gunakan cara yang baik, bukan dengan merusak fasilitas kampus. Ia pun tak segan memberikan sanksi skorsing apabila pelakunya tertangkap basah. Seyogianya, mahasiswa perlu diberi ruang yang besar dalam berkreativitas, baik dalam aksi ataupun belajar. Hal ini tuntutan bagi Dr Khusnul Yaqin. Sebagai mantan aktivis mahasiswa Unhas tahun 90-an, Khusnul pun pernah mengalaminya. Meskipun berbeda zamannya, Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan ini masih menganggap tetap saja masih ada hal yang relevan dibicarakan.<br /> “Tindakan represif mahasiswa mesti dibangun secara persuasif oleh birokrat kampus,” kata Khusnul. Tentunya, bagi birokrat sebagai pihak yang ditekan, sepatutnya pula instropeksi diri bahwa ada yang salah dengan sistem hari ini, tambah Khusnul. Soal coret-coret itu, sebagai dosen, dari kacamatanya ia menganggap itu salah. Beda, untuk kacamata gerakan itu merupakan dinamikanya, tanggap Khusnul. Dalam hal belajar, perluasan yang dimaksud Khusnul mengenai perbaikan fasilitas akademik, semisal laboratorium dan sebagainya. Sehingga rasa frustrasi mahasiswa itu dengan senangnya dapat dituangkan melalui kreativitasnya di ruang akademik.<br /> Karena ini, Bambang beserta pihaknya tak kunjung raib perasaan resahnya. Ia tetap mewanti-wanti pelaku pencoretan itu. Cukup melelahkan pula bagi Bambang. “Kami mencat kembali dinding-dinding yang telah dicoret itu, sesaat kemudian muncul lagi coretan baru ditempat lain,” tutur Bambang kesal. (Nay/Tin)<br /> <br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-6057619157782884927?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-1012467793334097952009-04-29T00:23:00.000-07:002009-04-30T16:59:20.374-07:00Warisan Reso Berbau NepotismeSetahun silam program Reguler Sore di Unhas ditutup. Lalu untuk menutupi kuota, PMS dibuka. Setelah pengumuman kelulusan, budaya letjen yang dulu kerap terkadi di reso, rupanya berbaur di PMS<span class="fullpost"><br />Masih ingatkah anda dengan salah satu jalur tes masuk Unhas yang berlabel Penerimaan Mahasiswa Susulan (PMS) ? Sebuah jalur tes yang ke enam ini menyisakan sepenggal kasus berbau nepotisme di Fakultas Hukum (FH). Dari beberapa ribu pendaftar PMS , hanya 1200 yang lulus. Diantara 1200 peserta, kurang lebih 900 orang yang mendafttar ulang. <br />Adanya kekosongan kuota ini rupanya digunakan oknum dosen FH, untuk memasukan mahasiswa yang tidak lulus, menjadi mahasiswa resmi di FH. Sekitar sebelas mahasiswa yang namanya tidak tercantum dalam daftar kelulusan PMS, yakni Wyd, Mwr, Alf, Fsl, Kmd, Wyn, Jwd, Nrl, Adr, Amr dan Hna ( Inisial). Ternyata saat semester awal periode 2008/2009, meski belum mendapat Nomor Induk Mahasiswa (Nim), mereka dapat berlenggak-lenggok mengenyam pendidikan kuliah. Bagaimana bisa ?<br />Ya… tentunya selain didukung dengan kemampuan finansial, juga harus memiliki orang dalam. Misalnya saja Mwr, meski tak lulus jalur PMS ia mencoba menempu jalur lain. Jalur yang entah namanya apa, tetapi yang jelas jalur ini diluar jalur SNMPTN, UMB, JNS, JPPB, POSK dan PMS. Jalur yang lazim disebut letjen ( lewat jendela, red) <br />Berbekal memiliki kerabat salah seorang dosen di FH yakni Ksr (Inisial), ia pun yakin bisa menjadi mahasiswa legal di FH. Mwr sangat percaya pada dosen itu, untuk biaya penerimaan mahasiswa baru, ia menyerahkan sejumlah uang sebebsar 5,6 juta rupiah ke Ksr. Alhasil ia pun mulai menjalani kuliah. <br />Berjalan satu semester, secara bertahap lima teman seperjuangannya telah mendapatkan nim, yakni Wyd, Alf, Fsl, Amr, dan Hna. Sementara ia dan lima rekannya tak kunjung mendapatkan nim. Iapun mulai mempertanyakan masalah ini pada pengurus yang ia percayai dan Ksr memintanya untuk tetap menunggu dan bersabar. Akibatnya pada saat pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS) di semester II, ia bersama temannya tidak diperbolehkan mengisi KRS. Berbeda pada saat semester I yang masih dimaklumi.<br />“ untuk semester awal mereka masih diperbolehkan mengurus KRS. Karena nim sepuluh mahasiswa tersebut masih dalam pengurusan. Sementara pada semester kedua, kami tidak memperbolehkan karena dia tak punya nim, ” ungkap Dra Sari Bulan, Kasubag akademik FH. dalam kondisi yang serba tak pasti pun, munawir masih tetap percaya pada Ksr. Meski tak mengurus KRS Ia pun kembali melayangkan goceknya sebesar 2,5 juta rupiah ke tangan Ksr untuk biaya SPP semester II. <br />Menjalani semester genap, hingga dua belas kali pertemuan, ia tetap semangat mengikuti perkuliahan. Sampai akhirnya ia merasa lelah menunggu dan bersabar. Ia pun mempertanyakan masalah ini pada Pembantu Dekan I FH Prof Dr Muh Guntur SH MH. Menurut pengakuan Mwr, PD 1 tak berjanji bisa menyelesaikan masalahnya. Namun hanya dapat mengusahakan.<br />Waktupun kian bergulir , harapan akan sebuah Nim nampaknya pupus dimakan waktu. Diduga ketidaklolosan Mwr, karena kurang agresifnya Ksr dalam melobi birokrasi universitas. Hingga akhirnya masalah ini terendus Komisi Displin (Komdis) FH. Ksr yang gagal meloloskan Mwr dipanggil Komdis Fakultas untuk diminta keterangan. Pasalnya selain terlibat kasus Mwr, beberapa tahun silam pada program Resguler Sore (Reso), Ksr yang menjabat sebagai Sekertaris Program S1 Non Regular FH, juga diduga terlibat Kasus Penggelapan Dana.<br />Berbeda dengan lima orang teman seperjuangan Mwr, kini kelima temannya itu telah dapat mengikuti kuliah dengan aman dan lancar. Pasalnya lembaran Surat Keptusan (SK) Rektor No 3086/H4/PP.36/2008 tentang Penerimaan Mahasiswa Baru melalui PMS telah keluar (November 2008) dan melegalkan status mereka, dari mahasiswa Letjen menjadi mahasiswa pada umumnya. <br />Sementara Mwr sendiri harus berlapang dada menerima kenyataaan, bahwa ia telah gagal mengeyam pendidikan kuliah di FH. Padahal menurut pengakuan oarng tua Mwr, biaya yang dikeluarkan untuk meloloskan anaknya sekitar semibilan juta rupiah. Sementara menurut Ksr, seluruh dana yang ia terima, baik itu menyangkut biaya penerimaan mahasiswa baru maupun SPP, ia telah serahkan ke bagian akademik fakultas untuk diproses.<br /><br />Dilegalkan karena Kerabat Dosen<br />Proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur siluman ini ternyata tidak lepas dari campur tangan jajaran birokrat fakultas dan universitas. Dimulai dari aktor- aktor fakultas yakni dosen yang kali pertama melakukan lobi-lobi ditingkatan fakultas, untuk calonnya diusulkan mengisi kuota kosong itu. Lalu dengan berbagai pertimbangan, saran ini ditanggpai oleh dekan agar diususulkan ke tingkatan universitas.<br />Dari rekomendasi dekan, Selanjutnya didisposisikan Kabiro Akademik ke bagian registrasi ulang, untuk ditindak lanjuti. Setelah melalui proses administarsi yang rumit, sebagai bukti telah mengetahui proses ini akhirnya rekomendasi itu sampai di tangan Pembantu Rektor (PR) I untuk diparaf. Kemudian dari Tangan PR I sampailah pada Rektor, guna mengesahkan rekomendasi itu menjadi SK. <br />Dari sepuluh mahasiswa jalur letjen ini umumnya ,mereka berasal dari kerabat dosen. “ kalau ada kursi yang kosong, maka anak dosen atau professor yang tidak lulus jalur lazimnya, maka berkesempatan untuk diusulkan ke tingkat Universitas,” ujar PD I FH. Tak hanya itu Guntur juga menambahkan, kalau hal itu dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap dosen yang telah bertahun-tahun mengabdi di Unhas.<br />Mendengar hal ini PR I Prof Dadang A Suriamihrja angkat Bicara. Tak berkilah dengan jelas ia mengakui adanya penyimpangan ini. “ PMS Warisan dari Reso, Penerimaannya tidak Begitu ketat, jadi kalau ada usulan dari fakultas, ya kita lanjutkan,” ungkap Dadang. <br />Hal ini tentunya sangat disayangkan. Sebab sudah jelas ada penyimpangan, tapi kenapa harus ikut larut terbawa arus. Apalagi proses penerimaannya cenderung ditutupi, ditambah lagi mahasiswa yang tidak lulus seleksi PMS ini dilegalkan dengan SK penerimaan mahasiswa lulus PMS . “ Kita tahu kualitas mereka dibawah rata-rata, tetapi untuk menonaktifkan jalur ini sulit. Karena semangat lama masih ada. Warisan Reso memang dari dulu seperti itu. Untuk itulah tahun kemarin diintegrasikan Reso dan Reguler Pagi,” Tutur Dadang. <br /><br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-101246779333409795?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-12812034187061085722009-04-29T00:21:00.000-07:002009-05-01T15:51:36.101-07:00Unhas Memangkas Dua Jalur MasukSeperti tahun sebelumnya, tahun ini Unhas tetap menawarkan lebih dari satu jalur masuk. Yang sedikit berbeda di tahun 2009 ini, Unhas memutuskan hengkang dari UMB dan menutup PMS. Ada berbagai alasan dikemukakan bagian akademik atas keputusan tersebut.<span class="fullpost"><br /><br />Penerimaan mahasiswa baru semakin dekat, berbagai upaya dilakukan perguruan tinggi untuk menjaring siswa-siswi terbaik bangsa. Salah satunya adalah membuat jalur penerimaan yang beragam. Unhas misalnya, pada tahun 2008 menyiapkan enam jalur untuk mendapatkan satu kursi di kampus merah ini. Diantaranya Ujian Masuk Bersama (UMB) dan Penerimaan Mahasiswa Susulan (PMS). Akan tetapi, tahun ini pihak Unhas memutus dua jalur penerimaan tersebut.<br />Ada beberapa alasan yang dikemukakan pihak Unhas terkait dengan pemutusan dua jalur masuk tersebut. Alasan utamanya seperti yang dikemukakan Pembantu Rektor I Prof Dr Dadang Suriamiharja bahwa Unhas tidak ingin lagi mengikuti seleksi selain jalur resmi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Jalur resmi yang dimaksud adalah SNMPTN yang dikelola oleh Forum Rektor dengan sepengetahuan Dirjen Dikti. <br />Selain itu, Panitia Unhas juga mengaku jika pengelolaan Ujian Masuk Bersama untuk tahun lalu sangat melelahkan. Apalagi ditambah dengan SNMPTN setelah penerimaan UMB berakhir. Bayangkan saja, pendaftaran UMB membutuhkan waktu sepuluh hari, kemudian dilanjutkan lagi dengan SNMPTN yang juga sepuluh hari. “memang kita ada pemberitahuan dari panitia UMB pusat, akan tetapi kita menolak,” papar Dadang.<br />Selanjutnya mengenai keikutsertaan UMB tahun lalu, Dadang mengatakan jika UMB sebenarnya adalah lanjutan dari SPMB, jadi soal-soal yang ada itu bagus dan tahun lalu Unhas belum terlalu percaya dengan SNMPTN karena baru pertama kali dilaksanakan, tetapi sekarang Unhas sudah mempunyai pengalaman SNMPTN dan pihak akademik sudah yakin dengan pembuatan soalnya. Juga didasarkan pada saran yang dianjurkan oleh Inspektorat Jenderal supaya ikut SNMPTN saja.<br />Sedangkan mengenai jalur PMS, ini tidak dapat lagi dilakukan kerena tidak ada izin untuk jalur yang non reguler. PMS terakhir dilakukan pada tahun lalu dan Unhas tidak akan membuka lagi karena sebenanrya kelas non reguler itu adalah permintaan dari tiap-tiap fakultas. Kalau Unhas mau terima, maka kampus ini akan menjadi penuh sesak, sekarang saja yang terdaftar sebagai mahasiswa strata satu itu sudah 24.000 lebih. Ditambah dengan S2 dan S3, itu semuanya lebih 30.000. padahal kampus ini kapasitasnya hanya 16.000.<br />Berbeda dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar. Tahun ini UIN ikut UMB menggantikan Unhas. Menurut kepala biro akademik UIN Makassar, Drs H M Yusuf Rahim, hanya secara kebetulan UIN ikut, bukan mewakili bagian timur indonesia. “Tahun kemarin kita sebenarnya juga diajak oleh panitia pusat, akan tetapi kita belum siap, nanti pada tahun ini baru bisa ikut. Unhas juga dulunya masuk akan tetapi mengundurkan diri. Kita sudah terlanjur masuk jadi tidak enak juga kalau mundur,” ungkap yusuf.<br />Universitas lain yang tergabung dalam UMB tahun ini adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Jambi, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), UIN Jakarta dan Universitas Syiah Kuala Aceh. <br />Ujian Masuk Bersama untuk tahun ini mempunyai banyak perbedaan dengan tahun lalu. Misalnya saja, cara pendaftarannya tidak lagi dengan menggunakan formulir manual, akan tetapi calon mahasiswa langsung membayar di bank BNI kemudian diberikan PIN untuk mendaftar secara online di www.spmb.or .id. Juga jumlah program yang bisa dipilih ada empat pilihan, akan tetapi tidak boleh satu universitas. Ini berlaku untuk IPA, IPS, dan IPC.<br />Yusuf menambahkan bahwa ini dimaksudkan untuk menyaring calon mahasiswa yang betul-betul memiliki kemampuan, termasuk kemampuan menggunakan teknologi informasi. Jadi nanti tidak ada lagi antrian seperti pendaftaran yang lain, mungkin antriannya hanya di warnet. Akan tetapi kita masih menyediakan tempat pendaftaran di kampus dua UIN untuk memandu calon mahasiswa yang belum mengerti menggunakan internet, terutama calon mahasiswa dari daerah.<br />Ketika diminta komentar dari pihak mahasiswa mengenai hengkangnya Unhas dari UMB. Solihin Bone, dewan pers LPMH sekaligus menteri eksternal BEM Hukum Unhas menuturkan sepakat jika Unhas tidak lagi ikut derngan UMB. Karena UMB hanyalah ego universitas yang selalu mengklaim bahwa dirinya yang terbaik. Selain itu agar tidak ada lagi diskriminasi tiap universitas. Artinya tidak bisa masuk di universitas tertentu kalau tidak tergabung dalam UMB. “Peserta UMB cenderung berdiri sendiri dan tidak tunduk pada Dikti. Dikti sudah membuat jalur masuk yang resmi, kenapa kemudian muncul perkumpulan baru, itu artinya tidak percaya dengan Dikti dan seolah-olah mereka lebih baik,” ungkap Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2005 ini. <br />Setelah memangkas dua jalur masuk. Untuk kuota mahasiswa baru tahun ini, Unhas hanya menyiapkan empat jalur masuk bagi calon mahasiswa baru selain Jalur Kerjasama (JKS) antara Unhas dengan instansi atau pemerintah daerah. Pertama yaitu Jalur Penelusuran Potensi Belajar (JPPB), Jalur Non-Subsidi (JNS), Jalur Prestasi Olahraga dan Seni (POSK) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang dilakukan secara nasional. (Asr/Hry)<br />DATA RENCANA PENERIMAAN MAHASISWA BARU UNHAS 2009<br />No Fakultas Kuota Jumlah<br /> JPPB POSK JNS SNMPTN JKS <br />1. Ekonomi 45 3 26 258 332<br />2. Hukum 60 4 35 300 399<br />3. Kedokteran 45 160 205 110 520<br />4. Teknik 140 12 140 800 1092<br />5 Isipol 62 7 34 210 313<br />6 Sastra 135 9 50 443 637<br />7 Pertanian 145 12 24 259 440<br />8 Mipa 55 6 18 260 339<br />9 Peternakan 40 8 8 244 300<br />10 Kedokteran gigi 10 40 50 100<br />11 Kesehatan masyarakat 40 5 30 225 140 440<br />12 Ilmu kelautan dan perikanan 55 5 200 260<br />13 Kehutanan 30 3 10 120 163<br />14 Farmasi 5 40 80 135 260<br />Total 867 74 615 3654 385 5595<br />Sumber : Bagian Akademik Unhas<br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-1281203418706108572?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-26940054127405625162009-04-22T19:50:00.000-07:002009-05-01T16:16:59.374-07:00Tak Ingin Dipersulit, Mahasiswa Bawa ParselMembawa parsel saat ujian meja bukanlah keharusan. Tapi sejumlah mahasiswa tetap melakukannya meski itu dianggap memberatkan dari segi finansial. <span class="fullpost"><br />Menjelang pagi, Arsani <br /> yang akrab disapa Ade <br /> telah mempersiapkan <br /> segalanya. Mulai dari kesiapan fisik hingga mental. Bahkan, dua hari belakangan, Mahasiswa Akuntansi angkatan 2004 ini sampai bangun tengah malam mempelajari proposal judul penelitian yang akan diajukannya. “Saya tidak ingin dipermalukan saat ujian,” ujarnya. <br />Beruntung, konsentrasinya tidak perlu buyar sebelum ujian. Soalnya, lelaki berperawakan kecil ini tidak perlu pusing untuk menyiapkan parsel, berupa aneka penganan seperti kue, nasi kotak, cemilan atau minuman buat dosen penguji dan pembimbingnya. Karena, menurut Ade, “soal komsumsi telah ditanggung oleh fakultas.” <br />Drs H Kasmuniharto selaku Pembantu Dekan (PD) II Fakultas Ekonomi pun membenarkannya. “Tradisi itu memberatkan mahasiswa,” katanya. Oleh karena itu, menurut Kasmuniharto, sejak 2006 lalu, pihak fakultas telah memberikan himbauan agar kebiasaan itu dihentikan dan ini mendapat sambutan positif dari mahasiswa.<br />Kini, kebiasaan membawa parsel telah hilang. Setiap ujian, baik itu ujian proposal atau ujian meja berlangsung maka pihak fakultas akan mengeluarkan dana Rp 12 ribu per dosen untuk komsumsi. Sementara pengelolaannya diserahkan langsung kepada sekretaris jurusan masing-masing. <br />Misalnya saja, Kamis (3/4), Arianto, Sekretaris Jurusan Akuntansi terlihat sibuk mempersiapkan aneka penganan untuk ujian proposal. Ia mengatakan, “dana untuk komsumsi berasal dari SPP mahasiswa. Dana secara khusus telah dialokasikan dan dibicarakan di tingkat fakultas.”<br />Sebaliknya, hampir di seluruh fakultas lainnya di Unhas, malah masih menjalankan tradisi tersebut. Padahal bagi sebagian kalangan mahasiswa yang berada dalam taraf ekonomi pas-pasan, tentunya hal itu cukup memberatkan. Apalagi sebelumnya, ia harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menyelesaikan penelitian dan skripsinya. <br />Sebut saja Wati, Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas telah mengalami hal tersebut. Mahasiswa angkatan 2005 ini harus rela mengeluarkan dana Rp 400 ribu tiap kali ujian. Entah untuk ujian proposal ataupun ujian meja.<br />Padahal, tidak ada aturan yang mengharuskan hal tersebut. Tapi karena tidak adanya aturan yang mengharuskan ataupun melarang tradisi tersebut sehingga ia rela merogoh koceknya dalam-dalam karena ini sudah menjadi tradisi. “Saya takut proses penilaian saya dipersulit,” ujar perempuan berjilbab ini, Jumat (3/4). <br />Di Fakultas Kehutanan, himbauan secara lisan telah dilontarkan, namun masih saja ada mahasiswa yang membawa parsel. Lebih lanjut, Rizal mengatakan pada 2005/2006 sudah pernah menerapkan kebijakan dengan menyuruh mahasiswa membayar Rp 50 ribu per mahasiswa, namun tidak berjalan lama, cuma berlangsung satu kali saja. <br />Alasannya, mahasiswa sendiri yang berinisiatif, sehingga hal itupun dibiarkan. “Kami tidak membuat aturan tertulis karena itu terlalu jauh,” jelas PD I yang sekaligus merangkap PD III Fakultas Kehutanan, Prof Musrizal Muin di kantornya lantai satu Fakultas Kehutanan Unhas. <br /> Terakhir Wati berharap, kejadian yang dialaminya bisa dibuatkan aturan jelas agar tidak terjadi kesimpangsiuran sehingga mahasiswa berani menentukan sikap. “Saya ingin masalah ini dibuatkan aturan yang jelas atau paling tidak berupa himbauan tertulis yang ditempel di Mading,” harapnya. <br /><br />Perlukah himbauan tertulis?<br />Dari kuisioner yang dibagikan kepada 100 orang mahasiswa Unhas, sebanyak 48 orang merasa terbebani dengan tradisi membawa parcel tersebut. Meskipun parsel tak menjadi keharusan, banyak mahasiswa masih saja membawanya. Ini karena tidak adanya himbauan yang jelas dari birokrat berupa himbauan tertulis. Selama ini himbauan masih secara lisan. Olehnya itu, sebanyak 40 dari 100 orang yang mendapat kuisioner, mengharapkan adanya aturan yang secara khusus mengatur mekanisme tersebut.n<br /><br /> Kri/ Ary<br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-2694005412740562516?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-10327433479934154592009-04-22T19:46:00.000-07:002009-05-01T16:17:40.851-07:00Ilmu Budaya Bertandang ke Luar NegeriEnam Juli mendatang, Mahasiswa FIB bakal berkunjung ke tiga Negara Asean, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Universitas, kantor kedutaan, serta situs bersejarah menjadi sasaran kunjungan mereka.<br /><span class="fullpost"><br />Nama baru memang perlu diperkenalkan, kalau ingin dikenal lebih luas oleh publik. Apalagi itu nama institusi. Cara yang ditempuh pun bisa beragam. Secara nasional atau internasional? Itu tergantung dari sang pemilik institusi. Hal ini barangkali yang akan dilakukan Fakultas Sastra. Fakultas ketujuh Universitas Hasanuddin, yang sekarang berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB).<br />Akhir-akhir ini, FIB memang cukup gencar melakukan sosialisasi secara nasional, soal identitas barunya ke berbagai daerah di nusantara, melalui kegiatan kemahasiswaan. Kali ini sosialisasinya akan berbeda karena nama FIB bakal dipasarkan secara internasional. Sejumlah mahasiswa FIB berencana akan berkunjung ke tiga Negara Asean seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand pada Senin-Rabu (06-15/07). Kunjungan ini tentu ditujukan untuk memperkenalkan nama FIB lewat sejumlah kegiatan akademik dan kemahasiswaan. <br />Kegiatan itu berawal dari ide Drs M Amir Patu M Hum, Pembantu Dekan I FIB. Sebelumnya, Amir sudah cukup aktif bekerjasa sama dengan sejumlah mahasiswa untuk mempromosikan nama fakultasnya di sejumlah daerah di Jawa dan Bali. Tapi ia merasa hal itu belum cukup. Tak urung, dosen sastra Inggris ini mengusulkan pada mahasiswanya untuk melakukan promosi fakultas ke luar negeri. Kegiatan semacam ini sekaligus bisa menambah atau memperluas ilmu dan wawasan mahasiswa sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. “Jawa dan Bali sudah berulang kali kami kunjungi, lantas saya mengusulkan pada mahasiswa bagaimana kalau kita berkujung ke negara tetangga. Mendengar hal itu, mahasiswa menanggapinya dengan baik dan langsung membentuk kepanitiaan,” katanya.<br />Lebih lanjut Amir menambahkan, mahasiswa FIB yang akan berkunjung ke Negara ke tetangga itu, akan mengadakan pergelaran seni dan budaya, seminar di universitas-universitas dengan tujuan untuk memberikan gambaran jelas mengenai FIB dan program apa saja yang ada di FIB Unhas itu sendiri. Selain itu mahasiswa juga dijadwalkan untuk bertandang ke kantor kedutaan serta situs-situs sejarah yang ada di tiga Negara tersebut.<br />Namun sebelum kunjungan itu dilakukan, panitia pelaksana yang sudah dibentuk, mencoba menyelenggarakan tryout dan prediksi SNM-PTN 2009 kepada jajaran siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) wilayah Sulsel, Sultra dan Sulbar. Kegiatan ini masih dalam satu rangkaian, yakni memperkenalkan FIB pada Sekolah-sekolah itu “Kegiatan ini berupa Tryout, Pementasan seni, sosialisasi FIB, Seminar dan Workshop SNM-PTN 2009 serta pembahasan soal tryout oleh Tentor JILC Makassar,” ujar Risna, ketua panitia pelaksana..<br />Risna menambahkan, bagi siswa atau siswi SMA yang mendapatkan nilai tertinggi dari tryout itu, dapat diikutkan secara gratis di kegiatan kunjungan wisata akademik tersebut “Nanti pemenangnya akan dinilai dan ditentukan oleh pihak JILC sebagai Juara satu dalam Try Out ini. Setelah itu akan kami ikutkan ke kunjungan tiga Negara itu,”ungkap Risna.<br /><br /><br /><br /><br /><br />Sementara itu, untuk menjadi peserta dalam acara ‘go internasional’ ini, persyaratannya tak begitu sulit dan lumayan murah bagi mahasiswa ‘berduit.’ Mahasiswa hanya melampirkan Pas Foto 4x6 (2 lembar), 2x3 (2 lembar), Fotokopi KTP, kartu mahasiswa dan kartu keluarga. Selanjutnya mereka diwajibkan membayar enam juta rupiah untuk semua biaya keberangkatan. Biaya ini sudah termasuk pasport, fiskal, tiket, transportasi, penginapan, makan, sertifikat fakultas dan sertifikat internasional. Bagi ukuran ‘mahasiswa biasa’ barangkali itu terlalu mahal. Tapi paling tidak, ongkos keberangkatan ke tiga Negara itu lumayan murah jika dibandingkan dengan biaya keberangkatan wisata biasa. Soalnya pihak fakultas telah bekerjasama dengan salah satu travel, liberty untuk biaya retribusinya. <br />Kita berharap kegiatan itu bisa lebih akademis dan tak terlalu menekankan pada unsur refresingnya sehingga bisa lebih bermanfaat bagi pesertanya dan nama FIB itu sendiri secara khusus dan imej Unhas secara umum. Sekedar saran, jika memang FIB sangat ingin dikenal secara luas, media online bisa jadi alternativ. Asal pengelolaannya dilakukan secara professional. (Fmn/Dyt)<br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-1032743347993415459?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-27878221481077048942009-04-22T19:32:00.000-07:002009-05-01T16:18:34.661-07:00Berbalik Hati Lagi ke BNITepat setahun lebih mahasiswa Unhas mencairkan beasiswa BBM dan PPA di BRI. Kini, pihak universitas akan merubah lagi pencairan beasiswa itu ke BNI.<br /><br /><span class="fullpost"><br />Jarum jam tepat menunjukkan pukul 11.00 Wita. Sejumlah mahasiswa sedang berantrian di Bank Rakyat Indonesia (BRI), lantai satu perpustakaan Unhas, Selasa (31/03). Mereka sedang mengecek pencairan beasiswanya, apakah sudah cair atau belum. M Akhsan salah satunya. Mahasiswa Fakultas Peternakan ini mencoba mencairkan beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) tahap awal. Hanya saja, pencairannya belum bisa dilakukan saat itu. Proses pencairan beasiswa BBM dan Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) tahap perdana baru bisa dilakukan nanti pada tanggal 15 April. Akhsan pun terpaksa harus rela menanti sampai dua minggu depannya. <br /> Pemandangan antrian mahasiswa di BRI semacam itu, kerap terjadi selama proses pencairan beasiswa BBM dan PPA berlangsung. Tapi, barangkali antrian mahasiswa di BRI itu, yang terakhir kalinya setelah pencairan tahap awal beasiswa BBM dan PPA berakhir. Karena ke depannya, pihak universitas akan merubah pencairan beasiswa tersebut ke Bank Negara Indonesia (BNI) lagi.<br />Akhsan, mahasiswa angkatan 2005 itu, mengaku heran kalau pencairan beasiswa BBMnya nanti akan berganti bank. Baginya, hal itu tak jadi masalah. Tapi ia menyayangkan perubahan proses pencairan beasiswa itu terlalu cepat berganti. Soalnya, waktu pertama mengurus beasiswa, prosedurnya cukup panjang. Salah satunya dipersyaratkan bagi mahasiswa membuka nomor rekening BRI. Kini harus berganti lagi. “Bagi saya perubahan itu tidak ada masalah, tapi bagaimana dengan teman-teman yang lain, yang dulunya harus membuka rekening BRI. Ini tanda tanya besar. Perubahan pencairan itu pemborosan,” ungkap Akhsan. <br />Pencairan PPA dan BBM tahap kedua dan seterusnya memang akan beralih ke Kartu Mahasiswa (KTM) BNI. Untuk itu, Kasubag Kesejahteraan Mahasiswa Pusat, Dra Hj Nur Azzah mengatakan mahasiswa penerima beasiswa PPA dan BBM diharuskan memasukkan kembali fotokopi KTM BNInya ke bagian kemahasiswaan di setiap fakultasnya. Sementara bagi yang bermasalah dengan kartu identitas mahasiswanya agar segera diaktifkan kembali di kantor BNI setempat. “Jadi peralihan dari BRI ke BNI ini sebenarnya karena ada perubahan rekening pada bendahara pengeluaran Unhas ke BNI,” katanya.<br />Senada dengan itu, Pembantu Rektor (PR) II, Dr A Wardihan Sinrang MS menjelaskan perubahan pencairan beasiswa BBM dan PPA itu dilatarbelakangi oleh adanya perubahan nomor rekening kas Negara ke BNI. Jika tahun sebelumnya, kas negara bernomor rekening di BRI maka otomatis nomor rekening bendahara pengeluaran pun diusahakan harus BRI pula. Sehingga dari nomor rekening bendahara pengeluaran Unhas itu, beasiswa BBM dan PPA yang berjumlah Rp 750 ribu per tiga bulan tersebut, bisa ditransfer langsung ke rekening mahasiswa. “Saya kira menggunakan BNI lebih bagus. Apalagi semua mahasiswa sudah punya nomor rekening BNI sebelumnya. Lagipula kalau bendahara, rekeningnya BNI kemudian dipindahkan lagi BRI akan membutuhkan waktu dan biaya yang besar,” Ujar Wardihan. Lebih jauh Wardihan menjelaskan perubahan pencairan beasiswa mahasiswa ke BNI itu juga disesuaikan dengan peraturan yang menghendaki mahasiswa penerima beasiswa agar tidak memiliki nomor rekening berbeda dengan pihak bendahara pengeluaran. <br />Menanggapi perubahan pencairan beasiswa BBM dan PPA itu, Hasnawi SH selaku Pimpinan Umum BRI Tamalanrea, tak mempersoalkan hal itu. Menurutnya fungsi bank hanya melayani semua pelanggan sesuai dengan kepentingannya. Apalagi sebelumnya tak ada semacam perjanjian khusus soal pencairan beasiswa mahasiswa Unhas. “Perubahan itu tidak masalah. Memang tidak ada bentuk kesepakatan atau perjanjian tertentu tentang itu. Di sini kita hanya melayani pelanggan, mau membuka nomor rekening baru atau memblokirnya, jelasnya. (Nti/Dyt)<br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-2787822148107704894?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-48724034682596520402009-04-22T19:28:00.000-07:002009-05-01T16:19:17.359-07:00Tak Dihuni, Ramsis kian LapukRenovasi Ramsis akhirnya selesai juga. Namun belum bisa sepenuhnya dihuni. Ada apa ya? <span class="fullpost"><br />Karatan di gagang pintu Asrama Mahasiswa (Ramsis) kian hari kian bertambah saja. Nampak warna catnya pun telah memudar. Sepintas mengintip di jendelanya terlihat plafon-plafon yang sedianya menempel di langit-langit, itu telah runtuh. Diibaratkan, Ramsis bak kota mati. Sepi , tak punya penghuni.<br />Ultimo Agustus 2005 adalah awal bagi mahasiswa hengkang dari ramsis. Atas rekomendasi rektorat pada pihak pengelola, ramsis mesti segera direnovasi. Kini, usai-lah renovasi itu, namun belum berfungsi juga.<br />Belakangan ini, tanda-tanda kehidupan tiba-tiba muncul di ramsis. Sekiranya 60 kamar yang terletak di unit 1 dihuni oleh mahasiswa asal Papua. Candra Kirana, salah seorang mahasiswa itu mengatakan sangat senang berada dan bermukim di ramsis. “ fasilitas cukup memadai, saya tak merasa kekurangan apa pun berada di sini,” ujar mahasiswa FMIPA jurusan Fisika ini. Pandangan miring pun hadir, melihat mahasiswa papua yang terlebih dahulu berteduh di ramsis. Anti (nama samaran) mengatakan. “Pihak universitas tak adil dan hanya mencari keuntungan saja, mungkin mahasiswa asal papua membayar dengan dana yang lebih tinggi jadi mereka yang didahulukan,” ujarnya.<br />Direktur pendayagunaan fasilitas Unhas, Ir. H. Syamsul Bahri mengutarakan soal tak diberdayakannya ramsis hingga kini. “Ramsis sementara ini masih dalam tahap pengisian fasilitas di setiap kamar,” ujar Syamsul, mudah-mudahan bulan depan dapat selesai sehingga bisa dihuni oleh mahasiswa baru, khususnya bagi angkatan 2009 nanti.<br />Telah lama kelarnya renovasi ramsis. Bangunan baru yang tampak kokoh itu perlahan-lahan tampak kusam tak terawat. Pintu kamar mandi di unit 2 yang raib, fentilasi udara yang copot, temboknya yang sudah mulai kotor. Ditambah lagi dana yang banyak sudah dikucurkan untuk renovasinya. Sekiranya 4,5 Milyar dengan jumlah 792 kamar Pembantu Rektor II DR.Dr. Wardihan Sinrang M,Si menanggapi. Menurutnya disinilah mental dari para mahasiswa terkait dengan aset-aset milik kampus teruji, “kita harusnya turut menjaga asset unhas bukan malah membiarkan jika ada pihak-pihak yang usil.” ungkapnya saat ditemui di ruangannya (01/04). Sedangkan dengan fasilitas baru yang telah rusak, akan segera diperbaiki dengan menggunakan dana pemeliharaan.<br />Kabar terbaru dari ramsispun, agaknya sedikit membuat kecewa banyak pihak. Pasalnya kalaupun ramsis akan beroperasi pada tahun ajaran baru hanya diperuntukan bagi mahasiswa baru saja, mahasiswa lama dipastikan tak dapat ambil bagian untuk menghuni ramsis. Namun ramsis sebagai hunian yang terjangkau, hanya dapat dihuni selama 11 bulan saja, selebihnya akan dihuni oleh mahasiswa yang baru lagi.<br />Hingga saat ini managemen dari pengelolaan ramsis masih sementara digodok, diusahakan system yang nantinya akan dijalankan untuk ramsis kedepannya akan dirombak total agar citra ramsis yang buruk dapat terhapuskan, “kedepannya di ramsis diusahakan tercipta hubungan yang harmonis dari masing-masing mahasiswa antar fakultas” tambah Syamsul. Bahkan sistem keamanan akan dibagun dengan baik, sistem breakfastnya sampai system loundrinya, “semoga kedepannya ramsis akan dikelola dengan baik dan tidak sama seperti ramsis yang dulu.” Harap Wardihan. (Dia/Tin) <br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-4872403468259652040?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-9163366765863266642009-04-22T19:21:00.000-07:002009-05-01T16:20:28.345-07:00Healthy School, Menu Bergizi dari Ilmu GiziDengan mengusung Healthy School, FKM bekerjasama dengan Sekolah Dasar Islam Terpadu Ar-Rahmah. Program ini sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat sekitar kampus. Juga sebagai ajang pembelajaran bagi Mahasiswa Ilmu Gizi dalam mengaplikasikan ilmunya.<span class="fullpost"><br />Rabu (01/04), murid kelas satu Sekolah Dasar Islam Terpadu Ar-Rahmah (SD-IT Ar-Rahmah) nampak berpakaian lain dari biasanya. Ada yang berseragam polisi, dokter, pegawai kantoran, dosen, pilot, dan masih banyak lagi yang lain. Mereka sengaja meniru pakaian ayah mereka, sesuai dengan pekerjaannya masing-masing. Dan orang tua yang datang juga berpakaian seragam sesuai dengan pekerjaannya. Semua murid diberi kesempatan memperkenalkan kepada teman-temannya tentang pekerjaan orang tua mereka. <br />Hari itu adalah hari yang spesial. Keceriahan terpancar diwajah mereka. Bagaimana tidak, jika hari itu dimana mereka diperkenalkan dengan berbagai bentuk profesi yang ada. Mereka diharapkan mempunyai cita-cita yang sesuai dengan dengan keinginan mereka dengan melihat secara langsung bentuk-bentuk pekerjaan yang dimanifestasikan oleh orang tua murid. Hari itu mereka sebut dengan hari ayah, dimana didepan kelas tertulis “Welcome to Fathers Day.”<br />Ya, SD-IT Ar-Rahmah adalah sekolah yang dipilih Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas untuk diajak bekerjasama. Kerjasama ini dikemas dalam bentuk sekolah sehat atau healthy school yang pertama kali dicetuskan oleh Dekan FKM sendiri, Prof Dr dr Veni Hadju Msc Phd. Dalam program ini, murid-murid sekolah dasar nantinya akan dinilai status gizi mereka. Mulai dari pemeriksaan fisik seperti mata telinga, gigi, dan lain sebagainya. Sampai pada kebersihan lingkungan sekolah dan makanan murid-murid.<br />Healthy school sebenarnya sudah lama ada. Ini merupakan program yang dikeluarkan oleh World Health Organisasion (WHO) yang diterapkan dihampir semua negara. Untuk Indonesia sendiri, juga sudah lama dilaksanakan yaitu dalam bentuk Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), yang merupakan binaan dari Puskesmas. Pelatihan yang dilaksanakan biasanya dalam bentuk pelatihan dokter kecil agar murid-murid memiliki pengetahuan dasar yang cukup tentang berbagai penyakit. <br />Inilah yang menjadi perhatian Fakultas Kesehatan Masyrakat, ingin mengaktifkan kembali program ini dengan tidak mengubah namanya. Healthy school sudah direncanakan sejak tahun 2008. Untuk sekarang baru pertemuan informal dengan pihak sekolah Ar-Rahmah sedangkan MOU-nya (Memorandum of Understanding) akan menyusul kemudian. Untuk pekerjaan awal, mahasiswa sudah meninjau lokasi dan membersihkan klinik yang ada di sekolah tersebut. Demikian yang dungkapkan dekan FKM saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (31/03).<br />Menurut Prof Veni, SD Ar-Rahmah dipilih karena kemudahan aksesnya saja. Disana sudah ada klinik sekolah namun vakum. Selain itu, dari FKM juga telah mengenal para guru yang ada disekolah tersebut. Dan pihak sekolah sendiri merespon positif dengan kerjasama ini. “Hanya saja kita perlu bertemu dengan orang tua murid nanti karena akan melibatkan dan memerlukan partisipasi orangtua,” ungkapnya lagi.<br />Program Healthy School ini nantinya diharapkan akan menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmunya. Dengan turun langsung dilapangan, itu bisa menjadi media pembelajaran bagi mereka yang mengambil Program Studi Ilmu Gizi. “Ini adalah kolaborasi antara dua institusi sehingga kondisi kesehatan anak akan terpantau dan diharapkan akan diterapkan di sekolah lain nantinya,” harap Prof Veni.<br />Dihubungi terpisah, Muharram, Wakil Kepala SD Ar-Rahmah mengungkapkan, memang akan ada kerjasama dengan FKM, tetapi baru penyampaian surat kerjasama dan kebetulan ada klinik di sekolah ini. Mereka juga sudah melakukan pembersihan di klinik dua minggu lalu. “Surat kerjasama sudah resmi dimasukkan, tetapi sampai sekarang belum pernah datang lagi,” ungkapnya saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (01/04).<br />Sekolah ini pernah mengaktifkan klinik selama tiga tahun. Ini menjadi Post Koas Fakultas Kedokteran Unhas yang digunakan oleh murid dan masyarakat sekitar, namun sudah vakum selama enam bulan karena tidak ada yang mengelola. “Jadi kami disini hanya menyiapkan objeknya, yaitu tempat dan murid-murid. Sedangkan sarana, dana, dan peralatan itu semua dari FKM,” ungkap lulusan Fakultas Ilmu Kelautan Unhas ini.<br />Sedangkan mengenai klinik yang ada sekarang, itu adalah milik yayasan. Jadi biasanya langsung melibatkan orang tua. Namun kami sangat terbantu dengan kinik seperti ini karena murid bisa langsung diobati apabila terjadi kecelakaan. “Kita statusnya disini adalah menunggu dan melihat. Menunggu kegiatan yang akan dilaksanakan oleh FKM dan melihat bagaimana pengaruhnya nanti dengan perilaku murid. Jadi kami tidak bisa memprediksi perubahan apa yang akan terjadi karena kegiatannya saja belum berjalan,” papar Muharram.<br />Sigit Angriawan, Ketua Panitia dalam healthy school ini mengungkapkan, “kita sebagai mahasiswa hanya sebagai pelaksana secara teknis, konsep dan arahnya nanti ditentukan oleh fakultas. Ini merupakan bagian dari praktek lapang gizi yang mengambil mata kuliah Dietetic dan Penilaian Status Gizi. Saya menjabat hanya untuk satu tahun periode, untuk selanjutnya akan dilanjutkan oleh angkatan dibawah.” ungkap Mahasiswa Ilmu Gizi angkatan 2006 ini.<br />Program healthy school disambut baik oleh orang tua murid. Namun mereka tidak terlalu mengetahui program ini karena mereka baru ke sekolah jika diundang. Dan sampai saat ini belum ada panggilan terkait dengan program ini. “Kita sambut positif saja, dan berharap akan lebih baik lagi kedepannya,” ungkap Hj Risky, salah satu orang tua murid pada perayaan Fathers Day, Rabu (01/04). <br />Asr/Dna<br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-916336676586326664?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-36111576158213138972009-04-08T19:02:00.000-07:002009-05-03T17:01:14.359-07:00Tumbuhkan Budaya Menulis di PerikananBadan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perikanan menggelar Diklat Dasar Jurnalistik, Sabtu-Minggu (4-5/4). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan ini diikuti 20 peserta. Agar peserta dapat lebih memahami ilmu yang disampaikan oleh pemateri. Maka konsep yang digunakan yakni Metode learning by Praktek. <br /><span class="fullpost"><br /><br />Nampaknya tak salah jika tema yang diusung dalam kegiatan ini ” Mengabadikan Peradaban di Bumi Perikanan dengan Menulis.” Pasalnya di Jurusan Perikanan belum ada mading yang terkelola dengan baik.“ Kami harap output yag dihasilkan dalam kegiatan ini,minimal mampu membuat mading,” ujar Amar Presiden BEM Perikanan periode 2008/2009 (Sin) <br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-3611157615821313897?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-84003341545687475052009-04-07T01:19:00.000-07:002009-05-01T16:08:05.951-07:00Aksi Unhas.Aksi Maut: Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam mahasiswa unhas bersatu (MAUT). Melakukan aksi di pelataran gedung rektorat unhas. Senin (6/4). dalam aksi ini mahasiswa terlibat bentrok dengan satuan pengamanan kampus (satpam) dan pegawai di lingkup gedung rektorat.<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-8400334154568747505?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-47220296827291166052009-04-01T21:19:00.000-07:002009-05-01T16:22:54.927-07:00Tambah Satuan Pengaman, Sistem Kontrak JalurnyaJumlah personil Satpam masih dinilai minim jika dibandingkan dengan luas kampus Unhas yang ada. Ide penambahan personil pun direncanakan dengan cara sistem kontrak.<span class="fullpost"><br /><br />Menjaga keamanan kampus memang bukan perkara gampang. Soalnya, penjagaan kampus harus berlangsung selama 24 jam nonstop. Terlebih bila areal pengamananannya seluas Unhas. Tentu, jumlah personil Satuan Pengamanan (Satpam) yang dimiliki harus dipersiapkan dengan proporsional. Hanya saja, selama ini, jumlah Satpam Unhas ternyata masih dianggap minim. Akibatnya para petugas security itu harus bekerja ekstra untuk menjaga keamanan serta ketertiban kampus. <br />Matias D misalnya, salah seorang anggota Satpam yang telah mengabdikan dirinya di Unhas selama dua puluh tahun ini, mengaku, merasakan minimnya pasukan jaga di Unhas. Jumlah 63 personil Satpam, dinilai kurang untuk mengontrol areal Unhas seluas 180 hektar. Belum lagi, enam orang dari jumlah itu, harus ditempatkan di rumah jabatan rektor. Tak heran, jika Matias dan sejumlah rekan-rekan kerjanya, harus bekerja keras sehari semalam, mengawal keamanan dan memantau ketertiban kampus dari sejumlah hal yang tidak diinginkan, seperti pencurian, perkelahian, tawuran serta tindakan pelanggaran lalu lintas kampus yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. <br />Matias berharap, selain ada upaya pengamanan dan penertiban dari mereka sendiri, harus ada kerjasama dan partisipasi berbagai pihak untuk menciptakan rasa aman di Unhas. Paling tidak, jika ada hal atau kejadian yang mencurigakan di lingkungan kampus, bisa dilaporkan segera ke anggota Satpam. “Memang kami Satpam, tapi bukan berarti untuk menciptakan keamanan dan ketertiban kampus harus semuanya dilimpahkan kepada kami. Perlu ada juga kerjasama dengan berbagai pihak di Unhas,” katanya.<br />Tak sebandingnya angka petugas jaga dengan wilayah penjagaan tak hanya dikeluhkan oleh Matias. Bambang Hariyanto SSos, selaku Kepala Satpam Unhas, juga merasakan minusnya personil bawahannya. Sehingga terkadang, ia hanya bisa menempatkan dua anggota Satpam untuk memantau tiga sampai empat fakultas sekaligus. Hal itu membuat Bambang merasa tidak efektif untuk menjaga keamanan di setiap sudut Unhas. <br />Meski begitu, Bambang dan jajaran bawahannya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengantisipasi segala hal yang mengancam keamanan dan ketertiban kampus. “Sejauh ini, kami terus berusaha sebaik mungkin untuk memantau setiap wilayah Unhas,” ujar Bambang.<br />Soal minimnya tenaga Satpam ini, ternyata pihak Unhas sendiri telah menyadarinya, tapi rencana penambahan anggota Satpam tersebut, tampaknya, baru terdorong diadakan setelah ada surat permohonan dari Bambang. Dimana, pada Desember 2008 lalu, Bambang mengajukan surat permohonan penambahan anggota Satpam kepada pihak rektorat dengan nomor surat 10744/H4 24 3 1/UM 13/08. <br />“Memang keadaan pengamanan Unhas tergolong kurang ketat karena disamping jumlah personil petugas keamanan yang kurang juga karena banyaknya jalan keluar masuk yang ada di sekitaran kampus sehingga akses ke dalam maupun ke luar kampus jadi banyak. Pihak Satpam pun akhirnya kesulitan, memantau semua daerah di Unhas dengan kondisi personil yang ada sekarang,” ungkap Drs Abdul Halim Doko MSi, selaku Kepala Biro Administrasi dan Umum Unhas.<br />Walhasil, usulan penambahan personil Satpam akan dilakukan pada awal April depan. Hanya saja, model perekrutannya akan dirubah dengan sistem kontrak, yaitu menunjuk pihak rekanan untuk merekrut anggota Satpam baru di Unhas.<br /><br />Merekrut Dengan Sistem Kontrak<br />Selama ini, model pengangkatan tenaga security dilakukan sendiri oleh pihak Unhas bekerja sama dengan Kepala Satpam untuk melakukan serangkaian tes, mulai dari wawancara hingga uji mental. Selanjutnya, peserta yang dinyatakan lulus, menjadi tenaga honorer, yang nantinya bisa terangkat jadi Pegawai Negeri Sipil.<br /> Namun, untuk mempermudah pengawasan dan evaluasi kinerja tenaga keamanan itu, pihak Unhas akan menerapkan sistem kontrak dalam perekrutan anggota Satpam baru. Dalam model ini, Unhas melakukan kerjasama dengan pihak rekanan untuk merekrut Satpam tersebut.<br /> Drs Abdul Latif MM, Kepala Bagian Rumah Tangga, mengungkapkan, akan menerima sekitar tiga puluh orang tenaga Satpam baru melalui pihak rekanan dengan sistem kontrak yang berjangka satu tahun. Hanya saja, menurut Latif, sejauh ini belum ada ketetapan siapa pihak rekanan tersebut. Penempatan serta pengaturan anggota Satpam yang baru, pun belum jelas, berhubung perekrutan akan dilakukan bulan depan. ”Penambahan petugas keamanan ini akan melalui pihak swasta nanti, dalam bentuk kerjasama, sesuai dengan kriteria Unhas. Setelah itu, kita akan berusaha mengatur tugas mereka secara proporsional,” jelas Latif.<br />Dengan adanya rencana penambahan anggota Satpam ini, kita berharap, kondisi Unhas bisa lebih aman, tertib serta terjamin dari berbagai hal yang tidak diinginkan oleh sivitas akademika. <br />Kas/Dyt <br /><br /><br /><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-4722029682729116605?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-35470829.post-78985548498690814252009-04-01T21:11:00.000-07:002009-04-01T21:15:21.229-07:00Tangan-Tangan Tersembunyi ala EkonomiDi akhir kepengurusan lembaga mahasiswa Fakultas Ekonomi menyisakan sekelumit persoalan. Dana untuk proposal beberapa kegiatan belum sepenuhnya cair. Kok bisa?<br /><span class="fullpost"><br />Puluhan mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) memasuki Aula FIS B siang itu (16/03). Mereka terdiri dari, Ketua Senat, Ketua-ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan serta Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi (KEMA). Sebentar lagi dialog kemahasiswaan segera dimulai. Temu kali ini terkait persoalan uang. Pasalnya dana hibah lembaga mereka belum sepenuhnya tuntas.<br />Nampak tegang raut muka Andi Faizal saat itu. Sebagai Ketua Senat, dirinya dirundung segudang tanya tentang dana itu. Faizal menilai kelambanan pencairan dana karena kurang profesionalnya birokrasi di fakultasnya. “Alasan proposalnya tercecer-lah, dana dari pusat belum cair-lah, serta regulasi yang berbelit-belit,” keluhnya.<br /> “Kalian tenang saja dana kemahasiswaan pasti akan dikucurkan,” ujar Prof Muhammad Yunus Zain, MA selaku dekan ditengah dialog. Tak sedikit dana itu untuk setiap lembaga mahasiswa FE. Setidaknya 21.000.000 rupiah disalurkan tiap tahunnya. <br /> PD III bidang kemahasiswaan FE, Drs A Baso Siswadarma MSi, mengatakan, dirinya tidak banyak tahu soal kelambanan pencairan dana kemahasiswaan itu. “Tugas saya cuma menerima proposal mahasiswa kemudian mendisposisikannya ke PD II, untuk mengeluarkan dana bukan wewenang saya,” ujar Baso saat ditemui identitas (19/03) di ruang kerjanya. Sekali waktu Baso pernah iba pada kondisi itu. Harapan mahasiswa mendapatkan dana untuk kegiatannya tak kunjung jua. Tak tanggung-tanggung uang sejuta pun akhirnya keluar dari kantong. “Kalau uang satu juta masih ada di dompet saya, gantinya bisa nanti setelah dana mereka cair,“ ujarnya.<br />Mengetahui adanya keterlambatan pencairan dana, sontak mengagetkan Pembantu Dekan II FE Drs H Kastumuni Harto MSi. Kastu mengakui lambatnya pencairan dana mahasiswa itu baru merebak tahun ini. Kastu terlebih menyalahkan mahasiswa sendiri. “Kesalahannya ada pada keterlambatan mahasiswa memasukkan proposal permohonan dananya,” ujar Kastu. Ditambah lagi adanya perubahan sistem manajemen keuangan. Dari Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA) ke Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PKBLU). Untuk anggaran Dipa, semua anggaran kas negara ditutup 15 Desember 2008 pekan lalu, sementara proposal itu baru masuk setelah tanggal 15, makanya kita keteteran sampai sekarang tambah Kastu.<br />Lembaga dan Birokrasi pun tak akur<br />Koridor himpunan yang letaknya di lantai satu itu sedang tampak ramai (20/03). Suara mikrophon terdengar menusuk-nusuk telinga. Saat itu pengurus lembaga lagi rapat. Masa kepengurusan telah habis. Lusinan Program kerja telah direalisasikan, walaupun dengan dana yang minim. Tiba waktu, prosesi regenerasi itu.<br />Maraknya aktivitas mahasiswa bikin gerah pihak birokrasi. Disarankan supaya lembaga mahasiswa itu hijrah ke lantai dua. Alasanya, menghambat lalu lintas dari pintu utama ke ruang kuliah. Instruksi itu tak diindahkan. Baso kian geram atas sikap mahasiswa. “Fakultas dan lembaga itu satu kesatuan. Kalau sudah kebijakan fakultas, kita semua harus ikut,” tuturnya. Faizal menaruh curiga. Bisa saja lambannya dana kemahasiswaan disebabkan karena masalah ini.”Kami tidak ingin ada tindakan represif yang bermula dari dominasi pihak fakultas dalam mendikte lembaga kemahasiswaan,” ujar mahasiswa angkatan 2005 ini. <br />Sidebar<br />Uang itu belum nongol juga <br />Total dana itu sebesar 21.000.000 rupiah. Proporsinya, untuk Senat 50% (baca; 10.500.000 rupiah) sedangkan tiga himpunan masing-masing: Ikatan Mahasiswa Manajemen (IMMAJ), Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi (HIMAJIE) punya jatah 3.750.000 rupiah. Ditambah lagi dana Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Totalnya 57.000.000 rupiah. Ini dihitung dari jumlah mahasiswa baru FE tahun kemarin yang 570 kepala itu. Seratus ribunya disetorkan pada saat registrasi, guna menomboki dana lembaga untuk kegiatan-kegiatannya.<br />Ibnul Hayat, Ketua HIMAJIE mensesalkan sikap tidak kooperatif-nya pihak birokrat fakultas pada kegiatan-kegiatan lembaga. “ Misalnya saja pemasukan proposal, kami dipersulit dengan alasan-alasan birokrasi yang bertele-tele,” ujar mahasiswa angkatan 2005 ini.<br />Untuk periode kepengurusan Ibnul yang telah berakhir pekan lalu itu, dana yang didapatnya hanya 1.050.000 rupiah dari anggaran 3.750.000 rupiah. Sisanya 2.450.000 rupiah itu tak tahu arahnya. Belum lagi Faizal yang duduk di kursi senat mesti berhitung ala ekonomi. Dana yang diterimanya hingga 19 Maret 2009 kemarin baru terhitung 8.000.000 rupiah dari patokan 10.500.000 rupiah.<br />Besar harapan itu dikalangan mahasiswa. Agar kedepannya pengurus baru di lembaga kemahasiswaan FE dan para birokrat fakultas terjalin hubungan yang harmonis. Hak dana lembaga bisa terpenuhi. Juga yang tak akan raib dari ingatan soal dana kemahasiswaan yang masih membeku itu. (She/Tin) <br /> <br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35470829-7898554849869081425?l=www.identitasonline.net%2Findex.html'/></div>Kabar dari Kampus UNHAShttp://www.blogger.com/profile/04585722857574729705noreply@blogger.com0