<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372</id><updated>2009-02-21T14:07:18.034+07:00</updated><title type='text'>..tera di sesela gegas-gesa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5389058073700209866</id><published>2008-07-31T19:03:00.002+07:00</published><updated>2008-07-31T19:09:00.195+07:00</updated><title type='text'>Pasar di Indonesian Idol</title><content type='html'>Aris dan Gisel bertempur di grandfinal "Indonesian Idol". Yang menang modal dan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SJGq_Idr0sI/AAAAAAAAAIw/L8oxHjf32yI/s1600-h/gisel+idol.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SJGq_Idr0sI/AAAAAAAAAIw/L8oxHjf32yI/s400/gisel+idol.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229148643934327490" /&gt;&lt;/a&gt;Patudu, wakil Jawa Tengah itu, gugur dalam sebuah pertarungan yang tak adil. Pertarungan yang dipersiapkan dengan skema bahwa dia harus jadi pecundang. Ketidakadilan yang lahir dari analisa Indra Lesmana, satu hari sebelum kontes dimulai. "Terlepas dari kualitasnya, saya ragu kalau Patudu bisa lolos dua besar. Dia &lt;I&gt;nggak&lt;/I&gt; punya pasar yang jelas seperti Gisel dan Aris."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesian Idol" adalah kontes suara, dan Indra, juri utama, justru menilai Patudu "terlepas dari kualitasnya". Indra berubah jadi pedagang, dan memasukkan pertimbangan pasar. Indra hanya melihat Patudu sebagai komoditas, satuan barang dengan nilai nominalnya, yang dapat berharga atau pantas dibuang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Aris, di mata Indra, cocok menjadi ikon anak jalanan. Sebab Gisel, telah cocok jadi ikon gadis zaman sekarang. "Kalau Patudu, saya bingung. Dia itu mewakili siapa, dan condong ke mana, saya tidak tahu. Jadi dia itu belum jelas mempunyai pasar kalau jadi Idol," tambah Indra. Dan sebelum Patudu diadu, Indra telah berbisik ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; menangkap keraguan pasar seperti yang dibisikkan Indra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam sebuah tayangan &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt;, keraguan, prediksi, tak selalu bergulir jadi kenyataan. Telah beberapa kali Patudu diramalkan juri akan terbuang. Anang dan juga Titi, telah dua kali menyatakan Patudu pantas pulang. Tapi kenyataan bicara lain, Patudu selalu kembali, bahkan ketika berada dalam penampilan terburuk. SMS untuk pria Batak ini selalu cukup, dia punya pendukung yang luas, dari Jawa Tengah, dan Medan, asal puaknya. Lebih dari itu, Patudu adalah "kontestan lelaki yang paling stabil penampilannya," puji Indra. Dalam diri Patudu tersedia dua hal, kualitas suara dan dukungan pemirsa. Keduanya akan dapat mengalahkan keraguan pasar Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; pun merasa takut. Pertarungan yang adil seperti sebelumnya tak bisa dilakukan lagi. Harus ada skema, cara, yang bisa "mengacaukan" perebutan suara pemirsa. RCTI ingat satu nama, Titiek Puspa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam pertarungan tiga besar itu, tiba-tiba Titiek Puspa hadir. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Titiek Puspa, telah pernah hadir Audi, juga Rossa. Mereka acap menjadi suara alternatif di luar juri, yang mengomentari penampilan kontestan. Sebagai suara alternatif, mereka menilai semua, berada di antara penonton dalam "sudut netral". Terkadang membenarkan penilaian juri, meski lebih sering membantah. Tapi Titiek Puspa hadir bukan sebagai suara alternatif. Titiek Puspa datang untuk memilihkan pemenang. Itulah sebabnya, dia tidak berada di zona netral bersama penonton, tapi duduk dalam apitan Ibu dan istri Aris. Di zona terlibat itu, kamera berkali-kali menampakkan Titiek yang ikut berdendang dan mengacungkan jari atas penampilan Aris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, di pusaran pendukung Patudu, tak ada satu artis pun. Tak ada kamera yang betah menayangkannya, hanya sekelebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa kata Titiek Puspa? "Wes, sing baju kuning itu pasti masuk grandfinal." Aris memang memakai jas kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Merinding &lt;I&gt;awakku&lt;/I&gt; mendengar suaranya," tambah Titiek Puspa. Cukup? Belum. "Sudah lama saya suka sama yang baju kuning itu. Banyak orang yang punya suara seperti kamu. Tapi cuma kamu yang punya &lt;I&gt;soul&lt;/I&gt;, karakter. &lt;I&gt;Pokoke&lt;/I&gt;, komplet!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titiek tak mengomentari yang lain, tak menilai yang lain. Kehadirannya hanya punya satu tujuan, menciptakan panggung grandfinal untuk Aris. Titiek dihadirkan untuk menjadi pemulung suara (&lt;I&gt;vote getter&lt;/I&gt;) bagi Aris. Di panggung itu, Titiek memainkan perannya seperti artis di dunia politik, mengajak orang untuk memilih seperti pilihannya. Hasilnya? Efektif. Aris meraih suara terbanyak. Patudu, yang tak "punya pasar" itu, terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bangga sama kamu," bisik Titiek ketika Aris merangkulnya, usai perhelatan yang tak menarik itu. Barangkali, Titiek bangga pada dirinya sendiri, yang kembali mampu menaikkan "pamor" Aris, seperti pada Inul, yang pernah dia lakukan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dalam pertarungan yang tak adil itu, Ariskah yang menang? Titiek Puspa atau Indra Lesmana, dengan prediksi saudagarnya? Tidak. Yang menang adalah modal dan pasar. Dalam ajang itu, intervensi modal dan pasar telah membuat kualitas bukan lagi yang utama. Penghambaan pada pasar telah membuat seluruh aspek pertunjukan "Indonesian Idol" yang di babak audisi penuh dengan citraan pencarian talenta berbakat dalam bidang tariksuara, runtuh begitu saja. Perdebatan-pertengkaran Titi, Anang, Indra, tentang musikalitas suara seorang peserta tak lagi punya gema. Karena di babak akhir, Indra justru menciderai musikalitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menempatkan pasar sebagai ukuran tertinggi di dalam berkesenian adalah dosa terbesar bagi kreativitas. Karena pasar juga adalah setan yang selalu menggoda iman berkesenian. Dan di Jumat malam (18/7) itu, iman berkesenian "Indonesian Idol" telah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah salah jika sebuah kontes, seorang juri, mempertimbangkan pasar? Salah, jika pasar ditempatkan sebagai sebuah kekuatan yang tak terlawan. Karena sesungguhnya, pasar selalu bisa dinegosiasi. Pasar bukanlah sebuah medan yang tetap dan ajek, melainkan bergerak dan mengalir, menerima setiap anasir untuk memperkaya. Pasar adalah sebuah muara, yang sebenarnya dapat dikendalikan dan dibentuk siapa saja. Pasar bukanlah areal seteril, melainkan wilayah yang bisa dipengaruhi, bahkan dikejutkan. Pasar adalah sebuah anomali, dan dengan demikian, sepertinya dia bisa diduga, padahal tidak, seakan bisa dikendalikan, tapi juga bukan. Pasar adalah dunia yang, meminjam Amir Hamzah, "bertukar tangkap dengan lepas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra dan &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; barangkali lupa akan hal itu. Dan mereka "membuang" Patudu, karena yakin, tak ada pasar yang jelas untuk anak yang audisi dari Brebes itu. Padahal, ketika "Indonesian Idol" memenangkan Mike dan juga Ihsan, dengan asumsi yang sama, bukankah pasar "menolaknya"? Mike dan Ihsan tak pernah diterima pasar dengan sempurna, kaset dan CD mereka tak pernah meraih hasil seperti yang dikira. Karena itu Indra, janganlah percaya kepada pasar sebagai sesuatu yang tak terlawan. Begitu engkah percaya, pasar akan membuat engkau kecewa. Cukuplah sudah sampai pada Patudu saja.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5389058073700209866?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5389058073700209866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5389058073700209866' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5389058073700209866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5389058073700209866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/07/pasar-di-indonesian-idol.html' title='Pasar di Indonesian Idol'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SJGq_Idr0sI/AAAAAAAAAIw/L8oxHjf32yI/s72-c/gisel+idol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-26609191009737163</id><published>2008-07-23T13:31:00.003+07:00</published><updated>2008-07-23T13:42:54.823+07:00</updated><title type='text'>Ketika Rok Prisia Tersingkap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SIbRrcOOSWI/AAAAAAAAAIo/lpD2WvKTBfM/s1600-h/rok+prisia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SIbRrcOOSWI/AAAAAAAAAIo/lpD2WvKTBfM/s400/rok+prisia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226094961850468706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, "Tidak." Bermain dalam Gala Sinema &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; "Cinta tak Pernah Salah", Selasa (15/7) malam, Prisia tak pernah mampu merasa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis menyaksikan kekasihnya bermesraan dengan Mala, dan diamuk cemburu, dia bergegas pulang. Dengan wajah menahan tangis, dia empaskan jenjang tubuhnya ke kasur. Empasan yang membuat roknya tersingkap, menampakkan gading pahanya. Tapi, dengan cepat gulungan rok itu dia turunkan, sekaligus merapikan kaos ketat yang sempat memamerkan tipis perutnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar itu tak ada sesiapa. Selebar apa pun singkapan rok, dan seterpampang apa pun paha, tak akan ada mata yang melahapnya. Tapi, Prisia menyadari, dia sepenuhnya tak sendiri. Ada sutradara dan beberapa kru hadir di sana, juga penonton yang, kelak, dapat melihatnya melalui kamera. Dia pun terambing antara dua dunia, peranan dan kenyataan. Prisia, sesaat, memilih kembali ke kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesadaran akan ruang". Itulah yang dialami Prisia, sebentuk ingatan yang datang dari peran yang gagal merasuk. Dalam akting tadi, dia tak berhasil "mengambil" kamar itu sebagai ruang pribadi, ketika ketersingkapan rok, bahkan ketelanjangan pun, adalah sesuatu yang wajar, dan bukan "kesalahan". Kesadaran akan ruang, juga kehadiran orang lain, menunjukkan betapa lemahnya penghayatan atas peranan. Dan di Indonesia, kesadaran akan ruang ini sudah menjadi penyakit yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Mekanisme Senyap&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Zainal dalam sinetron &lt;I&gt;Suci&lt;/I&gt; juga acap menyadari "ruang" yang tidak steril itu. Dalam adegan pingsan --dan ini tipikalitas yang juga dilakukan semua aktris--, dia digendong Denis. Namun, kepingsanan itu tak membuat tangannya abai untuk membenahi roknya yang menjuntai. Lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan bangun tidur apalagi. Nyaris semua aktris akan merapikan rok atau piyamanya di bawah selimut, sebelum keluar dari pembaringan. Adegan mandi pun, atau jatuh bergulingan, menjadi demikian "sopan" di sinetron Indonesia. Setiap aktris telah selalu mempersiapkan celana pendek ketat di balik roknya. Pemain selalu menyadari banyak mata yang dapat melihat tubuh mereka, bahkan ketika adegan itu "berkata" tak ada siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting adalah melepaskan dunia nyata, dan masuk ke dalam dunia bentukan. Kemerasukan itu menuntut pengalpaan pada identitas diri, pada sekitar. Billy Chapel dalam film &lt;I&gt;For Love of the Game&lt;/I&gt; menyebutnya sebagai "mekanisme senyap", ketika realitas dan diri asali tak hanya menciut, tapi juga lenyap. Yang hidup adalah diri dalam peranan, dalam dunia  bentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, teriakan "action!" dari sutradara bukan saja tanda dimulainya sebuah adegan, tapi juga perintah bagi setiap aktris untuk menutup kenyataan dan diri asali, masuk ke gerbang peranan. Dan di Indonesia, tak banyak aktris yang bisa demikian. Maruli Ara hanya menyebut satu nama, Surya Saputra. "Begitu 'Action!' diteriakkan, dia akan segera menjadi orang lain, masuk ke perannya. Cepat sekali, seperti otomatis," puji sutradara sinetron &lt;I&gt;Dunia Tanpa Koma&lt;/I&gt; itu. Dan harus diakui, akting Surya sebagai Jendra Aditya di sinetron itu memang memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting adalah kemerasukan. Teriakan "Cut!" adalah mantra untuk meluruhkan kerasukan tersebut. Meski kadang, sebengis apa pun teriakan itu, acap gagal untuk "mengembalikan" pemain yang larut ke dunia asalinya. Uli Edel, sutradara film &lt;I&gt;Body of Evidence&lt;/I&gt;, harus meneriakkan "Cut" lebih dari tujuh kali, sebelum Madonna menyadari kalau pengadeganan sudah selesai. Madonna terseret pada perannya, masuk pada karakternya, dan susah disadarkan, demikian juga lawan mainnya. Sayangnya, untuk kasus Madonna, kemerasukan itu lebih khusus pada adegan bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert De Niro mengakui "Cut" memang menghentikan pengadeganan, tapi tidak "diri" yang dia perankan. "Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku perani. Kadang aku takut diriku tak pernah seutuhnya bisa kembali." Bagi De Niro, memerankan adalah mengizinkan dirinya "dibawa" watak lain, tanpa ada kepastian bisa kembali. Christine Hakim butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar bisa bebas dari infiltrasi peran yang dia mainkan dalam sebuah film. Pengorbanan yang besar untuk akting yang memang selalu bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, akting bukanlah perkara main-main, dan aktris tidak profesi gampangan. Ada pertaruhan di setiap peranan, kebersediaan untuk "melepaskan diri". Juga sebuah kesadaran, ketika "action!" diucapkan, realitas harus punah. Ruang yang baru pun hadir, dan dihidupi dalam "kesadaran" peranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Prisia, "Cut" mungkin adalah tanda lepasnya beban, usainya kerja, dan datangnya uang. Atau, beban baru, karena adegan yang sama, harus diulang. Bisa juga, "Cut" adalah jeda, untuk dapat berpindah ke adegan lain, di sinetron lain, di lokasi yang lain. Dengan demikian, aktris pun dimaknai sebagai profesi yang paling gampang untuk mengejar setoran. Uang. Dalam kesadaran semacam itulah, Prisia tak bisa masuk ke dalam suasana peranan. Ia pun selalu memerhatikan posisi duduk dan sibakan roknya, bahkan ketika dia tengah berada di kamar tidurnya. Prisia takut, di kamarnya, ada penonton yang dapat mengintip tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 20 Juli 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-26609191009737163?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/26609191009737163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=26609191009737163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/26609191009737163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/26609191009737163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/07/ketika-rok-prisia-tersingkap.html' title='Ketika Rok Prisia Tersingkap'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SIbRrcOOSWI/AAAAAAAAAIo/lpD2WvKTBfM/s72-c/rok+prisia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7379258334255712444</id><published>2008-07-07T16:51:00.003+07:00</published><updated>2008-07-07T17:00:25.105+07:00</updated><title type='text'>Isyarat dan Kematian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SHHnnwvBHvI/AAAAAAAAAIg/b7GCkquSDW4/s1600-h/sophan-widyawati.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SHHnnwvBHvI/AAAAAAAAAIg/b7GCkquSDW4/s400/sophan-widyawati.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220208113382137586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kematian datang tanpa rencana, selalu tiba-tiba? Widyawati barangkali akan menjawab, tidak. Mengingat kembali semua sikap Sophan Sophiaan, dia pasti tahu, kematian telah lama mendekati suaminya, memberi isyarat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat itu, berupa sikap tak biasa Sophan, tak dapat dia baca sebagai tanda, sinyal dari maut. Widyawati menikmatinya, larut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama konvoi misalnya, Widya merasa Sophan tambah mesra, acap menatapnya, dan memeluk erat. "Jauh lebih hangat dan sering," kenang Widya, Jumat (23/5) sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini yang paling tak dia lupa, di Rembang, isyarat itu lebih kuat terasa. Sophan memintanya mengenang saat pertama berjumpa, dalam film &lt;I&gt;Pengantin Remadja&lt;/I&gt;. Sophan tak hanya menyanyikan &lt;I&gt;soundtrack&lt;/I&gt; film itu, tapi juga membacakan surat cinta. "&lt;I&gt;Juli sayang, suatu saat kita akan berjumpa lagi&lt;/I&gt;," ucap lelaki tampan itu sambil menatap Widyawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah isyarat, dan Widya tak menyadari. Meski, "Saya bengong menatapnya. Dia bisa hapal lirik lagu Romi dan Juli, bahkan isi surat cintanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat itu juga datang dari alam. Sepanjang Jakarta-Tuban, dalam konvoi berboncengan, Widyawati selalu melihat sepasang burung terbang di depan mereka. Hanya dia yang melihat. Terbersit rasa tanya, "Kok aneh, selalu ada sepasang. Saya sampai berpikir, jangan-jangan ngikutin saya. Tapi setiap mau ngomong sama Sophan, saya lupa terus," ingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian memang tidak datang tiba-tiba, dia memberi isyarat, yang kelak akan jadi kenangan. Widyawati pun melihat isyarat itu di dalam kenangan, sebuah jalur ingatan yang membuat seseorang yang telah pergi tetap dapat selalu datang. Isyarat itu, kenangan itu, adalah keabadian yang dititipkan sang maut, sebagai tanda, kematian tak pernah utuh menjemput. Ada yang tetap ditinggalkannya untuk yang hidup, sebagai kawan duka, bahwa memang ada yang pergi, tapi tidak selamanya. Ada yang berpulang, tapi bukan tidak kembali. Kenangan akan terus memanasi ingatan, membuat yang tiada kembali menjadi ada. "Saya sering lupa kalau Sophan sudah meninggal," bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam itu, saya mendengar langkah Bapak mendatangi kamar saya. Saya heran, kan Bapak di Surabaya. Saya pikir Bapak pasti sedang kangen," cerita Romi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sophan berada di Surabaya, tapi Romi merasakan langkahnya di Jakarta. Bagaimana menerangkan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kematian itu tidak ada. Yang terjadi hanyalah perubahan energi. Jadi, sebagai energi, yang mati itu tetap dapat terhubung dengan kita kembali," terang Eckhart Tolle, penulis buku &lt;I&gt;A New Earth&lt;/I&gt;, dalam acara "Oprah Winfrey Show".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langkah" Sophan itu juga isyarat, "energi" yang tak mau pergi. Energi yang bisa berpulang, bahkan dipanggil, melalui mekanisme ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang jauh. Dia dekat, dan dapat diamati, dicatat, jika kita cermat menangkap isyarat. Kematian, meminjam Subagyo Sastrowardoyo, &lt;I&gt;seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa -itu bahasa semesta yang dimengerti&lt;/I&gt;. Dan karena akrab, kematian tidak menjaraki yang hidup dan mati. &lt;I&gt;Lihat, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.&lt;/I&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widyawati memang telah ditinggalkan, tapi dia tak akan pernah sendiri. Ada "energi" Sophan yang akan terus menemaninya. Karena, semua tahu, hanya cinta yang dapat mengalahkan, menyeberangi kematian. Dan soal cinta, untuk Widyawati dan Sophan, kita tak pantas lagi membicarakannya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel di atas diterbitkan sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 29 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7379258334255712444?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7379258334255712444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7379258334255712444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7379258334255712444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7379258334255712444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/07/isyarat-dan-kematian.html' title='Isyarat dan Kematian'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_pC3DvoRWlMg/SHHnnwvBHvI/AAAAAAAAAIg/b7GCkquSDW4/s72-c/sophan-widyawati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4940282363458632932</id><published>2008-06-24T20:28:00.003+07:00</published><updated>2008-06-24T20:35:18.277+07:00</updated><title type='text'>Irasionalitas Bangsa</title><content type='html'>Di televisi, irasionalitas bangsa ini ditunjukkan dengan jelas sekali. Irasionalitas yang justru diakui dan ditulari mereka yang menyandang gelar akedemik tinggi. Memprihatinkan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SGD3cCBKagI/AAAAAAAAAHk/mX3SzMt6Uks/s1600-h/ki+jodo+bodo2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SGD3cCBKagI/AAAAAAAAAHk/mX3SzMt6Uks/s400/ki+jodo+bodo2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215440429445179906" /&gt;&lt;/a&gt;"Akhirnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melaporkan Djoko Suprapto terkait kasus penipuan pembangkit listrik Jodhipati dan energi alternatif Banyugeni." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah narasi yang tayang di "Buletin Malam" &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, Selasa (17/6) malam. Dalam tayangan itu tampak proses pembongkaran pembangkit listrik mandiri Jodhipati, berupa cor-coran semen tebal, dengan beragam kabel yang terurai. Dan "pembangkit" itu diakui tim ahli dari UMY, tidak akan mungkin dapat menghasilkan energi listrik. Padahal, untuk proyek itu, UMY telah setuju mengeluarkan dana Rp 1,34 miliar. Angka yang luar biasa. Saya menggelengkan kepala.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindah saluran ke &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;, di acara ulangan "Perspektif Wimar", tampil Menristek Kusmayanto Kadiman, yang menjelaskan tentang blue energi. Berkali-kali Wimar menggoda Kusmayanto, sebagai pencuci piring dari atasannya, SBY. Wimar menilai SBY begitu panik dengan krisis energi, dan menempuh cara yang tak lazim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Kusmayanto membantah. "Menurut Einstein, seorang dinilai ilmuwan jika memulai sesuatu dengan ide yang paling gila sekalipun." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wimar tertawa. "Iya, tapi kan Presiden tidak boleh punya ide gila, Pak." Meisya Siregar, &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; Wimar, tergelak. Saya juga, menggelengkan kepala melihat kecerdasan Wimar memasukkan "perspektifnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jeda iklan, saya kembali ke &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, ternyata juga iklan. Tertayang Mama Lauren. "Nasib tak dapat diubah, tapi saya..." Bosan ah! Saya kembali ke &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;. Walah! Sama saja. Tayang iklan Mbah Roso. "Ketik REG sepasi MANJUR, kirim ke 98..." Segera saya pindah saluran, memilih &lt;I&gt;TVOne&lt;/I&gt;. Lho, siapa yang gondrong itu? Oalah, Ki Joko Bodo, yang meminta pemirsa mengirim SMS. "Ketik REG spasi MANTRA, kirim ke..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ya Tuhan...&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tundukkanlah hatimu ketika malam, bersama embun yang turun perlahan. Renungkan hari yang telah kau jalani. Dalam letih tubuh, rasa akan lebih mampu merasa. Pikiran akan lebih jernih mencerna." Saya lupa, di mana membaca ucapan Gde Prama itu. Intinya, malam adalah "ruang" yang tercipta untuk menemukan terang dan cahaya. Tapi, melihat "nasib" saya ketika mengubah saluran teve, saya justru seperti didudukkan dalam kelam. Tanpa sengaja, saya melihat kaitan yang luar biasa dari perpindahan acara dan iklan di berbagai stasiun itu. Sepanjang Selasa malam itu, sedari pukul 23.00, saya melihat lebih dari 6 kali iklan Ki Joko Bodo, lebih dari 5 kali iklan Mbah Roso dan Mama Lauren. Semuanya berjenis ramalan, mulai dari primbon, sampai telaah &lt;I&gt;wong sinthing&lt;/I&gt;. Malam itu memang hanya tayang tiga jenis iklan, tapi saya tahu, jauh sebelumnya telah ada Madame Sahara, Dedy Corbuzier, sampai Safir Senduk. Ramalan atau motivasi yang diiklankan mampu untuk mengubah nasib atau kondisi keuangan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan iklan itu sukses. Ketika awal-awal tayang, "Ada 70.000 SMS dalam dua minggu. Sehari tayang di lima stasiun televisi," ujar Ki Joko Bodo. Artinya, selama dua pekan, dari iklan itu terhimpun dana Rp 140 juta! Jadi, ramalam itu secara pasti bukan mengubah nasib pengirim SMS, melainkan peramalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramainya peminat Ki Joko Bodo, --apalagi jika menghitung SMS untuk Mama Lauren, Madame Sahara, Mbah Roso-- menunjukkan masih kuatnya alam mitis berkuasa di kepala masyarakat kita. Sebuah ironi, terutama jika melihat bagaimana kemitisan dan keirasionalan itu, masuk dan merasuk, melalui teknologi. Barangkali, inilah wujud kekalahan yang paling utama teknologi melawan mitologi. Sebagai produk "kerasionalan", teknologi justru tunduk dan menjadi penyebar dari keirasionalan. Aneh bin ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ajaib bin muskil lagi, ketaklukan itu juga sampai kepada para penemu teknologi, mereka yang menghabiskan hidupnya dalam "jajahan" rasionalitas. Proyek Banyugeni di UMY misalnya, melibatkan sekian ahli hanya untuk mengamini "mimpi" Djoko Suprapto, mengubah air menjadi api. Rektor UMY  Dr Khoiruddin Bashori bahkan pernah begitu bangga dengan proyek ini, sampai mematenkan, dan "memainkan" berbagai ayat al-Quran, untuk pembenaran, "&lt;I&gt;At-Thur&lt;/I&gt; ayat 6, yang berbunyi, 'perhatikan laut yang berapi'. &lt;I&gt;Al-Anbiya&lt;/I&gt;’ ayat 30, 'dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup', dan &lt;I&gt;At-Takwir&lt;/I&gt; ayat 6, 'dan apabila laut dipanaskan'." Tuhanku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus, tempat seharusnya rasionalitas ditegakkan, justru menjadi ajang promosi irasionalitas dan kemuskilan. Mengamini dan membiayai "mimpi" tanpa pengedepanan sikap ilmuwan. Itu sudah menjadi kiamat kecil untuk jagad keilmuwanan. Tapi, kiamat besar itu juga datang, ketika Presiden SBY, dengan bangga, menerima Tim Blue Energy yang telah melakukan perjalanan darat Jakarta-Denpasar sepanjang 1.225,7 km dengan lima kendaraan berbahan bakar energi alternatif "blue energy", di Nusa Dua, Bali, tempat United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) 2007. Tim itu diketuai Heru Lelono, Staff Khusus Presiden SBY, dan "pabrik" energi "khayal" Djoko Suprapto itu didirikan di Cikeas, dekat rumah SBY. Artinya, keirasionalan itu bahkan sudah memasuki dan mendapat promosi kelembagaan negara yang tertinggi. Mengerikan sekali. Apalagi, ketika Kusmayanto sempat tidak setuju dan mempertanyakan "blue energi" itu, oleh Presiden, sebagaimana dicatat &lt;I&gt;Tempo&lt;/I&gt;, dia malah diminta diam. Dan menteri yang pernah menjadi rektor ITB itu, yang diminta diam itu, kini harus menjelaskan atau "merasionalisasikan" keirasionalan pimpinannya. "Anda bagian cuci-cuci piring, ya?" sindir Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa malam itu, setelah melihat semua yang tayang di televisi, saya menjadi takut, jangan-jangan, bangsa ini tak bisa diselamatkan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah terbit di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 22 Juni 2008]&lt;/B&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4940282363458632932?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4940282363458632932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4940282363458632932' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4940282363458632932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4940282363458632932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/06/irasionalitas-bangsa.html' title='Irasionalitas Bangsa'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SGD3cCBKagI/AAAAAAAAAHk/mX3SzMt6Uks/s72-c/ki+jodo+bodo2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-3677725937629232324</id><published>2008-06-06T17:55:00.003+07:00</published><updated>2008-06-24T20:37:01.854+07:00</updated><title type='text'>Poligami, Musik, dan Imagologi</title><content type='html'>Agama industri hiburan, dan juga politik, adalah uang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SEkYPyHrSGI/AAAAAAAAAHc/ZtdJdOGk5GY/s1600-h/changcut2a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SEkYPyHrSGI/AAAAAAAAAHc/ZtdJdOGk5GY/s400/changcut2a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208721103461763170" /&gt;&lt;/a&gt;"Saya jengkel dengan sinetron &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt;, meniru habis film &lt;I&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/I&gt;. Sudah pemainnya sama, sejak awal, cerita sinetron itu pun sudah mengampanyekan poligami. Saya takut, nanti poligami itu akan jadi kewajaran dan diterima oleh masyarakat kita. Mas Aulia &lt;I&gt;mbok&lt;/I&gt; sesekali membahas soal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas adalah petikan &lt;I&gt;e-mail&lt;/I&gt; dari Ibu (?) Indah. Sudah agak lama &lt;I&gt;e-mail&lt;/I&gt; itu terdiam di &lt;I&gt;inbox&lt;/I&gt;, terbiarkan karena saya belum memikirkan bagaimana menjawabnya. Jujur saja, &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt; belum mampu membuat saya berdiam lama di teve untuk menontonnya, apalagi membahasnya. Karena tak ada hal baru dari sinetron ini, baik dari segi cerita, penyutradaraan, akting, bahkan pemotongan antar-adegan sebelum bersambung. Namun, kekawatiran dari Indah membuat saya berpikir, apakah benar, jika sebuah tayangan menawarkan "sikap" tentang poligami, sinetron itu patut dikhawatirkan? Apakah sebuah nilai yang dipajang bisa langsung "menginfeksii" penonton, menulari dengan cepat seperti virus?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton tentu saja bukan kertas kosong, dan teve menjadi pensil yang akan segera menggarisi kekosongan itu. Pemirsa selalu membawa "bekal" ketika melihat sebuah tayangan. Bekal itulah yang nanti akan "memilihkan" posisi penonton di hadapan "nilai" yang ditawarkan teve. Penonton mungkin saja mengadopsi nilai itu, karena merasa sejalur dan sepaham. Tapi mungkin juga menegasi, menolak, karena "bekal" yang penonton "bawa" merasakan nilai itu sebagai ancaman. Dan tersedia "posisi" ketiga, menegosiasi nilai itu, mengadaftasi, menyaring, mana yang mungkin dan mana yang tidak. Dan menyangkut "tawaran" poligami dalam &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt;, sikap penonton pasti berada dalam salah satu dari tiga posisi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Indah, tampaknya tak perlu khawatir. Apalagi, kian hari, saya menyadari industri sebenarnya tidak "berurusan" dengan pemasaran nilai-nilai. Nilai yang dikenal industri adalah nominal dalam bentuk uang. Dan penonton pun, pelan tapi pasti, memandang industri hiburan dalam kerangka semacam itu. Dunia musik adalah contoh terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cuma Citra&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyta kecewa. Malam itu, bersama tiga temannya, dia gagal menemui The Changcuters yang manggung di Surabaya. Padahal, tart sudah mereka bawa, untuk Alda yang berulang tahun. Mereka pun sudah berpakaian ala "Changcuters Angel", dan antre di depan tenda tempat istrahat band itu. Mengiba, memohon, izin tak juga dapat. Ketika mobil yang membawa Tria dan lainnya melaju, Dyta cuma terpaku. Ada yang meleleh di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ekspresi Dyta tertayang jelas di acara "Fans" &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;, Minggu (1/6) sore. Juga kerumun fans lain, yang berloncatan di sisi panggung, ketika Tria, dengan gaya dan dandanan khasnya, bernyanyi. Lihatlah, ketika lagu "Racun Dunia" membahana, penonton histeris. Di barisan paling depan, di sisi panggung, sembari meneriakkan nama Tria, puluhan penonton wanita yang tertangkap kamera, ikut mendendangkan lagu itu. &lt;I&gt;Racun...racun...racun/ Hilang akal sehatku 3x/ Memang kau racun // Wanita racun dunia/ Karna dia butakan semua/ Wanita racun dunia/ Apa daya itu adanya&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib! Dyta dan puluhan penggemar lain, yang juga wanita, justru menikmati lagu itu. Mereka berjejingkrak, bersesorak, seakan menjadi bagian dari "racun" yang diteriakkan Tria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah The Changcuters menawarkan "nilai" dengan lagu itu? Apakah Dyta dan puluhan fans lainnya, terutama yang wanita, mengakui dan mengadopsi "tawaran" Tria itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan mereka adalah ungkapan keterlibatan emosi atas citra yang dibawa The Changcuters. Sekali lagi, keterlibatan emosi!, yang akhirnya menjadi ketersambungan imaji. Jadi, imaji personal Changcuters-lah yang membuat fans itu bergerak. Lagu Changcuters pun adalah bagian dari imaji mereka, termasuk "Racun Dunia". Sebagai bagian dari imaji, syair lagu "Racun Dunia" tidak lagi "bicara", tidak membawa pesan khusus, tergerus dalam keseluruhan citraan kejadulan band itu. "Racun Dunia" bahkan adalah kejadulan itu sendiri, yang dirayakan, dinyanyikan, dalam ketakbermaknaan (&lt;I&gt;meaningless&lt;/I&gt;). Sebagai kejadulan, kelampauan, "Racun Dunia" adalah kenangan, juga kerinduan; selebihnya perayaan, selebrasi. Seperti lagu "Begadang" Rhoma Irama, yang berisi larangan begadang, tapi justru lebih sering dinyanyikan mereka yang tengah begadang. Jadi, masihkah kita bisa mendapatkan nilai, mempersoalkan pesan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah industri. Sangat mungkin, industri hiburan mengaku memajang nilai, mewartakan kebaikan, menawarkan sebuah ideologi. Tapi saya percaya, pengakuan itu tak lebih hanya kiat pemasaran. Ideologi, dalam industri hiburan, --dan kini masuk ke ranah politik-- telah lama menjadi imagologi, penguatan atas imaji. Hanya dengan kemampuan mempermainkan imaji, industri hiburan, dan juga politik, dengan segenap pelakunya dapat terus bertahan. Imajilah yang mereka jual, dan terus mereka ubah. Seperti Mulan, dari Kwok ke Jameela, dari China ke Arabia. Semua cuma soal citra, dan tentu, nilai uang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Indah, soal &lt;I&gt;Munajah Cinta&lt;/I&gt; itu, tak perlu cemas ya? Poligami itu saat ini hanya citraan yang tengah laku. Imaji, dan bukan ideologi, yang ditunggangi industri. Nikmati saja selagi bisa, hitung-hitung sebagai pelipur lara, di tengah harga kebutuhan yang melambung tak terkira, yang bisa membuat kita gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel ini telah terbit di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 8 Juni 2008]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-3677725937629232324?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/3677725937629232324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=3677725937629232324' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3677725937629232324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3677725937629232324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/06/poligami-musik-dan-imagologi.html' title='Poligami, Musik, dan Imagologi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SEkYPyHrSGI/AAAAAAAAAHc/ZtdJdOGk5GY/s72-c/changcut2a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-97819990844861032</id><published>2008-05-22T12:51:00.003+07:00</published><updated>2008-05-22T12:57:03.880+07:00</updated><title type='text'>Bola dan Pengkhianatan Narator</title><content type='html'>Selalu ada kenikmatan yang hilang ketika pertandingan bola tayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SDUK3h2tA7I/AAAAAAAAAHU/MCc8Bl1eiXI/s1600-h/mu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SDUK3h2tA7I/AAAAAAAAAHU/MCc8Bl1eiXI/s400/mu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203076893593371570" /&gt;&lt;/a&gt;"Yah, apa yang terjadi Pemirsa? Tampaknya benturan antara Messi dan Flecher. Cukup keras!" jelas Tris Irawan, dalam siaran langsung pertandingan semifinal Liga Champions antara MU dan Barcelona, di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, Rabu dini hari (30/4). Tapi anehnya, seperti tayang di teve, yang terkapar justru Evra.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, setelah &lt;I&gt;reply&lt;/I&gt; pun, Tris masih menyebut juga nama Flecher. Dia menyadari kesalahan nama itu beberapa saat kemudian, setelah Evra ditandu keluar lapangan. Aneh. Hal yang sama juga dilakukan Ricky Jo, ketika menaratori pertandingan MU dan AS Roma di perempat final. Teves membuat gol lewat sundulan hasil umpan silang Owen Hargreaves. Tapi Ricky Jo justru berkali-kali menyebut nama Park Ji-sung, bahkan setelah dua kali &lt;I&gt;reply&lt;/I&gt;. "Oh, ternyata Hargreaves, pemirsa..." ralatnya. Penonton pasti gemas sekali dengan narator yang tak akurat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, memang begitulah "kualitas" narator pertandingan bola di televisi. Heboh, pasti. Lucu, tentu. Akurat, nanti dulu. Tris Irawan atau Ricky Jo yang biasa menaratori Liga Champions, acap salah menyebut nama pemain. Bahkan, kadang mereka tidak menyadari kesalahan itu, dan membiarkan saja sampai pertandingan selesai. Barangkali, tempo permainan yang cepat dan posisi pemain yang terus berubah-bergerak, membuat mereka sulit mengindentifikasikan nama. Tak heran, pemain A mengoper bola ke pemain B, disebut narator sebagai pemain C. Dan ketika pemain B ini mengumpan bola lagi, narator tak sempat meralat salah sebut itu. Kelalaian pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketakakuratan itu tentu sangat mengganggu, terutama untuk penonton yang bahkan hanya dengan melihat gestur tubuh, sudah tahu siapa nama pemain itu. Ronaldo atau Rooney, Owen atau Ji-sung, memiliki gestur yang khas, dan sulit membuat mata melakukan kesalahan identifikasi. Demikian juga Messi atau Deco, adalah mustahil mempertukarkan nama mereka. Namun, sepanjang siaran langsung Liga Champions, kesalahan ini acap terjadi. Barangkali, tayangan jauh tengah malam itu membuat narator acap kehilangan konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketakakuratan itu bukan masalah sebenarnya, jika tidak diucapkan dengan kehebohan. Ricky Jo misalnya, terlalu "nyinyir" jika menaratori pertandingan. Tak cuma menceritakan jalannya pertandingan, dia juga acap menilai &lt;I&gt;skill&lt;/I&gt; bahkan ekspresi pemain. Situasi ketika MU mendapat hadiah penalti ketika melawan Barcelona di partai pertama, misalnya. Ricky terus saja berkata-kata, menceritakan Ronaldo, dari posisi akan mengambil tendangan, keuntungan yang didapatkan MU, sampai jumlah gol yang akan dibuat Ronaldo, juga kesalahan yang tak perlu dilakukan Barcelona. Komentarnya "berkejaran" dengan waktu jeda penalti. Dan Ronaldo gagal mengeksekusi penalti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu gara-gara Ricky Jo. Berisik!!" SMS Nora Umber, novelis, menilai kegagalan penalti itu. Hahaha...&lt;br /&gt;Barangkali tak hanya Nora Umres, sebagian besar penonton, terutama pecinta MU, terganggu dengan narasi yang tak perlu itu. Apakah Ronaldo gagal karena keberisikan Ricky Jo? Cuma tiga yang tahu, Tuhan, Ronaldo, dan Umres sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Sejarah Tim&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali penonton masih dapat memaafkan ketakakuratan dan keberisikan itu. Maklum, tontotan gratis. Namun, ada lagi ucapan narator, dan juga diikuti komentator, yang barangkali sulit untuk diterima penonton: sikap memihak. Ketika MU melawat ke Roma, misalnya, ketakhadiran Totti menjadi percakapan utama, bahkan ketika pertandingan berjalan. Ucapan, "Seandainya ada Totti..." atau "Jika saja tendangan itu dilesakkan Totti", bahkan "Biasanya Totti yang berada di posisi itu.." bergulir terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengulangan narasi demikian selain mengganggu juga amat sangat merendahkan kualitas pemain non-Totti, dan Roma sebagai tim. Lucunya, ketika pertemuan kedua, dan Ferguson tidak memainkan Ronaldo, sikap itu dinilai sebagai "unjuk digdaya" MU atas Roma. Narator pun merajut kata-kata yang intinya berharap MU tumbang, dan ada wakil dari liga lain agar Champions tidak dikuasai Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberpihakan paling kentara ketika MU bertemu Barcelona. Tris Irawan amat menjagokan Barcelona, dan memberikan pujian berkali-kali untuk Messi, sekaligus membandingkannya dengan Ronaldo. Pemihakan Tris itu bahkan dia tularkan pada koemntator Titis Widyamoko. Ketika MU unggul 1-0 berkat gol Paul Scholes, Tris segera berkomentar, "Ini sejarah Bung. Sejarah bagi Scholes." Artinya, skor itu dinilai hanya "sejarah" bagi seorang pemain.  Memang, dalam pertandingan itu, Scholes memainkan partai ke-100 untuk liga Eropa. Selain itu, dalam debutnya di Champions 1994, Scoles juga membuat gol ke gawang Barcelona. Namun, apa pun, skor 1-0 itu sudah membuat Tris panik. "Jadi, mungkin ini akan jadi kemenangan pertama ya, Bung?" tanyanya pada Titis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tris, seperti juga Ricky Jo, memang lebih mendukung klub dari Liga Spanyol dibandingkan tim lain. Bahkan partai Liga Champions lebih banyak menayangkan pertandingan tim yang diikuti klub Spanyol. Sebabnya dapat dipahami, RCTI memang hanya menyiarkan Liga Spanyol. Komentator dan narator lebih akrab dengan nama-nama dan &lt;I&gt;skill&lt;/I&gt; pemain, juga strategi dari liga itu. Memihak klub non-Spanyol artinya sama dengan "mengiklankan" liga lain yang tayang di teve lain. Jadi, pemihakan narator dan komentator dapat dibaca sebagai sikap yang dipilihkan RCTI. Jadi, agak wajar juga Ricky Jo "memberisiki" Ronaldo yang tengah mengambil tendangan penalti. Hihihi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Menghianati Kamera&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi narator pertandingan adalah menjembatani penonton dan peristiwa di layar kaca. Namun, dalam pertandingan bola, terutama setegang dan selevel Liga Champions, narator justru lebih terasa menjedai keterlibatan penonton dengan tayangan. Narator mengalienasikan penonton dari aura, suasana, ketegangan seperti yang tampak di lapangan. Dalam bahasa yang lebih tegas: narator mengkhianati kamera!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya suasana ketika Ronaldo akan mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Barcelona. Di televisi, gambar berpindah-pindah. Tampak Ronaldo memegang bola, memandang gawang lawan, dan sembari membuang napas --yang ditampilkan secara &lt;I&gt;close-up&lt;/I&gt;--  dia letakkan bola di titik putih. Ronaldo melangkah mundur.... Kamera berpindah ke gawang Barcelona, wajah Valdes yang tegang tampak jelas, dan matanya yang mencoba membaca ke mana kira-kira tendangan itu diarahkan. Kamera juga berpindah ke base, Rijkard yang berteriak, Ferguson yang cuma bisa diam, menunggu-tegang. Kamera kemudian menjauh, menampakkan keseluruhan penonton yang seperti senyap, para pemain yang bergerak memberi ruang tembak, dan tibalah saat itu: Ronaldo bergerak, menembak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu antara Ronaldo meletakkan bola dan menendang barangkali cuma beberapa detik. Tapi kamera dengan perpindahannya, juga permainan antara "tatapan" dekat dan jauh, berhasil membuat waktu yang singkat itu jadi demikian panjang, begitu tegang. Penonton seperti terbawa pada kecemasan yang sama ketika dengan jelas melihat keringat Ronaldo yang bergulir dari keningnya, dan dia abaikan. Waktu yang pendek itu terasa mengulur, yang kalau tak salah, pernah disebut Eric Sasono sebagai &lt;I&gt;extended time&lt;/I&gt;. Dan ketika Ronaldo menendang, penonton seperti menunggu bom yang tengah meledak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ricky Jo merusaknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan narasi yang "diceritakan" kamera tadi, runtuh oleh narator. Kekuatan gambar, kedahsyatan kamera, rusak oleh kata-kata. Ricky Jo membuat apa yang sudah dikatakan kamera menjadi sesuatu yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Reply&lt;/I&gt; dalam &lt;I&gt;slow motion&lt;/I&gt; sesudah tayangan itu pun tak lagi dapat mengembalikan penonton kepada suasana. Penonton tak lagi punya ruang untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi karena narator memosisikan diri sebagai yang maha tahu. Narator menganggap penonton buta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, ketika menonton bola saya selalu menutup telinga, dan menikmati kekuatan kamera yang tak dikhianati kata-kata. Merasakan diri terlibat, lebur, seperti rasa yang terbina di Old Trafford sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 18 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-97819990844861032?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/97819990844861032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=97819990844861032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/97819990844861032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/97819990844861032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/05/bola-dan-pengkhianatan-narator.html' title='Bola dan Pengkhianatan Narator'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SDUK3h2tA7I/AAAAAAAAAHU/MCc8Bl1eiXI/s72-c/mu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-6067862575634836965</id><published>2008-05-12T18:22:00.003+07:00</published><updated>2008-05-12T18:39:59.999+07:00</updated><title type='text'>Tawa untuk Logika Janda</title><content type='html'>Susah sungguh bergelar janda, jadi rebutan dan caci-maki para tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SCgpsFKTTSI/AAAAAAAAAHM/u0yEpw5KzB8/s1600-h/ssti.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SCgpsFKTTSI/AAAAAAAAAHM/u0yEpw5KzB8/s400/ssti.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199451607075605794" /&gt;&lt;/a&gt;"Takut... takut... takut... Sama istri sendiri kok malah takuuuutttt.... Ciut.. ciut... ciut... Sama istri sendiri nyalinya ciuuuuuttttt...." Anda pasti akrab dengan potongan lagu di atas. Ya, itulah lagu yang menjadi pembuka tayangan sitkom "Suami-suami Takut Istri" setiap sore di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Dari lagu tersebut sudah jelas arah cerita komedi itu, tentang suami yang tak berdaya di depan istri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitkom yang diproduseri Anjasmara dan disutradarai Sofyan de Surza itu memang populer. Selain cukup bagus dari sisi cerita, kekuatan karakter tokoh menjadi daya tarik utama, terutama karena bumbu kontradiksi di dalamnya. Tigor (Yanda Djaitov) yang berbadan binaraga misalnya, justru takluk sama istrinya, Welas (Asri Pramawati), yang lembut dan kurus. Lucu, apalagi jika mengaitkan kesukuan mereka, Tigor yang Batak dan Welas yang Jawa. Atau keluarga satu suku, Faisal (Ramdan Setia) dan Deswita (Melvy Noviza). Matrenalisme suku Padang diwujudkan secara ekstrim dalam ketaklukan suami dalam hal apa pun. Sesuatu yang hiperbolis, sebenarnya. Tapi, tanpa yang hiperbolis, komedi tentu akan kehilangan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik dalam sitkom ini tergolong biasa, khas permasalahan rumah tangga. Namun karena faktor ketertundukan suami, penyelesaian konflik tadi acap mengundang tawa. Apalagi, dikontraskan dengan kehadiran Dadang (Epy Kusnandar), satpam yang beristri tiga, dan satu-satunya lelaki yang tak takluk pada istrinya. Tak heran kalau akhirnya terjadi "ikatan" persamaan nasib di antara para suami itu. Pak RT (Otis Pamutih), Faisal, Tigor, dan Karyo (Irvan Penyok), jadi terbiasa &lt;I&gt;ngudarasa&lt;/I&gt;, curhat, atau berbagi taktik mengelabui istri, meski selalu gagal. Namun, selain karena takut pada istri, ikatan sesama suami ini juga terjalin karena alasan yang sama, ketertarikan pada seorang janda. Pretty (Desy Novitasari) namanya. Bahkan, konflik akibat kejandaan Pretty nyaris menjadi menu utama sitkom ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Janda Omnivora&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pretty memang cantik. Kakinya panjang, dengan dada yang padat, dan acap berbusana terbuka, menantang. Bibirnya tipis, dan kalau bicara, mendesis-desis. Matanya pun bagus, terutama kalau berkedip-kedip ketika bicara. Kehadirannya menjadi magnit di komplek itu, bukan saja membuat para suami jadi punya kesamaan idola, melainkan juga menjadikan para istri punya musuh bersama. Pretty yang cantik, dan terutama janda, membuat para istri memandang dalam syak-wasangka. Karena tampaknya, sebagai kompensasi ketakutan pada istri, para suami jadi memiliki keberanian untuk menggoda sang janda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pretty bukan tidak menyadari ketertarikan para suami pada tubuhnya, dan kemarahan para istri akan kehadirannya. Tapi, bukannya menjaga diri, Pretty justru berlaku "jinak-jinak merpati". Akibatnya, para suami acap tertangkap basah tengah menggodanya, membantunya, atau terkunci di dalam rumahnya. Hanya Dadang yang tak begitu "memandang" Pretty. Satpam ini cuma bisa "goyang" oleh uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitkom ini memang melakukan mitos penguatan pada stigma janda. Pretty tampil dalam imaji janda yang memang bertugas menggoda. Dia memberi angin pada harapan para suami lewat lirikan, ajakan jari telunjuk, senyum, dan busana. Pretty mempersepsikan sebagai janda yang mau dan "bisa" digoda. Bahkan, ayah Tigor, Togar (Dorman Borisman) yang berkunjung, langsung melihat sinyal "kebisaan" Pretty. Dia berusaha mencuri kesempatan, namun ternyata, sama seperti anaknya, Batak tua ini pun takut pada istrinya. Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hadir dalam streotif "bisa" digoda, para istri pun memosisikan Pretty dalam stigma janda pada umumnya. Bu RT (Aty Fathiyah) terutama, sangat percaya bahwa Pretty selalu menginginkan suaminya. Meski hal itu dibantah anaknya, Sarmilila (Marissa), "Nyak, kenape sih selalu nyalahin Tante Pretty? Nggak mungkin juga Tante Pretty mau sama Babe." Tapi, bagi Bu RT, yang mewakili stigma umum itu, janda adalah omnivora, pemakan segala, tak punya kelas selera. Pria apa pun, jelek atau binaraga, lembut atau tak bekerja, akan dimamahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami-suami Takut Istri" tidak berusaha melakukan redefenisi pada stigma janda itu. Dalam satu seri, Pretty bahkan digambarkan begitu hausnya pada lelaki, dan berusaha menjebak Garry (Ady Irwandi), satu-satunya lajang di perumahan itu. Namun Garry menolak. Ia pun distigmakan sebagai lelaki yang lugu, yang tanpa pretensi apa pun, senang membantu. Kehadiran Garry sebagai lajang polos kian menegaskan keomnivoraan Pretty. Belum lagi posisi Dadang sebagai satpam, yang lebih banyak menjadi mata para istri, dengan imbalan uang, untuk mengawasi Pretty. Dadang hadir lebih sebagai personifikasi negara, menjadi pengawas akan status warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Logika Janda&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitkom "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin stigmatisasi janda yang masih berlangsung dan diterima oleh warga. Keberterimaan itu dapat dilihat dari kehadiran Pretty yang tidak mendapat resistensi dari penonton. Artinya, sosok Pretty dilihat dan dinikmati bukan sebagai karakter yang terberi melainkan watak asali. Konflik dan kecemburuan karena Pretty dinikmati sebagai kewajaran dan bukan pengada-adaan. Akibatnya, jalinan cerita menjadi benar dalam "logika" janda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janda, "perempuan yang pernah menikmati seks", dipersepsikan sebagai ancaman rumah tangga. Karena pernah menikmati seks, janda dipercayai akan mencari lagi kenikmatan itu dengan cara apa pun. Logika inilah yang membuat, jika pun terjadi hubungan seks antara seorang lelaki dan janda, perempuan itu menjadi "tersangka" dan lelaki sebagai "korban". Anggapan yang sangat kejam, yang celakanya, justru mendapat afirmasi dari negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara "mengakui" stigmatisasi janda sebagai "ancaman" pada moralitas dan rumah tangga. Maka perempuan yang "pernah menikmati seks secara sah" itu perlu terus dilabeli. Labelisasi itu dilakukan negara lewat penyebutan di dalam KTP. Dengan pelabelan itu, seorang wanita didudukkan dalam sebuah akuarium besar, sehinnga khalayak dapat mengetahui statusnya. Dengan pelabelan itu, negara mengatakan bahwa "perempuan ini pernah menikmati seks secara resmi", dan warga harus hati-hati padanya. Label status yang menjadi "penjara" bagi si perempuan, agar dia terus tersadarkan tentang statusnya, dan menjaga sikap moralnya di depan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironinya, pelabelan itu hanya menjerat perempuan yang pernah menikmati seks secara resmi alias menikah. Sedangkan perempuan yang pernah menikmati seks --tanpa harus menikah-- tidak masuk dalam labelisasi ini. Artinya, bui labelisasi  itu justru diberikan pada perempuan yang mengikuti moralitas umum --mereka pernah menikah-- dan bukan mereka yang melawan moralitas umum --ngeseks tanpa menikah. Tanpa sadar, negara dan warga justru mengawasi perempuan yang "mengakui dan mengikuti" moralitas umum. Aneh kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa negara dan warga menghidupi terus stigma janda itu? Sebabnya satu, seks masih masuk ke wilayah tabu. Sebagai sesuatu yang tabu, seks hadir dan meluas secara tersembunyi, dan hidup dalam imajinasi banyak orang. Dan janda, --perempuan yang pernah menikmati seks-- adalah sebuah "wilayah kosong" yang memantik imajinasi. "Wilayah yang tak lagi tergarap" itu memancing imajinasi banyak perempuan dan lelaki, apalagi jika dia secantik dan seseksi Pretty. Karena itu, "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin kebobrokan moral dan kesesatan pikir masyarakat ini. Kita menikmati, menertawai. Menggelikan sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;*)&lt;/B&gt;Thanks untuk Cahaya atas ide dasar tulisan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 11 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-6067862575634836965?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/6067862575634836965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=6067862575634836965' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6067862575634836965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6067862575634836965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/05/tawa-untuk-logika-janda.html' title='Tawa untuk Logika Janda'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SCgpsFKTTSI/AAAAAAAAAHM/u0yEpw5KzB8/s72-c/ssti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5180868887401624293</id><published>2008-05-05T12:44:00.001+07:00</published><updated>2008-05-05T12:48:58.562+07:00</updated><title type='text'>Gosip Tamara dan Socrates</title><content type='html'>Untuk pemamah gosip, Socrates punya nasihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SB6fhbcTkuI/AAAAAAAAAHE/W-KjdoZoOvM/s1600-h/tamara.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SB6fhbcTkuI/AAAAAAAAAHE/W-KjdoZoOvM/s400/tamara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196766416683111138" /&gt;&lt;/a&gt;"Selama dua tahun ini saya terus difitnah, dihina, dan bahkan semua itu sudah terlewat keji sehingga menyebabkan marah saya sudah sampai puncaknya. Saya benar-benar marah, dan mohon maaf atas kemarahan itu. Saya ini manusia biasa...." ujar Tamara, pelan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jumpa pers di La Citra Cafe, Pondok Indah, Jakarta Selatan itu, Tamara hanya berbicara pendek. Itu pun terbata-bata, tertahan amarah. Selebihnya, keterangan diberikan oleh pengacaranya, Muhajir Sodruddin. Intinya, Tamara membantah gosip bahwa dia tengah hamil. Dia juga percaya, semua gosip atau fitnah yang menimpanya selama ini, bukan atas campur tangan Rafly, mantan suaminya. Dan karena berada di batas sabar, Tamara akan menempuh langkah hukum untuk setiap gosip atau fitnah yang ditujukan padanya. "Bila ada unsur-unsur tindak pidana, kami akan tempuh jalur hukum. Terutama kalau tahu siapa yang menyebar fitnah," tandas Muhajir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamara Natalia Christina Mayawati Bleszynski memang berkali-kali tertepa gosip tak sedap, bahkan mengerikan. Dia pun acap menebarkan ancaman untuk memidanakan penyebar gosip tersebut. Tapi, seperti jumpa pers yang tayang di "Insert" tahun lalu itu, syarat "Terutama kalau tahu siapa yang menyebarkan fitnah" tak pernah mampu Tamara dapatkan. Pemidanaan tak pernah jadi kenyataan. Bahkan, atas "gosip" dia telah berhubungan intim dengan Mike Lewis pun, Tamara akhirnya cuma menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini gosip yang lebih seru menderanya. Tamara diringkus polisi karena tertangkap tengah nyabu di Apartemen ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (17/4), dini hari. Kabar itu bermula dari sebuah SMS yang kemudian menyebar ke seluruh pekerja infotainmen dan wartawan hiburan. Beberapa tayangan infotainmen memberitakan gosip itu. Tapi konfirmasi atau gambar penangkapan, tidak pernah dapat ditunjukkan. Bahkan keberadaan Tamara pun tak diketahui pasti, antara di Jakarta dan Malaysia. Tapi, gosip itu makin kencang berhembus karena Kanit II Narkoba Mabes Polri Kombes Pol Drs Siswandi  mengatakan, "Belum, belum diperiksa." Entah siapa yang belum diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip itu kemudian tak dapat dibuktikan "kebenarannya" oleh infotainmen. Tapi, bukan berarti selesai. Gosip baru muncul, Tamara tak dijerat pidana dalam kasus nyabu itu karena membayar Rp 6 miliar kepada polisi. Tak ada konfirmasi atau bantahan dari Tamara, cuma ibunya, Farida Gasic, yang bersuara. "Enam miliar darimana? &lt;I&gt;Emang&lt;/I&gt; penghasilannya sampai segitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;*******&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip. Fitnah. Hal-hal semacam itulah yang berseliweran di televisi. Kabar yang bisa menjadi "headline" infotainmen, meski tak diketahui sumbernya, dan tak pernah ada peristiwanya, seperti "kasus" Tamara itu. Hebatnya, kabar semacam ini bisa muncul berhari-hari, dan tetap tanpa penjelasan yang berarti. Gosip Tyas Mirasih hamil bisa tayang sampai dua minggu, dan selama itu, tak ada kejelasan apa pun, selain gambar yang berputar seputar perut Tyas. Lalu Laudya Cintya Bella, juga dikabarkan hamil, karena tertangkap kamera tengah bersama Panji, memasuki klinik di Jakarta. Kabar ini membuat Bella "bingung", dan Panji memberi klarifikasi. Dan, seperti angin, gosip itu pun berhembus...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakjelasan gosip semacam itu, dan kegairahan infotainmen terus memberitakan, menimbulkan banyak pertanyaan, bahkan bagi artis sendiri. Ayu Azhari misalnya, berani menduga, gosip-gosip semacam itu adalah rekayasa infotainmen. Ayu secara jelas mengakui banyak infotainmen yang menawarkan diri untuk "mengelola" gosip pada artis tertentu, agar namanya dapat lagi naik atau diingat penonton. "Saya juga pernah mendapatkan tawaran semacam itu. Tapi untuk apa?" jelas Ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Ayu itu mengejutkan. Sebab, selama ini beredar "gosip" di berbagai milis bahwa infotainmen memang dapat dipesan untuk "mengangkat" nama artis yang mulai tenggelam. Bahkan ditengarai, acara ulangtahun, bagi-bagi bingkisan ke tetangga sekitar rumah, yang selalu tayang dari artis "Gelas-gelas Kaca" adalah hasil "main-mata" pada infotainmen tertentu. Pengakuan dan penjelasan Ayu Azhari menegarkan kebenaran "gosip" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berangkat dari pengakuan Ayu, jika sumber kabar itu tidak jelas, datang dari artis yang namanya mulai jarang tayang di layar teve, dan kabar itu cukup mengundang sensasi, dapat dipastikan merupakan pekerjaan dari "the invisible hands", yang menangguk sejumlah bayaran. Tujuannya jelas, membuat objek gosip, si artis, namanya kembali diperbincangkan dan atau mendapat simpati publik. Gosip hubungan asmara Agnes Monika dan Dirly Idol misalnya, ternyata adalah "permainan terencana" sebagai pengantar sinetron mereka &lt;I&gt;Jelita&lt;/I&gt;. Begitu sinetron tayang, gosip itu pun hilang, dan Dirly nampang dengan kekasih yang "asli". Di situ terjadi kerjasama yang matang antara stasiun teve yang akan menayangkan sinetron tersebut, dan infotainmen yang diproduksi teve itu sendiri. Sungguh rekayasa yang menyakiti penonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;*********&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip, fitnah, bagi penonton teve memang sudah diterima sebagai hal yang biasa. Setiap hari, selalu ada gosip baru dari aktris baru atau lama, yang indah atau keji. Dan karena bernama gosip, infotainmen tak ada beban untuk menayangkannya, bahkan mengulangnya. Sebagai kabar angin, psikologi pembuat dan penikmat seakan berada dalam kata sepakat, nanti akan hilang sendiri, lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, gosip akan hilang sendiri. Ingatan penonton --bahkan sebagian besar masyarakat Indonesia-- memang pendek, terutama karena informasi yang mengepung dan menderas tanpa henti. Tapi, kekuatan --dan juga kejahatan-- gosip bukan pada kemampuannya untuk tinggal dalam kepala penonton, melainkan mengubah persepsi pemirsa di dalam memandang dan atau menganalisa sebuah peristiwa. Jalinan gosip yang kronologis, --Tamara diisukan nyabu, tertangkap, bebas karena nyuap, mengundang Roy Suryo untuk meneliti siapa penyebar SMS, ada rekayasa untuk memburukkan namanya sebagai sarana penghilangan haknya mengasuh Rasya-- membuat penonton berada dalam "ambang nanti" yang tak berkesudahan. Sesudah ini, pasti itu, pasti begini, lalu, dan, akhirnya, ternyata....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalinan "kronos" itu menimbulkan efek haus, dahaga, akan duga dan syak-wasangka. Pada akhirnya, gosip mengubah paradigma berpikir penonton yang selalu "melampaui" peristiwa. Yang terjadi adalah "B", tapi benak pemirsa sudah mengelola praduga dari "A" sampai "C" dan "E". Paradigma ini membuat substasi, isi, jadi sesuatu yang tak penting lagi. Yang utama adalah memenuhi rasa haus itu. Dan pemenuhan itu, tanpa disadari, adalah hasil "kreasi" sendiri, imajinasi yang dipanjang-panjangkan, lalu dibenarkan. Gosip memaksa pemirsa melakukan masturbasi pikiran. Dan di ujung dampak semua itu, gosip membuat rasa curiga tumbuh dengan demikian suburnya. Karena rasa curiga telah menjadi bagian dari kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;*******&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad lalu, filsuf Yunani Socrates sudah mewanti-wanti akan dampak gosip. Meski pada akhirnya bersedia menjadi tumbal dari "gosip", Socrates memberikan cara menangkal gosip. Dia menyebutnya "Saringan Tiga Kali". Saringan itu merupakan metode yang selalu Socrates lakukan untuk menyaring mana kabar yang dia butuhkan mana yang harus dia buang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, seorang pria mendatangi Socrates, dan dia berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar," jawab Cocrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. ujian tersebut dinamakan saringan tiga kali." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul," lanjut Socrates. "sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saringan yang pertama adalah kebenaran. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang Anda akan katakan kepada saya adalah kepastian kebenaran?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," kata pria tersebut, "Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda". &lt;br /&gt;"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin kalau itu benar. Hmmm... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, oke, Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu kegunaan. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna sama sekali, kenapa Anda ingin menceritakan kepada saya?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Socrates itu pun &lt;I&gt;ngacir&lt;/I&gt;, pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gosip yang menderas sampai ke ruang keluarga, suara Socrates barangkali harus sering digemakan lagi, sebagai tambat agar akal sehat, nalar, tetap berdiam di kepala banyak orang. Supaya penonton tidak menikmati infotainmen seperti orang yang tersesat di tengah padang, kehausan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 4 Mei 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5180868887401624293?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5180868887401624293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5180868887401624293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5180868887401624293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5180868887401624293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/05/gosip-tamara-dan-socrates.html' title='Gosip Tamara dan Socrates'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SB6fhbcTkuI/AAAAAAAAAHE/W-KjdoZoOvM/s72-c/tamara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-17215018105449125</id><published>2008-04-28T20:23:00.003+07:00</published><updated>2008-04-28T20:30:53.294+07:00</updated><title type='text'>Cara Terhormat Melawan Dewi</title><content type='html'>Bagi Dewi Persik, panggung bukanlah ajang pamer suara, melainkan olah-senggama. Orgasme tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SBXQVrcTktI/AAAAAAAAAG8/zBC_NMrgTtc/s1600-h/deper.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SBXQVrcTktI/AAAAAAAAAG8/zBC_NMrgTtc/s400/deper.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194286816099013330" /&gt;&lt;/a&gt;Wajah Dewi Persik memerah. Duduk di samping Hj Endah Murnalita, penasihat hukumnya, dia tak dapat lagi menahan marah. "Kata-kata Dewi Persik telah merusak moral, itu yang saya tidak bisa terima," ketusnya seperti terlihat di "Selebrita" &lt;I&gt;Global TV&lt;/I&gt; (23/4). "Saya sedih karena semua ini dibuat untuk kepentingan politik!" tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi memang tengah gundah. Walikota Tangerang, Wahidin Halim, melarang dia bergoyang. Walikota Bandung, Dada Rosana, juga melakukan hal yang sama. "Coba saja dia minta izin, pasti tidak saya izinkan. Kecuali dia mau mengubah goyangan dan penampilannya," ucap Dada. Namun Dewi dan penasihat hukumnya yakin, larangan itu hanya upaya untuk menarik simpati warga. Kedua walikota itu ternyata tengah bersiap ikut pilkada, dan mencalonkan diri untuk kali kedua.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang kami tidak ingin ini jadi politis. Makanya, kamu tidak mau menanggapi lagi. Tujuannya pilkada," terang Murnalita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada Rosada jelas membantah motif politik itu.  "Saya cuma memenuhi permintaan warga," katanya sebagaimana ramai dikutip media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga, masyarakat, memang acap dijadikan alat atau alasan untuk bertindak. Forum Pembela Islam pun, atas nama keresahan umat, membakar kaset dan CD Dewi Persik. Forum itu bahkan siap membubarkan panggung Dewi jika mantan istri Saipul Jamil itu tak juga mau berubah. Tapi, apakah yang dimaksud dengan warga, masyarakat atau umat, sebenarnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Ubah Persepsi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyang Dewi Persik memang sensual. Bahkan dalam beberapa penampilan, seperti yang acap ditunjukkan ragam infotainmen, sangat erotis. Dewi tak cukup hanya menggoyangkan pinggul seperti Nita Thalia, atau memutar pantat seperti Inul, tapi menggelepar-gelepar di panggung, kadang bergaya seolah bersanggama. Eskpresinya pun bukan seperti orang yang tengah bernyanyi, melainkan raut yang sedang bercinta. Bagi Dewi, panggung adalah arena dia untuk berolahasmara, dan dia selalu memperoleh orgasme karenanya. Yang ditampilkan Dewi pada intinya bukanlah pertunjukan suara tapi olah kamasutra. Karena itulah, tak terdengar suara yang mendukung Dewi ketika terjadi pelarangan dan pencekalan di Bandung dan Tangerang, atau pembakaran oleh Forum Umat Islam. Warga, umat, masyarakat, seperti berada di seberang dirinya. Dalam hal inilah, Dewi berbeda dari Inul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inul juga pernah seperti Dewi, dilarang dan dikecam, bahkan oleh pemilik "otoritas" Dangdut, Rhoma Irama. Tapi apa yang terjadi kemudian, Inul justru tak pernah merasa sendirian. Selalu ada bagian dari warga, umat, atau masyarakat, yang berdiri di sisinya, membelanya. Sebabnya, Inul bertindak lebih cerdas daripada Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika larangan dan kecaman datang, Inul tidak mencoba melawan sendirian. Dia minta bantuan dan &lt;I&gt;sowan&lt;/I&gt; ke berbagai banyak orang. Inul tahu, "fatwa" Rhoma bukanlah kebenaran satu-satunya. Dia ke Gus Dur, dan teryakinkah untuk tak boleh mundur. Inul memberi "agenda" bahwa yang dia perjuangkan bukanlah soal goyangan semata, melainkan haknya sebagai seorang wanita untuk mencari makan. Inul mengubah persepsi larangan itu jadi pencekalan atas keinginannya untuk menjadi tulang punggung keluarga, hak anak untuk membuat orangtuanya bahagia. "Saya hanya mencari makan dengan bergoyang. Apakah saya salah?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik pun terbelah. Sebagian bahkan jadi berubah arah, mencoba memaklumi. Apalagi, media pun menaruh simpati pada istri Adam Suseno ini, dan memblow-up hal itu menjadi isu feminisme. Dangdut bahkan mendapat gugatan, moralitas, juga agama. Emha Ainun Najib sampai menulis "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua", dan KH Musthofa Bisri pun menjadikan Inul sebagai tema lukisan. Inul menjadi "gelombang" justru karena dia bisa mengajak orang untuk berpikir bahwa apa yang dia perjuangkan bukan semata soal goyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Persik tak mampu mengubah itu. Dewi terlalu angkuh untuk meminta bantuan dan melawan sendirian. Dia bahkan menantang, melawan, tanpa meminjam mulut orang. Dewi jadi terkesan arogan. Dewi tak mencitrakan diri sebagai sosok yang lemah dan terhina. Dan karena itulah, pembelaan pun tak datang dari "ibu semua artis", Titiek Puspa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar, Dewi Persik justru mencitrakan diri sebagai perempuan yang bebas menjual sensualitas. "Siapa yang tidak mau? Sudah enak, dapat duit lagi," katanya, ketika ditanya mengapa mau beradegan intim dalam film &lt;I&gt;Tali Pocong Perawan&lt;/I&gt;. Dewi membuat orang tahu, bahwa sensualitas, goyangan syawat dan mimik orgasme itu, adalah pilihan sadarnya untuk mencari uang. Dewi melakukannya dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inul sebaliknya, mencitrakan diri sebagai perempuan yang terpaksa. "Hanya bernyanyi itu yang aku bisa," katanya dulu. Inul membuat orang berpikir bahwa dia, dengan latar belakang religiusitas keluarga, pun tak bangga menjual goyangannya. Untuk orang yang terpaksa, warga, masyarakat, umat, pasti gampang memberi maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Uji Pasar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi memang secara sadar menjual sensualitas goyangnya. Dia memang tak perlu dibela, dan tentu, tak usah juga dicekal atau dilarang.  Pelarangan, pencekalan, atau pembubaran dan pembakaran, bagaimanapun adalah wujud dari sikap yang tidak dewasa. Dewi seharusnya dibiarkan saja. Masyarakat, warga, atau umat, harus terbiasa untuk terbuka pada perbedaan, keanekaragaman. Goyangan Dewi Persik bahkan penting untuk membuat beda antara mutiara dan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Persik adalah produk yang lahir dari mekanisme pasar. Dia tumbuh dan berkembang --lihatlah modifikasi goyang Dewi-- karena memenuhi hukum permintaan. Harus diakui, di luar umat atau warga yang menentang, ada juga warga dan umat yang lain justru memuja Dewi. Sebagian warga, umat, atau penonton, yang tidak suka harus bisa melihat Dewi bukan "bagian dari kita", bukan milik "kita", melainkan produk dan hak warga yang lain. Dan sangat tidak benar, apa pun alasannya, untuk melarang, atau menghakimi, sesuatu yang bukan menjadi bagian dari milik sendiri. Sebagai bagian dari "mereka", Dewi bebas melakukan hak-haknya. Dengan cara itulah warga jadi dewasa, menghargai heterogenitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pemerintah? Pemerintah harus berada di antara warga. Pemerintah atau pemda, harus menjamin warga menikmati kesetujuan dan ketidaksetujuannya, dan tidak menjadi "beking" salah satu di antaranya. Negara harus menjadi wasit, agar tidak terjadi pemaksaan selera dari satu warga kepada warga lainnya. Negara harus berdiri di tengah, agar antara warga yang berbeda tidak bertindak sendiri, menjauhkan anarki. Dengan kata lain, negara atau pemerintah, harus membiarkan proses pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi adalah produk pasar dan harus dilawan di pasar. Jika sebagian warga takut goyangan Dewi merusak moral, lawanlah hal itu dengan membuat dan memasuki pasar dengan produk yang berbeda. Juallah Dewi yang berbeda, yang tidak merusak sendi moral dan agama, Dewi dangdut yang tidak bergoyang erotis di panggungnya. Penganjur moral harus mulai dewasa untuk tidak melakukan larangan atau kecaman saja, melainkan membuat dan memasarkan produk yang memenuhi tuntunan moralitasnya. Biarkan pasar yang mengujinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya untuk belajar dari &lt;I&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/I&gt;, bahwa kebaikan, bahkan "film khotbah" pun memiliki pasar jika dikemas dan dimanajemen secara benar. Bahwa pasar bukan saja menerima hantu, pocong atau perselingkuhan, tapi juga "malaikat" dalam bentuk Fahri, dan cinta dalam wajah poligami. Dan Dewi, bukankah tidak sendiri? Telah ada Ustad Jeffry  yang berdangdut dalam barzanzi, melayani, melawan "pasar" Dewi. Dan itulah perlawanan terhormat dalam era liberalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 27 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-17215018105449125?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/17215018105449125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=17215018105449125' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/17215018105449125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/17215018105449125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/cara-terhormat-melawan-dewi.html' title='Cara Terhormat Melawan Dewi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SBXQVrcTktI/AAAAAAAAAG8/zBC_NMrgTtc/s72-c/deper.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-732336256705619225</id><published>2008-04-18T14:42:00.004+07:00</published><updated>2008-04-28T20:30:18.032+07:00</updated><title type='text'>Pengkhianatan Indonesian Idol atawa Kemenangan Air Mata Melawan Suara</title><content type='html'>Seperti Muhaimin Iskandar, juara "Indonesian Idol" pun, seharusnya, hanya dapat dijatuhkan dalam "muktamar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SAhRZ-6L8OI/AAAAAAAAAG0/lULwf-n5MqQ/s1600-h/idol-sephia3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SAhRZ-6L8OI/AAAAAAAAAG0/lULwf-n5MqQ/s400/idol-sephia3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190488077370126562" /&gt;&lt;/a&gt;"&lt;I&gt;I belive you can fool&lt;/I&gt;," kata Indra Lesmana kepada salah seorang peserta ketika memimpin audisi di Salatiga, sebagaimana tayang di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, Jumat (11/4). Peserta itu memang "menyedihkan", bernyanyi seperti ikan yang kehabisan oksigen, &lt;I&gt;mangap-mangap&lt;/I&gt; tanpa suara. Dan ketika suaranya keluar, bernyanyi "i belive i can fly", penonton pasti tertawa, dan kemudian iba. Peserta ini barangkali adalah contoh orang yang tidak menyadari keterbatasan bakatnya. Ia hanya mencoba, siapa tahu nasib baik memihaknya. Cap tolol, terlalu kejam diterakan untuknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta yang tak menyadari kualitas vokalnya bukan hanya tampil dari Salatiga. Di Brebes, Surabaya, Medan, dan Jakarta, peserta semacam itu selalu ada. Dan komentar pedas, menyakitkan, bahkan kadang bernada penghinaan, acap lahir dari bibir para juri. Anang Hermansyah terutama, yang paling kesulitan menemukan diksi untuk menghaluskan ucapannya. Tak heran, dia acap menjadi sasaran ketidakpuasan peserta, yang merasa terhina dengan penolakannya. Ekspresi ketidakpuasan pada Anang --tentu dengan alasan komersial-- bahkan ditunjukkan, mungkin diarahkan oleh pengarah acara, berupa cacimaki, menghancurkan properti, sampai menantang adu nyali di panggung nyanyi. Anang, tampaknya, ingin dicitrakan sebagai Simon Cowell, juri paling "tanpa basa-basi" "American Idol".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesian Idol" adalah acara &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; pencarian bakat untuk kualitas suara. Namun, memasuki tahun kelima ini, kian terasa penyimpangan dari tujuan semula. Kualitas suara tak lagi menjadi modus utama, terkalahkan oleh hal-hal lain, yang tujuannya cuma untuk meningkatkan aspek komersialitas acara. Jadi, kemungkinannya, penyimpangan itu memang disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Juri Cengeng&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra Lesmana terdiam, menatap tanpa kedip pada peserta di depannya. Melalui kamera, matanya yang mulai berkaca-kaca, dan raut muka yang ikut menahan kesedihan. Di panggung berdiri peserta dari Palembang, yang berkisah dengan tangis. Ibunya saat ini di bui, terpenjara karena tertangkap membawa narkoba di diskotik. Ayahnya telah lama pergi entah ke mana, menelantarkan keluarganya. "Saya ingin ibu bangga pada saya, bahwa saya bisa, bisa membahagiakannya," isak peserta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamera lalu menyanyikan semuanya, wajah tua dan kuyu, yang terhalang teralis, tengah mengisak-tangis. Di bui sempit itu, dia salat, bermunajat, untuk anaknya. Kamera berakhir dengan pelukan si ibu mengantarkan anaknya ke Jakarta.&lt;br /&gt;Tentu, peserta itu lolos ke Jakarta, bertarung di babak berikutnya. Komentar semua juri menyenangkannya. Bahkan, "telinga saya tuli jika tidak dapat mendengarkan keindahan suaramu," puji Anang. Terpenjara pada kisah sedih itu, Anang ternyata menemukan "diksi" yang lumayan untuk mengungkapkan penilaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Brebes lahir kisah yang sama. Peserta yang belum apa-apa sudah menumpahkan airmata, dan berkisah tentang keluarganya. Kakaknya terpaksa masuk penjara karena tak kuat menghadapi kemiskinan keluarganya, jadi copet. Dan dia ikut acara itu demi membuktikan bahwa ada cara terhormat untuk lepas dari kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya, seorang peserta tak dapat bernyanyi karena desakan emosinya keluar demikian tiba-tiba. Dia, kata Melly Goeslaw, lebih seperti "curhat" daripada bernyanyi. Ternyata, lagu yang dia lantunkan adalah ungkapan dari kondisi yang dia alami. Berkali-kali, tangisnya saja yang tumpah. Sampai Titi DJ mendatanginya, memeluknya, dan memintanya untuk menenangkan diri, sebelum bernyanyi lagi. Peserta cantik itu sepertinya korban lelaki, dan kini sendiri, mengasuh bayi benih cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota lain, kisah semacam ini terus saja tersaji. Dan juri, entah kenapa, selalu terbawa pada suasana. Indra jadi tampak cengeng di depan kisah semacam ini. Matanya selalu berkaca-kaca, dan kehilangan suara. Titi DJ pun sama, Anang juga. Mereka seperti terpesona, tersihir, tapi bukan pada suara. Dan biasanya, peserta dengan kisah semacam ini, selalu sampai ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi sesungguhnya? Di tahun pertama, Indonesian Idol punya Delon. Tampan dan memiliki kesedihan yang sama, muncul dari keluarga tak berpunya. Tapi penonton ingat, rasa iba juri tak terlalu tampak menyengat. Mutia Kasim, juri saat itu, bahkan selalu menjatuhkan Delon, sebagai peserta yang hanya menjual tampang, tanpa kualitas suara. Di beberapa babak akhir, juri bahkan seakan bersepakat untuk tidak menjadikan Delon sebagai juara, dengan komentar dan mimik yang sangat menyangsikan Delon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sikap ini berubah di tahun ketiga, ketika mereka menemukan Ihsan. Lelaki satu ini menyita perhatian yang luar biasa bukan karena kemampuan vokalnya melainkan kisah keluarganya. Titi DJ bahkan ke mal hanya untuk membelikannya busana yang lebih pantas untuk tampil di pentas. Kisah keluarganya, terutama episode ibu Ihkan yang terpaksa menjual cincin kawin sebagai biaya dia ke Jakarta, menghipnosa juri dan penonton. Dan selanjutnya, jalan lempang tersdia untuk Ihsan. Sepanjang ajang, tak ada komentar pedas untuknya. Jika pun penampilannya buruk, diksi yang memaklumi selalu lahir dari bibir para juri. Ihsan akhirnya menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ajang keempat ada Sarah, &lt;I&gt;single parent&lt;/I&gt;, cantik, dengan kisah yang membuat Titi pun acap terdiam. Pujian selalu lahir untuk penampilan "lady rocker" ini, meski penonton mencukupkannya di lima besar. Penonton, barangkali, mulai menyadari, juri tak bisa jadi acuan lagi. Kemenangan Ihsan karena kisah hidupnya, membuat penonton mulai tahu bagaimana memandang itu acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Suara Muktamar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pengkhianatan terbesar "Indonesian Idol" bukan pada kemenangan airmata melawan suara, melainkan hak penonton yang dikebiri. Dan masalah itu tak pernah jelas sampai kini, menyangkut "Indonesian Idol" pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun pertama itu, penonton tahu juri begitu takut jika Delon, yang "hanya menjual tampang" jadi jawara. Maka seluruh komentar seperti berusaha menjatuhkannya. Kesinisan yang memancing iba, dan membuat penonton terus mendukungnya, sampai final. Delon memang tidak juara, dan juri tersenyum puas karenanya. Joy Tobing, yang memang bersuara luar biasa, meraih posisi pertama. Penonton memilihnya karena kualitas yang teruji, dan mendudukkan Delon pada posisi yang tak pantas jadi hinaan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di mana Joy kini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mencari wakil "Asian Idol", juara pertama "Indonesian Idol I" diakukan pada Delon, bukan Joy. Nama Joy bahkan tak pernah lagi disebutkan dalam penyelenggaraan acara ini, seperti dihindari, dilupakan. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;Joy memang bersiteru dengan Fremantlemedia, pihak yang punya lisensi menyelenggarakan acara ini di Indonesia. Pokok perseteruannya sederhana, sebelum jadi jawara, Joy ternyata sudah punya kaset dengan label lain. Padahal, sebagai jawara, hanya BMG dan Fremantlemedia yang berhak menentukan kaset dan lagunya. Joy merasa dia tak melakukan kesalahan, karena semua yang dia lakukan sebelum ada kontrak. Tapi Frementlemedia kukuh, dan kemudian "membuang" Joy.&lt;br /&gt;Masalahnya, apa hak Fremantlemedia membuang gelar Joy? Apa pun "kesalahan" Joy, Freemantlemedia tidak punya hak mencopot gelarnya karena posisi itu bukan mereka yang mendudukkannya. Joy menang melalui sebuah "pesta" langsung yang dipilih penonton. Dan seharunya, penonton juga yang berhak menjatuhkan atau membatalkan posisinya. Joy ibaratnya adalah Muhaimin Iskandar, yang hanya bisa dipecat atau mundur, atas persetujuan muktamar. Tapi, sampai kini, pernahkan penonton dilibatkan dalam persoalan Joy? Freemantlemedia, dan juga &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; menganggap penonton tidak ada, dan jutaan SMS yang mendudukkan Joy sebagai jawara, yang juga merupakan sumber utama pendapatan Freemantlemedia, sebagai sampah belaka. Betapa naifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesian Idol" seperti acara &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; lainnya memang tak pernah menunjukkan realitas yang sebenarnya. Selalu ada pengaburan, penghiperbolaan, untuk memberikan efek kejut bagi penonton. Penonton, tanpa sadar, adalah kawanan yang diarahkan, dipaksa, untuk menjatuhkan pilihan pada sosok yang menurut penyelenggara dapat diterima pasar. Namun, apa pun alasannya, ketika penonton sudah memilih, penyelenggara harus menghormatinya. Cukup Joy saja yang menjadi korban, cukup Ihsan saja yang dimenangkan karena airmata. Karena Freemantlemedia bukanlah dewan syura yang dapat membekukan atau melakukan apa saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 20 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-732336256705619225?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/732336256705619225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=732336256705619225' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/732336256705619225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/732336256705619225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/pengkhianatan-indonesian-idol-atawa.html' title='Pengkhianatan Indonesian Idol &lt;br&gt;atawa Kemenangan Air Mata Melawan Suara'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/SAhRZ-6L8OI/AAAAAAAAAG0/lULwf-n5MqQ/s72-c/idol-sephia3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-69740042506196179</id><published>2008-04-10T15:31:00.004+07:00</published><updated>2008-04-18T14:53:38.812+07:00</updated><title type='text'>Artis dan Diksi yang tak Bunyi</title><content type='html'>Dalam banyak acara non-gosip, para artis seperti keledai tersasar ke kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_3SVg02_sI/AAAAAAAAAGs/dVub5I-hxA4/s1600-h/perspektif.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_3SVg02_sI/AAAAAAAAAGs/dVub5I-hxA4/s400/perspektif.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187533612831407810" /&gt;&lt;/a&gt;Putri Patricia tergelak. Sesekali dia mengangguk, tersenyum, atau menggeleng. Tangannya acap bergerak menurunkan tepi roknya yang kadang gagal menutupi lutut bersihnya, atau merapikan rambutnya. Matanya fokus mengikuti percakapan HS Dillon dan Wimar Witoelar yang duduk di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di acara "Perspektif Wimar" yang tayang di &lt;I&gt;Antv&lt;/I&gt;, Rabu pagi (9/4) itu, Putri pasti merasa sepi. Ia berada dalam lalu-lalang pertanyaan dan jawaban antara Wimar dan HS Dillon, tapi tak terlibat di dalamnya. Di beberapa menit terakhir, Wimar bahkan memborong semua pertanyaan, terkekeh-kekeh sendiri. Putri tak dia libatkan. Kamera pun bahkan menjauhi Putri, bergerak fokus untuk Wimar dan HS Dillon. Kehadiran Putri diingkari. Padahal, di acara itu, dia menjadi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt;, orang kedua setelah Wimar, yang bertugas mengulik, mendebat, bertanya, atau sekadar bergumam, untuk memancing reaksi atau tanggapan dari narasumber atas masalah yang mereka angkat. Rabu pagi itu, Putri pasti menggumam, betapa jauhnya dia dari tema yang Wimar dan HS Dillon bicarakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri tidak sendiri. Meski tidak terlalu "sunyi", Refalina S Temat pun tak banyak berbuat ketika menjadi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; Wimar. Ia cuma menyumbang sepatah-dua kata, bagi kegesitan Wimar yang mengorek "perspektif" Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Untunglah, posisi duduk calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; yang menyampingi kamera dapat "menyembunyikan" kehadiran mereka, sehingga penonton tak merasa terlalu terganggu. Apalagi, kehadiran mereka ternyata "cuma" untuk mendekatkan acara itu pada khalayak yang lebih muda, seperti tertera di situs Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Saling Bertentangan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Putri Patriacia, Revalina S Temat, dan juga Wulan Guritno menjadi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; dalam acara itu kian menegaskan posisi artis dalam permasalahan sosial negeri ini. Mereka tidak terlibat, dan jika pun dilibatkan, mereka sulit masuk. Memang harus diakui, posisi Wimar dan kecerdasannya melemparkan pertanyaan menjadi dilema sendiri bagi calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt;-nya. Wimar tak menyisakan peluang atau jatah bagi mereka, karena "celetukan" yang ringan dan kecil pun, mungkin secara otomatis, terus keluar dari Wimar. Calon &lt;I&gt;co-host&lt;/I&gt; kalah cepat, dan harus "mengejar" sebelum Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari acara "Perspektif", kalangan artis memang kesulitan mengungkapkan masalah yang berada di luar diri mereka. Ketika memasuki ranah yang bukan gosip, mereka acap kehilangan kata-kata. Kalaupun mampu mengungkapkan pendapat atau sanggahan, opini mereka terasa aneh, mengangkasa, dan tak sadar, saling bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar sergahan Dewi Persik ini, "Saya cuma takut pada Allah. Kalau Allah yang melarang, baru saya patuh. Bukan walikota atau yang lainnya...." Dewi dilarang untuk bergoyang di Tangerang, dan dia meradang. Dewi mengecam larangan itu, seperti yang berkali-kali tayang di infotainmen. Sanggahan Dewi, sekilas memang benar, "hanya Allah yang dia takuti." Tapi, argumentasi ini bukankah justru melawan dirinya sendiri, dan bukan membantu. Karena jika sungguh Dewi takut pada Allah, tentulah dia tak akan bergoyang aurat begitu. Bukankah bergoyang syahwat itu memang larangan dalam agama mana pun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi yang tak berbunyi semacam itu secara kentara juga tampil di "Silat Lidah" &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;. Opini-opini yang terlontar dari Julia Perez, Aline, atau Djenar Maesa Ayu, lebih mengejar efek bombasme, kejutan, meski tanpa isi. Akibatnya, masalah yang serius hanya jadi  tunggangan untuk menunjukkan betapa "berani" opini mereka, dan bukan nilai kemasukakalannya. Nalar seakan ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi semacam itu pun menjangkiti acara-acara &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; pencarian bakat. Para juri kerap menilai dengan opini yang membuat peserta mengerutkan kening, karena kesulitan menangkap esensi penilaian itu. Bahkan ketika memuji pun, kosa kata mereka berkelindan hanya dari itu ke itu. Juri "Indonesian Idol" beberapa tahun ini memberikan diksi, pilihan kata, yang nyaris sama. Artikulasi yang tak diperbaharui. Indra Lesmana, Titi DJ atau Anang, masih selalu tampak mengulang, tidak memberikan perspektif atau pilihan, apa yang pantas untuk dilakukan peserta di kelak hari. Mereka tidak banyak memberi inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan misalnya dengan juri "American Idol". Opini, kritik mereka, meskipun keras, tapi punya arah yang jelas. Bahkan jika pun memuji, artikulasi mereka demikian inspiratif, menggugah bukan hanya untuk peserta malainkan juga penonton. "Syukulah, ada beberapa hal yang membuat kamu bukan jadi makhluk khayalan. Kesalahan kecil tadi membuat dirimu tampak lebih manusiawi, lebih pantas berada di sini," kata Paula Abdul, yang terpukau pada kemampuan salah satu peserta. Paula menemukan artikulasi yang tepat dan mengagumkan, bahwa ketidaksempurnaan penampilan membuat seseorang jadi pantas dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Mekanisme Pasar&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara &lt;I&gt;talkshow&lt;/I&gt; mungkin dapat menunjukkan betapa parahnya artis kita mengartikulasikan pendapatnya. Di "Ceriwis" atau "Dorce Show" acap tampak  artis yang kehilangan diksi untuk hal-hal yang sederhana. Ucapan mereka tak meyakinkan, bahkan untuk penjelasan karier mereka. "Saya sih mengalir saja, Bunda...." Ucapan ini menjadi pilihan mayoritas setelah "Semua kita serahkan pada kuasa Tuhan, Bunda..." Diksi semacam itu, entah mengapa, selalu mendapat tepuk tangan membahana. Padahal, ucapan itu tidak memberikan penjelasan apa pun tentang progres diri, rencana dan eksekusi, atau evaluasi. Bandingkan dengan artis yang hadir di "Oprah Winfrey Show". Artikulasi Jennifer Aniston begitu mengguncang, wacana diri dan kareir Julia Robert membuat penonton terhenyak dan takjub. Artis ini menemukan diksi yang luar biasa untuk menjelaskan apa yang dia raih dan dia impikan, bagian yang riang dan sakit, dan apa yang telah dia lakukan untuk orang banyak. Oprah sendiri menjadi bagian dari pertunjukan  artikulasi dan diksi yang terpemanai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebabnya artis kita acap kehilangan diksi? infotainmen menjawab, pendidikan. Tak heran, jika ada artis yang wisuda atau melanjutkan pendidikan, infotainmen melakukan liputan "mendalam". Dini Aminarti yang lulus S1, juga Andien, tayang nyaris satu minggu. Bahkan Acha yang berkuliah di Malaysia saja, mendapat porsi yang luar biasa. Dian Sastro apalagi, tamat kuliah filsafat, dan magang sebagai asisten dosen, di mata infotainmen, itu peristiwa yang dahsyat. Kadar liputan pun jadi berlipat-lipat. Infotainem barangkali tidak tahu, Judie Foster tamat &lt;I&gt;magna cum laude&lt;/I&gt; dari Yale, dan dapat gelar doktor lebih dari dua universitas. Atau Mira Sorvino yang juga meraih &lt;I&gt;magna cum laude&lt;/I&gt; dari Harvard, dan liputan atas mereka di sana, malah sunyi senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bukan pendidikan yang jadi masalah melainkan "mekanisme pasar" yang membuat artis tak punya waktu dan tak perlu untuk terus membekali dirinya. Pasar tak meminta standar tinggi, hanya berorientasi pada wajah dan kontinuitas produksi. Akibatnya, artis hanya bergerak dari dan dalam kamera, dan abai pada hal lainnya. Dan ketika satu "peran" meminta mereka terlibat dalam globalitas persoalan bangsa, hanya senyum dan anggukan yang mereka bisa, tanpa kata-kata. Putri Patricia dan Revalina S Temat sudah menunjukkannya. Wimar Witoelar seharusnya bisa abai, tak memaksakan diri melibatkan mereka, dan tidak membuat penonton sakit mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 13 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-69740042506196179?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/69740042506196179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=69740042506196179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/69740042506196179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/69740042506196179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/artis-dan-diksi-yang-tak-bunyi.html' title='Artis dan Diksi yang tak Bunyi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_3SVg02_sI/AAAAAAAAAGs/dVub5I-hxA4/s72-c/perspektif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-751531583791090350</id><published>2008-04-03T18:02:00.002+07:00</published><updated>2008-04-03T18:08:58.945+07:00</updated><title type='text'>Membuka Imajinasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_S6TB4j_nI/AAAAAAAAAGk/l2qvF3HweAs/s1600-h/tajuk-imajinasia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_S6TB4j_nI/AAAAAAAAAGk/l2qvF3HweAs/s400/tajuk-imajinasia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184973907096239730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang dapat menghentikan imajinasi? Pertanyaan ini layak dilontarkan setelah tersiar beberapa foto artis yang berpakaian minim, atau berulah "nakal" di diskotik. Nia Ramadhani misalnya, merasa heran ketika fotonya yang berbikini dijadikan berita. Dia merasa wajar jika berbikini di kolam renang. "Kecuali itu mall, itu bisa diomongin," ucapnya. Soal pria yang memeluk dan dia peluk, Nia juga punya jawaban. "Itu saudara saya, nggak mungkinlah mereka &lt;I&gt;ngapa-ngapain&lt;/i&gt;," ujarnya saat ditemui dalam premier film terbarunya &lt;I&gt;Kesurupan&lt;/i&gt;, di Senayan City XXI, Jakarta, Selasa (25/3) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Nia, Julie Estele juga mengemukakan argumen yang sama. Dia merasa heran, mengapa fotonya dengan pakaian renang itu dipermasalahkan. Apalagi, dalam liburan romantis itu, dia bersama kekasihnya, juga diketahui orangtuanya. "Heran saja, mengapa hal itu diributkan," tukasnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davina juga punya jawaban, ketika foto-foto &lt;I&gt;nude&lt;/I&gt;-nya tersebar di internet. "Itu foto fashion," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, foto telanjang Davina memang artistik, hitam-putih, dan tidak menonjolkan sensualitas. Pengaturan cahaya, sudut pengambilan, juga fokus tubuh, menyiratkan pendekatan fotografi yang terencana matang. Jadi, seperti juga Nia dan Julie, foto mereka hadir dalam "konteks" yang dapat diterima, di kolam renang, liburan di Lombok, dan kepentingan fesyen. Yang dilupakan oleh mereka adalah kehadiran jendela imajinasi, ketika melihat foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi tak punya rumah, dia mengembara ke mana pun, tanpa ketetapan arah. Imajinasi hanya butuh pemantik, dan foto-foto Nia, Julie, juga Davina, menyediakannya. Melihat foto mereka, imajnasi bekerja bukan pada apa yang terlihat, melainkan yang tersembunyi, yang tak terekam dalam kamera. "Apa yang mereka lakukan dalam liburan itu? Benarkah mereka sekadar berlibur?" tanya narator "Insert Investigasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak terlihat tapi dapat direka, itulah yang membuat imajinasi bekerja, dan kemudian jadi "berita". Komposisi imajinasi pun dijabarkan dalam satu praduga, jika demikian bebasnya liburan Julie dan Moreno, tentu pacaran mereka pun lebih "berani" dari itu? Imajinasi lebih berkembang lagi, "Apakah mereka tidur satu kamar ketika liburan itu? Benarkah orangtua Julie ikut dan mengawasi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, komposisi imajinasi tidak mengarah ke sana. Tapi, "Insert Investigasi" dan infotainmen lain harus mengelolanya, agar kontroversi tercipta. Foto Evan Sander yang mepet badan dengan lelaki bule pun, menjadi rangkaian imajinasi yang luar biasa. Komposisi cerita disusun, keraguan ditanan, dan kesimpulan disiapkan: Evan Sanders, barangkali, tak sepenuhnya lelaki. Evan belingsatan menghadapi spekulasi ini, dia membatah, dan segera berkabar akan secepatnya menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nia, seperti yang lainnya, bukan tak menyadari peluang imajinasi itu. Dengan menjelaskan konteks peristiwa, juga pelaku  sebagai saudara-saudaranya, dia mencoba menutup cerita bahwa tak ada "hal yang tersembunyi" dari yang tampak. Nia bahkan harus menambah dengan keterangan bahwa orangtuanya sudah tahu, "Mereka &lt;I&gt;nggak&lt;/I&gt; masalah dengan foto itu." Penjelasan itu, bagi Nia, adalah penutup yang jelas untuk menghilangkan purbasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, prasangka, imajinasi, tak akan pernah bisa dikendalikan, apalagi dilarang. Terutama, ketika infotainmen telah menjadi industri yang menggurita seperti ini. Imajinasi harus dihadirkan, dikelola, diliarkan, dalam prasangka-prasangka yang bahkan terkesan mengada-ada. Nia, Julie, dan Davina, barangkali memang jujur menjelaskan konteks foto-foto mereka. Tapi gosip akan selalu meragukannya, dan imajinasi menjadikannya kontroversi. Nia, Julie, juga Davina, seharusnya menyadari hal itu, dan tak perlu mengheraninya. Karena mereka pun hidup dalam dunia imajinasi banyak orang, dan berusaha diimajinasikan khalayak. Ketika foto mereka hadir dalam kesemestaan yang berbeda, mereka harus menerima jika imajinasi menafsirkan berbeda. Bukankah mungkin, foto pribadi itu mereka sendiri yang menyebarkannya, sebagai cara untuk terus berada dalam kepala banyak orang, membuka imajinasi, dalam prasangka, yang membuat mereka dapat terus jadi berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah dimuat dalam "Tajuk", Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 3 April 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-751531583791090350?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/751531583791090350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=751531583791090350' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/751531583791090350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/751531583791090350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/04/membuka-imajinasi.html' title='Membuka Imajinasi'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R_S6TB4j_nI/AAAAAAAAAGk/l2qvF3HweAs/s72-c/tajuk-imajinasia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4444631528528586977</id><published>2008-03-27T14:37:00.004+07:00</published><updated>2008-04-03T18:12:37.257+07:00</updated><title type='text'>Biarkan Saja Anak Berlagu Cinta</title><content type='html'>"Anak-anak harus dijauhkan dari lagu-lagu dewasa dan cinta," kata banyak orang. Bah! Omongan apa itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R-tPtB4j_mI/AAAAAAAAAGc/yuotXlgNQIQ/s1600-h/idolacilik2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R-tPtB4j_mI/AAAAAAAAAGc/yuotXlgNQIQ/s400/idolacilik2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182323431238270562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;B&gt;"YA,&lt;/B&gt; saya prihatin. Memang tidak pantas anak-anak menyanyikan lagu dewasa atau lagu cinta," jawab Adi Bing Slamet ketika ditanya Ulfa, dalam acara "Gebyar BCA" di &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;, Sabtu seminggu lalu. "Miris aku. Bayangkan saja, anak-anak zaman sekarang lebih kenal lagu-lagu milik Peterpan, Matta, Samsons, dibandingkan lagu anak-anak sendiri. Padahal lagu-lagu itu bukan konsumsi mereka. Jadi akan sangat mengganggu pertumbuhan mereka," tambah Andy /rif, dengan mimik bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu namanya pelanggaran hak anak untuk menikmati masa kecilnya dengan lagu-lagu anak yang bisa membuat mereka ceria," ungkap Kak Seto. "Lagu anak-anak zaman dulu &lt;I&gt;tuh&lt;/I&gt; masih layak dinyanyikan, bahkan tak lekang oleh waktu. Seperti `Naik Gunung`, `Naik Delman`"," tambahnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, semua memang prihatin. Dan akar keprihatinan itu dipicu oleh acara "Idola Cilik" yang tayang setiap hari di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;. Di ajang &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; pencarian bakat untuk anak-anak itu, lagu-lagu cinta "milik" kaum dewasa acap tampil. Peserta, anak-anak 12 tahun ke bawah itu, lebih sering menyanyikan lagu-lagu kasmaran dan atau perselingkuhan. "Kekasih Gelap" milik Ungu, "Ketahuan" dan "Playboy" Matta Band, "Aku Mencintaimu Apa Adanya" Once, atau "Munajat Cinta" The Rock, tampil dalam keceriaan dan lengking kanak-kanak. Kadang dengan ekspresi yang tidak klop, namun acap juga sangat mengena, seperti penampilan Kiki atau Siti. Ekpresi yang kena inilah yang barangkali membuat Kak Seto takut, "Anak-anak akan menjadi lebih cepat dewasa karena perkembangan psikoseksualnya menjadi lebih cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Alasan Ideologis&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pendapat di atas, termasuk komentar Tompi di "Insert", menempatkan acara "Idola Cilik" sebagai ajang yang salah, tidak tepat, dan eksploitatif. Dan televisi yang paling kerap menyuarakan opini eksploitasi ini adalah &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;. Tentu, selain sebagai wujud keprihatinan, opini itu juga dibangun dalam perspektif kepentingan bisnis, persaingan acara yang nyaris sama, &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; anak-anak. &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt; memang mencuri start, memotong rencana &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt; yang tengah mempersiapkan "AFI Junior". Jadi, para aktris pemberi opini di atas barangkali tidak menyadari, pendapat mereka didukung bukan karena akan "menyelamatkan" anak-anak, melainkan dijadikan sebagai "peluru" untuk menembak kepentingan lawan bisnis. Karena, sebenarnya, anak-anak memang tak perlu dicemaskan dan atau diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idola Cilik" adalah ajang pencarian bakat untuk menjadi penyanyi. Yang jadi ukuran utama diacara ini adalah suara. Dan untuk mendapatkan gambaran suara yang baik, unik, konstan, mampu menjangkau nada-nada tinggi, dan tidak getar di suara rendah, penyanyi butuh lagu yang tepat. Dan harus diakui, lagu anak-anak tidak mampu secara eksploitatif menunjukkan hal tersebut. Lagu "Naik Delman", "Naik Kereta Api", "Lihat Balonku", "Potong Bebek Angsa", atau "Pelangi", harus diakui, bermain dalam nada-nada yang sederhana, bahkan cenderung sama. Keunikan suara seorang anak tidak akan tereksplorasi secara sempurna jika menyanyikan lagu di atas. Itu terutama karena lagu anak-anak tadi lebih diniatkan sebagai lagu &lt;I&gt;dolanan&lt;/I&gt;, yang lebih mementingkan aspek bermain dan belajar. Beberapa episode "Idola Cilik" yang menampilkan lagu anak-anak seperti di atas --setelah kritik yang bertubi-tubi-- menunjukkan dengan jelas hal ini, kedataran vokal, dan keunikan yang hilang. Anak-anak jadi tampak memiliki kemampuan yang seragam dan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu dewasa jelas berbeda. Dalam suasana kompetitif, lagu-lagu ini mampu menunjukkan secara langsung kualitas vokal peserta. Suara Kiki misalnya, jadi tereksplorasi sempurna ketika menyanyikan "Mengejar Matahari" Ari Laso, dengan jangkauan nada tinggi yang stabil. Dalam lagu itu, suara Kiki menemukan rumahnya. Atau Itamar ketika menyanyikan "Terpesona" Glenn Fredly dan "Reflection" Christina Aquilera, vokalnya sungguh teraksentuasi dengan maksimal. Penyanyi merasa puas, komentator menjadi gampang menilai, penonton langsung tahu siapa yang layak untuk terus maju. Dengan kata lain, lagu-lagu dewasa justru membuat anak-anak tadi mendapatkan keadilan penilaian atas kualitas suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga harus diingat, "Idola Cilik" sarat dengan suasana kompetitif. Dan untuk memenangkan kompetisi menyanyi, selain suara, situasi panggung, dukungan penggemar, sampai aspek personalitas pun harus dimanfaatkan secara maksimal. Penyanyi harus mampu menjalin relasi dan ikatan emosi dengan penonton. Relasi dan jalinan emosi itu hanya akan tumbuh jika penyanyi berada dalam suasana, iklim, ekosistem, dunia, yang sama dengan penonton. Dan harus diakui, dunia penonton --baik itu anak-anak dan orang tua--, adalah lingkungan yang dihidupi oleh lagu-lagu orang dewasa, berlirik cinta dan perselingkuhan. Penyanyi harus masuk dalam suasana itu, dan tidak boleh menafikannya. Karena kalau penyanyi kehilangan relasi, keterhubungan dengan penonton, otomatis dia kehilangan panggung, dan juga suara. Apalagi, untuk kompetisi yang bersandar pada SMS, yang lebih banyak dikirimkan oleh orang dewasa. Jadi, memilih dan menyanyikan lagu cinta adalah persoalan mekanis semata, untuk meraih simpati dan juara. Tak ada alasan ideologis di belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Makna Privat&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran Kak Seto, Tompi, Andi /rif, atau Joshua, berangkat dari paradigma bahwa anak-anak harus berada dalam iklim yang steril dari cengkraman "dunia" dewasa. Namun, kelemahan argumentasi mereka justru terletak dari hal yang paling dasar, menempatkan anak-anak dalam satu sudut pandang saja. Kak Seto dan Andi/rif khawatir lirik cinta akan memengaruhi emosi si anak. Di sini sebenarnya telah terjadi sebuah pengandaian bahwa "anak-anak mengerti dengan lirik tersebut", dan karena itu "berbahaya" bagi jiwa mereka. Masalahnya adalah apakah "pengertian" anak-anak itu sama dengan "pengertian" yang orang dewasa, Kak Seto dan Andi/rif? Jangan-jangan, "pengertian" yang dipahami Kak Seto dan atau orang dewasa lainnya itulah yang dijadikan ukuran "pengertian" anak-anak. Dengan kata lain, opini di atas, kekhawatiran itu, berangkat dari "pengertian" orang dewasa yang diatasnamakan "pengertian" anak-anak. "Pengertian" anak-anak sendiri tidak pernah termanifestasikan. Dengan "pengertian" semacam itu, anak-anak justru telah "didewasakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itulah persoalannya, orangtua yang selalu merasa tahu alam pikir anak-anak. Orang dewasa yang merasa paling tahu apa yang pantas dan tidak bagi anak-anak. Sebuah anggapan bahwa anank-anak adalah makhluk yang gampang retak, mudah tercemari, dan karena itu butuh pertolongan. Padahal, orangtualah yang seharusnya lebih butuh diselamatkan. Proteksi mereka, kecemasan mereka, sebenarnya adalah kekhawatiran pada diri sendiri akan sebuah "masa depan" anak-anak. Padahal, masa depan anak-anak itu, kelak menjadi milik mereka sendirim, bukan milik orang dewasa atau orangtuanya, dan karena itu tidak bisa diarahkan, didesain, apalagi dalam kultur kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah anak-anak. Orang dewasa harus melihat anak-anak sebagai anak-anak. Ketika Kiki menyanyi "Aku Mencintaimu Apa Adanya" Once, yang tersaji adalah ungkapan seorang anak pada orangtuanya yang memilik keterbatasan, cacat fisik tapi bukan cacat cinta. "Pengertian" Kiki bukanlah "pengertian" Once atau Kak Seto. Ekspresi Kiki tidak sebangun dengan luahan rasa Once. Lagu itu dipilih Kiki sebagai "rumah" untuk menampung semua pengalaman pribadinya bersangkutan dengan ayahnya, juga penyataan dia tentang bagaimana mencintai seseorang yang memilik keterbatasan. Dan pengalaman pribadi Kiki tidak sama dengan Once atau Dewiq yang menciptakan lagu tersebut. Dan ketika Kiki bernyanyi, tak ada sebersit ingatan pun yang memperhubungkannya dengan "pengertian" dewasa itu. Lagu dewasa itu, justru sempurna dalam ungkapan kekanakan Kiki. Lagu itu tidak membuat Kiki jadi dewasa. Tak ada yang berbahaya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Kak Seto, Andi/rif, hakikatnya, lagu seperti puisi. Dia menyentuhmu dalam pengalaman personalmu, dalam "pengertian" privatmu. Pengertian itu multak milikmu, berada dalam duniamu. Baik kamu dewasa atau anak-anak. Dan haram hukumnya "pengertian" personalmu itu kamu paksakan jadi "pengertian" orang lain. Karena, jika kamu tetap memaksakan pengertian itu, sungguh kamulah yang tidak dewasa, dan engkaulah yang patut dicemaskan, lebih layak diselamatkan, daripada anak-anak yang bernyanyi cinta dalam pengertian dan dunia kanaknya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 30 Maret 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4444631528528586977?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4444631528528586977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4444631528528586977' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4444631528528586977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4444631528528586977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/03/biarkan-saja-anak-berlagu-cinta.html' title='Biarkan Saja Anak Berlagu Cinta'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R-tPtB4j_mI/AAAAAAAAAGc/yuotXlgNQIQ/s72-c/idolacilik2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-2959553130309105986</id><published>2008-03-12T20:24:00.002+07:00</published><updated>2008-03-12T20:29:12.170+07:00</updated><title type='text'>Ayo Rayakan Keamatiran!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R9faDxJ1yAI/AAAAAAAAAGU/bIBjqrOuXjg/s1600-h/aceh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R9faDxJ1yAI/AAAAAAAAAGU/bIBjqrOuXjg/s400/aceh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176846054954747906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;BULLETIN&lt;/I&gt;, majalah yang telah menjadi "otak" warga Australia, akhirnya padam juga. Scott Lorson, pemimpin majalah itu, dengan sedikit terbata, mengumumkan edisi "Why We Love Australia" sebagai cetakan terakhir, di awal Februari lalu. Padahal, kata Lorson, "&lt;I&gt;The Bulletin has been an institution in Australian publishing and has provided... the best quality, in-depth news and current affairs analysis in the country&lt;/I&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;I&gt;The Bulletin has often set the political agenda, broken many important stories and won many award for journalism over the years&lt;/I&gt;."&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat majalah dengan sejarah 128 tahun itu tumbang?  Harold Mitchell, analis media, punya jawaban.  "Bulletin tidak menemukan jalan untuk menjadi bagian dari Australia yang modern, dan bagian dari kehidupan kami," ucapnya. "Bulletin gagal memodernisasi diri dan bersaing dengan internet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah yang modern, bagi Mitchell, adalah yang menjadikan internet bukan semata  "corong baru" untuk perluasan pasar, melainkan "telinga" untuk mendengar suara warga, dan kanal untuk saling bertukar kuasa produksi-distribusi berita. Itulah yang disebut Mitchell, "Bagian dari kehidupan kami." &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;&lt;CENTER&gt;****** &lt;/CENTER&gt;&lt;/B&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet. Suara warga. Bertukar kuasa produksi dan distribusi berita. Semua kosa kata tadi mengacu pada satu hal: &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; atau jurnalisme warga, sebuah "gerakan" yang muncul sebagai wujud "ketidakpuasan" pada jurnalisme &lt;I&gt;mainstream&lt;/I&gt;. Dalam &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt;, warga adalah konsumen sekaligus produsen berita. Tugas editor, yang biasanya melakukan penyelarasan berita untuk pembaca yang dituju, ditampik. Dalam jurnalisme warga, subjektivitas dibiarkan, kaidah baku penulisan ditanggalkan, sudut pandang boleh bercecabang, opini dan hasutan kadang berkelindan. Semua "dibolehkan" karena &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; adalah warga yang menulis, bukan wartawan, warga yang bercerita, karena berita adalah percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; merayakan kebebasan warga untuk membuat berita, di sini, istilah itu pun cepat meraih gempita. Warga kini punya kuasa, punya justifikasi untuk melakukan hal yang sama dengan wartawan. Ucapan sejumlah pakar disiarkan, Jay Rossen menjadi nabi baru, Tim Porter sebagai khalifah, dan &lt;I&gt;ohmynews&lt;/I&gt; didudukkan sebagai surga yang dituju. Pesta Blogger 2007 pun mengklaim sebagai suara baru Indonesia, dan media mewartakannya sebagai "ajang berkumpulnya pewarta warga". Tak ada yang salah memang, karena sebagai istilah, &lt;I&gt;citizen journalism&lt;/I&gt; memang susah ditentukan, batasnya, juga arahnya. 11 kategori yang dijabarkan Steve Outing dalam "The 11 Layers of Citizen Journalism" kian menegaskan luasnya ranah --sekaligus tidak jelasnya-- istilah ini. Jay Rosen yang menolak mendefenisikan, kian membuat siapa pun warga yang menulis dapat mengklaim diri menjadi bagian dari kegempitaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sebenarnya, siapakah mereka yang dapat disebut sebagai pewarta warga? Apakah blog-blog yang berisi curahan hati dan atau resep masakan? Atau blog berisi puluhan tips, kutipan bijak dari berbagai buku, ratusan opini berupa kritik terhadap "penguasa"? Dan manakah situs yang sungguh menjalankan "prinsip" citizen journalism?  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;&lt;CENTER&gt;*******&lt;/CENTER&gt;&lt;/B&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh, akhir 2004. Tak ada yang mengira tsunami akan menerakakan negeri Serambi Mekah ini. Luluh-lantak. Aceh lebur, tapi media tak bisa mewartakannya. Wartawan sibuk menyelamatkan diri dan atau mencari keluarganya yang hilang. Tak ada gambaran yang jernih bagaimana sebenarnya muasal penderitaan akibat tsunami itu. Media, karena keterbatasan data, sibuk menduga, berspekulasi, dan hanya bercerita tentang korban. Awal kejadian, tak tergambarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, muncullah video dokumenter itu. Jelaslah kini semuanya: bumi yang mendapat getaran pertama, wajah-wajah yang pias-cemas, gerak air pasang, terjangan gelombang, jeritan, doa, pekikan Allahuakbar! Selebihnya adalah tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut Putri yang berada di belakang kamera itu. Dia bukan wartawan, cuma warga, yang ingin merekam sejak getar pertama dirasakan keluarganya. Dia semula tak menyangka gempa itu akan menjadi neraka, dan merekam tanpa maksud untuk disiarkan. Karena itu, berkali-kali kameranya goyang, membuat sudut pandang bercecabang. Suara yang terekam pun, bukan nada-nada yang enak didengarkan. Cut Putri jelas amatir. Tapi yang amatir ini, yang merekam suasana apa yang ingin dia lihat, dan bukan apa yang dia bayangkan penonton ingin lihat, meniadakan jarak. Rimbun air mata, lolongan putus asa, demikian jelasnya. Putri tanpa sadar, telah membuat pengalaman personalnya menjadi pengalaman publik. Publik melalui "kacamatanya" mendapatkan sesuatu yang murni, tanpa "frame", tanpa tendensi, juga bunga kata. Sudut-sudut yang ditangkap kameranya adalah jejak yang tak biasa, yang pasti tak akan mendapat tempat dalam kamera jurnalisme biasa; papan yang hanyut, gerak air meninggi, patahan pelepah kelapa, kata-kata cemas dan juga desis harap, kronologi yang semula tak mungkin tampil di televisi karena alasan durasi. Kamera putri adalah mata orang yang terlibat, yang tak berjarak dengan peristiwa. Dia mengalami dan bukan sekadar melaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sampai kini, siapa yang "mengikuti" jejak Putri? Ada berapa banyak pewarta warga yang mampu melihat dan menjadikan "pengalaman personal menjadi milik publik"? Atau sebaliknya, pengetahuan publik menjadi pengalaman personal, sebagaimana yang dilakukan warga Kanada, ketika merekam polisi yang memerasnya di Bali? Pemerasan, pungli yang dilakukan polisi adalah rahasia umum, tapi sampai kini, "rahasia" itu tidak menyentuh, tidak menggerakkan karena tidak "dikelola" menjadi situasi yang personal. &lt;I&gt;Citizen Journalism&lt;/I&gt;, karena dari warga, seharusnya menangkap secara utuh denyut urat nadi warga, yang mampu membangun jalinan emosi, dan kalau bisa, menggerakkan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri juga menunjukkan satu aspek yang sangat penting, lokalitas. Yang tampil adalah wajah orang-orang terdekatnya, lingkungan sekitar rumahnya, kecemasan dan dengung Allahuakbar ninikmamaknya. Lokalitas, subjektivitas, ketakberjarakan. Itulah yang coba ditampik jurnalis "tulen", dan mendapat tempat di pewarta warga. Tapi, manakah situs atau media yang secara ketat mengadopsi tiga hal itu? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;CENTER&gt;&lt;B&gt;****** &lt;/B&gt;&lt;/CENTER&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana video Cut Putri ditayangkan? Di &lt;I&gt;MetroTV&lt;/I&gt;. Media mana yang memuat video pungli yang dilakukan polisi Bali? Youtube, dan kemudian dikutip &lt;A HREF="http://detik.com"&gt;detik.com&lt;/A&gt;, dan juga &lt;A HREF="http://suaramerdeka.com/smcetak" TARGET="_blank"&gt;Suara Merdeka&lt;/A&gt;. Situs yang mengusung khusus kredo &lt;I&gt;citizen jornalisme&lt;/I&gt;, berapa hitnya atau cepatkah &lt;I&gt;up-date&lt;/I&gt;-nya? Lebih banyak mana hit dan kecepatan beritanya, di bandingkan dengan "citizen journalism" yang juga dikelola media umum seperti &lt;A HREF="http://www.kompas.com" TARGET="_blank"&gt;&lt;I&gt;kompas.com&lt;/I&gt;&lt;/A&gt; dan &lt;I&gt;&lt;A HREF="http://citizennews.suaramerdeka.com" TARGET="_blank"&gt;Suara Merdeka Cybernews&lt;/A&gt;&lt;/I&gt;? Darimana sumber pembiayaan mereka? Sudahkah dilirik pengiklan? Apakah "percakapan" terjadi secara alamiah, dengan keterlibatan yang intens? Benarkah pewarta berada dalam kelokalan yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Australia, Majalah &lt;I&gt;Bulletin&lt;/I&gt; yang berusia 128 tahun memang runtuh, karena gagal beradaptasi dengan internet, tidak berbagi kuasa dalam pendistribusian berita, yang seperti kata Mitchell, "Bagian dari kehidupan kami." Dan di sini harus kita akui, internet justru belum menjadi bagian dari kehidupan kita. Karena itu, &lt;I&gt;citizen journalisme&lt;/I&gt; belum akan menjadi ancaman bagi media &lt;I&gt;mainstream&lt;/I&gt;. Kita mungkin lebih baik untuk menyetiainya, mengembangkannya, merayakannya, karena warga memang punya kuasa atas produksi dan distribusi berita. Karena kita percaya, warga memang bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Pokok pikiran dalam seminar "Citizen Journalisme: Ancaman bagi Media Massa" di UNS, Solo, 29 Februari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-2959553130309105986?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/2959553130309105986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=2959553130309105986' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2959553130309105986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/2959553130309105986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/03/ayo-rayakan-keamatiran.html' title='Ayo Rayakan Keamatiran!'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R9faDxJ1yAI/AAAAAAAAAGU/bIBjqrOuXjg/s72-c/aceh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-971273372585772237</id><published>2008-03-04T19:32:00.005+07:00</published><updated>2008-03-04T19:50:47.377+07:00</updated><title type='text'>Tangis Kemenangan Indra Brugman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R81CBQO12tI/AAAAAAAAAGM/Vwb9gYtHmaY/s1600-h/indra.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R81CBQO12tI/AAAAAAAAAGM/Vwb9gYtHmaY/s400/indra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173864136223087314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDRA Brugman kalah juga. Berkali dia mengucek, menahan cairan hangat itu jatuh, namun ketika di sudut kanan, matanya menangkap isakan Mama Mimi, tangisannya pun pecah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Indra kalah, melawan kenangan pedih ketika melihat Mama Mimi berjualan gorengan untuk membiayai keluarga mereka. Dia tahu betul bagaimana pengorbanan Mama Mimi saat itu, tapi Indra tak kuasa membantu. Itulah sebabnya, ketika di Jakarta, setiap ada penjual gorengan, Indra selalu membelinya, kalau bisa menghabiskannya. "Karena saya selalu berdoa, di sana, di rumah, ada juga yang membeli gorengan Mama, dan menghabiskannya..."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa malam itu (26/2), panggung grandfinal "Supermama Seleb Concert" jadi milik Indra. Semua penonton seperti terhisap pada kenangan masa lalunya, yang demikian pedih. Tak ada lagi akting. Indra luruh, dan mengisak, tangisan anak yang demikian sakit karena merasa dalam salah satu episode hidupnya, pernah membuat sang mama berkorban terlalu besar. Dia peluk Mama Mimi, dia abai pada ingus yang jatuh dari hidungnya. "Terimakasih Mama, terimakasih..." bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang mereka, Eko Patrio menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi kiri, di jajaran peserta, Mama Lutfia, terisak. Tangannya digenggam Adly, putranya, seakan memberikan kekuatan, untuk tak larut dalam kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruben Onsu, yang selalu bercanda gila, seperti kehilangan suara. Ivan Gunawan, yang meminta Indra bercerita, memandang dengan mata berkaca. Dia juga menahan sedan. Panggung "pesta" itu senyap. Isakan, suara tangis, menjadi orkestra yang demikian indah, musik yang bercerita kasih anak dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Eko kemudian memberi nilai yang lebih dalam lagi. Sehabis melap matanya, dengan suara yang belum bebas dari tangis, dia berkata, "Yang penting dari kita adalah bukan di posisi mana saat ini, melainkan bagaimana cara kita bisa meraih posisi itu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Eko benar. Yang menggetarkan dari pengamanan Indra Brugman bukanlah posisinya sekarang sebagai aktor terkenal, melainkan perjuangannya meraih itu semua. Dengan kata lain, Indra meraih semua posisi itu dengan tidak menggadaikan kehormatannya, harga dirinya. Indra membayar pantas, tanpa jalan pintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Indra, dengan demikian, nyaris jadi anomali dalam dunia industri. Ketika semua orang ingin cepat populer, yang patuh pada proses, sering terlindas. Yang cepat, dapat. Jalan pintas, wajar dan benar. Industri membuat semua orang lebih menghitung posisi. Berada dalam satu status, terutama selebritis, adalah segalanya. Apa pun boleh dikorbankan untuk meraih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu berbagai rumor seram dalam hal itu, mulai membayar juri, "menjual" keperawanan, sampai menjadi istri simpanan, hanya untuk meraih sebuah peran. Dan banyak artis yang mengakuinya, kemudian. Mereka seakan mengatakan bahwa hal itu adalah harga dari sebuah popularitas, sebuah tujuan. Moral orang kebanyakan jadi tidak cocok sebagai ukuran. "Gue terpaksa melakukan itu," kata Cut Memey, ketika statusnya sebagai istri simpanan Jakcson terungkap. Alm Alda Risma pun punya "sejarah" yang sama, juga Mayangsari, tentunya. Dan yang tak terbantahkan, "si kembar" Sarah dan Rahma Azhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, terasa ajaib, ketika di tengah tangis panggung "Supermama seleb Consert" itu, Eko menegaskan bahwa posisi tak terlalu berarti. Barangkali Eko tahu, sangat sedikit artis kini, yang meraih posisinya dengan meneteskan airmata, dan terus berjuang, tetap sebagai manusia. Eko mengerti, karena seperti Indra, dia pun melakukannya. Mereka bermimpi dan mewujudkan mimpi itu dengan sempurna, sebagai buah usaha dan doa. Tangis malam itu, adalah isakan mereka yang bahagia, tetap memilih menjadi manusia, di jalan yang menjadi binatang pun akan dianggap biasa. Tangis itu adalah perayaan kemenangan mereka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah dimuat sebagai "Tajuk" dalam &lt;I&gt;Tabloid Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 6 Maret 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-971273372585772237?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/971273372585772237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=971273372585772237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/971273372585772237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/971273372585772237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/03/kemenangan-indra-brugman.html' title='Tangis Kemenangan Indra Brugman'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R81CBQO12tI/AAAAAAAAAGM/Vwb9gYtHmaY/s72-c/indra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8238726401962985354</id><published>2008-02-20T15:12:00.001+07:00</published><updated>2008-02-20T15:16:44.840+07:00</updated><title type='text'>DNA Gosip</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R7vhzjBQyeI/AAAAAAAAAGE/5AoI1vj6mG4/s1600-h/mayangsari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R7vhzjBQyeI/AAAAAAAAAGE/5AoI1vj6mG4/s400/mayangsari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168973273027889634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kejam gosip, barangkali Jenny Nuraeni yang paling tahu saat ini. Setahun lalu, dia kehilangan putranya, Adi Firansyah, dalam sebuah kecelakaan berdarah. Di tengah tangis kehilangan, dia masih harus menghadapi rentetan pertanyaan tentang status perceraian anaknya, perebutan harta waris, sampai gosip asmara Adi dan Ussy Sulistyawati. Tapi Jenny menghadapi semuanya, kadang dengam masgul, sebagaimana yang acap tampak di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, Jenny tidak tahu lagi harus berkata apa. Gosip menyebutkan, Khirania Siti Hartina, anak Mayangsari, adalah benih yang ditanam Adi, dan bukan buah cinta Mayang dan Bambang. "Anak saya sudah meninggal. Kok sekarang malah dikait-kaitkan dengan permasalahan orang-orang besar. Berita itu tidak mungkin!" bantahnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Jenny, gosip itu bukan hanya menyakiti hatinya sebagai seorang ibu, tapi juga menakutkan. Dia ngeri, gosip itu tak hanya mengaitkan Adi, tapi juga seluruh keluarganya. "Saya khawatir dengan keluarga saya. Terutama adik-adik almarhum," katanya. "Semua orang tahu, Bambang adalah suami Mayang. Tapi kok kenapa almarhum anak saya yang disebut-sebut sebagai ayah Khiran," tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny tidak sendiri. Dalam kadar yang berbeda, Luna Maya pun mengalami hal yang sama. Ariel mengajukan cerai, namanyalah yang digosipkan sebagai orang ketiga. Luna sampai tak mengerti, mengapa media selalu menyangkakan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan. Dia bahkan sampai putus asa. "Terserahlah kalian mau bilang apa..." katanya kepada media infotainmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman gosip terutama bukan pada kabar yang beredar, tapi sumber yang tidak dapat ditemukan. Gosip tak memiliki sumber, datang sebagai kabar angin. Dan karena itu, tak pernah ada dakwaan pada si penunggang gosip. Pewarta gosip, dengan kilah itu, jadi memiliki kebebasan untuk bertanya, tanpa beban apa pun. Yang mereka butuhkan bukanlah jawaban apakah gosip itu benar atau salah, tapi reaksi dari pihak yang disudutkan. Reaksi itulah yang penting, kaget-kejut itulah yang utama. Karena itu, kamera tak boleh alpa merekam reaksi, dan narator tak boleh lupa menambahkan pemanis kata-kata. Dan karenanya, gosip adalah bumbu yang dikembangkan dengan hiperbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat melihat sungguh hal itu di televisi. Reaksi Ariel yang kaget ketika ditanyakan hubungannya dengan Deanaya, janda pemilik salon di Bandung, sudah menjadi jawaban atas semuanya. Apa pun bantahan Ariel, narator tidak mengindahkannya. Reaksi tubuh itulah jawabannya, sebuah reaksi yang, mengutip kata narator "Insert", "sesuatu yang tidak dapat disembunyikan..." Reaksi itu diubah infotainmen menjadi pembenaran, ke-be-na-ran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah cara kerja gosip. Dan pewarta rumor sangat paham hal ini. Mereka tak perlu menunjukkan dari mana kabar itu datang, dan siapa yang mengatakan. Dan mereka berhak marah, atau memaksa, jika objek gosip tak mau menjawab pertanyaan. Rasa sakit, terluka, ketakmengertian yang diterima si objek atas rentetan gosip itu adalah hal yang dicari, dan kalau bisa, dimunculkan, untuk disantap kamera. Gosip mencapai keberhasilan, dan dianggap benar, ketika si sumber ketakutan, cemas, menghindar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Jenny tidak menghindar. Dia tahu, almarhum Adi tak lagi bisa membela diri, ketika gosip mempermalukannya. Ibu yang wajahnya tampak letih itu bersedia melakukan apa pun untuk membersihkan nama anaknya. "Saya siap membuktikan dalam bentuk apa pun, termasuk tes DNA," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayang dan juga Bambang tak pernah memasalahkan soal Khiran. Jadi, kalau pun tes DNA dilakukan, pembuktian itu untuk siapa? Selain Bambang dan Mayang, siapa sesungguhnya yang punya hak untuk mencari tahu DNA Khiran? Dan kepada siapa pembuktian itu akan diberikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip tidak mementingkan hal itu. Karena, ketika gosip tersebar, dirinya telah menjadi kebenaran. Sebelum dibuktikan, sebelum konfirmasi dilakukan. Maka beruntunglah orang yang tidak terkena gosip, dan celakalah, orang yang memproduksi dan atau menunggangi gosip, lalu bertanya tanpa rasa dosa, terutama untuk Adi Firansyah, yang telah tak ada lagi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosip adalah senjata tak bertuan. Melukai, menyakiti, tanpa pernah bisa dimintai pertanggungjawaban. Ajaibnya, betapa banyak yang menikmatinya, setia memamahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Diterbitkan sebagai "Tajuk" di &lt;I&gt;Tabloid Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 21 Februari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8238726401962985354?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8238726401962985354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8238726401962985354' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8238726401962985354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8238726401962985354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/02/dna-gosip.html' title='DNA Gosip'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R7vhzjBQyeI/AAAAAAAAAGE/5AoI1vj6mG4/s72-c/mayangsari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-7537096018799610942</id><published>2008-02-05T14:17:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:25:57.372+07:00</updated><title type='text'>Ketika Peranan Menjadi Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R6gPKxonXoI/AAAAAAAAAF8/GZPb5U6OCko/s1600-h/tajuk-peran.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R6gPKxonXoI/AAAAAAAAAF8/GZPb5U6OCko/s400/tajuk-peran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163393650577071746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa dalamkah sebuah peran merasuki hidup seseorang? "Beberapa hari setelah usai syuting, aku masih merasa diriku ini orang lain. Butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari karakter yang aku perani. Kadang aku takut diriku tak pernah seutuhnya bisa kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengakuan aktor Robert De Niro, yang aktingnya selalu berbuah pujian. Pengakuan yang menunjukkan bahwa memainkan dan masuk dalam sebuah karakter bukanlah hal mudah. Namun, keluar dari watak yang telah dimainkan ternyata lebih sulit lagi. Karena itulah, aktor "jenius" ini tak sembarangan memilih peran. Ada bagian dirinya yang harus selalu siap dipertaruhkan. Memerankan adalah mengizinkan dirinya "dibawa" watak lain, tanpa ada kepastian bisa kembali. Film bagus &lt;I&gt;Being John Malkovich&lt;/I&gt; menunjukkan dengan manis akibat ketika sebuah peranan tak bisa keluar dari diri sang aktor.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperan, memainkan dan masuk dalam sebuah watak, dengan demikian adalah sebuah keberanian, dan juga pengorbanan. Dan tidak banyak aktor yang punya keberanian seperti itu, apalagi keridhaan untuk berkorban, khususnya di Indonesia, ketika sebuah peran hanya dimaknai sebagai aksi sebatas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang ada di panggung dan televisi hanya sebuah peran, semata-mata untuk keperluan entertain. Kalau keseharian aku seperti itu, ya memang gaya aku dari sananya. Tidak bisa diubah &lt;I&gt;kali&lt;/I&gt;," kata aming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku santai saja. Hari ini aku pakai bulu mata, mungkin besok aku tampil botak, brewokan atau klimis. Itu hanya tampilan luar saja. Tapi kalau bicara isi, sungguh sama sekali tak ada yang berubah," ungkap Ivan Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia begitu karena tuntutan peran. Ivan seorang lelaki yang berprofesi sebagai desainer. Kalau dia tampil feminin, karena itulah perannya, jualannya," bela Rossa, mantan pacar Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menjadi perempuan buat aku sebuah pekerjaan. Kenapa tidak? Aku dibayar karena aku tampil sebagai perempuan. Jadi sebagai wujud profesionalitas saja," tambah Olga Syahputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka --Aming, Ivan, dan Olga, membicarakan peran dengan riang, seperti memakai &lt;I&gt;make-up&lt;/I&gt;, yang beberapa saat kemudian bisa dihapus atau dibuang. Peran, peralihan watak, pemilihan karakter, dianggap sebagai hal yang biasa, lazim, dan dengan enteng diterima karema mereka yakin, "isi sama sekali tidak ada yang berubah." Ivan mengaku tetap lelaki sejati, Aming pun begitu, Olga apalagi. "&lt;I&gt;Astagfirullah aladzim&lt;/I&gt;. Olga tetap laki-laki. Aku menjalani pekerjaan ini untuk mencari rejeki. yang penting halal, tidak menyakiti hati orang. aku diberi peran, ya sudah aku jalani..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olga, Aming, dan Ivan, barangkali tidak menyadari, ada yang selalu tinggal di dalam diri mereka setiap kali peran ditanggalkan. Itulah yang membuat Andy Garcia mengurung diri, karena peran pembunuh acap "mendorongnya" untuk melakukan aksi, justru ketika film telah selesai dibuat.  Artinya, sebuah peran yang mendalam, dan lama dimainkan, akan menjejaki diri sang aktor. Membuat dirinya pelan-pelan, bukan tidak mungkin, dikolonisasi watak peranan. Christine Hakim butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar bisa bebas dari infiltrasi peran yang dia mainkan dalam sebuah film. Pengorbanan yang besar untuk akting yang memang selalu bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aming, Ivan, dan Olga, bisa merasa diri tetap tak berubah, atau berpura tak menyadari diri berubah. Tapi, lihatlah, sekeliling mereka pasti dapat meraba perubahan itu. Di Thailand pada saat pergantian tahun lalu misalnya, Aming yang berlibur ke Pattaya, ditolak memasuki arena hiburan karena dia dinilai &lt;I&gt;ladyboy&lt;/I&gt; alias banci. Aming marah. Tapi kemarahannya tak mampu meyakinkan penjaga bahwa dia adalah lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olga pun mengakui hal itu. Pulang manggung, di jalan dia digoda lelaki bule, karena dikira banci. "Mungkin aku tampak lebih cantik daripada perempuan asli ya?" katanya, bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olga, Aming, merasa terbebani dengan peran itu. "Saya pakai &lt;I&gt;image&lt;/I&gt; banci karena memang lagi digemari. Nanti jika mereka sudah bosan, aku akan mencari ladang lain," yakin Aming. Mencari ladang lain, memerankan karakter lain, Aming mungkin bisa. Tapi, apakah dia sepenunnya bisa membuang karakter banci yang bertahun-tahun dia temani dan tumbuhkan di dalam dirinya? Bisakah Aming atau Olga memisahkan diri antara Aming yang banci dan Aming yang lelaki? Karena, sehari-hari pun, Aming telah nyaman memakai busana perempuan, berkaos ketat dan berstoking panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan, Aming dan Olga, seperti Tata Dado juga, tak menyadari, atau tak ambil peduli, jika peran banci yang mereka mainkan kini, suatu hari, kelak, akan menjadi diri mereka sendiri. Pengorbanan yang terlalu berani atas nama peran, yang sesungguhnya, maaf, tak terlalu berarti, karena sekadar memancing tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Rabu 6 Februari 2008]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-7537096018799610942?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/7537096018799610942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=7537096018799610942' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7537096018799610942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/7537096018799610942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/02/ketika-peranan-menjadi-diri.html' title='Ketika Peranan Menjadi Diri'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R6gPKxonXoI/AAAAAAAAAF8/GZPb5U6OCko/s72-c/tajuk-peran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8427037945005797991</id><published>2008-01-24T12:57:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T13:02:08.242+07:00</updated><title type='text'>Cinta, Gairah, Arah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5gpkRonXnI/AAAAAAAAAF0/3u8VRDfp2NE/s1600-h/tyas+mirasih2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5gpkRonXnI/AAAAAAAAAF0/3u8VRDfp2NE/s400/tyas+mirasih2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158919076338687602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG ketiga. Itulah sebab perpisahan Andrea dan Sammy Kerispatih. Meski Sammy membantah, Andrea tetap yakin hubungan antara Sammy dan Natalie bukan sekadar pertemanan biasa. "Aku melihatnya, kok. Jadi bagaimana aku tidak percaya?" katanya. Dan Andrea benar. Natalie pun merasa bahwa Sammy memberi hati padanya. Seperti tayang di layar kaca, Natalie mau "jalan" setelah Sammy mengaku telah berpisah dari Andrea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya melihat tujuan kami telah tak sama lagi," terang Andrea. Ia bersedih, terutama setelah Sammy menampik cincin yang mereka kenakan sebagai tanda ikatan pertunangan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas Mirasih berbeda lagi. Awal tahun lalu, dia masih bermesraan dengan Lembu Club Eighties. Di tengah tahun, dia menjalin cinta dengan Raffi. Dan bulan September, dia berciuman dengan Bams Samson. Akhir tahun, Tyas sendiri lagi. Dalam setahun, tiga lelaki telah singgah di hatinya, dan ketiganya kemudian pergi. Dan ketika tampil di "Empat Mata", dengan enteng Tyas berkata bahwa perpisahan mereka terjadi karena ketidakcocokan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakcocokan barangkali bukan alasan yang sempurna. Karena kepada tiga lelaki itu, Tyas nyaris melakukan pola yang sama. Bersama Lembu, Tyas berpose mesra di Sanur Bali. Dengan Raffi, Tyas memeluk pasrah, di pantai Kuta. Dengan Bams apalagi, mereka tertangkap kamera berciuman, di belakang panggung ketika Samsons akan manggung, di Bandung. Sammy pun setali tiga uang. Bersama Natalie yang sintal itu, dia tampak begitu mesra, dan seperti bangga ketika tertangkap kamera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta harus dimulai dengan gairah. Namun, cinta yang hanya dimodali gairah juga selalu cepat punah. Dan itulah yang tak disadari Tyas dan Sammy. Gairah memang membuat cinta jadi indah, tapi pasti sementara. Sebabnya satu,  gairah meminta misteri, hasrat yang tak pernah terpuasi. Dan ketika misteri cinta itu terkuak, hasrat terpuasi, gairah pun reda. Cinta kehilangan pesonanya, kehilangan kesetiaannya. Foto-foto ciuman mereka juga adalah bukti gairah yang sedang dipenuhi, gairah yang tertuntasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta harus dimulai dengan gairah, dan dipertahankan lewat arah. Inilah bagian cinta yang tidak dipunyai Tyas dan Sammy: arah. Karena bersandar pada gairah, Tyas tak pernah tahu akan ke mana muara asmaranya. "Kami mengalir saja. Kami tidak ingin menargetkan apa pun pada hubungan ini," demikianlah kata Tyas ketika masih berpacaran dengan Raffi. Tyas tidak punya tujuan, tidak memberi arah pada sebuah hubungan. Dan tanpa arah, sudah pasti, sebuah pasangan cuma menunggu waktu untuk berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana hidupku jika tanpa dia," kata Surya Saputra ketika melamar Cintya Lamusu. Dan di atas panggung "Seleb Dance" itu, Cintya biarkan Surya menyematkan cincin di jarinya. Dengan mata bercahaya takjub, yang tak lepas memandang paras kekasihnya, dan bibir yang gemetar, dia hanya berucap pendek, "Terimakasih..." Selebihnya adalah tangis. Cintya bahagia karena dia percaya, mereka berdua telah menemukan dan berada dalam cinta, dengan gairah dan arah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dimulai dengan gairah, dan harus diikat oleh arah. Hanya dengan itu cinta bisa awet dan setia. Sungguh betapa sederhana. Sayang, begitu banyak yang tak menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Kamis 24 Januari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8427037945005797991?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8427037945005797991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8427037945005797991' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8427037945005797991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8427037945005797991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/cinta-gairah-arah.html' title='Cinta, Gairah, Arah'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5gpkRonXnI/AAAAAAAAAF0/3u8VRDfp2NE/s72-c/tyas+mirasih2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-4115275076593022145</id><published>2008-01-21T19:12:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T14:32:56.160+07:00</updated><title type='text'>Mereka yang Menasehati Diri Sendiri</title><content type='html'>Banyak orang yang tak menyadari, nasehat yang mereka berikan sebenarnya lebih cocok untuk diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5SNQ-9jasI/AAAAAAAAAFs/8tpISIqltQ4/s1600-h/maya+di+supermama2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5SNQ-9jasI/AAAAAAAAAFs/8tpISIqltQ4/s400/maya+di+supermama2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157902796164655810" /&gt;&lt;/a&gt;Di "Silat Lidah", komentator bebas bicara apa pun, tanpa basa basi. Tapi, sebebasnya Julia Perez, dia pasti tak akan diperbolehkan bicara sambil makan atau berkumur, atau tidur telentang di atas panggung. "Silat Lidah", bagaimanapun, masih bebas terbatas, bebas terkendali. Itupun telah membuat acara ini berisik sekali. Jadi bayangkanlah betapa riuh dan "berasak"nya "Supermama Seleb Show", ketika semua komentator dan peserta bebas melakukan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan Gunawan, komentator tetap di acara itu, misalnya, sering disapa Ruben Onsu dengan panggilan "Banteng", "Sapi", "Banci", sampai "Setengah Lelaki". Dan Ivan, meskipun berpura-pura marah, harus bisa menerima panggilan itu dengan riang, dan membalasnya kemudian. Baku hina antara kedua orang inilah yang selalu tertayang panjang di "Supermama Seleb Show", dan memancing riuh tawa penonton. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara itu sepertinya dibebaskan Indosiar berjalan apa adanya, termasuk soal waktu. Dimulai lepas maghrib, "Supermama Seleb Show" mungkin selesai pukul 22.30, namun acap lebih dari 23.30. Ivan bebas mengangkat kaki, bicara sambil nyanyi, berada di lingkaran penonton, bahkan menari dan berlarian di atas panggung. Tak ada yang melarang. Peserta juga tak dikenai aturan. Bedu misalnya, tiba-tiba menghilang ketika aksinya tengah dikomentari Hetty Koes Endang, dan ketika ditangkap kamera, tengah makan nasi bungkus berlauk sate. "Acara kelamaan, gue kelaperan," ucapnya ketika ditegur Eko Patrio. Apakah Eko menariknya ke atas panggung? Tidak. Dia ikut menemani Bedu dan makan bersama. Dan Dorce lalu melompat dari kursinya, menyusul Eko, mengambil sate dan mengunyahnya sambil tidur telungkup di panggung. Ulfa tak mau ketinggalan, dia pun telentang berebutan sate. Ketiganya seperti abai pada acara, ngerumpi rasa sate, dan tersadar ketika diteriaki Ruben untuk meneruskan acara. Penonton tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang boleh jaim, jaga &lt;I&gt;image&lt;/I&gt;, di acara ini. Maka komentator seperti Tri Utami, atau juga Maia, acap mati gaya, dan tak bisa bicara lama. Ruben terkadang harus bertanya dan bertanya agar Maia bisa bicara panjang dan "membual" sesukanya. Dan tetap gagal. Tri Utami lebih sering tertawa dan kehilangan konsentrasi karena penilaiannya selalu terpotong celotehan Ivan dan Ruben atau tingkah Eko di panggung. Inilah acara yang aksi peserta mungkin hanya 5 menit tapi dikomentari nyaris satu jam! Inilah acara yang setiap peserta harus rela ibunya dipermainkan dijadikan bahan lawakan, ditertawakan. Bedu misalnya, di penampilan awal pernah berkernyit dahi ketika ibunya, Mama Sri, dijadikan bahan lelucon oleh Eko. Namun, ketika nilai ibunya lebih tinggi dan membantunya untuk tetap bertahan, Bedu sepertinya mengikhlaskan keluguan Mama Sri dijadikan bahan tertawaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cinta tanpa Kalkulasi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang berisik sepertinya telah jadi magnet baru di televisi. Rating acara super berisik ini ajaibnya justru tinggi sekali. Cikal-bakalnya, barangkali, dimulai oleh "Ceriwis" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Duet MC Indi Barens-Indra Bekti jadi warna baru dengan celotehan yang "kacau", penuh hahahihi. Namun, keberisikan itu masih normal dibandingkan "Silat Lidah" &lt;I&gt;Anteve&lt;/I&gt;, dan kini "Supermama Seleb Show" &lt;I&gt;Indosiar&lt;/I&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di tengah magnet berisik itu, &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt; justru menayangkan acara yang tenang, tak memicu konflik, dan naratif. Tayangan non-argumentatif itu diwakili oleh "Atas Nama Cinta" dan "Andai Aku Menjadi...". "Atas Nama Cinta" berisi paparan kisah nyata narasumber tentang cinta yang tak tergadai ketika bencana dan malapetaka datang. Cinta yang tetap tinggal di hati seorang istri ketika suaminya justru tengah menghadapi hukuman mati. Atau cinta istri yang tetap membara meski tubuh suami telah tak sempurna, dirusakkan nyala api. Acara itu dengan lembut menunjukkan manusia yang mencinta tanpa memakai kalkulator, ketika penilaian mata tunduk oleh suara hati. Manusia yang mencinta untuk, mengutip filsuf Gabriel Marcel, "dia yang &lt;I&gt;hadir&lt;/I&gt; bagi saya dan kepadanyalah saya setia, kendati kematian telah memisahkan kami". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andai Aku Menjadi..." bercerita lebih nyata lagi, tentang kehidupan orang-orang kecil yang selama ini mungkin dipanglingi televisi. Kisah tukang sampah, nelayan, pengangon kambing, pemecah batu, diceritakan dengan wajar, tanpa hiperbola yang berlebihan. Kisah mereka diberi impresi kepada penonton dengan menghadirkan seorang peserta yang bersedia menjalani profesi dan memahami kehidupan mereka. Maka terbentanglah di layar kaca kamar yang sempit tanpa jendela, kasur bertumpuk, dan si nelayan yang berjaga sepanjang malam mengusiri nyamuk dari tubuh mungil anaknya. Atau peserta yang muntah tak tahan bau sampah, menangis karena menyaksikan anak yang merengek minta susu, atau melihat seorang ibu yang tak punya jawaban ketika anaknya meminta uang sekolah. Di layar itu, penonton melihat orang-orang kecil yang menjalani hidup tanpa keluh, yang menjawab kekurangan dengan doa. Manusia-manusia yang berusaha menampik kesulitan namun tak lari ketiga menemukan jalan buntu. Sosok-sosok yang menjalani hidup dengan sikap, seperti kata filsuf Nietzshe, &lt;I&gt;amorfati&lt;/I&gt;, menerima apa pun yang diberi nasib dengan sepenuh rasa cinta. Mereka, tidak seperti di "Supermama Seleb Show", sehari-harinya pasti jarang tertawa. Karena tertawa, barangkali, menghapus sebagian tenaga mereka untuk mengais rejeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Menasehati Diri&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Supermama Seleb Show" dan "Andai Aku Menjadi" memang dua acara yang berbeda sekali. Namun, persamaan yang cukup kental dalam dua acara itu yakni penilaian komentator pada peserta. Bedanya, di "Supermama" penilaian kepada peserta terjadi hanya berdasarkan pandangan mata terhadap suara, busana, dan cara berkomunikasi. Ivan, Hetty Koes Endang, dan Pongky misalnya, menilai Bedu dengan liar dan bebas. "Kamu cukup jadi pelawak saja," kata Pongky, seakan Bedu memang sungguhan ingin menjadi penyanyi. Atau kritik Ivan yang acap menilai busana para mama dengan sinis, tak modis, kampungan, memberi efek gemuk, atau tabrak warna. Hetty apalagi, selalu memberi contoh dengan nada-nada tinggi, karena itulah cara bernyanyi yang dia sukai. Ketiga komentator itu menjadi pengamat, dan karena itu mereka berjarak dari para peserta. Jarak memang menisbatkan objektivitas. Tapi jarak juga membuat setiap objek pengamatan berada dalam rentang yang tak selalu dikuasai. Jarak juga membuat pengamat menjadi bersandar pada mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam "Andai Aku Menjadi...", jarak itu yang coba ditampik. Pengamat masuk ke dalam kehidupan objek, merasakan apa pun yang dialami dan dilakukan objek. Anita, penyiar radio, misalnya, ikut masuk lumpur untuk membersihkan empang, memikul air, sampai tidur bersarung di karpet apak, dengan kamar yang tak sepenuhnya terhindar dari angin malam. Ruri, mahasiswi, ikut menjala, berjualan tahu campur, dan merasakan kesakitan seorang suami yang terpaksa membiarkan istrinya terbaring sakit, karena tak mampu mengirim ke rumah sakit. Ruri menjadi "anak" selama dua hari, akhirnya menangis dan menyatakan tak kuat melihat penderitaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakberjarakan inilah yang membuat mereka kemudian sesenggukan ketika bercerita. Anita dan Ruri mengalami kejutan-kejutan batin ketika seluruh indranya merasakan hidup yang selama ini cuma dia lihat dan bayangkan. Anita berkaca-kaca karena tak pernah menyangka ada manusia yang tetap menjadi manusia di tengah segala himpitan yang nyaris tak masuk di akal. Manusia yang berusaha hidup dengan segala kehormatannya. Penilaian "komentator" di "Andai Aku Menjadi..." adalah objektivitas yang "aku alami", sedangkan di "Supermama" adalah penilaian yang "aku amati". Yang hilang di "Supermama" adalah keterlibatan diri, rasa empati dari kesakitan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika, cara manusia memandang dunia adalah cara dia melihat dirinya sendiri," kata Cristoph Wulf dalam artikelnya "The Temporality of Word-Views and Self-Images", dan cara ia memahami dirinya sendiri adalah cara dia menilai dunia, maka kita jadi tahu "nilai" komentator di atas. Komentator di "Supermama..." sebenarnya mengomentari dan menilai diri mereka sendiri. Yang mereka lihat dari para peserta adalah kenaifan diri mereka sendiri. Dan semua komentar dan nasihat itu sesungguhnya untuk diri mereka sendiri juga. Jadi, wajahlah jika acara itu lucu dan lama sekali. Karena sudah watak manusia, tak pernah puas dan cukup waktu, untuk mematut diri, menjadi narsistik sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 27 Januari  2008]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-4115275076593022145?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/4115275076593022145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=4115275076593022145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4115275076593022145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/4115275076593022145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/mereka-yang-menasehati-diri-sendiri.html' title='Mereka yang Menasehati Diri Sendiri'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R5SNQ-9jasI/AAAAAAAAAFs/8tpISIqltQ4/s72-c/maya+di+supermama2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-8656328995088318672</id><published>2008-01-14T11:11:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T11:17:06.989+07:00</updated><title type='text'>Cinderella tanpa Pernikahan</title><content type='html'>Cinta yang fitri dan indah adalah yang mendukung superioritas lelaki. Cinta yang mendudukkan Fitri dan Indah sebagai perempuan yang pantas disantuni. Televisi memang kurang ajar sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4rh6e9jarI/AAAAAAAAAFk/E2-HhnZeRaQ/s1600-h/sinetron+cahaya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4rh6e9jarI/AAAAAAAAAFk/E2-HhnZeRaQ/s400/sinetron+cahaya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155181118338853554" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika &lt;I&gt;Cinta Fitri&lt;/I&gt; berakhir, &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; langsung menayangkan &lt;I&gt;Cinta Indah&lt;/I&gt;. Dan baru saja &lt;I&gt;Cinta Indah&lt;/I&gt; tayang beberapa episode, segera muncul &lt;I&gt;Cinta Bunga&lt;/I&gt;. Tiga sinetron yang tak hanya mirip dari segi nama, tapi juga alur cerita. Shireen Sungkar, Sandra Dewi, dan Claudya Sinta Bella, yang bermain dalam ketiga sinetron itu, juga berada dalam "filosofi" karakter yang sama, dan hanya berbeda dalam rajutan dan pola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan semacam itu memang telah lama jadi virus dalam sinetron Indonesia. Tapi, baru akhir-akhir inilah, keseragaman itu seakan menjadi sebuah "kewajiban", dan mewabah di semua televisi. Lihatlah, Setelah &lt;I&gt;Intan&lt;/I&gt; populer di &lt;I&gt;RCTI&lt;/I&gt;, seperti banjir di musim hujan, lahir sinetron seperti &lt;I&gt;Candy, Kasih, Olivia, Cahaya, Safira, Mutiara, Azizah, Mentari&lt;/I&gt; dan &lt;I&gt;Suci&lt;/I&gt;. Sinetron Ramadan bahkan ikutan memakai judul semacam itu, &lt;I&gt;Soleha&lt;/I&gt;. Sinetron untuk "anak-anak" pun sama, &lt;I&gt;Eneng&lt;/I&gt; lahir, &lt;I&gt;Entong&lt;/I&gt; pun muncul.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul sinetron yang terpola semacam itu ternyata juga melahirkan anasir cerita yang sama, perjuangan sepasang remaja dalam mewujudkan cinta. Perbedaan kelas sosial selalu menjadi bumbu utama yang membuat kisah cinta di dalam sinetron menemukan rasa. Rasa itu kemudian dipertajam dengan saos airmata, kecap kedengkian, dan tumisan ketidakmasukakalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Bersandar Dongeng&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan sinetron di atas nyaris bercerita tentang perbedaan kelas, dengan tokoh perempuan berkasta sudra. Fitri, Indah, Kasih, Cahaya, dan Azizah, harus menerima hinaan dan kedengkian karena kepapaan mereka. Demikian juga Soleha dan Suci. Kisah kemudian berpilin tentang duka mempertahankan mimpi dan cinta sepasang remaja itu. Dan, &lt;I&gt;ending&lt;/I&gt; cerita, seperti yang bisa diduga sejak semula, adalah kebahagiaan yang akhirnya didapatkan sang tokoh utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sinetron di atas, sesungguhnya tidak berbeda dari sinetron lepas "Legenda" dan "Dongeng" di &lt;I&gt;TransTV&lt;/I&gt;. Latar, setting, pemain, sutradara memang tak sama, tapi rajutan dan jemalin cerita menuju titik akhir yang sama ketika cinta telah disatukan. Dengan kata lain, skema seluruh sinetron kita masih menempatkan cinta sebagai sebuah kemurnian, dan sekaligus tujuan. Karena itu, segala pengorbanan yang dilakukan tokoh utama adalah demi mewujudkan cinta, mempertahankannya dalam sebuah ikatan perkawinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseragaman alur cerita itu penonton juga melihat bahwa tentangan dan hambatan untuk menyatukan cinta selalu datang dari orang di luar tokoh utama. Pertama, status sosial yang berbeda. Kedua, orangtua tokoh pria yang tak ingin anaknya bersanding dengan wanita jelata. Ketiga, perempuan lain yang dihadirkan sebagai penggoda, berstatus sosial yang sebanding dengan tokoh pria, dan mendapatkan restu orang tua si tokoh pria. Dalam sinetron "dongeng" dan "Legenda" bertambah dengan tokoh jahat seperti penyihir atau raksasa. Di dalam cerita semacam inilah cinta menjadi energi yang membuat sang tokoh mampu menghadapi kedengkian dan berbagai godaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tipe cerita di atas memang telah sangat kita kenali, bahkan dalam beberapa variasinya. Itulah cerita yang sepenuhnya bersandar pada tipologi Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Romeo dan Juliet, Sampek Eng Tay, bahkan Roro Mendut. Dalam kemasan yang paling modern, dan sangat populer, keseragaman cerita tadi mewujud menjadi film &lt;I&gt;Pretty Women&lt;/I&gt;, yang melambungkan Julia Robert dan Ricard Gere. Tak ada yang baru dalam variasi cerita semacam ini, kecuali pernik-pernik konflik yang dimodifikasi. Namun, sejauh apa pun modifikasi itu, cerita semacam itu selalu berakhir ketika cincin disematkan, janji diucapkan, lonceng gereja berdentang, atau ijab kabul dilafalkan. Keseragaman cerita ini seakan menisbatkan cinta yang indah, yang layak dipertahankan dengan darah dan airmata, adalah cinta yang berakhir dalam perkawinan. Setelah itu tak ada lagi cerita. Cinta di dalam perkawinan seperti tak punya pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kepahitan Perkawinan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percintaan adalah fajar pernikahan. Tapi pernikahan adalah senja percintaan. Pepatah "antah-berantah" itu yang agaknya dihidupi oleh watak dongeng, dan diafirmasi oleh industri televisi kita. Cinta dalam perkawinan seperti tak menemukan tempat. Kalau pun ada, gaungnya nyaris tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;I&gt;Antv&lt;/I&gt; misalnya, pernah menayangkan sinetron &lt;I&gt;Satu Cincin Dua Cinta&lt;/I&gt;. Cerita kisah ini merupakan kelanjutan dalam sebagian besar sinetron Indonesia, kehidupan perkawinan. Irgi Fahrezi dan Vonny Cornelia bermain cantik dalam sinetron itu, dan menunjukkan bagaimana tidak indahnya mengelola cinta sesudah menikah. Dusta, pertengkaran, ketaksependapatan, justru lahir dalam cinta. Perselingkuhan dan masuknya wanita kedua, membuat sinetron itu seakan membongkar keyakinan tentang idealisasi perkawinan. Sinetron itu pun menegaskan bahwa musuh cinta sebelum pernikahan adalah orang di luar diri sang tokoh, dan hal itu akan mudah dihadapi berdua. Namun di dalam perkawinan, musuh utama cinta adalah diri sendiri, ketika kebosanan mulai bertandang, ketika pihak perempuan punya posisi tawar yang sama dengan lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita semacam &lt;I&gt;Satu Cincin Dua Cinta&lt;/I&gt; menunjukkan cinta dalam dimensi yang berbeda, yang lebih kaya,  nyata, dan hidup di dalam diri penonton. Tapi, justru cerita inilah yang diogahi industri televisi. Bukan saja karena menggarap sinetron semacam itu lebih rumit dan susah, melainkan juga ideologi industri yang berada di belakangnya. Dengan sinetron berwatak Cinderella, televisi sebenarnya mengukuhkan posisi perempuan sebagai sosok yang lemah. Fitri selalu dilindungi Farel. Indah, Intan, Cahaya, apalagi. Ada rasionalisasi di dalam seluruh sinetron bertipe ini bahwa perempuan adalah mahkluk yang harus dilindungi. Lelaki bukan saja harus mencintai perempuan yang papa, tapi juga menyantuni dan membela. Cinta dalam dimensi superioritas lelaki semacam inilah yang diam-diam menjadi anak kandung industri televisi. Cinta semacam itulah yang indah dan fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton, seperti kata Raam Punjabi, adalah mereka yang lelah, dan menonton untuk mencari hiburan. Dan dalam skema cerita cinta semacam itu sajalah hiburan dapat dihadirkan televisi. Maka, ketika sinetron berakhir, kita hanya dapat membayangkan bahwa tokoh utama akan terus bahagia. Seperti dongeng, yang juga selalu selesai ketika cinta disatukan, dan narator berkata, "Pangeran dan Putri hidup bahagia, selamanya..." Karena dalam pernikahan cinta butuh imajinasi yang lebih dashyat lagi, yang pasti tak akan mampu ditampilkan di dalam televisi kita, yang perajinnya hanya mampu meniru skema dongengan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 13 Januari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-8656328995088318672?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/8656328995088318672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=8656328995088318672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8656328995088318672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/8656328995088318672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/cinderella-tanpa-pernikahan.html' title='Cinderella tanpa Pernikahan'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4rh6e9jarI/AAAAAAAAAFk/E2-HhnZeRaQ/s72-c/sinetron+cahaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-591443219997616915</id><published>2008-01-09T12:46:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T13:14:41.323+07:00</updated><title type='text'>Perceraian Telinga dan Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4Rgle9janI/AAAAAAAAAFE/gAoGJ91h8Os/s1600-h/kikan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4Rgle9janI/AAAAAAAAAFE/gAoGJ91h8Os/s400/kikan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153350070701353586" /&gt;&lt;/a&gt;Kikan dan Yuke akhirnya bercerai. Padahal, sebelumnya, mereka telah bersepakat untuk bersatu lagi, demi anak-anak. Tapi, "Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Komunikasi yang intensif tidak pernah terjadi. Keputusan ini adalah yang terbaik," terang Kikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ada orang ketiga. Mereka cerai karena masalah komunikasi, makin ke sini makin nggak nyambung," ungkap Michael B.D. Hutagalung, kuasa hukum Yuke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kikan mengajukan gugatan cerai April tahun lalu. Mereka kemudian berdamai karena yakin dengan komunikasi yang intens, semua perbedaan akan terjembatani. Nyatanya, 6 bulan tak cukup, perbaikan berarti tak terjadi. Desember kemarin, Kikan resmi menjanda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan komunikasi juga yang membuat masalah antara Dhani dan Maia terus melebar dan membesar. "Tadi mereka telah bicara, dan ada beberapa kesepakatan. Intinya, keduanya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak," terang Kak Seto, yang menjadi mediator konflik mereka. Ketua KPAI Giwo Rubiyanto pun mengakui ketiadaan komunikasi yang menyebabkan konflik dan kesalahpahaman selalu terjadi antara Maia dan Dhani. "Tadi kami telah bertemu, dan Dhani sudah menjelaskan masalahnya. Ini hanya karena ketiadaan komunikasi saja," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhani memang lebih sering mengomunikasikan masalahnya kepada media. Maia juga. Ketika bertemu, keduanya acap berdiam diri. Ketika jauh, masalah anak pun mereka cukupkan bicara melalui &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt;. Malah terkadang, "Sudah dua hari ini SMS saya belum dijawab," terang Maya, ketika meminta Dhani mengajak dirinya dan tiga anak mereka untuk ikut juga ke Malaysia, akhir Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan komunikasi. Itulah alasan sebagian besar perceraian para aktris. Sesuatu yang aneh, mengingat sebagai selebritis, mereka justru cerdas mengomunikasikan dirinya ke media. Komunikasi yang efektiflah  yang membuat mereka dapat diterima media dan penggemar. Dhani dengan arogansinya adalah komunikan yang jeli melihat dan memanfaatkan media dan memengaruhi penggemarnya. Maia apalagi, berbagai statmennya mencerminkan kecerdasannya memosisikan diri sebagai istri yang teraniaya dan ibu yang tidak bahagia. Kikan adalah motor Cokelat, yang acap menjadi juru bicara grup bandnya. Tapi, mengapa mereka justru gagal "berbicara" dengan pasangan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, inilah yang terjadi: mereka berkomunikasi dalam "manajemen" gosip. Dalam gosip, komunikasi dilakukan dengan tujuan agar diri menjadi pusat perhatian. Orang lain adalah pihak yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap, menguatkan posisi pembicara.  Manajemen gosip membuat orang lain selalu sebagai pihak yang mendengar, yang tak mengerti apa-apa, dan harus mengatakan "ya". Berbicara dalam manajemen gosip adalah berkomunikasi satu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kacamata manajemen gosip itulah kita dapat melihat bahwa Dhani dan Maia sama-sama bicara, hanya untuk didengarkan, dan bukan mendengarkan. Juga Kikan dan Yuke. Keduanya menempatkan diri sebagai pihak yang harus didengar. Dan di situlah muasal masalahnya, mereka sebenarnya tak berkomunikasi, karena bibir mereka tak lagi pernah menemukan telinga. Hakikatnya, mereka bermonolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi pada dasarnya terjadi karena ada kesediaan untuk mendengar, kerendahatian untuk bersedia memahami. Dengan orang yang kita cintai, selain telinga dan bibir, komunikasi juga meminta hati: kejujuran untuk mengakui bahwa "aku bukanlah sosok yang sempurna dan karena itu maafku untukmu selalu tersedia". Hanya dengan itulah, komunikasi terjadi, dialog akan berarti. Sayangnya, hal mendasar dan kecil itulah yang acap tidak dimiliki para selebriti. Kamera dan gosip, popularitas dan uang, telah menutup hati mereka. Maka, ketika usai sidang cerai mereka berkata, "perceraian ini terjadi karena tak ada lagi komunikasi di antara kami," kita tahu apa yang sesungguhnya terjadi, mereka tak pernah menggunakan telinga dan membuka hati. Menyedihkan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid &lt;I&gt;Cempaka&lt;/I&gt;, Rabu 9 Januari 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-591443219997616915?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/591443219997616915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=591443219997616915' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/591443219997616915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/591443219997616915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2008/01/perceraian-telinga-dan-hati.html' title='Perceraian Telinga dan Hati'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R4Rgle9janI/AAAAAAAAAFE/gAoGJ91h8Os/s72-c/kikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-6131198417236872096</id><published>2007-12-13T14:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T11:20:20.861+07:00</updated><title type='text'>Mengembalikan Jamu ke Habitatnya</title><content type='html'>Perang &lt;I&gt;brand&lt;/I&gt; antara Bintangin dan Tolak Angin adalah Inul dan Rhoma Irama dalam kancah musik dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R2DabuDK4KI/AAAAAAAAAE8/SWTAnumG5ao/s1600-h/tolak-angin2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R2DabuDK4KI/AAAAAAAAAE8/SWTAnumG5ao/s400/tolak-angin2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143350944209756322" /&gt;&lt;/a&gt;Anda pasti familiar dengan pertanyaan-pertanyaan ini: "Anda seorang karyawan?", "Tahu bahasa Rusianya karyawan?", "Berapa jumlah karyawan di dunia?", "Siapa karyawan pertama yang masuk angin?" Dan pasti Anda tertawa melihat tampang calon pembeli yang melongo, bingung, bukan saja karena dia tidak tahu bagaimana menjawab, melainkan juga takjub, mengapa dia harus ditanyai seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itulah pertanyaan yang belakangan ini meramaikan televisi, bagian dari iklan jamu antimasuk angin Bintangin produksi Bintang Toedjoe. Iklan di atas merupakan versi kedua dari iklan sebelumnya, yang jauh lebih lucu. Seorang pengendara motor diuji kepintarannya dengan pertanyaan, berapa jumlah baut dalam motor? Siapa penemu spion? sampai kenapa motor rodanya cuma dua. Lalu, seusai dialog itu, menggema suara, "Minum jamu kok harus pinter. Semua orang boleh minum Bintangin!" &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, iklan di atas "menyerang" jamu Tolak Angin produksi Sido Muncul. &lt;I&gt;Tagline&lt;/I&gt; Tolak Angin "Orang pinter minum..." diparodikan dengan adegan dan slogan sebaliknya. &lt;I&gt;Tagline&lt;/I&gt; Tolak Angin dijadikan pijakan atau dasar ide iklan itu bahwa siapa pun boleh minum jamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan dengan model serangan semacam ini bukan hal yang baru. Sebelumnya, perang iklan juga terjadi antara operator seluler. Ketika XL membuat program Rp 1/detik, Mentari langsung menjawab dengan nol rupiah untuk paket freetalk Rp 5000. Dalam iklan, Dian Sastro yang memenangi lelang karena menawar nol rupiah, dan membuat pelelang sampai menangis haru. Mentari juga memakai tagline "Ayo, hitung lagi!" untuk menegasikan bahwa Xl bukanlah yang termurah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, perang antara operator itu sudah jadi hal yang rutin. Simpati dan 3 pun melakukan hal yang sama, setengah rupiah perdetik sampai nol rupiah untuk percakapan mulai pukul 1 malam sampai 1 siang. Perang iklan ini tak hanya terjadi di televisi, bahkan sampai ke jalan-jalan, melalui spanduk dan baliho besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya lagi, perang iklan juga dilakukan oleh pabrikan Yamaha dan Honda. Dialog Dedy Mizwar dan Didi Petet sangat menyindir Honda, yang cuma ganti warna tanpa perubahan teknologi. Suzuki dengan almarhum Basuki pun masuk ke persaingan, dengan adegan membalap dua motor kompetitornya. Suzuki dengan shogun-nya "menyerang" kecepatan yang menjadi inti kampanye Yamaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Loncatan Ingatan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang iklan semacam di atas kini menjadi hal yang wajar. Dan, sejauh amatan saya, "perang" itu  masih cukup sopan karena tidak langsung menyebut produk kompetitor. Bintangin tidak pernah menyebut Tolak Angin, dan hanya mempermainkan &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt;-nya. Jupiter pun tak pernah secara langsung menyebut Honda yang secara visual mereka rontokkan, demikian juga Mentari, tidak pernah menampilkan logo XL. Di luar negeri, perang iklan sudah masuk medan terbuka, dengan menyebut langsung nama kompetitornya. Apple Leopard, misalnya, langsung menyerang Microsoft Vista dengan &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt;-nya "Dont give up to Vista!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintangin melakukan serangan iklan seperti itu tampaknya lebih sebagai ajang "balas dendam" Bintang Toedjoe kepada Sido Muncul. Hal itu dikarenakan gerusan yang dilakukan Kuku Bima Ener-G terhadap pasar Extra Joss. Sebagaimana dilaporkan Majalah &lt;I&gt;Swa&lt;/I&gt;, dengan strategi pemasan yang baik, pasar Extra Joss telah diambilalih dengan cepat oleh Kuku Bima Ener-G, yang memikat melalui aksi "Rosa Rosa!" Mbah Marijan. Jadi, Bintangin adalah senjata yang secara serius disiapkan untuk menggerus dominasi Tolak Angin. Kedua pabrikan tampaknya sengaja untuk bertarung di dua pasar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, Bintangin melakukan "kesalahan" fundamental di dalam iklannya. Dengan mendasarkan diri pada "tagline" Tolak Angin, senyatanya produk ini tidak mengomunikasikan kelebihan apa pun. Yang terbentuk dari iklan itu adalah semata upaya untuk merontokkan citra Tolak Angin tanpa membentuk imaji produk yang lebih kuat. Dan lucunya, iklan dengan kreativitas tempelan ini justru memicu ingatan penonton atau konsumen kepada Tolak Angin. Setiap melihat iklan Bintangin yang lebih kuat menempel di benak penonton adalah imaji Tolak Angin. Atau dengan kata lain, alih-alih mengiklankan produk sendiri, Bintangin justru mengampanyekan produk saingannya, Tolak Angin. Ada loncatan ingatan kepada Tolak Angin yang secara tidak sadar diarahkan Bintangin. Iklan ini dengan segala kreativitasnya justu menubuhkan kembali citra Tolak Angin. Bintangin melakukan negasi yang dampaknya justru membuat "mitos" pengukuhan pada citra Tolak Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Montoya dalam &lt;I&gt;The Brand Called You&lt;/I&gt; mengatakan &lt;I&gt;brand building&lt;/I&gt;  selalu dikaitkan dengan upaya sebuah perusahaan untuk membangun &lt;I&gt;image&lt;/I&gt;. Image itu seharusnya memiliki nilai benefit di dalam memberikan sebuah persepsi tertentu yang umumnya bersifat positif. Iklan bernada "serangan" yang dilakukan Bintangin justru membangun imaji buruk, produk yang agresif, dan memakai bahawa yang "menyakiti".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Kreativitas Dendam&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, negasi yang berhasil dilakukan Bintangin justru pada pemilihan &lt;I&gt;talent&lt;/I&gt;. Jika Tolak Angin memakai Rheinald Kasali, Sophia Latjuba, Arie Lasso, dan Setyawan Djodi sebagai ikonnya, Bintangin sebaliknya, memakai wajah tak terkenal, dengan citra pengendara motor atau karyawan rendahan. Pemakaian &lt;I&gt;talent&lt;/I&gt; yang berbeda ini menjelaskan pasar yang dituju. Jika Tolak Angin sebagai jamu "orang pintar", menyasar kelas menengah atas, Bintangin sebaliknya. Dengan &lt;I&gt;tagline&lt;/I&gt; "Semua orang boleh minum", jamu ini menyasar pasar yang "ditinggalkan" Tolak Angin, kaum kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintangin dengan iklan itu juga seakan ingin menunjukkan bahwa jamu harus kembali kehabitatnya sebagai konsumsi orang kebanyakan. Jika Tolak Angin ingin menaikkan kelas jamu ke kalangan atas, bintangin sebaliknya, mengembalikan jamu ke habitat aslinya, buatan dan milik rakyat kebanyakan. Perang Brand Bintangin dan Tolak Angin adalah Inul dan Rhoma Irama dalam kancah perang musik dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata &lt;I&gt;branding&lt;/I&gt; tidak sesederhana seperti kampanye iklan Bintangin. Menurut Marty Neumeier dalam &lt;I&gt;The Brand Gap&lt;/I&gt;, Branding bukanlah logo, &lt;I&gt;corporate identity&lt;/I&gt;, atau juga slogan. Logo, simbol, monogram, dan emblem sebenarnya adalah &lt;I&gt;trademark&lt;/I&gt;. Mereka ada karena berdiri sebagai symbol dari &lt;I&gt;branding&lt;/I&gt;. Brand juga bukanlah sistem c&lt;I&gt;orporate identity&lt;/I&gt;. Sistem ini lebih bertugas khusus untuk melakukan fungsi kontrol terhadap aplikasi &lt;I&gt;trademark&lt;/I&gt; untuk publikasi perusahaan, iklan, &lt;I&gt;stationery&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;house style&lt;/I&gt;, dan lainnya. Brand juga bukan produk. Brand adalah emosi atau perasaan yang timbul terhadap sebuah produk, jasa, atau perusahaan. Intinya, &lt;I&gt;brand&lt;/I&gt; bisa dirasakan efeknya di benak masyarakat konsumen. Brand bukan hanya hidup di luar, bertugas menyentuh sisi kognitif dan emosional konsumen, melainkan juga bersenyawa di dalam tubuh perusahaan. Brand adalah jiwa, adalah filosofi. Brand yang baik selalu mendiferensiasikan produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintangin agak gagap dalam hal ini. Secara visual, iklannya menjadi jembatan ingatan kehadiran Tolak Angin. Segmentasi pasar yang diacu untuk kembali ke "khittah", ke rakyat kebanyakan pun tidak termanifestasikan dengan jelas. Karena nama Bintangin,  pun masih kurang familiar sebagai jamu rakyat. Kata Bintang justru masih beraura elite bahkan jika dibandingkan dengan Tolak Angin. Tampaknya jelas, iklan dan kampanye Bintangin dilakukan dengan tergesa-gesa, dengan kreativitas  mengikuti "dendam" perusahaan semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini sudah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 16 Desember 2008]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-6131198417236872096?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/6131198417236872096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=6131198417236872096' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6131198417236872096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/6131198417236872096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/12/mengembalikan-jamu-ke-habitatnya.html' title='Mengembalikan Jamu ke Habitatnya'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R2DabuDK4KI/AAAAAAAAAE8/SWTAnumG5ao/s72-c/tolak-angin2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-9190346499920240680</id><published>2007-12-06T19:29:00.001+07:00</published><updated>2007-12-13T15:51:46.427+07:00</updated><title type='text'>Tubuh yang Kehilangan  Rahasia</title><content type='html'>Tubuh kini tak ubahnya seperti mal. Semua orang dapat melongok isi di dalamnya. Tanpa rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R1fsPoy60GI/AAAAAAAAAE0/3PXOUXyzwc8/s1600-h/clbk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R1fsPoy60GI/AAAAAAAAAE0/3PXOUXyzwc8/s400/clbk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140837253059891298" /&gt;&lt;/a&gt;Steve membuang napas, gelisah. Meyka yang masih menggenggam jemarinya, mulai menangis.  Dia merasa menyesal telah mengebiri cinta Steve, dan lebih memilih Andre. Gadis itu memohon maaf. Tapi Steve cuma diam. Dia biarkan Meyka sesenggukan. Dia abaikan tatapan heran pengunjung di kafe itu, seperti juga makanan yang memenuhi mejanya. Karena Steve sungguh tak mengerti, mengapa Meyka begitu tega mengkhianati. "Apa sih yang lebih dari Andre?" bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena Andre lebih kaya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi karena dia lebih kaya maka kamu tega mengkhinati aku?!" suara Steve meninggi, genggaman Meyka dia hentakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku, Steve. Maafkan...." Meyka menangis lagi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog di atas bukan adegan dalam salah satu sinetron. Steve dan Meyka juga tidak tengah berakting. Tangis Meyka, emosi dan teriakan tak mengerti Steve, juga pandangan heran pengunjung kafe itu, adalah reaksi nyata. Kamera "Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK)", &lt;I&gt;reality show&lt;/I&gt; di &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; yang merekamnya. Dan seluruh penonton jadi tahu isi hati Meyka, rahasia, aib, yang seharusnya dia jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di "CLBK", peserta yang ingin kembali pada kekasih lamanya memang harus jujur menceritakan kesalahan yang pernah dia buat. Mengakui pada Gading Martin dan Jennifer, pengampu acara itu, yang kemudian "merumuskan" strategi untuk membuat mantan kekasih peserta mau memaafkan dan menerima dirinya kembali. Maka, seperti Meyka, banyak rahasia yang tersaji di acara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di televisi, "CLBK" tidak sendirian. Ada acara lain yang juga memaksa pesertanya membuka hal-hal pribadi. "Truck Cinta" misalnya, selalu menyajikan kriteria lelaki yang peserta inginkan untuk menjadi kekasihnya. Kriteria itu detil sekali, menyangkut rahasia hati, ukuran yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Di acara "Backstreet" bahkan lebih parah lagi. Kamera tidak saja merekam sebab cinta rahasia itu terjadi, terkadang bahkan menampilkan pertengkaran peserta dengan orangtua. Rahasia keluarga dengan sempurna nongol di layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keberanian membuka dan membongkar aib barangkali masih di pegang acara "Playboy Kabel". Dalam salah satu episode, seorang istri bahkan menjebak perselingkuhan suaminya. Dia ceritakan apa saja yang suaminya lakukan di rumah, mulai kata-kata kasar dan hinaan fisik, lalu dia permalukan suaminya di depan kamera. Sungguh acara yang membuat penonton dapat tertawa sekaligus mengelus dada dan geleng kepala. Di acara itu, tak ada lagi sekat antara yang &lt;I&gt;private&lt;/I&gt; dan yang terbuka. Semua tersingkap, terungkap, tapi yang tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Cinta Buta&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, ketakberahasiaan itu hanya milik para artis. Mungkin, karena merasa sebagai figur publik, mereka pun mewajibkan diri membuka apa pun untuk diakses masyarakat atau penonton. Maka, Saiful Jamil sambil tertawa dan bernyanyi, membuka aib Dewi Persik. Dia ambil foto Dewi yang berjilbab dari dompetnya, dia tunjukkan kepada penonton, dia ungkapkan bahwa hanya dengan busana itulah pernikahan mereka akan terjalin kembali. Dia tutup "pertunjukannya" dengan sepotong lagu dari Rhoma Irama, "Hanya istri sholehah.... perhiasan terindah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga ingat, perseteruan Fatma Farida dengan anaknya, Kiki Fatmala. Seluruh rahasia keluarga dia ungkap, tanpa jengah. Yang malu justru penonton yang menyaksikan acara itu. Juga konflik Dhani dan Maia, Dhani dan ayahnya, Dhani dan Vita Ramona. Atau bagaimana "kesaksian" Rassya tentang Oom bule yang pernah tidur dengan ibunya, Tamara Blezinsky, keyakinan suami Sarah Vi soal peralihan seksualitas istrinya, sampai cerita Rieke Dyah Pitaloka, meski setengah bercanda, tentang gaya seks yang dia dan suaminya, Donny Ardian, lakukan, untuk dapat segera memperoleh momongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lama memang aktris tak lagi punya ruang pribadi. Mereka, suka atau tidak, harus membuka diri untuk menjadi akses publik. Sampai, Niki Astrea, setengah menangis berteriak, "Apa saya sudah tidak punya &lt;I&gt;privacy&lt;/I&gt;?!" Niki terteror karena media televisi memaksanya harus buka suara. Mobilnya dipaksa berhenti, dia diwajibkan bercerita. Dia seakan tak punya hak untuk berahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi kini bukan saja menghadirkan hal-hal pribadi di ruang keluarga, melainkan sudah membuat yang pribadi menjadi tak ada. "Griya Unik" misalnya, menghadirkan rumah dari halaman depan sampai wc di kamar tidur. "Homes" juga sama, membuka ruang tidur seseorang ke mata publik. Puluhan tahun yang lalu, kamar tidur adalah wilayah yang tak terjamah oleh publik. Selain keluarga dekat, tak ada pihak lain yang dapat mengakses ruang intim itu. Tapi kini, dipamerkan! Bahkan, beberapa aktris, dengan ringan, di ruang tidurnya, membuka lemari dan laci yang menyimpan pakaian dalamnya. Lalu sembari tertawa, kepada pemirsa mengintipkan jenis celana dalam yang menjadi favoritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi rahasia. Maria Eva blak-blakan membuka aibnya kepada media. Aman Jagau bercerita tentang Rp 300 juta yang dia serahkan untuk dapat membuat Angel lelga mau "menikah tiga malam" dengannya. Atau Cut Memey yang memanterai celana dalam Jackson agar terus mau membiayai hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa "dimaklumi", sebenarnya. Karena mereka artis, yang tahu memanfaatkan aib dan hal yang pribadi untuk mendongkrak popularitas (baca: uang). Hanya dengan cara itulah, mereka dapat kekal berada dalam kamera. Yang mengerikan adalah perilaku artis ini mulai menghinggapi orang kebanyakan, ketika menjadikan wilayah pribadi sebagai konsumsi publik. Tak ada motif uang, tentu. Apalagi popularitas. Mereka membuka aib karena cinta. Dan kata orang, cinta itu buta. Makanya, yang berpacaran, di tempat terang pun, suka meraba-raba. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Open Society&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya "ruang" pribadi itu tak hanya berada di televisi. Dalam keseharian, hal-hal yang intim pun sudah dengan rileks dipublikasikan. Kita tahu, bertahun lalu, perempuan masih merahasiakan haidnya. Haid seakan aib, sehingga dibungkus dengan metafora yang lebih halus menjadi "datang bulan", "palang merah", atau "em". Kini, haid menjadi pembicaraan yang tawar, hadir di ruang publik tanpa metafora. Kondisi haid, pra dan sesudahnya, bahkan menjadi ladang bisnis, dari obat-obatan sampai pembalut. Dan televisi, dengan iklan mengenai produk itu, membuat kehaidan keluar dari wilayah tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, kita pasti ingat, tak ada remaja yang berani mengenakan baju terbuka. Atau, kalaupun berani terbuka, seperti busana yang dikenakan aktris pada umumnya, mereka tetap tak pede pamer tali bra. Tali bra adalah sesuatu yang pribadi, sehingga harus ditutupi dengan teliti, disamarkan dengan kaos dalam. Tapi kini, tali bra hanya menjadi aksesori, atau kalau tidak, identitas seksi. Membuka bahu dan memperlihatkan tali bra sudah jamak dan biasa. Bahkan, memamerkan bra, sampai tak mengenakannya pun mulai dianggap "napas zaman". Bertahun lalu, saya percaya, nyaris setiap lelaki akan menutupi tubuh terbuka kekasih atau istrinya. Kini, mereka barangkali akan membiarkannya dengan rasa bangga. Pembiaran itu bukan saja tanda "habisnya" kekuasaan lelaki atas tubuh pasangannya, tapi juga munculnya kesadaran bahwa perempuan punya hak yang sama dengan lelaki atas tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga-empat tahun lalu, kita akan malu jika orang dapat melihat celana dalam kita. Tapi kini, hadirnya celana dalam di ruang publik sudah jadi hal biasa. Jeans model hipster membuat bokong perempuan menjadi indah justru karena memperlihatkan celana dalam plus "celengannya", dan tidak harus merasa malu. Lelaki juga, dengan celana jeans longgar, seperti yang acap dikenakan Arie K Untung, juga nyaman memamerkan celana dalamnya. Berbusana bukanlah merahasiakan bagian tubuh, melainkan memperindah bagian yang intim dengan cara memajangnya. Seluruh mode busana dikelola dalam rangka ekonomi narsistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam asmara, hal yang pribadi pun telah tak ada. Kita tahu, bertahun lalu, adegan ciuman Rangga dan Cinta dalam film &lt;I&gt;Ada Apa dengan Cinta?&lt;/I&gt;, menjadi pembicaraan di mana-mana. Majalah &lt;I&gt;Times&lt;/I&gt; pun mengulasnya, sebagai indikator "sikap moral" orang muda di Indonesia. Tapi kini, kalau melihat kenyataan, &lt;I&gt;Times&lt;/I&gt; pun akan segera meralat liputan itu. Ciuman sudah jadi biasa, bahkan bukan hanya di film. Termasuk menceritakan atau memamerkannya. Dengan teknologi ponsel sekarang, berkirim foto mesra bersama pacar baru, bukan hal tabu. BPara remaja dengan bangga merekam adegan intim, dan kemudian mengedarkannya. Di &lt;I&gt;friendster&lt;/I&gt;, berjuta foto remaja Indonesia tersaji dengan "indahnya", mulai di kamar tidur, sampai kamar mandi, dari sekadar berbusana seksi, sampai polos sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa kini ruang pribadi telah lebur dan menjadi konsumsi sehari-hari? Atau, apakah kita telah masuk agenda George Soros dalam membangun &lt;I&gt;open society&lt;/I&gt;, masyarakat yang memberi kebebasan luar biasa bagi individual, ketika nilai tidak punya simpul, dan hal-hal pribadi akan hilang sama sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk menilainya. Tapi, barangkali Soros memang benar ketika berkata dalam &lt;I&gt;On Soros: Staying Ahead of the Curve&lt;/I&gt; bahwa nilai-norma adalah soal pilihan, seperti orang memilih di tempat mana mau berinvestasi atau berspekulasi. Dan kita tahu, nilai dan ruang pribadi kini nyaris tak lagi, dan itu terjadi bukan hanya di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 9 Desember 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-9190346499920240680?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/9190346499920240680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=9190346499920240680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/9190346499920240680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/9190346499920240680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/12/tubuh-yang-kehilangan-rahasia.html' title='Tubuh yang Kehilangan  Rahasia'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R1fsPoy60GI/AAAAAAAAAE0/3PXOUXyzwc8/s72-c/clbk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-3241038355505664593</id><published>2007-11-29T14:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-06T19:41:29.401+07:00</updated><title type='text'>Dhani dan Penggemar yang Dewasa</title><content type='html'>Di dunia industri, ide selalu berarti uang, dan bukan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R05owmGRdXI/AAAAAAAAAEs/x_1WRfm2Vro/s1600-h/dhani.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R05owmGRdXI/AAAAAAAAAEs/x_1WRfm2Vro/s400/dhani.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138159408946181490" /&gt;&lt;/a&gt; "Lagu ini benar-benar menunjukkan isi hati Dhani. Semoga nanti dikirimi Tuhan kekasih yang benar-benar baik hati."  Demikianlah bunyi salah satu &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt; yang menjadi teks berjalan di layar teve, Sabtu malam (17/11). Banyak sekali SMS yang ditampilkan dalam acara "Musik Spesial" itu, mulai berisi permintaan lagu, titip salam si pengirim kepada sanak keluarga dan atau kekasih, sampai pujian dan hasutan. Semua SMS selalu berkisar pada grup musik yang tampil, Matta, Nidji, The Rock, dan Dewi-Dewi, yang memeriahkan ulangtahun Marinir di Surabaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman SMS memang menjadi hal penting dari acara ini. Pemandu acara Andhara Early dan Teuku Wisnu pun berkali-kali mengingatkan penonton agar terus mengirimkan &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt; untuk memilih lagu yang mereka inginkan. Karena, diakhir acara akan ada hadiah untuk penonton yang memilih lagu favorit.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di panggung, semua band tampil antusias. Matta menghibur, Nidji memukau, The Rock memikat, Dewi-dewi memesona. Mereka bergantian unjuk piawai, berinteraksi, dan memberikan lagu-lagu terbaik dengan penampilan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, jujur saja, lebih tertarik mengamati &lt;I&gt;SMS &lt;/I&gt;yang berjalan di layar. Saya percaya, lagu "Ketahuan" dan "Playboy" dari Matta punya peluang besar untuk jadi favorit penonton. Juga lagu-lagu Nidji yang familiar di telinga. Lagu Dewi-Dewi seperti "Dokter Cinta" dan "Begini Salah Begini Benar" sulit diharapkan dipilih penonton. Dua lagu ini memang populer dan dahsyat dalam pekikan Ina sang vokalis. Tapi gaungnya sudah terasa jauh. Bagaimana dengan The Rock?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dimungkiri, lagu-lagu Dhani memang selalu bagus dan bernada khas. "Munajat Cinta" dan "Kamu Kamulah Surgaku" memberi warna yang berbeda tentang cinta. Apalagi di panggung itu, layar memutar klip kemesraan Dhani dan anak-anaknya. Tapi, melihat kisruh rumah tangga Dhani selama ini, dan pernyataannya yang keras dan dingin tentang Maia, istrinya, sepertinya lagu itu akan bergaung tapi tanpa gema. Apalagi, sore sebelum naik pentas, infotainmen sibuk memberitakan penjemputan Maia pada Al, El, dan Dul, yang tengah syuting di Bogor. Dhani dikatakan telah mengeksploitasi anak-anak mereka. Perseteruan suami istri itu kembali tersulut. Lebih dari itu, di berbagai milis dan forum, "citra" Dhani telah "habis". Ratusan, mungkin ribuan opini di dunia maya telah mendudukkannya sebagai suami yang kejam, sadis, dan mau menang sendiri. Di ruang maya, Dhani nyaris tanpa pembela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya percaya, "Ketahuan" dari Matta akan menjadi lagu favorit di "Musik Spesial" &lt;I&gt;SCTV&lt;/I&gt; malam itu. Semelesetnya, pasti lagu dari Nidji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenyataan terkadang acap mengkhianati harapan. Kian malam, &lt;I&gt;SMS&lt;/I&gt; dari pemirsa berkata beda. "(36) Dhani al-Haq, kami dari padepokan Syeh Siti Jenar selalu mendukungmu", bunyi salah satu SMS. Lalu, "(36) Saya sangat mengerti apa yang sedang Dhani alami dengan lagu ini. Juga, "(36) Lagu ini mengingatkanku padamu, Euis." Atau, "(36) Dhani selalu membuat lagu dengan hatinya". Dan, "(36) Lagu ini cocok untuk kaum jomblo." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36 adalah nomor urut lagu "Munajat Cinta" yang dilantunkan Dhani. Dan lepas tengah malam, Andhara Earli mengumumkan bahwa "Munajat Cinta" berhasil menjadi lagu favorit pilihan pemirsa. Di layar tertera, tembang itu meraih 39,4% dari seluruh SMS yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucek mata, nyaris tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Anomali Industri&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun lalu, Zainuddin MZ selalu berkata, "Saya tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana." Popularitas pun selalu mengakrabinya, juga media. Tapi kemudian Zainuddin masuk PPP, lalu kecewa, dan mendirikan Partai Bintang Reformasi. Namanya perlahan tapi pasti meredup. Media menjauh, popularitas merapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun lalu, Aa Gym selalu mengajarkan bagaimana menjaga hati, memanajemen kalbu. Ia menjadi representasi kiai yang sangat mencintai keluarga. Sikap moralnya menjadi ikutan umat. Popularitas kian menguat, media pun sangat akrab. Lalu, Aa menikah lagi. Kiai ini "difatwa" media telah "melanggar" apa yang selalu dia ajarkan, tentang cinta, keluarga, dan satu istri. Dan perlahan tapi pasti, popularitas menarik diri dari kiai ini, media pun ikut pergi berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak sama persis, Dhani justru menjadi anomali dalam industri media. Jangankan kesantuan, sikap rendah hati pun tak dipunyai pentolah Dewa ini. Arogan! Arogansi ini bahkan sudah jadi sikap diri. Ketika Helmy Yahya menasihati peserta "Mama Mia" agar jangan cepat bersombong meski sudah populer, Dhani yang juga duduk sebagai juri, menggamit Helmy dan membisikinya. Helmy kemudian tersenyum, dan berkata, "Karena kata Dhani, yang boleh sombong itu hanya dia." Penonton bersorak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helmy, di dalam buku &lt;I&gt;Manunggaling Dewa&lt;/I&gt; juga mengaku tak habis pikir dengan segala popularitas yang didapatkan Dhani. Ketika semua publik figur selalu membangun citra diri, Dhani bahkan seakan tidak urusan dengan hal itu. "Dhani sebuah anomali dalam industri hiburan," kata Helmy. Tak hanya Helmy, Rheinald Kasali pun mengakui pola-pola yang ditempuh Dhani nyaris tak ditemukan di dalam dunia marketing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, dengan segala arogansi itu, Dhani mengusung tema cinta. Cinta dengan C besar. Lagu-lagunya dibumbui petikan ucapan sufi, dan, katanya, saripati, al-Quran. Album bandnya selalu memakai kata cinta, dari &lt;I&gt;Atas Nama Cinta, Cintailah Cinta, Laskar Cinta&lt;/I&gt; sampai &lt;I&gt;Republik Cinta&lt;/I&gt;. Dan dia berhasil dengan kampanye cinta tersebut, setidaknya sampai perseteruannya dengan Maia, istrinya, di ujung tahun lalu. Setelah itu, arogansi Dhani mulai dibumbui kebencian, amarah, cacian, dan nista. Dhani justru menunjukkan dirinya sebagai hamba yang jauh dari cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun ini, media selalu berisi perseteruan Dhani dengan Maia, statemen-statemennya yang tak menunjukkan "watak" seorang suami, dan tuduhannya yang sampai kini belum terbukti. Dalam kondisi "hampa cinta" itu, Dhani justru menelurkan album &lt;I&gt;Kerajaan Cinta&lt;/I&gt;. Lagu "Dewi" yang menjadi andalah, tetap mencetak hit. Ia pun memproduseri Andra and The Backbond, juga membesut trio Dewi-Dewi, dan meraih platinum. Terakhir bersama bule Australia, dia melempar The Rock. "Munajat Cinta" pun tetap mencetak hit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan Dhani? Mengapa, ketika "aktor" media lain diabaikan pasar karena "sikap moral" yang berbeda dari karya, Dhani masih tetap diterima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Uang Ideologi&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena Dhani ini, saya "curiga", penonton teve dan penikmat musik Indonesia telah memasuki fase dewasa. Kedewasaan inilah yang membuat mereka mampu melihat Dhani dalam berbagai posisi, sebagai suami, ayah, pemusik, pencipta, produser, dan embel-embel lainnya. Dengan kata lain, penonton sadar tak selalu ada kausalitas di antara posisi-posisi itu.  Gagal sebagai suami, belum tentu gagal sebagai ayah. Tak selalu ada "pertalian darah" antara karya dan penciptanya. Karena, seperti kata Pramudya Ananta Toer, setiap karya memiliki jiwa dan kehidupan sendiri. "Kehidupan yang menentukan apakah karya itu abadi atau tidak. Bukan pengarangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton atau penikmat musik barangkali juga mulai menyadari bahwa diri itu tidak selalu tunggal dan utuh, tapi terpecah di dan dalam proses. Yang selalu diberikan seseorang bukanlah keutuhan atau ketunggalan, tapi pecahan-pecahan dirinya yang dapat diterima, yang kelak selalu bisa berubah. Karena manusia, mengutip Goenawan Mohamad, selalu menuju &lt;I&gt;dumadi&lt;/I&gt;, &lt;I&gt;dadi&lt;/I&gt; yang mendapat imbuhan "um", men-jadi yang selalu dalam gerak, di arus waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari diri bukan suatu yang tunggal dan utuh, menempatkan penonton pada kesadaran bahwa karya adalah idealisasi dari penciptanya, dan bukan selalu jalan hidup. Karya lebih berupa "apa yang ingin dikatakan" daripada "apa yang akan dilakukan". Karya atau lagu, adalah hasil olah pikir, kristalisasi ilmu, dan bukan &lt;I&gt;laku&lt;/I&gt;. Dan di dunia industri, ide selalu berarti uang, dan bukan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diri Dhani berada dalam "kemelut" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggemar yang dewasa akan dapat menikmati lagu-lagu Dhani lepas dari sosok Dhani. Lagu-lagu itu punya energi sendiri, misi sendiri, napas dan jiwa, yang sepenuhnya tidak dikendalikan Dhani. Para pelatun di luar Dhani-lah, yang mendengung di sisi pentas itu, dalam panas dan peluh, yang lebih menentukan warna cinta di dalam tiap lagu-lagu Dewa. Merekalah laskar cinta sesungguhnya. Dan pencipta boleh alfa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika karya tidak dibebani pencipta, penilaian pun akan berjalan adil. Pencipta boleh masuk penjara, boleh tersangkut narkoba, bercerai, berzinah atau poligami, karyanya tetaplah suci. Karena kita tahu, kehidupan terkadang memaksa seseorang untuk tidak melakukan apa yang dia katakan. Kehidupan kadang membelokkan seseorang ke jurang yang tak pernah dia inginkan. Karena kehidupan kadang hanya meminta kita berkata 'ya'. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 2 Desember 2007]&lt;/B&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-3241038355505664593?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/3241038355505664593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=3241038355505664593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3241038355505664593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/3241038355505664593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/11/dhani-dan-penggemar-yang-dewasa.html' title='Dhani dan Penggemar yang Dewasa'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/R05owmGRdXI/AAAAAAAAAEs/x_1WRfm2Vro/s72-c/dhani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10916372.post-5495035312464228766</id><published>2007-11-15T18:02:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T14:29:21.427+07:00</updated><title type='text'>Mereka yang Tumbuh dengan Tergesa</title><content type='html'>Industri metode perkembangan anak membuat orangtua tak memiliki kesabaran membiarkan anaknya tumbuh secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RzwoemGRdWI/AAAAAAAAAEk/6HfmSqqZSjQ/s1600-h/pildacil.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RzwoemGRdWI/AAAAAAAAAEk/6HfmSqqZSjQ/s400/pildacil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133022181383566690" /&gt;&lt;/a&gt; "Fahmi, jujur ya, sebenarnya Fahmi mau pilih piala atau harimau?" tanya Marissa Haque.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya sih, Fahmi maunya pilih piala, Bunda. Tapi kata kakak pembina harus pilih harimau. Kalau tidak pilih harimau, katanya Oom kameramen akan kreek!" jelas Fahmi sambil menebaskan tangannya ke leher. Barangkali maksudnya disembelih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marissa Haque tertawa. Penonton juga, bergelak. "Inilah anak-anak ya Ibu-Ibu, jujur dan lugu sekali...." Marissa menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tertawa melihat kejujuran Fahmi dalam acara "Keluarga Dacil" yang tayang di &lt;I&gt;Lativi&lt;/I&gt;, Jumat malam (9/11) itu. Kejujuran Fahmi di atas justru menunjukkan satu ironi bahwa apa yang dia tampilkan dalam tausyiah sebelumnya bukanlah suara hatinya, melainkan "pesanan" dari Kakak Pembina. Sikap moral yang dia sampaikan adalah pilihan yang sebenarnya tidak dia mengerti tapi harus dia katakan. Di pentas Pildacil itu, Fahmi belum memanggungkan dirinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta lain, Aufa, menunjukkan ironi yang sama malam itu. Ketika Neno Warisman bertanya, "Buku apa yang harus dipelajari paling utama di muka bumi ini?", dengan enteng dia menjawab, "Buku-buku tentang agama Islam, Bunda."&lt;br /&gt;Neno Warisman terlengak, wajahnya tampak tidak puas dengan jawaban Aufa. "Iya, tapi kalau antara al-Quran dan buku-buku agama Islam, mana yang lebih penting, Aufa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aufa berpikir sebentar. "Mungkin harus kedua-duanya ya, Bunda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plass! Senyum di bibir Neno hilang sesaat. Setelah membuang napas, dia pun berkata, "Iya, tapi banyak orang yang salah belajar tentang Islam karena tidak mendahulukan al-Quran, Aufa. Mereka jadi sesat. Jadi al-Quran itu harus yang utama. Aufa mengerti kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aufa mengangguk. Neno kembali bersandar ke kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi, Aufa, Ela, dan Kenia yang tampil malam itu, seperti kata Marissa, adalah anak-anak yang masih lugu dan jujur. Tapi lihatlah, bagaimana orang dewasa, para Kakak Pembina mereka, juga para Bunda yang menjadi juri, menganggap "aneh" kejujuran dan keluguan mereka, dan mencoba menarik mereka ke alam pikir orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Sekadar Hapalan&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jawaban Fahmi dan Aufa, kita dapat menduga bahwa tausyiah yang mereka sampaikan adalah hasil hapalan semata. Karena hasil hapalan, apa yang mereka sampaikan bukan lahir dari hasil penalaran, proses mengerti dan memahami. Sehingga kenapa harus memilih harimau dan mengapa harus mengutamakan membaca al-Quran, Fahmi dan Aufa tidak mengerti. Bagi mereka itulah yang harus disampaikan untuk dapat merebut simpati penonton. Proses yang tanpa penalaran itu membuat mereka menjawab berbeda dari tausyiah ketika ditanyai oleh para Bunda. Pilihan pribadi berdasarkan "nalar kanak" pun muncul, yang menimbulkan gelak tawa, sekaligus kerisauan, para Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penampilan Fahmi, Aufa, Ela, dan Kenia, tampak sekali betapa berat mereka mengingat seluruh ajaran "Kakak Pembina". Kesetiaan pada hapalan ini membuat Ela tergeragap, dan Fahmi berberapa kali menjedai tausyiahnya, karena lupa. Pemanggungan itu, dalam arti yang sebenarnya, menjadi siksaan bagi mereka. Anak-anak itu cuma mengerti bahwa kesempurnaan penampilan mereka adalah kesetiaan pada hapalan. Tak ada improvisasi, negosiasi, apalagi imajinasi dari keseluruhan tausyiah yang harus disampaikan. Panggung "Keluarga Dacil" itu, senyatanya bukanlah arena kegembiraan, "ladang" permainan, melainkan sebuah tugas, kancah pertarungan siapa yang paling kuat ingatannya. Padahal, metode hapalan semacam itulah yang justru kelak akan merampas kekuatan kognisi anak-anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog perkembangan anak, Kathi Hirsh-Pasek dalam buku &lt;I&gt;Einstein Never Used Flash Cards: How Our Children Really Learn - And Why They Need to Play More and Memorize Less&lt;/I&gt; menunjukkan "bahaya" jika anak-anak dipaksa menghapal. "Yang diperlukan bagi perkembangan kognisi anak-anak adalah kesempatan yang luas untuk bermain, bergembira, dan bukan menghapal," katanya. "Bermain akan membangun keahlian intelektual yang kaya, luwes, dan fleksibel, tempat di mana akan tumbuh kemampuan menyelesaikan masalah," tambahnya. "Bermain merupakan unsur penting dalam kemampuan berpikir ilmiah yang produktif," kata si jenius Einstein. Dan, Einstein pun ternyata, tak pernah menghapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa unsur bermain? Pertama, bermain harus menyenangkan dan bisa dinikmati. Kedua, bermain tidak punya tujuan ekstrinsik. Bermain juga harus spontan, tidak memiliki aturan dan alur, melibatkan imajinasi dan ketakterduggan dalam proses bermain. Dari beberapa unsur itu, pementasan "Keluarga Dacil" dapatlah dilihat tak memenuhi syarat sebagai arena bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;Anak sebagai Proyek&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tampil dalam "Keluarga Dacil" atau "AFI Junior" sebenarnya adalah wujud dari progresivitas orang tua yang ingin "memamerkan anaknya". Progresivitas ini membuat anak-anak mengalami masa kanak denan tergesa-gesa. Tidak ada lagi kesabaran dari orangtua untuk melihat anaknya tumbuh dengan alamiah, belajar sendiri, sebagaimana pertumbuhan bayi sejak ribuan tahun lalu. Industri metode mendidik anak telah mendorong orangtua untuk mendapatkan anak dengan kecerdasan sempurna dan lebih dari anak yang lain. Setiap &lt;I&gt;blue print&lt;/I&gt; bagaimana mendidik anak pun dipelajari, dipraktekkan, dengan kegembiraan dan kecemasan yang sama. Efek Mozart, Baby Shakespeare, sampai &lt;I&gt;emotional intelligence&lt;/I&gt; untuk bayi, dan puluhan metode lain diikuti, tanpa menyadari semua itu adalah "ilusi" yang dibangun dunia industri. Masa kanak-kanak pun hilang karena program perlombaan kecerdasan dan kesuksesan ini. Anak-anak akhirnya tidak punya dunia sendiri, proyeksi dari harapan dan keinginan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah keluarga Aufa yang meminta dukungan masyarakat Solok, dan sibuk mendatangi media. Apa sesungguhnya arti popularitas dan kemenangan itu bagi dirinya pribadi? Atau Fahmi, yang mengucapkan "r" pun belum bisa, tentu dia tak mengerti rasa bangga tampil di teve lebih dari yang dialami orangtuanya. Anak-anak ini pun pasti belum tahu bagaimana menggunakan hadiah jika menang, yakni berupa ponsel, simcard, dan voucer Rp 500 ribu. Hadiah yang sungguh tidak ada kaitannya dengan kekanakan mereka. Anak-anak itu pun pasti tak mengerti apa yang dikatakan para Bunda --Marissa, Neno, dan Khofiffah-- yang selalu mengaitkan isi tausyiah mereka dengan pembalakan liar, kekalahan pilkada, korupsi, dan kecurangan para politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, kita dapat melihat, sesungguhnya pentas "Keluarga Dacil" dan aneka lomba sejenis itu, adalah panggung para orangtua untuk pamer diri atas pencapaian mereka. Anak-anak itu adalah buktinya. Dalam kasus ini, Kafka pun jadi benar ketika mengatakan, "Memiliki dan mendidik anak dalam dunia sekarang adalah pekerjaan paling mustahil." Mustahil karena anak-anak tidak dididik sebagai anak-anak. Mustahil karena anak-anak adalah pihak yang selalu dipaksa mendengar, diajari menghapal. Mereka adalah kaset yang memutar suara orangtua....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;B&gt;[Artikel ini telah dimuat di Harian &lt;I&gt;Suara Merdeka&lt;/I&gt;, Minggu 18 November 2007]&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10916372-5495035312464228766?l=auliamuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/feeds/5495035312464228766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=10916372&amp;postID=5495035312464228766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5495035312464228766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10916372/posts/default/5495035312464228766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://auliamuhammad.blogspot.com/2007/11/mereka-yang-tumbuh-dengan-tergesa.html' title='Mereka yang Tumbuh dengan Tergesa'/><author><name>sujud ilalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='13104390170305942694'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC3DvoRWlMg/RzwoemGRdWI/AAAAAAAAAEk/6HfmSqqZSjQ/s72-c/pildacil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>