<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020</id><updated>2009-11-01T20:36:00.699+07:00</updated><title type='text'>Merenung Sampai Mati (Unofficial PRIE GS Blogs)</title><subtitle type='html'>Blog ini berisikan kumpulan tulisan dari Prie GS, seorang Penulis sekaligus Kartunis asal Semarang, Jawa Tengah.

Merenung Sampai Mati, adalah buku pertama beliau yang saya baca. Tulisan-tulisannya yang sederhana, menggelitik, kritis ternyata dapat sekaligus menampar kesadaran terdalam dari setiap manusia yang mengaku masih punya akal dan perasaan :d</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>164</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-6957490229645221435</id><published>2009-11-01T20:36:00.000+07:00</published><updated>2009-11-01T20:36:00.704+07:00</updated><title type='text'>Jika Seharian Saya Tidak Melucu</title><content type='html'>&lt;div&gt;Saya bersyukur dianugerahi Tuhan bakat mudah melucu. Saya tegaskan, saya sebetulnya tidak lucu, cuma mudah melucu. Dari sisi tampang, saya lebih tepat disebut pemurung, kalau tidak terlalu kasar untuk disebut memelas. Karena kemudahan inilah sebagian kalangan menyebut saya sebagai lucu, sebutan yang sebetulnya mendatangkan banyak beban.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak setiap kemudahan itu selalu mudah karena kadangkala malah mendatangkan kesulitan. Teman saya yang bertubuh jangkung justru selalu menjadi orang suruhan di setiap kesempatan ketika tinggi badan sedang jadi hambatan. Diminta mengambilkan ini, menyantolkan itu, atau menjangkaukan sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena dianggap gampang mencari uang, maka kepadanya orang cenderung berhutang dan minta sumbangan. Karena berwajah rupawan seseorang jadi mudah tergoda dan rawan perselingkuhan. Karena dianggap lucu, setiap saat saya diminta untuk menghibur orang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Permintaan secara terus terang sebetulnya tidak ada. Tetapi permintaan diam-diam itulah yang terus saja berdatangan. Sejak mahasiwa saya sudah sering ditanggap di berbagai forum diksusi kecil-kecilan. Apakah karena saya pintar? Tidak. Nilai rata-rata saya di kampus cuma cukup untuk lulus. Itupun lulus pas-pasan. Undangan itu datang pasti karena anggapan sebagai orang lucu itu. Tetapi sekali lagi, anggapan itu sebenarnya keliru. Karena jika boleh, mestinya saya lebih memilih tidak melucu. Jika di dekat saya telah ada orang lucu, saya akan dengan gembira berada di dekatnya meletakkan peran ini dan langsung nebeng tertawa. Jauh nian beda antara pihak yang tinggal tertawa dan pihak yang harus membuat tawa. Menjadi sekadar yang tertawa seperti orang kelaparan yang kepadanya disodorkan makanan kesukaan. Tetapi menjadi pembuat tawa, seperti koki, yang betapapun enak masakannya, ia telah lebih dulu mual oleh pengap asapnya. Jadi jika boleh memilih, kedudukan sebagai pihak yang sekadar tertawa pasti lebih menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi hidup memang tidak boleh memilih cuma apa yang kita suka. Karena lalu siapa nanti yang harus mengerjakan soal-soal yang kita tdak suka, tetapi amat dibutuhkan dalam hidup. Kerja bakti dan jaga malam adalah soal tidak saya sukai, tetapi ia dibutuhkan kampung saya. Menunggu adalah pekerjaan menjengkelkan, apalagi menungu cuma untuk disuntik misalnya. Tetapi semua itu dibutuhkan bagi kesehatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Melucu memang melelahkan, tetapi ia dibutuhkan untuk kegembiraan, setidaknya bagi keluarga saya. Karena pernah suatu hari saya menuruti kelelahan ini dan sama sekali tidak melucu seharian, rumah saya jadi terasa sunyi. Anak-anak menganggap bapaknya sedang susah, istri mengira suaminya sedang marah. Padahal sungguh tidak ada apa-apa. Hanya ingin istirahat saja. Tetapi dunia di rumah saya seperti berhenti berputar hanya karena saya menghentikan salah satu kebiasaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keluarga jadi kehilangan separo kegembiraannya. Istri memasak sambil terdiam. Anak-anak yang biasanya belajar sambil menyanyi kini belajar sambil membisu. Mereka sesungguhnya tidak sedang belajar, tetapi sekadar membolak-balik buku. Televisi juga lupa dinyalakan. Sesisi rumah sepi-senyap karena semua sedang sibuk dengan kemurungannya sendiri-sendiri, cuma karena sebuah fungsi lupa dijalankan. Pada saat itulah, saya menyadari bahwa melucu adalah tugas. Dan ketika tugas  itu kembali saya jalankan dengan cara sederhana: misalnya cuma berjoget di depan kaca, seisi rumah langsung menemukan kembali barangnya yang hilang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(/) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-6957490229645221435?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/6957490229645221435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=6957490229645221435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6957490229645221435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6957490229645221435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/11/jika-seharian-saya-tidak-melucu.html' title='Jika Seharian Saya Tidak Melucu'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-6060120164119967343</id><published>2009-10-28T20:36:00.001+07:00</published><updated>2009-10-28T20:36:32.761+07:00</updated><title type='text'>Diberi Tanpa Meminta</title><content type='html'>&lt;div&gt;Dari rumah, saya diberi kemudahan untuk mengakses jalan tol. Tetapi di setiap kemudahan, selalu terselip kesulitan. Jalan yang saya masuki adalah sekadar sebuah sempalan dari jalan utama. Maka kepada arus utama, saya hanya bisa menunggu dan meminta jalan arus kendaraan yang berebut masuk ke gerbang tol. Jadi dibanding para pejalan di arus utama, kendaraan kami hanyalah figuran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Makin lama, makin tidak mudah untuk meminta jalan. Para pengendara dari arus utama itu selain makin padat, juga seperti layaknya pengendara jalan raya, punya seribu alasan untuk buru-buru, apalagi merasa sebagai para pendahulu. Kami figuran ini, sekadar diberi kesempatan jika ada waktu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Logika ini sering membuat pengemudi keluarga kami tidak sabar. Ia tak bisa lagi menunggu, melainkan juga harus merebut. Ia harus meminta tempat sedemikian rupa, lebih tepatnya bukan meminta tetapi memaksa. Taktik ini memang hampir selalu berhasil. Dan inilah taktik yang memang hampir selalu diperagakan oleh penghuni jalur sempalan seperti kami. Harus merebut, karena kami tak bisa cuma hanya menunggu sebuah pemberian yang tidak menentu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi hukum paradoks itu kembali bekerja: jika di setiap kemudahan ada kesulitan, di setiap keberhasilan juga selalu terselip kegagalan. Karena meskipun kami berhasil merebut jalur, ada saja pihak yang merasa jalurnya terebut dengan paksa. Selalu ada mata yang melotot, ada klakson yang menyalak dan selalu ada kegiatan adu gertak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada kalanya kami yang nekat tancap gas dan memaksa mereka mengalah sambil menyumpah serapah, adakalanya kamilah yang harus berlaku sebaliknya karena kenekatan sudah lebih dulu mereka peragakan. Hukum jalan raya sebetulnya sederhana, jika dia berani, saya akan berhenti. Jika saya berhenti dia berani. Kalau kebetulan kami sama-sama berani, juga sederhana: tingal tabrakan begitu saja. Tetapi kemungkinan ketiga, sejauh ini jarang terjadi kecuali kami sudah benar-benar ingin berususan dengan polisi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karenanya setiap kali kami memasuki jalan tol lewat rute sempalan ini, selalu tegang oleh sebuah persoalan yang terbayangkan. Pasti akan ada klakson menyalak, ada mata melotot, ada adu gertak. Selama saya merebut, selalu akan ada kemarahan dari pihak  yang direbut. Maka jika tak ingin membuat marah pihak yang direbut, harus tidak dengan cara merebut. Tetapi mungkinkah menolak berebut di jalan yang berebut? Mungkin. Setidaknya, saya mengajak pengemudi keluarga kami melakukan uji coba. "Tunggu saja, sampai ada orang baik hati memberikan jalannya," kata saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maka tugas kami hanya mendekat pelan-pelan ke jalur utama dengan kesiapan mengalah sepenuhnya. Selalu ada orang-orang yang tak peduli pada kami, tetapi setelah sekian ketidak pedulian selalu muncul kepedulian pada akhirnya. Selalu ada orang yang peduli di tengah yang tak peduli. Lama-lama kami sepakat dengan pola ini. Dan sejak itu, kami lebih banyak menuai sukses memasuki jalur utama secara lebih menyenangakan, tanpa klakson tanpa bentakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setiap masuk ke jalan tol ini saya semakin meyakini tentang hukum meminta dan memberi. Bahwa selalu ada kecenderungan dari setiap manusia untuk memberi. Hukum ini sungguh terus bekerja karenanya manusia tak perlu harus takut kehilangan. Hukum itu bekeja terutama ketika ada pihak yang membutuhkan. Jadi saat antre ke jalan utama itu saya cuma menyodorkan kebutuhan, bukan keinginan. Terhadap pihak yang ingin: ingin buru-buru, ingin segera diberi tempat, ingin didahulukan, ternyata cuma mengundang ketidakpedulian. Tetapi kepada pihak yang butuh jalan, jalan itu selalu akan dibukakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(/) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-6060120164119967343?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/6060120164119967343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=6060120164119967343' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6060120164119967343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6060120164119967343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/10/diberi-tanpa-meminta.html' title='Diberi Tanpa Meminta'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5476556960647698606</id><published>2009-10-16T04:05:00.000+07:00</published><updated>2009-10-16T04:05:00.087+07:00</updated><title type='text'>Anak-anak telah Bersekolah</title><content type='html'>Anak-anak telah kembali ke sekolah. Dan catatlah: sebagian (besar?) sekolah setingkat SMU masih menyelenggarakan perpeloncoan dengan kedok orientasi sekolah. Sebuah program yang tidak memberi sumbangan apapun terhadap pendidikan kecuali pelajaran sadisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan marilah kembali kita catat: betapa pelajaran sadisme itu diajarkan pertama kali secara resmi justru lewat sekolah. Mari kita anggap semua argumentasi ideal di balik program ini sebagai lelucon belaka. Karena hasil nyata perpeloncoan itu tak lebih dari tradisi dendam. Bukan dendam versi komik silat yang hutang hari ini dianggap selesai jika telah dilunaskan esok hari. Yang kita semai adalah dendam kultural yang kemudian bisa melilit generasi demi generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka lihatlah sederet bukti betapa kita adalah generasi yang terdidik untuk menjadi pendendam, terutama setelah kita menjadi senior, menjadi atasan. Maka pernah tersiarlah seorang oknum polisi yang menyuruh bawahannya bahkan untuk menjaga rumah dan merumputkan hewan piaraan. Pernah hebohlah berita tentang mahasiswa yang harus menggigit katak di pekan peloncoan. Lalu masihkah menjadi rahasia jika ada seorang dokter calon spesialis yang begitu ketakutan pada seniornya. Saking hebatnya ketakutan itu hingga ia harus mau mengerjakan tugas-tugas sang senior termasuk harus mewakli kondangan segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun kita, apapun profes kita, begitulah watak kita setelah menjadi atasan. Bisa dimengerti karena pelajaran menyakiti memang tercantum dalam "kurikulum". Kita dididik untuk bergairah melihat orang lain susah. Maka pertunjukkan derita itu harus tetap dipelihara, terus diberi suaka dan diajarkan secara dini lewat sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi logis, jika sebagai bangsa, selama ini kita lebih sibuk membuat derita sesama katimbang berpikir soal kemajuan bangsa. Wajar pula jika kemelut negara ini bisa begitu lama, karena derita orang lain terasa sebagai hal yang biasa-biasa saja. Juga bukan cerita baru lagi jika di sebuah negeri miskin justru banyak dihuni oleh para koruptor yang sangat kaya. Orang yang tega hidup sangat mewah di tengah kemiskinan itu apalagi penyebabnya jika bukan karena kesuksesan pelajaran sadisme di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka program perpeloncoan itu tidak cuma layak dibubarkan tapi kalau perlu malah harus dianggap sebagai kejahatan. Pertama, ia jahat dari segi bahwa program itu menyuburkan bakat sadisme itu sendiri. Inilah program yang memberi peluang pada murid paling bodoh sekalipun untuk bisa main bentak, main kuasa hanya karena ia senior. Kedua, dan ini yang terpenting, mana boleh sekolah dbiarkan menghambur-hamburkan waktu untuk hal-hal yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, seandainya seluruh sekolah di Indonesia diasumsikan sebagai bermutu, semua murid dianggap sebagai pintar, modren dan kutu buku, kita masih ragu, benarkah kita masih sanggup mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Bukan karena bahwa anak-anak kita begitu bodoh, tapi karena ketertinggalan itu telah begitu jauh. Jadi, dalam ketertinggalan yang dramatis semacam itu, sungguh tak masuk akal jika sekolah masih memelihara program yang kontra produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sekolah kita percayakan nasib anak-anak dengan taruhan apa saja. Adalah menganggetkan jika mereka ternyata melah menjadi jahat diam-diam. (CN01)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-5476556960647698606?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/5476556960647698606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=5476556960647698606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5476556960647698606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5476556960647698606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/10/anak-anak-telah-bersekolah.html' title='Anak-anak telah Bersekolah'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-6564984807622688032</id><published>2009-10-09T10:14:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T10:14:00.401+07:00</updated><title type='text'>Nama Saya di Mesin Pencari</title><content type='html'>&lt;div&gt;Cukup dengan mengetik nama saya: Prie GS, di mesin pencari Google, bertemulah saya dengan Guru SMA saya dulu. Saya menjumpainya lewat blog karena di situlah ia menulis nama saya sebagai muridnya. Ia ingatkan soal-soal yang saya lupa: antara lain saya ternyata gemar meminjam rapidonya. Rapido adalah alat gambar yang amat mahal saat itu. Dengan tinta yang pekat dan ukuran pena yang berbeda-beda, itulah alat terbaik untuk menggambar kartun, hobi yang hingga kini masih saya jalani. Saat SMA, itulah satu-satunya alat untuk mencari uang dan itulah hobi yang membuat nama saya terkenal di sekolah dan membuat Pak Guru ini bangga pada muridnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya membaca blog ini dengan berkaca-kaca. Tergelar kembali seluruh kenangan saya di SMA, di sebuah kota kecil yang sudah terlihat sebagai raksasa karena asal saya yang dari desa. Maka seluruhnya dari kota kecil itu terlihat sebagai besar karena sikap udik saya. Di kota ini terlalu banyak anak-anak yang terlihat cantik dan membuat saya setiap kali diam-diam jatuh cinta. Saya sebut diam-diam karena betul-betul jatuh cinta dengan diam karena hanya saya pendam tanpa pernah benar-benar berani saya utarakan. Akibatnya hingga mulai dari naksir, sampai patah hati, sampai sembuh lagi, anak yang saya taksir itu tak sekalipun pernah mengerti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi soal kenangan itu biarlah nanti saya tulis dalam bab tersendiri. Yang ingin saya tekankan di kesempatan ini adalah pengaruh guru-guru terbaik dalam hidup saya, salah satunya adalah Pak Guru yang gemar meminjami rapido saya ini. Di setiap tahapan sekolah saya seperti dipertemukan dengan guru-guru semacam itu. Satu pujian dari guru ini, akan terpatri mati di dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seorang guru SD saya pernah berkata: meskipun matamu sipit (mata saya waktu kecil memang amat sipit), tapi kamu ini pinter. Tak penting sebutan mata sipit itu, tapi kata pintar itu benar-benar saya percayai hingga hari ini. Guru yang lain berkomentar: anak ini cerdas, hanya ceroboh. Saya hampir tak mendengar kata ceroboh itu. Yang terdengar hingga hari ini adalah sekadar kata cerdas itu. Sungguh, satu pujian dari guru, ia akan mengeras di ingatan serupa batu. Dan itu memotivasi bawah sadar saya hingga di hari tua.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi kenapa hubungan guru dan murid tidak memanfaatkan energi yang istimewa ini? Lupakan sekolah mahal, bongkar pasang kurikulum dan sekolah yang yang makin menjadi industri. Seluruh hambatan pendidikan di Indonesia bisa diperbaiki dengan memanfaatkan energi semacam ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya tidak peduli apakah pujian itu adalah kenyataan diri saya. Tak penting apakah sebetulnya saya ini cerdas atau dongok, pintar atau goblok. Tapi oleh guru-guru saya, saya telah terlanjur dikatakan sebagai pintar dan cerdas. Energi itulah yang bersemayam di bawah sadar saya dan membuat saya percaya. Kualitas orang yang percaya, sungguh amat berbeda dari pihak yang menolak dan ragu-ragu. Saya mempercayainya, karena itulah mungkin saya menjadi cerdas tak terasa. Dengan cara apa? Dengan perasaan sok cerdas pada awalnya. Tetapi makin lama makin besar dorongan itu menjadi kebiasaan hidup saya. Setiap kali merasa goblok dan kecil hati saya bayangkan wajah guru-guru saya itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di SMP, saya mengingat dengan sangat jelas komentar guru saya yang lain, "Anak ini tampaknya saja suka bercanda, tetapi diam-diam ia menyimpan kesungguhan." Pernyataan itu seperti mantera di batin saya. Mungkin pada awalnya saya memang cuma senang bercanda. Tetapi karena dianggap menyimpan kesungguhan, rasanya tak patut jika saya tidak memiliki kesunguhan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi, banyak kehidupan ini berubah hanya dengan beberapa kata. Kenapa kita tidak sesering mungkin menyumbangkan kata-kata itu kepada orang-orang di sekitar kita!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(/) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-6564984807622688032?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/6564984807622688032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=6564984807622688032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6564984807622688032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6564984807622688032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/10/nama-saya-di-mesin-pencari.html' title='Nama Saya di Mesin Pencari'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8387520185492612275</id><published>2009-10-09T06:07:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T06:07:00.706+07:00</updated><title type='text'>Bangku-Bangku Kosong</title><content type='html'>Ada sekolah yang mencari duit dengan menjual bangku kosong. Di Bandar Lampung harga sebuah bangku bisa mencapai RP 1,5 juta. Di Jakarta harga itu bisa naik hingga Rp 10 juta. Setidaknya begitulah angka yang di tulis oleh sebuah media. Tulisan ini tak hendak bercerita tentang bertapa buruk kelakuan dunia pendidikan kita, tapi mari menengok soal lain yakni betapa repot memiliki anak bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang memperdagangkan pendidikan boleh saja disebut kriminal. Tapi kebodohan yang tak tahu diri juga merupakan kejahatan tingkat tinggi. Bisa Anda teliti, kriminalitas sekolah biasanya banyak disumbang oleh penyakit tidak tahu diri ini. Ingin sekolah bergengsi tapi tak cukup prestasi. Ingin sekolah terkenal tapi tak cukup modal. Dari tempat inilah benalu pendidikan di Indonesia ikut disemai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahal memang ongkos kebodohan. Tapi jauh lebih mahal lagi adalah biaya kebodohan yang bercampur kenekatan. Nekat bahwa ia layak menempati tempat yang bukan tempatnya, nekat memiliki yang bukan miliknya. Jika kita adalah orang tua, ada baiknya mulai belajar menerima kebodohan bukan sebagai sesuatu yang hina. Itupun kalau benar ia adalah kebodohan. Bagaimana kalau ia ternyata cuma kekurangan. Apa yang salah dari sebuah kekurangan. Hebat betul niat yang hendak mengubah manusia yang serba kurang ini menjadi mahkluk yang serba lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, orang tua, jarang mendidik anak-anak untuk menghargai kekurangan dan menempatkan di tempat sewajarnya. Kekurangan di mata kita adalah aib yang harus segera ditutupi dengan cara apa saja. Padahal ''cara'' itulah aib yang sesungguhnya. Kepada anak-anak sering kita berikan tempat yang bukan tempatnya. Jika ia anak biasa, kita ingin menyulapnya menjadi luar biasa. Jika ia bodoh, kita ingin mmmbuat dia pintar dalam sekejab mata. Yang bodoh, kurang dan biasa-biasa saja menurut versi sekolah itu telah langsung kita anggap sebagai musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah tiba-tiba telah begitu berkuasa menentukan nasib anak-anak yang malang itu. Sekolah menjadi terlalu pintar dalam mencari-cari kekurangan tapi lupa memperhitungkan kelebihan anak didiknya. Maka kelebihan itupun memilih mengembangkan diri lewat pendidikan yang lebih luas dan terbuka yakni hidup itu sendiri. Maka lihatlah bagaimana jenis pendidikan ''liar'' ini malah sering dengan telak mempermalukan sekolah-sekolah resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak para ''bodoh sekolahan'' yang pintar mengolah kenyataan. Betapa tidak sedikit ''bintang sekolah'' yang gagu dalam hidup, sial bahkan gagal. Maka satu lagi pendidikan yang harus segera ditambahkan pada anak-anak yakni mata pelajaran tahu diri. Jika ia bodoh karena kemalasan, biarlah ia belajar menerima hukuman. Jika ia bodoh karena keterbatasan, ajarlah ia menerima diri sendiri. Tapi sejak awal, agaknya kita jugalah yang sering mengajar mereka untuk lebih suka memilih hidup yang palsu. (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8387520185492612275?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/8387520185492612275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8387520185492612275' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8387520185492612275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8387520185492612275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/10/bangku-bangku-kosong.html' title='Bangku-Bangku Kosong'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7615237683809530440</id><published>2009-10-04T11:05:00.000+07:00</published><updated>2009-10-04T11:05:00.187+07:00</updated><title type='text'>Anak-anak, Hantu dan Kita</title><content type='html'>Tersebutlah sekerumun warga di sebuah kompleks perumahan yang tengah dibuat bingung oleh keranda. Di mana gerangan ranjang mayat itu harus diletakkan? "Di kuburan," kata seorang warga. Semua setuju, sampai seorang pamong desa melontarkan fakta baru. "Akan rusak oleh panas dan hujan," katanya. "Kita buatkan perlindungan, semacam rumah-rumahan," usul warga. "Pemilik kuburan akan keberatan. Kita cuma penyewa," jawab sang pamong. Semua terdiam, sampai seorang lain lagi nyeletuk: "Di masjid!" Usul yang disambut gembira, walau kemudian harus berbuntut panjang, nyaris menyerupai pertengkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Yang setuju pasti rumahnya jauh dari masjid!'' kata seorang yang lain. Semua kaget, saling pandang dan akhirnya saling hitung. Benar juga. Jumlah mereka memang tak seimbang. Maka muncullah dua kelompok baru, si jauh sebagai mayoritas dan si dekat sebagai minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini segera membelah diri secara otomatis, membentuk koloni baru atas nama perasaan senasib sepenanggungan. ''Masjid akan jadi angker,'' kata yang satu. ''Anak-anak akan ketakutan, masjid akan sepi dari kegiatan,'' kata yang lain. ''Keranda biasa bergerak sendiri jika akan ada orang mati.'' ''Saya yang paling rugi. Pasaran rumah saya akan merosot jika dijual,'' timpal yang lain bersahut-sahutan. Dalam waktu singkat, kelompok dekat masjid ini siap mengibarkan bendera sebagai pihak yang teraniaya. Sungguh, reaksi yang tak pernah diduga dan harus disikapi secara waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka datanglah kompromi pertama. ''Kenapa masjid? Karena ia adalah fasilitas umum,'' kata si jauh berhati-hati, bergaya persuasi. Argumentasi ini hampir disetujui jika saja si dekat telah memutuskan untuk menyerah. Tapi sebutan ''fasilitas umum'' itu malah memercikkan inspirasi baru. ''Jika batasannya cuma fasilitas umum, kita punya taman, punya balai RW di dekat rumah sampean. Lebih ideal buat tempat keranda!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usul ini lagi-lagi membuka perdebatan baru. Karena warga di dekat taman dan balai RW mulai tersinggung. ''Fasilitas umum tak cuma itu. Masih ada gardu jaga!'' Dan lontaran ini memicu ide berikutnya. ''Berarti ada empat fasilitas umum. Bagi saja keranda itu menjadi empat bagian untuk disimpan di empat tempat!''. ''Itu masih kurang adil, karena beban cuma terkonsentrasi di fasilitas umum. Sebar ke semua wilayah RT.'' ''Itu masih belum adil. Kasihan yang jadi RT. Bagi sebanyak rumah warga. Toh orang-orang di rumah itu juga bakal mati!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat usul penghabisan ini sungguh dramatik. Semua warga membisu. Usul ini hebat tapi membingungkan. Ia gampang disetujui tapi sulit dijalankan. Akhirnya denga suara serak, menyerupai orang putus asa, pamong desa menutup pertemuan dengan pesan: ''Harus sudah disepakati sebelum di antara kita ada yang mati.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pun bubar. Hingga tulisan ini diturunkan, keranda itu masih berada entah di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara anak-anak yang dikhawatirkan akan menderita itu terlihat asyik berlari-lari riang. Serba tak peduli dan asyik menikmati dunianya sendiri. Bisa jadi mereka takut hantu, tapi ketakutan itu, kita pula yang mengajarkan. Maka terhadap keranda itu, bukan anak-anak benar, tapi kita pula yang ketakutan. Ya, betapa anak-anak sering menjadi perisai bagi kekalutan orang tuanya. (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-7615237683809530440?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/7615237683809530440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=7615237683809530440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7615237683809530440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7615237683809530440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/10/anak-anak-hantu-dan-kita.html' title='Anak-anak, Hantu dan Kita'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-881944653453539707</id><published>2009-09-14T03:24:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T02:10:32.453+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Kecerdasan Malaysia</title><content type='html'>&lt;div&gt;Masih mengingat Amy Search yang melambung gara-gara “Isabella”? Atau masih pula mengingat betapa jadi meriahnya dunia musik kita gara-gara masuknya penyanyi Negeri Jiran, Siti Nurhaliza, dengan lagunya “Betapa Kucinta Padamu” dulu itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Boleh dibilang itu adalah invasi Malaysia ke tanah kita. Invasi yang tak membahayakan, karena apa sih yang bisa membahayakan dari sebuah karya seni itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan lagi, invasi itu hanya dilakukan oleh segelintir musikus saja. Puncaknya? Ya hanya Siti Nurhaliza itu saja. Invasi yang terbatas, sehingga industri musik kita pun tak pantas panas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun beda dengan apa yang dialami oleh negara tetangga kita itu. Ternyata tanpa pernah kita sadari bersama-sama, para musikus kita sudah mengancam industri musik mereka. Beberapa waktu lalu, ada selentingan menguar bahwa pemerintah Malaysia akan membatasi masuknya musik-musik Indonesia ke wilayah mereka. Hal ini bisa terjadi berdasar pada kenyataan yang memang mengenaskan, bahwa produksi musik lokal mereka turun dari tahun ke tahun gara-gara invasi musikus kita. Bila di tahun 1996 keuntungan pasar musik lokal bisa mencapai 945 milliar (dalam rupiah), tahun 2008 ini hanya mencapai 180 milliar saja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pemusik lokal tak digemari di sana. Publik Malaysia lebih memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kita, seperti Radja, Ratu, Dewa, atau Peterpan. Musik asal Indonesia mendominasi radio juga televisi Malaysia. Bahkan prosentase yang ada, musik Indonesia mengambil jatah hingga 75 % di sana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pemerintah berencana membatasi dan mencekal, dan persatuan radio swasta mereka pun resah. Bagaimana tak resah? Bila hanya lagu-lagu Indonesia saja yang laku di sana?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Proses pencekalan sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Apapun yang asalnya dari Indonesia, dalam hal ini tentu saja menyoal karya seni, akan terkena cekal bila terlalu mendominasi. Pada 5 Desember 2007 pementasan barongan pernah kena cekal, tak diperbolehkan lagi unjuk gigi di event-event resmi. Lantas di jalur musik,  Ratu dan Sheila on 7 pun pernah dilarang masuk lagi kesana. Alasannya? Sheila on 7 dan Ratu dianggap tak santun karena menggunakan kata-kata yang seronok untuk judul hit singlenya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cekal demi cekal terus berlanjut. Gejolak pun tentu saja ada. Di berbagai bilik chat, komentar pedas melayang menyayangkan keputusan pemerintah Malaysia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terus bagaimana dengan musisi kita? Mereka ternyata tak terlalu terusik. Rossa yang lagu-lagunya laku keras di sana memang menyayangkan. Namun D’Massive, band yang tengah naik daun dan dielu-elukan publik Malaysia menanggapi semuanya dengan santai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kita sih santai saja. Tanggal 17-19 Oktober nanti kita juga mau konser di situ kok,” ujar Rian sang vokalis saat ditemui di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Rabu (10/9) malam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitu pula dengan Ebiet G. Ade.“Saya pikir penyanyi kita tidak dirugikan dengan adanya pembatasan itu, sebab selama ini mereka ke sana juga hanya sebagai sambilan saja, omzetnya tentu saja lebih besar yang di dalam negeri.” begitu jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bila proses pembatasan masuknya musik Indonesia akhirnya memang jadi dilaksanakan, Malaysia memang terkesan tak adil. Toh kita sendiri juga tak pernah membatasi masuknya karya seni mereka ke Tanah Air. Bahkan Siti Nurhaliza pun malah dielu-elukan dengan gegap gempita di sini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menyikapinya, bolehlah kita jadi menghujat, namun akan lebih baik lagi bila kita juga jadi bercermin. Belajar dari sikap pemerintah Malaysia itu, yang sebenarnya hanya mencoba untuk melindungi seni dalam negerinya sendiri, hanya terlalu mencintai budaya ciptaan sendiri saja. Bila kita bisa bersikap sama, tapi tentu saja dengan implementasi yang lebih cerdas ketimbang membetot paksa telinga masyarakat seperti yang dilakukan oleh Malaysia itu, mungkin saja kebudayaan-kebudayaan serta pulau-pulau kita tak lagi akan terampas di masa yang akan datang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-881944653453539707?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/881944653453539707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=881944653453539707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/881944653453539707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/881944653453539707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/09/belajar-dari-kecerdasan-malaysia.html' title='Belajar dari Kecerdasan Malaysia'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-594581471568733344</id><published>2009-09-03T21:02:00.000+07:00</published><updated>2009-09-03T21:07:58.371+07:00</updated><title type='text'>Gelandangan yang Bangun Siang</title><content type='html'>Manusia Indonesia perlu belajar tidur pada gelandangan yang pernah saya lihat di suatu hari ini. Hari telah berangkat siang, tapi gelandangan itu, laki-laki, bisa tidur nyaman di trotoar jalan. Seperti mati, tak peduli panas yang menyengat, tak cemas bahaya dan abai pada gangguan pejalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diramalkan, wabah sulit tidur atau insomnia akan makin melanda manusia Indonesia. Bensin baru saja turun puluhan rupiah tapi mendadak bisa naik lagi ratusan rupiah. Bagi bensin, penurunannya, meski besar, sering tak berarti apa-apa. Ia tak otomatis sanggup menurunkan harga-harga. Apalagi jika penurunan itu kecil saja. Bagi bensin, kenaikannya, meski kecil, hebat sekali pengaruhnya karena harga-harga akan langsung menggila. Apalagi jika kenaikan itu besar jumlahnya. Maka betapa mahal ongkos mental masyarakat Indonesia jika setiap kali cuma dikocok demikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bensin belum usai membuat huru-hara, di jalan-jalan, angkutan kota ramai-ramai berunjuk rasa lantaran omprengan liar merajelala. Jalan raya makin menjadi modus berbagai kejahatan, pemalakan, kecelakaan, kemacetan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama pula tersiar kabar tentang aparat sibuk menembaki sesamanya. Perang antarkesatuan menjadi barang biasa. Begitu berat tugas aparat saat ini. Selain masih terus menghadapi gelombang kerusuhan dan demonstrasi mereka juga harus berperang melawan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajurit rendah sibuk gelisah mengatasi kemiskinan yang melilitnya. Sementara di atasnya, ada jenderal yang terang-terangan mengaku sudah lama kaya karena ''saya pernah menjabat di mana-mana,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar yang lain menyebut tentang betapa tidak gampang sekarang ini mempercayai manusia. Terbukti di sebuah pemerintah kota perlu mengetes air kencing ratusan pejabatnya, ee barangkali ada bau narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes semacam ini sungguh keterlaluan ditilik dari beberapa segi. Pertama betapa tak cukup sekarang ini mempercayai pejabat cuma lewat kebesaran kantornya, lewat jenis jabatannya, prestasi kerjanya, tingah lakunya, keadaan keluarganya, nilai ijasahnya, sejarah mesa kecilnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah panjang fakta seseorang kita kumpulkan, toh tak juga membuat kita gampang percaya hingga kita masih membutuhkan air kencingnya. Jika semua itu pun belum cukup, kita bisa mengobrak-abrik seluruh organ tubuh seseorang baru kita bisa mempercayai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar ini pun belum lagi diperkeruh dengan maraknya isu suap di kalangan anggota dewan. Tentang betapa keren jas mereka, betapa besar sabetannya, mobil mewahnya. Belum pula tentang tentang satgas partai yang menggeruduk sebuah hotel, memecahi kaca mobil dan menganiaya anggota partainya sendiri. Belum lagi ditambah dengan rencana sebuah kabupatan yang hendak menggelar pentas poco-poco akbar dengan ratusan ribu penari. Anak-anak sekolah di desa-desa, guru, lurah, camat, pegawai negari semua dikerahkan untuk proyek ambisius ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menari di sepanjang jalan yang ditutup sementara. Mereka akan berduyun-duyun, harus berseragam, harus tidak boleh telat...  demi tujuan mulia: masuk Museum Rekor Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, akan makin banyak persoalan yang membuat manusia Indonesia akan makin susah tidur. Dalam keadaan semacam ini, maka kualitas tidur gelandangan di atas adalah sesuatu yang bikin iri. Tidur seperti mati, seperti bayi. Dan hanya orang-orang yang punya sedikit beban dan persoalan saja bisa tidur sehebat ini. Tapi alangkah celaka jika untuk bisa tidur nyenyak, manusia Indonesia harus lebih dulu menjadi gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-594581471568733344?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/594581471568733344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=594581471568733344' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/594581471568733344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/594581471568733344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/09/gelandangan-yang-bangun-siang.html' title='Gelandangan yang Bangun Siang'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8785042940457720810</id><published>2009-08-17T16:49:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T16:50:54.605+07:00</updated><title type='text'>Ketika Kita Sibuk Sekali</title><content type='html'>Tujuh orang tetangga di kampung saya memiliki alasan yang berbeda tentang siaran Piala Thomas di televisi. Tiga di antaranya menonton karena tak sengaja. Tiga yang lain gagal menonton karena salah mengingat waktu penayangan, dan seorang lagi malah tak mengerti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, sebagai data pelengkap, dua remaja yang saya temui mengaku hafal jam dan harinya, tapi mengaku cuma menonton sambil lalu. ''Thomas nggak menggigit lagi sih,'' kata salah seorang dari mereka. Data yang lain lagi, di kampung saya waktu itu sedang ramai oleh acara ibu-ibu. Pelengkap data berikutnya adalah, bahwa saya yang saat itu nonton sendiri, bukan karena sengaja nonton, tapi karena jasa anak saya dalam mengacak-acak remote control-nya dan ketemulah siaran Thomas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menyangkut orang-orang yang saya ceritakan di atas, termasuk saya sendiri, apapun alasannya, tetaplah orang yang tak menganggap penting Piala Thomas lagi. Saya memang bukan penggemar badminton. Acara itu pun saya tonton lebih karena kecelakaan. Jika tontonan itu saya teruskan, tak lebih karena betapapun, yang sedang bermain adalah Indonesia, negara di mana saya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun, soal badminton tetap kita juga jagonya. Karena sepak bola kita kalah melulu. Mau basket, badan ini tak pernah bisa tinggi. Dengan badminton, kita bisa mengalahkan mereka yang berbadan tinggi itu. Maka badmintonlah sebenar-benarnya olah raga yang masih setia membela harga diri bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena betapapun, melihat Trikus, melihat Taufik, melihat Hendrawan dkk, adalah melihat darah daging sendiri. Padahal mereka tengah berada di negeri Cina, negera yang di masa silam telah dilukiskan begitu penting dan jauh. Mereka tengah sendiri. Kelewatan kalau saya tidak menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat itu kita benar-benar sibuk. Presiden Megawati juga masih berkunjung ke Timor Timur. Aneka televisi yang makin banyak itu juga sibuk dengan programnya sendiri-sendiri. Apalagi betapa susah sekarang ini membuat acara berating tinggi. Oya, Gus Dur juga kedapatan sedang menuntut Amien Rais. Penangkapan Ja'far Umar Thalib belum reda dari soal kontroversi. Para ABG sedang demam Meteor Garden. Yang lain lagi sedang gelisah apakah kaki David Beckham akan sembuh. Pendek kata, ini negara, dari anak muda, orang tua, ibu-bu, para politisi dan presiden sedang sibuk luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal single pertama kita baru daja dihajar Malasyia. Mereka lebih dulu mencuri satu angka. Tapi syukurlah angka ini dibalas oleh kemenangan ganda pertama, satu-satu! Tapi ya ampun, Taufik Hidayat kalah dari pemain yang menurut ramalan semua orang akan dia kalahkan. Sebuah kekalahan yang membuat kalap siapa saja yang menontonnya. Taufik sendiri membuang raketnya, dan pada kemarahan berikut ia malah membanting raket itu hingga remuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa wasit tengah menganiaya rasa keadilannya. Jika Taufik adalah Mike Tyson, dan jika Mike Tyson adalah pemain badminton, pasti ia akan mengamuk sejadi-jadinya. Karena dalam kejengekelan yang sangat, sambil bertinju pun boleh gigit kuping. Maka tidak peduli apapun event-nya, ia boleh saja mogok tanding dan keluar dari lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang Taufik bukan Mike Tyson. Maka Taufik pun masih memilih meneruskan pertandingan dengan kekalahan sempurna di mentalnya. Dari caranya membuang dan membanting raket, dari gambaran wajahnya yang kalut, kita sudah sadar untuk merasa kalah bersama-sama. Kemarahan itu terlalu berat dan waktu sesingkat itu mana cukup meredakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kekalahan Taufik itu adalah musibah. Karena partai ganda kemudian, adalah partai yang diremehkan. Tapi selalu saja sejarah terulang, pihak yang remeh itu malah sering mencengangkan. Trikus dan Halim menang. Dua-dua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka munculah Hendrawan sebagai penentu. Aduh, pemain ini apa tidak lebih baik menjadi veteran. Wajahnya memang dingin dan tenang, dan ia tidak pernah berteriak 'yesss' sambil melempar kepalan. Tapi jangan-jangan wajah itu bukan gambaran seorang jagoan. Tapi ketenangan orang yang telah siap kalah. Naa tuh kan, di set pertama saja sudah begitu mengkhawatirkan. Apalagi semua tahu, ia mengaku gerah dengan pola game tujuh. Apalagi saat itu lawan sudah meraih angka enam. Setitik lagi tamat. Tapi ooi, veteran ini menyusul. Deuce, dan menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ee set kedua menang lagi, eee set ketiga lagi-lagi menang. Maka segalanya langsung berubah. Pemain ini langsung kabur dari lapangan. Pendek kata, Indonesia Raya langsung bergema. Edan, saya menangis. Ketika Hendrawan dengan sesenggukan teringat pada kesulitannya menjadi warga negara Indonesia, saya nangis lagi. Tangisan ini baru terhenti setelah di cermin, saya melihat wajah ini jelek sekali. Ha ha ha... malu betul!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih malu lagi ketika saat menangis itu, saya merasa sendiri. Tetangga dan banyak orang di negara sedang sibuk sekali. Pasti banyak sekali yang tidak mendengar Lagu Indonesia Raya yang terdengar sangat berbeda dari upacara-upacara rutin ini. (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8785042940457720810?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/8785042940457720810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8785042940457720810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8785042940457720810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8785042940457720810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/08/ketika-kita-sibuk-sekali.html' title='Ketika Kita Sibuk Sekali'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4827387897813762506</id><published>2009-08-02T12:50:00.000+07:00</published><updated>2009-08-02T12:50:01.018+07:00</updated><title type='text'>Dua Jenis Tangisan</title><content type='html'>Banyak orang menangis ketika Baharuddin Lopa dikabarkan meninggal. Ada dua jenis tangis duka yang bisa kita tafsirkan. Pertama tangis kehilangan kedua tangis kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemas jika orang baik di Indonesia ternyata tinggal Lopa seorang. Kecemasan yang berlebihan memang. Tapi syarat kecemasan memang harus berlebihan. Karena kepergian Lopa tetap menyulut kecemasan berikutnyta. Betul, orang baik tidak cuma Lopa. Betul, orang baik masih banyak di Indonesia. Tapi kebaikan saja mana cukup untuk mengatasi persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar masih banyak orang baik. Tapi bagaimana kalau mereka tak memiliki keberanian. Mana ada jaminan bahwa kebaikan dan keberanian selalu menjadi satu. Kenyataan mengajarkan, banyak orang baik tapi menderita ketakutan diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar masih banyak orang baik sekaligus berani. Tapi bagaimana jika ia tak diberi kesempatan. Mana ada jaminan bahwa kebaikan dan keberanian selalu jadi satu dengan kesempatan. Kenyataan mengabarkan, betapa banyak orang baik dan berani malah frutrasi karena tak memiliki kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar ada orang baik, sekaligus berani sekaligus mendapat kesempatan. Lopa contohnya. Tapi bagaimana kalau ia tiba-tiba dihentikan langsung oleh Sang Pemilik Kekuasaan. Mana ada jaminan bahwa kebaikan, keberanian dan kesempatan selalu berarti sukses sebuah tujuan. Mana ada manusia sanggup mendikte nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Lopa adalah sebuah sindiran bahwa persoalan bangsa ini sudah terlalu berat jika dibebankan cuma kepada jaksa agung. Manusia Indonesia yang nyaris terancam linglung ini harus secepatnya mengingat kembali kata ''cuma'' itu. Karena kalaupun semua yang berlabel agung ini dikumpulkan, dioplos jadi satu, mulai dari jaksa agung, hakim agung, dewan pertimbangan agung... mana ada jaminan bahwa mereka telah otomatis menjadi keagungan yang sesungguhnya. ''Masih ada Aku,'' kata Sang Maha Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikapun semua yang akbar-akbar disatukan mulai dari tablig akbar, pengajian akbar, apel akbar, demontrasi akbar... siapa menjamin bahwa mereka akan menjadi keakbaran yang sesungguhnya. ''Masih ada Aku,'' kata Sang Maha Akbar. Kita memang mencintai Lopa dan menangis untuk kepergiannya. ''Tapi dia milik-Ku,'' kata Sang Maha Pemilik. ''Ia Ku-ambil untuk menegaskan kembali tentang kekuasaan-Ku,'' kata Sang Maha Berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ayo belajar menangkap isyarat ini beramai-ramai bahwa persoalan bangsa ini sudah terlalu rumit untuk diatasi cuma oleh kita. Tugas kita ternyata cuma satu saja agar krisis ini rampung, yakni menjadi ''kita yang baik''. Sebuah tugas yang hingga sekarang belum kita tunaikan. Jika kita menjadi presiden harus presiden yang baik. Jika menjadi anggota dewan, harus anggota yang baik, menjadi rakyat pun harus rakyat yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebaikan itu hingga sekarang belum rampung kita rumuskan. Masih kita perdebatkan, menjadi ajang pertengkaran, menjadi alat politik dan alat kepentingan. Padahal sementara kita sibuk bertengkar, si kebaikan kedapatan sendirian di pojok, kesepian dan tak seorangpun mau menyapanya. (CN01)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-4827387897813762506?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/4827387897813762506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=4827387897813762506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4827387897813762506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4827387897813762506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/08/dua-jenis-tangisan.html' title='Dua Jenis Tangisan'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2310067487207818423</id><published>2009-07-16T12:09:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T12:09:00.718+07:00</updated><title type='text'>"Jangan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan"</title><content type='html'>''Jangan memberi uang pada anak jalanan, tidak mendidik. Salurkan saja bantuan Anda ke...,'' kata sebuah spanduk. Jika Anda masuk ke kawasan Tugu Muda, Semarang, dan jika spanduk itu belum dicopot, Anda akan menjumpainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi spanduk itu merupakan bagian dari cara pandang banyak pihak terhadap anak jalanan. Tanpa sadar cara semacam itu pula yang bercokol di benak banyak orang. Seorang kawan mengaku tegas-tegas menolak memberi mereka uang, meski uang receh menumpuk di ceruk-ceruk mobilnya. ''Ini bukan masalah duit. Ini soal prinsip. Memberi kail lebih saya sukai katimbang memberi umpan,'' kata si kawan. Jadi, terbukti, bahwa cara berpikir Pemerintah Kota memang tak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah cara pandang semacam itu salah? Tidak. Yang salah ialah jika ada yang menganggap bahwa cuma itulah satu-satunya cara memandang persoalan anak jalanan. Karena terbukti, saya sendiri menempuh cara yang berbeda dari Pemerintah Kota. Saya tidak yakin sikap saya ini benar. Tapi izinkan saya menjelaskan alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai saja dari ikrar ini: kepada anak jalanan saya akan selalu memberi mereka uang sepanjang recehan itu masih tersedia. Sebuah niat mulia? Tidak. Penjelasannya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya memberi karena saya takut. Takut kendaraan dicoret, takut dimaki, takut dijahati. Tak semua anak jalanan adalah anak kecil dan tak berdaya. Beberapa di antaranya malah bertato dan bertampang galak. Mereka juga selalu berkoloni, bergerombol. Dibanding orang seperti saya, mereka juga pasti lebih siap berkelahi dan sejenisnya. Jadi pemberian karena sebuah ketakutan, pasti bukan kedermawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ada kalanya muncul juga rasa iba. Betapapun, saya bisa mengerti beratnya hidup yang mereka tanggung. Minus remaja-remaja yang bertato dan bertampang galak, banyak di antara mereka adalah anak-anak kecil, ibu-ibu hamil, dan wanita-wanita dengan bayi-bayi mereka. Melihat keadan mereka, melihat bagaimana kemiskinan sehebat itu harus menghadapi tekanan kota yang konsumtif dan keras, saya benar-benar tak sempat lagi berdebat soal apakah harus memberi ikan atau kail. Lagipula yang ada ini, yang biasa saya berikan ini, malah bukan ikan bukan kail, tapi sekadar duit receh. ''Jadi ayolah, kenapa harus berfilsafat untuk barang seremeh ini,'' nasihat saya pada diri sendiri. Ini pun bukan kemuliaan. Terharu adalah soal biasa saja. Para pencoleng dan koruptor juga manusia yang bisa terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adalah alasan paling prinsipil yang akhirnya makin meneguhkan ikrar saya. Alasan itu adalah betapa anak-anak jalanan ini hanya produk situasi. Di negara makmur, orang bahkan sudah merasa tertekan ketika berstatus sebagai penganggur, jobless. Antre berdiri mengambil uang santunan pemerintah tak lebih dari antrean aib bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sekitar kita makin banyak belaka pihak yang menekuni dunia pengemis. Belum lama ini dua anak, bukan pengemis, mendatangi rumah saya dan meminta-minta. ''Untuk bayar sekolah,'' katanya. Wah ini hebat, bahkan mengemis telah menjadi pilihan pertama dalam dunia kerja. Persis kenyataan di Indonesia. Betapa mental mengemis sebenarnya telah berurat-berakar dengan hebat. Dan itulah kenapa korupsi merajalela. Karena korupsi terjadi jika banyak orang berkelakuan semacam ini: miskin prestasi tapi rakus jabatan, menolak kerja keras tapi ingin bekelimpahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi anak-anak jalanan itu bisa saja hanya mewarisi kebudayaan sebelumnya belaka. Jika pihak yang diwarisi itu mati, anak-anak jalanan itu mungkin akan bersih dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2310067487207818423?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/2310067487207818423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2310067487207818423' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2310067487207818423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2310067487207818423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/07/jangan-memberi-uang-kepada-anak-jalanan.html' title='&quot;Jangan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan&quot;'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4638505462126249802</id><published>2009-07-13T21:37:00.000+07:00</published><updated>2009-07-13T21:38:40.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesulitan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Antara Cinta dan Kesulitan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;Antara cinta dan kesulitan terdapat satu kesamaan, yakni agar orang lain mengerti, ia butuh ditunjukkan, tak terkecuali pada anak-anak sendiri. Kejadian yang menimpa istri saya ini salah satu buktinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya tahu hari itu benaknya berat oleh serangkaian persoalan. Persoalan itu saya tau tak cuma berhenti di pikirannya tapi juga telah melesak ke batinnya. Ia mengaku perutnya seharian mual dan ia menduga sendiri sebabnya. "Mungkin karena aku banyak pikiran," katanya yang segera saya iyakan. Saya tak perlu ragu untuk menyetujui apa yang ia rasakan karena persoalannya adalah juga persoalan yang sedang saya rasakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tepat di saat penuh persoalan itulah anak-anak kami meminta sesuatu dan ketika permintaannya ditolak mereka bereaksi  secara keliru. Anak yang kecewa itu menganggap orang tuanya cuma bisa menolak dan amat jarang membahagiakan mereka dengan cara mengabulkan segera permintaannya. Sementara istri tampak terpukul oleh sikap anak-anak yang dianggap tidak tanggap keadaan, anak-anak juga mengurung diri karena merasa hatinya melulu dibuat kecewa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di mana posisi saya? Mestinya saya berada di pihak istri. Karena inilah aturannya: anak meminta, istri mengabulkan  tapi sayalah yang mencari uangnya. Jadi persoalan istri, persoalan saya juga. Kalau istri kekurangan uang, karena uang yang saya setorkan kepadanya memang sedang tak ada. Maka ketika dalam keadaan tak ada, anak-anak merengek sesuka hatinya, pasti hanya akan membuat kami kecewa. Hampir saja saya bergabung dengan istri untuk marah secara bersama-sama. Untung saya membatalkan niat ini dan memilih berpikir sejenak dari sudut pandang mereka. Saya cukup membayangkan masa kanak-kanak saya sendiri dahulu kala. Saat itu soal yang paling saya tahu adalah meminta. Bukan memahami keadan orang tua. Tak peduli separah itu kemiskinan keluarga, tak henti-henti saya merengek dan meminta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi begitulah  juga anak-anak saya kini. Kesimpulaan saya jelas: saya sedang berhadapan dengan pihak yang sedang tidak tahu. Maka tugas saya mudah saja sebetulnya: tinggal memberi tahu. Saya segera meminta anak-anak berkumpul lengkap dengan ibunya. Saya bercerita tentang persoalan istri yang anak-anak harus mendengarnya. Dimulai dari berapa gaji bapaknya sebagai wartawan. Setelah paham jumlahnya, anak-anak saya ajak melihat seluruh kebutuhan keluarga lengkap dengan ruang lingkupnya, dimulai dari kebutuhan mereka sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hasilnya, mereka sama-sama melihat kenyatan ajaib: bahwa SPP, buku, nonton, seragam, uang saku, uang mainan, uang jajan, renang, makan di luar, selama sebulan sudah menelan hampir seluruh gaji bapaknya. Jadi dengan cepat mereka tahu, bahwa orang tuanya bukan orang kaya. Jika selama ini kehidupan mereka berjalan baik-baik saja, karena orang tuanya harus berakrobat sedemikian rupa. Dan biar lebih dramatik, saya beberkan seluruh kebutuhan keluarga lengkap setiap bulannya: listrik, ledeng, telepon, pulsa, belanja harian, baju, buku, sepatu, iuran ini, iuran itu, sumbangan ini, sumbangan itu, bantuan untuk saudara ini, bantuan untuk saudara itu, bayar asuransi, gaji pembantu, gaji pak sopir, ... panjang sekali daftar itu, saya buat perinciannya, saya jumlahkan, saya bandingkan lagi dengan gaji resmi dan saya sodorkan kekurangannya untuk saya meminta pendapat mereka dengan cara apa kekurangan itu harus diperoleh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hasilnya lumayan. Anak-anak itu menunduk dan akal sehat mereka mulai bekerja betapa tanpa kerja keras, begitu gawat keadaan orang tuanya. "Kalian meminta, tepat ketika ibumu sedang memecahkan seluruh kesulitan keluarga," tambah saya. Anak-anak makin menunduk. Dan  hasil akhirnya, si kecil menyerahkan buku tabungannya untuk dihibahkan, si sulung menguras isi dompetnya untuk diserahklan kepada Ibu mereka. Kini ganti istri saya yang menunduk kehilangan kata-kata. Begitulah watak cinta dan kesulitan. Tak perlu banyak diperdebatkan, lempar saja datanya, dan biar pihak lain yang mengurai dengan akal sehatnya, termasuk anak-anak kita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(/)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-4638505462126249802?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/4638505462126249802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=4638505462126249802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4638505462126249802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4638505462126249802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/07/antara-cinta-dan-kesulitan.html' title='Antara Cinta dan Kesulitan'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2574317169303186343</id><published>2009-06-27T23:48:00.001+07:00</published><updated>2009-06-27T23:50:55.674+07:00</updated><title type='text'>Saya Menang Lotere</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Di email saya datang pengumuman, karena keaktivannya email ini memenangi lotere sebesar 500 ribu pound. Email itu diundi secara acak dari jutaan email dan cuma memunculkan lima pemenang dengan saya sebagai salah satunya. Panitia, yang mengaku Microsoft Team yang berkedudukan di London, meminta seluruh data saya untuk diverifikasi dan dibuatkan sertifikat kemenangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sertifikat ini oleh sebuah perusahan jasa kurir akan diantar dengan dua pilihan waktu: kilat atau biasa, sudah tentu dengan harga yang berbeda. Kenapa ongkos kirim untuk selembar kertas yang membutuhkan biaya ratusan dollar. Karena: "Jangan diukur berdasarkan berat objektifnya, tetapi dari berat 'berat dimensional'," kata panitia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terjemahan bebasnya mungkin: sebuah benda yang dimensinya tidak cuma kertas, tetapi juga kertas seharga 500 ribu pound. Karenannya mengirim cuma ratusan dolar untuk kemenangan sebanyak itu, apalah artinya. Tak lupa, panitia mengingatkan agar saya segera memenuhi tenggat pembayaran. Singkat waktunya, tak lebih dari dua hari. Jika tidak hadiah itu akan diberikan kepada peserta lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya sungguh melayani suarat ini dengan serius, karena saya melihat surat mereka juga serius. Saya mengirim seluruh data yang mereka minta. Begitu data terkirim, datang lagi jawaban mereka lengkap dengan gambar sertifikat kemenangan dengan nama saya. Saya sertakan juga bakan nomor HP saya sebagai bukti kesungguhan saya, sebagai balasan atas kesungguhan mereka. "Jangan segan-segan mengontak kami, jika Anda  membutuhkan pertanyaan," pinta mereka. "Terima kasih. Juga jangan sungkan-sungkan menghubungi saya kapanpun Anda mau," jawab saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangankan panitia yang akan memberi saya hadiah, bahkan pendengar siaran saya, pembaca buku-buku saya, hampir semuanya dengan mudah saya beri nomor pribadi. Saya balas SMS mereka satu persatu sekuat saya. Saya jawab seluruh pertanyaan mereka jika saya bisa. Kadang melelahkan, tetapi saya bahagia melakukannya. Di antara para penanya yang sebagian besar adalah para pelajar dan mahasiswa itu, kelak pasti akan ada yang menjadi para pemimpin, orang-orang penting dan berkah bagi sesama. Ini semacam latihan tugas pelayanan, yang ketika saya kuat melakukan ternyata mendatangkan kegembiraan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika anak-anak muda itupun saya layani, apalagi pihak yang akan memberi 500 ribu pound pada saya. Jumlah ini besar  sekali. Saya bisa membangun rumah plus naik haji. Maka kepada mereka saya berlaku sebaik-baiknya. Tidak cuma saya balas surat-suratnya, tetapi juga saya katakana siapa saya secara panjang lebar. Bahwa saya ini seniman yang juga pernah duduk sebagai bendahara koperasi di RT saya. Kalau ada waktu mampirlah, toh alamat saya juga jelas. Bahwa anak saya yang bungsu sedang ulang tahun dan baru saja jadi siswa teladan di sekolahnya. Saya katakan  bahwa meskipun uang hadiah itu amat besar untuk ukuran keluarga kami, tetapi kami tetaplah keluarga sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kami sudah merasa cukup dengan yang ada, karena meskipun keadaan sedang dianggap susah, toh harga-harga sayur di depan rumah tetap murah. Lagipula kebutuhan kami juga itu-itu saja. Kesukaan kami sehari-hari masih seperti biasa: sayur sawi, sambal terasi, tempe goreng dan ikan asin. Maka lepas dari rasa bahagia kami karena akan mendapatkan 500 ribu pound, saya katakan kepada Panitia Microsoft Team, bahwa uang itu terlalu besar dan kami takut jika ia malah akan mengubah kesehatan mental kami. Maka dengan segenap permintaan maaf, saya meminta panitia untuk mengurus hadiah saya itu dan dengan tulus ikhlas saya meminta mereka agar sudi menyumbangkan saja seluruhnya kepada keluarga Bill Gates, sang pendiri Microsoft yang barangkali lebih membutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi surat saya yang terakhir ini tak lagi ada balasan. Padahal saya masih menunggu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(/) &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2574317169303186343?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/2574317169303186343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2574317169303186343' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2574317169303186343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2574317169303186343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/06/saya-menang-lotere.html' title='Saya Menang Lotere'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5562143067233752965</id><published>2009-06-21T13:30:00.000+07:00</published><updated>2009-06-21T13:31:22.037+07:00</updated><title type='text'>Penjual yang Tidak Berjualan (1)</title><content type='html'>&lt;div&gt;Saya kesulitan menolak penjual yang satu ini, lebih karena pada dasarnya ia bukan seorang penjual, ia juga tidak sedang berjualan, walau ia sedang melakukan aktivitas penjualan. Ia adalah salah satu pendengar siaran radio saya. Seorang yang mengalami kebutaan secara bertahap. Dari terang menuju gelap dan untuk akhirnya sama-sekali gelap, adalah derita yang hanya dengan membayangkan saja sudah terasa beratnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi teman ini enak saja menceritakan seluruh deritanya. "Melek saya pernah, buta saya pernah. Jadi lengkap hidup saya," katanya ringan. Sebelum pandangannya gelap total, ia sampai pada tahapan kabur. Sebuah tahapan yang menurutnya sangat menyiksa. Sebagai orang normal ia tidak lagi awas, sebagai orang buta, syarafnya belum terlalu peka. Jadi tanggung. Akibatnya ia sering harus meraba-raba untuk sampai ke tempat-tempat yang bahkan telah ia hafali ketika matanya masih awas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia seorang guru. Dalam keadaan mata mengabur ia masih terus mengajar dan memasuki ruang kelas dengan merambat, menyentuhi apa saja dengan tangannya dan sesekali kepalanya harus terantuk benda-benda dan setelah sampai di kelas hanya ditinggalkan satu-persatu oleh murid-muridnya. "Pada keluar diam-diam dan yang tersisa tinggal empat orang," katanya. Dengan nada sedih? Tidak. Ia geli menterawai nasibnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di kampungnya ia pernah menjadi bahan tertawaan ketika mencoba berjalan di jalan lurus yang rasanya telah ia hafali tetapi keadaan terbaru tak lagi ia kenali. Ia heran kenapa jalannya makin ke depan makin mendaki. Setelah terdengar gelak tawa di sekitar baru ia sadar bahwa ia sedang mendaki tumpukan pasir yang ditimbun di jalan itu. Di dalam angkot ia pernah disembur makian karena apa yang ia sangka sebagai jok adalah pangkuan seorang perempuan. Seluruhnya yang ia ceritakan adalah derita. Tetapi ia menceritakannya dengan kegelian yang nyata.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Orang inilah yang suatu kali bertelpon mengeluhkan keadaan ekonominya yang parah. Ia tinggak cuma bersama ibunya yang tua dengan pekerjaan yang sama sekali tak ada. Seluruh kemampuannya seperti tak berguna lagi ketika matanya dinyatakan buta total. Dan satu-satunya aset yang ia miliki hanyalah rumah tipe sangat sederhana ia beli secara kredit saat menjadi guru dan kini rumah itu terbengkalai begitu saja. Rumah itulah yang ia tawarkan pada saya, dan satu saja alasnanya: karena ia percaya bahwa saya adalah orang baik hati. "Setidaknya dari suara Anda yang saya dengar di radio," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ditempatkan sebagai orang baik hati benar-benar membuat saya tersudut dan tegang karena saya paham apa konsekuensinya. Karena sudah dianggap baik hati, maka rumah itu harus saya beli, itulah pesannya. Tetapi ini soal membeli rumah. Meskipun tipe sangat sederhana (bobrok pula), duitnya pasti besar untuk ukuran penghasilan saya saat itu. Jadi jika memberatkan hidup, saya pasti lebih memilih kehilangan gelar baik hati ketimbang harus mempertaruhkan nasib sendiri. Apa sikap saya selanjutnya akan saya ceritakan pekan depan! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(/)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-5562143067233752965?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/5562143067233752965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=5562143067233752965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5562143067233752965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5562143067233752965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/06/penjual-yang-tidak-berjualan-1.html' title='Penjual yang Tidak Berjualan (1)'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4497239223139529699</id><published>2009-06-10T23:02:00.000+07:00</published><updated>2009-06-10T23:02:00.457+07:00</updated><title type='text'>Nasihat dari CD Porno</title><content type='html'>Seorang yang kecewa, menulis surat pembaca di sebuah harian ibu kota terkemuka. Isinya: anjuran untuk tidak membeli CD di pinggir jalan karena banyak barang palsu, cover tidak cocok dengan isi. "Saya membeli 12 keping CD porno, tapi setelah saya stel isinya lagu-lagu daerah," begitulah kira-kira tulis pengirim surat. Suratnya kemudian menegaskan perang pada pemalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berterima kasih atas anjurannya, tapi jauh lebih berterima kasih atas keterusterangannya. Untuk berani jujur mengaku tengah membeli CD porno pun butuh keberanian, ee jumlahnya 12 keping lagi! Karena tidak ada informasi yang pasti apakah niat pembelian CD cuma untuk koleksi, untuk penelitian, atau untuk sekadar penghibur syahwat, maka saya lebih tertarik unutk memilih yang terakhir sebagai asumsi: persoalan syahwat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara kemudian CD itu semuanya palsu, cuma berisi lagu-lagu daerah, adalah humor yang lain. Perkara kemudian ada orang yang kecewa lalu beralih menjadi pejuang anti pemalsuan adalah parodi yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah, betapa meriah sekarang ini pameran aib di depan publik. Lihat saja pengakuan pasangan selebritis yang kemudian bercerai ini. Komentar si laki-laki: "Ketika saya kawini dia sudah tidak perawan." Komentar perempuan. "Saya aborsi begini juga demi nama baik dia dan keluarganya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat sekali. Masyarakat begini gampang mendapat informasi bahwa artis cantik yang sering muncul di sinetron anu itu ternyata sudah lama tidak perawan lagi. Bahwa cowok keren yang bintang iklan itu juga telah lama tidak perjaka lagi. Hebat sekali bahwa aborsi yang di Indonesia masih dinyatakan sebagai tindakan ilegal itu telah menjadi legal di mana-mana. Luar biasa bahwa niat aborsi yang cuma disebabkan oleh ogah hamil itu bisa untuk membela nama baik. Jadi ada jenis nama baik yang dibangun di atas pembunuhan embrio bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengakuan sehebat ini, angket-angket dan penelitian seks yang disiapkan oleh para akademisi sebetulnya tak perlu lagi. Bahwa angket di kota anu yang mengatakan 97 pesren mahasiswi sudah tidak perawan, bahwa 95 persen dari ABG yang pacaran selalu berhubungan badan, tak perlu bikin kaget lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tanpa disodori angket dan pertanyaan pun, akan makin banyak orang mengaku secara suka rela. Aib wanita akan dibuka oleh mantan-mantan suami mereka. Aib laki-laki akan dibuka dengan suka cita oleh mantan istri-istri mereka. Bursa pengakuan ini pasti akan makin ramai jika sudah pula dimasuki oleh para pelaku selingkuh, istri simpanan, pacar gelap, para gigolo. Daftar ini masih bisa memanjang lagi jika para pelacur dari berbagai kelas membongkar identitas para pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti pasti akan ada dunia tanpa aib, karena semua jenis aib mungkin didiskusikan, di seminarkan dan dibuat pengakuan secara terbuka. Di dunia yang penuh intrik dan pertengkaran, manusia akan makin sulit menemukan alat untuk memuaskan naluri kebenciannya. Untuk ini, bukan tidak mustahil, akan banyak pasangan yang merekam hubungan badan mereka, merekam adegan-adegan paling sensitif untuk kelak disebarluaskan jika masa pertengkaran tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus penyebaran aib itu bisa jadi tidak cuma akan lewat pengakuan di media massa tapi juga lewat pemutaran slide, pemutaran video di tempat-tempat tertentu dengan memungut karcis segala. Dan jika hal ini dirasa belum cukup bagi hasrat kebencian, akan dibuatlah rekaman itu ke dalam versi layar lebar untuk bisa diputar di lapangan-lapangan terbuka sebagai bioskop misbar alias jika gerimis bubar! (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-4497239223139529699?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/4497239223139529699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=4497239223139529699' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4497239223139529699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4497239223139529699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/06/nasihat-dari-cd-porno.html' title='Nasihat dari CD Porno'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-557719621242753072</id><published>2009-06-02T20:58:00.000+07:00</published><updated>2009-06-02T21:01:02.462+07:00</updated><title type='text'>Fatwa Haram</title><content type='html'>Setelah fatwa haram golput, fatwa haram rokok, kini giliran MUI dikabarkan mengharamkan Facebook (walau kabar ini ternyata tidak benar). Tapi karena kabar itu telah begitu menyebar, saya terpaksa mengandaikan kabar itu benar karena saya telah menanggung akibatnya, setidaknya harus menjawab pertanyaan anak-anak saya yang senang bermain Facebook dan malangnya... saya juga. Apalagi anak-anak itu bersekekolah di sekolah agama, yang halal dan haram memang dihitung dengan ketat. Jika saya ajak makan di luar, anak-anak itu terbiasa menatap seluruh makanan seperti seorang intel dan mengusut halal-haramnya. Jadi "haram" adalah kata yang menakutkan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka inilah jawaban saya atas pertanyaan tidak cuma anak-anak saya tetapi juga siapa saja yang pernah menanyakan pendapat saya atas aneka fatwa haram termasuk untuk rokok dan golput itu. Jawaban saya; seluruh dari fatwa itu saya setujui karena ia tidak mengikat saya, dan MUI sendiri juga tidak bermaksud mengikat siapa-siapa. Lembaga itu hanya berfatwa saja. Diterima syukur, tidak diterima tak apa-apa. Jadi jelas sebetulnya, untuk sesuatu yang boleh diterima dan boleh ditolak, tak perlu menimbulkan perdebatan. Tinggal ditolak atau diterima begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak menyangka jawaban saya ini tidak serius. Persangkaan itu keliru, karena sikap saya itu sungguh sangat serius. Untuk soal-soal yang jelas tidak mengikat, kenapa saya harus buang-buang waktu untuk memikirkannya lebih-lebih menjadikannya sebagai bahan bertengkar. Apalagi soal rokok misalnya, sebelum MUI mengharamkan saya malah sudah jauh-jauh hari mengharamkan rokok untuk diri saya sendiri. Jadi ketika fatwa rokok haram itu turun, saya malah jadi gede rasa: eh jangan-jangan MUI tahu kalau Prie GS tidak merokok, maka tergerak untuk membuat fatwa haram rokok. Tapi namanya juga cuma ge er, jika pun keliru, itu soal biasa. Tetapi intinya, untuk sesuatu yang sejurusan dengan selera saya, sulit bagi saya untuk tidak setuju. Tapi apakah berarti saya bersebarangan dengan pihak yang menolak? Tidak juga. Karena kiai-kiai besar yang saya kagumi itu, ternyata malah perokok berat. Dan saya makin terkagun-kagum saja meskipun mereka menghisap barang yang sudah diharamkan MUI, ternyata juga tidak mengurangi kebesarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus fatwa soal golput itu pasti juga saya setujui, apalagi pada dasarnya saya memang tidak golput. Bagi saya pemimpin yang buruk pun lebih saya sukai ketimbang negara ini tidak ada pemimpin sama sekali. Karena jika ada pemimpin, meskipun buruk, pasti ada kebaikannya. Dan kebaikan ini pasti lebih baik katimbang tidak ada sama sekali. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus seandainya ada fatwa Facebook haram, saya juga akan setuju, walau saya sendiri pemakai Facebook. Tapi apakah jika sudah setuju lalu akan berhenti memakai Facebook? Tidak. Inilah enaknya watak fatwa yang tidak mengikat itu, ia tidak ada pengaruhnya bagi hidup saya. Bagi yang yang haram, Facebook pasti haram. Bagi yang halal, Facebook ya halal saja. Sesederhana itu. Mana mungkin? Mungkin saja. Karena jangankan cuma Facebook, gula saja bisa haram bagi penderita diabetes. Begitu juga dengan sate kambing pasti juga haram bagi penderita hipetrensi. "Oo bukan satenya yang haram, haram itu kan kalau berlebihan," begitu barangkali bantahannya. Benar, tapi bantahan ini juga bisa dibantah lagi. "Begitu juga dengan Facebook. Jadi Facebook dengan sate sama kedudukannya," kata pembantah berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ada sisi halal dan haram sekaligus di dalam diri saya ini tehadap segala sesuatu, tak terkecuali terhadap Facebook. Dua sisi itu jelas sekali dan mudah memilahnya. Saya laporkan kepada MUI juga bahwa di dalam Facebook, ada Facebooker yang kerjaan lain tak ada selain cuma mengingatkan waktu azan semata. Saya belum pernah melihat gaya muazin yang sedemikian efektif seperti orang ini: cukup dengan sekali klik anjurannya langsung menjangkau seluruh dunia. Jadi mau segala sesuatu dihalalkan, mau diharamkan, rasanya saya kok setuju saja, karena keduanya ada di dalam diri saya dan baru benar-benar menjadi halal atau haram setelah ada keputusan saya. Jadi di antara fatwa itu, masih ada saya sebagai penentunya. Persoalannya, siapakah saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-557719621242753072?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/557719621242753072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=557719621242753072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/557719621242753072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/557719621242753072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/06/fatwa-haram.html' title='Fatwa Haram'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-6046633424348434002</id><published>2009-05-24T14:06:00.000+07:00</published><updated>2009-05-24T14:07:52.283+07:00</updated><title type='text'>K u n j u n g a n</title><content type='html'>AKHIR-AKHIR ini, kotaku sering mendapat kunjungan pejabat tinggi. Aneka spanduk dibentangkan, baliho, poster dan ucapan selamat datang bertebaran, petugas keamaaan ramai berdiri di pinggir-pinggir jalan. Di lapangan, panggung besar didirikan. Pidato dan hiburan dipertontonkan. Ramai itu, pasti. Tapi yang lebih pasti, kunjungan semacam itu pasti menghabiskan banyak uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah arti kunjungan itu bagi rakyat sepertiku? Tak banyak, setidaknya untuk saat ini. Karena aku lebih membutuhkan perbaikan-perbaikan katimbang kunjungan-kunjungan. Diperbaiki tanpa dikunjungi jauh lebih menarik katimbang dikunjungi tanpa diperbaiki. Lagipula kunjungan semacam itu tak aku setujui dari berberapa segi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tentu soal biaya tadi. Karena aku mendengar sebelumnya, seorang pejabat tinggi lain yang berkata tentang betapa gede utang Indonesia. ''Rp 1.300 trilyun,'' katanya. Rp 700 trilyun di antaranya habis untuk membayar krisis, dibagi untuk menambal ambruknya dunia perbankan, rusaknya sektor keuangan dan utang PLN yang mencapai Rp 50 Trilyun. Tapi apapun rinciannya, ongkos krisis sebesar itu benar-benar telah membuat negara ini bangkrut. Maka kunjung-mengunjungi dengan panggung besar, upacara besar dan ritual-ritual mahal, tentu bukan cuma kegiatan kontra-produktif, tapi juga menghina deritaku, rakyat yang tengah menanggung krisis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kunjungan-kunjungan itu selalu membuat sibuk daerahku. Jujur saja, ketenanganku menjadi sangat terganggu. Aku jadi melihat keramaian yang menakutkan. Jalan-jalan macet dan para petugas kemanaan tiba-tiba menjadi tampak tegang dan garang. Jika aku seorang yang bermobil, aku terpaksa harus rela berhenti untuk memberi iring-iringan petinggi itu jalan. Jika aku bermotor, aku cuma bisa menahan pengap dan guyuran asap kendaraan. Jika aku penumpang angkutan, keadaanku akan lebih buruk lagi. Panas berdesakan. Dari keadaan yang menyiksa ini, aku hanya bisa menatap konvoi sang petinggi dengan cemburu dan iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, aku sering melihat, kunjungan itu malah membuat sumber nafkah sebagian saudaraku terganggu. Karena watak kunjungan selalu membutuhkan kebersihan, ketertiban dan keamanan, tiga hal yang mestinya belum kita miliki dalam kualitas yang sesungguhnya. Maka segera disiapkanlah keadaan aman, tertib, dan bersih itu dalam semalam. Kemakamuran instan pun dicangkok hanya demi sebuah kunjungan. Isi kenyataan kita kemas dalam kardus, untuk kembali digelar setelah sang petinggi pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kita tak mengajari diri kita untuk kuat, kuat ditatap pemimpinnya seperti apa adanya. Kenapa kita tidak juga mengajari pemimpin itu kuat, kuat untuk menatap kita seperti apa adanya. Berbahaya sekali jika hubungan rakyat dan pemimpinnya adalah hubungan saling menipu. Siapa sebetulnya yang memulai, rakyat yang memang gemar menipu atau pemimpin yang gemar ditipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kunjungan-kunjungan itu membingunkanku tentang beda petinggi negara dan petinggi golongan. Maka bendera-bendera yang berkibaran itu bisa menganggu mutu kepemilikanku atas pemimpinku. Sebagai rakyat, aku sungguh egois dan emoh dimadu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, aku ingin mencitai pemimpinku dengan caraku sendiri. Kunjungan-kunjungan itu, setidaknya untuk saat ini, mengancam merusak selera cintaku. Pemimpin yang boros, yang tidak peka suasana hati, yang lebih suka berpikir tentang golongannya, sungguh bukan tipe pemimpin idolaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, meskipun pemimpinku jauh, meskipun daerahku tak pernah dikunjungi, jika pemimpin itu terhindar dari watak-watak tadi, sungguh akan aku cintai. Gambarnya akan kupajang di dinding-dinding rumah dengan rasa hormat yang sesungguhnya. Aku percaya, untuk jatuh cinta, rakyat dan pemimpinnya tak perlu berdekatan. Karena kabaikan akan tetap terasa walau kita saling berjauhan. (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-6046633424348434002?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/6046633424348434002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=6046633424348434002' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6046633424348434002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6046633424348434002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/05/k-u-n-j-u-n-g-n.html' title='K u n j u n g a n'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7471371242804341759</id><published>2009-05-24T14:01:00.000+07:00</published><updated>2009-05-24T13:41:18.594+07:00</updated><title type='text'>Bahasa dan Kelakuan Kita</title><content type='html'>KETIKA Taufik Hidayat memutuskan mundur dari PBSI, salah seorang pengurus organisasi itu berkata: ''Kita kehilangan pemain potensial.'' Benarkah pemain sekaliber Taufik cuma berderajat sebagai pemain potensial? Lalu apa beda Taufik dengan pemain kampung pemula? Bagaimana sebetulnya wartawan, komentator, pengurus PBSI, atau kita semua, pemakai bahasa di negeri ini harus membahasakan kemampuan Taufik dengan kata yang memadai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabiat kita dalam berbahasa sering demikian aneh. Tabiat sebagai peragu dan plin-plan misalnya, akan tercermin dalam gaya ungkapan semacam ini: "Panggung pertunjukkan itu 'cukup megah'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keraguan lagi jika kata "megah" pasti menggambarkan kebesaran, ketinggian, sangat lebar, sangat panjang. Untuk itulah ia mendapat sebutan megah. Ia pasti ukuran yang melebihi batas kewajaran. Jadi kata "cukup" itu sulit diterima nalar jika dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang lebih dari cukup. Kalau ia cuma cukup megah, berarti ia tidak megah lagi. Jadi bagaimana ya dan tidak dipaksa bersatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah hobi kita. Maka dalam kehidupan sehari-hari, sikap kita cenderung tidak jelas. Gemar betul kita mengatakan cukup besar, cukup bijaksana, cukup cantik, cukup galak. Kenapa kita tidak bisa berterus terang mengatakan bahwa dia cantik, besar, galak, bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang ungkpan Taufik sebagai "pemain potensial" menggambarkan dua kemungkinan watak: sebagai pencemburu dan sebagai si pelit. Dua kebiasaan ini sangat berbahaya bagi kebahagiaan orang lain. Ia akan membuat orang merasa tak dihargai sebagaimana mestinya. Tidak ada anjuran untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang, tapi juga tak perlu mengkorup kehebatan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi gaya yang mecerminkan watak yang suka melebih-lebihkan kenyataan. Sekarang ini gampang sekali kita menyebut pengajian biasa sebagai akbar, tablik biasa sebagai akbar. Kata akbar yang biasanya dekat dengan Tuhan, telah dipindah ke manusia. Jadi ada manusia menyembah Tuhan sambil membesar-besarkan dirinya sendiri. Begitu juga ketika kita harus menyebut pemain film sebagai bintang. Wah, bintang yang tinggi itupun masih dianggap kurang tinggi. Ia masih harus ditambah dengan maha-bintang. Lagi-lagi sebutan yang sering dipakai untuk Tuhan sekarang cuma menjadi milik para pemain film. Sinetron pun tak mau ketinggalan. Apapun mutunya, ia boleh menambahkan kata mega di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang watak kita sebagai bangsa yang bertele-tele dan sok mulia muncul dalam gaya berikut: untuk menyebut kata pembantu misalnya, kita harus repot-repot menggantinya sebagai pramuwisma, pelacur sebagai tunasusila. Kata bui yang pendek, padat dan praktis harus dipanjangkan sebagai penjara. Penjara ini pun masih kurang panjang karena diubah menjadi lembaga permasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul-betul pemborosan energi dan suku kata. Tapi lebih penting dari itu semua, kita gemar betul menutupi keburukan kelakuan ini dengan berlindung di bawah keindahan kata-kata. "Jika kelakuan buruk, minimal kita masih punya kata bagus untuk menutupinya," begitu kira-kira argumentasi kita. Buktinya gampang saja, apakah sikap kita pada pembantu, pada pelacur dan para brohmocorah telah sebagus kata-kata kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk naluri hipokrit dan tak tahu diri bisa digambarkan lewat kebiasaan pidato-pidato resmi yang biasanya panjang, bertele-tele tapi miskin bobotnya. Padahal pidato itu hanya berperan sebagai pembuka saja. Sebagai pembuka, jahatlah kiranya jika ia harus berlama-lama. Tapi sudah begitu lama, di akhir sambutan masih juga ia sempat berkata: tidak bijaksana kiranya jika saya harus berpanjang kata...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat bahasa, sering demikian jelas mutu kelakuan kita. (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-7471371242804341759?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/7471371242804341759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=7471371242804341759' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7471371242804341759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7471371242804341759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/05/bahasa-dan-kelakuan-kita.html' title='Bahasa dan Kelakuan Kita'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4972825483176313775</id><published>2009-05-20T16:49:00.001+07:00</published><updated>2009-05-20T01:12:55.249+07:00</updated><title type='text'>Dua Jam Sebelum Keberangkatan</title><content type='html'>Sebelum atlet berlaga, harus melakukan peregangan. Sebelum kendaraan diberangkatkan, mesin harus dipanaskan. Sebelum menulis sajak, penyair harus duduk dan terdiam. Maka sebelum berangkat kerja, manusia juga butuh kesiapan. Pemanasan mutlak hukumnya bagi sebuah pergerakan. Tetapi saya curiga, tidak semua kita yang hendak bekerja, berangkat dengan kesiapan. Maka kerja yang tidak siap itulah sumber aneka persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena soal sederhana, seorang pekerja yang tidak siap, akan mudah terbakar kemarahan. Kalau ia seorang atasan: bawahan terlambat akan terasa sebagai hinaan. Dering telepon akan serasa gelegar petir dan klakson di jalan akan terasa seperti bentakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia seorang bawahan, maka ia akan tegang cuma deru mobil atasan. Ketika atasan memanggil ke ruangan, ia seperti hendak masuk arena uji nyali. Ketika atasan ia lihat untuk pertama kali, ia seperti melihat penampakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma karena ketidaksiapan yang soal-soal sederhana menjadi begitu beratnya. Maka jika ingin kuat, bersiaplah! Begitulah cara saya menasihati diri sendiri. Nasihat ini butuh ditegaskan berulang-ulang, karena saya tahu benar siapa diri saya ini. Saya pasti bukan orang pemberani. Maka untuk berani saya pasti butuh kesiapan. Saya bukan orang yang selalu jujur. Maka untuk jujur, saya butuh latihan. Saya bukan orang ramah, maka agar bisa ramah, saya butuh kegembiraan. Berangkat setelah siap, itulah kata kuncinya. Kesiapan akan membuat kegembiraan. Dan kegembiraan akan mengalirkan bermacam-macam kekuatan. Kuat ramah, kuat jujur, kuat derma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit sekali untuk ramah jika hati kita tidak gembira. Sulit sekali berbuat jujur kalau hidup ini penuh persoalan. Sulit sekali kita berderma kalau hati sedang tidak rela meskipun sedang banyak uang di kantong kita. Kesiapan akan mudah memantik kegembiraan, kegembiraan mudah melahirkan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesiapan itu, sepanjang pengalaman saya, cuma butuh cara-cara sederhana, misalnya cukup dengan menyediakan waktu minimal dua jam sebelum keberangkatan. Karena setelah bangun tidur, untuk tenang, seseorang butuh terdiam, demi mengembalikan kesadaran, menata nafas dan pikiran, baru mengerjakan lain-lain persoalan. Mandi dengan tenang, minum kopi dengan tenang, dan maka pagi dengan tenang. Bahkan makan minum yang kehilangan ketenangan, cuma setara dengan memasukkan barang ke dalam keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jarak antara tidur dan kerja itu cuma sekejap saja, saya tak bisa membayangkan mutu keberangkatan seperti apa yang ia dapatkan. Itulah kerja yang dibekali dengan mandi yang buru-buru, makan yang buru-buru, di jalan yang buru-buru dan semua soal yang berwatak buru-buru. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada hasil bermutu dari sebuah proses yang buru-buru. Bahkan di jalanan pun, jika kita buru-buru, tak ada yang nikmat dari sebuah perjalanan kecuali siksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh obyek di jalanan cuma seperti hambatan. Jika ada orang yang terlalu pelan, ia tampak seperti menggoda. Jika ada orang menyalip sembarangan ia seperti menantang. Dan siapapun yang sedang menghalangi jalan ia sah untuk disingkirkan. Seluruh isi jagat raya ini sepertinya tengah keliru cuma karena kita sedang buru-buru. Ada banyak mutu hidup yang kita pertaruhkan, cuma karena sebuah ketidaksiapan. Dan membangun kesiapan itu ternyata sederhana: cukup dimulai dengan kebiasaan bangun setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. (Prie GS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-4972825483176313775?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/4972825483176313775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=4972825483176313775' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4972825483176313775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4972825483176313775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2008/02/dua-jam-sebelum-keberangkatan.html' title='Dua Jam Sebelum Keberangkatan'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-169037906271198142</id><published>2009-05-04T12:12:00.001+07:00</published><updated>2009-05-04T12:53:04.551+07:00</updated><title type='text'>Orang Kalah</title><content type='html'>Saya pernah menjadi orang kalah. Bukan kekalahan besar, tetapi sekadar kekalahan dalam lomba vocal group di sekolah. Tapi karena main gitar masih menjadi sisi penting hidup saya, maka seluruh dunia ini rasanya tak ada yang lebih penting dari gitar. Jadi cukup hanya dengan kalah lomba vocal saya merasa dunia otomatis runtuh. Butuh berhari-hari bagi saya untuk berani keluar kamar kos dengan tenang. Rambut saya cukur pelontos, kuku jari saya potongi dan dua hari saya membolos. Untuk apa semua ini? Untuk marah dan protes pada keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara keadaan yang saya protes itu ternyata tak menggubris protes saya. Matahari tetap muncul dan tenggelam seperti biasa. Hanya karena saya sedang sedih misalnya, matahari juga tidak otomatis mengucapkan belasungkawa, untuk mau sejenak terbit terbalik muncul dari barat dan tenggelam di timur. Ketika ini benar-benar terjadi tentu saya akan merasa gembira dan ditemani. Saat seluruh penduduk dunia kaget, mereka pasti bertanya-tanya, ada apa ini? "Ooo ini ada orang yang tinggal di sebuah kampung di ujung kota Semarang sana, namanya Prie GS sedang murung karena kalah lomba vocal group!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa senang kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi nyatanya tidak. Tak peduli apakah saya memangkas rambut atau sekalian memotong kepala karena kekalahan itu bakul-bakul di pasar tetap berjualan seperti biasa. Mereka sama sekali tidak pernah tahu kekalahan saya. Jangankan cuma kalah lomba, sekalipun vocal group itu tidak pernah ada di dunia, apa peduli mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, sebetulnya tidak ada yang peduli dengan urusan kita, termasuk kekalahan, kemarahan, kejengkelan, kedengkian kita, kecuali diri kita sendiri. Kita terlalu serius pada urusan diri sendiri sementara orang lain juga pasti terlalu sibuk dengan urusan mereka. Maka menyangka bahwa mereka sibuk mengurus urusan kita termasuk kekalahan kita adalah sebuah kekeliruan. Tetapi keliru prasangka itulah yang diteruskan hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebuah partai kalah, atau seorang caleg gagal misalnya, langit memang terasa runtuh. Tapi langit yang runtuh itu pasti cuma langit mereka. Langit yang asli masih baik-baik saja. Mereka merasa orang di seluruh dunia tengah menyorakinya. Padahal tidak. Jangankan untuk menyoraki, untuk menghafal nama-nama mereka saja warga dunia ini tak punya waktu. Tapi karena mereka menyangka kita semua ini tengah gembira melihat si kalah itu kecewa dan malu, tergeraklah si kekalahan itu untuk menyalahkan daftar pemilih bermasalah, mengobrak-abrik Kantor KPU sampai hendak memboikot hasil pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal yang menyoraki kekalahan itu tidak ada. Kalau pun ada jumlahnya paling sedikit saja. Penyorak terbesar pasti diri kita sendiri. Untuk itulah kenapa kita butuh menyalahkan dunia seisinya untuk sakit hati atas kekalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya kalah lomba itu, tak pernah terlintas sekalipun di pikiran saya untuk menyalahkan diri sendiri, untuk mengakui kemenangan lawan dan untuk menghargai keputusan dewan juri. Ketika saya sedang kalah itu yang muncul adalah tudingan yang seluruhnya mengarah ke pihak lain. Itu juri pasti kena suap, itu si pemenang pasti cuma beruntung, atau itu penontonnya pasti goblok semua. Sama sekali tak peanh saya pikir bahwa kekalahan saya itu karena mutu permainan gitar saya yang jelek dan lagu saya yang buruk mutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika partai saya kalah dan saya adalah caleg gagal, sulit untuk menghentikan sumber kekalahan itu cukup di satu soal saja: yakni karena saya memang benar-benar tak disukai massa. Menjadi kalah adalah saatnya untuk mengada-ada. Namanya juga mengada-ada, ia pasti mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-169037906271198142?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/169037906271198142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=169037906271198142' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/169037906271198142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/169037906271198142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/05/orang-kalah.html' title='Orang Kalah'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7977259078695289955</id><published>2009-04-26T00:07:00.002+07:00</published><updated>2009-04-26T00:08:31.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='prie'/><title type='text'>Saya Banget!</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;Saat kolom ini saya tulis, putri saya, Suha, sedang keranjingan memutar lagu-lagu kesukaannya. Lagu yang malangnya, karena datang dari generasi berbeda, tak satupun saya kenali. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemalangan berikutnya, lagu itu disimpan di komputer bapaknya. Kemalangan berikutnya lagi, ia selalu tergerak memutar lagu itu tepat ketika saya hendak menghidupkan komputer dan siap mengetik. "Nunut sejenak," katanya. Lalu tangannya terampil menjelajah di mana lagu itu disimpan, mengeraskannya dan menyiksa bapaknya. Kemalangan terakhir ialah ketika saya harus mendengar lagu anak saya dari jenis yang asing, yang tidak saya sukai, tetapi harus saya dengar setiap kali.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semula saya hampir menghentikan gangguan ini dengan kekuasaan saya sebagai orang tua. Tapi sebelum niat ini saya laksanakan ada sebuah lagu, yang karena begitu sering saya mendengarnya, menjadi pelan-pelan akrab di telinga. &lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semula saya juga tak perlu menghafal judul dan siapa penyanyinya, karena jangankan band anak-anak muda asing, band negeri sendiri pun tak mungkin lagi saya hafali karena rasanya band baru selalu muncul tiap hari. Yang saya tahu, jika rambut anak muda itu lurus dan miring hingga menutup sebelah mata, naa itu pasti anak band, itu saja.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi lagu yang satu ini terpaksa saya hafal: Dear God judulnya, Evenged Sevenfold nama kelompoknya. Babak akhir inilah inti ceritanya: karena mulai menyukai lagu ini, saya pun setiap kali tergerak untuk ikut-ikutan menyanyi. Tetapi setiap saya mulai menyanyi, anak saya selalu meledak dalam tawa.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Stop... stop! Berhenti!" begitu teriaknya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Ada apa?" tanya saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Karena Bapak nyanyi lagunya Evenged Sevenfold, tapi logatnya mirip Rhoma Irama!"&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sisi rumah meledak dalam gelak tawa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tawa itu membuat saya merenung. Kenapa ya, sekeras apapun usaha saya meniru anak-anak muda itu menyanyi, logat saya tetap saya jatuh ke cengkok Rhoma Irama atau Didi Kempot misalnya, musik yang memang seinduk dengan budaya saya. Sebuah kedekatan yang kemudian jelas akibatnya: sepersis apapun saya meniru Evenged Sevenfold, kepada Rhoma Irama pula saya berlabuh.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini sungguh bukan bencana, kecuali kalau kita sedang mempercayai rasisme budaya, bahwa yang satu lebih rendah dari yang lain. Rasisme semacam inilah yang pelan-pelan harus saya hilangkan, setidaknya dari konflik batin saya sendiri. Itulah kenapa saya senang sekali melihat Hermawan Kertadjaya berbahasa Inggris dengan percaya diri, tetapi dengan logat Surabaya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya juga senang sekali dengan rencana kelompok Slank yang ingin membuat album berbahasa Inggris dengan logat Inggris yang Indonesia banget. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Darimana ilhamnya? Dari orang-orang Jamaica, yang betapapun mereka sedang bicara dalam bahasa Ingris, langsung tetangkap dari mana asal mereka. Logat itulah yang kemudian saya dengar telah menjadi logat salah satuh tokoh kartun di film Madagaskar kesukaan anak-anak saya. Lucu, unik, eksotik, asyik.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah ini berarti orang-orang Amerika yang mengangkat martabat logat ini ke negeri mereka? Tak sepenuhnya. Ini pasti juga karena orang Jamaica itu sendiri yang ogah merubah logatnya. Saya menyukai semangat ini. Sekarang ini, saya malah sedang ingin memperdalam bahasa Inggris tapi dalam logat kampung saya. Lalu saya bayangkan Inggris Kampung saya itu akan setara dengan rumah kampung, ayam kampung, yang kini naik harganya justru karena nilai kampungnya. &lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekali lagi, ini bukan soal apakah kampung lebih hebat dari kota dan sebaliknya, tapi menyangkut soal: bahwa kota yang hebat itu ada, kampung yang hebat itu juga ada. Keduanya, tak perlu dipertukarkan. Itu saja.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Prie GS/)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-7977259078695289955?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/7977259078695289955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=7977259078695289955' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7977259078695289955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7977259078695289955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/04/saya-banget.html' title='Saya Banget!'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8865432897051578015</id><published>2009-04-17T06:35:00.000+07:00</published><updated>2009-04-17T06:36:18.233+07:00</updated><title type='text'>Jika Hidup Kenyang Hinaan</title><content type='html'>Setidaknya dalam lima tahun terakhir terjadi dua penembakan brutal di Amerika dengan pelaku yang nyaris sama; sama-sama pemuda imigran yang hidupnya kenyang dihina. Mari kita bayangkan keadaan terhina itu. Ya begitulah rasanya. Meriangnya sampai ke jiwa. Jika melihat sang penghina rasanya ia hendak kita lumat hingga selumat-lumatnya. Cara paling sehat untuk membuang perasaan terhina ini adalah dengan cara menyalurkan dengan segera. Sayang cara ini tidak mudah karena berbagai keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah keterbatasan hukum. Melumat begitu saja para penghina, jatuhnya cuma akan melanggar hukum. Padahal tak setiap dari kita kuat dan berani melanggar hukum. Kedua adalah keterbatasan kita sendiri. Contoh kedua ini dililustrasikan dengan baik oleh maestro lawak Jawa kegemaran saya: Junaedi, di salah satu kasetnya. Saat itu ia bercerita tentang istrinya yang digoda lelaki iseng di jalanan. Sebagai suami terhormat ia marah luar biasa dan bersiap melabrak sang penggoda. Untung kemarahan itu tidak mengganggu akal sehatnya. Sebelum main labrak ia bertanya lebih dulu keadaan sang penggoda itu. "Tinggi besar," jawab sang istri. Junaedi surut setindak dan gantinya cukup memberi nasihat bijak, "Ya sudah, besok jangan lewat jalan itu lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi seperti Junaedi itulah yang kadang-kadang kita derita. Tak mudah menyalurkan perasaan terhina karena banyak sekali batasannya. Jika cuma batasan hukum, kita mudah menerimanya karena ia menghuni keadaan banyak orang. Tetapi jika keterbatasan itu berpusat pada diri sendiri ia akan menjelma jadi depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pelaku penambakan brutral di Amerika itu adakah anak-anak muda pemberani? Tidak. Mereka butuh menabung keberaniannya bertahun-tahun. Itulah tabungan yang setorannya adalah akumulasi hinaan yang berlangsung setiap hari. Jika anak-anak ini bicara, cuma disambut gelak tawa sekitarnya karena bahasa Inggris mereka yang dianggap aneh. Ketika bicara cuma menjadi tertawaan, diam adalah sebuah pilihan. Diam sepanjang hayat sambil memendam kemarahan itulah yang memupuk nyali untuk membunuh. Dan nyali itu tak bisa begitu saja disetarakan dengan keberanian karena setelah penembakan itu, mereka mengerti kalkulasinya. Mereka memilih bunuh diri katimbang menghadapi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu berat hidup ini jika setiap kali harus menanggung hinaan. Padahal sulit sama sekali menghindari perasaan terhina itu karena jumlahnya banyak sekali, baik yang datang dari orang lain maupun yang datang dari diri sendiri. Hinaan dari pihak lain jelas sumbernya: para pendengki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sulit mencari siapa pendengki karena naluri itu juga bersemayam di dalam diri kita sendiri. Juga tak sulit menemukan sumber hinaan dari diri sendiri. Karena semakin lemah kedudukan kita, kekuatan orang lain akan terasa sebagai derita. Semakin gagal diri sendiri, semakin terhina kita setiap melihat sukses tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pada dasarnya, sulit sekali menghindari dari perasaan terhina itu karena ia bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja, baik yang tidak maupun yang disengaja. Maka hidup ini boleh terhina, asal kadang-kadang belaka. Sekali terhina saja sakitnya luar biasa. Ada yang cuma sekali tapi kesumatnya terbawa mati. Apalagi jika hinaan itu datang berkali-kali. Apalagi jika bukan cuma berkali-kali tetapi terhina itulah selalu kedudukannya. Bisa dibayangkan, betapa kalau bisa, ia tidak cuma akan menembaki siapa saja tapi kalau perlu akan menumpas seluruh isi dunia. Benci dan kemarahan itu, jika sudah menyala, tak jelas di mana tepinya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Begitu berbahaya keadaan terhina itu sehingga penting sekali mengurangi jumlah penyebabnya. Padahal penyebab itu kadang remeh dan tidak pula kita sengaja, misalnya: jika Anda memasak dan tetangga kebagian cuma uapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Prie GS/)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8865432897051578015?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/8865432897051578015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8865432897051578015' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8865432897051578015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8865432897051578015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/04/jika-hidup-kenyang-hinaan.html' title='Jika Hidup Kenyang Hinaan'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3169946451857230065</id><published>2009-04-07T12:42:00.000+07:00</published><updated>2009-04-07T12:42:00.183+07:00</updated><title type='text'>Syarat Seorang Penipu</title><content type='html'>Seorang teman mengeluh tentang teman baiknya yang tega menipu. "Bukan cuma apa yang ditipu, tetapi siapa yang menipu, itulah yang menyakitkan hatiku," kata si teman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak hendak meyangkal pernyataannya. Pertama, tak baik pihak sedang menderita bukan mendapat bantuan, tetapi malah mendapat penyangkalan. Kedua, semakin dekat seseorang dengan kita, akan menjadi penuh harapan kita kepadanya. Itulah kenapa ditipu teman dekat, dua kali lipat kesakitannya. Karena menjadi selalu baik dan selalu dipercaya, itulah harapan kita kepada teman dekat. Menjadi semakin dekat, semakin banyak syarat yang kita tetapkan kepadanya. Maka ketika ia semakin dekat tapi semakin tidak bisa dipercaya, adalah kesakitan ekstra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tergoda dengan kata "tapi" yang jamak menjadi kebiasaan hampir seluruhnya dari kita ketika tengah berhadapan dengan persoalan tertentu. Misalnya jika kita adalah pihak bermasalah dan butuh nasihat. Contohnya begini: kamu ngerti perbuatanmu itu sesat. Maka bertobatlah. Percayalah, sembilan dari sepuluh peminta nasihat cenderung akan menutupnya dengan kata: tapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang: tapi kan tidak mudah untuk bertobat begitu saja. Ada yang: tapi butuh waktu dong. Ada yang: sudah kucoba, tapi gagal melulu. Begitu juga dengan teman yang sedang tertipu ini. Kata "tapi" tampak menjadi persoalan tebesarnya. Kata itu jauh lebih membuatnya menderita, katimbang perasaan kehilangan sesuatu hasil dari tertipu. "Tapi kan dia teman dekatku. Sudah seperti keluargaku," begitulah fokusnya terus menuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi betapa kata "tapi" itu adalah biang persoalan besar dalam hidup. Baiklah aku jelaskan urut-urutannya: tertipu dan kehilangan itu jelas sudah pendertaan. Tapi tenyata kita merasa tidak cukup menderita dan butuh menambahnya dengan menu ekstra, yakni karena teman baik itulah penipunya. Semua ini gara-gara ada banyak syarat yang kita tetapkan atas segala sesuatu, termasuk kepada para teman baik, teman dekat dan kepada para penipu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada teman dekat itu misalnya, kita tetapkan syarat bahwa yang dekat itu selalu harus baik, terpercaya, dan tidak boleh menipu. Padahal kedekatan dan kepercayaan itu sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin dua soal yang berbeda harus dipaksa untuk menjadi sama dan satu. Pemaksaan itulah yang mendatangkan bermacam-macam persoalan dalam hidup. Maka jika rumusnya diubah: bahwa orang dekat juga boleh menipu, bahwa teman baik juga boleh menjadi buruk, bahwa kebaikan juga boleh dibalas keburukan, berbeda pula perasaan kita kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata boleh ini kalau tidak hati-hati, juga akan mendatangkan kata "tapi" lagi. Misalnya: tapi kan kejam sekali sudah diberi kebaikan malah membalas keburukan. Iya sih, tapi kan boleh, karenanya ternyata itu semua bisa terjadi. Lalu siapa yang memperbolehkan, ya hukum kemungkinan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sesuatu yang mungkin, manusia hanya bisa diberi ruang untuk kompromi. Tersedia berbagai bentuk pilihan kompromi, mulai dari yang rendah dan murah, hingga yang mahal dan tinggi. Tergantung selera dan kemampuan Anda. Boleh menderita sambil ngomel dn mengutuk kanan-kiri, boleh pula menderita sambil tetap menyalami tamu-tamu seperti biasa sambil ngobrol seolah tak pernah terjadi apa-apa. Sesuatu yang mungkin terjadi akan tetap terjadi jika memang harus terjadi, lepas apakah kita menolak atau menyetujui!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-3169946451857230065?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/3169946451857230065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=3169946451857230065' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3169946451857230065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3169946451857230065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/04/syarat-seorang-penipu.html' title='Syarat Seorang Penipu'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7549731560299862291</id><published>2009-04-05T12:40:00.000+07:00</published><updated>2009-04-05T12:41:49.640+07:00</updated><title type='text'>Selalu Saja Ada Tamu yang Datang</title><content type='html'>Selalu saja ada tamu yang datang ke rumahku. Yang kumaksud tamu itu tidak selalu harus berarti kolega dan teman-temanku, tetapi seluruh urusan yang harus kuhadapi saat itu. Jangan dikira yang layak disebut urusan itu hanya soal-soal yang selama ini dianggap penting seperti rapat, seminar, berbisnis, ketemu klien dan semacamnya. Yang kusebut urusan itu adalah seluruh soal yang melibatkan hidupku saat itu. Maka ketika tepat aku hendak berangkat kerja tiba-tiba ada sales datang salah waktu, itulah juga urusanku. Ketika perjalanan sedang buru-buru tapi tiba-tiba ban kendaraan malah tertusuk paku, itulah juga urusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia banyak soal-soal yang serba tak terduga. Dan hitunglah, betapa dunia lebih banyak diisi oleh soal-soal yang tak terduga semacam itu, karena jumlah dugaan yang ada di kepala kita memang terbatas belaka. Jadi menyiapkan diri cuma untuk soal-soal yang bisa diduga adalah pemiskinan kemungkinan. Dan selama ini, soal serupa itulah yang aku lakukan. Aku cuma biasa berpikir sejalan dengan dugaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenapa jumlah kemungkinan dalam hidupku itu tak bertambah saja dari waktu ke waktu. Padahal jika kuberi tempat seluruh kemungkinan itu dalam diriku, betapa luas kemungkinanku, betapa mungkin akau menjadi apa saja, bahkan untuk soal-soal yang tak pernah aku duga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebiasaanku memang sekadar menduga dunia ini berjalan cukup seperti dugaanku. Akibatnya jika ada sedikit saja selisih antara suatu kejadian dan dugaan, kagetlah diriku. Ternyata apa yang terjadi, tak bisa lagi kukendalikan cuma oleh dugaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal yang tak terduga, boleh terjadi setiap waktu. Maka inilah saatnya untuk menempatkan seluruh urusan yang kuhadapi hari ini adalah soal-soal yang semuanya penting dan setara dengan tamu-tamu terbaikku. Tak peduli apakah ia sales yang datang salah waktu atau sekadar ban kendaaran yang gembos tertusuk paku. Juga tak peduli, apakah paku itu paku beneran atau paku jadi-jadian yang sengaja ditebar untuk mendesain kemalanganku. Karena apapun alasannya, seluruh peristiwa itu harus menjadi urusanku. Dan itulah tamu-tamuku. Kini tibalah saatnya menguji, lalu tuan rumah seperti apakah diriku ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah untuk menghadapi soal-soal yang diduga, yang menyenangkan pula. Tetapi pasti tidak mudah menghadapi soal-soal tak terduga, yang tak menyenangkan pula. Celakanya kualitas hidupku ini sangat ditentukan oleh sikapku di hadapan soal yang serba tak terduga itu, dan tak pernah aku harap pula itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku boleh memilih, mestinya dari rumah aku akan langsung bekerja saja, ketemu kolega, bertransaksi, meraih keuntungan, lalu pulang dengan segera. Tapi siapa bilang bahwa hidup boleh memilih. Karena seluruh rapat yang paling penting di dunia pun bisa batal jika tiba-tiba kita terserang asma. Seluruh target hidup ini akan kita gugurkan seketika cuma karena tiba-tiba kita terserang pusing dan kepala seperti sedang dipasak dengan sebatang linggis. Atau, sebuah tujuan besar bisa terbelokkan karena di jalan kita ketemu teman lama, ngobrol, keterusan dan berbalik jurusan tanpa terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, aku percaya, bahwa jumlah pilihan itu tak seimbang dengan jumlah yang telah dipilihkan. Maka mutuku dalam menghadapi soal-soal yang tak kuduga dan tak aku pilih itu adalah sesungguhnya pertaruhan hidupku. Aku pasti tak memilih jika di suatu hari yang cerah, ketika kusangka hidup ini sedang menyenangkan, tiba-tiba datang ke rumah seseorang hendak berhutang atau mencuri burung piaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika cuma berdasarkan selera, orang ini bisa kuusir pergi karena ia hanya gangguan bagi anggaran yang telah kutetapkan. Tetapi ketika kedatanganya kupahami sebagai bagian dari ketidakterdugaan yang tak terhindarkan, ia harus memaksaku untuk tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh soal yang tak pernah kusukai sekalipun, karena ia telah kuanggap sebagai bagian yang harus kuhadapi, ia akan aku jadikan latihan untuk menenangkan diri. Karena seperti halnya di tengah kegaduhan, kecelakaan terbesar ternyata bukan disebabkan oleh si kegaduhan, tetapi lebih banyak oleh kepanikan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-7549731560299862291?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/7549731560299862291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=7549731560299862291' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7549731560299862291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7549731560299862291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/04/selalu-saja-ada-tamu-yang-datang.html' title='Selalu Saja Ada Tamu yang Datang'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7876127471243821552</id><published>2009-03-23T20:12:00.000+07:00</published><updated>2009-03-23T20:13:05.074+07:00</updated><title type='text'>Shuttlecock di Atas Genting</title><content type='html'>&lt;div&gt;MASJID depan rumahku itu menyisakan banyak fungsi selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah: salah satunya, tempat aku nebeng main bulutangkis dengan anak lelakiku di luas halamannya. Masih 9 tahun umurnya, masih belum kokoh raket di tangannya. Tidak jelas sebetulnya siapa menemani siapa: anak menemani bapaknya, atau bapak menemani anaknya. Karena diam-diam, akulah yang jauh lebih membutuhkan permainan ini demi sebuah alasan. Tubuhku butuh bergerak di tengah seluruh pekerjaan yang hanya habis di tempat duduk. Salah satu gerakan yang paling tidak berisiko untuk amatiran sepertiku adalah bertanding bulutangkis dengan anak-anak, itupun cukup anakku sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada beberapa keuntungan yang telah kupertimbangan bermain dengan anak sendiri: kalau aku jengkel, ia bisa kumarahi, kalau aku masih ingin, ia bisa aku bujuk (tepatnya kutekan) agar tidak keburu berhenti, karena dia masih lugu, juga mudah saja kucurangi. Dan yang terpenting: hanya dengan pura-pura menemani anak bermain, aku bisa memperagakan tingkah kekanakan tanpa takut ditertawai. Jadi, baik lewat pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, akulah yang lebih butuh ditemani katimbang menemani. Dalam bahasa aktivis, anakku adalah korban tekanan dalam rumah tangga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi alam ini adil belaka. Seorang koruptor jika sudah keterlaluan, akan muntah dengan sendirinya. Yang berskala besar dan tak terjangkau oleh hukum akan diurus sendiri oleh alam raya. Tapi jika ia sekadar pemula dan pribadi yang sedang apes, minimal akan tertangkap basah oleh KPK. Pendek kata, ada jenis hukum yang sudah tidak perlu dikontrol, sudah otomatis akan bekerja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitu juga dengan kelakuanku pada anakku ini. Meminta ditemani dengan pura-pura menemani adalah sebuah niat yang bukan cuma tidak tulus tapi juga jahat. Dan korban kejahatan itu anak sendiri pula. Anak itu pun masih demikian muda umurnya. Sekecil itu sudah menanggung kejahatan yang bertumpuk-tumpuk begini, pasti derita yang mendatangkan karma bagi penjahatnya. Maka karma itu pun datang, saat itu juga. Buktinya: setiap anakku itu memukul shuttlecock-nya, arahnya melenceng senantiasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tangan kecil itu memang masih terbata-bata berkoordinasi dengan akalnya. Akalnya ke sini, bolanya ke sana. Bola bulu itu sama sekali tak pernah mengarah ke hadapanku. Maka jadilah aku bukan bermain bulu tangkis tetapi sekadar menjadi tukang pungut bola. Setiap aku marah, anakku malah tertawa gembira. Setiap ia kuajari untuk memukul lurus, tapi jatuhnya melenceng juga, ia malah geli sendiri dengan ulahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi namanya juga anak, adalah tugasku untuk terus membimbingnya tanpa putus asa. Kuluruskan tangannya, kubenarkan pukulannya. Pada kecepatan lambat ia mengerti maksudku, tetapi ketika ia kembali pada kecepatannya sendiri, bola itu melenceng lagi. Hebatnya, ada jenis pemelencengan yang sempurna: bola itu langsung melambung ke genting masjid kami. Karena mustahil mengurusnya kami terpaksa berganti bola. Dan bola pengganti itu lagi-lagi bersemayam di atap yang sama. Maka yang kuperoleh dari tipu daya pada anak ini bukan kegembiraan seperti yang aku bayangkan, tetapi benar-benar sebuah kemarahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sudah tiga bola bersarang di atap sana. Untuk ukuran permainan yang kurang bermutu ini, ongkosnya sudah terlalu tinggi. Maka bola ke empat aku membuat perjanjian; ‘’Jika pukulanmu masih menceng, kita berhenti!’’.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Singkat kata perjanjian ini disepakti. Melihat gaya bapaknya, anakku mengerti bahwa kemarahanku mulai nyata. Kembali ia melakukan servis. Ini servis penentuan. Mukanya serius dan tangannya mengejang karena ketegangan. Melihat usaha ini, sebagai orang tua, hampir saja mataku berkaca-kaca. Anak itu mengerti bahwa nasibnya sangat ditentukan oleh servis terakhirnya. Bukan cuma dia yang tegang, aku pun dilanda soal serupa. Tapi jika ketegangan ini ada hasilnya, aku sudah siap memeluknya sebagai kegembiraan. Betapapun anak itu telah menjad korban tekanan. Tapi belum rampung rasa haru ini menempati seluruh ruang, bola telah melambung lagi dan… melenceng lagi. Kami pulang serempak, saling diam, beku dan membisu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di esok hari, ketika anak ini sudah sekolah, rumaku sepi. Cuma shuttlecock di atas genting itu yang berhasil kupandangi. Wajah anakku berpendaran. Wajah anak yang kubayangkan sebagai sedang murung dan menuding ke muka bapaknnya sebagai orang tua yang rakus dalam berebut kegembiraan bahkan dengan anaknya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Prie GS/cn05)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-7876127471243821552?l=priegs.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://priegs.blogspot.com/feeds/7876127471243821552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=7876127471243821552' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7876127471243821552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7876127471243821552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://priegs.blogspot.com/2009/03/shuttlecock-di-atas-genting.html' title='Shuttlecock di Atas Genting'/><author><name>Prie GS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='14879984085933403549'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry></feed>