tag:blogger.com,1999:blog-110284812009-07-09T19:54:10.396-07:00Da ReviewBlog ini berisi penilaian saya tentang apa saja! Tapi sebagian besar berkaitan dengan hal-hal yang ringan-ringan, kayak review kaset/cd musik, konser, buku, dan lain2. Review ini sangat objektif karena saya tidak terafiliasi dengan pihak/organisasi manapun. Kalau pun ada yang anda rasa kurang pas atau tidak objektif, dll. saya mohon maaf. After all i'm only human. And so are you, smartass...Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.comBlogger30125tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-47998717514850630172009-07-09T19:08:00.000-07:002009-07-09T19:54:10.408-07:00Bite – Segar kembali dalam 1 gigitan<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SlanEXi4BiI/AAAAAAAAAE4/qqeb85Laygw/s1600-h/bite.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SlanEXi4BiI/AAAAAAAAAE4/qqeb85Laygw/s200/bite.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356652500285392418" border="0" /></a><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" >Alhamdulillah, akhirnya ada juga band <st1:country-region st="on"><st1:place st="on">Indonesia</st1:place></st1:country-region> yang menulis lagu sejujur-jujurnya tapi tetap berkelas. Inilah dia, Bite, yang beranggotakan Rebecca Theodora (vokal), Alexander Kaunang (Bass), Didi Lazuardi (gitar), dan Harry Kurniawan (drum). Kalo elo anak gaul underground, pasti cukup familier dengan mereka. Terutama Rebecca, mantan personil The Upstairs (vokal latar) dan Goodnight Electric (co-vokal). Dari dulu gue dah ngefans ama ini cewe. Baca aja <a href="http://da-review.blogspot.com/2005_02_01_archive.html">di sini</a> kalo gak percaya. 3 anggota lainnya adalah anggota band hardcore Fall. Nah kalo yang ini gue gak terlalu nyimak.<br /><br /><o:p></o:p></span><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" >Dengan personil yang punya skill dan pengalaman di atas rata2, sangat menggembirakan kalo mereka mau membuat musik yang sederhana. Hasilnya relatif mudah dicerna tapi tetap unik. Coba simak lagu “Populer” yang pilihan nadanya nggak biasa. Melengkapi musiknya yang ciamik, hampir dipastikan kita akan memperhatikan lirik karya Rebecca yang luar biasa <i style="">to the point</i>. Tema2-nya sebenernya remeh, tapi disajikan dengan sudut pandang yang nggak biasa. Rebecca menjadi bak feminis yang menyuarakan keresahan dengan gayanya sendiri. Dalam lagu "Semua suka Wanita Cantik", dia menulis: <i style="">mudah berkata citra natural, <span style=""> </span>jika semua terlahir menarik / hanya ternyata jika kau jujur, semua suka wanita cantik</i>. Buat yang suka menghubungkan dengan band2 terdahulu, nama2 seperti Blondie atau X-Ray Spex mungkin terlintas di kepala.<br /></span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Keenam lagu dalam mini album ini benar2 menjadi penyegaran di tengah cuci otak media </span><st1:city style="font-family: trebuchet ms;" st="on"><st1:place st="on">massa </st1:place></st1:city><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" >dengan musik Pop Rock yang semakin jijay bajay (kecuali Mbah Surip dan Kuburan). Ehm, ada satu ganjalan sih mengenai Bite. Namanya itu, lho - ”Bite” - nggak seunik musiknya. Bahasa Inggris pula. Sudahlah, mungkin gue terlalu banyak menuntut. Oh, bite me!<br /><br /><a href="http://www.myspace.com/heybite"><span style="font-size:85%;">http://www.myspace.com/heybite</span></a><br /></span> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;" >PS: Gue dapet CDnya di Aksara Kemang setelah nggak nemu di beberapa tempat. Ayo buruan beli, sebelum kehabisan!</span> <o:p></o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-4799871751485063017?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-57220309384425948452009-05-04T18:59:00.000-07:002009-05-11T06:12:48.377-07:00Mari Bu, Buku Iklannya...<span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Menyambung review <a href="http://da-review.blogspot.com/2009/04/sex-after-dugem-anyone.html">Sex After Dugem</a> dan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (tanggal 2 Mei kemaren, lewat dikit gpp ya?) mari kita membahas buku iklan lagi. Sebelumnya, penting ga sih baca buku iklan? Emang ga penting2 amat, jauh lebih penting baca blog ini...hahaha! Oke serius, deh. Mencontek kata2nya Luke Sullivan, lo lebih percaya mana, dibedah oleh dokter yang males baca atau dokter yang rajin meng-<span style="font-style: italic;">update </span>dirinya dengan buku2 bedah &amp; kedokteran? Nah...kurang lebih gitu deh sama iklan. Cuma bedanya, kalo di dunia iklan, <span style="font-style: italic;">nobody dies!</span> Orang dengan modal sotoy bisa aja bikin iklan. Tapi bagaimana karyanya, apakah bercita rasa tinggi? Apakah bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Kuasa? Makanya, untuk menjadi ahli, kita harus rajin baca dan terus belajar. Jangan cepat puas, <span style="font-style: italic;">stay foolish</span>, kata Steve Jobs.<br /></span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Daftar buku ini disusun secara acak alias <span style="font-style: italic;">in no particular order</span>, kecuali yang nomor wahid, "Hey Whipple Squeeze This!" karangan Luke Sullivan, sengaja gw taro pertama karena <span style="font-style: italic;">It's the bessstt!!!</span> Bahkan tulisan ini mencontek bab terakhirnya, cuma gue tambahin beberapa...hehehe. Baik anak2, mari kita mulai pelajarannya…</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /></span></span><span style="font-size:100%;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SgGbwYMfitI/AAAAAAAAAEw/3yhIjZbHlCw/s1600-h/51zLTIlZdZL._SL500_AA280_.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SgGbwYMfitI/AAAAAAAAAEw/3yhIjZbHlCw/s200/51zLTIlZdZL._SL500_AA280_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332714689214253778" border="0" /></a></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">1. Hey W</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">hipple, Squeeze This! A Guide To Creating Great Ads (Luke Sullivan.John Wiley &amp; Sons, Inc.</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">, 2003</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">)<br /></span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Ini buku dewa nih. Dibacanya enak banget karena gak menggurui dan penuh humor sehingga tanpa sa</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">dar, kita dapat ilmu yang banyak. Ditulis oleh Luke Sullivan, copywriter <span style="font-style: italic;">award-winning</span> dari agency Fallon McElligott yang terkenal dengan kampanye "Perception/Reality" majalah Rolling Stone. Kalo lo cuma punya budget beli satu buku seumur hidup, belilah buku ini! Isi secara keseluruhan emang berasa copywriter banget (baca: banyak tulisan, sedikit gambar, dengan porsi copywriting yang lebih </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">banyak), tapi tetep asyik dan relevan kok buat para art director. Sangat, sangat, sangat direkomendasikan. Eh, jangan minjem ke gue ya, beli ndiri!</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /><span style="font-weight: bold;">2. Cutting Edge Advertising: How to Create the World's Best Print for Brands in the 21st Century (Jim Aitchison. Prentice Hall</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">, 1999</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">)</span></span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />Gue baca jaman kuliah tahun 2000an, sampai sekarang masih relevan. Berbeda dengan buku2 lain di mana penulisnya satu orang dan mempunyai satu opini pula, Jim Aitchison mengumpulkan berbagai pendapat pakar yang beragam. Jadi tinggal kita yang menyimpulkannya.</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"> Sayangnya punya gue ilang euy….hayo, siapa yang minjem? Balikin! </span></span><span style="font-size:100%;"> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /><span style="font-weight: bold;">3. Creative Advertising (Mario Pricken.Thames &amp; Hudson, Ltd</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">, 2003</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">)</span></span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Dibanding "Hey Whipple...", buku ini lebih <span style="font-style: italic;">boring.</span> Tapi di sini teknik brainstormingnya lebih detail. Dan contoh2 iklannya pun oke punya. Maklum yang nulis <span style="font-style: italic;">art-based</span>, jadi penuh gambar2 cantik. Isinya cukup tebal dan berguna untuk bikin iklan yang <span style="font-style: italic;">award-winning.</span></span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >4. The Art of Advertising - </span></span><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" ><span style="font-family:trebuchet ms;">George Lois on Mass Com</span></span><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" ><span style="font-family:trebuchet ms;">munication </span></span><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" ><span style="font-family:trebuchet ms;">oleh (</span></span><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" ><span style="font-family:trebuchet ms;">George Lois &amp; Bill Pitts. </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >Harry N Abrams, </span></span><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" ><span style="font-family:trebuchet ms;">1977</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >)</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />Ini adalah buku yang memuat karya2 salah satu tokoh kreatif favorit gue, George Lois. Dia basicnya seorang art director, tapi mempunyai kepekaan verbal yang cukup tinggi. Karya legendarisnya adalah sampul majalah Esquire bergambar Mohammad Ali berpose seperti Yesus. Figur kontroversial ini alumni DDB tahun 1960an yang kemudian mendirikan biro iklan sendiri, PKL.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >5. Lanturan Tapi Relevan (Budiman Hakim. Galang Press, 2006)</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Buku pertama Budiman Hakim ini ngingetin banget ama "Hey Whipple...". Gayanya sama, nyantai banget tapi penuh makna. Buku iklan Indonesia pertama yang gue salut lut lut lut…</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >6. Komunikasi Cinta (Djito Kasilo. Kepustakaan Populer Gramedia, </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >2008</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >)</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />Nah, kalo Budiman cerita ngalor ngidul, Djito lebih praktis dalam memberi pelajaran. Dia bikin contoh kasus, semacam workshop kecil2an ama beberapa praktisi iklan. Jadi keliatan tuh bagaimana mendevelop sebuah kampanye iklan dari bikin strategi sampai eksekusi. Landasan teorinya adalah cinta....taela...</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /><span style="font-weight: bold;">7. Pick Me – Breaking Into Advertising And Staying There (</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">Nancy Vonk &amp; Janet Kestin. </span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">John Wiley &amp; Sons, Inc.,</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;"> </span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">2005)</span></span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />"Pick Me" ditujukan buat yang baru mau atau barusan nyemplung di dunia iklan. Sebenernya, ini adalah kompilasi dari pertanyaan2 yang muncul di kolom AskJancy di <a href="http://ihaveanidea.org/askjancy/">"ihaveanidea.org"</a> dikumpulkan jadi satu. Sayang banget gue baru punya pas udah lumayan lama di iklan. Kayaknya lebih berguna waktu awal2 dulu. Sigh….<br /><br /></span> <span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >8.The Book of Graphic Problem-Solving (</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >John Newcomb.</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >R.R Bowker Company, </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >1984)</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Buku jadul yang udah gue punya sejak masa kuliah dan selalu jadi pegangan waktu pertama-tama kerja. Di sini diberitahu teknik mencari ide menggunakan Bite System, yang pada dasarnya adalah cara membedah pesan komunikasi dengan sedetail mungkin. Lucunya, walaupun outputnya adalah visual, tahap awalnya melalui tulisan. Bagus nih, jadi ajang latihan nulis buat para <span style="font-style: italic;">visual-based</span> kreatif. Contoh yang digunakan adalah membuat sampul majalah Medical Economics, tempat John Newcomb bekerja.Walau begitu, masih bisa diterapkan buat bikin iklan atau media yang lain. Mantep.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >9. The Advertising Concept Book (Pete Barry.</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >Thames &amp; Hudson, Ltd, </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >2008)</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />Buku penting buat bikin kampanye iklan yang terintegrasi, terutama bagi para pemula. Uniknya, karena fokusnya adalah membuat konsep, konsep dan konsep dan bukannya ngulik eksekusi, ga ada contoh iklan jadi di sana, semuanya disajikan dalam bentuk sketsa. Seperti yang ditulis di sampul bukunya, <span style="font-style: italic;">“Think now, design later”.</span></span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /><span style="font-weight: bold;">10. When Advertising Tried Harder</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">: The Sixties, the Golden Age of American Advertising</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;"> (Larry Dubrow. </span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">Friendly Press, </span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">1974</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-weight: bold;">) </span></span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Menyoroti revolusi kreatif periklanan Amerika di tahun 1960an. Tentu saja, porsi besar diperuntukkan bagi DDB karena karya2nya yang fenomenal pada masa itu. Gue baca waktu magang di Matari tahun 2001. Di sana, koleksi buku (jadulnya) emang bagus2. Ada yang jual ga ya, sekarang?</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br /></span><span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><span style="font-weight: bold;">11. It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be (Paul Arden. Phaidon Press Limited, 2003)<br /></span><span>Buku motivasi kontemporer buat pribadi yang kontemporer seperti anda! Isinya singkat tapi menusuk dalem. Emang ga semata-mata ngomongin iklan, tapi nyambung jugalah dengan kehidupan pembuat iklan yang tiap hari dituntut untuk menelorkan karya2 yang hebring. Paul Arden juga dulunya seorang creative director andal.<br /><br /></span></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-5722030938442594845?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-85735362004692934462009-04-20T20:08:00.000-07:002009-04-26T07:47:07.280-07:00Sex After Dugem, Anyone?<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SfM-VdVNJUI/AAAAAAAAAEg/h7P3SY3DVFA/s1600-h/sad_bh1_smaal.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 236px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SfM-VdVNJUI/AAAAAAAAAEg/h7P3SY3DVFA/s320/sad_bh1_smaal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328671322481173826" border="0" /></a><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" ><span style="">Buku ini lebih berhak menyandang judul <a href="http://www.amazon.com/Confessions-Advertising-Man-David-Ogilvy/dp/0689708009/ref=cm_cr_pr_product_top">"Confessions of an Advertising Man"</a>, daripada bukunya David Ogilvy. Ogilvy lebih banyak menulis seputar teknis membuat iklan, sementara Budiman Hakim bicara jujur soal kisah hidupnya yang penuh kesablengan. Benar kata Butet Kartaredjasa di Kata Pengantar, bila ada polisi yang ngebaca ini (terutama bab soal dia nyimeng), Budiman bisa ditangkep! <span style="font-style: italic;">Anyway,</span> David Ogilvy udah duluan nulis bukunya, jadinya Budiman harus puas dengan "Sex After Dugem". Judul yang masih relevan dengan isinya yang menohok, jujur, ngga “pretentious” seperti tulisan gue ini :P.<br /><br /><o:p></o:p></span></span> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><span style="">Sex After Dugem emang menguji ke-jaim-an kita, bahkan sebelum memiliki bukunya. Paling nggak itu yang terjadi ama gue. Ceritanya, di Gramedia, gue udah ngubek2 di bagian Periklanan dan ga nemu2 itu buku. Padahal ada buku Budiman yang lain, “Ngobrolin Iklan Yuk” dan “Lanturan Tapi Relevan” di rak yang sama. Setelah mencari cukup lama akhirnya gue nyerah, dan nanya deh ama sang penjaga. Alamak, malunya bukan main mau nyebut judul buku Sex After Dugem itu. Begini kira2 dialognya:<br /><br />Gue (G): Mas mas, ada bukunya Budiman Hakim yang baru ga?<br /><i>(Gue mencoba sekuat tenaga ngga menyebut judul buku itu.)<br /><br /></i>Bagian informasi (BI): Judulnya apa?<br /><br />G: (keparat! gue memaki dalam hati) Nggg....Sex After Dugem?<br /><span style="font-style: italic;">(Ahiahahaiaiahaia...kesebut juga)</span><br /><br />BI: Oh, ada mas. Di bagian Sosial Budaya, satu lantai lagi di atas. <span style="color: rgb(255, 102, 0);"><span style="color: rgb(255, 0, 0);">Udah sedia kondom blom, mas? Jaman sekarang kudu ati2 lho, kalo mau nge-sex after dugem.</span><o:p></o:p></span></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><span style=""><span style="font-style: italic;">(Gue pun ngeloyor dengan muka tengsin. Oke oke, tulisan yang berwarna merah itu gue tambahin)</span><br /><br />Sesuai dengan gayanya Budiman, <span style="font-style: italic;">let’s cut the crap</span>. Apa sih relevansi buku Sex After Dugem yang berisi hal2 remeh temeh--seperti nyimeng ampe ga bisa berhenti ketawa, kebiasaan solat injury time, sex after dugem, ditaksir homo bule, Soeharto yang ikut kuis Deal or No Deal dengan malaikat, dsb--dengan dunia iklan? Nggak ada hubungan langsung, karena ga ada teori-teori iklan mutakhir dalam buku ini. Dengan kesederhanaan dan keremeh-temehannya, Budiman mencoba membuka mata kita untuk menjadikan kehidupan sebagai sumber inspirasi yang bisa digunakan untuk membuat iklan. Kekuatan iklan yang insightful bukan dari kosmetik alias gimmick, tapi dari kesederhanaan dan kejujurannya. Begitu kira2 yang ingin disampaikan Budiman, senada dengan perkataan Bill Bernbach, “I’ve got a great gimmick. Let’s tell the truth". <o:p></o:p></span></span></p><span style="font-size:100%;"><span style=""><span style="font-family:trebuchet ms;">Lantas, apa kita perlu sekonyol dan sebengal Budiman Hakim untuk menjadi Kreatif yang baik? Ya nggak lah. Ambil spiritnya aja dan juga cimengnya…asssoy…</span><o:p></o:p></span></span> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style=""><o:p> </o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style=""><o:p> </o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style=""> <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--></span></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-8573536200469293446?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-88345339550277960222009-04-13T02:21:00.000-07:002009-04-27T09:12:38.118-07:00The Upstairs - Magnet! Magnet! Kuatkah Daya Tariknya?<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/Ses34FsYPCI/AAAAAAAAAEY/5TvKMZ79VQY/s1600-h/magnet_all+copy.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 221px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/Ses34FsYPCI/AAAAAAAAAEY/5TvKMZ79VQY/s320/magnet_all+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326412421036260386" border="0" /></a><br /><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Untuk elo yang buru2 atau punya penyakit males baca, gue kasih jawaban singkat: nggak! Daya tarik album ini lemah sekali. Oke, silakan kalo mau buka Facebook lagi :)....buat yang hobi baca, lanjut yuu....<br /><br />Untuk sound dan penguasaan instrumen di album ketiga ini, gue angkat jempol sama The Upstairs. Tapi songwriting? Wah, kayaknya mereka belum bisa mengalahkan diri mereka sendiri di album perdana, Matraman. Walaupun kualitas rekaman Matraman sedikit di bawah standar, tiap lagu punya "soul" yang cukup membuat orang - meminjam istilah Jimi Multhazam - berdansa resah.<br /><br /></span><span style="font-family:trebuchet ms;">Hal yang paling menonjol dari Magnet! Magnet! adalah permainan keyboard dari anggota terbaru, Adink Permana, yang menggantikan Elta Emanuella. Soundnya keren sekali, mirip <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Devo">DEVO</a> dengan gaya yang lebih agresif.<br /><br />Tapi ya kekaguman gue cuma di situ. Seperti gue bilang tadi, The Upstairs seperti lupa untuk membuat lagu yang bagus dan lebih banyak berkutat dengan sound dan unjuk skill. Hampir ga ada lagu yang layak disandingkan dengan hits2 mereka terdahulu, seperti "Apakah Aku Berada Di Mars Atau Mereka Mengundang Orang Mars" (taik, judulnya panjang amat), "Matraman", "Antah Berantah", dll. </span><span style="font-family:trebuchet ms;">Bahkan, lagu "Kunobatkan Jadi Fantasi" punya riff gitar yang luar biasa mirip dengan lagu "Turning Japanese" milik The Vapors. Ini tribute apa nyolong ya? Untuk lagu2 lainnya, </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">ga ada yang spesial. </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"> Tapi, untungnya ada beberapa pengecualian...<br /><br /></span><span style="font-family:trebuchet ms;">"Kami datang untuk musik" adalah track yang paling mendingan. Keyboardnya DEVO berat! Liriknya pun cukup kuat, berisi manifesto bahwa The Upstairs adalah band yang cinta damai, mengajak penonton konser untuk ga berbuat rusuh. Lagu berikutnya, "Di Antara Haluan" juga layak diandalkan. Iramanya slow dan menghanyutkan. Jimi nyanyi dengan nyantai, ga teriak2. Sekali lagi, permainan keyboard Adink cukup menonjol, ditambah tabuhan drum Beni yang passs bener. Mereka melakukan hal yang kurang lebih sama di lagu "Percakapan". Kali ini Dian Maryana yang mengambil lead vocal mendayu-dayu.<br /><br />Jadi dari 12 lagu yang disajikan di Magnet! Magnet! cuma 3 biji yang layak dengar? Ngapain beli CD originalnya ya? Eiits...tunggu dulu. The Upstairs cukup pintar menyiasati hal ini. Cover album ini ternyata bisa diganti2 lho. Ya, lyric sheetnya terdiri dari lembaran2 yang di baliknya terdapat lukisan masing2 personil The Upstairs + 1 foto full band (liat inset di atas). Sebuah langkah yang inovatif, jadi kita ga akan bosen ama covernya. Kalo elo Modern Darling beneran ya kudu punya lah, buat koleksi. Atau mau ngeprint sendiri? Malu donkk....<br /><br /><br /></span> </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-8834533955027796022?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-14188358526631885742009-04-12T05:46:00.000-07:002009-04-12T12:23:18.842-07:00Jackie Chan Mengurangi Tendangan, Ganti Bersilat Lidah di Shinjuku Incident<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SeHkiSNL7YI/AAAAAAAAAD4/RQbz9psM-3I/s1600-h/shinjuku-incident23-03-09.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SeHkiSNL7YI/AAAAAAAAAD4/RQbz9psM-3I/s320/shinjuku-incident23-03-09.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323787512182467970" border="0" /></a><br /><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Anda-andi yang pengen liat aksi akrobatik kungfu ala Jackie Chan, pasti akan kecewa dengan Shinjiku Incident. Film yang disutradarai Derek Yee ini lebih banyak memuat drama, porsi action hanya sepertiganya. Tapi, seperti halnya film2 mafia yang bagus, actionnya walau sedikit tapi sangat mencenga</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">ngkan, karena adegannya benar2 dibutuhkan, bukan demi mengumbar darah doang. </span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Diproduseri sendiri oleh Jackie Chan, Shinjuku Incident menyoroti kehidupan seputar para imigran gelap asal Cina yang mencoba kemujuran di Jepang, tepatnya di sebuah distrik di Tokyo bernama Shinjuku.</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Jackie Chan berperan sebagai Steelhead, seorang petani sederhana di Cina yang tujuannya ke Jepang adalah untuk menyusul pacarnya, Xiu Xiu yang lama nggak memberi kabar berita. Steelhead diajak oleh sobatnya, Jie untuk tinggal bersama rekan2 sesama imigran gelap di sebuah rumah sewaan di Shinjuku. Untuk menyambung hidup, mereka kerja serabutan, seperti membersihkan saluran air, menjual kartu telepon palsu, mencuri, dll.</span><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Tanpa sengaja Steelhead menemukan Xiu Xiu tapi ternyata ia telah menjadi istri salah satu bos Yakuza, bernama Eguchi. Kebetulan juga, Steelhead menyelamatkan Eguchi dari pembunuhan sesama bos Yakuza. Maka Steelhead dijadikan kaki tangan Eguchi untuk memenuhi ambisinya menguasai Yakuza. Singkat cerita, para imigran gelap Cina akhirnya mendapat tempat yang layak di bawah kepemimpinan Steelhead. Namun, konflik belum selesai karena kubu Yakuza yang membenci Eguchi masih terus mengintai. Selanjutnya? Tonton ndiri daah…</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /></span></span><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SeHj-kWNQ0I/AAAAAAAAADw/QMV_Mj5Bcu0/s1600-h/push_movie_poster2.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SeHj-kWNQ0I/AAAAAAAAADw/QMV_Mj5Bcu0/s200/push_movie_poster2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323786898576851778" border="0" /></a><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Seperti disebut di awal, ini bukanlah film tipikal Jackie Chan. Ini adalah sebuah lompatan bagus dari Jackie Chan yang udah kenyang (mungkin eneg) memamerkan skill kungfunya di film action. Di sini kita liat Jackie Chan yang lebih menusiawi, lebih biasa2 saja, yang bisa terluka, bisa….ah, nanti jadi spoiler lagi. Pokoknya, buat yang bingung mau nonton film ini atau Push, gue berani jamin Shinjuku Incident jauh lebih keren. Buat yang nekad nonton Push, <span style="font-style: italic;">I wish you all the best!</span></span> </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-1418835852663188574?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-3563757602395367372009-04-12T02:12:00.000-07:002009-04-12T12:23:40.945-07:00Superman Is Dead - Angels and the Outsiders<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SeHlEHwfFHI/AAAAAAAAAEA/PHnt188S2-c/s1600-h/superman-is-dead-angels-and-the-outsiders.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SeHlEHwfFHI/AAAAAAAAAEA/PHnt188S2-c/s320/superman-is-dead-angels-and-the-outsiders.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323788093493286002" border="0" /></a><br /><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">“Angels and the Outsiders” adalah album terbaru dari grup punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID). Gue bukan penggemar berat SID, tapi entah kenapa sulit melawan hasrat untuk memiliki album ini. Jadi deh gue beli album originalnya, bukan nyari downlodan atau mp3 bajakan. </span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Kesan pertama adalah…wow! Cover album yang cantik sekali! Digarap seperti poster2 film tahun 1960an (atau malah 1920an? <span style="font-style: italic;">I don’t know, u do the research!</span>). Pokoknya klasik banget (lihat inset). Gambar pria yang tampangnya seperti Jerinx sedang membawa kunci inggris sambil ngobrol ama seorang anak. Sementara di bagian bawah ada gambar personil SID bersepeda lowrider. Di bagian dalam, semakin kentara obsesi SID dengan sepeda lowrider. Ada foto personil SID lagi mejeng dengan sepeda lowridernya masing2. Btw, apa sih hubungannya punk dan lowrider? <span style="font-style: italic;">Eco-friendly? That’s so hippie…</span>:)</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Oke, cukuplah membahas cover dan fashion yang cuma permukaan. SID kan isinya bukan cuma itu? <span style="font-style: italic;">Well, </span>setidaknya itu yang mereka coba tekankan, walau kadang2 fashion mereka masih <span style="font-style: italic;">overpowered.</span> <span style="font-style: italic;">Heh heh…that’s another story. Anyway busway</span>…kembali ke…musik! </span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Lagu pertama bertitel “Kuat Kita Bersinar”. Bagaimana? Kacrut abis, sodara-sodara! Musik dan liriknya nggak banget deh. Maksudnya mungkin bikin anthem kayak lagu “England Belongs To Me”-nya Cock Sparrer, tapi trus terang malah bikin eneg. Di akhir lagu semakin parah dengan koor anak2 kecil. Agak terlalu imut buat gue.</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Lagu kedua, “Jika Kami Bersama”, langsung bikin gue kecewa dua kali. Intronya plek ketiplek dengan lagu “Good Riddance” punya Green Day, dan secara keseluruhan ga jauh beda dengan track pertama, anthemic blablabla yadayadayada. Bedanya, lagu ini berkolaborasi dengan Shaggy Dog yang membuatnya lebih mirip The Mighty Mighty Bosstones. Apakah SID akan terus menyiksa kuping gue di lagu berikutnya? Agaknya begitu. Lagu “Outsider” adalah anthem yang berisi manifesto tentang “the Outsiders”. Hoaaahhhmmmm…</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />“Poppies Dog Anthem” adalah lagu keempat. Dari judulnya, pasti ini sebuah anthem juga. Tapi pemirsa, kenapa lagu ini bikin bulu kuduk gue berdiri? KEREEEEEN!!!! Musik dan liriknya bener2 menusuk kalbu dan tanpa sadar gue ikut ber-<span style="font-style: italic;">singalong</span>:<br /></span> <span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" >Berandal-berandal Poppies 2</span> <span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" ><br />Berandal-berandal yang tak pernah mati</span> <span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" ><br />Berandal-berandal Poppies 2</span><br /><span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" >Bukan berandalan sakit hati</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br /><span style="font-style: italic;">Check out</span> juga di bagian<span style="font-style: italic;"> verse</span>-nya, yang menurut gue amat sangat keren:</span><br /><span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" >Penuh gaya kaca mata bandit cinta kesepian</span> <span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" ><br />Siapa berani mendekat kan pasti disikat</span> <span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" ><br />Jeni sudah, Mona juga habis di hotel belakang</span><br /><span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" >Dan cinta kan berakhir di bandar udara</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Ternyata SID punya selera humor yang cukup tinggi. Berbeda dengan kelaziman, lagu2 yang kurang kuat mereka taruh di depan, sementara yang keren2 ditempatkan di belakang. Setelah “Poppies Dog Anthem” yang fenomenal, bisa dibilang grafiknya terus naik, menuju puncak kenikmatan! </span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />“Saint Of My Life”, walaupun awalnya mirip lagu Green Day, langsung meledak dengan sempurna di bagian reff. Sangat catchy. Tapi itu belum apa2 dibanding “Night Of The Lonely”, yang progresi chordnya begitu gelap. <span style="font-style: italic;">Kicks you in the ballzz!</span> Reffnya penuh harmoni, sedikit mengingatkan pada Social Distortion. Di background pun ada suara biola yang mendayu. Asoyy…</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Lagu2 lain yang perlu di-<span style="font-style: italic;">mention</span> adalah “Punkrock Lowrider”, sebuah anthem punkers bersepeda lowrider <span style="font-style: italic;">krewzing around</span> Kutafornia. Sementara “Luka Indonesia” punya lirik yang menusuk: <span style="font-style: italic;">“Satu nusa satu bangsa, satu nusa saling mangsa”</span>. Dibuka oleh riff gitar rockabilly kemudian melaju dengan beat drum speed punk. Yang cukup mencuri perhatian adalah penggunaan gamelan (di bagian credit ditulis “cengceng”) pada bagian akhir lagu ini.</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Kemudian ada “The Days of A Father” yang menyelipkan riff2 metal. Ada pula “Memories of Rose” yang menggunakan horn section. Ditambah suara gitar klasik, jadi kayak denger band Amerika Latin.</span> <span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" ><br /><br />Kesimpulan</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Ini adalah sebuah album yang cukup inovatif dan menyegarkan dari Superman Is Dead, dengan menampilkan nuansa yang berbeda dalam setiap lagunya. Ada rockabilly, punk <span style="font-style: italic;">(of course)</span>, metal, musik tradisional Bali, dll, yang kesemuanya diramu apik menjadi karya klasik yang layak dikoleksi. Wah, jadi pengen punya album2 SID yang lainnya nih…beliin donk??</span> </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-356375760239536737?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-76852804973362586632009-04-05T03:41:00.000-07:002009-04-26T20:13:06.576-07:00The Tarix Jabrix: No Sex, No Drugs, just good old Rock N Roll!<span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"></span><span style="font-size:85%;"><span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" >Ini artikel sebenernya udah lama gue tulis, tapi entah kenapa blom gue publish2. Jadi mohon maaf nih kalo rada basi, secara film The Tarix Jabrix udah ga diputer di bioskop lagi. Ya sudahlah, inilah dia....</span></span><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">The Tarix Jabrix, film yang merupakan debutan bagi para personil The Changcuters ini mempunyai tema yang cukup segar, soal kehidupan geng motor di Bandung. Tentu saja ini bukan film action, tapi sarat dengan humor abseurd (sengaja ditulis “abseurd” bukannya “absurd” karena merujuk kepada keanehan lawakan ala Bandung dan sekitarnyah).<br /><br />The Tarix Jabrix menceritakan kisah sebuah geng motor bernama “Tarix Jabrix” yang bertujuan untuk membela kebenaran seperti superhero, atau lebih tepatnya:Superman bermotor! Jelas berbeda dengan geng motor kebanyakan yang bertindak kriminil sehingga meresahkan masyarakat. Motornya pun tidak seragam, walaupun semuanya motor tua yang butut. Dalam perjalannya, mereka bersinggungan dengan geng motor “The Smokers” yang beranggotakan anak-anak orang kaya dengan motor yang jauh lebih canggih. </span><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Secara mengejutkan, akting anak-anak The Changcuters cukup prima. Triya membawakan karakter Cacing, sang pemimpin geng dengan mantap. Gerak-geriknya plek ketiplek ama Ace Ventura. Sumpah, bikin ngakak. Belum lagi 2 orang kembar, Chiko dan Coki yang sama-sama punya perilaku aneh nggak jelas. Mereka mencuri perhatian dengan beradegan nggak penting. Contoh: waktu Cacing lagi berusaha meyakinkan teman-temannya untuk membentuk geng motor, Chiko dan Coki malah ngumpet ke dalam tong(!). Mulder alias Mulyana Drajat (Dipa) adalah anak orang kaya yang ga boleh naik motor sama orang tuanya, tapi nekat minjem motor sopirnya. Anggota yang paling emosional ini pernah tinggal lama di Medan, dan zadilah ia berlogat Batak, bah! Anggota terakhir adalah Dadang (Erick), seorang montir jenius yang sayangnya mengidap penyakit amnesia, jadi kejeniusannya tidak banyak terpakai. Nah lho!</span><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Menjadi fans The Changcuters sangat memudahkan untuk mencintai The Tarix Jabrix. Belum lagi ilustrasi musiknya yang didominasi oleh lagu-lagu ngerock dari The Changcuters, pasti sangat memuaskan (bagi yang doyan). Sinematografi memang bukan keunggulan dari film ini, cerita juga bukan, tapi apa donk? Mungkin seperti lagu Apa-apanya Donk dari Euis Darliah, kekuatannya justru di kesederhanaannya. Klise? Tonton aja ndiri. Taaarik jabriiik!!!</span><br /><br /><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;"> </span><br /><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-7685280497336258663?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-37017847545490481412009-03-18T07:07:00.000-07:002009-03-26T08:23:00.496-07:00Mad about Mad Men<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/ScWiQgXv_lI/AAAAAAAAADY/PyM2P141UyU/s1600-h/Madmenlogo.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/ScWiQgXv_lI/AAAAAAAAADY/PyM2P141UyU/s320/Madmenlogo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315833339631894098" border="0" /></a>Apa sih yang bikin serial Mad Men begitu nyandu hingga gue menamatkan Season 1 hanya dalam 3 malam? Apa karena ceritanya seputar dunia periklanan yang adalah kehidupan gue juga? Apa karena ide-ide kampanyenya keren-keren dan beberapa bisa gue colong? Apa karena aktrisnya yang kece-kece dan semlohai? Apa karena serial itu mengandung unsur subliminal advertising? Ya, ya, semua elemen tersebut turut berkontribusi, tapi yang menjadi magnet paling kuat adalah settingnya, yaitu Amerika di tahun 1960-an.<br /><br />Seperti yang <span style="font-style: italic;">you-you</span> tau, udah banyak film/serial TV yang berlatar belakang dunia periklanan. Tapi (setau gue) blom ada yang mengambil setting Amerika (New York) tahun 1960-an - yang buat mereka yang terlibat di iklan - adalah masa keemasan periklanan dan New York menjadi pusatnya, terutama di jalan Madison Avenue. (Judul "Mad Men" selain berarti "orang gila", adalah kependekan dari "MADison avenue Men". Jenius.)<br /><br />Di tahun 1960-an, Amerika sedang makmur-makmurnya, sebagai puncak dari pembangunan ekonomi selepas kehancuran di Perang Dunia II. Dan tentu saja, ekonomi yang bergairah adalah lahan subur bagi periklanan. Ditambah lagi, terjadi pergeseran cara pandang secara menyeluruh di masyarakat dari konservatif ke arah yang lebih liberal. Penandanya adalah kejayaan Partai Demokrat dan perubahan di dunia seni yang lebih bebas. Bahkan Rock N Roll pun mencapai kejayaannya di masa ini.<br /><br />Di dunia iklan sendiri, sedang terjadi revolusi besar-besaran. DDB yang dimotori Bill Bernbach memaksimalkan kreatifitas timnya dengan membuat sistem kerjasama yang setara antara art director dan copywriter untuk menyatukan kekuatan dua cara berpikir, visual dan verbal. Sebelumnya, yang memegang kendali adalah copywriter sedangkan art director menjadi tukang untuk menjadikan iklan tersebut kelihatan "cantik". Kerjasama yang intens antara seni visual dan sastra pada akhirnya membuat karya iklan yang kuat secara konsep, insightful (manusiawi), kreatif, dan tentu saja lebih menjual, tanpa harus melacur <span style="font-style: italic;">(hard sell).</span><br /><br />Okeh...kembali serial Mad Men. Serial TV yang menyabet Golden Globe Award 2008 dan 2009 untuk kategori Drama ini berputar di sekitar kehidupan Don Draper, seorang creative director di agency Sterling Cooper. Ia mempunyai masa lalu yang kelam dan kemudian menjadikannya pribadi yang tertutup tapi pintar mengamati perilaku manusia sehingga bisa dengan mudah menghasilkan konsep iklan yang dekat dengan kehidupan targetnya. (Kalo istilah iklannya, insightful). Plus, ia sangat persuasif dalam presentasi dengan klien sehingga bisa meyakinkan mereka yang tadinya ragu-ragu. Maka nggak heran kalo kariernya makin melejit.<br /><br />Para pemeran pendukung Mad Men juga nggak kalah menarik. Ada Salvatore-art director keturunan Italia yang juga seorang gay in the closet, Paul Kinsey-copywriter yang bermulut ember, Peggy Olson- sekretaris yang bertransformasi jadi copywriter, Pete Campbell-account executive yang super ambisius, Ken Cosgrove-accont executive yang ternyata jago nulis dan dicemburui rekan-rekan kerjanya, Joan-kepala sekretaris yang super duper sexy, Roger Sterling-owner yang udah berumur tapi doyan main perempuan, Bertram Cooper-owner yang tergila-gila dengan kebudayaan Jepang, dll.<br /><br />Walaupun kelihatan berberapa hal dibesar-besarkan (gue baru kali ini ngeliat meeting tim kreatif yang super singkat), serial ini cukup akurat dan masuk akal. Bahkan, beberapa karya iklannya benar-benar bagus dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Wardrobe, setting, sinematografi, musik, semuanya nyaris tanpa cela dalam menampilkan suasana di tahun 1960-an.<br /><br />Buat yang awam dengan dunia iklan, serial ini tetep menarik. Sama aja kayak lo nonton Grey's Anatomy atau LA Law (jadul banget) yang berlatar belakang profesi. Kita akan semakin paham dengan lingkup kerja dan pergaulan mereka yang dinamis. Buat para insan periklanan, Mad Men pasti bisa bikin tergila-gila dan menjadi tolak ukur dalam membuat karya iklan. Sarat dengan dialog cerdas dan inspirasi untuk membuat iklan yang lebih baik. <span style="font-style: italic;">Come on</span>, masa generasi milleniun kalah sama opa2 di tahun jebot?<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-3701784754549048141?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-71887653152058420742009-01-12T06:42:00.001-08:002009-03-26T08:23:54.282-07:00Tomorrow People Ensemble Rocks Cafe Au Lait<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SWtlfyBhSvI/AAAAAAAAACk/VQFH41T-FC4/s1600-h/TPE%40aulait.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SWtlfyBhSvI/AAAAAAAAACk/VQFH41T-FC4/s320/TPE%40aulait.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290433783955278578" border="0" /></a><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"> Nggak ada yang bisa membantah <span style="font-style: italic;">statement</span> bahwa Tomorrow People Ensemble (TPE) adalah band paling berbakat se-Indonesia. Kalo yang paling terkenal? Itu lain cerita. Apalagi dibandingkan dengan Peterpan, ST12 atau <span style="font-style: italic;">(here goes)</span>...Kangen Band. TPE ga ada apa-apanya sama mereka dalam hal popularitas. Setidaknya itu anggapan gue sebelum nonton konser TPE di Cafe Au Lait Cikini hari Jumat, 9 Januari 2009. Woooow, begitu nyampe ternyata ratusan penonton udah membludak. Kali ini TPE benar-benar seperti rockstar. </span><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Cafe Au Lait yang ukurannya cuma seuprit itu kayak mau meledak karena gak kuat nampung penonton yang meluber ampe ke Jalan Cikini Raya. Konser pertama TPE setelah hampir 3 tahun vakum ini emang cukup meriah. Terlihat di antara penonton beberapa musisiJazz, seperti Indra Aziz, terus orang-orang dari <a href="http://http//www.wartajazz.com/">Warta Jazz</a>, dan ga ketinggalan dari kalangan artis muda berbakat: personil band Alexa, White Shoes and the Couples Company, Rekti dari The Sigit, Bemby Gusti dari Sore, dan orang-orang keren dan beken lainnya yang gue ga kenal. (Berarti kurang beken, donk?). Oya, di sana ga sengaja ketemu temen kantor, yaitu Redy dan bininya. Gue sendiri dateng bareng bassis (<span style="font-style: italic;">additional</span>) gue, Fiki. Bonni, vokalis band gue, <a href="http://myspace.com/bonnics">Bonni cs</a> - menyusul dengan rekannya, artis rap bernama Yari. Kosan mereka emang cuma beberapa blok dari Cafe Au Lait. (Penting ga sih??).<br /><br />Pukul 21.00, Nikita Dompas sang gitaris mengeluarkan "sabetan maut-nya menandakan pertunjukan telah dimulai. Indra Perkasa (double bass), Adra Karim (Keyboards), dan Elfa Zulham (drums) ikut nyemplung ke alam "nge-jam" tanpa ragu-ragu. Karena emang band ngejam, j</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">adi wajar aja kalo komposisi lagunya panjang-panjang. Tetep menarik bagi gue karena permainan setiap personil sangat variatif. Apalagi live begini, bisa ngeliat aksi mereka berimprovisasi dengan liar. Ini baru Rockin' Jazz! </span></span><br /><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />Baru kira-kira 2 lagu, Bonni dan Yari yang dari awal udah resah (mungkin karena ga dapet tempat duduk ditambah musiknya yang cukup "berat"), akhirnya memutuskan untuk pulang. <span style="font-style: italic;">Ok, goodbye to you! </span>Gue dan Fiki akhirnya dapet tempat duduk di belakang bareng Redy dan bininya. Gue menikmati tiap detik dari suguhan kelas atas ini. Suasana Cafe Au Lait yang "jadoel punya" ini pun sesuai dengan musik TPE yang modern tapi gak melupakan masa lalu. TPE tampil total malam itu, membayar "dosa" atas nihilnya pentas musik berkualitas selama mereka vakum.<br /><br />Pukul 11 temen gue Fiki ngajak cabut. Ya udah, kita akhirnya permisi dari Cafe Au Lait. Kebetulan Redy juga mau udahan. Sayang juga sih ga ngeliat sampe abis, karena kabarnya di akhir acara mereka ngebawain <span style="font-style: italic;">theme song</span> Mario Bros. <span style="font-style: italic;">Well</span> bagaimanapun, puas juga nonton mereka selama hampir dua jam. Setidaknya cukuplah buat mengobati kerinduan. Tapi tetep..gue ga sabar nungguin album yang katanya lagi digarap. <span style="font-style: italic;">Good luck guys, keep rockin'!</span> Kelian adalah </span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">antitesis dari industri musik Indonesia yang makin monoton.</span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br /></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:85%;"><br /><br />(Foto digrab dengan sembarangan dari You Tube :D)</span></span></span><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Check out their performance at You Tube (diambil oleh <a href="http://indraaziz.net/">Indra Aziz</a>):<br /><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ZHpvjyPAU4A">http://www.youtube.com/watch?v=ZHpvjyPAU4A</a><br /><a href="http://www.youtube.com/watch?v=e9I6GHRX_Cw&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=e9I6GHRX_Cw&amp;feature=related</a><br /><a href="http://www.youtube.com/watch?v=4eez9pI8cHc&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=4eez9pI8cHc&amp;feature=related</a><br /><br /></span></span><span><a href="http://www.myspace.com/tpensemble">www.myspace.com/tpensemble</a></span><br /><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;"><br /></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-7188765315205842074?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-25848368910501729272009-01-05T00:55:00.000-08:002009-01-05T08:27:20.577-08:00Motley Crue vs Metallica vs Guns N Roses<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SWIjqKH_8SI/AAAAAAAAACc/2Ow9___r2f8/s1600-h/cd+bakar.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SWIjqKH_8SI/AAAAAAAAACc/2Ow9___r2f8/s320/cd+bakar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287828119665766690" border="0" /></a><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Di tahun 2008 yang lalu tiga supergrup dari kubu Hard Rock dan Thrashmetal merilis album studio mereka yang baru. (Emang....sekarang 2009, tapi <span style="font-style: italic;">what da heck!</span> Tulisannya baru kelar sekarang tuuch...<span style="font-style: italic;">so bite me!</span>). Juli, Motley Crue mengeluarkan Saints of Los Angeles, sementara bulan September Metallica menyusul dengan Death Magnetic.­ Guns N Roses yang tinggal menyisakan anggota asli Axl Rose, merilis Chinese Democracy di akhir November. Mereka yang menginspirasi berjuta-juta band dan umat manusia ini, agaknya ingin mengokohkan lagi keberadaannya, bukan sebagai monumen yang layak dikenang, tapi sebagai seniman yang masih segar berkreasi dan menjadi rival bagi band-band lebih muda. Sebenernya masih ada AC/DC, tapi gue kurang doyan band ini. Cuma 1-2 lagu lah yang nyantol. Oke, <span style="font-style: italic;">here we go...</span></span> <span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" ><br /><br />The Saints Are Cumming</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />The Saints of Los Angeles agaknya digunakan Motley Crue sebagai sarana promosi untuk film otobiografi mereka yang dijadwalkan keluar tahun 2009. Film yang kabarnya dibintangi Val Kilmer ini dibuat berdasarkan buku otobiografi The Dirt yang sudah beredar sejak 2001. Jadi wajar aja kalo isi lagu The Saints of Los Angeles berkutat seputar kehidupan para begundal Motley waktu mengadu nasib di LA. Segala macam <span style="font-style: italic;">anthem</span> hedonisme dan “ajep-ajep” mewarnai sebagian besar lagu mereka.</span> <span style="font-family:trebuchet ms;">Secara musikal pun banyak mengacu pada era-era awal mereka, Shout At The devil atau Dr. Feelgood, album <span style="font-style: italic;">landmark</span> Motley Crue. Ada sedikit nuansa techno di beberapa lagu yang jelas merupakan input dari Tommy Lee yang juga seorang DJ. Tapi untungnya modernisasi ini gak merusak kementahan dan keliaran musik <span style="font-style: italic;">"sleazy rock n roll"</span> ala Motley Crue. <span style="font-style: italic;">Overall</span> hasil karya ini cukup bagus walau nggak bisa dibilang maksimal. Satu-satunya unsur yang mengganggu adalah tema yang seragam itu tadi. <span style="font-style: italic;">Key tracks</span> adalah Face Down In The Dirt,Saints of Los Angeles, Motherfucker of the Year . Buat fans berat Motley, album ini jangan sampai dilewatkan. Setel kenceng2 <span style="font-style: italic;">is a must!</span><br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" >Metal Magnetica</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Setelah menuangkan amarah di album St. Anger, Metallica memutuskan untuk berhenti sejenak dan menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya. Apakah itu, adik-adik? <span style="font-style: italic;">Good ol' in your face fucking grinding ear bleeding non-stop solo guitar everywhere thrashmetal, of course!</span></span><br /><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Death Magnetic jelas-jelas dibuat mengacu kepada album-album lama mereka, terutama Master of Puppet. Produser kawakan Rick Rubin adalah otak dibalik kembalinya Metallica ke <span style="font-style: italic;">roots </span>mereka. Apakah berhasil?</span> <span style="font-family:trebuchet ms;">Pastinya, mereka berhasil dalam membuat album yang luar bisa berisik. Sound gitar dan drum benar-benar dimaksimalkan volumenya sehingga gue bertanya-tanya, apa ini karena emang Metallica pengen kenceng, ato karena telinga mereka udah budek? Akibatnya, Vokal Hetfield terkubur nun jauh di bawah.</span> <span style="font-family:trebuchet ms;">Yang paling menonjol adalah aksi Kirk Hemmett. Ia diberi kebebasan lagi untuk mengeksplorasi gitarnya dengan solo-solo yang dahsyat. Aransemen Death Magnetic dipenuhi ngejam bebas sehingga rata-rata lagu mereka berdurasi 7 menit. <span style="font-style: italic;">Tracks </span>yang mencuri perhatian adalah That Was Just Your Life, Cyanide, The Day That Never Comes.</span> <span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" ><br /><br />Chinese Democrazy</span><br /><span style="font-family:trebuchet ms;">Yap, semua orang tau kalo William Axl Rose adalah orang yang sableng. Album Chinese Democracy adalah bukti yang paling baru. Bayangkan, album yang "cuma" berisi 14 lagu ini baru dirilis 15 tahun setelah The Spaghetti Incident?, album studio terakhir mereka.<br /><br /></span><span style="font-family:trebuchet ms;">Pertama kali mendengarkan lagu pada album ini gue langsung bisa memahami kenapa anggota GNR lainnya keluar, terutama Slash. Sound dan permainan gitar Buckethead, Robin Finck, dan Bumblefoot benar-benar modern mendekati metal, sangat berbeda dengan gaya permainan Slash yang rock n roll berat. <span style="font-style: italic;">Is that a good thing or a bad thing? It's fucking baaad i tell you (in a good way</span>---hah?). <span style="font-style: italic;">Yeah, me like it!</span> Axl cs telah memoles album ini sampai titik darah penghabisan dan menghasilkan album yang walaupun tertunda cukup lama - sampai detik ini masih terdengar relevan. <span style="font-style: italic;">Killer tracks</span> adalah Chinese Democracy, Shackler's Revenge, Better, IRS, Catcher In The Rye.</span> <span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" ><br /><br />The Verdict</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br />Ketiga album ini sama-sama memuaskan kerinduan pengemar akan segala kebaikan mereka di masa lalu. Sarat nostalgia dan reuni yang cukup mengharukan bagi para rockers dan metallers. Namun sepertinya Motley Crue yang keluar sebagai pemenang. <span style="font-style: italic;">I mean,</span> permainan mereka seakan-akan ga berubah setelah puluhan tahun! Vokal Vince Neill masih <span style="font-style: italic;">obnoxiously</span> cempreng, gitar Mick Mars masih garang dan makin menjadi, bassnya Nikki Sixx mendentum dengan nakal, dan Tommy Lee masih solid di balik drum kit, seakan-akan segala hype tentang dirinya sama sekali ga pengaruh.<br /><br />Juara kedua adalah Guns N Roses. Seharusnya mereka jadi yang pertama, turun posisi karena anggota aslinya tinggal Axl. Jadi walaupun album ini yang paling inovatif di antara ketiganya, tanpa anggota orisinil GN'R lainnya, ada yang kurang gimanaaa gituh. </span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Metallica di urutan terakhir karena walaupun berusaha sekuat tenaga menyamai masa muda mereka, lagu-lagunya ga ada yang bener-bener nempel di kepala. Secara teknis permainan dan sound mereka tanpa cela, terdengar kalo mereka udah expert di bidang per-thrashmetal-an ini. </span> </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-2584836891050172927?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-7228898880822908702008-09-04T02:21:00.000-07:002009-01-05T00:42:14.565-08:00The Mist - Absolut Absurd<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SMXPyUhlHMI/AAAAAAAAAB4/DeCxG84dnuc/s1600-h/TheMistPoster01.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SMXPyUhlHMI/AAAAAAAAAB4/DeCxG84dnuc/s200/TheMistPoster01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243825804552772802" border="0" /></a><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:trebuchet ms;">Peringatan: kalau otak anda gak punya toleransi yang tinggi terhadap jalur cerita nihilistik yang menguji kewarasan anda, jangan dekati film ini. Sama seperti The Shawshank Redemption, The Mist dibuat berdasarkan novel Stephen King dan disutradarai Frank Darabont. Apakah kolaborasi dua orang hebat itu mampu menghasilkan sebuah masterpiece lagi? Yap, masterpiece yang luar biasa aneh. Gue ga bilang bagus ya, tapi aneh.<br /><br /></span><span style="font-family:trebuchet ms;">Cerita bermula ketika di sebuah kota kecil di Amerika, tiba-tiba tertutup kabut misterius. Di balik kabut itu ada sekumpulan makhluk-makhluk aneh yang membunuh orang-orang yang cukup sial untuk masuk ke dalamnya. Sebagian penduduk kota yang sedang berbelanja di supermarket terperangkap dan kemudian mengurung diri di dalam untuk berlindung dari teror makhluk-makhluk kabut tersebut.</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />Mulailah pertarungan karakter di dalam supermarket itu. Adu pengaruh terjadi antara politisi, redneck, biker, pegawai toko, sampai penceramah agama dadakan. Masing-masing menghadapi masalah dengan caranya sendiri. Apakah mereka akhirnya selamat atau mati? Silakan tonton sendiri! Endingnya benar-benar sulit dipercaya dan kabarnya sih sengaja dibuat berbeda dari versi novelnya. Dua orang teman gue yang nonton bareng, memaki-maki akhir cerita yang menurut mereka keterlaluan. Gue sendiri terkejut sampai mulut gue terganga-nganga cukup lama. Pantesan di poster filmya ada tulisan "One of the most shocking movie endings ever!". Setujuh! Kalo perlu sedelapan, sesembilan, sesepuluh!</span> <span style="font-family:trebuchet ms;"><br /><br />The Mist memang sarat dengan keganjilan. Alurnya lambat dan castingnya (terutama untuk peran tentara) kurang sesuai. Tingkat kesadisannya pun cukup tinggi, jadi siapkan diri anda untuk melihat banyak darah. Tapi bukan darah saja yang akan membuat anda merinding, yang lebih menakutkan lagi adalah film ini menyerang sisi mental anda. Dan ini yang menyebabkan anda masih terbayang-bayang ceritanya bahkan setelah berhari-hari meninggalkan gedung bioskop. </span> </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-722889888082290870?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-12780917093186651122008-08-05T05:21:00.000-07:002009-01-05T00:42:53.907-08:00Rize Above<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ruzi04F-HZ4/SJhGp6O5F0I/AAAAAAAAABg/MpfOtOHY2DU/s1600-h/300px-rize.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ruzi04F-HZ4/SJhGp6O5F0I/AAAAAAAAABg/MpfOtOHY2DU/s320/300px-rize.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231008653011130178" border="0" /></a><span style="font-size:100%;"><br /><span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" >Lagi demen ama band J-Rock bernama Rize, nih! Mantap kali, perpaduan harmonis antara Metal, Rock dan Hip hop! Gara-garanye gue ga sengaja ngeliat video klip mereka yg berjudul “Live or Die” di MTV. </span><a style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 0);" href="http://www.youtube.com/watch?v=W9CePBTrAgs&amp;feature=related">(klik dah di sini)</a><span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" >. Video klipnya apik, sarat dengan permainan grafis dan animasi khas Jepang. Performa Rize ekstra-energik: bassisnya gondrong berjoget seperti Flea, vokalisnya (Jesse) kayak pegawai Miami Ink (baca: tatoan), dan yang paling asyik mah ngeliat Kaneko Nobuaki, drummernya. Permainan snare-nya rapat, beat-beatnya groovy, cymbal-worknya cadash! I love dis guy! </span></span><p style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Sayang sekali, kayaknya agak susah ndapetin albumnya di Indonesa. Di antara pemirsa ada yang tau, mungkin?</span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-1278091709318665112?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-76537833416907269522008-06-03T20:41:00.000-07:002009-01-05T00:41:03.179-08:00This is Fookin’ England!<span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" ><a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SEYSvDHTKMI/AAAAAAAAAA0/f3B9BwGd0-g/s1600-h/poster1_small.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/SEYSvDHTKMI/AAAAAAAAAA0/f3B9BwGd0-g/s200/poster1_small.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207870618599631042" border="0" /></a></span><span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" >Skinhead - seperti halnya mafia - adalah subyek yang sangat menarik untuk diangkat ke layar lebar, asal ditangani dengan hati-hati. Menurut pengamatan gue, unsur drama harus diulik sedemikian rupa sehingga hasilnya bukan cuma film action murahan. Dan angle cerita jangan terlalu menghakimi para skinhead, karena akhirnya cerita jadi cemen. Kalo bisa penonton dibuat bimbang. Yang tadinya membenci skinhead, kini bisa melihat sisi lainnya yang membuat mereka bersimpati sampai-sampai menjadi seorang skinhead!</span> <p style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p></o:p>Satu-satunya film yang nyaris membuat gue menjadi skinhead adalah film Romper Stomper buatan <st1:country-region st="on"><st1:place st="on">Australia</st1:place></st1:country-region>. Dalam film yang dibintangi Russel Crowe ini, geng skinhead sangat terlihat sisi manusiawinya, sehingga penonton mau gak mau berada dalam posisi netral. Ini juga yang menyebabkan Romper Stomper mendapat banyak kritikan, karena dianggap membela skinhead rasis. Kemudian ada lagi film American History X, starring Edward Norton. Cukup bagus, hanya saja kurang fokus ke kehidupan gangnya, cerita lebih banyak berkutat di satu keluarga aja.</span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p></o:p>Dan kini muncul film This Is England dengan treatment yang apik. Unsur dramanya kuat, tanpa meninggalkan sisi kekerasan kehidupan skinhead. Film ini dibuat oleh Shane Meadows yang katanya berdasarkan pengalaman pribadinya semasa kecil. Sebagai penulis cerita dan sutradara, Shane dengan akurat menggambarkan setting Inggris di musim panas tahun 1983. Berbeda dengan Romper Stomper dan American History X dimana para skinheadnya adalah rasis (Nazi), maka This Is England memperkenalkan skinhead yang lebih multirasial (Jamaika dan bule, tepatnya). </span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Cerita berputar sekitar tokoh utama, Shaun (Thomas Turgoose), usia 12 tahun, yang harus hidup yatim karena ditinggal ayahnya yang gugur di Pulau <st1:place st="on">Falkland</st1:place>. Shaun yang menjadi pemurung akhirnya mendapat tempat di sebuah gang skinhead. Geng yang diketuai Woody (Joe Gilgun) ini nggak terlalu seram, kerjaannya cuma nongkrong di pinggir jalan, pesta pora, nyimeng, mabok. Pokoknya masih lebih seram FPI, lah! </span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Sampai suatu ketika mereka kedatangan teman lama, bernama Combo (Stephen Graham) yang baru kembali dari penjara dan kini menjadi lebih militan dan rasis. Combo mencoba merekrut anggota geng Woody untuk menjadi anggota National Front, sebuah partai ekstrim kanan. </span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">This is England berhasil membuat film skinhead yang proporsional. Keras, tapi nggak brutal. Mengharukan, tapi nggak menye-menye. Cocok buat panduan anda-andi yang ingin jadi skinhead yang baik dan bertanggung jawab. Oi!</span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-7653783341690726952?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-13108403360589845672008-01-14T01:33:00.000-08:002009-01-05T00:43:43.859-08:00Mereka Bilang, Saya Monyet!<p class="MsoNormal">Tadinya gue mau nulis review film Djenar Maesa Ayu, "Mereka Bilang, Saya Monyet!". Tapi ternyata udah ada yang bikin <a href="http://glennmarsalim.blogspot.com/2008/01/sorry-ya-djenar.html">di sini.</a> Gue rasa udah cukup mewakili perasaan gue. Lebih baik waktunya dipake buat nulis review yang lain, ya khaan??...(dasar males)<br /></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-1310840336058984567?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-2765672757464189042007-08-22T04:12:00.000-07:002009-01-05T00:44:51.032-08:00Cicak-Man...Ck, ck, ck!<span style="font-size:100%;"><a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/RswczdvevOI/AAAAAAAAAAM/faKEqHIRqNA/s1600-h/cicak-man_crop.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ruzi04F-HZ4/RswczdvevOI/AAAAAAAAAAM/faKEqHIRqNA/s200/cicak-man_crop.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101484148386610402" border="0" /></a></span><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" >Kontradiksi dengan pernyataan gw di blog sebelumnya, kali ini gw mau memberi nasihat: Jangan berharap terlalu rendah! Kecuali anda ingin merasakan malu yang amat dahsyat. <o:p></o:p></span> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p></o:p>Sebelumnya gw harus meminta maaf kepada publik <st1:country-region><st1:place>Malaysia</st1:place></st1:country-region></span><span style="font-size:100%;"> karena selama ini gw berprasangka bahwa apapun yang dibuat <st1:country-region><st1:place>Malaysia</st1:place></st1:country-region></span><span style="font-size:100%;"> berselera rendah a.k.a kampungan. Bahwa<span style=""> </span>satu-satunya produk terbaik mereka cuma lagu Isabella dari grup musik Search. <o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Begitu pula halnya sewaktu gw mendengar dari seorang teman bahwa di <st1:country-region><st1:place>Malaysia</st1:place></st1:country-region></span><span style="font-size:100%;"> sedang gandrung film Cicak-Man. Dengan kurangajarnya, gw langsung ngetawain. Alangkah noraknya! Gw langsung membayangkan kalo film ini tiruan buruk dari Gundala, atau Rama, film superhero <st1:country-region><st1:place>Indonesia</st1:place></st1:country-region></span><span style="font-size:100%;"> jaman dulu. Tapi tetep gw merasa penasaran, karena pada dasarnya gw tertarik dengan hal-hal yang norak. Ha! <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p></o:p>Pucuk dicinta ulam tiba. Sewaktu jalan-jalan di Ambassador, gw ga sengaja nemuin DVD dengan judul “Lizard Man”. Melihat dari penampakannya, gw berkeyakinan DVD ini tak lain dan tak bukan adalah “Cicak-Man” yang pernah diceritakan temen gw. Maka setelah mengetes seperlunya, gw langsung bungkus bawa pulang.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Sebelum nonton, gw udah siap-siap dengan segala kegaringan film ini. Paling lawakannya ga lucu, efeknya norak, begitu pikiran gw. Tapi apa yang disangka tai ternyata coklat….yang sangat lezat! Film ini sarat dengan adegan yang lucu dengan akting yang prima (salut buat pemeran Cicak-Man/Hairie, Syaiful Apek). Gw tertawa terbahak-bahak karena benar-benar lucu, bukan menghina seperti halnya nonton film horor <st1:country-region><st1:place>Indonesia</st1:place></st1:country-region></span><span style="font-size:100%;">. Special efeknya – walaupun belum bisa dibilang spektakuler – sama sekali nggak mengecewakan. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Film Cicak-Man bersetting di <st1:city><st1:place>kota</st1:place></st1:city></span><span style="font-size:100%;"> khayalan Metrofulus. Sang pahlawan yang bernama Hairie adalah seorang ilmuwan yang bekerja di perusahaan milik Professor Klon (Aznil Nawawi). Dari sebuah ketidaksengajaan yang sangat absurd (lo harus liat sendiri) Hairie berubah jadi superhero yang mempunyai kekuatan seekor Cicak! Ia bisa menempel di dinding seperti halnya Spider-Man. (Setelah dipikir-pikir yang paling pantas menempel di dinding emang Cicak-Man, bukannya Spider-Man. Buktinya ada lagu “Cicak-cicak di dinding”, bukannya “Laba-laba di dinding”). Cicak-Man pada akhirnya harus berhadapan dengan Prof.Klon dan antek-anteknya.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Film ini murni parodi. Ia adalah gabungan Spider-Man, Batman, The Matrix dan entah apa lagi. Semua dibalut dalam humor ala Melayu yang amat sangat lucu. Film ini emang nggak mempunyai kandungan yang terlalu dalam, tetapi sebagai film hiburan yang mengalir dengan alami ia telah menjadi sebuah masterpiece. Superb, well done, 2 thumbs up, or should I say…ck,ck,ck!<br /></span></p><p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><a href="http://www.cicakman.com/">www.cicakman.com</a><o:p></o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-276567275746418904?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-55795059361794421972007-08-16T05:48:00.000-07:002009-01-06T02:17:40.885-08:00Download lagu neeh....Good news! Lagu-lagu asyik pilihan gw bisa didownload di Multiply. Klik aja <a href="http://punkdhut.multiply.com/music">di sini.</a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-5579505936179442197?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-52907924421790556432007-08-16T04:18:00.000-07:002009-01-06T01:54:17.754-08:00Harga Bintang Lima, Kualitas Kaki Lima - Konser Avenged Sevenfold di Tennis Indoor Senayan,7 Agustus 2007<span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" ><b style=""><o:p></o:p></b>Ekspektasi yang terlalu tinggi akan suatu hal bisa menghancurkan. Contohnya, ketika janjian untuk <i style="">blindate</i>, dan anda mengkhayalkan si dia secakep mungkin. Setelah seminggu penantian dengan segala macam persiapan agar anda tampil maksimal akhirnya anda harus menerima kenyataan dia bukanlah Miss Universe ato Sang Pangeran tampan. Kekecewaan yang anda derita akan sulit sekali diobati. (Ini intro najes banget seeh…)</span><span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" ><br /><br />Kejadian yang kurang lebih sama belom lama ini gw alami. Cerita bermula dari kabar kedatangan satu-satunya grup band ABG kesukaan gw, yaitu Avenged Sevenfold, yang dikenal juga dengan singkatan A7X. Mereka terdiri anak-anak muda berusia 20 tahunan yang fasih membalut musik Metal ala Iron Maiden, Rock N Rollnya Guns N Roses dan attitude Punk Rock. Skill mereka sungguh di atas rata-rata band anak sekarang. (Untuk ulasan yg meninggi-ninggikan A7X sebenernya bisa dibaca <a href="http://da-review.blogspot.com/2006/02/avenged-sevenfold-siap-bantai-band.html">di sini</a>).<br /></span><span style="font-size:100%;"><br />Sungguh diluar dugaan bahwa A7X akan datang ke <st1:city><st1:place>Jakarta</st1:place></st1:city> mengingat mereka adalah band yang baru naik daun dan albumnya ga beredar resmi di sini. Gw aja cuma punya CD “City of <st1:city><st1:place>Evil</st1:place></st1:city>” yang didapat di distro Ish Kabible dengan harga impor (baca: mahal, njing!). Namun ketika tahu konser akan diadakan oleh promotor sebesar Java Musikindo, gw menduga-duga mungkin cukup banyak penggemar mereka di sini, terutama para ABG. </span> <p class="MsoNormal" style="font-family:arial;"><span style="font-size:100%;">Memang promosi yang dilakukan Java tidak segencar band-band lainnya, seperti Good Charlotte ato Muse. Media yang digunakan - sejauh pengamatan gw - cuma poster. Dan setelah investigasi yang cukup mendalam, diperoleh kesimpulan bahwa area penyebaran poster kebanyakan di distro-distro yang notabene banyak dikunjungi para ABG. Sebuah strategi yang cukup jitu, IMHFO (In My Humble Fucking<span style=""> </span>Opinion). Tapi ada kemungkinan lain. Java tidak menggunakan media billboard karena keburu dipake Fauzi Bowo buat kampanye. (Tanggal konser A7X adalah 7 Agustus 2007, sehari sebelum tanggal pencoblosan Gubernur DKI Jakarta). Di daerah Tebet, gw juga menemukan ada indikasi perobekan poster-poster A7X yang digantikan oleh poster Fauzi Bowo. (maruk banget nih orang).</span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:arial;"><span style="font-size:100%;">Kedatangan gw di lokasi konser agak terlambat karena ulah orang tidak bertanggungjawab yang menebar paku di jalan Gatot Subroto. Akibatnya, motor yg gw boncengi ama temen gw harus ditambal ban dulu. Kejadian ini agak de-javu sewaktu nonton konser Exploited di Bandung <span style="text-decoration: underline;">(</span><a href="http://da-review.blogspot.com/2006/06/sex-violence-konser-exploited-adu.html">baca di sini</a>). </span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Setelah motor beres, kita langsung meluncur ke Senayan. Setibanya di sana udah ketinggalan band pembuka, Endank Soekamti. <i style="">But what da hell</i>, mood gw lagi pengen nonton Metalcore bukannya Pop-Punkcore.Di dalam gedung pertunjukan, suasana cukup ramai namun santai. Jeda waktu antara band pembuka dan A7X agaknya cukup lama, sehingga terlihat beberapa orang yang udah resah. Thank god A7X blon mulai…</span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Penonton bersorak ketika nampak The Reverend duduk di balik drumsetnya. Kemudian secara bersamaan muncul para personil A7X lainnya. Tennis Indoor langsung bergetar oleh musik Beast and The Harlot, sebuah nomor yg cukup kencang dari A7X. Mau gak mau, gw ikut loncat-loncat bareng ABG-ABG itu sambil mengacungkan salam tiga jari ke udara. Hell Yeah!</span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Diantara gemuruhnya suasana konser, sebenernya ada yang ga beres. Kenapa sound yang keluar jelek gini ya? Nyampur semua kayak tai kebo. Vokal M Shadows terkubur. Begitu pula dengan suara drum The Reverend. Padahal gw suka banget sama <span style=""> </span>permainan ni anak. Sound gitar Synyster Gates paling keras sendiri, nggak enak kayak gitar dangdut. (Atau mereka mencoba jadi grup Metaldut, karena konser di <st1:country-region><st1:place>Indonesia</st1:place></st1:country-region>? Hmm…)</span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">A7X berturut-turut membawakan nomor-nomor kencang seperti Burn It Down, Unholy Confessions, Chapter 4. Kemudian <i style="">slow down</i> sebentar dengan lagu bergaya <i style="">sweet ballad</i>, Seize the Day. Tapi suasana galau gak bertahan lama, karena A7X menggeber lagi lewat lagu Trashed and Scattered. Mereka memberi <i style="">sneakpeak</i> album terbaru mereka dengan membawakan single pertama, Almost Easy. Masih ngerock, tapi kurang yahud siy, menurut gw. Nomor berikutnya adalah I Won’t See You Tonight. Kayaknya diambil dari album mereka yang lama. Setelah itu lampu Tennis Indoor mendadak padam dan para personil A7X ngacir ke belakang layar. Apaan nih? Udah bubaran? Penonton otomatis meminta “we want more” karena merasa belom puas. Masa blom mainin lagu hitsnya?</span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Benar saja, ga lama digeberlah lagu jawara mereka, Bat Country. Nomor yang menjadikan mereka superstar karena videonya menjadi no.1 di acara MTV TRL. Penonton menghayati detik demi detik dari lagu tersebut. Cukup mengasyikkan. Keriaan tak berlangsung lama karena begitu lagu selesai mereka langsung pamit dan menghilang dari panggung. Apa-apaan lagi nih? Masa segitu doank? Beberapa penonton mulai resah karena ga ada tanda-tanda band akan bermain lagi. <st1:city><st1:place>Ada</st1:place></st1:city> yang teriak-teriak minta balikin duit karena ga puas. Sama, gw juga ngerasa konser NOFX seharga Rp80rb jauh lebih asik daripada konser ini yang berharga Rp300ribu!</span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini, adik-adikku yang manis? Jangan sepenuhnya percaya kalo EO besar yg ngadain acara pasti akan memuaskan. Kemudian berhati-hatilah kalian yang mengendara motor karena banyak paku bertebaran di jalan. </span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><span style=""> </span></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-5290792442179055643?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-16234553367803182102007-05-21T21:51:00.000-07:002009-01-06T01:58:21.671-08:00Sisi Katro Punk Rock - Konser NOFX di PRJ, 21 April 2007<span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" ><b style=""><o:p></o:p></b>Siapa bilang Punk Rock harus selalu macho, beringasan dan anarkis? NOFX meredefinisi Punk sebagai paham “jadilah diri sendiri, sekatro apapun anda”. Selama 24 tahun berdiri, mereka konsisten meramu humor dan Punk tanpa menjadi (terlalu) tolol. Semua adalah cerminan dari pribadi keempat personilnya, Fat Mike (bass/vokal), El Hefe (gitar), Eric Melvin (gitar), dan Erik Sandin (drums) yang nggak ragu untuk menertawakan diri sendiri (dan orang lain, tentunya).</span><span style="font-size:100%;"><o:p style="color: rgb(0, 0, 0);"></o:p><br /></span> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><st1:country-region><st1:place>Indonesia</st1:place></st1:country-region> (<st1:city><st1:place>Jakarta</st1:place></st1:city> dan <st1:place>Bali</st1:place>) cukup beruntung disinggahi band sekaliber NOFX. Sebagai Punk Rocker, adalah dosa besar kalo nggak sampe nonton salah satu dewa Punk ini. (Menurut Fat Mike, band Punk nomor 1 adalah Bad Religon, nomor 2 Rancid, dan urutan ketiga baru NOFX. Makanya Fat Mike berharap Bad Religion segera bubar, supaya NOFX bisa jadi nomor 2).<br /><o:p></o:p><br />Seperti halnya Exploited, konser NOFX kali ini digawangi oleh EO kecil, yaitu M2 production (kalo ga salah??). Sehingga wajar kalo promosinya minim sekali. Mereka hanya mengandalkan penyebaran poster, email, dan promosi dari mulut ke mulut (dikenal jg dengan nama oralvertising, jangan disamakan dengan oral sex ya…). Yang menarik adalah jadwal konser NOFX di Jakarta berdekatan dengan kedatangan band idola para ABG, Good Charlotte. Bedanya Good Charlotte didatangkan oleh Java Musikindo, dengan promosi jor-joran melalui above the line dan below the line (…apa siiih…) sehingga terlihatlah pertarungan yang nyata antara Kaum Kapitalis vs Proletar. The Mainstream vs The Extreme. The Assholes vs The Heroes. (WTFK????)<br /><o:p></o:p><br />Cukup dengan Good Charlotte, mari kita kembali membicarakan musik yg berkualitas <span style="font-family:Wingdings;"><span style=""></span></span>. Di luar berbagai kekurangan yang terjadi karena diadakan oleh EO kecil, ada berkah yang didapat, yaitu tiket yang cukup murah, Rp80.000 saja! Coba bandingkan dengan Good Charlotte yang mencapai Rp350.000 (Btw, kok ngomongin band setan itu lagi ya?).<br /><o:p></o:p><br />Pada hari H, mulai terlihat kekurang-organisasian pengorganisir acara. Di jadwal tercantum bahwa pintu PRJ akan dibuka pukul 5 sore. Pada kenyataannya, jam segitu pintu gerbang masih tertutup rapat, sehingga terlihat pemandangan sekumpulan calon penonton konser seperti sedang menanti kereta lebaran. Kecuali bahwa mereka memakai kaos NOFX dan berambut mohawk, bukannya make kebaya dan kondean.<br /><o:p></o:p><br />Pintu gerbang depan baru dibuka pukul 19.00, setelah itu “NOFXers” harus mengantri di pintu kedua untuk pemeriksaan tiket. Panitia cuma menyediakan dua lajur, memakai jasa segelintir polisi yang memeriksa tiket dengan <st1:city><st1:place>gaya</st1:place></st1:city> yang sengak. Proses ini berlangsung sangat lamban kayak kiong. Nggak heran kalo makian dan cacian keluar dari mulut calon penonton yang kecapean. Contohnya,”Ngentoot!”, “Taik!”,”Kontol!”, dan tentu saja, “Ndeso!” dan “Katro!”<br /><o:p></o:p><br />Setelah ngantri sekitar sejam, dan berharap langsung bisa ajojing, ternyata <st1:city><st1:place>massa</st1:place></st1:city> diberhentikan lagi untuk mengantri masuk di pintu ketiga. Kali ini ini cuma satu pintu yang dibuka. “Soundtack” nya apalagi kalo bukan koor sejuta makian. Daripada menghabiskan energi, gw cuma bisa memaklumi, “Pantesan tiketnya murah…..”<br /><o:p></o:p><br />Sekitar Jam 20.30, King Ly Chee, band pembuka dari <st1:place>Hong Kong</st1:place> naik pentas. Mereka membawakan musik Hardcore dengan vokalis cewe Chinese bermohawk. Musiknya standar aja, banyak band-band Hardcore Indonesia yang lebih keren dari mereka. Penonton juga kayaknya kurang respek sehingga banyak jari tengah mengacung di udara, meminta mereka turun.<o:p></o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Pukul 21.00, King Ly Chee akhirnya turun pentas disambut suka cita para penonton yang udah ga sabar lagi. Sembari menunggu NOFX siap, penonton ditemani oleh musik Reggae dan Dub dari speaker panggung. Cukup menenangkan…</span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p></o:p>Akhirnya….sekitar jam 21.30, para personil NOFX naik panggung disambut oleh gegap gempita para penonton yang udah menanti dari sore hari. Fat Mike membuka dengan sedikit membual, “Did you guys see the Exploited when they came here?...We’re much better than them!</span><span style="font-size:100%;">”</span><span style="font-size:100%;"> Lalu meluncurlah lagu Dinosaurs Will Die yang menghentak. <st1:city><st1:place>Massa</st1:place></st1:city> langsung kesetanan bermoshing ria. Anak skate, Punkers, bule kere, bule tajir, semuanya templek disatukan oleh musik NOFX.</span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Songlist mereka yang gw inget: Franco Unamerican, Lenoleum, The Brews, Don’t Call Me White, Murder the Government. Nggak ketinggalan, mereka membawakan lagu Bad Religion, “Do What You Want” dan “Radio” dari Rancid yang diaransemen menjadi Reggae. Selain itu mereka juga memainkan sebuah nomor Jazz, yang menonjolkan permainan terompet El Hefe. Sangat variatif!</span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Menjelang akhir konser, pintu dibuka untuk 200 punkers yang dari awal menunggu jebolan. Mereka sepertinya Punk-punk borok yang ingin mencari masalah dan gak gitu ngerti musik NOFX. Fat Mike pun berceloteh, “Kita kedatangan 200 orang miskin yang nggak mampu buat beli tiket. Hmm…kalian semua sebenarnya juga orang miskin sih…..tapi jangan berkecil hati karena ada 200 orang yang lebih miskin dari kalian!” </span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Untungnya suasana tetap kondusif dengan selingan musik yang berirama reggae, “Kill All The Whitemen” berhasil menggoyangkan--sekaligus mengademkan-- satu PRJ. Disamping lawakan-lawakan Fat Mike dan El Hefe<span style=""> </span>menjauhkan konser dari kerusuhan.</span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">NOFX menyudahi konser setelah memenuhi keinginan “we want more” dari penonton. Sebenarnya malas untuk berpisah dengan para living legend ini, tapi daripada digebukin pake rotan sama polisi? Yuuuuk……..</span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;">Di samping berbagai kekurangan yang ada (banyuaaak, <i style="">actually</i>), pujian layak dialamatkan buat panitia karena telah berani mengadakan acara ini. Dilihat dari penonton yang membludak, kayaknya konser ini cukup berhasil. Dan semoga saja NOFX menepati janjinya untuk mengajak Bad Religion dan Rancid main ke sini. Jadi Punkers! Mari kita semua bergandengan tangan, berdoa, kalo berita ini bukan guyonon Fat Mike semata. Oi…oi…oi!!!</span></p><p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><br /></span></p><p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"></p><p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p> <p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><o:p> </o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-1623455336780318210?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1158578950910667292006-09-18T04:24:00.000-07:002009-01-05T00:54:05.108-08:00Album Terbaru Bunga: Hampir Gak Norak<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/1600/Bunga-sm.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/320/Bunga-sm.jpg" alt="" border="0" /></a><br /><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" ><o:p></o:p></span><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" >Band yang masih sulit untuk lepas dari bayang-bayang almarhum Galang Rambu Anarki ini mencoba eksis kembali ke dalam industri musik dengan menempatkan Anda, vokalis yang sempat beken lewat single “Tentang Seseorang”, OST “Ada Apa dengan Cinta”. Langkah yang tepat atau usaha bunuh diri? Seperti yang banyak orang tau, image <i style="">drugs</i> pada Galang cukup kuat sehingga mau gak mau Bunga pun diidentikkan sebagai band yang <i style="">rebellious</i>. Lantas apakah tepat kalo Toni, vokalis lamanya diganti Anda, yang justru ultra-melankolis? <o:p></o:p></span> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" >Pertama kali mendengar album yg diberi titel “3” ini, pendengar langsung dikejutkan oleh irama yg cukup menghentak dari lagu “Hey Bro”. Bahkan mereka yg paling skeptis pun (baca: saya sendiri) akan mengakui kalo ada yg lebih dari Bunga, bukan sekedar band yg pernah disinggahi Galang Rambu Anarki. Vokal Anda terdengar garang, berdistorsi, sehingga muncul keraguan, apakah ini orang sama yg menyanyikan soundtrack “Ada Apa dengan Cinta?” <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" >Lagu berikutnya diberi judul “Norak” yang isi lagunya memang norak bin cemen. Pemberian judul yang “sesuai” ini menunjukkan selera humor yang cukup tinggi dari para personil Bunga. Tapi pada lagu “Hanya Manusia”, saya mulai bingung nih. Ini lagu serius apa guyonan? Isinya sih lebih norak dari lagu “Norak”. Tapi kenapa nggak dikasih titel “Norak Part 2”, atau “Jayus Song?” Ah, kurang konsisten, nih…<sub><o:p></o:p></sub></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" ><o:p></o:p>Sebenarnya album ini merupakan <i style="">comeback</i> yang cukup menjanjikan dari Bunga. </span><st1:place><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" >Para</span></st1:place><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" > personilnya pun sepertinya mempunyai dasar musik Rock yang cukup kuat. Terlihat dari beberapa track yang “nendang”, seperti “Hey Bro”, “Temperamen”, “Cabut”, “Antara Siang dan Malam”. </span><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" lang="FR">Terasa unsur-unsur Classic Rock yang dicampur dengan Modern Rock tanpa menjadi terlalu trendi. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" lang="FR">Tapi seperti biasa, dengan pertimbangan komersil, untuk merangkul pasar cewek, lagu-lagu cemen—atau meminjam bahasa Bunga: “norak” — lebih mendominasi. Padahal, andaikata Bunga mau sedikit total dalam nge-rock, akan lebih banyak “bro-bro” yang menjadi bersimpati sama mereka. Ketidakjelasan dalam meraih segmen pasar dapat menjadi bumerang, bisa-bisa mereka tidak memperoleh pasar sama sekali. Untuk menyalurkan sisi melankolisnya, Anda sebaiknya tetap menjadi solois saja, mungkin dengan mengisi soundtrack berbagai sinetron ABG.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" lang="FR"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" lang="FR"><o:p> </o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-115857895091066729?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1152683558420076512006-07-11T22:21:00.000-07:002009-01-05T00:55:27.999-08:00­­The Raconteurs-Broken Boy Soldiers<span style=";font-family:Arial;font-size:10;" ><o:p></o:p></span><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" >Agaknya ambisi Jack White terlalu besar untuk tetap setia di The White Stripes. Mungkin dia merasa mentok juga mengeksplorasi rock minimalis bersama drummer Meg White. Mungkin dia perlu drummer yg lebih skillful dan dukungan musisi-musisi berbakat lainnya. Agaknya itu alasan dibalik pendirian band proyekan Jack White dengan para musisi sekaligus teman-teman lamanya, The Raconteurs.<o:p></o:p></span> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" ><o:p></o:p>Sebenernya konsep musik The Raconteurs gak jauh-jauh amat dari The White Stripes, seperti track andalannya “Steady As She Goes” yang masih beroroma Garage Rock. Tapi sepertinya musik The Raconteurs ingin dibuat lebih jadul lagi, ke era film ‘Cold Mountain’ (di mana Jack White pernah bermain di </span><st1:city><st1:place><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" >sana</span></st1:place></st1:city><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" > dan cinlok dengan Renee Zelweger). Track yang paling berasa antik adalah “Broken Boy Soldier”, di mana terdapat permainan perkusi yang sangat menarik.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" ><o:p></o:p>Track lainnya yang juga mantaps adalah “Hands” dan “Intimate Secretary”, mirip The Beatles dalam eranya yang paling psychedelic. Track ”Level” memperdengarkan sound gitar kasar yang menyayat ala The White Stripes dalam beat funky.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal"><span style=";font-family:Arial;font-size:10;" ><o:p></o:p>Soal sound, jelas lebih kaya dari The White Stripes. Selain munculnya pemain bass, dapat disimak pula permainan keyboard Brendan Benson. Kesimpulannya, band ini adalah The White Stripes yang ber-skill!<o:p></o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-115268355842007651?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1151722710564122002006-06-30T19:28:00.000-07:002009-03-26T08:24:44.751-07:00Argentina Keok! Thanks to Pekerman…Hiks…Hiks…<a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/1600/pekerman_oon.jpg"><img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/320/pekerman_oon.jpg" border="0" /></a> Selama kompetisi Piala Dunia 2006 berlangsung, semua orang tahu Argentina adalah tim yang hebat dan layak jadi juara. Tim ini sarat dengan individu ber-<em>skill</em> tinggi dan mempunyai organisasi permainan yang matang. Bisa dibilang nggak ada yang bisa mengalahkan Argentina, kecuali diri mereka sendiri. Dan yang melakukan bunuh diri pada pertandingan perempat final melawan Jerman (30/06) kemarin adalah pelatihnya, Jose Pekerman.<br /><br />Strategi awal Pekerman sih benar. Ia menurunkan striker kreatif, Carlos Tevez, bukannya Javier Saviola sebagai <em>starter</em>. Ini memperlihatkan Pekerman ingin bermain menyerang habis-habisan. Dan strateginya membuahkan hasil. Babak pertama adalah mutlak milik Argentina. Juan Riquelme selaku jendral lapangan tengah memimpin rekan-rekan setimnya mengobrak-abrik pertahanan Jerman. Kata Bung Ronny Pattinasarani, Jerman tidak diberi kesempatan mengembangkan “permainan dari kaki ke kaki”.<br /><br />Pada menit ke-49, tendangan pojok Riquelme disambut dengan sundulan Roberto Ayala dan berhasil merobek gawang jerman. 1-0 untuk Argentina. Sebuah gol yang menjadi titik tolak permainan, Jerman yang tadinya bermain terlalu hati-hati kini lebih menyerang. Permainan jadi menarik, karena Argentina pun bermain dengan dengan gaya yang sama.<br /><br />Musibah Argentina bermula ketika kiper mereka, Abboandanzieri cedera tulang rusuknya setelah berbenturan dengan Miroslav Klose. Ia segera digantikan oleh Leo Franco dari Atletico Madrid, yang kalo melihat ekspresinya sih kayak nggak niat main. Tapi tragedi sesungguhnya terjadi beberapa menit berikutnya, ketika Jose Pekerman menarik Juan Riquelme dan menggantikannya dengan Cambiasso, gelandang bertahan. Dengan sisa waktu tinggal 20 Menit lagi dan unggul 1-0, Pekerman merasa cukup dengan barmain bertahan dan berharap timnya bisa melenggang ke semifinal. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Memangnya Argentina lagi lawan siapa? Indonesia? Kalo gitu sih fine2 aja. Tapi ini Jerman….!!! Yang punya mental baja. Lupakah kalo Jerman punya julukan "Tim Diesel", yang makin lama makin panas? <em>Well, well,</em> setelah Argentina memutuskan untuk bermain defensif, mesin diesel Jeman menjadi lebih panas, dan panas lagi sampai mau meledak!<br /><br />Apa yang ditakutkan pun terjadi. Pada menit ke-80, 10 menit menjelang pertandingan usai, Miroslav Klose berhasil menyambut umpan Borowski dan menciptakan gol lewat sundulan. Skor 1-1. Bravo…buyarlah mimpi Argentina. Ingin main menyerang, mereka tidak punya <em>playmaker</em> Juan Riquelme yang udah ditarik keluar. Tanpanya, serangan2 Argentina seperti tidak bernyawa. Belum puas membuat keputusan tolol, Pekerman menarik keluar Hernan Crespo dan menggantikannya dengan Julio Cruz. Bukannya masukin Lionel Messi, yang ditunggu-tunggu suporter Argentina termasuk Maradona, ini malah masukin pemain yang biasa-biasa aja. Ok, dia lebih jangkung, tapi kalo gak bisa ngapa-ngapain percuma aja.<br /><br />Ketika pertandingan mencapai <em>deadlock</em>, dan harus ditentukan lewat adu penalti, seluruh dunia pun tau kalo Jerman yang bakal lolos. Selain tendangan2 mereka lebih mantap, kipernya, Jens Lehmann, jelas lebih tangguh dibandingkan kiper pengganti Argentina, Leo Franco. Lehmann membuktikan superoritasnya dengan menahan 2 tendangan penalti dari Roberto Ayala dan Cambiasso. Dan loloslah Jerman……..titit...!<br /><br /><strong>Rating Pemain + Pelatih:</strong><br /><br /><strong>ARGENTINA<br /></strong>Abboandanzieri = 7<br />Coloccini = 7<br />Heinze = 6<br />Ayala = 7 (gak jadi 8 krn gagal penalti)<br />Sorin = 8 (merajalela di sisi kiri dan tengah)<br />Rodriguez = 7 (sayang gak bisa menyelamatkan Argentina lagi spt waktu lawan Mexico)<br />Mascherano = 5 (I don’t like this dude!)<br />Riquelme = 7 (sayang diganti…)<br />Gonzalez = 6<br />Tevez = 8 (best of the bunch!)<br />Crespo = 6<br />Franco = 5 (el stupido!)<br />Cambiasso = 6<br />Cruz = 4 (sucks bad…bisanya cuma diving, tipikal pemain liga Seri A Italia. Gak gw kasih 0 karena dia masukin penalti dg bagus)<br />Pekerman = 0 (yup, kali ini nol besar bwat anda, pak…jangan diulangi lagi ya?)<br /><br /><strong>JERMAN</strong><br /><span style="font-size:85%;">(Berhubung gw masih bete, gw cuma me-rating beberapa pemainnya saja…:P)<br /></span><br />Lehmann = 10 (perfect ten bwat doi, karena he’s the hero!!)<br />Odonker = 9 (pemain sayap atraktif!)<br />Klose = 8 (top scorer…masih tajem aja…anjing!)<br />Ballack = 7 (menurut FIFA sih dia man of the match-nya, tp bwat gw biasa aja tuuh)<br />Klinsmann = 6 (kenapa gak dari awal menyerang? untung punya Lehmann…dan keputusan bagus masukin Odonker)<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-115172271056412200?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1149469416000744002006-06-04T17:56:00.000-07:002009-01-06T01:47:08.117-08:00Sex & Violence: Konser Exploited & Adu Domba di BandungSex adalah hal yang biasa diasosiasikan dg kota Bandung. Tapi Violence? Mungkin cuma segelintir orang yang <span style="font-style: italic;">ngeh</span> dengan budaya ini. Gw yg sempet tinggal 6 tahun di Bandung pun baru tahu setelah menyaksikan olahraga Adu Domba di Babakan Siliwangi, Bandung. Tp sebelum lebih jauh ke sana, ada baiknya kita awali tulisan ini dengan laporan konser The Exploited di Stadion Persib, yang juga terkenal dengan lagu 'Sex &amp; Violence'.<br /><br />The Exploited, band Punk Rock legendaris, setelah 26 tahun berdiri, setelah Wattie Buchan, sang vokalis berusia setengah abad, setelah badannya melar, setelah mohawknya diturunkan, baru berkesempatan konser di Bandung tanggal 3 Juni 2006 kemaren. Banyak yang gak percaya dengan kedatangan band ini, yang biasanya cuma ada di kaos2, graffiti2, dan media2 penyaluran ekspresi lainnya. Kenapa sulit dipercaya? Pertama adalah karena band ini SANGAT LEGENDARIS dan yang kedua adalah karena hampir nggak ada publikasi/liputan untuk acara ini.<br /><br />Gw sendiri mendapat info melalui milis Deathrockstar dan <a href="http://www.the-exploited.net/">www.the-exploited.net</a> dimana tertulis jadwal tour Exploited di Bandung, Malang, Bali dan Jakarta. Tapi berhubung di Jakarta belum ada kepastian jadwal, gw bela-belain pergi ke Bandung sekalian reuni dengan kota itu dan temans2 di sana.<br /><br />Jalan menuju konser Exploited ternyata harus melalui rintangan yang cukup berat. Waktu mau ngambil tiket konser ke tempat adek gw, motor yg gw tumpangi bareng sobat gw, Adit, mengalami putus kopling. Jadilah kita menepi di bengkel motor terdekat. Kelihatannya masalah yg cukup simple, mengingat Adit udah terbiasa mengutak-atik motor (doi punya bengkel motor). Ternyata eh ternyata, ga semudah itu. Ada deh tu 2 jam lebih kita berkutat dengan kabel kopling dan oli yang belepetan dimana-mana. Sementara Bonni, temen gw satu lagi menunggu dengan cemas di kosan.<br /><br />Karena kelamaan, adek gw akhirnya duluan pergi ke Stadion Persib, tempat konser Exploited diadakan. Kita pun janjian ketemu di lokasi. Untuk mengejar waktu, gw, Adit, dan Bonni naik taksi yang minta tarif yg 'gila', yaitu Rp 25.ooo perak dari Cihampelas ke Stadion Persib di Jl. Ahmad Yani. Karena udah males nawar, kita setuju aja. Yang penting cepet dan ga ketinggalan Exploited! Dasar anjing pemeras!<br /><br />Di tengah perjalanan adek gw sms kalo band Jeruji lagi main dan habis itu giliran Exploited. Mampus! Jadilah kita tambah panik dan meminta sopir taksi memacu mobilnya lebih kencuang. Setelah salip kanan kiri, akhirnya taksi tiba di lokasi. Di luar stadion terlihat anak2 punk dengan rambut ala 'kuda lumping' nongkrong layaknya lagi kemah (Jambore Punk). Ada yg main gitar, nyanyi, ato sekedar bengong kyk bagong.<br /><br />Gw pun langsung menghampiri adek gw yang udah standby di pintu masuk bwat ngasihin tiket. Setelah dapet, kita langsung masuk ke dalam arena untuk melihat...THE EXPLOITED!!!....ANJIIINGGG.....!!! Alhamdulillah, mereka blom naik panggung. Yang ada baru 2 orang MC yg meracau ga jelas sambil membangkitkan emosi massa. Kayaknya Exploited blom tiba di lokasi (kata temen gw sih mereka mabok2an dulu). Entah apa yg sebenernya terjadi, yg jelas kita lega aja karena blom ketinggalan apa2. Bodo lah gak nonton band pembukanya, kyk Turtles Jr, Jeruji, Authority, Cukimai, dan Nudist Island. <span style="font-style: italic;">No offense</span>, tapi buat apa ngeliat band2 peniru itu kalo bisa ngeliat aslinya, biang Punk Rock sedunia, The EXPLOITED!!!...ANJIIINGG...!!<br /><br />Ada kali 30 menitan kita dengerin 2 Mc brengsek itu ngomong ga jelas sampai akhirnya naiklah Exploited ke atas panggung!! Anjrooootsssss....! Drummer, gitaris, dan sang bassis Exploited langsung mengisi panggung sambil nge-set alat. Katanya sih sekalian cek sound krn tadi blon sempet. Drummernya botak, katanya sih anggota lama juga. Gitarisnya masih muda, berpakaian ala skater, make celana pendek. Bassisnya gondrong digimbal, gayanya seperti anak metal. Kata MC dia anggota yg paling muda, kelahiran taon 1980-an. Terlihat juga salah seorang kru membawa satu buah cooler yg berisi bir Corona, favoritnya Exploited (Katanya ga doyan Bir bintang...hehe...).<br /><br />Setelah semua instrumen siap, tiba-tiba muncullah sang frontman, anggota asli Exploited dari awal berdiri, yaitu Wattie Buchan! Badannya terlihat gempal dengan mohawk yang digimbal (tidak diberdirikan) berwarna merah menyala. Lalu mengalirlah lagu2 Exploited dengan intensitas tinggi! Melegakan juga, karena mereka lebih banyak membawakan nomor2 lawasnya seperti Alternative, Dead Cities, Fuck the USA, Troops of Tomorrow, Sex &amp; Violence, Beat the Bastards, dlsb, ketimbang lagu2 baru dari album tahun 2002, Fuck The System, yg gw blom pernah dengerin.<br /><br />Sepanjang konser gw neriakin lirik2 lagu Exploted yg gw apal. Cuma sepenggal2, karena gw ga pernah punya lirik Exploited, kecuali dari album Beat The Bastards, satu2nya album yg rilis di Indonesia. Ada seh CD Troops of Tomorrow, tp itu pun gak ada <span style="font-style: italic;">lyric sheet</span>-nya. Sedangkan lagu2 lainnya gw dengerin dari kaset bajakan jaman baheula. Anak-anak Punk bermohawk yg hadir jg kyknya gak gitu familiar dg lagu2 Exploited. Sepertinya mereka cuma mengadopsi gaya berdandan Exploited daripada memperhatikan lagu-lagunya. <span style="font-style: italic;">Bunch of posers</span>...<br /><br />Band The Exploited sendiri bermain sangat apik. Soal sound, sebenernya sih bisa lebih nendang lagi, tp ga papalah mengingat mereka gak punya waktu checksound yg memadai. Gitarisnya memainkan melodi seperti Big John, gitaris pertama Exploited dengan gaya 'ngasal': cepat dan dibikin fals di sana-sini. Bassisnya yg berperawakan seperti anak metal, menggerinda bassnya dengan garang. Sound-nya memberi kesan penuh pada musik Exploited yg relatif simple.<br /><br />Sebelum lagu 'Fuck The USA' dibawakan, Wattie berteriak: 'Fuck George Bush!', 'Greenday is a wanker!'. Hmm...poin pertama gw sangat setuju. Tp Greenday's a wanker? Masa seeh....Selidik punya selidik, ternyata anaknya Wattie tuh nge-fans sama Greenday, bukan band bokapnya sendiri. Tercatat Wattie juga pernah berkata '<span class="postbody">Billie joe armstrong is a short arsed fucking cunt</span>'. Hehe...dasar Wattie...semuanya dicelain.<br /><br />Walaupun musik Exploited cukup provokatif, tp hawa yg tercipta di Stadion Persib berasa adem. Para penonton tetap bersemangat utk moshing, teriak2, dsb, tp ga sampai bikin rusuh. Mungkin karena yg dateng kebanyakan 'Punk2 insaf', kali ya....udah pada tua geto. Gw sempat melihat Pam, pentolan band punk Anarkis Bandung, 'Runtah' sedang nyantai di tribun. Kemudian ada Mulki dari Seriueus Band di ruang monitor, truz ada bule tua yg joged2 sendirian dg tampang sendu. Sepertinya mereka semua dateng murni untuk nyari hiburan, bukan bikin kerusuhan.<br /><br />Setelah Exploited memainkan kira-kira 3 lagu, pintu masuk tiba2 dibuka gratis buat para Punkers yg dari siang nongkrong di depan stadion. Punk2 gembel itu berjumlah cukup banyak dan bikin gw agak khawatir bakal merusak suasana udah asyik. Tp untunglah mereka berlaku tertib mengikuti konser dg damai...piss lah....<br /><br />Waktu menjelang Maghrib ketika sekonyong2 Wattie berteriak, "This is our last song!" Maka meluncurlah lagu 'Sex &amp; Violence', yg liriknya cuma 'sex &amp; violence' trus...diulang2. Lagu yg cukup datar buat pamungkas. Pas lagu itu selesai, berkumandanglah adzan Maghrib. Walau para penonton pada teriak 'we want more' berulang2, Exploited tetep cuek dan ga ada tanda2 mereka akan melakukan 'encore'. Panitia jg udah bilang sebelumnya kalo show berakhir pas Maghrib krn Exploited akan langsung terbang ke Bali dan lampu stadion pun emang ga disediain.<br /><br />So, dengan lagu 'Sex &amp; Violence' yg masih terngiang di telinga dan diiringi rintik2 hujan, para penonton segera hengkang dari Stadion Persib yang mencatat sejarah baru krn telah disinggahi oleh band Punk legendaris, Exploited. <span style="font-style: italic;">Great show, nice crowd, hell of a Punk Rock! </span><br /><br />Esok paginya, gw dan Bonni <span style="font-style: italic;">cooling down</span> dulu dari Punk Rock2-an dan memutuskan untuk lari pagi di Sasana Budaya Ganesha. Hmm...tepatnya cuci mata sambil ngeliat orang lari pagi, sih. Atau lebih tepatnya lagi cuci mata sambil ngeliat cewe2 seksi lari pagi dengan busana minim...hahaha...<br /><br />Capek 'berolah mata', Ibenk, temennya Bonni, ngajakin kita buat melihat olahraga yg sedikit berbeda, yaitu Adu Domba di Babakan Siliwangi. Ada aroma 'Sex &amp; Violence', Bonni menambahkan. Penasaran juga gw, ingin melihat sisi lain budaya Sunda yg sedikit 'liar'.<br /><br />Arena peraduan (domba) di Babakan Siliwangi ini mengingatkan gw sama Collosseum di Italia dimana gladiator mempertaruhkan nyawanya demi sebuah kehormatan (hoeeek...). Atau seperti arena matador di Spanyol, cuma dengan ukuran yg lebih kecil dan lebih kotor...haha...<br /><br />Ternyata cukup banyak peminat olahraga ini. Bapak, Ibu, teteh, bibi, a'a, semuanya berkumpul di sana. Ada juga gamelan Sunda dengan sindennya yg menyanyikan lagu2 Sunda, tentunya. Di pinggir arena terlihat domba2 aduan yg cukup beringas. Badannya atletis dengan tanduk yg siap menanduk lawan2nya. Juga anda, kalo berdiri terlalu dekat...<br /><br />Sekedar catatan, adu domba ini sepenuhnya legal krn nggak ada unsur taruhan. Nggak ada yg menang &amp; yg kalah dalam pertandingan ini, benar2 murni olahraga buat para domba. Aturannya, dua ekor domba saling menanduk sebanyak 20 kali dalam 1 ronde. Pertandingan terdiri dari 2 ronde. Tapi apabila ada domba yg cedera, atau krn alasan lain, pertandingan bisa diberhentikan saat itu juga.<br /><br />Pertama kali ngeliat domba2 itu diadu cukup bikin gw deg-degan. Kasihan aja , apalagi kalo ampe berdarah2. Untungnya ga ada yg cedera serius. Paling cuma puyeng aja, dan pertandingan langsung dihentikan. Tapi tetep, ngeliat kepala domba2 saling beradu cukup bikin pusing. Gw langsung teringat buat bikin iklan obat sakit kepala. Tuh kan? jadi ada inspirasi...<br /><br />Benturan terkeras terjadi apabila 2 ekor domba mengambil ancang2 yg cukup jauh. Kalo udah begini, penonton berorak-sorak krn tau mereka akan mendapat suguhan yg seru! Dueng...!!! Kelieng2 dah....domba dan para penonton. Arena pun meriah kyk nonton wrestling di Amrik.<br /><br />Apakah pertandingan ini cukup mendidik bwat keluarga, terutama anak2, mengingat banyak dari mereka yg menonton adu domba ini? Aroma kekerasan memang ada...tp moral yg sesungguhnya bisa diambil adalah: Cukup domba aja yg diadu, jangan manusia...hehe...<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><span style="font-style: italic;"></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-114946941600074400?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1144901394285762092006-04-12T20:59:00.000-07:002009-01-06T01:51:15.812-08:00Energy-nya The Upstairs: Kurang Enerjik?<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/1600/energy.1.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/200/energy.jpg" alt="" border="0" /></a>"Energy", inilah album yang paling ditunggu-tunggu di tahun 2006. Merupakan album kedua The Upstairs setelah 'Matraman' (2004), mereka mencoba memperluas 'daerah jajahan' dengan menjalin kerjasama dengan label Warner Music Indonesia. Nggak tanggung2, Andy Ayunir, tokoh musik elektronik Indonesia, turut membantu proses rekording album ini. Maka gak heran kalo fans berat The Upstairs, para Modern Darlings yg kebanyakan tersebar di SMA-SMA (karena terlalu sering main di Pensi) sangat menantikan album ini.<br /><br />Album Energy dengan segala 'hype'-nya akhirnya dirilis pada akhir Maret 2006. Kover album ini sungguh menarik, yaitu ilustrasi seorang cowo yang sedang membuka botol dengan giginya. Ini melambangkan Energy, kata Jimi Multazham, sang ilustrator sekaligus vokalis the Upstairs. Dibuat dengan gaya2 ngejreng ala komik2 jaman dulu, sangat menangkap mata (eyecatching :P).<br /><br />Perbedaan kualitas suara antara album Matraman dan Energy ini sangat kentara. Kali ini semua terekam dengan jernih dan tidak tumpang tindih seperti album pertama. <span style="font-style: italic;">But...is that a good or a bad thing?</span> Di satu sisi kuping pendengar akan merasa lebih nyaman, tapi disisi lain kok malah jadi terlalu rapih, kurang enerjik dan liar dibanding album pertama mereka?<br /><br />Di album ini, porsi gitar (yang terdistorsi,terutama) jauh berkurang dibanding album Matraman. Kali ini suara keyboard dan synhthesizer lebih merajalela. Apakah ini suatu pernyataan dari The Upstairs kalo mereka ingin mengukuhkan dirinya sebagai band New Wave murni dengan meminimalisasi unsur Rock?<br /><br />Walaupun kurang nge-Rock, bukan berarti album ini layak dibuang ke tempat sampah. Beberapa komposisi diracik dengan formula ala single 'Matraman' yang melodius. Seperti 'Terekam Tak Pernah Mati', 'Satelit', 'Energy', dan 'Dansa Akhir Pekan'. Khusus 'Satelit' (terinspirasi Satellite of Love?) adalah lagu yang sangat FUCKING AWESOME. Disini dapat dinikmati kombinasi vokal Jimi dan Dian yang sangat harmonis. Terutama vokalnya Dian, di lagu ini bisa bikin bulu kuduk gw merinding! Sumpeh...<br /><br />Overrall...Terus terang gw agak kecewa dengan berkurangnya unsur rock dari The Upstairs yang membuat mereka seperti Goodnight Electric dengan formasi full band. Walaupun, gw jg cukup menikmati lagu2 yg ngepop seperti Satellite dsb. Cukup menyegarkan...tapi mbok ya di album berikutnya bikin lagu2 yg agak nge-Punk ngapah? Kayak 'Lompat' atau 'Amatir'? Dan gitar Kubil jangan dibuat clean begitu terus? Hasilnya oke di beberapa track, tp sangat gak cocok pas di lagu "Apakah aku Berada di Mars..." Soul-nya ga dapet...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-114490139428576209?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1140671450419280512006-02-22T20:21:00.000-08:002009-01-06T02:01:16.356-08:00Avenged Sevenfold: Siap Bantai Band-band Metal ABG Bullshit<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.geocities.com/punkdhut/a7xpromo1.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.geocities.com/punkdhut/a7xpromo1.jpg" alt="" border="0" /></a>Ini dia nih salah satu band jaman sekarang yang OK! Kalo didengerin secara sepintas, kayaknya sih band Nu Metal biasa. Tapi simaklah secara seksama. Mana ada band Nu Metal yang lagunya rata2 berdurasi 5 menitan? Mana ada band Nu Metal yang begitu apik membalut Heavy Metal, Punk Rock, Hardcore dan Pop? Mana ada band Nu Metal yang begitu 'trashy' and 'ugly' tapi tetep 'cool'? Intinya mana ada band Nu Metal yang sekeren Avenged Sevenfold?<br /><br />Avenged Sevenfold amat sangat terlalu canggih kalo di sejajarkan dengan band2 Nu Metal ato band2 ABG standar lainnya. Mereka punya skill diatas rata2, terutama The Rev, drummernya yang 'mewarnai' di setiap lagu dengan double pedal yang menderu tiada henti. Vokal M. Shadows mengingatkan gw sama Mike Ness dari Social Distortion. Gitarnya (Synyster Gates dan Zacky Vengeance) mirip2 Iron Maiden!<br /><br />Saat semua orang berpikir musik Rock udah mati, mentok, gak mungkin ada inovasi lagi, Avenged Sevenfold muncul dengan konsep musik yang fresh. Mereka sukses menggabungkan musik Rock modern dengan kejayaan Rock jaman dulu, terutama Iron Maiden. Ya, Sum 41 juga mempunyai referensi yang sama, tapi belakangan mereka jadi menjijikkan. Beda dg Avenged Sevenfold yang gw jamin bakal tetep keren...Rock on!<br /><br /><a href="http://avengedsevenfold.com/">www.avengedsevenfold.com</a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-114067145041928051?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com28tag:blogger.com,1999:blog-11028481.post-1140014856008810172006-02-15T06:25:00.000-08:002009-01-06T02:03:50.775-08:00Pameran! Pameran!<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/1600/adit1.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1960/829/320/adit1.jpg" alt="" border="0" /></a>Hadirilah! Pameran lukisan tunggal Yustinus Aditya a.k.a Adit Punk di galeri Artnivora, Jl. Kemang Utara No.50 Jakarta Selatan. Pameran yg berjudul "ARCHITOPIA" ini berlangsung dari tanggal 11 sampai 26 Februari 2006.<br /><br />Datang dan saksikan karya-karya apik dari seniman yang juga vokalis band Punk <a href="http://www.geocities.com/putridoyong">"Putri Doyong"</a> ini. Tenang...kali ini dia ga akan mengeluarkan suaranya yang serak2 ancur itu....huhehehhe....<span style="font-style: italic;">kidding, Dit! </span><br /><br />Ok...berhubung gw kurang gape dalam membuat review soal lukisan, dan kalo gw salah ngomong ntar gw bisa digampar si Adit, makanya kali ini gw ga akan banyak komentar! Datang dan saksikan sendiri deh...ok? peace!<br /><br />Info lebih lanjut: <a href="http://www.artnivora.net/">artnivora.net</a><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11028481-114001485600881017?l=da-review.blogspot.com'/></div>Punkdhuthttp://www.blogger.com/profile/12401788830335953184noreply@blogger.com0