tag:blogger.com,1999:blog-274084592009-03-02T09:28:00.206+07:00[i][for][sulhi]News on My Own StyleMuhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comBlogger82125tag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-41045621061561188492008-12-25T20:28:00.005+07:002008-12-26T22:45:38.793+07:00<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOKvU5okUI/AAAAAAAAAOE/8x0kIpXlnmQ/s1600-h/Kumpulanbayibyi.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOKvU5okUI/AAAAAAAAAOE/8x0kIpXlnmQ/s400/Kumpulanbayibyi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283719333504651586" /></a><br /><br /><b>Brief in Snapshoot</b>. Kata-kata dan kejadian-kejadian mengerikan yang berdampak pada masa depan, masih sering kita baca, dengar, dan lihat pada 2008. Minimnya kemampuan orangtua menyekolahkan anak dan perusakan lingkungan, hanyalah dua dari sekian banyak. Padahal, anak-anak Indonesia yang kini berstatus bayi, batita, balita, bahkan remaja, juga punya hak atas masa depan yang lebih baik. Mohon jangan renggut itu dari mereka. Buatlah mereka lebih pintar dari kita dan pelihara lingkungan untuk tempat berpijak mereka kelak. <span style="font-weight:bold;">Selamat Tahun Baru 2009</span>, sembari mengingat, langkah apa pun yang kita lakukan di 2009, akan berpengaruh pada bayi-bayi ini nanti. (Foto: Muhammad Sulhi)<br /><div class="fullpost"><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-4104562106156118849?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-31373307636370915532008-12-25T06:25:00.000+07:002008-12-25T20:46:15.631+07:00<c><span style="font-weight:bold;">Baca juga artikel khas </c></h2></span></a> <br />Di kolom <a href="http://putrabetawi.wordpress.com">Gerendengan</a>, kali ini membahas tips menulis praktis: susahnya fokus. Kenapa fokus? Jangankan penulis baru, penulis yang sudah "bau tanah" pun masih sering bikin kesalahan jenis ini. Selengkapnya klik <a href="http://putrabetawi.wordpress.com">di sini</a>.</span> <br /><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-3137330763637091553?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-72286852728482421442008-12-25T01:49:00.002+07:002009-01-26T21:50:09.557+07:00Akhirnya Elly Bertemu Tambatan Hati<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVKG8VdwkdI/AAAAAAAAANc/Sr4j42baW3o/s1600-h/iustrasi+homeopatijpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVKG8VdwkdI/AAAAAAAAANc/Sr4j42baW3o/s200/iustrasi+homeopatijpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283433683971248594" />(ilustrasi obat-obatan homeopati diambil dari fleischer.se</a><br /><br />Sulit dipercaya, justru di usia senja, R. Elly Salsiah Sediartono, BA, DHMS, BSc.Hom menemukan tambatan hati nan seiya sekata. Tambatan hati yang menyelamatkannya dari stroke dan lupus. Tambatan hati yang membuatnya lupa pada duka kehilangan suami. Tambatan hati bernama homeopati.<div class="fullpost"><br /><br />“Saya memang mencintai dan percaya homeopati 1.000%, bukan lagi 100%,” cetus R. Elly Salsiah Sediartono, mantan penyanyi pop dan seriosa di era 1970-an ini. “Homeopati sudah seperti pengganti suami,” imbuh Elly, yang ditinggal suami tercinta, R.M. Sediartono (meninggal setelah 11 tahun menderita stroke) pada 1995. Namanya saja pengganti suami, homeopati selalu menemaninya ke mana pun dia pergi, termasuk ke kamar tidur dan bawah bantal.<br /><br />“Setelah kenal homeopati, saya tidak lagi merasa sepi, sendiri atau frustrasi,” masih kata Elly. Jika hati gundah lantaran hasrat membeli sesuatu tak kesampaian misalnya, ia tak ragu menenggak salah satu “pil ajaib” koleksinya, lalu pergi tidur. Begitu bangun tidur, biasanya hati yang gundah tak lagi gulana. Dalam bahasa Elly, pikirannya langsung bright. Makanya, tak ada istilah stres, fobia, atau cemas dalam kamus perempuan kelahiran Bogor, 15 Juni 1943 ini.<br /><br /><b>Fobia azan</b><br />Angin apa yang membuat Elly begitu tergila-gila pada homeopati? Sama seperti ketika Anda bercerita tentang kekasih tercinta, Elly pun bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjawab pertanyaan tadi. Alasan utama, “Tentu saja karena homeopati telah beberapa kali menyelamatkan saya,” cerita ibu dari tiga anak, dua di antaranya sudah berkeluarga ini.<br /><br />Tahun 1999, stroke menyerang belahan otak kanan Elly. Pada kebanyakan kasus, serangan stroke pada penderita berusia senja (Elly saat itu berusia 56 tahun), lazimnya sulit disembuhkan, atau setidaknya, penderita tak akan kembali ke kondisi normal. Di rumah sakit, bukannya makin fit, perut Elly malah sering mual, muntah, dan nafsu makan lenyap. Diduga lambungnya tak kuat lagi menerima obat-obatan kimia yang diresepkan dokter, yang jumlahnya bejibun.<br /><br />Tak hanya fisik yang terganggu, mental Elly pun diuji.<br />“Saya sempat mengalami fobia azan. Takut setengah mati jika mendengar suara azan. Padahal, rumah saya 'kan di depan mesjid. Saat itu, ada semacam sesal, karena semasa muda saya tidak banyak melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh agama. Sebagai muslim, sembahyang saya aja enggak bener. Bisa juga karena merasa kurang berbakti pada suami,” Elly bersaksi.<br /><br />Elly yang kedua kakinya nyaris lumpuh, sempat putus asa,<br />“Bagaimana saya bisa terus hidup, kalau makanan saja enggak ada yang masuk ke dalam perut?” Di tengah keputusasaan itu, entah mendapat bisikan dari mana, tiba-tiba dia teringat pada homeopati, metode penyembuhan alami yang sering dijalani teman-temannya. Dengan penuh keyakinan, Elly memilih meninggalkan siksaan obat konvensional untuk beralih total ke homeopati.<br /><br />Dia merasa cocok mengonsumsi obat homeopati, karena – tidak seperti obat kimia – pil homeopati hanya diminum sesuai kebutuhan. Jika lambung sedang terganggu, contohnya, Elly menenggak pil untuk memulihkan gangguan lambungnya. Untuk strokenya sendiri, dia minum pil pengencer darah. Obat-obat itu bentuknya memang mirip pil (bulat), terbuat dari laktosa yang telah ditetesi cairan induk (cairan kental, hasil ekstrak tumbuhan, hewan, atau mineral berkhasiat) yang sudah diencerkan.<br /><br />Selain faktor obat, Elly juga melihat, biaya yang dihabiskan bersama homeopati jauh lebih kecil dibandingkan dengan berobat ke dokter spesialis. “Saat kena stroke, kalau berobat di rumah sakit, satu bulan saya bisa menghabiskan duit rata-rata Rp 2 juta. Tapi dengan homeopati, saya hanya menghabiskan uang Rp 30.000,- - Rp 50.000,-, lengkap dengan obatnya,” Elly membandingkan.<br /><br />Ajaib, perlahan-lahan terjadi perkembangan yang menggembirakan. Tubuhnya terasa lebih nyaman, sehingga mulai bisa belajar berjalan. Setelah setahun menggauli homeopati, mantan penyanyi yang pernah ikut lomba Bintang Radio dan Televisi jenis seriosa ini (tapi gagal menang - Red.) bahkan sudah bisa lepas dari ketergantungannya pada kursi roda. Puncaknya, dia kembali dapat menggunakan otaknya untuk berpikir dan belajar (memperdalam homeopati), seperti saat masih normal.<br /><br />Sayangnya, euforia itu tak berlangsung lama. Setahun setelah pulih dari stroke, Elly kembali dirundung masalah. Kali ini dia terserang lupus. “Mulanya, saya hanya menderita panas tinggi, tapi lama-lama kok terasa nyeri sendi di seluruh badan. Mungkin karena sehabis stroke, konsumsi makanan saya kurang memadai,” jelasnya. Elly sempat dirawat di rumah sakit selama tiga bulan. Dia harus menjalani beberapa kali cuci darah. <br /><br />Selama dalam perawatan, perutnya kembali sering mual dan muntah. Serupa saat kena stroke, lagi-lagi lambungnya tak kuat menerima kiriman paket obat konvensional yang banyaknya minta ampun. Ada sekitar 15 macam obat yang mesti ditenggak saban harinya. Berat badan Elly sampai menyusut 10 kg. Dalam keadaan nelangsa itulah, ia kembali teringat homeopati. “Sejak itu saya berjanji, jika sudah sembuh nanti, tidak akan melupakan homeopati,” tegasnya, lebih pada diri sendiri.<br /><br />Elly kemudian nekat pulang, meski selang infus masih menempel di tangan. Tekadnya sudah bulat, hanya akan meminum obat homeopati! Diiringi disiplin menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, sang lupus pun akhirnya pergi tanpa pernah kembali lagi. “Buat saya, homeopati itu mukjizat dari Tuhan yang diturunkan untuk melindungi saya,” Elly lagi-lagi memuji sang tambatan hati.<br /><br /><b>Muda hura-hura</b><br />Penyakit demi penyakit yang menyerang Elly bukannya kebetulan. Gaya hidup anak kedua dari empat bersaudara pasangan R. Sudarma Mangundikusuma dan Rt. Fatimah Atmakusuma ini – di masa remaja dan mudanya – memang kacau balau. “Sejak remaja saya hobi makan makanan pedes dan goreng-gorengan,” kenang Elly. Plus hobi nyanyi membuat aktivitasnya jadi tak kenal waktu. Sejak SMA, Elly sudah mengikuti beragam kontes dendang. <br /><br />Tak heran, koleksi pialanya berjumlah puluhan, kini menumpuk di gudang. “Dulu saya sering tampil di TVRI, nyanyi seriosa,” ucap alumnus Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini. Saat menjadi ibu muda, Elly dibebaskan oleh suami untuk tetap menyalurkan hobi. Walaupun tak lama setelah menikah, dia harus pindah ke Papua, mengikuti suami yang berprofesi sebagai akuntan. Empat tahun lamanya pasangan Elly – Sediartono menetap di sana.<br /><br />Kembali ke Jakarta, tahun 1976, dia bergabung dengan kelompok vokal beken Bina Vokalia. Saat itu, Bina Vokalia banyak mendapat undangan tampil di luar negeri. Tak terhitung lagi, berapa kali ia melanglang buana gratis ke sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Bahkan ada beberapa negara yang dikunjunginya berkali-kali. “Yang saya ingat, ke Singapura 33 kali, sedangkan ke Jepang lima kali,” Elly bertutur sambil mengembangkan senyum. <br /><br />Namun, 10 tahun menjadi solis seriosa di Bina Vokalia bukan tak ada "ongkosnya". Karena sering jalan-jalan, gaya hidupnya jadi tak beraturan. Makan selalu mau yang enak, tidur tidak teratur, ambisi besar sehingga kadang stres. Sampai akhirnya, candra malapetaka itu datang. Pada 1984, suaminya - saat itu petinggi PT Danareksa - kena stroke. Penyakit itu terus disandang Sediartono sampai pensiun, sekitar tahun 1989.<br /><br />“Sejak itu, fasilitas yang sebelumnya kami terima, mulai dikurangi. Satpam, mobil dinas tak ada lagi. Saya harus berjuang ekstra mempertahankan rumah tangga dan menyekolahkan anak-anak, sendirian. Saat suami meninggal, anak paling besar baru kelas 1 SMA, sedangkan si bungsu kelas 3 SD.”<br /><br />Agar dapur tetap ngebul, Elly terpaksa terjun ke dunia bisnis. Berbekal hobi menjahit, dia membuka butik. Ordernya lumayan, terutama dari mantan kolega suaminya. Bersama seorang mantan kolega suami pula, dia membuka toko dan restoran. Gaya hidup amburadul yang ditekuninya sejak remaja dan muda pun mencapai puncaknya. Kadang Elly harus menjamu relasi hingga tengah malam, sehingga mengabaikan jadwal makan. Kalaupun makan, makanan yang ditelannya tidak keruan. <br /><br />Bisa ditebak, kolesterol Elly naik, sementara jantungnya akhirnya tidak kuat lagi memompa darah, sehingga terjadi penyumbatan. Stroke pun datang berkunjung, disusul lupus beberapa tahun kemudian. “Saat itu, barulah saya sadar, suara saya hilang. Saya enggak bisa nyanyi lagi. Sedih sekali kalau denger lagu seriosa yang sering saya nyanyikan dulu dinyanyikan orang lain. Saya akhirnya merasakan, betapa besar kekuasaan Tuhan,” Elly berkata pelan.<br /><br /><b>Dunia lain</b> <br />Pengalaman menjadi guru terbaik Elly. Pengalaman itu pula yang mendorongnya mendalami homeopati. Selain belajar sendiri dari buku-buku dan teman-teman, Elly juga menimba ilmu di dua lembaga pendidikan internasional. Tahun 2000 – 2001, dia nyemplung kursus dasar (certificate) dan Diploma Homeopathy Wisma Perubatan Homeopathy Tutorial, Singapura. Yang berlanjut ke jenjang Bachelor of Homeopathic Science tahun 2003 di American University.<br /><br />Dengan bekal itu, Elly kini bukan lagi mantan pesakitan yang telah merasakan manjurnya homeopati. Tapi juga seorang homeopat yang telah menangani ribuan penderita berbagai penyakit. Lewat CV Chamberly, dia bahkan berencana memproduksi secara massal sabun Calendula dan salep serbamanfaat bikinannya sendiri. Kenapa sabun dan salep? "Saya sendiri enggak tahu. Semuanya seperti sudah ada yang ngatur,” tegasnya agak bermisteri.<br /><br />“Saya senang dapat menolong banyak orang. Semua saya anggap sebagai ibadah, bukan semata cari duit,” tambah Elly. Jadi, jangan samakan penghasilannya dengan homeopat dan dokter umum, karena Elly membatasi menolong penderita paling banyak enam orang sehari. Tarifnya pun hanya antara Rp 50.000,- – Rp 100.000,- sekali periksa, plus obat. Kalau yang datang pensiunan atau orang tidak mampu, Elly tak segan-segan membebaskan mereka dari ongkos periksa.<br /><br />Homeopati tak hanya membuat Elly "lebih hidup", tapi juga memberi kehidupan dan tempat beraktualisasi buat nenek dari empat cucu ini. “Dulu kalau lihat film sedih, saya sering menangis, teringat suami, anak-anak, atau perjalanan hidup yang berat. Tapi setelah mendalami homeopati, rasa itu enggak ada lagi. Waktu saya sekarang lebih banyak dihabiskan untuk belajar atau meracik obat.”<br />Jika sudah bertemu tambatan hati, yang lain memang jadi tak berarti. (Penulis: Muhammad Sulhi, dimuat di edisi khusus Mind, Body & Soul, Majalah Intisari, September 2006</div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-7228685272848242144?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-73062321553264464382008-12-24T01:57:00.002+07:002009-01-26T21:49:19.029+07:00Karet Ketemu Kulit? Enak Juga Tuh!<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVKAirfhQiI/AAAAAAAAANU/yANtLWmhvzY/s1600-h/ilustrasi+kondomjpg"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVKAirfhQiI/AAAAAAAAANU/yANtLWmhvzY/s200/ilustrasi+kondomjpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283426646137848354" />(ilustrasi poster diambil dari condom.com)</a><br />"Enggak ada enaknya kulit ketemu karet. Sekali karet, ya tetap karet," sela seorang teman, ketika Jeremy menceritakan hobi barunya: memakai kondom saat berhubungan intim dengan istri. Jeremy berusaha menjelaskan, kondom sekarang banyak macamnya, dan begitu kaya sensasi. Tapi percuma, sang teman yang sejak awal sudah ngeyel, tetap saja ngeyel.<div class="fullpost"><br />Dalam kehidupan nyata, memang masih banyak orang (pria maupun wanita) beropini seperti kawan Jeremy tadi, dan menganggap alat kontrasepsi sebagai kendala dalam asyik masyuknya pasangan suami istri (pasutri). Bukan hanya kondom yang kena tuding, spiral, bahkan pil pun bernasib sama. "Sudah beberapa bulan ini suami mendesak saya mencabut spiral yang baru tiga bulan dipasang. Dia bilang, spiralnya "terasa" saat berhubungan," curhat Yanti di sebuah milis kesehatan. <br /><br />Padahal, baik Jeremy maupun Yanti mengakui, kesadaran untuk menggunakan kontrasepsi kini motifnya tak melulu sama dengan yang dilakukan ibu-bapak mereka dulu. "Bapak dan Ibu saya pegawai negeri. Kata mereka sih dulu ikut program Keluarga Berencana karena ‘diperintah’ atasan," tegas Yanti, masih di milis. Jadi, saat itu, alat kontrasepsi benar-benar digunakan sesuai khittah-nya. <br /><br />"Pada dasarnya, alat kontrasepsi memang dibuat untuk menunda atau mengatur kehamilan," tegas dr. J.M Seno Adjie SpOG(K), staf pengajar Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, merumuskan khittah alat kontrasepsi. "Kalupun ada yang berfungsi ganda, kondom misalnya, ya sebagai alat pencegah penularan penyakit menular seksual," tambah Seno. Dengan kata lain, keberadaan alat kontrasepsi sebetulnya tidak berkaitan langsung dengan aktivitas seksual. <br /><br />Dalam konteks ini, alasan Yanti – umurnya kini 23 tahun – terasa menarik. "Tujuan utama saya ber-KB bukan untuk mengatur kelahiran. Saya ‘kan masih muda. Masih ingin bereksperimenlah sama suami. Masih banyak lo posisi-posisi yang kelihatannya oke, tapi belum kami coba," akunya terus terang. Yanti, seperti Jeremy, barangkali termasuk generasi terkini yang memandang seks sebagai salah satu ajang rekreasi, pengusir stres dan kepenatan sehari-hari. "Sejak kawin tiga tahun lalu, kami rutin berhubungan intim 4 sampai 5 kali seminggu," cetus Jeremy, menyoal aktivitas seksualnya yang begitu hot. <br /><br />Selain pernyataan Yanti, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di forum-forum konsultasi seks – baik di internet, media cetak, maupun beragam talk show radio – pun kini tak lagi didominasi manfaat kontrasepsi untuk menunda datangnya Si Buyung dan Si Upik. Lebih banyak muncul persoalan-persoalan mirip punya Yanti atau Jeremy. <br /><br /><b>Bebas takut dan stres</b><br />Dalam berbagai tulisan yang hendak menyingkap perilaku seksual manusia, alat kontrasepsi bahkan disebut-sebut sebagai salah satu temuan yang berperan besar dalam memelopori perubahan makna seks, dari tak sekadar prokreasi (hubungan seksual untuk bikin anak), tapi juga rekreasi. Kian menjamurnya produk-produk kontrasepsi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan farmasi belakangan ini bak menguatkan teori tadi. <br /><br />Hadirnya beragam kontrasepsi memang membuat banyak pasangan bebas bereksplorasi tanpa rasa takut. Terutama takut hamil (lagi). Seksolog ternama, Boyke Dian Nugraha, dalam acara talk show di sebuah radio swasta di Jakarta pernah mendapat pertanyaan dari seorang bapak – sebut saja Bustaman - yang sedang gundah gulana:<br />Di ujung telepon, dengan lemas Bustaman curhat: "Dok, sudah enam bulan terakhir ini saya selalu bingung dan stres jika diajak berhubungan seksual oleh istri. Sering kali saya menolak, dengan berbagai alasan. Sakit perutlah, sakit pingganglah. <br /><br />Padahal, alasan saya sebenarnya takut punya anak lagi. Bener, Dok. Anak kami sudah tiga, dan saya enggak mau tambah lagi. Beban ekonomi kami saat ini sudah berat, Dok. Kalau tambah anak, pasti tambah berat lagi. Karena rasa takut itu, berhubungan seksual tidak lagi bisa saya nikmati. Apalagi istri saya enggak mau pakai alat kontrasepsi. Apa yang harus saya lakukan, Dok?"<br /><br />Saat itu, dr. Boyke menjawab bahwa dalam hubungan seksual, memang ada yang namanya kesenangan alias rekreasi. Nah, untuk menikmati rekreasi bebas stres, pasutri bisa memanfaatkan beragam pilihan alat kontrasepsi yang kini banyak tersedia. Bisa pil, IUD, susuk, suntik (untuk istri), atau kondom (untuk suami, meski belakangan ada juga kondom untuk perempuan). Tanpa alat kontrasepsi, rekreasi akan terus diselimuti rasa takut dan was-was, yang jelas-jelas bisa bikin stres. Nah, pada bagian ini kita mesti hati-hati. Stres yang berkelanjutan dapat mematikan "potensi seksual" seseorang. <br /><br />Selain takut hamil, alat kontrasepsi tertentu, sebut saja kondom juga memungkinkan suami atau istri terbebas dari rasa takut tertular penyakit menular. Ingat, AIDS/HV, salah satu penyakit yang diprediksi bakal menimpa jutaan umat manusia di masa depan, salah satunya bisa datang dari hubungan seksual. Data terbaru Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, hingga September 2007 sebanyak 53,8 persen penderita dari 16.288 kasus HIV/AIDS di Indonesia adalah penderita dari usia produktif atau 20 - 29 tahun. Sayang 'kan jika masa-masa hot ini justru diisi jika penyakit. <br /><br />Tanpa harus mengedepankan prasangka terhadap pasangan, seks rekreasi mestinya memang tak hanya mengutamakan kenikmatan, tapi juga keselamatan. Dalam hal ini, kondom menjadi pilihan paling realistis. Apalagi sekarang banyak macamnya, tinggal pilih mau yang tebal, agak tebal, tipis, atau supertipis? Semuanya dijamin sehalus sutera dan sudah diperhitungkan tidak akan membuat pemakainya iritasi. Jika mau sensasi lebih, pasutri bisa memilih kondom yang punya rancang bangun tak biasa, misalnya yang bisa menyala dalam gelap, bergerigi, berwarna-warni, dan banyak lagi. <br /><br />Belakangan, tak hanya pria, wanita pun dibikinkan kondom. Jika kondom pria disarungkan langsung di tubuh "Tuan P", kondom wanita yang mempunyai dua cincin berbentuk sarung mirip diafragma diletakkan di sekitar rahim. Satu cincinnya berukuran pas dengan leher rahim, sedangkan satunya lagi melingkari bibir kemaluan. Nah, "Tuan P" akan bermain di dalam sarung yang telah dilapisi pelumas tersebut. Pasangan suami-istri yang selama ini lebih banyak berekreasi dengan kondom pria, sekali waktu bisa mencoba yang satu ini.<br /><br /><b>Soal taste dan pilihan</b><br />Bagaimana dengan anggapan alat kontrasepsi berpotensi mengurangi kenikmatan dan acara rekreasi di atas ranjang? Seperti ucapan kawan Jeremy yang menganggap karet (baca: kondom) tak akan pernah bisa menandingi sensasi kulit, atau suami Yanti yang kecewa pada spiral sang istri? <br /><br />Persoalan Jeremy sepertinya soal sepele. Jika memang yakin kondom yang dipakainya tidak mengurangi kenikmatan di atas ranjang, mestinya tak usah didengarkan ucapan sang teman. Tapi buat laki-laki yang telanjur punya "beban" untuk tak hanya memuaskan diri sendiri, tapi juga pasangan, soal "enak-enggak enak" di kasur memang bisa bikin tak nyenyak tidur. Beberapa kali survei yang dilakukan BKKBN membuktikan, stereotip "kondom mengurangi kenikmatan" membuat banyak orang menjauhi alat kontrasepsi berbentuk sarung itu. <br /><br />Karena dijauhi, akhirnya mereka menjauhi kondom tanpa mengenal dan memahami manfaatnya. Lantas seenaknya berkomentar negatif. Jadi, cara untuk mengeliminir anggapan negatif kawan Jeremy tadi, ya dengan mencoba sensasi kondom itu sendiri. Jangan belum-belum sudah apriori. Ibarat pakai helm, mula-mula terasa enggak enak: panas dan bikin keringeten. Tapi lama-lama kelamaan, jadi ketagihan, terutama setelah tahu nikmatnya dan tentu saja, manfaatnya buat melindungi kepala dari benturan kala kecelakaan. <br /><br />Sementara pada kasus Yanti, sebenarnya lebih pada soal memilih alat kontrasepsi yang sesuai. Sekadar tambahan info, selain alat-alat kontrasepsi konvensional, perempuan aktif zaman ini sebenarnya punya pilihan lain yang tak kalah menarik. Dibilang tak kalah menarik, karena alat kontarsepsi ini bisa mengurangi jadwal menstruasi, yang buat banyak perempuan, terasa menyakitkan jika harus datang saban bulan. <br /><br />Perusahaan farmasi terkemuka, Bayer contohnya, beberapa tahun terakhir gencar mengampanyekan Mirena (lihat di www.mirena-us.com), alat kontrasepsi yang bekerja langsung pada rahim dengan menggunakan metode intrauterine system. Bukan barang baru memang, karena di Indonesia sendiri produknya sejatinya sudah ada sejak 1990-an. Namun karena harganya mahal, kepopulerannya jadi berkurang. <br /><br />Alat yang pemasangannya mesti dilakukan oleh dokter ini menggabungkan kegunaan yang selama ini ditawarkan kontrasepsi IUD dan pil KB. Ia diklaim bisa mencegah kehamilan lantaran setiap harinya melepaskan sekitar 20 mikrogram hormon levonorgesfrel. Levonorgestrel adalah hormon yang dapat bekerja mengentalkan lendir rahim dan mencegah pergerakan sperma, sehingga dapat mencegah terjadinya proses pembuahan dan pencegahan pengembangbiakan endometris. <br /><br />Jika Anda perempuan yang sangat suka berekreasi seperti Yanti, Mirena sangat cocok, karena pasti tidak akan "tersundul' oleh "Tuan P" suami. Apalagi masa berlakunya cukup panjang, sekitar lima tahun. Setelah itu, Anda bisa memutuskan: melepas sama sekali atau ganti dengan yang baru. <br /><br />Namun ketimbang terus mengkambinghitamkan alat, Seno Adjie sedikit meluruskan, "Pada umumnya kenikmatan berhubungan seksual tidak tergantung dengan memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi, tapi berhubungan dengan kualitas hubungan antara pasangan seksual tersebut. Bahkan kadang-kadang pasangan dapat menikmati hubungan seksual tanpa penetrasi atau petting. Memang ada sebagian kecil pasangan mengeluh dengan alat kontrasepsi karena beberapa efek samping yang ditimbulkannya. Tapi sebagian besar pasangan tidak mempunyai keluhan apa-apa." <br /><br />Dengan kata lain, buat Seno, kalaupun ada gangguan yang dirasakan, biasanya itu hanya persoalan taste atau selera penikmat seks. Ya, cocok teori: sukses-tidaknya sebuah hubungan seksual tidak tergantung pada mobil, melainkan kelihaian sopirnya. Klise, tapi betul kok. <br />Kalau sudah begini, karet atau kulit sama saja toh!<br /><br /><b>Jangan Kebablasan</b><br />Karena menawarkan kenikmatan, hubungan seksual keruan bikin keranjingan. Apalagi jika dilakukan dalam kerangka rekreasi. Saking semangatnya berekreasi, tak jarang malah kebablasan. Misalnya dilakukan tanpa disertai rasa tanggung jawab terhadap pasangan, tidak dilakukan dengan pasangan yang sah, atau melakukan aktivitas seksual di luar nikah. Dalam beragam aktivitas itu, untuk "menghilangkan jejak", alat kontrasepsi kerap digunakan. <br /><br />Sialnya, "Masyarakat pun akhirnya lebih banyak menyoroti penggunaan kontrasepsi untuk rekreasi seks yang berkonotasi negatif," bilang dr. Anita Gunawan MS Sp.And, androlog dan konsultasi masalah seksual dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), pada sebuah seminar tentang Kesehatan Seksual yang pernah dihadiri Intisari, di Jakarta. Ibaratnya, buruk muka, tapi cermin yang disalahkan. Di sisi lain, petugas kesehatan tahunya hanya menganjurkan penggunaan alat kontarsepsi, jika memang diperlukan untuk mencegah kehamilan atau mencegah penyakit menular seksual.<br /><br />Citra buruk kontrasepsi itu hidup dari tahun ke tahun. Meski baik-buruk itu sebenarnya terpulang kepada pemakainya. "Masalah selingkuh misalnya, jelas tidak berhubungan dengan kontrasepsi. Sama seperti pisau dapur, setelah dibeli, pisau itu dapat digunakan oleh koki untuk memasak, tapi bisa juga digunakan oleh penjahat untuk membunuh orang. Tapi apakah dengan begitu, kita bisa menganggap pisau dapur sebagai alat yang bikin penjahat leluasa membunuh orang? Tentu tidak. Nah, begitu juga dengan alat kontrasepsi," sergah Seno Adjie.<br /><br />So, sambil berekreasi dan bereksplorasi, mari kita jaga citra kontrasepsi, dengan hanya menggunakannya bersama pasangan yang sah.<br /><br /><br /><b>Pil KB Cegah Kanker</b> <br />Pil KB ternyata tidak hanya manjur mencegah kehamilan (dan berdampak pada meningkatnya berat badan, seperti dikeluhkan sejumlah pemakainya), tapi juga melindungi wanita dari kanker indung telur selama lebih dari 30 tahun. Menyitir hasil penelitian Valerie Beral dan kawan-kawan dari Universitas Oxford, Inggris, yang diungkap di jurnal The Lancet baru-baru ini, terpantau makin lama wanita mengonsumsi pil KB, makin rendah risiko mereka terserang penyakit yang umum menyerang setelah wanita berusia 50 tahun itu. <br /><br />"Besar manfaatnya Anda mengkonsumsi pil KB selama lima tahun atau 10 tahun saat berusia 20-an tahun," ungkap Valerie, seraya menambahkan, "Makin lama mengonsumsinya makin baik, terutama jika Anda memiliki risiko kanker indung telur tinggi." Valerie juga mengungkapkan, kajian di 21 negara memperlihatkan, manfaat pil KB lebih besar dari risikonya. Mengonsumsi pil KB selama 10 tahun dapat menurunkan risiko wanita terkena kanker ovarium (sebelum usia 75 tahun) dari 12 per 1.000 wanita menjadi 8 per 1.000. (Penulis: Muhammad Sulhi, dimuat di Edisi Khusus Healthy Sexual Life 4 (Majalah Intisari, Maret 2008)<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-7306232155326446438?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-90566873616203478622008-05-05T18:21:00.002+07:002009-01-26T21:55:29.067+07:00Air Yang Tidak Sekadar Mengalir<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SDmVaAIOt8I/AAAAAAAAAJk/818e2Xo2YLo/s1600-h/ilustrasi+air.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SDmVaAIOt8I/AAAAAAAAAJk/818e2Xo2YLo/s200/ilustrasi+air.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204355118346975170" />(ilustrasi air diambil dari www.liquidsculpture.com)</a><br /><br />Tersebutlah air, air, dan air yang selalu mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Jika keseimbangan dilanggar, air "menyentil" dengan banjir atau musim kering berkepanjangan. <span class="fullpost">Filosofi itu berlaku juga dalam tubuh manusia. Banyak manfaatnya buat tubuh, kalau azas keseimbangan dipegang teguh. Selain beragam penyakit menjauh, hati dan pikiran pun meneduh.<br /><br /><br /><br />Tak usah bikin survei segala untuk memastikan manfaat air buat kehidupan. Setiap orang pernah membuktikan, sejak jabang bayi sampai menghembuskan napas terakhir, kita butuh air. Siapa berani menyangkal jasa cairan sperma bapak atau air susu bunda bagi si Buyung? Siapa pula menyangkal peran air untuk menyehatkan tubuh (memperlancar pencernaan, merawat kulit, memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, "menjaga" fungsi ginjal dan hati, membantu pelebaran pembuluh darah)?<br /><br /><br /><br />Air juga disucikan sebagai medium untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (air wudhu dalam Islam, dan air baptis di agama Kristen). Bahkan ketika sudah meninggal, manusia masih memerlukan air untuk "mandi" terakhir, bagian dari ritual sebelum masuk liang kubur. Hebatnya, meski berjasa besar, air tidak pernah menjadi sombong. Dia tetap tak pilih kasih, menyambangi si kaya di ketinggian dan si papa di tempat rendah. Terus begitu, dari dataran tinggi ke dataran rendah, sebelum terbang ke udara, lalu kembali ke Bumi sebagai rintik hujan. <br /><br /><br /><br />Semua dilakukan tanpa pamrih. Jika menjelma sebagai manusia, air barangkali bakal jadi sosok sempurna. Tak salah jika masyarakat Sunda memujanya sedemikian rupa, sampai-sampai memberi nama banyak tempat dan sungai dengan awalan ci, yang artinya kira-kira air. Tengok Cicaheum, Cimahi, Ciloto, Cibulan, Cipaku, Cilauteureun, Citarum, Cikarang, Ciledug, dan banyak lagi. Air memang simbol kehidupan.<br /><br />Namun, yang paling mengesankan adalah fungsinya sebagai penyeimbang, baik di alam maupun di dalam tubuh. Jika di alam, air "menegur" manusia dengan banjir dan kekeringan. Di dalam tubuh, ia menegur kelalaian manusia menjaga keseimbangan jumlah cairan, dengan penyakit dan beragam gangguan organ. Kerjanya begitu nyata dalam menjaga metabolisme badan dan kerja organ. Kalau tugas itu terhambat, tubuh bakal sakit. <br /><br /><br /><br /><span style="font-weight:bold;">Jangan kurang, pantang berlebih</span><br /><br />"Begitu pentingnya air buat makhluk hidup, sampai-sampai ia disebut senyawa paling esensial yang ada di muka Bumi ini. Dikatakan esensial, karena perannya di dalam tubuh tidak pernah bisa tergantikan oleh zat lain. Ia satu-satunya senyawa yang tidak bisa disintesis (dibuat) oleh tubuh," terang Nuri Andarwulan, Ph.D., food chemist dari Seafast Center, lembaga bentukan Institut Pertanian Bogor dan Institute of Food Science & Engineering, Texas, Amerika Serikat.<br /><br />Senyawa penting lain, ambil contoh karbohidrat, jika kurang masih bisa "diimpor" dari lemak. Sedangkan jika stok lemak kurang, tubuh mengakalinya dari protein. Tapi kalau tubuh kekurangan suplai air? Jangan harap badan kita sanggup menemukan sumber mata air baru, mengganti mesin pompa, atau menambah panjang pipa bawah tanah, seperti saat kita kekurangan air tanah di musim kemarau. Kebutuhan air buat tubuh mutlak adanya. <br /><br />Selain mutlak ada, mutlak juga jumlah air di dalam tubuh itu dijaga keseimbangannya. "Tubuh kita sebagian besar isinya air. Kisarannya, kalau mau dipukul rata, sekitar 65% dari berat badan. Sedangkan range-nya antara 60 – 70%. Sisanya, sekitar 30 - 40%, terdiri atas mineral (terdapat dalam tulang), protein (ada di otot), lemak, dan sebagainya," bilang Nuri, seraya menambahkan, "Komposisi itu tidak boleh kurang, tidak boleh lebih."<br /><br />Kalau kadar air di badan kurang dari 60%, si empunya tubuh sudah bisa disebut menderita dehidrasi. "Sedangkan di bawah 50% layak disebut dehidrasi fatal." Di dalam badan, air bertugas membantu sel-sel mengerjakan "proyek" biokimia, misalnya untuk menghasilkan energi. Nah, kalau suplai cairan kurang, tekanan osmosis di dalam sel menjadi tinggi. Sel-sel pun "mengental" sehingga menghambat reaksi biokimia. Pada akhirnya, kondisi itu bakal mengganggu kerja organ.<br /><br />"Sebaiknya, jangan menunggu haus, baru minum," ucap Nuri. Karena haus sendiri semacam alarm, pertanda dehidrasi mulai mengancam. Dehidrasi yang tidak diwaspadai bakal berakibat fatal, bisa menyebabkan shock (penderita tidak mampu melakukan apa-apa). "Kalau sampai shock, proses recovery-nya sangat sulit, karena semua sel tubuh mengental. Nyawa mungkin selamat, tapi pasti ada organ yang tidak bisa kembali normal. Kalau organ itu otak, kecerdasannya bakal terganggu."<br /><br />Selain dahaga, ancaman dehidrasi juga ditandai dengan gejala kelelahan, pusing-pusing atau sakit kepala, mulut kering, kurang urinasi, serta otot melemah. Jika candra-candra di atas muncul, segera minum untuk mengembalikan keseimbangan cairan. Tapi eeeepst, jangan mentang-mentang butuh banyak air, satu galon air mineral langsung digelontorkan ke tenggorokan. <br /><br />Inga-inga, kelebihan air dapat juga mendatangkan masalah. Tubuh yang kelebihan air alias odem alias gembyor, berpotensi menderita defisiensi status protein dan defisiensi status vitamin. Seperti diketahui, peran air dalam mengikat protein dan vitamin sangat vital. Banjir cairan bakal mengganggu keseimbangan dan kegiatan "saling ikat" yang selama ini berjalan normal. Jika dianalisis di laboratorium, dalam sel orang gembyor pasti terlihat kadar protein nan rendah. "Penderita biasanya disuntik protein, tapi biayanya sangat, sangat mahal," bisik Nuri.<br /><br />Meski tidak umum, kebanyakan minum juga dapat menimbulkan problem lain. Bila ginjal tidak mampu mengekskresikan kelebihan air, mineral dalam darah bakal terencerkan, sehingga menghasilkan kondisi yang sering disebut hiponatremia (rendahnya kadar natrium dalam darah). Orang-orang yang sering minum air dalam jumlah besar, seperti atlet atau pelari jarak jauh, berpotensi terkena penyakit ini. <br /><br /><br /><br /><span style="font-weight:bold;">Hukum keseimbangan massa</span><br /><br />Bagaimana cara mengetahui jumlah air di tubuh kita? "Sampai saat ini belum ada alat yang bisa mengukur secara pasti," jelas Nuri. Tapi di rumah sakit, jika ada pasien yang kekurangan atau kelebihan air, dokter biasanya mencatat berapa banyak cairan masuk dan keluar dari tubuh pasien. Perkembangan keluar-masuk cairan itu terus dipantau, sampai jumlah cairan di tubuh pasien seimbang. Tak kurang, tidak juga berlebihan. <br /><br />Jadi, jika ingin tahu berapa kadar air dalam tubuh Anda saat ini, hanya memori dan catatan (kalau ada) Anda yang bisa menjawabnya. Buka ingatan, berapa banyak menenggak air dalam sehari. Namun, kalau saat ini Anda sedang sehat walafiat dan tidak mengalami dehidrasi berat, asumsikan saja kadar air di dalam tubuh 65%. Setelah itu, tinggal pelihara jumlah air tetap berkisar antara 60 - 70%, dengan minum sesuai kebutuhan, sekitar 2.000 cc per hari.<br /><br />Jangan terpaku pada anjuran "minum delapan gelas sehari". Pertama, ukuran volume gelas di Indonesia, Eropa, atau Amerika bisa saja berbeda. Kedua, anjuran delapan gelas itu sebenarnya sudah termasuk makanan mengandung air yang kita makan saban hari. Kalau Anda rajin makan semangka, minum jus jeruk, atau jajan bakso berkuah, pastinya angka delapan gelas sehari tak berlaku lagi. Makanya, lebih aman menjadikan angka 2.000 cc sebagai acuan.<br /><br />Kardiolog asal Amerika Serikat, dr. James M. Rippe, bahkan menyarankan minum setidaknya satu liter lebih banyak dari kebutuhan. Sekadar jaga-jaga, karena kehilangan 4% cairan saja konon mengakibatkan penurunan kinerja sebanyak 22%! Bisa dibayangkan, jika kehilangan 8%, berarti hampir separuh kinerja tubuh mengendur. Tak heran badan jadi lemah, lesu tak bertenaga.<br /><br />Karyawan yang pekerjaannya memutar otak di ruangan ber-AC mesti lebih hati-hati. "Alarm pertanda dahaga" di ruang AC menyalak tidak sekencang alarm di tubuh kuli yang kehausan sehabis menggali lubang di tepi jalan. Tak jarang para karyawan itu jadi malas minum, karena menyangka jumlah cairan di tubuhnya masih memadai. Wong enggak "haus", kok. Padahal, pekerjaan "otak" membutuhkan energi jauh lebih banyak daripada pekerjaan "otot". Jika tak ingin darah cepat mengental, pasokan air tak bisa ditawar-tawar lagi.<br /><br />Jangan khawatir, misalnya, nanti jika minum 2.000 cc, "keluarnya" hanya 500 cc atau 1.000 cc. "Sistem di dalam tubuh sudah punya balancing yang bekerja secara otomatis. Kalau kita minum 2.000 cc sehari, yang keluar dari tubuh biasanya more or less, enggak jauh dari angka itu," terang Nuri. Bahasa kerennya, ada semacam hukum keseimbangan massa (mass balance). "Kalau minum kurang, keluarnya pasti kurang, begitu pun kerja sel-sel tubuh, kurang maksimal."<br /><br />Beda dengan senyawa-senyawa lain, sejak tiba di rongga mulut ia sudah disambut hangat, alias diserap sesuai kebutuhan. "Di mulut ‘kan ada banyak sekali sel. Itu sebabnya mulut kita terasa segar sehabis minum," Nuri menambahkan. Rombongan air yang tidak diserap mulut itu kemudian diserap kerongkongan, lalu usus halus. Bahkan sampai usus besar pun masih kebagian jatah air segar. <br /><br />Air lantas "menetap" di pembuluh darah kapiler, peredaran darah, dan sel-sel tubuh. Di dalam sel-sel, air yang baru diminum akan menggantikan posisi dan peran air sebelumnya, yang telah berjasa sebagai medium reaksi biokimia. Sedangkan air yang berada di sistem peredaran darah, di antaranya ada yang bergerak ke pembuluh balik untuk mengawal sari-sari makanan yang sudah "habis" untuk dikeluarkan lewat saluran pembuangan, membawa sisa-sisa metabolisme sel, serta membawa CO2 ke ginjal. Puncaknya, air keluar dari tubuh bersama feses, urine, atau keringat.<br /><br /><br /><br /><span style="font-weight:bold;">Simbol keharmonisan </span><br /><br />Jumlah, kebutuhan, dan siklus kerja air di dalam tubuh – seperti sudah diatur dari sononya - selalu sama pada setiap orang, tua-muda, besar-kecil. Nuri bilang, "Itulah istimewanya. Kebutuhan air beda dengan kebutuhan kalori, misalnya, yang tak sama dari satu umur ke umur lainnya." Istimewa, esensial, dan sedikit misterius seolah menjadi bagian dari jalan mengalir air.<br /><br />"Ada misteriusnya, karena di luar alasan-alasan medis, air juga banyak digunakan orang sebagai medium doa, bahkan penyembuhan," intonasi Nuri memelan. Bahkan ada yang "membuktikan", jika dikata-katai dengan kalimat yang baik-baik, air bisa berubah menjadi kristal cantik. "Air untuk penyembuhan, mungkin saja terjadi. Baik karena kandungan air itu sendiri (H2O-nya) maupun mineral-mineral di dalamnya. Sebagai zat gizi, air 'kan banyak mengandung mineral mikronutrien yang dibutuhkan tubuh."<br /><br />"Tapi saya enggak bisa berkomentar banyak soal itu, karena berada di luar bidang yang saya geluti. Saya berkomentar untuk yang pasti-pasti saja, bukan kombinasi antara yang pasti dengan metafisika. Paling tidak, sebelum hal-hal berbau metafisika itu diperjelas lewat penelitian yang lebih terukur," Nuri melempar senyum, seolah ikut menyimpan misteri. Misteri yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang "mengerti" air. <br /><br />Meminjam kata-kata bijak para praktisi Tai-Chi, "Air adalah simbol kesempurnaan. Orang yang menghayati peran air, di luar maupun di dalam tubuhnya, akan hidup dengan penuh keseimbangan, keselarasan, keharmonisan, kebebasan, namun tetap spontan, rendah hati, dan lentur menerima perubahan. Tanpa kecemasan dan ketegangan. Dia selalu mengalah, tapi tidak pernah kalah, karena pada akhirnya ia dapat mematikan api, membersihkan kotoran, merapuhkan besi."<br /><br />Air, memang tak sekadar mengalir. (Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-9056687361620347862?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-47323143056216142912008-05-04T17:39:00.000+07:002009-01-29T22:33:10.235+07:00Gaji Tinggi (Kini) Bukan Impian<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SDmYFgIOt9I/AAAAAAAAAJs/iiG8d8s75Ns/s1600-h/ilustrasi+dolar.jpg"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SDmYFgIOt9I/AAAAAAAAAJs/iiG8d8s75Ns/s200/ilustrasi+dolar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204358064694540242" />(ilustrasi uang/www.southsydneystory.com)</a><br />Ada masanya, ketika pegawai negeri dianggap sebagai pekerjaan bergengsi. Ada masanya juga, ketika posisi karyawan bank dipuja sebagai puncak pencapaian. Tapi, seiring bergulirnya waktu, zaman pun berubah. <div class="fullpost">Kini, - melihat besaran penghasilan mereka - siapa masih berani sesumbar pegawai negeri dan pegawai bank sebagai simbol kemapanan?<br /><br />Tentu masih ada masyarakat – terutama di pedesaan dan kota-kota kecil – yang mengagungkan pegawai negeri sebagai pekerjaan yang menjamin masa depan. Atau orang-orang kota yang masih percaya, gaji "orang bank" memang luar biasa. Tapi seiring makin banyaknya departemen-departemen yang "buka-tutup" dan bank-bank dilikuidasi, cap lambang kemapanan – jika ukurannya gaji dan karier di masa depan – mestinya dapat dipertanyakan.<br /><br />Gaji pekerja entry level atau fresh graduate (baca: sarjana baru selesai wisuda) yang masuk ke instansi pemerintah misalnya, jelas kalah jauh dari sarjana yang mengadu untung di perusahaan-perusahaan swasta nasional (apalagi mulitinasional) sebagai management trainee. Perbedaannya bisa 2 – 3 kali lipat lo. Mau mengandalkan pensiun? Sekarang perusahaan-perusahaan swasta pun sudah banyak menawarkan paket serupa yang (hitungan rupiahnya) tak kalah menarik. <br />Sementara gemerlap dunia perbankan – meski sinarnya masih terang – kini tak lagi sebenderang era 1990-an, ketika siapa saja bebas bikin bank. Tren turunnya minat bekerja di bank juga tergambar pada jurusan-jurusan yang dipilih calon mahasiswa/i di perguruan tinggi. "Fakultas Ekonomi dan yang berhubungan dengan bank tidak lagi menjadi primadona. Pilihan mereka sekarang lebih beragam, mulai teknologi informasi sampai kehumasan," tegas Fifie P. Andriadi, branch manager PT Kelly Services Indonesia, yang banyak berkecimpung di pekerjaan staffing dan executive search.<br />Jadi, bukan mendiskreditkan, jika gelar simbol kemapanan tak lagi menjadi monopoli pegawai negeri dan karyawan bank. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Diganjar dolar</span><br />Dunia memang panggung perubahan. Perubahan-perubahan itu kadang membuat saya, Anda (pelajar, mahasiswa, orangtua), bahkan calon mertua yang sedang mencari menantu berpikir keras: pekerjaan apa di masa depan yang masih menawarkan gaji tinggi, sekaligus kemapanan? Jika era 1990-an ditandai munculnya sektor perbankan sebagai primadona, awal era 2000-an giliran perusahaan-perusahaan beraroma teknologi informasi (TI) menikmati booming. Belakangan – persisnya 2 - 3 tahun terakhir – justru lapangan pekerjaan di perusahaan telekomunikasi yang tampak lebih menjanjikan.<br />"Kalau kita perhatikan, semua perubahan itu sangat dipengaruhi oleh iklim global. Beberapa tahun terakhir, sektor telekomunikasi, komunikasi seluler khususnya, berkembang sangat pesat. Satu per satu modal asing pun mulai masuk ke dalam negeri. Hal itu ikut mempengaruhi permintaan tenaga ahli, menjadikan sektor ini salah satu hot job paling potensial di masa depan," sambut Bernadette R. Themas, Country General Manager PT. Kelly Services Indonesia. <br />Dalam rangka tren global juga, Bernadette dan Fifie menyebut management trainee sebagai posisi ideal untuk mengawali kiprah di sebuah perusahaan. "Memang bukan jaminan sukses, karena kesuksesan itu masih tergantung pada faktor kemampuan karyawan dan kinerja perusahaan. Tapi kalau boleh saya bilang, inilah tempat para calon manajer diasah," imbuh Bernadette.<br />Dewasa ini, ada dua cara perusahaan melakukan perekrutan di tingkat manajerial, yakni memanfaatkan "sumber internal" dan "sumber eksternal". Cara pertama berusaha mempersiapkan calon manajer dari kalangan sendiri, lewat koridor management trainee. Sedangkan cara kedua, merekrut langsung manajer "jadi" dari luar perusahaaan. Dari dua cara di atas, cara pertama yang lebih banyak digunakan. <br />Karena ditujukan untuk menjaring calon-calon pemimpin potensial, posisi management trainee menuntut kualifikasi pendidikan S1 atau S2 dari pelbagai disiplin ilmu. "Gajinya untuk tingkat entry level (pemula) lumayan, berkisar antara Rp 2,5 sampai Rp 4 juta. Bisa juga lebih, tergantung besar kecilnya perusahaan," jelas Bernadette. Pekerjaan yang kelak dipercayakan pun bisa sangat berbeda dengan disiplin ilmu sang sarjana.<br />Teddy yang jebolan sekolah akuntansi misalnya, setelah digojlok sebagai management trainee, bisa saja akhirnya malah ditempatkan sebagai tenaga pemasaran. "Itu karena perusahaan melihat potensi Teddy lebih pas sebagai tenaga pemasaran, ketimbang auditing, misalnya," Bernadette memberi contoh. Tren "menyimpang" seperti ini sempat marak tahun 2000-an, ketika "orang marketing" ternyata lebih banyak berlatar pendidikan teknik.<br />Tahun 1990-an, perusahaan swasta nasional yang mengadopsi model management trainee tercatat cuma Astra International. Tapi kini, sudah semakin banyak perusahaan yang menerapkan pola rekrutmen tersebut. "Cara ini sekaligus menjadi jalan pintas buat tenaga-tenaga potensial yang ingin menimba pengalaman kerja sebanyak-banyaknya, karena sebagai management trainee, mereka akan diberi pendidikan dan peluang untuk mengerti beragam tugas dan ruang lingkup perusahaan," jelas Fifie. <br />Buat fresh graduate yang tidak ingin mengawali karir sebagai management trainee, tapi tetap mengincar "gaji lumayan", Fifie dan Bernadette menyebut sejumlah hot job yang sampai kini masih menjadi buah bibir. "Paling top, sektor minyak dan gas. Karena gajinya, terlebih di perusahaan multinasional, masih pakai mata uang dolar. Di sisi lain, kebutuhan akan tenaga ahli minyak dan gas sangat tinggi, sementara suplainya rendah," jelas keduanya. <br />Konon, insinyur "baru" di perusahaan minyak Chevron Pacific Indonesia misalnya, bisa dihargai antara Rp 5 juta – Rp 10 juta, di Conoco antara Rp 6 juta – Rp 10 juta, sedangkan Pertamina menganggarkan Rp 4 juta – Rp 8 jutaan. Kabarnya lagi, angka segitu masih ditambah beragam tunjangan, terutama buat mereka yang sering terjun ke lapangan. <br />Bidang lain yang secara tradisional masih berpotensi memberi gaji tinggi adalah teknologi informasi, perbankan dan institusi keuangan lainnya, customer goods, dan infrastruktur yang bisa masuk ke segala sektor usaha. Sedangkan bidang-bidang yang beberapa tahun terakhir melejit sangat cepat dan menawarkan gaji menggiurkan untuk tingkat entry level adalah broadcast (khususnya siaran televisi) dan (seperti telah disebut di muka) telekomunikasi. <br />Di lapangan telekomunikasi, seorang lulusan S1 yang baru mulai berkarir bisa menerima total Rp 4 – Rp 5 jutaan/bulan. Gaji itu akan bertambah menjadi Rp 8 – Rp 12 juta jika berhasil meraih posisi supervisor, dan berambah lagi menjadi Rp 16 – Rp 25 juta untuk posisi manajer. <br />Yang menarik, Bernadette dan Fifie juga menyebut NGO (organisasi nonpemerintah) sebagai ladang baru untuk menuai rupiah. Tren ini berkembang sejak tsunami menerjang Aceh dan Nias, yang membawa serta misi rehabilitasi plus beragam bantuan luar negeri. NGO di sini bukan melulu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias, tapi juga NGO-NGO lain di kota-kota besar yang bergerak di pelbagai bidang. Sekadar informasi, situs Okezone.com pernah memuat daftar gaji pejabat BRR, salah satunya gaji Kepala BRR, Kuntoro Mangkusubroto, yang mencapai Rp 60 jutaan (lebih tinggi dari gaji pokok RI-1). <br />Bisa dibayangkan jika "entry level" bosnya saja sudah segitu, "entry level" stafnya pastilah "lumayan". <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Asah skill</span><br />Angka memang fakta yang bicara apa adanya. Tapi di mata Bernadette, deretan angka itu tetap bukan harga mati. "Meski sudah ada patokannya, besaran gaji itu sebenarnya relatif, karena perusahaan selalu punya pertimbangan sendiri dalam menghargai karyawannya," tukas Bernadette. Perbedaan itu muncul karena adanya grade yang berbeda-beda untuk setiap orang, berdasarkan pertimbangan masa kerja, tingkat kompetensi, kompleksitas pekerjaan, dan performance karyawan.<br />Makanya agar tak sekadar mengincar gaji besar, tapi juga dihargai (lebih) tinggi, Bernadette menyarankan calon karyawan maupun mereka yang sudah memasuki dunia kerja selalu mengasah skill. Skill di sini harus spesifik, bisa berhubungan dengan hobi, semisal olahraga, science atau komputer. Jadi, selain pendidikan yang (di Indonesia) sifatnya sangat umum (tidak berhubungan langsung dengan dunia kerja), kita juga perlu melengkapi diri dengan "senjata" lain yang didapat dari hasil mengasah skill, yakni kompetensi.<br />Bisa juga prosesnya dibalik, yaitu skill yang ada diperkuat dengan pendidikan formal maupun informal. Sehingga kelak kita betul-betul menjadi profesional tulen (spesialis di satu bidang). "Lulusan perguruan tinggi yang memiliki kompetensi tinggi dan profesionalitas, ditambah kemampuan berbahasa Inggris dan "penguasaan" komputer, harganya dijamin lebih mahal ketimbang mereka yang hanya mengandalkan gelar kesarjanaan," tandas Bernadette.<br />Dengan kata lain, sah-sah saja bermimpi punya gaji tinggi dan kehidupan mapan, asal terlebih dulu mengembangkan kompetensi dan profesionalisme. Baru kemudian tembak bidang dan lapangan kerja yang jadi sasaran: dorrr! Rupiah atau Dolar pun bergelimpangan.<br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Salary Guide 2006 </span><br /><br />Silakan diteliti beberapa pekerjaan menjanjikan ini. Siapa tahu, selama ini Anda dibayar di bawah standar (underpaid)<br />atau malah overpaid?<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Posisi Masa Kerja Gaji<br /></span><br />Financial Analyst 2-3 tahun Rp 5 - 12 juta<br />Auditor 2-4 tahun Rp 6 - 12 juta<br />Process Engineer 2-3 tahun Rp 5 - 11 juta<br />Training Executive 2-3 tahun Rp 5 - 10 juta<br />System Programmer 2-3 tahun Rp 6 - 10 juta<br />Software Engineer 2-3 tahun Rp 6 - 10 juta<br />IT Administrator 1-3 tahun Rp 5 - 8 juta<br /><br />Sumber: Kelly Services Indonesia. Tabel lengkap, termasuk perbandingan dengan Salary Guide versi Malaysia, bisa dilihat di www.kellyservices.com.<br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Tahukah Anda?</span><br /><br />Gaji pokok Presiden (RI ?): Rp 30.240.000 (plus tunjangan jabatan Rp 32.500.000, total Rp 62.740.000). Sedangkan gaji pokok (Wakil ?) Presiden (RI ?): Rp 20.160.000 (plus tunjangan jabatan Rp 22.000.000, total Rp 42.160.000). <br />Sumber: Bagian Anggaran Departemen Keuangan, 28 Januari 2005, sebelum disesuaikan dengan anggaran kenaikan APBN 2006.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-4732314305621614291?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-81295071574717510802008-05-04T15:36:00.000+07:002009-01-29T22:58:19.424+07:00Komputer Unyil Buat Tukang Jalan-Jalan<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SEv_uaFcFyI/AAAAAAAAAKA/9xcVmK3gW_g/s1600-h/foto+Sony+umpc.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SEv_uaFcFyI/AAAAAAAAAKA/9xcVmK3gW_g/s200/foto+Sony+umpc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209538566725310242" /></a><br />Awalnya Anda menganggap keinginan memiliki "kantor berjalan" sebatas guyonan. Sampai suatu kali, Anda membeli ultramobile portable computer (UMPC) alias komputer ultramini, dan membawanya sebagai teman bepergian. <span class="fullpost">Saat itulah, Anda baru tersadar, "kantor berjalan" ternyata bukan sekadar becandaan.<br /><br />Anda pasti masih ingat kejadian minggu lalu. Ketika sedang berdinas di Surabaya, tiba-tiba saja seorang klien bisnis di Jakarta mengirim SMS: "Proposal penawaran kerjasama sudah saya kirim via e-mail. Mohon diperiksa." Celaka dua belas, karena analisis atas proposal penawaran itu sebenarnya sudah ditunggu bos, paling lambat lusa. Sementara Anda sendiri baru tiga hari lagi tiba di Jakarta. Berarti, ada kemungkinan hasil analisis Anda terlambat sampai di meja bos. Keterlambatan yang jelas-jelas mengancam mata pencaharian perusahaan.<br /><br />Tak cukup sampai di situ. Mendadak rekan bisnis di Surabaya meminta Anda menjelaskan pada bos besarnya, tentang cara membangun jaringan nirkabel di kantor mereka yang baru, berbasis sistem teknologi informasi terkini. Kabar buruknya, presentasi harus dilakukan langsung pada si bos besar, yang sedang mengikuti seminar di Bali. "Kalau penjelasannya lewat saya, takut salah omong dan kurang memuaskan. Saya dan bos besar ‘kan sama-sama gagap teknologi,” jelas sang rekan bisnis.<br />Padahal, jadwal Anda ke anak cabang-anak cabang perusahaan di kota-kota di sekitar Surabaya sungguh padat. Dalam dua hari kerja, ada empat tempat yang harus dilongok. Kapan pula bisa melepas kangen pada istri dan anak yang baru berumur tiga bulan? "Kalau bisa mendengar suara mereka, meski cuma sebentar, capek kerja pasti terobati. Pusing-pusing pun langsung terbang," cakap Anda dalam hati. Akankah hari-hari berat itu bakal sukses terlewati?<br /><br /><span>Antara kerja dan chatting</span><br />Jawabnya Anda sudah tahu sendiri. Dengan bantuan komputer ultramini, kerja di Jakarta atau dinas luar kota di Surabaya, terbukti jadi tipis bedanya. Menarik e-mail dan mengedit proposal yang dikirim klien misalnya, Anda lakukan di sela-sela perjalanan menuju kantor anak perusahaan. Tak masalah soal koneksi internet, karena UMPC sudah dilengkapi beragam gerbang menuju dunia maya.<br />Silakan pilih, mau menggunakan jalur teknologi infrared, bluetooth, atau Wifi untuk mengakses GPRS, EDGE, EVDO-1, 3G bahkan HSDPA (3,5 G) dari ponsel dan PDA-phone yang telah mendukung. Kalau punya PC card, lebih gampang lagi, tinggal colokkan ke slot PCMCIA (baik versi GSM maupun CDMA) di UMPC, pintu menuju alam maya langsung terbuka lebar.<br />Sehabis makan siang, proposal yang sudah diedit plus hasil analisis Anda, siap diluncurkan ke sekretaris bos, lewat e-mail tentu. "Terima kasih, Mas. Surat elektroniknya sudah saya terima," tukas sekreataris bos, setengah jam kemudian, sembari mencetak dokumen yang Anda kirim, lalu menaruhnya di meja atasannya. Andai tak dijelaskan si sekreataris, bos tak akan pernah tahu, Anda mengendalikan pekerjaan itu dari Surabaya.<br />Oh ya, karena ukuran UMPC ekstra mungil (ada yang hanya seukuran majalah Intisari ini, setengah ukuran laptop normal, sampai sedikit lebih besar dari PDA), mobilitas Anda dalam mengunjungi cabang perusahaan pun tak terganggu. Ringkas banget gitu loh, bisa dimasukkan ke saku atau tas kecil. Gadget-gadget lain yang biasa menemani perjalanan, untuk sementara dapat diistirahatkan.<br />Bahkan saat rapat dengan jajaran marketing di kantor cabang, komputer cerdas Anda tak hanya andal mencatat (layarnya sudah mengenali tulisan tangan lo), tapi juga merekam semua pembicaraan. Bisa dipastikan, nyaris tak ada curhat dan debat yang terlewat.<br />Sehabis Maghrib, karena tak ingin menumpuk pekerjaan, Anda mengetik transkrip hasil pertemuan sepanjang pagi dan siang hari tadi. Tentu saja mengetiknya di UMPC, dengan software pengolah kata dan data Microsoft Office atau OpenOffice, persis seperti yang ada di kantor. Komputer kecil Anda, selain berjalan di jalur Windows XP, Vista, atau Linux, memang telah dilengkapi piranti Office lengkap.<br />Anda tidak hanya bisa mengetik dan menyimpan dokumen di MS Word, tapi juga dengan mudah membuat dan membaca presentasi di MS Power Point, atau membuat dan membaca tabel-tabel nan njelimet di MS Excel. Lagi-lagi, semua fasilitas tadi sama persis dengan fasilitas yang disediakan komputer desktop Anda di kantor. Data-data penjualan, spesifikasi teknis barang-barang dagangan, serta file surat-menyurat yang tersimpan di komputer kantor, juga bisa diekspor ke UMPC.<br />Setelah mentranskrip, Anda mempersiapkan materi kecil untuk presentasi live di hadapan bos besar klien besok pagi. Ada bahan yang dicuplik dari hasil browsing (sekadar update), tapi sebagian besar sudah ada di komputer mini Anda. Data-data tadi tinggal digabungkan. Beres. Oh ya, masih ada waktu sekitar ½ jam menjelang tengah malam. Lumayan buat melepas kangen pada keluarga. Anda pun chatting dengan istri di Yahoo Messenger, lalu memandang putra tercinta yang sedang tidur, lewat komunikasi video 3G, masih di UMPC.<br />Besoknya, di sela-sela perjalanan mengunjungi anak perusahaan, Anda – masih di Surabaya - dengan meyakinkan berpresentasi di depan bos besar rekan bisnis Anda di Bali. Kok bisa? Kenapa enggak. UMPC ‘kan punya kamera built-in dan kemampuan streaming data yang oke punya. Jadilah Anda dan si bos besar melakukan video conference alias rapat bareng. Lucu juga melihat Anda dan si bos besar bertukar sapa, bertanya jawab, bahkan nyengir bersama, dengan menumpang teknologi 3 G dan 3,5 G.<br />Sore itu, langit Surabaya sedikit mendung. Di perjalanan pulang, Anda seakan tak percaya, dalam dua hari, semua pekerjaan penting berhasil Anda lewati dengan selamat. Ya, berkat UMPC, segala urusan jadi jauh lebih mudah. Sambil berjalan-jalan di toko oleh-oleh (telinga Anda tersumpal earphone bluetooth yang mengalirkan tembang MP3 dari UPMC), senyum manis terus tersungging di bibir.<br />"Pilih batik yang mana, Pak?" sapaan pramuniaga toko membuyarkan lamunan.<br /><br /><span>Tonggak sejarah</span><br />Canggih, kaya koneksi nirkabel dan sangat menunjang aktivitas bermobilitas tinggi, membuat UMPC digadang-dagang sebagai sarana komputasi masa depan. Kenyataannya, memang hampir tak ada pekerjaan kantor yang tidak bisa dikerjakan di komputer "unyil" ini. Aspek konvergensi yang menjadi ciri dan kebutuhan di era mendatang, juga ada. Lihat saja, selain mendukung aktivitas perkantoran, UMPC juga berfungsi sebagai alat komunikasi (beberapa di antaranya telah dilengkapi slot kartu GSM), penjelalah dunia maya nan andal, serta sarana hiburan yang mumpuni (pemutar musik dan video).<br />Hebatnya, UMPC tak sekadar memperkecil ukuran komputer, yang didapat lantaran penggunaan komponen-komponen berukuran mini, seperti chipset, prosesor, dan hard disk mungil. Ia juga telah dilengkapi "senjata" personal komputer atau laptop kelas menengah ke atas. Bahkan bisa dibilang, spesifikasi (mesin dan kapasitas penyimpanan) tak kalah dari desktop dan laptop normal.<br />Beberapa komputer ultramini yang sudah masuk ke Indonesia, salah satunya Amoeba Origami, memiliki tampilan layar hanya 7 inci dan berat 850 g, sehingga sangat enak dijinjing. Sedangkan mesinnya digerakkan oleh prosesor VIA C7 berkecepatan 1 Ghz, memori 512 MB, media data 60 GB, koneksi Wi-Fi 802.11 b/g, Bluetooth 2.0, dan konektor USB.<br />Sementara ECS Elite Group meluncurkan H7O, yang dilengkapi Intel Celeron M 900 Mhz, memori DDR2 256 MB, hard drive 30 GB, Wi-Fi dan Bluetooth, serta kamera internal CMOS 1,3 megapiksel. Ada juga Flybook V33i, yang ditenagai prosesor Intel Pentium M ULV 733 berkekuatan 1.1 Ghz, media penyimpanan 40 GB, ukuran kompak (23,5 x 15,5 x 31 cm), ringan (1,2 kg), koneksi nirkabel HSDPA (3,5 G), Bluetooth 1.2, dan WiFi 802.11b/g. Layarnya berukuran diagonal 8.9 inci, memiliki resolusi 1024 x 600 dan kedalaman warna hingga 32 bit.<br />Atau Samsung Q1, berdimensi 23 cm x 13 cm x 2,5 cm yang telah dilengkapi koneksi jaringan (LAN) nirkabel. Lihat juga kecanggihan Asus R2H, yang menawarkan software Touch Park untuk mengenali tulisan tangan, prosesor Intel Ultra Low Voltage Celeron M 900 MHz, dimensi 23,4 x 28 x 13,3 cm, webcam 1,3 megapixel, layar sentuh LCD 7 inci, hard disk 60 GB, memori DDR2 RAM 768 MB, serta tak ketinggalan, teknologi global positioning system (GPS), agar Anda tak sesat di jalan.<br />Jangan berhenti berdecak kagum, sebelum melihat Vaio VGN-UX27GN, UMPC anyar Sony yang ukurannya (15 x 9,5 mm), berlayar sentuh 4,5 inci, flash memory 40 GB, sistem operasi Windows Vista, prosesor cepat khusus perangkat mobile Intel Centrino Core Solo 1,33 Ghz, memori besar DDR2 1 GB, berat hanya 520 g, koneksi LAN nirkabel serta mendukung kualitas audio high definition standar Intel.<br />Anda telah merasakan sendiri manfaat UMPC. Kini bayangkan, sepuluh tahun dari sekarang (atau bahkan kurang), tak ada lagi orang yang betul-betul bangga dan mengandalkan PC desktop dan laptop bongsor yang gendut dan berat itu. Gaya hidup mobile terkoreksi dengan sangat cepat. Orang lebih suka menenteng UMPC – yang bisa melakukan apa saja dan harganya kini berada pada kisaran Rp 9 juta sampai Rp 25 juta, serta berdaya tahan baterai 2 – 3 jam. Lalu, berbekal hanya UMPC, mereka bekerja sambil minum kopi di kafe, mal, perpustakaan, bahkan di perjalanan.<br />"Buat saya, kehadiran UMPC bak tonggak sejarah, milestone, karena dia memperkenalkan cara baru dalam memanfaatkan komputer. Yang tidak sekadar kecil, tapi juga menawarkan koneksi, konvergensi, dan kemampuan setara dengan PC dekstop dan laptop. Jadi, meski ukurannya mengecil, kemampuan komputasi sama sekali tidak berkurang. Di situlah kehebatannya," tegas Rosa Ridwansyah dari mobile division ECS Elite Group, mengulangi pujiannya terhadap UMPC.<br />Papan ketik kecil (bagaimana dengan mereka yang bertangan raksasa?) dan resolusi layar yang belum maksimal, bukan masalah serius, setidaknya buat lelaki yang biasa dipanggil Oca itu. "Ini baru awal. Beberapa tahun ke depan, UMPC masih akan terus berevolusi. Prediksi saya, dia akan menjadi gadget all in one yang betul-betul powerfull," tegas Oca.<br />"Kelak, prosesornya juga bakal makin cepat dan stabil, diikuti kemampuan grafis yang semakin meningkat. Sehingga dapat mengakomodasi kepentingan para desainer dan penggila game. Di sisi lain, tingkat konvergensinya pun makin tinggi, sehingga mungkin saja ada fitur-fitur tambahan yang sekarang belum terbayangkan," imbuhnya.<br />Jadi, mestinya bukan sekadar mengikuti arus, atau merapatkan gaya hidup, jika Anda mulai menggenggam UMPC sejak sekarang. Ya, 'kan?<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Mei 2007, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-8129507157471751080?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-56412073451250719892008-05-03T21:20:00.002+07:002009-01-27T00:05:17.575+07:00Photo GalleryFrom Ternate without Wallace<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOxRkVdEEI/AAAAAAAAASM/jZk5tbd9w3M/s1600-h/Ternate+lagi2.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOxRkVdEEI/AAAAAAAAASM/jZk5tbd9w3M/s400/Ternate+lagi2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283761703205277762" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOxCCvGstI/AAAAAAAAASE/z8US_kz65mA/s1600-h/Ternate+lagi1.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOxCCvGstI/AAAAAAAAASE/z8US_kz65mA/s400/Ternate+lagi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283761436488020690" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOuZZVtMfI/AAAAAAAAAR8/frVVWzrwcyg/s1600-h/Icul+di+Tidore.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 357px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOuZZVtMfI/AAAAAAAAAR8/frVVWzrwcyg/s400/Icul+di+Tidore.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283758539157615090" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOt7U0mLtI/AAAAAAAAAR0/Z7zQb4KKBmI/s1600-h/Stasiunpenelitianlapanganlipi.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOt7U0mLtI/AAAAAAAAAR0/Z7zQb4KKBmI/s400/Stasiunpenelitianlapanganlipi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283758022548926162" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOtwdlefyI/AAAAAAAAARs/mKcIBk_8iJY/s1600-h/Sijagurdibentengoranye.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOtwdlefyI/AAAAAAAAARs/mKcIBk_8iJY/s400/Sijagurdibentengoranye.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283757835922865954" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOtjqzNK9I/AAAAAAAAARk/Aivy8xLQ5mY/s1600-h/Seminarwallaceternate.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOtjqzNK9I/AAAAAAAAARk/Aivy8xLQ5mY/s400/Seminarwallaceternate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283757616131812306" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOtKtenFqI/AAAAAAAAARc/a5axmAv1Txc/s1600-h/Rombonganwartawanternate1.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOtKtenFqI/AAAAAAAAARc/a5axmAv1Txc/s400/Rombonganwartawanternate1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283757187354007202" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOszx7KThI/AAAAAAAAARU/8s8jt9UERq0/s1600-h/Rombonganwartawanternate.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOszx7KThI/AAAAAAAAARU/8s8jt9UERq0/s400/Rombonganwartawanternate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283756793410506258" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOsgfPvdDI/AAAAAAAAARM/exv818mvzdw/s1600-h/Robonganwartawanternate.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOsgfPvdDI/AAAAAAAAARM/exv818mvzdw/s400/Robonganwartawanternate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283756461979038770" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOsOz3kidI/AAAAAAAAARE/ZEt1hWYuON8/s1600-h/Maunaikdashternate.jpg"><img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVOsOz3kidI/AAAAAAAAARE/ZEt1hWYuON8/s400/Maunaikdashternate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283756158277159378" /></a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-5641207345125071989?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-10218322709157197142008-05-03T11:42:00.000+07:002008-12-26T22:45:38.794+07:00<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVMPuGJCQNI/AAAAAAAAAN0/Zp3UuOwV70c/s1600-h/Bukit+Seribu+Blog.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVMPuGJCQNI/AAAAAAAAAN0/Zp3UuOwV70c/s400/Bukit+Seribu+Blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283584072432632018" /></a><br /><b>Brief in snapshoot</b>. Orang Ternate dan Tidore sangat bangga, karena pulau mereka diabadikan di uang kertas Rp 1.000. Tanpa ragu, bukit tempat saya mengambil foto ini, di awal Desember 2008 lalu, pun mereka namai Bukit Seribu Rupiah. Sampai kini, Ternate (kiri) dan Tidore (kanan, latar belakang) tampak tetap seindah di uang seribuan, entah sampai kapan. <br /><div class="fullpost"><br /></div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-1021832270915719714?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-46658949288060949152008-04-15T18:39:00.022+07:002009-01-26T21:59:56.232+07:00Mereka Berubah Dengan OCEAN<span class="fullpost"><br />Dunia terus berubah dan memunculkan tuntutan baru. Tapi selalu saja ada anak-cucu Adam yang merasa tidak harus ikut berubah. “Lha, dari dulu kita sudah begini, mau diapakan lagi?” teriak mereka. Rhenald Kasali, lewat bukunya Recode Your Change DNA (terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2007) mengangkat istilah “DNA perubahan” (Change DNA), untuk menjelaskan, mengapa ada sebagian orang yang gampang berubah (bahkan menggerakkan perubahan), sementara sebagian lagi terkesan lamban dan ogah-ogahan. Ada apa dengan DNA mereka?<br /><br />Perhatikan sekeliling Anda. Betapa banyak orang yang menganggap dirinya sudah mentok, sehingga merasa tak mungkin (dan tak ingin) lagi ikut arus perubahan. Seolah-olah ada faktor keturunan, sesuatu yang sudah terkode dalam genetika biologi dan mempengaruhi perilaku mereka. Semuanya bak terkunci di sana. Genetika biologi itulah yang disebut DNA (deoxiribo nuclead acid) alias molekul pembawa sifat. <br /><br />Makanya, mengubah orang yang tak ingin berubah menjadi perkara yang tidak mudah. Mesti ada treatment khusus pada kode-kode pembentuk DNA itu. Treatment yang disebut dengan re-code, artinya kira-kira membentuk atau menata kembali kode-kode sebuah sel pembentuk suatu organ, agar organ itu dapat menjalankan fungsinya seperti yang diinginkan, dan melahirkan manusia baru.<br />Hebatnya, tulis Rhenald, bukan cuma manusia, organisasi atau perusahaan pun dibentuk oleh DNA. Karena dibentuk dan dikerjakan oleh manusia (pemilik jutaan sel yang mengandung molekul-molekul pembawa sifat), maka organisasi dapat dipandang sebagai makhluk hidup. Buktinya, ia bisa dilahirkan, tumbuh, melewati masa kanak-kanak, remaja, dan menjadi tua. Pun bisa sakit, lumpuh, dan tidak berdaya, sampai akhirnya mati. <br /><span style="font-weight:bold;">Kombinasi lima unsur dominan</span><br />Istilah DNA sendiri bukan barang baru dalam khasanah ilmu. Berawal dari ilmu genetika biologi, kode-kode DNA kiwari telah banyak digunakan dalam mendeteksi keturunan, pelaku-pelaku kriminal, dan penyakit-penyakit bawaan (keturunan). Paling bontot, dengan ilmu ini para ahli sukses membuat kopian dari genetika, sehingga menghasilkan sosok organ yang sama persis dengan sel yang dikopi.<br />Gairah para peneliti dalam ilmu genetika tampaknya masih akan terus berlanjut, seiring terus berkembangnya teknologi genome. Dari studi-studi mutakhir yang dilakukan, kelihatan mereka mulai tertarik memasuki arena personality (kepribadian) dan perilaku. Sepertinya, ilmu genetika biologi tengah bergerak membentuk cabang baru, mengarah pada genetika perilaku (behavioral genetics).<br />Unsur DNA menjadi sangat penting karena ia memberi indikasi tentang hidup kita. Kalau 99,9% genetika manusia dibentuk oleh gen yang identik satu dengan yang lain di seluruh dunia, maka masih ada yang tersisa 0,1% yang memberi indikasi tentang sifat, kekuatan, kelemahan yang membedakan tiap orang. <br />Saat dilahirkan, setiap manusia diyakini punya molekul-molekul DNA yang bagus, termasuk kombinasi beberapa unsur bawaan yang oleh Rhenald disebut sebagai “DNA perubahan” (change DNA), sifat-sifat yang dapat membentuk seseorang menjadi pengubah atau penggerak perubahan. Setidaknya, ada lima komponen dominan dalam kombinasi itu (Costa & McCrae, 1997), dalam bahasa Inggris dikenal dengan akronim “OCEAN” (Openness to experience/keterbukaan pikiran, Conscientiousness/keterbukaan hati dan telinga, Extroversion/keterbukaan diri, Agreeableness/keterbukaan terhadap kesepakatan, dan Neuroticism/keterbukaan terhadap tekanan).<br />Siapa pun Anda (bangsawan maupun wong ndeso), pasti punya semua unsur itu, meski kadarnya bervariasi. Ada satu unsur yang kadarnya tinggi, sedang-sedang saja, sampai rendah sekali. Karena unsur-unsur itu bukan sesuatu yang bersifat biologis, melainkan behavioral, maka terpulang pada Anda bagaimana mengotak-atiknya. Di tangan Anda, unsur-unsur itu bisa terus tumbuh dan berkembang, atau sebaliknya, layu dan terkubur.<br />Tokoh-tokoh perubahan yang sering disebut-sebut dalam sejarah, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Abraham Lincoln, atau Ir. Soekarno, semua kebanjiran karakter dan kepribadian di atas. Mereka tidak dogmatis dalam berpikir, terbuka terhadap hal-hal baru, disiplin dalam menyelesaikan sebuah proses, bukan penyendiri, terbuka terhadap kesepakatan, percaya pada orang lain, dan secara emosional mampu mengatasi segala tekanan dengan kepala dingin. <br />Dalam perjalanan hidup seseorang, unsur-unsur “DNA perubahan” itu masih harus berinteraksi dengan lingkungan. Saat berinteraksi itulah unsur-unsur yang bagus bisa terbelenggu oleh berbagai unsur lain, sehingga tidak muncul ke permukaan. Faktor ini disebut non-shared environmental influences yang masuk kategori unsur non-DNA. Itu sebabnya, banyak orang tidak dapat mempertahankan kekuatan “DNA perubahan”-nya, sehingga gagal mengikuti jejak tokoh-tokoh hebat di atas. <br />Begitu pentingnya faktor lingkungan itu, sampai-sampai terlontar pemeo “You are what your friends” (Anda adalah bagian dari teman-teman Anda). Sebab, tempat di mana Anda berada dan berkembang turut membentuk Anda. Orang-orang lulusan Harvard misalnya, walaupun hanya menghabiskan waktu dua tahun bersama-sama saat kuliah di Boston, ternyata memiliki karakteristik kepemimpinan yang sama.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Yang mustahil jadi riil</span><br />Untuk lebih jelasnya, Rhenald mengajak pembaca belajar dari tokoh-tokoh yang berhasil mempertahankan dan menggunakan kekuatan “DNA perubahan” mereka, sehingga tercatat sebagai sosok istimewa. Tiga nama paling menarik - Muhammad Yunus, Paul Ostellini, dan Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum – disebut-sebut memiliki kadar OCEAN yang sangat tinggi dan pola pikir berbeda dengan rata-rata manajer biasa. Mereka bahkan berani melanggar aturan dan menciptakan standar baru.<br />Keberanian Muhammad Yunus mendirikan bank khusus untuk orang miskin di Bangladesh, misalnya, sungguh luar biasa. Suatu hari di tahun 1974, di Jobra, sebuah desa di Bangladesh, sebagai guru besar ilmu ekonomi Universitas Chittagong, Yunus melakukan kunjungan ke lapangan. Maklum, ia baru balik dari belajar di sebuah universitas terkemuka di Amerika Serikat. Tetapi apa yang dilihatnya secara riil di Jobra hari itu menimbulkan pengaruh yang sangat besar di kemudian hari.<br />”Betapa malunya saya. Mereka terperangkap pada kemiskinan, padahal yang mereka perlukan tidak seberapa,” ujar sang profesor. Yang mereka butuhkan adalah pinjaman tanpa jaminan dengan bunga dan cicilan yang rendah. “Mahasiswa saya kemudian menghitung berapa jumlah orang yang memerlukan bantuan. Seluruhnya ada 42 orang, dan total modal yang diperlukan cuma 856 taka, atau kurang dari AS $ 27. Wah, saya tak memerlukan pemerintah untuk membantu mereka,” ujarnya. <br />Itulah alasan yang mendasari Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank pada 1976, bank untuk kaum papa, bank yang memberikan pinjaman tanpa jaminan. Sebuah sasaran yang dianggap mustahil oleh pemerintah maupun masyarakat perbankan. Yunus telah mengubah sesuatu yang dianggap mustahil menjadi benar-benar ada. “Mereka tidak perlu pelatihan untuk survival. Mereka tahu persis bagaimana untuk survive,” sambung sang profesor.<br />Orang-orang miskin itu sebenarnya tidak perlu modal dalam jumlah besar, tetapi sistem perbankan yang ada tidak memungkinkan mereka untuk memperoleh pinjaman. Di mata Yunus, kaum miskin itu harus diubah, dari orang kampung biasa, dari orang miskin, menjadi seorang wirausaha. Mereka perlu diberi wadah yang lebih besar, agar akarnya bisa keluar mencari makan sendiri ke mana-mana.<br />Untuk memperoleh pinjaman dari Grameen, mereka harus menaati sejumlah aturan. Grameen hanya memberikan kredit kepada peminjam individual yang membentuk kelompok berjumlah lima orang. Gagasannya adalah memberikan tekanan kelompok, agar anggota-anggota menjadi lebih bertanggung jawab untuk mengembalikan pinjaman. Cara ini dikenal sebagai sistem “grup solidaritas”, di mana setiap anggota kelompok kecil bertindak sebagai rekan-penjamin pembayaran dan mendukung usaha satu sama lain.<br />Tak diduga, ternyata kaum miskin merespons begitu positif. Sampai tahun 2004, bank ini telah menyalurkan pinjaman mikro sebesar AS $ 4,5 miliar, dengan recovery rate sebesar 99%. Lebih dari tiga juta orang telah menjadi nasabah. Stephen Covey, dalam bukunya The 8th Habit, mencatat Grameen Bank telah beroperasi di lebih dari 46.000 desa di Bangladesh dan mempekerjakan sekitar 12.000 karyawan.<br />Pada awal 2004, Yunus membidik pengemis menjadi nasabah Grameen. Tak disangka, dalam tempo empat bulan, sudah 8.000 pengemis menjadi nasabahnya. Tahun itu juga, target yang semula “hanya” 10.000 nasabah di akhir tahun, dikoreksi menjadi 25.000 nasabah pengemis!<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Keberanian menghancurkan rezim lama</span><br />Lain Muhammad Yunus, beda Paul Otellini. Baru saja menjabat sebagai CEO Intel, perusahaan pembuat perangkat keras komputer tersohor Amerika Serikat, Otellini telah membuat kejutan dengan menghancurkan pola pikir lama warisan pendahulunya. Padahal, meski bercokol di posisi puncak, pria berusia 55 tahun yang memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Universitas San Fransisco dan MBA dari sebuah sekolah bisnis di California itu sebelumnya disebut-sebut masih berada dalam bayang-bayang Andrew S. Groove. <br />Groove adalah tokoh spiritual Intel, sekaligus tokoh kharismatik dalam industri teknologi informasi dunia. Meski sudah pensiun, roh Groove masih gentayangan di seluruh denyut nadi Intel dan sekarang menjabat senior advisor. Tak seorang pun dapat melakukan tindakan strategis tanpa restu darinya. Otellini dihadapkan pada pilihan sulit: menghadapi para pendahulunya dengan penuh keberanian atau ikuti saja apa kata mereka. Otellini akhirnya memilih untuk berdiri di atas keyakinannya sendiri.<br />Di sebuah konferensi di Amerika Serikat, Otellini berujar, “Betul saat ini Amerika memimpin industri IT, tetapi kepemimpinan ini tidak akan kekal. Lihatlah, saat ini pertumbuhan pemakaian internet terbesar sudah bukan di sini lagi, melainkan di Asia.” Untuk mengantisipasi kemunduran industri IT Amerika, ia menggagas konsep multi-core processor. Apakah ini berarti Intel akan meninggalkan core industrinya di bidang computer microprocessor?<br />Orang-orang yang bekerja di bidang rekayasa dan desain Intel merasa aneh dengan pandangan Otellini. Tetapi Otellini terus mengasah pikiran-pikirannya. Kepada Majalah Times yang mewawancarainya, Otellini mengatakan masa depan itu ada di MP3 player buatan Apple, iPod. Dengan menghubungkan iPod (mesin musik) ke laptop (disebutnya content machine) dan PC (producting machine), orang bekerja sambil menghibur diri.<br />Singkatnya, kalau gagasan itu jadi diteruskan, wajah Intel berubah total. Ia bisa menjelajah dunia-dunia baru lewat pintu gerbang iPod. Ini berarti ia akan melawan rumus keramat Intel, “Hukum Moore”, yang telah membimbing Intel mencapai sukses. Hukum yang membuat para insinyur bekerja tekun mengembangkan rekayasa microprocessor untuk komputer dari masa ke masa, untuk menciptakan prosesor baru yang lebih cepat dalam tempo 18 bulan sekali.<br />Selain soal kebijakan, kapabilitas Otellini sendiri awalnya sempat dipertanyakan. Sudah bukan rahasia lagi, di Intel, para insinyur adalah warga negara kelas satu. Mereka memimpin penemuan-penemuan produk baru, cara pembuatan produk, pabrikasi, perawatan mesin, dan sebagainya. Saat Otellini diangkat sebagai CEO, Mei 2005, sesuatu yang berbeda telah terjadi. Ya, Otellini bukan insinyur! Ia akuntan lulusan sekolah bisnis. <br />Para insinyur pun memandang bos barunya dengan arogan. Mereka makin gerah, karena tak lama setelah diangkat, Otellini bukan merangkul mereka, melainkan merekrut orang-orang baru. Untuk posisi direktur pemasaran, ia memilih Eric B. Kim, wong Korea yang besar di Samsung. Selain Kim, ada puluhan dokter senior yang mulai masuk tim inti. Salah satunya Bern Shen, dokter spesialis yang diberi job mengembangkan teknologi kesehatan digital.<br />Tak lama kemudian, terdengar kabar sejumlah desainer yang mengerjakan proyek Pentium 4 (proyeknya dihentikan Otellini), mengundurkan diri. Mereka pindah ke perusahaan-perusahaan pesaing, AMD, Texas Instrument, dan IBM. Kejadian-kejadian itu cukup merisaukan. Otellini pun berkeliling, mendengarkan secara langsung suara-suara sumbang itu. Eksodus mengancam masa depan Intel, dan ia harus menemui mereka.<br />Kepada mereka, Otellini memaparkan data yang dengan jelas menunjukkan tanda-tanda penurunan sedang mengancam Intel. Termasuk data sepak terjang pesaing nomor satu mereka, Advanced Micro Devices (AMD) - sama-sama pembuat chip komputer sejak 2004 – yang mulai menggerogoti pangsa pasar Intel. Otellini berhasil menunjukkan sesuatu yang selama ini luput dari penglihatan para insinyur.<br />Rencana perubahan yang digalang Otellini dan timnya memang sangat revolusioner. Majalah Business Week mencatat, “Otellini mengguncang setiap sudut perusahaan. Selain melakukan reorganisasi, ia juga membuat perubahan besar dalam pengembangan produk. Bila pada masa lalu para insinyur mengerjakan chip yang semakin cepat dan setelah itu membiarkan tenaga pemasaran menjualnya, sekarang produk dikembangkan bersama-sama.”<br />Masa depan Intel harus dibangun dengan budaya baru yang lebih terbuka, lebih horizontal, dan tak ada lagi istilah pemimpin kharismatik dan warga negara kelas satu. Majalah Business Week yang terbit awal 2006 melaporkan bagaimana tegangnya suasana rapat tahunan yang digelar pemimpin baru Intel di hadapan sekitar 300 manajernya di Santa Clara, 20 Oktober 2005. Apalagi rapat itu juga dihadiri pemimpin yang sangat dihormati seluruh karyawan dan manajer Intel, Andy S. Groove.<br />Lebih-lebih lagi, dalam rapat itu, yang melakukan presentasi bukan pria berkulit putih, melainkan Eric B. Kim, direktur pemasaran keturunan Korea. Dalam presentasinya, Eric dengan dingin berujar tak mempedulikan budaya Intel yang sangat mengagungkan masa lalu. Semua orang terdiam saat Kim mengusulkan untuk membunuh segala legacy yang dibangun Groove: logo, simbol “e”, kata “Intel Inside”, produk, merek Pentium, dan lain-lainnya. <br />Semua yang hadir kenal betul bagaimana suara bariton Groove keluar, saat ia meledak marah. Tapi ternyata, di luar dugaan banyak orang, Groove tidak merasa terhina. Ia legowo, menerima semua rencana itu dengan lapang dada. Semua orang pun berdiri, bertepuk tangan. Itulah awal sebuah proses, proses perubahan yang membawa Intel ke dunia yang sama sekali baru. Groove menyadari zaman telah berubah dan ia telah mencetak sejarah. Sekarang giliran orang lain untuk mencetak sejarah yang lain.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Langkah gesit rusa padang pasir</span><br />Kisah pemilik OCEAN tinggi lainnya, Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum dalam mengubah padang pasir menjadi “Hongkong-nya Timur Tengah” tak kalah menarik. Suatu hari, tanggal 18 Februari 1968, di sebuah tenda berjendela di tengah padang pasir yang menyengat, bertemulah dua orang bangsawan Arab. Yang satu Sheikh Zayed, penerus tahta Emir Abu Dhabi, dan satu lagi Sheik Rashid, pangeran penerus tahta Dubai. Mereka bertemu untuk menindaklanjuti pembicaraan yang sudah dirintis bertahun-tahun, untuk melahirkan sebuah federasi.<br />Sheikh Rashid alias Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, saat itu baru saja tiba dari London, setelah menyelesaikan studinya sebagai kadet di Aldershot, 40 mil sebelah selatan ibu kota Inggris. “So, Rashid, sekarang bagaimana? Jadikah kita membentuk federasi itu?” tanya Zayed. Tanpa terlalu banyak berpikir, Sheikh Mohammed menjawab, “Ulurkan tanganmu Zayed. Mari kita bersepakat, kita bangun negeri tercinta ini bersama-sama. Andalah presidennya.” Mereka pun berpelukan.<br />Itulah awal terbentuknya union, yang kelak dikenal sebagai Uni para Emir Arab, atau Uni Emirat Arab (UEA). Tak berhenti sampai di situ, Sheikh Mohammed segera mengambil langkah-langkah strategis. Siapa pun yang baru saja keluar dari Benua Afrika dan mendarat di negara-negara Teluk, selalu membayangkan bahwa Timur Tengah tak ubahnya rusa jinak.<br />Di rimba Sabana di Afrika, rusa-rusa yang jinak akan segera menjadi sasaran empuk binatang-binatang lain seperti singa, leopard, bahkan srigala. Sebagai penghasil minyak, raja-raja Arab punya daya dorong yang kuat untuk hidup santai, menikmati kekayaan alam warisan Tuhan. Dengan berperilaku demikian, sudah pasti mereka akan menjadi sasaran empuk hewan-hewan ekonomi bernaluri rimba.<br />Menyadari hal itu, Sheikh Mohammad Bin Rashid yang gemar membuat puisi-puisi indah, melontarkan filsafat hidupnya, “Whether you are a deer or a lion, you have to run fast to survive.” Di pagi-pagi buta, manakala rusa-rusa jinak belum puas betul menikmati tidurnya, rombongan singa sudah pasti memburunya. Supaya selamat, rusa-rusa itu tidak cukup hanya harus hidup berkelompok dan saling melindungi diri, melainkan mereka juga harus bisa berlari kencang dengan gesit. <br />Ucapan Sheikh Mohammed rupanya sangat membekas di hati para pengikutnya. Supaya hidup, mereka semua harus bekerja keras dan bekerja cepat. Supaya bisa bekerja cepat, mereka semua harus bisa membangun sistem yang simpel dan berpikir simpel. Sang Sheikh sendiri selalu bangun pagi-pagi, berjalan seorang diri mengontrol proyek-proyek penting. “Saya turun ke bawah, melihat wajah-wajah, menggerakkan mereka. Saya mengambil keputusan tanpa keragu-raguan dan bergerak cepat. Dengan penuh energi.”<br />Gerakan penuh energi dengan arahan yang jelas telah menjadikan UEA dan Dubai sebuah kawasan sejahtera dalam tempo kurang dari 20 tahun. Sheikh Mohammed menyadari pentingnya rencana, tetapi bukan sekadar rencana. Baginya setiap rencana harus mengandung tiga hal, yaitu filosofi, prioritas, dan disiplin. Filosofi diperlukan untuk menetapkan apa yang menjadi landasan berpikir untuk melihat masa depan di tengah-tengah ribuan pilihan yang sama pentingnya.<br />Ia memilih ekonomi sebagai prioritas, bukannya politik. Sheikh Mohammed berpandangan, untuk berpolitik yang beradab, manusia harus sejahtera lebih dahulu. Maka yang ia butuhkan untuk membangun negerinya bukanlah politisi ataupun pengamat<br />yang bisanya mengritik. <br />Tahun 1977, ia membentuk sebuah komite untuk membangun Dubai International Airport. Visinya, Dubai akan dijadikan hub (?) untuk memasuki wilayah-wilayah lain di Afrika dan Timur Tengah. Bahkan juga untuk penerbangan komersial dari Asia ke Eropa Barat. Setelah Bandara Dubai Internasional beroperasi secara komersial, pada tahun 1985, Sheikh Mohammed bin Rashid memanggil Maurice Flanagan, General Manager Dubai National Tourist Authority ke istananya di Za’Abeel Palace.<br />"Sheikh mengatakan ia ingin segera memulai usaha jasa penerbangan udara secepat mungkin. Sheikh bertanya, perlu modal berapa besar? Dan berapa lama dibutuhkan supaya bisa segera beroperasi?” ujar Maurice. Ia tahu persis Sheikh Mohammed adalah orang yang tak ingin menunggu berhari-hari dan mementingkan profesionalisme. <br />Maka setelah berhitung sejenak, Maurice segera menjawab,<br />“Sepuluh juta dolar.” Mendengar itu Sheikh Mohammed mengangguk-anggukkan kepala. Ia segera membentuk sebuah tim kecil yang bekerja secara rahasia. Hanya dalam hitungan bulan, tak lama kemudian Emirates sudah mengudara untuk pertama kalinya (25 Oktober 1985). Pesannya kepada para pengikutnya sangat sederhana, “Cari orang-orang bagus dari mana saja dan berikan yang terbaik.” Sekarang Emirates dikenal sebagai maskapai dengan kekuatan pelayanan dan jaringan nan luas.<br />Sheikh Mohammed juga punya visi untuk menjadikan Dubai sebagai daerah pariwisata kelas dunia. Namun untuk datang ke sana, Dubai harus menjadi kota terbuka. Saat ini saja, dari tiga juta penduduknya, penduduk aslinya hanya kurang dari satu juta. Selebihnya pendatang. Sheikh juga membangun empat point of interests. <br />Pertama, Dubai Shopping Festival (DSF) yang direncanakan langsung oleh Sheikh Mohammed. DSF adalah festival tahunan yang dilakukan secara terpadu untuk mempromosikan ekonomi UEA kepada dunia. Kedua, DSF didukung oleh sebuah event besar, yaitu perebutan Dubai World Cup, sebuah arena balap kuda kelas dunia. Kuda dan pembalapnya didatangkan dari berbagai negara. Hadiahnya sebesar AS $ 2,4 juta. <br />Ketiga, Sheikh membangun sebuah resor dengan bangunan hotel yang unik di laut Arab, yang tingginya hanya 60 m lebih rendah dari Empire State Building, Burj Al Arab (The Tower of the Arabs). Keempat, mengaktifkan resor di padang pasir yang dliengkapi arena racing untuk mendatangkan pembalap-pembalap kelas dunia.<br />Tak disangka, ternyata bukan cuma turis yang datang. Investasi pun bertandang. Tahun lalu, angka pertumbuhan bisnis properti melebihi target sebesar 20%. Kantor-kantor perwakilan dagang asing berdatangan. Sementara itu turis yang mampir (2005) mencapai 5,5 juta orang. Padahal biaya yang harus dikeluarkan untuk melancong ke negeri ini tidaklah kecil. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Mengapa ada yang gagal?</span><br />Rhenald menyebut tiga tokoh di atas sebagai orang-orang yang mampu mengombinasikan OCEAN-nya dengan sempurna. Ya, Matahari tentu akan tersenyum setiap pagi jika semua penghuni Bumi mempunyai “DNA perubahan” top seperti mereka. Masalahnya, dalam realitas sehari-hari, kita justru lebih banyak menemui “orang-orang bagus” di pemerintahan maupun di berbagai perusahaan yang sulit berkembang, dan akhirnya lebih memposisikan diri sebagai “follower” daripada<br />“leader”.<br />"DNA perubahan” mereka macet. Alih-alih menjadi penggerak,<br />“orang-orang bagus” itu akhirnya malah larut dalam sistem. Apa sebabnya? Salah satunya, tulis Rhenald, karena orang sering mengabaikan sesuatu yang sangat penting, yaitu unsur pembawa sifat yang membentuk organisasi. Treatment organisasi dapat membuat individu-individu ber-"DNA perubahan” bagus tak berarti.<br />Pada awal-awal berdirinya, organisasi mulai mencari bentuk. Seperti seseorang yang baru datang untuk menetap di suatu kota, ia akan mengeksplorasi jalan-jalan yang ada, sampai ia mengetahui jalan tercepat dan termudah untuk mencapai tempat yang dituju. Setelah sekali-dua kali merasa nyaman, maka jalan itu akan ditetapkan sebagai rute utama. Ia akan membentuk “peta” yang mewarnai pikiran. Ketika manusia dan organisasi mulai menemukan jalannya itulah mestinya sebuah peringatan harus segera dilayangkan, "Hati-hati, Anda akan terbelenggu oleh tradisi!"<br />Mulanya, Anda mencari kebiasaan, tetapi lambat-laun Anda akan dikuasai oleh kebiasaan. Anda akan terbelenggu bolak-balik melewati jalan yang sama di sana dan frustrasi. Ada organisasi yang mencoba memperbaiki “DNA organisasi” dengan memasukkan<br />”darah-darah segar” baru. ”Darah-darah segar” itu dapat berupa manajer-manajer baru atau anak-anak muda yang masih segar. Diharapkan, mereka mampu menjadi katalis untuk memberi ”warna baru”. Mereka diseleksi dengan ketat dan career track yang cepat. <br />Waktu berlalu. Lewat setahun, orang-orang baru sudah tidak menjadi baru lagi. Kemungkinannya hanya tinggal dua, yaitu mereka mulai punya banyak musuh, atau mereka telah larut menjadi "sama" dengan DNA mayoritas organisasi. Jika larut, DNA baru yang dibawa dari luar mengalami re-coding dan kode-kode pembentuk perilakunya menjadi sama satu dengan lainnya. Sedangkan mereka yang memiliki kepribadian dalam DNA yang lebih kuat biasanya cenderung mencari karier di tempat lain.<br />Jadi, apa jalan keluarnya? Pertama, supaya tetap sehat, organisasi harus digerakkan. Pendiri dan para pemimpinnya harus meniupkan roh kehidupan dari hari ke hari. Organisasi harus diberi visi, keputusan-keputusan strategis, merekrut dan melatih kembali anggota-anggotanya agar sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan baru. Kalau mereka teguh, mereka akan konsisten membawa nilai-nilai baru dan bekerja dengan etos kerja yang berbeda.<br />Kedua, perubahan hanya dapat dipicu lewat sebuah rencana. Rencana yang baik, didukung oleh target yang terkendali, dapat menggerakkan seluruh energi ke titik yang sama. Baik rencana strategis yang berisi arah dan tujuan dalam jangka panjang, maupun rencana tindakan (action plan). Rencana-rencana itu harus dibuat tertulis, menyeluruh, lengkap dengan perincian sasaran, waktu, serta resources yang dibutuhkan. Jika gagal membuat rencana, sama artinya dengan merencanakan kegagalan.<br />Ketiga, jangan biarkan perusahaan menjadi tua. Perusahaan bisa tampak tua karena hal-hal sepele. Gedungnya kusam, lampu-lampunya redup, pegawainya tidak diurus dengan baik, respons terhadap berbagai permintaan lambat, banyak melakukan kesalahan, logonya lama tak diremajakan, armadanya sudah tua, usia pegawainya rata-rata sudah tua, tingkat turnover-nya rendah, pakaian mereka ketinggalan zaman, dan yang lebih penting lagi, produk dan jasa yang ditawarkan dari waktu ke waktu tetap sama.<br />Dahulu ada anggapan, mempertahankan loyalitas karyawan sangat penting. Turnover yang rendah berarti bagus. Tetapi sekarang di mana-mana mulai terdengar tawaran ”pensiun dini”, sementara rekrutmen baru (fresh graduates) tetap dilakukan. Refreshment semata-mata dibutuhkan agar terjadi penguatan mutu DNA. Semakin mereka merasa nyaman dan betah bekerja, semakin sulit bagi perusahaan untuk melakukan peremajaan. Sebaliknya, semakin kuat turnover, semakin besar kesempatan memperbaharui mutu sumber daya manusia (SDM).<br />Kematian atau kepunahan biasanya menimpa organisasi-organisasi yang mengalami kekakuan dalam pengelolaan sumber dayanya. Mereka yang tak mempunyai ruang sama sekali untuk memperbaharui mutu SDM, misalnya, sangat berisiko menghadapi kematian alami. Pembaharuan yang dimaksud di sini tentu saja bukan sekadar memangkas, mempensiunkan atau menggantikan, melainkan juga memperbaharui sikap mental, keahlian, dan kompetensi.<br />So, seperti saran Rhenald Kasali, pertimbangkan mengode ulang “OCEAN” dalam “DNA perubahan” Anda dan organisasi Anda, jika tak ingin tergilas zaman. Dengan “DNA baru”, Anda akan menjadi “manusia baru”, yang berpotensi lebih maju, lebih sukses, dan lebih bermanfaat buat masyarakat. Awas, jangan bilang tidak setuju!<br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Lima Tuntutan Perubahan</span><br /><br />1. Visi tentang arah masa depan.<br />2. Keterampilan untuk mampu menjawab tuntutan-tuntutan baru. <br />3. Insentif yang memadai, baik langsung maupun tidak langsung.<br />4. Sumber daya yang memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan.<br />5. Rencana tindakan, rangkaian tindakan yang diintegrasikan dalam langkah-langkah yang spesifik dan dimengerti mereka yang terlibat.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Maret 2007, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-4665894928806094915?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-69824517066293718812008-04-15T18:32:00.013+07:002009-01-26T21:59:27.220+07:00Susahnya Jadi Raja Negeri Dongeng<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SCzSlwHUsfI/AAAAAAAAAFw/unkdZRmi_FQ/s1600-h/Prince+Ranier+(msnbc.com).jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SCzSlwHUsfI/AAAAAAAAAFw/unkdZRmi_FQ/s320/Prince+Ranier+(msnbc.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200763215718691314" />(gambar Pangeran Rainier dalam busana kebesaran/Foto: msnbc.com)</a><br />Puluhan tahun, Pangeran Rainier menjadi raja sekaligus humas nomor wahid Kerajaan Monako. Cerita seputar kehidupan pribadinya – selain kualitas kepemimpinan yang mumpuni - selalu jadi headline media massa dunia. Wajar jika meninggalnya pria yang kerap dipanggil bos itu diikuti keraguan: apakah sang pengganti, Pangeran Albert II, dapat berperan sama baiknya dengan sang Bapak dalam "mempromosikan" Monako?<br /><br />Dunia pasti belum lupa pada kiprah putri tertua Rainier – Grace Kelly, Caroline (kini 48 tahun), yang kecantikannya dan keanggunannya tak hanya pernah dipuja banyak lelaki, tapi juga telah membawanya tiga kali berganti suami. Salah satu mantan suami Caroline, pengusaha Italia Stefano Casiraghi, meninggal muda karena kecelakaan. Sekarang Caroline jatuh ke pelukan bangsawan Jerman, Ernst August (51), yang dinikahinya tahun 1999.<br /><span class="fullpost"><br />Atau si bungsu Putri Stephanie (40) yang kehidupan rumah tangganya lebih tak keruan. Si anak liar – begitu julukannya – sejak umur 16 tahun sudah bikin skandal. Mantan pacarnya bervariasi, mulai Paul Belmondo (anak bintang film terkenal Prancis, Jean Paul Bermondo), sampai pecandu narkoba Mario Oliver. Stephanie juga gemar berkencan dengan para pengawalnya, semisal Daniel Ducruet yang dinikahinya tahun 1995. Kabar terakhir, dia berkencan berturut-turut dengan pelayan bar Pierre Pinelli, penjinak gajah Franco Knie, dan pemain sirkus Lopes Peres. Heboh.<br />Namun, yang paling menghebohkan tentu saja kisah pencarian cinta salah satu playboy terbeken Eropa, Pangeran Rainier, yang akhirnya berlabuh di pelukan bintang film Hollywood, Grace Kelly. Pernikahan keduanya pada 18 April 1956 menjadi salah satu pesta jet-set paling meriah. Pernikahan itu betul-betul membawa Monako pada puncak popularitas yang tak surut, meski Grace tewas dalam kecelakaan mobil, 14 September 1982. Disusul meninggalnya Rainier (81) April 2005 lalu, akibat komplikasi penyakit jantung, ginjal, dan paru-paru.<br />Suka atau tidak suka, harus diakui, sepak terjang putri dan pangeran dinasti Grimaldi tadi ikut mendongkrak sektor pariwisata (yang sangat diandalkan Monako sejak zaman baheula), dan membentuk citra Monako sebagai Negeri Dongeng di era modern. Citra ini diperkirakan bakal meredup di masa pemerintahan Pangeran Albert II.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Seleb kok tak dikenal</span><br />Pangeran Albert (47) tampaknya benar-benar menyandang beban berat. Sebab, di luar "alam dongeng" yang membuat ayahnya menjadi salah satu selebriti paling populer, Pangeran Rainier – persisnya Pangeran Rainier III - yang memerintah Monako sejak 1949 (salah satu raja yang paling lama berkuasa di Eropa), memang layak dipuji setinggi langit. Terutama upayanya mengembangkan sektor bisnis, guna mengurangi ketergantungan pada pariwisata dan legalisasi perjudian. <br />Presiden Prancis Jacques Chirac bahkan menjuluki Rainier sebagai "Bapak Modernisasi" Monako. "Dia berhasil membawa negaranya ke panggung internasional, sambil tetap mempertahankan unsur-unsur tradisional Monako," tegas Chirac. Sementara politisi Prancis lain menyoroti kemandirian pria buah perkawinan Putri Charlotte dari Monako dan Pangeran Pierre de Polignac ini. <br />Selama memerintah, Rainier yang mengalami langsung pergantian lima Paus dan tujuh presiden Prancis ini memang pernah dengan tegas menentang Jenderal de Gaulle. Ia pun tak segan-segan berbeda pendapat dengan Jacques Chirac – kejadian yang sering dikhawatirkan pihak luar akan menjadi krisis diplomatik. Pangeran Rainier diakui pandai memanfaatkan peluang untuk membebaskan diri dari pengaruh Prancis. Sebaliknya, Prancis pun berusaha memanfaatkan imbas positif suksesnya sektor pariwisata Monako.<br />Berkat upaya lelaki kelahiran 31 Mei 1923 ini pula, tahun 1993 Monako mendapatkan pengakuan politik, yang ditandai dengan masuknya negara ini ke PBB. Seabrek status dan prestasi sang Bapak pasti membuat Albert pusing kepala. Sebab, tak lama setelah Rainier mangkat, media massa Prancis ramai membicarakan, bahkan meragukan kemampuan Albert, yang secara de facto telah menjadi raja sejak April 2005, tapi secara de jure baru resmi dimahkotai pada 18 September 2006 lalu. <br />Raja anyar bernama lengkap Albert Alexander Louis Pierre Grimaldi ini dikenal terpelajar, tapi belum pernah teruji dalam menjalankan pemerintahan. Semasa ayahnya memerintah, Albert memang beberapa kali menghadiri rapat-rapat politik, tapi tidak pernah berada pada posisi sebagai pengambil keputusan. Bahkan Albert disebut-sebut jarang memberikan pendapat dalam rapat-rapat yang diikutinya. Sehingga banyak yang menyebutnya "terlalu baik" untuk menjadi seorang raja. <br />Antusiasme berbeda justru diperlihatkannya di dunia olahraga. Setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Amerika Serikat, ia kembali ke Monako pada 1982, ketika mendengar kabar ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sejak itu, Albert menenggelamkan diri pada bakat olahraganya, sampai-sampai dipercaya tampil lima kali di olimpiade musim dingin, sebagai anggota tim nasional tarik kereta. Tahun 1995, ia juga ambil bagian dalam reli motor Paris - Dakar.<br />Dengan tubuh tinggi dan kepala botaknya, banyak orang menyebut Albert juga "terlalu dingin" untuk menapaktilasi jejak selebriti bapaknya. Seperti dua saudara perempuannya, Albert sebenarnya sering juga datang ke acara-acara maupun pesta-pesta yang diadakan para selebriti Eropa. Namun, tidak seperti Caroline dan Stephanie, penampilan anak nomor dua Rainier itu jarang mendapat perhatian publik. Sebuah harian di Prancis bahkan menjulukinya "selebriti tidak terkenal!"<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Bujangan dua anak</span><br />"Beruntung", Pangeran Albert tampak tidak sepenuhnya membuang bakat "bandel" khas dinasti Grimaldi, meski dia menanganinya dengan cara yang sama sekali berbeda. Jika kebanyakan orang terkenal enggan atau malu mengakui hubungan intimnya dengan wanita biasa, Albert justru sebaliknya. Tahun lalu, dia mengakui terus terang melakukan hubungan di luar nikah dengan seorang pramugari asal Togo, Nicole Coste. Hubungan itu menghasilkan bayi laki-laki mungil berusia dua tahun, bernama Alexandre Coste.<br />Kejutan kedua datang tak lama setelah masa berkabung meninggalnya Pangeran Rainier berlalu. Untuk kali kedua, Albert mengakui punya anak di luar nikah. Kali ini hasil hubungan gelapnya dengan Tamara Rotolo, dan menghasilkan bocah perempuan berusia 14 tahun, yang kini tinggal di California. Semula Albert ingin merahasiakan hal ini sampai Jazmin Grace Rotolo – begitu nama anak gadisnya – dewasa. Namun, untuk menghindari perkembangan psikis yang kurang menguntungkan Jazmin, Albert mempercepat pengakuannya. Juru bicara Kerajaan Monako sendiri menolak berkomentar perihal dua anak di luar nikah ini, dengan berdalih hal itu urusan pribadi Pangeran.<br />Tak jelas mengapa Albert tidak menikahi salah satu wanita gelapnya sehingga berstatus lebih terang. Namun dipercaya, kehati-hatian itu berkaitan dengan masa depan Monako. Jika sembarangan memilih permaisuri (dan melahirkan putra mahkota), bukan tak mungkin tahta kerajaan akan jatuh ke tangan orang yang tidak dikehendaki dinasti Grimaldi. Namun di sisi lain, pengakuan Albert setidaknya menghapus gosip yang mencurigai putra satu-satunya Rainier ini enggak doyan perempuan alias gay. Maklum, Albert tak kunjung menikah, meski usianya sudah masuk paruh baya.<br />Bagaimana jika kelak Pangeran Albert tetap memilih duduk di singgasana sebagai bujang lapuk? Jika dia mangkat tanpa memiliki keturunan sah yang bisa diangkat sebagai putra mahkota, bukankah Kerajaan Monako dan dinasti Grimaldi yang telah berusia 700 tahun akan ikut terkubur? Tenang, potensi masalah di masa depan itu sudah diantisipasi jauh-jauh hari. Tahun 2002, Monako telah mengamandemen hukum pewarisan tahtanya, sehingga memungkinkan singgasana diserahkan dari "raja yang tidak mempunyai keturunan" kepada saudara-saudari kandungnya. <br />Albert memang menyandang beban berat. Apakah ia dapat menjadi kepala pemerintahan, selebriti sekaligus humas yang melebihi ayahandanya? Wallahualam. Meski banyak pengamat percaya, untuk mempertahankan popularitas yang telanjur membubung, Monako sebenarnya membutuhkan raja yang bukan hanya pintar, tapi juga berkharisma, menarik perhatian media massa, sekaligus humas yang jempolan. Namanya aja kerajaan dongeng.<br />Bisa buktikan, King Albert?<br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Bintang Masa Depan?</span><br /><br />Anak perempuan kedua Putri Caroline hasil perkawinannya dengan Stefano Casiraghi, Charlotte Marie Pommeline Casiraghi, 3 Agustus lalu berusia tepat 20 tahun. Pesta ultah-nya kali ini tak semeriah dua tahun lalu, yang dirayakan selama tiga hari tiga malam di Monte Carlo. Namun, keberadaan Charlotte sebagai bagian dari dinasti Grimaldi yang sejak dulu dikenal dengan<br />"berita-berita panasnya" tetap menarik perhatian.<br />Kenyataan bahwa Charlotte dan Andrea (kakaknya, berusia 22 tahun) mendapat "perlindungan" berlebihan sang ibu, yang tak ingin masa lalunya (terlebih masa lalu bibi Stephanie) yang penuh catatan kawin-cerai terulang, justru makin mengundang rasa penasaran. Meski sampai saat ini belum terdengar kabar miring yang melibatkan Charlotte, dia tetap dijagokan banyak orang sebagai salah satu calon "bintang" masa depan Monako.<br />Coba pikir, lelaki mana yang tak akan tergila-gila pada wanita muda, cantik, berlatar belakang dinasti Grimaldi dan sudah punya pulau sendiri senilai AS $ 9 juta di Sardinia, Italia, pada saat usianya baru lima tahun? Yok ayooook!<br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Fakta Seputar Monako<br /></span><br />1. Monako adalah negara terpadat kedua di dunia. Data Juli 2005 menunjukkan, penduduknya sekitar 32.409 jiwa, sedangkan luas wilayahnya hanya 1,95 km2. Sehingga tingkat kepadatannya mencapai 16.660 jiwa/km2.<br />2. Nama Monako dicomot dari sebuah koloni Yunani, Monoikos, yang didirikan pada abad ke-6 SM oleh bangsa Phokida, terletak di dekat Marseille, Prancis. Konon, dalam pengembaraannya, Hercules pernah mampir di koloni Yunani ini. Terindikasi dari adanya sebuah "tempat suci" (temple) yang oleh warga setempat dinamai Hercules Monoikos.<br />3. Cathedrale de Monaco menjadi titik awal sekaligus titik akhir buat Pangeran Rainier dan istrinya, Putri Grace. Di tempat inilah pada April 1959 keduanya melangsungkan pernikahan nan megah dan meriah. Tapi di tempat ini pula keduanya beristirahat untuk selamanya. Makam para bangsawan Monako terletak di belakang altar katedral. <br />4. Selain dikenal sebagai tempat penyelenggaraan balap mobil tercepat dunia Formula-1, Monako juga terkenal lantaran Monte Carlo, salah satu pusat perjudian terbesar di dunia. Di negara ini siapa pun bisa bermain judi sepuas hati, karena memang dilegalkan. Pemasukan dari kasino-kasino di sini bahkan sangat diandalkan oleh negara. (Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-6982451706629371881?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-55342947977460207542008-04-15T18:17:00.012+07:002009-01-26T21:59:27.221+07:0029 tahun Tarli Merawat Museum FatahillahTarli Ediyanto (53 tahun) kadang heran sendiri. Lebih dari 29 tahun sudah dia setia "melayani" Museum Fatahillah alias Museum Sejarah Jakarta, tapi kok ya tidak pernah satu kali pun ia digoda makhluk halus – yang katanya sering berseliweran di salah satu bangunan terangker di Jakarta itu. Aksi "penampakan" justru lebih sering menimpa pengunjung museum. Menyeramkan.<br /><br />Masa 29 tahun mengabdi jelas bukan rentang waktu yang pendek. Tak heran kalau Tarli kini memegang rekor sebagai karyawan terlama yang bekerja di gedung bersejarah warisan zaman kolonial - dulu dikenal sebagai Stadhuis atau Balai Kota - bikinan abad ke-17 itu. Ada juga yang menyebut dirinya sebagai "kuncen" alias juru kunci. Meski julukan itu, menurut Tarli, tidak benar adanya. "Saya tidak megang kunci, tapi hanya karyawan yang berpikir kerja dan kerja. Sejak masuk tahun 1977 sampai sekarang, niat saya itu tidak pernah berubah," tukas lelaki asal Solo ini.<br /><span class="fullpost"> <br />Apakah gara-gara niat tulus itu sampai sekarang Tarli tidak pernah diganggu makhluk halus penghuni museum? Entahlah. "Mereka (makhluk-makhluk halus itu - Red.) mungkin malas ‘berkenalan’ dengan saya yang selalu serius, atau bosan setiap hari melihat tampang saya," bilangnya seraya melanjutkan, "Saya juga pernah ikut jaga malam, tapi sepanjang meronda, tetap aja enggak pernah mengalami kejadian macem-macem."<br />Toh lelaki berkumis ini buru-buru menambahkan, "Bukan berarti karena penasaran, saya terus ingin 'melihat' mereka. Kalau bisa sih berkenalannya lewat jalan lain saja, tidak lewat penampakan," ucapnya, kali ini sambil terkekeh.<br />Satu-satunya tempat yang dulu sering membuat bulu kuduk pria yang dua tahun lagi pensiun ini merinding – lokasi menaik-turunkan panel pengendali lampu (dulu semua lampu dinyalakan dan dimatikan di satu tempat) – sudah tak ada lagi. Sejak itu, Tarli hampir tidak pernah lagi merasakan bulu kuduknya berdiri. "Ruang panel itu sekarang sudah berubah jadi tempat penjualan suvenir," sebut lelaki yang mulai bekerja di Fatahillah tiga tahun setelah museum diresmikan pada 30 Maret 1974 ini.<br />Pertama bekerja, penghasilannya hanya Rp 7.500,- per bulan. Bertahun-tahun dia ditempatkan di bagian perpustakaan, bergaul dengan tumpukan buku dan debu, sampai akhirnya terserang penyakit paru-paru. "Kejadiannya tahun 1990, saya sempat dirawat di rumah sakit selama satu bulan," imbuh Tarli. Setelah itu, berturut-turut ia ditempatkan di seksi pameran, kemudian bagian retribusi. <br />Sempat juga Tarli minta berhenti. Tapi semakin lama permintaan mundurnya dipertimbangkan, semakin gampang lelaki yang memegang teguh pemeo "kerja serius, pantang mengeluh" ini menebak hasilnya: ditolak. Mungkin lantaran posisinya mirip "kuncen", orang yang mengenal baik tiap sudut museum.<br />"Terus terang, 29 tahun itu enggak terasa, karena yang saya hadapi tiap hari hal-hal menarik dan saya senangi. Saya jadi mengerti sejarah Jakarta dan sejarah Indonesia. Lebih senang lagi, pengetahuan itu dapat saya ceritakan kembali pada pengunjung yang datang ke sini," ucapnya bangga.<br />Di pos terakhir itulah (bagian retribusi), Tarli banyak berhubungan dengan tamu museum, sekaligus menangkap keluh kesah mereka. "Yang disampaikan ke saya, rata-rata nadanya serem," Tarli - bapak tiga anak ini - cerita sambil mesem-mesem. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Dihadang algojo</span><br />Sampai saat ini, cerita seram yang paling sering mampir di buku laporan Tarli adalah munculnya sosok pria bule bertubuh tinggi besar di ruang pengadilan, yang terletak di lantai dua museum. Asal tahu, di ruang pengadilan ini dipajang pedang peninggalan abad ke-18. Pedang yang aslinya milik algojo hukuman mati itu tersimpan rapi di lemari kaca. "Mungkin pedang itulah yang menebar aura seram," duga pria yang sejak datang ke Jakarta puluhan tahun lalu sampai sekarang masih setia tinggal di bilangan Slipi, Jakarta Barat. <br />Ada juga pengunjung yang pernah melihat sosok perempuan londo, sedang asyik menyisir rambutnya yang panjang tergerai, di bangunan bekas kamar pribadi para gubernur jenderal. Usianya paruh baya, rambutnya pirang. Bisa jadi, sosok perempuan itu penampakan arwah istri atau kerabat gubernur jenderal, entah gubernur jenderal Hindia Belanda yang mana. <br />Namun, pengaduan yang paling bikin Tarli penasaran adalah cerita sejumlah pengunjung yang mengaku dihalang-halangi tangan-tangan gaib saat memotret. Tempatnya bervariasi, mulai dari ruang pengadilan, bekas kamar pribadi para mantan gubernur jenderal Hindia Belanda, sampai lokasi di sekitar lukisan Jan Pieterszoon Coen, yang pernah dua kali memerintah Hindia Belanda (1619 - 1623 dan 1627 - 1629). "Ketika hasil foto dicetak, gambar yang muncul hanya tangan thok," papar Tarli, kelahiran 23 Maret 1953.<br />Lokasi di sekitar lukisan J.P. Coen, menurut laporan pengunjung, memang cukup menegakkan bulu roma. "Pernah ada seorang tamu mencoba memandangi lukisan itu dengan serius. Saking seriusnya, sampai-sampai ia merasa, seolah-olah Jan Pieterszoon Coen benar-benar hidup. Saat itu juga bulu kuduknya langsung merinding. Untung dia masih sempat melepas pandangannya dari lukisan," komentar Tarli.<br />Tentu saja tidak semua tamu "seberuntung" itu, dapat menyaksikan langsung penampakan para mantan penghuni museum Fatahillah. Hanya orang tertentu yang dipilih sang "hantu". Diakui oleh Tarli, rasa tak nyaman paling sering dialami anak-anak, meski kadarnya tak lebih dari sekadar "perkenalan". Tidak sampai mengganggu lebih jauh, apalagi bikin korbannya kesurupan. <br />Tarli lalu bercerita tentang pengalaman seorang siswa sekolah menengah yang terlihat linglung tak lama setelah "melihat" sosok bule bertubuh jangkung di ruang pengadilan. Setelah itu, dia jalan mondar-mandir ke sejumlah ruangan, kemudian menangis tersedu-sedu. Ternyata anak itu minta "diantar" kembali menemui bule jangkung penunggu ruang pengadilan. Barangkali sekadar menyampaikan salam perpisahan. Karena setelah itu, linglung hilang, ingatan si anak pun kembali normal. "Saya yang tadinya sempat kebingungan, akhirnya cuma bisa geleng-geleng kepala."<br />Tempat lain yang juga pernah bikin heboh, adalah lokasi "bekas pemancungan" narapidana mati, yang terletak tak jauh dari loket tempat penjualan karcis masuk. Walaupun kayu tempat mengikat terhukum sudah tidak ada lagi, sang algojo tampaknya masih belum rela melepaskan "wilayah kekuasaannya". Buktinya, pernah ada seorang anak sekolah dasar menangis tersedu-sedu tak jauh dari loket. <br />"Dia menolak masuk museum, mungkin karena ketakutan melihat ada algojo berdiri di depan pintu," Tarli berteori, sambil tertawa geli. Ibu si anak, yang sudah kadung membeli karcis masuk sempat marah dan mencoba memaksa anaknya. Tapi si anak tetap bergeming. Akhirnya, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, si ibu mengalah dan membatalkan niatnya berkeliling Museum Fatahillah. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Penjara tak seram</span><br />Tempat-tempat yang di atas kertas "mengerikan", seperti ruang-ruang penjara yang bertebaran di seputar gedung, di mata pengunjung justru biasa-biasa saja. Jarang ada laporan penampakan yang membuat mereka ketakutan. Penjara bawah tanah misalnya, "Cuma kelihatannya aja serem," jelas Tarli. Padahal, di berbagai literatur disebutkan, penjara bawah tanah museum di Jln. Taman Fatahillah 2, Jakarta Barat, itu merupakan areal yang paling bikin bulu roma merinding.<br />Tak terhitung sudah berapa banyak pemberontak, penjahat, dan musuh pemerintah kolonial dijebloskan dan mati di tempat itu. Bukan cuma mereka yang dianggap sebagai "orang jahat", orang tidak waras pun pernah disekap di penjara bawah tanah. Menurut catatan, mantan gubernur jenderal Belanda di Sri Lanka, Petrus Vuyst, pernah merasakan pengapnya ruangan penjara Fatahillah karena mengidap penyakit gila. <br />Ketika meletus pemberontakan Cina di Batavia tahun 1740, sekitar 500 orang Cina juga disekap dalam ruangan sempit di Museum Fatahillah, sebelum satu per satu mereka dikeluarkan dan dihukum mati dengan cara digantung di alun-alun depan museum. "Waktu pertama kali saya ke sini, di alun-alunnya belum banyak pedagang kayak sekarang. Pedagang di sekitar museum hanya ada satu orang, itu pun cuma jualan minuman kopi," tegas Tarli.<br />Tarli kemudian merinci jenis-jenis penjara yang ada di museumnya. "Ada penjara bawah tanah yang mempunyai lima pintu, penjara wanita yang terdiri dari satu sel dan penjara air yang dapat menampung banyak orang." Penjara yang terakhir ini ukurannya 2,5 x 31 m, dengan pintu di kanan-kiri. Setiap bulan, penjara yang selalu tergenang air setinggi dengkul manusia ini dikuras untuk dibersihkan. <br />Di antara tokoh-tokoh yang pernah ditahan di penjara bawah tanah, kata Tarli, tercatat nama-nama "beken", seperti Untung Suropati, Pangeran Diponegoro, dan Supriadi (tokoh PETA). Sedangkan penjara air yang dapat menampung puluhan, bahkan ratusan orang, tampaknya lebih banyak digunakan untuk menampung penjahat atau pemberontak yang "tidak punya nama". Konon, "Dulu lantainya ditebari ribuan lintah, kelabang dan binatang-binatang kecil berbahaya lainnya. Tujuannya agar tahanan mati pelan-pelan," imbuh Tarli.<br />Dari sekian banyak penjara itu, hanya penjara wanita yang dilaporkan mengeluarkan "bunyi-bunyian aneh" dan menunjukkan adanya penampakan. Konon, ada pengunjung yang pernah melihat lelaki bule bertubuh tinggi besar "naik-turun" tangga yang menghubungkan ruang pamer di lantai atas (yang memajang puluhan koleksi barang-barang lawas bersejarah, seperti kursi jati berumur ratusan tahun, meja pertemuan zaman Belanda, lemari arsip zaman VOC, tempat tidur raksasa, hingga kursi santai dan cermin kuno) dengan penjara yang pernah menyekap pahlawan nasional asal Aceh, Cut Nyak Dien, itu. Ada juga pengunjung yang hanya mendengar suara sepatu si bule bolak-balik di tangga, tanpa dapat melihat sosoknya. <br />"Tiap gedung, apalagi yang sudah berumur ratusan tahun, pasti mempunyai penunggu gaib. Tapi sepanjang kehadiran mereka tidak mengganggu pekerjaan saya, saya sih senang-senang saja ngurusin museum ini, yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua," mata Tarli terlihat nanar, memandangi pintu keluar bangunan yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat, serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah itu. <br />Selama 29 tahun, Tarli menjadi saksi mata perjalanan museum yang peletakan batu pertamanya dilakukan 25 Januari 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn (8), putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, van Hoorn. Apakah para penghuni gaib Fatahillah - van Hoorn, J.P. Coen dan kawan-kawan - juga merasa kehilangan saat Tarli pensiun dua tahun mendatang? Cuma "mereka" yang tahu jawabnya.<br /><br />(penulis: Muhammad Sulhi/dimuat di Majalah Kisah, September 2006, Hak Cipta dilindungi Undang-undang). </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-5534294797746020754?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-37797659407658205472008-04-15T18:10:00.008+07:002009-01-26T21:59:27.221+07:00Perjudian Meddy Berbuah Manis<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SC4sEwHUsjI/AAAAAAAAAGQ/UHClrDNP97g/s1600-h/Meddy+dan+istri.jpg"><img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SC4sEwHUsjI/AAAAAAAAAGQ/UHClrDNP97g/s320/Meddy+dan+istri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201143079806218802" />(Gambar Meddy Ali dan istri/Foto: Muhammad Sulhi)</a><br />Jangan pernah bilang "tidak ada harapan" di depan Meddy Ali, mantan penyandang kanker. Salah satu vice president perusahaan asuransi Axa Indonesia ini pasti akan melototkan mata mendengarnya. "Kata-kata itu mengingatkan saya pada kenangan paling kelam, tiga tahun silam," tegasnya. Hanya kekerasan hati yang menuntunnya bangkit dan menyelamatkan karier yang terancam tamat.<br /><br />Peristiwa di bulan April 2004 itu tidak akan pernah hilang dari ingatan Meddy Ali. Sebagai manajer (saat itu) sebuah perusahaan asuransi (salah satu produknya menyangkut asuransi kesehatan), ia banyak punya anak buah dan kolega yang mengerti betul soal kesehatan (beberapa di antaranya dokter). "Yang saya tahu, setiap penyakit, apalagi penyakit berat, pasti ada gejalanya," dia berceloteh.<br />Namun yang tidak Meddy tahu, takdir bisa menentukan lain. Ketika tiba-tiba, tanpa diawali gejala apa pun, penglihatan bapak dua anak ini mengalami gangguan berat. "Mendadak saya terserang double vision. Semua benda yang saya lihat berubah jadi dua," cerita Meddy. Dibiarkan, gangguan itu kian mengganggu. Bahkan seminggu setelah kaburnya penglihatan, Meddy tak lagi sanggup menatap lampu dan membedakan warna lampu di malam hari. Penglihatannya betul-betul sekarat. <br />Sadar matanya bermasalah, Meddy segera memeriksakan diri ke R.S. Mata Aini, Jakarta Selatan. Hasil pemeriksaan malah menambah galau hatinya. Ternyata, ia tak sekadar sakit mata.<br /><span class="fullpost"> <br />"Ada kemungkinan Bapak kena kanker hidung. Tapi saya tidak berani memastikan, sebelum ada pemeriksaan lebih lanjut," jelas dokter yang memeriksanya. Tanpa membuang waktu, Meddy meninggalkan R.S. Mata Aini, mendatangi kawannya, seorang dokter klinik THT di kawasan Jln. Proklamasi, Jakarta Pusat.<br />Setelah dilakukan CT-Scan, kepastian itu akhirnya datang. Meddy benar-benar menderita kanker hidung (nasofaring) parah. Begitu parahnya (tahap stadium empat), sampai-sampai organ penglihatan ikut jadi korban. Saat itulah, sang kawan melontarkan vonis yang terus diingatnya sampai kini: "tidak ada harapan" bagi Meddy untuk melawan kanker ganas di hidungnya.<br />Sejak itu, Meddy mempersiapkan diri menerima kenyataan, mungkin kelak, sulit buat dia untuk kembali hidup "normal". Dia menyaksikan sendiri, kebanyakan mantan pasien kanker nasofaring yang menjalani operasi atau terapi-terapi kanker lainnya, harus pasrah menerima efek sampingan pengobatan. Misalnya, ada mantan pasien yang rahangnya tak lagi berfungsi, sehingga tak kuasa mengunyah makanan, atau sekadar mengendalikan air liur di sekitar mulut. "Mengerikan," Meddy berkata pelan.<br />Terbayang juga kariernya di bidang asuransi bakal terhenti. Itu pun kalau kanker berhasil diusir. Kalau tidak? Sebagai orang asuransi, Meddy spontan mempersiapkan berkas-berkas polis asuransi jiwa yang dimilikinya. Bukankah manusia tak pernah bisa memastikan masa depan? <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Tak berdaya</span><br />Besoknya, Meddy melakukan biopsi (pengambilan contoh jaringan yang telah ditumbuhi sel kanker). Lagi-lagi, hasil pemeriksaan menelurkan kabar kurang menggembirakan, dan hanya menguatkan pemeriksaan sebelumnya. Meddy kena kanker nasofaring ganas dan harus mendapat penanganan segera. Pada saat bersamaan, bukan hanya kemampuan indera penglihatan yang menurun, kondisi fisik lelaki yang saat itu berusia 50 tahun ini pun anjlok drastis. Pendek kata, secara fisik Meddy tak berdaya.<br />Detik, menit, dan jam seolah berlalu sangat lambat. "Saat itu, saya sekuat tenaga berusaha mengingat apa yang terjadi dan mencatatnya ke dalam buku harian. Catatan-catatan itu mungkin tidak akan berguna buat saya. Tapi jika umur saya tak panjang, barangkali dapat bermanfaat buat anak-anak. Sebagai karyawan, saya ‘kan enggak bisa menulis surat wasiat macem-macem. Jadi, anggap saja buku harian itu sebagai warisan," ujarnya diselingi senyum.<br />Meddy yang sebelumnya jarang sakit, dan tidak pernah menderita gejala penyakit yang aneh-aneh, kini harus menjadi pesakitan. Pesakitan yang nyawanya terancam, hanya dalam hitungan minggu. "Yah, betapa cepat dan mengagetkannya perubahan hidup yang harus saya alami," ujar pria yang tinggal di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara ini. Untungnya, ia masih mempunyai istri dan dua anak (masing-masing berumur 21 tahun dan 19 tahun) yang sangat peduli.<br />"Kami memutuskan mencari tempat berobat yang sesuai dengan kocek di kantung, tapi teknologi pengobatannya bisa diandalkan," tambah Meddy. Satu hal lagi yang masuk dalam pertimbangan Meddy, pengobatan apa pun yang dipilih, mestinya tidak mengurangi kualitas hidupnya kelak. "Bukan asal sembuh. Saya tidak mau nantinya menjadi pesakitan dan beban keluarga."<br />Maka mulailah anak-anak dan istri Meddy bergantian mencari informasi di internet. Setelah semua bahan terkumpul dan dirundingkan, mereka sekeluarga akhirnya sepakat untuk "mengadu peruntungan" di negeri Cina. Persisnya di RS Fuda, Guangzhou. <br />"Saya tertarik ke sana, karena teknologi mereka tidak kalah dengan negara-negara maju. Jika dibandingkan dengan metode pengobatan konvensional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura atau Jakarta, teknologi RS Fuda saya anggap lebih advanced, tapi dengan biaya jauh lebih murah." Toh kekhawatiran tetap mencuat di hati pria berkata mata ini. "Saya tetap menganggap pilihan ini, meskipun dilakukan dengan sadar, sebagai gambling. Karena saya enggak tahu sama sekali soal pengobatan di Cina." <br />Pertama kali menginjak Guangzhou, Meddy sempat ketar-ketir. Rumah sakit yang ditujunya ternyata masih nebeng di sebuah rumah sakit besar. "Mereka mengontrak tiga lantai, dengan kapasitas rawat inap hanya sekitar 60 kamar." Meddy bahkan sempat khawatir, jangan-jangan dia salah alamat. "Saya pasien Indonesia nomor lima yang pernah masuk ke rumah sakit itu," ujarnya sambil menambahkan, "Kalau sekarang sih sudah banyak orang Indonesia yang ke sana. Jumlahnya malah sekitar 35%, sama dengan pasien asal Malaysia. Sisanya, sekitar 30% pasien lokal."<br />Karena buta bahasa Mandarin, Meddy dan istri harus menuliskan jenis makanan yang hendak dibeli, di atas kertas, setiap kali hendak belanja. Atau memanfaatkan jasa kawan sekamar, orang Malaysia. Repotnya, tentu ketika mengurus layanan kesehatan dan obat-obatan. "Sudah telanjur sampai di sana, dan enggak ngerti bahasa mereka, akhirnya saya pasrahkan saja semuanya pada tim dokter. Mau diapain, kek. Yang penting sembuh. Saya cuma senyam-senyum melihat mereka berdikusi pakai 'bahasa planet'. Bener-bener enggak nyambung," Meddy cengengesan.<br />Dalam waktu tujuh belas hari, Meddy langsung merasakan perbaikan kondisi fisik dan penglihatan. "Kami bahkan sempat jalan-jalan ke mal." Istri Meddy pun sempat membuat gado-gado untuk rekan-rekan sebangsal. "Dari para pasien, saya juga belajar bahasa Mandarin. Lumayan, dapat sampai 20 – 40 kata. Minimal enggak nulis lagi waktu pesan makanan," cerita Meddy. Kini, kosa katanya sudah jauh melebihi 40 kata. "Sekarang saya sudah bisa ngomong Cina. Silakan dites," tantangnya. <br />Sekadar informasi, untuk mengusir kanker nasofaring, Meddy harus menjalani satu kali photodynamic (terapi untuk "mengumpulkan" sel-sel kanker di satu tempat atau pusat kanker, sehingga sel kanker terlokalisasi. Memudahkan pengobatan,<br />sekaligus mencegah kerusakan organ lain), tiga kali kemoterapi terbatas, imunoterapi, dan penyinaran (satu paket = 34 kali). Untuk mendapatkan semua terapi itu, Meddy harus meluangkan waktu sekitar tiga bulan bolak-balik Jakarta – Guangzhou.<br />Setahun lalu, kesempatan “memperlancar bahasa Mandarin" datang lagi, setelah dokter mendeteksi adanya kanker sepanjang 3 cm di otak Meddy. Tapi karena diketahui lebih dini, dan secara mental Meddy sudah sangat siap, upaya penyembuhan berjalan tanpa hambatan. "Saya kembali ke Fuda, diterapi dengan penyinaran sebanyak 34 kali (satu paket) selama dua bulan. Tanpa operasi sama sekali," ujarnya riang, bak petinju yang baru saja meng-KO musuh bebuyutan.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Pejuang kanker</span><br />"Saya lega sekali, perjudian di Cina itu akhirnya berhasil," Meddy melepas napas. Selepas berobat jalan, kanker nasofaring-nya memang tidak kunjung kambuh, dan yang paling penting, ia tak pernah merasakan efek sampingan pengobatan yang dijalaninya. "Anda lihat sendiri, rahang saya berfungsi normal, masih kuat dipakai untuk mengunyah dan tahan dipakai ngomong berjam-jam." <br />Kegembiraan dan rasa syukur itu belakangan diwujudkan Meddy dengan aktif di Cancer Information & Support Center. "Tuhan menyelamatkan nyawa saya, kini saya harus berterima kasih kepada-Nya dengan membantu orang yang bernasib sama dengan saya," cetus Meddy. Lelaki paruh baya ini juga memegang sertifikat Depkes, semacam SIM untuk melatih orang-orang yang berminat menjadi sukarelawan di Cancer Information & Support. Meddy juga menjalin pertemanan dengan pimpinan rumah sakit-rumah sakit dan dokter-dokter di berbagai tempat di Jakarta. "Sekadar berjaga-jaga, jika ada persoalan yang tidak dapat saya pecahkan sendiri," tandasnya.<br />Hubungan baik dengan RS Fuda pun tetap dipelihara. Meddy bahkan pernah "mengirim" seorang dokter R.S. Gatot Soebroto untuk belajar di RS Fuda. Saking dekatnya hubungan mereka,<br />"Kalau ada pasien Indonesia minta penjelasan, tapi enggak bisa bahasa Cina, orang Fuda pasti menyarankan, "yu telepon Meddy Ali, telepon Meddy Ali!". "Tapi awas, saya bukan agen rumah sakit lo. Saya hanya memberikan dorongan mental, tidak merekomendasikan seseorang berobat ke rumah sakit mana pun."<br />Terakhir, yang paling membanggakan Meddy, dia dapat membuktikan, kualitas hidupnya tidak pernah menurun meski berstatus mantan pasien kanker. Saat pasien-pasien lain putus harapan memikirkan karier. Selepas kena kanker hidung dan kanker otak, karir Meddy justru meningkat, dari manajer menjadi wakil presiden direktur. "Ini bukti bahwa kemampuan otak dan produktivitas seorang mantan penderita kanker tidak harus berkurang." <br />Jadi, benar-benar tidak ada tempat untuk Sang "Tidak Ada Harapan"? Muhammad Sulhi<br /><br />(Penulis: Muhammad Sulhi, dimuat di Majalah Kisah, Juni 2007). </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-3779765940765820547?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-64619928746955512192008-04-15T17:59:00.004+07:002009-01-26T21:59:27.222+07:00Dedeh Nuriyati, dari Bidan Keliling Hingga Punya Rumah Sakit Bersalin<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i283.photobucket.com/albums/kk291/mrsulhi/Meneleponblog.jpg"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i283.photobucket.com/albums/kk291/mrsulhi/Meneleponblog.jpg" border="0" alt="" /></a><br />Mereka yang meyakini hukum karma percaya, baik-buruknya perbuatan di dunia ada balasannya. Orang yang sering berbuat baik, kelak bakal memanen kebaikan pula. Kisah Dedeh Nuriyati, mantan bidan panggilan yang kini jadi komisaris RS Bhakti Asih, barangkali bisa jadi cermin.<br /><span class="fullpost"> <br />Entah, Dedeh percaya hukum karma atau tidak, dan kayaknya bukan karena ingin membuktikan hukum karma, ia memilih bidan sebagai pekerjaannya. "Saya memilih jadi bidan, karena dalam bekerja dituntut mementingkan komitmen dan pengabdian, dua hal yang selalu dicamkan orangtua saya sejak kecil," Dedeh mengawali cerita. Sejak usia dini, Dedeh memang sudah sering diajak orangtuanya mengikuti beragam kegiatan sosial. "Setelah jadi bidan, dampaknya masih membekas," ucapnya dengan mata nanar. <br />Keputusan menekuni pekerjaan yang "tidak glamour" pun membuat ibu dua putra-putri ini jauh dari pikiran-pikiran komersial. Mengeruk rupiah tidak menjadi tujuan utama. Setidaknya, begitulah yang tercermin di awal karier sang bidan. "Saya sadar harus bekerja sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan apa pun yang saya kerjakan muaranya harus pada pengabdian dan produktivitas kerja," ucap Dedeh. <br />Buat Dedeh, duit soal belakangan, menyelamatkan orang lain menjadi prioritas pengabdian.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Numpang sepeda onthel</span><br />Dedeh pun ikhlas bersakit-sakit dahulu. Terbukti dari kesediaannya ditugaskan di Tangerang, yang saat itu miskin tenaga bidan. Lahir dan besar di Tasikmalaya, nama Tangerang sendiri baru diketahui Dedeh setelah mencari-cari di atlas. Tak juga ada sanak saudara tinggal di sana. Sehingga keberangkatannya ke Tangerang - setelah lulus sekolah keperawatan (1973) dan pendidikan kebidanan (1974) RS Hasan Sadikin, Bandung – murni bak membeli kucing dalam karung. "Saya hanya mengandalkan feeling," tegasnya.<br />Di RSU Tangerang, ia hanya bertahan setahun, lalu dipindahkan ke Cipondoh. "Wah, sepinya bukan main. Belum banyak sarana transportasi, listrik, apalagi telepon," sambung Dedeh, yang ketika itu tinggal di rumah dinas. Sering untuk mencapai rumah pasien yang hendak melahirkan, ia mengandalkan tumpangan. Tumpangan apa saja – termasuk sepeda onthel. Meski dibutuhkan banyak orang dan nyaris tak punya saingan, Dedeh tak "jual mahal", apalagi memasang tarif tertentu.<br />"Seringnya malah tidak dibayar. Kalau pasiennya kelihatan enggak punya uang, saya malu pasang harga. Hati nurani ini enggak mengizinkan. Sebaliknya, kadang malah saya memberi mereka uang," tegas istri Abdul Zafar ini, lalu menambahkan, "Saya mencintai dan senang memperlakukan pasien seperti keluarga sendiri." Total jenderal, empat tahun Dedeh mengabdi di kawasan yang dulu merupakan "tempat jin buang anak" itu. <br />Tahun 1979, ia dipindahkan ke Puskesmas Ciledug, hanya beberapa kilometer dari Cipondoh. Di Ciledug inilah Dedeh bak "ketemu jodoh". Bukan jodoh pasangan hidup (ia disunting Abdul Zafar sejak 1975), tapi jodoh rezeki. Boleh dibilang, karma kesabaran, ketulusan, dan pengabdian yang dirintisnya sejak awal karier sebagai bidan bertuah di sini. Sempat setahun tinggal di rumah kontrakan, tahun 1980 wanita kelahiran 5 Juli 1953 ini membeli tanah dan rumah sendiri, dari hasil wiraswasta suami, serta tabungan Dedeh sebagai pegawai negeri dan bidan keliling. <br />Di rumah baru seluas 300 m2 - terletak di Jln. Raden Saleh 10, Karang Tengah, Ciledug - itulah, kariernya sebagai bidan panggilan berganti menjadi bidan mangkal. Pondok sederhana berpapan nama "Bidan Dedeh" itu baru menyediakan dua tempat tidur, dan mempekerjakan dua orang karyawan. Satu bertugas membantu proses persalinan, satunya lagi mengisi pos tukang cuci. "Kalau mau lihat bekas rumah saya, yang juga cikal bakal rumah sakit, letaknya kira-kira di klinik bagian depan, dekat apotek, sampai bagian penerimaan pasien Bhakti Asih," Dedeh bernostalgia.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Berujung penghargaan</span><br />Tahun demi tahun berlalu, tak dinyana, keramahan dan kebaikan hati bidan Dedeh kian lekat di hati masyarakat Ciledug dan sekitarnya. Tak ayal, rezeki pun mengalir lancar. Terbukti, lima tahun kemudian (1985), luas rumah tinggal sekaligus tempat praktik Dedeh memekar dari 300 m2 menjadi 1.500 m2. Kapasitas layanan pun bertambah dari dua menjadi 15 tempat tidur, ditopang oleh 10 karyawan. "Perizinan pun harus diperbaharui, karena sudah masuk kategori rumah bersalin," terang Dedeh.<br />"Buat saya pribadi, sebenarnya terserah mau disebut rumah praktik atau rumah bersalin. Yang penting saya bisa melayani lebih banyak orang," Dedeh melanjutkan. Itu sebabnya, ketika izin rumah bersalin turun, mengibarkan bendera Bhakti Asih – maknanya kira-kira berbakti dengan penuh kasih sayang – Dedeh tetap lebih suka menggunakan papan nama yang lama, praktik<br />"Bidan Dedeh". "Saya minder memakai nama rumah bersalin. Kayaknya terlalu prestisius, gitu." <br />Kerendahan hati Dedeh berubah jadi haru, karena rumah bersalinnya ternyata dianggap pantas menyandang nama "rumah sakit". Perempuan yang masih ngemong anaknya di tempat praktik ini (karena memang dia masih tinggal di sana) tak habis pikir, yang berkunjung ke tempat praktiknya ternyata bukan hanya kaum hawa yang hendak melancarkan proses persainan, tapi juga bapak-bapak dan orang tidak hamil yang sakit flu, pilek, batuk-batuk dan penyakit-penyakit ringan lainnya. <br />"Mereka percaya pada saya, jadi meski berat, terpaksa saya layani. Saya ‘kan pernah juga sekolah keperawatan. Meski lama-lama enggak enak juga, karena saya bukan dokter," imbuh Dedeh. Ia merasa, pengabdian, kesabaran dan ketulusannya selama ini tidak sia-sia, karena mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sejak itu pula, semangatnya untuk memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar praktik bidan kian menggelora. <br />Tahun 1987, Dedeh meningkatkan status tempat praktiknya menjadi "rumah bersalin plus", yang memiliki fasilitas klinik bersalin, dokter spesialis, laboratorium, dan layanan medis 24 jam. Setelah itu, tahun 1993, kapasitas ranjang ditambah dari 15 menjadi 25, plus tambahan fasilitas pemeriksaan fisioterapi dan radiologi. Hati Dedeh kian berbunga-bunga lantaran dua tahun kemudian, Bhakti Asih terpilih sebagai Rumah Sakit Swasta Terbaik se-Kota Tangerang dan Juara I Lomba Rumah Sakit Swasta Tingkat Jawa Barat, dalam rangka Hari Kesehatan Nasional.<br />Kini, di usianya yang menginjak 26 tahun, Bhakti Asih masih terus memoles diri. Perlahan tapi pasti, luas lahannya sudah mencapai 3.500 m2 (plus tambahan 1.500 – 5.000 m2 lahan siap bangun yang sudah dibebaskan), menyediakan sekitar 80 tempat tidur, mempekerjakan 250 karyawan dan 50 orang dokter!<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Keajaiban feeling</span><br />Padahal, tak pernah terlintas di benak Dedeh, kelak dia bakal mempunyai rumah sakit megah berlantai tiga di bilangan Ciledug, jauh dari kampung halamannya. Semuanya dianggap Dedeh sebagai berkah pengabdian, termasuk keberuntungan yang diperolehnya secara finansial. "Saya percaya dan meyakini, Tuhan itu Maha Adil, dengan segala janji-janjinya," kalimat bijak meluncur begitu saja dari mulut Dedeh. Dia lalu mencontohkan, tahun 1979, ketika hendak membeli rumah sekaligus membuka praktik bidan mangkal, Dedeh terbentur masalah dana. Duit tabungannya dan tabungan suami tidak cukup untuk mewujudkan impian muluk itu.<br />Terpaksa, dia dan suami meminjam dana tambahan dari Bank Rakyat Indonesia, sebesar Rp 5 juta. "Saat itu jumlah segitu gede banget. Bayangkan, harga tanah saja masih Rp 4.000,- per meter persegi," kenang Dedeh. Karena sisa uang pinjaman itu masih lumayan besar, Dedeh lalu menginvestasikannya dalam bentuk barang berharga. Lagi-lagi, modalnya hanya feeling.<br />"Bener, feeling aja, karena saya enggak mau mendepositokan<br />uang di bank," tegas ibu Susan Hadiyani (24), Chairul Iqbal Nugraha (16), dan Nayla Tufirha (masih balita) ini.<br />Feeling itu terbukti bertuah. Tahun 1980-an, kebijakan devaluasi yang dicanangkan pemerintah membuat nilai mata uang asing "tabungan" Dedeh melimpah ruah. Dari situ dia bergerak meningkatkan status rumah praktik menjadi rumah bersalin. Puncak keajaiban feeling Dedeh terjadi tahun 1998, ketika tuntutan reformasi meledak menjadi kerusuhan sosial di kota-kota besar di Indonesia. Nilai tukar dolar Amerika Serikat melambung, harga barang-barang melonjak naik, termasuk "tabungan" Dedeh. Tak ayal, dia mendapat suntikan dana yang lumayan besar. <br />"Uangnya kira-kira cukup untuk membayar pinjaman dan meningkatkan status rumah bersalin menjadi rumah sakit," cetus warga kompleks perumahan Barata, Karang Tengah itu.<br />Setelah "rumahnya" berubah jadi rumah sakit, Dedeh sekeluarga terpaksa pindah hunian. "Sungguh, semua ini tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Bermimpi pun tidak," wanita yang kini menjabat komisaris sekaligus anggota Satuan Pengawas Intern RS Bhakti Asih ini mengimbuh pelan.<br />Baru belakangan, setelah tempat praktiknya meraksasa, Dedeh mulai melengkapi senjata feeling-nya dengan peluru manajemen dan marketing. Maklum, masalah yang membelit sekarang tak lagi sekadar mengedepankan pengabdian, tapi bagaimana mempertahankan rumah sakitnya agar dapat terus berdiri tegak, melayani masyarakat dari beragam strata sosial. "Saya belajar sendiri dari buku dan kursus privat," sebut wanita penyuka baca, namun kurang suka dunia seni ini.<br />Dedeh yang sederhana sampai detik ini masih tetap sederhana. Obsesinya "hanya" punya "keluarga bahagia", dan masih lebih suka disebut ibu rumah tangga dan bidan, tinimbang pengusaha. Padahal, beragam penghargaan sebagai "orang bisnis" pernah diraihnya, antara lain Asean Best Executive Golden Award dan Woman of the Year 2005 persembahan Kharisma Indonesia International Foundation. <br />"Alasan saya pensiun dari posisi sebagai bidan Puskesmas (tahun 2006 - Red.) pun untuk mengurus anak, bukan mengurus bisnis," lagi-lagi senyum mengembang di bibirnya. Selama puluhan tahun, "sang komisaris" memang masih bolak-balik Puskesmas Ciledug – Bhakti Asih. "Pagi sampai siang hari saya jadi karyawan biasa di Puskesmas, yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua. Betul-betul jadi karyawan biasa. Selama ini saya bertahan semata-mata karena pengabdian. Wong gajinya habis cuma buat ongkos, kok. Nah, sore hari, baru saya ke Bhakti Asih," aku bidan yang sekali-kali masih membantu persalinan pasien ini.<br />Buat Dedeh, bisnis bisa saja berakhir. Tapi pengabdian sebagai bidan tak pernah kenal kata pensiun. (Muhammad Sulhi)<br /><br />(Penulis: Muhammad Sulhi, dimuat di Majalah Kisah, Juni 2007). </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-6461992874695551219?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-84260197052781663022008-04-15T17:53:00.004+07:002009-01-26T21:49:19.030+07:00Jangan Terobsesi Frekuensi, Ah!Bahwa berhubungan seksual itu ueenak tenan, si Ujang yang masih bujang pun tahu. Tapi jangan mentang-mentang ueenak, lantas seenaknya menentukan jadwal "begituan". Mesti ada kompromi, sampai di mana kesanggupan suami dan apa maunya istri. Kalau enggak, yang ueenak tadi bisa berubah jadi enek.<br /><span class="fullpost"> <br /><br />Sudah bukan rahasia lagi, banyak suami (dan sebagian istri) yang terobsesi pada frekuensi dalam berhubungan intim. Seolah-olah seks itu matematika, jika sudah dipatok 3 x 1 (hari) atau 1 x 1 (minggu), ya harus terus begitu, sampai langit runtuh. Padahal, "Bicara soal frekuensi hubungan seksual, masalahnya sangat kompleks, karena banyak faktor yang mempengaruhi seseorang atau pasangan," ungkap dr. Anita Gunawan M.S, Sp.AND, androlog yang sehari-hari mangkal di R.S. Pertamina, Jakarta Selatan.<br />Paling sederhana, soal bioritmik seksual. "Bioritmik seksual wanita sangat dipengaruhi oleh siklus menstruasi, sehingga tidak datang setiap saat. Kebalikannya dengan lelaki, hasrat bisa muncul kapan saja, di mana saja, jika 'tangkinya' sudah penuh," canda Anita. Yang dimaksud "tangki" di sini bukan tangki tempat menyimpan bensin. Tapi kantung – bahasa kerennya Vesica Seminalis - tempat penyimpanan sel-sel mani, sebelum dikeluarkan dari tubuh.<br />Dengan kata lain, kesanggupan berapa kali ngeseks dalam sehari, pada tiap orang dan pasangan, sifatnya sangat pribadi dan bervariasi.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Tanggalkan "baju" orang lain</span><br />Selain persoalan bioritmik, banyak persepsi yang salah tentang frekuensi hubungan seksual ikut memicu masalah. "Kalau Satrio dan Ratih bisa berhubungan intim tiga kali sehari, masak sih kita enggak ku-ku (baca: kuat)?" ceplos Nakula dan Nania, dua sejoli yang baru saja merajut janji di depan juru nikah, ketika ditanya perihal rencana "malam pertama" mereka. Bukan keinginan bermain long set 3 x 1 hari itu yang salah, tapi menjadikan pasangan lain sebagai acuan, jelas tak dapat dibenarkan.<br />"Cerita malam pertamanya Satrio – Ratih boleh saja didengerin, boleh juga dicoba. Tapi pada akhirnya badan kita sendiri yang mengukur, apakah sanggup atau enggak," tegas Anita, jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang. Kadang-kadang, cerita "serunya malam pertama" dan sejenisnya sengaja dilebih-lebihkan, untuk mensugesti pasangan lain. Ibarat membuat baju di tukang jahit, kalau pakai ukuran orang lain, ‘kan belum tentu cocok. Salah ukuran, malah bisa bikin stres.<br />Anita juga menyebut, pada pasangan-pasangan muda usia (20-an tahun dan 30-an tahun), berapa kali dalam sehari menggoyang ranjang sesungguhnya enggak masalah. Yang jadi problem, seperti kasus salah persepsi pada pengantin baru, jika tinggi rendahnya frekuensi itu dipaksakan lantaran terpengaruh suara-suara tetangga, kawan dekat, maupun bacaan-bacaan "sesat" berkedok tips berhubungan intim, yang kiwari banyak berseliweran di lapak-lapak buku dan koran. <br />Misalnya, anggapan bahwa pasangan yang frekuensi ngeseks-nya tinggi, otomatis lebih superior (karena kehidupan seksualnya lebih baik) ketimbang pasangan yang jarang bergumul di tempat tidur. Idealnya, pasutri harus sama-sama menyadari, masih ada hal lain yang lebih penting dari kuantitas, yakni kualitas. Walaupun kuantitasnya tidak banyak, tapi jika suami dan istri selalu merasakan kepuasan seksual (ditandai dengan orgasme) setiap kali berhubungan, berarti kualitas hubungan seksual mereka oke-oke saja. <br />Sebaliknya, pasangan yang menang kuantitas, belum tentu memiliki hubungan seksual berkualitas. Jika sekadar memaksakan kuantitas, besar kemungkinan ada salah satu pihak yang<br />"dirugikan". "Biasanya kaum perempuan yang tidak mendapat kepuasan seksual. Sering kali mereka terpaksa melayani para suami, hanya karena enggak tega menolak atau takut dituduh yang bukan-bukan. Jika hal itu berlangsung terus menerus, kualitas hubungan seksual akan semakin jelek. Istri pun enggak dapat apa-apa dari gerilya suami yang menggebu-gebu," seru Anita.<br />Di sisi lain, kualitas hubungan seksual yang bagus akan membawa serta memori indah ke dalam otak. Sehingga tak akan ada "perlawanan" jika sewaktu-waktu frekuensi hendak ditingkatkan. Tapi kalau yang tersimpan hanya memori buruk (akibat hubungan intim yang terlalu mementingkan kuantitas), kualitas akan sulit ditingkatkan. Singkat kata, mementingkan kualitas bisa memancing peningkatan kuantitas, sedangkan mementingkan kuantitas belum tentu dapat meningkatkan kualitas.<br />Salah persepsi juga sering terjadi pada orangtua yang sengaja menaikkan "libido" anak-menantunya, dengan berpesan:<br />"Kalian jangan lupa lo. Mumpung masih muda dan kuat, buruan bikin anak. Makin sering kalian "berbuat", makin cepat anak didapat. Kalau enggak percaya, tanya tuh oma dan opa." Benarkah? "Kalau dosisnya satu hari sekali, mungkin masih bisa diterima, apalagi untuk pengantin baru. Tapi jika sampai beberapa kali sehari, kualitas sperma yang dihasilkan pasti jelek. Dengan kualitas sperma seperti itu, mereka cuma akan mendapat kenikmatan fisik dan rekreasi, bukan anak atau keturunan yang dinanti-nanti."<br />Pasalnya, beda dengan kesuburan perempuan yang sudah ada jadwalnya tiap bulan (sesuai siklus indung telur yang juga hanya muncul sebulan sekali), laki-laki butuh waktu ideal 2 – 3 hari untuk menghasilkan sperma berkualitas(matang dan siap tempur) dan mengisi penuh "tangkinya". Bisa dibayangkan, kalau stok sperma dipakai terus menerus tiap hari, tangki tentu tidak punya kesempatan untuk mengisi secara full. Baru terisi setengah misalnya, kran sudah dibuka paksa.<br />Nah, dari siklus isi ulang ini pula, sejatinya sudah bisa dikira-kira, frekuensi hubungan seksual seperti apa yang ideal untuk setiap pasangan. Baik yang "hanya" ingin rekreasi maupun hendak cepat-cepat menimang bayi.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Buat dan taati komitmen</span><br />Salah persepsi dalam menentukan frekuensi yang tepat, versi Anita, dalam jangka panjang berpotensi menenggelamkan bahtera rumah tangga. Untuk itu, tiap pasangan harus punya preference (kecenderungan) sendiri dalam berhubungan intim. Ingat, preferensi pasangan, bukan individu. Apakah mau "begituan" tiap hari, atau hanya seminggu sekali, buatlah komitmen. Tidak seperti pembuatan komitmen pembagian harta gono gini yang ribet karena harus dilakukan di depan pengadilan. Untuk membuat komitmen preferensi frekuensi hubungan seksual, cukup dengan mengkompromikan hasrat seksual masing-masing.<br />Misalnya jika suami maunya tiap hari, tapi istri hanya sanggup memberi dua kali sepekan, tentu harus dicari jalan tengahnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan preferensi ini antara lain tingkat kebugaran (apakah ada penyakit tertentu yang diidap), tujuan (pilih prioritas, mau prokreasi atau rekreasi dulu), nilai-nilai sosial budaya yang mempengaruhi masing-masing (suami harus maklum, jika istri berasal dari keluarga yang menganggap "nagih duluan" meski kebelet itu tabu), serta hubungan interpesonal suami-istri itu sendiri. <br />"Seks itu memang sesuatu yang alami, naluriah. Tapi untuk mencapai kepuasan, apalagi dalam rumah tangga yang menyatukan dua manusia berbeda sifat, kebiasaan dan persepsi, termasuk dalam memandang frekuensi hubungan seksual yang ideal, hubungan seks yang baik itu bisa dipelajari dan diimprove. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan, yang semata-mata hanya tahu seks untuk reproduksi," tandas Anita, yang juga berpraktik di R.S. Pondok Indah, Jakarta Selatan. <br />Jika persoalan frekuensi ini enggak nyambung, bakal terjadi keresahan dalam rumah tangga. Suami yang gairahnya selalu meletup-letup merasa istrinya tidak melayani sebagaimana mestinya, sementara Sang Istri menganggap suaminya terlalu mengada-ada, karena menuntut terlalu banyak. "Hidup ini ‘kan bukan cuma ngurusin hal-hal kayak gitu. Apalagi saya wanita karir," pemberontakan Sang Istri dalam hati. Seperti api dalam sekam, masalah ini berpotensi membakar emosi.<br />"Jika mereka sudah saling bicara dan berkompromi, tapi titik temu tak juga didapat, barulah disarankan mencari bantuan ahlinya, dalam hal ini androlog," saran Anita. Di klinik, suami yang keras kepala dan istri yang terlalu keukeh pada pendapatnya bakal diberi pengertian, agar keharmonisan rumah tangga bisa dipertahankan. Diharapkan pula, salah persepsi yang biasanya muncul lantaran terlalu banyak menyerap "kata orang" atau membaca buku dan majalah yang teorinya belum tentu bisa dipraktikkan di "lapangan" ikut tergerus. <br />Jangan sampai karena terlalu terobsesi pada frekuensi, hubungan intim berubah menjadi rutinitas sehari-hari. Basi, tanpa makna dan rasa. Istri melakukannya dengan setengah hati, sementara suami hanya mengedepankan nafsu. <br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Belum Ada Dosis Abadi</span><br /><br />Sampai detik ini, tak ada dosis abadi, yang dianggap tepat untuk menggambarkan frekuensi hubungan seksual ideal. Namun berdasar sejumlah kajian, yang paling banyak disebut-sebut adalah kisaran antara 1 - 4 kali per minggu. Angka moderat itu biasanya menurun sejalan pertambahan usia perkawinan. Di usia kepala tiga misalnya, masih wajar jika melakukannya sekali dalam seminggu. <br />Meski tak menganggap kuantitas lebih penting dari kualitas, Dr. Bonnie Eaker Weil, peneliti di Amrik sana, tetap berpendapat, makin sering melakukan aktivitas seksual makin baik buat pasangan suami-istri. Agar tak berpengaruh terhadap kualitas sperma, aktivitas seksual tersebut jangan selalu diidentikkan dengan hubungan badan. "Banyak aktivitas lain yang bisa dipertimbangkan, seperti membelai atau menyentuh pasangan, foreplay tanpa penetrasi, dan sejenisnya," saran Bonnie. Yang penting, intensitas hubungan dengan pasangan tetap terjaga. <br />Hmm, saran bagus buat lelaki yang ingin tetap hot, sambil menunggu "tangki" penuh. <br /><br />(Penulis: Muhammad Sulhi/dimuat di Edisi Khusus Healthy Sexual Life, Majalah Intisari, April 2007).</span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-8426019705278166302?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-1526140101827633462008-04-15T17:34:00.001+07:002009-01-26T21:49:19.031+07:00Suami Sumringah Tanpa Lampu MerahDi jalan raya, menghadapi lampu merah yang durasinya cuma sekian menit, banyak pengendara kendaraan bermotor (sebagian besar kaum lelaki) tidak sabaran. Apalagi di rumah, menghadapi<br />"lampu merah" bikinan istri yang sanggup "menyala" tanpa berhenti selama berhari-hari. Pasti banyak kaum Adam uring-uringan.<br /><br />Tentu saja, "lampu merah" yang dinyalakan istri beda secara fisik dengan lampu merah bikinan Departemen Perhubungan yang biasa ditanam di setiap perempatan jalan. Jika lampu merah di jalanan beroperasi dan berkelap-kelip saban hari, traffic light versi rumahan hanya menyala sebulan sekali, pada saat sang istri menstruasi. Kerlipannya pun (disertai gelengan kepala) hanya terjadi pada saat tertentu, ketika suami memaksa menerobos rambu, karena sudah tak tahan dengan kepalanya yang cenat-cenut.<br />Tapi itu semua cerita lawas. Ketika laju ilmu pengetahuan memungkinkan munculnya pil kontrasepsi yang aman untuk menunda menstruasi, "lampu merah" tak lagi jadi masalah. Bahkan tren menunda datang bulan ini belakangan makin berkibar sebagai gaya hidup, tak hanya untuk mengatur jarak kehamilan. Ada yang melakukannya untuk memperlancar ritual ibadah haji atau umroh, lantaran tuntutan pekerjaan (wanita karier supersibuk), menunjang prestasi (atlet yang hendak mengikuti lomba), atau sekadar rekreasi (bulan madu, misalnya).<br />Bisa dimaklumi betapa repotnya jika kedatangan sang Bulan tidak ditunda, sementara dalam hitungan jam harus ikut rapat RUPS, membela nama negara di ASEAN Games, atau naik pelaminan? Konsentrasi bisa luluh lantak, Non. Belum lagi munculnya rasa sakit yang mendera. Survei menunjukkan, tiga dari empat perempuan mengalami sindrom prahaid dan saat haid berupa perasaan depresi, mudah marah, payudara sensitif, kembung, sakit kepala, nyeri, kram perut, perdarahan yang banyak serta anemia.<br />Jika Anda wanita yang suka nimbrung di milis-milis haji atau milis khusus perempuan, manfaat pil-pil KB untuk menunda menstruasi pasti sudah tak asing lagi. Di milis-milis itu, begitu banyak cerita nyata dikisahkan oleh perempuan biasa, betapa mereka merasa sangat terbantu. "Gilanya, jadwal gituan gue jatuh pas di hari resepsi pernikahan. Kalo enggak diundur, gue bisa ngesot di pelaminan. Sakitnya itu, bo," cerita Anita, satu dari mereka, lucu sekaligus menyedihkan.<br />Namun yang paling penting, suami juga bakal kena enaknya (catat, bukan getahnya). "Saya setuju kalau penggunaan pil penunda haid itu dijadikan tren oleh para istri. Waktu cuti untuk menunggu jadwal 'terbang' ‘kan relatif jadi lebih singkat. Enggak pake delay sama sekali," ujar Nugroho, co-pilot muda yang bekerja di sebuah maskapai penerbangan nasional, dalam bahasa "teknis" kantornya. Ckk, ckk, ckk ...!<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Lihat kondisi dan spesifikasi</span><br />Upaya mengatur siklus haid dengan kontrasepsi oral sebenarnya sudah lama ada. Barangkali setua umur pil kontrasepsi itu sendiri. Tablet yang juga populer disebut pil KB (Keluarga Berencana) itu, jika dikonsumsi secara normal, misalnya setiap hari selama tiga pekan, akan membuat siklus haid berjalan teratur setiap bulannya. Maksud siklus haid di sini adalah sejak haid hari pertama sampai datangnya haid hari pertama periode berikutnya. Lazimnya siklus berkisar antara 21 - 35 hari.<br />Untuk memperpanjang siklus, cukup dengan mengonsumsi lagi pil KB, misalnya selama tiga pekan tanpa jeda. Sampai kapan pil diminum untuk menunda kedatangan tamu bulanan? Sebaiknya, konsultasikan dengan dokter, karena berkaitan dengan kondisi fisik yang bersangkutan (tiap orang berbeda-beda) dan spesifikasi pil yang diminum (meski pada dasarnya semua pil KB dapat digunakan untuk menunda haid). <br />Pil yang sering dipakai untuk memundurkan jadwal haid adalah yang mengandung kombinasi estrogen dan progesteron. "Dulu penggunaan pil-pil itu tidak populer, karena dianggap menimbulkan banyak masalah, terutama pengaruhnya terhadap metabolisme tubuh dan munculnya jerawat," papar dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG-KFER dari bagian Obstetri & Ginekologi FKUI/RSCM. Versi dokter yang menamatkan pendidikan spesialisnya di FKUI pada 1994 ini, problem itu mengemuka lantaran dosis estrogennya sangat tinggi. "Ada lo yang (estrogennya) sampai 100 mikrogram per pil," imbuh Andon.<br />Pada perempuan tertentu, pil KB juga kerap dituduh sebagai penyebab kegemukan, karena memang tak semua orang berat badannya bisa tetap stabil jika ditambahi hormon dari luar. Sungguh celaka dua belas, karena kecantikan wajah dan keseksian tubuh justru modal utama perempuan. Hampir tak ada wanita yang bercita-cita punya tubuh tambun atau menyiapkan seinci pun wajahnya untuk tumbuh kembang jerawat.<br />Beruntung, pil-pil KB berspesifikasi lawas yang kinerjanya bikin mutung perempuan itu kiwari tidak beredar lagi di pasaran.<br />"Kandungan estrogen pil-pil KB sekarang hanya sekitar 30-an mikrogram, bahkan nantinya akan mengecil lagi menjadi sekitar 20 mikrogram," sebut Andon. Teknologi farmasi juga berhasil menemukan, pil KB dengan kandungan cyproterone acetate ternyata berkerja efektif sebagai antiandrogen, sehingga dapat menekan produksi minyak yang berlebihan pada kulit, sekaligus menolak jerawat. <br />Lebih beruntung lagi, ketika belum lama ini Schering Indonesia meluncurkan pil KB yang digadang-gadang sebagai pil generasi baru. Yasmin, nama pil itu, mengombinasikan estrogen dengan drospirenone, hormon sintetis generasi terbaru yang sangat mirip progesteron. Secara teoritis, "Drospirenone memang mampu menghalangi timbunan air, sehingga perempuan tidak merasa berat badannya di atas rata-rata atau gemuk," cetus Andon, kelahiran Medan, 27 November 1960 ini.<br />Hormon esterogen yang ada di dalamnya berfungsi menghambat ovulasi dan menekan perkembangan telur yang dibuahi. Sedangkan progesteron mengentalkan lendir serviks guna mencegah masuknya sperma. Di antara sekian banyak pil KB yang dapat digunakan untuk menunda haid, menurut Andon, Yasmin bak memelopori hadirnya konstrasepsi oral yang memberikan manfaat tambahan non-kontraseptif. Fitur yang kelak memungkinkan wanita memiliki gaya hidup baru, yakni menunda menstruasi.<br />Apalagi "bonus" yang ditawarkan pil-pil KB modern ini tak tanggung-tanggung. Dengan menunda haid, bukan hanya kepentingan istri yang terpayungi (aktivitas lebih leluasa, nyeri haid tidak datang saban bulan), kepentingan suami pun terwakili. Seperti diakui Nugroho, dia senang-senang saja jika sang istri merevitalisasi jadwal haidnya, dari 12 kali sebulan (?) menjadi hanya tiga kali sebulan (?), misalnya. "Waktu untuk bermesraan dan bercinta tanpa takut hamil ‘kan jadi lebih banyak," jelasnya.<br />Yang menarik, komentar Andon tentang "bonus lain" yang mungkin diterima pasangan, yakni meningkatnya libido. Dari sejumlah pasutri yang berkonsultasi ke ruang praktik dokter yang tinggal di Jln. Teluk Langsa Raya, Duren Sawit, Jakarta Timur itu, menunda haid dengan pil KB ternyata membuat hasrat bercinta makin membara. Libido meningkat, karena mereka merasa "keamanan" lebih terjamin. Sebab, kalau tidak lupa minum pil, mestinya tidak hamil. Tidak ada istilah "bocor".<br />Lagi pula, jika istri menggunakan pil generasi terbaru, yang membuat kulitnya lebih bersih dan bebas jerawat, suami mana yang enggak termehek-mehek? Bagi pasangan muda, tak ayal lagi, menunda menstruasi dapat menjadi bagian dari skenario untuk menghangatkan ranjang. Pasalnya, mereka yang belum pernah punya anak, tidak akan terganggu kesuburannya lantaran minum pil KB. Begitu pil berhenti ditenggak, kesuburan langsung kembali.<br />Sedangkan buat pasangan yang telah puas berprokreasi (sudah punya satu-dua anak atau lebih), menunda haid menjadi pilihan terbaik untuk mendapat banyak keuntungan. Yakni memaknai hubungan seksual sebagai rekreasi, sambil ber-KB dan menjalani hidup yang lebih sehat dan berkualitas.<br />Nugroho mungkin benar, jika makin banyak wanita menyadari keuntungan memakai kontrasepsi oral, tak lama lagi menunda haid akan menjadi bagian dari gaya hidup wanita modern.<br />Monggo kalau mau ikut.<br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Tetap Ada Pantangan<br /></span><br />Kontrasepsi oral sampai hari ini dinyatakan aman buat perempuan. Tapi sebagai obat, dia tetap tidak boleh diperlakukan sembarangan. Wanita penderita kencing manis, hipertensi (meski pil KB generasi terbaru dikabarkan justru dapat menurunkan tekanan darah), perdarahan vagina, penyakit ginjal dan jantung hanya boleh menggunakan pil KB di bawah pengawasan dokter. Sedangkan larangan berlaku untuk wanita hamil, memiliki kelainan pembuluh darah di otak, gangguan fungsi hati, atau mengidap tumor di dalam rahim.<br />Untuk penggunaan jangka panjang, menurut dr. Andon, harus ada interval. Artinya, selama berkontrasepsi oral, kudu ada tenggang waktu tidak minum pil. Misalnya, jika Anda sudah minum selama sembilan pekan berturut-turut, harus disediakan waktu sepekan tanpa minum pil. Andon juga tidak menyarankan penggunaan selama lima tahun berturut-turut. Jika sudah rutin minum pil selama lima tahun, setelah itu sebaiknya cuti dulu satu tahun. Habis itu, boleh lanjut.<br />Andon mengutip penelitian Foldart dan kawan-kawan pada 2006, yang menyebut penggunaan jangka panjang pil kontrasepsi formulasi 30 ug EE dan 3 mg DRSP selama 126 hari tanpa interval terbukti aman dan efektif. Namun, ia tidak menyarankan pemakaian jangka panjang oleh wanita yang sebelumnya mempunyai riwayat perdarahan di vagina yang tidak atau belum diketahui penyebabnya, memiliki mium di rahim, atau mempunyai masalah dengan liver.<br />"Sampai saat ini sih masalah yang disebabkan oleh gangguan pil kontrasepsi tidak terlalu signifikan. Kasusnya sekitar lima dari 1.000 orang. Kebanyakan berkaitan dengan perdarahan," tutup dr. Andon.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Edisi Khusus Healthy Sexual Life, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-152614010182763346?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-9827720814292994692008-04-15T17:27:00.001+07:002009-01-26T21:50:09.558+07:00Ngobrol dengan Jantung, Sepuasnya dan Bebas PulsaMurah, mudah, dan tak mengenal overdosis, hanyalah tiga dari sekian banyak kelebihan terapi body mind healing, disingkat jadi BMH. Kelebihan lainnya, Anda bisa ngobrol bareng jantung, paru-paru, atau ginjal Anda sendiri, tanpa khawatir dicap tak waras. <br /><br />BMH yang secara bebas diterjemahkan sebagai terapi kesadaran tubuh, memang sejak awal ingin menuntun kita kepada sebuah pemahaman bahwa tubuh manusia berjiwa. Orang bule bilang, the body has its own mind. Tubuh bukan seonggok daging bertulang yang statis. Sesungguhnya ia mempunyai sistem energi, kesadaran, dan semuanya saling berinteraksi secara dinamis. Tanpa disadari si empunya, tubuh memperbaharui diri setiap hari, mengalirkan informasi, dan saling berkomunikasi antarbagian <br />Hanya saja, sang empunya tubuh kadang tak tahu kalau sel-sel tubuhnya punya kesadaran yang memungkinkannya berbicara dari hati ke hati, ngobrol dan mendiskusikan banyak hal dengan jantung, paru-paru, atau ginjal misalnya. Ya, berbicara langsung kepada mereka, seperti kita berbicara kepada seseorang. <br />Aneh? Awalnya iya. Rasa aneh itu muncul karena pemilik tubuh selama ini terlalu sibuk ngerumpi dengan dunia di luar badannya. Beragam percakapan yang muncul di dalam dirinya sendiri malah luput dari perhatian. <br />Saat seseorang hendak mengambil gelas di meja seberang contohnya, selalu didahului proses dialog antara otak dan tangan. Otaklah yang memerintahkan tangan untuk mengambil gelas. Keduanya berkomunikasi untuk menentukan strategi pengambilan gelas yang paling aman, agar airnya tidak tumpah ke meja. Komunikasi takkan berjalan lancar jika otak mengalami kerusakan atau tangan keram, yang berakibat jatuhnya gelas atau tumpahnya air. <br />Nah, kalau untuk mengambil gelas (melibatkan organ luar tubuh) saja ada dialognya, mestinya dialog sejenis untuk organ bagian dalam bisa juga dilakukan. Dialog yang dilandasi kesadaran tubuh inilah yang menjadi inti terapi BMH – yang di Amerika Serikat sana punya nama alias body awareness, mind power, atau the healing power of the mind.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Mengeliminasi informasi negatif</span><br />MBH terutama diperlukan oleh mereka yang kondisi tubuhnya "kurang seimbang", baik secara fisik, psikis, maupun spiritual. "Ketidakseimbangan itu terjadi bisa karena tubuh terlalu diforsir bekerja tanpa memikirkan istirahat yang cukup, atau terus menerus dijejali kesadaran yang tidak benar," tegas Janti Atmodjo, Ph.D., M.B.A., terapis yang berpraktik di Jln. Pegangsaan Raya, Jakarta Timur. Kurang istirahat mudah dikenali, karena dampakya terlihat jelas pada fisik. Tapi bagaimana melacak kesadaran yang tidak benar? <br />"Meski secara teori, otak manusia bisa memproses ratusan ribu informasi dalam waktu bersamaan, tetap saja ada yang namanya critical factor, penyaring semua informasi itu, sehingga hanya informasi yang sesuai dengan belief system yang diproses. Sisanya bablas, tersimpan di alam bawah sadar," terang Janti. Celakanya, tak semua info yang masuk ke alam bawah sadar bersifat positif. Informasi-informasi negatif pun ikut tersimpan di rak file. <br />Ambil contoh seorang anak yang kerap melihat orangtuanya bertengkar hebat. Pertengkaran yang baru berakhir setelah Bapak memukuli Ibu yang tak berdaya. Dalam belief system si anak, jelas diinformasikan bahwa memukul itu jelek, apalagi terhadap perempuan. Informasi ini disimpan dan mendapat tanggapan positif di otak. Namun adegan pemukulan (notabene tidak sesuai dengan belief system) tanpa sadar ikut tersimpan di alam bawah sadar. Alhasil, di kemudian hari, si anak berpeluang mengikuti jejak bapaknya. <br />Untuk menuntaskan problem si anak - yang terjadi di tingkat bawah sadar - tentu terapis harus ikut melihat alam bawah sadar juga. Di sini, apa yang dilakukan BMH bisa mirip dengan hipnoterapi. Walaupun Janti menegaskan, BMH lebih luwes daripada hipnoterapi. MBH tak hanya bisa masuk ke wilayah psikis si anak, tapi juga wilayah fisik, jika trauma bawah sadar itu ternyata berdampak juga pada fisik (lihat juga boks: Lebih Luwes daripada Hipnoterapi). <br />Berkaitan dengan fisik, mungkin Anda pernah merasa kurang fit, tapi enggak tahu apa pasal yang membuat badan kurang fit. Awam sering menyebutnya sebagai "enggak enak badan". Atau tiba-tiba menderita sulit tidur (insomnia), padahal kolesterol tak bermasalah, makan sudah dijaga, tekanan darah pun no problem. Dua problem tadi, jangan-jangan penyebabnya ada di alam bawah sadar, lantaran alam bawah sadar Anda dipenuhi informasi-informasi atau kesadaran yang tidak benar.<br />Lewat MBH, Anda diajak menelusuri jejak-jejak ketidakseimbangan itu. Sambil mencari tahu apa sebetulnya penyebab (baik yang disadari maupun tidak disadari) trauma dan ketidaknyamanan fisik yang selama ini mengganggu. Jika penyebabnya sudah diketahui, baru dilakukan dialog dengan bagian tubuh atau organ yang bermasalah, untuk memasukkan informasi-informasi positif. <br />Tujuan akhirnya, terjadi keseimbangan arus informasi, termasuk di alam bawah sadar, sehingga trauma psikis dan ketidaknyamanan fisik pun pergi untuk selamanya.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Masuk ke dalam sistem</span><br />Paket lengkap terapi BMH lazimnya dimulai dengan gerakan fisik untuk merilekskan tubuh. "Jika tubuh kita dalam keadaan amburadul, misalnya tegang atau stres, 'kan enggak mungkin dipaksa langsung rileks, apalagi meditasi," Janti Atmodjo menjelaskan. Aktivitas fisik yang dimaksud Janti, tak mesti yang ribet-ribet, cukup streching dengan berkali-kali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Kemudian gerakkan dan lemaskan leher, bahu, punggung, tangan, dan kaki. <br />Yang penting, streching sederhana itu dilakukan dengan segenap perasaan dan penuh konsentrasi. Setelah tubuh rileks, sekarang giliran pikiran yang digiring menuju relaksasi. Atur posisi badan senyaman mungkin - lebih baik dalam posisi tidur dan dilakukan menjelang tidur – lalu berkonsentrasilah, dan tenangkan pikiran. <br />"Begitu tenangnya, sehingga mampu meniadakan orang-orang atau benda-benda di sekitar kita. Enggak ingat ada istri di samping, anak di kamar sebelah, atau dompet yang tergeletak di meja," imbuh Janti.<br />Pendek kata, pikiran digiring masuk ke dalam sistem tubuh. "Awalnya sulit, dan ini memang bagian yang paling sulit," Janti mengingatkan. Si empunya tubuh harus benar-benar bisa merasakan dan menyadari tubuhnya, membayangkan kerja sistem dan organ-organnya. <br />Dalam kondisi rileks total, ia juga harus bisa menempatkan diri, seolah-olah benar-benar berada di dalam sistem tubuh. Jika suasana rileks dan perasaan "ada di dalam" telah tercipta, barulah jalur komunikasi dibuka.<br />"Berdasarkan pengalaman, komunikasi yang enak itu rata-rata sekitar 20 menit. Tapi saya sendiri biasa melakukannya sampai 40 menit, bahkan tak jarang sampai satu jam. Makin panjang waktunya, makin enak buat badan kita. Itu sebabnya, waktu ideal untuk membuka komunikasi ya jam-jam sebelum tidur, supaya setelah itu, kita bisa langsung pulas."<br />Janti juga menegaskan, salah satu syarat agar terapi BMH berjalan efektif dan efisien, praktisinya harus tahu asal usul penyakit yang diderita. What’s wrong and what’s going on, begitu bahasa kerennya. Jika Anda punya masalah psikis atau traumatis contohnya, Janti akan membimbing Anda menziarahi alam bawah sadar untuk mencari penyebabnya. Sedangkan untuk sakit fisik, peneropongan meliputi organ yang bermasalah dan alam bawah sadar. Bisa saja, penyakit fisik itu sebenarnya bersumber dari info negatif yang terlalu banyak masuk ke alam bawah sadar.<br />Untuk pasien yang diketahui menderita stroke misalnya, materi dialognya berupa ucapan-ucapan agar penyempitan atau penggumpalan di pembuluh darah cepat lepas. Kalau pembuluhnya telanjur pecah, BMH berfungsi mengupayakan pemulihan lebih cepat. Selain stroke, memperbaiki sistem pencernaan atau sistem pernapasan juga bisa dilakukan dari dalam. <br />Pun buat mereka yang bermasalah dengan jantung. Setelah "masuk" ke dalam sistem tubuh, bayangkan Anda bertemu dan bercakap-cakap dengan jantung. Anggap jantung sebagai bayi kecil yang harus dilindungi, disayangi, dan diberi limpahan perhatian.<br />Bicaralah dengan penuh kasih sayang pada jantung. Misalnya, "Aku sayang dan berterima kasih sekali pada kamu, jantung. Kamu telah bekerja keras dan membantu saya sejak saya lahir sampai sekarang. Maaf kalau selama ini aku kurang perhatian. Mulai sekarang, aku akan lebih menyayangi kamu." Kemudian, bak membimbing anak kecil, mintalah jantung bekerja lebih baik. Jika pompa kanannya bermasalah, bayangkan kerja pompa kanan tersebut, lantas perintahkan dengan halus agar pompa itu bekerja sebagaimana mestinya.<br />Jangan bicara macem-macem atau yang aneh-aneh pada organ bermasalah. Misalnya mengeluhkan rasa sakit, apalagi memaki-maki: "Gimana sih kamu, jantung. Aku sudah lima kali ganti dokter, kamu kok belum sembuh-sembuh juga!" Ingat kembali pada "rumus keseimbangan". Jangan lagi menambah informasi negatif di alam bawah sadar. Sebaliknya, sampaikan informasi positif untuk mengimbangi informasi negatif yang telanjur menumpuk. <br />Janti menyarankan, sebelum secara khusus berdialog atau memberi perhatian pada organ bermasalah, sebaiknya lakukan dulu scanning, untuk menemukan bagian-bagian tubuh mana saja yang terasa "enggak enak". Cirinya bermacam-macam, bisa nyeri, ngilu, organ terasa kencang, dan sejenisnya. <br />Dalam suasana rileks, rasakan perpindahan energi dari ubun-ubun, otak, saraf-saraf, mata, begitu seterusnya. "Kita mungkin enggak punya pengetahuan anatomi secara tepat, tapi kita pasti bisa merasakan bagian-bagian bermasalah itu," ujar Janti.<br />Begitu rasa "enggak enak" muncul, di bagian kaki misalnya, singgahlah sebentar. Rasakan dan berdialoglah dengan sang organ tubuh. "Oh kaki, kamu ternyata masih bermasalah. Maaf kalau kemarin aku memaksa kamu melangkah jauh, padahal kondisi kamu belum fit benar. Kamu habis keseleo 'kan? Aku janji akan lebih berhati-hati, tapi kamu juga harus cepat sembuh ya?" <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Manfaatkan Energi Ilahi</span><br />Bagaimana dialog dalam BMH bisa menyembuhkan? Jawabannya jelas tidak ada di buku-buku kedokteran. Intinya dengan mengucapkan kalimat-kalimat positif itu, kita mengharapkan datangnya energi Ilahi. Dalam agama apa pun, dikenal ruh yang berbentuk energi, dan punya kemampuan menyembuhkan. Namun interaksi dan lalu lintas energi itu tidak bisa berlangsung serampangan. "Hanya dalam kondisi tertentu kita bisa menyerap dan memanfaatkan energi Ilahi. Salah satunya dalam kondisi rileks," sebut Janti. <br />Kabar baiknya, tiap manusia berpotensi memanfaatkan energi tersebut. Di otak setiap orang ada gelombang. Saat kita berpikir, otak itu juga menghasilkan energi. Tidak kelihatan, tapi ada. Ada partikel halus sekali dari suatu benda, yang punya hubungan dengan benda lain, terutama yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat biologis. <br />"Partikel ini bisa sampai di tempat tujuan, tanpa meninggalkan tempat aslinya. Energi itu begitu halusnya, sehingga tidak perlu diambil, tapi cukup diteleportasikan. Teleportasi yang paling gampang dan efektif, ya antara otak dan organ tubuh sendiri. Itu sebabnya ada orang yang bisa menghipnotis diri sendiri," cerita Janti.<br />Tips terakhir dari Janti: BMH bukan terapi yang bersifat langsung menyembuhkan. Ia lebih mirip supporting unit yang membuat seseorang sembuh lebih cepat, hidup lebih sehat, dan tumbuh menjadi manusia yang lebih berkualitas.<br />Jadi, ingatlah BMH, baik di kala sakit maupun sehat. <br /><br />Boks: <br /><span style="font-weight:bold;">Jangan Tertidur di Kantor</span><br />Badan rasanya pegal-pegal, padahal sebentar lagi harus menemui klien penting di sebuah kawasan di pinggir kota, yang terkenal sebagai "daerah macet". Kalau dipaksa nyetir, boleh jadi konsentrasi bakal terbelah. Bukannya sampai tujuan, bisa-bisa nyasar ke kantor polisi lantaran nabrak mobil orang. Telepon klien, dan bilang jadwal ketemuan ditunda? <br />Jangan dulu. Cobalah langkah-langkah terapi BMH. Lakukan sedikit streching terhadap leher, bahu, punggung, lengan, tangan, dan kaki. Jika badan sudah benar-benar rileks, "masuklah" ke dalam sistem kerja organ-organ tubuh. Temukan bagian tubuh yang pegal, lalu katakan Anda butuh tenaga ekstra untuk melanjutkan aktivitas. Jadi, bagian yang pegal tadi tidak boleh pegal lagi. <br />Kalau semua dilakukan full konsentrasi, setelah itu Anda mungkin akan tertidur 5 – 10 menit. Itu gejala normal, karena bangun tidur, oaaah... badan pasti terasa enteng.<br />Langkah serupa bisa dilakukan setelah Anda kerja berjam-jam di kantor. Tapi awas, jangan sampai tertidur terus. Bisa-bisa Anda kena semprot bos.<br /><br />Boks: <br /><span style="font-weight:bold;">Lebih Luwes daripada Hipnoterapi</span><br />Seperti BMH, hipnoterapi juga mengorek alam bawah sadar untuk mencari sebab sebuah penyakit. Setelah ketemu sumber masalahnya, hipnoterapi memasukkan program baru untuk menggantikan program yang bermasalah. Tapi untuk pasien yang memiliki penyakit fisik lantaran gangguan psikis misalnya, hipnoterapi harus diterapkan hati-hati. Salah-salah, kondisi fisik si pasien malah tambah parah.<br />Janti mencontohkan pengalamannya sendiri. Suatu kali dia terjatuh saat melakukan senam. "Ah paling-paling cuma keseleo," yakinnya dalam hati. Berkat hipnoterapi setiap hari, dia tak merasakan keluhan apa pun. Terus bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Baru seminggu kemudian, secara tak sengaja kakinya diperiksa seorang kolega yang juga dokter. Janti langsung diminta melakukan rontgen. Hasilnya, kakinya divonis patah. <br />"Saat itu, saya rasanya ingin menangis sejadi-jadinya. Apalagi waktu operasi pemasagan pen, dokter juga menemukan adanya tendon yang putus. Bisa dibayangkan kalau saya masih terus bertahan dengan hipnoterapi seminggu lagi. Patahnya pasti makin parah," kenang Janti.<br />Beda dengan BMH, yang justru melongok alam bawah sadar untuk menemukan penyebab masalah. Lalu menyeimbangkan informasi negatif di alam bawah sadar itu dengan input-input positif, sekaligus menyembuhkan sakit fisik (jika ada), tanpa harus mengganti rekaman. <br /><br />Boks: <br /><span style="font-weight:bold;">Mulai dari Ngulet</span><br />Mungkin klise, tapi olahraga memang banyak manfaatnya. Berolahraga minimal 3 kali seminggu bukan hanya membuat raga sehat, tapi juga membuka cakra-cakra tubuh. Cakra-cakra yang terbuka membuat tubuh mudah menyerap energi. Olahraga paling gampang, menurut Janti, ngulet. Bangun tidur jangan kemana-mana dulu. Biasakan ngulet, dengan menggerakkan tulang punggung dan kaki. Dengan cakra terbuka, plus tambahan energi, dijamin pagi Anda menjadi lebih indah.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Edisi Khusus Mind, Body & Soul, Majalah Intisari, November 2007, Hak Cipta dilindungi Undang-undang).<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-982772081429299469?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-39292863750381224482008-04-15T13:43:00.001+07:002009-01-26T21:59:27.223+07:00Kekuatan Sedekah Yusuf MansurDi mata orang biasa, sedekah hanya “layak” dikeluarkan jika isi dompet sedang tebal atau sebatas uang recehan. Kalau otak lagi mumet mikirin utang, “Jangankan sedekah, makan aja susah,” protes mereka seirama. Makanya, aneh bin ajaib, ketika Yusuf Mansur - ustad muda yang akhir-akhir ini rajin muncul di layar gelas – menganjurkan lebih banyak sedekah justru di saat hidup sedang susah.<br /><br />Yusuf Mansur duduk bersila di kerumunan ratusan karyawan sebuah perusahaan. "Ustad, kali ini saya ingin tema tausiyahnya tidak tentang sedekah," pinta seorang panitia, yang juga salah satu petinggi perusahaan. Rupanya, panitia itu hendak berempati kepada karyawannya. Seperti negeri ini yang sering dirundung duka, perusahaannya juga sedang "KD" (kurang darah). Menurut si panitia, khalayak yang hadir sebagian besar buruh, seharusnya diberi sedekah, bukan dianjurkan bersedekah.<br />Yusuf Mansur - pemilik pondok pesantren Daarul Qur’an, Ciledug, Tangerang – keruan berang. Sedekah kok diidentikkan dengan status sosial ekonomi. Orang miskin yang ingin kaya juga harus sedekah. “Guru ngaji saya bilang, kalau habis gajian bersedekah, atau orang yang bisnisnya gol bersedekah, itu sih biasa. Tapi sedekah sebelum gajian, saat punya sedikit duit, atau sebelum memulai usaha, itu baru istimewa,” sang ustad meradang.<br />Ia menambahkan, materi yang bisa disedekahkan tidak harus berwujud uang. "Bisa pakaian, makanan. Atau kalau di rumah ada teve berukuran 29 inci, ‘kan masih bisa 'dikecilin' jadi 14 inci?" sambung pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 ini. Jadi, tidak ada yang tidak dapat disedekahkan oleh orang termiskin di dunia sekalipun, sepanjang niat bersedekah itu ada.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Belajar dari semut</span> <br />Mengikuti jejak K.H. Zainuddin MZ yang tenar sebagai da’i sejuta umat, Aa Gym da’i “sejuta hati”, atau ustad Arifin Ilham yang identik dengan majelis zikir, nama Yusuf Mansur belakangan beken sebagai da’i penganjur sedekah. Dalam setiap tausiyahnya, penulis 30-an buku ini selalu mendengungkan kekuatan sedekah. <br />Tema sedekah - dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi umat - tampak mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Penceramah jebolan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat ("Ane enggak punya ijazah, brenti waktu nyusun skripsi," katanya buka kartu dalam logat Betawi kental) ini pun laris bak kacang goreng. "Bulan ini (Agustus 2006 - Red.), enggak ada hari tanpa tausiyah. Satu hari bisa lima sampai enam tempat," aku seorang stafnya.<br />Yusuf kian identik dengan sedekah, setelah bareng rumah produksi Sinemart menggagas sinetron Maha Kasih. Sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun teve swasta itu diangkat berdasarkan kisah nyata dan sarat pesan hikmah sedekah. Yusuf juga pernah menjadi Duta Dompet Dhuafa dan Duta Bank Muamalat. Tahun 1999 - 2000, Yusuf bahkan aktif di Majelis Syifa, yang mempraktikkan terapi sedekah untuk penyembuhan penyakit fisik. <br />Ceramah Yusuf terasa hidup, karena bapak dari dua orang anak ini selalu menyelipkan kisah nyata. Sekali waktu, ia berkisah tentang seorang buruh yang bersedekah Rp 5.000,- di sebuah acara tausiyah. Eh, begitu sampai di rumah, ada orang kaya numpang buang hajat di kamar mandinya. Setelah berhajat, musafir tadi menyerahkan Rp 50 ribu buat "jajan" anak si empunya rumah. "Pak ustad, sedekah saya dibalas 10 kali lipat hari itu juga," tutur sang buruh berkaca-kaca.<br />Yusuf juga fasih bertutur tentang kesaksian seorang office boy yang menyetor seluruh gaji pertamanya untuk ibunda tercinta. Esoknya, ia diganjar balasan setimpal, tak lebih tak kurang, Rp 600.000,-. Duit pengganti gaji itu didapatnya sebagai komisi jerih payah membantu menjualkan motor seorang teman. Setelah itu, selalu saja ada rezeki yang masuk ke kantung si office boy. Total jenderal di akhir bulan istimewa itu, ia "gajian" sampai Rp 5 juta - Rp 6 juta.<br />Kesaksian orang-orang yang pernah terbantu oleh sedekah itu ikut membentuk keyakinan Yusuf, bahwa kekuatan sedekah tidak main-main. Apalagi ia juga punya setori sendiri. Akhir 1990-an, selama beberapa bulan, Yusuf sempat merasakan pahitnya tinggal di rumah tahanan. Ia terbelit utang. "Pinjaman usaha yang mulanya sedikit, karena kebodohan saya, berbunga dan membengkak jadi lebih dari satu miliar. Orang Betawi bilang, bukan lagi gali lubang tutup lubang, tapi gali lubang tutup empang," ujar pemilik blog beradres wisatahati.multiply.com ini menerawang.<br />Saat dibekap kesulitan itulah, ia mengalami dua pengalaman luar biasa. "Di tahanan suatu kali saya merasa sangat lapar. Enggak ada makanan. Yang ada cuma sedikit sisa roti, saya simpan di bawah bantal. Tapi begitu roti mau saya makan, tampak semut berbaris di tembok sampai lantai. Saya merasakan itu sebagai pertanda alam, lalu teringat hadis, yang artinya kira-kira, Allah akan membantu hambanya, selama hamba itu mau membantu yang lain."<br />Tanpa pikir panjang, Yusuf menyerahkan sejumput roti itu pada gerombolan semut. Entah mengapa, ia begitu ingin bersedekah saat itu. "Lima menit kemudian, seorang sipir datang bertanya, ‘Suf, udah makan apa belum?’ Setengah percaya, saya menggelengkan kepala. Alhamdulillah, dalam hati saya tak putus-putusnya mengucap syukur," imbuh Yusuf. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Cuma laku lima</span><br />Pengalaman kedua, ketika baru keluar tahanan, sekitar tahun 1999. Untuk menyambung hidup, Yusuf terpaksa harus jualan es di terminal Kalideres, Jakarta Barat. Dengan modal Rp 20.000,-, ia mencoba membangun kehidupan baru. Setelah dipotong ongkos, sisa duit Rp 14.000,- digunakan untuk membuat 70 kantung es, yang dijajakan Rp 500,- per buah. "Bukan main, hari pertama, cuma laku lima," Yusuf tertawa lirih.<br />Ia betul-betul harus menekan ego dan kesombongan. Bayangkan,<br />dari pengusaha yang memodali orang puluhan juta rupiah, "turun pangkat" jadi penjual es lima ratusan perak. "Saya menganggap semua itu sebagai penebusan dosa. Saya percaya, kesulitan hidup merupakan tebusan dosa yang pernah kita perbuat. Menikmati penderitaan itu ada ilmu dan seninya. Banyak manusia yang diberi kesusahan, karena ketika diberi kesenangan, enggak ingat sama Tuhan," pria berkacamata ini menambahkan. <br />Pelan tapi pasti, dengan "ilmu sedekah" yang didapatnya, hidup Yusuf bertambah baik. Sebelumnya, ia mengaku belajar ilmu sedekah sama seperti belajar ilmu-ilmu lain, sepintas saja. Tapi di masa sulit itu, ia belajar hal baru, yakni bersedekah jangan menunggu tabungan cukup, bisnis gol, atau gaji bersisa. Sedekah seperti lazimnya kecil, tipis, sehingga tidak "bertenaga".<br />"Pengalaman saya tadi, buat orang lain mungkin biasa. Tapi buat saya, luar biasa, karena saya telah membuktikan sendiri kekuatan sedekah." <br />Berhasil pada diri sendiri, dengan keyakinan penuh, Yusuf mulai berdakwah tentang sedekah. Dia bertekad menyebarluaskan the power of sedekah untuk memberdayakan ekonomi umat. Awalnya, tentu saja enggak laku. Tapi makin lama, makin banyak orang melihat, Yusuf ternyata tak hanya pandai berteori. Buktinya, ia berhasil membangun sekolah tinggi ilmu komputer Cipta Karya Informatika di bilangan Jakarta Timur, yang sudah beroperasi empat tahun.<br />Undangan tausiyah pun menumpuk. Kali ini tak hanya dari individu dan masyarakat. Yusuf pun mulai dilirik korporat untuk memberi motivasi, pencerahan, mengadakan spiritual gathering, dan financial healing. Dialah yang memperkenalkan sedekah secara korporat. Misalnya, dalam setahun sebuah perusahaan menghasilkan laba bersih sekian miliar. Nah, dari jumlah sekian miliar itu 10%-nya bisa disedekahkan.<br />"Sedekah yang dilakukan 'di muka', menurut Yusuf, akan menjadi bill of insurance, tagihan yang sudah diasuransikan duluan, untuk menjamin berhasilnya tujuan perusahaan. Di sini saya banyak ditentang, dibilang terlalu pamrih pada Tuhan. Tapi masa bodoh, yang enggak yakin atau enggak mau ikut enggak apa-apa. Saya juga enggak ambil sedekahnya kok. Korporat itu bebas sedekah ke mana saja. Yang penting bersedekah," cetus da'i yang tausiahnya sudah merambah sampai ke Singapura ini.<br />Yusuf berharap, jika kebiasaan bersedekah kian marak di kalangan masyarakat dan korporat, bangsa ini akan ikut diuntungkan. Karena kepedulian pada nasib sesama jadi lebih besar. "Dalam peningkatan ekonomi, yang penting aplikasinya. Financial freedom tidak bisa didapat tanpa spiritual freedom, begitu juga sebaliknya," tandas ustad yang mengaku tak pernah menyediakan waktu khusus untuk menjaga kebugaran ini. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Buang jauh logika</span><br />Untuk mereka yang ingin meningkatkan taraf kehidupan (secara materi), bilang Yusuf, obat yang paling manjur yaitu bersedekah materi. "Kalau kita bersedekah bukan materi (dengan doa, membantu dengan tenaga, dan sejenisnya), dapatnya juga non-materi, semisal kesehatan, kegembiraan. Tapi itu 'kan tidak langsung mengubah eksternal seseorang, seperti pendapatan," imbuh sang ustad.<br />Namun, ia cepat menambahkan, hak Yang Di Atas untuk mengganjar sedekah seseorang dengan apa pun. Karena pada dasarnya, selain mendatangkan materi, sedekah juga memberi jalan menuju sukses (lewat kemudahan membangun dan mengembangkan usaha), mendatangkan kesehatan, menolak bala, mendatangkan ampunan dan pertolongan-Nya.<br />Sebenarnya, aku Yusuf, manusia tidak boleh terus-menerus bermain sedekah di tataran keinginan atau masalah. Kelak harus jadi hamba-Nya yang lebih cerdas, naik pangkat ke tahap cinta Allah, atau mahabbah. Tapi sebagai pintu pertama, mengharap sesuatu dari sedekah enggak masalah. "Toh tidak diharamkan, asal jangan berhenti sampai di situ. Begitu keinginan terjawab, lalu lupa daratan," jelas pria yang menargetkan berdirinya Sekolah Islam Internasional gratis tahun 2008 nanti. <br />Terakhir dan paling penting, Yusuf mewanti-wanti, "Sedekah itu jangan dipikirin, karena enggak akan nyambung dengan otak. Secara logika, makin banyak sedekah ‘kan makin ngurangin harta. Jadi, buang jauh logika ketika ngomongin sedekah!" Yusuf mengilustrasikan, seorang karyawan yang "pakai otak", sudah dapat ditebak berapa total gajinya saat pensiun. Tapi kalau dia rajin bersedekah sampai mentok (baca boks "Matematika Sampai Mentok"), bisa saja dia pensiun sebagai direktur! <br />Makanya, jangan takut bersedekah sebelum gajian. <br /><br />Boks:<br /><span style="font-weight:bold;">Matematika Sampai Mentok <br /></span><br />Agar keinginan mendapat balasan (materi) tercapai, sedekah mestinya dilakukan tanpa berpikir untung-rugi. "Jangan hitung-hitungan di depan Allah. Istilah saya, sedekah itu harus sampai mentok," Yusuf mengepalkan tangan kanan dan memukulkannya ke telapak tangan kiri. Tapi buat mereka yang masih suka bermatematika ria, Yusuf tak segan-segan menunjukkan rumus "sedekah mentok"-nya. <br />Misalkan, gaji Anda hanya Rp 1 juta, sedangkan kebutuhan mencapai Rp 3 juta, bagaimana cara menutupnya dengan sedekah? Taruhlah setelah mendapat pencerahan, Anda berniat sedekah sesuai anjuran agama, sekitar 2,5 % dari penghasilan. Berarti sedekah Anda 2,5% x Rp 1 juta = Rp 25.000,-. Secara fisik, uang Anda berkurang (Rp 1 juta – Rp 25.000,-) menjadi Rp 975.000,-, namun secara metafisik uang Anda sebenarnya Rp 975.000,- + Rp 250.000,- (Allah menjanjikan balasan untuk setiap sedekah minimal dikalikan 10) = Rp 1,25 juta. Jauh di bawah kebutuhan, 'kan?<br />Bagaimana jika sedekah dinaikkan jadi 10%? Hitung sendiri detailnya, tapi paling-paling Anda hanya mendapat Rp 1,9 juta. Tetap jauh panggang dari api. Nah, agar sedekah itu mentok, titik tolaknya bukan dari pendapatan, tapi dari kebutuhan. Jadi, jika Anda bersedekah 10% (10% x Rp 3 juta = Rp 300.000,-), "balasannya" kira-kira Rp 700.000,- (sisa gaji) + Rp 3 juta (sedekah dikalikan 10) = Rp 3,7 juta. Sudah melewati target? Pasti.<br />Namun, Yusuf juga mengingatkan, sedekah itu harus dijaga, jangan sampai "bocor". Cara menjaganya dengan rajin salat lima waktu, puasa sunat, salat berjamaah, salat malam, dan amalan-amalan sunat lainnya. Sebaliknya, jika seseorang belum bisa menghentikan kebiasaan bergunjing, berjudi, dan kebiasaan buruk lain yang dilarang agama, alih-alih mendapat balasan 10 atau 100 kali lipat, nilai sedekah malah bisa minus.<br />"Jangan anggap spiritual value itu enggak ada nilai ekonomisnya,” bilang Yusuf, mengingatkan kembali, sehebat-hebatnya matematika manusia, masih lebih hebat matematika spiritualnya Dia yang di atas sana. <br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Oktober 2006, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-3929286375038122448?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-28558145394779675402008-04-15T13:00:00.002+07:002009-01-26T21:59:56.233+07:00Google Mencari Data, Juga Mencetak UangBanyak orang terheran-heran, kok bisa-bisanya situs Google yang bersahaja itu menjadi mesin uang. Dulunya, ia cuma hasil penelitian yang sempat ditawarkan ke portal-portal besar (dan ditolak!). Kata "Google" bahkan berasal dari salah eja, yang untungnya tak banyak orang tahu. Buku Kisah Sukses Google, karya David A. Vise dan Mark Malseed (alih bahasa Alex T.K., PT Gramedia Pustaka Utama, 2006) menampilkan jatuh bangunnya search engine itu. Termasuk kisah Larry Page dan Sergey Brin, penciptanya yang dianggap sebagai sosok istimewa.<br /><br /> Tahun 1990-an, web ibarat <i>wild-west</i>-nya dunia nyata. Jutaan orang mulai berkomunikasi melalui e-mail, sementara jumlah situs terus bertambah. Sayangnya, kinerja <i>search engine</i> alias mesin pencari di masa itu, seperti, Lycos, Magellan, Infoseek, Excite, dan Hotbot jauh dari harapan. "Hasil pencariannya tidak beraturan," tegas Motwani, dosen Stanford, mantan pembimbing Sergey Brin.<br />Situs pencari yang muncul agak belakangan, Yahoo! dan Alta Vista, memang lumayan. Namun, Yahoo! dianggap hanya mengurutkan informasi berdasarkan abjad, sehingga tidak secara kasat mata menginformasikan tingkat kepentingan data. Sedangkan Alta Vista menawarkan banyak links, yang belum tentu fokus. Untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, pencari data bisa menghabiskan waktu berjam-jam.<br /> Demi mengejar gelar doktornya, Larry Page bertekad menyempurnakan sistem pencarian informasi itu dengan menyortir urutan data, sehingga berawal dari urutan yang paling penting. Dia mengklaim sanggup men-<i>download</i> seluruh <i>website</i> yang ada di dunia maya ke dalam komputernya dalam waktu singkat. Ucapan yang saat itu ditanggapi dengan geleng-geleng kepala para dosen. Mustahil, mustahil. <br />Bahkan setelah Google meraja, dengan puluhan juta pencarian saban hari - entah itu menggunakan Google berbahasa Yunani, Latin, Gaelic, Hindi, Ukraina, Urdu, Kroasia, Ceko, Esperanto, Persia, Portugis, Norwegia, Swedia, Spanyol, Swahili, Thai, Melayu, Maltese, Cina, Jepang, Tagalog, Basque, Eslandia, Italia, Indonesia, Belanda, Denmark, Zulu, Korea, Wales, Jerman, Prancis, Arab, Ibrani, Latvia, Lithuania, Romania, Slovenia, Rusia, Finlandia, dan Inggris – masih banyak juga orang tak habis pikir, kok ya bisa.<br /><br /><b>Berburu komputer <i>nganggur</i></b><br /> Tahun 1996, Larry Page - si pemilik ide gila itu – mendapat suntikan semangat dengan bergabungnya Sergey Brin, seorang jagoan matematika. Saat itu pula Page menyadari, pekerjaan yang semula dikiranya "mudah" ternyata sangat rumit dan sulit, sehingga butuh waktu lama untuk mewujudkannya. Page juga mengalami kendala dana, lantaran setiap menjalankan program "laba-laba" untuk menjaring informasi dari web, ia butuh dana sebesar AS $ 20.000.<br /> Toh dua sahabat ini pantang mundur. Page sangat yakin pada teorinya bahwa menghitung jumlah <i>link</i> yang menunjuk ke sebuah situs <i>web</i> merupakan salah satu cara untuk memeringkat popularitas sebuah situs. Dengan kata lain, situs yang lebih banyak dirujuk boleh dianggap lebih penting ketimbang situs-situs yang punya sedikit rujukan. Cara memeringkat itulah yang lantas dikembangkan menjadi sistem PageRank.<br /> Untuk mendukung teorinya, awal 1997 Page meluncurkan mesin pencari primitif bernama BackRub, yang mulai mencari dan mengumpulkan informasi di internet, berupa link-link yang disusun berdasarkan prioritas keterkaitan. Untuk pertama kali, ada cara untuk mencari sesuatu di internet dan menemukan jawaban yang berguna dengan cepat.<br /> Namun Brin dan Page merasa, nama BackRub kurang oke. Keduanya memutuskan mencari nama yang lebih keren untuk <i>search engine</i> mereka. Sean Anderson, yang diminta menemukan nama baru itu, bercerita tentang pengalaman uniknya. "Kami mulai melakukan <i>brainstorming</i>. Tapi berhari-hari Page selalu bilang <i>no, no</i>." Sampai tiba-tiba muncul gagasan, "Bagaimana kalau Googolplex?" <br /> Ajaib, Larry ternyata menyukainya. "Saya lalu mengetikkan g-o-o-g-l-e pada komputer saya, tanpa menyadari kalau kata itu salah eja. Malam itu juga Larry mendaftarkannya dan menuliskannya di whiteboard: Google.com. Ketika saya datang esok paginya, seorang rekan kerja menaruh secarik kertas di meja saya, bertuliskan, 'Kamu salah mengeja. Mestinya g-o-o-g-o-l'. Teman tadi benar, tapi apa boleh buat, sudah telanjur," ujar Anderson.<br /> Ketika kebutuhan akan komputer semakin mendesak, Brin dan Page - dengan modal terbatas - merakit sendiri komputer mereka, sambil berkeliling mencari komputer bekas yang nganggur. karena terlalu banyak menyimpan peralatan, "kantor" mereka yang terletak di lingkungan kampus, Gates 360, lama-kelamaan mulai tak sanggup menampung beban.<br /> Tak mau lagi dipusingkan tetek bengek mesin pencari, Maret 1998, Page dan Brin menemui Paul Flaherty dari Alta Vista. Mereka berharap, Paul bersedia membayar AS $ 1 juta untuk sistem PageRank yang sebentar lagi dipatenkan. Setelah terjual, Brin dan Page berencana melanjutkan kuliah untuk menjadi guru besar. Namun, perusahaan induk Alta Vista – Digital Equipment Corp. – menolak tawaran sang duo. <br />Brin dan Page kemudian menawarkan PageRank pada Excite. Tapi lagi-lagi, mereka ditolak. Brin dan Page mulai putus asa, ketika penolakan datang juga dari Yahoo! David Filo, salah satu pendiri Yahoo! malah menyarankan Brin dan Page mendirikan perusahaan sendiri. <br /> Di tengah keputusasaan itulah mereka sepakat untuk tidak lagi menawarkan PageRank pada pihak ketiga. Mereka bertekad menyempurnakan Google. <br /><br /><b>Sukses versi beta</b><br /> Dalam situasi "mati segan, hidup pas-pasan", oleh dosen mereka di Stanford, David Cheriton, Brin dan Page dipertemukan dengan Andy Bechtolsheim, raja komputer dan investor legendaris yang sudah terbukti sukses membantu sejumlah perusahaan baru. Sang bos tampak sangat terkesan, seraya memuji terobosan-terobosan yang dibuat Brin dan Page. Hari itu juga, keberuntungan seperti ditakdirkan menjadi milik Google. <br /> Alih-alih berpanjang lebar tentang detail yang belum pasti, Bechtolsheim langsung menulis cek senilai AS $ 100.000 untuk "Google Inc." Bechtolsheim bahkan tak tahu, "Google Inc." sebenarnya belum ada, karena Brin dan Page memang belum mendirikan perusahaan. Baru 7 September 1998, mereka secara resmi mendirikan Google Inc., membuka rekening bank pertama, serta mendepositokan AS $ 100.000 cek Bechtolsheim. <br /> Beberapa hari kemudian, modal Google Inc. bertambah menjadi AS$ 1 juta, hasil urunan keluarga dan teman-teman. Ketika Brin dan Page cuti dari Stanford pada 1998, mereka memindahkan seluruh peralatan komputer mereka ke sebuah rumah di kawasan Menlo Park, yang disewa AS $ 1.500 per bulan. Namun, lima bulan kemudian rumah kontrakan tadi dianggap tak lagi mampu menampung peralatan Brin dan Page. Mereka lalu pindah ke perkantoran di University Avenue di kawasan bisnis Palo Alto. <br />Saat itu Google sudah melayani 100.000 permintaan per hari. Cukup fantastis, mengingat promosi hanya dilakukan dari mulut ke mulut, e-mail, dan <i>instant messaging</i>. Sarana-sarana promosi yang mudah dan murah, tapi dapat menyebar secepat virus. Google yang masih berstempel "beta" (uji coba) – dengan jumlah karyawan delapan orang – bahkan sanggup menembus daftar "Top 100 Websites and Search Engines" versi PC Magazine/i> 1998. <br /> Sistem komputer mereka yang unik karena menggunakan komponen PC murah dipadu dengan perangkat lunak buatan sendiri (sampai akhirnya menjadi sebuah superkomputer kecil), memungkinkan mereka menangani, baik permintaan pencarian yang makin banyak maupun download web yang makin besar. Tepat akhir 1999, order pencarian yang diterima Google sudah mencapai 500.000 per hari.<br /><br /><b>Rezeki investor kakap</b><br /> Meski saat itu iklim usaha di Silicon Valley mulai booming, Brin dan Page tidak tergoda mencetak laba sebanyak-banyaknya. Mereka merasa, kepentingan terhadap uang tidak sebesar peluang untuk mengembangkan mesin pencari. Namun di sisi lain, mereka menyadari, untuk berkembang mereka butuh kucuran dana tambahan yang tidak sedikit.<br />Adalah John Doerr dari Kleiner Perkins dan Michael Moritz dari Sequoia Capital yang membuat banyak orang ternganga, dengan kucuran dananya, masing-masing AS $ 12,5 juta kepada Brin dan Page. "Mereka telah menjalankan versi betanya, maka mudah sekali mendeteksi perbedaan mutu antara hasil pencarian mereka dengan mesin pencari lain. Mutu layanan mereka lebih bagus. Itu sebabnya kami berani berinvestasi," tegas Moritz.<br /> Moritz juga memperhitungkan faktor Brin dan Page. Dia melihat, ada kecenderungan perusahaan yang didirikan sepasang entrepreneur dengan visi yang sama mempunyai peluang untuk sukses. Hal itu telah terbukti pada Microsoft (Bill Gates dan Paul Allen), Apple (Steve Jobs dan Steve Wozniak), serta Yahoo!. Moritz melihat kemungkinan itu juga di Google. "Mereka sosok muda yang luar biasa cerdas."<br />Sedangkan Doerr, yang sukses mengembangkan Compaq, Sun Microsystems, dan Amazon.com tertarik pada dinamika jangka panjang internet dan janji bahwa Google akan menjadi salah satu yang berperan dalam evolusi itu. Moritz dan Doerr setuju, Brin dan Page akan tetap memegang kendali dalam Google Inc., meski nantinya Google Inc. diwajibkan mengangkat CEO berpengalaman untuk mengelola perusahaan.<br /> Kesepakatan itu tentu membuat Brin dan Page sumringah. Komputer Google Inc. pun bertambah, dari 300 buah menjadi 2.000 buah dalam bulan berikutnya. Mereka pun kini dapat membuat sistem cadangan, yang akan mengambil alih tugas, jika pusat data Google Inc. bermasalah. Sangat kontras dengan kondisi sebelumnya, ketika mereka masih sangat mengandalkan superkomputer rakitan dari PC murahan. <br /> Pada akhir 1999, meski Google telah melayani tujuh juta pencarian dalam sehari, pendapatannya dari kontrak-kontrak lisensi tetap kecil. Brin dan Page memang tidak peduli soal menjadi kaya, tapi mereka tetap saja tidak tega melihat Google berjalan tertatih-tatih. Keduanya berpikir keras untuk memecahkan soal ini.<br />Keduanya berkonsultasi dengan banyak orang, sebelum memutuskan mengambil jalur iklan, untuk memastikan mereka tidak melakukan kesalahan. Karena pendapat mereka soal iklan masih belum berubah, "Makin baik mesin pencari, makin sedikit iklan yang dibutuhkan konsumen." Secara pribadi, mereka tidak suka halaman yang putih bersih berubah menjadi hiruk pikuk. <br /> Setelah melakukan riset, prinsip tadi membawa mereka pada ide cemerlang, yakni membuat <i>sponsored links</i>, agar terdapat batasan tegas antara hasil pencarian dan iklan. "Google dibayar untuk setiap pencarian yang terjadi. Kami beruntung sekali karena memilih menampilkan iklan yang dikaitkan dengan pencarian, ketimbang menampilkan <i>flash banner ads</i>. Kami juga dibayar oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan mesin pencari kami," tambah Page.<br /> Pelan tapi pasti, penyempurnaan demi penyempurnaan (terutama keberhasilan memisahkan aspek pelayanan publik dan kebutuhan finansial) membuat Google kian terkenal. Perusahaan ini bahkan tak terpengaruh, ketika booming saham internet berantakan pada tahun 2000. Saat banyak bisnis dotcom megap-megap, Google malah menawarkan pencarian dalam beragam bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Google juga memperkenalkan pencarian nirkabel yang dapat diakses di telepon seluler.<br /> Google makin berkibar, setelah Yahoo! setuju memakai mesin pencari bikinan Brin dan Page di belakang layar situs mereka, menggantikan Inktomi. Kesepakatan ini membuat Google pada awal 2001 tercatat melayani 100 juta pencarian per hari, atau 10.000 pencarian per detik, naik jauh dari jumlah layanan 15 juta pencarian per hari pada 2000.<br /><br /><b>Pejabat lempar koin</b><br /> Untuk lebih mengembangkan potensi bisnis, Brin dan Page kemudian menunjuk Erick Schmidt menjadi CEO. Brin dan Page jatuh cinta pada Schmidt, karena ia tak hanya berpengalaman sebagai CEO, tapi juga ilmuwan. Schmidt juga tidak takut dan sanggup meladeni kegilaan Brin dan Page saat berdebat di pertemuan pertama mereka.<br />Uniknya, inilah kali pertama Brin dan Page memilih "pejabat" berdasarkan "akal sehat". Sebelumnya, ketika Google Inc. didirikan tahun 1998, pembagian kekuasaan (Page sebagai CEO, Brin president dan chairman) dilakukan hanya lewat lemparan koin.<br /> Berdasarkan struktur baru, Erick sebagai CEO bertugas mengawasi operasional perusahaan, termasuk sistem akuntansi, keuangan, dan sistem internal lainnya. <br />Page sendiri mengambil jabatan presiden "Products", berbagi dengan Brin yang menjadi presiden "Technology". Sehari-harinya, Page bertugas menangani hal-hal rinci dan teknis, sedangkan Brin lebih banyak menangani kultur perusahaan, karyawan dan memantau proyek-proyek potensial. Tiga pilar Google Inc. ini – Brin, Page dan Schmidt – makin memantapkan kinerja Google menjadi mesin pencari tercepat, termudah, dan terstruktur. <br /> Trio ini mendapat ujian berat ketika Google Inc. memutuskan go public di awal 2004. Walaupun sukses meraup dana miliaran dolar dari para investor anyar, mereka harus berjuang keras melawan intrik-intrik kartel Wall Street yang ganas, berargumentasi dengan Securities and Exchange Commission (SEC) menyangkut persyaratan formal masuk bursa, melayani sejumlah tuntutan hukum (termasuk dari Geico, raksasa asuransi otomotif, berkaitan pelanggaran merek dagang dalam iklan Google).<br /> Di antara sekian banyak masalah, yang paling berat barangkali hasil penyidikan internal SEC yang menemukan, Google Inc. pernah menerbitkan sejumlah saham dan opsi tanpa mendaftarkan saham atau hasil usahanya ke pemilik saham. Ada pula gugatan dari Overture, anak perusahaan Yahoo!, yang menuduh Google Inc. terang-terangan menjiplak sistem periklanan yang telah dipatenkan Overture. Ribut-ribut paling akhir ini baru usai setelah Google Inc. memberi Yahoo! kompensasi 2,7 juta saham.<br />Ya, sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat bakal terpeleset juga. Beruntung, Google Inc. – dengan segala cobaan yang datang beruntun saat itu – tak sampai terjatuh. Google Guys sukses melewati masa-masa sulit itu dengan tegar, berani, dan penuh kedewasaan. Beberapa hari setelah semua kisruh itu berakhir, Brin dan Page bahkan pergi ke festival Burning Man, tempat yang mereka kunjungi saban tahun, sejak masih berstatus mahasiswa.<br /> Sebuah tanda, meski sudah menjadi miliarder yang terdaftar di Wall Street, Brin dan Page tak pernah berubah. <br /><br />Bakat hebat orangtua<br /> Sebagai manusia, Brin dan Page memang nyaris tak berubah. Brin yang kabur dari Rusia beserta keluarganya untuk menghindari diskriminasi dan sentimen anti-semit, datang ke Amerika Serikat saat baru berusia enam tahun. "Ayah saya, Michael Brin, seorang dosen matematika. Sekolah saya di Maryland, yang dibangun semasa krisis energi tahun 1970-an, mempunyai dinding setebal hampir 1 m dan tak berjendela. Saat itu, tak ada akses internet," urai lelaki kelahiran Moskow, 21 Agustus 1973, ini.<br />Dia sangat menguasai matematika dan komputer, menyelesaikan pendidikan prasarjana pada usia 19 tahun, dengan menyabet nilai A untuk sepuluh ujian penerimaan mahasiswa baru di program doktor Stanford University. Penampilannya penuh percaya diri, blak-blakan, dan menarik. Sergey Brin juga menggemari olahraga senam, renang, dan aktif dalam kehidupan sosial di Stanford.<br /> Tak hanya bapaknya yang mewariskan bakat intelektualitas. Ibunya, Eugenia Brin, adalah ilmuwan yang sukses di Goddart Space Flight Center milik NASA. Dalam kehidupan sehari-hari, Sergey mewarisi bakat humoris orangtuanya. Di situs web-nya, ibu Sergey pernah memasang foto dirinya berdampingan dengan mantan diktator Rusia, Lenin. Teks fotonya berbunyi: "Aku dan sahabat terbaikku". Begitu juga ayahnya, selalu mengembalikan hasil ulangan buruk mahasiswanya dengan komentar: "Ikut berbelasungkawa".<br /> Akan halnya Larry Page, pria kelahiran 26 Maret 1973 itu sempat mengalami nasib kurang beruntung, lantaran orangtuanya bercerai saat Page baru berusia delapan tahun. Beruntung, bapak-ibunya berkomitmen untuk bersama-sama memberikan yang terbaik buat Page, sehingga ia tetap tak kehilangan kasih sayang, punya orangtua yang tinggal terpisah.<br /> Walaupun ibu Page seorang Yahudi yang taat, ayahnya adalah pemuja teknologi yang secara teratur memperkenalkan anak-anak mereka pada komputer. Kebiasaan itu kadang membuat guru-guru Page di sekolah dasar kebingungan. Bagaimana mungkin anak yang masih berumur enam tahun sudah menyerahkan PR-nya dalam format ketikan komputer, sementara mereka sendiri belum mudeng soal dot matrix printer?<br />Di kampus, dosen-dosen juga memandang Page sebagai murid istimewa. "Ia anak yang menonjol dan selalu paling depan. Larry bahkan menggunakan komputer genggam untuk proyek dalam kuliah saya, sebelum banyak orang tahu ada komputer sebesar itu," cerita seorang dosennya.<br /> Ayah Page, Carl Victor Page, adalah salah satu lulusan pertama program pascasarjana penerima gelar ilmu komputer dari University of Michigan. Sementara ibunya, Gloria Page, konsultan data base dengan gelar master dalam bidang ilmu komputer. Carl menghabiskan sebagian besar kariernya dengan mengajar di Michican State University, tempat istrinya mengajar pemrograman komputer. Carl meninggal pada usia 58 tahun, saat Larry baru menjalani semester kedua di Stanford.<br /><br />Sempat menyimpan prasangka<br /> Duo Brin – Page mulai lekat pada masa perkenalan orientasi mahasiswa baru di Universitas Stanford. Saat itu Sergey Brin bertugas sebagai pemandu bagi Larry dan sejumlah mahasiswa baru. Kendati lebih muda dari Larry dan teman-temannya, Sergey telah dua tahun sebelumnya berkuliah di Stanford. "Sewaktu baru bertemu, kami sama-sama berprasangka bahwa yang lain sangat menyebalkan. Namun entah bagaimana, kami menjadi sahabat," tutur Page.<br /> Lantaran sering berdebat, mereka akhirnya jadi saling mengenal dan menghormati. Apalagi keduanya sama-sama dibesarkan dalam keluarga yang menjadikan adu otak sebagai menu sehari-hari, terutama menyangkut masalah komputer, matematika, dan masa depan umat manusia. Belajar mempertahankan gagasan membuat mereka memiliki kedalaman intelektual yang sulit ditandingi.<br /> Di kampus, Brin dan Page selalu bersama, sampai-sampai terkenal sebagai "LarryandSergey". Roger Motwani, guru besar yang pernah menjadi pembimbing Sergey pada 1993, memperhatikan persahabatan mereka. "Mereka sama-sama cemerlang, sama-sama orang paling cerdas yang pernah saya kenal. Sergey seorang pemecah masalah yang praktis, perekayasa. Meski urakan, ia sangat cerdas. Kecerdasannya seperti es krim yang meleleh ke mana-mana. Page, sebaliknya, seorang pemikir yang mendalam. Ia ingin tahu, mengapa suatu alat bisa berfungsi."<br /> Mereka juga memiliki minat, kepribadian, serta keterampilan saling melengkapi. Sergey lebih terbuka dan mudah bergaul, sedangkan Larry lebih pendiam. "Google dimulai sewaktu kami jadi mahasiswa program doktor di Stanford. Waktu itu kami belum tahu apa yang sesungguhnya kami inginkan, tapi kami menganggap optimisme itu penting. Dan kita harus sedikit konyol bila menyangkut sasaran yang ingin kita tetapkan. Kita juga harus mencoba sesuatu yang tak akan dikerjakan kebanyakan orang," jelas Page. <br /> Brin menambahkan, "Kami memperlakukan Google agak mirip universitas. Kami mempunyai banyak proyek, mungkin sekitar 100. Kami bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, tiga atau empat orang untuk tiap proyek. Misalnya, ada yang menggarap biologi molekuler, ada juga yang khusus di pengembangan perangkat keras."<br />Profesor Dennis Allison dari Stanford University menyebut, "Mereka betul-betul digerakkan oleh sebuah visi tentang bagaimana seharusnya sesuatu bekerja, dan bukan untuk mencari uang. Gagasan untuk mendigitalkan seluruh jagad raya dan mewujudkannya sampai berhasil adalah sesuatu yang tidak akan diperjuangkan mati-matian oleh banyak orang, meskipun mereka tahu itu perlu."<br /> Allison menambahkan, "Mereka tidak menyukai beberapa hal yang telah menjadi kebiasaan di kalangan pengusaha besar Amerika dan tidak takut dengan pendapat orang tentang sikap tersebut." Perjalanan waktu membuktikan, ketika sudah mencapai puncak, Brin dan Page tetap menjadi sosok sederhana yang lebih menyukai kerahasiaan pribadi mereka tetap terjaga, hidup bebas, dan tidak terjebak dunia gemerlap.<br />Ciri khas kacang yang tak pernah lupa pada kulitnya. <br /><br />Boks:<br /><b>Badai Itu Bernama Gmail</b><br /><br /> Tahun 2004, ketika bisnis pencarian Google kian meledak, Brin dan Page mulai memikirkan langkah apa lagi yang harus dilakukan untuk kembali membuat dunia berteriak, "Wow, Google!" Tampaknya, e-mail menjadi langkah lanjutan yang paling masuk akal. Brin dan Page ingin membuat guncangan besar dengan meluncurkan Gmail, layanan e-mail cerdas, mudah, murah, dan unggul. <br /> Mereka bahkan menawarkan 1 GB (1.000 MB) media penyimpanan gratis per e-mail, 500 kali lebih banyak (saat itu) dari Hotmail-nya Microsoft dan 250 kali lebih banyak dari fasilitas yang diberikan Yahoo! Untuk meneruskan tradisi promosi dari mulut ke mulut, keduanya menghadiahkan 1.000 e-mail kepada 1.000 tokoh untuk diuji. <br />Namun, rencana Google Inc. memasukkan iklan dalam e-mail pribadi menempatkan perusahaan yang sebelumnya bercitra "saudara tua" pengguna komputer dunia ini sebagai pesakitan yang dicurigai. Tiba-tiba saja, para aktivis hak asasi manusia bergabung menantang Brin dan Page. <br /> "Google sedang mempertaruhkan reputasinya lewat Gmail," tulis Walt Mossberg, kolumnis terkenal The Wall Street Journal. Sebetulnya, bukan masuknya iklan yang jadi masalah. "Orang merasa keberatan karena Google memindai e-mail pribadi untuk menemukan kata kunci guna membangkitkan iklan. Ini seperti pelanggaran terhadap kerahasiaan pribadi. Saya mengimbau Google memulihkan kembali reputasinya sebagai perusahaan yang jujur," sambung Mossberg, yang juga penggemar berat Google.<br /> Tulisan Mossberg membuat Brin dan Page terkejut. "Sepintas lalu masalah ini mengerikan, padahal tidak. Iklan yang muncul berkolerasi dengan pesan yang sedang Anda baca. Kami tidak menyimpan surat Anda, menggali isinya atau berbuat apa pun semacam itu. Dan tak ada informasi yang kami bocorkan ke luar. Yang kami lakukan hanya menyisipkan iklan. Prosesnya otomatis. Tak ada orang yang melihat. Maka menurut saya, kami tidak melanggar hak kerahasiaan pribadi," balas Brin.<br /> Belakangan, ketika para pengritik Brin dan Page mulai mencoba Gmail, suara-suara sumbang mulai reda. Para jurnalis bahkan memuji Gmail, karena untuk pertama kalinya mereka dapat menemukan e-mail lama dengan mudah, semudah melakukan pencarian di Google.com. Sekali lagi, Brin dan Page membuktikan, mereka memang jenius. <br /><br />Boks:<br /><b>Karyawan Jadi Aset Utama</b><br /><br /> Brin dan Page menempatkan karyawan – kebanyakan programmer – sebagai aset perusahaan yang paling berharga. Untuk mendukung munculnya kreativitas, keduanya selalu mencoba menciptakan suasana kerja nan menyenangkan, di kantor pusat mereka di Mountain View. Di tengah kesibukan, para karyawan masih sempat bermain biliar dan menikmati cemilan. <br /> Brin dan Page berani mengeluarkan dana berapa pun untuk menciptakan kultur yang tepat di Googleplex, markas Google. Lampu lava dan beragam mainan di sana-sini membuat suasana di kantor menjadi ceria. Delapan puluh lima karyawan memang dipaksa bekerja keras, namun mereka juga diperlakukan seperti keluarga sendiri. Makan gratis, minuman kesehatan cuma-cuma, dan cemilan berlimpah. <br /> Ada juga layanan binatu, penata rambut, doker umum dan dokter gigi, pencucian mobil, kebugaran lengkap, tukang pijat, dan belakangan penitipan anak. Sedangkan fasilitas outdoor yang tersedia, antara lain lapangan voli pantai, futsal, sepatu roda. Pendek kata, tak perlu keluar jauh dari kantor jika ingin menghibur diri dari penatnya kerja. <br /> Beda dengan kebanyakan perusahaan yang melarang karyawannya melakukan "pekerjaan sampingan" (sehingga mereka bekerja sembunyi-sembunyi, agar tidak ketahuan bosnya). Di Google, karyawan punya jatah waktu 20% dalam seminggu untuk mengerjakan apa pun yang mereka sukai. Jika diterjemahkan, 20% itu sama dengan satu hari kerja (dari total lima hari kerja). Hal ini digagas Brin dan Page, agar orang-orang cerdasnya tetap termotivasi untuk membuat terobosan-terobosan.<br />Investasi cerdas diyakini bakal membuat karyawan bernas dan perusahaan trengginas.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Februari 2007, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-2855814539477967540?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-29593773303130249862008-03-04T18:03:00.000+07:002009-01-26T21:59:27.223+07:00Andai Barry Tak Ikut Ann Ke AmerikaKalau saja pasangan Lolo - Ann dulu tidak bercerai, Barack Obama – bakal calon presiden Amerika Serikat (AS) dari partai Demokrat – pasti kini sudah didaulat menjadi "warga asli" Tebet, Jakarta Selatan. Mungkin juga, dia melanjutkan pendidikan di IPDN (ikut jadi korban kekerasan praja senior), lalu berkarir sebagai camat atau walikota. Sayang, ketika mencalonkan diri sebagai gubernur, dia terbentur bobot, bibit dan bebet-nya yang misterius. Obama pun mundur teratur, karena tak tahan terus menerus digedor wartawan infotainment.<br /><span class="fullpost"> <br />Beruntung, skenario ngawur di atas tidak menjadi kenyataan. Obama kecil hanya menghabiskan waktu empat tahun di Indonesia (1968 – 1972). Ia sekarang tinggal di Amerika Serikat, negara yang meyakini kualitas individu sebagai referensi nomor satu. Bukan status sosial atau keterlibatan kakek-neneknya di organisasi tertentu, apalagi kelir darah biru. "Makanya hati kecil saya tidak menyesali, mengapa Barry pulang ke Amerika (Serikat) lebih cepat. Kalau di sini terus, mungkin dia malah enggak akan jadi apa-apa," cetus Cecilia Sugini (64 tahun), mantan guru Barry – begitu Obama dulu dipanggil – di Sekolah Dasar Asisi, Jakarta Selatan<br />Cecil diam sejenak, sambil menahan napas. Mengingat-ingat kembali peristiwa 39 tahun silam, saat Barry masih bercelana pendek, jelas bukan perkara mudah. Tapi bukan juga sesuatu yang susah, karena kenangan tentang Barry tampaknya masih melekat kuat di kotak memori Cecil. Ketika kembali berbicara, dia memulainya dengan sebuah kalimat manis, "Sejak kecil, Barry memang sudah istimewa." <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Bulu kuduk berdiri</span><br />Mata Cicil menerawang, menembus batas rumahnya yang<br />"berhiaskan" warung jajanan dan sembako, di pinggir jalan Jln. Pancoran Barat, Jakarta Selatan. Kembali ke suatu pagi di tahun 1968 - awal tahun ajaran baru - saat Cecil muda (saat itu umurnya 25 tahun) baru saja selesai merapikan gaun, ketika murid-murid kelas 2 SD Asisi berhamburan masuk ke dalam kelas. Mata Cecil langsung tertumbuk pada seorang bocah berkulit hitam dengan rambut keriting. <br />Dalam hati, guru bertinggi badan sekitar 160-an cm itu bergumam, "Dia pasti bukan anak pribumi. Baru kelas 2 SD, kok tingginya sudah sebahu saya." Dari daftar nama, Cecil tahu, Si Bongsor itu biasa dipanggil Barry. Beberapa waktu kemudian, dia juga tahu, betapa besar pengaruh Barry di kelas. Masih kecil, tapi disiplinnya sudah tinggi. Lihat saja, saat berbaris menjelang masuk kelas, dia tidak akan memberi aba-aba "siap", jika teman-temannya belum berbaris dengan rapi, apalagi masih bercanda-ria.<br />Waktu kian berjalan, Cecil pun makin terkesan. Si bongsor ternyata tak segan-segan memberitahu guru jika ada murid yang ribut. Dia juga bakal sibuk sendiri, memanggil-manggil Cecil, kalau ada teman sekelasnya tertangkap mata sedang menyontek. Bagaimana jika Cecil kebetulan sedang tidak ada di dalam kelas? Ini yang menarik. Si Bongsor langsung mendatangi murid yang ribut atau menyontek, memintanya diam atau "kembali ke jalan yang benar", dengan mengetuk-ngetuk meja si teman. Hanya itu. Tapi teman-temannya biasanya langsung patuh. <br />Barry bak membawa bakat kejujuran, disiplin, dan sikap tegas sejak lahir. Cecil makin merasakan keistimewaan itu. Karena ternyata, di balik tongkongan "seram"-nya, si bongsor tetap bisa jadi anak manis, setidaknya di kelas. Cecil muda hampir tidak pernah melihat Barry mengganggu teman sekelas, apalagi menantang guru. Kadang, Cecil malah tersenyum sendiri, melihat murid istimewanya itu bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya. Tampak nyata, Barry sangat menikmati.<br />Cecil muda melihat Barry sebagai anak yang cerdas, meski bukan terpandai di antara 50-an teman sekelas. Tangan kidalnya terlihat lebih cekatan ketika digunakan untuk menggambar dan mengerjakan soal-soal matematika, yang terakhir ini pelajaran favoritnya. Setiap hari, mulai jam 07.00 – 09.30 wib, selama setahun, Cecil menyaksikan anak didiknya yang gemar memakai celana pendek selutut itu (saat anak-anak lain lebih memakai celana pendek sepaha) makin fasih berbahasa Indonesia. <br />Padahal, ketika masuk pertama kali ke Asisi (duduk di kelas 1), Barry cuma kenal satu dua patah kata bahasa ibu Sang Ayah. "Lha, sekarang dia sudah seperti anak Indonesia beneran," lagi lagi Cecil muda menukas dalam hati. Tak jarang Cecil mendapati Barry dijemput ibunya, Stanley Ann Dunham, lalu keduanya berjalan kaki ke rumah mereka, yang jauhnya tak jauh dari sekolah.<br />Cecil muda cukup takjub melihat Ann yang berpenampilan<br />"bule banget", berkulit putih dan jangkung. Pokoknya, "Amerika banget". Cecil beberapa kali bertukar sapa dan bercakap-cakap dengan Ann, dalam bahasa Indonesia. "Wah, bahasa Indonesia lumayan fasih." Tapi hanya sekadar basa-basi orangtua murid kepada gurunya. Sedangkan Lolo Soetoro, suami Ann, datang ke sekolah saat mengambil rapor anaknya. Betul-betul tipikal orang Indonesia: tingginya sedang, tidak terlalu gemuk, dan kulitnya kuning. Dari orang-orang, Cecil tahu, Lolo beragam Islam, sedangkan Ann penganut Kristen yang taat. <br />Cecil muda beberapa kali sempat lewat depan rumah Barry. "Ternyata dia tinggal di bekas rumah orangtua kawan saya." Dari situlah Cecil tahu, di lingkungan rumahnya, Barry juga dikenal sebagai anak periang dan supel. Dia tidak pilah-pilih teman. Sebuah sumber bahkan menyebut, Barry dan teman-teman bocahnya sering bermain di musala dekat rumah, atau mengejar-ngejar ayam kampung. Enggak ada bedanya dengan anak-anak "kampung" yang lain.<br />Sayang, suara klakson kendaraan mendadak mengagetkan, sekaligus mengalihkan perhatian Cecil, kembali ke lorong waktu masa kini. Pertengahan Mei 2007, persis 39 tahun ia tak lagi bertemu Barry. "Tapi bayangan raut wajahnya masih segar dalam ingatan saya," bilang wanita yang lahir di Kalasan, Yogyakarta, November 1943 ini. "Ketika diberitahu seorang teman sekitar enam bulan lalu, bahwa Barry dicalonkan jadi presiden Amerika Serikat, saya langsung merinding. Bulu kuduk berdiri semua. Senang sekaligus bangga."<br />Pun saat disodori foto Obama saat jadi mahasiswa, "Saya terperanjat dan langsung mengenali. Ini Barry! Ini memang Barry!" pekik istri almarhum Hananto (meninggal tahun 2000) ini. Namun ketika mendapati foto Barack Obama setelah jadi senator, Cecil – yang pensiun dari Asisi tahun 1980 – tampak pangling.<br />"Kayaknya dia sudah banyak berubah ya." Terbayang kembali foto bersama yang diambil saat merayakan Hari Kartini, 21 April 1968. "Sayang, saya enggak tahu, sekarang fotonya ada di mana," cetusnya, seolah menahan kangen.<br />"Mestinya dia masih bisa berbahasa Indonesia, karena bahasa yang dipelajari saat masih kecil, biasanya lebih lama tersimpan di dalam otak," imbuh perempuan yang sudah menjadi guru sejak lulus Sekolah Guru Atas (SGA) dan masih berusia 19 tahun itu. "Saya tidak berharap banyak bisa ketemu dia lagi. Tapi kalau Tuhan mengizinkan, dan dia sendiri masih ingat dan ingin ketemu saya, saya akan sangat bersyukur," kangennya kembali kambuh. Buat Cecil, Barry akan selalu menjadi murid istimewa, meskipun keberadaannya jauh di Amerika Serikat sana. <br />Nun jauh di sini, Cecil – sang pahlawan tanpa tanda jasa - boleh terus berbangga sambil menahan kangen, jika kelak Barack Obama menemukan bintang keberuntungannya. Hanya di depan layar televisi, Cecil mungkin akan berkata pelan, "Tuh dia bekas muridku, Barry Obama." <br /><br />Boks: <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Poros Kenya-Indonesia-Amerika<br /></span><br />Demam Obama mewabah di mana-mana, mulai SDN Besuki (Menteng, sekolah kedua Obama setelah SD Asisi) sampai talk show Oprah Winfrey. Dari sebuah rumah tak dikenal di bilangan Tebet, hingga Gedung Putih. Nuansa demam makin bikin panas dingin, jika melihat bibit dan bebet Barack Obama, berikut latar belakang keluarga besarnya. Penuh miteri, jika tak ingin dibilang amburadul. <br />Bahkan kapan persisnya Barack Obama Sr. (ayah Berry) menikahi empat istrinya (tanggal, jam), plus dokumen-dokumennya tak diketahui pasti. Tapi Amerika Serikat tetap Amerika Serikat, yang tak peduli pada tetek bengek begituan. Barack Hussein Obama Jr. sendiri lahir pada 4 Agustus 1961, di Honolulu, Hawaii. Ayahnya, Barack Obama Sr. adalah ekonom lulusan Harvard, berasal dari Kenya. Sedangkan ibunya, Stanley Ann Dunham, warga Wichita, Kansas yang mengadu peruntungan di Hawaii. Saat Obama dilahirkan,<br />Barack dan Ann masih berstatus mahasiswa di East-West Center, Universitas Hawaii.<br />Ketika Obama berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Obama Sr. kemudian kembali ke Kenya, seraya memboyong wanita AS lain, Ruth. Kabarnya, Sang Ayah baru melihat Obama kembali, Tak lama sebelum meninggal akibat kecelakaan mobil, pada 1982. Itulah kali pertama dua Obama, senior dan junior - bertemu lagi setelah berpisah puluhan tahun.<br />Tahun 1968, Obama punya bapak baru, mahasiswa East-West Center (saat itu) asal Indonesia, Lolo Soetoro. Kali ini, Obama dan ibunya diboyong ke Jakarta,. Dari bapak Indonesia-nya ini, Obama mendapat adik se-ibu, Maya Soetoro. Sayang, hubungan suami istri Lolo (meninggal tahun 1993 karena penyakit liver) – Ann (meninggal akibat kanker pada 1995) pun tak langgeng. Setelah bercerai, tahun 1972, Ann memutuskan mengirim Obama pulang rumah orangtuanya di Hawaii.<br />Obama pernah belajar ilmu politik di Universitas Columbia dan ilmu hukum di Harvard. Prestasinya di kedua universitas itu disebut-sebut "sangat cemerlang". Obama bahkan terpilih menjadi orang kulit hitam pertama yang pernah menjadi presiden Harvard Law Review. setelah itu, dia sempat bekerja sebagai pengacara di New York dan Chicago.<br />Tahun 2004 menjadi masa terpenting dalam karir politik Barack Obama. Saat itulah, dalam pemilihan senator Illinois, ia menyisihkan saingan-saingannya, dan tampil sebagai orang keturunan Afrika pertama yang terpilih sebagai senator AS dari Negara Bagian Illiois, atau orang keturunan Afrika kelima dari seluruh negara bagian di AS yang pernah menjadi senator. Karir politik Obama bakal lebih mengkilap, jika dia berhasil menjadi capres dari Partai Demokrat, yang proses seleksinya masih terus berjalan.<br />Lelaki penganut Kristen yang taat ini menikah dengan Michelle, sesama pengacara, yang telah memberinya dua orang anak. Banyak pengamat menilai, nama tengahnya (Hussein) menjadikan Obama figur menarik di kancah politik Amerika Serikat. Jika ucapan Larry Sabato, guru besar ilmu politik Universitas Virginia bisa dijadikan referensi, kecerdasan dan keeksotisan Obama itulah yang bakal menjadi faktor penentu. Entah penentu kemenangan, atau malah sebaliknya.<br />Namun Sabato percaya, latar belakang Afrika dan Indonesia dalam kehidupan Obama bakal menarik perhatian pemilih, terlepas dari kontroversi yang ditimbulkannya. "Amerika menyukai kisah sukses generasi baru yang muncul dari dosa dan ketidakberuntungan<br />generasi lama," ucap sang pakar. <br />Akankah Obama menjadi presiden AS pertama yang berkulit hitam? Saat ini, cuma Tuhan yang punya jawabnya.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Juni 2007, Hak Cipta dilindungi Undang-undang) </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-2959377330313024986?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-89091401530987655502008-01-25T22:21:00.001+07:002008-05-25T22:36:44.555+07:00<div class="fullpost"><br /></div><br />Selamat datang sobat, semoga blog ini membawa banyak manfaat.<br />Jika ingin bertukar link, silakan copy kode html yang ada di bawah ini:<br /><textarea rows="6"><br/><br/><a href="http://muhammadsulhi.blogspot.com" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" src="http://i283.photobucket.com/albums/kk291/mrsulhi/my%20logos/c481c86ade7af1.gif"/></a><br/><br/></textarea><br /><br />Setelah di-paste di blog sobat, akan muncul logo berikut:<br /><a href="http://muhammadsulhi.blogspot.com" target="_blank"><img border="0" alt="Photobucket" src="http://i283.photobucket.com/albums/kk291/mrsulhi/my%20logos/c481c86ade7af1.gif"/></a><br /><br />Nah, silakan sobat konfirmasikan hal ini (bisa lewat chatting room, dapat juga lewat kiriman email), niscaya saya akan segera me-linkback blog sobat di situs saya. Salam hangat, semoga persahabatan kita berjalan langgeng.<br /><br />Muhammad Sulhi<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-8909140153098765550?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-43291741254506684952007-05-18T09:04:00.001+07:002008-12-25T14:40:34.201+07:00Phone Hall of Fame<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVM46An4NoI/AAAAAAAAAN8/l8NxwuS0kDI/s1600-h/01.+ericsson+gf768.JPG"><img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 95px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cNugu28rj7Q/SVM46An4NoI/AAAAAAAAAN8/l8NxwuS0kDI/s200/01.+ericsson+gf768.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283629357086553730" /></a><br /><span style="font-weight:bold;">Rentang waktu antara 1998 - 2008 lumayan panjang. Ya, sekitar sepuluh tahun. Selama itu, telah 19 hape gonta-ganti saya pakai. Mulai dari yang supermurah, agak murah, sampai enggak bisa dibiang murah. Itu sebabnya, kolom panjang ini berjudul Phone Hall of Fame.</span><br /><br /> <span style="font-weight:bold;">Si Merah Ericsson GF768</span>. Hape satu ini betul-betul melegenda, minimal buat gue. Tahun 1998, status kekaryawanan gue masih honor. Terbentur krisis ekonomi yang beken disebut krismon, pengangkatan karyawan betul-betul ditiadakan. Gue mesti nunggu sampe 2009 untuk diresmikan jadi karyawan tetap. Namun lepas dari status karyawan atau bukan karyawan, gue butuh sebuah alat komunikasi yang memadai.<br /> Pilihan akhirnya jatuh ke sebuah hape sekon kepunyaan seorang teman, sesama wartawan, yang kebetulan hendak dilego. Gue lupa harganya berapa dan kapan hape ini gue beli. Yang pasti, handsetnya Ericsson GF 768. Mungkin karena hape pertama, sampe sekarang pun gue masih terkenang-kenang sama si merah ini. Merahnya itu lo, gue sukaaa banget. Warnanya kalem, tapi enggak terkesan feminin, Gue juga langsung jatuh cinta pada hape ber-flip, hal yang bertahun-tahun gue imani. Gue bahkan lama memendam jargon, "Handset bukanlah handset jika ia tidak ber-flip". Loe akan tahu sendiri kelak, kapan dan kenapa akhirnya, jargon itu runtuh.<br /> GF 768 sendiri hape keluaran 1997. Asal loe tahu, hape pertama di dunia, Motorola DynaTac dibuat pada 13 Oktober 1983, berat banget karena bobotnya 1,1 kg, dan dijual dengan harga (ketika itu AS $ masih Rp 3.995) Rp 38,8 juta. Muahal beeng, makanya cuma para juragan yang bisa beli. Sedangkan layanan selular GSM baru masuk ke Indonesia pada 1984 (Salelindo), 1995 (Telkomsel), dan Excelkomindo (1996). Saat itu, 1998, kartu prabayar mulai marak jadi pilihan, karena enggak perlu daftar-daftaran segala. Tapi harga starter pack-nya, cing, mahal banget. Kalo gak salah, harga SIMPATI saat itu sekitar 300.000 sampe 400.000-an. Gile.<br /> GF 768 berjalan di band 900. Ukurannya 10,5 cm x 4,9 cm, terhitung mungil dan enak dimasukin ke kantong. Selain asyik buat ber-SMS, si merah punya fitur bikin ringtone sederhana sendiri, semacam melody maker. Pokoknya, saat itu top banget dah. Status terakhir, raib entah ke mana, setelah dihibahkan ke adik ipar. <br /><br /> Hape kedua, Motorola 8700, segera menyusul<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-4329174125450668495?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-22511561656764398242007-04-02T18:34:00.003+07:002009-01-26T21:50:09.560+07:00Tabungan Tulang Sama Pentingnya Dengan UangMaunya Marina, hidupnya ceria di masa muda dan sentosa di usia tua. Tapi apa daya, belum menginjak usia kepala lima, hasil tes menunjukkan, sebagian tulangnya mulai keropos alias osteoporosis. Masih terbayang di benak Marina, masa remajanya yang penuh hura-hura, alih-alih berolahraga. "Mungkin itu sebabnya tulangku sekarang begitu rapuh," air matanya pelan-pelan jatuh.<br /><br /> Bukan penyesalan kalau tidak datang belakangan. Selain gaya hidup di masa remaja, Marina juga baru menyadari, aktivitasnya selama ini yang lebih mementingkan "tabungan uang" ketimbang "tabungan tulang" ternyata harus dibayar mahal. Pundi-pundi rupiahnya memang terus bertambah, tapi pada saat bersamaan, pundi-pundi massa tulangnya menyusut cepat. Akibatnya, makin hari tulangnya makin keropos. Kini untuk jalan pun ia tertatih-tatih. Ya, Marina akhirnya menambah panjang daftar penderita osteoporosis, yang di Indonesia jumlahnya makin lama makin membengkak. <br /> Memperbanyak massa tulang sejak dini, dengan berolahraga secara rutin, memang tak banyak dipikirkan orang, termasuk Marina. Padahal, inilah satu-satunya cara alami untuk memperlambat atau mencegah datangnya osteoporosis sebelum memasuki usia pensiun. Selain alami, olahraga juga praktis, gratis, dan gampang dilakukan. Hanya dengan membiasakan diri melakukan latihan fisik seperti jalan kaki, lari atau lompat, tulang akan bertambah kepadatannya.<br /> Kalau masih belum yakin, tengok kisah para astronaut Amerika Serikat yang menjalani DLA (dinas luar angkasa) bersama pesawat ulang-aliknya. Di daerah tanpa gaya tarik bumi itu, tubuh mereka melayang, sehingga otomatis otot dan tulang mereka menganggur. Alhasil, begitu kembali menjejak bumi, kepadatan tulang mereka langsung menyusut. <br /> Beda dengan para kosmonot Rusia yang "kos" ratusan hari di pesawat ruang angkasa Mir. Mereka tidak bermasalah dengan massa tulang, karena "dipaksa" berolahraga 1 jam/hari. Sekali lagi, bukti betapa aktivitas fisik sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang massa tulang. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Hotel bintang empat</span> <br /> "Memang, masa puncak pertumbuhan massa tulang adalah umur 30-an tahun. Kalau digambarkan dengan grafik, setelah umur 30 tahun, massa tulang akan terus menurun. Cepat-lambatnya penurunan itu tergantung aktivitas seseorang. Kalau banyak melakukan aktivitas fisik, penurunan menjadi lebih lambat," cetus dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO, yang aktif memberantas osteoporosis lewat klub bugarnya.<br />Sebuah penelitian di seberang lautan bahkan menyebut, penurunan massa tulang pada usia 30 - 70 tahun dapat mencapai 40%. Lumayan mengerikan.<br /> "Makanya sangat baik kalau upaya menguatkan tulang dilakukan sejak balita. Misalnya dengan sering mengajak anak jalan pagi, atau lompat tali. Kecenderungan sekarang, sejak balita anak-anak lebih suka nongkrong berjam-jam di depan teve, tanpa melakukan aktivitas apapun. Sayang kalau kebiasaan itu berlanjut sampai usia mereka beranjak remaja, apalagi sampai dewasa. Untuk menumbuhkan kesadaran perlunya memperkuat tulang sejak dini, mengapa tidak kita alihkan sebagian waktu mereka untuk berolahraga?" imbuh Sadoso.<br /> Tak usah pilah-pilih senam mana yang paling tepat. Untuk mencegah osteoporosis, semua olahraga dan latihan dapat dimanfaatkan. Jangan pula dikacaukan oleh salah kaprahnya awam, yang menganggap senam anu harus ditekuni untuk mencegah penyakit ini atau itu. Karena sejatinya, enggak ada tuh yang namanya senam osteoporosis, senam jantung, senam paru-paru, dan sejenisnya, sepanjang tujuannya untuk pencegahan.<br />Istilah senam osteoporosis memang ada, tapi hanya dikenal di kalangan pasien yang kadung kena penyakit keropos tulang alias untuk kepentingan rehabilitasi. "Dengan kata lain, semua olahraga dan latihan baik untuk mencegah keropos tulang. Yang membedakan olahraga dan latihan itu hanya bobotnya," papar Sadoso.<br /> Bicara soal bobot, ibarat hotel, olahraga, dan latihan-latihan itu dapat dikelompokkan berdasarkan banyaknya bintang. Misalnya, latihan-latihan yang paling banyak dan paling sering berbenturan langsung dengan lantai atau tanah – seperti lari, lompat tali, trampolin - masuk kategori bintang empat, karena dianggap paling bagus untuk mencegah keropos tulang. Sedangkan yang masuk kategori bintang tiga, contohnya senam aerobik high impact, olahraga bola voli, bola basket, dan olahraga lain sejenis.<br /> Satu kelas di bawahnya, senam poco-poco, aerobik low impact, dansa, dan sejenisnya masuk kategori bintang dua. Seperti hotel bintang dua yang masih sangat layak dijadikan tempat menginap, olahraga dan latihan yang masuk kategori ini pun masih layak dipilih untuk mencegah pengeroposan tulang. Terutama buat remaja putri yang gemar urusan tari-menari. Cuma ya itu tadi, jangan berharap khasiatnya selengkap si bintang empat.<br /> Terakhir, kategori paling buncit atau bintang satu adalah berenang dan bersepeda. "Dua olahraga di atas dikenal baik dan sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung dan paru-paru. Tapi karena sangat kurang benturan dengan lantai dan tanah, nilainya agak kurang jika dihubungkan dengan pencegahan osteoporosis. Kecuali gaya bersepeda yang biasa dilakukan pembalap jalanan (menggenjot sambil mengangkat pantat), berdasarkan penelitian di Belanda, ternyata cukup berpengaruh terhadap massa tulang, karena berat badan bertumpu di kaki," tegas Sadoso.<br /><br /><span style="font-weight:bold;">Takaran harus tepat </span><br /> Jika sudah memutuskan latihan dan olahraga macam apa yang hendak digauli, berikutnya niatkan berolahraga dengan menyediakan waktu luang secukupnya. Baru setelah itu, tentukan dosisnya. Masih menurut dr. Sadoso, aturan berolahraga atau latihan fisik untuk mencegah osteoporosis pada dasarnya sama dengan olahraga biasa. Untuk itu mesti diperhatikan frekuensi, durasi, dan intensitas olahraga.<br /> Frekuensi latihan sebaiknya paling sedikit tiga kali per minggu, syukur-syukur bisa sampai 4 - 5 kali. Namun awas, jangan sampai lebih dari lima kali seminggu, risikonya overtraining. Sekali latihan, lakukan setidaknya selama 30 menit. Lebih bagus kalau durasinya mencapai 40 - 60 menit. Lebih dari itu, khususnya buat non-atlet, bisa berdampak overtraining.<br /> Sementara intensitas latihan bisa diukur lewat banyaknya denyut nadi. Rumusnya gampang kok. Latihan yang baik mestinya menghasilkan denyut nadi lebih dari 60% x (220 – umur), namun tidak boleh lebih dari 80% x (220 – umur). Intensitas ini perlu dijaga, karena jika berlebihan atau terlalu keras, bakal membebani kinerja jantung. <br />Jadi, kalau umur Anda sekarang 31 tahun, setelah selesai latihan hitunglah denyut nadi. Pastikan apakah sudah mencapai jumlah ideal, yakni melebihi 114 denyut per menit, namun masih kurang 160 denyut per menit. Paling ideal jika Anda berhasil mendapatkan denyut nadi yang paling moderat alias berada di tengah-tengah (antara 114 dan 160), misalnya 132 denyut per menit.<br /> Selain latihan-latihan dengan gerakan, bagus juga sejak dini melakukan latihan beban. Cuma, lagi-lagi perhatikan juga dosis latihan, jangan sampai frekuensi, durasi, dan intensitas latihannya berlebihan. Untuk latihan beban, baik di tempat gym maupun latihan sendiri menggunakan dambel di rumah, lakukan maksimal tiga kali seminggu. Itu pun harus diatur agar tidak dilakukan pada hari berturutan. "Harus selang-seling, agar ada kesempatan bagi otot untuk memulihkan diri," ujar Sadoso, sembari menegaskan, latihan dambel pun bisa dilakukan sejak kecil.<br /> "Anggapan berlatih beban sejak kecil membuat perkembangan tubuh anak terhambat sama sekali tidak benar," cetus Sadoso. Asal latihan dilakukan dengan benar. Misalnya posisi tubuh saat mempermainkan beban tidak boleh salah, supaya tidak cidera. Begitu juga berat beban. "Gampangnya, kalau masih bisa mengangkat beban 18 kali berturut-turut, itu berarti bebannya masih masuk kategori ringan. Sebaliknya, kalau hanya dapat mengangkat beban 8 kali berturut-turut, tapi otot sudah menyerah, berarti bebannya terlalu berat."<br /> Dengan latihan dan olahraga yang cukup, ditambah gaya hidup sehat (tidur memadai 7 – 8 jam sehari, menghindari rokok dan minuman keras), plus masukan kalsium yang memadai (800-an mg/hari saat balita, 800 – 1.000 mg/hari sebelum usia 50, dan 1.200 – 1.500 mg/hari saat berusia di atas 50 tahun), kepadatan tulang tidak akan mudah dikalahkan usia. Kebutuhan kalsium ini patut digarisbawahi, karena jika kekurangan suplai, tubuh akan mengambil cadangan kalsium di tulang. Akibatnya, tulang jadi semakin tipis dan keropos. <br /> Oh ya, olahraga teratur juga memungkinkan kita mendapat "bonus" lain. Sekali mengayuh, satu dua pulau terlampaui. Sekali rajin berolahraga, bukan hanya osteoporosis yang menjauh, beragam penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, stroke, jantung koroner, obesitas, hingga kolesterol tinggi pun lari menghindar. Olahraga juga memungkinkan kita cepat tidur, bereaksi lebih baik dan cepat, serta memiliki kemampuan seksual lebih baik.<br /> Hebat 'kan? Sudah punya massa tulang nan padat, masih mendapat "bonus komplit" pula. <br /><br /><span style="font-weight:bold;">Tak Lagi Sesuka Hati</span><br /> Bagaimana jika Anda kadung divonis osteoporosis? Tentu saja, jenis olahraga yang boleh dilakukan tak bisa lagi diputuskan sesuka hati. Mula-mula, pastikan seberapa parah tingkat keropos tulang Anda, dengan mendatangi dokter. Pengukuran osteoporosis akan menghasilkan angka berskala. Mulai -1 (ringan), -2,5 (lumayan parah) sampai –5 paling parah. Berbekal hasil pengukuran itu, datanglah ke sanggar-sanggar senam terdekat, yang belakangan mulai rajin memasyarakatkan senam osteoporosis. <br /> Pada senam osteoporosis versi rehabilitasi, latihan disesuaikan dengan tingkat keropos tulang. Tak heran, gerakan mereka boleh saja seragam dan sama-sama berlatih sambil duduk di kursi misalnya, namun tetap ada perbedaan intensitas. Perbedaan itu terutama dimungkinkan lewat penggunaan alat bantu. Ada yang alat bantunya dambel kecil, tongkat, sampai kaleng minuman. Makin ringan bebannya, makin berat tingkat osteoporosisnya. <br /> Dalam senam osteoporosis, benturan dengan tanah justru dihindari. Namun latihan kekuatan otot lokal, walaupun tidak banyak meningkatkan kekuatan tulang, tetap diperlukan, misalnya untuk menambah kemampuan bangun dari kursi atau menghindari jatuh. Sedangkan gerakan yang dilarang misalnya melompat, membungkuk dengan posisi punggung ke depan, menggerakkan kaki ke samping atau ke depan melawan beban, dan berjalan di tempat licin, tidak rata serta bebatuan.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-2251156165676439824?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-80934513847289933872007-01-02T19:00:00.006+07:002009-01-26T21:55:29.068+07:00Otak Kanan Bekerja 36 Jam Sehari!Kreativitas di dunia periklanan dihargai sangat mahal. Maklum, berkat "kegilaan" orang-orang yang biasa dipanggil tim kreatif itulah - produk yang diiklankan laku keras (meski bisa juga jeblok!). Ada canda, saat tidur pun otak kanan mereka masih bekerja, liar mencari ide. Mengamati dunia mereka bak berbicara tentang jagat tak berbatas.<br /><br /> Seorang wanita setengah baya tampak bersemangat, napasnya ngos-ngosan, saat mencurahkan isi hati pada teman curhatnya. Tak jelas kesal pada siapa, wanita dalam tayangan iklan televisi itu kemudian menukas, "Makan hati aku, makan hati ...." Jreng, setelah itu, persis selesai kalimat "makan hati" diucapkan, lawan bicaranya "melarikan diri", tapi kembali lagi dengan menenteng Teh Botol Sosro di tangan sembari berucap, "Nih minumnya, 'kan baru habis 'makan hati'."<br /> Pada iklan lain, calon presiden (capres, pada pemilihan presiden 2004) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diiringi lagu Sajadah Panjang-nya Bimbo, terlihat sumringah saat berinteraksi dengan rakyat dari berbagai strata. Ketika capres-capres lain tampil begitu "serius" karena terkesan mengeksploitasi program kampanye dalam iklan yang berdurasi hanya sekian menit, SBY justru menampakkan kedekatan dengan rakyat, meski "hanya" lewat gambar, tembang, dan semboyan “Bersama Kita Bisa”.<br /> Dua iklan di atas – Teh Botol Sosro dan Kampanye SBY – bisa disebut sebagai buah kreativitas yang sukses menyihir pemirsa TV. Keberhasilan yang berbuah manis buat produk dan sosok yang dipromosikan. Lihat saja, sampai detik ini Teh Botol Sosro masih terus merajai pasar minuman dalam kemasan. Sedangkan SBY terpilih menjadi orang nomor satu negeri ini. Semua itu tak menjadi kenyataan, jika tim kreatif advertensinya melempem.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Ditelepon ratusan orang</span><br /> "Masyarakat kita 'kan sangat suka minum teh, bahkan bisa disebut sebagai tea society. Karena itu, iklan yang dibuat harus benar-benar dekat dengan keseharian," tukas Handoko Hendroyono (42), creative director Matari Advertising. Sejak beberapa tahun lalu, bersama tiga rekannya, Yudhie Puguh Prasetyo (senior art director), Wahyu Kentjana (creative director), dan Leonita Kusumawardani (senior copywriter), ia menjadi tulang punggung di balik layar iklan Teh Botol Sosro.<br /> Setahun terakhir, kreativitas Handoko dan kawan-kawan bahkan mencapai puncaknya, ketika jargon sakti "Apa pun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro" (diusung sejak 2002) tidak lagi diterjemahkan secara saklek. Sebelumnya, jargon tadi hampir selalu divisualkan di kantin, rumah makan, dan sejenisnya. “Untuk menunjukkan aktivitas makan yang sebenarnya," jelas Wahyu, lulusan desain grafis Institut Kesenian Jakarta.<br /> Namun, sebagai tim kreatif, kreativitas mereka tidak boleh mandek hanya sampai di situ. "Setiap tahun kami mengevaluasi direction-nya, agar penonton teve tidak dibuat bosan," imbuh Handoko. Hasilnya, setelah melalui diskusi alot dan pertapaan panjang, mereka sepakat mengangkat sisi lain sang jargon sakti. Meskipun yang dimakan "tidak biasa", minumnya ternyata Teh Botol Sosro juga. Begitu kira-kira pesannya.<br /> Maka jadilah sekuel "makan hati", "kuda lumping", "rantai makanan", dan "makan bulan". “Makan hati” dan “makan bulan” (yang terakhir hanya ditayangkan di Bali, bercerita tentang Bhuto Ijo yang minum Teh Botol Sosro sehabis “makan bulan”) bahkan mendapat penghargaan dalam ajang bergengsi insan periklanan, Citra Pariwara. Tak hanya itu, "Dari puluhan sekuel iklan sejenis yang pernah kami buat, sekuel-sekuel terakhir ini tercatat paling banyak mendapat tanggapan pemirsa."<br /> "Ratusan orang menelepon kami, memberi ide untuk sekuel berikutnya. Misalnya 'makan gaji buta', 'makan teman', 'pagar makan tanaman', dan banyak lagi," cetus Yudhie, lulusan IKIP Malang, Jawa Timur. Penghargaan dari insan periklanan dan besarnya perhatian khalayak, keruan membuat mereka bangga. Setidaknya, target membuat iklan yang diomongin orang ramai tercapai. "Keberhasilan tim kreatif 'kan diukur dari keberhasilnnya membangun brand dan pengakuan insan periklanan (baca: award)," jelas Handoko, lulusan FISIP UI.<br /> Meski punya peranan besar, Handoko plus konco-konco tak mau didapuk sebagai Superman kesiangan. "Kesuksesan sebuah iklan bukan hanya berkat peran tim kreatif, tapi juga tim-tim lainnya," kata mereka. Jauh sebelum sebuah iklan dibuat, perusahaan iklan biasanya di-briefing terlebih dahulu oleh klien. Dalam pertemuan awal ini, pihak advertising biasanya diwakili tim dari client service, media plannner, dan account planner.<br /> Sampai di sini, tim kreatif masih ber-leha-leha.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Otak kanan 36 jam</span><br /> Setelah mendengar cuap-cuap klien, tim gabungan client service, media planner, dan account planner urun rembug untuk menentukan strategi marketing yang akan dilakukan. Di sini, tim kreatif mulai diajak bicara. Nah, strategi inilah yang dijadikan panduan oleh tim kreatif dalam menerjemahkan ide ke dalam bentuk visual. "Tiap anggota diberi tenggat waktu, misalnya satu minggu, untuk mencari ide yang akan dibawa pada pertemuan internal tim kreatif," sebut Handoko.<br /> Seminggu kemudian, mereka mengajukan ide masing-masing, lalu dipilih beberapa ide yang laik dijadikan unggulan. Ide unggulan itu kemudian dipertajam, dibuatkan story board-nya, sehingga siap dipresentasikan di depan klien. Tim kreatif harus dapat meyakinkan klien bahwa iklan yang akan dibuat kelak dapat menjadi buah bibir. Proses dari briefing sampai presentasi (concept development) ini makan waktu antara tiga minggu sampai sebulan.<br /> Satu bulan berikutnya digunakan tim kreatif untuk memilih sutradara, production house, pemeran, serta lokasi syuting. Tim juga masih menjalankan fungsi supervisi saat syuting dilakukan, sampai ketika editing dilaksanakan. "Pendek kata, kita bertanggung jawab atas ide, mulai dari lahirnya sampai selesai dieksekusi. Karena cuma kita yang bisa menggiring," Wahyu menerangkan, sambil menambahkan, "Selesai semuanya, baru deh kita bisa sedikit nyantai."<br /> Lalu, dari mana biasanya datangnya ide? "Seringnya sih berasal dari pengalaman pribadi. Misalnya, saat naik ojek dalam perjalanan ke kantor, tiba-tiba pengendara sepeda motor di sebelah saya nyeletuk, 'Wah, gue makan asap nih'. Dari situ, otak saya langsung ngeklik. Makan asap? ide bagus tuh," kali ini Yudhie yang bercerita.<br />Sepintas, memang sulit membedakan, apakah tim kreatif sedang bekerja atau sedang leha-leha. "Kita jarang melakukan brain storming di kantor atau tempat formal. Malah mati ide kalau di tempat seperti itu. Tapi kalau ngobrol di tempat-tempat nyantai, sambil tiduran di atas meja, biasanya ide-ide cemerlang malah muncul," giliran Wahyu berkata-kata. Ada juga yang harus pegang gitar untuk memancing ide segar. "Yang jelas, pikiran kita harus dibebaskan dulu, se-fresh mungkin."<br /> Itu sebabnya, selain memperkuat otak kiri (fungsi matematis) dengan cara memasukkan data eksak atau data mati (misalnya bahan dari internet), anggota tim kreatif juga kudu rajin memberi "makan" otak kanannya yang memelihara kepekaan terhadap seni dan spontanitas. Caranya, misalnya dengan banyak membaca, menonton (film maupun televisi), bergaul, jalan-jalan ke areal publik, mendengarkan musik, dan sejenisnya. Makin beragam jenis "makanan"-nya, makin hebat kinerja otak kanannya.<br /> “Di dunia periklanan talenta dan otak kanan memang lebih dominan. Kalau wartawan sering bekerja 24 jam, tim kreatif malah menggunakan otak kanannya lebih dari itu, bisa '36 jam sehari'. Karena jika sedang 'bekerja' mencari ide, apa pun yang bisa diserap, ya diserap,” tegas Handoko. Di mata Handoko dan konco-konco-nya, dunia memang betul-betul bebas lepas.<br /> Makanya, jangan coba mengganggu ketika melihat mereka lagi ngopi di kafe, sambil bengong memandangi trotoar jalanan. Boleh jadi, otak kanan mereka justru sedang "bekerja keras", sama seperti petani yang sedang menanam padi, atau KPK meneliti berkas kasus korupsi.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Sampai diputus pacar</span><br /> Hal yang sedikit berbeda dalam melahirkan ide kreatif dialami tim kreatif yang menggarap iklan kampanye SBY. Kalau lazimnya, tim kreatif bekerja dalam suasana bebas lepas, kondisi ideal itu justru tak mereka dapatkan. “Pasti agak stres. Tapi justru di situlah seninya. Saya harus bekerja dalam kondisi yang betul-betul tak biasa,” bilang M. Dediy Vansophi, associate creative director pada Hotline Advertising.<br /> Tak tanggung-tanggung, pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini pernah "dikarantina" (dilarang keluar kantor) selama tiga bulan oleh tim kampanye capres Susilo Bambang Yudhoyono. Selama masa "karantina" itu, dia mesti menyelesaikan lebih dari 10 iklan kampanye. Lebih gila lagi, untuk menjaga kerahasiaan, kerja berat itu hanya boleh dilakoninya bersama sang Bos, Subiakto Priosoedarsono, presiden direktur Hotline.<br /> "Saya sampai diputus pacar. Selain tidak suka saya dikarantina, dia juga marah karena saya membantu SBY. Dia fans berat Pak Amien Rais," Dediy geleng-geleng kepala. Untungnya, SBY akhirnya jadi presiden "betulan", hasil yang dianggapnya sepadan untuk duka kehilangan pacar. Kesuksesan iklan kampanye SBY juga mendatangkan bonus khusus dan kenaikan pangkat istimewa dari bosnya.<br /> "Saya sangat puas dan bangga. Apalagi menyaksikan jargon-jargon yang kita bikin diingat terus sama orang se-Indonesia," ucapnya sumringah. Bahkan para calon kepala daerah yang hendak ikut pemilihan kepala daerah (Pilkada), banyak yang menjadikan karya Dediy sebagai benchmark iklan kampanye mereka. "Saya menganggap, iklan kampanye SBY itu sebagai hal luar biasa yang pernah dibuat sepanjang sejarah hidup saya," aku pria yang pernah menangani iklan Toyota, Sony, Indosat, Panasonic, dan sejumlah produk kecantikan.<br /> Ia menduga, bagusnya penerimaan terhadap iklan kampanye itu lantaran pasnya pesan yang hendak disampaikan. "Karena waktu tayangnya singkat, kita sepakat mengangkat citra, bukannya visi-misi yang pasti kepanjangan." Kenyataannya, awam memang lebih tertarik pada iklan "SBY ganteng" atau "SBY nyanyi" ketimbang "Rekomendasi Lima"-nya Megawati Soekarnoputri. Semboyan "Bersama Kita Bisa" pun ditawarkan Hotline, mengingat SBY tak punya basis massa sekuat Mega atau Amien. Kalau mau maju, ya harus sama-sama, begitu kira-kira.<br /> Dediy bersyukur, ia diberi pengalaman hidup yang lumayan beragam. Dari kecil ia doyan main, ngeband, serta membaca novel silat dan majalah luar negeri. Saya pernah merasakan hidup dalam keluarga miskin, tapi juga pernah merasakan pergaulan orang yang "sangat berada". Pengalaman-pengalaman itu menjadi investasi yang manfaatnya sangat terasa di kemudian hari. "Kalau masih mentok juga, saya salat sunat dua rakaat. Otak biasanya langsung fresh lagi," tutup alumnus Sekolah Tinggi Senirupa Bandung itu.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-8093451384728993387?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.comtag:blogger.com,1999:blog-27408459.post-1157453945959971972006-07-02T17:56:00.004+07:002009-01-26T21:59:56.234+07:00Jalan Rahasia Penulis The Da Vinci CodeSebagai pemusik, Dan Brown hampir saja menaklukkan Hollywood. Di tengah jalan dia berubah pikiran, banting setir menjadi novelis. Mirip kode-kode rahasia yang tersebar di buku superlarisnya, The Da Vinci Code, jalan hidup Brown pun menyimpan banyak rahasia. Inilah sebagian kisahnya, dinukil dari buku The Man Behind The Da Vinci Code, karangan Lisa Rogak (dialihbahasakan oleh Burhan Wirasubrata, diterbitkan oleh UFUK Press, Jakarta).<br /><br />Susah mencari kata yang tepat untuk melukiskan sihir novel The Da Vinci Code. Selain laris manis dan dipuja-puji, buku ini juga menuai kontroversi di kalangan umat Katolik. Di luar kritik pedas Vatikan, hampir selusin buku telah dibuat untuk menghujat, mengritik, maupun sekadar membonceng popularitas Brown.<br />Sampai 2005, The Da Vinci Code sudah diterbitkan dalam 44 bahasa. Film layar lebarnya pun sedang diputar di bioskop-bioskop di seluruh dunia, dengan Tom Hanks berperan sebagai Robert Langdon, tokoh jagoan dalam novelnya.<br />Pada tahun pertama, novel The Da Vinci Code laku 6,5 juta eksemplar (di Amerika Serikat saja), dan melonjak menjadi lebih dari 10 juta eksemplar di penghujung tahun kedua. <br />Keberuntungan sang penulis tak berhenti sampai di situ. Sejak "kode Da Vinci" meledak, penggemarnya mulai mencari tiga novel Brown sebelumnya. St. Martin's Press (penerbit novel Digital Fortress), Simon & Schuster (penerbit Angels & Demons dan Deception Point), bak ketiban durian runtuh. Buku-buku yang nyaris "masuk museum" itu tiba-tiba dipesan banyak orang, bahkan merangsek masuk daftar buku laris (best seller).<br />Tak heran kalau dalam daftar 100 Selebritis 2005 versi Majalah Forbes, Dan Brown sanggup menyeruak hingga posisi 12. Forbes memperkirakan, doku di saku Brown kini tak kurang dari AS $ 76,5 juta. Padahal, kalau saja penjualan The Da Vinci Code tidak meledak di pasar, barangkali justru kepala Dan Brown-lah yang bakal "meledak". Tiga novelnya terdahulu hanya bertiras di bawah lumayan, sehingga kepiawaian Brown menjual kata-kata mulai diragukan penerbit.<br />Beruntung, ia berhasil memecahkan "kode rahasia" Leonardo Da Vinci di saat yang tepat.<br /><br /><strong>Senang kode dan simbol</strong><br />Bicara soal kode rahasia, Dan Brown memang jagonya. Bukan hanya dalam The Da Vinci Code ia bicara soal simbol-simbol tersembunyi. Tiga karya Brown sebelumnya pun diilhami sesuatu yang buat awam masih menjadi misteri. Tengok saja Digital Fortress yang terilhami kerja agen rahasia dalam memecahkan kode-kode lalu lintas informasi warga biasa. Atau Angels & Demons, yang idenya muncul dari kanal di lingkungan Vatikan. <br />"Aku dibesarkan di sebuah keluarga yang menganggap teka-teki dan kode sebagai bagian dari cara kami bersenang-senang. Saat pagi di hari Natal, ketika anak-anak lain mendapati hadiah mereka di bawah pohon Natal, aku dan saudara-saudaraku malah menemukan peta harta karun dengan kode-kode yang harus kami ikuti dari kamar ke kamar. Bagiku, kode-kode itu menyenangkan," jelas Brown, yang lahir di Exeter, New Hampshire, Amerika Serikat, 22 Juni 1964.<br />Keluarga besar Brown tumbuh dan berkembang "berlandaskan" tiga pilar: matematika, musik, dan bahasa. Sang kepala keluarga, Richard G. Brown, adalah jagoan matematika yang mengajar di Philips Exeter Academy. Sedangkan ibunya pianis gereja, yang selalu mengingatkan pentingnya nilai-nilai religi buat Brown dan adik-adiknya, Valerie (lahir 1968) dan Gregory (1975).<br />Bermodal tiga pilar itu, Brown kecil jadi punya banyak bakat. Benih keterampilan menulis datang dari Richard, yang beken sebagai penulis pendamping serial buku pelajaran matematika populer, buku pelajaran anjuran untuk seluruh sekolah di AS. Sedangkan naluri bermusik datang dari ibunya. "Kreativitas sangat dihargai dalam keluarga kami. Aku selalu tertantang melakukan sesuatu yang kreatif," Dan menambahkan.<br />Selain bermain kode di dalam rumah, Brown remaja juga mendapati kenyataan, Exeter punya banyak sekali klub klandestin (senang sembunyi). Mereka punya tradisi klub persaudaraan dan kelompok rahasia. Salah satu kelompok yang sangat ngetop di Exeter adalah "Improved Order of Red", yang berawal dari perkumpulan "Sons of Liberty" (1765). Jumlah anggotanya sempat mencapai 500 ribuan orang pada 1930-an. Kini pengikutnya sekitar 30 ribuan orang.<br />Perkumpulan-perkumpulan rahasia lainnya yang sudah aktif di Exeter sepanjang abad ke-19 dan ke-20 adalah "Independent Order of Odd Fellows", "St. Albans Royalm Arcatum", "Good Templars dan Knight of Phytias". Nyaris semua karakter kelompok itu sudah digambarkan Brown dalam novel-novelnya.<br />Dari umur 13 - 18 tahun, Brown bersekolah di Philips Exeter Academy. Meski berasrama di tengah kota, anak-anak akademi hidup bagaikan di dunia mereka sendiri. Orang luar nyaris tak ada dan tak pernah mau tahu kejadian di dalam asrama. Suasana itu makin memperkuat pemahaman Brown terhadap kerja perkumpulan rahasia.<br />Toh tak ada yang menyangka, Brown - semasa sekolah dikenal sebagai siswa lugu nan ramah - ternyata tergila-gila pada klub-klub rahasia. Susan Ordway, bekas teman sekelasnya bersaksi, "Ia bilang ingin meneruskan karier musiknya setelah lulus SMU nanti. Suaranya memang lumayan bagus. Makanya, saya kaget ketika ia menerbitkan Digital Fortress. Habis, dia enggak pernah menunjukkan ketertarikan pada perkumpulan rahasia."<br /><br /><strong>Ogah disorot</strong><br />Susan tak sepenuhnya salah. Setamat Philips Exeter Academy (1982) dan selulus kuliah di Amharst College, Brown memang sempat membeli synthesizer dan peralatan rekaman bekas. Dari synthesizer itulah ia "menemukan" suara ragam binatang, lalu digubahnya musik pendek berisi suara kodok, gajah, angsa, dan tikus. Lagu-lagu itu direkamnya dalam kaset bertajuk SynthAnimals, yang terjual beberapa ratus kopi saja.<br />Tahun 1990, Brown mendirikan perusahaan rekaman Dalliance, dan menerbitkan album "Perspective". Namun seperti kaset pertama, album ini pun cuma terjual beberapa ratus kopi. Tahun 1991, Dan pindah ke Los Angeles, agar dekat dengan industri musik Hollywood. Untuk menambah penghasilan, ia mengajar bahasa Spanyol.<br />Harapan Brown menggembung saat dia bergabung dengan National Academy of Songwriters (NAS), yang didukung sejumlah nama tenar, seperti Prince dan Billy Joel. Di NAS, Brown mendapat sokongan penuh untuk membuat album atas namanya sendiri. Dia dimanajeri Blythe Newlon, direktur pengembangan artistik NAS. Sederet pekerja profesional dilibatkan dalam album Dan, yang suara dan gayanya dianggap mirip Shaun Cassidy atau Rex Smith (populer tahun 1970-an). Ada juga yang menyebut Brown the new Barry Manillow. <br />Sayangnya, Brown tampak belum siap masuk dalam hiruk pikuk industri musik Hollywood. Dia tidak tahan sorotan kamera. Dalam sebuah wawancara, Brown bilang hanya ingin menciptakan lagu, dan tidak ingin tampil di depan publik. Padahal, dia penyanyi pop, yang harus bisa menghibur orang jika ingin musiknya didengar. Untuk menjadi penyanyi sukses, nyaris mustahil jika hanya bercokol di studio rekaman. <br />Namun, Brown kadung menganggap citranya yang terpelajar berbeda dengan kaidah bisnis Hollywood. "Apakah aku pantas masuk MTV? Kayaknya enggak. Aku lebih cocok masuk ruang kelas," ujarnya suatu ketika. Brown juga tersinggung, ketika sejumlah orang yang dianggapnya "tidak terpelajar" bilang lebih tahu apa yang terbaik untuk musik dan kariernya. Alih-alih meledak, CD album Dan Brown malah luluh lantak.<br />Tak tahan dengan situasi ini, pada 1993 Dan Brown resmi mundur dari NAS. Brown memutuskan meninggalkan Hollywood, kembali ke kampung halamannya di Exeter untuk menjadi penulis novel. Lebih mengejutkan, Brown pergi bersama manajernya, Blythe, yang tanpa diketahui banyak orang telah menjadi pacarnya. Blythe yang berusia 12 tahun lebih tua kelak menjadi Ny. Dan Brown.<br />Di Exeter, sambil mengajar dan menulis novel, Brown masih sempat menyelesaikan utang CD keduanya, Angels & Demons. Album ini diluncurkan pada 1995, dua tahun setelah keluarnya Dan Brown. Di album ini, Brown lebih banyak bekerja dengan synthesizer. CD bertiras "biasa-biasa saja" ini sekaligus menutup mimpi Brown di blantika musik.<br /><br /><strong>Promosi di internet</strong><br />Meski bercita-cita menjadi novelis, karya pertama Brown yang masuk toko buku justru buku humor mini 187 Men to Avoid, diluncurkan tahun 1995. Meski memakai nama samaran Daniella Brown, para pengamat percaya, Dan Brown-lah penulis aslinya. Sedangkan dalam The Bald Book, buku humor mini kedua yang keluar 1998, Dan meminjam nama istrinya, Blythe Brown.<br />Novel pertamanya, Digital Fortress, baru mulai digarap pada 1996. Brown mengadakan riset tentang cara kerja National Security Agency (NSA) menyortir informasi, sehingga bisa tahu jika ada orang yang hendak membunuh Bill Clinton. Brown tertarik pada NSA, karena merupakan organisasi rahasia dengan 25.000 karyawan yang selalu bekerja dengan kode-kode rumit dan kriptografi.<br />"Aku sangat beruntung. Editor pertama yang melihat novel itu langsung membelinya," kenang Brown. Mungkin karena Digital Fortress membahas isu keamanan internet, yang saat itu cukup laku dijual. Dalam sebuah ceramah, Brown pernah diingatkan seorang peserta bahwa novelnya mungkin akan membuat Brown berada dalam pengawasan NSA. Saat itu Dan menjawabnya enteng, "Aku justru terkejut kalau tidak berada di bawah pengawasan mereka." Beberapa pekan setelah acara itu, NSA mengundang Dan ke markasnya. <br />Brown memelopori langkah-langkah promosi tidak lazim (saat itu), dengan membuat situs khusus untuk bukunya, menyebarkan informasi lewat e-mail, serta menerobos forum online dan milis-milis. Meski baru mulai melangkah, dia segera menyadari, dunia penerbitan buku jauh lebih menyenangkan daripada industri musik. Wawancara dengan pers pun berjalan lancar, karena ia hanya mempromosikan produk. Masalah pribadi Brown tetap aman dari sorotan orang. <br />Begitu novel pertama selesai, Dan segera merencanakan novel kedua. Ide membuat Angels & Demons muncul ketika dia dan Blythe berkeliling di Vatikan, tepatnya saat melewati sebuah terowongan, yang dikenal sebagai Il Passetto. Terowongan itu merupakan kanal rahasia, yang akan digunakan Paus jika Vatikan diserang.<br />Pemandu wisata menjelaskan, salah satu musuh Paus adalah kelompok Illuminati, yakni kumpulan ilmuwan yang mengancam Paus pada abad ke-17, karena Paus menghukum mati Galileo, Copernicus, dan ilmuwan lainnya. Sampai sekarang, kelompok itu konon masih ada. Ucapan si pemandu wisata kontan membangkitkan fantasi Brown. Dia pikir, akan sangat menarik jika novel berikutnya berkutat soal kelompok rahasia ini. <br />Angels & Demons diterbitkan bulan April 2000. Saat itu, Brown sempat tercengang ketika beberapa pembaca menuduhnya anti-Katolik dan atheis. Mereka juga menuduhnya lebih mencintai sains ketimbang agama. Tuduhan-tuduhan itu disangkalnya dengan tegas. "Aku tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan keduanya. Dalam banyak hal, aku melihat sains dan agama sebagai hal yang sama. Keduanya manifestasi pencarian manusia untuk memahami ketuhanan. Agama menyukai pertanyaan, sains menyukai pencarian jawaban."<br />Sayangnya, angka penjualan dua novel tadi tak begitu bagus. Brown berusaha memperbaikinya ketika menggarap novel ketiga, Deception Point, yang berkisah seputar kejadian-kejadian rahasia di NASA. Di mata Brown, NASA adalah salah satu perkumpulan rahasia paling samar di dunia. Setelah melakukan penelitian selama satu tahun, Deception Point akhirnya terbit pada Agustus 2001. <br />Tapi lagi-lagi, angka penjualannya jeblok. <br /><br /><strong>Hijrah ke penerbit lain</strong><br />Kini Brown harus lebih dari sekadar serius dalam menentukan tema novel keempat. Ketika akhirnya ia teringat sebuah peristiwa penting yang terjadi beberapa tahun lalu. Peristiwa itu terjadi pada tahun pertamanya di Amherst College, saat dia mengambil program satu tahun belajar di Universitas Seville, Spanyol. Dari sanalah ide The Da Vinci Code berawal.<br />Ketika itu, dosen Spanyolnya dengan bantuan slide show menunjukkan berbagai anomali, pesan tersembunyi, dan lelucon yang dimasukkan Da Vinci ke dalam lukisan, patung, dan gambar-gambarnya. Mata Brown seolah terbuka. Tidak hanya terhadap pesan-pesan rahasia yang berusaha disampaikan Leonardo Da Vinci, namun juga terhadap kode-kode dan pesan-pesan yang sengaja dimasukkan dan jumlahnya sangat berlimpah.<br />Saat kembali ke Amharst, dia merasa telah mendapat sebuah "ilmu", meski dia tidak yakin ilmu apa. Dia menyimpan ilmu itu untuk masa depan. Kini, Brown merasa, telah tiba saatnya ilmu itu "dikeluarkan".<br />The Da Vinci Code, dengan jalan cerita berbelit-belit dan isinya yang padat, kerap membuat Dan buntu. Dia berhadapan dengan banyak sekali fakta sejarah. "Banyak sejarawan percaya, ketika menuntut keakuratan berbagai konsep menurut sejarah, sebaiknya kita terlebih dulu bertanya pada diri kita sendiri: menurut sejarah, seberapa akuratkah sejarah itu sendiri? Pada umumnya, kita tak 'kan pernah mengetahui jawabannya. Tapi hal itu jangan sampai membuat kita berhenti bertanya," Brown mengungkapkan pendiriannya.<br />Dia memprediksi, The Da Vinci Code akan berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Tidak hanya karena subjek bahasannya sensitif, tapi juga jumlah informasi dan fakta-fakta kabur yang ingin dia jejalkan ke dalam buku sangat banyak. Dia harus meriset banyak aspek berbeda dari semua data yang hendak disisipkan dalam narasi.<br />Namun, melihat dukungan kolega-koleganya di perkumpulan rahasia, pusing Brown sedikit reda. Setelah menulis tiga buku tentang perkumpulan rahasia, dia mendapat banyak teman di sana. Dia mengaku sangat kaget, melihat banyaknya orang yang ingin ngobrol untuk membicarakan dunia yang mereka sukai. Kebanyakan mereka ingin sekali menyampaikan sesuatu yang mereka ketahui.<br />"Pada akhirnya, The Da Vinci Code menggambarkan sejarah sebagaimana yang kupahami, setelah selama beberapa tahun melakukan perjalanan, riset, membaca, wawancara, dan eksplorasi," cetus Brown. Di penghujung tahun 2001, sempat muncul spekulasi buku ini akan dicegah penerbitannya. Namun, Dan maju terus, termasuk ketika pihak penerbit mulai mempertanyakan potensi novel keempatnya. <br />Brown membalas keraguan itu dengan hengkang (bersama editornya) dari Simon & Schuster ke penerbit Doubleday. Akhir 2002, beberapa bulan sebelum The Da Vinci Code diluncurkan, muncul suara antusias dari sejumlah penjual buku. Begitu santernya suara antusias itu, Doubleday sampai melanggar tradisi, dengan meminta masukan Brown soal halaman muka dan desain visual lainnya. Doubleday lalu mencetak 10 ribu eksemplar edisi perkenalan, khusus untuk resensi buku dan pihak-pihak yang terkait dengan penjualan. <br />Hasilnya sangat positif, sehingga Doubleday langsung menjadwalkan cetakan pertama sebesar 230.000 eksemplar pada Maret 2003. Kritikus buku New York Times, Janet Maslin ikut membantu mendongkrak The Da Vinci Code dengan menulis, "Kata-katanya hebat. Dalam novel suspense ilmiah ini, Brown menggunakan format yang telah dikembangkannya melalui tiga novel awal dan menyelaraskannya dengan baik, sehingga menghasilkan cerita blockbuster yang sempurna." <br />Setelah itu, teman-teman Brown banyak yang menelepon, "Hei, apakah Maslin itu ibumu? Sebelumnya, dia tidak pernah memuji seperti itu." Mendung tampaknya sedang berubah cerah. Pada hari pertama penjualan, The Da Vinci Code laku 6.000 eksemplar, melonjak sampai nyaris 24.000 eksemplar di penghujung minggu pertama. Minggu berikutnya, The Da Vinci Code menjadi best seller di Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan New York Times. <br />Sejak itu, Brown tidak hanya berstatus penulis, tapi juga selebriti. Untuk menjaga privasi, dia mulai membatasi kontak dengan dunia luar dan berhenti terbang dengan pesawat komersial. Brown mengaku kaget dengan popularitasnya yang meningkat mendadak. "Aku tak tahu seperti apa para selebritis menangani popularitas mereka. Aku hanyalah penulis buku, namun terkadang bisa berubah menjadi tontonan sirkus ketika tampil di muka umum."<br />Seperti kode-kode, hidup memang penuh rahasia. Dalam sekejap ia bisa berubah, bahkan dengan cara yang sangat dramatis.<br /><br /> <br /><strong>10 Kali Lebih Rinci</strong><br /><br />Selain kedua orangtuanya, Dan Brown menyebut istrinya, Blythe Newlon, sebagai orang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Brown menggambarkan Blythe sebagai perempuan cerdas, lucu, kreatif, cantik, terbaik, dan tidak pernah membiarkannya gagal melakukan sesuatu. "Blythe juga bisa melukis dan memasak selagi aku menulis, rekaman, atau mengajar." <br />"Aku senang, Blythe mau ikut ke New Hampshire. Kami lalu menukar BMW dan Mercedes dengan beberapa sepeda gunung untuk kembali ke realitas sebelumnya. Aku tak sabar, dan merasa sudah benar-benar siap untuk berubah," kenang Brown. Selain menyukai musik, keduanya punya minat yang sama pada sejarah seni. Blythe juga tenaga humas yang handal. Ketika album-album Brown dikeluarkan, Blythe-lah yang mengatur promosi dan membuat janji wawancara dengan wartawan. <br />Brown juga tidak pernah melupakan jasa sobat-sobat lamanya semasa "susah" dulu. Semisal editor Jason Kaufman yang mengajaknya hijrah ke Doubleday. Atau pustakawan Stan Planton yang selalu setia membantu Brown memecahkan informasi-informasi dan kode-kode rumit.<br />Tak ketinggalan, dia juga "berterima kasih" pada orang-orang yang selama ini menjadikan The Da Vinci Code sebagai wacana kontroversi. Masuk dalam kategori ini, mereka yang membuat buku untuk mengomentari "kode Da Vinci" versi Brown, seperti Breaking the Da Vinci Code (karangan Darrell L. Bock), The Da Vinci Deception (Erwin W Lutzer), Cracking Da Vinci's Code (James L. Garlow dan Peter Jones), dan The Da Vinci Hoax (Sandra Miesel dan Carl Olson).<br />Brown bahkan sempat menunda penerbitan novel kelimanya, The Solomon Key, karena tidak ingin diserbu lagi oleh buku-buku sejenis. Dia tak sedang butuh uang atau popularitas, sehingga punya banyak kesempatan untuk memeriksa kembali naskah novel terbarunya, agar fakta-fakta yang disampaikan lebih terjaga. Dia ingin The Solomon Key 10 kali lebih teliti dari The Da Vinci Code.<br /><br /><br /><strong>Andalkan Delete dan Push-up</strong><br /><br />Kecakapan menulis berkembang seiring jam terbang. Dan Brown merasakan hal itu. Ketika membuat esai pertamanya di SMU, Dan memilih topik Grand Canyon. Dia melukiskannya dengan kata sifat yang tiada habisnya. Brown merasa telah membuat tugasnya dengan sangat indah. Tapi gurunya malah mengembalikan tugas itu dengan banyak catatan bertinta merah. "Dia menghapus 90% kata sifatku dan memberi nilai C minus. Di bagian atas kertas tertulis, simpler is better," cerita Brown.<br />Nasihat itu rupanya sangat berkesan di hati Brown. Setelah sukses dengan The Da Vinci Code, ia selalu memberi tahu orang yang mewawancarainya, bahwa kunci suksesnya dalam bercerita adalah banyak menggunakan tombol delete di komputer. Sedangkan penulis yang sangat disukai Brown kecil adalah Madeleine L'Engle. Lewat novelnya, A Wrinkle in Time, Madeleine menjadi orang pertama yang memperkenalkan Brown pada dunia mistis dan petualangan lewat tulisan. <br />Brown biasa menulis pada dini hari. Awalnya, dia melakukan itu lantaran terpaksa, karena itulah satu-satunya waktu luang. Namun lama-kelamaan, dia jadi kecanduan. "Kalau tidak berada di kursi pada jam empat atau empat tiga puluh pagi, aku merasa benar-benar kehilangan saat-saat yang paling baik dan paling kreatif di hari itu," Brown berujar.<br />Ketika tidur, pikiran menjadi sangat kreatif. Jadi, saat bangun, Brown punya banyak ide untuk dituliskan. Dia juga menjaga agar ide-ide tetap mengalir selama berjam-jam menulis dengan bantuan sejumlah alat kerja. Salah satunya, sebuah jam pasir antik di atas meja, untuk mengingatkan kapan waktu beristirahat. <br />Guna menjaga agar tekanan darah tidak turun terlalu jauh, Dan melakukan sit-up dan push-up beberapa kali. Kalau sit-up dan push-up masih kurang, ia akan memakai sepatu boot kesayangannya, lalu naik ke rak dan bergantung naik turun selama beberapa kali. Cara ini menambah aliran darah ke kepala. <br />"Membuatku bisa melihat dunia dalam perspektif berbeda. Sering kali aku dapat memecahkan persoalan sulit saat turun-naik," tutup penyuka karya-karya Jeffrey Archer, Robert Ludlum, dan Sydney Sheldon itu.<br /><br />(Ditulis oleh Muhammad Sulhi/pernah dimuat di Majalah Intisari, Hak Cipta dilindungi Undang-undang)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27408459-115745394595997197?l=muhammadsulhi.blogspot.com'/></div>Muhammad Sulhihttp://www.blogger.com/profile/06518191482586462390mrsulhi@gmail.com