tag:blogger.com,1999:blog-3356827.post-59042634539521546462008-05-27T11:41:00.000+08:002008-05-27T15:45:03.678+08:00Dialog<p>Ketika membongkar fail-fail lama dalam PC, saya terjumpa puisi ini. Tidak ingat bila saya menulisnya, tapi fail itu bertarikh 8 Ogos 2004...</p> <p><strong><u><font size="5">DIALOG</font></u></strong></p> <p>jangan biarkan titik hitam itu<br>menjerawati hatimu<br>hingga kelam-muram akhirnya<br>tak dapat ditembusi cahaya</p> <p>jangan biarkan lidahmu pasif<br>hingga akalmu menjadi daif<br>dan kontang persis padang pasir<br>bagaikan setiap hidupan perlu air<br>maka basahilah lidah dengan berdzikir</p> <p>jangan biarkan matamu buta<br>hingga tidak kenal akan cahaya<br>sucikanlah ia dengan airmata<br>dari telaga taubat nasuha<br>semoga kau tidak tersesat jalan<br>kembali pulang ke kampung halaman</p> <p>demikianlah aku berbicara<br>kepada makhluk di balik cermin kaca<br>semoga dia mendengarnya</p> <p>mentari mengintai dari balik tabir<br>siang semakin hampir<br>terasa diri ini terlalu fakir.<br></p> <p><br><strong><em>herman.mutiara<br>(08/08/04, dikemaskini 27/05/08)</em></strong></p><!-- multiply:no_crosspost --><p class='multiply:no_crosspost'></p>Herman Mutiarahttp://www.blogger.com/profile/00937846463046041820noreply@blogger.com