tag:blogger.com,1999:blog-15069671.post-18487165925985493702007-04-24T10:35:00.001+07:002008-02-23T09:43:03.392+07:00Semangat Chairil Anwar<br /><br /><br />Chairil nampak mulai yakin akan narasinya sendiri dan mulai menuliskan. Dan narasi pun berkelanjutan:<br /><br />Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang<br /><br />Tidak tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau ranjang<br /><br />Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu<br /><br />Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat<br /><br /><br />Di luar terdengar lagi rentetan suara tembakan.<br /><br /><br />Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu<br /><br />Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;<br /><br />Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.<br /><br />Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,<br /><br />Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!<br /><br /><br />Chairil melipat catatannya,<br /><br />Kembali menyandak ranselnya,<br /><br />Berlalu dari kamar sana.<br /><br /><br />Chairil melompat dari kereta pada peron stasiun Karawang yang dipenuhi laskar<br /><br />berbagai macam dan meriam-meriam penangkis serangan udara. Pada seorang pemuda yang berdandan semacam koboi dia bertanya:<br /><br /><br /><br />“ Bung, di mana Markas Besar?”<br /><br />(Syuman Djaya ; Aku ; Metafor ; 2003)Putra Partantanoreply@blogger.com