tag:blogger.com,1999:blog-133271802008-07-15T17:05:46.275+07:00The Wings Of a Butterflyciploknoreply@blogger.comBlogger577125tag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-86287445332942594692008-07-09T10:05:00.001+07:002008-07-09T11:05:09.051+07:00CAPOFEST 2008<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SHQ44wvttEI/AAAAAAAAAOA/kGnpJ__HHqg/s1600-h/Baliho2.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SHQ44wvttEI/AAAAAAAAAOA/kGnpJ__HHqg/s400/Baliho2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220860415838106690" border="0" /></a><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-9826659824967726692008-05-23T23:20:00.003+07:002008-05-24T13:12:52.186+07:00[Episode 8] Bertemu Orang yang Tepat di Waktu yang Salah<span style="font-size:85%;">Ibu tua berkerudung itu menyerahkan secangkir teh manis hangatnya ke dalam genggamanku. Ia tersenyum. Aku berucap terima kasih. Kureguk perlahan, hangat. Kain-kain panjang nan cantik masih terhampar di sana-sini. Tanganku mengusap lembut pada sehelai mega mendung dan sesekali menangkap bau malam, batik.<br /><br />Ibu tua berkerudung itu muncul lagi dihadapanku. Tapi kini ia pamit hendak pulang. Agak-agak merunduk sambil lalu di hadapanku ia pun tersenyum dan menepuk-nepuk halus tanganku sambil berkata, “cantik”<br /><br />“Cantikku memang untukmu”<br /><br />Hari ini, duapuluhtiga Mei.<br />Kita berjumpa lagi untuk yang ke delapan kali. Dengan kamu, tentunya, si lelaki penabur hujanku.<br /><br />Terduduk lagi berdua. Masih sama.<br />Kali ini menu kita shabu-shabu. Asik, nikmat berdua.<br />Kamu air putih<br />Perempuan mengudap sayur<br />Kamu mengunyah ikan<br />Perempuan mereguk es teh tawarnya<br /><br />Telepon berdering<br />Ada kabar baik, tentang kelahiran<br />Aiih, bahagianya.<br />Perempuan pembawa angin memakai kesempatan, mencuri-curi pandang<br /><br />pada sebaris alis yang menawan<br />…….menyenangkan<br /><br />Ugh, perempuan juga sempat mengumpat<br />Kesal, tentang BBM, BLT, ABC, XYZ, sambil makan. “Itulah negaramu,” perempuan menyalahkan lelakinya, yang kemudian dibalas dengan senyuman manisnya.<br /><br />Berlalu dari mangkuk panas shabu. Kita terduduk berdua pada deretan bangku biru. Kamu pada sisi kiri. Menatap tak henti. Mata lelaki penabur hujan dan perempuan pembawa angin beradu, rindu.<br /><br />Tatapan rindu, masih juga dengan senyuman malu-malu.<br />Rindu yang tak pernah lagi terucapkan. Seusai pertemuan ke tujuh kita yang dahulu. Yang tidak juga dikisahkan. Oleh perempuannya.<br /><br />Kita berbicara, perlahan. Berdua saja.<br />Tentang keinginan,<br />kerinduan,<br />angan,<br />sentuhan<br />dan hasrat.<br /><br />“Cantikku memang untukmu”<br /><br />Aku tersenyum dan membalasnya dengan berganti mengusap jemari ibu tua berkerudung itu hingga ia berlalu dari pandanganku.<br /><br />Aku ikhlas,<br />“Cantikku memang untukmu”<br /><br /></span><div style="text-align: right;"><span style="font-size:85%;">...........meski di waktu yang salah sekalipun.</span><br /></div><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-30722834595821500412008-05-22T15:09:00.003+07:002008-05-22T22:26:31.044+07:00glek!<span style="font-size:85%;">kupukupu tersedak<br /><br />glek!<br /><br />lalu tertembak<br /><br />m<br />a<br />d<br />u<br /><br />. .. ... .... ..... ...... ....... ........ c i n t a</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-65317760206008944222008-05-13T22:53:00.001+07:002008-05-14T09:50:32.150+07:00Terpalu Rindu<span style="font-size:85%;">1/<br />Tertindih<br />Pilu<br /><br />Dalam rindu<br /><br />2/<br />Tertatih-tatih<br />Malu<br /><br />Terbuang waktu<br /><br />3/<br />Terpalu<br />Ngilu<br /><br />Tersedu-sedu</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-76821479885845044232008-04-25T23:11:00.002+07:002008-04-25T23:21:34.426+07:00etalase tua<div style="text-align: center;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SBIDUqPmKWI/AAAAAAAAANY/V3MaOH7_Qi8/s1600-h/Untitled-1.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SBIDUqPmKWI/AAAAAAAAANY/V3MaOH7_Qi8/s400/Untitled-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193216973783574882" border="0" /></a><span style="font-size:85%;">[diana+]</span><br /><br /><br /><span style="font-size:85%;">etalase-etalase tua<br />di jalan cikini raya<br />cafe au lait, bakoel koffie<br />semuanya masih sama<br />seperti yang pernah kita pijak<br />setahun yang lalu </span><br /></div><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-52399136855750243172008-04-22T20:47:00.003+07:002008-04-22T21:00:07.782+07:00Krek-krek-krek<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SA3vQ6PmKSI/AAAAAAAAAM4/LbSxDun0X4k/s1600-h/Picture+005-3.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SA3vQ6PmKSI/AAAAAAAAAM4/LbSxDun0X4k/s200/Picture+005-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192069019219667234" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SA3vHaPmKRI/AAAAAAAAAMw/15Nnt_p5E4c/s1600-h/Picture+005-2.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SA3vHaPmKRI/AAAAAAAAAMw/15Nnt_p5E4c/s200/Picture+005-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192068856010909970" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SA3utqPmKQI/AAAAAAAAAMo/ifwvouIeVc8/s1600-h/Picture+005-1.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SA3utqPmKQI/AAAAAAAAAMo/ifwvouIeVc8/s200/Picture+005-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192068413629278466" border="0" /></a><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-61719294642070118472008-04-20T10:45:00.000+07:002008-04-24T10:51:53.210+07:00Tarot<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SBADCqPmKUI/AAAAAAAAANI/iI-RG4zQYHo/s1600-h/tarot.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SBADCqPmKUI/AAAAAAAAANI/iI-RG4zQYHo/s200/tarot.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192653714592508226" border="0" /></a><span style="font-size:85%;">Dear Vee,</span> <div><span style="font-size:85%;"> </span></div> <div><span style="font-size:85%;">Berikut bacaan tarot untukmu.<br /><br /></span></div> <div><span style="font-size:85%;"> </span></div> <div><span style="font-size:85%;">general:</span></div> <div><span style="font-size:85%;">Berdasar tanggal kelahiran, Vee orang yang biasanya lumayan beruntung dalam hal keuangan, bisa dibilang hampir tidak punya masalah yang berarti dalam keuangan, psati ada aja sumber keuangan pada saat sulit. Tapi dalam hidup sering sekali dihadapkan untuk membuat keputusan yang menjadi pilihan hidup. Orang dibawah angka ini suka diliciki oleh orang lain karena dianggap terlalu baik. Kamu orang yang menyukai semua jenis persatuan dan sayang dengan keluarga, suka hal2 yang berbau spritual. Lebih dari itu Vee juga orang ynag cukup disegani oleh sekitarnya. Orang yang cukup terbebani dengan ambisi sehingga kadang2 begitu tenggelam dengan pekerjaannya, mudah tertekan tapi sangat bertanggung jawab dan sangat dapat dipercaya. Orang2 dalam angka ini biasanya pernah mengalami suatu perpisahan/akhir yang sangat menyakitkan.<br /><br /></span></div> <div><span style="font-size:85%;"> </span></div> <div><span style="font-size:85%;">Waduh serius, kartu yang keluar bagus2, aku tidak bohong, gini nih<br /></span></div> <div><span style="font-size:85%;">kamu sekarang ini sebenarnya sedang dalam keadaan enak2nya, keberuntungan ada di pihakmu. Sekarang ini sedang menjalankan moto "work harder play harder", bekerja dan menikmati hidup dengan melakukan hal2 yang disenangi. Tapi hati2 ya non jangan terlalu boros. Btw, kamu bekerja sendiri atau untuk orang lain? Tapi apapun itu, di kartumu aku melihat adanya suatu proyek baru/bisnis yang menjajikan suatu keberhasilan, kamu akan dilimpahi suatu keuntungan besar. Tapi sorry nih bukan menggurui tapi ada kartu yang keluar sebagai nasehat untuk coba lebih religius/spiritual dan juga lebih memperhatikan/menjalin hubungan lebih erat dengan keluarga terdekat (pasangan, adik, kakak atau ortu)karena mereka juga yang akan memberi dukungan atas keberhasilanmu. Yang asik adalah aku juga melihat adanya perjalanan keluar negeri dan kedepannya kamu akan mendapatkan kedamaianmu sendiri serta siap menghadapi segala perubahan. </span> </div> <div><span style="font-size:85%;"> </span></div> <div><span style="font-size:85%;">So, mudah2an puas dengan bacaanku, kalau ada pertanyaan spesifik email aku aja.<br /><br /></span></div> <div><span style="font-size:85%;"> </span></div> <div><span style="font-size:85%;">bye,</span></div> <div><span style="font-size:85%;"> </span></div> <span style="font-size:85%;">paulina</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-54681756695663897502008-04-16T09:26:00.002+07:002008-04-16T09:57:31.291+07:00Sari yang serba terbatas<span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >Sari yang serba terbatas</span><span style="font-size:85%;"><br /><br />Anak perempuan itu muncul tiba-tiba. Tanpa berucap sepata kata ia letakan sepiring pisang goreng di atas meja kerjaku. Lalu kami saling berpandangan. Hening.<br /><br />“Ini terlalu banyak”, ucapku memancing pembicaraan. Ia hanya tersenyum lalu melangkah pergi.<br /><br />Anak perempuan itu bernama Sari. Lengkapnya Sari Fatmawati. Padahal sehari sebelumnya ia tidak berani masuk menemuiku seorang diri. Ia datang ditemani ayahnya yang adalah seorang penjaga kantor kami sambil membawa semangkuk kolak pisang buatan Ibunya.<br /><br />Tubuhnya kecil dan kurus. Rambutnya panjang, hitam. Sehitam warna kulitnya. Meski ia hitam tapi terlihat manis. Bola matanya besar. Bila ia sedang tertawa terbahak, maka deretan gigi putihnya akan menghiasi wajahnya yang hitam itu. Terlihat manis.<br /><br />Sari terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak lelakinya, sudah duduk di bangku sekolah menengah umum. Sedangkan adiknya, bocah lelaki yang berusia di bawah lima tahun. Sari sekeluarga tinggal pada sebuah bangunan kecil yang berada di dalam area perkantoran kami.<br /><br />Sari berumur sembilan tahun. Ia kini duduk di bangku kelas lima sekolah dasar negeri di daerah Tanah Tinggi. Sari menjadi murid yang berusia lebih muda satu tahun dibandingkan dengan kawan-kawan sekelas lainnya. Ia dilahirkan untuk tidak pernah merasakan dunia pendidikan taman kanak-kanak.<br /><br />Bukan karena ayahnya tidak mampu menyekolahkan Sari ke taman kanak-kanak. Melainkan karena Sari dianggap mampu untuk langsung melompat maju satu tahun. Tanpa basa-basi Sari langsung duduk di bangku sekolah dasar dan selalu berhasil meraih ranking tiga besar di kelasnya.<br /><br />“Alhamdulilah Bu, Sari anak yang pandai dan tidak pernah menyusahkan orangtuanya”, ucap ayahnya mengomentari anak perempuan semata wayangnya ini.<br /><br />Sari senang membaca. Tapi yang dibacanya bukan buku komik atau pun majalah anak-anak seusianya. Melainkan buku pelajaran sekolahnya. Karena Sari bukan terlahir dari keluarga berada yang mampu membelikan anak-anaknya bacaan yang bervariatif. Cita-citanya adalah ingin menjadi seorang bidan.<br /><br />Sari sempat bercerita bahwa ada seorang kawannya mendapat nilai sepuluh dipelajaran ilmu pengetahuan alam dan diilmu pengetahuan sosial.<br /><br />“Kok bisa?”, tanyaku.<br /><br />“Karena dia punya buku ajaib”, jawabnya ringan.<br /><br />“Buku ajaib?”, aku tertegun.<br /><br />Usut diusut. Ternyata kawannya memiliki buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap. Itulah buku ajaib yang Sari maksut. Ternyata banyak sekali soal-soal yang diberikan oleh gurunya diambil dari buku yang Sari bilang ajaib itu.<br /><br />Kemudian aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko buku. Esoknya aku berikan buku ajaib tersebut pada Sari. Masih terbungkus plastik tapi Sari langsung tersenyum. “Terima kasih Ibu”, sambutnya riang. Dan berlalu dari hadapan.<br /><br />Aku intip perlahan. Buku ajaib itu langsung dibukanya secara tergesa-gesa. Seperti anak yang sedang kehausan, seakan tidak sabar menanti turunnya hujan. Dilahapnya seperti sedang kelaparan. Sambil tiduran di atas ranjang besi, satu-satunya tempat tidur yang mereka miliki.<br /><br />Sehari-hari Sari selalu membantu pekerjaan Ibunya di rumah. Seperti mencuci pakaian atau pun menjaga adiknya yang masih kecil. Aku pernah mendapati ia sedang mencuci pakaian. Seru sekali melihat anak sembilan tahun ini bermain air dengan baju-baju cuciannya. Seluruh tubuhnya basah, dari kepala sampai ke kaki. Aku geleng-geleng kepala.<br /><br />“Ini siapa yang sedang dicuci, Sari atau pakaiannya?”, tanyaku. Anaknya hanya tertawa saja.<br /><br />Ibu Sari adalah seorang ibu rumah tangga. Untuk mencari penghasilan tambahan keluarga, Ibu Sari membuat macam-macam kue dan nasi. Sari sering membantu Ibunya berdagang kue keliling seusai pulang sekolah. Tanpa malu, tanpa rasa malas, Sari menjajakan kue buatan Ibunya di sepanjang jalan raya menuju sekolahnya di daerah Tanah Tinggi. Bahkan aku pernah melihat ibu dan anak itu menarik-narik dus mainan untuk dijajakan di pinggir jalan raya depan.<br /><br />Bila sore telah tiba. Sari akan membawa adik kecilnya bermain di depan teras kantor. Di saat-saat seperti ini sering aku pergunakan untuk berbincang-bincang dengannya. Apa saja. Entah tentang teman-teman, guru atau pun tentang pelajarannya di sekolah. Bahkan kami pernah bermain sepeda bersama.<br /><br />Sepeda itu dibeli dari hasil tabungan Sari sendiri. Ayahnya pernah berjanji bila Sari dapat menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh lamanya maka ayahnya akan menambah isi tabungan Sari agar dapat cukup untuk dibelikan sepeda yang selalu diinginkannya selama ini.<br /><br />Sebuah sepeda bekas mini. Ada keranjangnya di depan. Dudukan tiang sepedanya dipasang pendek karena Sari memang belum tinggi-tinggi amat. Meski bekas tapi tak pernah hilang bekas senyuman wajah anak perempuan sembilan tahun itu bila sedang mengayuh sepedanya kuat-kuat. Apalagi ketika kerepotan memboncengi aku yang berat, tawanya semakin lepas.<br /><br />Bila liburan tiba. Sari kerap menghabiskan masa liburan di rumah neneknya yang juga masih satu wilayah dengan sekolahnya, Tanah Tinggi. Alhasil bila mendapat tugas mengarang bertema liburan, Sari tidak pernah antusias mengerjakannya. Karena Sari tidak pernah menikmati masa liburan sekolahnya di luar kota atau berlibur bersama keluarga di tempat-tempat rekreasi.<br /><br />Suatu saat ketika Sari sedang di rumah, kudapati ia sedang makan. Ada yang menarik perhatianku. Sari terlihat menggunakan pisau dapur di tangan kiri dan garpu di tangan kanannya. Ada sepiring nasi dan telur dadar di hadapannya.<br /><br />“Kok makan pakai pisau?”, tanyaku heran.<br /><br />Malu-malu ia menjawab, “Iya, ingin coba jadi anak orang kaya seperti di sinetron, makan pakai garpu dan pisau.”<br /><br />Lalu aku tertawa. Tepatnya mentertawakan pisau yang digunakan oleh Sari. Itu adalah pisau dapur yang kerap digunakan Ibunya untuk memotong sayuran dan daging. Ada-ada saja anak ini, begitu pikirku.<br /><br />Sari. Adalah satu dari sekian ribu anak Indonesia yang pintar dan berprestasi. Tapi tidak memiliki banyak kesempatan untuk dapat menikmati dunia anak-anak selayaknya. Sari yang senang membaca tapi tidak punya banyak pilihan buku untuk dapat dibaca. Sari yang gembira bila hari liburan telah tiba tapi menjadi tidak bahagia bila harus menuliskan kisah hari-hari liburnya pada pelajaran mengarang karena Sari tidak pernah berpergian.<br /><br />Tiba-tiba anak perempuan itu muncul di hadapanku lagi. Tapi kali ini dengan segelas es buah di tangannya. Ia mengejutkan aku. Begitu lagi. Tanpa banyak bicara ia sodorkan gelas tersebut ke hadapanku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebiasaannya yang kerap mengejutkan aku meski memang tanpa ia sadari juga tentunya.<br /><br />“Buat Ibu!”, ucapnya singkat.<br /><br />Kemudian ia duduk diam di sampingku. Masih di teras kantor. Sore hari. Kulirik sekilas, ia sedang sibuk mengucek-ngucek matanya yang ternyata baru bangun tidur. Lalu kuaduk isi gelas. Ada potongan-potongan buah papaya, nanas dan serutan timun suri. Kulirik lagi ke arah Sari. Ia masih juga diam. Seperti biasa. Memandang lurus ke depan pada sebuah bangunan supermarket yang besar, tepat di hadapan kami berdua. Entah apa yang sedang dipikirkannya.<br /><br />Suatu ketika pernah terjadi di dalam sana, pada bangunan supermarket yang besar itu, Sari dengan segala keterbatasannya lebih memilih kamus bahasa Inggris ketimbang komik Doraemon yang selalu menggoda kebanyakan anak-anak seusianya. Ya, itulah Sari yang selalu berjuang melawan keterbatasannya, agar dapat penuh hidupnya dengan caranya sendiri.<br /><br />(Tulisan ini dibuat untuk tugas penulisan PROFIL, <a href="http://www.kelasmenulis.com">Kelas Menulis</a> NonFiksi 12 April - 16 Mei 2008)</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-30775871348398542262008-04-14T22:35:00.003+07:002008-04-16T09:25:05.443+07:00e-mail<span style="font-size:85%;">Heeei, wanna see my first shoot?<br /><br />Hehehe, tapi ancuuur lebuuuur gituuuuuu. Serem banget deh pokoknya but it's fun!<br /><br />Awalnya trauma abiiis, kok gitu siih jadinya? Katanya "dont think just shoot" aja, eh tapi ternyata ga segampang itu juga. Finally akhirnya ketawa-ketiwi juga sih, lucuu aja ngeliat hasilnya.<br /><br />Kocak, ada yang item abis, ngeblur, sampe abu-abu gitu. Bahkan ada satu kotak foto terisi dua gambar. Mungkin ini dikarenakan blum becus muterin roll filmnya kali yaaa, secara manual gitu kan?<br /><br />Bunyinya gini nih kalau lagi diputer : krek-krek-krek-krek dan kita kudu extra micing-in mata biar ga kelewetan angka filmnya.<br /><br />Next week hunting lagi, cari tempat yang teraaaaaang benderaaaaaang. Kata Satria, dedengkot lomo, musti cari yang sarat cahaya terik. Gilaaaaak, masa kudu mengunjungi ancol di tengah siang bolong?<br /><br />Cheers!</span><br /><br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SAN8ViW0y1I/AAAAAAAAAMc/nHjJ_shgkfU/s1600-h/1_357653909l.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SAN8ViW0y1I/AAAAAAAAAMc/nHjJ_shgkfU/s200/1_357653909l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189127905102580562" border="0" /></a><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-17356201098281181852008-04-13T22:30:00.007+07:002008-04-14T00:07:49.860+07:00Don't think, just shoot!<span style="font-size:85%;">Siang ini, usai capoeira, aku main ke Heyfolks Lomoshop.<br /><br />Belanja empat roll film, satu black white, tiga color. Eh asik aku dapat satu film color yang expired. Lumayan, bisa berhemat 5000 perak.<br /><br />Aku beruntung sekali. Di sana aku bertemu Satria Ramadhan, dedengkotnya Lomoshop. Orangnya ramah, bae. Mau ngajarin aku bagaimana caranya menggunakan si Diana+ ini meski aku ga beli di sana. Aku beli Diana+ di toko buku Aksara Plasa Indonesia, Jumat malam yang lalu. Dan Satria juga menjelaskan apa bedanya si Diana dengan jenis kamera Lomo lainnya, seperti si Holga atau si Fisheye misalnya.<br /><br />Meski ga terlalu paham dengan penjelasannya, mungkin belum tepatnya, aku tetap pesan satu Holga yang multicolor. Ga nahan lihat warna bodynya Holga multicolor heuy, hehehe, sexy cute abis.<br /><br />Keluar dari Heyfolks, langsung nyari tempat hunting. Karena belum makan siang, kayaknya asik nih kalau makan siang menjelang sorenya di restaurant alam terbuka. Maksutnya buat sekalian testing-testing Diana+ku.<br /><br />Nongol-nongolnya di Alam Sutra Serpong.<br />Buset daah!!!<br />Yang secara toko Heyfolks itu adanya di Mayestik Jakarta Selatan.<br /><br />Di Serpong aku menghabiskan dua roll film color. Cetak-cetek-cetak-cetek. Ga berasa motret. Kayak motret bo'ong-bo'ongan gitu. Mana tuh kamera bobotnya super duper ringan. Secara terbuat dari plastik. Inget ga dengan mainan masa kecil kita dulu yang berbentuk kamera-kamera'an trus kalau dipencet-pencet bisa ngeluarin air. Nah persis deh tuh, seperti itulah wujud si Diana+ ini.<br /><br />Karena sudah sore dan agak-agak mendung, aku stop motret. Ingat, Diana+ ku ini bukan Diana F+ yang ada flashnya. Padahal sih gatel banget pengen motret terus.<br /><br />Pulangnya aku mampir ke Fuji Image Matraman. Roll film medium formatku ditolak. Akhirnya pindah ke Adorama Menteng, fiuuh, di sana roll film medium formatku diterima dengan senang hati. Bahkan langsung disergap, "Lomo yah mbak?" Dan Diana+ ku akhirnya ditimang-timang oleh salah satu pegawainya. "Seperti barang mainan", katanya lugu.<br /><br />Ternyata selain aku, ada yang sedang mencuci cetak dengan film medium format juga. Entah pakai Lomo type apa tapi aku sempat melihat hasil jepretannya. Lucu-lucu. Bak sampah dipotret, ada pohon, juga foto dirinya meski cuma satu, selebihnya lagi aku lupa. Dan akhirnya aku jadi deg-deg'an ingin lihat hasil jepretanku yang pertama ini seperti apa. Mungkin lucu-lucu juga, karena tadi aku sempat juga motret daun, sepatu sendiri dan poster film bioskop. Oh iya, aku juga ada motret mobil polisi yang sedang membawa anjing golden. Asik kan?<br /><br />Makan. Di lantai dua gedung Adorama Menteng, Thamnak Thai. Enak sih tapi ga tenang, ingin buru-buru turun lagi ke Adorama. Gara-gara Lomo!<br /><br />Usai makan, buru-buru turun ke Adorama.<br /><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SAIxYCW0y0I/AAAAAAAAAMU/oVLwvyOUXWI/s1600-h/Picture+004.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SAIxYCW0y0I/AAAAAAAAAMU/oVLwvyOUXWI/s400/Picture+004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188764009703459650" border="0" /></a><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SAIw5iW0yzI/AAAAAAAAAMM/H5YYdRqgeIc/s1600-h/Picture+003.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/SAIw5iW0yzI/AAAAAAAAAMM/H5YYdRqgeIc/s400/Picture+003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188763485717449522" border="0" /></a><br />Hueks, aku bengong-ngong-ngong-ngong-ngong dot com lalu menyeringai.<br />Katanya DON'T THINK, JUST SHOOT?!<br />Kok jadi beginiiiiii?<br /><br />Ooh nooooo, aku trauma berat!!!<br />Lihatlah hasil jepretan-jepretan pertamaku, hiks. Cakep beneeeer. Seumur hidup belum pernah aku gagal dalam memotret. Tapi kali ini, aku gagal total. Banyak yang gagal, item, abu-abu dan bubar gitu warna gambarnya. Atau ada satu film isinya bisa dua gambar. Mungkin ini kurang pas waktu menggeser roll filmnya, secara manual sih, krek-krek-krek gitu bunyinya.<br /><br />SMS 911 (buat Satria sih maksutnya) : Pakai Lomo ternyata ga gampang yah mas?<br />SMS balasan dari 911 Mr. Satria : Iya, harus sarat dengan cahaya terik dan jangan goyang<br /><br />Yah sudahlah, untuk sementara trauma ini aku kesampingkan dulu karena aku masih ada urusan lain : pekerjaan rumah dari Endah Soekarsono yang belum aku buat. Menulis profil, dengan deadline Rabu besok tgl 16. Hiks! Masih juga belum tau mau wawancara siapa.<br /><br />Anybody homeeeeee .......</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-53844763484804538812008-04-12T16:30:00.000+07:002008-04-18T16:36:54.831+07:00Selamat datang di Kelas NonFiksi<span style="font-size:85%;">Halo!<br /><br />Selama sebulan kita akan berlatih menulis nonfiksi. Nonfiksi adalah jenis tulisan yang berbicara tentang manusia, tempat, isu dan situasi. Anda mungkin pernah membaca tulisan tentang tanaman, ulasan kesehatan, atau terapi bagi penyandang autis. Ya itu adalah contoh tulisan nonfiksi.<br /><br />Di kelas ini kita akan belajar bagaimana menulis nonfiksi, dengan struktur tulisan yang baik dan nikmat dibaca. Tujuan kegiatan ini adalah agar Anda dapat mengembangkan gagasan menjadi tulisan, mengenal teknik menulis, dan dapat menghadirkan tulisan yang nikmat dibaca. Faktor pembaca perlu menjadi pertimbangan karena Anda menulis tentunya untuk dibaca orang lain, bukan? (kecuali bila Anda menulis diari).<br /><br />Dengan keterampilan ini, Anda bisa menghasilkan tulisan berkelas: Menjadikan blog Anda lebih punya daya baca (dan ada sesuatu yang bisa diambil oleh pembaca), membuat tulisan untuk newsletter kantor, atau mungkin membuat buku?<br /><br />Di kelas ini kita akan belajar beberapa jenis nonfiksi:<br /><br />1. Pofil:<br /><br />Ada orang yang mempunyai kehidupan yang unik. Misalnya saja, saya pernah menulis tentang dokter spesialis yang membuka praktik di kaki gunung. Baca http://www.kelasmenulis.com/Endah/2007/03/dokter_spesialis_di_kaki_gunun.html.<br /><br />Dalam tulisan itu diketengahkan siapa dokter itu dan apa yang dilakukannya, yang membuatnya berbeda dari orang lain. Ada deskripsi tentang si dokter dan ada deskripsi saat praktik. Saat menulis, saya berkunjung ke rumah Pak Dokter untuk menyerap dan mengamati situasi, dan mewawancara Dokter Mulawarman dan istrinya, serta para pasien. Yang unik, para pasien berbahasa Sunda yang tidak saya pahami. Istri Pak Dokter membantu saya sebagai penerjemah. Sekalipun kami berbeda bahasa, saya meyakinkan para pasien itu bahwa saya berempati terhadap penderitaan mereka, melalui tatapan mata dan ekspresi wajah saya.<br /><br />Di kelas ini Anda akan ditugasi mewawancara seseorang di lingkungan dekat Anda. Pertama, pikirkan apa hal menarik dari orang tersebut yang ingin Anda sampaikan kepada orang lain (misalnya, pembantu Anda yang jutek terhadap tamu tetapi setia kepada Anda).<br /><br />2. Laporan peristiwa<br /><br />Ada masalah yang sedang jadi pembicaraan? Misalnya, kasus Porong bisa memberi inspirasi kepada kita untuk membuat laporang tentang pengungsian Porong, kasus TKI yang mencoba gantung diri (maaf) bisa kita jadikan momen untuk mengunjungi agen PJTKI.<br /><br />Mungkin pula isu itu hanya ada di sekitar kita saja. Misalnya, reportase saat arisan di RT. Saya tidak pernah menuliskannya, tapi saya pikir banyak kejadian lucu saat arisan RT (ibu-ibu yang berkelompok, bisik-bisik, jualan sprei, diam-diam memendam harapan untuk mendapatkan arisan, Bu RT yang mengomel karena banyak ibu yang tidak hadir, dan sebagainya). Mungkin pula saat arisan keluarga (yang kebanyakan dihadiri oleh para sesepuh, karena generasi remajanya menganggap acara itu tidak penting ). Yang penting adalah deskripsi!<br /><br />Contoh deskripsi peristiwa yang pernah saya tulis adalah menjelang peringatan setahun Tsunami Aceh. Baca di http://www.kelasmenulis.com/Endah/2007/02/aceh_pun_beudoh.html<br /><br />Dalam tulisan itu saya mengunjungi Banda Aceh dan mewawancarai orang-orang yang bisa saya gapai dalam tiga hari. Misalnya, pengemudi mobil sewaan, anggota LSM, dan orang-orang di desa.<br /><br />Nanti Anda pun akan berlatih menuliskan laporan peristiwa. Peristiwanya boleh sederhana (misalnya, acara senam bersama), tetapi Anda harus membuatnya jadi menarik untuk dibaca.<br /><br />3. Isu<br /><br />Setiap hari beredar isu baru. Minyak tanah langka, keresahan orang tua menjelang tahun ajaran baru, tren menjalankan sekolah rumah, dan lain-lain.<br /><br />Sebuah isu menuntut wawasan dan riset. Agar tidak kering, kita harus masuk ke dalamnya. Misalnya saja, saya tidak berani menulis tentang kosmetik, karena saya tidak suka berdandan. Namun, saya akan dengan bersemangat menulis tentang pendidikan anak usia dini karena saya bergelut dengan lembaga balita. Tulisan saya yang berkaitan dengan isu adalah http://www.kelasmenulis.com/Endah/2007/02/mencari_sekolah_untuk_totto_ch.html.<br /><br />Untuk menulis "Totto Chan" saya melakukan riset sedehana, baik observasi maupun kepustakaan.<br /><br />Nah nanti pilih satu isu yang melekat dengan diri Anda, dan tuliskan. Bisa tentang dunia kerja, bisa tentang peran sebagai ibu dari anak autis, bisa apa saja. Yang penting, harus ada referensi pendukung, observasi, dan pengalaman pribadi.<br /><br />4. Menulis how-to<br /><br />Tulisan ini mirip dengan isu, tetapi dikemas dalam tahapan cara melakukan sesuatu. Misalnya saja saya pernah menulis<br /><br />Banyak hal menarik untuk dijadikan tulisan how-to. Memasak menu tertentu? Belajar mencintai dapur? Menghadapi anak autis? Kelak kita akan belajar bagaimana menulis how-to yang deskriptif tapi (ini yang penting) tidak menggurui.<br /><br />Itu adalah gambaran tentang kelas kita. Selamat menulis.</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-9579262512110136582008-04-12T16:25:00.000+07:002008-04-18T16:38:39.910+07:00Tugas I: Menulis Profil<span style="font-size:85%;">Profil merupakan tulisan mengenai diri seseorang. Tulisan ini mungkin Anda perlukan untuk blog, newsletter, ataupun buku Anda. Dengan tulisan profil, Anda dapat membuat tulisan Anda lebih dekat ke pembaca.<br /><br />Untuk tugas ini, pilih seseorang untuk Anda wawancarai. Tak perlu jauh-jauh, carilah orang di dekat lingkungan Anda.<br /><br />Dari orang itu, pikirkan hal apa yang menarik dari dia. Misalnya saja, seorang pembantu rumah tangga yang tak ramah pada tamu tapi setia pada majikan.<br /><br />Cobalah gali riwayat hidupnya, dan cari adakah data yang dapat mendukung persepsi Anda mengenai "kejudesan" dan "kesetiaan" itu. Misalnya, mungkin pembantu itu sulit percaya pada orang baru karena pernah mengalami tekanan dalam hidup (misalnya, kawin paksa).<br /><br />Amati mimiknya, gaya berpakaiannya, dan aksen suaranya, juga perilakunya. Misalnya, apakah dia menatap mata Anda ketika berbicara? Apakah dia ragu bercerita tentang dirinya, karena sebelumnya mungkin tak pernah ada kesempatan untuk membuka diri?<br /><br />Lalu, ketika menulis, dari mana memulainya? Pilih satu hal yang paling menarik dari data yang Anda peroleh. Ingat, bagian awal itu penting. Ia tidak hanya menyiratkan isi seluruh tulisan, tapi juga jadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan atau tidak.<br /><br />Dalam menulis, padukan antara deskripsi dan perkataan langsung dari tokoh itu.<br /><br />Panjang tulisan sekitar 500-1.000 kata. Tapi ini tidak mutlak. Anda bisa menulis lebih panjang sedikit, atau kurang dari itu. Yang penting adalah: pesan Anda sampai kepada pembaca.<br /><br />Contoh-contoh profil yang pernah ditulis di KelasMenulis adalah Oemi Ichsanijah: Tetap Aktif di Usia Senja, Mar yang Serba Bisa, Ia Biasa Dipanggil Jelita.<br /><br />Mudah-mudahan menjadi tugas yang menyenangkan.... Selamat mengobrol dengan seseorang yang inspiratif, dan selamat menulis.<br /><br />Tulisan Anda saya tunggu sampai dengan 16 April 2008. Pada tanggal 17 April Anda memberi komentar terhadap tulisan teman-teman di kelompok ini, dan pada tanggal 18 April saya akan memberi reviu.<br /><br />Salam<br /><br />endah</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-14658253468223643312008-04-11T22:49:00.006+07:002008-04-22T22:07:35.524+07:00Say hello to my first lomo, diana+<div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;">We don't think, just shoot!<br /></span></div><span style="font-size:85%;"><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R_-IzxGwL4I/AAAAAAAAAL8/UFIbgy_hnm8/s1600-h/lomo_diana.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R_-IzxGwL4I/AAAAAAAAAL8/UFIbgy_hnm8/s200/lomo_diana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188015718690467714" border="0" /></a><br /></span><div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;">http://lomonesia.multiply.com/<br />www.friendster.com/lomonesia<br />lomonesia@yahoogroups.com<br /><br /></span><script language="JavaScript" type="text/javascript"> <!-- document.write( '<span style="\'display:">' ); //--> </script><span style="display: none;">This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it <script language="JavaScript" type="text/javascript"> <!-- document.write( '</' ); document.write( 'span>' ); //--> </script></span><div style="text-align: left;"><span style="font-size:85%;"><a href="http://www.aksara.com/contact-us.html">(ak.'sa.ra) Plaza Indonesia</a><br />Plaza Indonesia, LB. Unit 41-42A<br />Jl. M.H Thamrin Kav 28-30<br />Jakarta 10350.<br />Telp&amp;Fax : 021-3107711<br />Email : info@aksara.com<br /><br /><a href="http://heyfolks.multiply.com/">Heyfolks Lomoshop</a><br />Jalan Bumi No. 17<br />Mayestik, Jakarta Selatan</span><br /><span style="font-size:85%;">Telp : 021-93150452/0818496654<br /><br /><br /></span></div></div><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">The Grand History of the Diana Camera</span><br /><br />Back in the 1960’s, a small firm in Hong Kong – the Great Wall Plastics Factory – created a dirt-cheap 120 camera called the “Diana.” Crafted entirely of plastic, each camera cost about a dollar. As a mainstream product, the Diana was pretty much a failure – and was discontinued in the 1970’s. But like any superstar cut down in their prime, the Diana’s posthumous appeal skyrocketed. As a cult artistic tool of avant-garde and lo-fi photographers, it was a rousing success! They loved its soft &amp; dreamy images, super-saturated colors, unpredictable blurring, and random contrast. Diana shots are raw &amp; gritty, with a character all their own. They simply cannot be duplicated by any other camera on Earth! In short order, the Diana rose to prominence as one of the most treasured and sought-after cult analog cameras from the late 70’s onward.<br /><br />The Diana+ Camera<br /><br />Ever look at a majestic classic car and wish that you could walk down to the dealership and pickup such a beauty brand new? That’s pretty much sums up our feelings when we came across the Diana. Who could resist the charms of its plastic body? How could you not absolutely love its lo-fi masterpiece photos? Something this beautiful, this classic, and this crucial to the world of analog photography shouldn’t have suffered such an early demise. And since we had the means, the knowledge, and the opportunity to rebuild the Diana from the ground up (with a few extras tossed in) - the Lomography Diana+ was born in 2007. The Diana’s original charms (radiant color-dripping lens, soft-focus surprises, all-plastic body, dead-simple shutter) were expertly duplicated to provide the authentic look n’ feel of the original. On top of that, brand new Pinhole &amp; Endless Panorama features were added into the mix – thereby paving the way for an entirely new class of Diana images and techniques!<br /><br />Specs Overview<br /><br />Film format: 120<br />Size: 5” x 3.75” x 3” (12.5cm x 9.5cm x 7.6cm)<br />Variable shutter (daytime &amp; “B” for unlimited long exposures)<br />12-shot (5.2x5.2cm), 16-shot (4.2x4.2cm), and endless Panorama (4.6x4.6cm) formats<br />Removable lens for super-wide-angle pinhole shots<br />2 Year International Warranty</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-33302615454711325722008-03-29T14:28:00.000+07:002008-03-29T14:29:29.015+07:00Lelaki Cinema Paradiso<span style="font-size:85%;">Lelaki Cinema Paradiso<br />: buset<br /><br />1/<br />Saya ingin menonton bioskop lagi. Begitu kalimat pertama yang saya temukan.<br /><br />Tapi dengan tempat duduk yang nyaman. Tak perlu empuk. Cukup biarkan saya menyandarkan punggung ke kursi dengan kaki nangkring di atas sandaran kursi di depannya.<br /><br />Hap-hap-hap!<br /><br />Saya membacanya sampai tuntas. Bacaan yang panjang tapi cukup menyenangkan. Kenangan masa kecil seseorang, yang senang nonton bioskop.<br /><br />Sekali saya baca lalu dua kali saya baca lagi. Ups, tiga kali bahkan. Meresapi kebahagiaan dari sepotong kenangan kecilnya.<br /><br />Bioskop Aladin<br />Poster-poster film<br />Mobil bioskop keliling<br />Rhoma Irama<br />Film India<br />Aih, ada film China ngamuk juga<br /><br />2/<br />Saya ingin menonton bioskop lagi, dengan suasana yang khas, begitu sambungnya.<br /><br />Tidak di bioskop papan atas yang tertib dan santun, yang sebuah siulan menyambut kedatangan sang jagoan bisa membuat seisi bioskop mengeluh.<br /><br />Film WARKOP<br />…..dengan penampilan pemainnya yang kamu bilang :huh! Itu<br />Walisongo<br />Gita Cita dari SMA<br />Catatan si Boy<br />Si Roy<br /><br />Tapi tidak untuk film-film midnight yang adalah jatah orangtuanya<br /><br />Tidak juga luput dari matanya : Serangan Fajar, Robert Wolter Monginsidi, Pengkhianatan G30S/PKI hingga Operasi Trisula.<br /><br />3/<br />Menonton bioskop bagai pesta baginya. Ketika ruangan sudah menjadi gelap. Punggung disandarkannya ke kursi. Kaki pun sudah nangkring. Tidak ketinggalan pula asap rokoknya. Pukul 21.00. Itulah waktu yang dia suka. Sepi. Tidak berisik. Begitulah bagian dari asiknya pesta yang tengah dinikmatinya. Hening.<br /><br />Bioskop Subur dan juga Sanjaya. Ho-ho-ho masih juga film China ngamuk. Membolos sekolah dan pergi ke kota sebelah. Di sana ada bioskop Maya, bioskop murah katanya. Bioskop Dewi, ada di dekat alun-alun kota.<br /><br />Tapi tetap tidak tergantikan. Kenangan indah masa kecilnya telah teresap oleh Aladin. Seminggu sekali dia masih datang ke sana.<br /><br />4/<br />Zaman sudah berubah, katanya.<br />Rental VCD<br />DVD<br />…..hingga hunting ke Ratu Plaza, Glodok atau Mangga Dua.<br /><br />Tapi dia tetap juga tidak berubah. Menonton film di rumah tak kalah menyenangkan, tuturnya.<br /><br />Hingga ke film-film festival.<br /><br />Cinema Paradiso, film yang indah. Mengingatkannya pada bioskop di kampungnya, Aladin, bagian dari kenangan masa kecilnya. Aladin yang kini sudah mati tergantikan fungsinya menjadi minimarket.<br /><br />Zaman memang sudah berubah, begitu katanya lagi. Dan keinginan itu masih juga tetap ada : “saya ingin nonton bioskop lagi”<br /><br />5/<br />Kini. Kupanggil dia : Lelaki Cinema Paradi</span>so<div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-30309599233434129432008-03-24T22:00:00.003+07:002008-03-24T22:06:01.849+07:00My Playground<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R-fDTeKV_4I/AAAAAAAAALw/qASbi45DhyE/s1600-h/Image013.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R-fDTeKV_4I/AAAAAAAAALw/qASbi45DhyE/s320/Image013.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181324635594424194" border="0" /></a><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-12649361465902651972008-03-24T21:35:00.002+07:002008-03-24T22:42:34.450+07:00<span style="font-size:85%;">Bosan, ngantuk dan malas makan. Katanya saya sedang terkena syndrome rindu akut nomor 3. Ngawur!<br /><br />Menjadi penjual batik seorang diri, lumayan melelahkan. Capek ketika harus melipat kembali semua batik-batik itu yah karena sendirian.<br /><br />Setelah dua minggu absent berolahraga, pundak kanan atas terasa sakit. Kaku. Mungkin tadi kurang pemanasan.<br /><br />Blog saya jelek. Bahkan lebih dari itu. Terlihat bodoh.<br /><br />Dewi Uban, Opera Lima Babak. Maaf, tidak juga menolong. Tetap saja masih bosan.<br /><br />Tukang jahit sedang renovasi rumah dan kelas menulis masih harus menunggu bulan depan. Kapan minggu depannya?<br /><br />Ih, ngeri banget ...<br /></span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-42612880801677806192008-03-15T13:31:00.003+07:002008-03-15T14:11:58.321+07:00Potongan titikhujan<span style="font-size:85%;">Lelaki: atas dasar apa tuhan menghukum kamu, apa kamu pikir tuhan jahat?<br />Perempuan: karena saya bukan anak yang baik<br />Lelaki: apa kamu juga bagian hukuman tuhan buat saya? soalnya, saya juga bukan anak baik<br /><br />[April 2006]<br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-13365958158961635772008-03-15T00:19:00.002+07:002008-03-15T00:27:10.856+07:00Cemburu<span style="font-size:85%;">terdiam aku terpaku<br />pada banyak kata<br />yang tak lagi<br />mampu kuungkapkan<br /><br />apalagi pada kata-kata<br />yang akan kau torehkan<br />kelak, meski<br />tidak pada sembarang tempat<br /><br />semua mata akan tertuju<br />dan tentu<br />pasti<br />aku akan cemburu</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-82665199895572787032008-02-28T21:26:00.002+07:002008-02-28T21:32:57.603+07:00Tersesak bulan Februari<div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Tersesak bulan Februari</span><br />Vera Ernawati<br /><br />ada bulan muncul di semat hati<br />setengah meluruh<br />setengahnya lagi melepuh<br /><br />ada air mata dan senyum<br />di antara sesak Februari<br /><br />[Godila, 3 Januari 2008]<br /></span></div><span style="font-size:85%;"><br /><br />*Edisi cetak "<a href="http://www.majalahchange.com">Change Magazine</a>"<br />CM-Edisi 1/02/08 "Change Your Valentine"</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-89488207133534955582008-02-24T09:49:00.000+07:002008-02-24T09:51:35.378+07:00Cerita dari Kairos<span style="font-size:85%;">Namanya Dwi, agak chubby, anak lakilaki dari kelas 4 sekolah dasar Kairos Gracia School. Beratnya 47.5 kilo, begitu penuturannya tanpa ditanya. Kamu pasti suka makan, ucapku kembali. Ayahnya memang gemar membeli makanan di malam hari, tidak hanya kwetiau tapi bakmi dan juga martabak manis. Hmm, kebiasaan buruk sejak dini begitu pikirku. Tanpa jeda, Dwi melanjutkan lagi pembicaraan. Tapi ada untungnya juga loh miss kalau berat saya 47.5 kilo, ucapnya tenang. Loh, kenapa memangnya?, tanyaku penasaran. Biar saya bisa <span style="font-style: italic;">niban</span> miss kalau sedang main capoeira, jawabnya malu-malu tapi pasti. Gleg !!! - disusul dengan tatapan melongo dari saya. Ayoo turun roda, sahut saya. Kalau sama miss saya mau, tuturnya. Kemudian saya tarik tangannya tapi tidak jogo dengan saya. Saya serahkan pada Jojo. Nyari aman daripada ditiban Dwi, gitu pikir saya usil.<br /><br />Lain Dwi, lain lagi Brenda. Juga masih anak kelas 4. Ternyata temannya Dwi. Brenda anak perempuan yang kurus, pendiam dan wow saya senang sekali dengan rambutnya yang hitam dan tebal. Ini baru saja dipotong biar terlihat lebih tipis, ucapnya. Entah kenapa, Brenda senang sekali dekat-dekat dengan saya. Padahal kami baru berucap beberapa kata saja. Tanpa sungkan, Brenda langsung mengambil posisi di samping saya ketika Jojo memulai membentuk lingkaran roda. Kamu langsung pulang setelah ini?, tanya saya mencoba untuk akrab di tengah roda berlangsung. Belum, masih ada bibel, jawabnya singkat. Bible, belajar alkitab?, susul saya cepat. Lalu Brenda bengong dan saya pun ikutan bengong. Sepertinya ada yang misscom pikir saya. Bukan, jawabnya cepat, seperti IPS dan macam-macam, sambungnya lagi. Ooh bibel itu bimbingan belajar yah, belajar IPS, matematika dan campur-campur gitu toh, lalu saya terkekeh-kekeh sendirian. Iyah, jawabnya sambil tersenyum. Beda jaman beda istilah.<br /><br />Ketika kelas akan berakhir, kedua anak itu masih saja berebutan ingin berdiri di samping saya. Ada juga beberapa anak perempuan lainnya. Meski masih terlihat malu-malu tapi sudah mulai menunjukan ingin dekat-dekat. Padahal baru satu kali bertemu dan hanya dalam hitungan satu jam saja. Brenda pamit dengan senyumannya meski bibirnya terkatup rapat tapi matanya yang malu-malu itu berbicara banyak.<br /><br />Teman saya, Jojo, berdarah Ambon, kerap kali dipeluk-peluk oleh beberapa anak lelaki. Terkadang Jojo terlihat seperti gula-gula di mata saya. Si Ambon manise ini bagaikan gula yang sedang dikerubuti oleh pasukan semut-semut kecilnya. Koko Joni-koko Joni, begitu anak-anak memanggil dirinya. Sedangkan saya sendiri? Miss-miss….Aih, yang ada saya celingak-celinguk. Bingung. Ternyata mereka memanggil saya dengan sebutan miss. Terima kasih manis-manis.<br /><br />*** Satu jam bersama Macaquinho, capoeira class di Kairos Gracia School 23/02/08</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-55032345448621013272008-02-06T11:01:00.000+07:002008-02-06T11:20:28.418+07:00Asal-Usul Tahun Baru Imlek<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6k1Uq_s3HI/AAAAAAAAAKE/OkGK4OyEsQE/s1600-h/kids.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6k1Uq_s3HI/AAAAAAAAAKE/OkGK4OyEsQE/s200/kids.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163717077012110450" border="0" /></a><br /><br /><br /><br /><br /><span style="font-size:85%;"><br /><br /><br /><br /><br />Malam tahun baru Imlek adalah malam istimewa bagi orang-orang Cina di seluruh dunia. Biasanya pada malam itu semua anggota keluarga berkumpul dan diadakanlah perjamuan makan besar. Perjamuan pada malam tahun baru disebut Nian Ye Fan atau Tuan Yuan Fan. Tentunya di dalam perjamuan makan tsb semua orang atau anggota keluarga berbagi cerita tentang kebahagiaan dan keberhasilan mereka.<br /><br />Tahun Baru Imlek adalah salah satu hari raya Tionghoa tradisional, yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender Tionghoa. Dan hari raya Tahun Baru Imlek pada tahun ini jatuh pada tanggal 7 February 2008.<br /><br />Pada hari raya Imlek orang-orang tua mempunyai kebiasaan membagikan angpau kepada anak-anak dan anggota keluarga yang belum menikah. Selain kebiasaan itu, petasan, lampion dan barongsai selalu dan tidak pernah ketinggalan turut</span><span style="font-size:85%;"> menghiasi meriahnya suasana tahun baru Imlek.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Mengapa petasan, lampion dan barongsai yang selalu menjadi ciri khas dari hari raya Imlek? Ternyata ada kisah dongeng yang menarik dibalik dari riuhnya petasan, merahnya lampion dan aksi garang si barongsai.<br /><br />Penasaran? Yuuk kita simak ceritan</span><span style="font-size:85%;">ya.<br /><br />Pada zaman dahulu, di Cina ada banyak desa. Setiap tahun selama musim semi, orang-orang desa sibuk menanam padi. Pada musim gugur, mereka memanen padi. Hasil padi itu disimpan dalam lumbung sebagai persiapan menghadapi musim dingin.<br /><br />Setiap kali musim dingin tiba, penduduk desa merasa sangat cemas. Mereka takut makhluk aneh akan datang ke desa mereka. Makhluk itu sangat mengerikan. Di kepalanya ada lima tanduk tajam. Sepasang matanya menyorot tajam. Gigi dan kukunya juga tajam. Makhluk ini sangat kuat. Kalau dia berjalan, bukit-bukit dan rumah-rumah roboh diinjaknya. Lebih gawat lagi, dia suka menangkap dan memakan manusia.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Orang-orang desa memperhatikan </span><span style="font-size:85%;">bahwa makhluk itu hanya muncul setahun sekali. Dia datang pada malam tahun baru dan menghilang tepat pada tengah malam. Orang-orang desa menyebut makhluk itu Nian, yang artinya tahun.<br /><br />Pada malam tahun baru, semua orang desa mengunci diri di rumah. Mereka berdoa semoga mereka selamat dari serangan Nian. Ketika tahun baru tiba, barulah mereka berani keluar rumah. Mereka yang lolos dari maut merasa sangat bersyukur dan saling mengucapkan, “Gong Xi! Gong Xi! Selamat! Selamat!”<br /><br />Orang-orang desa mengadakan pe</span><span style="font-size:85%;">rayaan selama lima belas hari. Setelah itu mereka mulai bekerja dan menanam padi lagi. Sepanjang tahun mereka sibuk tapi ketika tahun baru hampir tiba, mereka kembali dicekam ketakutan. Setelah bertahun-tahun menjadi sasaran Nian, orang-orang desa tak tahan lagi. Mereka berkumpul untuk mencari jalan keluar.<br /><br />Mereka ingin mengusir Nian selama-lamanya dari desa mereka. Tapi bagaimana caranya? Ada yang mengusulkan agar Nia</span><span style="font-size:85%;">n dibunuh saja. Tapi usul itu ditolak oleh orang-orang yang menganggap Nian sebagai utusan Tuhan. Mereka takut Tuhan marah jika makhluk itu dibunuh. Orang-orang desa itu jadi kebingungan. Mereka tak dapat mencapai kata sepakat.<br /></span><span style="font-size:85%;"><br />Beruntung ada Guru Zhao, ce</span><span style="font-size:85%;">ndekiawan di desa itu. Guru Zhao dengan tegas mengatakan bahwa Nian adalah makhluk jahat, bukan utusan Tuhan. “Tuhan memberkati dan melindungi kita. Dia tak mungkin mengirim makhluk seperti Nian untuk membunuh kita,” Guru Zhao menjelaskan.<br /><br />“Guru Zhao benar,” orang-orang desa setu</span><span style="font-size:85%;">ju.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">“Supaya bisa mengusir Nian,” ujar Guru Zhao, “kita harus mencari tahu, apa yang ditakutinya?” Semua orang berpikir keras.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />“Aku bertemu Nian tahun lalu,” kata pria berjubah biru. “Tapi dia tidak menyerangku karena aku mengenakan ikat pinggang merah.”<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">“Pengalamanku lain lagi,” cerita pria berjubah coklat. “Tahun lalu aku menyalakan petasan. Nian rupanya takut mendengar bunyinya, lalu dia kabur.”<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">“Kurasa Nian takut pada benda apa pun yang berwarna merah,” tambah pria lain. “Dua tahun lalu aku memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumahku. Tapi dia menghancurkan rumah-rumah tetanggaku yang tidak dilind</span><span style="font-size:85%;">ungi lampion dan kain merah.”<br /><br />Seorang pemuda berkata, “Aku dan teman-temanku menari barongsai pada malam tahun baru. Ketika melihat Nian, kami memukul-mukul gong dan tambur dengan lebih keras.</span><span style="font-size:85%;"> Nian ketakutan dan lari ke hutan.”<br /></span><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6kyrK_s3FI/AAAAAAAAAJ0/yHSsNwF7XX0/s1600-h/Barongsai.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 125px; height: 150px;" src="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6kyrK_s3FI/AAAAAAAAAJ0/yHSsNwF7XX0/s200/Barongsai.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163714165024283730" border="0" /></a><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6kyga_s3EI/AAAAAAAAAJs/5EQn7zvkJWA/s1600-h/lampion.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 105px; height: 148px;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6kyga_s3EI/AAAAAAAAAJs/5EQn7zvkJWA/s200/lampion.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163713980340689986" border="0" /></a><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6kx5a_s3DI/AAAAAAAAAJk/7qv_DjAzErk/s1600-h/petasan.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 107px; height: 150px;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R6kx5a_s3DI/AAAAAAAAAJk/7qv_DjAzErk/s200/petasan.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163713310325791794" border="0" /></a><br /><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><br /><span style="font-size:85%;"><br /></span><br /><br /><br /><span style="font-size:85%;"><br /><br />“Sekarang kita tahu apa saja yang ditakuti Nian,” </span><span style="font-size:85%;">kata Guru Zhao. “Nian takut pada benda-benda berwarna merah, petasan dan bunyi gong serta tambur. Jadi mulai sekarang, menjelang tahun bari setiap rumah harus memasang lampion dan kain merah. Juga m</span><span style="font-size:85%;">enyediakan petasan. Sementara para pemuda bersiap-siap mengusir Nian dengan tarian barongsai.”</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Orang-orang desa itu pulang dan bersiap-siap. Para ibu membuat ikat pinggang merah untuk seluruh anggota keluarga mereka. Para ayah memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumah mereka. Para pemuda membentuk kelompok-kelompok barongs</span><span style="font-size:85%;">ai dan berlatih memukul gong serta tambur.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Malam tahun baru tiba. Semua orang sangat bersemangat. Mereka memakai ikat kepala atau ikat pinggang merah. Bapak-bapak membawa senjata seperti pedang, tombak, busur dan anak panah. Anak-anak membawa petasan. Mereka semua sudah siap untuk mengusir Nian. Sekarang orang-orang desa itu tak takut lagi pada Nian. Mereka bertekad u</span><span style="font-size:85%;">ntuk melawannya.<br /><br />Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Nian datang. Orang-orang desa segera menyalakan petasan. Semuanya meledak dengan bunyi yang memekakkan telinga. Gong dan tambur dipukul keras-keras. Pedang dihunus dan tombak siap ditikamkan.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Nian sama sekali tak menduga dirinya akan diserang secara mendadak begitu. Dia mengerang kesakitan ketika pedang dan tombak bertubi-tubi menghujam tubuhnya. Lebih-lebih ketika hujan anak panah menerpanya. Dengan ketakutan dia berlari pulang ke tempat asalnya.<br /><br />Orang-orang desa sengat gembira. Mereka bernyanyi dan menari sepanjang malam. Gong dan tambur ditabuh tak henti-hentinya. “Gong Xi! Gong Xi!” mereka saling memberi selamat dengan penuh sukacita.<br /><br />Sejak itu, setiap tahun baru orang-orang Cina menghiasi rumah mereka dengan lampion dan kain merah. Mereka juga merayakan tahun baru dengan tarian barongsai dan petasan.<br /><br />Gōngxǐ fācái, Selamat Tahun Baru Imlek 2559.<br /><br />***<a href="http://ciplok.blogspot.com/">Vera Ernawati</a><br /><br />Sumber bahan :<br />1. Dongeng Rakyat Cina “Awas! Nian datang!” Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2001<br />2. Wikipedia Indonesia<br /><br />Edisi online "<a href="http://bz.blogfam.com/2008/02/asalusul_tahun_baru_imlek.html">Blogfam Magazine</a>"<br /></span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-75224643035519504102008-01-20T19:14:00.000+07:002008-01-20T19:33:37.469+07:001st cordao : crua<span style="font-size:85%;">Ups! Tidak terasa sudah sepuluh bulan terlewati. Satu-satu saya pelajari. Pelan-pelan saya ikuti. Meski agak lambat tapi saya coba tekuni.<br /><br />Dari seragam putih-putih. Di bulan lima tahun lalu. Satu-dua-tiga, semangat, semangat, ayo semangat. Empat-lima-enam terus semangat. Yah, dari celana panjang putih berbahan lentur dan kaos putih berlogo sebuah kelas -berasal dari sebuah negara paling timur di benua Amerika- itu. Semakin asik saja mempelajarinya.<br /><br />Kita bermain : menendang, lalu mengelak. Berputar dan merunduk. Menghindar kemudian menyerang balik. Bermain dengan unsur beladiri. Sedikit meliukan gerakan seperti seorang yang sedang menari. Bernyanyi, bernyanyi dan terus bernyanyi. Bertepuk tangan tak henti-henti.<br /><br />Yang dinanti-nanti tiba juga. Siang ini, batisado pertama saya. Hap-hap-hap, kaki berloncat-loncat. Melompat ke sana ke mari. Tangan terus mengayun melindungi muka. Mata waspada terhadap gerakan lawan. Satu-satu menendang, dua-dua merunduk, tiga-tiga menyerang. Hap-hap-hap, tak mau usai, semakin lupa diri. Lantai pun memanas dengan kaki-kaki lincah capoeirista.<br /><br />Psssssst, diam-diam si pendiam Quetinha dengan 1st cordao-nya : crua.</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-46993846257836299402008-01-02T16:20:00.000+07:002008-01-02T16:21:21.995+07:002008<center><a href="http://www.zwani.com/graphics/new_years/"><img alt="ZWANI.com - The place for myspace comments, glitters, graphics, backgrounds and codes" src="http://images.zwani.com/graphics/new_years/images/11.gif" border="0" /></a><br /><a href="http://www.zwani.com/graphics/new_years/" target="_blank">Happy New Year Graphic Comments</a></center><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-89036567736145361102007-12-31T13:27:00.001+07:002007-12-31T13:27:07.551+07:00Catatan perjalanan Yogyakarta [1]<span style="font-size:85%;">[24 Desember 2007]<br /><br />Subuh-subuh sekali saya sudah melintasi jalur pantai utara dan melaju terus menuju Jawa Tengah. Liburan sudah tiba. Hanya berdua saja. Inilah perjalanan pertama kami di ranah Jawa. Tujuan utama kami adalah Jogja, yang katanya never ending asia.<br /><br />Tengah hari saya sudah tiba. Jogja menyambut saya dengan hari yang terik, panas menyengat. Kota yang ramai. Begitulah yang saya lihat pertama kali memasuki Jogja. Becak, andong, ada di mana-mana. Di jantung kota ada Stasiun Tugu, stasiun utama kota gudeg dan Malioboro, yang ada tepat di sebelah selatan stasiun. Pejalan kaki, bangunan-bangunan tua, pedagang batik, pasar tradisional Beringharjo, salak pondoh, toko bakpia, penginapan di sudut-sudut kota Jogja. Yogyakarta yang ramai, sampai juga saya di sana.<br /><br />Tujuan pertama saya sesampai di kota adalah mencari penginapan. Atas rekomendasi seorang kawan kantor, Yogya Moon di jalan Kemetiran menjadi pilihan pertama kami dari Jakarta. Memberikan pelayanan penginapan kelas mutiara tiga, Yogja Moon cukuplah memadai, bersih dan juga nyaman.<br /><br />Malam Natal sudah tiba. Terima kasih untuk informasi lokasi-lokasi Gereja Katolik terdekat dari seorang kawan –si malaikat kecil. Sayangnya, saya tidak jadi mengunjungi Gereja Kota Baru atau Gereja Kidul Loji. Ternyata di samping penginapan saya pun ada Gereja Katolik, Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela -namanya. Maka malam Natal tahun ini saya lalui di sana. Menghadiri misa dengan tema “Kelahiran Yesus memperbarui hidup keluarga”, berdua saja. Malam Natal di Jogja yang menyenangkan dengan dihiasi gerimis kecil-kecil. Selamat Natal, teman! Damai menyertai kita semua.<br /><br />Usai misa, kali ini tidak ada acara makan malam Natal bersama sahabat. Berdua saja. Memilih menghabiskan waktu di sepanjang jalan Malioboro, surganya cinderamata. Melihat-lihat batik, barang-barang kerajinan khas Jogja di emperan kaki lima. Menawar-nawar beberapa barang yang menarik perhatian. Meski bukan batik, tiga buah potong baju bermodel tali satu yang lucu dengan potongan landai di depan -sedikit sexy memang tapi tidak apalah, sesekali-menjadi isi kantong belanja’an saya malam ini. Lalu terduduk berdua menghabiskan malam di sebuah restaurant bar setempat. </span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.comtag:blogger.com,1999:blog-13327180.post-25937238399357674472007-12-31T13:22:00.000+07:002007-12-31T13:31:11.598+07:00Catatan perjalanan Yogyakarta [2]<span style="font-size:85%;">[25 Desember 2007]</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >Candi Borobudur</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iKJyn34OI/AAAAAAAAAJM/Lgmah2i2wcY/s1600-h/P1010003.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iKJyn34OI/AAAAAAAAAJM/Lgmah2i2wcY/s200/P1010003.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150018074710630626" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Atas pesan dari seorang karyawan hotel yang baik hati bila hendak mengunjungi cand</span><span style="font-size:85%;">i Borobudur sebisa mungkin datanglah pagi-pagi sekali. Selain menghindari cuaca panas yang menyengat, tentu pengunjung pun belum terlalu ramai membl</span><span style="font-size:85%;">udak. Karena mengingat hari ini adalah hari libur nasional.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Meski sudah agak kesia</span><span style="font-size:85%;">ngan, menengok candi Borobudur masih tetap menjadi pilihan pertama pada hari kedua saya di Jogja. Memang benar, cuaca sangat panas sekali. Mau tidak mau payun</span><span style="font-size:85%;">g harus saya buka juga.<br />Siapa yang tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha terbesar di abad ke-9 ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleks</span><span style="font-size:85%;">nya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Borobudur masih sama megahnya seperti pertama kali saya temui dulu ketika saya masih ka</span><span style="font-size:85%;">nak-kanak. Tidak berminat menaiki anak-anak tangga candi. Dari kejauhan sudah terlihat payung berwarna-warni memenuhi undakan-undakan candi. Wuiih pasti di atas sana sungguh ramai sekali.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Begitu juga saya, walau sudah pernah satu kali melihat candi yang satu ini tetap juga masih ingin, ingin dan ingin untuk datang kembali lagi. Takjubnya lag</span><span style="font-size:85%;">i, </span><span style="font-size:85%;">candi megah yang satu ini tidak terkena dampak dari gempa 27 Mei 2006 yang lalu.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Di sebelah Timur candi Borobudur terdapat candi Pawon dan Candi Mendut. Tidak berlama-lama di candi Borobudur, saya pun menyempatkan diri untuk menengok kedua candi tsb.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Candi Pawon</span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iJHyn34MI/AAAAAAAAAI8/ty7GJ_J80M8/s1600-h/P1010047.JPG"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iJHyn34MI/AAAAAAAAAI8/ty7GJ_J80M8/s200/P1010047.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150016940839264450" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Candi Pawon terletak 1 km ke</span><span style="font-size:85%;"> arah Timur dari Borobudur. Candi Pawon bentuknya kecil, lebih kecil dari Candi Mendut. Candi ini sebagai gerbang untuk Borobudur. Bentuk Pawon mungil dan indah. Menghadap ke Barat serupa candi Mendut.<br /><br />Di dalam bilik candi Pawon tidak terdapat patung juga tidak diketahui Dewa siapa yang dipuja. Oleh karena itu tidak dapat dipastikan apa </span><span style="font-size:85%;">fun</span><span style="font-size:85%;">gsi candi Pawon dalam hubungannya dengan candi Borobudur.<br /><br />Saya meninggalkan candi Pawon yang sunyi sendiri. Hanya wangi melati yang tertinggal di ujung penciuman saya. Sungguh-sungguh wangi sekali. Tidak ada pengunjung saat itu, hanya saya saja. </span><span style="font-size:85%;">Kemudian berangkatlah saya menuju candi Mendut, candi yang menjadi pilihan ketiga saya setelah Pawon.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Candi Mendut</span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iJASn34LI/AAAAAAAAAI0/Zjy0cDlhcJg/s1600-h/P1010014.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iJASn34LI/AAAAAAAAAI0/Zjy0cDlhcJg/s200/P1010014.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150016811990245554" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Candi Mendut digunakan sebagai tempat upacara-upacara pemujaan. Bedanya dengan Borobudur, candi Borobudur digunakan untuk mentahbiskan para pengikut Budha. Di dalam bilik Mendut terdapat tiga patung Budha besar yang sedang d</span><span style="font-size:85%;">ud</span><span style="font-size:85%;">uk di atas singgasana. Posisi tengah adalah patung Budha Cakyamum, di kanan adalah patung Awalokiteswara, di sebelah kiri adalah patung Wajrapani.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Kalau badan candi Pawon dih</span><span style="font-size:85%;">iasi relief berupa pohon kalpataru sedangkan badan candi Mendut dihiasi relief Dewi Tara, Awalokiteswara dan Manjucri. Sangat sayang puncak Mendut telah runtuh dan beberapa bagian candi juga runtuh. Dasar candi dibuat dari batu bata, kemudian dilapisi dengan batu, seperti yang saya lihat sekarang ini.<br /><br />Diakhiri dengan soja tiga kali dihadapan patung Budha, saya melanjutkan perjalanan menuju Kaliurang.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Kaliurang</span></span><span style="font-size:85%;"><br />Berjarak 28 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Kaliurang adalah bentuk pesona al</span><span style="font-size:85%;">a</span><span style="font-size:85%;">m di ujung utara Yogyakarta. Bersentuhan dengan udara sejuk, menikmati pemandangan pegunungan dan meresapi suasana romantis kabut di Kaliuran</span><span style="font-size:85%;">g yang terletak di kaki Gunung Merapi adalah sungguh obat mujarab untuk menghilangkan penat tubuh.</span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iIein34KI/AAAAAAAAAIs/kvfdhwTLlWA/s1600-h/kaliurang.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iIein34KI/AAAAAAAAAIs/kvfdhwTLlWA/s200/kaliurang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150016232169660578" border="0" /></a><br /><br /><span style="font-size:85%;">Pemandangan Gunung Merapi memberi sensasi tersendiri di kawasan ini. Diselimuti angin yang berhembus sejuk, bahkan di saat mentari tepat di atas kepala sekali pun kabut tebal masih juga tetap turun landai menggelayut di kepala saya. Udara yang menari melewati pepohonan dan turun dengan gemulai, memberi rasa segar ketika menerpa tubuh.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Di samping keindahan alamnya, Kaliurang juga mempunyai beberapa bangunan peninggalan sejarah. Salah satunya adalah gua peninggalan Jepang. Sayangnya karena hari mulai gerimis saya tidak melihat-lihat lokasi gua Jepang tsb.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Tiba-tiba di depan saya melintas kereta sepoer. Lucu sekali bentuknya. Dengan perlah</span><span style="font-size:85%;">an-lahan kereta sepoer melaju naik turun jalanan perbukitan dengan pasti. Kereta ini biasa mangkal di depan taman wisata. Jalur yang dilaluinya mengita</span><span style="font-size:85%;">ri kawasan wisata Kaliurang dari Timur ke Barat.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Jika ingin menikmati pemandangan Kaliurang, kereta sepoer menjadi pilihan yang menarik untuk dinaiki. Tarif untuk menaiki kendaraan ini Rp.3.000 per orang.<br /><br />Hari mulai sore. Tidak bermalam di Kaliurang meski ingin juga rasanya. Melihat kanan kiri banyak sekali tempat penginapan yang memadai. Apa daya, saya sudah terlanjur berjanji sendiri kalau saya harus menengok Prambanan. Teri</span><span style="font-size:85%;">ngat perkataan seorang teman baik, "kapan ke yogya lagi? prambanan tambah gede loh... bisa pangling kalau ketemu di jalan". Ha-ha-ha, iklan dagadu katanya.<br /><br />Kemudian saya turun menuju ke Prambanan.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br /><span style="font-weight: bold;">Candi Prambanan</span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iIDCn34JI/AAAAAAAAAIk/x0sudFW9two/s1600-h/P1010057.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iIDCn34JI/AAAAAAAAAIk/x0sudFW9two/s200/P1010057.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150015759723258002" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Tidak salah bila Pramban</span><span style="font-size:85%;">an disebut sebagai candi Hindu tercantik di dunia. Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari candi Borobudur) membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.<br /><br />Aah Roro Jonggrang, bena</span><span style="font-size:85%;">r-benar cantik dia. Pantaslah Bandung Bondowoso mengabulkan permintaanmu. Meski kisah berakhir menjadi tragis dengan dikutuknya Jonggrang menjadi arca yang keseribu.<br /><br />Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu d</span><span style="font-size:85%;">ianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.<br /><br />Menurut informasi setempat sejak tanggal 18 September 2006, kita sudah bisa memasuki zona 1 candi Prambanan meski belum bisa masuk ke dalam candi. Dan memang masih banyak kerusakan yang terlihat akibat gempa 27 Mei 2006 lalu dan kini pun masih sedang dalam tahap perbaikan. Oleh karena itu saya dan juga para pengunjung hanya boleh menikmati cantiknya Prambanan dengan berjalan mengelilingi lokasi candi dengan dibatasi oleh pagar tanpa boleh mendekatinya.<br /><br />Selain candi Prambanan masih ada tiga candi lagi yang bisa dilihat juga di dalam komplek Prambanan. Tidak merasa lelah, saya pun men</span><span style="font-size:85%;">engok candi Lumbung, Bubrah dan juga Sewu. Ketiga </span><span style="font-size:85%;">candi Budha ini tinggal reruntuhan kecuali candi Sewu yang masih bisa dinikmati keindahannya.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Candi Plaosan</span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iHpyn34II/AAAAAAAAAIc/rYsL7iqwAzA/s1600-h/Plaosan-1%2Bt.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iHpyn34II/AAAAAAAAAIc/rYsL7iqwAzA/s200/Plaosan-1%2Bt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150015325931561090" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Tidak perlu terburu-buru kembali ke penginapan sebab tidak jauh dari letak candi Hindu tercantik di dunia itu kita juga akan menemui candi-candi lain yang sama menariknya. Melaju ke utara sejauh 1 km, saya akan menemui Candi Plaosan yang kata banyak orang candi Plaosan adalah candi kembar di Yogyakarta.<br /><br />Kenapa bisa dibilang candi kembar?<br />Kompleks Plaosan dibagi </span><span style="font-size:85%;">menjadi 2 kelompok, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Kedua candi itu memiliki teras berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh dinding, tempat semedi berbentuk gardu di bagian barat serta stupa di sisi lainnya. Karena kesamaan itu, maka kenampakan Candi Plaosan Lor dan Kidul hampir serupa jika dilihat dari jauh sehingga sampai sekarang Candi Plaosan juga sering disebut candi kembar.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;">Sore merambat cepat. Tidak kalah cepat pula turunnya rintik-rintik air hujan. Deras. Tapi semangat belum juga runtuh. Tidak juga jemu. Candi Boko atau biasa disebut Kraton Ratu Boko menjadi tujuan saya sesudahnya Plaosan.<br /></span><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Candi Boko</span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iHOCn34HI/AAAAAAAAAIU/xocJ4AS08h4/s1600-h/ratuboko.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iHOCn34HI/AAAAAAAAAIU/xocJ4AS08h4/s200/ratuboko.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150014849190191218" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Candi Boko terletak 3 km ke aarah Selatan dari percandian Prambanan. Berdiri di atas bukit Kidul yang merupakan lanjutan dari pegunungan Seribu dengan pemandangan alam nan permai disekitarnya. Hujan mulai mereda. Gerimis masih tetap ada. Dengan payung di tangan saya tetap dapat menikmati keindahan bangunan yang unik menurut saya.</span><br /><span style="font-size:85%;"><br />Bentuk candi Boko tidak sama dengan bentuk candi yang sudah saya lihat sebelumnya. Bangunannya lebih mengesankan seperti sebuah kraton atau istana. Menurut legenda disinilah letak istana Ratu Boko, ayah dari Loro Jonggrang.<br /><br />Karena jalan batuan di kawasan candi Boko terasa licin, basah oleh air hujan. Juga sebentar lagi menjelang pukul 6 sore, saya memu</span><span style="font-size:85%;">tuskan untuk tidak lebih jauh lagi masuk dari pintu utama Kraton Ratu Boko. Bila keadaan dan waktu memungkinkan, sebenarnya kurang lebih 15 meter dari Gapura terdapat candi pembakaran yang terbuat dari batu putih yang berfungsi sebagai tempat pembakaran mayat. Ada juga kolam, batu berumpak, dan Paseban.<br /><br />Selain itu di sudut Tenggara candi pembakaran terdapat sumur tua yang airnya mengandung misteri. Konon sumur ini bernama Amerta (air) Mantana (mantra) yang berarti air suci yang sudah diberikan mantra. Mitos air ini dapat berguna sesuai apa yang diinginkan dan sering dimanfaatkan untuk acara prosesi ritual antara lain pengambilan air suci untuk prosesi Tawur Agung umat Hindu.<br /><br />Taman wisata candi Boko dilengkapi panggung terbuka yang terletak di lereng bukit. Dari sini saya bisa menikmati nuansa alami dengan panorama alam yang sungguh indah mempesona. Tidak lain lagi keelokan candi Prambanan terlih</span><span style="font-size:85%;">at sekali dengan jelas terlebih lagi dilatar belakangi oleh Gunung Merapi. Ugh, dari kejauhan Prambanan semakin memikat hati saya. Sungguh-sungguh cantik tak tertandingi.<br /><br />Senja menjelang. Udara semakin dingin. Masih juga gerimis. Angin mendayu-dayu. Brrrr, perut terasa lapar. Makan apa saya malam ini, sejenak berpikir. Ahaaa, gudeg sudah saya cicipi tapi liwet Solo yang belum. Maka Solo menjadi tujuan perjalanan saya selanjutnya.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Candi Banyunibo</span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iG7Sn34GI/AAAAAAAAAIM/tW7T5Z7el98/s1600-h/Banyunibo_02.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_LU95JEB4ljA/R3iG7Sn34GI/AAAAAAAAAIM/tW7T5Z7el98/s200/Banyunibo_02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150014527067644002" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br />Meninggalkan candi Boko masih juga mata saya disuguhi oleh pemandangan sebuah candi, Banyunibo namanya. Banyu berarti air. Nibo berarti jatuh menetes. Keduanya memiliki makna yang puitis bagi lingkungan masyarakat Jawa. Candi ini juga disebut “Si sebatang kara Banyu Nibo”. Karena letaknya yang terpencil di tengah persawahan dan rumpun pisang dan letaknya terpisah dari kelompok candi-candi lainnya.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Solo</span></span><span style="font-size:85%;"><br />Menuju Solo hujan semakin deras. Lebat dan hebat. Jalanan gelap. Hujan semakin membuat jalanan mencekam. Nasi liwet di jalan Teuku Umar Keprabon yang sebenarnya menjadi incaran saya. Tapi sungguh sayang, nasi liwet harus saya tangguhkan. Akhirnya berhenti sejenak di toko batik Danar Hadi, berteduh sambil memanjakan mata dan memilih beberapa potong baju berkerah bundar untuk dicoba. Lucu terkesan seperti baju anak-anak. Padahal di Jakarta pun Danar Hadi tersedia. Tidak mengapalah. Karena saya bisa menikmati harga special dengan potongan diskon 15%. Eh di Jakarta diskon tidak yah?<br /><br />Hujan masih bertahan. Saya tetap belum bisa menikmati kota Solo dengan berjalan kaki. Ugh! Padahal ingin sekali merasai sinar temaram lampu-lampu di sepanjang jalan raya Solo. Yah sudahlah, tidak ada nasi liwet tidak ada juga jalan kaki. Beberapa potong pakaian batik Kencana Ungu sebagai oleh-oleh keluarga sudahlah cukup mejadi perwakilan Solo buat saya.</span><div class="blogger-post-footer"> </div>ciploknoreply@blogger.com